Anda di halaman 1dari 3

Problem Pendidikan Islam di Indonesia dan Solusinya

Oleh Dasram Effendi


Mahasiswa Pasca Sarjana Isid Gontor
Pada era globalisasi, umat Islam sedang dihadapkan dengan krisis pendidikan, ekonomi, sosial,
budaya, politik, teknologi, dan lainnya. Proses identifikasi akar persoalan penyebab umat Islam
mengalami krisis dan kemunduran telah dibahas oleh para pemikir Muslim dan kaum
cendikiawan. Menurut Abdul Hamid Sulayman, akar penyebab krisis yang dialami oleh umat ini
sejatinya tidak berakar pada persoalan ekonomi, politik atau teknologi melainkan akar
permasalahannya terjangkitnya umat Islam dewasa ini dengan krisis intelektualisme atau
pemikiran. Meminjam bahasa Abu Sulayman disebut dengan Crisis of thought (Abdul Hamid
Abu Sulayman, A Crisis of Muslim Mind).
Sebenarnya, permasalahan krisis intelektualisme atau pemikiran ini bersumber dari pola
pendidikan, karena sejatinya pemikiran adalah hasil dari sebuah pendidikan. Krisis pemikiran
merupakan akibat dari problem pendidikan.
Penyebab umat Islam mundur.
Syakib Arsalan menulis buku berjudul Limadza Taakharal Muslimun wa Limadza Taqaddama
Ghairuhum? (Mengapa Kaum Muslimin Mundur dan Kaum non Muslim Maju?) terbit
pertama kali pada 1349 H. Dalam bukunya, beliau menjelaskan kemajuan umat Islam pada masa
awal penyebarannya terjadi karena perubahan sikap bangsa Arab dan kabilah-kabilahnya setelah
menerima cahaya Islam yaitu seruan Rasulullah SAW. Mereka dengan sungguh-sungguh
mengikuti dan menaatinya. Islam menjadikan mereka dari terpecah-belah dan bercerai-berai
menjadi satu, dari sifat keras hati menjadi lunak, ramah tamah dan kasih sayang, dan dari
penyembah berhala menjadi penyembah Allah SWT.
Selanjutnya, beliau menjelaskan bila kaum Muslimin berilmu dan beramal, maka sunnatullah
akan memberikan kemuliaan atau pertolongan(nasr) kepada kaum Muslimin. Sebaliknya jika
umat Islam tidak berilmu dan beramal, maka umat Islam akan mundur. Syakib Arsalan
menyatakan, agar bangsa-bangsa Muslim ini mulia, maka perlu berjihad dengan harta dan jiwa.
Sesuai firman Allah SWT yang artinya: Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang
mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. (QS. at-Taubah 111).
Syakib Arsalan juga mengatakan diantara sebab-sebab lain mundurnya umat Islam adalah
karena kebodohan umat, akhlak yang buruk yang meliputi sifat penakut, pengecut, cinta dunia
(hubbu dunya) dan takut mati (karahiyatul maut), juga banyaknya ulama su (buruk). Selain itu
sebab pokok lainnya adalah kebejatan moral dan kerusakan budi para pemimpin. Kebodohan ini
menjadi sebab utama penyebab kemunduran umat Islam. Oleh karena itu, pendidikan solusinya.
Persoalan mendasar pendidikan saat Ini.
Penjajahan besar-besaran di pertengahan abad ke-19 terjadi ke dalam dunia Islam. Hampir tidak
ada satupun negara Muslim yang lepas dari cengkraman penjajah ini. Penjajahan tidak hanya
merampas kekayaan alam bangsa-bangsa Muslim. Penjajahan juga meliputi berbagai dimensi dan
nilai, dari sisi pendidikan, politik, budaya, ekonomi, masyarakat, bahkan agamapun menjadi

sasaran penjajahan. Penjajahan bertujuan mengubah sistem yang ada, dari sistem syariah Islam
menjadi sistem sekuler Barat. Dampaknya, penjajahan ini pun masuk dalam ranah pendidikan
yang berujung pada pendidikan sekuler. Padahal pendidikan adalah benteng terakhir.
Tantangan yang dihadapi oleh dunia pendidikan saat ini begitu kompleks. Mulai dari sisi
ledakan informasi yang serba mudah dan cepat, teknologi canggih, industrialisasi, globalisasi dan
liberalisasi, dan etika moral, hingga tuntutan masyarakat terhadap dunia pendidikan semakin
tinggi. Ini berimbas kepada penyelenggara dunia pendidikan saat ini, yang mana mereka dituntut
agar dapat mengeluarkan output (anak didik) seperti keinginan masyarakat, yang mampu
bersaing (survive) dalam berbagai kondisi. Terkadang untuk meraih hal tersebut, penipuan pun
dilakukan. Beberapa kasus menunjukkan banyak sekolah yang untuk mengejar target lulus 100%
mengatrol nilai hasil raport anak didik mereka. Pengelola pendidikan membantu jawaban kepada
anak didik ketika proses ujian berlangsung. Kejujuran dan tanggung jawab sudah tidak
diindahkan lagi. Padahal, pemerintah menggalakkan program pendidikan karakter.
Nirwan Syafrin, seorang intelektual Muslim kontemporer, menjelaskan persoalan mendasar
yang
menyebabkan
mundurnya
pendidikan
kita
adalah
karena
hilangnya
unsur ruhaniyah dan ubudiyyah baik dalam diri anak didik maupun diri pendidiknya.
Hilangnya unsur ruhaniyah dan ubudiyyah ini pada jiwa anak didik dan pendidik akan
menyebabkan pergeseran makna dan nilai pendidikan. Lembaga pendidikan tidak lagi
berorientasi pada akhlak, adab dan Iman, tapi pada secarik kertas yang bernama ijazah. Sehingga
dengan kondisi seperti ini, lembaga pendidikan telah beralih fungsi, yang awalnya mencetak
kader-kader bangsa yang berakhlak mulia bergeser menjadi robot bernama manusia. Jadi,
unsur ruhaniyah dan ubudiyyah dalam pendidikan bagaikan ruh yang menggerakkan semua
aktifitas pendidikan. Dan ruh itu bisa berwujud niat yang ikhlas, yang hanya mengharap ridha
Allah SWT. Ruh inilah yang harus selalu ditanamkan dan ditumbuhkan dalam jiwa-jiwa setiap
pendidik.
KH R Zainuddin Fananie dalam bukunya Pedoman Pendidikan, menjelaskan bahwa
pendidikan itu adalah sebuah jawaban atas persoalan universal umat manusia. Pendidikan
merupakan usaha (ikhtiar) mencari hasil yang akan menjadi isi peti harapan dikemudian hari,
pendidikan pun adalah cara berinvestasi bagi masa depan. Pendidikan bukan hanya terbatas pada
apa yang dilakukan oleh guru-guru sekolah atau ibu bapak didalam rumah tangga saja. Namun,
pendidikan yang dimaksud meliputi segala aktifitas yang mempengaruhi kebaikan dan perbaikan
jiwa manusia semenjak kecil hingga dewasa. Bahkan bagi mereka yang sudah tua pun masih
melakukan kegiatan pendidikan. (KH R Zainuddin Fannani, Pedoman Pendidikan Islam).
Dengan pendidikan, kehidupan manusia akan dipenuhi kebaikan sebenar-benarnya. Pendapat ini
sesuai dengan pendapat al-Ghazali, bahwa pendidikan dimaksudkan agar manusia dekat dengan
tuhannya. Sedangkan az-Zarnuji dalam kitabnya Talimul Mutaallim menekankan perlunya
aspek-aspek agama dalam pendidikan. Dan ini tidak akan terwujud tanpa adanya kerjasama yang
sinergis dari semua pihak.
Pondok Pesantren, Lembaga Pendidikan dan Dakwah
Pondok Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia. Meskipun kapan
dan dimana dimulai adanya pondok pesantren itu tidak dapat diketahui secara pasti, namun
pesantren itu sudah ada pada abad ke-17 di Indonesia, seperti Pondok Pesantren Sunan Malik
Ibrahim di Gresik (1619), Pesantren Sunan Bonang di Tuban, Pesantren Sunan Ampel di
Surabaya dan sebagainya. (H A Timur Djaelani MA,Peningkatan Mutu Pendidikan dan
Pembangunan Perguruan Agama, cet 3, 1983)

Amal Fathullah Zarkasyi dalam buku Solusi Islam mengatakan bahwa Pondok Pesantren
merupakan salah satu bentuk Indigenous Cultureyang berarti bentuk kebudayaan asli bangsa
Indonesia. Lembaga pendidikan dengan pola kiai, murid, dan asrama telah dikenal dalam kisah
dan cerita rakyat Indonesia, khususnya di pulau Jawa.
Sebagai lembaga pendidikan Islam yang khas Indonesia, pondok pesantren mengalami
pertumbuhan dan penyebaran pesat sampai ke pelosok pedesaan. Hal ini didasari oleh ajaran
Islam yang bersifat universal, terbuka bagi setiap orang, serta tersusun dalam naskah dan tulisan
yang jelas.
Jadi Pondok Pesantren menjadi solusi yang tepat dalam dunia pendidikan khususnya di
Indonesia, karena Pondok Pesantren memadukan unsur-unsur pendidikan yang amat
penting. Pertama, ibadah untuk menanamkan iman dan takwa terhadap Allah SWT. Kedua,
tablig untuk penyebaran ilmu, Ketiga, amal untuk mewujudkan kemasyarakatan dalam
kehidupan sehari-hari.
Dengan menjamurnya pondok-pondok pesantren sekarang ini, berarti membuktikan betapa
besarnya peranan pesantren dalam mencetak kader, membimbing umat dalam rangka
mengembangkan sumber daya umat manusia yang dilandasi oleh iman dan takwa, yang bertujuan
menciptakan manusia-manusia yang jujur, percaya diri dan bertanggung jawab dalam
mengemban misi dakwah Islam, dengan dedikasi tinggi untuk menegakkan perjuangan Liilai
Kalimatillah.
Penutup
Dari pemaparan di atas dapat ditarik beberapa kesimpulan bahwa, Pertama akar penyebab krisis
yang dialami oleh umat ini sejatinya tidak berakar pada persoalan ekonomi, politik atau teknologi
melainkan akar permasalahannya terletak pada pendidikan. Di sisi lain masyarakat atau bangsa
saat ini berada dalam arena persaingan (competition) dalam segala bidang, dan kompetisi ini
hanya mungkin dihadapi bila semua warga bangsa menyadari kewajibannya. Dan untuk
menumbuhkan kesadaran itu, langkahnya adalah dengan pendidikan. Kedua, penyebab lain
mundurnya umat Islam ini karena lemahnya semangat persatuan, solidaritas dan loyalitas
dikalangan umat Islam itu sendiri. Sebab-sebab lainnya adalah karena kebodohan umat, akhlak
yang buruk yang meliputi sifat penakut, pengecut, cinta dunia (hubbu dunya) dan takut mati
(karahiyatul maut), juga banyaknya ulama su (buruk). Ketiga, persoalan yang mendasar yang
menyebabkan
mundurnya
pendidikan
kita
adalah
karena
hilangnya
unsur ruhaniyah dan ubudiyyah baik dalam diri anak didik maupun diri pendidiknya.
Persoalan ini menjadi persoalan yang sangat mendasar. Hilangnya unsur tersebut berakibat pada
bergesernya nilai pendidikan. Keempat, sebagai solusi dari permasalahan pendidikan diatas
Pondok Pesantren perlu tampil untuk menanamkan iman dan takwa terhadap Allah SWT,
menyebarkan ilmu, dan mewujudkan amal shalih dalam kehidupan masyarakat seharihari. Wallahu Alam Bisshawab.