Anda di halaman 1dari 16

PENYELESAIAN DAN

TANGGUNG JAWAB PASCA


AUDIT

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK 8

Khaerunnisa Nur Fatimah S


Andi Tenri Dettya Uleng P
Longginus Wakai

A31113510
A31113523
A311135

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS HASANUDDIN
2016

KATA PENGANTAR
Segala Puji dan Syukur atas Kehadirat Allah SWT, shalawat serta salam
semoga selalu tercurah kepada junjungan besar Nabi Muhammad SAW, Para sahabat
serta pengikutnya hingga akhir zaman. Alhamdulillahirabbil alamin, tiada kata yang
dapat kami sampaikan selain ucapan syukur kehadirat Allah SWT, karena hanya
dengan ridho-Nya lah kami dapat menyelesaikan penyusunan Makalah Mata Kuliah
Penyelesaian dan Tanggung Jawab Pasca Audit.
Akhir kata tak ada gading tak retak, begitu pun kami sebagai penulis memiliki
kekurangan dalam pembuatan makalah ini. Oleh karena itu kritik dan saran dari
semua pihak yang bersifat membangun akan selalu kamu terima demi kesempurnaan
makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan menambah pengetahuan
khususnya bagi kami sebagai penulis dan pembacanya. Amin

Makassar, 17 April 2016

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang

Tahap penyelesaian audit sangat mempengaruhi keberhasilan hasil audit.


Tahap ini sangat penting dan dilaksanakan setelah pelaksanaan audit atas berbagai
siklus. Keputusan yang diambil auditor selama tahap penyelesaian ini untuk mencapai
hasil audit yang optimal. Berbagai prosedur yang diterapkan dalam tahap ini dapat
menghasilkan bukti tambahan yang dapat mempengaruhi kesimpulan audit. Pengaruh
tersebut meliputi kesimpulan akhir atas saldo setiap rekening yang akan dicantumkan
dalam laporan keuangan, dan pendapat auditor atas laporan keuangan secara
keseluruhan. Prosedur-prosedur yang diterapkan pada tahap penyelesaian audit
mempunyai beberapa karakteristik khusus, yaitu:
1. Prosedur-prosedur tersebut tidak mengacu ke siklus transaksi maupun saldo
rekening tertentu.
2.
Prosedur-prosedur tersebut dilaksanakan setelah tanggal neraca.
3.
Prosedur-prosedur tersebut sangat memerlukan pertimbangan subyektif auditor.
4. Prosedur-prosedur tersebut biasanya dilaksanakan oleh manajer audit atau
akuntan senior yang berpengalaman.
Pada tahap penyelesaian audit, auditor bekerja dengan keterbatasan waktu. Hal
ini diakibatkan oleh keinginan klien untuk memperoleh laporan audit secepat
mungkin. Meskipun waktu tidak mendukung auditor, auditor harus menggunakan
waktu yang tersedia untuk membuat pertimbangan professional dan menyatakan
pendapat sesuai keadaan yang sebenarnya.
Dalam menyelesaikan audit, auditor seringkali menghadapi kendala waktu,
terutama ketika klien berusaha mendapatkan tanggal yang paling cepat untuk
penerbitan laporan audit. Auditor harus menggunakan waktu tersebut untuk membuat
pertimbangan professional yang baik dan menyatakan pendapat yang tepat dalam
situasi bersangkutan. Tanggung jawab auditor dalam menyelesaikan audit dibagi
menjadi tiga kategori berikut ini:
1.
Menyelesaikan pekerjaan lapangan
2.
Mengevaluasi temuan
3.
Berkomunikasi dengan klien
1.2
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah adalah sebagai
berikut.
1.
Bagaimana prosedur dalam penyelesaian pekerjaan lapangan?
2.
Bagaimana mengevaluasi temuan?
3.
Bagaimana berkomunikasi dengan klien?
4.
Bagaimana tanggung jawab setelah audit?
1.3
Tujuan
Tujuan dari makalah ini adalah:
1.
untuk mengetahui prosedur dalam penyelesaian pekerjaan lapangan;
2.
untuk mengetahui pengevaluasian temuan;
3.
untuk mengetahui bagaimana berkomunikasi dengan klien;
4.
untuk mengetahui tanggung jawab setelah audit.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1

Menyelesaikan Pekerjaan Lapangan

Jika semua unsur laporan keuangan telah selesai diaudit, auditor telah pada
tahap akhir auditnya. Sebelum ia meninggalkan perusahaan klien, ia harus mereview
kertas kerja yang dibuatnya dengan cara membandingkannya dengan kuesioner
pengendalian intern dan program pengujian subtantif, untuk memperoleh keyakinan
bahwa semua informasi yang diperlukannya sebagai dasar penyusunan laporan audit
telah terkumpul semua. Untuk itu dalam menyelesaikan pekerjaan lapangan, auditor
melaksanakan prosedur audit spesifik untuk mendapatkan bukti audit tambahan.
Prosedurnya adalah :
1.
Melakukan review atas peristiwa kemudian.
2.
Membaca notulen rapat
3.
Mendapatkan bukti mengenai litigasi, klaim, dan penilaian.
4.
Mendapatkan surat representasi klien
5.
Melaksanakan prosedur analitis
2.1.1
Melaksanakan Review Atas Peristiwa Kemudian
Tanggung jawab auditor untuk menilai kewajaran laporan keuangan klien tidak
terbatas pada pemeriksaan atas peristiwa dan transaksi yang terjadi hingga tanggal
neraca. AU 560, Subsequent Events, menyatakan bahwa auditor juga mempunyai
tanggung jawab spesifik atas peristiwa dan transaksi yang:
a.
Mempunyai pengaruh material terhadap laporan keuangan
b.
Merupakan peristiwa penting dan bersifat luar biasa
c.
Terjadi sesudah tanggal neraca tetapi sebelum penerbitan laporan keuangan
serta laporan auditor
Sebelum menyusun draft laporan audit, auditor harus mereview peristiwa-peristiwa
kemudian. Review ini terutama bertujuan untuk menentukan apakah peristiwa
tersebut mempunyai dampak yang sedemikian material terhadap penyajian informasi
di dalam laporan keuangan klien.
Jenis Peristiwa
Berikut adalah dua jenis peristiwa kemudian menurut AU 560.03 dan .05 :
a.
Peristiwa Kemudian Jenis 1
Memberikan bukti tambahan berkenaan dengan kondisi yang ada pada tanggal neraca
dan mempengaruhi estimasi yang inheren dalam proses penyusunan laporan
keuangan. Peristiwa jenis 1 tersebut memerlukan penyesuaian atas laporan keuangan.
b.
Peristiwa Kemudian Jenis 2
Memberikan bukti berkenaan dengan kondisi yang tidak ada pada tanggal neraca
tetapi muncul setelah tanggal tersebut. Peristiwa jenis 2 tersebut memerlukan
pengungkapan dalam laporan, atau dalam kasus yang sangat material, menyertakan
data pro-forma pada laporan keuangan.

Jenis 1

Jenis 2

Realisasi aktiva akhir tahun yang dicatat, seperti


piutang usaha dan persediaan, pada jumlah yang
berbeda dari yang dicatat.
Penyelesaian estimasi kewajiban akhir tahun yang
dicatat, seperti perkara pengadilan atau litigasi dan
jaminan produk pada jumlah yang berbeda dari yang
dicatat.

Penerbitan obligasi jangka panjang


atau saham preferen atau saham
biasa.
Pembelian suatu perusahaan.
Kerugian dari bencana akibat kebakaran.

Peristiwa Kemudian Jenis 1


Peristiwa atau transaksi ini memberikan informasi tambahan bagi manajemen
untuk menentukan saldo akun penilian pada tanggal neraca dan juga kepada auditor
dalam memverifikasi saldo akun tersebut. Dalam mempertimbangkan apakah suatu
peristiwa kemudian perlu diusulkan kepada klien untuk digunakan meng-adjust
informasi di dalam laporan keuangan klien, maka auditor harus membedakan kondisi
berikut ini:
1. Apakah kondisi yang menyebabkan terjadinya peristiwa kemudian tersebut telah
ada sebelum atau pada tanggal neraca? Jika Ya, maka auditor berkewajiban untuk
mengusulkan penyesuaian terhadap informasi yang bersangkutan kepada klien.
2.
Jika keadaan yang menyebabkan terjadinya peristiwa kemudian tersebut tidak
ada sebelum atau pada tanggal neraca, maka peristiwa kemudian tersebut tidak boleh
digunakan untuk meng-adjust informasi di dalam laporan keuangan klien.
Peristiwa Kemudian Jenis 2
Penyebab terjadinya peristiwa kemudian dalam golongan ini tidak ada sebelum
tanggal neraca, tetapi peristiwa ini sangat penting sehingga memerlukan penjelasan
meskipun tidak perlu penjelasan terhadap laporan keuangan klien. Berikut contoh
peristiwa kemudian yang memerlukan penjelasan di dalam laporan keuangan klien
sebagai catatan kaki atau penjelesan dalam laporan audit:
1.
Penurunan harga pasar surat berharga yang dimiliki klien sebagai investasi
sementara.
2.
Pengeluaran obligasi atau saham.
3.
Penyelesaian perkara pengadilan yang peristiwa penyebabnya terjadi setelah
tanggal neraca.
4.
Penurunan nilai harga pasar persediaan sebagai akibat larangan pemerintah
terhadap penjualan suatu produk.
5.
Kerugian akibat terbakarnya persediaan yang tidak diasuransikan.
Untuk memperoleh gambaran mengenai pengaruh peristiwa kemudian terhadap
laporan keuangan, berikut daftar contoh peristiwa kemudian yang diklasifikasikan
menurut akun yang terpengaruh penyajiannya
Akun yang terpengaruh

Peristiwa Kemudian

Kas

Bank klien bangkrut


Keputusan pengadilan yang menyita
dana klien

Perampokan,
pencurian
dan
penggelapan kas yang jumlahnya
melebihi ganti rugi yang diterima dari
perusahaan asuransi
Piutang usaha

Kegagalan penagihan piutang usaha


kepada sebagian besar pelanggan yang
tidak diperkirakan sebelumnya

Investasi

Penurunan drastis harga pasar surat


berharga
Kesulitan keuangan yang dialami oleh
perusahaan yang mengeluarkan surat
berharga yang dimiliki oleh klien
sebagai investasi
Kegagalan pembayaran bunga dan
pokok pinjaman oleh perusahaan yang
mengeluarkan obligasi
Penjualan surat berharga pada harga
yang jauh di atas atau di bawah
kosnya

Persediaan

Kerugian karena kebakaran atau


bencana alam yang lain, yang tidak
diasuransikan
Kenaikan atau penurunan drastis harga
pasar persediaan
Perubahan metode penentuan harga
persediaan
Pengggunaan persediaan yang bersifat
luar biasa sebagai jaminan penarikan
kredit

Aktiva tetap

Kerugian karena kebakaran atau


bencana alam yang lain, tidak
diasuransikan
Rencana perluasan
pengurangan dana

usaha

atau

Penilaian aktiva tetap


Keuangan aktiva tetap karena
perubahan yang mendadak pada
permintaan
atau
produk
yang
dihasilkan
Utang lancer

Komitmen pembelian yang bersifat


luar biasa, yang disertai dengan

penurunan harga jual barang dagangan


Pembatalan kontrak pembelian
Kegagalan dalam pembayaran utang
wesel
Utang jangka panjang

Kenaikan yang besar dalam utang


jangka panjang
Kegagalam dalam membayar bunga
dan pokok pinjaman

Modal saham

Kenaikan atau penurunan


lembar saham yang beredar

jumlah

Transakasi pembelian saham sebagai


treasury stock yang bersifat luar biasa
Reorganisasi struktur modal saham
Pengubahan utang obligasi menjadi
saham biasa
Perubahan bentuk badan usaha,
misalnya dari badan usaha berbentuk
persekutuan (CV/Firma) menjadi
perseroan
terbatas
(PT)
atau
sebaliknya
Laba ditahan

Pembagian dividen yang bersifat luar


biasa, yang menganggu modal kerja
Penyisihan laba yang ditahan yang
bersifat luar biasa
Laba/rugi yang jumlahnya material,
yang dikreditkan atau didebitkan
langsung ke dalam akun Saldo Laba

Unsur lain

Perubahan pinjaman puncak


Perubahan kebijakan manajemen
Perubahan undang-undang
Tambahan pengenaan pajak atau
penerimaan penggantian pajak (tax
refund) yang bersifat luar biasa
Persyaratan yang
pasar modal

ditetapkan

Prosedur Audit Dalam Periode Setelah Tanggal Neraca


Auditor harus mengidentifikasi dan mengevaluasi peristiwa kemudian sampai tanggal
laporan auditor. Tanggung jawab tersebut dapat dilaksanakan dalam dua cara berikut:

oleh

a.
Mewaspadai peristiwa kemudian dalam melaksanakan pengujian substantif
akhir tahun seperti pengujian pisah batas dan mencari kewajiban yang belum tercatat.
b.
Melaksanakan prosedur audit yang ditetapkan dalam AU 560.12 atau mendekati
akhir pekerjaan lapangan.

Membaca laporan keuangan interim akhir yang tersedia serta


membandingkannya dengan laporan yang sedang dilaporkan dan melakukan
perbandingan lainnya yang sesuai dalam situasi-situasi itu.

Menanyakan kepada manajemen yang bertanggung jawab atas hal-hal


keuangan dan akuntansi mengenai:
Setiap kewajiban kontinjen atau komitmen besar yang ada pada tanggal neraca
atau tanggal pertanyaan itu diajukan.
Setiap perubahan yang signifikan pada modal saham, hutang jangka panjang atau
modal kerja sampai tanggal pertanyaan diajukan.
Status saat ini dari pos-pos yang sebelumnya dipertanggungjawabkan atas dasar
data sementara, pendahuluan, atau tidak konklusif.
Apakah setiap penyesuaian yang tidak biasa telah dilakukan sejak tanggal neraca.

Membaca notulen rapat dewan komisaris, pemegang saham, dan komite


lainnya yang sesuai.

Menanyakan ahli hokum klien mengenai litigasi, klaim, dan penilaian.

Mendapatkan surat representasi dari klien mengenai perisiwa kemudian yang


menurut pendapatnya akan memerlukan penyesuaian atau pengungkapan.

Melakukan tanya-jawab tambahan atau melaksanakan prosedur tambahan


yang dipandang perlu dalam situasi-situasi itu.
Pengaruh Terhadap Laporan Auditor
Kelalaian untuk mencatat atau mengungkapkan secara tepat peristiwa kemudian
dalam laporan keuangan akan menimbulkan penyimpangan dari laporan standar
auditor.
2.1.2 Membaca Notulen Rapat
Notulen rapat pemegang saham, dewan komisaris, dan subkomitenya, seperti komite
keuangan dan komite audit, dapat memuat hal-hal yang mempunyai signifikansi audit.
Contohnya: dewan komisaris dapat mengotorisasi penerbitan obligasi baru, pembelian
saham treasuri, dan lain lain. Pembacaan notulen rapat biasanya dilakukan segera
setelah hal itu tersedia, guna memberikan auditor kesempatan maksimum untuk
menilai signifikansi auditnya. Misalnya: informasi yang dipelajari dari catatan
tersebut menyebabkan auditor untuk mengubah pengujian substantif. Dan pembacaan
notulen rapat oleh auditor harus didokumentasikan dalam kertas kerja.
2.1.3 Mendapatkan Bukti Mengenai Litigasi, Klaim, dan Penilaian
FASB dalam SFAS 5, mendefinisikan kontinjensi sebagai kondisi, situasi, atau
serangkaian situasi yang ada yang melibatkan ketidakpastian mengenai kemungkinan
keuntungan (kontinjensi keuntungan) dan kerugian (kontinjensi kerugian).
Kontinjensi keuntungan hanya akan menimbulkan masalah yang relatif kecil,
sedangkan kontinjensi kerugian seringkali merupakan masalah yang signifikan bagi
auditor. Kontinjensi kerugian meliputi kewajiban yang potensial dari perselisihan
pajak penghasilan, klaim, dan lain-lain mempersyaratkan bahwa kontinjensi kerugian
harus:
a.
Dicatat sebagai kewajiban
b.
Diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan

c.

Diabaikan

Pertimbangan Audit
SAS 12 (AU 337.04) menyatakan bahwa auditor harus mendapatkan bukti-bukti
tentang:
a.
Eksistensi kondisi, situasi, atau serangkaian situasi yang menunjukan
ketidakpastian mengenai kemungkinan terjadinya kerugian pada suatu entitas dari
litigasi, klaim, dan penilaian (LCA).
b.
Periode di mana penyebab yang mendasari tindakan hukum terjadi.
c.
Tingkat probabilitas hasil yang tidak menguntungkan.
d.
Jumlah atau rentang kerugian yang potensial.
Surat Pertanyaan Audit
AU 337.08 menunjukkan bahwa surat pertanyaan audit kepada ahli hukum klien
merupakan sarana utama bagi auditor untuk mendapatkan informasi pendukung
tentang LCA yang diserahkan oleh manajemen. Surat tersebut harus dikirimkan oleh
manajemen kepada setiap ahli hukum yang telah ditugaskan oleh klien.
Pengaruh Jawaban Terhadap Laporan Auditor
Jawaban ahli hukum mungkin tidak mempunyai pengaruh terhadap laporan auditor.
Yaitu, auditor dapat mengeluarkan suatu laporan standar dengan pendapat wajar tanpa
pengecualian. Hal ini dapat terjadi apabila jawabannya menunjukkan bahwa
berdasarkan penyelidikan yang layak atas masalah yang dihadapi, terdapat:
a.
Probabilitas yang tinggi atas hasil yang menguntungkan
b.
Masalah yang dihadapi adalah tidak material
2.1.4 Mendapatkan Surat Representasi Klien
Auditor diwajibkan untuk mendapatkan representasi tertulis tertentu dari manajemen
dalam memenuhi sandar ketiga pekerjaan lapangan. Hal ini dapat dicapai melalui
surat representasi klien, yang umumnya dikenal sebagai surat rep. AU 333,
Management Representations, menjelaskan bahwa representasi merupakan bagian
dari barang bukti tetapi bukan pengganti penerapan prosedur audit yang diperlukan
untuk mendapatkan dasar yang layak atas suatu pendapat. Representasi manajemen
harus dapat :
a.
Mengkonfirmasikan representasi lisan yang diberikan kepada auditor
b.
Mendokumentasikan kelayakan yang berkelanjutan dari representasi tersebut
c.
Mengurangi kemungkinan kesalahpahaman mengenai representasi manajemen

Isi Surat Representasi


Menurut AU 333.06 terdapat empat kategori utama dari representsi spesifik yang
harus termasuk dalam surat rep. Surat representasi itu harus mencakup representasi
mengenai :
a.
Laporan keuangan
b.
Kelengkapan informasi
c.
Pengakuan, pengukuran, dan pengungkapan
d.
Peristiwa kemudian

Pengaruh Terhadap Laporan Auditor


Apabila auditor menerima surat rep dan mampu mendukung representasi manajemen,
maka suatu laporan audit standar dapat dikeluarkan. Tetapi, jika ada keterbatasan pada
lingkup audit jika auditor tidak dapat :

a.
Memperoleh surat rep
b.
Mendukung representasi manajemen yang bersifat material bagi laporan
keuangan dengan prosedur audit lainnya
Pembatasan lingkup tersebut akan mengakibatkan penyimpangan dari laporan standar
auditor baik melalui pendapat wajar dengan kualifikasi maupun penolakan pemberian
pendapat.
2.1.5 Melaksanakan Prosedur Analitis
Prosedur analitis disyaratkan dalam penyelesaian audit sebagai review keseluruhan
atas laporan keuangan. SAS 56 (AU 329.22) menyatakan bahwa tujuan dari review
keseluruhan adalah untuk membantu auditor menilai kesimpulan yang dicapai dalam
audit dan dalam mengevaluasi penyajian laporan keuangan secara keseluruhan. Dalam
melakukan review keseluruhan, auditor membaca laporan keuangan dan catatan serta
mempertimbangkan kelayakan bukti yang diperoleh dalam menanggapi saldo dan
hubungan yang tidak biasa serta tidak terduga yang :
a.
Diantisipasi dalam perencanaan audit
b.
Diidentifikasi selama audit dalam pengujian substantive
Dalam melakukan reviewe keseluruhan atas kewajaran penyajian laporan keuangan,
data perusahaan dapat dibandingkan dengan (1) hasil yang diharapkan entitas
berdasarkan dinamika bisnis yang mendasarinya, (2) data yang tersedia mengenai
kinerja industri, dan (3) data nonkeuangan yang relevan seperti unit yang diproduksi
atau dijual serta jumlah karyawan.
Suatu review keseluruhan biasanya akan membandingkan kinerja keuangan entitas
yang dilaporkan dengan sasaran strategisnya atas pendapatan, pelanggan, dan pangsa
pasar atas efisiensi dari proses inti serta kesesuaian ukuran nonkeuangan dengan
gambaran keseluruhan yang dilaporkan dalam laporan keuangan.
2.2
Mengevaluasi Temuan
Terdapat dua tujuan auditor dalam mengevaluasi temuan-temuan, yaitu:
a.
Menentukan jenis pendapat yang harus dinyatakan
b.
Menentukan apakah GAAS telah dipenuhi dalam audit
Untuk mencapai tujuan tersebut, auditor menyelesaikan langkah-langkah berikut :
2.2.1 Membuat Penilaian Akhir Atas Materialitas Dan Risiko Audit
Prasyarat yang esensial dalam memutuskan suatu pendapat yang akan dikeluarkan
adalah penilaian akhir atas materialitas dan risiko audit. Titik tolak untuk melakukan
proses ini adalah menjumlahkan salah saji-salah saji yang ditemukan ketika
memeriksa semua akun yang belum dikoreksi oleh klien. Penentuan auditor atas salah
saji dalam suatu akun dapat mencakup komponen berikut:
a.
Salah saji yang belum dikoreksi yang secara spesifik diidentifikasi melalui
pengujian substantif atas rincian transaksi dan saldo
b.
Proyeksi salah saji yang belum dikoreksi yang diestimasi melalui teknik
sampling audit
c.
Estimasi salah saji yang dideteksi melalui prosedur analitis dan dikuantifikasi
oleh prosedur audit lainnya
Semua komponen yang terdapat dalam suatu akun dikenal sebagai salah saji yang
mungkin, sementara jumlah salah saji yang mungkin dalam semua akun disebut
sebagai salah saji agregat yang mungkin. Penilaian auditor atas salah saji agregat yang
mungkin dapat mencakup pengaruh dari semua salah saji yang mungkin belum
dikoreksi selama periode sebelumnya terhadap laporan keuangan periode berjalan.

Data yang telah diakumulasi kemudian dibandingkan dengan pertimbanga


pendahuluan auditor mengenai materialitas yang dibuat ketika merencanakan audit.
Dalam merencanakan audit, auditor menetapkan tingkat risiko audit yang dapat
diterima. Jika salah saji agregat meningkat, maka risiko bahwa laporan keuangan
mengandung salah saji yang material juga meningkat. Jika auditor merasa bahwa
risiko audit tidak dapat diterima, maka auditor harus:
a.
Melaksanakan pengujian substantif tambahan
b.
Meyakinkan klien untuk melakukan koreksi yang diperlukan untuk mengurangi
risiko salah saji yang material
2.2.2 Mengevaluasi Kelanjutan Usaha
AU 341 menetapkan tanggung jawab auditor untuk mengevaluasi apakah ada
keraguan yang substansial tentang kemampuan klien untuk mempertahankan
kelanjutan usahanya selama suatu periode waktu yang layak, yaitu tidak melebihi satu
tahun di luar tanggal laporan keuangan yang sedang diaudit. Biasanya, informasi yang
akan menimbulkan keraguan yang substansial tentang asumsi kelanjutan usaha
berkaitan dengan ketidakmampuan entitas untuk terus memenuhi kewajibannya ketika
jatuh tempo tanpa diposisi aktiva yang besar di luar arah bisnis yang biasa,
merestrukturisasi hutang, merevisi operasinya yang dipaksa dari luar, atau melakukan
tindakan yang serupa. Jika auditor merasa yakin bahwa terdapat keraguan yang
substansial mengenai kemampuan perusahaan untuk mempertahankan kelanjutan
usahanya, maka auditor harus :
a.
Mendapatkan informasi mengenai rencana manajemen untuk mengurangi
pengaruh kondisi atau peristiwa tersebut
b.
Menilai kemungkinan bahwa rencana tersebut dapat diterapkan secara efektif
tetapi jika auditor menyimpulkan terdapat keraguan yang substansial mengenai
kelanjutan usaha, maka auditor harus:

Mempertimbangkan kelayakan pengungkapan mengenai kemungkinan


ketidakmampuan entitas untuk mempertahankan kelanjutan usahanya selama periode
waktu yang layak

Menyertakan suatu paragraf penjelasan dalam laporan audit untuk


mencerminkan kesimpulannya.
Jika auditor menyimpulkan tidak ada keraguan yang substansial, maka auditor tetap
harus mempertimbangkan kebutuhan akan pengungkapan. Beberapa informasi yang
mungkin diungkapkan mencakup:
Kondisi dan peristiwa bersangkutan yang menimbulkan penilaian atas keraguan
yang substansial mengenai kemampuan entitas untuk mempertahankan kelanjutan
usahanya selama periode waktu yang layak.
Kemungkinan pengaruh kondisi dan peristiwa tersebut.
Evaluasi manajemen atas signifikansi dari kondisi-kondisi dan peristiwa itu serta
setiap faktor yang dapat mengurangi.
Kemungkinan penghentian operasi.
Rencana manajemen (termasuk informasi keuangan prospektif yang relevan)
Informasi tentang pemulihan atau klasifikasi jumlah aktiva yang tercatat atau
jumlaj atau klasifikasi kewajiban.
2.2.3 Melakukan Review Teknis Atas Laporan Keuangan
Sebelum mengeluarkan laporan audit atas klien yang merupakan perusahaan terbuka,
review teknis juga harus dilakukan atas laporan itu oleh partner yang bukan anggota
tim audit. Daftar periksa tersebut mencakup hal-hal yang berkenaan dengan bentuk

dan isi dari masing-masing laporan keuangan dasar termasuk pengungkapan yang
disyaratkan.
2.2.4 Merumuskan Pendapat Dan Membuat Naskah Laporan Audit
Dalam penyelesaian audit, auditor perlu memisahkan temuan-temuan dengan
mengikhtisarkan dan mengevaluasinya untuk tujuan menyatakan pendapat ataslaporan
keuangan secara keseluruhan. Tanggung jawab akhir atas langkah-langkah ini terletak
pada partner yang melakukan penugasan itu. Sebelum mengambil keputusan akhir
tentang pendapat, biasanya diadakan suatu konferensi dengan klien
2.2.5 Melakukan Review Akhir Atas Kertas Kerja
Review ini dilakukan untuk mengevaluasi pekerjaan yang dilakukan, bukti yang
diperoleh, dan kesimpulan yang dibuat oleh penyusun kertas kerja. Review tambahan
atas kertas kerja dapat dilakukan pada akhir pekerjaan lapangan oleh anggota tim
audit. Tingkatan review yang dapat dilakukan dalam penyelesaian audit ditunjukkan
dalam table berikut:
Review

Sifat Review

Manajer

Mereview kertas kerja yang


disiapkan oleh auditor senior dan
mereview beberapa atau semua
kertas kerja yang direview oleh
auditor senior.

Partner yang bertanggung jawab atas penugasan

Mereview kertas kerja yang


disiapkan
oleh
manajer
dan
mereview kertas kerja lainnya atas
dasar selektif.

Review yang dilakukan partner atas kertas kerja dirancang untuk mendapatkan
kepastian bahwa:

Pekerjaan yang dilakukan oleh bawahan adalah akurat dan lengkap.

Pertimbangan yang dilakukan oleh bawahan adalah layak dan tepat pada
situasi bersangkutan.

Penugasan audit telah diselesaikan sesuai dengan kondisi dan syarat yang
ditetapkan dalam surat penugasan.

Semua pertanyaan tentang akuntansi, auditing, dan pelaporan signifikan yang


timbul selama audit telah diselesaikan dengan tepat.

Kertas kerja mendukung pendapat auditor.

GAAS dan kebijakan serta prosedur pengendalian mutu kantor akuntan telah
dipenuhi.
2.3
Mengkomunikasikan Dengan Klien
Komunikasi antara auditor dengan klien pada penutupan audit melibatkan komite
audit dan manajemen. Komunikasi komite audit membicarakan hal-hal berkenaan
dengan:
a.
Pengendalian internal klien
b.
Pelaksanaan audit
Sementara komunikasi dengan manajemen dilakukan melalui surat manajemen.

2.3.1 Mengkomunikasikan Hal-hal Yang Berkaitan Dengan Pengendalian Internal


AU 325 mempersyaratkan auditor untuk menyampaikan kondisi-kondisi yang dapat
dilaporkan, yang didefinisikan sebagai hal yang merupakan kekurangan yang
signifikan dalam perancangan atau operasi pengendalian internal, yang dapat
berpengaruh buruk terhadap kemampuan organisasi untuk mencatat, memproses,
mengikhtisarkan, dan melaporkan data keuangan yang konsisten dengan asersi
manajemen dalam laporan keuangan.
Komunikasi itu sebaiknya dilakukan dalam bentuk tertulis. Pembagian laporan itu
biasanya harus dibatasi kepada komite audit, manajemen dan pihak lain di dalam
organisasi. Akan tetapi, apabila laporan tersebut diisyaratkan oleh otoritas pemerintah,
maka rujukan khusus harus dinyatakan dalam laporan itu. AU 325.11 menyatakan
bahwa setiap laporan yang diterbitkan mengenai kondisi yang dapat dilaporkan
harus :
a.
Menunjukkan bahwa tujuan audit adalah melaporkan tentang laporan keuangan
dan bukan memberikan kepastian tentang pengendalian internal
b.
Menyertakan definisi tentang kondisi yang dapat dilaporkan
c.
Menyertakan pembatasan pembagian
2.3.2 Mengkomunikasikan Hal-hal Yang Berkenaan Dengan Pelaksanaan Audit
AU 380 mempersyaratkan auditor untuk menyampaikan hal-hal tertentu berkenaan
dengan pelaksanaan audit kepada mereka yang bertanggung jawab mengawasi proses
pelaporan keuangan. AU 380.06-14 menyatakan bahwa komunikasi dengan komite
audit dapat mencakup hal-hal berikut :
a.
Tanggung jawab auditor menurut GAAS
b.
Kebijakan akuntansi yang signifikan
c.
Pertimbangan auditor tentang mutu prinsip akuntansi entitas
d.
Pertimbangan manajemen dan estimasi akuntansi
e.
Penyesuaian audit yang signifikan
f.
Ketidaksepakatan dengan manajemen
g.
Konsultasi dengan akuntan lain
h.
Masalah penting yang dibahas dengan manajemen sebelum penarikan diri
i.
Kesulitan yang dihadapi dalam pelaksanaan audit
2.3.3 Menyiapkan Surat Manajemen
Ketika menyelesaikan suatu audit, banyak auditor menganggap bermanfaat untuk
menulis surat kepada manajemen, yang dikenal sebagai surat manajemen, yang
memuat rekomendasi yang tidak termasuk dalam komunikasi yang disyaratkan
dengan komite audit. Surat manajemen dapat mencakup komentar tentang:
a.
Hal-hal yang berkaitan dengan pengendalian internal yang tidak di
pertimbangkan sebagai kondisi yang dapat dilaporkan
b.
Rekomendasi mengenai pengelolaan sumber daya dan jasa bernilai tambah yang
tercatat selama audit
c.
Hal-hal yang bersangkutan dengan pajak
2.4 Tanggung Jawab Setelah Audit
Tanggung jawab setelah audit mencakup pertimbangan atas:
1.
Peristiwa kemudian yang terjadi antara tanggal dan penerbitan laporan auditor.
2.
Penemuan faktor yang ada
3.
Penemuan prosedur yang dihilangkan

2.4.1 Peristiwa Kemudian Yang Terjadi Antara Tanggal Dan Penerbitan Laporan
Auditor
SAS 1 (AU 530), menyatakan bahwa auditor tidak mempunyai tanggung jawab untuk
mengajukan pertanyaan atau melaksanakan suatu prosedur audit apapun selama
periode waktu ini guna menemukan peristiwa kemudian yang material. Auditor dapat
menggunakan tanggal ganda dalam laporan audit. Tanggal ganda merupakan praktik
yang paling umum karena member tanggal kembali atas keseluruhan laporan akan
memperluas tanggung jawab auditor secara keseluruhan di luar penyelesaian
pekerjaan lapangan.
2.4.2 Penemuan Fakta Yang Ada Pada Tanggal Laporan
Auditor tidak mempunyai tanggung jawab untuk menemukan fakta yang ada setelah
audit pada tanggal laporan audit. Namun, SAS 1 (AU 561.04), menunjukkan bahwa
jika (1) auditor menyadari adanya fakta tersebut dan (2) fakta itu mungkin
mempengaruhi laporan yang telah dikeluarkan, maka auditor diwajibkan untuk
memastikan reliabilitas informasi itu. Apabila penyelidikan lebih lanjut menguatkan
eksistensi fakta itu dan auditor merasa yakin bahwa informasi itu penting bagi mereka
yang mengandalkan atau cenderung mengandalkan pada laporan keuangan, maka
auditor harus mengambil langkah-langkah untuk mencegah ketergantungan pada
laporan audit itu di masa depan.
Jika klien menolak untuk mengungkapkan fakta yang baru ditemukan, maka auditor
harus memberi tahu setiap anggota dewan komisaris mengenai penolakan tersebut
penyelidikan yang memuaskan, maka tanpa mengungkapkan informasi spesifik,
auditor harus (1) menunjukkan tidak adanya kerjasama itu dan (2) menyatakan bahwa
jika informasi itu benar, laporan audit tidak dapat lagi diandalkan.
2.4.3 Penemuan Prosedur Yang Dihilangkan
Ketika menemukan suatu prosedur yang telah dihilangkan, auditor harus menilai
kepentingan hal itu bagi kepentingan hal itu bagi kemampuannya saat ini untuk
mendukung pendapat yang dinyatakan atas laporan keuangan. AU 390.05
menunjukkan jika auditor memutuskan bahwa pendapatnya tidak dapat didukung dan
auditor yakin bahwa orang-orang saat ini mengandalkan pada laporan itu, maka
auditor harus segera melaksanakan prosedur yang dihilangkan atau prosedur alternatif
yang akan memberikan dasar yang memuaskan atas pendapatnya.
Apabila dasar yang memuaskan untuk menyatakan pendapat telah diperoleh dan
bukti-bukti mendukung pendapat yang dinyatakan, auditor tidak mempunyai
tanggung jawab lagi. Tetapi, jika pelaksanaan prosedur yang dihilangkan
mengungkapkan fakta yang ada pada tanggal laporan sehingga akan mengubah
pendapat yang dinyatakan sebelumnya, auditor harus mengikuti prosedur
pemberitahuan yang diuraikan dalam paragraph terakhir dari bagian terdahulu untuk
mencegah ketergantungan selanjutnya atas laporan bersangkutan. Jika auditor tidak
dapat melaksanakan prosedur alternatif atau yang dihilangkan, maka auditor dapat
berkonsultasi dengan pengacara untuk menentukan tindakan yang tepat.

BAB III
KESIMPULAN
Tahap penyelesaian audit merupakan tahap yang penting untuk memastikan
audit yang berkualitas. Prosedur yang dilaksanakan dalam aktivitas ini mempunyai
beberapa karakteristik yang berbeda, yaitu:
1. prosedur itu tidak bersangkutan dengan siklus transaksi atau akun-akun
spesifik,
2. prosedur itu dilaksanakan sesudah tanggal neraca,
3. prosedur itu melibatkan banyak pertimbangan subyektif oleh auditor, dan
4. prosedur itu biasanya dilaksanakan oleh manajer audit atau anggota senior
lainnya dari tim audit yang mempunyai pengalaman yang luas dengan klien.
Dalam tahap penyelesaian audit, auditor melaksanakan pengujian tambahan
atas penyajian dan pengungkapan, termasuk mereview kontijensi dan peristiwa
kemudian. Auditor juga mereview kecukupan bukti audit dan keputusan yang diambil
untuk menentukan apakah hal itu mendukung pendapat audit. Kemudian auditor
berkomunikasi dengan komite audit dan manajemen mengenai temuan yang penting
dan persoalan lainnya.

Daftar Pustaka