Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Inkontinensia urine adalah ketidakmampuan seseorang untuk menahan
keluarnya urine. Keadaan ini dapat menimbulkan berbagai permasalahan, antara lain :
masalah medik, sosial maupun ekonomi. Masalah medik berupa iritasi dan kerusakan
kulit di di sekitar prianal akibat urine. Masalah sosial berupa perasaan malu,
mengisolasi diri dari pergaulannya, dan mengurung diri di rumah. Pemakaian pempers
atau perlengkapan lain guna menjaga supaya tidak selalu basah oleh urine, memerlukan
biaya yang tidak sedikit. Pengalaman inkontinensia memiliki dampak nyata pada
kesejahteraan psikologis orang dewasa. Ketakutan akan kehilangan kontrol yang
disaksikan oleh orang lain menyebabkan pasien membatasi aktivitas sosial dan
kemasyarakatan. Orang yang mengalami inkontinensia menunjukan suatu rentang emosi
mencakup peningkatan depresi, iritabilitas, cemas, dan perasaan tidak berdaya.
Prevalensi kelainan ini cukup tinggi, yakni pada wanita lebih 10-40% dan 4-8%
sudah dalam keadaan cukup parah pada saat datang berobat. Pada pria, prevalensinya
lebih rendah daripada wanita yaitu kurang lebih separuhnya. Survey yang dilakukan
diberbagai negara Asia didapatkan bahwa prevalensi pada beberapa bangsa Asia adalah
rata-rata 12,2 % (14,8% pada wanita dan 6,8% pada pria). Dikatakan oleh berbagai
penulis bahwa sebenarnya prevalensi yang dilaporkan itu baru 80% dari prevalensi
sesungguhnya karena sebagian dari mereka tidak terdeteksi; hal ini karena pasien
menganggap penyakit yang dialami ini merupakan hal yang wajar atau mereka enggan
menceritakan keadaannya kepada dokter karena takut mendapatkan pemeriksaan yang
berlebihan. Pada lansia, prevalensinya lebih tinggi daripada usia reproduksi, dilaporkan
prevalensi inkontinensia pada lansia wanita sebesar 38% dan pria 19% (Purnomo,
2007). Prevalensi inkontinesia urin di Indonesia belum ada angka yang pasti, dari hasil
beberapa penelitian didapatkan angka kejadian berkisar antara 20% sampai dengan 30%
(Suparman & Rompas, 2008).
Inkontinensia tidak harus dikaitkan dengan lansia. Inkontinensia dapat dialami
setiap individu pada usia berapapun walaupun kondisi saat ini lebih umum dialami
lansia. Inkontinensia yag berkelanjutan memungkinkan terjadinya kerusakan pada kulit.
Sifat urin yang asam mengiritasi kulit. Pasien yang tidak dapat melakukan mobilisasi
dan sering mengalami inkontinensia berisiko terkena luka dekubitus (Potter & Perry,
2008).
Penatalaksanaan inkontinensia dengan menggunakan tindakan non farmakologis
dapat dilakukan dengan cara menggunakan terapi perilaku, pengaturan makanan dan
minuman, bladder training, penguatan otot panggul. Pasien dengan inkontinensia harus
memperhatikan intake cairan, menghindari makanan dan minuman yang mengandung
kafein dan alkohol. Inkontinensia urin merupakan suatu gejala dan bukan merupakan
suatu penyakit. Karena itu, penanganan kasus inkontinensia urin dilakukan dengan
pendekatan multidisiplin, tentunya peran perawat juga memberi pengaruh besar
terhadap kesembuhan dan peningkatan kualitas hidup pasien.
1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
1

Setelah pembelajaran ini, mahasiswa diharapkan mampu memberikan asuhan


keperawatn pada klien dengan inkontinensia urine secara komprehensif.
1.2.2 Tujuan Khusus
1. Menjelaskan definisi dari inkontinensia urine.
2. Menjelaskan etiologi, manifestasi klinik, pemeriksaan diagnostic dan
tatalaksana pada inkontinensia urine.
3. Menjelaskan patofisiologi inkontinensia urine dan menyusun Web of Caution
(WOC) dari inkontinensia urine.
4. Menyusun asuhan keperawatan pada klien dengan inkontinensia urine.
1.3 Manfaat
Mahasiswa mengetahui tentang inkontinensia urine
mengaplikasikan asuhan keperawatannya secara komprehensif.

dan

mampu

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
Inkontinensia urine merupakan keluarnya urin yang tidak terkontrol yang
mengakibatkan gangguan hygene dan sosial dan dapat dibuktikan secara objektif.
Inkontinensia ini dapat terjadi dengan derajat yang ringan berupa keluarnya urin hanya
berupa tetes sampai dengan keadaan berat dan sangat mengganggu penderita (Suparman
& Rompas, 2008).
Inkontinensia urine merupakan eliminasi urine dari kandung kemmih yang tidak
terkendali atau terjadi di luar keinginan. Jika inkontinensia terjadi akibat kelainan
inflamasi (sistitis), mungkin sifatnya hanay sementara. Namun, jika kejadian ini timbul
karena kelainan neurologi yang serius (paraplegia), kemungkina besar sifatnya akan
permanen (Smeltzer & Bare, 2003).
2.2 Etiologi
Inkontinensia urin dibagi menjadi inkontinensia akut dan kronik/persisten.
2.2.1 Interkontinensia Akut
Inkontinensia akut terjadi secara mendadak, biasanya berkaitan dengan kondisi sakit
akut atau problem iatrogenik/lingkungan yang menghilang jika bila kondisi akut teratasi
atau problem medikasi dihentikanEtiologinya disingkat dengan DRIP atau DIAPPERS
DIAPPERS (Sudoyono dkk, 2006).
a. Delirium
merupakan gangguan kognitif akut dengan latar belakang dehidrasi, infeksi paru,
gangguan metabolisme, dan elektrolit. Delirium menyebabkan proses hambatan
refleks miksi berkurang yang menimbulkan inkontinensia bersifat sementara.
Kejadian inkontinensia akan dapat dihilangkan dengan mengidentifikasi dan
menterapi penyebab delirium.
b. Infeksi traktus urinarius.
Inflamasi dan infeksi pada saluran kemih bawah akan meningkatkan kejadian
frekuensi, urgensi, dan dapat mengakibatkan inkontinensia. Sehingga
mengakibatkan seorang usila tidak mampu mencapai toilet untuk berkemih.
Bakteriuria tanpa disertai piuria (infeksi asimptomatik) yang banyak terjadi pada
usila, tidak selalu mengindikasikan adanya infeksi dan bisa saja bukan etiologi
inkontinensia.
c. Atrophic vaginitis.
Jaringan yang teriritasi, tipis dan mudah rusak dapat menyebabkan timbulnya
gejala rasa terbakar di uretra, disuria, infeksi traktus urinarius berulang,
dispareunia, urgensi, stress atau urge incontinence. Gejalanya sangat responsif
terhadap terapi estrogen dosis rendah, yang diberikan baik oral atau topikal.
Gejala akan berkurang dalam beberapa hari hingga 6 minggu, walaupun respon
biokimia intraseluler memakan waktu lebih panjang.
d. Pharmaceutical. Obat-obatan sering dihubungkan dengan inkontinensia pada
usia lanjut. Beberapa golongan obat seperti diuretic, anti kolinergik, psikotropik,
analgesic-narkotik, penghambat adrenergic alfa, agonis adrenergic alfa,
penghambat calsium channel, dan lain-lain dapat menyebabkan inkontinensia.
1) Sedative Hypnotics (benzodiazepines : diazepam, flurazepam)
Sedatif, seperti benzodiazepin dapat berakumulasi dan menyebabkan
confusion dan inkontinensia sekunder, terutama pada usia lanjut. Alkohol

juga mempunyai efek serupa dengan benzodiazepines, mengganggu


mobilitas dan menimbulkan diuresis.
2) Loop Diuretics
Obat-obatan seperti diuretik akan meningkatkan pembebanan urin di
kandung kemih sehingga bila seseorang tidak dapat menemukan toilet pada
waktunya akan timbul urge incontinence.
3) Anti-cholinergic Agents
Agen antikolinergik dan sedatif dapat menyebabkan timbulnya atonia
sehingga timbul retensi urin kronis dan overflow incontinence.
4) Alpha-adrenergic agonist and antagonist
Agen alpha-adrenergik yang sering ditemukan di obat influenza, akan
meningkatkan tahanan outlet dan menyebabkan kesulitan berkemih.
Sebaliknya, obat-obatan ini sering bermanfaat dalam mengobati beberapa
kasus stress incontinence. Alpha blockers, yang sering dipergunakan untuk
terapi hipertensi dapat menurunkan kemampuan penutupan uretra dan
menyebabkan stress incontinence.
5) Calcium Channel Blockers
Calcium channel blockers untuk hipertensi dapat menyebabkan
berkurangnya tonus sfingter uretra eksternal dan gangguan kontraktilitas otot
polos kandung kemih sehingga menstimulasi timbulnya stress incontinence.
Obat ini juga dapat menyebabkan edema perifer, yang menimbulkan
nokturia.
e. Psikologis.
Depresi dan kecemasan dapat menyebabkan pasien mengalami kebocoran
urin. Mekanisme ini biasanya merupakan kombinasi dari bladder overactivity
dan relaksasi sfingter uretra yang tidak tepat. Intervensi awal ditujukan pada
gangguan psikologinya. Setelah gangguan tersebut diatasi tetapi masih terdapat
inkontinensia maka harus dilakukan evaluasi lebih lanjut.
f. Endocrine disorders.
Output urin yang berlebihan bisa disebabkan oleh karena intake cairan yang
banyak, minuman berkafein, dan masalah endokrin. Diabetes mellitus melalui
efek diuresis osmotiknya dapat menyebabkan suatu kondisi overactive bladder.
Kondisi yang mengakibatkan poliuria seperti hiperglikemia, hiperkalsemia,
pemakaian diuretika, dan minum banyak juga dapat mencetuskan inkontinensia
akut. Kelebihan cairan seperti gagal jantung kongestif, insufisiensi vena tungkai
bawah akan mengakibatkan nokturia dan inkontinensia akut malam hari.
Inkontinensia akut pada laki-laki sering berkaitan dengan retensi urin akibat
hipertrofi prostate.skibala dapat mengakibatkan obstruksi mekanik pada bagian
distal kandung kemih yang selajutnya menstimulus otot detrusor involunter.
g. Restricted mobility. Usia lanjut dengan kecenderungan mengalami frekuensi,
urgensi, dan nokturia akibat proses menua akan mengalami inkontinensia jika
terjadi gangguan mobilitas karena gangguan moskuloskeletal, tirah baring dan
perawatan di rumah sakit. Keterbatasan mobilitas ini dapat disebabkan karena
kondisi nyeri arthritis, deformitas panggul, gagal jantung, penglihatan yang
buruk, hipotensi postural atau post prandial, perasaan takut jatuh, stroke,
masalah kaki atau ketidakseimbangan karena obat-obatan. Pola miksi di samping
atau di tempat tidur dapat mengatasi masalah ini.

h. Stooli impaction. Impaksi feses akan mengubah posisi kandung kemih dan
menekan syaraf yang mensuplai uretra serta kandung kemih, sehingga akan
dapat menimbulkan kondisi retensi urine dan overflow incontinence.
2.2.2 Interkontinensia Persisten
Inkontinensia persisten merujuk pada kondisi urikontinensia yang tidak
berkaitan dengan kondisi akut/iatrogenik dan berlangsung lama. Terdapat empat
tipe inkontinensia urin persisten, yaitu: Fungsional Inkontinensia Urin, Overflow
Inkontinensia Urin (OIU), Stress Inkontinensia Urin (SIU), Urge Inkontinensia
Urin (UIU).
Seiring dengan bertambahnya usia, ada beberapa perubahan pada
anatomi dan fungsi organ kemih, antara lain: melemahnya otot dasar panggul
akibat kehamilan berkali-kali, kebiasaan mengejan yang salah, atau batuk kronis.
Ini mengakibatkan seseorang tidak dapat menahan air seni. Selain itu, adanya
kontraksi (gerakan) abnormal dari dinding kandung kemih, sehingga walaupun
kandung kemih baru terisi sedikit, sudah menimbulkan rasa ingin berkemih.
Penyebab Inkontinensia Urine (IU) antara lain terkait dengan gangguan di
saluran kemih bagian bawah, efek obat-obatan, produksi urin meningkat atau
adanya gangguan kemampuan/keinginan ke toilet. Gangguan saluran kemih
bagian bawah bisa karena infeksi.
2.3 Klasifikasi Inkontinensia Urin
2.3.1 Inkontinensia Urge
Penyebab inkontinensia urge adalah kelainan di buli-buli, diantaranya adalah
over aktivitas detrusor dan menurunnya komplians buli-buli. Over aktivitas
detrusor dapat disebabkan oleh kelainan neurologik, kelainan non neurologis,
atau kelainan lain yang belum diketahui.
2.3.2 Inkontiinensia Urine Stress
Hal ini biasanya disebabkan oleh faktor sfingter (uretra) yang tidak mampu
mempertahankan tekanan intrauretra pada saat tekanan intravesika meningkat
(buli-buli) terisi.
2.3.3

2.3.4

2.3.5

Inkontinensia Paradoksa (overflow)


Inkontinensia ini disebabkan karena kelemahan otot detrusor. Kelemahan otot
detrusor ini dapat disebabkan karena obstruksi uretra, neuropati diabetikum,
cedera spinal, defisiensi vitamin B12, efek samping pemakaian obat, atau pasca
bedah pada daerah pelvik.
Inkontinensia Urine Fungsional
Sebenarnya pasien ini konten, tetapi karena adanya hambatan tertentu, pasien
tidak mampu untuk menjangkau toilet pada saat keinginan miksi timbul
sehingga kencingnya keluar tanpa dapat ditahan. Hambatan itu dapat berupa
gangguan fisis, gangguan kognitif, maupun pasien yang sedang mengkonsumsi
obat-obatan tertentu.
Inkontinensia Total
Penyebab inkontinensia total meliputi penurunan kapasitas kandung kemih,
penurunan isyarat kandung kemih, efek pembedahan spinkter kandung kemih,
penurunan tonus kandung kemih, kelemahan otot dasar panggul, penurunan
perhatian pada isyarat kandung kemih

2.4 Patofisiologi
Terjadinya pengisian kandung kencing sehingga meningkatkan tekanan
tekanan didalam kandung kemih. Otot-otot detrusor ( lapisan yang ke tiga dari
kandung kencing) memberikan respon dengan relaksasi agar dapat memperbesar
volume daya tamping. Bila titik daya tamping telah tercapai, biasanya 150-200 ml
urin akan merangsang stimulus yang ditransmisikan lewat serabut reflek eferen ke
lengkungan pusat reflek untuk mikturisasi. Impuls kemudian disalurkan melalui
serabut efferent dari lengkungan reflek ke kandung kemih, menyebabkan kontraksi
otot detrusor. Sfingter interna yang dalam keadaan normal menutup, serentak
bersama-sama membuka dan urine masuk ke irethra posterior. Relaksasi sfingter
eksterna dan otot perineal mengikuti dan isis kandung kemih keluar. Pelaksanaan
kegiatan reflek bisa mengalami interupsi sehingga berkemih ditangguhkan melalui
dikeluarkannya impuls inhibitor dari pusat kortek yang berdampak kontraksi diluar
kesadaran dari sfingter interna. Bila salah satu dari system yang komlek ini
mengalami rusak, akan bisa terjadinya inkontinrensia urine. (Bruner and suddart,
2000).
Patofisiologi berdasarkan klasifikasi inkontinensia urin:
1. Inkontinensia stress: kebocoran urin terjadi ketika tekanan intra abdomen
melebihi tekanan uretra (misalnya batuk, mengedan, atau mengangkat beban).
Biasanya pada gejala inkontinensia uretra.
2. Inkontinensia urgensi: ketidak stabilan otot detrusor idiopatik menyebabkan
peningkatan tekanan intravesika dan kebocoran urin.
3. Hiperrefleksia detrusor: hilangnya control kortikal menyebabkan kandung
kemih yang tidak dapat dihambat dengan kontraksi detrusor yang tidak stabil.
Kandung kemih terisi, reflex sakralis dimulai dan kandung kemih melakukan
pengosongan secara spontan.
4. Inkontinensia overflow: kerusakan pada serat eferen dari reflex sakralis
menyebabkan atonia kandung kemih. Kandung kemih terisi oleh urin yang
konstan. Misalnya distensi kandung kemih kronis akibat obstruksi
2.5 WOC (terlampir)
2.6 Manifestasi klinis
Inkontinensia urine dapat terjadi dengan berbagai manifestasi, antara lain:
1) Fungsi sfingter yang terganggu menyebabkan kandung kemih bocor bila batuk atau
bersin. Bisa juga disebabkan oleh kelainan di sekeliling daerah saluran kencing.
2) Fungsi otak besar yang terganggu dan mengakibatkan kontraksi kandung kemih.
3) Terjadi hambatan pengeluaran urine dengan pelebaran kandung kemih, urine banyak
dalam kandung kemih sampai kapasitas berlebihan.
2.7 Pemeriksaan Penunjang
2.7.1 Laboratorium
Pemeriksaan urinalis, kultur urine dan jika perlu sitologi urine
dipergunakan
untuk
menyingkirkan
kemungkinan
adanya
proses
inflamasi/infeksi atau keganasan pada saluran kemih.
2.7.2

Pemeriksaan lain

Pemeriksaan penunjang membantu dalam menentukan jenis maupun


derajat inkontinensia dan dipergunakan untuk melakukan evaluasi pasa waktu
sebelum maupun setelah terapi. Pemeriksaan itu diantaranya adalah pemeriksaan
urodinamik yang terdiri atas pemeriksaan uroflometri, pengukuran profil
tekanan uretra, sistometri, valsava leak point pressure, serta video urodinamika.
Pemeriksaan pencitraan yang meliputi pielografi intravena maupun sistografi
miksi diperlukan untuk mencari kemungkinan adanya fistula uretrovagina,
muara ureter ektopik, dan penurunan leher buli-buli uretra pada sistografi.
Pemeriksaan residu urine dilakukan untuk mengetahui kemungkinan
adanya obstruksi infravesika atau kelemahan otot detrusor. Pemeriksaan itu
dilakukan dengan melakukan kateterisasi atau USG sehabis miksi.
Pemeriksaan urodinamik yang paling sederhana adalah mengukur
tekanan intravesika dengan urodinamika eyeball. Dalam posisi dorsolitotomi
pasien dipasang kateter. Setelah sisa urin dikeluarkan, ujung kateter
dihubungkan dengan semprit (syringe) 50 ml tanpa pendorongnya, dan
diletakkan setinggi dengan permukaan buli-buli (simfisis pubis). Kateter diisi air
steril secara perlahan melalui semprit secara gravitasi. Kemudian pasien diminta
untuk mengatakan jika terjadi perasaan penuh pada buli-buli.volume yang telah
dimasukkan dicatat dan ketinggian air (meniskus) pada semprit diperhatikan.
2.8 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan inkontinensia urin menurut Tonagho & Mc Anuch (2008) meliputi
modifikasi lingkungan, terapi perilaku, terapi farmakologi, terapi pembedahan, dan
alat bantu.
2.8.1 Modifikasi Lingkungan
Bertujuan untuk memudahkan klien dalam melakukan urinasi, meliputi:
a. Pemasangan bel di ruangan yang mudah dijangkau klien
b. Penerangan yang cukup
c. Toilet duduk portable, urinal dan bedpan atau pispot
d. Hindari penggunaan restrain karena akan mempersulit klien ketika ingin
berkemih
e. Melatih ROM pasif dan aktif untuk meningkatkan kekuatan otot
2.8.2 Terapi non farmakologi
Dilakukan
dengan
mengoreksi
penyebab
yang
mendasari
timbulnyainkontinensia urin, seperti hiperplasia prostat, infeksi saluran kemih,
diuretik, guladarah tinggi, dan lain-lain. Adapun terapi yang dapat dilakukan
adalah :
f. Melakukan latihan menahan kemih (memperpanjang interval
waktuberkemih) dengan teknik relaksasi dan distraksi sehingga
frekwensiberkemih 6-7 x/hari. Lansia diharapkan dapat menahan
keinginan untukberkemih bila belum waktunya. Lansia dianjurkan untuk
berkemih padainterval waktu tertentu, mula-mula setiap jam, selanjutnya
diperpanjangsecara bertahap sampai lansia ingin berkemih setiap 2-3
jam.
g. Membiasakan berkemih pada waktu-waktu yang telah ditentukan
sesuaidengan kebiasaan lansia.
h. Promted voiding dilakukan dengan cara mengajari lansia
mengenalkondisi berkemih mereka serta dapat memberitahukan petugas

2.8.3

2.8.4

2.8.5

ataupengasuhnya bila ingin berkemih. Teknik ini dilakukan pada lansia


dengangangguan fungsi kognitif (berpikir).
i. Melakukan latihan otot dasar panggul dengan mengkontraksikan
ototdasar panggul secara berulang-ulang.
Terapi farmakologi
Obat-obat yang dapat diberikan pada inkontinensia urgen
adalahantikolinergik
seperti
Oxybutinin,
Propantteine,
Dicylomine,
flavoxate,Imipramine.Pada inkontinensia stress diberikan alfa adrenergic agonis,
yaitupseudoephedrine untuk meningkatkan retensi urethra. Pada sfingter relax
diberikan kolinergik agonis seperti Bethanechol ataualfakolinergik antagonis
seperti prazosin untuk stimulasi kontraksi, danterapi diberikan secara singkat.
Terapi pembedahan
Terapi ini dapat dipertimbangkan pada inkontinensia tipe stress
danurgensi, bila terapi non farmakologis dan farmakologis tidak
berhasil.Inkontinensia tipe overflow umumnya memerlukan tindakan
pembedahan untukmenghilangkan retensi urin. Terapi ini dilakukan terhadap
tumor, batu,divertikulum, hiperplasia prostat, dan prolaps pelvic (pada wanita).
Modalitas lain
Sambil melakukan terapi dan mengobati masalah medik yangmenyebabkan
inkontinensia urin, dapat pula digunakan beberapa alat bantu bagilansia yang
mengalami inkontinensia urin, diantaranya adalah pampers, kateter,dan alat
bantu toilet seperti urinal, komod dan bedpan.

2.9 Komplikasi
Infeksi saluran kemih merupakan sumber morbiditas yang menonjol united
states dan juga menonjol dalam perkembangan kegagalan ginjal kronis pad tiap bagian
dari saluran kemih.
Kebanyakan infeksi saluran kemih tidak merupakan komplikasi, keadaannya
tidak simtomasis, spontan, jelas dan sebagian merupakan cukup menonjol yang
mengisyarakatkan pemikiran sebagai suatu masalah kesehatan. Tidak terdapat hal yang
kontroversial dikalangan yang melaksanakan pencegahan pelayanan kesehatan
sehubungan pertanyaan tentang kebutuhan pemeriksaan infeksi asimtomasis, namun
terdapat kesukaran untuk mengidentifikasi kelompok beresiko dimana deteksi dan
pengobatan dari infeksi ini memperlihatkan perbaikan kesehatan seseorang. Wanita
cenderung mudah terserang infeksi saluran kemih bila dibandingkan dengan pria.

BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 Pengkajian
Pada pengkajian data yang perlu di kaji adalah tanggal, jam, tempat pengkajian.
1. Data Subyektif
a. Biodata
Pada biodata yang perlu dikaji adalah nama, umur, agama, pendidikan,
pekerjaan, dan alamat.
Adapun hal hal yang perlu ditanyakan mengenai gejala inkontinensia :
1. Berapa kali inkontinensia terjadi ?
2. Apakah ada kemerahan, lecet, bengkak pada daerah perineal ?
3. Apakah klien mengalami obesitas ?
4. Apakah urine menetes diantara waktu BAK, jika ada berapa banyak ?
5. Apakah inkontinensia terjadi pada saat-saat yang bisa diperkirakan
seperti pada saat batuk, bersin tertawa dan mengangkat benda-benda
berat ?
6. Apakah klien menyadari atau merasakan keinginan akan BAK
sebelum inkontinensia terjadi ?
7. Berapa lama klien mempunyai kesulitan dalam BAK / inkontinensia
urine ?
8. Apakah klien merasakan kandung kemih terasa penuh ?
9. Apakah klien mengalami nyeri saat berkemih ?
10. Apakah masalah ini bertambah parah ?
11. Bagaimana cara klien mengatasi inkontinensia ?
b. Keluhan Utama
Keluhan utama yang dikeluhkan oleh sebagian besar klien dengan
inkontinensia urin berupa nokturia, urgency, disuria, dan oliguri.
c. Riwayat Kesehatan
1. Apakah klien pernah mengalami penyakit yang serupa?
2. Bagaimana riwayat urinasi klien?
3. Apakah klien pernah mengalami trauma tulang belakang atau cedera
genitaurinarius?
4. Apakah klien pernah mengalami operasi bedah ginjal ?
5. Apakah klien pernah mengalami ISK / BPH ?
d. Riwayat Kesehatan Keluarga
Apakah ada keluarga yang menderita penyakit yang serupa dengan
penyakit yang diderita klien. Adakah anggota kelurga klien yang menderita
DM.
e. Riwayat Kesehatan Sekarang
Riwayat penyakit sekarang merupakan riwayat klien pertama kali
menderita inkontinensia urin hingga saat klien masuk rumah sakit.
2. Data Obyektif
a. Pemeriksaan Umum
KU klien biasanya baik
Kesadaran : Composmentis
Tanda-tanda vital
9

Tensi : Normal (110/70 120/80 mmHg)


Nadi : Normal (70 100 x/menit)
Pernafasan : Normal (16-24 x/menit)
Suhu tubuh : Normal (36 37o C)
BB : faktor resiko yang berhubungan dengan berat badan adalah
obesitas.
TB : tidak memandang tinggi badan.
b. Pemeriksaan Fisik
1) B1 (breathing)
Pada B1 perawat melakukan pengkajian adanya gangguan pada
pola nafas klien, adanya sianosis dikarenakan suplai oksigen
menurun, ekspansi dada klien
2) B2 (blood)
Pada B2 apakah terjadi peningkatan tekanan darah, biasanya
pasien bingung dan gelisah.
3) B3 (brain)
Pada B3 biasanya klien ditemukan dalam kesadaran biasanya
sadar penuh. Namun tetap diperhatikan adanya tanda tanda pasca
trauma atau cedera pada SSP.
4) B4 (bladder)
Inspeksi : periksa warna, bau, banyaknya urine biasanya bau
menyengat karena adanya aktivitas mikroorganisme (bakteri) dalam
kandung kemih serta disertai keluarnya darah. apabila ada lesi pada
bladder, pembesaran daerah supra pubik lesi pada meatus uretra,
banyak kencing dan nyeri saat berkemih menandakan disuria akibat
dari infeksi, apakah klien terpasang kateter sebelumnya.
Palpasi : Rasa nyeri di dapat pada daerah supra pubik / pelvis,
seperti rasa terbakar di urera luar sewaktu kencing / dapat juga di
luar waktu kencing.
Perkusi : Terdengar suara redup pada daerah kandung kemih.
5) B5 (bowel)
Pada pemeriksaan B5 dilakukan auskultasi bising usus klien
adakah peningkatan atau penurunan, serta palpasi abdomen klien
adanya nyeri tekan abdomen atau tidak ataupun ketidaknormalan
ginjal. Pada perkusi abdomen ditemukan ketidaknormalan atau tidak.
6) B6 (bone)
Pemeriksaan kekuatan otot dan membandingkannya dengan
ekstremitas yang lain, adakah nyeri pada persendian. Vestal Allen,
1998) .
3.2 Diagnosa Keperawatan
Istilah diagnosa keperawatan pertama kali diperkenalkan oleh V. Fry
(1953) untuk mendeskripsikan langkah yang diperlukan dalam mengembangkan
asuhan keperawatan.
Diagnosis Keperawatan adalah penilaian klinis tentang respon individu,
keluarga, atau masayarakat terhadap masalah kesehatan / proses
kehidupan yang aktual atau potensial. Diagnosa keperawatan menjadi

10

dasar pemilihan intervensi keperawatan untuk mencapai tujuan yang


merupakan tanggung-gugat perawat. (NANDA,1990)
Diagnosa keperawatan yang berkaitan dengan inkontinensia urin
menurut menurut Carpenito,Lynda Juall adalah sebagai berikut :
a. Inkontinensia stress berhubungan dengan peningkatan tekanan
abdomen.
b. Inkontinensia urgency berhubungan penurunan kapasitas kandung
kemih, sekunder akibat berkemih sering.
c. Inkontinensia Fungsional berhubungan dengan gangguan mobilitas.
d. Ansietas berhubungan dengan inkontinensia overflow.
3.3 Intervensi dan Rasional
a. Inkontinensia stress berhubungan dengan peningkatan tekanan abdomen.
Tujuan : Inkontinensia berhenti atau berkurang.
Kriteria hasil :
- Klien melaporkan berkurangnya atau hilangnya inkontinensia stress.
- klien dapat menjelaskan penyebab inkontinensia dan rasional terapi.
Intervensi
Rasional
1. Tentukan
faktor
penunjang 1. Pada inkontinensia stress, otot dasar
inkontinensia antara lain : kelahiran
panggul ( pubokoksigeus) dan otot levator
anak, obesitas, penuaan, dll.
ani telah melemah atau meregang akibat
kelahiran anak, obesitas, penuaan, dll.
2. Ajarkan latian otot dasar panggul
2. Latihan otot dasar panggul menguatkan
dan mengencangkan otot dasar panggul.
Hasil studi telah menunjukkan bahwa
latian otot panggul meningkatkan atau
sepenuhnya mengendalikan inkontinensia
stress (Dougherty,1998).

b. Inkontinensia urgency berhubungan penurunan kapasitas kandung kemih, sekunder


akibat berkemih sering.
Tujuan: Inkontinensia berhenti atau berkurang.
Kriteria Hasil :
-

Klien mampu menjelaskan penyebab inkontinensia.


Klien mampu menguraikan iritan kandung kemih.

Intervensi
Rasional
1. Kaji faktor penyebab atau faktor 1. Komponen essential dari setiap program
penunjang inkontinensia antara
pelatihan kontinen (yang diarahkan pada
lain : iritan kandung kemih,
diri sendiri atau pada pemberi asuhan)
penurunan kapasitas kandung
meliputi motivasi, pengkajian pola
kemih, overdistensi kandung
berkemih dan dan inkontinen, asupan
11

kemih, kontraksi kandung kemih


cairan yang teratur sebanyak 2000-3000
yang tak terinhibisi akibat
mL/hari, interval berkemih 2-4 jam di
gangguan neurologis. Kaji pola
tempat yang sesuai,dan pengkajian terusberkemih dan asupan cairan.
menerus (Miller,1999).
2. Berikan hidrasi optimal, jika tidak 2. Hidrasi optimal diperlukan untuk
ada kontraindikasi.
mencegah infeksi saluran kemih dan
batu ginjal.
3. Kurangi atau hilangkan faktor 3. Membantu proses penyembuhan.
penyebab atau faktor penunjang
jika memungkinkan.
c. Inkontinensia Fungsional berhubungan dengan gangguan mobilitas.
Tujuan : Tujuan: Inkontinensia berhenti atau berkurang.
Kriteria Hasil :
-

Klien melaporkan tidak adanya atau menurunnya episode inkontinensia.


Klien mampu menggunakan peralatan yang adaptif yang tepat untuk membantu
klien berkemih, berpindah, dan berpakaian.
Klien mampu menghilangkan atau meminimalkan hambatan lingkungan di
rumah.

Intervensi
Rasional
1. Kaji faktor penyebab atau faktor 1. Mengetahui hambatan apa yang dialami
penunjang inkontinensia antara
oleh klien.
lain : hambatan menuju toilet,
defisit sensori/kognitif, defisit
motorik/mobilitas.
2. Kurangi atau hilangkan faktor 2. Hambatan yang ada dapat memperlambat
penunjang jika memungkinkan,
akses menuju toilet dan menyebabkan
antara
lain
:
hambatan
inkontinensia jika klien tidak dapat
lingkungan,
defisit
sensori/
menunda berkemih. Penundaan beberapa
kognitif, defisit motorik/mobilitas.
detik saja untuk berkemih dapat
membedakan antara antara kontinensia
dan inkontinensia.
3. Berikan
faktor
yang 3. Penjelasannya:
meningkatkan kontinensia:
a. dehidrasi dapat mencegah sensasi penuh
a. tingkatkan asupan cairan yang
pada kandung kemih dan dapat
teratur 2000-3000mL/hari.
mengakibatkan penurunan tonus kandung
b. hindari mengkonsumsi jus
kemih. Memberi jarak asupan cairan
tomat dan jeruk karena
akan membantu mendukung pengisian
cenderung membuat urine
dan pengosongan kandung kemih yang
menjadi basa. Konsumsi jus
teratur.
berry guna mengasamkan b. urine yang asam mencegah pertumbuhan
urine.
sebagian besar bakteri penyebab sistitis.

12

e. Ansietas berhubungan dengan inkontinensia overflow.


Tujuan : Ansietas berkurang dibuktikan dengan kontrol ansietas.
Kriteria Hasil : a. Melaporkan tidak ada manifestasi kecemasan secara fisik.
b. Manifestasi perilaku akibat kecemasan tidak ada.
c. Klien dapat menjalankan aktivitas sehari harinya.
Intervensi
Rasional
1. Lakukan pengkajian untuk mengetahui 1. Untuk mengetahui kondisi klien dan
tingkat ansietas klien.
sebagai langkah awal sebelum mengambil
keputusan.
2. Observasi tanda-tanda vital (keadekuatan 2. Tanda tanda vital adalah indikator
nadi, tekanan darah)
kondisi yang dialami klien.
3. Beri
dorongan
klien
untuk 3. Untuk mengetahui penyebab ansietas
mengungkapkan pikiran dan perasaan
klien.
untuk mengeksternalisasikan ansietasnya.
4. Kolaborasikan dengan dokter pengobatan 4. Pengobatan medis untuk mengurangi
untuk mengurangi ansietas klien sesuai
ansietas klien.
kebutuhan klien.

13

BAB 4
PEMBAHASAN KASUS
Kasus Semu
Ny. M 45 tahun adalah seorang single mother dengan 2 orang anak laki- laki
masing berusia 8 dan 14 tahun. Ny. M adalah seorang penjahit di sebuah usaha konveksi
di dekat rumahnya. Beberapa minggu yang lalu Ny. M kehilangan pekerjaannya
dikarenakan tempat bekerjanya mengalami kebangkrutan. Untuk memenuhi kebutuhan
keluarganya Ny. M bekerja seadanya sebagai kuli panggul di pasar. Beberapa hari ini
Ny. M mengeluhkan keadaan dirinya yang tidak dapat mengontrol buang air kecil saat
mengangkat benda berat ataupun saat batuk dan bersin. Hal ini sangat mengganggu
aktivitas sehari harinya, sedangkan Ny. M harus mencari pekerjaan lain yang lebih
baik dari kuli panggul. Keadaan ini mendorong Ny. M untuk datang ke RSUA.
4.1 Pengkajian
Pada pengkajian data yang perlu di kaji adalah tanggal, jam, tempat pengkajian.
4.1.1 Data Subyektif
a. Biodata
Pada biodata yang perlu dikaji adalah :
Nama
: Ny. M
Umur
: 45 tahun
Agama
: Islam
Pendidikan
: SMP
Pekerjaan
: Kuli panggul di pasar
Nama suami : Tn. F (alm)
Umur
:Agama
:Pendidikan
:Pekerjaan
:Alamat
:Adapun hal hal yang perlu ditanyakan mengenai gejala inkontinensia :
1. Berapa kali inkontinensia terjadi ?
- Lebih dari 4 kali per hari
2. Apakah ada kemerahan, lecet, bengkak pada daerah perineal ?
- Ada kemerahan dan lecet di area perineal
3. Apakah klien mengalami obesitas ?
- Ya, BB klien 75kg dan TB klien 157cm sehingga IMT klien adalah
30,4
4. Apakah urine menetes diantara waktu BAK, jika ada berapa banyak ?
- Tidak
5. Apakah inkontinensia terjadi pada saat-saat yang bisa diperkirakan
seperti pada saat batuk, bersin tertawa dan mengangkat benda-benda
berat ?

14

- Ya, inkontinensia terjadi pada saat klien mengangkat benda-benda


yang cukup berat.
6. Apakah klien menyadari atau merasakan keinginan akan BAK
sebelum inkontinensia terjadi ?
- Tidak
7. Berapa lama klien mempunyai kesulitan dalam BAK / inkontinensia
urine ?
- Beberapa hari terakhir, kira kira 4 hari terakhir.
8. Apakah klien merasakan kandung kemih terasa penu ?
- Ya
9. Apakah klien mengalami nyeri saat berkemih?
- Tidak
10. Apakah masalah ini bertambah parah?
- Ya
11. Bagaimana cara klien mengatasi inkontinensia?
- Klien menggunakan popok untuk mengatasi masalah
inkontinensianya.
b. Keluhan Utama
Klien mengeluhkan sering buang air kecil tidak terkontrol saat batuk,
bersin dan mengangkat benda berat.
c. Riwayat Kesehatan
Klien tidak memiliki riwayat penyakit yang perlu dikhawatirkan.
d. Riwayat Kesehatan Keluarga
Klien tidak memiliki anggota keluarga yang menderita penyakit yang
mungkin dapat diturunkan seperti DM atau hipertensi.
e. Riwayat Kesehatan Sekarang
Klien mengeluhkan sering buang air kecil tidak terkontrol saat batuk,
bersin dan mengangkat benda berat, hal ini sangat mengganggu aktivitas
sehari-hari klien sehingga klien memeriksakan dirinya ke RSUA.
f. Riwayat Psikologi
Klien adalah seorang single mother dengan 2 orang anak. Klien baru
saja kehilangan pekerjannya. Klien mengaku sangat kehilangan dan
bingung harus mencari pekerjaan lainnya.
4.1.2 Data Obyektif
a. Pemeriksaan Umum
KU : baik
Kesadaran : Composmentis
Tanda-tanda vital
Tensi : 120/80 mmHg
Nadi : 105x/menit
Pernafasan : 23 x/menit
Suhu tubuh : 370 C
BB : 75kg
TB : 157 cm
IMT : 30,4
b. Pemeriksaan Fisik
1. B1 (breathing)

15

RR klien sedikit meningkat 23x/menit,namun masih dalam batas normal.


Klien terlihat gelisah.
2. B2 (blood)
Tekanan drah klien normal dalam ambang normal 120/80 mmHg.
Frekuensi nadi klien meningkat menjadi 105x/menit.
3. B3 (Brain)
Tidak ditemukan tanda-tanda trauma atau cedera pada SSP. Tidak
ditemukan masalah keperawatan.
4. B4 (Bladder)
Inspeksi
a. Daerah perineal:
Kemerahan
: ya
Lecet
: ya
Bengkak
: tidak
b. Adanya benjolan atau tumor spinal cord
: tidak
c. Adanya obesitas atau kurang gerak
: ya , IMT : 30,4
Palpasi
a. Adanya distensi kandung kemih atau nyeri tekan
: ya
b. Teraba benjolan tumor daerah spinal cord
: tidak
c. Reflek patella
: (-)
Perkusi
Terdengar suara redup pada daerah kandung kemih.
5. B5 (Bowel)
Tidak ditemukan masalah keperawatan.
6. B6 (Bone)
Tidak ditemukan masalah keperawatan.
c. Pemeriksaan Diagnostik:
a. Darah lengkap
Hb : 12,6
PVC : 30,0
o leukosit: 11.500
4.1.3 Analisa Data
Data
Etiologi
DS:
Tekanan intra abdominal
Sering mengeluh buang
meningkat
air kecil saat bersin dan

batuk
Urin involunter

Inkontinensia stress

Masalah Keperawatan
Inkontinensia stress

DS:
Klien merasa terganggu
dan
cemas
dengan
kondisinya

ansietas

DO: klien tampak cemas

inkontinensia

Penegeluaran urin
involunter

Mengganggu aktivitas

16

DS: klien berkemih


tanpa disadari saat batuk,
bersin
DO: kemerahan sekitar
perianal
Hygiene yang kurang
sehubungan
dengan
aktivitas

ansietas
inkontinensia

Penegeluaran urin
involunter

Meninggalkan sisa di
area perianal

Risiko gangguan
integritas kulit

gangguan integritas kulit

4.2 Diagnosa
a. Inkontinensia stress berhubungan dengan peningkatan tekanan
intraabdomen dan otot panggul yang lemah, sekunder akibat obesitas.
b. Ansietas berhungan dengan perubahan lingkungan yang aktual dalam status
sosialekonomi sekunder akibat pekerjaan baru.
c. Kerusakan integritas kulit : lecet dan kemerahan pada area perineal
berhubungan dengan kelembapan area perineal.
4.3 Intervensi dan Rasional
4.3.1 Inkontinensia stress berhubungan dengan peningkatan tekanan intraabdomen
dan otot panggul yang lemah, sekunder akibat obesitas.
Tujuan : Inkontinensia berhenti atau berkurang.
Kriteria hasil :
- Klien melaporkan berkurangnya atau hilangnya inkontinensia
stress.
- klien dapat menjelaskan penyebab inkontinensia dan rasional
terapi.
Intervensi
Rasional
1. Tentukan
faktor
penunjang 1. Pada inkontinensia stress, otot dasar
inkontinensia antara lain : kelahiran
panggul ( pubokoksigeus) dan otot levator
anak, obesitas, penuaan, dll. Pada
ani telah melemah atau meregang akibat
kasus Ny. M faktor penunjang yang
kelahiran anak, obesitas, penuaan, dll.
ditemukan adalah obesitas dengan
IMT : 30,4
2. Ajarkan latian otot dasar panggul
2. Latihan otot dasar panggul menguatkan
dan mengencangkan otot dasar panggul.
Hasil studi telah menunjukkan bahwa
latian otot panggul meningkatkan atau
sepenuhnya mengendalikan inkontinensia
stress (Dougherty,1998).
4.3.2

Ansietas berhungan dengan perubahan lingkungan yang aktual dalam status


sosialekonomi sekunder akibat pekerjaan baru.

17

Tujuan : Ansietas berkurang dibuktikan dengan kontrol ansietas.


Kriteria Hasil : a. Melaporkan tidak ada manifestasi kecemasan secara
fisik.
b. Manifestasi perilaku akibat kecemasan tidak ada.
c. Klien dapat menjalankan aktivitas sehari harinya.
Intervensi
1. Lakukan pengkajian untuk mengetahui
tingkat ansietas klien.
2. Observasi tanda-tanda vital (keadekuatan
nadi, tekanan darah)
3. Beri dorongan klien untuk
mengungkapkan pikiran dan perasaan
untuk mengeksternalisasikan
ansietasnya.
4. Kolaborasikan dengan dokter
pengobatan untuk mengurangi ansietas
klien sesuai kebutuhan klien.

Rasional
1. Untuk mengetahui kondisi klien dan
sebagai
langkah
awal
sebelum
mengambil keputusan.
2. Tanda tanda vital adalah indikator
kondisi yang dialami klien.
3. Untuk mengetahui penyebab ansietas
klien.
4. Pengobatan medis untuk mengurangi
ansietas klien.

4.3.3 Gangguan Integritas Kulit


Tujuan : lecet dan kemerahan pada area perineal dapat berkurang atau
menghilang.
Kriteria Hasil : a. Iritasi kulit berkurang atau sembuh.
b. Terjadi penyembuhan luka pada klien.
Intervensi
Rasional
1. Menjaga kebersihan kulit, kulit tetap 1. Menghindari iritasi dan lecet yang lebih
dalam keadaan kering, ganti sprei atau
parah pada klien
pakaian bila basah Berikan penjelasan
tentang pentingnya personal hygiene
2. Anjurkan klien untuk bladder training 2. Bladder training digunakan untuk
mengembalikan fungsi kandung kemih ke
dalam kondisi normal.
3. Anjurkan klien untuk latihan perineal 3. Membantu menguatkan kontrol muskuler
atau pelvic muscle excercise :
(jika di indikasikan )
a. Kontraksikan otot perineal
untuk menghentikan
pengeluaran urine.
b. Kontraksi dipertahankan
selama 5-10 detik dan
kemudian mengendorkan atau
lepaskan.
c. Ulangi sampai 10 kali, 3-4 x /
hari.

18

19

BAB 5
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Inkontinensia urine merupakan eliminasi urine dari kandung kemmih yang tidak
terkendali atau terjadi di luar keinginan. Jika inkontinensia terjadi akibat kelainan
inflamasi (sistitis), mungkin sifatnya hanay sementara. Namun, jika kejadian ini timbul
karena kelainan neurologi yang serius (paraplegia), kemungkina besar sifatnya akan
permanen (Smeltzer & Bare, 2003).
Inkontinensia urine merupakan keluarnya urin yang tidak terkontrol yang
mengakibatkan gangguan hygene dan sosial dan dapat dibuktikan secara objektif.
Inkontinensia ini dapat terjadi dengan derajat yang ringan berupa keluarnya urin hanya
berupa tetes sampai dengan keadaan berat dan sangat mengganggu penderita (Suparman
& Rompas, 2008).
Beberapa klasifikasi inkontinensia urine, diantaranya Inkontinensia Urge,
Inkontiinensia Urine Stress, Inkontinensia Paradoksa (overflow), Inkontinensia Urine
Fungsional, Inkontinensia Total.
Asuhan keperawatan pada klien dengan inkontinensia urin disesuaikan
berdasarkan etiloginya sehingga diharapkan akan lebih maksimal.
5.2 Saran
Diharapkan dengan adanya makalah ini kita menjadi lebih mngerti tanda &
gejala dari inkontinensia urin. Makalah ini jauh dari kata sempurna, maka kami
mengharapkan masukan agar akan lebih baik lagi kedepannya.

20