Anda di halaman 1dari 28

Gwaenchana, Sarangiya

Irna Cloudaddicts story


Yoona | Minho | Taeyeon

Inspired by : Davinci- Its ok Its Love

+++

Siang itu teriakan bahagia siswa yang baru saja


menyelesaikan Ujian Nasional menyelimuti Danghan High
School. Seluruh siswa sibuk mencoret seragam yang
terakhir kali dipakainya dengan piloks warna warni dan
saling memberi tanda tangan dengan spidol. Bahkan
teriakan wakil kepala sekolah dari loudspeaker teredam
oleh keributan mereka, tidak ada yang mendengar
larangan gurunya-bahkan murid teladan sekalipun. Toh,
para guru tidak akan bisa menghukum mereka lagi.
Aku adalah satu-satunya siswa berseragam yang
tidak ikut dalam aktivitas itu. Bukan karena aku
diasingkan, melainkan karena aku tidak akan diberi
masuk jika tidak memakai seragam. Aku adalah siswa
kelas 11 yang menyusup masuk kesekolah, bersembunyi
dikamar mandi selama mereka ujian, dan sekarang
bersembunyi di balik tembok melihat aktivitas seniorku.
Aku mengelus kamera yang tergantung dileherku. Aku

kesini bukan tanpa alasan. Aku sudah memikirkannya


berhari hari dan dengan penuh keberanian aku akan
mengungkapkan perasaanku padanya, setidaknya
meminta foto bersama dan. Ini mungkin hari terakhirnya
disekolah, tidak ada lagi alasan untuknya datang kesini
dan kalaupun ada dia tidak akan memakai seragam,
padahal aku lebih suka melihatnya memakai seragam
yang membuatnya seribu kali lebih tampan. Aku sedikit
menyesali sikap bodohku selama bertahun-tahun yang
hanya berani melihatnya dari jauh, mencintainya dalam
diam. 5 tahun sudah kupendam perasaan ini dan aku
tidak bisa menahannya lebih lama.
Tapi hingga saat ini aku belum menemukan sosok
jangkungnya. Biasanya dia tidak akan jauh-jauh dari
kelima sahabatnya, apalagi dihari terakhir ini, sayangnya
dia tidak ada diantara mereka. Dia tidak mungkin absen,
aku yakin melihatnya tadi pagi. Mungkin dia sudah
pulang? Entahlah. Aku tidak boleh gagal. Aku harus
memeriksa setiap sudut sekolah ini dan langkah awal
adalah dari pintu gerbang. Ada dua jalur ke gerbang
sekolah. Pertama, dari halaman depan yang saat ini
dipenuhi senior yang saling menyemprotkan piloks yang
lebih terlihat seperti tawuran. Kedua, dari taman
belakang yang jarang ditapaki murid disini karena pohonpohon besarnya yang lebih menyeramkan dari guru killer.
Aku memilih jalur kedua karena tidak rela seragam
putihku jadi korban.
Langkahku terhenti ketika melihat sesuatu didepan
mataku. Dibawah pohon beringin seorang pria tinggi

berpelukan erat dengan wanita setinggi dadanya. Mataku


membesar ketika sadar pria itu adalah orang yang kucari
dari tadi. Seketika kakiku melemas, mulutku tidak bisa
tertutup sehingga aku menutupnya dengan telapak
tangan, sebelah tanganku mencoba meraih-raih apa saja
yang bisa dijadikan pegangan. Dengan sekuat tenaga aku
mencoba mengalihkan pandangan. Tubuhku bersandar di
pagar berlumut. Aku tidak pernah merasakan sakit ketika
menarik napas sebelumnya. Rasanya sesak. Aku berlari
menjauh sambil memukul-mukul dada, berharap rasa
sakit itu hilang.
Mungkin dia hanya mengenalku sebagai adik kelas
yang bernyanyi dengan nada false ketika MOS dua tahun
yang lalu. Aku ingat dia tertawa kencang saat itu, tapi
bukannya malu aku malah bahagia melihatnya-well, dia
tertawa karenaku. Aku juga tidak yakin apa dia tau
namaku. Tapi aku tidak. Aku mengenalnya saat MOS 5
tahun yang lalu. Benar, dia juga seniorku waktu SMP dan
aku menyukainya sejak pandangan pertama. Saat itu aku
mengira rasa ini hanya sebatas cinta monyet and I dont
believe love at the first sight. Tapi semakin aku mencari
tahu tentangnya, semakin sering aku melihatnya semakin
dalam pula perasaan ini. Aku tidak merasakan hal yang
sama terhadap laki-laki lain, sehingga aku memutuskan
bahwa dialah cinta pertamaku. My first love is someone
who I love at the first sight so I want him to be my first
boyfriend. Tapi sayangnya kenyataan tidak seindah
mimpi. Dia mungkin tidak tau aku yang selalu men-stalk
social media miliknya. Aku yang memandangnya dengan

kagum setiap dia lewat. Aku yang sering sengaja lewat


didepan kelasnya. Aku yang tidak bisa jika seharipun
tanpa melihatnya.
Entah berapa banyak tisu yang kuhabiskan untuk
menangis. Aku tau siapa-siapa saja mantan pacarnya
melalui postingannya ataupun melalui gossip yang
menyebar akibat kepopulerannya. Dia pernah berpacaran
dengan Yuri-teman sekelasnya di SMP, Sooyoung-murid
keangkatanku yang membuatku iri setengah mati di SMP,
dan terakhir Jessica-Yang katanya seorang trainee. Di SMA
aku tidak pernah mendengar sekalipun kabar dia punya
pacar, sifat humble nya membuatnya dekat dengan siapa
saja karena itu aku membiarkan hatiku berharap lebih
jauh. Dan kenyataan yang kulihat langsung tadi
membuatku hancur berkeping-keping.
Sudahlah Yoona, mungkin perempuan itu bukan
pacarnya. Seohyun yang sedari tadi hanya mengelus
rambutku pelan mulai berbicara.
Tidak mungkin dia berpelukan di tempat sepi
dengan temannya Seohyun. Lagipula aku melihatnya
mencium puncak kepala perempuan itu.mengingatnya
semakin membuatku sakit. Aku kesal tidak bisa melihat
wajah perempuan itu. Seohyun kembali diam dan
memandangku iba. Aku iri dengannya. Dia berpacaran
dengan orang yang dicintainya dan bertahan selama dua
tahun.
Brakk!!

Pintu kamarku terbuka. Perempuan dengan wajah


datarnya mendekati kami. Sudah kubilang berkali-kali
jangan menangis karena dia.
Ini memang bukan kali pertama aku menangisinya.
Aku menangis saat dia sakit, ketika dia cedera sewaktu
olahraga, bahkan ketika dia berkelahi dengan temannya.
Aku juga sudah menyuruhmu melupakannya.
Tidak semudah itu Taeyeon. Aku sudah mencoba,
tapi itu menyakitiku. Melupakan orang yang dicintai sama
dengan mencoba mengingat orang yang tidak pernah
ditemui. Aku tersenyum tiap hari karenanya. Aku giat
belajar untuk mengejar juara kelas-sehingga fotoku bisa
ditempel di mading itu juga karena dia-meski aku belum
berhasil jadi juara hingga saat ini. Aku belajar fotografi
karena dia menyukainya-yang menjadi keahlianku saat
ini.
Taeyeon memutar matanya dan duduk di meja
belajarku, mengambil buku tebal dan pensil. Dia satusatunya sainganku jadi juara kelas. Dia beruntung terlahir
dengan IQ tinggi yang membuatnya jenius. Aku juga iri
dengannya. Dia popular karena cantik dan pintar, banyak
yang mengejarnya tapi Taeyeon yang cuek selalu
mengabaikannya. Dia juga mengaku belum pernah jatuh
cinta dan itu membuatnya semakin beruntung. Dia juga
satu-satunya yang menentang perasaanku ini. Saat
Seohyun bilang kejar, dia malah menyuruhku berhenti.
Mereka berdua sahabat yang sudah seperti saudaraku.
Hanya mereka berdua yang tau perasaanku ini.

Hah! Dua bulan lagi kita sudah kelas tiga. Rasanya


baru seperti baru semalam kita di ospek. Aku tau
Taeyeon berusaha mengalihkan pembicaraan.
Benar. Aku bahkan masih ingat dengan jelas
sewaktu Yoona bernyanyi ditengah lapangan. tambah
Seohyun. Mereka tidak tau bahwa kenangan itu
membuatku semakin sedih. Aku menghapus air mataku.
Well, dunia belum berakhir, masih ada sahabatku disini
menemaniku.
+++
Taeyeon-ah Minho sunbae kuliah di Universitas
Kyunghee, jurusan civil engineering. Ya Tuhan, keren
sekali, iya kan? Aku beringsut mendekati Taeyeon
disebelahku.
Hmm. Jawabnya tanpa menoleh dan masih sibuk
membolak-balik halaman buku, mencari rumus untuk soal
yang sedang kami kerjakan. Merasa tidak puas dengan
responnya, aku membalikkan badan.
Seohyun-ah Minho sunbae-
Iya, aku sudah dengar. Potongnya, Selamat ya.
Aku tersenyum mendengarnya, Seohyun selalu
memperlakukanku seolah aku pacar Minho, hanya dia
yang mau merespon dan menjadi pendengar setia setiap
aku membicarakan Minho. Aku kembali men-scroll layar
ponselku untuk melihat foto-foto Minho sewaktu mendaki
Gunung Fuji seminggu lalu. Masalah kemarin sudah
sedikit bisa kulupakan, karena hingga saat ini aku belum

menemukan bukti dia sudah memiliki kekasih sehingga


aku sudah memutuskan untuk tetap mencintainya. Aku
akan selalu menjadi fans dan secret admirernya. Aku
akan berjuang untuk masuk ke Universitas yang sama
dengannya, sama halnya seperti aku berjuang ketika
masuk sekolah ini hanya untuk melihatnya dulu.

Aku tidak main-main dengan ucapanku sendiri.


Sudah lima bulan berlalu sejak naik kelas 3. Aku jauh
lebih giat belajar, sampai Taeyeon dan Seohyun terkejut
melihat perubahan drastis gaya belajarku. Aku mengikuti
bimbingan belajar, lebih sering menghabiskan waktu di
perpustakaan, poster boyband di kamarku kuganti
dengan puluhan sticky notes berisi hapalan dan mulutku
selalu komat kamit menghapal rumus. Aku sadar
Kyunghee adalah salah satu universitas terbaik di Korea,
sehingga aku harus sepuluh kali lebih rajin untuk
mengejar cita dan cintaku.
Lima hari lagi menuju ujian semester satu. Aku
menenteng modul 500 halaman menuju rumah sahabat
jeniusku, aku butuh bantuannya mengerjakan soal
matematika. Tanpa memencet bel, aku langsung
membuka sendiri pintu yang tidak dikunci. Rumah
Taeyeon sudah seperti rumah keduaku. Dari kelas 1 aku
sudah sering menginap disini, apalagi dikelas 3 seperti
ini, aku bisa menghabiskan 5 hari dirumahnya dan saat
weekend aku akan pulang. Tapi berhubung ujian sudah
dekat, aku merelakan minggu siangku untuk belajar.

Rumah Taeyeon selalu sepi. Orangtuanya bekerja di


luar kota, dia tinggal dengan Oppanya disini. Dihari
Minggu biasanya oppanya pergi kencan meninggalkan
Taeyeon sendirian dirumah besar ini.
Aku berjalan kekamarnya. Langkahku terhenti
melihat adegan menyakitkan didepanku, mungkin
sebentar lagi jantungku pun ikut berhenti. Aku melihatnya
dengan jelas. Dua orang yang sangat kukenal sedang
bertautan mesra diatas sofa.
BUUKK!
Modul tebalku jatuh mengenaiku kakiku, tapi tidak
terasa apa-apa. Seluruh rasa sakit sudah terpusat di
hatiku dan kali ini aku yakin tidak akan bisa diobati lagi.
Dua orang itu terkejut mendengar suara itu dan semakin
terkejut ketika melihatku berdiri tak jauh dari mereka.
Aku menangis tanpa suara. Aku menggeleng kuat,
berharap ini cuma mimpi. Tuhan kuatkan aku! Ini sakit
sekali. Aku berlari kencang meninggalkan mereka,
Taeyeon dan Minho.
+++
Sekarang, aku tau alasan mengapa Taeyeon tidak
pernah setuju aku menyukai Minho, mengapa dia selalu
menyuruhku melupakannya, mengapa dia mengabaikan
semua pria yang mengejarnya, mengapa dia tidak
senang ketika aku membicarakan Minho. Itu karena dia
pacarnya. Dia orang yang kulihat berpelukan dibelakang
sekolah dulu-dan bodohnya aku baru menyadarinya

sekarang. Aku bahkan tidak menyadari dia bermain


dibelakangku. Orang yang sudah kuanggap saudaraku
tega mengkhianatiku. Dia pasti tertawa melihatku selama
ini. Aku malu, sakit, hancur.
Aku tidak kesekolah selama tiga hari. Ponselku
hancur berantakan- karena si brengsek itu meneleponku
terus-menerus, melihat namanya di layar membuatku
refleks membantingnya. Seohyun datang kerumahku
siang tadi. Dia sudah tau semuanya. Dia juga yang
mengatakan bahwa Taeyeon adalah orang yang dipeluk
Minho dulu. Cuih. Jika aku tidak melihatnya dengan
mataku sendiri, dia pasti akan selalu merahasiakannya.
Mengapa dia tega melakukan ini? Apa salahku padanya?

Aku terpaksa datang kesekolah karena besok mulai


ujian. Aku melangkah tanpa semangat ke bangku. Aku
menemukan modul tebalku diatas meja. Benda mati itu
adalah saksi kejadian waktu itu yang artinya tidak ada
yang mungkin membawanya kesini kecuali si brengsek
itu. Dengan sekuat tenaga aku melemparkan modul itu ke
tong sampah dekat pintu. Tepat pada saat itu si brengsek
datang, aku berharap modul tadi terlempar kearahnya,
agar dia bisa merasakan sakit seperti yang kurasakan.
Aku baru sadar kami duduk bersebelahan, jadi aku pindah
ke bangku terjauh darinya. Dia mendatangiku, mulutnya
bergerak ingin mengatakan sesuatu, tapi sebelum itu
terjadi aku memukul meja dan berjalan keluar. Dari ekor

mataku bisa kulihat dia sedang memandangi punggungku


dengan tatapan bersalah ? iba? Kasian? Ah mungkin lebih
tepatnya pura-pura merasa bersalah. Aku mendengus
sebal, aku baru saja mengibarkan bendera permusuhan
dengannya.

Sejak kejadian itu hari-hariku mulai berubah. Aku


tidak lagi sering tersenyum, tidak ada lagi girls day out,
tidak ada lagi yang namanya sahabat dikamusku. Sudah
3 bulan memasuki semester dua. Dia tidak lagi berusaha
minta maaf kepadaku secara langsung. Dia
menggunakan Seohyun sebagai perantara. Tapi setiap
kali Seohyun membicarakan Taeyeon, aku langsung
marah. Tidak ada yang berubah dengan hubunganku dan
Seohyun, kami tetap bersahabat. Seohyun juga tetap
bersahabat dengan si brengsek itu. Kami berangkat
sekolah bersama, dan Seohyun akan pulang dengan
Taeyeon. Tapi kebiasaan Seohyun itu tidak berlangsung
lama. Kini dia selalu menghabiskan waktu dengan
pacarnya, mereka bagai magnet yang sulit dilepaskan.
Otomatis persahabatan kami pecah. Karena itu aku mulai
percaya bahwa tidak ada yang namanya persahabatan di
dunia ini. Itu cuma omong kosong!
Satu-satunya hal yang tidak berubah dariku adalah
minat belajar. Aku makin termotivasi untuk masuk
Kyunghee, tapi tidak lagi untuk mengejar Minho tetapi
untuk mengejar impianku masuk ke Universitas ternama,
sekaligus membuktikan bahwa aku tidak kalah dari si
Jenius itu. Aku harus membuktikan, tanpa bantuannya

aku bisa lulus dengan baik. Aneh rasanya, banyak yang


berubah dalam waktu kurang dari setahun. Dulu aku
sangat takut naik kelas 3-aku belum siap dengan
tanggung jawab lebih besar, tugas menumpuk, ujian
tiada henti dan yang paling utama takut berpisah dengan
sahabatku. Tapi sekarang? Aku bahkan berharap satu
hari itu hanya 12 jam. Aku sudah muak dengan sekolah,
aku malas melihat wajah sahabatku aku ingin lekas lulus
dari sini, dan memulai kehidupan baru di perkuliahan.
+++

Saat yang paling kutunggu tiba, hari ini adalah hari


terakhir Ujian Nasional, yang artinya adalah hari
terakhirku disekolah dan memakai seragam yang sudah
kesempitan ini. Semua teman-temanku bersorak
gembira. Kami saling menyemprot piloks ke seragam. Aku
tidak pernah tertawa segembira ini selama setahun
belakangan. Rasanya benar-benar lepas dan bebas.
Pergerakanku terhenti ketika melihat tembok dekat
kamar mandi. Setahun yang lalu aku hanya mengamati
dari sana, dan sekarang aku yang menjadi pelaku utama.
Sedetik kemudian aku teringat dengan Minho. Ah iya,
sebulan belakangan ini aku tidak memikirkannya sama
sekali. Rasa sakitku perlahan memudar meski
meninggalkan bekas yang dalam. Itu semua karena aku
sibuk belajar. Ternyata melupakan seseorang tidak perlu
dengan jatu cinta lagi, atau yang lebih ekstrim
membenturkan kepala supaya amnesia. Ternyata dengan
menyibukkan diri, fokus pada tujuan, bertekad kuat aku

bisa sedikit melupakannya. Kalau tau begitu harusnya


dari dulu saja aku rajin belajar-mungkin aku bisa
mengalahkan Taeyeon jadi juara kelas dulu.
Tiba-tiba orang yang barusan kupikirkan muncul
dihadapanku. Seragamnya penuh tanda tangan-bahkan
sampai rok. Mungkin tinggal aku makhluk disekolah ini
yang belum menandatanganinya. Well, aku lupa fakta
bahwa dia si jenius cuek yang famous, sehingga semua
orang berlomba meninggalkan kenangan diseragamnya.
Ia tersenyum sangat lebar. Aku yang dulu sebangku
dengannya dan tidur lima kali seminggu dirumahnya
tidak pernah melihatnya tersenyum bahagia seperti itu,
seolah tidak ada lagi beban hidup yang dipikirkannya,
padahal permintaan maafnya belum kuterima. Aku tibatiba kesal melihatnya tersenyum.
Yoona aku mau-
Aku sudah pernah bilangkan jangan pernah
berbicara denganku lagi? Seketika raut wajahya
berubah, senyumnya hilang karena ucapanku. Kau tidak
tau ya? Aku benci sekali mendengar suaramu itu! Bisa
tidak pergi dari pandanganku? Pergi dari hidupku! Jangan
menemuiku lagi! Aku bahkan ingin kau mati KIM
TAEYEON!
Dia mundur perlahan. Sepertinya terkejut
mendengarnya, mulutnya seperti ingin mengucap
sesuatu tapi dia tidak mampu mengatakannya. Matanya
berkaca-kaca. Aku tidak pernah melihatnya serapuh ini.
Hati nuraniku mengatakan aku sudah keterlaluan,

bagaimanapun kami dulu sahabat tapi otakku


mengatakan tindakanku sudah tepat. Hatiku berdesir
melihatnya hampir menangis. Aku menggelengkan kepala
kuat, berusaha menepis rasa kasihan. Bagaimanapun dia
yang telah melukaiku duluan, aku bahkan menangis
berhari-hari karenanya. Ah Yoona! Harusnya aku
membuatnya menangis, bukan hanya berkaca-kaca. Aku
menghembuskan napas dalam lalu pergi tanpa
melihatnya lagi. Sayup sayup kudengar dia memanggil
namaku disela isak tangisnya. Oh, dia sudah menangis
rupanya. Baguslah..

Entah berapa banyak tissue yang kuhabiskan untuk


menangis. Aku juga bingung mengapa aku menagis
seperti ini. Harusnya aku berpesta karena sudah tidak
menjadi pelajar lagi, tapi kenapa aku malah menangis
diatas tempat tidur? Persis seperti setahun yang lalu?
Dan penyebabnya karena orang yang sama Kim
Taeyeon. Aku mengutuk diriku sendiri yang terlalu
lemah. Sepulang sekolah tadi aku tiba-tiba teringat
dengan Taeyeon dan merasa bersalah. Tapi bukan hanya
karena Taeyeon. Aku menangisi diriku sendiri, menagisi
tahun terakhir di SMA yang tidak seindah yang
kubayangkan. Aku kehilangan sahabat, kehilangan orang
yang kucintai. Harusnya aku pergi seharian dengan
Seohyun dan Taeyeon. Kami bahkan sudah berjanji dulu
akan liburan ke Jepang setelah lulus.
Brakk!!

Pintu kamarku terbuka. Aku buru-buru menghapus


airmataku dan menyembunyikan bekas tissue dibawah
selimut. Seohyun berjalan dengan langkah cepat.
Wajahnya terkejut melihat mataku yang bengkak tapi
sedetik kemudian ekspresinya berubah jadi.. marah?
Bodoh! umpatnya. Aku mengernyitkan kening.
Kalian berdua sama-sama bodoh. Suaranya tegas.
Dia benar-benar marah. Aku tidak pernah melihatnya
seperti ini, bahkan Seohyun tidak pernah berteriak.
Aku baru saja dari rumahnya dan mendapati dia
sama seperti dirimu saat ini.
Rumahnya? Orang pertama yang terlintas
dipikiranku adalah Taeyeon, tapi mungkinkah?
Oh Tuhan. Seohyun menghembuskan napas
frustasi dan duduk disebelahku. Dia menautkan kedua
tangannya dan mulai bercerita
+++
Aku menyenderkan kepada di jendela sambil
menatap pemandangan dari lantai dua. Pikiranku
melayang ke ucapan Seohyun seminggu lalu.
Taeyeon meneleponku sambil terisak dan
menyuruhku kerumahnya. Sesampainya disana aku
mendapati dia menangis frustasi seperti orang yang mau
bunuh diri. Persis seperti diriku ketika melihatnya
berciuman dulu.

Kau tau itu kenapa? Karena kau Yoona! Tadi pagi dia
mendatangimu. Ingin meminta maaf dan menyampaikan
kabar bahagia. Dia mendapat beasiswa di London.
Beasiswa yang diincarnya dari kelas 1 dulu, kau ingat
kan? Kau lah orang pertama yang ingin diberi tahunya.
Tapi kau malah menyuruhnya pergi, menyuruhnya mati!
Kau menghancurkan hari bahagianya. Aku mematung
mendengar penjelasan Seohyun. Jadi itu alasan senyum
bahagia tadi? Dan aku malah
Dia sedih karena tidak menyangka kata-kata itu
keluar dari mulutmu, sahabat yang sudah dianggapnya
sebagai saudara. Tapi kami bukan lagi sahabat kan?
Kau tau? Dia sangat tersiksa dengan rasa
bersalahnya. Dia sudah berpacaran dengan Minho jauh
sebelum mengenalmu. Ketika awal berteman, kau
langsung mengungkapkan ketertarikanmu dengan Minho.
Taeyon hanya diam. Dia merasa kau hanya suka sesaat
dengan Minho. Dia ingin memberitahumu ketika kau
jatuh cinta dengan pria lain. Tapi dugaan Taeyeon salah.
Kau sudah lama mencintai Minho. Kau menangis dan
tertawa karena Minho. Kau semakin semangat dan selalu
tersenyum karenanya. Bagaimana mungkin Taeyeon tega
menghilangkan senyummu karena mengetahui fakta itu?
Dia tidak mau melihatmu terluka-seperti saat ini,
meskipun itu artinya dia yang terluka. Apa kau pernah
berpikir pacaran diam-diam itu menyakitkan? Bagaimana
rasanya melihat sahabatmu begitu dalam mencintai
pacarmu sendiri?

Jadi mereka sudah lama berpacaran? Berarti secara


tidak langsung akulah yang menganggu hubungan
mereka? Itu sebabnya Taeyeon selalu cuek ketika aku
membicarakan Minho? Karena dia juga harus mengontrol
emosinya sendiri. Dia bisa saja mengatakan Jangan
bicarakan Minho. Dia milikku! tapi nyatanya? Dia hanya
diam dan sibuk belajar. Bahkan dia mau mengajariku
supaya bisa masuk di kampus yang sama dengan
pacarnya. Dia tidak takut aku akan merebut Minho
darinya. Kata-kata Seohyun berikutnya semakin
menyadarkanku.
Yoona, ini juga salahmu. Kau mengenalnya lebih
dari 5 tahun. Kau tidak pernah berusaha membuat Minho
mengenalmu, dan dekat denganmu. Kau hanya
menganguminya dari belakang. Kau bisa pasrah melihat
Minho berpacaran dengan orang lain. tapi kau marah
ketika tau Minho pacaran dengan Taeyeon. Harusnya dari
dulu, sebelum dia dengan Taeyeon kau sudah
membuatnya mencintaimu.
K-kapan Taeyeon berangkat?
Minggu depan.
Minggu depan itu adalah hari ini. Aku menimangnimang sticky note berisi nomor handphone Taeyeon. Apa
aku sudah memaafkannya? Aku memegang dadaku
sambil mengingat kejadian selama ini. Dadaku masih
ngilu ketika mengingat dia dan Minho. Sahabatku dan
cinta pertamaku? Jika aku memaafkan Taeyeon itu artinya
aku mengiklaskan dia dengan Minho. Tidak. Aku belum

bisa. Untuk apa mulutku mengucapkan maaf tapi hatiku


menolak. Aku memang egois. Sesuatu yang telah hancur
bisa kembali dengan perekat tapi tidak akan bisa kembali
sempurna seperti awal. Seperti itulah hatiku. Aku belum
siap mendengar suara Taeyeon. Aku akan memaafkannya
ketika hatiku sembuh. Dan itu membutuhkan waktu.
Seiring berjalannya waktu aku pasti bisa melupakannya.
Untuk saat ini biarlah seperti ini. Dia bahagia di London
dan aku akan menata kembali hatiku di Seoul.
Aku meremas sticky note itu. Maafkan aku TaeyeonAku belum siap.
+++

Aku terlonjak kaget melihat kata lulus dibawah


namaku. Aku diterima sebagai Mahasiswi baru Universitas
Kyunghee jurusan Psikologi. Ahhh aku akan jadi psikolog
terkenal. Tidak sia-sia kerja kerasku selama ini.
Sebulan berlalu. Sudah seminggu aku resmi menjadi
mahasiswi. Aku berhenti di depan mading yang penuh
brosur UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) tanpa minat. UKM
yang ditawarkan sama saja dengan saat di sekolah.
Engglish club, Keagamaan, Teater, Paduan Suara,
Olahraga. Tapi ada satu yang menarik mataku. Brosur
yang paling usang dan koyak di sisi-sisinya. Brosur
fotografi. Well, pernah kubilangkan karena Minho suka
bidang itu aku pun mendalaminya dan jatuh cinta pada
fotografi. Aku membayangkan bagaimana serunya pergi
ke tempat-tempat yang bagus untuk mencari objek lalu

hasil bidikan kami akan dipamerkan. Dengan penuh


semangat aku berjalan ke gedung tempat organisasi itu
berkumpul.
Mereka menyambutku dengan ramah. Aku langsung
dekat dengan mereka dalam hitungan jam, mungkin
karena kami tertarik pada bidang yang sama. Aku sedang
asik berbincang dengan sesame mahasiswa baru ketika
para seniorku menyambut seseorang yang baru datang.
Akhirnya pangeran kita datang juga. Kami sudah
menunggumu 3 jam. Ucap pria gendut berambut hitam.
3 jam lamanya. Ulangnya agar terlihat dramatis,
padahal dia juga baru datang sejam yang lalu.
Haha Maaf ada kelas tambahan tadi.
Aku seperti tidak asing dengan suara itu. Mataku
membulat ketika membalikkan badan. Dia Choi Minho!
Aku tidak lupa bahwa dia juga kuliah disini, tapi aku tidak
menyangka dia ada disini. Maksudku, aku kira dia hanya
sekedar tertarik fotografi, bukan minat apalagi bakat tapi
ternyata dia masuk ke UKM ini. Well dia adalah Choi
Minho, pria popular karena fisik dan talentanya yang luar
biasa. Dia jago olahraga- terkhusus basket, lompat tinggi,
lari marathon, dia perwakilan sekolah setiap olimpiade
dulu dan selalu pulang membawa piala, dia pintar-jika
tidak dia tidak mungkin lulus di Kyunghee, suaranya
bagus dan pintar akting. Aku kira dia akan meneruskan
bakatnya di UKM olahraga, atau paduan suara. Pokoknya
UKM yang jauh lebih keren dari Fotografi yang mana

dianggap angggotanya berisi orang orang weird and


unpopular. Sekarang bagaimana caranya aku move on?
Kenalkan, ini anggota baru. Dari Danghan
sepertimu.
Minho mengalihkan pandangan kearahku. Mata kami
bersirobok. Dia tersenyum ramah. Kau Yoona bukan?
Dia tau namaku? Aku terkejut. Ah tentu saja, dia tau
dari Taeyeon. Bisa-bisanya aku melupakan fakta itu.
Taeyeon pasti menceritakan semua tentangku padanya.
Aku sedikit khawatir, apa Taeyeon juga bercerita buku
tulisku penuh dengan namanya? Password hp ku adalah
tanggal lahirnya? Aku sering stalking social media nya?
Ratusan fotonya tersimpan di hpku? Ahhh aku malu.
Kulihat di internet hanya kau murid Danghan yang
masuk kesini. Dia duduk disebelahku. Dulu aku juga
ingin masuk sini karena dirimu.
Aku ingat dulu ketika MOS. Nyanyianmu itu jadi
topik terhangat dikalangan anak OSIS saat itu haha.
ahh, kejadian memalukan itu. Tapi sebenarnya suaramu
bagus, hanya pilihan lagumu yang salah. Aku hanya
tersenyum. Terima kasih pujiannya.
Aku tidak menyangka kau juga suka fotografi.
Harusnya kita buat klub fotografi waktu sekolah dulu ya.
Aku juga suka ini karenamu.
Ne, sunbae. Sayang sekali. Aku membuka mulut
untuk pertama kali.

Kemudian obrolan kami berlangsung panjang. Mulai


dari sejarah awal aku suka bidang ini tentu aku tidak
mengatakan yang sebenarnya, tentang apa saja
perubahan disekolah sejak dia lulus, dan lainnya. Aku
tidak menyangka bisa melihat dan berbicara dengannya
sedekat ini. Aku mati-matian menahan rasa gugup dan
mengontrol suaraku senormal mungkin. Aku
merindukannya, sudah setahun tidak berjumpa-jangan
ingatkan kejadian di rumah Taeyeon. Aku pun hanyut
dalam percakapan dan lelucon yang diciptakannya. Dia
tidak berubah sama sekali, tetap humble dan ramah pada
semua orang. Seketika aku melupakan fakta bahwa dia
pacar temanku. Tapi sebisa mungkin aku menahan
perasaanku agar tidak tumbuh semakin dalam.

+++
Memasuki penghujung November, musim gugur
hampir berakhir. Aku berjalan berdua dengan Minho. Dia
akan mengantarku pulang, dengan berjalan kaki.
Setengah tahu yang lalu aku mungkin merasa hal seperti
ini hanya mimpi, tapi kini rasanya sudah biasa. Minho
semakin dekat denganku. Aku tidak pernah membahas
tentang Taeyeon selama ini.
Dingin? tanyanya. Aku menangguk dan
mengeratkan coat-ku. Dia menarik tanganku dan
menggenggam tanganku erat.
Ini salah satu alasanku tidak membicarakan Taeyeon
dengannya, karena dia sepertinya sedang member sinyak

suka kepadaku. Mungkin aku hanya ke geer-an, mungkin


dia hanya peduli sebatas sunbae-hoobae. Whateverlah.
Aku bahagia dengan kedekatan kami saat ini. Lagian kata
Seohyun, Minho dan Taeyeon sudah putus. Tentu saja
hubungan jarak jauh antar benua itu susah.
Aku terlalu larut dengan pikiranku sendiri sampai
tidak sadar dia membawa ku ke sebuah restauran pinggir
jalan.
Sabtu nanti temanku ulang tahun, kau mau
menemaniku? ajaknya. Apa? Aku tidak salah dengar?
Sabtu ya? Aku pura-pura berpikir. Pasti terlihat
murahan kalau aku langsung mengiyakan.
Kenapa? Ah malam minggu. Kau pasti kencan
dengan pacarmu kan?
Tidak.. Tidak kog. Aku buru-buru menyangkal. Dia
tertawa melihatku. Oke.. Sabtu, jemput aku ya.
Sipp.
Aku tidak bisa menunggu hari itu tiba. Aku merasa
terhormat bisa pergi dengannya. Tapi kenapa dia
mengajakku? Dia popular dan dikelilingi banyak gadis
cantik.
Tapi Oppa- dia melarangku memanggilnya
sunbaenim, Kenapa oppa mengajakku? Pacar oppa tidak
bisa ya? Aku sedikit gugup menunggu jawabannya. Aku
pasti kecewa kalau dia punya pacar. Dia pasti merasa
aneh melihat perubahan ekspresiku nanti.

Aku tidak punya.


Singkat. Tapi berdampak luar biasa baik bagi hatiku.
Masa sih? Aku tidak percaya oppaku yang keren ini
tidak punya pacar. Selidikku. Dia menghentikan
pergerakannya. Matanya menerawang jauh.
Maaf. Apa kata-kataku menyinggungnya?
Dia menatapku lama sebelum berkata, Ceritanya
panjang.
Aku pendengar setia kok.
Oppa dulu punya pacar. Dia lebih muda setahun
dariku.
Taeyeon kah? Oke, kuatkan hati Yoona.
Aku berpacaran dengannya sejak 1 SMA dan dia
masih SMP saat itu. Dia cinta pertamaku. Kami saling
mengenal sejak lama dan aku sangat merasa beruntung
bisa mendapatkannya. Hubungan kami memburuk
setelah setahun berpacaran, setelah dia masuk kesekolah
yang sama denganku. Sikapnya berubah, dia jadi cuek
dan menjauhiku. Taeyeonku yang dulu sangat manis.
Hatiku berdesir. Taeyeon Sahabatku adalah cinta
pertamanya Minho-dan Minho adalah cinta pertamaku.
Kenapa takdir seperti mempermainkanku?
Dia memutuskanku tanpa alasan di semester
pertamanya, tentu aku tidak terima. Tiga bulan
berikutnya dia mengatakan bahwa sahabatnya sangat

menyukaiku. Dia tidak mau sahabatnya tau bahwa aku


dan dia berpacaran. Dia bilang dia lebih memilih
persahabatan dibanding cinta. Aku juga tidak bisa terima
alasan itu. Mungkin dia tidak mencintaiku lagi, atau
hanya kasian denganku sehingga menerimaku dulu. Sejak
saat itu kami masih berteman, aku masih sering
mengunjungiknya kerumah. Tapi setahun yang lalu, dia
benar-benar memutuskan hubungan denganku. Dia
mengganti nomor ponselnya dan bodohnya aku belum
bisa menemukannya sampai sekarang, Satpamnya tidak
mengizinkanku masuk ke rumahnya. Hal itu benar-benar
membunuhku. Aku belum bisa melupakannya, Aku
sungguh mencintainya.
Dadaku seperti tertusuk ribuan pisau. Jadi selama ini
Taeyeon tidak pernah membicarakanku ke Minho. Minho
tidak tau akulah sahabat yang Taeyeon maksud. Dia
tidak pernah mengkhianatiku. Aku lah yang
menyakitinya tanpa kusadari. Dia mengorbankan
perasaannya untukku- orang yang menginginkan dia
mati. Aku benar-benar merasa seperti orang jahat. Aku
menundukkan kepala dalam, menahan air mataku.
Tiba-tiba aku merasa tanganku ditarik lembut. Aku
kira aku tidak akan bisa move on, tapi dugaanku salah.
Aku jatuh cinta lagi karenamu Yoona. Aku menyukaimu.
Kau mengingatkanku pada Taeyeon.
DEG!
Aku dikejutkan oleh pengakuannya. Ya Tuhan, ini
impianku. Minho menyukaiku? Tolong seseorang

katakana padaku ini hanya mimpi. harusnya aku berpikir


seperti itu, andai saja dia tidak mengucapkan kalimat
terakhirnya.
Kau mengingatkanku pada Taeyeon
Tentu saja. Kami seumuran. Kami pernah jadi
sebangku. Kami tidur bersama, belajar, tertawa bersama.
Yoona-ya, Would you be my girl?
Yoona Its your turn! Harusnya aku senang, Harusnya
aku mengatakan iya.
Aku akan menjawabnya besok oppa.
Aku berjalan cepat keluar dari tempat itu.
+++

Aku mengetuk-ngetuk meja dengan telunjuk


kananku. Mataku tertuju ke handphone dengan berbagai
pertimbangan. Dengan penuh keberanian, aku
mendekatkan layar handphone ke telinga. Sambungan
terjawab di detik kesepuluh.
Hello. Aku terkesiap. Suaranya dingin. Aku
merindukan suara itu.
Taeyeon.

Yoona? Ini Yoona? Oh God, dia masih mengenali


suaraku. Dia gembira menerima teleponku, setelah
semua yang kulakukan terhadapnya.
Ne, Ini Yoona. Apa kabar?
Aku meridukanmu Yoona! Maafkan aku. Oh aku
ingin memeluknya sekarang.
Tidak Taeyeon. Akulah yang salah. Aku sudah tau
semuanya dari Minho langsung. Mianhae.. Mianhae..
Mianhae..
Tidak Yoong akulah yang salah.
Bukan. Ini salahku.
Kami tertawa bersamaan. Saling menyalahkankebiasaan kami dulu.
Taeyeon aku minta satu pertanyaan, tapi kau harus
menjawabnya dengan jujur. Kau masih menyukai Minho
kan?
Dia terkejut mendengar pertanyaan tiba-tibaku.
Tring~
Bel diatas pintu caf berdenting, menandakan
seseorang datang. Aku mendongak dan mendapati orang
yang tengah kutunggu berjalan kearahku. Aku segera
menangkupkan layar handphoneku diatas meja
Maaf lama menunggu.
Tidak kok, baru sejam. Sindirku.

Haha maaf, sebagai gantinya aku akan


mentraktirmu hari ini.
Ah, itu terlalu biasa. Oppa selalu mentraktirku.
Jadi, kau mau apa?
Aku mau kejujuran Oppa.
Hah? dia mengerutkan kening.
Aku menatap matanya dalam, Soal pengakuan Oppa
semalam, itu tidak becanda kan?
Dia balas menatapku, Jujur dari hati yang paling
dalam. Aku tidak becanda Im Yoona.
Kami saling bertatapan cukup lama dan akhirnya aku
menemukan apa yang kucari. Aku mungkin baru di
jurusan psikologi, tapi aku sudah bisa membaca gerakgerik seseorang.
Dia jujur soal perasaannya kemarin, tapi dia juga
masih belum bisa melupakan Taeyeon. Dan aku tidak
mau dia menganggapku sebagai Taeyeon. Aku tidak mau
dijadikan pelarian. Untuk apa bisa memiliki fisiknya tapi
tidak bisa memiliki hatinya?
Oppa, kau mungkin bisa membohongi ku tapi tidak
dengan perasaanmu sendiri. Tidak akan semudah itu
melupakan orang yang sudah kau cintai bertahun-tahun
terlebih dia cinta pertamamu dengan orang asing yang
baru kau kenal 5 bulan. Kau masih mencintai Taeyeon
dan aku .. Aku menarik napas dalam. Aku adalah
sahabat Taeyeon yang mencintaimu selama 6 tahun. Tapi

aku sadar, aku benar-benar bodoh. Mencintai satu orang


yang sama dalam kurun waktu selama itu, harusnya aku
sudah punya pacar 13 haha. Karena itu aku iklas jika kau
kembali pada sahabatku.
Aku menggenggam tangannya, Oppa kau harus
berterima kasih padaku. Aku menunjukkan layar hp ku
yang masih tersambung ke Taeyeon. Aku sengaja, supaya
Taeyeon juga mendegarkan percakapan kami. Aku
menyerahkan handphone ku kepadanya.
Kejar cintamu. Aku tunggu traktirannya. Aku
mengedipkan sebelah mataku dan berjalan keluar.
Aku menghirup udara bebas. Rasanya lega sekali.
Benar kata pepatah, kita akan bahagia jika melihat orang
yang kita cintai bahagia meski bersama orang lain dan
cinta itu tidak harus memiliki. Harusnya dari dulu aku
berpikiran seperti ini.
Well-ambil positifnya. Setidaknya aku sudah pernah
merasakan cinta. Aku tau bagaimana rasanya sakit hati,
cinta diam-diam, dan apa itu pengorbanan. Choi MinhoOrang yang mengajarkanku arti cinta sekaligus
mengajarkanku apa itu kehilangan bahkan belum sempat
memiliki..
Tidak apa-apa.. Inilah cinta
Its Oke.. Its Love
Gwaenchana Sarangiya.
END

Happy Birthday
Saengil Chukkhae untuk Blog ini \(^o^)/
Semoga semakin sukses !!!!

Sorry klo FF nya ga nyambung sama Playlistnya

Anyway, I Love MinYoon.. Moment mereka


banyak, sayang shipper mereka dikit,, hehe..
RCL juseyoo ^^