Anda di halaman 1dari 24

JIHAD DAN TAUHID

Sebagai

MOTIVASI

Pembimbing : Beni Dwi Komara, S.Si., MM.


Disusun Oleh :
Wahyu Dwi Utomo

( 14312035 )

Wahyu Matulas

( 14312035 )

Siti Kusnul Kotimah

( 14312030 )

Lailatul Ainiyah

( 14312033 )

Program studi Manajemen


Fakultas Ekonomi
Universitas Muhammadiyah Gresik
2015

KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat serta hidayah-Nya
terutama nikmat kesempatan dan kesehatan sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas
mata kuliah "Manajemen Diri" yang berjudul Jihad dan Tauhid Sebagai Motivasi.
Kemudian shalawat beserta salam kita sampaikan kepada Nabi besar kita Muhammad
SAW yang telah memberikan pedoman hidup yakni al-Quran dan as-Sunnah untuk
keselamatan umat di dunia.
Makalah ini merupakan salah satu tugas mata kuliah Manajemen Pemasaran.
Makalah ini dibuat dengan berbagai sumber daya dalam jangka waktu terbatas tetapi tetap
bisa dipertanggung jawabkan hasilnya. Penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak
Beni Dwi Komara, S.Si., MM. selaku dosen pembimbing dan semua pihak yang telah
membantu dalam kelancaran proses penyusunan makalah ini.
Penulis sangat menyadari bahwa tak ada gading yang tak retak sehingga dalam
penyusunan proposal ini juga tidak lepas dari kekurangan dan memerlukan
penyempurnaan, sehingga dengan kerendahan hati kritik dan saran selalu kami terima,
karena kekhilafan selalu ada pada kami dan kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT
semata.
Terimakasih.
Gresik, Nopember 2015

Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.........................................................................i
KATA PENGANTAR........................................................................ii
BAB I.........................................................................................1
PENDAHULUAN...........................................................................1
A.

Latar Belakang...................................................................................... 1

B.

Rumusan Masalah :................................................................................. 2

C.

Tujuan Dan Manfaat............................................................................... 2

BAB II.......................................................................................3
PEMBAHASAN.............................................................................3
A.

Pengertian Jihad..................................................................................... 3

B.

Pengertian Tauhid................................................................................... 4

C.

Pengertian Motivasi................................................................................7

D.

Jiwa yang Merdeka.................................................................................8

E.

Allah Always in My Heart......................................................................10

F.

Undefeatable....................................................................................... 11

G.

Impressive.......................................................................................... 11

H.

Yes, We Are a Player, We Are a Winner......................................................12

I.

Percaya Diri dan Optimis.......................................................................13

BAB III.....................................................................................16
PENUTUP.................................................................................16
Kesimpulan............................................................................................... 16

DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Mahkota
umat Islam itu adalah jihad. Mereka yang tercabut semangat jihad dari dadanya, dia
telah menampakkan mahkota harga diri dan kemuliaannya. baik sebagai individu
maupun sebagai umat. Sungguh banyak orang yang berpikiran sempit yang
menafsirkan dan mengartikan jihad hanya dengan pengertian perang. Banyak orang
perlu lebih memahami dan memperkuat pengertian jihad. hal tersebut dilakukan agar
tidak terjerumus dalam ajaran-ajaran yang dapat menyengsarakan. Karena sampai
sekarang masih banyak orang salah paham soal arti jihad, seharusnya jihad dapat
menjadi semangat dalam diri seseorang. Jihad seharusnya menjadi motivasi dalam diri
seseorang.

Jihad adalah jalan menuju tauhid. Jihad merupakan tolak ukur keimanan atau
tauhid seseorang, sehingga semakin tinggi iman/tauhid seseorang maka semakin besar
pulas semangat jihad dan motivasi seseorang.

Tauhid adalah perintah paling agung di dalam alquran. Kalau saja setiap
muslim mengetahui makna dan tauhid. mereka pasti akan merasa sangat bangga dan
berbahagia menjadikan Islam sebagai agamanya. Kandungan pengertian dalam
kalimat thayyibah laa ilaaha illallah tiada tuhan kecuali Allah merupakan statemen,
syahadah kesaksian, serta proklamasi kemerdekaan martabat kemanusiaan bagi
setiap pribadi muslim, yaitu nilainya jauh melampaui makna dan Declaration of
Independence serta Declartion of Human Right yang diembuskan oleh angin Barat.
Oleh sebab itu memperlajarinya sebagai kebutuhan yang sangat mendesak bagi setiap
muslim dan muslimah. Terlebih dalam setiap menjalankan kehidupan di dunia ini tak
lepas dengan selalu mengingat kepada-Nya.

Selama ini, kita seakan telah bertauhid mengesakan Allah swt. Tetapi apakah
pentauhidan itu benar-benar mengakar dalam praktik kerja kehidupan kita? Masih
susah memastikannya. Dari makalah inilah terlihat, bahwa sebenarnya, telah terjadi
pemisahan besar, antara pengesaan kita terhadap Allah swt pada level aqidah
ketuhanan (tauhid uluhiyah), dengan penauhidan kita terhadap Allah swt dalam susahsenang kehidupan (tauhid Rububiyah). Keduanya ternyata saling mensyaratkan;
keyakinan kita kepada Allah swt sebagai Tuhan, harus dibarengi dengan keyakinan
bahwa Allah SWT-lah yang mengatur, mengurusi, dan membimbing segenap praktik
hidup, mulai dari soal rezeki, karir, jodoh, nasib, cita-cita, dsb. Jadi, menurut hikmah
ini, seorang muslim belum bertauhid, selama ia masih meyakini bahwa kerjanya
itulah (bukan Allah swt) yang memberi rezeki. Penuhanan Allah swt pada level batin
dan ibadah ritual, haruslah dibuktikan dengan penuhanan Allah swt, melalui jalan
hidup yang sesuai dengan syariat-Nya.

Didalam setiap melangkah kita diharapkan selalu bertauhid dengan jalan jihad
sebagai motivasi. Oleh karena itu dalam makalah ini akan dibahas Jihad dan Tauhid
sebagai Motivasi dalam setiap menjalakan roda kehidupan. Dengan harapan apa yang
disusun ini bisa bermanfaat bagi kita di dunia dan di akhirat.

B. Rumusan Masalah :

Rumusan masalah dari makalah ini adalah :

1. Apa yang dimaksud dengan Jihad ?

2. Apa yang dimaksud dengan Tauhid ?

3. Apakah pengertian motivasi ?

4. Bagaimana jihad dan Tauhid sebagai Motivasi ?


2

C. Tujuan Dan Manfaat

Tujuan dan manfaat dari penulisan makalah ini adalah:

1. Mengetahui pengertian jihad yang sesungguhnya.

2. Memahami yang dimaksud dengan tauhid

3. Mengetahui macam-macam tauhid

4. Memotivasi diri dengan jihad dan tauhid

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Jihad

Jihad menurut syariat Islam adalah berjuang dengan sungguh-sungguh. Kata


Jihad berasal dari kata Al Jahd (
) dengan difathahkan huruf jimnya yang
bermakna kelelahan dan kesusahan atau dari Al Juhd (

) dengan didhommahkan
huruf jimnya yang bermakna kemampuan/mengeluarkan seluruh potensi. Kalimat (

) bermakna mengeluarkan kemampuannya. Sehingga orang yang berjihad

dijalan Allah adalah orang yang mencapai kelelahan (bersungguh-sungguh) karena
Allah dan meninggikan kalimatNya yang menjadikannya sebagai cara dan jalan
menuju surga. Di balik jihad memerangi jiwa dan jihad dengan pedang, ada jihad hati
yaitu jihad melawan syetan dan mencegah jiwa dari hawa nafsu dan syahwat yang
diharamkan, jihad melawan kemalasan dengan mengerahkan seluruh potensi untuk
mencapai cita-cita menuju surge. Senapas dengan kata jihad. dikenal pula ijtihad dan
mujahadah. Ijtihad merupakan upava yang sangat berungguh-sungguh untuk menggali
potensi alam melalui daya nalar atau ilmu (potensi intelektual). sedangkan mujahadah
merupakan kesungguhan seseorang untuk menggali potensi kebenaran. menyelami
makna hakikat dari arti cinta (potensi spiritual). Seluruh potensi ini. yaitu jihad,
ijthad, dan mujahadah berada dalam jiwa seorang ulil albab.

Ibnu Taimiyah (wafat tahun 728H) mendefinisikan jihad dengan pernyataan,


Jihad artinya mengerahkan seluruh kemampuan yaitu kemampuan mendapatkan
yang dicintai Allah dan menolak yang dibenci Allah. Dengan demikian, jihad tidak
selamanya terkait dengan pengertian perang fisik karena kita memperoleh satu
keterangan bahwasanya Rasulullah SAW. bersabda, Barangsiapa menghadap kepada
Allah dengan tidak ada bekas jihad, ia akan bertemu dengan Allah dalam keadaan
sumbing. (HR at-Tirmidzi dan Ibnu Majah dan Aba Hurairah r.a)

Bagaimana mungkin jihad hanya semata- mata dikaitkan dengan perang secara
fisik. sedangkan banyak umat Islam saat ini tidak pernah memiliki pengalaman
bahkan bekas luka dari peperangan. Bagaimann pula nasib kaum wanita yang pada
saat itu tidak ikut berperang? Apakah mereka akan menghadap Allah dalam keadaan
sumbing?

Tentunya kita menjadi lebih paham bahwa jihad yang dimaksud secara umum
adalah kesungguhan untuk mengerahkan segala kekuatan atau potensi dirinya didalam
melaksanakan sesuatu dan meninggikan martabat dirinya sebagai manusia yang
mengemban misi sebagai rahmatan lil-alamin.

B. Pengertian Tauhid
Ditinjau dari sudut bahasa (ethimologi) kata tauhid adalah merupakan bentuk
kata mashdar dari asal kata kerja lampau yaitu: Wahhada yuwahhidu wahdah yang
memiliki arti mengesakan atau menunggalkan. Dan kemudian ditegaskan oleh Ibnu
Khaldun dalam kitabnya Muqaddimah bahwa kata tauhid mengandung makna
Keesaan Tuhan. Maka dari pengertian ethimologi tersebut dapat diketahui bahwa
tauhid mengandung makna meyakinkan (mengitikatkan) bahwa Allah adalah satu
tidak ada syarikat bagi-Nya.1[1]
Dari sudut istilah (therminologi) telah dipahami bersama bahwa setiap cabang
ilmu pengetahuan itu telah mempunyai objek dan tujuan tertentu. Demikian juga
halnya pada kajian ilmu tauhid yang telah ditarifkan oleh para ahli sebagai berikut:
1. Syech Muhammad Abduh:
Ilmu Tauhid ialah ilmu yang membahas tentang wujud
Allah dan sifat-sifat yang wajib ada pada-Nya, dan sifat
yang boleh ada pada-Nya dan sifat yang tidak harus ada
pada-Nya (Mustahil), ia juga membahas tentang para rosul
untuk menegaskan tugas dan risalahnya, sifat-sifat yang
1
5

wajib ada padanya yang boleh ada padanya (jaiz) dan yang
tidak boleh ada padanya (Mustahil).2[2]
2. Syech Husain Affandi al-Jisr al-Tharablusy metarifkan sebagai berikut:
Ilmu tauhid adalah ilmu yang membahas atau
membicarakan bagaimana menetapkan aqidah (agama
Islam) dengan menggunakan dalil-dalil yang meyakinkan.
Dari kedua tarif Ilmu Tauhid tersebut itu dapat diambil suatu pengertian
bahwa pada tarif pertama (Syech Muhammad Abduh) lebih menitik beratkan pada
obyek formal ilmu tauhid, yakni pembahasan tentang wujud Allah dengan segala sifat
dan perbuatan-Nya serta membahas tentang para Rasul-Nya, sifat dengan segala
perbuatannya. Sedangkan pada tarif kedua (Syech Husain al-Jisr) menekankan pada
metode pembahasannya, yakni dengan menggunakan dalil-dalil yang meyakinkan,
dan yang dimaksud di sini adalah dalil naqli maupun dalil aqli.
Objek pembahasan atau yang menjadi lapangan pembahasan ilmu tauhid pada
garis besarnya dibagi kepada tiga bagian utama yaitu:

Tauhid Ilahiyah
Tauhid Nubuwwah

Tauhid Samiyyat

1. Tauhid Ilahiyah

Tauhid Ilahiyah yaitu bagian Ilmu Tauhid yang membahas masalah ke-Tuhanan.
Hal ini terdiri dari:

a. Tauhid Uluhiyah

Yaitu Tauhid yang membahas tentang ke-Esaan Allah dalam dzat-Nya tidak
terdiri dari beberapa unsur atau oknum. Dia (Allah) sebagai Dzat yang wajib
disembah dan dipuja dengan ikhlas, semua pengabdian hamba-Nya semata2
6

mata untuk-Nya seperti berdoa, nahr (kurban), raja (harap), khauf (takut),
tawakal (berserah diri), inabah ( pendekatan diri) dan lin-lain. Sebagaimana
dinyatakan dalam firman Allah SWT dalam surat al-Ikhlas ayat 1-4

1. Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa.

2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.

3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,

4. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia."

b. Tauhid Rubbubiyah

Yaitu pembahasan tentang Allah sebagai Arrabbu, yaitu Esa dalam penciptaan,
pemeliharaan dan pengaturan semua makhluk-Nya. Sebagaimana firman Allah
yang menjelaskan siapakah yang memberi rizki pada manusia? Dalam surat
Yunus ayat 31. Katakanlah: "Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari
langit dan bumi, atau siapakah yang Kuasa (menciptakan) pendengaran dan
penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan
mengeluarkan yang mati dari yang hidup[689] dan siapakah yang mengatur
segala urusan?" Maka mereka akan menjawab: "Allah". Maka Katakanlah
"Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?"

c. Tauhid Dzat (Asma wa Sifat)

Yaitu pembahasan tentang sifat-sifat dan nama-nama yang disebut sendiri oleh
Allah dan Rasul-Nya yang tidak sama dengan makhluk-Nya. Sifat dan namanama-Nya adalah agung dan sempurna. Kita tidak boleh memberikan nama dan
sifat yang dapat mengurangi keagungan dan kesempurnaan-Nya, atau
menyesuaikan nama-nama dan sifat-sifat itu dengan yang lain seperti
membagaimanakan,

menggambarkan,

mentasybihkan,

mentawilkan,
7

mentahrifka atau mentatilkannya sebagaimana firman Allah dalam surat AlAraf ayat 180. Hanya milik Allah asmaa-ul husna, Maka bermohonlah
kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orangorang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-namaNya[586]. nanti mereka akan mendapat Balasan terhadap apa yang telah
mereka kerjakan.

2. Tauhid Nubuwwah

Yaitu bagaimana ilmu tauhid yang membahas masalah kenabian, kedudukan dan
peran serta sifat-sifat dan keistimewaannya. Sebagaimana dalam firman Allah
dalam surat an-Nahl : 43 yang artinya, Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu,
kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; Maka
bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan[828] jika kamu tidak
mengetahui.

3. Tauhid Samiyyat

Yaitu bagian ilmu tauhid yang membahas masalah-masalah yang didengar dari
dalil-dalil naqli seperti datangnya hari akhir, hari kebangkitan dari kubur, siksa
kubur, mizan, dan lain-lain. Disebutkan dalam firman Allah dalam surat Az-Zumar
60 yang artinya, Dan pada hari kiamat kamu akan melihat orang-orang yang
berbuat Dusta terhadap Allah, mukanya menjadi hitam. Bukankah dalam neraka
Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri.

C. Pengertian Motivasi

Dalam setiap aktivitasnya, setiap orang pasti di pengaruhi oleh sebuah


motifasi. Motifasi merupakan daya pendorong bagi seseorang untuk melakukan
sesuatu terlepas dari apakah sesuatu tersebut dapat berhasil secara maksimal atau
tidak. Disadari atau tidak motifasi itu berpengaruh besar terhadap model kerja atau
aktifitas yang dilakukan.

Islam ternyata memiliki konsep tentang motivasi. Sudah menjadi hal yang
umum, kebanyakan orang menggunakan kata Motif untuk menunjukkan mengapa
seseorang berbuat sesuatu. Missal seseorang mengatakan, Apa motif dibalik kerja
kerasnya atau Apa motif kerjanya terpengaruh orang yang dekat dengannya?
Dengan demikiann apa sebenarnya motif Itu?

Pengertian motivasi menurut kamus bahasa indonesia adalah dorongan yang


timbul dalam diri seseorang secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan
tindakan, tujuan tertentu. Menurut E. Kusmana Fachrudin (2000:44) motivasi
dibedakan atas dua golongan yaitu :

1.

Motivasi Asli. Motivasi asli adalah motivasi untuk berbuat sesuatu


atau dorongan untuk melakukan sesuatu yang muncul secara kodrati
pada diri manusia.

2.

Motivasi Buatan. Motivasi buatan adalah motivasi yang masuk pada


diri seseorang baik usaha yang disengaja maupun secara kebetulan.
Sejalan dengan pendapat Irianto (1997:247), motivasi eksternal
adalah setiap pengaruh dengan maksud menimbulkan, menyalurkan
atau memelihara perilaku manusia. Dipertegas oleh Mulia Nasution
(2000:11), motivasi dari luar adalah pembangkit, penguat, dan
penggerak seseorang yang diarahkan untuk mencapai tujuan. Dari
beberapa pendapat diatas maka, jelas motivasi merupakan faktor
yang berarti dalam mendorong seseorang untuk menggerakkan
segala potensi yang ada, menciptakan keinginan yang tinggi serta

meningkatkan semangat sehingga tujuan yang diinginkan dapat


tercapai.

Motifasi dalam kamus bahasa Indonesia yang berarti dorongan dalam


sokongan moril dengan tujuan tindakan. Motifasi akan terstimulasi, karena ada tujuan.
Dalam hal ini motivasi merupakan respon dari suatu aksi, yaitu tujuan. Memang
motivasi muncul dalam diri manusia, akan tetapi kemunculanya disebabkan
munculnya rangsangan dari unsure lain, yaitu tujuan, tujuan ini menyangkut
kebutuhan.

Seiring dengan persepsi, kepribadian, sikap, dan bekerja, motivasi adalah


unsur yang sangat penting perilaku. Namun demikian, motivasi bukanlah satu-satunya
penjelasan tentang perilaku. Berinteraksi dengan dan bertindak dalam hubungannya
dengan kognitif lain.

Luthans menegaskan bahwa motivasi adalah proses yang membangkitkan,


menyemangati, mengarahkan dan menopang perilaku dan kinerja.itu adalah proses
merangsang orang untuk tindakan dan untuk melaksanakan suatu tugas yang
diinginkan. Salah satu cara untuk merangsang orang adalah untuk mempekerjakan
efektif motivation, yang membuat pekerja lebih puas dengan dan komitmen untuk
pekerjaan mereka. Uang bukan hanya motivator. Ada insentif lain yang juga dapat
berfungsi sebagai motivator.

Bila kita melihat pengertian motifasi secara umum yang dipaparkan oleh
beberapa pakar diatas, akan jumpai adanya sesamaan maksud dengan istilah yang
biasa digunakan dalam islam (baca: Bahasa Arab). Yakni usaha seseorang untuk
melakukan sesuatu yang muncul dri dalam dirinya untuk mencapai keinginan yang
menjadi tujuan.

D. Jiwa yang Merdeka


10

Semangat tauhid melahirkan pribadi-pribadi yang mandiri, berdaya saing, dan


bertanggung jawab. Mereka bersungguh-sungguh dalam kehidupannya karena mereka
sadar apa yang dilakukannya merupakan amanah dan sekaligus sebagaiketerpanggilan
dirinya untuk membuktikan rasa cintanya kepada Allah. Jiwanya menjadi merdeka
karena tidak ada sesuatu bentuk apa pun yang akan mcnghambat atau membelenggu
dirinya. Hanya kepada Allah, dia mengabdi. Cara dirinya mengabdi itu dia bukitikan
dengan memberikan pelayanan dan menjadikan dirinya sebagal sosok manusia yang
bermanfaat karena Rasulullah bersabda, Sebaik-baih manusia adalah manusia yang
paling bermanfaat bagi manusia yang lainnya. Dia tidak ingin menjadi manusia
yang tidak berharga karena sikap seperti ini merupakan pelecehan terhadap keyakinan
dirinya sebagat hamba yang mengemban misi lahiah menebarkan kedamaian dan
rahmat bagi alam semesta (rahmatan lii alamiin).

Seorang muslim yang mendapatkan amanah sebagai karyawan atau pekerja di


sebuah perusahaan akan menunjukkan jati dirinya bahwa dia bukan benalu, bukan
manusia penambah jumlah tanpa arti. Dengan jiwanya yang merdeka, dia terus
mencari upaya untuk menjadikan dirinya mempunyai arti bagi perusahaan dan rekan
sejawatnya.Dia ingin menjadi manusia teladan yang dirindukan karena
profesionalisme dan kualitas akhlaknya yang mulia.

Kalimat tauhid yang membebaskan dirinya dari segala belenggu inilah yang
akan memenjarakan atau menjajah dirinya sehingga kehilangan nilai kemerdekaannya
sebagai hamba Allah. Nikmat apalagi yang paling puncak kecuali nikmat
kemerdekaan.

Salah satu inilah yang dia hindari adalah penjajahan dan hawa nafsu yang
akan melahirkan sikap keserakahan, kesombongan (arrogancy), yang kemudian
memenjarakan dirinya sebagai sosok yang tertutup, tidak mampu menerima
kebenaran atau pendapat orang lain. Bertuhankan hawa nafsu merupakan potensi yang
sangat kuat untuk menafikan (menolak) atau meniadakan kemungkinan tierjadinya
interaksi dan kebehasan untuk saling menyatakan pendapat. Al-Quran memberikan
indikasi untuk karakter seperti ini sebagai thagut (tiran, melampaui batas, berlchih11

lebihan, atau tidak proposional), sebagaimana firman-Nya, ... hendaknya kamu


sekalian beribadah kepada Allah dan menjauhi Thagut.... (an-Nahi: 36)
Terbelenggu oleh hawa nafsu menyebabkan dirinya ingin menjadi pusat perhatian
dan menuntut orang lain untuk bertindak sesual dengan keinginannya. Dia menjadi
tipe manusia yang bersifat reaktif sebagai lawan dari proaktif. Dirinya hanya melihat
orang lain sebagai alat untuk mewujudkan ambisi-ambisinya. Dirinya benar-benar
terbelenggu atau terjajah oleh egoisme (ananiyah) yang tidak disadarinya dia telah
ber.iIah-kan hawa nafsu.Maka, pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan
hawa nafsunya sebagai tuhannya.... (al-Jaatsiyah: 23)

Sikap seperti ini pada akhirnya akan membuahkan sikap yang kontraproduktif,
tidak mampu mengemhangkan daya imajinasi yang bersifat kreatif dan inovatif.
Dirinya disibukkan oleh vested interest dan tidak menginginkan adanya perubahan
(resistencc to change). Itulah sebabnya, tauhid dan jihad menjadi motivasi karena
mereka memiliki kemampuan untuk memilih dan tidak terbelenggu oleh hawa
nafsunya. Semangat tauhid menempa dirinya menjadi seorang yang terbuka (open
minded) sebagaisarana untuk menuju akses sosial. Daniel Goleman memberian salah
satuindikasi orang yang cerdas secara emosional, yaitu orang yang memiliki
keterampilan untuk bersosialisasi (social skill), berempati, dan memiliki kesadaran
diriyang kuat (self awarness).

Jiwa yang merdeka menyebabkan mereka berani untuk mengtakan tidak


tanpa merasa ada tekanan atau rasa takut.Dia jugaherani mengatakan ya dengan
segala argumentasinya tanpa merasa dirinya disebut sebagaimenjilat atau carmuk (cari
muka).Apa pun yang dia putuskan dalam kehidupannya bukan karena alasan-alasan
sesaat, tetapi karena prinsip yang diyakininya yang menjadi sebuah keterpanggilan
bahwa apa pun yang dilakukannya sematamata bukti aktual dan prinsip hidupnya
yang diungkapkannya dengan penuh kesungguhan (jihad).

E. Allah Always in My Heart


12

Jadilah manusia yang bebas. tetapi ingat. Allah senantiasa mengawasimu.


Dia begitu dekat bagikan kain dengan benangnya. Bagaikan kulit dengan daging.
Dia mengetahui setiap bisikan manusia dan Dia lebih dekat lagi dari pada urat nadi
manusia (Qaaf: 16). Tentang jiwa yang merdeka dan bertanggung jawab itu telah
disampaikan oleh sabda Rasulullah saw, Berbuatlah sesuka hatimu, tetapi jangan
engkau bakal mati. Cintailah segala scsual, tetapi ingat dia akan kau tinggalkan. Hal
ini diperkuat pula oleh sabda beliau yang sangat Populer, Bekerjalah untuk dunia,
seakan-akan engkau akan hidup selamanya dan beribadalah untuk akhiratmu seakanakan engkau mati besok!

Inilah bekal kehidupan yang paling berharga, sebuah perasaan yang


melahirkan nilai moral yang luhur, bahwa ke mana pun kita berpaling niscaya
disanalah ada wajah Allah (al-Baqarah: 115), sehingga kesadaran ini menjadi dasar
pengawasan melekat pada diri setiap pribadi muslim. Mereka menjadi sangat malu;
jangankan untuk berbuat maksiat, berniat atau terlintas dalam pikirannyapun
menyebabkan bergetarlah dirinya karena rasa malu kepada-Nya (al-Anfaal: 2).

Nilai-nilai moral dan prinsip keyakinan bahwa Allah mengawasi manusia


harus ditanamkan sejak kecil, sehingga kita memiliki kendali atau ada guilty feeling
bila melakukan hal-hal yang menyimpang. Sejak dini, pula harus kita tanamkan rasa
optimis dan berpikir aku bisa sehingga kita memiliki kepercayaan diri dan menjadi
manusia tangguh, ulet, dan mandiri. Tanamkan sejak dini jiwa kuta menjadi semakin
kuat dari hari ke hari selama kita mempunyai tempat bersandar (tawakal), yaitu Allah
Yang Maha kuat (Al-Qawiyu). Sikap seperti ini akan rmembentuk jiwa yang penuh
dengan optimisme dan tidak takut terhadap hari esok. Ada sebuah pepatah yang bagus
tentang optimisme ini, Optimism is acheerful frane of mind that enables a tea kettle
to sing though its in hot water up to its nose' optimisme adalah kerangka berpikir
yang penuh suka cita yang memungkinkan sebuah poci teh menyanyi meskipun terisi
air yang panas sampai ke hidungnya.

13

F. Undefeatable

Hidup adalah pertempuran yang maha dahsyat. Musuh kita yang paling nyata
adalah setan dengan segala atributnya. Setan yang berjubahkan kemalasan. Setan yang
bermahkotakan keserakahan harus kita kalakan. Seperiti seorang hakim anggota yang
menerimaa suap dan memenangkan perkara yang seharusnya kalah dikarenakan
jwanya telah dikalahkan dan dikuasai oleh setan, sehingga sang anggota hakim itu
tampak seperti seorang yang memberikan keadilan dengan mengucapkan projusricia,
padahal hatinya penuh dengan keserakahan dan ambisi untuk memperkaya diri dari
pendanaan orang.

Harus ada keyakinan yang kuat dalam setiap diri kita untuk tidak sejengkalpun
kalah dari godaan setan karena setan itu adalah musuh yang paling nyata. Itulah
sebabnya, sebagai seorang yang telah bersyahadat, dia harus konsekuen dengan
syahadatnya tersebut dan mereka mengambil scluruh nilai Islam secara kafilah
menyeluruh dan sama sekah tidak pernah ada kompromi dengan apa muslihat setan
(aI-Baqarah: 208).

Semangat tak terkalahkan memancar dari pusat keteladanan hidup kita, yaitu
Rasulullah, sebagaimana ucapan beliau kepada Ahu Thalib, Wahai Paman, demi
Allah, jika mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan rembulan di tangan
kiriku agar aku mcninggalkan urusan agania ini, tidaklah aku akan meninggalkannya
sehingga Allah mcmberi kemenangan agania ini atau aku hancur di dalamnya.

G. Impressive

Kepribadian setiap pribadi muslim itu sungguh mengesankan! Dia menjadi


pribadi yang dirindukan karena setiap tindakannya selalu memberikan bekas yang
mendalam dihati orang lain. Sebagaimana Allah berfirman bahwa para pengikut

14

Muhammad saw. itu di antaranya kelihatan bekas-bekas sujudnya yang berarti


hidupnya meninggalkan bekas atau kesan indah bagi orang lain (al-Fat-h: 29).

Cara berbicara, cara bertindak, bahkan cara dia memperlakukan diri dan orang
lain sungguh memberikan dampak atau kesan yang menggetarkan hati. Sikap seperti
iiulah yang telah diteladankan Rasulullah saw. dengan Lutur katanya yang lembut dan
cara pcnampilannya yang impresil. Rasulullah saw. Ber sabda, Sesungguhnya, Allah
itu lembut dan suka kelembutan. Dan, Dia memberikan sesuatu kelembutan yang
tidak memberikan pada kekerasan. ... (HR Muslim)

H. Yes, We Are a Player, We Are a Winner

Allah telah memberikan kesempatan yang sama. Dihamparkannya alam


semesta untuk menjadi ujian dan tantangan siapakah yang paling baik prestasinnya.
Hukum Allah berlaku universal tidak membedakan agama, bangsa, maupun gender
(jenis kelamin). Allah pasti akan memberikan balasan kepada mereka yang bckcrja
keras, berilmu, dan berbuat adil sesuai hukum Allah walaupun dia kafir; dan Allah
tidak akan menolong mereka yang hidup malas, bodoh, dan zalim walaupun dia
mengaku Islam.

Allah tidak akan mengubah nasib seseorang. bahkan suatu banga, kecuali
dirinya sendiri yang mengubahnya; Allah sangat demokratis. Segala sesuatu, peralatan
dan hukum bermain, telah ditetapkan, bergantung pada keterampilan masing-masing
para pemain Ada benarnya apa yang diungkapkan oleh William Jennings Bryan
(1865-1925), Takdir bukanlah masalah kebetulan, takdir adalah masalah pilihan,
takdir bukanlah sesuatu yang harus ditunggu, takdir merupakan sesuatu yang harus
dicapai (destiny is not a matter of chance, it is a matter of choice; it is not a thing to be
waited for it is a thing to be achieved).

15

Sudah sejak awal ditanamkan bahwa hidup akan bcrmakna selama dirinya
mempunyai harapan (hope). Sebagaimana misi seluruh agama yang disulut oleh
semangat pelayanan dan penyelamatan.

Dia sangat menyadari bahwa di dalam memainkan peran sebagai pemain


(player), dia tetap harus memenuhi etika permainan yang cantik. sebagaimana
ungkapan hadits berikut ini.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr ra. bahwa Nabi Muhammad saw. permah
bersabda, Seorang muslim adalah orang yang tidak merugikan muslim lainnya
dengun lidah maupun dengan kedua tangannya. Dan seorang Muhajir (orang yang
berhijrah) adalah orang yang meninggalkan semua larangan Allah SW!: dari
ungkapan hadits di atas, Al-Muslimu man salimal muslimuuna min lisaanihi wa
yadihi, seorang yang memiliki etos kcrja akan bermain dengan tidak menyakiti atau
berbuat curang. Kehadirannya dalam permainan itu menyebabkan muslim yang
lainnya terpelihara dari lidah dan tangannya. lidah, ucapan, kalam merupakan simbol
dan bentuk cara manusia berinteraksi dalam arti yang luas melalui kegiatan
berkomunikasi, menjalin hubungan (human relutions) dengan berbagi perangkamya.
Adapun yudihi tanganya' merupakan lambang dan kekuasaan, status, power. authority,
serta berbagai perangkatnya yang modem untuk menyatakan dirinya dan saling
mempengaruhi dalam tatanan kehidupan bermasyarakat, yang semuanya itu harus
diawali dengan motivasi kedamaian, melalui alat dan cara yang damai dan
menghasilkan perdamaian.. Pribadi muslim yang memiliki etos kerja itu adalah tipe
manusia yang sangat bersungguh-sungguh untuk meraih kemenangan (al-falaah) dan
sekaligus memperhatikan etika hidup dengan menumpakkan dirinya dalam sebuah
makna salam yang kita terjemakan sebagai keselamatan yang harus memberikan
goresan dan bagian dan sikap batin kita bahwa di mana pun mereka berada selalu
akan menjadi jawara dan pionir keselamatan", mejauhkan diri dari sikap yang
merusak (fasad anarkis).

16

I. Percaya Diri dan Optimis

Helen Keller herkata, Optimism is the faith that leads to achievements.


Nothing can be done without hope and confidence optimisme adalah sebuah
keyakinan yang akan membawa pada pencapaian hasil. Tidak ada yang bisa diperbuat
tanpa harapan dan percaya diri. Seorang yang bermental sebagai seorang pemenang,
ia memiliki rasa percaya diri (self confidence) dan optimisme yang sangat besar. Dia
berusaha dengan bersungguh-sungguh dan yakin akan usahanya tersebut. Inilah sisi
lain dari makna tawakal (berasal dari kata tawakul tempat bersandar). Setiap kali
pelita jiwanya mulai meredup, dia segera melakukan zikir untuk menumbuhkan
dorongan semangat pada dirinya sendiri (self motivation). Setiap kali dia diterpa oleh
badai tantangan, segeralah dia memperbaiki dan membenahi diri, melakukan evaluasi
lahir batin seraya melemparkan pertanyaan yang membedah nuraninya: Apa yang
salah pada diri saya ? Mengapa hal ini terjadi ? Bagatimana bila strateginya diganti ?
Mereka melakukan pertanyaan yang bersifat konseptual, bukan sekadar teknis (why
and what ifyang bersifat strategis hukan hanya what and how yang bersifat teknis).
Dalam segala hal, dia tidak pernah mencari kambing hitam, mencoba mencari-cari
alasan kegagalan dirinya dengan cara menyalahkan orang lain. Dia sadar bahwa apa
pun hasilnya, itu adalah hasil keputusan dirinya dan yang tetap akan menjadi
tanggung jawabnya. Tidak ada kamus pesimis melihat segala sesuatu secara negatif
karena hal itu tidak akan menolong dirinya kecuali menambah beban untuk mengatasi
persoalan yang dihadapmnya. Bila ada gelas setengah isi dan setengahnya kosong, dia
akan berkata, Gelas itu setengah isi. Adapun orang yang pesimis berkata, Gelas itu
setengahnya kosong. Orang yang optimis melihat segala sesuatu dengan kacamata
yang terang. Dalam keadaan yang sangat tertekan sekalipun, dia masih mampu
melihat cahaya terang. Ada harapan untuk keluar dari kegelapan. Dengan harapannya
itulah, dia bergerak mencari jalan keluar. Sementara itu, orang yang pesimis tidak
mau tergerak hatinya walaupun masih ada secercah cahaya. Dia hanya berkeluh kesah
meratapi sang nasib, padahal di balik cahaya yang secercah itu, ada lubang untuk
dirinya keluar dari kegelapan. Orang yang optimis berkata, Ada secercah cahaya
dalam kegelapan ini, siapa tahu di sana adajalan keluar! Adap pun orang yang
pesimis meratapi nasibnya, 0h, alangkah gelapnya tempat ini.

17

Sikap optimis akan melahirkan sosok manusia yang percaya diri, sedangkan
orang pesimis menjadi tawanan keraguan. Sir Winston Churchill berkata, A
pessimist sees the diffIculty in eveiy opportunity, and optimist sees the opportwiity in
every difficulty. orang yang pesimis melihat kesukaran di balik kesempatan,
sedangkan orang optimis melihat kesempatan dalam setiap kesukaran.

Sikap yang optimis inilah yang telah melahirkan pribadi-pribadi yang tangguh.
Sikap percaya diri inilah yang telah rnenghiasi para bintang kehidupan. Dan sejarah
para pendahulu (asabiqunal awaluun), kita menyaksikan begitu banyak pelajaran
yang bisa kita raih, Islam tersebar hampir ke pelosok penjuru dunia hanya dalam
tempo yang sangat singkat dikarenakan jasa para pribadi - pribadi yang memiliki
karakter seorang pemenang yang tangguh, optimis, dan percaya diri. Mereka adalah
mutiara-mutiara yang telah menghiasi untaian dakwah islamiah sepanjang sejarah.
Sayangnya, mutiara ini telah terscabut dan perbendaharaan umat Islam dan direbut
oleh mereka yang pada awal kebangkitan Islam justru adalah masyarakat jahili yang
berada dalam kegelapan yang total.Gelap secara teologis, gelap secara keilmuan,
bahkan gelap secara moral.

Optimisme melahirkan keberanian untuk menempuh segala risiko karena


orang yang optimis sadar bahwa segala sesuatu pasti ada risikonya, sesuai dengn
hukum sebab-akibat.Ibarat sebuah kapal, tentu saja akan selamat bila terus
ditambatkan di pelabuhan. Akan tetapi, bukan untuk itu kita membuat kapal.Dia
dirancang untuk mampu menembus badai mengarungi samudra menghantarkan cilacita. Publius Syrus berkata.Anyone can hold the helm when the see calm

KHUSNUZH-ZHAN (OPTIMIS)

SUUZH-ZHAN (PES1MIS)

Gelas setengah si.

Gelas setengah kosong.

Tangkai itu penuh kembang waiau berduri.

Tangkai itu penuh dengan duri


18

walau ada kembangnya.


Masih punya sepuluh ment lagi.

Tinggal sepuluh menit lagi.

Ada secercah cahaya. ini tanggung jawab saya.

Alangkah geIapnya tempat ini. ini


kesalahan dia.

Bagian daripemecahan masalah.

Bagian dan permasalahan.

Dalam kesulitan itu masih banyak kesempatan.

Dalam kesempatan itu. lahalangkah


banyaknya kesulitan.

Saya akan terus mencoba.

Ah, sudahlah menyerah saja.

Saya harus mengambilpeIajaran dan kemudian


bangkit dan kegagalan!

Untuk apa lagi? Toh, saya Udak


berharga. Capek, ah!

Saya memiliki kelemahan, tetapi saya juga


masih ada kelebihan! I am somebody! There Is
something for me!

Saya memang jelek, bodoh.


tidakmungkin bertiasil! I am
nobody. There is nothing for me!

19

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

Mahkota umat islam adalah jihad. Jihad tidak selamanya terkait dengan pengertian
perang melainkan suatu sikap bersungguh-sungguh dalam beriktiar dengan mengerahkan
seluruh potensi untuk menuju tauhid sebagai motivasi dalam mencapai suatu tujuan.

Sebagai seorang Muslim yang ingin sukses dalam kehidupan dunianya, tentunya kita
harus menjadikan Jihad dan Tauhid sebagai pedoman Motivasi kerja keras dalam hal
kebaikan karena kerja dalam Islam adalah ibadah, kerja taqwa atau amal shalih,
memandang kerja sebagai kodrat hidup. Dalam Al-Quran Allah SWT menegaskan bahwa
hidup ini adalah untuk ibadah (Q.S Adz-Dzariat: 56). Makan, kerja dengan sendirinya
mempunyai makna ibadah,dan ibadah hanya dapat direalisasikan atau diwujudkan dengan
kerja dalam segala manifestasinya (Q.S Al-Hajj: 77-78,Al-Baqarah:177).

Sebagai muslim yang merdeka tidak dalam tekanan harus sadar selalu dekat
denganAllah, optimis, percaya diri, tidak mudah menyerah, impresiv dan sadar didunia ini
hanya sebagai pemain yang harus dimenangkan.

20

DAFTAR PUSTAKA

Al-Quran & Terjemah, Toha Putra, Semarang, 2002


Https://id.m.wikipedia.org/wiki/jihad, diunduh pada tanggal 20 Nopember 2015
Https://ayundi1456.wordpress.com/2013/01/02/pengertian-dan-macam-macamtauhid/, diunduh pada tanggal 20 Nopember 2015
Sholih, Kitab Tauhid, Universitas Islam Indonesia: Jogjakarta,2001.
www.pengertianahli.com/2013/09/pengertian-motivasi-menurut-para-ahli.html?
m=1, diiunduh pada 23 Nopember 2015
eki-blogger.blogspot.co.id/2012/03/tauhid-motivasi-dan-kesuksesan-hidup.html?
m=1, diunduh pada tanggal 25 Nopember 2015
Tasmara, Toto, Membudayakan Etos Kerja Islami, Gema Insani : Jakarta, 2002