Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tablet merupakan bentuk sediaan obat yang diberikan melalui mulut merupakan
cara pemberian obat yang paling utama untuk memperoleh efek sistemik, dimana
lebih dari 90 % persenyawaan obat diberikan melalui rute ini. Obat-obat yang
diberikan secara per oral dalam bentuk sediaan farmasi sangat beragam dan
mempunyai keuntungan masing-masing. Salah-satunya dalam bentuk tablet.
Tablet merupakan bentuk sediaan obat yang paling sering digunakan, karena
harganya murah dengan takaran yang tepat dan dapat dikemas secara baik. Tablet
merupakan sediaan padat dan kompak yang dibuat dengan cara kempa atau
dengan cetak. Zat tambahan yang digunakan dapat berfungsi sebagai, zat
pengikat, zat pelincir, zat pembsahan atau zat lain yang cocok. Untuk mendapatkan
tablet yan optimal maka dibutuhkan suatu formula, untuk menghasilkan suatu
formula yang optimal dalam proses pembuatan tablet diperlukan suatu studi awal
sebelum memasuki tahap formula sesungguhnya.
Proses suatu zat padat memasuki pelarut dan menghasilkan suatu larutan atau
melarutnya zat padat disebut disolusi. Beberapa factor yang dapat mempengaruhi
disolusi antara lain sifat fisikokimia obat, factor formulasi, anatomi fisiologi saluran
cerna dan lain-lain.
Jalur Proses disolusi suatu obat yaitu :
Disintegrasi Deagregasi
Tablet kapsul granul/agregat partikel halus
Disolusi Disolusi Disolusi
Obat dalam larutan
(invitro/invivo)
Absorpsi (in vivo)
Obat dalam darah, cairan tubuh lainnya dan dalam jaringan
Laju disolusi bahan obat dapat mempengaruhi kecepatan dan jumlah obat yang
diabsorpsi. Untuk bahan obat yang mudah larut dalam air, disolusi cenderung lebih
cepat, namun kemampuan obat untuk menembus membrane sel tidak cepat. Dan
sebagai tahap penentu laju adalah absorpsi melalui membrane pencernaan. Untuk
obat yang tidak larut dalam air, mudah larut dalam lemak maka obat tersebut lebih
mudah menembus membrane sel, kecepatan absorbsinya dibatasi oleh kecepatan
disolusi dari obat yang tidak larut dari sediaan.
Untuk menguji disolusi tablet maka diperlukan medium yang sesuai. Medium yang
digunakan dalam disolusi merupakan pelarut dengan karakteristik tertentu dan
merupakan suatu medium pembanding bagaimana suatu zat aktif bekerja dalam
tubuh. Air merupakan medium pelarut yang bersifat netral, dan dapar posfat

dengan pH tertentu digunakan untuk memperkirakan nasib suatu obat di dalam


usus.
Dalam praktikum ini digunakan parasetamol tablet dari indo farma sebagai tablet
yang akan diuji.selain itu, digunakan dapar fosfat pH 5,8 sebagai medium disolusi
ditunjukan untuk mengasumsikan kerja parasetamol di usus agar sama seperti
suasana pH didalam usus dan memahami profil disolusi obat.
B. TUJUAN
1. Memahami profil disolusi obat dalam berbagai kondisi pH
2. Memahami pengaruh formulasi terhadap laju disolusi
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Parasetamol
1. Umum
Nama kimianya dikenal N-asetil-4-aminofenol dengan rumus molekul C8H9NO2.
Parasetamol merupakan metabolit aktif fenasetin yang bertanggung jawab bagi
efek analgesiknya. Ia menghambat prostaglandin yang lemah dan efek
antiinflamasinya tidak bermakna. Asetaminofen di Indonesia dikenal dengan nama
parasetamol dan diberikan secara per oral, parasetamol kurang mengiritasi
lambung dan karena itu secara umum lebih disukai.
2. Sifat Fisika dan Kimia
Parasetamol mengandung tidak kurang dari 98,0% dan tidak lebih dari 101,0%,
mempunyai rumus molekul C8H9NO2 dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan,
dengan bobot molekul 151,16.
Parasetamol mempunyai bentuk hablur atau serbuk putih, tidak berbau, rasa pahit,
memiliki suhu lebur 169 C sampai 172 C. larut dalam 70 bagian air, dalam 7 bagian
etanol (95%)P, dalam 13 bagian aseton P, dalam 40 bagian gliserol P dan dalam 9
bagian propilenglikol P, larut dalam larutan alkali hidroksida.
B. Disolusi
Laju disolusi merupakan waktu yang diperlukan obat untuk melarut dalam cairan.
Laju disolusi dinyatakan sebagai milligram zat yang dilarutkan permenit sentimeter
persegi (mg/ menit/ cm2).
Disolusi adalah suatu perubahan proses dari bentuk padat ke bentuk cairan atau
larut, dimana dimulai dengan disintegrasi kemudian melarut sehingga
menghasilkan bentuk larutan. Disolusi dapat mengakibatkan perbedaan aktifitas
biologi dari suatu zat obat mungkin diakibatkan oleh laju dimana obat menjadi
tersedia untuk diserap tubuh.
Alat disolusi yang digunakan pada tablet parasetamol adalah alat tipe 2 dengan
metode dayung, yang terdiri dari daun dan batang seperti pengaduk. Batang
berada pada posisi sedemikian sehingga sumbunya tidak lebih dari 2 mm pada

setiap titik dari sumbu vertical wadah dan berputar halus tanpa goyangan.
Pada praktikum uji disolusi tablet parasetamol menggunakan medium disolusi
larutan dapar posfat. Dapar adalah senyawa-senyawa atau campuran senyawa
yang dapat meniadakan perubahan pH terhadap penambahan sedikit asam atau
basa, atau dikenal sebagai aksi dapar. Larutan dapar posfat digunakan sebagai
media buatan untuk memperkirakan nasib obat dalam usus yang pada umumnya
bersifat basa dengan pH sekitar 5-8.
Faktor-faktor yang mempengaruhi laju disolusi yaitu:
1. Sifat fisikokimia obat.
a. Karakteristik fase padat.
Laju disolusi dipengaruhi oleh bentuk amorf dan kristal. Dari beberapa penelitian
menunjukkan bahwa bentuk amorf dari obat lebih memberikan kelarutan yang
besar dan laju disolusi yang lebih tinggi daripada bentuk kristal.
b. Polimorfisme.
Polimorf merupakan bentuk kristal obat yang terdiri lebih dari satu bentuk kristal.
Polimorf menunjukkan kinetika pelarut yang berbeda meskipun memiliki struktur
kimia yang identik. Beberapa laporan menunjukkan bahwa polimorfisme dalam
bentuk hidrat, solvate atau kompleks secara nyata mempengaruhi karakteristik
disolusi & obat.
c. Karakteristik partikel.
Laju disolusi secara langsung berhubungan dengan permukaan obat. Jika daerah
permukaan diperbesar dengan memperkecil ukuran partikel, laju disolusi menjadi
tinggi disebabkan pengurangan ukuran partikel
2. Faktor formulasi
a. Bahan tambahan.
Laju disolusi suatu obat murni dapat berubah secara bermakna saat dicampur
dengan berbagai bahan tambahan selama proses pencetakan bentuk sediaan.
Bahan tambahan ini antara lain bahan pengisi, pengikat, penghancur, pelicin, dan
sebagainya.
b. Ukuran partikel.
Untuk meningkatkan laju disolusi dipilih ukuran partikel optimal yaitu cukup kecil
untuk memberikan luas permukaan spesifik yang berarti, tetapi tidak terlalu kecil
agar kesulitan pembasahan yang disebabkan oleh muatan partikel yang terjadi
selama penggerusan dapat dihindari.
Uji Disolusi Tablet yaitu untuk menentukan kesesuaian dengan persyaratan disolusi
yang tertera dalam masing-masing monografi (missal Farmakope) untuk sediaan
tablet dan kapsul, kecuali pada etiket dinyatakan bahwa tablet harus dikunyah.
Persyaratan disolusi tidak berlaku untuk kapsul gelatin lunak kecuali bila dinyatakan
dalam masing-masing monografi.
Persyaratan dipenuhi bila jumlah zat aktif yang terlarut dari sediaan yang diuji
sesuai dengan table penerimaan. Lanjutkan pengujian sampai 3 tahap kecuali bila
hasil pengujian memenuhi tahap S1 atau S2. Harga Q adalah jumlah zat aktif yang
terlarut seperti tertera pada masing-masing monografi, dinyatakan dalam
persentasi kadar pada etiket, angka 5% dan 15% dalam table adalah persentasi

kadar pada etiket, dengan demikian mempunyai arti sama dengan Q. Berikut ini
merupakan table penerimaan uji disolusi yang tertera pada Farmakope IV:
Tahap Pengujian Jumlah satuan yang diuji Kriteria Penerimaan
S1 6 Tiap unit sediaan tidak kurang dari Q+5%
S2 6 Rata-rata dari 12 unit (S1 + S2) adalah sama dengan atau lebih besar dari Q
dan tidak satu unit sediaan yang lebih kecil dari Q 15%
S3 12 Rata-rata dari 24 unit (S1 + S2 + S3) adalah sama dengan atau lebih besar
dari Q, tidak lebih dari 2 unit sediaan yang lebih kecil dari Q 15% dan tidak satu
unitpun yang lebih kecil dari Q 25%
BAB III
METODE PRAKTIKUM
A. Alat dan Bahan
Alat-alat :
1. Disolution tester
2. Spektrofotometer UV-VIS
3. Vial 12 pcs @ 15 ml
Bahan-bahan:
1. Tablet parasetamol (generic dan paten)
2. HCl 0,1 N
3. Larutan dapar fosfat pH 5,8 dan 7,5
4. Aquadest
B. Cara Kerja
1. Siapkan alat dissolution tester tipe 2 dan bahan.
2. Setiap kelompok menggunakan satu sampel uji dengan medium disolusi yang
telah ditetapkan.
3. Penentuan panjang gelombang larutan parasetamol; buat larutan standar
konsentrasi 10g/ml dan ukur serapannya pada panjang gelombang 220-350 nm.
4. Pembuatan kurva kalibrasi; buat larutan standar parasetamol dengan beberapa
konsentrasi yaitu, 4, 6, 8, 10, 12, dan 14g/ml dan ukur serapannya pada panjang
gelombang maksimum (hasil pengukuran pada no. 2).
5. Penentuan profil disolusi; wadah disolusi (chamber) diisi dengan medium disolusi
sebanyak 900 ml. Tablet parasetamol dimasukkan dalam chamber yang telah terisi
medium disolusi kemudian atur alat disolusi pada kecepatan 50 rpm. Ambillah
larutan dalam chamber (melalui pemipetan) sebanyak 5 ml pada menit ke 0, 5, 10,
15, 20, dan 30 dan setiap pengambilan harus digantikan dengan medium lagi
sejumlah yang sama. Masing-masing larutan tersebut diukur serapannya pada
panjang gelombang maksimum dengan spektrofotometer UV-Vis, kemudian
tentukan kadar parasetamol yang terdisolusi per satuan waktu menggunakan kurva
kalibrasi.

BAB IV
HASIL DAN PERHITUNGAN
A. Hasil
Dari hasil praktikum pada tanggal 20 Oktober 2009 di dapat hasil :
1. Kurva Kalibrasi Parasetamol
Standar Konsentrasi Absorban
1. 4,000 0,191
2. 6,000 0,315
3. 8,000 0,436
4. 10,000 0,557
5. 12,000 0,665
2. Kurva Parasetamol Generik (PCT PT INDOFARMA)
Menit Ke Konsentrasi absorban
0 menit 4,3055 0,213
5 menit 6,8316 0,363
10 menit 7,2910 0,391
15 menit 7,1105 0,380
20 menit 7,3197 0,392
30 menit 7,2007 0,385
3. Kurva Parasetamol Paten (PAMOL)
Menit Ke Konsentrasi absorban
0 menit 1,1478 0,025
5 menit 6,9916 0,373
10 menit 7,8405 0,423
15 menit 7,7954 0,421
20 menit 7,1987 0,385
30 menit 7,3607 0,395

B. Perhitungan
1. Parasetamol Generik (PCT PT INDOFARMA)
a. Menit ke 0
- Y = a + bx
0,213 = 0,0432 + 0,0595 X
0,0595 X = 0,213 + 0,0432
X = 4,30588 g/ml = 0,00430588 mg/ml
- Massa zat aktif = X factor pengenceran
= 0,00430588 mg/ml 900 ml
= 387,5294 mg

b. Menit ke 5
- Y = a + bx
0,363 = 0,0432 + 0,0595 X
0,0595 X = 0,363 + 0,278
X = 6,8268 g/ml = 0,0068268 mg/ml
- Massa zat aktif = X factor pengenceran
= 0,0068268 mg/ml 900 ml
= 614,4201 mg
c. Menit ke 10
- Y = a + bx
0,391 = 0,0432 + 0,0595 X
0,0595 X = 0,391 + 0,0432
X = 7,2974 g/ml = 0,007294 mg/ml
- Massa zat aktif = X factor pengenceran
= 0,0072974 mg/ml 900 ml
= 656,7731 mg
d. Menit ke 15
- Y = a + bx
0,380 = 0,0432 + 0,0595 X
0,0595 X = 0,380 + 0,0432
X = 7,1126 g/ml = 0,0071126 mg/ml
- Massa zat aktif = X factor pengenceran
= 0,0071126 mg/ml 900 ml
= 640,1344 mg
e. Menit ke 20
- Y = a + bx
0,392 = 0,0432 + 0,0595 X
0,0595 X = 0,392 + 0,0432
X = 7,3143 g/ml = 0,0073143 mg/ml
- Massa zat aktif = X factor pengenceran
= 0,0073143 mg/ml 900 ml
= 658,2857 mg
f. Menit ke 30
- Y = a + bx
0,0,385 = 0,0432 + 0,0595 X
0,0595 X = 0,385 + 0,0432
X = 7,1966 g/ml = 0,0071966 mg/ml
- Massa zat aktif = X factor pengenceran
= 0,0071966 mg/ml 900 ml

= 647,6974 mg
2. Parasetamol Paten (PAMOL)
a. Menit ke 0
- Y = a + bx
0,025 = 0,0432 + 0,0595 X
0,0595 X = 0,025 + 0,0432
X = 7,6807 g/ml = 0,0076807 mg/ml
- Massa zat aktif = X factor pengenceran
= 0,0076807 mg/ml 900 ml
= 691,2630 mg
b. Menit ke 5
- Y = a + bx
0,373 = 0,0432 + 0,0595 X
0,0595 X = 0,373 + 0,0432
X = 6,9949 g/ml = 0,0069949 mg/ml
- Massa zat aktif = X factor pengenceran
= 0,006994 mg/ml 900 ml
= 629,5410 mg
c. Menit ke 10
- Y = a + bx
0,423 = 0,0423 + 0,0595 X
0,0595 X = 0,423 + 0,0432
X = 7,8353 g/ml = 0,0078353 mg/ml
- Massa zat aktif = X factor pengenceran
= 0,0078353 mg/ml 900 ml
= 705,1765 mg
d. Menit ke 15
- Y = a + bx
0,421 = 0,0432 + 0,0595 X
0,0595 X = 0,421 + 0,0432
X = 7,8016 g/ml = 0,0078016 mg/ml
- Massa zat aktif = X factor pengenceran
= 0,0067597 mg/ml 900 ml
= 702,1512 mg/ml
e. Menit ke 20
- Y = a + bx
0,385 = 0,0432 + 0,0595 X
0,0595 X = 0,385 + 0,0432

X = 7,1966 g/ml = 0,0071966 mg/ml


- Massa zat aktif = X factor pengenceran
= 0,0071966g/ml 900 ml
= 647,694 mg
f. Menit ke 30
Y = a + bx
0,395 = 0,0432 + 0,0595 X
0,0595 X = 0,395 + 0,0432
X = 7,3647 g/ml = 0,0073647 mg/ml
- Massa zat aktif = X factor pengenceran
= 0,0073647 mg/ml 900 ml
= 662,8235 mg

Menit Ke PCT Generik %Terdisolusi PCT PATEN % Terdisolusi


0 menit 77,9364 % 16,1832 %
5 menit 123,9972 % 93,2356 %
10 menit 133,1975 % 117,7816
15 menit 130,5811 % 123,5984
20 menit 134,9428 % 132,5063
30 menit 133,5447 % 136,2686

%
%
%
%

BAB V
PEMBAHASAN
Ketersediaan hayati merupakan kecepatan dan jumlah obat yang mencapai sirkulasi
sistemik dan secara keseluruhan menunjukkan kinetic dan perbandingan zat aktif
yang mencapai peredaran darah terhadap jumlah obat yang diberikan. Ketersediaan
hayati obat yang diformulasi menjadi sediaan farmasi merupakan bagian dari salah
satu tujuan rancangan bentuk sediaan dan yang terpenting untuk keefektifan obat
tersebut. Pegkajian terhadap ketersediaan hayati ini tergantung pada absorpsi obat
ke dalam sirkulasi umum serta pengukuran dari obat yang terabsorpsi tersebut.
Dalam menaksir ketersediaan hayati ada tiga parameter yang biasanya diukur yang
an profil konsentrasi dalam darah dan waktu dari obat yang diberikan (Abdou,
1989).
1. Konsentrasi puncak (Cmax), menggambarkan konsentrasi obat tertinggi dalam
sirkulasi sistemik. Konsentrasi ini tergantung pada konstanta absorbsi, dosis,
volume distribusi dan waktu pencapaian konsentrasi obat maksimum dalam darah.
Konsentrasi puncak sering kali dikaitkan dengan intensitas respon biologis dan
harus di atas MEC dan tidak melebihi MTC.
2. Waktu untuk konsentrasi puncak (tmax) menggambarkan lamanya waktu
tersedia untuk mencapai konsentrasi puncak dari obat sirkulasi sistemik. Parameter
ini tergantung pada konstanta absorbs yang menggambarkan permulaan dari level

puncak dari respon biologis dan bias digunakan sebagai perkiraan kasar untuk laju
absorbsi.
3. Luas daerah di bawah kurva (AUC), merupakan total area di bawah kurva
konsentrasi vs waktu yang menggambarkan perkiraan jumlah obat yang berada
dalam sirkulasi sistemik. Bila membandingkan suatu formulasi untuk acuan,
parameter ini menggambarkan jumlah ketersediaan hayati dan biasa digunakan
sebagai perkiraan kasar jumlah obat diabsorbsi. Ketersediaan hayati merupakan
suatu penerapan baru yang kegunaannya tidak perlu diragukan lagi. Penerapan
ketersediaan hayati berkembang dalam dua arah, yaitu:
1. Farmasi klinik yang berkaitan dengan rasionalisasi keadaan individu penderita,
artinya penyesuaian pasologi yang tepat pada setiap penderita, dengan
mempertimbangkan perubahan farmakokinetika in vivo, baik karena interaksi obat
maupun karena fungsi fisiolagi.
2. Farmasetika yang berkaitan dengan rasionalisasi pengembangan suatu obat,
yaitu penyesuaian optimal jalur pemberian obat dan bentuk sediaan terhadap
karakteristik farmakokinetika zat aktif.
Kedua arah pengembangan tersebut tercakup dalam lingkup penelitian
biofarmasetika dan berkaitan dengan penyesuaian pada kurva profil kadar zat aktif
dalam darah penderita dan efek yang diteliti.
Data ketersediaan hayati digunakan untuk menentukan:
1. Banyaknya obat yang diabsorbsi dari formulasi sediaan.
2. Kecapatan obat yang diabsorbsi.
3. Lama obat berada dalam cairan biologi atau jaringan dan dikorelasikan dengan
respon pasien.
4. Hubungan antara kadar obat dalam darah dan efikasi klinis serta toksisitas.
Metode penilaian ketersediaan hayati
Penelitian ketersediaan hayati pada sukarelawan dapat dilakukan dengan beberapa
metode:
a. Metode dengan menggunakan data darah
b. Data urin
c. Data efek farmakologis
d. Data respon klinis
Pemilihan metode bergantung pada tujuan studi, metode analisis untuk penetapan
kadar obat dan sifat produk obat. Data darah dan data urin lazim digunakan untuk
menilai ketersediaan hayati sediaan obat yang metode analisis zat berkhasiat telah
diketahui cara dann validitasnya. Jika cara dan validitasnya belum diketahui dapat
digunakan data farmakologi dengan syarat efek farmakologi yang timbul dapat
diukur secara kuantitatif, seperti efek pada kecepata denyut jantung atau tekanan
darah yang dapat digunakan sebagai indeks ketersediaan hayati obat. Untuk
evaluasi ketersediaan hayati menggunakan data respon klinis dapat mengalami
perbedaan antar individu akibat farkokinetika dan farmakodinamik obat yang
berbeda. Factor farmakodinamik yang berpengaruh meliputi: umur, toleransi obat,
interaksi obat dan factor-faktor patofisiologik yang tidak diketahui.
Faktor-faktor yang mempengaruhi ketersediaan hayati oabat yang digunakan secara

oral:
4. Sifat fisikokimia zat aktif.
Paracetamol merupakan zat kimia yang mempunyai Panjang gelombang maksimum
parasetamol dalam larutan dapar fosfat pH 5,8 menghasilkan panjang gelombang
243,8 nm. Pada pembuatan kurva kalibrasi parasetamol dalam larutan dapar pH 5,8
diperoleh persamaan regresi Y = -0,0432 + 0,0595X dan r = 0,9996.

BAB V
KESIMPULAN
Uji yang dilakukan adalah uji disolusi pada tablet parasetamol 500 mg. Monografi
tablet parasetamol, Media Disolusi : 900 ml larutan dapar posfat pH 5,8, Alat tipe 2 :
50 rpm, Waktu : 30 menit, dan panjang gelombang 243 nm. Toleransi dalam
waktu 30 menit harus larut tidak kurang dari 80% (Q) C8H9NO2, dari jumlah yang
tertera pada etiket.