Anda di halaman 1dari 19

M.

K TANAMAN PENGHASIL GETAH DAN MINYAK


MAKALAH
EVALUATION OF COCONUT-CITRUS INTERCROPPING SYSTEMS IN THE
CONTEXT OF LETHAL YELLOWING DISEASE OF COCONUT IN GHANA
Source: Andoh-Mensah, E and GK Ofosu-Budu. 2012. Evaluation of coconut-citrus intercropping systems in the
context of lethal yellowing disease of coconut in Ghana. African Journal of Food, Agriculture, Nutririon, and
Development Volume 12 No.7. Available at http://content.ebscohost.com/ContentServer.asp. [13-04-2016]

Disusun Oleh:
Kelompok 4
Jessica Amanda Claudia

(150510130098)

Bayu Adji Purwoko

(150510130114)

Muhamad Eza Suprapto

(150510130118)

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
JATINANGOR
2016

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Lethal Yellowing Disease (LYD) pada kelapa merupakan ancaman yang paling
penting untuk produksi kelapa di dunia termasuk di sejumlah negara Afrika. Penyakit ini
disebabkan oleh fitoplasma dan endemik di Afrika Timur dan Barat. Di Afrika Timur, LYD
dikenal juga sebagai Lethal Disease (LD) atau penyakit mematikan sebagai lawan Afrika
Barat di mana penyakit ini bernama berbeda sebagai Cape St Paul Wilt di Ghana, Awka layu
di Nigeria, Kribi di Kamerun dan Kaincope di Togo. Di Ghana, penyakit ini telah
menyebabkan wilayah Volta, di mana ia pertama kali diamati pada tahun 1932 kehilangan
statusnya sebagai salah satu dari tiga daerah kelapa yang tumbuh besar di negeri itu. Untuk
dua daerah yang tersisa dalam pertumbuhan kelapa yang besar (Barat dan Tengah), penyakit
ini telah menghancurkan sekitar 5.500 ha lahan pertanian kelapa yang mengarah ke kesulitan
ekonomi untuk ribuan petani yang kehidupannya tergantung pada tanaman.
Penyebaran penyakit ini masih terus berlanjut. gejala yang khas terjadi adalah
jatuhnya biji pra-dewasa, menghitam atau nekrosis pada pembungaan, menguning atau
kecoklatan pada daun dan lebih atas dari mahkota meninggalkan karakteristik 'tiang telegraf'
di trail-nya. Solusi yang paling praktis untuk masalah penyakit terletak pada pengembangan
bahan tanam kelapa tahan atau toleran.
Kelapa Dwarf Yellow Malaya (MYD) disilangkan (x) hibrida Vanuatu Tall (VTT)
diidentifikasi dalam awal resistensi penyaringan kerja untuk memiliki toleransi yang cukup
untuk penyakit dan karakteristik agronomis yang baik. Akibatnya, hibrida direkomendasikan
untuk Pengembangan Sektor Proyek Kelapa Ghana untuk penanaman kembali lahan kelapa
yang hancur oleh LYD. Untuk merangsang upaya penanaman kembali yang lebih besar,
rupanya dibutuhkan pengembangan sistem tumpang sari kelapa yang lebih efisien dengan
melibatkan tanaman pohon lain yang ekonomis yang mampu memberikan jaminan terhadap
kegagalan total tanaman dan hilangnya penghasilan karena MYD x kelapa hibrida VTT
hanya cukup toleran terhadap penyakit lethal yellowing. Jeruk manis (Citrus sinensis L.
Osbeck) diidentifikasi sebagai salah satu tanaman pohon ekonomi tumbuh secara komersial

dan kadang-kadang berdampingan dengan kelapa di sabuk kelapa dari Ghana. Tanaman
pohon lain yang cocok termasuk kakao dan karet.
1.2 Identifikasi Masalah
1. Berapakah jarak optimal untuk penanaman tumpangsari kelapa dengan jeruk.
2. Apakah pengaruh tumpangsari dan monocropping terhadap aspek agronomi dan ekonomi
tanaman jeruk dan kelapa.
3. Berapa persenkah penyakit lethal yellowing yang dapat ditekan melalui sistem
tumpangsari kelapa dengan jeruk.
1.3 Tujuan Penelitian
1. Mengidentifikasi jarak optimal dari kelapa untuk tumpangsari dengan jeruk.
2. Menilai efek dari tumpangsari pada kinerja kelapa dan jeruk.
3. Menganalisis agronomi dan ekonomi dari sistem tumpangsari kelapa dan jeruk.
1.4 Manfaat Penelitian
Memberikan informasi untuk pengembangan sistem tumpangsari yang lebih efisien
dengan melibatkan kelapa dan jeruk.

BAB II
METODOLOGI PENELITIAN

2.1 Waktu dan Tempat Penelitian


Penelitian ini dilakukan pada tahun 2002-2008 di daerah kebun kelapa di Ghana
selatan di tiga lokasi yakni; Agona - Nkwanta; Ayensudo - Enyenase dan Aburansa. curah
hujan tahunan dari lokasi bervariasi dari 1200-1500 mm dan didistribusikan dengan puncak
utama pada bulan Juni-Juli dan puncak minor pada bulan September - Oktober. Tanah di
lokasi (Tabel 1) yang cocok untuk produksi kelapa dan jeruk kecuali bahwa pupuk
diperlukan.
2.2 Alat dan Bahan

Alat tulis

Label

Penggaris

Alat pendukung lainnya

Bibit kelapa hibrida MYD x VTT

Bibit jeruk manis Late Victoria

Pupuk Urea

Muriate kalium

Magnesium sulfat

Triple superfosfat

Bahan pendukung lainnya

2.3 Rancangan Percobaan


Empat sistem tanam yang melibatkan kelapa MYD x VTT hibrida dan jeruk manis
Late Valencia di kasar saham lemon akar secara acak dirancang untuk empat plot yang
berbeda dari ukuran 0,65 acre di masing-masing tiga lokasi untuk mendapatkan rancangan
acak kelompok dengan tiga ulangan.

Software GenStat Discovery (Edisi 3) digunakan untuk analisis statistik. Data didapat
melalui dua cara analisis varians (pada blok acak) agar didapat hasil analisis dari ulangan.
Nilai rata-rata dipisahkan dengan Least Significant Difference (LSD).
Analisis Ekonomi
Analisis ekonomi dari sistem tanam dihitung dengan mengevaluasi pendapatan
bersih, perbandingan biaya upah dan jaminan terhadap penyakit menguning mematikan
(LYD). Keuntungan bersih diperoleh dengan menguranginya dengan biaya input dari hasil
hasil kotor/bruto. Rasio biaya imbalan/upah ditentukan dengan membagi laba kotor dengan
biaya input. Asuransi LYD diperkirakan dengan mengalihkan dari pendapatan jeruk sebagai
persentase penghasilan dari buah Total (jerukdan kelapa).

2.4 Pelaksanaan Percobaan


Sistem Tanam
Ada 4 sistem tanam yang dilakukan untuk pengujian. Sistem tanam adalah sebagai
berikut: 1. Sole coconut (Kelapa ditanam di jarak 8.5 m berbentuk segitiga di 160 pohon ha1) 2. Sole citrus (Jeruk ditanam pada jarak 6 m berbentuk persegi di 277 pohon ha-1) 3.
Tumpang sari kelapa-jeruk I (kelapa yang ditanam di jarak 9.5m segitiga di 128 pohon ha-1
dan di tumpangsari dengan jeruk di 100 pohon ha-1) 4. Tumpangsari kelapa-jeruk II (kelapa
yang ditanam di jarak 10.5m berbentuk segitiga di 105 pohon ha-1 dan tumpangsari dengan
jeruk di 80 pohon ha-1). Jeruk ditanam di titik konvergensi dua garis diagonal terkait dengan
empat pohon kelapa yang berdekatan. Kelapa MYD x hybrid VTT yang ditanam di 9.5m
segitiga tersedia jarak optimal untuk tumpang sari jeruk. Jeruk ditanam di titik konvergensi
dua garis diagonal terkait dengan empat pohon kelapa yang berdekatan.
Tumpangsari Tanaman Pangan
Tumpang sari tanaman pohon dengan tanaman pangan pokok sebelum penutupan
kanopi adalah praktek yang sangat penting oleh petani. Akibatnya, sela yang tersedia antara
kelapa dan jeruk yang seragam tumpangsari dengan ubi kayu, diikuti oleh jagung dan
sayuran dalam tiga tahun pertama persidangan. tanaman pangan yang ditanam 1 m dari baik

kelapa atau jeruk dalam satu tahun dan 1,5 m di tahun kedua dan ketiga untuk meminimalkan
persaingan antara pohon-pohon uji dan tanaman pangan.
Aplikasi Pemupukan
Urea diaplikasikan sebagai sumber N; Muriate kalium sebagai sumber K2O;
Magnesium Sulfat sebagai sumber MgO dan superfosfat tiga sebagai sumber P2O5. Kelapa
diberi 276 g N; 204 g P2O5; 1,440 g K2O dan 240 g MgO per palem di tiga aplikasi
perpecahan tahunan. Untuk pemupukan jeruk, 184 g N; 132 g P2O5 dan K2O 720 g
diterapkan per pohon di tiga perpecahan tahunan.
2.5 Parameter Penelitian
Pertumbuhan kelapa diukur pada interval enam bulan sekali dengan mengukur
ketebalan leher batang/diameter batang dan jumlah daun yang baru muncul. Buah di tandan
daun barisan 14, 19 dan 24 dihitung dan hasil dari rata-rata dikalikan dengan 12 untuk
memperkirakan berat buah kelapa. Pertumbuhan jeruk ditentukan pada interval setiap enam
bulan dengan mengukur tinggi tanaman, ketebalan batang dan lebar kanopi. Tinggi diukur
dari kesatuan tunas sampai pucuk teratas. Ketebalan batang diukur pada 5 cm di atas
kesatuan tunas. Lebar kanopi diukur dari arah Utara-Selatan dan Timur-Barat lalu dihitung
rata-ratanya. Mengikuti prosedur, volume kanopi diperoleh dengan cara sebagai berikut:
Hasil buah per hektar diperkirakan dari jumlah buah per pohon dan rata-rata berat
buah. Land Equivalent Ratio (LER) diestimasi dengan menggunakan prosedur.
Dimana:
Kelapa = hasil tumpangsari tanaman kelapa
Pcitrus = hasil tumpangsari jeruk
Kelapa = hasil monokultur kelapa
Mcitrus = hasil monokultur jeruk

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil Penelitian

3.2 Pembahasan
Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Jeruk
Pertumbuhan jeruk manis Late Valencia diukur dengan laju peningkatan tinggi
tanaman, ketebalan batang, lebar kanopi dan volume kanopi melalui eksponensial,
stabilisasi dan penurunan fase. Peningkatan parameter pertumbuhan sangat signifikan (P
<0,01) antara waktu sampling tetapi antara sistem tanam tidak ada perbedaan yang
signifikan (P> 0,05) kecuali tinggi tanaman (Tabel 2). Tinggi tanaman Late Valencia
terlihat secara signifikan (P <0,05) pada tumpangsari kelapa-citrus II (452,4 cm) yang
lebih tinggi dibandingkan dengan tumpangsari kelapa-citrus I (420,5 cm) pada 54 bulan
setelah tanam.
Sistem tanam tidak memiliki signifikan/perbedaan nyata (P> 0,05) terhadap bobot
buah per pohon tetapi memiliki pengaruh signifikan (P <0,05) terhadap hasil buah per
hektar (Tabel 3). Hasil rata-rata buah jeruk per hektar lebih dari 2 tahun secara signifikan
(P <0,05) lebih besar pada sistem monocropping dibandingkan dengan sistem

tumpangsari. Hasil buah dari Late Valencia pada tumpangsari I kelapa-jeruk tidak
berbeda secara signifikan (P> 0,05) terhadap tumpangsari II kelapa-jeruk (Tabel 4).

Pertumbuhan dan Hasil Kelapa


Seperti jeruk manis Late Valencia, pertumbuhan kelapa hibrida MYD x VT
diukur dengan tingkat pertambahan ketebalan diameter batang melalui eksponensial,
stabilisasi dan penurunan fase. Jumlah daun kumulatif meningkat secara progresif selama
periode penelitian. Peningkatan ketebalan atau diameter batang dan jumlah daun
kumulatif sangat signifikan (P <0,01) antara waktu pengambilan sampel. Sistem tanam
mempengaruhi ketebalan/diameter batang kelapa secara signifikan (P <0,05) tetapi tidak
terhadap jumlah daun kumulatif (Tabel 5). Diameter batang kelapa tumbuh secara
signifikan (P <0,05) lebih besar pada tumpangsari kelapa-jeruk II (93,7 cm) dibandingkan
terhadap tumpangsari kelapa-jeruk I (75,4 cm) setelah 30 bulan di lapangan. Sistem
tanam tidak memiliki pengaruh signifikan (P> 0,05) terhadap buah kelapa per pohon
tetapi memiliki signifikan (P <0,01) terhadap hasil buah per hektar (Tabel 6). Hasil buah
kelapa per hektar dirata-ratakan selama lebih dua tahun secara signifikan (P <0,05) lebih
besar di sistem monocropping kelapa dibandingkan dengan sistem tumpang sari. Hasil
terhadap buah kelapa pada tumpangsari kelapa-jeruk I tidak berbeda secara signifikan
(P> 0,05) dari tumpangsari kelapa-jeruk II (Tabel 7).

Analisis Agronomi dan Ekonomi


Tumpangsari kelapa-jeruk I memiliki Rasio Ekuivalen Lahan (LER) terbaik
dibandingkan dengan LER yang diamati pada Tumpangsari kelapa-jeruk II. Sekitar
kurang dari 7% lahan diperlukan oleh tumpangsari kelapa-jeruk I untuk menghasilkan
kuantitas yang sama untuk hasil kelapa dan jeruk seperti pada hasil dari sistem tanam
monocropping (Tabel 8). Pendapatan bersih yang dihasilkan per hektar tertinggi yaitu
pada kelapa dengan sistem monocropping masing-masing 71,2%, 62,4% dan 16,7% lebih
besar dari jeruk sistem tanam monocropping, pola tumpang sari kelapa-jeruk I dan II.

Secara bersamaan, perbandingan biaya upah tertinggi untuk sistem monocropping kelapa
selanjutnya diikuti tumpangsari kelapa-jeruk I, tumpangsari kelapa-jeruk II dan system
monocropping jeruk. Sementara tumpangsari kelapa jeruk I dan II masing-masing
menikmati 26,1% dan 21,9% untuk pendapatan buah mereka sebagai asuransi terhadap
penyakit menguning mematikan, kelapa tunggal tidak memiliki asuransi (Tabel 9).

3.3 Diskusi
Pertumbuhan dan hasil dari kelapa dan jeruk
Pertumbuhan jeruk dan kelapa dalam sistem tanam mengikuti Pola pertumbuhan
biologis yang normal. Fase eksponensial sesuai dengan tahap awal yaitu ketika
pertumbuhan vegetatif terjadi pada tingkat peningkatan maksimum bahan kering dan
untuk mencapai indeks luas daun optimum. Fase stabilisasi terjadi pada saat indeks luas
daun optimum dan bahan kering maksimum terakumulasi. Fase penurunan terjadi pada
saat inisiasi bunga dimana kekuatan sink struktur bunga lebih besar mengumpulkan
asimilasi relative untuk pertumbuhan vegetatif. Peningkatan progresif dalam jumlah
daun kumulatif kelapa sesuai dengan diketahui dari munculnya 12 daun per tahun di
kelapa, terkecuali apa saja batasan pertumbuhan.
Sehubungan dengan satu-satunya tanaman sistem tumpangsari (tumpangsari
kelapa jeruk I dan II) tidak menghambat pertumbuhan optimum baik kelapa MYD x VTT
hibrida atau jeruk manis Late Valencia. Hal ini mungkin menunjukkan kompatibilitas
kelapa dengan jeruk dan menopang praktek tumpangsari sebagai sistem tanam utama
untuk budidaya kelapa di seluruh dunia. Penataan ruang yang lebih luas dari tumpangsari
kelapa-jeruk II cenderung untuk merangsang ketinggian tanaman jeruk dan lingkar
batang yang lebih besar di kelapa dibandingkan tumpangsari kelapa-jeruk I. Hal ini dapat
dikaitkan dengan populasi tanaman lebih rendah di tumpangsari kelapa-jeruk II yang
mungkin menyebabkan ketersediaan sumber seperti cahaya, air dan nutrisi lebih baik
untuk pertumbuhan. Pertumbuhan jeruk dan kelapa, sistem tumpangsari tidak
mempengaruhi bobot buah jeruk atau bobot kelapa per pohon. Pada basis per hektar
terdapat perbedaan, jeruk atau kelapa menghasilkan dua sistem tanam disebabkan oleh
variasi kepadatan kelapa atau jeruk per hektar.

Efek jangka panjang dari sistem tumpangsari pada hasil kelapa dan jeruk perlu
disusun sejak pada tahap ini (6 tahun setelah tanam) untuk hasil awal. Kemungkinan
pengaruh naungan khususnya pada masa yang akan datang terutama pada tumpangsari
kelapa-jeruk sistem tanam I, sistem tumpangsari memang menjanjikan, tidak dapat
dikesampingkan. Pengaruh naungan, jika ada, bisa menyebabkan beberapa masalah
termasuk pematangan tertunda, mengurangi hasil panen dan kualitas buah jeruk yang
buruk. Akibatnya, penelitian ini perlu terus memonitor naungan (jika ada) pada kualitas
hasil buah.
Analisis Agronomi dan Ekonomi
Sistem tumpangsari kelapa-jeruk I memiliki tanah terbaik setara rasio (LER);
indikasi dari penggunaan lahan yang lebih efisien dan produktivitas yang lebih tinggi di
bawah tumpangsari. Dibutuhkan kurang lebih 7% lahan oleh tumpangsari kelapa-jeruk I
untuk menghasilkan kuantitas yang sama dari hasil kelapa dan jeruk seperti pada sistem
tanam monocropping jika lebih banyak pohon (kelapa / jeruk) bisa ditanam ke satuan luas
lahan dengan sistem tumpangsari maka akan menghasilkan kuantitas yang sama. Terlepas
dari tingginya efisiensi dan produktivitas system tumpangsari kelapa jeruk sistem I,
26,1% dari pendapatan buah digunakan sebagai jaminan terhadap penyakit lethal
yellowing yang bisa menjadi sumber motivasi bagi petani yang skeptis menanam kelapa
hibrida (MYD x VTT). Rasio perbandingan pendapatan dan biaya imbalan tinggi yang
dihasilkan per hektar oleh kelapa sistem monocropping diikuti dengan tumpangsari
kelapa-jeruk I, tumpangsari kelapa-jeruk II dan system monocropping jeruk adalah
karena harga produk pertanian kelapa lebih tinggi (empat kali lipat lebih tinggi dari
jeruk). Perbaikan di masa depan tren pasar jeruk dan kelapa bisa membuat pendapatan
buah dari sistem tumpangsari jauh lebih baik daripada monocropping kelapa.

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Penelitian terdahulu selama enam tahun menunjukkan bahwa kelapa MYD x
hibrida VTT ditanam di 9.5 m segitiga memberikan jarak optimal untuk tumpangsari
jeruk pada titik konvergensi dua garis diagonal terkait dengan empat pohon kelapa yang
berdekatan. Sistem tumpangsari tidak menghambat pertumbuhan optimal dan hasil kelapa
atau jeruk. Ini memungkinkan penggunaan yang lebih efisien dari tanah dan
menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi dengan memasang lebih banyak pohon
(kelapa/jeruk) untuk satuan luas lahan dibandingkan dengan tanam tunggal. Rasio biayamanfaat tumpangsari datang pada penanaman sole coconut. Namun demikian,
tumpangsari memiliki 26% dari pendapatan buah sebagai jaminan terhadap penyakit
lethal yellowing sementara penanaman kelapa tunggal tidak memiliki jaminan.

DAFTAR PUSTAKA

Andoh-Mensah E, Bonneau X, Ollivier J, Nuertey BN and SK Dery Evaluation of crop


management options for replanting of coconut plantations devastated by lethal
yellowing disease in Ghana. Cord, 2005; 21(2): 63-67.
Canham CD, LePage PT and KD Coates A neighborhood analysis of canopy tree competition:
Effect of shading versus crowding. Can. J. For. Res. 2004; 34:778-787.
Dery SK, NCho YP, Sangare A and ED Arkhurst Cape St Paul Wilt Disease: Resistance
screening and prospects for rehabilitating the coconut industry in Ghana. In: Eden
Green SJ and F Ofori (Eds). Proceedings of an international workshop on lethal
yellowing-like disease of coconut, Elmina, Ghana, November1995. Chatman, UK,
1997:147-152.
Dery SK, Philippe R and CH Calvez Report on applied research programme in agronomy and
crop protection to the operator of the project (GREL). Government of the Republic of
Ghana, Ministry of Food and Agriculture, Department of Crop Services, Coconut
Sector Development Project. OPRI, CIRAD, 1999.
Dery SK, Philippe R, Baudouin L, Quaicoe RN, Nkansah-Poku J, Owusu-Nipah J, Arthur R,
Dare D, Yankey N and M Dollet Genetic diversity among coconut varieties for
susceptibility to CSPWD. Euphytica 2008; 164:1- 11.
Osagie IJ and O Asemota Occurrence of Awka wilt disease of coconut in Nigeria. In: Eden Green
SJ and F Ofori (Eds). Proceedings of an international workshop on lethal yellowinglike disease of coconut, Elmina, Ghana, November 1995. Chatman, UK, 1997:33-37.
Harries HC Growing coconut in Africa: resistance to lethal yellowing-like diseases. In: Eden
Green SJ and F Ofori (Eds). Proceedings of an international workshop on lethal
yellowing-like disease of coconut, Elmina, Ghana, November 1995. Chatman, UK,
1997: 139-146.
Liyanage M, Tejwani De SKG and PKR Nair Intercropping under coconuts in Sri Lanka.
Agrofor. Syst. 1985; 2:215-228.
Lonsdale WM and AR Watkinson Light and self-thinning. New Phytologist, 1982; 90:431-435.

Lourenco E The situation of the coconut palm plantation in Mozambique with a focus on the
diseases affecting it. In: Proceedings of an International workshop on lethal yellowing
diseases of coconut, Accra, Ghana, June 2008. Actes de lAtelier, CSIR, FARA,
CIRAD, 2008:58-66.
Mariau D, Dery SK, Sangar A, NCho YP and R Philippe Le Jaunissement mortel du cocotier
au Ghana et tolrance du materriel vgtal. Plantations recherch developpement
1996; 3(2): 105-112.
Magat SS Growing of intercrops in coconut lands to generate more food and agricultural
products, jobs and enhancing farm incomes. Coconut intercropping salient notes/
considerations. Dept. of Agric., Phillippine Coconut Authority, 2004, pp. 7.
Mead R and RW Willey The concept of land equivalent ratio and advantage in yield from
intercropping. Exp. Agric. 1980; 16: 217-228. Best R Production factors in the tropics.
Neth. J. Agric. Sci. 1962; No. 10 (Special Ed): 347-360.
Norman MJK, Pearson CJ and PGE Searle Ecology of tropical food crops. 2nd Ed. Cambridge,
London, 1995.
Obreza TA Program fertilization for establishment of oranges trees. J. Prod. Agric. 1993; 6:546552. 6962 Volume 12 No. 7 December 2012
Ollivier J, Andoh-Mensah E, Arthur R and SK Dery Farmers strategies and replanting
performance in the context of coconut lethal yellowing disease along the coastal region
in Ghana. Cord 2006; 22(1):66-75.
Santos GA, Batugal PA, Othman A, Baudouin L and JP Laboisse Manual on standardized
research techniques in coconut breeding. IPGRI-APO, Serdang, Malaysia. 1996.
Smart RE The influence of light on the composition and quality of grapes. Acta Hort. 1987;
206:37-47.