Anda di halaman 1dari 23

METODOLOGI PENELITIAN KUALITATIF,

KUANTITATIF DAN CAMPURAN


Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Metodologi Penelitian

Disusun oleh :
Arief Budiman
Christie N. Kalesaran
Feronica Simanjorang

MAGISTER ADMINISTRASI BISNIS


KONSENTRASI KEBIJAKAN BISNIS
FAKULTAS ILMU ADMINISTRASI
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2016

DEFENISI DAN JENIS-JENIS PENELITIAN

1. Definisi Penelitian
Research is a systematic attempt to provide answers to questions. Such answer may
be abstract and general as is often the case in basic research or they may be highly concrete
and specific as is often the case in applied research. (Tuckman 1978:1)
Berdasarkan definisi di atas secara sederhana dapat dikatakan bahwa penelitian
merupakan cara-cara yang sistematis untuk menjawab masalah yang sedang diteliti. Kata
sistematis merupakan kata kunci yang berkaitan dengan metode ilmiah yang berarti adanya
prosedur yang ditandai dengan keteraturan dan ketuntasan.
2. Jenis Jenis Penelitian
TIGA JENIS RANCANGAN
Ada tiga jenis penelitian yang akan disajikan: penelitian kualitatif, kuantitatif, dan
metode campuran. Pada hakikatnya, tiga pendekatan ini tidaklah terpisah satu sama lain
seperti ketika pertama kali muncul. Pendekatan kualitatif dan kuantitatif seharusnya tidak
dipandang sebagai antitesi atau dikotomi yang saling bertentangan; keduanya hanya
mempresentasikan hasil akhir yang berbeda, namun tetap dalam satu continuum (Newman &
Benz, Lggs). Suatu penelitian hanya akan lebih kualitatif ketimbang kuantitatif, atau
sebaliknya. Adapaun metode campuran berada di tengah continuum tersebut karena
penelitian ini melibatkan unsur-unsur dari pendekatan kualitatif dan kuantitatif.
Perbedaan antara penelitian kualitatif dan kuantitatif sering kali dijelaskan
berdasarkan bentuk-bentuknya yang menggunakan kata-kata (kualitatif) dan yang
menggunakan angka-angka (kuantitatif), atau berdasarkan pertanyaan-pertanyaan yang
tertutup (hipotesis kuantitatif) dan yang terbuka (hipotesis kualitatif). Padahal, gradasi
perbedaan antar keduanya sebenarnya terletak pada asumsi filosofis dasar yang dibawa oleh
peneliti sepanjang penelitiannya (seperti, strategi eksperimen kuantitatif atau strategi
lapangan kualitatif) , dari metode-metode spesifik yang akan diterapkan peneliti untuk
melaksanakan strategi-strategi ini (seperti, pengumpulan data secara kuantitatif dalam bentuk
instrumen versus Pengumpulan data secara kualitatif melalui observasi lapangan).
Lagi pula, ada perkembangan historis yang dapat membedakan kedua pendekatan
tersebut. Misalnya saja, pendekatan kuantitatif banyak mendominasi bentuk-bentuk penelitian
dalam ilmu-ilmu social sejak awal abad XIX hingga pertengahan abad XX. Namun, sejak
awal pertengahan abad XX, muncul minat yang tinggi terhadap penelitian kualitatif dan
bersamaan dengan itu berkembang pula penelitian metode campuran (lihat Creswell, 2008,
untuk sejarah yang lebih lengkap). Latar belakang historis ini setidak-tidaknya dapat
dijadikan salah satu landasan untuk mencari defenisi rigid atas tiga istilah kunci tersebut,
yang untuk selanjutnya akan digunakan dalam buku ini :

Penlitian kualitatif merupakan metode-metode untuk mengekplorasi dan memahami


makna yang oleh sejumlah individu atau sekelompok orang dianggap berasal dari
masalah social atau kemanusiaan. Proses penelitian kualitatif ini melibatkan upaya

upaya penting sepeti mengajukan pertanyaan dan prosedur-prosedur, mengumpulkan


data yang spesifik dari para partisipan, menganalisis data secara induktif mulai dari
tema-tema yang khusus ke tema-tema yang umum, dan menafsirkan makna data.
Laporan akhir untuk penelitian ini memiliki struktur atau kerangka yang fleksibel.
Siapapun yang terlibat dalam penelitian ini harus menerapkan cara pandang penelitian
yang bergaya induktif, berfokus terhadap makna individual, dan menerjemahkan
kompleksitas suatu persoalan (diadaptasi dar Creswell, 2007)
Penelitian kuantitatif merupakan metode-metode untuk menguji teori-teori tertentu
denga cara meneliti hubungan antarvariabel. Variable-variabel ini diukur -biasanya
dengan instrument penelitian sehingga data yang terdiri dari angka-angka dapat
dianalisis berdasarkan prosedur-prosedur statistik. Laporan akhir untuk peneltian ini
pada umumnya memiliki struktur yang ketat dan konsisten mulai dari pendahuluan,
tinjauan pustaka, landasan teori, metode penelitian, hasil penelitian, dan pembahasan
(Creswell, 2008). Seperti halnya para peneliti kualitatif, siapapun yang terlibat dalam
penelitian kuantitatif juga perlu memiliki asumsi-asumsi untuk menguji teori secara
dedukti, mencegah munculnya bias-bias, mengontrol penjelasan-penjelasan alternatif,
dan mampu menggeneralisasikan dna menerapkan kembali penemuan-penemuannya.
Penelitian metode campuran merupakan pendekatan penelitian yang
mengombinasikan atau menasosiasikan bentuk kualitatif dan bentuk kuantitatif.
Pendekatan ini melibatkan asumsi-asumsi filosofis, aplikasi pendekatan-pendekatan
kualitatif dan kuantitatif, dan pencampuran (mixing) kedua pendekatan tersebut dalam
satu penelitian. Pendekatan ini lebih kompleks dari sekadar mengumpulkan data dan
menganalisis dua jenis data; ia juga melibatkan fungsi dari pendekatan penelitian
tersebut secara kolektif sehingga kekuatan penelitian ini secara keseluruhan lebih
besar ketimbang penelitian kualitatif dan kuantitatif ( Creswell & Plano Clark, 2007)

Strategi-Strategi Penelitian
Para peneliti hendaknya jangan hanya memilih penelitian kualitatif, kuantitatif, atau
metode campuran untuk diterapkan; mereka juga harus menentukan jenis penelitian dalam
tiga pilihan tersebut. Strategi-strategi penelitian merupakan jenis-jenis rancangan peneIitian
kualitatif, kuantitatif, dan metode campuran yang menetapkan prosedur-prosedur khusus
dalam penelitian. Beberapa orang menyebut strategi penelitian dengan istilah pendekatan
peneiitian (Creswell, 2007) atau metodologi penelitian (Mertens, 1998).
Strategi-strategi yang tersedia bagi peneliti sebenamya sudah muncul bertahun-tahun
lalu saat teknologi komputer telah mempercepat aktivitas kita dalam menganalisis data-data
yang rurnit. Strategi-strategi tersebut hadir ketika manusia sudah mampu mengartikulasikan
prosedur-prosedur baru dalam melakukan penelitian ilmu sosial. Pilihlah salah satu dari
strategi-strategi penelitian yang sering kali digunakan dalam ilmu sosial, seperti yang akan
saya jelaskan dalam Bab 8, 9, dan10.
Di sini, saya hanya akan memperkenalkan strategi-strategi ini yang nantinya akan
dijelaskan lebih rinci lengkap dengan contoh-contohnya di sepanjang buku ini. Ringkasan
strategi-strategi tersebut dapat dilihat dalam Tabel 1.2.

Kuantitatif
Rancangan-rancangan
eksperimen
Rancangan-racangan noneksperimen seperti metode
survei

Kualitatif

Metode Campuran

Penelitian naratif

Sekuensial

Fenomenologi

Konkuren

Etnografi
Grounded theory
Studi kasus

Transformatif

Strategi-strategi Kuantitatif
Selama akhir abad XIX dan awal abad XX, strategi-strategi penelitian yang berkaitan
dengan rancangan kuantitatif selalu meIibatkan pandangan-dunia post-positivis. Strategistrategi ini meliputi eksperimeh-eksperimen nyata, eksperimen-eksperimen yang kurang rigid
yang sering disebut dengan kuasi-eksperimen dan penelitian korelasional (Campbell &
Stanley, 1963), dan eksperimen-eksperimen single-subject (Cooper, Heron, & Heward, 1987;
Neuman & McCormick,1995).
Namun, dewasa ini, strategi-strategi kuantitatif sudah melibatkan eksperimen-eksperimen
yang lebih kompleks dengan semua variabei dan treatment-nya (seperti rancangan faktorial
dan rancangan repeated measure). Strategi-strategi kuantitatif juga meliputi model-model
persamaan struktural yang sedikit rumit, yang biasanya menyertakan metode-metode
kausalitas dan identifikasi kekuatan variabel-variabel ganda. Dalam buku ini, saya hanya
fokus pada dua strategi penelitian kuantitatif, yakni survei dan eksperimen.

Penelitian survei berusaha memaparkan secara kuantitatif kecenderungan, sikap, atau


opini dari suatu populasi tertentu dengan meneliti satu sampel dari populasi tersebut.
Penelitian ini meliputi studi-studi cross-sectional dan longitudinal yang menggunakan
kuesioner atau wawancara terencana dalam pengumpulan data, dengan tujuan untuk
menggeneralisasi populasi berdasarkan sampel yang sudah ditentukan (Babbie, 1990).

Penelitian eksperimen berusaha menentukan apakah suatu treatment memengaruhi


hasil sebuah penelitian. Pengaruh ini dinilai dengan cara menerapkan treatment
tertentu pada satu kelompok (sering disebut kelompok treatment, penj.) dan tidak
menerapkannya pada kelompok yang lain (sering disebut kelompok kontrol, Penj.),
Ialu menentukan bagaimana dua kelompok tersebut menentukan hasil akhir.
Penelitian ini mencakup eksperimen-aktual dengan penugasan acak (random

assignmenf) atas subjek-subjek yang di-treatment dalam kondisi-kondisi tertentu, dan


kuasi-eksperimen dengan prosedur-prosedur non-acak (Keepel 1991). Termasuk
dalam kuasi-eksperimen adalah rancangan single-subiect.
Strategi-Strategi Kualitatif
Untuk penelitian kualitatif, strategi-strateginya sudah mulai bermunculan sepanjang tahun
1990-an dan memasuki abad XX. Tidak sedikit buku yang telah membahas strategi kualitatif
ini (seperti 19 strategi yang diperkenalkan oleh Wolcott, 2001). Bahkan, pendekatanpendekatan di dalam penelitian kualitatif tertentu sudah memiliki prosedur-prosedur yang
lengkap dan jelas. Misalnya, Clandinin dan Connelly (2000) telah membuat deskripsi
komprehensif tentang apa yang harus dilakukan oleh seorang peneliti naratif. Moustakas
(1994) juga telah membahas doktrin-doktrin filosofis dan prosedur-prosedur dalam metode
fenomenologi, sedangkan Strauss dan Corbin (1990,1998) memperkenalkan prosedurprosedur untuk peneliti grounded theory. Wolcott (1999) menjabarkan prosedur-prosedur
etnografis, dan Stake (1995) merekomendasikan sejumlah proses yang harus dilakukan dalam
penelitian studi kasus.
Dalam buku ini, saya sudah menyajikan ilustrasi-ilustrasi berdasarkan strategi-strategi di
atas, sekaligus memperkenalkan bahwa pendekatan-pendekatan seperti penelitian
partisipatoris (Kemmis & Wilkinson, 1998), analisis wacana (Cheek,2004), dan pendekatanpendekatan lain yang tidak disebutkan (lihat Creswell, 2007b) juga dapat menjadi cara-cara
yang memadai di dalam melakukan penelitian kualitatif:
Etnografi merupakan salah satu strategi penelitian kualitatif yang di dalamnya
peneliti menyelidiki suatu kelompok kebudayaan di lingkungan yang alamiah dalam
periode waktu yang cukup lama dalam dalam pengumpulan data utama, data
observasi, dan data wawancara (creswell, 2007b). Proses penelitiannya fleksibel dan
biasanya berkembang sesuai kondisi dalam merespons kenyataan-kenyataan hidup
yang dijumpai di lapangan (LeCompte & Schensul, 1999).

Grounded theory nterupakan strategi penelitian yang di dalamnya peneliti


"memproduksi" teori umum dan abstrak dari suatu proses, aksi, atau interaksi tertentu
yang berasal dari pandangan-pandangan partisipan. Rancangan ini mengharuskan
peneliti untuk menjalani sejumlah tahap pengumpulan data dan penyaringan kategorikategori atas informasi yang diperoleh (Charmaz, 2006; Strauss dan Corbin, 1990,
1998). Rancangan ini memiliki dua karakteristik utama, yaitu: (1) perbandingan yang
konstan antara data dan kategori-kategori yang muncul dan (2) pengambilan contoh
secara teoretis (teoretical sampling) atas kelompok-kelompok yang berbeda untuk
memaksimalkan kesamaan dan perbedaan informasi.

Studi kasus merupakan strategi penelitian dimana didalamnya peneliti menyeliki


secara cermat suatu program, peristiwa, aktivitas, proses, atau sekelompok individu.
Kasus-kasus dibatasi oleh waktu dan aktivitas, dan peneliti mengumpulkan informasi
secara lengkap dengan menggunakan berbagai prosedur pengumpulan data
berdasarkan waktu yang telah ditentukan (Stake, 1995).

Fenomenologi merupakan strategi penelitian di mana di dalamnya peneliti


mengidentifikasi hakikat pengalaman manusia tentang suatu fenomena tertentu.
Memahami pengalaman-pengalaman hidup manusia menjadikan filsafat
fenomenologi sebagai suatu metode penelitian yang prosedur-prosedurnya
mengharuskan peneliti untuk mengkaji sejumlah subjek dengan terlibat secara
langsung dan relatif lama di dalamnya untuk mengembangkan pola-pola dan relasirelasi makna (Moustakas, 1994). Dalam Proses ini, peneliti mengesampingkan
terlebih dahulu pengalaman-pengalaman pribadinya agar ia dapat memahami
pengalaman-pengalaman partisipan yang ia teiiti (Nieswiadomy,1993).

Naratif merupakan strategi penelitian di mana di dalamnya peneliti menyelidiki


kehidupan individu-individu dan meminta seorang atau sekolompok individu untuk
menceritakan kehidupan mereka. Informasi ini kemudian diceritakan kembali oleh
peneliti dalam kronologi naratif. Di akhir tahap penelitian, peneliti harus
menggabungkan dengan gaya naratif pandangan-pandangannya tentang kehidupan
partisipan dengan pandangan-pandangannya tentang kehidupan peneliti sendiri
(Clandinin & Connelly,2000).

Strategi-Strategi Metode Campuran


Strategi-strategi metode campuran sebenamya kurang populer dibanding dua strategi
sebelumnya (kuantitatif dan kualitatif). Konsep untuk "mencampur metode-metode yang
berbeda" ini pada hakikatnya muncul pada 1959 ketika Campbell dan Fisk menggunakan
metode-jamak (multimethods) dalam meneliti kebenaran watak-watak psikologis. Mereka
kemudian mendorong orang lain menggunakan matriks metode-jamak mereka untuk menguji
kemungkinan digunakannya pendekatan-jamak (muttiple approaches) dalam pengumpulan
data penelitian. Berawal dari inilah, banyak orang yang kemudian mencampur metodemetode sekaligus pendekatan-pendekatan yang berhubungan dengan metode-metode tersebut,
misalnya, mereka menggabungkan metode observasi dan wawancara (data kualitatif) dengan
metode survei tradisional (data kuantitatif) (Sieber, 1973).
Dengan menyadari bahwa setiap metode pasti memiliki kekurangan dan keterbatasan, para
peneliti metode campuran pun akhirnya meyakini bahwa bias-bias yang muncul dalam satu
metode dapat menetralisasi atau menghilangkan bias-bias dalam metode metode yang lain.
Triangulasi sumber-sumber data (triangulasi of data resourcers) suatu metode dalam mencari
konvergensi antara metode kualitatif dan metode kuantitatifpun muncul (Jick, 1979). Pada
awal 1990-an, gagasan "pencampuran" (mixing) ini mulai beralih dari yang awalnya hanya
berusaha mencari-cari konvergensi menuju usaha penggabungan yang sebenarnya antara data
kuantitatif dan data kualitatif. Misalnya, hasil-hasil dari satu metode dapat membantu metode
yang lain, utamanya dalam mengidentifikasi para partisipan yang diteliti atau pertanyaanpertanyaan yang diajukan (Thashakkori & Teddlie, 1998). Selain itu, data kualitatif dan
kuantitatif dapat disatukan menjadi satu database besar yang bisa digunakan secara
berdampingan untuk memperkuat satu sama lain (misalnya, kuota kualitatif dapat mendukung
hasi-hasil statistik)(Creswell & Plano Clark, 2007). Jika tidak, kombinasi dua metode tersebut
dapat diterapkan untuk mencapai tujuan-tujuan yang luas dan transformatif, misalnya, dalam

mengadvokasi kelompok-kelompok marginal, seperti perempuan, minoritas etnik/ras,


komunitas gay dan lesbian, orang-orang difabel, dan mereka yang miskin/lemah (Mertens'
2003).
Dimungkinkannya sejumlah metode dicampur "jadi satu" telah rnenuntun para pakar untuk
mengembangkan prosedur-prosedur penelitian berdasarkan metode campuran. Hingga saat
ini, istilah-istilah untuk menyebut rancangan metode campuran pun sangat beragam, seperti
multi-metode, metode konvergensi, metode terintegrasi, dan metode kombinasi (Creswell &
Plano Clark, 2007), yang memiliki prosedur-prosedurnya masing-masing (Tashakkori &
Teddlie, 2003) .
Secara khusus, ada tiga strategi metode campuran dan sejumlah variasinya yang akan
diilustrasikan dalam buku ini:
Strategi metode campuran sekuensial/bertahap (sequential mixed methods)
merupakan prosedur-prosedur di mana di dalamnya peneliti berusaha menggabungkan
atau memperluas penemuan-penernuannya yang diperoleh dari satu metode dengan
penemuan-penemuannya dari metode yang lain. Strategi ini dapat dilakukan dengan
melakukan interview kualitatif terlebih dahulu untuk mendapatkan penjelasanpenjelasan yang memadai, lalu diikuti dengan metode survei kuantitatif dengan
sejumlah sampel untuk memperoleh hasil umum dari suatu populasi. Jika tidak,
penelitian ini dapat dimulai dari metode kuantitatif terlebih dahulu dengan menguji
suatu teori atau konsep tertentu, kemudian diikuti dengan metode kualitatif dengan
mengeksplorasi sejumlah kasus dan individu.
Strategi metode campuran konkuren/satu waktu (concurrent mixed metlnds)
merupakan prosedur-prosedur di mana di dalamnya peneliti mempertemukan atau
menyatukan data kuantitatif dan data kualitatif untuk memperoleh analisis
kornprehensif atas masalah penelitian. Dalam strategi ini, peneliti mengumpulkan dua
jenis data tersebut pada satu waktu, kemudian menggabungkannya menjadi satu
informasi dalam interpretasi hasil keseluruhan. Jika tidak, dalam strategi ini peneliti
dapat memasukkan satu jenis data yang lebih kecil ke dalam sekumpulan data yang
lebih besar untuk menganalisis jenis-jenis pertanyaan yang berbeda-beda (misalnya,
jika metode kualitatif diterapkan untuk melaksanakan penelitian, metode kuantitatif
dapat diterapkan untuk mengetahui hasil akhir).

Prosedur metode campuran transformatif (transformative mixed methods)


merupakan prosedur-prosedur di mana di dalamnya peneliti menggunakan kacamata
teoretis (lihat Bab 3) sebagai perspektif overaching yang di dalamnya terdiri dari data
kuantitatif dan data kualitatif. Perspektif inilah yang akan menyediakan kerangka
kerja untuk topik penelitian, metode-metode untuk pengumpulan data, dan hasil-hasil
atau perubahan-perubahan yang diharapkan. Bahkan, perspektif ini bisa digunakan
peneliti sebagai metode pengumpulan data secara sekuensial ataupun konkuren.

A. Klasifikasi Penelitian Menurut Tujuan


Berdasarkan tujuannya, penelitian dibedakan menjadi penelitian dasar dan penelitian
terapan ( lihat misalnya : Sekarang, 2000 : 6-9; Zikmund, 2000: 6-7). Penelitian dasar, sering
disebut sebagai penelitian murni atau basic riset merupakan penelitian yang meliputi

pengembangan ilmu pengetahuan. Penelitian semacam ini memang tidak secara langsung
bertujuan memecahkan suatu masalah. Karena itu penelitian dasar biasanya dilakukan untuk
menguji kebenaran teori tertentu, atau mengetahui konsep tertentu secara lebih mendalam.
Penelitian terapan sering disebut sebagai applied research, merupakan penelitian yang
menyangkut aplikasi teori untuk memecahkan permasalahan tertentu. Ada tiga macam contoh
dari penelitian terapan, yaitu :
1. Penelitian Evaluasi
Penelitian evaluasi atau evaluation research adalah penelitian yang diharapkan dapat
memberikan masukan atau mendukung pengambilan keputusan tentang nilai relative
dari dua atau lebih alternative tindakan. Penelitian evaluasi, dalam hubungannya
dengan penelitian terapan, merupakan proses pengumpulan dan analisis secara
sistematis yang bertujuan untuk membuat keputusan tertentu.
2. Penelitian dan Pengembangan
Penelitian dan pengembangan (research and development) merupakan penelitian yang
bertujuan untuk mengembangkan produk sehingga produk tersebut mempunyai
kualitas yang lebih tinggi. Tujuan utama dari penelitian dan pengembangan bukan
untuk formulasi dan uji hipotesis , melainkan untuk mendapatkan produk baru atau
proses baru. Melalui penelitian dan pengembangan produk , perusahaan akan
menghasilkan produk baru dengan kualitas yang lebih tinggi, sehingga akan lebih
memenuhi selera konsumen. Sehubungan dengan penelitian dan pengembangan
produk, perusahaan dapat menerapkan pengendalian kualitas total yang prinsip
utamanya adalah kaizen atau selalu mengadakan perbaikan secara continiu.
3. Penelitian Tindakan
Penelitian tindakan (action research) adalah penelitian yang dilakukan untuk segera
dipergunakan sebagai dasar tindakan pemecahan masalah yang ada. Penelitian
tindakan bertujuan untuk memecahkan persoalan bisnis dan ekonomi melalui aplikasi
metode ilmiah. Pemecahan masalah akan dititik beratkan kepada masalah local yang
sedang dihadapi. Tujuan utama dari penelitian tindakan ini adalah memecahkan
masalah, bukan membuat kontribusi kepada ilmu pengetahuan.
B. Klasifikasi Penelitian Menurut Metode
Berdasarkan metode penelitian yang dilakukan, penelitian dapat di klasifikasi menjadi
penelitian :
Penelitian Historis
Penelitian historis meliputi kegiatan penyelidikan, pemahaman, dan penjelasan keadaan
yang telah lalu. Tujuan penelitian historis adalah sampai dengan suatu kesimpulan mengenai
sebab sebab, dampak atau perkembangan dari kejadian yang telah lalu yang dapat
dipergunakan untuk menjelaskan kejadian sekarang dan mengantisipasi kejadian yang akan
datang. Peneliti historis pada umumnya tidak dapat mengumpulkan data kejadian yang telah
ada. Sumber Data yang dipergunakan dapat bersumber dari data primer maupun sekunder.

Contoh sumber data primer adalah laporan saksi mata dan dokumen original. Sumber ata
sekunder misalnya deskripsi yang disusun orang lain namun bukan saksi mata.
Evaluasi data historis meliputi kritik eksternal dan internal. Kritik eksternal berhubungan
dengan keotentikan data, sementara kritik internal berhubungan dengan nilai dari data
tersebut. Nilai data ditentukan oleh tingkat akurasi dan reliabilitas serta dukungannya kepada
hipotesis. Contoh penelitian historis adalah :
perkembangan industri kecil selama sepuluh tahun terakhir
Penelitian Deskriptif
Penelitian deskriptif meliputi pengumplan data untuk diuji hipotesis atau menjawab
pertanyaan mengenai status terakhir dari subjek penelitian. Tipe yang paling umum dari
penelitian deskriptif ini meliputi penelitian sikap atau pendapat terhadap indiidu, organisasi,
keadaan, atau prosedur.
Contoh dari penelitian ini antara lain survei pasar. Data deskriptif pada umumnya
dikumpulkan melalui daftar pertanyaan dalam survei, wawancara, ataupun observasi. Desain
formal diperlukan untuk meyakinkan bahwa deskripsi mencakup semua tahapan yang
diinginkan. Desain ini juga diperlukan untuk mencegah dikumpulkannya data yang tidak
perlu.
Penelitian Korelasional
Penelitian korelasional berusaha untuk menentukan apakah terdapat hubungan antara
asosiasi antara dua variabel atau lebih, serta seberapa jauh korelasi yang ada diatara variabel
yang diteliti. yang dimaksud dengan variabel adalah suatu konsep yang dapat diasumsikan
sebagai suatu kisaran nilai. Hal yang perlu diperhatikan bahwa penelitian korelasi tidak
menjelaskan sebab akibat, melainkan hanya menjelaskan ada atau tidak adanya hubungan
antara variabel yang diteliti. Kalau didalam suatu penelitian diperoleh kesimpulan bahwa
terdapat hubungan yang kuat antara biaya penjualan dengan jumlah penjualan, belum
diketahui hubungan kausalitasnya.
Sebagai contoh : Apakah biaya penualan yang mempengaruhi penjualan, ataukah
sebaliknya. beberapa contoh penelitian korelasional adalah

Hubungan antara produktivitas dan struktur tugas.


Hubungan antara kekhawatiran dan ketelitian.

Penelitian Kausal Komparatif dan Eksperimental


Berbeda dengan korelasi, selain mengukur kekuatan hubungan antara dua variabel atau
lebih, studi kausalitas juga menunjukkan arah hubungan antara variabel bebas dengan
variabel variabel terikat. dengan kata lain, studi kausalitas mempertanyakan masalah sebabakibat. analisis kausalitas dibedakan menjadi:
1. Kausalitas satu arah

X
Y, artinya X menyebabkan Y
Y
X artinya Y menyebabkan X
2. Kausalitas dua arah artinya ada hubungan simultan antara Y dan X karena Y
menyebabkan X dan X menyebaban Y.
Kendati penelitian kausal komparatif dan eksperimental merupakan dua macam
penelitian yang berbeda, namun keduanya memiliki beberapa persamaan. Kedua metode
penelitian ini berusaha untuk melihat adanya hubungan sebab akibat, juga meliputi
perbandingan antara grup.
Perbedaan utama antara keduanya adalah bahwa dalam penelitian experimental,
pertanyaan sebab dikendalikan, sedang dalam penelitian kausal komparatif tidak. dalam
penelitian eksperimental. Dalam penelitian eksperimental, aktivitas atau karakteristik yang
dipercaya menyebabkan perubahan disebut sebagai variabel bebas, sedangkan perubahan atau
akibat yang diperhitungkan terjadi atau tidak terjadi disebut sebagai variabel terikat, artinya
terikat kepada variabel bebas. Jadi penelitian ini merupakan studi yang menyelidiki hubungan
sebab-akibat, menyeidiki akibat yang ditimbulkan oleh variabel bebas kepada variabel terikat.
DESAIN PENELITIAN
Apa yang dimaksud dengan menyusun desain penelitian? Desain penelitian khususnya
dalam penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif merupakan alat dalam penelitian
dimana seorang peneliti tergantung dalam menentukan berhasil atau tidaknya suatu penelitian
yang sedang dilakukan. Desain penelitian bagaikan alat penuntun bagi peneliti dalam
melakukan proses penentuan instrumen pengambilan data, penentuan sampel, koleksi data
dan analisisnya. Tanpa desain yang baik maka penelitian yang dilakukan tidak akan
mempunyai validitas yang tinggi.
Dalam melakukan penelitian salah satu hal yang penting ialah membuat desain penelitian.
Desain penelitian bagaikan sebuah peta jalan bagi peneliti yang menuntun serta menentukan
arah berlangsungnya proses penelitian secara benar dan tepat sesuai dengan tujuan yang telah
ditetapkan. Tanpa desain yang benar seorang peneliti tidak akan dapat melakukan penelitian
dengan baik karena yang bersangkutan tidak mempunyai pedoman arah yang jelas.
Agar tercapai pembuatan desain yang benar, maka peneliti perlu menghindari sumber
potensial kesalahan dalam proses penelitian secara keseluruhan. Kesalahan-kesalahan
tersebut ialah:
a. Kesalahan Dalam Perencanaan
Kesalahan dalam perencanaan dapat terjadi saat peneliti membuat kesalahan dalam
menyusun desain yang akan digunakan untuk mengumpulkan informasi. Kesalahan ini dapat
terjadi pula bila peneliti salah dalam merumuskan masalah. Kesalahan dalam merumuskan
masalah akan menghasilkan infromasi yang tidak dapat digunakan untuk menyelesaikan
masalah yang sedang diteliti. Cara mengatasi kesalahan ini ialah mengembangkan proposal

yang baik dan benar yang secara jelas menspesifikasikan metode dan nilai tambah penelitian
yang akan dijalankan.
b. Kesalahan Dalam Pengumpulan Data
Kesalahan dalam pengumpulan data terjadi pada saat peneliti melakukan kesalahan dalam
proses pengumpulan data di lapangan. Kesalahan ini dapat memperbesar tingkat kesalahan
yang sudah terjadi dikarenakan perencanaan yang tidak matang. Untuk menghindari hal
tersebut data yang dikoleksi harus merupakan representasi dari populasi yang sedang diteliti
dan metode pengumpulan datanya harus dapat menghasilkan data yang akurat. Cara
mengatasi kesalahan ini ialah kehati-hatian dan ketepatan dalam menjalankan desain
penelitian yang sudah dirancang dalam proposal.
c. Kesalahan Dalam Melakukan Analisis
Kesalahan dalam melakukan analisis dapat terjadi pada saat peneliti salah dalam memilih
cara menganalisis data. Selanjutnya, kesalahan ini disebabkan pula adanya kesalahan dalam
memilih teknik analisis yang sesuai dengan masalah dan data yang tersedia. Cara mengatasi
masalah ini ialah buatlah justifikasi prosedur analisis yang digunakan untuk menyimpulkan
dan memanipulasi data.
d. Kesalahan Dalam Pelaporan
Kesalahan dalam pelaporan terjadi jika peneliti membuat kesalahan dalam
menginterprestasikan hasil-hasil penelitian. Kesalahan seperti ini terjadi pada saat
memberikan makna hubungan-hubungan dan angka-angka yang diidentifikasi dari tahap
analisis data. Cara mengatasi kesalahan ini ialah hasil analisis data diperiksa oleh orangorang yang benar-benar ahli dan menguasai masalah hasil penelitian tersebut.

Desain riset exploratori digunakan untuk riset awal yang berfungsi untuk menjelaskan
dan mendefinisikan suatu masalah. Riset bersifat awal tidak untuk mencari kesimpulan akhir.
Yang termasuk dalam kategori ini ialah survei yang dilakukan oleh ahli, studi kasus, analisis
data sekunder dan riset yang menggunakan pendekatan kualitatif.

Desain riset konklusif digunakan untuk riset deskriptif dan riset eksperimental. Riset
deskriptif berfungsi untuk menggambarkan karakteristik/gejala/fungsi suatu populasi. Metode
yang digunakan biasanya survei dan observasi. Riset deskriptif mempunyai karakteristik
hipotesis, desain terstruktur dan tidak fleksibel, mengutamakan akurasi dan pemahaman
masalah sebelumnya. Riset kausal digunakan untuk mengidentifikasi hubungan sebab akibat
antara variabel-variabel yang berfungsi sebagai penyebab (variabel bebas) dan variabel mana
berfungsi sebagai variabel akibat (variabel tergantung).
Secara garis besar dalam aliran kuantitatif yang bersifat konklusif ada dua macam tipe
desain, yaitu: Desain Ex Post Facto dan Desain Eskperimental. Faktor-faktor yang
membedakan kedua desain ini ialah pada desain pertama tidak terjadi manipulasi variabel
bebas sedang pada desain yang kedua terdapat adanya manipulasi variabel bebas.
Tujuan utama penggunaan desain yang pertama ialah bersifat eksplorasi dan deskriptif;
sedang desain kedua bersifat eksplanatori (sebab akibat). Jika dilihat dari sisi tingkat
pemahaman permasalahan yang diteliti, maka desain ex post facto menghasilkan tingkat
pemahaman persoalan yang dikaji pada tataran permukaan, sedangkan desain eksperimental
dapat menghasilkan tingkat pemahaman yang lebih mendalam. Kedua desain utama tersebut
mempunyai sub-sub desain yang lebih khusus. Yang termasuk dalam kategori pertama ialah
studi lapangan dan survei. Sedang yang termasuk dalam kategori kedua ialah percobaan di
lapangan (field experiment) dan percobaan di laboratorium (laboratory experiment)
1. Desain Ex post Facto
a. Studi Lapangan
Studi lapangan merupakan desain penelitian yang mengkombinasikan antara pencarian
literature (literature study), survei berdasarkan pengalaman dan/atau studi kasus dimana
peneliti berusaha mengidentifikasi variabel-variabel penting dan hubungan antar variabel
tersebut dalam suatu situasi permasalahan tertentu. Studi lapangan umumnya digunakan
sebagai sarana penelitian lebih lanjut dan mendalam.
b. Survei
Desain survei tergantung pada penggunaan jenis kuesioner. Survei memerlukan populasi
yasng besar jika peneliti menginginkan hasilnya mencerminkan kondisi nyata. Semakin
sampelnya besar, survei semakin memberikan hasil yang lebih akurat. Dengan survei seorang
peneliti dapat mengungkap masalah yang banyak, meski hanya sebatas dipermukaan.
Sekalipun demikian, survei bermanfaat jika peneliti menginginkan informasi yang banyak
dan beraneka ragam. Metode survei sangat popular karena banyak digunakan dalam
penelitian bisnis. Keunggulan survei yang lain ialah mudah melaksanakan dan dapat
dilakukan secara cepat.
2. Desain Eksperimental
a. Eksperimen Lapangan

Desain eksperimen lapangan merupakan penelitian yang dilakukan dengan menggunakan


latar yang realistis dimana peneliti melakukan campur tangan dan melakukan manipulasi
terhadap variabel bebas.
b. Eksperimen Laboratorium
Desain eksperimen laboratorium menggunakan latar tiruan dalam melakukan
penelitiannya. Dengan menggunakan desain ini, peneliti melakukan campur tangan dan
manipulasi variabel-variabel bebas serta memungkinkan peneliti melakukan kontrol terhadap
aspek-aspek kesalahan utama.
Desain Penelitian dalam Merencanakan Penelitian
Desain dari penelitian adalah semua proses yang diperlukan dalam perencanaan dan
pelaksanaan penelitian. Dalam pengertian yang lebih sempit, desain penelitian hanya
mengenai pengumpulan dan analisis data saja.
Dalam merencanakan penelitian, desain dimulai dengan mengadakan penyelidikan dan
evaluasi terhadap penelitian yang sudah dikerjakan dan diketahui, dalam memecahkan
masalah. Dari penyelidikan itu, akan terjawab bagaimana hipotesis dirumuskan dan diuji
dengan data yang diperoleh untuk memecahkan suatu masalah. Dari sini pula dapat dicari
beberapa petunjuk tentang desain yang akan dibuat untuk penelitian yang akan
dikembangkan. Pemilihan desain biasanya dimulai ketika seseorang peneliti sudah memulai
merumuskan hipotesis-hipotesisnya. Akan tetapi, aspek yang paling penting adalah berkenaan
dengan apakah suatu hipotesis yang khas diterjemahkan ke dalam fenomena-fenomena yang
diamati dan apakah metode penelitian yang akan dipilih akan dapat menjamin diperolehnya
data yang diperlukan untuk menguji hipotesis tersebut.
Desain pelaksanaan penelitian meliputi proses membuat percobaan ataupun pengamatan
serta memilih pengukuran-pengukuran variabel, memilih prosedur dan teknik sampling, alatalat untuk mengumpulkan data, kemudian membuat coding, editing, dan memproses data
yang dikumpulkan, dalam pelaksanaan penelitian, termasuk juga proses analisis data serta
membuat pelaporan. Oleh Suchman (1967), desain dalam pelaksanaan penelitian dibagi atas :
Desain sampel
Desain sampel yang akan digunakan dalam operasional penelitian amat tergantung
dari pandangan efisiensi. Dalam desain sampling ini termasuk :
Mendefinisikan populasi,
Menentukan besarnya sampel, dan
Menentukan sampel yang representative.
Definisi dari sampling sangat bergantung dari hipotesis. Dalam menentukan besar
sampel, pemilihannya perlu dihubungkan dengan tujuan penelitian serta banyaknya
variable yang ingin dikumpulkan.
Desain alat (instrument)
Yang dimaksud dengan alat di sini adalah alat untuk mengumpulkan data. Walau
metode penelitian apa saja yang digunakan, masalah desain terhadap alat untuk

mengumpulkan data sangat menentukan sekali dalam pengujian hipotesis. Alat yang
digunakan dapat saja sangat berstruktur, kurang berstruktur seperti interview guide
ataupun outline biasa di dalam mencatat pengamatan langsung.
Desain administrasi,
Desain analisis
Secara ideal desain analisis sudah dikerjakan lebih dahulu sebelum pengumpulan data
dimulai. Jika desain dalam memformulasikan hipotesis sudah cukup baik, maka
desain analisis secara parallel dapat dikembangkan dari desain merumuskan hipotesis
tersebut. Hipotesis tersebut dianggap baik jika ia konsisten dengan analisis yang akan
dibuat.
Dalam desain hipotesis, juga harus sudah dispesifikasikan hubungan-hubungan dasar
yang akan dianalisis. Dalam analisis hubungan-hubungan antara variabel bebas dan
variabel dependen, maka variabel lain yang mempengaruhi kedua variabel di atas
perlu juga dianalisis.
Jenis-jenis Desain Penelitian
Pengelompokkan desain percobaan yang menyeluruh belum dapat dibuat dewasa ini,
karena masing-masing ahli mengelompokkan jenis desain penelitian sesuai dengan kondisi
dari ilmuwan sendiri, yaitu: percobaan dengan control, studi, survey, investigasi, dan
penelitian tindakan. Sedangkan Barnes (1964) membagi desain penelitian atas:

Studi sebelum-sesudah dengan kelompok kontrol,


Studi sesudah saja dengan kelompok kontrol
Studi sebelum-sesudah dengan satu kelompok
Studi sesudah saja tanpa control, dan
Percobaan ex post facto

Sedangkan Sellitz, et. Al., (1964) membagi desain penelitian atas tiga, yaitu:

Desain untuk studi eksploratif dan formulatif


Desain untuk studi deskriptif, dan
Desain untuk studi menguji hipotesis kausal

Shah (1972) mencoba membagi desain penelitian atas 6 jenis, yaitu:

Desain untuk penelitian yang ada control


Desain untuk studi deskriptif dan analitis
Desain untuk studi lapangan
Desain untuk studi dengan dimensi waktu
Desain untuk studi evaluative-nonevaluatif, dan
Desain dengan menggunakan data primer atau sumber data sekunder.

1. Desain penelitian yang ada kontrol

Desain penelitian ini adalah desain percobaan atau desain bukan percobaan. Kedua
desain tersebut mempunyai kontrol. Dalam percobaan, si peneliti mengadakan manipulasi
terhadap beberapa variable atau faktor yang merupakan fenomena yang menyebabkan
munculnya hasil yang sedang diteliti. Desain percobaan ini biasanya dipakai untuk
meneliti fenomena natura.
2. Desain penelitian deskriptif-analitis
Penelitian yang noneksperimental dapat dibagi atas penelitian deskriptif dan
penelitian analitis. Penelitian deskriptif adalah studi untuk menemukan fakta dengan
interprestasi yang tepat. Dalam desain studi deskriptif ini, termasuk desain untuk studi
formulatif dan eksploratif yang berkehendak hanya untuk mengenal fenomena-fenomena
untuk keperluan studi selanjutnya. Dalam studi deskriptif juga termasuk:
a) Studi untuk melukiskan secara akurat sifat-sifat dari beberapa fenomena,
kelompok atau individu; dan
b) Studi untuk menentukan frekuensi terjadinya suatu keadaan untuk
meminimisasikan bias dan memaksimumkan reliabilitas.
Di samping penelitian deskriptif, terdapat juga desain untuk penelitian analitis.
Walaupun sangat kecil perbedaan antara studi deskriptif dan analitis, tetapi pada studi
analitis, analisis ditujukan untuk menguji hipotesis-hipotesis dan mengadakan
interprestasi yang lebih dalam tentang hubungan-hubungan. Berbeda dengan penelitian
eksperimen, pada desain penelitian analitis inim analisis dikerjakan berdasarkan data ex
post facto. Desain studi analisis lebih banyak dibatasi oleh keperluan-keperluan
pengukuran-pengukuran, dan menghendaki suatu desain yang menggunakan model
seperti pada desain percobaan.
Sesuai dengan metode penelitian, maka desain deskriptif dan analisis dapat dibagi
opula atas tiga, yaitu: desain studi historis, desain studi kasus, dan desain survey. Seperti
sudah dijelaskan, metode penelitian sejarah mencakup empat aspek, yaitu: mencari
material historis, menguji secara kritis asal dan keaslian sumber sejarah, serta validitas
dari isi sumber tersebut memberikan interpretasi dan pengelompokan dari fakta-fakta,
serta hubungannya dengan formulasi serta melukiskan hasil penemuan. (Gee,1950)
3. Desain penelitian lapangan atau bukan
Desain percobaan dapat dilihat dari sudut apakah penelitian tersebut merupakan
setting dengan menggunakan lapangan atau tidak. Desain penelitian sejarah, misalnya
kurang menggunakan penelitian lapangan, karena banyak kerja penelitian dilakukan
untuk mencari dokumen-dokumen di museum, perpustakaan dan sebagainya. Sebaliknya,
desain untuk penelitian percobaan lebih banyak dilakukan di lapangan. Keadaan serta
tingkat control yang dapat dilakukan juga dipengaruhi oleh ada-tidaknya kerja lapangan
dalam penelitian.
4. Desain penelitian dalam hubungan dengan waktu
Dalam hubungannya dengan waktu serta pengulangan penelitian, maka kita lihat
bahwa penelitian percobaan dan penelitian dengan menggunakan metode sejarah
memakai desain di mana penyelidikan dilakukan dalam suatu interval waktu tertentu.

Akan tetapi, dalam desain survey, masalah waktu yang digunakan dalam mengumpulkan
data perlu sekali diperhatikan. Jika data dikumpulkan dengan cara cross section, maka
penelitian dinamakan one time cross sectional study. Akan tetapi, jika data dikumpulkan
untuk suatu periode tertentu, dan responden yang digunakan pada periode lain adalah
kelompok yang tidak serupa dengan kelompok pada pengumpulan data pertama, maka
desain tersebut dinamakan desain studi panel. Jika data dikumpulkan pada lebih dari dua
titik waktu dengan menggunakan kelompok responden yang sama, maka desain studi
dinamakan studi longitudinal.
5. Desain dengan tujuan evaluatif atau bukan
Dalam suatu horizon penelitian, maka dapat dipikirkan suatu penelituan yang melulu
dengan tujuan mengumpulkan pengetahuan atau penelitian dasar, dan pada ujung horizon
lain adanya penelitian tindakan yang bertujuan terapan yang hasilnya dengan segera
diperlukan untuk merumuskan kebijakan. Kemudian terdapat pula suatu penelitian yang
dinamakan penelitian evaluatif, yang merupakan penelitian yang berhubungan keputusan
administrative terhadap aplikasi hasil penelitian. Suchman (1967), member definisi
penelitian evaluatif sebagai penentuan (apakah berdasarkan opini, catatan, data subjejtif,
atau objektif) hasil (apakah baik atau tidak baik, sementara atau permanen, segera
maupun ditunda) yang diperoleh dengan beberapa kegiatan (suatu program, sebagian dari
program dan sebagainya) yang dibuat untuk memperoleh suatu tujuan tentang nilai atau
performance.
6. Desain penelitian dengan data primer/sekunder
Sebagian besar dari tujuan desain penelitian adalah untuk memperoleh data yang
relevan, dapat dipercaya, dan valid. Dalam mengumpulkan data, maka si peneliti dapat
bekerja sendiri untuk mengumpulkan data atau menggunakan data orang lain. Jika data
primer yang diinginkan, maka si peneliti dapat menggunakan teknik dan alat untuk
mengumpulkan data seperti observasi langsung, menggunakan informasn, menggunakan
questionair, schedule atau interview guide, dan sebagainya.
Jika data yang diinginkan adalah data primer, maka desain yang dibuat harus menjamin
pengumpulan data yang efisien dengan alat dan teknik serta karakteristik dari responden. Jika
peneliti ingin menggunakan data sekunder, maka si peneliti harus mengadakan evaluasi
terhadap sumber, keadaan data sekundernyam dan juga si peneliti harus menerima limitasilimitasi dari data tersebut. Hal ini lebih-lebih diperlukan jika diinginkan untuk memperoleh
data mengenai masa yang lampau.
DESAIN SPESIFIK EX POST FACTO DAN EKSPERIMENTAL
Sebelum membicarakan desain spesifik Ex Post facto dan eksperimental, sistem
notasi yang digunakan perlu diketahui terlebih dahulu. Sistem notasi tersebut adalah sebagai
berikut:
X: Digunakan untuk mewakili pemaparan (exposure) suatu kelompok yang diuji terhadap
suatu perlakuan eksperimental pada variabel bebas yang kemudian efek pada variabel
tergantungnya akan diukur.

O: menunjukkan adanya suatu pengukuran atau observasi terhadap variabel tergantung yang
sedang diteliti pada individu, kelompok atau obyek tertentu.
R: menunjukkan bahwa individu atau kelompok telah dipilih dan ditentukan secara random
untuk tujuan-tujuan studi.
Ex Post Facto
Sebagaimana disebut sebelumnya bahwa dalam desain Ex Post Facto tidak ada
manipulasi perlakuan terhadap variabel bebasnya maka sistem notasinya, baik studi lapangan
atau survei hanya ditulis dengan O atau O lebih dari satu.
Contoh 1: Penelitian dilakukan dengan menggunakan dua populasi, yaitu Perusahaan A dan
Perusahaan B, maka notasinya:
O1
O2
Dimana O1 merupakan kegiatan observasi yang dilakukan di perusahaan A dan O2
merupakan kegiatan observasi yang dilakukan di perusahaan B.
Contoh 2: Secara random kita meneliti 200 perusahaan dari populasi 1000 perusahaan
mengenai sistem penggajiannya. Survei dilakukan dengan cara mengirim kuesioner pada 200
manajer, maka konfigurasi desainnya akan seperti di bawah ini:
(R) O1
Dimana O1 mewakili survei di 200 perusahaan dengan memberikan kuesioner kepada 200
manajer yang dipilih secara random (R ).
Apabila sampel yang sama kita teliti secara berulang-ulang, misalnya selama tiga kali dalam
tiga bulan berturut-turut, maka notasinya adalah:
(R) O3 dimana O1 merupakan observasi yang pertama, O2 merupakan observasi yang kedua
dan O3 merupakan observasi yang ketiga
Desain-Desain Eksperimental
Desain eksperimental dibagi menjadi dua, yaitu: pre-eksperimental (quasiexperimental) dan desain eksperimental sebenarnya (true experimental). Perbedaan kedua
tipe desain ini terletak pada konsep kontrol.
a. One Shot Case Study
Desain eksperimental yang paling sederhana disebut One Shot Case Study. Desain ini
digunakan untuk meneliti pada satu kelompok dengan diberi satu kali perlakuan dan
pengukurannya dilakukan satu kali. Diagramnya adalah sebagai berikut:
XO

b.

One Group Pre-test Post-test Design

Desain kedua disebut One Group Pre-test Post-test Design yang merupakan
perkembangan dari desain di atas. Pengembangannya ialah dengan cara melakukan satu kali
pengukuran didepan (pre-test) sebelum adanya perlakuan (treatment) dan setelah itu
dilakukan pengukuran lagi (post-test). Desainnya adalah sebagai berikut:
O1 X O 2
Pada desain ini peneliti melakukan pengukuran awal pada suatu obyek yang diteliti,
kemudian peneliti memberikan perlakuan tertentu. Setelah itu pengukuran dilakukan lagi
untuk yang kedua kalinya.
Desain tersebut dapat dikembangkan dalam bentuk lainnya, yaitu: desain time
series. Jika pengukuran dilakukan secara beulang- ulang dalam kurun waktu tertentu. Maka
desainnya menjadi seperti di bawah ini:
O1 O2 O3 X O4 O5 O6
Pada desain time series, peneliti melakukan pengukuran di depan selama 3 kali
berturut, kemudian dia memberikan perlakuan pada obyek yang diteliti. Kemudian peneliti
melakukan pengukuran selama 3 kali lagi setelah perlakuan dilakukan.
c. Static Group Comparison
Desain ketiga adalah Static Group Comparison yang merupakan modifikasi dari
desain b. Dalam desain ini terdapat dua kelompok yang dipilih sebagai obyek penelitian.
Kelompok pertama mendapatkan perlakuan sedang kelompok kedua tidak mendapat
perlakuan. Kelompok kedua ini berfungsi sebagai kelompok pembanding/pengontrol.
Desainnya adalah sebagai berikut:
X O1
O2
d.

Post Test Only Control Group Design

Desain ini merupakan desain yang paling sederhana dari desain eksperimental
sebenarnya (true experimental design), karena responden benar-benar dipilih secara random
dan diberi perlakuan serta ada kelompok pengontrolnya. Desain ini sudah memenuhi kriteria
eksperimen sebenarnya, yaitu dengan adanya manipulasi variabel, pemilihan kelompok yang
diteliti secara random dan seleksi perlakuan. Desainnya adalah sebagai berikut:
( R ) X O1
( R ) O2
Maksud dari desain tersebut ialah ada dua kelompok yang dipilih secara random.
Kelompok pertama diberi perlakuan sedang kelompok dua tidak. Kelompok pertama diberi

perlakuan oleh peneliti kemudian dilakukan pengukuran; sedang kelompok kedua yang
digunakan sebagai kelompok pengontrol tidak diberi perlakukan tetapi hanya dilakukan
pengukuran saja.
e. Pre-test Post test Control Group Design
Desain ini merupakan pengembangan desain di atas. Perbedaannya terletak pada baik
kelompok pertama dan kelompok pengontrol dilakukan pengukuran didepan (pre-test).
Desainnya adalah sebagai berikut:
( R ) O 1 X O2
( R ) O 3 O4
f. Solomon Four Group Design
Desain ini merupakan kombinasi Post Test Only Control Group Design dan Pre-test
Posttest Control Group Design yang merupakan model desain ideal untuk melakukan
penelitian eksperimen terkontrol. Peneliti dapat menekan sekecil mungkin sumber-sumber
kesalahan karena adanya empat kelompok yang berbeda dengan enam format pengukuran.
Desainnya adalah sebagai berikut:
(R) O 1 X O2
(R) O 3 O4
(R)

X O5

(R)

O6

Maksud desain tersebut ialah: Peneliti memilih empat kelompok secara random. Kelompok
pertama yang merupakan kelompok inti diberi perlakuan dan dua kali pengukuran, yaitu di
depan (pre-test) dan sesudah perlakuan (post-test). Kelompok dua sebagai kelompok
pengontrol tidak diberi perlakuan tetapi dilakukan pengukuran seperti di atas, yaitu:
pengukuran di depan (pre-test) dan pengukuran sesudah perlakuan (post-test). Kelompok
ketiga diberi perlakuan dan hanya dilakukan satu kali pengukuran sesudah dilakukan
perlakuan (post-test) dan kelompok keempat sebagai kelompok pengontrol kelompok ketiga
hanya diukur satu kali saja.
Desain Eksperimental Tingkat Lanjut
a. Desain Random Sempurna (Completely Randomised Design)
Desain ini digunakan untuk mengukur pengaruh suatu variabel bebas yang
dimanipulasi terhadap variabel tergantung. Pemilihan kelompok secara random dilakukan
untuk mendapatkan kelompok- kelompok yang ekuivalen
Contoh: Kasus: Pihak direksi suatu perusahaan ingin mengetahui pengaruh tiga jenis yang
berbeda dalam memberikan instruksi yang dilakukan oleh atasan kepada bawahan. Untuk

tujuan penelitian ini dipilih secara random tiga kelompok masing- masing beranggotakan 25
orang. Instruksi untuk kelompok pertama diberikan secara lisan, untuk kelompok kedua
secara tertulis dan untuk kelompok ketiga instruksinya tidak spesifik.
Ketiga kelompok diberi waktu sekitar 15 menit untuk memikirkan situasinya. Kemudian
ketiganya diberi test obyektif untuk mengetahui seberapa baik mereka memahami pekerjaan
yang akan dilakukan.
Formulasi masalah kasus ini ialah: Apakah manipulasi variabel bebas mempengaruhi
pemahaman para pegawai bawahan dalam melaksanakan pekerjaan mereka?
Tujuan studi ini ialah: menentukan jenis instruksi mana yang dapat menciptakan pemahaman
yang lebih baik terhadap pekerjaan yang diperintahkan oleh atasan.
b. Desain Blok Random (Randomised Block Design)
Desain ini merupakan penyempurnaan Desain Random Sempurna di atas. Pada desain
sebelumnya perbedaan yang terdapat pada masing-masing individu tidak diperhatikan,
sehingga menghasilkan kelompok-kelompok yang mempunyai anggota yang bereda-beda
karakteristiknya. Agar desain yang kita buat dapat menghasilkan output yang baik, maka
diperlukan memilih anggota kelompok (responden) yang berasal dari populasi yang
mempunyai karakteristik yang sama. Oleh karena itu peneliti harus dapat mengidentifikasi
beberapa sumber utama perbedaan-perbedaan yang dimaksud secara dini.

Desain di atas dapat diterangkan sebagai berikut: Pada saat studi dilakukan dengan
menggunakan desain sebelumnya, para anggota dari tiga kelompok berasal dari berbagai latar
belakang yang berbeda. Keterbedaan latar belakang anggota merupakan suatu gangguan atau
yang disebut sebagai variabel pengganggu. Untuk itu perlu dilakukan penyamaan para

anggota dari masing-masing kelompok. Caranya ialah dengan menciptakan blok yang
berfungsi untuk mendapatkan anggota kelompok yang sama. Dalam kasus ini blok ditentukan
didasarkan pada departemen (bagian) dimana para anggota kelompok berasal.
Selanjutnya pekerja yang berasal dari departemen yang sama dibagi menjadi lima
berdasarkan departemen masing-masing. Kemudian masing-masing kelompok mendapatkan
perlakuan yang sama, yaitu kelompok pertama mendapatkan instruksi lisan, kelompok kedua
mendapatkan instruksi tertulis dan kelompok ketiga instruksi tidak spesifik. Dengan
menggunakan desain ini maka peneliti akan dapat melihat dampak-dampak yang disebabkan
oleh sistem blok per departemen serta interaksi instruksi atas ketiga kelompok tersebut.
c. Desain Latin Square (The Latin Square Design)
Desain ini digunakan untuk mengontrol dua variabel pengganggu secara sekaligus.
Berkaitan dengan kasus di atas, masih terdapat satu variabel pengganggu lainnya, yaitu
kemampuan para pekerja.
Variabel kemampuan para pekerja kita bagi menjadi tiga tingkatan, yaitu: kemampuan tinggi,
kemampuan menengah dan kemampuan rendah. Ketiga tingkatan variabel kemampuan
tersebut kemudian kita tempatkan pada baris dan kolom model Latin Square. Desain ini
terdiri dari tiga baris dan tiga kolom. Kemudian secara random diambil 3 pegawai dari
masing-masing departemen.

d. Desain Faktorial
Desain factorial digunakan untuk mengevaluasi dampak kombinasi dari dua atau lebih
perlakuan terhadap variabel tergantung. Pada kasus di bawah ini, analisis factorial
diaplikasikan dengan menggunakan desain random sempurna dengan format 3 baris dan 3
kolom. Kasus penelitiannya adalah sebagai berikut: peneliti ingin melihat dua variabel bebas,
yaitu variabel tingkat kontras dan panjang barissebuah iklan. Tingkat kontras dimanipulasi
menjadi rendah , medium dan tinggi, sedang panjang baris dimanipulasi menjadi 5 inchi, 7
inchi dan 12 inchi.
Desainnya adalah sebagai berikut:

Pada tabel desain di atas X1 mempunyai arti responden yang mendapat perlakuan
membaca iklan dengan panjang baris 5 inchi dan tingkat kontras warna rendah; X2
mempunyai arti responden yang mendapat perlakuan membaca iklan dengan panjang baris 7
inchi dan tingkat kontras warna medium dan X3 mempunyai arti responden yang mendapat
perlakuan membaca iklan dengan panjang baris 12 inchi dan tingkat kontras warna tinggi.
Dari format di atas kita akan mendapatkan 9 kombinasi yang berbeda.

HIPOTESIS
Kajian Teoritis
Hipotesa dapat diturunkan dari teori yang berkaitan dengan masalah yang akan kita
teliti. Misalnya seorang peneliti akan melakukan penelitian mengenai harga suatu produk
maka agar dapat menurunkan hipotesa yang baik, sebaiknya yang bersangkutan membaca
teori mengenai penentuan harga.
Hipotesis merupakan kebenaran sementara yang perlu diuji kebenarannya oleh karena
itu hipotesis berfungsi sebagai kemungkinan untuk menguji kebenaran suatu teori. Jika
hipotesis sudah diuji dan membuktikan kebenaranya, maka hipotesis tersebut menjadi suatu
teori.
Jadi sebuah hipotesis diturunkan dari suatu teori yang sudah ada, kemudian diuji
kebenarannya dan pada akhirnya memunculkan teori baru.
Pertimbangan dalam Merumuskan Hipotesis
Dalam merumuskan hipotesis peneliti perlu pertimbangan- pertimbangan diantaranya:
Harus mengekspresikan hubungan antara dua variabel atau lebih, maksudnya dalam
merumuskan hipotesis seorang peneliti harus setidak-tidaknya mempunyai dua variabel yang
akan dikaji. Kedua variabel tersebut adalah variabel bebas dan variabel tergantung.

Jika variabel lebih dari dua, maka biasanya satu variabel tergantung dua variabel
bebas. Harus dinyatakan secara jelas dan tidak bermakna ganda, artinya rumusan hipotesis
harus bersifat spesifik dan mengacu pada satu makna tidak boleh menimbulkan penafsiran
lebih dari satu makna.
Jika hipotesis dirumuskan secara umum, maka hipotesis tersebut tidak dapat diuji
secara empiris. Harus dapat diuji secara empiris, maksudnya ialah memungkinkan untuk
diungkapkan dalam bentuk operasional yang dapat dievaluasi berdasarkan data yang
didapatkan secara empiris. Sebaiknya hipotesis jangan mencerminkan unsur-unsur
moral,nilai-nilai atau sikap.