Anda di halaman 1dari 75

ANALISIS STRUKTUR DAN KINERJA INDUSTRI GULA

INDONESIA : PERIODE 1982-2011

MARIA MONTESORI

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2014

PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN


SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul Analisis Struktur dan Kinerja
Industri Gula di Indonesia: Periode 1982-2011 adalah benar karya saya dengan
arahan dari komisi pembimbing dan belum dianjurkan dalam bentuk apa pun
kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip
dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah
disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir
tesis ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cifta dari karya tulis saya kepada Institut
Pertanian Bogor
Bogor, Juli 2014
Maria Montesori
NIM H451100081

RINGKASAN
MARIA MONTESORI. Analisis Struktur dan Kinerja Industri Gula Indonesia:
Periode 1982-2011. Dibimbing oleh RATNA WINANDI, dan ANDRIYONO
KILAT ADHI.
Sub sektor perkebunan merupakan salah satu agroindustri yang paling
mampu bertahan selama krisis ekonomi, di tahun 2009 hanya sub sektor
perkebunan yang bernilai plus, sedangkan sektor lain bernilai minus (BPPP 2011).
Dekade terakhir kinerja industri gula belum terlihat membaik, terdapat gap antara
produksi dan konsumsi gula nasional, sehingga impor selalu menjadi konsekuensi
dari gap yang terjadi, sementara itu struktur industri gula yang terindikasi tidak
kompetitif menyebabkan turunnya daya saing industri dan kinerja industri
(GAPPMI 2010). Sehingga dibutuhkan upaya yang integratif agar industri ini
kembali kompetitif.
Penelitian ini menganalisis bagaimana variabel-variabel independen
seperti concentration ratio empat perusahaan besar (CR4), concentration ratio
delapan perusahaan besar (CR8), dan keterbukaan pasar/pasar bebas (OPEN) yang
merupakan variabel-variabel struktur pasar, serta variabel efisiensi industri (Xeff), rasio input tenaga kerja atau unit labour cost (ULC), dan rasio input bahan
baku atau unit material cost (UMC) yang merupakan variabel-variabel kinerja
pasar, mempengaruhi variabel dependen yakni keuntungan industri atau price
cost-margin (PCM) merupakan variabel kinerja pasar.
Hasil Penelitian menunjukkan bahwa pada taraf nyata 15%, hanya variabel
X-eff dan CR8 berkorelasi positif terhadap PCM, yakni mampu meningkatkan
PCM sebesar 0.091% dan 0.08%. Sedangkan variabel lain seperti CR4, ULC, dan
UMC berkorelasi negatif terhadap PCM, yakni mampu menurunkan PCM dengan
masing-masing sebesar 0.10%, Rp 337.329 ribu , dan Rp 12.835 ribu. Sementara
itu variabel OPEN tidak signifikan terhadap PCM.
Industri gula Indonesia periode 1982-2011, memiliki rata-rata konsentrasi
rasio CR4 sebesar 32.46%, dan rata-rata konsentrasi delapan perusahaan besar
(CR8) sebesar 51.41%, menurut klasifikasi Shepherd (1992), struktur pasar
termasuk oligopoli kuat, sedangkan menurut Baye (2010) struktur pasar termasuk
pasar weak oligopsony market structure.
Industri gula periode 1982-2011, memiliki rata-rata PCM industri gula
putih 57.62 %. Nilai PCM terendah bernilai negatif yaitu sebesar -18.20 % pada
tahun 1991, sedangkan PCM tertinggi mencapai 147.21 % pada tahun 2011.
Berdasarkan nilai rata-rata, , margin keuntungan yang diperoleh rata-rata masih
tinggi. Artinya untuk berinvestasi di sektor industri ini masih menguntungkan
karena masih memiliki return yang tinggi.
Implikasi kebijakan yang diambil pemerintah terkait kebijakan mendorong
peningkatan efisiensi industri gula, disertai dengan kebijakan yang saling
mendukung tentang kebijakan pasar, produksi, tenaga kerja dan bahan baku
industri.
Kata kunci: SCP, konsentrasi rasio, efisiensi, industri gula

SUMMARY
MARIA MONTESORI. Analysis of Structure and Performance of Indonesian
Sugar Industry: The period from 1982 to 2011. Supervised by RATNA
WINANDI, and Andriyono KILATADHI.
Plantation sub-sector is one of the most agro-industry can survive during
the economic crisis, in 2009 only estates valued sub-sectors plus, while the other
sector is minus (BPPP 2011). The last decade has not been shown to improve the
performance of the sugar industry, there is a gap between national production and
consumption of sugar, so it imports has always been a consequence of the gap,
while the structure of the sugar industry which indicated uncompetitive cause a
decline in the competitiveness of the industry and the performance of the industry
(GAPPMI 2010). So it takes an integrative effort to make this industry
competitive again.
This study analyzes how the independent variables such as the ratio
Concentratin four large companies (CR4), eight large companies Concentratin
ratio (CR8), and the openness of the market / free trade (OPEN) which is a market
structure variables, as well as the efficiency of the industries (X-eff), the ratio of
labor input or unit labor cost (ULC), and the ratio of raw material inputs or
material unit cost (UMC), which is the market performance variables, which
affect the dependent variable industry profits or price-cost margins (PCM) is a
variable market performance.
Research results showed that the 15% significance level, only the variable
X-eff and CR8 positively correlated to the PCM, the PCM increase by 0.091%
and 0.08%. While other variables such as CR4, ULC, UMC and negatively
correlated to the PCM, the PCM can decrease respectively by 0.10%, 337.329
thousand rupias and 12.835 thousand rupias. Meanwhile OPEN variable is not
significant to the PCM.
Indonesian sugar industry 1982-2011 period, had an average concentration
ratio CR4 at 32.46%, and the average concentration of eight large companies
(CR8) amounted to 51.41%, according to the classification of Shepherd (1992),
including an strong oligopoly market structure, while according to Baye (2010)
market structure including weak oligopsony market structure.
The sugar industry 1982-2011 period, had an average PCM 57.62%. The
lowest of PCM negative value that is equal to -18.20% in 1991, while the highest
PCM reached 147.21% in 2011 Based on the average value, profit margins earned
on average is still high. That is to invest in the industrial sector is still beneficial
because
it
still
has
a
high
return.
Implications of measures taken by relevant government policies encouraging
increased efficiency of the sugar industry, coupled with policies that are
supportive of policy markets, production, labor and raw materials industries.
Keywords: SCP, the concentration ratio, the efficiency, the sugar industry

Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2014


Hak Cipta Dilindung Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan
atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya unutk kepentingan pendidikan,
penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau
tinjauan suatu masalah, dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan
IPB
Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis ini
dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB

ANALISIS STRUKTUR DAN KINERJA INDUSTRI GULA


INDONESIA: PERIODE 1982-2011

MARIA MONTESORI

Tesis
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Magister Sains
pada
Program Studi Agribisnis

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2014

Penguji Luar Komisi


Penguji Program Studi

: Dr Ir Suharno, MAdev
: Dr Ir Amzul Rifin

Judul Tesis
Nama
NIM

: Analisis Struktur dan Kinerja Industri gula Indonesia:


Periode 1982- 2011
: Maria Montesori
: H451100081

Disetujui oleh
Komisi Pembimbing

Dr Ir Ratna Winandi, MS
Ketua

Dr Ir Andriyono Kilat Adhi, MSc


Anggota

Diketahui oleh

Ketua Program Studi


Agribisnis

Dekan Sekolah Pascasarjana

Prof Dr Ir Rita Nurmalina, MS

Dr Ir Dahrul Syah, MScAgr

Tanggal Ujian:

Tanggal Lulus:

PRAKATA
Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, atas segala rahmat
dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan karya ilmiah
ini. Judul yang dipilih dalam penelitiaan ini adalah Analisa Struktur dan Kinerja
Industri Gula di Indonesia: Periode 1982-2011. Penulis menyadari bahwa tanpa
bantuan dari berbagai pihak, penulis akan mengalami kesulitan dalam
menyelesaikan tesis ini.
Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Dr Ir
Ratna Winandi, MS selaku ketua komisi pembimbing dan Dr Ir Andriyono Kilat
Adhi, MSc selaku anggota komisi pembimbing, yang telah memberikan
bimbingan, arahan, dan masukan yang sangat bermanfaat dalam penyusunan tesis
ini. Ucapan terima kasih dan penghargaan sebesar-besarnya untuk seluruh staf
pengajar yang telah memberikan bimbingan dan proses pembelajaran selama
penulis kuliah di Agribisnis. Selanjutnya terima kasih penulis ucapkan kepada
Badan Pusat Statistik yang telah memberikan bantuan dalam pengumpulan data.
Serta atas dorongan dan motivasi Ketua Program Studi Prof Dr Ir Rita Nurmalina,
MS dan Dr Ir Suharno, MAdev, berserta staf Departemen Agribisnis. Juga Dr Ir
Amzul Rifin, sebagai dosen penguji.
Penulis juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada
suami Maruf Terrence Allison, PHd, kedua orangtua Ibunda Nursaniah dan
Ayahanda M Iksan, serta Adinda drh Murniati, serta kakak-kakak yang selama ini
telah memberikan dukungan semangat, materi, doa dan kasih sayang kepada
penulis, dan selanjutnya kepada semua teman-teman mahasiswa pascasarjanan
IPB, khususnya Program Studi Agribisnis atas dukungan dan semangatnya.
Akhirnya penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang sebesarbesarnya kepada pihak-pihak lain yang telah membantu penyelesaian tesis ini
meskipun namanya tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. Semoga hasil
penelitian ini berguna dan memberikan kontribusi bagi semua pihak terutama
pemerintah dan kalangan akademisi.
Bogor, Agustus 2014

Maria Montesori

ix

DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR LAMPIRAN
1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Perumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Ruang Lingkup Penelitian
2 TINJAUAN PUSTAKA
Konsep Structure, Conduct, Performance (SCP)
Struktur Pasar dan Pengukurannya
Kinerja Pasar
Konsep Keuntungan
Rasio Biaya Input Unit labor Cost (ULC) dan Unit Material
Cost (UMC)
Konsep Efisiensi
Karakteristik Produk
Klasifikasi Gula di Indonesia
Gula Kristal Putih
Perkembangan Produksi Tebu di Indonesia
Perkembangan Konsumsi Gula di Indonesia
Perkembangan Impor Gula di Indonesia
Perkembangan Harga Gula di Indonesia
Struktur Industri Gula di Indonesia
Struktur Industri Gula Kristal Putih
Pusat dan Jalur Distribusi Gula di Indonesia
Kebijakan Industri Gula di Indonesia
Penelitian Terdahulu
3 KERANGKA PEMIKIRAN
Kerangka Pemikiran Teoritis
Konsep Structure-Conduct-Performance (SCP)
Konsep Structure-Performance (SP)
Struktur Pasar
Kinerja Pasar
Kerangka Pemikiran Operasional
4 METODE PENELITIAN
Ruang Lingkup Penelitian
Jenis dan Sumber Data
Teknik Pengolahan dan Analisa Data
Analisis Struktur Industri
Analisis Rasio Konsentrasi (Concentration Ratio)
Analisis Kinerja Industri
Analisis Price costmargin (PCM)
Analisis Efisiensi
Rasio Unit Labour Cost (ULC) dan Unit Material Cost (UMC)
Analisis Hubungan Struktur dan Kinerja

ix
x
xi
1
1
4
6
6
7
7
7
9
12
14
15
15
15
16
16
16
17
17
19
20
20
21
23
27
28
28
28
30
31
31
32
33
33
33
33
34
34
35
35
35
35
35

Perumusan Model
Hipotesis
Analisis Time Series (Runtun Waktu)
Analisis Regresi
Uji Statistika dan Ekonometrika
5 HASIL DAN PEMBAHASAN
Perkembangan Industri Gula Indonesia Tahun 1982-2011
Analisis Struktur Industri
Analisis Kinerja Industri
Hubungan Struktur dan Kinerja Industri Gula Indonesia
Implikasi Kebijakan
6 SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
RIWAYAT HIDUP

36
37
37
38
39
42
42
44
45
45
48
49
49
49
50
53
60

DAFTAR TABEL
1 Regim kebijakan dan dampaknya terhadap impor dan kinerja
pergulaan nasional
2 Karakteristik suatu pasar
3 Perkembangan produksi tebu Indonesia (Ton) tahun 2010-2012
4 Perkembangan impor gula Indonesia tahun 2010-2012
5 Negara pemasok gula impor Indonesia
6 Alokasi impor gula kristal putih wewenang bulog
7 Serapan gula oleh lini distribusi
8 Kebijakan Industri gula Indonesia regim stabilisasi
9 Regim kebijakan dan dampaknya terhadap impor dan kinerja
pergulaan nasional
10 Kebijakan industri gula Indonesia regim liberalisasi
11Kebijakan industri gula Indonesia regim terkendali
12 Hasil estimasi dengan model ordinary least square
(Least Square Model) struktur dan kinerja gula di Indonesia
tahun 1982-2011

2
10
16
18
19
19
21
24
24
25
26

46

DAFTAR GAMBAR
1 Perkembangan produksi konsumsi dan impor gula Indonesia Tahun
2005-2012
2 Perbandingan harga bulanan gula domestik tahun 2009-2012
3 Pengaruh struktur pasar yang tidak kompetitif terhadap terhadap
harga
4 Hubungan kekuatan pasar dengan kemampuan memaksimumkan
keuntungan maksimum

5
13

xi

5 Kondisi MR=MC untuk memperoleh laba maksimum


6 Negara pengimpor gula di dunia dan volume impor gula
7 Komposisi produksi gula kristal putih Indonesia tahun 2009
8 Pusat distribusi gula di Indonesia
9 Jalur distribusi gula kristal putih di Indonesia
10 Hubungan struktur, perilaku dan kinerja berdasarkan konsep SCP
11 Kerangka pemikiran operasional
12 Perkembangan nilai input, nilai output dan nilai tambah industri gula
Indonesia periode 1982-2011
13 Perkembangan biaya input industri gula Indonesia periode
1982-2011
14 Perkembangan perusahaan besar dan sedang industri gula Indonesia
Periode 1982-2011

14
18
20
21
23
30
31
42
43
43

DAFTAR LAMPIRAN
1 Unit labour Cost (ULC) industri gula Indonesia tahun
1982-2011(Rupiah)
53
2 Unit material cost (UMC) industri gula Indonesia tahun
1982-2011(Rupiah)
54
3 Price cost margin (PCM) industri gula Indonesia tahun
1982-2011(Rupiah)
55
4 Tingkat efisiensi (X-eff) industri gula Indonesia tahun
1982-2011(Rupiah)
56
5 Output hasil etimasi OLS
57
6 Matriks korelasi variabel eksogen yang terdapat pada model
analisis PCM
57
6 Data mentah total nilai input, total nilai otput, nilai tambah, total upah
tenaga kerja, nilai input tenaga kerja, nilai input bahan baku,
PCM, X-eff, ULC, dan UMC industri gula besar dan sedang
tahun 1982-2011
58
7 Data mentah output empat perusahaan terbesar, delapan perusahaam
terbesar, nilai CR4, dan CR8 industri gula besar dan sedang
tahun 1982-2011
59

1 PENDAHULUAN
Latar Belakang
Sektor industri merupakan leader-sector bagi sektor-sektor lain
dalam kemajuan ekonomi di Indonesia. Produk-produk industri
menciptakan nilai tambah yang lebih dibandingkan produk-produk sektor
lain. Hal ini karena sektor industri memiliki variasi produk yang sangat
beragam dan mampu memberikan manfaat marjinal yang tinggi kepada
konsumennya (BPS 2011). Sektor Pertanian mempunyai peranan yang
cukup penting dalam perekonomian, dilihat dari kontribusinya terhadap
Produk Domestik Bruto (PDB) yang cukup besar sekitar 14.44% pada
tahun 2012 atau urutan kedua setelah sektor industri pengolahan (BPS
2012).
Subsektor perkebunan memiliki potensinya yang cukup besar,
meskipun kontribusi terhadap PDB belum begitu besar yaitu sekitar 1.94
persen pada tahun 2012 (urutan ketiga di sektor pertanian setelah sub
sektor tanaman bahan makanan dan perikanan) akan tetapi sub sektor ini
merupakan penyedia bahan baku untuk sektor industri, penyerap tenaga
kerja, dan penghasil devisa (BPS 2012). Subsektor perkebunan merupakan
salah satu subsektor pertanian yang paling mampu bertahan selama krisis
ekonomi, di tahun 2009 subsektor perkebunan memberikan kontribusi
positif (US$ 19.967.000) pada neraca perdagangan, sedangkan subsektor
lain bernilai minus (BPPP 2011).
Tebu sebagai bahan baku industri gula merupakan salah satu komoditi
perkebunan yang mempunyai peran strategis dalam perekonomian. Dengan
luas areal sekitar 450 ribu hektar pada tahun 2012, industri yang berbahan
baku tebu merupakan salah satu sumber pendapatan bagi ribuan petani tebu
dan pekerja di industri gula. Gula juga merupakan salah satu kebutuhan
pokok bagi sebagian besar masyarakat dan kalori yang relatif murah (BPS
2012).
Peningkatan konsumsi gula di Indonesia dari tahun ke tahun
memberikan peluang luas bagi peningkatan kapasitas produksi pabrik gula.
Selain itu dari jumlah produksi gula di dalam negeri saat ini dirasakan
belum mampu memenuhi kebutuhan gula (BPS 2012). Kebutuhan nasional
hanya dapat dipenuhi sekitar 55% oleh industri gula, sedangkan 45%
sisanya dipenuhi dengan mengimpor gula dari negara lain (Sudradjat 2010).
Secara historis industri gula Indonesia mengalami pasang-surut,
dalam menyikapi hal ini berbagai kebijakan dilakukan pemerintah untuk
menghadapi situasi tersebut. Menurut Susila WR (2005), terdapat tiga
periode kebijakan gula yang diterapkan di Indonesia (Lihat Tabel 1.1),
kebijakan tersebut terdiri dari kebijakan stabilisasi, kebijakan liberalisasi,
dan kebijakan terkendali.

2
Tabel 1 Regim kebijakan dan dampaknya terhadap impor dan kinerja
pergulaan nasional
Regim
Stabilisasi
Liberalisasi
Terkendali

Stabilisasi
Liberalisasi
Terkendali

Periode

Pertumbuhan (%)
Konsumsi
Impor
4.2
17.5
-0.6
2.4
1.5
-5.2

1984-1996
1997-2001
2002-2004

Produksi
1.0
-5.8
8.1

1984-1996
1997-2001
2002-2004

Volume Rata-rata (Juta Ton)


Produksi
Konsumsi
Impor
2 207
2 573
0 312
1 718
3 060
1 519
2 034
2 800
0 762

Sumber: Susila (2005)


Berdasarkan Tabel 1, setiap kebijakan yang diterapkan memiliki
dampak yang berbeda terhadap kinerja gula nasional. Pada periode
stabilisasi produksi nasional mengalami peningkatan dengan laju 1.0%, dan
impor bersifat residual. Adapun pada periode liberalisasi ditandai dengan
dibukanya pasar impor Indonesia secara dramatis, dimana impor gula
dilakukan dengan tarif impor 0% dan pelaku dilakukan oleh perusahaan
importir. Akibatnya, impor gula meningkat yang puncaknya sebesar 1.73
juta ton pada tahun 1998, serta terjadi penurunan produksi nasional sebesar
5.8% pada periode ini.Sedangkan pada periode terkendali yang bertujuan
untuk mengendalikan impor, dengan membatasi importir hanya menjadi
importir produsen dan importir terdaftar, kebijakan ini mampu mendorong
produksi dengan peningkatan sebesar 8.1% dan impor turun sebesar 5.2%.
Berdasarkan Tabel 1, meskipun pada periode terkendali industri gula
nasional menunjukkan peningkatan, namun secara umum pada dekade
terakhir kinerjanya mengalami penurunan, baik dari sisi produksi maupun
tingkat efisiensi (Sudradjat 2010), sedangkan proporsi impor gula nasional
masih bersifat residual dan masih menjadi kendala dalam industri. Besarnya
proporsi impor diakibatkan oleh adanya kecenderungan penurunan produksi
nasional yang tidak seimbang dengan kenaikan konsumsi domestik (baik
rumah tangga maupun industri) terus mengalami peningkatan. (Sudradjat
2010).
Menurut BPS (2012), berdasarkan perkembangan produksi, konsumsi,
dan impor gula Indonesia (Lihat Gambar 1), terdapat gap antara produksi
dan konsumsi gula nasional, dari 2005-2012 (lihat Gambar 1), dimana
produksi nasional Produksi gula nasional berfluktuatif dengan variasi yang
kecil, hal ini tidak sebanding dengan konsumsi dan impor yang justru
cenderung meningkat sepanjang tahun. Pada tahun 2010 mencapai 2.29 juta
ton dan turun 1.95 persen pada tahun 2011 menjadi 2.24 juta ton. Pada
tahun 2012 produksi mengalami peningkatan sebesar 15.87% atau menjadi
2.60 juta ton.

Gambar 1 Perkembangan produksi konsumsi dan impor gula Indonesia


Tahun 2005-2012(Sumber : BPS 2012).
Kondisi struktur gula nasional yang tercermin dari harga gula
domestik juga masih fluktuatif dan cenderung meningkat. Berdasarkan
Gambar 2, jika dibanding pada Juni 2012 dengan Juni 2011, terjadi
peningkatan harga sebesar 20.2%. Begitu juga pada Juni 2012 dengan Juni
2010, peningkatan terjadi sebesar 25.3%. Sedangkan harga bulan Juni 2012
dengan Juni 2009 terjadi peningkatan sebesar 45.9% (Disperindag 2012).
Berdasarkan keterangan di atas, fluktuasi harga domestik erat kaitannya
dengan perubahan struktural dan peran kebijakan. Ketidaksiapan struktural
dan pengaruh perubahan kebijakan berimplikasi terhadap harga gula
domestik dan tingkat ketergantungan impor gula di masa mendatang
(Kemenperin 2013).

Gambar 2 Perbandingan harga bulanan gula domestik Tahun 2009-2012


(Sumber: Disperindag 2012)
Menurut Sudradjat (2010), Struktur pasar gula Indonesia bersifat
oligopolistik. Dimana dalam setiap lelang gula yang dilakukan oleh Asosiasi
Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) atau PT. Perkebunan Nusantara
(PTPN) hanya beberapa pedagang yang terlibat, kondisi ini menggambarkan

4
bahwa hanya beberapa produsen saja sebagai penentu harga di pasar. Pada
tahun 2009 hanya ada 4 perusahaan yang memimpin pasar dan berikut, PT
Permata Dunia Sukses Utama dan PT Sentra Usahatama sebesar 20%, PT
Angels Product 16%, serta PT Jawamanis 15% (GAPPMI 2010).

Perumusan Masalah
Industri gula masih menjadi sektor yang potensial untuk
dikembangkan, dengan tingkat efisiensi yang masih belum memadai serta
pasar yang terdistorsi, revitalisasi pada industri gula perlu melakukan
berbagai perubahan dan penyesuaian guna meningkatkan produktivitas, dan
efisiensi, sehingga menjadi industri yang kompetitif, mempunyai nilai
tambah yang tinggi (BPPP 2007).
Gula merupakan salah satu kebutuhan primer yang dibutuhkan oleh
setiap manusia. Peningkatan jumlah penduduk, pendapatan dan
perkembangan industri makanan dan minuman mengakibatkan permintaan
gula meningkat dari waktu ke waktu. Sementara ketersediaan yang berasal
dari produksi dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan, hal ini
menjadi daya tarik impor gula baik yang legal maupun yang ilegal. Kondisi
ini menghantarkan industri gula menghadapi banyak persoalan, diantaranya
yang paling menonjol dalam hal kinerja (gap produksi, konsumsi dan impor
nasional) serta dalam hal struktur industri (persaingan, distorsi pasar, serta
fluktuasi dan trend kenaikan harga domestik).
Dekade terakhir kinerja industri belum terlihat membaik, terdapat gap
antara produksi dan konsumsi gula nasional, sehingga impor selalu menjadi
konsekuensi dari gap yang terjadi, sementara itu struktur industri gula yang
terindikasi tidak kompetitif menyebabkan turunnya daya saing industri dan
kinerja industri (GAPPMI 2010). Sehingga dibutuhkan upaya yang
integratif agar industri ini kembali kompetitif.
Berdasarkan keterangan di atas, industri gula penting untuk diteliti,
terutama terkait struktur dan kinerjanya, dikarenakan upaya mengembalikan
kejayaan industri gula tidak dapat dilepaskan dari pembahasan mengenai
organisasi industri, dimana industri merupakan bagian dari disiplin ekonomi
mikro yang khusus mengkaji tentang perusahaan, pasar, dan interaksi antara
keduanya. Banyak paradigma yang berkembang untuk menjelaskan interaksi
tersebut, diantaranya yang paling poluler adalah konsep Structure-ConductPerformance (SCP).
Paradigma SCP pertama kali dikenalkan oleh Edward S. Mason
(1939) yang kemudian dikembangkan oleh oleh Joe S. Bain (1941).
Perspektif dalam SCP adalah bahwa struktur industri mempengaruhi
perilaku pelaku usaha, dan selanjutnya interaksi antara struktur pasar dan
perilaku pengusaha akan berdampak pada kinerja industry (Baye 2010).
Adapun menurut model Carlton dan Perloff (2000), struktur, perilaku
dan kinerja merupakan hubungan yang bersifat simultan. Sehingga konsep
struktur industri juga bisa digunakan untuk mengetahui kinerja. Dalam
struktur pasar terdapat tiga elemen pokok yaitu pangsa pasar (market share),

5
konsentrasi (concentration), dan hambatan (barriers of entry). Pangsa pasar
merupakan tujuan perusahaan, peranannya adalah sebagai sumber
keuntungan bagi perusahaan. Sedangkan konsentrasi merupakan kombinasi
pangsa pasar dari perusahaan-perusahaan oligopolis dimana terdapat adanya
saling ketergantungan diantara perusahaan-perusahaan tersebut. Kombinasi
pangsa pasar perusahaan-perusaaan tersebut membentuk suatu tingkat konsentrasi dalam pasar (Wihana Kirana 2001).
Menurut Church dan Ware (2000), ada beberapa cara mengamati
kaitan antara struktur, perilaku dan kinerja. Pertama; hanya
memperhatikan secara mendalam dua aspek, yaitu kaitan antara struktur
dan kinerja industri, sedangkan aspek perilaku kurang ditekankan. Kedua;
pengamatan kinerja dan perilaku, dan kemudian dikaitkan lagi dengan
struktur. Ketiga; menelaah kaitan struktur terhadap perilaku dan kemudian
diamati kinerjanya. Keempat; kinerja tidak perlu diamati lagi, oleh karena
telah dijawab dari hubungan struktur dan perilakunya.
Dalam penelitian ini akan digunakan cara yang pertama. Dengan kata
lain lebih menekankan aspek struktur dan kinerja industri gula. Sedangkan
pertanyaan penting dalam penelitian tentang apakah struktur industri
mempengaruhi kinerja dengan menggunakan metode rasio konsentrasi.
Metode rasio konsentrasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah CR-4
(concentration ratio-4) dan CR-8 (concentration ratio-8).
Secara teoritis, pasar yang tidak kompetitif karena adanya perilaku
oligopoli dapat menyebabkan kenaikan harga gula di atas harga pasar (P2 >
P1) (lihat Gambar 3), meningkatnya suplus produsen dan berkurangnya
surplus konsumen. Kondisi ini berimplikasi pada struktur industri gula
menjadi tidak kompetitif dan terjadinya inefisiensi teknis (P2 > AC > MC)
dan inefisiensi alokatif (Q2 < Q1). Kondisi ini tidak bisa dibiarkan, apalagi
mengingat industri gula sebagai industri yang strategis dan sekaligus
komoditas yang protektif. Sehingga kajian bagaimana struktur terhadap
kinerja menjadi perlu untuk dilakukan.

MC
AC
P2

P1

Q2

Q1

MR

Gambar 3 Pengaruh struktur pasar oligopoli terhadap terhadap harga

6
Berdasarkan Gambar 3, ketidaksempurnaan struktur pasar produk
mempengaruhi kinerjanya, di antara yang paling penting adalah efek pada
penetapan harga perusahaan. Pasar produk yang tidak kompetitif
menyebabkan perusahaan melakukan strategi harga (mark- up) atas biaya
marjinal mereka dan melakukan praktik monopoli. Jika praktik ini bertahan
dari waktu ke waktu dan menyebabkan hambatan kompetisi, maka harga
lebih tinggi bisa terjadi pada kondisi yang seharusnya harga output bisa
lebih rendah. Tindakan kebijakan mungkin bertujuan untuk mendorong
persaingan yang lebih kuat, untuk mengurangi praktik mark- up harga
(Martin 1996). Oleh karena itu perlu juga menganalisis bagaimana
implikasi hasil analisis penelitian ini dengan kebijakan industri terutama
pada variabel-variabel yang diamati.
Berdasarkan latar belakang dan uraian permasalahan di atas, maka
perlu dilakukan suatu kajian sebagai berikut:
1. Bagaimana kondisi struktur dan kinerja industri gula di Indonesia.
2. Bagaimana keterkaitan hubungan antara struktur dan kinerja dalam
Industri gula di Indonesia.
3. Bagaimana implikasi analisa terhadap kebijakan untuk mendorong
kembalinya industri gula yang kompetitif.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keterkaitan struktur
struktur industri terhadap kinerja industri gula di Indonesia dan implikasinya
terhadap kebijakan. Sedangkan secara spesifik tujuan penelitian adalah
sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi kondisi struktur dan kinerja industri gula di
Indonesia.
2. Menganalisis hubungan antara struktur dan kinerja dalam Industri
gula di Indonesia
3. Menganalisis implikasi kebijakan untuk mendorong kembalinya
industri gula yang kompetitif

Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan menjadi kontribusi pemikiran dalam kajian
industri gula. Kajian ini juga diharapkan memberi pemahaman yang lebih
baik tentang perkembangan dan permasalahan industri gula dan kebijakan
pemerintah terhadap industri gula di Indonesia. Selain itu diharapkan bisa
menjabarkan ketahanan pangan dengan konteks yang lebih luas sistem pasar
dan menggabungkan banyak unsur struktur dan kinerja, sehingga
memungkinkan untuk lebih mengantisipasi respon pasar, lebih lengkap
menentukan skenario yang relevan dan komprehensif sehingga dapat
membantu mengarahkan waktu intervensi pemerintah, melengkapi dan
mengubah skenario kebijakan.

7
Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian ini dibatasi pada industri gula gula pasir di
Indonesia, dengan Kode ISIC (Internasional Standard of Industrial
Classification) 31181dan 15421.
Menitik beratkan kepada analisa keterkaitan struktur industri terhadap
kinerja industri gula di Indonesia, serta bagaimana implikasi kebijakan guna
mendorong kembalinya industri gula yang kompetitif.

2 TINJAUAN PUSTAKA
Konsep Structure, Conduct, Performance (SCP)
Industri dapat dikaji menggunakan pendekatan organisasi industri
yang mencakup struktur (structure), perilaku (conduct), kinerja
(performance). Aspek yang diterapkan dalam konsep SCP salah satunya
dapat mengkaji struktur pasar dan kaitannya dengan kinerja perusahaan
(Shepherd 1992).
Struktur dan perilaku akan memengaruhi kinerja seperti yang
ditunjukkan dalam harga pasar dan efisiensi dan tingkat inovasi. Industri
didefinisikan sebagai kumpulan dari perusahaan-perusahaan yang
menghasilkan barang-barang yang homogen, atau barang-barang yang
mempunyai sifat saling mengganti secara erat (Hasibuan 1994).
Sedangkan secara mikro, industri didefinisikan sebagai kegiatan ekonomi
yang menciptakan nilai tambah (Hasibuan 1993). Dalam arti luas industri
adalah kumpulan perusahaan yang memproduksi barang atau jasa yang
mempunyai elastisitas permintaan silang (cross elasticities of demand)
yang positif dan tinggi.
Mengkaji hubungan antara struktur dan kinerja industri, tidak bisa
dilepaskan dengan teori organisasi industri, dikarenakan aspek ini bagian
dari disiplin ilmu ekonomi mikro yang khusus mengkaji tentang
perusahaan, pasar, dan interaksi antara keduanya. Konsep SCP adalah teori
yang popular untuk menjelaskan interaksi antara struktur pasar dan kinerja
industry. Konsep SCP pertama kali dikenalkan oleh Edward S. Mason
(1939) yang kemudian dikembangkan oleh oleh Joe S. Bain (1941).
Perspektif dalam SCP adalah bahwa struktur industri mempengaruhi
perilaku pelaku usaha, dan selanjutnya interaksi antara struktur pasar dan
perilaku pengusaha akan berdampak pada kinerja industri (Baye 2010).
Kinerja suatu industri menunjukkan bagaimana pengaruh kekuatan
pasar terhadap keuntungan, nilai dan efisiensi. Kinerja secara lebih rinci
dapat dilihat dari tingkat keuntungan, nilai tambah dan efisiensi (Hasibuan
1994). Sedangkan menurut model Silvester (1993), dalam penelitian
perilaku terhadap kinerja industri, hubungan ini dapat diukur dari nilai
price cost-margin (PCM), yang dihitung melalui perbandingan antara nilai
tambah dan upah dan nilai output total dalam industri.
Berdasarkan keterangan tentang kinerja di atas, maka alam penelitian
kinerja industri gula akan dianalisis dengan melibatkan variabel efisiensi,
rasio input produksi, dan kondisi kekuatan pasar dengan variabel
konsentrasi rasio industri dan variabel dummi keterbukaan pasar.
Diharapkan beberapa variabel ini dapat menjelaskan kinerja industri gula
lebih lengkap.
Daryanto (2004) mengungkapkan yang dimaksud dengan kinerja
adalah:1) Apakah perusahaan-perusahaan meningkatkan kesejahteraan
ekonomi?; 2) Apakah mereka bekerja secara efisien, menghindari
pemborosan faktor-faktor produksi yang langka sifatnya?; 3) Apakah
alokasi faktor-faktor produksi telah efisien secara ekonomis?;4) Apakah

9
perusahaan-perusahaan secara efektif meningkatkan kesempatan kerja dan
pertumbuhan ekonomi?
Ada beberapa pertimbangan yang digunakan untuk menjadikan
perusahaan tertentu mempunyai kinerja yang baik sebagai barometer harga.
Pertama, jika terjadi persaingan yang kurang sehat dalam suatu industri
oligopoli. Kedua, dapat mengurangi kerja administrasi, karena perhitungan
ongkos-ongkos yang berulang-ulang. Ketiga, perusahaan yang menjadi
barometer itu telah menunjukkan prestasi yang bagus, yang hampir tidak
meleset ramalan-ramalannya (Hasibuan, 1994). Dalam kinerja pasar
terdapat konsekuensi dan kekuatan pasar yaitu kemampuan perusahaanperusahaan untuk mempengaruhi harga produk-produk yang mereka jual
kepada konsumen. Pada kenyataannya kekuatan pasar dapat mempengaruhi
secara mencolok terhadap harga, keuntungan, dan nilai-nilai lainnya. Dalam
kinerja juga memperhatikan pertumbuhan dan kemungkinan pengaruhpengaruh monopoli yang ditimbulkannya (Jaya 2001).
Berdasarkan keterangan tentang kinerja di atas, maka dalam penelitian
kinerja industry gula bisa melibatkan variabel efisiensi, rasio input produksi,
dan kondisi kekuatan pasar dengan variabel rasio konsentrasi industri dan
variabel keterbukaan pasar. Dengan harapan dapat menjelaskan kinerja
industri gula lebih lengkap.
Struktur Pasar dan Pengukurannya
Struktur pasar merupakan kunci penting dari pola konsep
konvensional dalam ekonomi industri. Menurut Shepherd (1992), struktur
pasar terwujud dengan melihat ukuran distribusi perusahaan-perusahaan
yang bersaing. Jika perusahaan semakin banyak jumlahnya maka dapat
menurunkan pangsa pasarnya. Untuk memperluas pangsa pasar, suatu
perusahaan menghadapi sejumlah rintangan. Setiap struktur pasar berada
di antara pasar monopoli dan persaingan.Setiap perusahaan memiliki
struktur pada masing-masing keadaan tertentu.

10
Tabel 2 Karakteristik suatu pasar berdasarkan pangsa pasar
No

Tipe pasar

Natural Monopoli

Oligopoli ketat

Kondisi Utama

Hambatan
Masuk

Efisiensi

Menguasai 100% pangsa pasar

Sangat Kurang baik


tinggi

empat perusahaan yang


tergabung dan memiliki
pangsa pasar 60-100% persen,
sehingga mudah menentukan
kesepakatan harga relatif
Perusahaan dominan Menguasai min 50-100%
pangsa pasar tanpa pesaing
kuat
Oligopoli longgar
Gabungan empat perusahaan
yang menguasai pangsa pasar
40%
Persaingan
Banyak pesaing efektif
monopolistic
dan tidak satupun yang
memiliki pangsa pasar bih dari
10%
Persaingan murni
Pesaing > dari 50 dan tidak
ada satupun yang
Memiliki pangsa pasar
yang berarti.

Tinggi Kurang baik

Tinggi Kurang baik

Tinggi Kurang baik

Rendah

Cukup baik

Sangat
rendah

Baik

Sumber: Shepherd (1992)


Berdasarkan Tabel 2, karakteristik suatu pasar ditinjau dari tipe
pasarnya, kondisi utama, hambatan masuk dan efisiensi pasar (Shepherd
1992). Karakteristik ini yang dapat dijadikan acuan dalam penelitian ini
untuk menentukan struktur industri gula yang diketahui dari besarnya
konsentrasi industri gula.
Dasar pengelompokkan berdasarkan pangsa pasar terbagi menjadi tujuh.
Pertama; termasuk monopoli murni (natural monopoly), jika menguasai
100% pangsa pasar. Kedua; oligopoli penuh (tight oligopoly), jika empat
perusahaan terbesar menguasai 60%, atau delapan perusahaan menguasai
99% pasar. Ketiga; termasuk perusahaan dominan, jika 4 empat
perusahaan terbesar menguasai 72% pasar atau delapan perusahaan
terbesar menguasai 88% pasar. Keempat; termasuk oligopoli longgar, jika
4 empat perusahaan terbesar menguasai 61% atau delapan perusahaan
terbesar menguasai 77% pasar. Kelima; termasuk oligopsoni, jika 4 empat
perusahaan terbesar menguasai 33% atau delapan perusahaan terbesar
menguasai 45% pangsa pasar. Kelima; jika 4 empat perusahaan terbesar
menguasai 32% pasar. Keenam; termasuk persaingan monopolistik, jika
tidak satu pun yang memiliki pangsa pasar lebih dari 10 persen. Dan
ketujuh; termasuk persaingan murni, jika lebih besar dari 50% dan tidak
satu pun yang memiliki pangsa pasar yang berarti (Shepherd 1992)
.Struktur ini mempengaruhi perilaku perusahaan. Struktur dan
perilaku mempengaruhi kinerja pasar. Kinerja yang baik mencakup harga
yang rendah dan efisien. Struktur pasar juga menggambarkan ukuran
distribusi perusahaan-perusahaan yang berkompetisi di suatu pasar yang

11
terdiri dari pangsa pasar dan tingkat konsentrasi. Struktur pasar juga dapat
dilihat dari jumlah penjual dan pembeli dan entry condition. Hal utama dari
struktur, perilaku dan kinerja adalah determinan-determinan yang
membentuk struktur itu sendiri.
Stuktur pasar didefinisikan sebagai kumpulan berbagai faktor yang
mempengaruhi tingkat kompetisi di pasar. Struktur pasar sendiri dipengaruhi
oleh berbagai faktor seperti tingkat penguasaan teknologi, elastisitas
permintaan terhadap suatu produk, lokasi, ada atau tidaknya hambatan
masuk pasar (entry barrier) ataupun keterbukaan pasar, tingkat efisiensi
serta beberapa faktor lainnya. Jenis struktur pasar bervariasi, namun pada
dasarnya secara ekstrim bisa dikelompokkan ke dalam dua bentuk yaitu,
pasar pasar persaingan sempurna dan pasar persaingan tidak sempurna.
Yang termasuk kedalam pasar persainagn tidak sempurna adalah pasar
monopoli, oligopoli, dan pasar persaingan monopolistik.
Ukuran biasa digunakan untuk menjelaskan struktur pasar adalah rasio
konsentarasi. Selain rasio konsentrasi, struktur pasar juga dapat diukur
dengan variabel nilai tambah, rasio tenaga kerja dan bahan baku, modal
yang dimiliki perusahaan atau lebih luas lagi dengan variabel aset
perusahaan (Fitriani 2005).
Perlu dipahami bahwa konsep struktur pasar bersifat dinamis, artinya
struktur pasar yang tadinya mengarah ke persaingan sempurna, dapat saja
berubah menjadi monopolistis karena adanya intervensi pemerintah atau
aksi dari produsen. Kondisi struktur pasar selanjutnya akan mempengaruhi
perilaku perusahaan dalam menentukan harga jual, promosi produk, juga
dalam strategi interaksi dengan perusahaan lain. Terdapat dua jenis strategi
interaksi antara pelaku usaha, yaitu (1) interaksi yang bersifat nonkooperatif, dimana strategi yang diambil akan menguntungkan dirinya
sendiri atau bahkan merugikan pesaingnya, dan (2) interaksi yang bersifat
kooperatif, dimana terjadi berbagai kesepakatan antara pelaku usaha dalam
bentuk kartel dan kesepakatan harga. Pilihan strategi oleh pelaku usaha
sangat penting karena akan berdampak pada penetapan harga. Interaksi
antara struktur pasar dan perilaku perusahaan pada akhirnya akan
melahirkan keputusan pelaku usaha dalam hal penetapan harga jual (Baye
2010).
Ukuran biasa yang digunakan untuk menjelaskan struktur pasar adalah
rasio konsentarasi. Selain rasio konsentrasi, struktur pasar juga dapat diukur
dengan variabel nilai tambah, rasio tenaga kerja dan bahan baku, modal
yang dimiliki perusahaan atau lebih luas lagi dengan variabel aset
perusahaan (Fitriani 2005). Menurut Jaya (2001), konsentrasi adalah
kombinasi pangsa pasar dari perusahaan-perusahaan oligopolis dimana
mereka menyadari adanya saling ketergantungan. Kombinasi pangsa pasar
membentuk suatu tingkat pemusatan dalam pasar. Untuk menentukan
konsentrasi suatu perusahaan dapat menggunakan metode rasio konsentrasi
empat atau delapan perusahaan terbesar (CR4 dan CR8)) dan Indeks
Hirschmann-Herfindahl (HHI). CR4 memerlukan ukuran pasar secara
keseluruhan dan ukuran perusahaan yang memimpin pasar, sedangkan
HHI merupakan penjualan kuadrat pangsa pasar semua perusahaan dalam
suatu industri.

12
CR4 = (Total jumlah penjualan 4 perusahaan terbesar/Total Penjualan..(1)
CR8 = (Total jumlah penjualan 8 perusahaan terbesar/Total Penjualan..(2)

Nilai yang dihasilkan antara 0-100. Semakin besar nilai CR4 maka
pasar cenderung ke arah monopoli dan semakin kecil nilainya pasar
cenderung ke arah persaingan sempurna.
Sedangkan menurut Baye (2010) konsentrasi rasio merupakan ukuran
seberapa jumlah output dalam sebuah industri yang diproduksi dari empat
atau delapan perusahaan terbesar dalam sebuah industri.
CR4 = (Q1+Q2+Q3+Q4)/QT
Q1
= Output perusahaan 1
Q2
= Output perusahaan 2
Q3
= Output perusahaan 3
Q4
= Output perusahaan 4
Menurut Shepherd (1992) ada atau tidaknya hambatan masuk
pasar (entry barrier) ataupun keterbukaan pasar juga mempengaruhi
kinerja pasar dalam memperoleh keuntungan (meningkatkan PCM),
sehingga dalam penelitian ini juga memasukkan variabel keterbukaan
pasar (OPEN). Variabel ini diadopsi dari model Culha dan Yihan (2005),
dimana OPEN dianggap variabel yang mempengaruhi kinerja pasar
(PCM), adapun dalam penelitian ini, variabel OPEN merupakan variabel
dummy, yang mengindikasikan keterbukaan pasar, dimana 0 adalah
industri gula sebelum pasar bebas dan 1 adalah periode industri gula
setelah pasar bebas.
Kinerja Pasar
Menurut Sudibiyo (2002) kinerja pasar merupakan hasil keputusan
akhir yang diambil dalam hubungan dengan persaingan harga atau dalam
perolehan margin/keuntungan. Kinerja pasar dapat digunakan untuk melihat
sejauh mana pengaruh struktur pasar terhadap kemampuan perusahaan
memperoleh keuntungan.
Menurut Hasibuan (1992), kinerja industri adalah hasil kerja yang
dipengaruhi oleh struktur dan perilaku industri yang terdiri dari tingkat
keuntungan, efisiensi dan nilai tambah. Perilaku produsen yang
memaksiumkan keuntungan dalam industri dapat dilihat dari price-cost
margin (PCM), yaitu persentase penerimaan kotor (sebelum pajak) terhadap
penjualan (Fitriani 2005).
Menurut Dahl dan Hammond (1977), kinerja pasar merupakan
keadaan sebagai akibat dari struktur dan perilaku pasar yang kenyataan
sehari-hari ditunjukkan dengan harga, biaya, dan volume produksi, yang
pada akhirnya akan memberikan penilaian baik atau tidaknya kinerja
perusahaan. Berdasarkan teori kekuatan pasar terdapat hubungan antara
struktur pasar dengan perilaku harga, hubungan ini dapat diukur dari
perolehan margin atau PCM perusahaan dalam industri, yang dalam
beberapa model penelitian merupakan salah satu ukuran kinerja pasar.
Menghitung PCM juga dapat diturunkan dari fungsi keuntungan,
dikarenakan tidak memungkinkan tersedianya harga barang domestik untuk
setiap barang industri KLBI. Maka variabel PCM didekati dari selisih antara

13
harga dan biaya yang dihitung dari nilai tambah dikurangi biaya tenaga
kerja dibagi nilai output.
Berdasarkan Culha dan Yihan (2005) variabel rasio biaya input
merupakan variabel pelengkap dan berdasarkan ketersediaan data, maka
model ini bisa diadopsi. Efisiensi digunakan untuk melihat perbandingan
antara input yang dipakai dengan output yang dihasilkan. Efisiensi terdiri
atas dua jenis, yaitu efisiensi internal dan efisensi alokatif.
Berdasarkan teori kekuatan pasar terdapat hubungan antara struktur
pasar dengan kinerjanya, hubungan ini dapat diukur dari perolehan margin
perusahaan dalam industri yang merupakan salah satu ukuran kinerja pasar.
MC

AC

MC
P1

AC
P2

D
MR
Q
Q1

Q2

4a

4b

Gambar 4 Hubungan kekuatan pasar dengan kemampuan memaksimumkan


keuntungan maksimum) (Sumber: Koch dalam Robiani 2002)
Berdasarkan Gambar 4 a, terlihat bahwa P1 > AC > MC dan output
perusahaan yang memaksimumkan keuntungan adalah Q1, pada kondisi
struktur pasar monopolis. Sedangkan Pada Gambar 4 b, terlihat bahwa P2 =
AC > MC dan output perusahaan yang memaksimumkan keuntungan
adalah Q2, pada kondisi tidak ada kekuatan pasar karena P2 = AC atau
struktur pasar kompetitif (Robiani 2002).

Konsep Keuntungan
Teori yang digunakan dalam mengetahui kondisi keuntungan
perusahaan adalah marginal cost pricing melalui maksimisasi biaya.
Motivasi bagi produsen untuk melakukan kegiatan ekonomi adalah
memperoleh keuntungan, yang merupakan kepentingan perusahan
individual/pribadi (self interest). Harga merupakan petunjuk yang sangat
berguna dalam mengalokasikan sumber-sumber ekonomi yang jumlahnya
tertentu sehingga dapat di perkirakan apakah biaya produksi rata-rata masih
memberikan keuntungan, baik keuntungan ekonomi (supernormal profit)
atau keuntungan yang normal. Bila perusahaan memutuskan untuk
menghasilkan output pada saat menghasilkan 1 unit output tambahan

14
akan menghasilkan MR yang lebih besar dari biaya yang harus dikeluarkan.
Begitu juga jika MR<MC, biaya yang harus dikeluarkan untuk
memproduksi 1 unit barang terakhir lebih besar dari penerimaan yang akan
diperoleh seandainya barang tersebut dijual (Nicholson ' 1994).
.Perusahaan yang menginginkan laba maksimum akan mengambil
keputusan secara marginal. Untuk memperoleh keuntungan yang maksimum
perusahaan dalam kondisi dimana MR=MC (marginal revenue=marginal
cost). MR = dR/dQ = dC/dQ = MC (lihat Gambar 5).

Gambar 5 Kondisi MR=MC untuk memperoleh laba maksimum (Sumber:


Nicholson ' 1994)
Adapun secara akuntansi, keuntungan adalah kelebihan penghasilan
dari biaya-biaya yang dikeluarkan perusahaan. Secara matematika, hal ini
dirumuskan menjadi (R-C); dimana R adalah penghasilan, sedangkan C
adalah komponen ongkos pada satuan waktu tertentu. Menurut konsep
ekonomi, keuntungan merupakan bagian nilai tambah atau pendapatan yang
diciptakan oleh perusahaan (Robiani B 2002).
Berdasarkan konsep pola keuntungan, kinerja dapat digambarkan
melalui PCM (Price Cost Margin). Menghitung PCM juga dapat diturunkan
dari fungsi keuntungan, dikarenakan tidak memungkinkan tersedianya harga
barang domestik untuk setiap barang industri KLBI. Maka variabel PCM
didekati dari selisih antara harga dan biaya yang dihitung dari nilai tambah
dikurangi biaya tenaga kerja dibagi nilai output (Robiani 2002), secara
matematis dapat di tulis:
PCM = (Nilai tambah Upah total)/Nilai Input) X 100% ..(4)
Dimana:
NA
: Nilai tambah
UT
: Upah Total
TI
: Total Input

15

Rasio Biaya Input Unit labor Cost (ULC) dan Unit Material Cost
(UMC)
Variabel rasio Unit labor Cost (ULC) dan Unit Material Cost
(UMC) merupakan rasio antara input/biaya tenaga kerja dan biaya bahan
baku per nilai output. Berdasarkan Culha dan Yihan (2005) variabel rasio
biaya input merupakan variabel pelengkap dan berdasarkan ketersediaan
data, maka model ini bisa diadopsi, dimana model tersebut dimodifikasi
dari model berikut ini:
PCM = f (CR4, ULC, UMC, OPEN.(5)

Konsep Efisiensi
Nilai output suatu industri pengolahan merupakan nilai keluaran yang
dihasilkan dari proses kegiatan industri yang berupa barang yang dihasilkan,
tenaga listrik yang dijual, jasa industri, keuntungan jual beli, pertambahan
stok barang setengah jadi dan penerimaan lain. Sedangkan biaya input
adalah biaya yang dikeluarkan dalam proses industri yang berupa bahan
baku, bahan bakar, barang lainnya diluar bahan baku/bahan penolong, jasa
industri, sewa gedung, dan biaya jasa non industri (Statistik Indonesia,
2009). Menurut Baye (2010) dan ketersediaan data, efisiensi dapat dihitung
melalui pendekatan nilai tambah, sehingga dirumuskan:
Nilai Tambah
Efisiensi =
X100% .......... (6)
Nilai Output
Menurut Badan Pusat Statistik (2000), efisiensi merupakan hasil dari
biaya input yang dibagi dengan nilai output. Efisiensi ini digunakan untuk
melihat perbandingan antara input yang dipakai dengan output yang
dihasilkan. Efisiensi terdiri atas dua jenis, yaitu efisiensi internal dan
efisensi alokatif. Efisiensi internal menunjukkan perusahaan dikelola dengan
baik dan ada usaha maksimum dari dari para pekerja. Efisensi alokatif
menggambarkan sumber daya ekonomi yang dialokasikan sedemikian rupa
sehingga tidak ada lagi perbaikan dalam berproduksi yang dapat menaikkan
nilai dari output.
Karakteristik Produk
Tebu merupakan bahan baku industri gula. Dilihat dari aspek
agronomis tebu merupakan tanaman perkebunan/industri berupa rumput
tahunan. Tanaman ini merupakan komoditi penting karena di dalam
batangnya terkandung 20% cairan gula. Tanaman ini diperkirakan berasal
dari India, di Jawa Barat tebu dikenal dengan naman tiwu sejak 400 tahun
yang lalu. Adapun klasifikasi tanaman tebu adalah sebagai berikut:
Divisi
Sub Divisi

: Spermatophyta
: Angiospermae

16
Kelas
Keluarga
Genus
Spesies

:
:
:
:

Monocotyledonae
Poaceae
Saccharum
Saccharum officinarum

Klasifikasi Gula di Indonesia


Gula terdiri dari beberapa jenis berdasarkan standar ICUMSA
(International Commission for Uniform Methods of Sugar Analysis).
Semakin putih gula maka semakin kecil nilai ICUMSA dalam skala
international unit (IU), berdasarkan standar tersebut gula dibedakan seperti
berikut ini.
Gula Kristal Putih
Kementerian Perindustrian mengelompokkan gula kristal putih ini
menjadi tiga bagian yaitu Gula kristal putih 1 dengan nilai ICUMSA 250,
Gula kristal putih 2 dengan nilai ICUMSA 250-350 dan Gula kristal putih 3
dengan nilai ICUMSA 350-4507. Semakin tinggi nilai ICUMSA maka
semakin coklat warna dari gula tersebut serta rasanya pun yang semakin
manis. Gula tipe ini umumnya digunakan untuk rumah tangga dan
diproduksi oleh pabrik-pabrik gula didekat perkebunan tebu dengan cara
menggiling tebu dan melakukan proses pemutihan, yaitu dengan teknik
sulfitasi.
Perkembangan Produksi Tebu Indonesia
Perkembangan produksi tebu di Indonesia selama tiga tahun terakhir
terus mengalami penurunan. Tahun 2010 mencapai 2.29 juta ton dan turun
1.95 persen pada tahun 2011 menjadi 2.24 juta ton. Pada tahun 2012
produksi tebu mengalami peningkatan sebasar 15.87% atau menjadi 2.60
juta ton. Adapun komposisi produksi secara lengkap dapat dilihat pada tabel
berikut ini:
Tabel 3 Perkembangan produksi tebu Indonesia tahun (Ton) 2010-2012
Tahun

2010
2011
2002

Perkebunan
Rakyat (PR)
1.208.897
1.191.161
1.450.720

Perkebunan
Besar Negara
(PBN)
331.400
314.228
410.068

Perkebunan
Besar Swasta
(PBS)
748.438
621.280
739.564

Jumlah

2.288.735
2.126.669
2.600.352

Pertum
buhan
(%)
-1.93
-7.08
15.86

Sumber : BPS (2012)


Produksi tebu (setara gula) terbesar berasal dari propinsi jawa timur.
Pada tahun 2012 produksi tebu jawa timur sebesar 1.24 juta ton atau sekitar
48.40% dari total produksi tebu Indonesia. Sementara itu propinsi lainnya
yang juga merupakan penghasil tebu yang cukup besar yakni Lampung

17
sebesar 747.08 ribu ton (28.7%), Jawa Tengah sebesar 247.48 ribu ton (9.52
%), dan Jawa Barat sebesar 114.48 ribu ton (4.40%).
Persentase produksi tebu yang diusahakan oleh perkebunan rakyat
(PR) selama periode 2010-2012 yakni berkisar 52.82 57.23%, sedangkan
perkebunan besar negara (PBN) berkisar 14.48-16.71%, dan untuk
perkebunan besar swasta (PBS) berkisar 29.21-32.70%. Produksi tebu
Indonesia tahun 2012 sebesar 2.60 juta ton yang berasal dari PR sebesar
1.45 juta ton (55.79%), PBN sebesar 0.41 juta ton (15.77%), dan PBS
sebesar 0.74 juta ton (28.44%).
Perkembangan Konsumsi Gula di Indonesia
Berdasarkan Gambar 1, Gula pasir Indonesia mengalami kenaikan
setiap tahunnya. Di tahun 2012 konsumsi nasional sebesar 5.34 juta ton
(BPS, 2012). Sebagai salah satu komoditas startegis di Indonesia. secara
historis, kebutuhan gula per kapita relatif stagnan sekitar 12 kg per tahun
sejak tahun 1990 dengan tren pertumbuhan yang meningkat pertambahan
jumlah penduduk. Sebaliknya, perkembangan konsumsi gula industri dalam
kurun waktu 1990-2007 cenderung berfluktuatif mengikuti perkembangan
kinerja industri penggunanya. Pada periode krisis, konsumsi gula industri
menurun secara signifikan hingga di bawah level konsumsi tahun 1990
sejalan dengan penurunan kinerja industripenggunannya. Namun demikian,
sejak 2000 konsumsi gula industri mulai mengalami peningkatan hingga
mencapai 1 juta ton di 2007. Diantara industri pengguna gula, industry
minuman merupakan konsumen terbesar (7%), disusul oleh industri
pengolahan susu (6%) dan industri roti dan biskuit (3%) (GAPPMI 2010).
Perkembangan Impor Gula Indonesia
Indonesia merupakan negara pengimpor gula terbesar kelima di
dunia setelah Eropa Timur, Timur Tengah, Afrika, dan Uni Eropa (lihat
Gambar 6) dengan volume lebih dari 2 juta ton per tahun.

18
Gambar 6 Negara pengimpor gula di dunia dan volume impor gula (Sumber:
GAPPMI 2010)
Secara historis, perkembangan impor gula sangat jelas dipengaruhi
oleh kebijakan pemerintah. Periode 1996-1998, impor gula mengalami
peningkatan sangat tajam karena pemberlakuan tarif impor 0%, hilangnya
hak monopoli impor Bulog sejak tahun 1998, sehingga jumlah importir
tumbuh pesat dan harga gula dunia yang lebih rendah daripada biaya
produksi dalam negeri. Selain mempengaruhi impor, kebijakan pemerintah
juga berperan penting dalam stabilisasi harga gula di tingkat eceran.
Sepanjang 1993-2007 perkembangan harga gula di tingkat konsumen
cenderung stabil di bawah Rp 1000/kg. relatif stabilnya harga gula tidak
terlepas dari peran Bulog sebagai stabilisator harga gula melalui penetapan
harga jual gula di tingkat petani (harga provenue) yang didasarkan atas
target harga eceran pemerintah, tingkat inflasi sebagai representasi biaya
produksi dan transportasi, dan harga pupuk sebagai representasi biaya
produksi. Sebaliknya, pada periode setelah krisis di mana Bulog sudah tidak
memiliki wewenang untuk mengatur harga di tingkat petani, tren harga di
tingkat konsumen cenderung meningkat dengan tingkat volatilitas yang
lebih tinggi mengikuti perkembangan pasar (GAPPMI 2010).
Berdasarkan Tabel 4, Selama periode 2010-2012 impor gula tebu
Indonesia memiliki pola yang cenderung meningkat. Pada tahun 2010
volume impor gula mencapai 1.38 juta ton (US$ 803 juta), pada tahun 2011
mengalami peningkatan sebesar 71.52% menjadi 2.37 juta ton dengan nilai
sebesar US$ 1.64 miliar. Kemudian meningkat kembali di tahun 2012
menjadi 2.74 atau naik sekitar 15.71% dan mencapai nilai sebesar US$1.62
miliar.
Tabel 4 Perkembangan impor gula Indonesia Tahun 2010-2012
Tahun
2010
2011
2012

Volume (Ton)
1 382 525
2 371 250
2 743 778

Nilai (000US$)
803 114
1 638 729
1 618 307

Pertmbuhan (%)
0.66
71.52
15.71

Sumber: BPS (2012)


Tahun 2011 lima Negara terbesar yang menjadi pemasok gula
Indonesia berturut-turut dengan volume dan persentase yaitu Thailand
sebesar 1.09 juta ton atau sebesar 46.24%, Brazil sebesar 757 ribu ton atau
32.93%, Australia sebesar 315 ribu ton atau 13.27%, Guatemala sebesar 50
ribu ton atau 2.12%, dan India sebesar 49 ribu ton atau 2.06% seperti yang
tertera dalam tabel berikut ini:

19
Tabel 5 Negara pemasok gula impor Indonesia
No

Negara Asal
Thailand
2
Brazil
3
Australia
4
Guatemala
5
India
6
Lain-lain
Jumlah

Volume (ton)
1 096 392
757 220
314 584
50 350
48 750
103 954
3 371 250

Persentase Volume (%)


46.24
31.93
13.27
2.12
2.06
4.38
100.00

Sumber: BPS (2011)


Selain itu Perum Bulog juga berperan dalam impor gula kristal putih
sesuai dengan ijin impor yang diberikan oleh pemerintah cq. Kementrian
Perdagangan RI. Pada tahun 2010 kuota impor yang diberikan kepada
Perum Bulog sebanyak 50.000 ton dengan rincian sebagai berikut.
Tabel 6 Alokasi impor gula kristal putih wewenang Bulog
Pelabuhan
Bongkar
Tanjung Priok
Panjang
Boom Baru
Pulai Bai
Teluk Bayur
Dumai

Tujuan/Lokasi

Kuantum (Ton)

DKI
Jabar
Lampung
Sumatera
Selatan
Bengkulu
Sumatera Barat
Riau

7 000
21 000
5 000
5 000
2 000
5 000
5 000

Sumber: GAPPMI ( 2010)


Perkembangan Harga Gula Indonesia
Harga gula domestik selama tiga dekade terakhir cenderung
mengalami peningkatan setiap tahunnnya, pada tahun 2011 saja kenaikan
harga gula domestic meningkat sebesar 20.2% (lihat Gambar 1.2).
Perkembangan harga gula di tingkat eceran dipengaruhi harga pembelian
pemerintah (HPP) tingkat petani. Namun demikian, pengaruh dari HPP
terhadap harga eceran gula di tingkat konsumen relatif kurang dominan
dibandingkan pengaruh harga impor terutama sejak 1998 ketika pemerintah
menyerahkan pembentukan harga di tingkat petani pada mekanisme pasar,
sehingga Bulog sudah tidak memiliki wewenang tunggal dalam pembelian
gula petani. Kondisi tersebut diperburuk lagi dengan struktur pasar gula
yang sejak 2002 hanya dikuasai oleh 8 perusahaan besar. Kedelapan
perusahaan tersebut memiliki peran ganda sebagai pembeli gula di tingkat
petani dan sebagai importir terdaftar. Dengan demikian, kedelapan
perusahaan tersebut dapat menguasai pasokan dalam negeri baik yang
berasal dari domestik maupun lokal dan imbasnya berpengaruh pula pada
pembentukan harga gula di tingkat konsumen.
Permasalahan gula lainnya adalah tidak ada perhitungan neraca gula
yang akurat. Pada Desember 2009 diperkirakan ada shortage sebanyak 500
ton sehingga Bulog sebagai buffer kemudian membeli gula. Akan tetapi

20
kemudian harga gula menurun tiba-tiba pada Maret 2010 setelah
sebelumnya sempat mencapai angka Rp.12.000/Kg (GAPPMI 2010).
Struktur Industri Gula Indonesia
Industri gula lokal pada awalnya hanyalah industri gula kristal putih.
Sementara untuk gula rafinasi masih dilakukan impor. Akan tetapi sekitar
tahun 2000-an, ketika harga raw sugar meningkat tajam, pemerintah
mengeluarkan kebijakan pembangunan pabrik gula rafinasi.
Struktur Industri Gula Kristal Putih
Industri gula kristal putih pada awalnya didominasi oleh BUMN, yaitu
PTPN dan RNI. Jumlahnya mencapai hampir 10 perusahaan yang tersebar
di Pulau Jawa dan Sumatera. Dimana mulai dari produsen gula hingga
distributor gula hanya dikuasai oleh beberapa pemain besar saja. Pasokan
gula kristal putih di dalam negeri sebagian besar berasal dari enam pelaku
usaha saja yakni PTPN IX, PTPN X, PTPN XI, RNI, Gunung Madu dan
Sugar Group Companies. Secara keseluruhan komposisi pasokan gula
kristal putih dapat dilihat dalam Gambar 7 berikut.

Gambar 7 Komposisi produksi gula kristal putih Indonesia Tahun 2009


(Sumber: GAPPMI 2010)
Berdasarkan komposisi di atas, PTPN X, PTPN XI dan sugar group
merupakan tiga pemain utama yang masing-masing pangsa produksinya di
tahun 2009 yaitu 18.72%, 15.64% dan 18.96%. Sugar group mampu
menjadi leader dalam industri ini karena perusahaan tersebut merupakan
satu-satunya perusahaan yang telah efisien dalam industri gula ini.

21
Struktur industri gula kristal putih dalam negeri pada saat musim
giling pada umumnya bersifat oligopsoni sehingga produsen (petani tebu
dan pabrik gula, PTPN/RNI) tidak menerima harga yang wajar. Sebaliknya
di luar musim giling, struktur industri gula kristal putih bersifat oligopoli
sehingga harga di tingkat konsumen relatif tinggi dan produsen tidak
menikmati kenaikan harga tersebut. Hal ini disebabkan karena sebagian
besar stok gula kristal putih dikuasai oleh hanya beberapa pedagang besar
(Arifin 2008).
Memecahkan persoalan tersebut dan dalam rangka memperkuat
sinergi BUMN, pada tahun 2008 pemerintah menunjuk Perum Bulog
menjadi agen pemasaran gula kristal putih milik PTPN/RNI, dengan pangsa
pasar hanya sekitar 14%. Pemasaran yang dilakukan oleh Perum Bulog
dinilai berhasil meningkatkan peran segmen pasar distributor tingkat 2 (D2)
dan D3 yang sebelumnya didominasi oleh D1 Peran Bulog dinilai
memberikan dua dampak positif yaitu efisiensi margin akibat rantai
pemasaran yang lebih pendek serta distribusi margin yang lebih merata pada
pelaku usaha, khususnya D2 dan D3 sebagaimana digambarkan dalam tabel
berikut.
Tabel 7. Serapan gula oleh lini distribusi
Pembeli (Distributor)
D1
D2
D3
Total

Jumlah
12
10
94
126

% Jumlah
9.50
15.90
74.60
100

Volume (Ton)
204.600
169.550
128.613
502.763

% Volume
40.70
33.70
25.60
100

Sumber: GAPPMI (2010)


Pusat dan Jalur Distribusi Gula di Indonesia
Berdasarkan peta penyebaran (Gambar 8), distribusi gula Indonesia
hanya terpusat di Jakarta dan Surabaya.

Gambar 8. Pusat distribusi gula di Indonesia (Sumber: GAPMI 2010)


Dengan produsen utama yang berada di Lampung dan Surabaya, maka
tidak heran jika pusat distribusi gula hanya berada di sekitar dua wilayah
tersebut. Lampung dan Jakarta menjadi satu pusat distribusi sedangkan
Surabaya dan Semarang menjadi satu untuk wilayah timur. Jalur distribusi
antara gula kristal putih dan gula rafinasi berbeda. Secara lengkap jalur

22
distribusi gula kristal putih dapat dilihat pada Gambar 9. Sedangkan
pembagian jalur distribusi sebagai berikut:
1. Produsen/Importir Distributor Sub distributor Grosir Retail
Jalur ini merupakan jalur terpanjang dari rantai distribusi di industri gula
Indonesia. Jalur ini bisa ditemui di daerah yang memang sangat jauh dari
jangkauan pedagang utama gula, mereka akhirnya menggunakan jalur
tradisional yang melibatkan lebih banyak pedagang dengan skala
distribusi yang semakin kecil. Distributor utama sebagian besar
keberadaanya dekat
dengan produsen/gudang dimana gula
diproduksi/diimpor.
2. Produsen/Importir Distributor Grosir Retailer
Kondisi distribusi dengan jalur seperti ini memiliki beberapa
kemungkinan antara lain:
1. Rantai setelah distributor (sub distributor) secara ekonomis tidak lagi
dibutuhkan. Artinya grosir dapat melakukan pembelian langsung ke
distributor, tanpa melalui sub distributor yang justru menimbulkan
inefisiensi. Misalnya karena jarak antara gudang distributor dengan
grosir sangat dekat.
2. Sub distributor dimiliki langsung oleh distributor, sehingga dalam
jalur distribusi tersebut keberadaan sub distributor menjadi seperti
menyatu dengan distributor dan tidak tampak menjadi bagian dari
distributor.
3. Produsen/Importir Distributor Retailer
Jalur distribusi ini mereduksi peran sub distributor dan grosir. Hal ini
memiliki dua kemungkinan:
1. Secara ekonomis ada keuntungan yang luar biasa bagi distributor
ketika dapat menyalurkan langsung ke retailer. Hal ini
dimungkinkan karena tidak ada lagi kendala ekonomis yang
dihadapi oleh distributor untuk menyalurkan langsung ke retailer
yang mampu membeli dengan skala sangat besar. Misalnya tidak ada
kendala terkait dengan angkutan dan biaya transportasi lainnya.
2. Dalam pola yang lebih maju seperti yang dilakukan oleh Garuda
Panca Arta (Lampung) yang mendistribusikan produk Gulaku, maka
tidak ada hambatan berarti untuk langsung mendistribusikan
produknya tersebut ke retailer. Dalam hal ini perusahaan industri
gula mendirikan anak perusahaan yang bergerak di distribusi gula.
4. Produsen Retailer
Model seperti ini juga dilakukan oleh beberapa PTPN tetapi dalam skala
yang sangat kecil, biasanya dilakukan pendistribusian ke beberapa
koperasi pesantren di provinsi Jawa Timur yang selama ini menjadi
lumbung gula Indonesia. Dari koperasi inilah para anggotanya kemudian
mengkonsumsi langsung gula.

23

Gambar 9 Jalur Distribusi Gula Kristal Putih di Indonesia (Sumber: GAPMI


2010)
Kebijakan Industri Gula di Indonesia
Gula merupakan komoditi yang harganya dikontrol oleh pemerintah
sehingga harga yang terjadi sangat tergantung pada kebijakan gula yang ada.
Bagian ini akan menjabarkan kebijakan-kebijakan pemerintah dalam
industri gula. Kebijakan pergulaan secara garis besar dapat dibagi menjadi
tiga regim yaitu (i) periode stabilisasi (1971-1996); (ii) perdagangan
bebas/liberalisasi (1997-2001); dan (iii) pengendalian impor (2002sekarang) (DGI 2005).
Periode regim stabilisasi ditandai oleh berbagai kebijakan
pemerintah untuk mendorong produksi dalam negeri, stabilitas persediaan
dan harga di pasar domestik (Gambar 8). Pada periode ini, kebijakan yang
diterapkan pemerintah sangat intensif baik pada sisi produksi, distribusi, dan
harga. Sebagai langkah awal, pemerintah mengeleluarkan Keppres No.
43/1971 yang pada dasarnya memberi wewenang kepada Bulog untuk
menjaga stabilitas harga dan pasokan gula pasir. Surat Keputusan ini
menandai era dimulainya peran Bulog sebagai lembaga stabilisator.

24

Tabel 8 Kebijakan industri gula Indonesia regim stabilisasi


Regim
Kebijakan
Suportif
dan
Stabilisasi

Nomor
SK/Keppres/Kepmen
Keppres No. 43/1971, 14
Juli1971

Perihal
Pengadaan, penyaluran,
dan pemasaran gula

Surat mensekneg No.


B.136/ABN
SEKNEG/33/74, 27
Maret 1974
Inpres No. 9/1975, 22
April 1975

Penguasaan, pengawasan,
dan penyaluran gula pasir
non PNP

Kepmen Perdagangan
dan koperasi No.
122/kp/III/81, 12 Maret
1981
Kepmenkeu No.
342/KMK.011/1987

Tataniaga gula pasir


dalam negeri

Intensifikasi tebu (TRI)

Penetapan harga gula


pasir produksi dalam
negeri dan impor

Tujuan
Menjaga
stabilitas gula
sebagai bahan
pokok
Penjelasan mengenai
Keppres No. 43/1971 yang
meliputi gula PNP
Peningkatan produksi gula
serta peningkatan petani
tebu
Menjamin kelancaran
pengadaan dan penyaluran
gula pasir serta peningkatan
pendapatan petani
Menjamin stabilitas harga,
devisa, serta kesesuian
pendapatan petani dan
pabrik

Sumber: Susila (2005)


Pada periode stabilisasi ini, secara umum kinerja industri gula
Indonesia menunjukkan stabilitas dan kemajuan yang gradual. Pada periode
tersebut, areal meningkat dengan laju 2.2% per tahun, dengan rata-rata luas
areal mencapai 381.341 ribu ha. Pada akhir periode ini (1997), areal tebu
nasional mencapai 386.878 ribu ha. Produksi juga mengalami peningkatan
dengan laju 1.0% per tahun, dengan rata-rata produksi mencapai 2.207 juta
ton dengan produksi nasional pada akhiri periode ini mencapai 2.191 juta
ton.
Tabel 9 Periode kebijakan dan dampaknya terhadap impor dan kinerja
pergulaan nasional
Periode

Tahun

Pertumbuhan (%)
Konsumsi
Impor
1.0
4.2
17.5
-5.8
-0.6
2.4
8.1
1.5
-5.32
Volume Rata-rata (Juta Ton)
Produksi
Konsumsi
Impor
2.207
2.573
0.312
1.719
3.060
1.519
2.034
2.800
0.762
Produksi

Stabilisasi
Liberalisasi
Terkendali

1984-1996
1997-2001
2002-2004

Stabilisasi
Liberalisasi
Terkendali

1984-1996
1997-2001
2002-2004

Sumber: Susila 2005)


Karena periode ini adalah periode stabilisasi, maka impor menjadi
bersifat residual. Bulog sebagai lembaga yang mengelola impor gula
menjadikan impor sebagai selisih antara konsumsi dengan produksi
domestik. Karena bersifat residual, maka volume impor cenderung fluktuatif
pada periode tersebut. Pada periode 1984-1991, impor cenderung
meningkat. Kemudian menurun mencapai titik terendah pada tahun 1994
dimana impor gula hanya 15 ribu ton. Pada posisi ini, Indonesia sudah dapat

25
mengklaim mencapai swasembada gula. Akhir periode stabilisasi ditandai
oleh meningkatnya kembali impor.
Tabel 10 Kebijakan industri gula Indonesia regim liberalisasi
Regim
Kebijakan

Nomor
SK/Keppres/Kepmen

Liberalisasi

Inpres No. 5/1997, 29 Desember


1997
Inpres No. 5/1998, 21 Januari 1998
Kepmen
perindag
No.
25/MPP/Kep/1/1998
Kepmenhutbun
No.
282/KptsIX/1999, 7 Mei 1999
Kepmen
Perindag
No.
363/MPP/Kep/8/1999, 5 Agustus
1999
Kepmen
perindag
No.
320/MPP/Kep/6/1999, 5 Juni 1999

Perihal

Tujuan

Program pengembangan tebu


rakyat
Penghentian pelaksanaan Inpres
No. 5 tahun 1997
Komoditas yang diatur tata niaga
impornya
Penetapan harga provenue gula
pasir produksi petani
Tataniaga impor gula

Pemberian peranan pada pelaku bisnis dalam


rangka perdagangan bebas
Kebebasan kepada petani untuk memilih
komoditas sesuai Inpres No. 12//1992
Mendorong efisiensi dan kelancaran arus
barang
Menghindari kerugian petani dan mendorong
peningkatan produksi
Pengurangan anggaran pemerintah melalui
impor gula oleh produsen

Kepmen
Perindag
No.
363/MPP/Kep/8/1999, 5 Agustus
1999

Pembebanan tarif impor gula


melindungi industri dalam negeri

untuk

Sumber: Susila (2005)


Berdasarkan Tabel 10, pada periode perdagangan bebas/liberalisasi
(1997-2002), pemerintah membuka pasar impor Indonesia secara dramatis.
Dalam hal ini, pelaku impor dibebaskan, atau tidak dimonopoli oleh Bulog.
Dengan argumen untuk peningkatan efisiensi ekonomi, pemerintah
mengeluarkan Kepmenperindag No. 25/MPP/Kep/1/1998 yang tidak lagi
memberi monopoli pada Bulog untuk mengimpor komoditas strategis,
termasuk mengimpor gula. Era ini merupakan akhir dari peran Bulog
sebagai lembaga yang memonopoli impor, sekaligus dimulainya era
perdagangan bebas untuk gula di pasar Indonesia. Karena tidak ada tarif
impor pada periode ini, maka impor gula dilakukan dengan tarif impor 0%
dan pelaku dilakuakn oleh perusahaan importir. Akibatnya, impor gula
melonjak pesat pada periode ini. Jika pada tahun 1996 impor masih dibawah
1 juta ton, maka pada tahun 1977 sudah mencapai 1.36 juta ton dan
mencapai puncaknya menjadi 1.73 juta ton pada tahun 1998.
Banjirnya gula impor dengan harga murah membuat industri gula
dalam negeri mengalami kontraksi/kemunduran. Pada periode ini areal turun
drastis dari 446 ribu ha pada tahun 1996 menjadi sekitar 350 ribu ha pada
periode liberalisasi. Sebagai akibatnya, produksi menurun dari lebih diatas 2
juta ton pada akhir periode stabilisasi menjadi sekitar 1.5 juta ton pada
periode liberalisasi.
Kebijakan tersebut yang diduga berkaitan dengan tekanan IMF
merupakan suatu perubahan kebijakan yang sangat drastis sehingga
mempunyai dampak yang cukup luas terhadap industri gula Indonesia. Hal
ini diperkuat lagi oleh krisis ekonomi Indonesia yang semakin parah yang
menyebabkannya terjadinya kenaikan biaya produksi. Pada tingkat
usahatani tebu, kenaikan biaya produksi tersebut terutama sebagai akibat
kenaikan upah dimana usaha tani tebu memerlukan tenaga kerja yang cukup
besar yaitu 600 HOK/ha untuk lahan sawah dan 400 HOK/ha untuk lahan
kering. Pada tingkat pabrik, biaya tenaga kerja mencapai sekitar 30% dari
keseluruhan biaya produksi (Susmiadi 1998).
Ketika krisis ekonomi Indonesia mulai berkurang pada tahun 1999,
harga gula di dalam negeri justru mengalami penurunan yang signifikan.
Penurunan tersebut disebabkan tiga faktor yaitu harga gula dunia terus
menurun, nilai tukar Rupiah yang menguat, serta tidak adanya tarif impor.

26
Pada tahun 1999, rata-rata harga dunia di pasar internasional adalah US$
137.3/ton, sedangkan nilai tukar Rupiah pada saat tersebut rata-rata
mencapai Rp 7100/US$. Sebagai akibatnya, harga paritas impor gula pada
saat itu mencapai titik terendah yaitu antara Rp 1800-1900 per kg. Hal ini
membuat harga gula dalam negeri mengalami tekanan. Untuk melindungi
produsen, maka pemerintah mengeluarkan SK Menhutbun No. 282/KPTSIV/1999 yang kembali menetapkan harga provenue gula sebesar Rp 2500
per kg.
Kebijakan harga provenue tersebut ternyata merupakan kebijakan
yang tidak efektif karena tidak didukung oleh rencana tindak lanjut yang
memadai. Sebagai contoh, untuk mengimplementasikan kebijakan tersebut,
pemerintah tidak memiliki dana yang memadai. Di sisi lain, BUMN
perkebunan yang mengelola gula juga tidak memiliki dana yang memadai
untuk melaksanakan kebijakan tersebut. Sebagai akibatnya, kebijakan
tersebut menjadi tidak dapat diwujudkan sehingga harga gula petani masih
tetap mengalami ketidak-pastian.
Mengatasi masalah tersebut, maka pemerintah melalui Departemen
Perindustrian dan Perdagangan mengeluarkan SK Menperindag No.
364/MPP/Kep/8/1999. Instrumen utama dari kebijakan tersebut adalah
pembatasan jumlah importir dengan hanya mengijinkan importir produsen.
Dengan kebijakan ini, pemerintah dapat membatasi dan mengendalikan
volume impor di samping memiliki data yang lebih valid mengenai volume
impor dan stok. Dengan demikian, harga gula dalam negeri dan harga gula
di tingkat petani dapat ditingkatkan.
Kebijakan importir produsen tersebut ternyata masih kurang efektif,
baik untuk mengangkat harga gula di pasar domestik maupun mengontrol
volume impor. Walau tidak ada data pendukung yang memadai, kegagalan
tersebut terutama disebabkan oleh stok gula dalam negeri sudah terlalu
banyak serta masih adanya gula impor ilegal. Situasi ini membuat harga
gula di pasar domestik tetap melemah. Desakan petani dan pabrik gula
terhadap pemerintah untuk melindungi industri gula dalam negeri semakin
kuat (DGI 1999). Menanggapi tekanan ini, pemerintah mengeluarkan
kebijakan tarif impor dengan SK Menperindag No.230/MPP/Kep/6/1999
yang memberlakukan tarif impor gula sebesar 20% untuk raw sugar dan
25% untuk white sugar.
Tabel 11 Kebijakan industri gula Indonesia regim terkendali
Regim
Kebijakan

Nomor
SK/Keppres/Kepmen

Terkendali

Kepmenkeu No.
324/KMK.01/2002
Kepmen perindag No.
643/MPP//Kep/9/2002, 23
September 2002

Perubahan bea
masuk
Tataniaga impor
gula

Peningkatan efektifitas bea masuk

Kepmen Perdag No.


527/MPP/Kep/2004 jo
Kepmen perindag No.
02/M/Kep/XII/2004 jo
Kepmen perindag No. 08/MDag/Per/4/2005

Pengaturan impor,
kualitas gula, dan
harga referen gula
petani

Pembatasan pelaku impor gula; waktu impor, dan


harga penyangga/jaminan

Sumber: Susila (2005)

Perihal

Tujuan

Pembatasan pelaku impor gula hanya menjadi


importir gula produsen dan importir gula terdaftar
untuk meningkatkan pendapatan petani/produsen

27
Ketika harga gula domestik terus merosot dan industri gula sudah
diambang kebangkrutan dan tekanan produsen (PG dan petani) semakin
kuat, pemerintah mengeluarkan kebijakan yang bertujuan untuk
mengendalikan impor, dengan membatasi importir hanya menjadi importir
produsen dan importir terdaftar. Era ini merupakan era dimulainya regim
pengendalian impor. Gula yang diimpor oleh importir produsen hanya
dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan industri dari IP tersebut, bukan
untuk diperdagangkan. Di sisi lain untuk menjadi IT, bahan baku dari PG
milik IT minimal 75% berasal dari petani. Kebijakan ini dituangkan dalam
Kepmenperindag No. 643/MPP/Kep/9/ 2002, 23 September 2002. Esensi
lainnya yang penting dari kebijakan tersebut adalah bahwa impor gula akan
diijinkan bila harga gula di tingkat petani mencapai minimal Rp 3100/kg.
Kebijakan ini diharapkan mampu meningkat harga di dalam negeri sehingga
memperbaiki pendapatan produsen.
Kebijakan tataniaga gula tersebut dinilai masih memiliki beberapa
kelemahan seperti belum jelas spesifikasi mutu gula, waktu impor, dan
jaminan harga untuk petani. Untuk itu, pemerintah menyempurnakan
kebijakan tersebut dengan Kep Menperindag No. 527/MPP/Kep/2004 jo
Kep Menperindag No. 02/M/Kep/XII/2004 jo Kep Menperindag No. 08/MDAG/Per/4/2005. Esensi kebijakan adalah ketentuan ICUMSA yang secara
nyata membedakan gula kristal putih, gula rafinasi, dan raw sugar;
kejelasan waktu dan pelabuhan impor, serta kenaikan harga referensi di
tingkat petanui menjadi Rp 3800/kg. Jika kebijakan ini diikuti oleh
perbaikan efisiensi di tingkat usahatani dan PG, kebijakan ini diperkirakan
akan efektif untuk mendorong perkembangan industri gula nasional.
Kebijakan-kebijakan pada periode ini cukup efektif untuk
membangkitkan kembali industri gula nasional, walaupun faktor eksternal
seperti kenaikan harga gula di pasar internasional juga turut menolong
industri gula nasional. Dari sisi areal, dampaknya mulai tampak dan pada
tahun 2005 areal diperkirakan mulai meningkat secara signifikan.
Produksi mulai meningkat dan mulai tahun 2004 produksi sudah
kembali diatas 2 juta ton. Sebagai akibatnya, impor mulai menurun dari
sekitar 1.5 juta ton menjadi sekitar 1.3 juta ton. Jika kebijakan-kebijakan ini
dipertahankan dan didukung oleh program revitalisasi pembangunan
industri gula nasional, Indonesia dapat berharap mencapai swasembada gula
pada tahun 2010 (proporsi impor adalah sekitar 90% dari konsumsi
nasional).
Paling tidak, kebijakan-kebijakan tersebut akan memberi
landasan yang memadai untuk kebangkitan industri gula nasional.

Penelitian Terdahulu
Terdapat beberapa penelitian yang menggunakan metode SCP.
Indiani (2006) meneliti Analisis Struktur, Perilaku, dan Kinerja Industri
Susu di Indonesia. Data yang digunakan adalah sekunder time-series dari
tahun 1983-2002 dengan analisis OLS (Ordinary Least Square). Dari
penelitian tersebut diperoleh bahwa struktur pasar yang dimiliki oleh

28
industri susu di Indonesia adalah oligopoli ketat dengan rasio konsentrasi
sebesar 73.79 %. Hasil pengujiannya menunjukkan bahwa semua
variabel (CR4, prod, growth, X-EFF) signifikan pada taraf nyata 10%.
Darmayanti (2007) Analisis Struktur, Kinerja dan Kluster Industri
Logam Dasar Besi dan Baja di Indonesia. Jenis data yang digunakan data
sekunder time-series selama tahun 1995-2004 dengan metode OLS, analisis
cluster dengan SIG (Sistem Informasi Geografis). Analisis kinerja dalam
industri ini diamati dari kontribusi tenaga kerja, nilai tambah, dan jumlah
unit usaha industri logam dasar besi dan baja Indonesia terhadap total
industri manufaktur. Selain itu, kinerja industri ini juga dilihat dari sudut
profit yang diperoleh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur industri
logam dasar besi dan baja Indonesia adalah oligopoli ketat dengan rata-rata
rasio konsentrasinya (CR4) sebesar 71.15%.
Agustina (2009) Analisis StrukturPerilaku-Kinerja Industri Pakan
Ternak di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data time-series dengan
metode OLS selama tahun1981-2005. Untuk pendekatan struktur,
penelitian ini menggunakan analisis konsentrasi pasar (CR4), Indeks HHI.
Dalam pendekatan perilaku industri menggunakan strategi produk, promosi,
kemitraan, dan distribusi. Untuk kinerja industri, penelitian ini
menggunakan indikator keuntungan dengan Price Cost Margin
(PCM). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa struktur pasar
merupakan oligopoli longgar dengan pangsa pasar sebesar 41.33 % dan nilai
MES sebesar 16.61 % yang berarti hambatan untuk masuk pasar termasuk
tinggi. Tingkat keuntungan pada industri pakan ternak dikatakan masih kecil
dengan rata-rata 19.56 %. Hal ini disebabkan oleh biaya input yang
terlampau besar terutama besarnya biaya untuk bahan baku. Dari hasil
analisis regresi dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang memengaruhi
PCM industri pakan ternak adalah CR4, MES, GROWTH, dan Xeff.
Kuncoro dkk (2002) dalam penelitian yang berjudul Struktur, Kinerja,
dan Kluster Industri Rokok Kretek Indonesia 1996-1999. Hasil penelitian
menyimpulkan bahwa struktur pasar mampu menjelaskan perilaku industri,
hal ini ditunjukkan oleh adanya indikasi semakin tingginya rasio konsentrasi
industri, maka pasar semakin mengarah pada perilaku oligopoli.
GAPPMI (2010) indikator inefisiensi pemasaran adalah margin
pemasaran sangat besar sehingga meskipun harga gula dunia rendah, dengan
monopolisasi impor, harga eceran akan dapat membumbung tinggi. Adanya
kebijakan pemerintah dengan SK 643 mampu menurunkan margin
pemasaran dan mengontrol perilaku produsen di pasar domestik.
Deaton dan Laroque (1992) dan Tomek (2000) menyimpulkan faktor
yang sangat berpengaruh terhadap pembentukan harga komoditas pangan,
yakni faktor produksi/panen (harvest disturbance) dan perilaku
penyimpanan (storage/inventory behavior).
Yang dan Hwang (2001), mengkaji dampak liberalisasi perdagangan
terhadap harga barang industri domestik Korea. Dengan model proksi PCM
sebagai pelaku monopoli, maka harga domestik tergantung pada tingkat
kompetisi industri tersebut dan pangsa impor. Indikator liberalisasi
perdagangan terhadap perilaku perusahaan yang tercermin dari kinerja

29
marjin keuntungannya. Model PCM baik digunakan pada industri domestik
yang lebih terkonsentrasi.
Penelitian Hall (1988) terhadap industri di Amerika Serikat dan Small
(1997) terhadap industri manufaktur dan jasa di Inggris, menyimpulkan
bahwa PCM industri menunjukkan perilaku harga produsen bersifat procyclical. Sedangkan penelitian Martins et al (1996) terhadap industri di 15
negara OECD, menyimpulkan bahwa PCM industri menunjukkan perilaku
harga produsen bersifat counter-cyclical.
Studi empiris yang mengidentifikasi kekuatan pasar seperti Geroski
et al (1996), menjelaskan penelitian perilaku produsen dengan model siklus
bisnis merupakan metodologi untuk memperkirakan mark-up harga di
tingkat agregat/industri. Metode ini menggunakan fluktuasi jangka pendek
dari perbedaan antara tingkat pertumbuhan output dan input produksi.
Roeger (1995) menyatakan metode perkiraan mark-up dengan
menambahkan terkait dengan struktur pasar yang berlaku dalam suatu
industri, diharapkan mampu menilai tingkat mark- up harga, dan menilai
apakah sebuah kasus dapat dibuat untuk aksi kebijakan, karena itu penting
untuk menetapkan jenis kompetisi yang berlaku pada industri dan
menyediakan gambaran yang komprehensif untuk mempertahankan proses
yang industri yang kompetitif.
Secara tradisional struktur pasar terkait dengan kondisi teknologi,
seperti skala ekonomi dan ruang lingkup (Panzar 1989), sehingga
perusahaan mungkin dapat mempengaruhi permintaan untuk produk mereka
di bawah rezim persaingan monopolistik ( Dixit dan Stiglitz 1977), di mana
kekuatan pasar yang terbatas dapat timbul dari kombinasi atas skala dan
diferensiasi produk horisontal.

30
3 KERANGKA PEMIKIRAN
Kerangka Pemikiran Teoritis
Konsep Structure-Conduct-Performance (SCP)
Menurut Baye (2010), konsep SCP terdiri dari tiga aspek yang
berhubungan. Berdasarkan dasar konsep SCP Mason (1939),
mengemukakan bahwa struktur suatu industri akan menentukan perilaku
industri, yang pada akhirnya menentukan kinerja industri. Karena konsep
SCP merupakan hubungan yang timbale balik diantara variabelvariabel
SCP, sehingga pendekatan ini menunjukkan bahwa struktur, perilaku, dan
kinerja dalam satu waktu berada pada system, dimana struktur dan
perilaku adalah penentu kinerja, dilain waktu struktur dan perilaku
ditentukan oleh kinerja. Adapun hubungan antara struktur, perilaku, dan
kinerja dapat dilihat pada Gambar 10. Berdasarkan hubungan konsep dasar
SCP, maka memungkinkan melakukan analisa keterkaitan antara struktur
dan kinerja industri gula di Indonesia.
Kinerja Industri

Kinerja Industri

Kinerja Industri

Gambar 10 Hubungan Struktur, Perilaku, dan Kinerja Berdasarkan


Konsep SCP Mason (1939) (Sumber: Baye (2010))

Konsep Structure-Performance (SP)


Terkait konsep struktur terhadap kinerja (SP), dalam penelitian ini,
struktur pasar diidentifikasi dari variabel rasio konsentrasi empat dan
delapan perusahaan besar industri gula dan variabel keterbukaan industri.
Sedangkan kinerja pasar diidentifikasi dari variabel keuntungan, efisiensi
dan rasio input. Kedua komponen ini akan membentuk hubungan S-P yang
selanjutnya digunakan untuk mengetahui keterkaitan antar faktor-faktor ini
dalam Industri gula Indonesia.
Analisa struktur pasar dalam industri gula di Indonesia yang pada
akhirnya akan mempengaruhi kinerja melalui perilaku perusahaan. Hal
pertama yang akan dilakukan adalah menganalisis struktur pasar dengan
melihat konsentrasi rasio empat perusahaan besar (CR4) dan rasio
konsentrasi delapan perusahaan besar (CR8) industri gula. Selain itu juga
mengidentifikasi variabel keterbukaan pasar (OPEN) yang merupakan
variabel dummy.
Menggunakan pendekatan SP diharapkan mampu mengidentifikasi
dan mengantisifasi respon kinerja pasar terhadap struktur pasar atau

31
sebaliknya, serta lebih membantu dalam menentukan arah intervensi
pemerintah yang tepat dan relevan.

Struktur Pasar
Analisa struktur pasar dalam industri gula di Indonesia yang pada
akhirnya akan mempengaruhi kinerja melalui perilaku perusahaan. Hal
pertama yang akan dilakukan adalah menganalisis struktur pasar dengan
melihat konsentrasi rasio empat perusahaan besar (CR4) dan rasio
konsentrasi delapan perusahaan besar (CR8) industri gula. Selain itu juga
mengidentifikasi variabel keterbukaan pasar (OPEN) yang merupakan
variabel dummy.

Kinerja Pasar
Analisa kinerja pasar dalam industri gula di Indonesia merupakan
manifestasi karena adanya hubungan dengan struktur pasar. Dalam analisis
ini yang akan dilakukan adalah menganalisis miabel-variabel kinerja pasar
yang nilai memiliki saling keterkaitan dengan struktur. Adapun
berdasarkan teori dan studi literatur, variabel-variabel yang dianggap
mewakili antara lain: variabel keuntungan yang diukur dengan PCM,
variabel efisiensi yang diukur dengan tingkat efisiensi (X-eff), dan rasio
input yang diukur dengan rasio biaya tenaga kerja (ULC), dan rasio
penggunaan bahan baku (UMC). Mengadopsi model Silvester (1993),
dalam analisa kinerja,variabel price cost-margin (PCM), X-eff, rasio input
(ULC dan UMC) dijadikan ukuran untuk menilai kinerja dalam industri
gula.

32
Kerangka Pemikiran Operasional

Gambar 11 Kerangka Pemikiran Operasional

33

METODE PENELITIAN
Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian ini dibatasi pada industri gula gula pasir di
Indonesia, dengan Kode ISIC (Internasional Standard of Industrial
Classification) 31181dan 15421. Dipilihnya industri gula dikarenakan gula
merupakan salah satu komoditas pertanian yang telah ditetapkan Indonesia
sebagai komoditas khusus (special products) dalam forum perundingan
Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), bersama beras, jagung dan kedelai.
Selain itu indusri gula juga merupakan industri dengan tingkat kegagalan
pasar terbesar kedua setelah beras. Penelitian menganalisa ini struktur,
perilaku dan kinerja industri gula dan hubungan keterkaitannya.
Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder
yang menggunakan data time-series tahun 1982-2011. Sebagian besar data
diperoleh dari terbitan data Statistik Industri Besar dan Sedang dari Badan
Pusat Statistik (BPS). Data yang digunakan adalah industri gula skala besar
dan sedang dengan menggunakan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha
Indonesia (KBLI) yang berbasis pada Internasional Standard of Industrial
Classification (ISIC) lima digit dengan kode ISIC 31181, 15421, dan 10721.
Data tersebut memuat berbagai indikator variabel struktur industri dan
kinerja industri yang dibutuhkan untuk analisis, seperti seperti jumlah
perusahaan, nilai tambah, nilai tenaga kerja, nilai bahan baku, nilai serta
nilai input dan output industri. Akan tetapi, agar penjelasan lebih terarah
digunakan juga data pendukung dari berbagai sumber, antara lain berasal
dari berbagai referensi berupa jurnal penelitian, surat kabar warta pertanian,
buletin ilmiah, website, dan literatur-literatur yang relevan dengan penelitian
ini.

Teknik Pengolahan dan Analisis Data


Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini secara umum bersifat
deskriptif kualitatif dan deskriptif kuantitatif. Teknik analisis deskriptif
kualitatif yaitu dengan menggunakan tabulasi, grafik, dan deskripsi tentang
industri gula dan teori yang melandasi. Sedangkan analisis deskriptif
kuantitatif yaitu dengan melakukan analisis regresi metode ordinary leastsquare (OLS) terhadap variabel yang diamati, untuk melihat hubungan
antara variabel yang dianalisis. Kemudian melakukan pengujian hipotesis
sesuai dengan teori, serta melakukan intepretasi hasil analisis untuk
memecahkan dan menjawab permasalahan penelitian. Dalam analisis
kuantitatif pengolahan data dilakukan dengan bantuan perangkat lunak
Microsoft Excel dan E-Views 6.

34
Analisis Struktur Industri
Analisis Rasio Konsentrasi (Concentration Ratio)
Metode yang umum yang dipakai untuk mengukur konsentrasi
industri adalah rasio konsentrasi (CR). Dalam penelitian ini akan
dianalisis rasio konsentrasi empat perusahaan besar (CR4) dan delapan
perusahaan besar (CR8). CR4 dan CR8 digunakan untuk menunjukkan
pangsa pasar empat dan delapan perusahaan terbesar. Rasio konsentrasi
yang standar memerlukan data mengenai ukuran pasar secara keseluruhan
dan ukuran perusahaan-perusahaan yang memipin pasar terutama empat
dan delapan perusahaan terbesar yang menguasai pasar.
Menurut Baye (2010) rasio konsentrasi adalah jumlah pangsa
pasar (market share) dari sejumlah perusahaan terbesar. Akan tetapi
berdasarkan data yang dimiliki BPS, untuk mengukur rasio konsentrasi
bisa diperoleh dari persentase antara total output empat dan delapan
perusahaan terbesar dengan total output industri. Sehingga pengukuran
rasio konsentrasi untuk empat dan delapan perusahaan terbesar adalah
sebagai berikut:
CRi = (Qi/TQ) x 100 %.......(7)
Dimana
CR
: Rasio konsentrasi
i
: empat atau delapan perusahaan terbesar
Q
: Nilai output
TQ
: Total nilai ouput industri
Nilai CR4 berkisar antara 0-100. Nilai konsentrasi perusahaan yang
mendekati nol menunjukkan bahwa pangsa pasar perusahaan kecil (menuju
persaingan sempurna). Sedangkan jika nilai rasio konsentrasi mendekati 100
mengindikasikan adanya monopoli dari perusahaan terbesar.
Nilai CR 33% menunjukkan pasar tergolong competitive market
structure, 33-50% menunjukkan pasar weak oligopsony market structure,
dan jika 50% maka menunjukkan pasar strongly oligopsony market
structure (Baye 2010).
Menurut Shepherd (1992), dasar pengelompokkan berdasarkan pangsa
pasar terbagi menjadi tujuh. Pertama; termasuk monopoli murni (natural
monopoly), jika menguasai 100% pangsa pasar. Kedua; oligopoli penuh
(tight oligopoly), jika empat perusahaan terbesar menguasai 60%, atau
delapan perusahaan menguasai 99% pasar. Ketiga; termasuk perusahaan
dominan, jika 4 empat perusahaan terbesar menguasai 72% pasar atau
delapan perusahaan terbesar menguasai 88% pasar. Keempat; termasuk
oligopoli longgar, jika 4 empat perusahaan terbesar menguasai 61% atau
delapan perusahaan terbesar menguasai 77% pasar. Kelima; termasuk
oligopsoni, jika 4 empat perusahaan terbesar menguasai 33% atau delapan
perusahaan terbesar menguasai 45% pangsa pasar. Kelima; jika 4 empat
perusahaan terbesar menguasai 32% pasar. Keenam; termasuk persaingan
monopolistik, jika tidak satu pun yang memiliki pangsa pasar lebih dari 10
persen. Dan ketujuh; termasuk persaingan murni, jika lebih besar dari 50%
dan tidak satu pun yang memiliki pangsa pasar yang berarti.

35
Analisis Kinerja Industri
Analisis Price Cost-margim (PCM)
Analisa PCM dinyatakan sebagai indikator kemampuan perusahaan
untuk meningkatkan harga diatas biaya produksi (mark up ratio), PCM juga
didefenisikan sebagai persentase keuntungan dari kelebihan penerimaan atas
biaya langsung (Robiani 2002).
PCM = (Nilai Tambah Upah Total)/Nilai Input x 100 %....(8)

Analisis Efisiensi
Analisis efisiensi industri gula di Indonesia ini dilakukan dengan
menggunakan analisis rasio efisiensi (Baye 2010), dengan rumus sebagai
berikut:
X-eff = (Nilai Tambah/Nilai Input) x 100 %.....(9)
Rasio Unit labor Cost (ULC) dan Unit Material Cost (UMC)
Variabel rasio Unit labor Cost (ULC) dan Unit Material Cost
(UMC) merupakan rasio antara input/biaya tenaga kerja dan biaya bahan
baku per nilai output (Culha dan Yihan 2005).
ULC = (Nilai input tenaga kerja/nilai output).(10)
UMC = (Nilai input bahan baku/nilai ouput)..(11)
Analisis Hubungan Struktur dan Kinerja
Struktur suatu pasar dapat menjelaskan bagaimana kinerja pasar,
dimana setiap industri memiliki struktur dan kinerja yang berbeda-beda.
Struktur pasar yang optimal dapat memberikan atau menciptakan suatu
kombinasi yang baik bagi suatu kinerja. Sedangkan struktur yang alami
(natural structure) adalah struktur yang hanya terdapat dalam pasar yang
nyata, struktur alami cenderung ke arah oligopoli yang ketat.
Adapun untuk melihat hubungan struktur dan kinerja dalam
penelitian ini, digunakan model regresi berganda. Variabel dependen
adalah variabel kinerja pasar yaitu ukuran keuntungan yang diukur dengan
PCM (%). Sedangkan variabel independen ada yang merupakan struktur
yang diukur dengan CR4 (%) dan CR8 (%), serta OPEN (Dummy 0-1) 0
merupakan tahun sebelum pasar bebas dan 1 tahun setelah pasar bebas.
Sedangkan variabel-variabel eksogen lainnya merupakan unsur kinerja,
yang diukur dengan tingkat efisiensi (X-eff (%)), serta rasio input tenaga
kerja (ULC (Rp 000), dan rasio input bahan baku (UMC (Rp 000)).
Penggunaan variabel PCM sebagai variabel endogen telah
dilakukan oleh Collins dan Preston (1968,1969), lalu kemudian
digunakan pula oleh Shepherd (1972) dan kini PCM semakin banyak
digunakan dalam penelitianpenelitian ilmiah.

36
Rasio konsentrasi (CR) juga telah banyak digunakan Shepherd (1992)
sebagai variabel struktur yang akan dinilai mempengaruhi profitabilitas.
Sedangkan Katrak dalam Alistair (2004) menggunakan CR sebagai variabel
bebas utama yang menentukan keuntungan pasar.
Penggunaan variabel efisiensi-X didasarkan pada pendapat Shepherd
(1979) yang mengatakan bahwa kinerja merupakan fungsi dari pangsa pasar,
konsentrasi, hambatan masuk, efisiensi internal, dan kondisi eksternal.
Efisiensi-X juga digunakan oleh Robert (1995) dan Alistair (2004) dalam
model PCM mereka.

Perumusan Model
Model penelitian yang digunakan untuk melihat hubungan antara
struktur dan kinerja industri gula di Indonesia adalah dengan menggunakan
pendekatan SCP (Structure-Conduct-Performance), dengan metode regresi
ordinary least-square (OLS).
Penggunaan metode OLS dikarenakan metode ini merupakan metode
yang paling populer dan sangat berpengaruh dalam analisis garis regresi
serta memiliki ketepatan estimasi. Estimator-estimator yang diperoleh
dengan menggunakan metode least square dikenal dengan estimatorestimator least square. Estimator-estimator least square tersebut memilki
sifat-sifat sebagai berikut:
1. Estimator-estimator OLS hanya mengeskpresikan nilai-nilai yang dapat
diamati (yaitu, Y dan X) sehinga mudah dihitung,
2. Estimator-estimator itu merupakan estimator-estimator titik. Untuk
sampel tertentu, tiap estimator hanya memberikan satu nilai tunggal
pada parameter populasi yang relevan. Berbeda dengan estimatorestimator dalam interval yang memberikan kemungkinan-kemungkinan
berbagai nilai-nilai pada parameter-parameter populasi yang tidak
diketahui,
3. Sekali estimator-estimator dengan OLS diperoleh dari daata sampel,
garis regresi sampel dapat ditentukan dengan mudah.
Struktur pasar dapat menjelaskan kinerja pasar, dimana dasar model
ekonometrikanya adalah:
PCM = f (CR4, CR8, OPEN, ULC, UMC, X-eff)
Berdasarkan model di atas, maka model regresi hubungan struktur
dan perilaku industri gula di Indonesia dapat dirumuskan sebagai berikut:
PCMt = 0 + 1 CR4t + 2 CR8t + 3 X-efft + 4 ULCt +
5 U M C t + 6 O P E N t +U t ...(11)
Dimana :
PCMt=Rasio keuntungan industri gula pada tahun ke-t (%),
ULCt= Rasio biaya tenaga kerja pada tahun ke-t(Rp. 000)
UMCt= Rasio biaya bahan baku pada tahun ke-t (Rp. 000)
X-eff t = Tingkat efisiensi industri gula pada tahun ke-t (%),

37
OPENt = Variabel dummy keterbukaan pasar industri gula Indonesia (0-1),
0 = Intercept,
1, 2, 3 = Koefisien kemiringan parsial,
Ut = Unit error
Hipotesis
Penelitian mengenai SCP telah banyak dilakukan oleh peneliti
ekonomi. Namun, hubungan antara berbagai variabel dapat menghasilkan
kesimpulan yang berbeda. Berdasarkan teori-teori yang mendasari
penelitian ini, maka hipotesisnya antara lain:
1. Struktur pasar yang ada memengaruhi kinerjanya.
2. Variabel struktur pasar yakni CR4 dan CR8 diduga memiliki hubungan
positif terhadap PCM yang merupakan variabel perilaku industri.
Semakin tinggi rasio konsentrasi, maka semakin besar pula tingkat
keuntungan yang akan diperoleh perusahaan. Sedangkan variabel OPEN
diduga memiliki hubungan yang negatif, hal ini menunjukkan semakin
terbukanya pasar, maka semakin turun kemampuan perusahaan
meningkatkan keutungan, atau dengan kata lain adanya pasar bebas
menurunkan keutungan perusahaan.
3. Variabel efisiensi diduga memiliki hubungan yang positif terhadap
PCM. Semakin efisien suatu perusahaan maka semakin besar
kemampuan perusahaan meningkatkan keuntungan.
4. Adapun variabel struktur pasar yakni ULC dan UMC diduga memiliki
hubungan negatif terhadap PCM. ULC dan UMC adalah rasio
penggunan input tenaga kerja dan bahan baku, dimana secara teoritis
biaya merupakan unsur pengurang kinerja keuntungan. Sehinga semakin
tinggi rasio, maka semakin turun kemampuan perusahaan meningkatkan
keuntungan.
Analisis Time Series (Runtun Waktu)
Uji stasioneritas dimaksudkan untuk mengetahui sifat dan
kecenderungan data yang dianalisis, apakah mempunyai pola yang stabil,
stasioner atau tidak, apabila ditemukan data yang tidak memiliki sifat-sifat
di atas, maka berbagai indikator yang menyertai hasil analisis empiris atau
hasil analisis model regresi tidak menunjukkan sifat-sifat yang valid.
Pengujian akar unit (unit root) dilakukan untuk mengetahui
kestasioneran data, apakah data itu stasioner atau tidak stasioner. Untuk
mengetahui ada tidaknya unit root yaitu dengan menggunakan uji ADF
(Augmented Dickey-Fuller) pada program E-Views, data dikatakan stasioner
jika nilai ADF test statistik lebih kecil dari nilai Tabel Mackinnon.
Hipotesis yang digunakan adalah:
H0 = 0, data tidak stasioner (mengandung unit root).
H1 0, data stasioner (tidak mengandung unit root).
Penolakan hipotesis nol menunjukkan data yang dianalisis adalah
stasioner. Variabel dikatakan tidak stasioner, jika terdapat hubungan antara
variabel tersebut dengan waktu atau trend. Model yang mengandung
variabel yang tidak stasioner sering menimbulkan masalah regresi lancung

38
(spurious regression), yaitu dimana hasil estimasi yang diperoleh dari
model secara stastistik signifikan tetapi pada kenyataannya secara
ekonomi tidak memiliki arti apapun, atau tidak sesuai dengan teori ekonomi
yang ada. Setelah data diketahui tidak stasioner, langkah selanjutnya yaitu
dengan uji derajat integrasi.
Perbedaan antara data time series yang stasioner dan yang tidak yaitu,
jika stasioner dampak shock atau guncangan yang terjadi pada data time
series yang stasioner bersifat sementara. Sejalan dengan waktu, dampak
dari shock tersebut akan berkurang dan data time series akan kembali ke
long run mean yang berfluktuasi di sekitar mean (rata-rata) tersebut.
Perilaku dari data time series yang stasioner adalah sebagai berikut:
1). Mean dari data menunjukkan perilaku yang konstan
2). Data stasioner menunjukkan varians (ragam) yang konstan
3). Correlogram (diagram korelasi) yang menyempit seiring dengan
penambahan waktu
Data yang tidak stasioner adalah data yang cenderung mengalami
perubahan yang mendasar seiring dengan berjalannya waktu (time
dependent). Perilaku data yang tidak stasioner yaitu sebagai berikut :
1). Data time series yang tidak stasioner tidak memiliki long run mean.
2). Memiliki ketergantungan terhadap waktu, dan varians akan
memperbesar tanpa batas seiring dengan perubahan waktu.
3). Correlogram dari data tersebut cenderung melebar.

Analisis Regresi
Ekonometrika adalah integrasi dari teori ekonomi, matematika dan
statistik, untuk menduga nilai parameter dari hubungan-hubungan ekonomi
dan menguji teori ekonomi (Koutsoyiannis 1978). Sedangkan menurut
Roefiq (2002), analisis regresi adalah suatu metode yang berguna untuk
menentukan pola hubungan satu variabel yang disebut sebagai variabel
dependen dengan satu atau lebih variabel independen. Tujuan analisis
regresi adalah untuk memperkirakan nilai rata-rata dari variabel dependen
apabila nilai variabel yang menerangkan sudah diketahui. Dari persamaan
regresi yang telah diperoleh, terlebih dahulu harus diuji apakah memenuhi
kriteria yang ditetapkan, dalam arti tidak terjadi penyimpangan yang
cukup serius dari asumsi-asumsi yang diperlukan dalam model regresi.
Beberapa asumsi yang harus diuji terlebih dahulu dalam model regresi
adalah: Kenormalan, Multikolinearitas, Heteroskedastisitas dan
Autokorelasi. Jika asumsi yang ada dalam penerapan model regresi dapat
terpenuhi, maka dengan menggunakan metode Ordinary Least Square
(OLS) akan dapat dihasilkan koefisien regresi yang memenuhi sifat-sifat
Best Linear Unbiased Estimator (BLUE), yaitu koefisien regresi yang
linear, tidak bias, konsisten (walaupun sampel diperbesar menuju tak
terhingga, taksiran yang didapat akan tetap mendekati nilai parameternya),
serta efisien (memiliki varians yang minimum).

39
Adapun untuk menggambarkan hubungan yang terjadi antar variabel
yang kita duga dapat diwujudkan dengan membuat model. Model sendiri
adalah representasi dari keadaan nyata. Suatu model dikatakan baik jika
memenuhi kriteria yang ditetapkan, dalam arti tidak terjadi penyimpangan
yang cukup serius dari asumsi-asumsi yang diperlakukan dalam model
regresi. Kriteria-kriteria yang harus dipenuhi agar dapat dikatakan baik
adalah diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Kriteria Ekonomi
Kriteria ini ditentukan oleh dasar-dasar ekonometrika dan berhubungan
dengan tanda dan besar parameter dari hubungan ekonomi. Model yang
diperoleh akan dievaluasi berdasarkan teori-teori ekonomi yang ada
(Koutsoyiannis1978).
2. Kriteria Statistik
Kriteria ini menyangkut uji statistik untuk mengetahui ada tidaknya
pengaruh yang signifikan dari variabel-variabel eksogen terhadap
variabel endogen pada masing-masing persamaan maupun secara
bersamaan, kemampuan variabel eksogen dalam menjelaskan variasi
atau keragaman variabel endogen.
3. Kriteria Ekonometrika
Kriteria Ekonometrika didasari oleh asumsi-asumsi dari OLS sebagai
berikut (Gujarati1978):
a). Nilai rata-rata kesalahan pengganggu sama dengan nol, yaitu E (ei) = 0
untuk I = 1,2,3,...n.
b). Varian (ej) = E(Ej) = 2 sama untuk kesalahan pengganggu (asumsi
homoskedastisitas).
c). Tidak ada autokorelasi antara kesalahan pengganggu yang berarti
kovarian (ei,ej) = 0; i j.
d). Variabel eksogen X1, X2, X3, ..., X n konstan dalam sampling yang
terulang dan bebas terhadap kesalahan pengganggu, E(Xi,ei) = 0.
e). Tidak ada kolinier ganda diantara variabel eksogen X.
f). ei N(0,2), artinya kesalahan pengganggu mengikuti distribusi normal
dengan rata-rata nol dan varian 2.
Dengan dipenuhinya asumsi diatas, maka koefisien atau parameter
yang diperoleh merupakan penduga linier terbaik yang tidak bias atau Blue
Linier Unbiased Estimator (BLUE).

Uji Statistika dan Ekonometrika


Uji statistik dan ekonometrika dilakukan untuk melihat hasil regresi
yang didapatkan setelah melakukan pengujian-pengujian, apakah hasil
regresi tersebut telah memenuhi asumsi-asumsi dalam uji statistik dan
ekonometrika sehingga didapatkan model yang dikatakan baik.
Pertama, kriteria statistik yaitu menyangkut uji terhadap koefisien dari
variabel penduga atau variabel bebas melalui uji t. Koefisien penduga perlu
berbeda dari nol secara signifikan atau P-value sangat kecil. Uji kedua
adalah Uji F atau uji model secara keseluruhan. Uji F ini dilakukan untuk

40
melihat apakah semua koefisien regresi berbeda dengan nol atau model
diterima. Pengujian ketiga yaitu melihat koefisien determinasi R2 atau R2
adjusted. Koefisien determinasi ini menunjukkan kemampuan garis regresi
menerangkan variasi variabel terikat (proporsi (persen) variasi variabel
terikat yang dapat dijelaskan oleh variabel bebas). Nilai R2 atau R2 adjusted
berkisar antara 0 sampai dengan 1, semakin mendekati satu semakin baik.
Kedua, kriteria ekonometrika yaitu menyangkut pelanggaran asumsi
Ordinary Least Square (OLS) yaitu meliputi multikolinearitas,
heteroskedastisitas dan autokorelasi. Jika asumsi tersebut telah dipenuhi
maka akan memperoleh nilai parameter yang BLUE (Best Linear Unbiased
Estimator).
Ketiga, kriteria ekonomi yaitu uji tanda dan besaran untuk melihat
kecocokan tanda variabel dan nilai koefisien penduga dengan teori atau
nalar.
a. Uji t
Pengujian ditujukan untuk mengetahui tingkat signifikansi variabel bebas.
H0 : b1 = 0 atau bi = 0
H 1 : b 1 ~ 0 atau b i ~ 0
Kriteria uji :
Probability t-statistic ( a , maka tolak H0
Probability t-statistic ) a , maka terima H0
Jika H0 ditolak, maka variabel bebas berpengaruh nyata pada tarafa
terhadap variabel tak bebasnya. Sebaliknya, jika H0 diterima berarti variabel
bebas tidak berpengaruh nyata terhadap variabel tak bebas.
b. Uji F
Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui apakah model penduga yang
diajukan sudah layak untuk menduga parameter yang ada dalam fungsi.
Hipotesis :
H0 : b1 = 0 atau bi = 0
H 1 : minimal ada salah satu b 1 ~ 0 atau bi ~ 0
Kriteria uji :
Probability F-statistic ( taraf nyata (a ), maka tolak H0
Probability F-statistic ) taraf nyata (a ), maka terima H0
Jika H0 ditolak, berarti minimal ada satu variabel bebas yang
berpengaruh nyata terhadap variabel terikat dan model layak digunakan.
Sebaliknya jika H0 diterima, maka tidak ada satu pun variabel bebas yang
berpengaruh nyata.
c. Uji Multikolinearitas
Multikolinearitas muncul apabila diantara masing-masing variabel
independen saling berhubungan secara linear artinya adanya korelasi yang
kuat pada sesama variabel bebas (eksogen). Uji Multikolinearitas dilakukan
dengan melihat koefisien korelasi antar variabel eksogen yang terdapat pada
matriks korelasi. Suatu model tidak mengandung gejala multikoliniearitas
apabila nilai mutlak koefisien korelasi antar variabel eksogen lebih besar
dari |0.8|.
Multikolinearitas muncul apabila di antara masing-masing variabel
independen saling berhubungan secara linear. Jika hubungan itu sangat
erat yaitu (r= 1), berarti terjadi multikolinearitas sempurna, yang berakibat

41
tidak dapat ditentukannya koefisien dari variabel independen dan standar
deviasi dari koefisien tersebut menjadi sangat besar. Jika dari hasil
pengujian statistikanya didapatkan R2 besar, F-test besar, dan t-test juga
besar, berarti tidak terjadi multikolinearitas. Kalaupun terjadi, maka
derajat multikolinearitasnya rendah.
d. Uji Heteroskedastisitas
Heteroskedastisitas merupakan suatu kondisi dimana nilai varian
dari variabel eksogen tidak memiliki nilai yang sama. Untuk mengetahui
ada tidaknya masalah heteroskedastisitas yaitu dengan melihat nilai Obs*
R-square, jika nilai Obs*R-squared lebih besar dari taraf nyata yang
digunakan, maka persamaan tidak memiliki masalah heteroskedastisitas.
Namun dengan adanya heteroskedastisitas, taksiran parameter berdasarkan
Ordinary Least Square (OLS) akan tetap unbiased dan konsisten tetapi
tidak efisien, artinya memiliki varians yang lebih besar dari varian yang
minimum. Gejala adanya Heteroskedastisitas dapat ditunjukkan oleh
probability Obs*R-square pada uji White Heteroskedasticity.
H0 : y = 0
H1 : y = 0 Kriteria uji :
probability Obs*R-square ( a , maka tolak H 0
probability Obs*R-square ) a , maka terima H0
Jika H0 ditolak, maka terdapat gejala heteroskedastisitas pada model.
Sebaliknya jika H0 diterima, maka pada model tidak terdapat gejala
heteroskedastisitas.
e. Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah hasil estimasi model
tidak mengandung korelasi serial di antara disturbance term. Autokorelasi
adalah tingkat hubungan linier antara pengamatan ke-t dengan pengamatan
ke t + k, dimana k adalah selisih waktu (lag). Autokorelasi terjadi jika nilai
error tidak bersifat bebas antara yang satu dengan yang lainnya. Artinya
terjadi korelasi antar error, sehingga model yang baik menghasilkan error
yang acak dan tidak berpola. Akibatnya varian (keragaman) yang diperoleh
under estimate. Untuk mendeteksi autokorelasi, dapat digunakan uji DurbinWatson atau dengan melihat nilai Obs* R-squared pada Breusch-Godfrey
Serial Correlation LM Test, jika nilai Obs*R squared lebih besar dari taraf
nyata yang digunakan maka persamaan tidak memiliki autokorelasi.
Hipotesis :
H0 : p = 0
H1 : p = 0 Kriteria uji
probability Obs*R-square ( a , maka tolak H 0
probability Obs*R-square ) a , maka terima H0
Jika H0 ditolak maka terjadi autokorelasi (positif atau negatif) dalam
model. Sebaliknya jika H0 diterima maka tidak ada autokorelasi dalam
model.

42

5 HASIL DAN PEMBAHASAN


Perkembangan Industri Gula Indonesia Tahun 1982-2011
Berdasarkan Gambar 12, perkembangan Industri gula terlihat
konstan mulai dari tahun 1982 hingga tahun1995, dimana
perkembangan nilai output dan nilai tambah konstan seperti tahun
sebelumnya. Akan terjadi peningkatan yang signifikan tahun 1996
hingga tahun 2001, namun kemudian turun di dua tahun terakhir
yakni tahun 2002 dan 2003, dan kembali trend meningkat mulai
tahun2006 hingga 2008, kemudian turun ditahun 2009, kembali
meningkat ditahun 2010, hingga kembali turun di tahun 2011.
Selama periode 1982 hingga 2011, industri gula Indonesia
masih dihadapkan pada tingginya pengeluaran untuk input bahan
baku. Mulai 1982 hingga tahun 1987 pemakaian input bahan baku
masih bersifat konstan.Akan tetapi mulai terjadi kenaikan yang
fluktuatif menjelang tahun 1988 hingga tahun 1999, dan kemudian
trend meningkat drastic menjelang tahun 2000 hingga 2006, lalu
turun 2007 hingga 2009, kemudian meningkat kembali di tahun 2010
dan turun di tahun 2011.

Gambar 12 Perkembangan nilai input, nilai output dan nilai tambah Industri
gula Indonesia periode 1982-2011 (Sumber: BPS)

43

Gambar 13 Perkembangan biaya input industri gula Indonesia periode 19822011 (Sumber: BPS)
Berdasarkan Gambar 13, selama periode 1982 hingga 2011,
industri gula Indonesia masih dihadapkan pada tingginya
pengeluaran untuk input bahan baku. Mulai 1982 hingga tahun 1987
pemakaian input bahan baku masih bersifat konstan.Akan tetapi
mulai terjadi kenaikan yang fluktuatif menjelang tahun 1988 hingga
tahun 1999, dan kemudian trend meningkat drastic menjelang tahun
2000 hingga 2006, lalu turun 2007 hingga 2009, kemudian meningkat
kembali di tahun 2010 dan turun di tahun 2011.
Berdasarkan Gambar 14 di atas, jumlah total perusahaaan besar dan
sedang dalam industri gula cenderung konstan fluktuatif, hanya terjadi
perbedaan komposisi antara PMDN dan PMA di setiap tahunya. Jumlah
perusahaan tertinggi terjadi pada tahun 1985 sebanyak 72 perusahaan,
sedangkan jumlah perusahaan terendah terjadi pada tahun 1982 sebanyak 58
perusahaan.

Gambar 14 Perkembangan jumlah perusahaan besar dan sedang industri gula


Indonesia periode 1982-2011 (Sumber: BPS)

44
Analisis Struktur Industri
Industri pengolahan gula merupakan salah satu industri yang selalu
mendapat perhatian khusus dari pemerintah dikarenakan industri ini
berdampak besar terhadap kebutuhan hidup masyarakat luas.
Industri gula di Indonesia berawal dari industri gula lokal dan hanya
industri gula kristal putih. Sementara untuk gula rafinasi masih dilakukan
impor. Akan tetapi sekitar tahun 2000-an, ketika harga raw sugar meningkat
tajam, pemerintah mengeluarkan kebijakan pembangunan pabrik gula
rafinasi.
Awalnya industri gula kristal putih didominasi oleh BUMN, yaitu
PTPN dan RNI. Jumlahnya mencapai hampir 10 perusahaan yang tersebar
di Pulau Jawa dan Sumatera. Dimana mulai dari produsen gula hingga
distributor gula hanya dikuasai oleh beberapa pemain besar saja. Pasokan
gula kristal putih di dalam negeri sebagian besar berasal dari enam pelaku
usaha saja yakni PTPN IX, PTPN X, PTPN XI, RNI, Gunung Madu dan
Sugar Group Companies. Secara keseluruhan komposisi pasokan gula
kristal putih dapat dilihat dalam (Gambar 7).
Berdasarkan komposisi di atas, PTPN X, PTPN XI dan Sugar Group
merupakan tiga pemain utama yang masing-masing pangsa produksinya di
tahun 2009 yaitu 18,72%, 15,64% dan 18,96%. Sugar Group mampu
menjadi leader dalam industri ini karena perusahaan tersebut merupakan
satu-satunya perusahaan yang telah efisien dalam industri gula ini (GAPPMI
2010) .
Struktur industri gula kristal putih dalam negeri pada saat musim
giling pada umumnya bersifat oligopsoni sehingga produsen (petani tebu
dan pabrik gula, PTPN/RNI) tidak menerima harga yang wajar. Dan
sebaliknya di luar musim giling, struktur industri gula kristal putih bersifat
oligopoli sehingga harga di tingkat konsumen relatif tinggi dan produsen
tidak menikmati kenaikan harga tersebut. Hal ini disebabkan karena
sebagian besar stok gula kristal putih dikuasai oleh hanya beberapa
pedagang besar (Arifin 2008).
Berdasarkan keterangan di atas, struktur industri gula putih di
Indonesia mengindikasikan adanya dominasi produsen gula yang diduga
telah menciptakan suatu tindakan monopoli yang masih diperdebatkan oleh
pakar hukum dan pejabat pemerintah.
Berdasarkan keterangan di atas, struktur industri gula putih di
Indonesia mengindikasikan adanya dominasi produsen gula yang diduga
telah menciptakan suatu tindakan monopoli yang masih diperdebatkan oleh
pakar hukum dan pejabat pemerintah. Berdasarkan data konsentrasi pasar
yang diperoleh dari BPS selama periode 1982-2011, rata-rata konsentrasi
rasio empat perusahaan terbesar (CR4) adalah sebesar 32.46%. Dengan
konsentrasi rasio CR4 tertinggi terjadi di tahun 2009 yaitu sebesar 64.25%.
Sedangkan untuk konsentrasi rasio delapan perusahaan terbesar (CR8)
adalah sebesar 51.41%. Dengan konsentrasi rasio CR8 tertinggi yaitu
sebesar 74.2% yang juga terjadi pada tahun 2009. Hal ini diduga karena
pada tersebut, terjadi peningkatan jumlah perusahaan besar dalam industri
gula. Peusahaan Milik Dalam Negeri (PMDN) meningkat dari 51

45
perusahaan menjadi 53 perusahaan, begitupula perusahaan dengan besar
milik swasta (PMA) meningkat dari 2 perusahaan menjadi 4 perusahaan.
Meskipun secara total pada tahun tersebut kenaikan jumlah perusahaan
tidak besar, hanya persentase perusahaan besar meningkat jauh dan
menurunkan presentase perusahaan kecil dalam industri. Kondisi ini
memberikan peluang bagi perusahaan-perusahaan besar menguasai pasar,
kondisi ini diduga bisa menyebabkan sedikit sekali perusahaan baru yang
berani bersaing artinya tingkat persaingannya menurun sehingga
menyebabkan naiknya tingkat konsentrasi rasio perusahaan industri.
Berdasarkan keterangan di atas, kondisi struktur pasar gula
Indonesia, dilihat dari rata-rata konsentrasi rasio CR4 sebesar 32.46%, dan
rata-rata konsentrasi delapan perusahaan besar (CR8) sebesar 51.41%.
Menurut Shepherd (1992), termasuk oligopoli kuat, sedangkan menurut
Baye (2010) jika menguasai 33-50% pangsa pasar termasuk pasar weak
oligopsony market structure.
Analisis Kinerja Industri
Kinerja pasar mencerminkan bagaimana pengaruh kekuatan pasar
terhadap keuntungan dan efisiensi. Tingkat keuntungan suatu perusahaan
merupakan salah satu ukuran dari kinerja perusahaan. Tingkat keuntungan
dapat dicerminkan melalui PriceCost-Margin (PCM) dan tingkat efisiensi
dapat dilihat melalui efisiensi-X (X-eff). Data mengenai nilai besarnya PCM
dan efisiensi-X tahun 1982 sampai 2011 dapat dilihat pada Lampiran 3 dan
4.
Berdasarkan pengamatan, selama kurun waktu 31 tahun mulai tahun
1982-2011 didapat nilai rata-rata PCM industri gula putih Indonesia sebesar
57.62 %. Nilai PCM yang didapat sangat berfluktuasi, pada tahun 2011
besarnya PCM bernilai negatif yaitu sebesar -18.20 %, hal ini dikarenakan
pengeluaran untuk tenaga kerja lebih besar dibandingkan dengan kapasitas
barang yang dihasilkan. Sedangkan pada tahun 1991 PCM mencapai 147.21
%, angka ini merupakan nilai PCM tertinggi. Artinya margin keuntungan
yang diperoleh rata-rata masih tinggi. Hal ini berarti untuk berinvestasi di
sektor industri masih menguntungkan karena masih memiliki return yang
tinggi, akan tetapi secara teori pasti akan high-risk (risiko tinggi). Hal ini
disebabkan modal yang dibutuhkan lebih besar, teknologi yang tinggi, dan
perlunya tenaga-tenaga ahli yang lebih kompeten untuk meningkatkan
keuntungan industri.

Hubungan Struktur dan Kinerja Industri Gula Indonesia


Untuk melihat hubungan antara struktur dengan kinerja maka
digunakan analisis SCP, paradigm ini dinilai mampu menunjukkan
bagaimana hubungan antara struktur dan kinerja pasar, dimana struktur
pasar adalah karakteristik dan komposisi pasar/industri dalam suatu
perekonomian sedangkan kinerja pasar mengacu pada tingkat keberhasilan

46
pasar dalam meraih keuntungan, meningkatkan margin, memberikan
manfaat kepada konsumen.
Paradigma SCP mengasumsikan bahwa struktur akan mempengaruhi
profitabilitas secara positif. Kinerja industri adalah hasil kerja yang
dipengaruhi oleh struktur dan perilaku industri. Di negara-negara yang
sedang berkembang, kinerja laba sulit untuk diukur sehingga untuk
memudahkan bagaimana melihat kinerja industri dapat digunakanlah
variabel proksi keuntungan (PCM) untuk mengukurnya (Baye 2010).
Hubungan struktur dan kinerja dapat dilihat dengan suatu model
ekonometrika yang telah memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan,
misalnya
tidak
adanya
autokolerasi,
heteroskedastisitas
dan
multikolinearitas sehingga model ekonometrika tersebut memang layak
untuk digunakan. Hasil estimasi model dan uji ekonometrika dapat dilihat
pada Tabel 12.
Tabel 12. Hasil estimasi dengan model ordinary least squares (least squares
model) struktur dan kinerja industri gula di Indonesia Tahun Periode 19822011
Variabel
ULC
UMC
X_EFF
OPEN
CR4
CR8
C
Adjusted R-squared

Koefisien

Prob T-statistic
0.000
0.132
0.000
0.487
0.138
0.048
0.236

-337.329
-12.385
0.901
-4.562
-0.104
0.080
16.736
0.976

Prob (F-Statistic)

Uji Breusch-Godfrey Correlation LM Adjusted R-squared Prob Obs*R-Squared


Uji White Heteroskedasticity

Prob Obs*R-Squared

0.000

0.523
0.370

Keterangan: Menggunakan taraf nyata 15 persen


Berdasarkan hasil estimasi, model regresi penelitian sebagai berikut
PCM = C(1)*ULC + C(2)*UMC + C(3)*X_EFF + C(4)*OPEN + (5)*CR4
+ C(6)*CR8 + C(7) + [AR(1)=C(8)]
Sehingga jika dimasukkan nilai koefisiennya masing-masing, dapat
dituliskan sebagai berikut:
PCM = -337.329*ULC - 12.385*UMC + 0.901*X_EFF 4.562*OPEN - 0.104*CR4 + 0.080*CR8 + 16.736 *C
Pengujian autokorelasi dilakukan dengan menggunakan uji
BreuschGodfrey Correlation LM. Apabila nilai probability obs*Rsquared lebih besar dari taraf nyata ( ) yang digunakan maka hasil
regresi ini tidak mengandung autokorelasi. Berdasarkan hasil uji yang
dilakukan (Tabel 12) diperoleh nilai probability obs*R-squared sebesar
0.523 lebih besar dari taraf nyata yang digunakan yaitu 15 persen. Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa hasil regresi pada penelitian ini tidak
mengandung autokorelasi.

47
Pengujian heteroskedastisitas dilakukan dengan menggunakan uji
White Heteroskedasticity. Apabila nilai probability obs*R-squared
lebih besar dari taraf nyata ( ) yang digunakan maka hasil regresi tidak
mengandung heteroskedastisitas. Berdasarkan hasil uji dilakukan
ditunjukkan (Tabel 12) diperoleh nilai probability obs*R-squared sebesar
0.370 lebih besar dari taraf nyata yang digunakan yaitu 15 persen. Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa hasil regresi pada penelitian ini tidak
mengandung heteroskedastisitas.
Syarat yang terakhir dalam metode Ordinary Least Square (OLS)
adalah pengujian multikolinearitas. Multikolinearitas muncul apabila di
antara masingmasing variabel independen saling berhubungan secara
linear. Uji Multikolinearitas dilakukan dengan melihat koefisien kolerasi
antar variabel eksogen yang terdapat pada matriks kolerasi. Suatu model
tidak mengandung gejala multikolinieritas apabila nilai mutlak koefisien
korelasi antar variabel eksogen lebih besar dari 0.8.
Dari hasil yang ditunjukkan pada Lampiran 6, dalam model regresi
ini tidak ditemukan adanya gejala multikolinearitas hal ini dapat dilihat
tidak adanya nilai antar variabel eksogen yang nilainya lebih besar dari
|0.8|, artinya tidak terdapat hubungan kausalitas pada variabel-variabel
bebasnya.
Setelah dilakukan uji ekonometrika pada model penelitian langkah
selanjutnya adalah melakukan interpretasi terhadap hasil dugaan persamaan
PCM pada industri gula (Tabel 12). Berdasarkan hasil uji model, diperoleh
nilai koefisien determinasi (Adjusted R-Square) sebesar 0.976, ini
menunjukkan bahwa variasi endogen yaitu PCM industri gula sebagai
variabel terikat mampu dijelaskan sebesar 97.6% oleh variabel-variabel
bebasnya (Prod, ULC, UMC, dan X-eff) secara bersamaan. Sisanya sebesar
2.40% dijelaskan oleh variabel lain di luar model.
Berdasarkan hasil estimasi model PCM yang diperoleh dari Tabel
12, menunjukkan bahwa variabel bebas CR4, CR8, X-eff, ULC, dan UMC
siqnifikan pada taraf nyata 15% ( = 0,15). Akan tetapi hanya variabel Xeff dan CR8 yang berpengaruh positif terhadap PCM dan kondisi ini sesuai
dengan hipotesis bahwa efisiensi memiliki hubungan yang positif terhadap
PCM. Sedangkan CR4 berpengaruh negatif terhadap PCM, kondisi ini
tidak sesuai dengan hipotesis yang menyatakan CR4 memiliki hubungan
yang positif dengan PCM. Adapun variabel ULC dan UMC bernilai
negatif dan kondisi ini sesuai dengan hipotesis, yang menyatakan ULC dan
UMC memiliki hubungan yang negatif dengan PCM.
Sementara itu variabel OPEN tidak signifikan pada taraf nyata
15%, atau dengan kata lain tidak berpengaruh terhadap PCM. Kondisi ini
tidak sesuai dengan hipotesis yang menyatakan bahwa OPEN berhubungan
positif dengan PCM. Atau dalam penelitian ini disimpulkan bahwa
konsentrasi empat perusahaan dalam industri gula tidak berpengaruh
terhadap peningkatan margin keuntungan.
Variabel CR8 signifikan terhadap PCM pada taraf 15%, dengan
koefisien sebesar 0.080, Artinya setiap peningkatan CR8 satu persen maka
akan meningkatan keuntungan industri sebesar 0.080%.

48
Variabel X-eff signifikan pada taraf 15 persen dan nilai
koefisiennya sebesar 0.901, hasil ini menunjukkan bahwa diduga setiap
peningkatan efisiensi-X sebesar satu persen, akan meningkatkan
keuntungan industri sebesar 0,901%. Hal ini karenakan semakin efisien
suatu perusahaan maka memungkinkan untuk suatu perusahaan untuk
memproduksi sebuah produk dengan sumber daya yang lebih sedikit atau
sama, karena efisiensi merupakan pengurangan biaya sehingga biaya yang
dikeluarkan oleh perusahaan dalam jangka panjang akan lebih murah.
Dengan demikian semakin meningkatnya efisiensi, maka semakin
meningkat tingkat keuntungan.
Variabel ULC dan UMC berpengaruh negatif terhadap PCM. Dari
hasil estimasi nilai koefisien variabel ULC diperoleh sebesar -337.329, yang
berarti bahwa diduga setiap peningkatan biaya tenaga kerja perusahaan
sebesar Rp 1 ribu, maka akan menurunkan PCM perusahaan sebesar Rp
337.329. Sedangkan nilai koefisien UMC diperoleh sebesar -12.835, yang
berarti bahwa diduga penambahan bahan baku sebesar Rp 1 ribu akan
menurunkan PCM perusahaan sebesar Rp 12.835 ribu. Semakin kecil bahan
baku yang digunakan perusahaan akan semakin meningkatkan keuntungan
industri.
Implikasi Kebijakan
Berdasarkan hasil uji dan interpretasi hasil uji, maka dibuatlah
beberapa implikasi kebijakan yang terkait dengan variabel-variabel yang
dipakai dalam penelitian, adapun analisis kebijakan-kebijakan tersebut
antara lain:
1. Efisiensi dan konsentrasi industri berpengaruh signifikan terhadap PCM,
maka kebijakan yang yang mendorong meningkatnya tingkat efisiensi,
dan perlu kebijakan yang kondusif agar perusahaan yang memimpin
industri mencapai skala usaha yang efisien dan menguntungkan bagi
industri.
2. Input tenaga kerja (ULC) dan bahan baku (UMC) berpengaruh negatif
terhadap PCM, maka kebijakan yang ditempuh adalah peningkatan
efisiensi agar beban biaya input tidak menurunkan kemampuan
perusahaan meningkatkan margin. Khusus solusi terhadap industri gula
yang cenderung padat karya, sehingga butuh peran pemerintah
mendorong industri gula yang lebih padat modal. Begitu pula dengan
kebijakan bahan baku, mengingat saat ini industri gula masih sangat
tergantung kepada bahan baku impor, sehingga kebijakan peningkatan
produktivitas gula nasional harus terintegrasi dengan kebijakan impor
bahan baku pada industri gula.
3. Pangsa pasar (CR4) berpengaruh negatif terhadap PCM, artinya
konsentrasi rasio 4 perusahaan terbesar dalam industri gula bisa
menurunkan keuntungan industri. Sehingga perlu kebijakan pemerintah
untuk menciptakan persaingan usaha yang kompetitif dan efisien.

49

SIMPULAN DAN SARAN


Simpulan

1. Industri gula Indonesia selama periode 1982-2011 memiliki rata-rata CR4


adalah sebesar 32.46%, dengan CR4 tertinggi terjadi di tahun 2009 yaitu
sebesar 64%. Adapun rata-rata CR8 diperoleh sebesar 51.41%, dengan
CR8 tertinggi yaitu sebesar 74.60% yang juga terjadi pada tahun 2009.
2. Berdasarkan criteria Shepherd (1992), industri gula Indonesia termasuk
oligopoli kuat. Sedangkan menurut Baye (2010) industri gula Indonesia
termasuk pasar weak oligopsony market structure.
3. Industri gula Indonesia memiliki rata-rata PCM sebesar 57.62%. Nilai PCM
terendah terjadi pada tahun 2011 sebesar -18.20 %, hal ini dikarenakan
pengeluaran untuk tenaga kerja lebih besar dibandingkan dengan kapasitas
barang yang dihasilkan. Sedangkan nilai PCM tertinggi terjadi pada tahun
1991 sebesar 147.21 %.
4. Tingkat efisiensi (X-eff) dan konsentrasi industri 8 perusahan besar
(CR8) signifikan meningkatkan keuntungan industri gula. Sedangkan
konsentrasi industri 4 perusahaan besar (CR4), rasio input tenaga kerja
(ULC) dan rasio input bahan baku (UMC) signifikan menurunkan
keuntungan industri.
5. Pasar bebas (OPEN) tidak signifikan terhadap kenaikan maupun
penurunan keuntungan industri.
6. Kebijakan yang diperlukan adalah kebijakan yang mendorong peningkatan
efisiensi industri gula, disertai dengan kebijakan produksi, pasar, tenaga
kerja, dan bahan baku.

Saran
1. Produsen gula Indonesia perlu meningkatkan efisiensi untuk
meningkatkan keuntungan industri, karena berdasarkan penelitian variabel
ini memiliki pengaruh paling besar terhadap peningkatan keuntungan
industri.
2. Produsen gula di Indonesia harus dapat meningkatkan kualitas bahan baku
industri gula sehingga mampu bersaing untuk meningkatkan keuntungan
industri, karena berdasarkan penelitian variabel ini memiliki pengaruh
besar dalam menurunkan keuntungan industri.
3. Perlunya peran pemerintah mendorong daya saing tenaga kerja agar
industri gula efisien dalam alokasi input tenaga kerja..
4. Perlunya upaya pemerintah dalam mendorong tersedianya bahan baku
domestik yang berdaya saing agar industri lebih efisien dan
menguntungkan.

50

DAFTAR PUSTAKA
Alistair A. 2004. Analisis Pendekatan Struktur-Perilaku-Kinerja Pada
Industri Tepung Terigu Di Indonesia Pasca Penghapusan
Monopoli Bulog [skripsi]. Fakultas Ekonomi dan Manajemen.
Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Agustina 2009. Analisis Struktur-Perilaku-Kinerja Industri Pakan Ternak
di Indonesia.[skripsi]. Fakultas Ekonomi dan Manajemen.
Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Arifin B 2008. Ekonomi Swasembada Gula Indonesia. Economic Review.
Edisi Maret, No. 211.
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian [BPPP] 2011. Bangunkan
Pertanian Indonesia sebagai Jiwa dan Karakter Macan Asia.
Makalah pada Seminar Pertanian Nasional di Institut Pertanian
Bogor Tanggal 8 Oktober 2011. Kementerian Pertanian.
Badan Pusat Statistik [BPS] 2012. Statistik Tebu Indonesia. Jakarta.
Indonesia
Badan Pusat Statistik [BPS] 2011. Statistik Tebu Indonesia. Jakarta.
Indonesia
Bain JS 1956. Barriers to New Competition. Harvard University
Press, Cambridge.
Baye M 2010. Managerial Economics and Business Strategy. Seventh
Edition. Mc Graw-Hill/Irwin. Singapore
Biro Pusat Statistik [BPS] 2001. Survey Tahunan Perusahaan Besar dan
Sedang. Jakarta: BPS.
Carlton DM dan JW Perloff 2000. Introduction to Industrial Organizzation.
MIT Press.
Church J R dan Ware R. 2000. Industrial Organization: A Strategic
Approach. New York: McGraw-Hill.
Collins, Norman R, Preston LE 1969. Price-cost Margin and Industry
Structure. Review Economics and Statistics 51, hlm 304-314.
Culha, A., dan Cihan, Y. 2005. The Determinant of the Price-Cost Margin
of the Manufacturing Firms in Turkey. METU Studies in
Development. Review 32. Page 303-331.
Dahl D C dan J W Hammond. 1977. Market and Price Analysis. Mc Graw
Hill, New York.
Darmayanti 2007. Analisis Struktur, Kinerja dan Kluster Industri
LogamDasar Besi dan Baja di Indonesia. [skripsi]. Fakultas
Ekonomi dan Manajemen. Institut Pertanian Bogor. Bogor
Daryanto A 2004. Ekonomi Industri [Bahan Kuliah]. Fakultas Ekonomi
dan Manajemen. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Deaton A and Laroque G 1992. On the behavior of commodity prices.
Review of Economic Studies, Number 59, pages 1-23.
Disperindag 2012 Tinjauan Pasar Gula Pasir. Komoditi Spesialis
Gula.Kementerian Perdagangan Republik Indonesia. Edisi 6.

51
Dixit A and Stiglitz J 1977. Monopolistic Competition and Optimum
Product Diversity. American Economic Review. Vol. 67, pp.
297-308.
Fitriani D 2005. Pengaruh Konsentrasi Industri Terhadap Kinerja
Keuntungan dan Efisiensi Plywood di Indonesia. Pasca Sarjana
Universitas Sriwijaya. Palembang.
GAPPMI 2010. Position Paper KPPU terhadap Kebijakan dalam Industri
Gula. Komisi Pengawas Persaingan Usaha Republik Indonesia.
Geroski P, Gregg P, Reenen JP 1996. Market Imperfections and
Employment. OECD Economic Studies. Vol. 26, l996/11, pp. I
17- 156.
Gujarati D 1978. Ekonometrika Dasar. Zain dan Sumarno
[penerjemah].Erlangga, Jakarta
Hall RE I988. The relation between price and marginal cost in U.S.
industry. Journal of Political Economy. Vol. 96, No. 5, pp. 921947.
Hasibuan N 1993. Ekonomi Industri: Persaingan, Monopoli dan Regulasi.
Penerbit PT Pustaka LP3EM Indonesia, Jakarta.
Hasibuan N 1994. Ancaman Kerapuhan Struktural dan Kinerja Industri
Pengolahan di Indonesia. Kelola Gadjah Mada business Review,
No 6/III. Yogyakarta.
Indiani I 2006. Analisis Struktur-perilaku-kinerja industry susu di
Indonesia. [skripsi]. Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Institut
Pertanian Bogor. Bogor.
Jaya WK 2001. Ekonomi Industri. BPFE, Yogyakarta.
Kemenperin 2013. Laporan Perkembangan Program Kerja Kementerian
Perindustrian 2004-2012. Kementerian Perindustrian Republik
Indonesia.
Koutsoyiannis A 1978. Theory of Econometrica. Edisi Kedua. Barnes dan
Noble Books, New Jersey.Improved Procurement Systems
(ELIPS). USAID-Pemerintah Indonesia.
Kuncoro, dkk 2002. Struktur, Kinerja, dan Kluster Industri Rokok Kretek
Indonesia 1996-1999. Universitas Gajah Mada.
Martins, JO et al. 1996. Mark-up Pricing, Market Structure, and the
Business Cycle. OECD Economic Studies. Number 27/II. Page
77-105
Miller, Roger L, Roger EM 2000. Teori Mikroekonomi Intermediate.
Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Nicholson W 1994. Microeconomic Theory: Basic Principles and
Extensions, 9th edition.
Robiani 2002. Pengaruh Konsentrasi Industri Terhadap Perilaku dan
Kinerja Industri Pengolahan Susu di Indonesia. Program
Pascasarjana. Universitas Padjadjaran.
Roeger W 1995. Can imperfect competition explain the difference between
primal and dual productivity measures? Estimates for US
manufacturing. Journal of Political economy. Vol. 103, NO. 2,
pp. 3 16-330.

52
Rofieq M 2002. Pengujian Asumsi Dalam Penerapan Model Regresi.
Jurnal Penelitian Edisi Ilmu-Ilmu Teknik, 13: 347-358.
Scherer FM 1990. Industrial Market Structure and Economics
Performance. Houghton Miffing. Boston.
Shepherd 1992. The Economics of Industrial Organization. Third Edition.
Prentice Hall International.
Silvester J 1993. The Market-power Foundations of Macroeconomic Policy.
Journal of Economic Literature. Vol. 3 I, March, pp. 105- I4 I.
Sudibiyo. 2002. Pemasaran Pertanian. Universitas Muhamadiyah Malang.
Malang.
Sudradjat H 2010. Model Pengembangan Industri Gula Berkelanjutan
Berbasis Produksi Bersih dan Partisifasi Masyarakat. Sekolah
Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.
Susila 2005. Analisis Kebijakan Industri Gula Indonesia. Jurnal Agro
Ekonomi, Volume 23 No. 1, Edisi Mei, halaman 30-53.
Susila WR 2005. Pengengembangan Industri Gula Indonesia: Analisis
Kebijakan dan Keterpaduan sistem Produksi. Desertasi S3.
Institut Pertanian Bogor.
Panzar J 1989. Technological determinants of firm and indussry structure.
R. Schmalensee, and R. Willig (eds.). Handbook of Industrial
Organization. North Holland. Amsterdam.
PERHEPI 2012. Simposium Gula Nasional.News Paper PERHEPI. Edisi
Nonvember.
Wihana KJ 2001. Ekonomi Indusri. Edisi Revisi. Jogjakarta: BPFE UGM.
Yang and Hwang 2001. Effects of Trade Liberalization on Domestic Prices:
The Evidence From Korea, 1983-1995. Department of
Economics California State University, Sacramento and
Department of Economics University of California, Berkeley
Yunianti S 2001. Implikasi Kebijakan Tepung Terigu Terhadap Industri
Tepung Terigu dan Industri Makanan: Studi Kasus Industri Mi
Instan [tesis]. Program Pascasarjana. Universitas Indonesia,
Jakarta.

53
LAMPIRAN 1
Unit Labour Cost (ULC) Industri Gula di Indonesia Tahun 1982-2011
(Rupiah)
No
Tahun
1
1982
2
1983
3
1984
4
1985
5
1986
6
1987
7
1988
8
1989
9
1990
10
1991
11
1992
12
1993
13
1994
14
1995
15
1996
16
1997
17
1998
18
1999
19
2000
20
2001
21
2002
22
2003
23
2004
24
2005
25
2006
26
2007
27
2008
28
2009
29
2010
30
2011
Sumber : BPS (Diolah)

ULC (Rp 000)


0.10976
0.116521
0.117309
0.137975
0.117139
0.12019
0.121219
0.108499
0.05529
0.062538
0.055403
0.063084
0.060166
0.071726
0.073164
0.08334
0.062098
0.068904
0.126681
0.126253
0.051109
0.050256
0.057415
0.068177
0.077826
0.045684
0.024918
0.032024
0.010036
0.10862

54
LAMPIRAN 2
Unit Material Cost (UMC) Industri Gula di Indonesia Tahun 1982-2011
(Rupiah)
No
Tahun
1
1982
2
1983
3
1984
4
1985
5
1986
6
1987
7
1988
8
1989
9
1990
10
1991
11
1992
12
1993
13
1994
14
1995
15
1996
16
1997
17
1998
18
1999
19
2000
20
2001
21
2002
22
2003
23
2004
24
2005
25
2006
26
2007
27
2008
28
2009
29
2010
30
2011
Sumber : BPS (Diolah)

UMC (Rp 000)


0.474996
0.5436
0.525323
0.474063
0.538305
0.632672
0.608387
0.706874
0.488724
0.248828
0.430123
0.051444
0.485862
0.469119
0.465478
0.448699
0.490779
0.379343
0.373323
0.306841
0.378146
0.392872
0.433799
0.421902
0.548958
0.452105
0.420792
0.358212
0.465348
0.938199

55
LAMPIRAN 3
Price Cost-margin (PCM) Industri Gula Indonesia Tahun 1982-2011 (%)
No
Tahun
PCM (%)
1
1982
44.47177
2
1983
26.44835
3
1984
30.51748
4
1985
32.11896
5
1986
26.33219
6
1987
19.85133
7
1988
19.41457
8
1989
8.731876
9
1990
49.34895
10
1991
147.2089
11
1992
67.98516
12
1993
42.91104
13
1994
45.84979
14
1995
44.96757
15
1996
47.7143
16
1997
49.62396
17
1998
56.2097
18
1999
77.6861
19
2000
85.19353
20
2001
84.4215
21
2002
92.4854
22
2003
83.93719
23
2004
92.10544
24
2005
86.09839
25
2006
34.178
26
2007
60.73212
27
2008
105.2879
28
2009
89.21008
29
2010
95.80979
30
2011
-18.1974
Sumber : BPS (Diolah)

56
LAMPIRAN 4
Tingkat Efisiensi (X-eff) Industri Gula di Indonesia Tahun 1982-2011 (%)
No
Tahun
1
1982
2
1983
3
1984
4
1985
5
1986
6
1987
7
1988
8
1989
9
1990
10
1991
11
1992
12
1993
13
1994
14
1995
15
1996
16
1997
17
1998
18
1999
19
2000
20
2001
21
2002
22
2003
23
2004
24
2005
25
2006
26
2007
27
2008
28
2009
29
2010
30
2011
Sumber : BPS (Diolah)

X-eff (%)
62.80777
43.42328
48.25289
54.21429
43.55946
35.86736
36.21735
22.20748
67.06715
178.7012
87.14177
60.67511
66.03642
67.37847
70.27474
74.63349
72.31042
98.58448
119.7177
126.6637
107.7139
98.76316
109.9063
105.021
45.50189
72.11421
112.3046
100
99.92899
31.36618

57
LAMPIRAN 5
Ouput Hasil Estimasi OLS
Dependent Variable: PCM
Method: Least Squares
Date: 08/28/14 Time: 13:39
Sample (adjusted): 1983 2011
Included observations: 29 after adjustments
Convergence achieved after 11 iterations
Variable

Coefficient

Std. Error

tatistic

ULC
UMC
X_EFF
OPEN
CR4
CR8
C
AR(1)

-337.3288
-12.83483
0.901925
-4.562421
-0.104331
0.078584
16.73632
0.864397

38.70123
8.180271
0.037860
6.444647
0.062200
0.037427
13.70534
0.139231

R-squared
Adjusted Rsquared
S.E. of regression
Sum squared resid
Log likelihood
F-statistic
Prob(F-statistic)

0.981907

Mean dependent var

58.07525

0.975876
5.437125
620.8088
-85.57326
162.8118
0.000000

S.D. dependent var


Akaike info criterion
Schwarz criterion
Hannan-Quinn criter.
Durbin-Watson stat

35.00636
6.453328
6.830514
6.571458
1.500766

Inverted AR Roots

.86

-8.716231
-1.568998
23.82287
-0.707940
-1.677341
2.099698
1.221153
6.208376

Prob.
0.0000
0.1316
0.0000
0.4868
0.1083
0.0480
0.2356
0.0000

LAMPIRAN 6
Matriks Kolerasi Variabel Eksogen yang Terdapat pada Model
Analisis PCM
OPEN

ULC

UMC

X_EFF

CR4

1.000000

-0.391821

-0.076079

0.422222

0.329462

0.239509

ULC

-0.391821

1.000000

0.369710

-0.451448

0.011931

-0.077991

UMC

-0.076079

0.369710

1.000000

-0.653035

-0.050670

0.066913

X_EFF

0.422222

-0.451448

-0.653035

1.000000

0.138648

0.049918

CR4

0.329462

0.011931

-0.050670

0.138648

1.000000

0.769113

CR8

0.239509

-0.077991

0.066913

0.049918

0.769113

1.000000

OPEN

Sumber : BPS (Diolah)

CR8

Sumber: BPS

Tahun
1982
1983
1984
1985
1986
1987
1988
1989
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
2011

Total Nilai
Input
(000.Rp)
312329128
420867354
445965744
521575829
637800917
779463199
797177494
1107721037
993684128
557046307
1020611841
1270563122
1197519994
1167866414
1225540090
1181901000
1857617172
1791715624
2415021410
2355425052
4040213718
4800854797
4137760297
4584733312
8966218150
9690095454
15454722247
10738775227
20189235843
8704591987

Total Output
(000.Rp)
521761489
613122847
674237968
835249973
937991474
1038684472
1105009336
1375788281
1661053279
1579505103
1932777204
2067668785
2044154427
2002334665
2134967663
2090072000
3246072287
3658302434
5332817261
6465357929
8441870336
9596192024
8760979074
9485417817
13046016705
17114143795
32811080669
28634041751
40364135840
11928298330

Nilai
Tambah
(000.Rp)
196166949
182754401
215191366
282768621
277822655
279572858
288716542
245996883
666435592
995448319
889379229
770915552
790799356
786890575
861245143
882094000
1343250843
1766353511
2891207717
2983467721
4351873107
4741476137
4547657526
4814930631
4079798555
6987936263
17356358422
10738775227
20174899997
2730297668

Total Upah
Tenaga
Kerja
(000.Rp)
57268654
71441923
79093845
115243881
109875726
124839012
133947922
149272056
176062926
175426797
195514646
225703646
241738894
261729471
276487232
295587904
299089759
374439497
833765656
994982559
615265152
711773530
736555134
867549228
1015320378
1102935674
1084413545
1158704766
831635509
4314302749
Nilai Input Nilai
Bahan
Upah
Baku
(000.Rp)
(000.Rp)
57268654
247834671
71441923
333293580
79093845
354192376
115243881
395961129
109875726
504925676
124839012
657146513
133947922
672273254
149272056
972509394
91840153
811796301
98779228
393024640
107081737
831331343
130436356
106368461
122988433
993177459
143619564
939332956
156201748
993779829
174186151
937813000
201575707
1593103556
252071668
1387752310
675564549
1990863361
816268718
1983839494
431458744
3192259990
482261732
3770073929
503013051
3800504702
646688605
4001921272
1015320378
7 161 716 882
781841160
7737383865
817591496
13806644932
916972916
10257051420
405103534
18783371989
1295654065
11191121527
PCM (%)
44.47177
26.44835
30.51748
32.11896
26.33219
19.85133
19.41457
8.731876
49.34895
147.2089
67.98516
42.91104
45.84979
44.96757
47.7143
49.62396
56.2097
77.6861
85.19353
84.4215
92.4854
83.93719
92.10544
86.09839
34.178
60.73212
105.2879
89.21008
95.80979
-18.1974

X-eff (%)
62.80777
43.42328
48.25289
54.21429
43.55946
35.86736
36.21735
22.20748
67.06715
178.7012
87.14177
60.67511
66.03642
67.37847
70.27474
74.63349
72.31042
98.58448
119.7177
126.6637
107.7139
98.76316
109.9063
105.021
45.50189
72.11421
112.3046
100
99.92899
31.36618

ULC
0.10976
0.116521
0.117309
0.137975
0.117139
0.12019
0.121219
0.108499
0.05529
0.062538
0.055403
0.063084
0.060166
0.071726
0.073164
0.08334
0.062098
0.068904
0.126681
0.126253
0.051109
0.050256
0.057415
0.068177
0.077826
0.045684
0.024918
0.032024
0.010036
0.10862

UMC
0.474996
0.5436
0.525323
0.474063
0.538305
0.632672
0.608387
0.706874
0.488724
0.248828
0.430123
0.051444
0.485862
0.469119
0.465478
0.448699
0.490779
0.379343
0.373323
0.306841
0.378146
0.392872
0.433799
0.421902
0.548958
0.452105
0.420792
0.358212
0.465348
0.938199

LAMPIRAN 7
Data Mentah Total Nilai Input, Total Nilai Output, Nilai Tambah, Total Upah Tenaga Kerja, Nilai Input Tenaga Kerja, Nilai Input
Bahan Baku, PCM, X-eff, ULC, dan UMC Industri Gula Besar dan Sedang Tahun 1982-2011

58

ouput 4 Besar (000 Rp)


91976846
1.21E+08
1.13E+08
1.41E+08
1.67E+08
1.65E+08
1.91E+08
2.38E+08
3.2E+08
2.79E+08
2.88E+08
6.07E+08
3.11E+08
3.29E+08
1.54E+09
3.07E+08
3.05E+08
1.06E+09
1.75E+09
2.1E+09
1.83E+09
2.15E+09
2.17E+09
2.57E+09
2.8E+09
2.21E+09
9.8E+08
1.84E+10
3.77E+09
3.53E+09

Sumber : BPS

Tahun
1982
1983
1984
1985
1986
1987
1988
1989
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
2011
Rata-rata

Output 8 Besar (000 Rp)


1.56E+08
1.93E+08
1.13E+08
2.32E+08
2.79E+08
2.82E+08
3.29E+08
1.59E+09
5.35E+08
4.84E+08
4.94E+08
8.43E+08
5.54E+08
5.72E+08
6.07E+08
5.16E+08
5.15E+08
1.52E+09
2.46E+09
2.92E+09
2.65E+09
3.04E+09
3.08E+09
3.57E+09
4.72E+09
3.87E+09
4.8E+09
2.13E+10
6.66E+09

Output Total Industri


5.12E+08
6.02E+08
6.67E+08
8.02E+08
8.76E+08
1.07E+09
1.04E+09
1.33E+09
1.66E+09
1.58E+09
1.93E+09
2.07E+09
2.04E+09
2E+09
2.13E+09
2.09E+09
2.09E+09
3.15E+09
4.82E+09
6.47E+09
8.44E+09
8.99E+09
8.17E+09
9.49E+09
8.98E+08
1.71E+10
3.34E+10
2.87E+10
3.96E+10
2.69E+10

CR4 (%)
30.51
32.05636
17.00857
28.94569
31.85315
26.31109
31.81974
118.7943
32.22691
30.65172
25.54248
40.75692
27.08879
28.5891
28.41599
24.69657
24.65536
48.48492
51.11756
45.22777
31.38242
33.80612
37.65639
37.60441
525.6364
22.60557
14.37374
74.29235
16.83039
23.22643
51.40558

CR8 (%)
17.96389
20.0268
17.00857
17.61033
19.01789
15.39576
18.44533
17.82316
19.2864
17.63683
14.89246
29.37965
15.22148
16.42835
71.91739
14.68753
14.57067
33.67278
36.32528
32.43209
21.71954
23.86949
26.51894
27.08332
312.0613
12.90573
2.930703
64.24877
9.53691
13.08998
32.45691

LAMPIRAN 8
Data Mentah Output Empat Perusahaan Terbesar, Delapan Perusahaam Terbesar, Nilai CR4, dan CR8 Industri Gula Besar dan
Sedang Tahun 1982-2011

59

RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Palembang Sumatera Selatan pada tanggal 27 September
1980, sebagai anak ketiga dari lima bersaudara dari pasangan Bapak M Iksan dan
Ibu Nursaniah. Penulis menamatkan pendidikan Sekolah Dasar pada SD N 02
Tanjung Kemala kecamatan Lubai Kabupaten Muara Enim Sumatera Selatan pada
Tahun 1992, Tahun 1995 penulis menyelesaikan pendidikan Sekolah Menengah
Pertama di SMP N 02 Mura Kuang Kecamatan Ogan Kombring Ilir Sumatera
Selatan. Tahun 1998 penulis menyelesaikan studi di SMKN 1Gelumbang Muara
Enim Sumatera Selatan. Pada tahun 2002 penulis menyelesaikan pendidikan
Diploma 3 Pengelola Perkebunan, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Tahun 2009 penulis menyelesaikan pendidikan sarjana Agribisnis, Fakultas
Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor.
Penulis bekerja sebagai peneliti dan konsultan di Kementerian Koperasi dan
UKM sejak tahun 20022005, menjadi kepala Administrasi Bimbingan Belajar
Bina Ilmi sejak tahun 2004-2005, pengelola dan pengajar Full Day Free School
Aqwati, Bogor, serta menjadi pengelola dan pengajar home schooling Khairu
Ummah Bogor hingga sekarang.
Selama mengikuti program S-2, penulis menjadi anngota Perhepi, Bussiness
Community Institut Pertanian Bogor, serta menjadisalah penulis buku gula dan
telah diterbitkan oleh IPB press.