Anda di halaman 1dari 6

ANALISIS KASUS

Diajukan sebagai Nilai UTS mata kuliah Penanganan Kasus Klinis

Dosen Pengampu : Sumi Lestari, S.Psi., M.Psi

Oleh :
Christine Natalia / B-6
135120301111072

Program Studi Psikologi


Universitas Brawijaya
2016

Kasus 1
Pada kasus 1 DP mengalami Gangguan Kecemasan. Karena DP merasakan
ketidaknyamanan dan kecemasan yang berlebihan pada dirinya yaitu fisiknya kurang bersih
karena jarang mandi dan tidak percaya diri. Kecemasan adalah suatu perasaan tidak tenang,
gelisah akan sesuatu yang belum pasti. Setiap orang pasti pernah merasakan cemas dan dalam
keadaan yang wajar. Namun diluar batas kewajaran, dimana kecemasan terjadi pada setiap
kejadian dalam hidupnya maka hal ini bisa dikategorikan sebagai gangguan kecemasan.
Gangguan kecemasan adalah gangguan psikis dimana seseorang selalu merasa cemas seccara
konstan akan dirinya dan hidupnya. Hal ini membuat penderita menjadi tidak produktif dan
bisa menyebabkan kesulitan lain dalam sebagian proses relasi dengan orang lain dan
sekitarnya. Begitu pula yang dialami DP dengan mengikuti banyak kegiatan sehingga DP
tidak dapat membagi waktu membuat tidak produktif karena kurangnya tidur untuk
mengerjakan tugas yang membuat DP stress. Serta kesibukan DP membuatnya jarang makan,
mandi, dan membuat dirinya tidak percaya diri dan cemas akan penampilannya. Stress yang
berkepanjangan dapat menyebabkan kecemasan, serta ketidak seimbangan hormon dalam
otak dapat memicu kecemasan.
Untuk menangani gangguan kecemasan sendiri tanpa dokter DP harus mengonsumsi
makanan bergizi tinggi, cukup tidur, mengurangi asupan kafein, atau zat penenang lainnya,
dan melakukan metode relaksasi sederhana seperti yoga atau meditasi. Apabila dengan
penanganan ini tidak dapat membantu sebaiknyaDP diberikan terapi kognitif. Terapi kognitif
berfokus pada pola berfikir dan perilaku yang mempertahankan atau memicu serangan panik.
Ini akan membantu DP melihat ketakutan dalam cahaya yang lebih realistis sampai dicapai
puncak dimana emosi-emosi negatif seperti kecemasan dan depres disebabkan oleh pikiran
kita (yang salah) terhadap peristiwa yang mengganggu, bukan pada peristiwa itu sendiri,
terapi ini diberikan oleh psikolog atau dokter yang berkompeten dalam bidangnya. Serta
terapi perilaku Rasional-Emotif dimana terapi ini membantu klien dalam debat pemikiran
irasional yang menyerang diri sendiri (maladaptif) dan mengembangkan keyakinan alternatif
dan adaptif.
Kasus 3
Pada kasus 3 Ratna anak 10 tahun mengalami gangguan skizofrenia, karena perilaku ratna
yang menujukkan bajhwa iya bicara sendiri yang ia menganggap bahwa ia berbicara dengan

orang lain, akan tetapi orang lain yang dimaksud tidaklah nyata atau hanya halusinasinya
saja. Pasien bisa didiagnosis menderita skizofrenia oleh dokter jika:

Memiliki sedikitnya dua gejala, baik gejala negatif maupun positif, seperti halusinasi,
delusi, pikiran kacau, dan perubahan perilaku.

Gejala tersebut telah dialami pasien selama lebih dari enam bulan.

Gejala tersebut telah mengganggu aktivitas dan produktivitas pasien dalam kehidupan
sehari-harinya.

Gejala yang ada telah dipastikan bukan disebabkan oleh efek narkoba.
Seseorang disebut berhalusinasi ketika dia melihat, mendengar, merasa, atau mencium
suatu aroma yang sebenarnya tidak ada. Hal-hal ini hanya ada di dalam pikiran mereka.
Halusinasi berbeda dengan aktivitas membayangkan karena membayangkan adalah tindakan
dalam kendali dan dilakukan dengan kemauan sendiri. Halusinasi ada berbagai macam, yaitu:
-halusinasi auditorik: sering mendengar orang lain berbicara pada dirinya, atau mendengar
obrolan orang lain, medengar suara-suara seperti suatu pesawat, telepon, atau yang lain.
halusinasi visual: berupa penglihatan seperti melihat bayangan orang lain, melihat benda
benda yang bergerak, atau yang lain.
halusinasi taktil, berupa perasaan disentuh, dipeluk, digelitiki, atau yang lain padahal
sebenarnya tidak ada.
halusinasi ofaktori: yaitu mencium bau atau wangi wangian tertentu.
halusinasi gustatori: merasakan sesuatu di indra perasanya misal seperti sedang memakan
permen, atau yang lain.
Halusinasi dapat terjadi pada beberapa orang seperti: penderita skizofrenia, konsumsi obat
obatan tertentu, demam tinggi, konsumsi alkohol, penderita yang trauma berlebihan,
gangguan jiwa lain. Halusinasi yang bermacam macam tersebut seringkali terjadi bersamaan,
tidak hanya terbatas pada salah satu jenis halusinasi.

Biasanya pengobatan skizofrenia berlangsung dalam jangka waktu yang lama, meski
gejalanya sudah mereda. Hal tersebut dikarenakan gejala skizofrenia masih dapat kambuh
pada sewaktu-waktu.Skizofrenia ditangani dengan kombinasi obat-obatan dan terapi
(pengobatan psikologis). Selama periode gejala akut, rawat inap di rumah sakit jiwa mungkin
diperlukan untuk menjamin nutrisi, kebersihan, dan istirahat penderita, serta menjamin
keamanan diri penderita dan orang-orang di sekitarnya. Setelah gejala skizofrenia reda,
disamping harus tetap melanjutkan konsumsi obat, penderita juga membutuhkan pengobatan
psikologis. Ada beberapa hal yang termasuk di dalam penanganan psikologis ini.Pertama
adalah terapi individual. Pada terapi ini penderita diajarkan cara mengatasi stres dan
mengendalikan skizofrenia melalui identifikasi tanda-tanda kambuh secara dini. Terapi ini
juga berguna untuk memulihkan kepercayaan diri mereka.
Terapi individual juga bermanfaat untuk kembali mengembangkan kemampuan
mereka untuk bekerja dalam mengisi rutinitas kehidupannya.Selain itu, dalam terapi individu,
penderita skizofrenia juga akan diajarkan cara-cara untuk mengendalikan perasaan dan pola
pikirnya. Tujuannya adalah untuk menggantikan pikiran negatif dengan hal-hal yang
positif.Yang kedua adalah terapi kemampuan bersosialisasi. Dalam hal ini penderita diajarkan
bagaimana meningkatkan komunikasi dan interaksi dengan orang lain.Dan yang ketiga
adalah penyuluhan yang diperuntukkan bagi keluarga penderita. Guna penyuluhan ini adalah
untuk memberikan pendidikan serta wawasan pada keluarga penderita skizofrenia, baik
mengenai cara mengatasi masalah yang timbul akibat gejalanya, maupun cara memberikan
dukungan bagi penderita skizofrenia.
Kasus 4
Pada kasus 4 ini adanya gangguan Pedofilia pada Kakek berumur 72 tahun, dimana sang
kakek melakukan kekerasan seksual pada anak yang berumur 8 tahun dengan memberikan
upah uang untuk menyembunyikan tindakannya dan dengan mengancam anak tersebut,
sehingga anak tersebut tidak berani menceritakan perilaku yang dilakukan sang kakek
tersebut terhadap dirinya. The American Heritage Stedman's Medical Dictionary menyatakan,
"Paedofiliaadalah tindakan atau fantasi pada dari pihak orang dewasa yang terlibat
dalamaktivitas seksual dengan anak atau anak-anak." Aplikasi umum juga digunakanmeluas
ke minat seksual dan pelecehan seksual terhadap anak-anak dibawah umuratau remaja pasca
pubertas

dibawah

umur.

Penganiayaan seksual terhadap

anak adalah setiap

kontak seksual

antara pelaku dankorban yang karena usia/ketidakdewasaan, belum mampu bertindak baik
secara hukummaupun secara realistis, beberapa terapi dilakukan untuk mengembalikan
perilaku seksual pengidap homoseksual paedofilia:

Menggunakan psikoterapi yang lebih mengedepankan wawancara


Menggunakan obat-obatan
Metode behavior teraphy. Dalam metode ini, pengidap paedofilia akan di pantau
kegiatan seksualnya. Ketika dorongan birahi untuk menyetubuhi anak-anak
muncul,pasien akan diberikan stimulan rasa sakit sebagai hukuman. Dengan
demikian, setiaptiap kali dorongan seksual itu muncul kembali, pengidap paedofilia

akan membayangkan rasa sakit atau getir, adanya reward dan punishment
Terapi perilaku kognitif

DAFTAR PUSTAKA

Izzah, Nahariyatul Mufidatul. Terapi Kognitif Penderita Agorafobia Sebagai Gangguan


Kecemasan dalam Psikologi Abnormal.
Isnaeni, Januarti, dkk. Maret 2008. Efektifitas Terapis Aktivitas Kelompok Stimulasi
Halusinasi terhadap Penurunan Keceasan Klien Halusinasi Pendengaran Di ruang Sakura
RSUD Banyumas. Jurnal keperawatan Soedirman. Volume 3 No.1.
Firdah, Lailatul. Upaya Promosi Kesehatan Fenomena Tindak Pedofilia di Provinsi Jawa
Timur.2015.