Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH

PROTOKOL X.25
Disusun Untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Jaringan Digital Pelayanan Terpadu
DOSEN PEMBIMBING :

PENYUSUN :
JTD 2B
Kelompok

2
No.
1
2
3
4

Nama

No. Absen

NIM

5
6

PROGRAM STUDI JARINGAN TELEKOMUNIKASI DIGITAL


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI MALANG
2016
BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Jaringan telekomunikasi adalah teknologi yang sangat berkembang dalam sejarah
telekomunikasi, karena melalui jaringan telekomunikasi manusia dapat melakukan
komunikasi yang tidak terbatas oleh jarak dan waktu. Pada 1970 an ada banyak jaringan
telekomunikasi publik yang dimiliki oleh perusahaan, organisasi dan pemerintahan yang
saling berbeda satu sama lain sehingga diperlukan protocol yang lebih umum untuk
menggabungkan semua standar industri tersebut.
Pada 1976 X.25 direkomendasikan sebagai protocol yang dimaksud oleh The
International Consultative Committee for Telegraphy and Telephony (CCITT) sekarang
International Telecommunication Union (ITU) sejak 1993. Aturan standar ini
dikemukakan agar perusahaan-perusahaan yang saling berkomunikasi dapat
menyelenggarakan komunikasinya dengan berbagai macam vendor komputer. Aturan
standar ini diperlukan sebagai sebuah aturan baku yang standar dan disetujui berbagai
pihak. Seperti halnya dua orang yang berlainan bangsa, maka untuk berkomunikasi
memerlukan penerjemah/ interpreter atau satu bahasa yang dimengerti kedua belah pihak.
Untuk itu maka badan dunia yang menangani masalah standarisasi ISO (International
Standardization Organization) membuat aturan baku yang dikenal dengan nama model
referensi OSI (Open System Interconnection).
Standar X.25 ini adalah standar yang mendefinisikan layers 1,2 dan 3 Model referensi
OSI. Dengan demikian diharapkan semua vendor perangkat telekomunikasi haruslah
berpedoman dengan model referensi ini dalam mengembangkan protokolnya, sehingga
komunikasi yang terjadi menjadi lebih mudah
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah pada makalah ini adalah:
1.1.1.
Apa pengertian protokol X.25?
1.1.2.
Apa saja karakteristik dari protokol X.25?
1.1.3.
Apa saja protokol yang biasa digunkan untuk implementasi X.25?
1.1.4.
Berapa layer pada X.25?
1.1.5.
Apa yang dimaksud virtual circuit X.25?
1.1.6.
Apa saja kelebihan dari X.25?
1.1.7.
Apa saja kekurangan dari X.25?
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah:
1.1.1.
Untuk mengetahui pengertian X.25.
1.1.2.
Untuk mengetahui karakteristik dari protokol X.25.
1.1.3.
Untuk mengetahui apa saja protokol yang biasa digunakan untuk implementasi
X.25.
1.1.4.
Untuk mengetahui jumlah layer X.25 dan apa saja layer tersebut.
1.1.5.
Untuk mengetahui apa itu virtual circuit.
1.1.6.
Untuk mengetahui kelebihan X.25.
1.1.7.
Untuk mengetahui kekurangan X.25.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Teori Dasar
2.1.1. Protokol
Protokol adalah prosedur dan peraturan-peraturan yang mengatur operasi
dari peralatan komunikasi data. Protokol berfungsi untuk :
a. Membuat hubungan antara pengirim dan penerima
b. Menyalurkan informasi dengan kehandalan tinggi.
Protokol dirancang dan dikembangkan oleh suatu pabrik sehingga
mereka sukar berhubungan apabila berlainan pabrik pembuatnya.
2.1.2. Model O S I
Model OSI menggunakan layer (lapisan) untuk menentukan berbagai
macam fungsi dan operasi sistem. OSI mendefinisikan sistem sebagai
himpunan dari satu atau lebih komputer beserta perangkat lunaknya, terminal,
operator, proses, serta alat penyalur informasi lainnya yang dapat
melaksanakan pengolahan dan penyaluran informasi. Model ini juga
menentukan sifat-sifat eksternal sistem, misalnya protokol komunikasi, karena
hal inilah yang memungkinkan disambungkannya peralatan-peralatan dari
perusahaan yang berbeda.
Model OSI menentukan bahwa fungsi-fungsi pada setiap stasiun harus
dijalankan sebelum suatu pesan dikirimkan atau diterima. Pesan ini pada sisi
pengirim akan bergerak dari atas ke bawah, setiap lapisan akan menambahkan
semacam header ke pesan tersebut. Pada lapisan sambungan data (data link
layer) pesan ini akan ditempatkan pada sebuah lapisan yang mempunyai
header dan trailer sesuai dengan jenis protokol yang digunakan.

Gambar 1. Layer OSI

Tiap layer berdiri sendiri tapi fungsinya bergantung pada keberhasilan


operasi layer sebelumnya. Sebuah layer pada pengirim hanya perlu
berhubungan dengan layer yang sama di penerima selain dengan satu layer
diatas atau dibawahnya. Tiap layer bertugas untuk memberi layanan tertentu
pada lapisan diatasnya dan juga melindungi layer diatasnya dari rincian cara
memberikan layanan tersebut. Layer menjalankan perannya dalam pengalihan
data dengan mengikuti peraturan yang berlaku untuknya dan hanya
berhubungan dengan layer yang setingkat. Proses ini disebut dengan "peer
process".
Himpunan layer dan protokol disebut dengan arsitektur jaringan.Empat
layer pertama memberikan transfer sevice karena pada layer ini pesan
disalurkan atau dialihkan dari sumber ke tujuannya, sehingga mereka
merupakan interface antara terminal dan jaringan yang dipakai bersama.
Keempat layer ini juga dikenal sebagai network oriented layer dan berfungsi
membentuk sambungan antara dua sistem yang hendak berkomunikasi
melalui jaringan yang ada, mengendalikan proses pengalihan informasi
melalui sambungan ini tanpa kesalahan, lengkap dan tidak rangkap.Tiga layer
diatas dikenal sebagai user atau application oriented layer yang umumnya
berkaitan dengan sambungan antar perangkat lunak dan pemberian akses
untuk mendapatkan data yang ada dalam jaringan. Application oriented layer
memusatkan perhatian pada penampilan data yang dipertukarkan dan
mendukung pelayanan yang diperlukan guna melakukan distributed
processing.
2.1.3.

Layer Pada Model OSI


2.1.3.1.
Physical Layer
Physical layer mendefinisikan karakteristik mekanik, elektrik,
fungsional, dan prosedural untuk mengaktifkan, mempertahankan/
memelihara (maintain), serta memutuskan (deactivate) koneksi untuk
mentransmisikan deretan bit melalui suatu saluran fisik.
2.1.3.2.
Data Link Layer
Data link layer memiliki fungsi untuk mewujudkan suatu
transfer data yang andal melalui saluran fisik. Layer ini memetakan
unit data yang berasal dari network layer menjadi frame data yang
dapat ditransmisikan.
2.1.3.3.
Network Layer
Fungsi yang dijalankan oleh network layer menyebabkan layerlayer yang berada di atasnya tidak tergantung kepada proses ruting
dan penyambungan yang berhubungan dengan pembentukan koneksi
jaringan.

2.1.3.4.

Transport Layer
Transport layer melaksanakan pengendalian end-to-end
(station-to-station) terhadap data yang ditransmisikan serta
melakukan optimasi terhadap penggunaan sumber daya jaringan.

2.1.3.5.

Session Layer
Session adalah suatu koneksi antara dua station yang
memungkinkan mereka berkomunikasi. Session layer memungkinkan
pembentukan dan penggunaan koneksi transport antara dua entitas
presentation yang terletak pada dua station yang berjauhan.
2.1.3.6.
Presentation Layer
Presentation layer bertugas memberikan informasi cara
mengatasi perbedaan syntax kepada entitas aplikasi-aplikasi yang
sedang berkomunikasi.
2.1.3.7.
Application Layer
Application layer memungkinkan suatu proses aplikasi
mengakses lingkungan OSI.
2.1.4. Paket Switching
Adalah protocol yang mengatur data dibagi menjadi sejumlah paket
sebelum dikirimkan. Setiap paket akan dikirimkan terpisah dan dapat melalui
saluran (routing) yang berbeda. Setelah semua paket dapat diterima oleh host
tujuan, protocol menyusun kembali sehingga bisa ditampilkan utuh seperti
semula. Sebagian besar Wide Area Network (WAN) protocol modern, termasuk
TCP/IP, X.25 dan Frame Relay, berbasis teknologi packet switching.
Sedangkan layanan telepon umumnya berbasis jaringan teknologi circuit
switching.
Umumnya dedicated line dialokasikan untuk transmisi antara dua pihak.
Circuit switching ideal untuk kondisi dimana data harus dikirim secepatnya
dan harus sampai dengan urutan yang sama. Misalnya untuk real time data
(live audio dan video). Packet switching lebih efisien untuk jenis data yang
dapat mentoleransi transmisi yang tertunda dan terpisah (tidak bersamaan)
seperti misalnya e-mail dan Web.Teknologi yang lebih baru, ATM,
mengkombinasikan keduanya. Mampu memberikan garansi akurasi seperti
jaringan circuit switched dan efisiensi dari jaringan packet switching.

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Pengertian X.25
X.25 adalah protocol yang mendefinisikan bagaimana computer (device) pada
jaringan public yang berbeda platform bisa saling berkomunikasi. Protocol ini sudah
distandarisasi oleh International Telecommunication Union-Telecommunication
Standardization Sector (ITU-T). Device jaringan public menggunakan basis teknologi
Internet untuk berkomunikasi, dimana data yang dikirim antar komputer akan dibentuk
dalam packet. metode untuk pengiriman paket data tersebut disebut sebagai Packet
switching. Packet switching ini merupakan suatu metode untuk mengirimkan informasi
yang memisahkan pesan yang panjang ke dalam unit-unit kecil (paket) yang berukuran
tetap. Paket tersebut bergerak melalui suatu jaringan pada sesuatu seperti sabuk
penampung (conveyor belt), bercampur dengan paket berisi pesan dari pengirim lain.
Paket tersebut kemudian dikirim ke alamat tujuan dan pesan yang lengkap disusun ulang
ketika sema paket telah sampai. Packet switching memungkinkan sejumlah besar pemakai
memakai bersama penghubung transmisi berkecepatan tinggi.
Sebuah metode yang digunakan untuk memindahkan data dalam jaringan internet.
Dalam packet switching, seluruh paket data yang dikirim dari sebuah node akan dipecah
menjadi beberapa bagian. Setiap bagian memiliki keterangan mengenai asal dan tujuan
dari paket data tersebut. Hal ini memungkinkan sejumlah besar potongan-potongan data
dari berbagai sumber dikirimkan secara bersamaan melalui saluran yang sama, untuk
kemudian diurutkan dan diarahkan ke rute yang berbeda melalui router. Standar utama
untuk packet switching adalah X.25. berikut adalah jaringan X.25

Gambar 2. Paket Switching dari Jaringan X.25


Device pada X.25 ini terbagi menjadi tiga kategori yaitu :
a. Data Terminal Equipment (DTE)
b. Data Circuit-terminating Equipment (DCE)

c. Packet Switching Exchange (PSE)


Device yang digolongkan DTE adalah end-system seperti terminal, PC, host jaringan
(user device), Sedang device DCE adalah device komunikasi seperti modem dan switch.
Device inilah yang menyediakan interface bagi komunikasi antara DTE dan PSE. Adapun
PSE ialah switch yang yang menyusun sebagian besar carrier network. Hubungan antar
ketiga kategori ini diilustrasikan pada berikut ini.

Gambar 3. Hubungan DTE-DCE dan PSE


3.2 Karakteristik X.25
Ukuran paket maksimum dari X.25 berkisar antara 64 bytes sampai 4096 bytes,
dengan ukuran default pada hampir semua network adalah 128 bytes.
X.25 optimal untuk line kecepatan rendah, 100kbps kebawah. Karena fasilitas
X.25 seperti ukuran paket yang kecil, pengecekan error tersembunyi dan lainnya tidak
akan signifikan seperti halnya pada kecepatan rendah.
X.25 telah menjadi dasar bagi pengembangan protokol paket switch lain seperti
TCP/IP dan ATM. Sama seperti X.25, kedua protokol ini juga mempunyai kemampuan
untuk meng-handle dari satu source ke banyak koneksi serta kemampuan menyamakan
kecepatan pada DTE yang memiliki line speed yang berbeda.
X.25 telah diciptakan sejak pertengahan tahun 70 dan sudah banyak diperbaiki
sehingga stabil. Dikatakan bahwa tidak ada data error pada modem di network X.25
Kekurangan X.25 adalah delay tetap yang disebabkan oleh mekanisme store dan
forward, sehingga menyebabkan pengaturan rate transmisi data. Frame Relay dan ATM
tidak punya kontrol flow dan kontrol error sehingga waktu hubungan end-to-end bisa
menjadi minimal.
Penggunaan X.25 kini semakin berkurang, digantikan oleh sistem yang berbasis
TCP/IP, walau X.25 masih banyak digunakan pada autorisasi Point-of-Sale credit card
dan debit.

Tetapi, ada mulai ada peningkatan pembangunan infrastruktur X.25 dengan investasi
besar pada seluruh dunia. Sehingga mungkin, X.25 masih tetap penting untuk beberapa
waktu kedepan.
3.3 Protokol pada X.25
Penggunaan protokol pada model standar X.25 ini meliputi tiga layer terbawah dari
model referensi OSI. Terdapat tiga protokol yang biasa digunakan pada implementasi
X.25 yaitu:
a. Packet-Layer Protocol (PLP)
b. Link Access Procedure, Balanced (LAPB)
c. Serta beberapa standar elektronik dari interface layer fisik seperti EIA/TIA-232,
EIA/TIA-449, EIA-530, dan G.703.
Gambar berikut ini mengilustrasikan protokol-protokol X.25 ini pada model OSI.

Gambar 4. Perbandingan
Terbawah OSI

Protokol X.25 Pada Tiga Layer

3.4 Layer-Layer Pada X.25


Protokol X.25 terbagi menjadi 3 layer, yaitu
a. Layer 1
Physical Layer bekerja dengan elektris atau sinyal. Didalamnya termasuk beberapa
standar elektronik seperti is V.35 , RS232 and X.21.
b. Layer 2
Data Link Layer, pada X.25 diimplementasikan ISO HDLC standar yang disebut
Link Access Procedure Balanced (LAPB) dan menyediakan link yang bebas error
antara dua node yang secara fisik terkoneksi. Error ini akan dicek dan dikoreksi pada

tiap hop pada network.Fasilitas inilah yang membuat X.25 handal, dan cocok untuk
link yang noisy, cenderung punya banyak error.
c. Layer 3
Network Layer yang mengatur komunikasi end-to-end antar device DTE. Layer ini
mengurus set-up dan memutus koneksi serta fungsi routing dan juga multiplexing.

3.5 Virtual Circut X.25


Sebuah virtual circuit adalah koneksi logical yang dibuat untuk menjamin
konektivitas antara dua network device. Sebuah virtual circuit menandai sebuah path
logical dua arah dari sebuah DTE ke device lain dalam sebuah jaringan X.25.
X.25 membuat beberapa user DTE pada jaringan X.25 untuk berkomunikasi
dengan beberapa DTE lain secara simultan. Hal ini dimungkinkan karena X.25
mempunyai circuit logical tadi.
Secara fisik, koneksi ini dapat melalui berapapun node seperti DCE dan PSE.
Beberapa virtual circuit bisa disatukan (multiplexing) menjadi sebuah koneksi fisik
tunggal. Kemudian koneksi ini bisa dipecah lagi di tempat tujuan, untuk kemudian
menyampaikan data pada tujuan masing-masing. Gambar 4.4 dibawah menggambarkan
bagaimana proses multiplexing dan demultiplexing ini.

Gambar 5. Penggabungan beberapa virtual circuit menjadi satu circuit fisik


Sedangkan virtual circuit pada X.25 itu sendiri terbagi menjadi dua, yaitu switch dan
permanen.
Switched virtual circuits (SVC) adalah koneksi temporer yang digunakan untuk
transfer data yang jarang dilakukan. SVC ini terjadi antar dua DTE yang tiap kali koneksi
akan membuat koneksi, menjaga hingga mengakhiri sesi yang diperlukan. SVC ini bisa
diibaratkan seperti sambungan telepon. Sebuah koneksi tersambung, data ditransfer lalu
koneksi tersebut ditutup. Tiap DTE pada network mempunyai sebuah alamat DTE unik,
penggunaan yang mirip dengan telepon.

Dan permanent virtual circuits (PVCs) adalah koneksi permanen yang digunakan
untuk transfer data yang kerap dilakukan (frekuensi koneksi sering) serta transfer data
yang konsisten. Pada jenis ini tidak diperlukan pengadaan sebuah sesi,
sehingga DTE bisa memulai mentransfer data kapanpun karena sesi PVC ini selalu ada
(aktif). Untuk membuat suatu koneksi SVC, DTE asal mengirimkan sebuah paket Call
Request Packet, yang mengandung alamat DTE tujuan.
DTE tujuan memutuskan akan menerima paket atau tidak. Kemudian panggilan
dari DTE asal diterima dengan mengirimkan paket Call Accepted atau dengan
mengirimkan paket Clear Request apabila DTE tujuan memutuskan untuk tidak menerima
koneksi tersebut.
Setelah DTE asal menerima paket Call Accepted, virtual circuit akan terbentuk
dan data lalu ditransfer. Ketika DTE ingin mengakhiri sesi, sebuah paket Clear Request
dikirim pada DTE pasangannya, yang akan menjawab dengan mengirim sebuah paket
Clear Confirmation.
3.6 Kelebihan X.25
3.6.1. Protokol X.25 memiliki kecepatan yang lebih tinggi dibanding RS-232 (64
kbps dibanding 9600 bps).
3.6.2. Protokol X.25 memiliki kemampuan untuk menyediakan logical channel per
aplikasi.
3.6.3. Pendudukan logical channel dapat dilakukan secara permanen dengan mode
PVC (Permanent Virtual Channel) maupun temporary dengan mode SVC
(Switched Virtual Channel) disesuaikan dengan kebutuhan.
3.6.4. Data transfer pada X.25 bersifat reliable, data dijamin bahwa urutan
penerimaan akan sama dengan waktu data dikirimkan.
3.6.5.

Protokol X.25 memiliki kemampuan error detection dan error correction.

3.7 Kekurangan X.25

3.7.1. Tidak semua sentral memiliki antarmuka X.25. Sehingga diperlukan


pengadaan modul X.25 dengan syarat bahwa sentral sudah support X.25.
3.7.2. Untuk pengembangan aplikasi berbasis protokol X.25 membutuhkan biaya
yang relatif lebih besar dibanding dengan RS-232 terutama untuk pembelian card
adapter X.25.

3.7.3. Untuk komunikasi data antara sentral dengan perangkat OMT beberapa sentral
diidentifikasi menggunakan protokol proprietary vendor tertentu yang berjalan di
atas protokol X.25.

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
4.1.1. X.25 merupakan standar ITU-T protokol yang mendefinisikan bagaimana
koneksi antara perangkat pengguna dan perangkat jaringan dibangun dan
dipelihara, dan yang beroperasi secara efektif terlepas dari jenis sistem yang
terhubung ke jaringan. X.25 banyak digunakan dalam proses transaksi kartu
kredit dan mesin ATM.
4.1.2. Perangkat X.25 termasuk DTE, DCE, dan PSN. Koneksi X.25 mengandung
SVCs dan PVC dalam rangkaian fisik.
4.1.3. X.25 menggunakan tiga protokol, yang peta ke dasar tiga lapis OSI model
referensi: 1.) PLP, yang memetakan ke lapisan jaringan 2.)LAPB, yang peta untuk
data link layer 3.)X.21bis, EIA/TIA-232, EIA/TIA-449, EIA-530, dan G.703,
yang peta ke lapisan fisik
4.1.4.

X.25 itu sendiri terbagi menjadi dua, yaitu switch dan permanen.

DAFTAR PUSTAKA
X.25 protocol on local area network system nerwork (lan), nur azizah, 20492482, ir. Jalinas,
kkp, computer technic, 1996 stmik jakarta stik
http://www.jak-stik.ac.id (diakses pada tanggal 9 April pukul 21.47 WIB)
http://www.patton.com/technotes/x25_basics.pdf (diakses pada tanggal 9 April Pukul 20.09
WIB)
chapter 17, Cisco System, Internetworking Technologies Handbook, Third Edition, 2000,
Indianapolis : Cisco Press
perbandingan X.25 dan TCP/IP, Ghozali, Theresia, Metris: Jurnal Mesin, Elektro, Industri
dan Sains vol. 1 no. 1 (Mar. 2000)