Anda di halaman 1dari 20

MODUL PRAKTIKUM

TEKNOLOGI PENGOLAHAN LIMBAH

Dosen Pengampu :
Angga Dheta Shirajjudin A., S. Si, M. Si.

Penyusun :
Tim Asisten Praktikum Teknologi Pengolahan Limbah

LABORATORIUM TEKNIK SUMBERDAYA ALAM DAN LINGKUNGAN


PROGRAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN
JURUSAN KETEKNIKAN PERTANIAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PETANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2016
Praktikum TPL 2016 | 1

MATERI I
PERANCANGAN REKAYASA UNIT PENGOLAHAN LIMBAH CAIR DAN
ANALISA KUALITAS LIMBAH CAIR HASIL PENGOLAHAN
I.

LATAR BELAKANG
Limbah cair adalah sisa hasil buangan proses produksi atau aktivitas domestik
yang berupa cairan. Limbah cair dapat berupa air beserta bahan-bahan buangan lain
yang tercampur (tersuspensi) maupun terlarut dalam air). Limbah cair yang tidak
ditangani atau diolah dengan baik dapat menimbulkan dampak yang besar bagi
pencemaran lingkungan serta dapat menjadi sumber penyakit bagi masyarakat.
Limbah cair pada dasarnya apat diolah menjadi limbah yang tidak membahayakan
bagi lingkungan. Metode pengolahan limbah cair dibedakan menjadi tiga metode,
yaitu pengolahan secara fisika, kimia dan pengolahan secara biologi.
Limbah cair yang telah diolah pada unit IPAL harus dianalisa kualitas fisik,
kimia, maupun biologisnya untuk mengetahui efisiensi dan efektifitas unit IPAL yang
digunakan. Pengujian kualitas limbah cair ini juga bertujuan untuk memastikan limbah
yang dialirkan ke badan air sudah aman dan sesuai dengan baku mutu yang berlaku.
Selain itu, pengujian kualitas limbah cair ini dapat dijadikan bahan evaluasi untuk
memperbaiki unit IPAL yang ada.

II.

TUJUAN PRAKTIKUM
1. Merancang dan merekayasa unit pengolahan limbah cair
2. Mengetahui desain rancangan rekayasa unit pengolahan limbah cair
3. Mengetahui metode setiap unit pengolahan limbah cair
4. Menganalisa kualitas limbah cair sbelum dan sesudah pengolahan
5. Mampu menggunakan alat pengukuran kualitas limbah cair
6. Menganalisa efektifitas unit pengolahan berdasarkan lama pengolahan
(detention time)
7. Membandingkan kesesuaian kualitas limbah cair hasil pengolahan dengan baku
mutu yang berlaku

III.

TINJAUAN PUSTAKA
1. Limbah Cair
Limbah adalah buangan yang kehadirannya pada suatu saat dan tempat
tertentu tidak dikehendaki karena tidak memiliki nilai ekonomi. Tingkat
bahaya keracunan yang disebabkan oleh limbah tergantung pada jenis dan
karakteristik limbah, baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang.
Limbah yang mengandung bahan pencemar akan mengubah kualitas
lingkungan, bila lingkungan tersebut tidak mampu memulihkan kondisinya
sesuai dengan daya dukung yang ada padanya. Oleh karena itu sangat perlu
diketahui sifat limbah dan komponen bahan pencemar yang terkandung di
dalam limbah tersebut (Ritonga, 2008).
Limbah cair adalah gabungan atau campuran dari air dan bahan
pencemar yang terbawa oleh air, baik dalam keadaan terlarut maupun
tersuspensi, yang terbuang dari sumber domestik (perkantoran, perumahan,
dan perdagangan), dan sumber industri. Sumber air limbah dibedakan menjadi
tiga yaitu air limbah rumah tangga, kota praja, dan industri. Diantara tiga
sumber limbah tersebut, limbah industry merupakan limbah yang memiliki
potensi terbesar yang mengakibatkan pencemaran dan kerusakan lingkungan.
Praktikum TPL 2016 | 2

Oleh sebab itu limbah industri yang akan dibuang ke lingkungan haruslah
diolah terlebih dahulu (Ritonga, 2008).
.
2. Metode Pengolahan Limbah Cair
Teknik pengolahan air buangan yang telah dikembangkan secara umum
dapat dibagi menjadi tiga metode pengolahan, yaitu pengolahan secara
fisika,pengolahan secara kimia, dan pengolahan secara biologi (Suharto, 2010):
Pengolahan secara Fisika
Pada umumnya, sebelum dilakukan pengolahan lanjutan terhadap air
buangan, diinginkan agar bahan-bahan tersuspensi berukuran besar dan
yang mudah mengendap atau bahan-bahan yang terapung disisihkan
terlebih dahulu. Penyaringan (screening) merupakan cara yang efisien
dan murah untuk menyisihkan bahan tersuspensi yang berukuran besar.
Bahan tersuspensi yang mudah mengendap dapat disisihkan secara
mudah dengan proses pengendapan. Parameter desain yang utama untuk
proses pengendapan ini adalah kecepatan mengendap partikel dan waktu
detensi hidrolis di dalam bak pengendap.
Proses flotasi banyak digunakan untuk menyisihkan bahan-bahan yang
mengapung seperti minyak dan lemak agar tidak mengganggu proses
pengolahan berikutnya. Flotasi juga dapat digunakan sebagai cara
penyisihan bahan-bahan tersuspensi (clarification) atau pemekatan
lumpur endapan (sludge thickening) dengan memberikan aliran udara ke
atas (air flotation).
Proses filtrasi di dalam pengolahan air buangan, biasanya dilakukan
untuk mendahului proses adsorbsi atau proses reverse osmosis-nya, akan
dilaksanakan untuk menyisihkan sebanyak mungkin partikel tersuspensi
dari dalam air agar tidak mengganggu proses adsorbsi atau menyumbat
membran yang dipergunakan dalam proses osmosa. (Kemenhut, 2014)
Proses adsorbsi, biasanya dengan karbon aktif, dilakukan untuk
menyisihkan senyawa aromatik (misalnya: fenol) dan senyawa organik
terlarut lainnya, terutama jika diinginkan untuk menggunakan kembali air
buangan tersebut.
Teknologi membran (reverse osmosis) biasanya diaplikasikan untuk
unit-unit pengolahan kecil, terutama jika pengolahan ditujukan untuk
menggunakan kembali air yang diolah. Biaya instalasi dan operasinya
sangat mahal.
Pengolahan limbah cair secara fisika pada dasarnya yaitu pemisahan
antara cairan dan padatan dimana proses pemisahannya dapat dilakukan
dengan beberapa cara antara lain penapisan, presipitasi, flotasi, filttrasi,
dan konfigurasi. Presipitasi ada dua jenis yaitu pemekatan dan klarifier
dimana klarifier ada beberapa tipe yaitu konvensional, resirkulasi
berlumpur, selimut lumpur, pallet selimut limpur.
Filtrasi ada beberapa jenis seperti filtrasi lambat dan cepat, filter
membran dan downwaterring. Pemisahan cairan dan padatan dengan cara
configurasi ada dua jenis yaitu persipitasi sentrifugasi dan dehidrasi
sentrifuasi.

Praktikum TPL 2016 | 3

Pengolahan Secara Biologi


Semua air buangan yang biodegradable dapat diolah secara biologi.
Sebagai pengolahan sekunder, pengolahan secara biologi dipandang
sebagai pengolahan yang paling murah dan efisien. Pada dasarnya,
reaktor pengolahan secara biologi dapat dibedakan atas dua jenis, yaitu:
1. Reaktor pertumbuhan tersuspensi (suspended growth reaktor).
2. Reaktor pertumbuhan lekat (attached growth reaktor).
Dalam sebuah reaktor pertumbuhan tersuspensi, mikroorganisme
tumbuh dan berkembang dalam keadaan tersuspensi. Proses lumpur aktif
yang banyak dikenal berlangsung dalam reaktor jenis ini. Proses lumpur
aktif terus berkembang dengan berbagai modifikasinya, antara lain:
oxidation ditch dan kontak-stabilisasi. Dibandingkan dengan proses
lumpur aktif konvensional, oxidation ditch mempunyai beberapa
kelebihan, yaitu efisiensi penurunan BOD dapat mencapai 85%-90%
(dibandingkan 80%-85%) dan lumpur yang dihasilkan lebih sedikit.
Selain efisiensi yang lebih tinggi (90%-95%), kontak stabilisasi
mempunyai kelebihan yang lain, yaitu waktu detensi hidrolis total lebih
pendek (4-6 jam). Proses kontak-stabilisasi dapat pula menyisihkan
BOD tersuspensi melalui proses absorbsi di dalam tangki kontak
sehingga tidak diperlukan penyisihan BOD tersuspensi dengan
pengolahan pendahuluan.
Di dalam reaktor pertumbuhan lekat, mikroorganisme tumbuh di atas
media pendukung dengan membentuk lapisan film untuk melekatkan
dirinya. Berbagai modifikasi telah banyak dikembangkan selama ini,
antara lain trickling filter, cakram biologi, filter terendam, reaktor
fludisasi.
Ditinjau dari segi lingkungan dimana berlangsung proses penguraian
secara biologi, proses ini dapat dibedakan menjadi dua jenis:
1. Proses aerob, yang berlangsung dengan hadirnya oksigen;Proses
aerob dapat dilakukan dengan memanfaatkan lumpur akfif, lumpur
aktif memilik beberapa metode yaitu metode standar, aerasi, bebas
bulki, saluran oksidasi dan proses nitrifikasi dan denitrifikasi.
2. Proses anaerob, yang berlangsung tanpa adanya oksigen. Proses
anaerob ada dua jenis yaitu pencerna anaerob dan proses UASB
Pengolahan Secara Kimia
Pengolahan air buangan secara kimia biasanya dilakukan untuk
menghilangkan partikel- partikel yang tidak mudah mengendap (koloid),
logam-logam berat, senyawa fosfor, dan zat organik beracun; dengan
membubuhkan bahan kimia tertentu yang diperlukan. Penyisihan bahanbahan tersebut pada prinsipnya berlangsung melalui perubahan sifat
bahan-bahan tersebut, yaitu dari tak dapat diendapkan menjadi mudah
diendapkan (flokulasi-koagulasi), baik dengan atau tanpa reaksi oksidasireduksi, dan juga berlangsung sebagai hasil reaksi oksidasi.
Pengendapan bahan tersuspensi yang tak mudah larut dilakukan
dengan membubuhkan elektrolit yang mempunyai muatan yang
berlawanan dengan muatan koloidnya agar terjadi netralisasi muatan
koloid tersebut, sehingga akhirnya dapat diendapkan. Penyisihan bahanbahan organik beracun seperti fenol dan sianida pada konsentrasi rendah
Praktikum TPL 2016 | 4

dapat dilakukan dengan mengoksidasinya dengan klor (Cl2), kalsium


permanganat, aerasi, ozon hidrogen peroksida.
Pengolahan limbah cair secara kimia biasa dilakukan dengan
beberapa cara seperti netralisasi, koagulasi dan flokulasi, oksidasi dan
atau reduksi, adsorbsi dan penukar ion. Pada proses oksidasi reduksi
kegiatan yang dilakukan adalah oksidasi/ reduksi kimia. Aerasi,
elektrolisis, ozonsiasi dan UV. Pada proses adsorbsi ada dua jenis bahan
yang sering digunakan yaitu karbon aktif dan alumina aktif. Pada
penukaran ion bahan-bahan yang sering digunakan adalah resin penukar
kation, resin penukar anion dan zeolit.
3. Standar Baku Mutu
Baku mutu air limbah adalah ukuran batas atau kadar unsur pencemar
dan/atau jumlah unsur pencemar yang ditenggang keberadaannya dalam air
limbah yang akan dibuang atau dilepas kedalam media air dari suatu usaha
dan/ataukegiatan. Standar baku mutu air limbah domestik ada pada Tabel 1.1.

Tabel 1.1 Baku Mutu Limbah Domestik


Sumber: PermenLH No. 5 Tahun 2014 Tentang Baku Mutu Air Limbah
4. Kekeruhan
Kekeruhan menggambarkan sifat optik air yang ditentukan berdasarkan
banyaknya cahaya yang diserap dan dipancarkan oleh bahan-bahan yang
terdapat didalam air. Kekeruhan disebabkan oleh adanya bahan organic dan
anorganik yang tersupsensi dan terlarut (misalnya lumpur dan pasir halus),
maupun bahan organic dan anorganik berupa plankton dan mikroorganisme
lain (APHA, 1967; Davis dan Cornwell, 1991). Faktor yang mempengaruhi
kekeruhan antara lain :
a. Benda halus yang tersuspensi
b. Jasad-jasad renik (plankton)
c. Warna air (antara lain ditimbulkan oleh zat-zat koloid berasal dari
tumbuhan yang terekstrak)
Satuan kekeruhan yang diukur dengan metode Nephelometric adalah
NTU (Nephelometric Turbidity Unit), pengukuran yang dilakukan dengan cara
sumber cahaya dilewatkan pada sampel dan intensitas cahaya yang dipantulkan
oleh bahan-bahan penyebab kekeruhan diukur dengan menggunkan suspensi
polimer formazin sebagai larutan standart (Sawyer dan McCarty, 1978).
5. Suhu
Pengukuran suhu menggunakan thermometer merupakan metode untuk
mengetahui perubahan suhu dan rata-rata suhu berguna untuk
menganalisiskualitas air, yang mana dalam pengujian kualitas air, pengukuran
suhu sangat penting untuk mengetahui temperature dari air dimana kenaikan
temperature dapat menyebabkan penurunan kadar oksigen terlarut dan kadar
Praktikum TPL 2016 | 5

oksigen terlarut yang terlalu rendah akan menimbulkan bau yang tidak sedap
akibat degradasi anaerobik (Hamid, 2007).
6. pH
pH adalah ukuran keasaman atau kebasaan suatu larutan. Secara khusus
pH adalah ukuran + ion hydronium H3O, hal ini didasarakan pada skala
logaritmik dari 0 sampai 14, air murni memiliki pH 7,0 jika kurang dari 7,0 air
tersebut bersifat asam dan jika lebih dari 7,0 air bersifat basa/alkalis (Kuto
herwibowo, 2014).
7. TSS (Total Suspended Solid)
Menurut (Utoyo, 2005), Total Suspended Solid adalah residu dari
padatan total yang tertahan oleh saringan dengan ukuran partikel maksimal 2
m atau lebih besar dari ukuran partikel koloid. Pengukuran TSS digunakan
untuk mengetahui zat-zat padatan organic dan anorganik pada air, dimana
tahap sangat penting dalam pengujian kualitas air dalam mengetahui endapan
pada air. Metode pengukura TSS merupakan metode gravimetric atau
penyaringan, yaitu menyaring endapan yang didapat dari partikel-partikel
koloid dengan menggunkan kerta saring. Untuk memperoleh estimasi TSS,
dihitung perbedaan antara padatan terlarut total dan padatan total.
TSS (mg/L) = (A-B) X 100/ V
Keterangan
A = berat kertas saring + residu kering (mg)
B = berat kertas saring (mg)
V = volume (mL)
IV.

ALAT DAN BAHAN


4.1 Perancangan Rekayasa Unit Pengolahan Limbah Cair
Bak Prototipe
Penyangga
Pompa
Selang
Air Limbah
Air Bersih
Bantalan
Kain Saring
Aerator dan Batu Aerator
Kabel Roll
Gelas ukur
Batu Apung
Karbon Aktif
Pasir
Tawas
Enceng Gondok
4.2 Analisa Kualitas Limbah Cair Hasil Pengolahan
Air Limbah
Galas Ukur
Suhu
- Termometer
Praktikum TPL 2016 | 6

V.

pH
- Ph Universal
Turbidity
- Turbiditimeter
- Tisu
TSS
- Oven
- Kertas Saring Whatman
- Cawan Porselen
- Timbangan
- Tisu
- Penjepit Kayu
CARA KERJA
5.1 Perancangan Rekayasa Unit Pengolahan Limbah Cair
Pengambilan sampel
1. Siapkan alat dan bahan
2. Pasang dirigen pada mulut keluaran saluran mck dengan penutup dirigen
telah di buka
3. Isi sampel ke dalam dirigen hingga penuh
Pengenceran
1. Siapkan alat dan bahan
2. Ambil air limbah sebanyak 2 liter
3. Ambil air bersih 1 liter
4. Dicampur dan diaduk air bersih dengan air limbah
Penyusunan Bak
1. Siapkan Alat dan bahan
2. Susun bak sesuai dengan teknik yang ditentukan (Kimia, Fisika, Biologi)
3. Pasang bantalan pada masing-masing bak
4. Masukkan sampel limbah ke dalam bak prototipe
5. Hasil
5.2 Analisa Kualitas Limbah Cair Hasil Pengolahan
Suhu
1. Alat dan bahan disiapkan
2. Air limbah diambil dengan gelas ukur
3. Termometer dimasukkan ke dalam gelas ukur untuk mengukur suhu
4. Suhu termometer diamati
5. Ulangi perlakuan sebanyak tiga kali
pH
1. Alat dan bahan disiapkan
2. Air limbah diambil dengan gelas ukur
3. Kertas pH universal diambil dan dicelupkan dalam air limbah
4. pH diamati dengan membandingkan warna pada kertas indikator
Turbidity
1. Alat dan bahan disiapkan
2. Tekan tombol on/off dan mode secara bersamaan
3. Lepas tombol on/off terlebih dahulu, kemudan lepas tombol mode
4. Tekan tombol tanda seru hingga tanda panah pada layar mengarah ke
tanda cal
5. Tekan mode
6. Masukkan larutan standar 0,1
7. Tekan tombol read
Praktikum TPL 2016 | 7

8. Tunggu 1 menit hingga muncul nilai 20


9. Masukkan larutan standar 20
10. Tekan tombol read
11. Tunggu 1 menit
12. Ulangi tahap 9-11 dengan larutan standar 200;800
13. Masukkan sampel pada turbiditymeter hingga tanda batas
14. Tekan tombol read
15. Ualngi perlakuan dalam 3 kali pengulangan
TSS
1. Alat dan bahan disiapkan
2. Oven kertas saring
3. Masukkan ke dalam desicator selama 15-30 menit
4. Ukur berat awal
5. Ambil sampel sebanyak 100 ml
6. Masukkan kertas saring ke corong yang telah tertata di erlenmeyer
7. Sampel disaring dengan kertas saring
8. Kertas saring berisi sampel diletakkan di cawan
9. Cawan dioven selama 45 menit
10. Keluarkan cawan dan masukkan kedalam desicator selama 15 menit
11. Kertas saring mengandung residu ditimbang
DAFTAR PUSTAKA
APHA-AWWA-WPCF. 1976. Standard Methods for The Examination of Water and
Wastewater 15th Edition. Washington: American Public Health Association
Davis, M.L dan Cornwell, D.A. 1991. Introduction to Enviromental Engineering Second
Editions. Mc-Graw-Hill,Inc. New York. 822p
Hamid, hamrad & Pram diyanto, Bambang. 2007. Pengawasan Industri Pangan dalam
Pencemaran Lingkungan. Jakarta : Granit
Kuto herwibowo. 2014. Penggunaan Limbah Industri Pengairan. Yogyakarta : Kanisius
Pemerintah RI. 2001. Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 Tanggal 14 Desember
2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air Dan Pengendalian Pencemaran Air. Republik
Indonesia
Ritonga ,Halimmatussadiyah. 2008. Penentuan Kadar Nitrogen Total Dalam Air Atau
Limbah Cair Secara Spektrofotometri Ultraviolet Visible. Fakultas Farmasi.
Universitas Sumatera Utara
Sawyer, C. N., and McCarty, P. L. 1978. Chemistry for Environmental Engineering, Edisi ke3. Tokyo : McGraw-Hill Kogakusha
Suharto. 2010. Limbah Kimia Dalam Pencemaran Air danUdara. Andi. Yogyakarta
Utoyo, Bambang. 2006. Kajian Keragaan Dan Pemanfaatan Lingkungan Perikanan
Budidaya. Yogyakarta: Kanisius

Praktikum TPL 2016 | 8

MATERI II
PEMBUATAN BRIKET BIOMASSA DENGAN DAN TANPA PIROLISIS
1. LATAR BELAKANG
Dengan berkembangnya pembangunan secara pesat pada segala bidang dan
meningkatnya jumlah penduduk di bumi, mengakibatkan pula meningkatnya
kebutuhan akan energi . Energi yang digunakan sebagian masyarakat Indonesia
berasal dari bahan bakar minyak, batubara, dan gas yang pada umumnya
menghasilkan emisi gas buang. Penggunaan energi yang semakin meningkat akan
mempercepat habisnya cadangan minyak, batubara, dan gas sehingga akan
berpengaruh pada kenaikan harga bahan bakar minyak, batubara, dan gas yang tidak
dapat diprediksi. Hal ini mendorong manusia untuk mencari sumber energi alternatif
yang ramah lingkungan dan mudah untuk diolah, salah satunya adalah biomassa.
Biomassa sendiri merujuk pada bahan hidup atau baru mati yang dapat digunakan
sebagai bahan bakar.
Di Indonesia sendiri, merupakan salah satu negara dengan tingkat biodiversitas
(keanekaragaman hayati) yang tinggi. Hal ini menunjukkan tingginya
keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Di
bidang agrikultur, Indonesia juga terkenal atas kekayaan tanaman perkebunannya,
seperti biji coklat, teh, kopi, karet, kelapa sawit, cengkeh, dan bahkan kayu yang
banyak diantaranya menempati urutan atas dari segi produksinya di dunia. Sumber
daya alam di Indonesia tidak terbatas pada kekayaan hayatinya saja. Berbagai daerah
di Indonesia juga dikenal sebagai penghasil berbagai jenis bahan tambang.
Bahan bakar minyak merupakan sumber energi utama yang dipergunakan
dalam kehidupan sehari- hari. Dimana sifat bahan bakar minyak yang tidak terbarukan
membuat manusia semakin khawatir karena jumlahnya semakin berkurang. Jika hal ini
terjadi secara terus- menerus akan menyebabkan krisis sumber energi yang
berkepanjangan. Melihat situasi tersebut, perlu dipikirkan suatu sumber energi
alternatif yang lebih murah dan mudah diperoleh. Oleh karena itu berbagai usaha
diversifikasi sumber energi telah banyak dilakukan dan salah satu diantaranya adalah
pemanfaatan limbah pertanian, perkebunan dan kehutanan. Dimana penghasil limbah
terbanyak berasal dari bidang pertanian. Beberapa jenis limbah seperti limbah
pertanian dan limbah industri yang dimanfaatkan dengan pengolahan lebih lanjut
menjadi produk yang mempunyai nilai ekonomi seperti arang aktif, briket arang, serat
karbon dan arang kompos.
2. TUJUAN
a. Mahasiswa mampu memahami prinsip kerja dari proses pembuatan briket dengan
dan tanpa pirolisis.
b. Mahasiswa mampu mengetahui perbandingan hasil daya bakar antar kedua hasil
briket.
c. Mahasiswa mampu mengetahui manfaat dan kegunaan proses pirolisis dalam
proses pembuatan briket.
d. Mahasiswa mampu mengolah biomassa menjadi briket sebagai energi alternatif.
3. TINJAUAN PUSTAKA
3.1 Pirolisis
Praktikum TPL 2016 | 9

Pirolisis dapat didefinisikan sebagai dekomposisi thermal material organik


pada suasana inert (tanpa kehadiran oksigen) yang akan menyebabkan
terbentuknya senyawa volatil. Pirolisis pada umumnya diawali pada suhu 200 oC
dan bertahan pada suhu sekitar 450 500C (Sheth and Babu, 2006). Menurut
Horne dan Williams (1994), pirolisis didefinisikan sebagai dekomposisi thermal
pada biomassa dengan tidak melibatkan oksigen selama proses pemanasan
berlangsung hingga menghasilkan padatan (bio-char), cair (bio-oil) dan produk
gas.
Pirolisis adalah proses dekomposisi kimia dengan meggunakan pemanasan
tanpa adanya oksigen. Proses ini atau disebut juga proses karbonasi atau yaitu
proses untuk memperoleh karbon atau arang, disebut juga High Temperature
carbonization pada suhu 4500 C-5000C. Dalam proses pirolisis dihasilkan gasgas, seperti CO, CO2, CH4, H2, dan hidrokarbon ringan. Jenis gas yang dihasilkan
bermacam-macam tergantung dari bahan baku. Salah satu contoh pada pirolisis
dengan bahan baku batubara menghasilkan gas seperti CO, CO2, NOx, dan SOx.
Yang dalam jumlah besar, gas-gas tersebut dapat mencemari lingkungan dan
membahayakan kesehatan manusia baik secara langsung maupun tidak langsung.
Proses pirolisis dipengaruhi faktor-faktor antara lain: ukuran dan distribusi
partikel, suhu, ketinggian tumpukan bahan dan kadar air.
3.2 Biomassa dan Bahan Bakar
Biomassa adalah bahan organik yang dihasilkan melalui proses fotosintesis,
baik berupa produk maupun buangan. Contoh biomassa antara lain tanaman,
pepohonan, rumput, ubi, limbah pertanian dan limbah hutan, tinja dan kotoran
ternak. Biomasa adalah semua bahan organik dari tumbuhan tersebut, mulai dari
akar, batang, cabang, bunga, buah, biji dan daun. Biomasa yang berupa kayu
merupakan sumber energi yang telah dimanfaatkan oleh manusia sejak ribuan
tahun yang lalu, dan masih terus dimanfaatkan hingga sekarang, khususnya di
daerah pedesaan pada negara yang sedang berkembang.
Bahan bakar adalah suatu materi apapun yang bisa diubah menjadi energi.
Biasanya bahan bakar mengandung energi panas yang dapat dilepaskan dan
dimanipulasi. Kebanyakan bahan bakar digunakan manusia melalui proses
pembakaran (reaksi redoks) dimana bahan bakar tersebut akan melepaskan panas
setelah direaksikan dengan oksigen di udara.
3.3 Briket
Briket adalah sebuah blok bahan yang dapat dibakar yang digunakan sebagai
bahan bakar untuk memulai dan mempertahankan nyala api. Briket merupakan
bahan bakar alternatif yang terbuat dari sampah organik yang memiliki nilai kalor
bervariasi tergantung bahan baku yang digunakan. Briket yang paling umum
digunakan adalah briket batu bara, briket arang, briket gambut, dan
briket biomassa. Berdasarkan penelitian tugas akhir sebelumnya bahwa briket
dengan bahan baku sampah organik daun dan ranting dapat menghasilkan nilai
kalor sebesar 4184,78 kal/gr dengan komposisi perbandingan daun dan ranting 2:3
(Widarti, 2010).
Beberapa jenis limbah seperti limbah pertanian dan limbah industri yang
dimanfaatkan dengan pengolahan lebih lanjut menjadi produk yang mempunyai
nilai ekonomi seperti arang aktif, briket arang, serat karbon dan arang kompos.
Briket adalah bahan bakar padat yang dapat digunakan sebagai sumber energi
alternatif yang mempunyai bentuk tertentu.
Pemilihan proses pembriketan tentunya harus mengacu pada segmen pasar
agar di capai nilai ekonomi, teknis dan lingkungan yang optimal. Pembriketan
bertujuan untuk memperoleh suatu bahan bakar berkualitas yang dapat digunakan
untuk semua sektor sebagai sumber energi pengganti (Himawanto, 2003).
Praktikum TPL 2016 | 10

3.4 Limbah Serbuk Kayu dan Limbah Teh


Limbah serbuk kayu adalah sisa hasil pengolahan industri kayu yang berupa
serbuk- serbuk hasil penggergajian kayu yang memiliki potensi yang cukup besar
yang dapat digunakan sebagai bahan baku briket arang. Serbuk kayu yang selama
ini menjadi limbah bagi perusahan dan masyarakat dapat dijadikan menjadi sebuah
peluang usaha dan peluang bisnis.
Limbah padat dari industri teh berasal dari ampas teh yang merupakan sisa dari
tiap tahapan proses produksi. Limbah padat industri teh ternyata dapat
dimanfaatkan untuk berbagai keperluan antara lain menjadi bahan baku pembuatan
papan partikel, pupuk organik, briket dan lain- lain. Pengolahan limbah ampas teh
menjadi bahan bakar alternatif berupa biobriket yaitu dengan membakar ampas teh
kering secara pirolisis (dengan sedikit udara) untuk dijadikan arang yang
kemudian dicetak menjadi briket (Putro, 2011).
4. ALAT DAN BAHAN
Dandang/ drum + tutup atau reaktor pirolisis
Kompor, LPG, korek
Panci, pengaduk dan tepung kanji
Baskom
Sendok
Cetakan (pipa pvc)
Glasswool
Kaleng
Jerami/sekam/daun kering
Seng + kawat
Tanah liat
Serbuk gergaji kayu/ limbah teh/ sisa sayur (biomassa)
Sarung tangan dan masker
5. CARA KERJA
5.1 Pembuatan Reaktor Pirolisis Briket
1) Dandang (drum) dilubangi pada bagian tengah bawah dengan diameter 10-20
cm.
2) Tanah liat disusun mengelilingi lubang dandang dengan ketinggian disesuaikan
kedalaman dandang.
3) Glasswool dipasang mengelilingi dandang bagian luar kemudian dilapisi seng
dan kawat.
4) Dandang sebagai reaktor pirolisis briket siap digunakan.

5.2 Pembuatan Briket Arang


1) Penyiapan bahan baku
Bahan baku merupakan sampah atau limbah organik, seperti daun-daun kering,
sisa gergaji kayu, tempurung kelapa, ampas tebu, limbah the dsb yang sudah
dibersihkan. Usahakan bahan sudah kering agar mempercepat proses
karbonisasi dan hasil karbonisasi lebih homogen.
2) Karbonisasi (pengarangan)
Praktikum TPL 2016 | 11

Bahan-bahan baku dimasukkan ke dalam drum/ kaleng bekas atau wadah dan
tutup rapat untuk mengurangi oksidasi lalu dimasukkan ke dalam reaktor
pirolisis briket. Kemudian, dipanaskan kurang lebih 1-3 jam tergantung jumlah
bahan yang. Arang harus cukup halus untuk dapat membuat briket yang baik.
Ukuran partikel arang yang terlalu besar akan sukar pada waktu dilakukan
perekatan. Dalam penggunaan ukuran serbuk arang diperoleh kecenderungan
bahwa makin kecil ukuran serbuk makin tinggi pula kerapatan dan keteguhan
tekan briket arang.
3) Pencampuran dengan bahan pelekat
Ada beberapa perekat yang bisa digunakan, seperti aci (tepung tapioka), tanah
liat, getah karet, getah pinus, dan lem kayu. Yang paling murah dan mudah
adalah lem aci namun dapat menimbulkan jamur pada penyimpanan yang
lama. Untuk pembuatan lem aci sendiri adalah dengan mencampurkan tepung
tapioka (kanji) dengan air mendidih dan diaduk-aduk. Setelah dingin, lem aci
dicampurkan dengan bahan arang dengan perbandingan 600 cc lem aci untuk 1
kg arang. Campuran tersebut diaduk-aduk hingga merata. Catatan : lem aci
tidak boleh terlalu encer atau terlalu pekat karena akan mempengaruhi sifat
mekanik briket.

4)

5)

6)

7)

Tujuan pencampuran serbuk arang dengan perekat adalah untuk memberikan


lapisan tipis dari perekat pada permukaan partikel arang. Tahap ini merupakan
tahap penting dan menentukan mutu arang briket yang dihasilkan. Campuran
yang dibuat tergantung pada ukuran serbuk arang, macam perekat, jumlah
perekat, dan tekanan pengempaan yang dilakukan. Proses perekatan yang baik
ditentukan oleh hasil pencampuran bahan perekat yang dipengaruhi oleh
bekerjanya alat pengaduk (mixer), komposisi bahan perekat yang tepat dan
ukuran pencampurannya.
Pencetakan adonan
Adonan antara arang dengan bahan perekat dimasukkan di dalam cetakan
dengan ditekan-tekan agar padat dan tidak mudah pecah atau hancur. Cetakan
bisa terbuat dari kayu, logam, atau PVC yang mempunyai lubang di atas dan di
bawah agar mempermudah pengeluaran briket.
Pengeringan briket
Briket yang sudah dicetak dikeringkan di bawah sinar matahari selama 2-3 hari
atau di dalam oven selama 4-6 jam sampai benar-benar kering, selama
pengeringan, briket dibolak-balik agar pengeringan merata.
Pelapisan dengan bahan nyala
Ada beberapa jenis bahan penyala, antara lain adalah lilin cair, getah pinus,
spirtus, oli bekas, minyak sawit, dan minyak jarak. Bahan penyala bisa
disemprotkan di sekeliling permukaan briket atau briket bisa dicelupkan di
dalam bahan penyala. Khusus untuk lilin cair dan getah pinus bisa
dicampurkan bersama-sama dengan arang dan lem lalu dicetak.
Uji nyala
Uji nyala digunakan untuk mengetahui kemampuan briket arang sebagai bahan
bakar. Idealnya 200 gram briket bisa mendidihkan 2 liter air dalam waktu 45
menit.

Praktikum TPL 2016 | 12

DAFTAR PUSTAKA
Himawanto, D. A. 2003. Pengelolaan Limbah Pertanian Menjadi Biobriket Sebagai Salah
Satu Bahan Bakar Alternatif . Laporan Penelitian. Surakarta: UNS.
P.A. Horne, P.T Williams. 1994. Premium Quality Fuels and Chemical from The
Fluidized Bed Pyrolysis of Biomass with Zeolite Catalyst Upgrading. Renewable
Energy 5(2): 810-812.
Putro, W.D. 2011. Karakteristik Biobriket Ampas Teh Pada Berbagai Tingkat Kepadatan
Dan Komposisi Campuran Dengan Sekam Padi. Semarang: Teknik Mesin, Politeknik
Negeri Semarang.
Sheth, P.N. and Babu, B.V. 2006. Kinetic Modelling of the Pyrolysis of Biomass.
Proceedings of National Conference on Environmental Conservation, 453-458.
Widarti, Enik Sri.2010. Studi Eksperimental Karakteristik Biket Organik dengan Bahan Baku
dari PPLH Seloliman. Tugas Akhir. Surabaya: Teknik Fisika FTI-ITS.

LAMPIRAN

Gambar 2.1 Briket Arang

Gambar 2.2 Bara Api Briket Kayu

Praktikum TPL 2016 | 13

MATERI III
PENGOMPOSAN
I. Latar Belakang
Kompos merupakan dekomposisi bahan-bahan organik atau proses
perombakan senyawa yang kompleks menjadi senyawa yang sederhana dengan
bantuan mikroorganisme. Kompos berfungsi dalam perbaikan struktur tanah, tekstur
tanah, aerasi dan peningkatan daya resap tanah terhadap air. Kompos dapat
mengurangi kepadatan tanah lempung dan membantu tanah berpasir untuk menahan
air, selain itu kompos dapat berfungsi sebagai stimulan untuk meningkatkan kesehatan
akar tanaman. Hal ini dimungkinkan karena kompos mampu menyediakan makanan
untuk mikroorganisme yang menjaga tanah dalam kondisi sehat dan seimbang, selain
itu dari proses konsumsi mikroorganisme tersebut menghasilkan nitrogen dan fosfor
secara alami (Isroi, 2008). Kompos memiliki kandungan unsur hara yang terbilang
lengkap karena mengandung unsur hara makro dan unsur hara mikro. Namun
jumlahnya relatif kecil dan bervariasi tergantung dari bahan baku, proses pembuatan,
bahan tambahan, tingkat kematangan dan cara penyimpanan. Namun kualitas kompos
dapat ditingkatkan dengan penambahan mikroorganisme yang bersifat menguntungkan
(Simamora dan Salundik, 2006). Melihat besarnya sampah organik yang dihasilkan
oleh masyarakat, terlihat potensi untuk mengolah sampah organik menjadi pupuk
organik demi kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat (Rohendi, 2005).
II. Tujuan
a. Mengurangi timbunan sampah organik agar tidak mencemari lingkungan.
b. Mengetahui proses pengomposan dan manfaat kompos.
c. Mengetahui pengaruh penggunaan bakteri aktivator terhadap lama pengomposan.
III. Tinjauan Pustaka
Kompos adalah hasil penguraian parsial/tidak lengkap dari campuran bahanbahan organik yang dapat dipercepat secara artificial oleh populasi berbagai macam
mikroba dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembab, dan aerobic atau
anaerobik.Kompos merupakan istilah untuk pupuk organic buatan manusia yang
dibuat dari proses pembusukan sisa-sisa buangan makhluk hidup (tanaman maupun
hewan ). Proses pembuatan kompos dapat berjalan secara aerob dan anaerob yang
saling menunjang pada kondisi lingkungan tertentu. Secara keseluruhan proses ini
disebut dekomposisi ( Yuwono, 2005).
Sampah organic dapat diolah menjadi pupuk dengan menggunakan proses
fermentasi. Pupuk organik yang dibuat menggunakan proses fermentasi disebut
kompos. Kompos yang baik adalahkompos yang sudah mengalami pelapukan dengan
ciriwarna yang berbeda dengan warna bahan pembentuknya, tidak berbau, kadar air
rendah dan mempunyai suhu ruang (Yuniwati, 2010). Manfaat kompos antara lain
sebagai berikut :
1. Menyediakan unsure hara mikro bagi tanaman
2. Menggemburkan tanah
3. Memperbaiki struktur dan tekstur tanah
4. Meningkatkan porositas, aerasi, dan komposisi mikroorganisme tanah
5. Meningkatkan daya ikat tanah terhadap air
Praktikum TPL 2016 | 14

6. Menyimpan air tanah lebih lama


Beberapa faktor yang memepengaruhi proses pengomposan, yaitu nilai C/N bahan,
ukuran bahan, campuran bahan, mikroorganisme yang bekerja, kelembapan dan aerasi,
suhu, dan keasaman (pH). Hal-hal yang perlu diperhatikan agar proses pengomposan
dapat berlangsung lebih cepat antara lain sebagai berikut(Indriani,2011):
a. Nilai C/N bahan
Semakin rendah nilai C/N bahan, waktu yang diperlukan untuk pengomposan
semakin singkat.
b. Ukuran bahan
Bahan yang berukuran lebih kecil akan lebih cepat proses pengomposannya karena
semakin luas bahan yang tersentuh dengan bakteri.
c. Komposisi bahan
Pengomposan bahan organic dari tanaman akan lebih cepat bila ditambah dengan
kotoran hewan. Ada juga yang menambahkan bahan makanan dan zat
pertumbuhan
yang
dibutuhkan
mikroorganisme.
Dengan
demikian,
mikroorganisme juga akan mendapatkan bahan makanan lain selain dari bahan
organic.
d. Jumlah mikroorganisme
Dalam proses pengomposan, yang akan berperan adalah bakteri, fungi,
Actinomycetes, dan protozoa. Selain itu, harus sering ditambahkan pula
mikroorganisme ke dalam bahan yang akan dikomposkan. Dengan bertambahnya
jumlah mikroorganisme, diharapkan proses pengomposan akan lebih cepat.
e. Kelembapan dan aerasi
Pada umumnya, mikroorganisme dapat bekerja dengan kelembapan sekitar 40%60%. Kondisi tersebut perlu dijaga agar mikroorganisme dapat bekerja secara
optimal. Kelembapan yang lebih rendah atau lebih tinggi dapat menyebabkan
mikroorganisme tidak berkembang atau mati. Adapun kebutuhan aerasi tergantung
dari proses berlangsungnya pengomposan tersebut, baik secara aerobic maupun
anaerobic.
f. Suhu
Suhu optimal untuk pengomposan sekitar 30o-50oC. Suhu yang terlalu tinggi akan
mengakibatkan kematian mikroorganisme. Bila suhu relative rendah,
mikroorganisme belum dapat bekerja atau berada dalam keadaan dorman.
Aktivitas mikroorganisme dalam proses pengomposan tersebut juga mengasilkan
panas sehingga untuk menjaga suhu tetap optimal sering dilakukan pembalikan.
g. Keasaman (pH)
Keasaman atau pH dalam tumpukan kompos juga mempengaruhi aktivitas
mikroorganisme.Kisaran pH yang baik untuk pengomposan sekitar 6,5-7,5
(netral). Oleh karena itu, dalam proses pengomposan sering diberi tambahan kapur
atau abu dapur untuk menaikkan pH.
Ciri-cirikompos yang sudahmatangadalahsebagaiberikut (Suryati,2014):
a. Bentuknya sudah berubah menjadi lebih lunak dan sangat berbeda dengan bentuk
awalnya.
b. Volume bahan menyusut, menjadi 1/3 dari awal.
c. Warna cokelat kehitaman.
d. Tidak berbau menyengat.
e. Mudah dihancurkan atau remah (partikel halus)
f. Suhu sekitar 35oC
IV. Alat&Bahan
Limbahpadatorganik (sisasayur)
Praktikum TPL 2016 | 15

Pisau
Plastic/ Koran bekas
Starter/ komposmatang
Timbangan
Pupuk urea
Air
Gelasukur
Media pengomposan/ komposter
Dedak
Aerator
Sarungtangan
Masker
Thermometer

V. Cara Kerja
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Kumpulkan sampah-sampah organic dari sisa sayuran.


Cacah dan timbang beratnya untuk diambil 3kg.
Tambahkan starter (kompos) sebanyak 3kg pada sampah yang sudah dicacah.
Tambahkan dedak sebanyak 1kg dan Pupuk Urea sebanyak 100 gram.
Campur bahan, aduk dengan rata.
Tambahkan air secara merata pada campuran tersebut sampai kelembapan
bahan mencapai 60%.
7. Pasang aerator pada media komposter.
8. Masukkan campuran bahan ke media komposter
9. Aerator dinyalakan dan diukur suhu awal.
10. Lakukan pembalikan seminggu kemudian.
11. Ukur suhu campuran setiap hari dengan thermometer. Pengukuran suhu
dilakukan di 3 titik, yaitu permukaan atas, bawah dan tengah selama 9 hari
setiap pagi, siang, dan sore.
12. Kemudian dari 3 data tersebut, dicari rata-rata suhu untuk campuran bahan
tersebut.
13. Lakukan pengamatan secara fisik mengenai warna, tekstur, dan bau sebelum
dan sesudah pengomposan.

DAFTAR PUSTAKA
Indriani, Yovita Hety. 2011. Membuat Kompos Secara Kilat. Jakarta: Penebar
Swadaya.
Suryati, Teti. 2014. Cara Bijak Mengolah Sampah Menjadi Kompos dan PupukCair.
Jakarta: Agromedia
Yuniwati, M., Frendy, I, &Adiningsih Padulemba. 2010. Optimasi Kondisi Proses
Pembuatan Kompos Dari Sampah Organik Dengan Cara Fermentasi
Menggunakan EM4. Yogyakarta :Institut Sains & Teknologi AKPRIND
Yogyakarta.
Yuwono, D. 2005. Pupuk Organik.Jakarta :Penebar Swadaya.

Praktikum TPL 2016 | 16

MATERI IV
PRAKTIKUM LAPANG
KUNJUNGAN IPAL KOMUNAL DKP KOTA MALANG
1. Latar Belakang
Pertambahan penduduk merupakan salah satu isu perhatian dunia yang saat
ini menjadi bentuk permasalhan serius bag setiap negara. Jumlah populasi yang
meningkat setiap tahunnya akan menimbulkan sebuah permasalahan tersendiri,
mulai dari tingkat keersediaan hunian yang menipis, ketersediaan tenaga kerja,
hingga kebutuhan makanan bagi setiap manusia. Pertambahan populasi ini tentu
akan sangat berdampak pada perubahan kondisi lingkungan yang terus menurun,
pemenuhan kebutuhan makan dari lingkungan yang terus meningkat dan limbah
domestik yang dihasilkan dari kegiatan MCK di khawatirkan akan menjadi
penyebab buruk rusaknya ekosistem yang ada.
Kota Malang merupakan salah satu kota dengan jumlah penduduk pendatang
terbesar di Indonesia, banyak aktivitas di kota ini yang menarik masyarakat dari
luar kota malang untuk datang dan tinggal menetap. Kegiatan industri, pertanian,
perkantoran dan faktor utama mengapa masyarakat sangat tertarik untuk tinggal di
kota malang ialah fasilitas pendidikan yang diberikan. Banyak berdiri Perguruan
Tinggi baik Universitas, Sekolah Tinggi maupun Universitas yang berdiri di Kota
Malang ini. Jumlah penduduk asli dan penduduk pendatang yang tinggi tentu akan
menyumbang limbah domestik dalam skala besar, hal tersebut apabila tidak
tertangani maka akan menjadi permasalahan lingkungan yang berakibat pada
kerusakaan lingkungan.
Limbah domestik dari kegiatan MCK seperti air seni, tinja dana lain
sebagainya merupakan limbah yang harus diolah sbelum masuk ke lingkungan,
dalam praktikum mata kuliah Teknik Pengolahan Limbah Kali ini dilakukan
praktikum lapang kunjungan ke IPAL Komunal Dinas Kebersihan dan
Pertamanan Kota Malang yang memiliki spesifikasi dalam bidang pengelolaan
limbah komunal masyarakat kota Malang.
2. Tujuan Praktikum
Dalam praktikum lapang kali ini terdapat tujuan yang ingin dicapai dalam
pelaksanaanya, diantaranya sebagai berikut:
a. Mahasiswa mampu mengetahui alur proses pengolahan air limbah komunal
pada Instalasi Pengolahan Air Limbah
b. Mahasiswa mampu untuk memahami prinsip kerja dari masing-masing
proses dalam IPAL Komunal

Praktikum TPL 2016 | 17

3. Tinjauan Pustaka
3.1 Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Malang
Berdasarkan Peraturan Daerah Kota Malang Nomor 6 Tahun 2012
tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah, Peraturan Walikota Malang
Nomor 49 Tahun 2012 tentang Uraian Tugas Pokok, Fungsi dan Tata Kerja
Dinas Kebersihan dan Pertamanan, Dinas Kebersihan dan Pertamanan
mempunyai tugas pokok untuk melaksanakan penyusunan dan pelaksanaan
kebijakan daerah di bidang kebersihan dan pertamanan. Untuk melaksanakan
tugas pokok sebagaimana Peraturan Walikota Malang Nomor 49 Tahun 2012,
Dinas Kebersihan dan Pertamanan mempunyai fungsi :
a. perumusan dan pelaksanaan kebijakan teknis di bidangkebersihan,
pertamanan, Penerangan Jalan Umum dan Dekorasi Kota, Pemakaman,
Pembibitan, Pengolahan Sampah, Air Limbah Rumah Tangga dan Lumpur
Tinja.
b. penyusunan perencanaan dan pelaksanaan program di bidangkebersihan,
pertamanan, Penerangan Jalan Umum dan Dekorasi Kota, Pemakaman,
Pembibitan, Pengolahan Sampah, Air Limbah Rumah Tangga dan Lumpur
Tinja.
c. pelaksanaan, pengelolaan dan pengawasan serta penyuluhan di
bidangkebersihan, pertamanan, Penerangan Jalan Umum dan Dekorasi Kota,
Pemakaman, Pembibitan, Pengolahan Sampah, Air Limbah Rumah Tangga
dan Lumpur Tinja.
d. pelaksanaan fasilitasi dalam pengelolaan kebersihan, pertamanan, Penerangan
Jalan Umum dan Dekorasi Kota, Pemakaman, Pembibitan, Pengolahan
Sampah, Air Limbah Rumah Tangga dan Lumpur Tinja.
e. Pelaksanaan peningkatan peranserta masyarakat dalam pengelolaan
kebersihan, pertamanan, Penerangan Jalan Umum dan Dekorasi Kota,
Pemakaman, Pembibitan, Pengolahan Sampah, Air Limbah Rumah Tangga
dan Lumpur Tinja.
f. pelaksanaan pembinaan terhadap lembaga Bank Sampah dan lembaga
pengolah sampah lainnya;
g. pelaksanaan pembinaan terhadap kader lingkungan dan organisasi masyarakat
lainnya di bidang pengelolaan kebersihan dan lingkungan hidup;
h. pemberian pertimbangan teknis perizinan dan pencabutanya di bidang
kebersihan, pertamanan, penerangan jalan umum dan dekorasi kota,
pemakaman serta penanganan Lumpur Tinja;
i. pelaksanaan penyidikan tindak pidana pelanggaran di bidang kebersihan,
pertamanan, penerangan jalan umum dan dekorasi kota, pemakaman serta
penanganan lumpur tinja sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan;
j. pelaksanaan pembelian/pengadaan atau pembangunan aset tetap berwujud
yang akan digunakan dalam rangka penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi;
Praktikum TPL 2016 | 18

k. pelaksanaan pemeliharaan barang milik daerah yang digunakan dalam rangka


penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi;
l. pelaksanaan kebijakan pengelolaan barang milik daerah yang berada dalam
penguasaannya;
m. pelaksanaan pendataan potensi retribusi daerah;
n. pelaksanaan pemungutan penerimaan retribusidaerah;
o. pengelolaan administrasi umum meliputi penyusunan program,
ketatalaksanaan, ketatausahaan, keuangan, kepegawaian, rumah tangga,
perlengkapan, kehumasan, kepustakaan dan kearsipan;
p. pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal (SPM);
q. penyusunan dan pelaksanaan Standar Pelayanan Publik (SPP) dan Standar
Operasional dan Prosedur (SOP);
r. pelaksanaan pengukuran Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) dan/atau
pelaksanaan pengumpulan pendapat pelanggan secara periodik yang
bertujuan untuk memperbaiki kualitas layanan;
s. pengelolaan pengaduan masyarakat di bidang kebersihan, pertamanan,
penerangan jalan umum dan dekorasi kota, pemakamandan penanganan
lumpur tinja;
t. penyampaian data hasil pembangunan dan informasi lainnya terkait layanan
publik secara berkala melalui website Pemerintah Daerah;
u. pemberdayaan dan pembinaan jabatan fungsional;
v. penyelenggaraan UPT dan jabatan fungsional;
w. pengevaluasian dan pelaporan pelaksanaan tugas pokok dan fungsi;
dan pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Walikota sesuai dengan
tugas pokoknya.
3.2 IPAL Komunal
IPAL Komunal sesuai dengan tujuannya, mengolah air limbah secara terpusat
dengan karakteristik yang sama. Misalnya Limbah di suatu kawasan yang terdiri
dari banyak Klinik, atau Limbah di suatu kawasan yang terdiri dari banyak
pemukiman. Pertimbangannya adalah bahwa IPAL Komunal memiliki efisiensi
pengolahan yang tinggi dengan catatan debit limbah yang diolah dalam jumlah
yang besar. Jika Limbah yang diolah tidak terlalu besar, maka akan boros energi
(dalam hal suplai udara) dan biaya perawatan.
Keunggulan dari IPAL komunal:
1. Lahan yang dibutuhkan sedikit karena dibangun di bawah tanah
2. Biaya pengoperasian dan perawatan mudah
3. Efisiensi pengolahan limbah tinggi
Kelemahan dari IPAL komunal:
1. Biaya konstruksi bisa menjadi besar jika bahan filter tidak ada di sekitar
2. Diperlukan tenaga ahli untuk design dan pengawasan pembangunan
konstruksi IPAL

Praktikum TPL 2016 | 19

3. Diperlukan tukang shli untuk pekerjaan plester berkualitas tinggi untuk


mencegah terjadinya kebocoran/merembes.

3.3 Limbah Domestik


Pada dasarnya limbah adalah bahan yang terbuang atau dibuang dari suatu
sumber hasil aktivitas manusia maupun proses-proses alam atau belum
mempunyai nilai ekonomi. Menurut sumbernya limbah dapat dibagi menjadi tiga
yaitu: limbah industry, limbah limpasan air hujan, dan limbah domestik. Limbah
domestik atau limbah rumah tangga merupakan limbah yang terdiri dari
pembuangan air kotor dari kamar mandi, kakus, dan dapur. Limbah-limbah
tersebut campuran dari zat-zat bahan dan organik dalam banyak bentuk, termasuk
partikel-partikel besar dan kecil, benda padat, sisa-sisa bahan-bahan larutan dalam
keadaan terapung dan dalam bentuk koloid dan setengah koloid.
4.

Waktu dan Tempat


Praktikum lapang ini dilakukan di Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL)
Komunal Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Malang sekitar Bulan April/
Mei 2016.

5. Alat dan Bahan


Alat dan bahan yang dibutuhkan dalam praktikum lapang ini diantarnya ialah
sebagai berikut:
a. Buku dan Alat Tulis
b. Alat Dokumentasi
c. Data Proses IPAL
d. Data Volume Pengelolaan
e. Data Input Output
f. Data visual berupa gambar
3.3 Tahapan Praktikum
Tahapan praktikum lapang dilakukan melalui beberapa tahapan yakni:
a. Siapkan Buku dan Alat Tulis
b. Observasi Lapangan
c. Dokumentasi
d. Diskusi dan Wawancara dengan pihak pengelola
e. Analisa data
f. Pembuatan Laporan

Praktikum TPL 2016 | 20