Anda di halaman 1dari 17

ANATOMI FISIOLOGI

Selasa, 30 Juli 2013

Impuls Refleks Fisiologis pada Manusia


Syaraf
Refleks
1. Latar Belakang
Reflek sadalah reespon yang tidak berubah terhadap perangsangan yang
terjadi di luar kehendak, atau dengan kata lain refleks adalah respon yang
terjadi secara otomatis tanpa usaha sadar.Rangsangan ini merupakan
reaksi organisme terhadap perubahan lingkungan baik di dalam maupun
di luar organisme yang melibatkan sistem saraf pusat dalam memberikan
jembatan (respons) terhadap rangsangan. Ada dua jenis refleks, yaitu
refleks sederhana atau refleks dasar, yaitu refleks built-in yang tidak perlu
dipelajari, misalnya mengedipkan mata jika ada benda asing yang masuk;
dan refleks didapat atau refleks terkondisi, yang terjadi ketika belajar dan
berlatih, misalnya seorang pianis yang menekan tuts tertentu sewaktu
melihat suatu di kertas partitur. Jalur jalur saraf saraf yang berperan
dalam pelaksanaan aktivitas refleks dikenal sebagai lengkung
refleks.Lekung refleks ini terdiri dari alat indra, serta saraf aferen satu
atau lebih sinapas yang terdapat disusunan saraf pusat atau diganglion
simpatis, saraf everon dan efektor.
Cara manusia bertindak dan bereaksi bergantung pada pengolahan
neuron yang tersendiri, terorganisasi, dan kompleks.Banyak pola neuron
penunjang kehidupan, seperti pola yang mengontrol pernapasan dan
sirkulasi, serupa pada semua individu.Reseptor adalah suatu struktur
khusus yang peka terhadap suatu bentuk energi tertentu dan dapat
mengubah bentuk energi menjadi aksi-aksi potensial listrik atau impulsimpuls saraf.

Refleks dapat berupa peningkatan maupun penurunan kegiatan, misalnya


kontraksi atau relaksasi otot, kontraksi atau dilatasi pembuluh
darah.Dengan adanya kegiatan refleks, tubuh mampu mengadakan reaksi
yang cepat terhadap berbagai perubahan diluar maupun di dalam tubuh
disertai adaptasi terhadap perubahan tersebut.Dengan demikian seberapa
besar peran system saraf pusat dapat mengatur kehidupan
organisme.Refleks sangat penting untuk pemeriksaan keadaan fisis secara
umum, fungsi nervus, dan koordinasi tubuh.Dari refleks atau respon yang
diberikan oleh anggota tubuh ketika sesuatu mengenainya dapat
diketahui normal tidaknya fungsi dalam tubuh. Oleh karena itu,
pelaksanaan praktikum ini sangat penting agar diketahui bagaimana cara
memeriksa refleks fisiologis yang ada pada manusia.
2. Tinjauan Pustaka
Gerak pada umumnya terjadi secara sadar, namun, ada pula gerak yang
terjadi tanpa disadari yaitu gerak refleks.Untuk terjadi gerak refleks, maka
dibutuhkan struktur sebagai berikut : organ sensorik (yang menerima
impuls), serabut saraf sensorik (yang menghantarkan impuls), sumsum
tulang belakang (serabut-serabut saraf penghubung menghantarkan
impuls), sel saraf motorik (menerima dan mengalihkan impuls), dan organ
motorik (yang melaksanakan gerakan). Gerak refleks merupakan bagian
dari mekanika pertahanan tubuh yang terjadi jauh lebih cepat dari gerak
sadar, misalnya menutup mata pada saat terkena debu, menarik kembali
tangan dari benda panas menyakitkan yang tersentuh tanpa sengaja.
Gerak refleks dapat dihambat oleh kemauan sadar ; misalnya, bukan saja
tidak menarik tangan dari benda panas, bahkan dengan sengaja
menyentuh permukaan panas. (Evelyn Pearce, 2009 : 292)
Mekanisme gerak refleks merupakan suatu gerakan yang terjadi secara
tiba-tiba diluar kesadaran kita. Refleks fleksor, penarikan kembali tangan
secara refleks dari rangsangan yang berbahaya merupakan suatu reaksi
perlindungan. Refleks ekstensor (polisinaps) rangsangan dari reseptor

perifer yang mulai dari refleksi pada anggota badan dan juga berkaitan
dengan ekstensi anggota badan. Gerakan refleks merupakan bagian dari
mekanisme pertahanan tubuh dan terjadi jauh lebih cepat dari gerak
sadar misalnya menutup mata pada saat terkena debu
Untuk terjadinya gerakan refleks maka dibutuhkan struktur sebagai
berikut, organ sensorik yang menerima impuls misalnya kulit. Serabut
saraf sensorik yang menghantarkan impuls tersebut menuju sel-sel
ganglion radiks posterior dan selanjutnya serabut sel-sel akan
melanjutkan impuls danmenghantarkan impuls-impils menuju substansi
pada kornu posterior medula spinalis. Sel saraf motorik menerka impuls
dan menghantarkan impuls-impuls melalui serabut motorik.
Kegiatan sistem saraf pusat ditampilkan dalam bentuk kegiatan
refleks.Dengan kegiatan refleks dimungkinkan terjadi hubungan kerja
yang baik dan tepat antara berbagai organ yang terdapat dalam tubuh
manusia dan hubungan dengan sekelilingnya.Refleks adalah respon yang
tidak berubah terhadap perangsangan yang terjadi diluar
kehendak.Rangsangan ini merupakan reaksi organisme terhadap
perubahan lingkungan baik didalam maupun diluar organisme yang
melibatkan sistem saraf pusat dalam maupun memberikan jembatan
(respons) terdapat rangsangan. Refleks dapat berupa peningkatan
maupun penurunan kegiatan, misalnya kontraksi atau relaksasi otot,
kontraksi atau dilatasi pembuluh darah. Dengan adanya kegiatan refleks,
tubuh mampu mengadakan reaksi yang cepat terhadap berbagai
perubahan diluar maupun didalam tubuh disertai adaptasi terhadap
perubahan tersebut.Dengan demikian seberapa besar peran sistem saraf
pusat dapat mengukur kehidupan organisme.
Proses yang terjadi pada refleks melalui jalan tertentu disebut lengkung
refleks. Komponen-komponen yang dilalui refleks :
1. Reseptor rangsangan sensorik yang peka terhadap suatu rangsangan
misalnya kulit

2. Neuron aferen (sensoris) yang dapat menghantarkan impuls menuju


kesusunan saraf pusat (medula spinalis-batang otak)
3. Pusat saraf (pusat sinaps) tempat integrasi masuknya sensorik dan
dianalisis kembali ke neuron eferen
4. Neuron eferen (motorik) menghantarkan impuls ke perifer
5. Alat efektor merupakan tempat terjadinya reaksi yang diwakili oleh
suatu serat otot atau kelenjar
Walaupun otak dan sum-sum tulang belakang mempunyai materi sama
tetapi susunannya berbeda. Pada otak, materi kelabu terletak dibagian
luar atau kulitnya dan dibagian putih terletak ditengah. Pada sum-sum
tulang belakang bagian tengah berupa materi kelabu berbentuk kupukupu,sedangkan pada bagian-bagian korteks juga dapat berupa materi
putih.(Syaifuddin,2006 : 214).
Unit dasar setiap kegiatan reflex terpadu adalah lengkung reflex.
Lengkung reflex ini terdiri dari alat indra, serat saraf aferen, satu atau
lebih sinaps yang terdapat di susunan saraf pusat atau di ganglion
simpatis, serat saraf eferen, dan efektor. Serat neuron aferen masuk
susunan saraf pusat melalui radiks dorsalis medulla spinalis atau melalui
nervus kranialis, sedangkan badan selnya akan terdapat di ganglionganglion homolog nervi kranialis atau melalui nervus cranial yang sesuai.
Kenyataan radiks dorsalis medulla spinalis bersifat sensorik dan radiks
ventralis bersifat motorik dikenal sebagai hokum Bell- Magendie.
Kegiatan pada lengkung reflex dimulai di reseptor sensorik, sebagai
potensial reseptor yang besarnya sebanding dengan kuat rangsang.
Potensial reseptor ini akan membangkitkan potensial aksi yang bersifat
gagal atau tuntas, di saraf aferen. Frekuensi potensial aksi yang terbentuk
akan sebanding dengan besarnya potensial generator. Di system saraf
pusat (SSP), terjadi lagi respons yang besarnya sebanding dengan kuat
rangsang, berupa potensial eksitasi pascasinaps (Excitatory Postsynaptic
Potential=EPSP) dan potesial inhibisi postsinaps (Inhibitory Postsynaptic
Potential=IPSP) di hubungan-hubungan saraf (sinaps). Respon yang timbul
di serat eferen juga berupa repons yang bersifat gagal atau tuntas.Bila

potensial aksi ini sampai di efektor, terjadi lagi respons yang besarnya
sebanding dengan kuat rangsang. Bila efektornya berupa otot polos, akan
terjadi sumasi respons sehingga dapat mencetuskan potensial aksi di otot
polos. Akan tetapi, di efektor yang berupa otot rangka, respons bertahap
tersebut selalu cukup besar untuk mencetuskan potensial aksi yang
mampu menghasilkan kontraksi otot. Perlu ditekankan bahwa hubungan
antara neuron aferen dan eferen biasanya terdapat di system saraf pusat,
dan kegiatan di lengkung reflex ini dapat dimodifikasi oleh berbagai
masukan dari neuron lain yang juga bersinaps pada neuron eferen
tersebut.
Lengkung reflex. Paling sederhana adalah lengkung reflex yang
mempunyai satu sinaps anatara neuron aferen dan eferen. Lengkung
reflex semacam itu dinamakan monosinaptik, dan reflex yang terjadi
disebut reflex monosinaptik. Lengkung reflex yang mempunyai lebih dari
satu interneuron antara neuron afern dan eferen dinamakan polisanptik,
dan jumlah sinapsnya antara 2 sampai beberapa ratus. Pada kedua jenis
lengkung reflex, terutama pada lengkung reflex polisinaptik. Kegiatan
refleksnya dapat dimodifikasi oleh adanya fasilitas spasial dan temporal,
oklusi, efek penggiatan bawah ambang (subliminal fringe), dan oleh
berbagai efek lain. (Laurale Sherwood, 2006)
Neuron aferen secara langsung bersinaps dengan neuron motorik alfa
yang mempersarafi serat-serat ekstrafusal otot yang sama, sehingga
terjadi kontraksi otot itu. Refleks regang (stretch reflex) ini berfungsi
sebagai mekanisme umpan balik negative untuk menahan setiap
perubahan pasif panjang otot, sehingga panjang optimal dapat
dipertahankan.
Contoh klasik reflex regang adalah reflex tendon patella atau knee-jerk
reflex. Otot- otot ekstenson lutut adalah kuadriseps femoris, yang
membentuk anterior paha dan melekat ke tibia (tulang kering) tepat di
bawah lutut melalui tendon patella. Reflex regang yang terjadi

menimbulkan kontraksi otot ekstensor ini, sehingga lutut mengalami


ekstensi dan mengangkat tungkai bawah dengan cara yang khas. Reflex
patella yang normal mengindikasikan dokter bahwa sejumlah komponen
saraf dan otot-gelendong otot, masukan aferen, neuron motorik, keluaran
eferen taut neuromuskulus, dan otot itu sendiri-berfungsi normal. Reflex
ini juga mengindikasikan adanya keseimbangan antara masukan eksitorik
dan inhibitorik ke neuron motorik dari pusat-pusat yang lebih tinggi di
otak.Tujuan utama reflex regang adalah menahan kecenderungan
peregangan pasif otot-otot ekstensor yang ditimbulkan oleh gaya gravitasi
ketika seseorang berdiri tegak. (William F. Ganong, 2008)
Stretch dinamis dan statis Stretch Reflex. Itu refleks regangan dapat
dibagi menjadi dua komponen: refleks peregangan dinamis dan reflex
regangan statis. Dinamis adalah menimbulkan refleks regangan oleh
menimbulkan sinyal dinamis ditularkan dari indra utama akhiran dari
spindle otot, yang disebabkan oleh peregangan cepat atau unstretch.
Artinya, ketika tiba-tiba otot diregangkan atau teregang, sinyal kuat
ditularkan ke sumsum tulang belakang; ini seketika kuat menyebabkan
refleks kontraksi (atau penurunan kontraksi) dari otot yang sama dari
sinyal yang berasal. Jadi, fungsi refleks untuk menentang perubahan
mendadak pada otot panjang.Refleks regangan yang dinamis berakhir
dalam fraksi detik setelah otot telah menggeliat (atau awalnya) untuk
panjang baru, tetapi kemudian yang lebih lemah statis refleks regangan
terus untuk waktu yang lama setelahnya.Refleks ini diperoleh oleh statis
terus-menerus sinyal reseptor ditularkan oleh kedua primer dan
endings.The sekunder pentingnya peregangan statis refleks adalah bahwa
hal itu menyebabkan tingkat kontraksi otot tetap cukup konstan, kecuali
jika sistem saraf seseorang secara spesifik kehendak sebaliknya.(Guyton
dan Hall, 2006)
Peregangan otoy secara tiba-tiba merangsang muscule spindle dan
sebaliknya ini menyebabkan refleks kontraksi dari otot yang sama. Karena
alasan yang jelas, refleks yang sering disebut suatu refleks regang

mempunyai suatu konponen dinamik dan suatu komponen statik. Refleks


regang dinamik disebabkan oleh isyarat dinamik yang kuat dari muscle
spindle. Refleks regang static dibangkitkan oleh isyarat kontinu reseptor
static yang dihantarkan melalui ujung primer dan sekunder muscle
spindle. Refleks regang negatif, bila suatu otot tiba-tiba diperpendek,
terjadi efek yang berlawanan. Refleks ini menentang pemendekan otot
tersebut dengan cara yang sama seperti refleks regang positif yang
menentang pemanjangan otot. (Athur C. Guyton, 2008 : 457)
Refleks cahaya pada pupil adalah refleks yang mengontrol diameter pupil,
sebagai tanggapan terhadap intensitas (pencahayaan) cahaya yang jatuh
pada retina mata.Refleks kornea, juga dikenal sebagai refleks berkedip,
adalah tanpa sadar kelopak mata berkedip dari yang diperoleh oleh
stimulasi (seperti menyentuh atau benda asing) dari kornea, atau cahaya
terang, meskipun bisa akibat dari rangsangan perifer.Harus
membangkitkan rangsangan baik secara langsung dan respons
konsensual (tanggapan dari mata sebaliknya). Refleks mengkonsumsi
pesat sebesar 0,1 detik. Pemeriksaan refleks kornea merupakan bagian
dari beberapa neurologis ujian, khususnya ketika mengevaluasi
koma.Kerusakan pada cabang oftalmik (V1) dari saraf kranial ke-5 hasil di
absen refleks kornea ketika mata terkena dirangsang.Refleks biseps tes
refleks yang mempelajari fungsi dari refleks C5 busur dan untuk
mengurangi refleks C6 derajat busur.Tes ini dilakukan dengan
menggunakan sebuah tendon palu untuk dengan cepat menekan tendon
biceps brachii saat melewati kubiti fosa.
(http://en.wikipedia.org/wiki/Reflex)
a. Refleks kulit perut
Orang coba berbaring telentang dengan kedua lengan terletak lurus di
samping badan. Goreslah kulit daerah abdomen dari lateral kearah
umbilicus. Respon yang terjadi berupa kontraksi otot dinding perut.
b. Refleks kornea

Sediakanlah kapas yang digulung menjadi bentuk silinder halus. Orang


coba menggerakkan bola mata ke lateral yaitu dengan melihat ke salah
satu sisi tanpa menggerakkan kepala. Sentuhlah dengan hati-hati sisi
kontralateral kornea dengan kapas.Respon berupa kedipan mata secara
cepat.
c. Refleks cahaya
Cahaya senter dijatuhkan pada pupil salah satu mata orang coba.Respons
berupa konstriksi pupil holoateral dan kontralateral. Ulangi percobaan
pada mata lain.
d. Refleks Periost Radialis
Lengan bawah orang coba setengah difleksikan pada sendi siku dan
tangan sedikit dipronasikan.Ketuklah periosteum pada ujung distal os
radii.Respons berupa fleksi lengan bawah pada siku dan supinasi tangan.
e. Refleks Periost Ulnaris
Lengan bawah orang coba setengah difleksikan pada sendi siku dan
tangan antara pronasi dan supinasi.Ketuklah pada periost prosessus
stiloideus.Respons berupa pronasi tangan.
f. Stretch Reflex (Muscle Spindle Reflex=Myotatic Reflex)
1) Knee Pess Reflex (KPR)
Orang coba duduk pada tempat yang agak tinggi sehingga kedua tungkai
akan tergantung bebas atau orang coba berbaring terlentang dengan
fleksi tungkai pada sendi lutut. Ketuklah tendo patella dengan Hammer
sehingga terjadi ekstensi tungkai disertai kontraksi otot kuadrisips.
2) Achilles Pess Reflex (ACR)
Tungkai difleksikan pada sendi lutut dan kaki didorsofleksikan.Ketuklah
pada tendo Achilles, sehingga terjadi plantar fleksi dari kaki dan kontraksi
otot gastronemius.

3) Refleks biseps
Lengan orang coba setengah difleksikan pada sendi siku. Ketuklah pada
tendo otot biseps yang akan menyebabkan fleksi lengan pada siku dan
tampak kontraksi otot biseps.
4) Refleks triseps
Lengan bawah difleksikan pada sendi siku dan sedikit dipronasikan.
Ketuklah pada tendo otot triseps 5 cm di atas siku akan menyebabkan
ekstensi lengan dan kontraksi otot triseps.
5) Withdrawl Reflex
Lengan orang coba diletakkan di atas meja dalam keadaa
ekstensi.Tunggulah pada saat orang coba tidak melihat saudara, tusuklah
dengan hati-hati dan cepat kulit lengan dengan jarum suntik steril,
sehalus mungkin agar tidak melukai orang coba.Respons berupa fleksi
lengan tersebut menjauhi stimulus.
Yang Perlu Diperhatikan:
1. Relaksasi sempurna: orang coba harus relaks dengan posisi seenaknya.
Bagian (anggota gerak) yang akan diperiksa harus terletak sepasif
mungkin (lemas) tanpa ada usaha orang coba untuk mempertahankan
posisinya.
2. Harus ada ketegangan optimal dari otot yang akan diperiksa. Ini dapat
dicapai bila posisi dan letak anggota gerak orang coba diatur dengan baik.
3. Pemeriksa mengetukkan Hammer dengan gerakan fleksi pada sendi
tangan dengan kekuatan yang sama, yang dapat menimbulkan regangan
yang cukup.

Refleks fisiologis
1.Pada pemeriksaan refleks kulit perut orang coba tidak mengalami
reaksi,ketika daerah abdomen di gores. Hal ini disebabkan adanya

kelainan pada daerah abdomen.Kulit di daerah abdomen dari lateral ke


arah umbilikus digores dan respon yang terjadi berupa kontraksi otot
dinding perut. Namun pada orang lanjut usia dan sering hamil, tidak
terjadi lagi kontraksi otot dinding perut karena tonus otot perutnya sudah
kendor.
2. Pada refleks kornea atau refleks mengedip, orang coba menggerakkan
bola mata ke lateral yaitu dengan melihat salah satu sisi tanpa
menggerakkan kepala. Kemudian sisi kontralateral kornea orang coba
disentuh dengan kapas yang telah digulung membentuk silinder
halus.Respon berupa kedipan mata secara cepat.Sentuhan pada sisi
kornea dengan kapa yang berbentuk silinder halus akan mengakibatkan
kontraksi secara spontan pada bola. Hal ini disebabkan mata termasuk
organ tubuh yang sangat sensitif terhadap benda-benda asing
3. Pada percobaan tentang refleks cahaya akan dilihat bagaimana respon
pupil mata ketika cahaya senter dijatuhkan pada pupil. Ternyata repon
yang terjadi berupa kontriksi pupil homolateral dan kontralateral. Jalannya
impuls cahaya sampai terjadi kontriksi pupil adalah berasal dari pupil
kemudian stimulus diterima oleh N.Opticus, lalu masuk ke
mesencephalon, dan kemudian melanjutkan ke N .Oculomotoris dan
sampai ke spingter pupil.Refleks cahay ini juga disebut refleks pupil.Pada
percobaan refleks cahaya, pupil mata mengalami pengecilan.Cahaya yang
berlebihan yang masuk kedalam mata membuat pupil mata menjadi kecil.
4. Pada percobaan refleks periost radialis, lengan bawah orang coba
difleksikan pada sendi tangan dan sedikit dipronasikan kemudian
dilakukan pengetukan periosteum pada ujung distal os radii.Pada
percobaan refleks periost radialis terjadi gerakan fleksi.Hal ini
menandakan tangan orang coba normal karena respons ketika diketuk.
Jalannya impuls pada refleks periost radialis yaitu dari processus
styloideus radialis masuk ke n. radialis kemudian melanjutkan ke N.
cranialis 6 sampai Thoracalis 1 lalu masuk ke n. ulnaris lalu akan

menggerakkan m. fleksor ulnaris. Respon yang terjadi berupa fleksi


lengan bawah pada siku dan supinasi tangan.
5. Pada percobaan refleks perost ulnaris terjadi supunasi dan ini
menundakan bahwa tangan orang coba normal. Pada percobaan refleks
stretuch pada kpr terjadi ekstensi yang disertai kontraksi otot kuadriseps,
APR terjadi plantar fleksi dan kontraksi otot gastroknimius, untuk biseps
terjadi fleksi lengan dan kontraksi otot biseps dan refleks triseps dan
withdrawl refleks mengalami fleksi dan ekstensi pada lengan.Respon dari
refleks periost ulnaris berupa pronasi tangan. Jalannya impuls saraf
berasal dari processus styloideus radialis masuk ke n. radialis kemudian
melanjutkan ke N. cranialis 5-6 lalu masuk ke n. radialis lalu akan
menggerakkan m. brachioradialis.
Bila suatu otot rangka dengan persarafan yang utuh diregangkan akan
timbul kontraksi. Respon ini disebut refleks regang. Rangsangannya
adalah regangan pada otot, dan responnya berupa kontraksi otot yang
diregangkan.Reseptornya adalah kumparan otot (muscel spindle).Yang
termasuk muscle spindle reflex (stretcj reflex) yaitu Knee Pess Reflex
(KPR), Achilles Pess Reflex (APR), Refleks Biseps, Refleks Triceps, dan
Withdrawl refleks.Pada Knee Pess Reflex (KPR), tendo patella diketuk
dengan palu dan respon yang terjadi berupa ekstensi tungkai disertai
kontraksi otot kuadriseps. Pada Achilles Pess Refleks (APR), tungkai
difleksikan pada sendi lutu dan kaki didorsofleksikan.Respon yang terjadi
ketika tendo Achilles diketuk berupa fleksi dari kaki dan kontraksi otot
gastroknemius.Ketika dilakukan ketukan pada tendo otot biseps terjadi
respon berupa fleksi lengan pada siku dan supinasi.Sedangkan jika tendo
otot triseps diketuk, maka respon yang terjadi berupa ekstensi lengan dan
supinasi.Untuk mengetahui fungsi nervus, dapat dilakukan beberapa
pemeriksaan, misalnya untuk memeriksa nervus IX (nervus
glossopharingeus) dapat dilihat pada saat spatula dimasukkan ke dalam
mulut, maka akan timbul refleks muntah, sedangkan nervus XII dapat
dilakukan pemeriksaan pada lidah, dan beberapa nervus dapat diperiksa

dengan malihat gerakan bola mata. Nervus penggerak mata antara


nervus IV, abduscens, dan oculomotoris.Nervus XI (nervus accesoris)
dapat diuji dengan menekan pundak orang coba, jika ada pertahanan,
artinya normal.Respon motorik kasar melibatkan seluruh koordinasi sistem
saraf.Respon ini dapat dilihat saat orang diminta menunjuk anggota
secara bergantian. Orang normal akan menunjuk dengan tepat,
sebaliknya orang yang koordinasi sistem sarafnya tidak normal maka dia
tidak akan menunjuk dengan tepat.
.
Daftar Pustaka
- Ganong, William F. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran.Jakarta : EGC
- Guyton, Athur C. 2008. Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit
(Human Physiology and Mechanisms of Disease).Jakarta : EGC
- Guyton dan Hall.2006.Text Book of Medical Phisiology.Jakarta : EGC
- Pearce,Evelyn.2009. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta : PT.
Gtamedia Pustaka Utama
- Sherwood,Lauralee.2006.Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem.Jakarta
:EGC

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Mekanisme Gerak Refleks


2.1.1 Pengertian Gerak Refleks
Refleks adalah respons otomatis terhadap stimulus tertentu yang menjalar pada
rute yang disebut lengkung refleks. Sebagian besar proses tubuh involunter (misalnya,
denyut jantung, pernapasan, aktivitas pencernaan, dan pengaturan suhu) dan respons
somatis (misalnya, sentakan akibat suatu stimulus nyeri atau sentakan pada lutut)
merupakan kerja refleks.[2]

2.1.2 Lengkung Refleks


Unit dasar aktivitas refleks terpadu adalah lengkung refleks. Lengkung refleks
ini terdiri atas alat indra, neuron aferen, satu sinaps atau lebih yang umumnya terdapat
di pusat integrasi sentral, neuron eferen, dan efektor. Pada mamalia, hubungan
(sninaps) antara neuron somatik aferen dan eferen biasanya terdapat di otak atau
medulla spinalis. Serat neuron aferen masuk susunan saraf pusat melalui radiks dorsalis
medulla spinalis atau melalui nervus kranialis, sedangkan badan selnya akan terdapat di
ganglion dorsalis atau di ganglion-ganglion homolog nervi kranialis. Serat neuron eferen
keluar melalui radiks ventralis atau melalui nervus cranial yang sesuai. Kenyataan radiks
dorsalis medulla spinalis bersifat sensorik dan radiks ventralis bersifat motorik dikenal
sebagai hukum Bell-Magendie. [1]
Semua lengkung (jalur refleks) terdiri dari komponen yang sama.
1. Reseptor adalah ujung distal dendrit, yang menerima stimulus.
2. Jalur aferen melintas sepanjang sebuah neuron sensorik sampai ke otak atau
medulla spinalis.
3. Bagian pusat adalah sisi sinaps, yang berlangsung dalam substansi abu-abu SSP.
Impuls dapat ditransmisi, diulang rutenya atau dihambat pada bagian ini.
4. Jalur eferen melintas disepanjang akson neuron motorik sampai ke efektor, yang
akan merespons impuls eferen sehingga menghasilkan aksi yang khas.

5. Efektor dapat berupa otot rangka, otot jantung, atau otot polos, atau kelenjar
yang merespon. [2]

Gb.1 Lengkung Refleks

2.1.3 Sifat Umum Refleks


1. Rangsangan Adekuat
Rangsangan yang memicu terjadinya refleks umumnya sangat tepat (presisi).
Rangsangan ini dinamakan rangsangan adekuat untuk refleks tersebut. Suatu contoh
yang jelas adalah refleks menggaruk pada anjing. Refleks spinal ini timsbul akibat
rangsangan yang adekuat melalui rangsangan raba linier multiple, yang misalnya karena
terdapat serangga yang merayap di kulit. Respons yang timbul adalah garukan hebat
pada daerah yang terangsang (sementara itu, ketepatan gerakan kaki yang menggaruk ke
tempat yang teriritasi itu merupakan contoh sinyal local yang baik). Bila rangsangan
raba multiple itu terpisah jauh atau tidak dalam satu garis, rangsangan yang adekuat
tidak akan timbul dan tidak terjadi garukan. Lalat merayap, tetapi juga dapat melompat
dari satu tempat ke tempat lain. Lompatan ini memisahkan rangsangan raba tersebut
sehingga tidak terbentuk rangsangan adekuat untuk refleks menggaruk. [1]
2. Jalur Bersama Akhir
Neuron motorik yang mempersarafi serabut ekstrafusal otot rangka
merupakan bagian eferen dari berbagai lengkung refleks. Seluruh pengaruh persarafan
yang memengaruhi kontraksi otot pada akhirnya akan tersalur melalui lengkung refleks
ke otot tersebut, dank arena itu dinamakan jalur bersama akhir (final common path).
Sejumlah besar masukan impuls bertemu di tempat tersebut. Memang, permukaan
neuron motorik dan dendritnya rata-rata menampung sekitar 10.000 simpul sinaps.
Sedikitnya terdapat lima masukan dari segmen spinal yang sama untuk neuron motorik
spinal tertentu. Di samping yang umumnya dipancarkan melalui interneuron, dari
berbagai bagian medulla spinalis lain dan traktus descendens yang panjang dan multipel
dari otak. Seluruh jaras ini berkumpul dan menentukan aktivitas jalur bersama akhir. [1]
3. Berbagai Keadaan Eksitasi dan Inhibisi Sentral
Istilah keadaan eksitasi sentral dan keadaan inhibisi sentral digunakan untuk
menggambarkan keadaan berkepanjangan yang memperlihatkan pengaruh eksitasi
mengalahkan pengaruh inhibisi atau sebaliknya. Bila keadaan eksitasi sentral kuat,
impuls eksitasi tidak saja menyebar ke berbagai daerah somatic medulla spinalis

melainkan juga ke daerah otonom. Pada orang yang mengalami paraplegia kronis,
misalnya, rangsangan noksius yang lemah dapat menimbulkan refleks kencing, defekasi,
berkeringat, dan tekanan darah yang fluktuatif. [1]
1.

Habituasi dan Sensitisasi Respon Refleks


Kenyataan bahwa respon refleks bersifat stereotipik tidak menghilangkan

kemungkinan bahwa respons tersebut dapat berubah melalui pengalaman. [1]

2.1.4 Proses Terjadinya Gerak Refleks


Aktivitas di lengkung reflex dimulai di reseptor sensorik, berupa potensial reseptor
yang besarnya sebanding dengan kuat rangsang. Potensial reseptor membangkitkan
potensial aksi yang bersifat gagal atau tuntas disaraf aferen. Jumlah potensial aksi
sebanding dengan besarnya potensial generator. Di sistem saraf pusat terjadi respons
bertahap berupa potensial pascasinaps eksitatorik dan potensial pasca sianaps
inhibitorik yang kemudian bangkit di saraf tertaut-taut sinaps. Respon yang kemudian
bangkit di saraf eferen adalah respon yang bersifat gagal atau tuntas. Bila potensial aksi
ini mencapai efektor, akan terbangkit lagi respons bertahap. Di efektor yang berupa otot
polos, responnya akan bergabung untuk kemudian mencetuskan potensial aksi di otot
polos. Tetapi bila efektornya berupa otot rangka, respons bertahap tersebut selalu cukup
besar untuk mencetuskan potensial aksi yang mampu menimbulkan kontraksi otot.
Perlu ditekankan bahwa hubungan antara neuron aferen dan eferen biasanya
terdapat di susunan saraf pusat, dan aktivitas di lengkung reflex merupakan aktivitas
yang termodifikasi oleh berbagai rangsangan yang terkumpul (konvergen) di neuron
eferen. [1]

2.2 Macam-macam Gerak Refleks


Gerak refleks terdiri dari 2 macam, yaitu refleks fisiologis dan refleks patologis.
2.2.1

Refleks Fisiologis

1. a.

Refleks Somatik.

Berdasarkan jumlah neuron yang terlibat dibagi menjadi:


1. 1.

Refleks Monosinaptik (refleks renggang)

Lengkung reflex yang paling sederhana, mempunyai sinaps tunggal diantara neuron
aferen dan eferen. Hanya ada satu sinaps yang terjadi antaraneuron sensorik dan neuron
motorik.
Bila otot rangka dengan persyarafan yang utuh direnggangkan, otot ini akan
berkontraksi. Respons seperti ini disebut refleks renggang.

Rangsangan yang

menimbulkan efek regang adalah regangan pada otot, dan responnya adalah kontraksi
otot yang diregangkan tersebut. Alat indranya adalah kumparan otot. Impuls yang
tercetus di kumparan otot dihantarkan ke SSP (Sistem Saraf Pusat) melalui serabut saraf
sensorik penghantar cepat. Impuls kemudian secara langsung akan diteruskan ke
neuron motorik yang mempersarafi otot yang teregang. Neurotransmitter di sinaps
adalah glutamate. Reflex regang merupakan reflex monosinaptik di dalam tubuh yang
paling banyak diketahui dan dipelajari. Contoh klinis:
Refleks Patella (knee jerk)
Ketukan pada tendon patella akan membangkitkan reflex patella, karena ketukan pada
tendon akan meregangkan otot kuadriceps femoris.
Ketika patella diberi ketukan secara refleks kaki akan bergerak ke depan seakan
menendang. Perubahan postur/gerak pada kaki tersebut karena adanya mekanisme
pengatur postur atau gerak pada kaki tersebut.
Perubahan postur atau gerak pada kaki tersebut karena adanya mekanisme pengatur
postur yang terdiri dari rangkaian nukleus dan berbagai struktur seperti medulla
spinalis, batang otak dan korteks serebrum. Sistem ini tidak saja berperan dalam postur
statik tetapi juga bersama sistem kortikospinalis dan kortikobulbaris, berperan dalam
pencetusan dan pengendalian gerakan. Penyesuaian postur dan gerakan volunter tidak
mungkin di pisahkan secara tegas, tetapi dapat di ketahui serangkaian refleks postur
yang tidak saja mempertahankan posisi tubuh tetapi tegak dan seimbang tapi juga
penyesuaian untuk mempertahankan latar belakang postur yang stabil untuk aktivitas
volunter. Penyesuaian ini mencakup 2 refleks yaitu :
1. Refleks tatik : mencakup konstraksi menetap otot
2. Refleks fasik : melibatkan gerakan gerakan sesaat
Keduanya terintegrasi di dalam sistem saraf pusat, dari medulla spinalis sampai korteks
serebrum.
Faktor utama dalam kontrol postur adalah adanya variasi ambang refleks regang spinal,
yang di sebabkan oleh perubahan tingkat keterangsangan neuron motorik dan secara
tidak langsung merubah kecepatan lepas muatan oleh neuron eferen - ke kumparan

otot. Sehingga makin keras ketukan yang di berikan maka refleks regang yang terjadi
semakin kuat dan terjadi gerak sesaat yang lebih tegas (pada refleks patella kaki akan
bergerak menendang lebih keras atau sesuai dengan besar rangsang yang di berikan). [1]