Anda di halaman 1dari 11

PENGAUDITAN II

RMK Pertemuan 6
KONSEP PENGAUDITAN SIKLUS PRODUKSI DAN JASA
PERSONALIA

OLEH:
KELOMPOK 7
Putu Setia Ariningsih
1315351099
Putu Ayu Prabayanthi
1315351109
I Gusti Ayu Laksmi Indraswari
1315351112
Putu Milan Pradnyantari
1315351113
Ni Made Regina Amandani
1315351153

(28)
(29)
(30)
(31)
(38)

PROGRAM EKSTENSI (NON REGULER)


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
2015/2016
KONSEP PENGAUDITAN SIKLUS PRODUKSI DAN JASA PERSONALIA

1. PERENCANAAN AUDIT ATAS SIKLUS PRODUKSI


Siklus produksi berkaitan dengan proses mengubah bahan baku menjadi barang
jadi. Siklus ini meliputi perencanaan dan pengendalian tentang jenis dan jumlah barang
yang diproduksi, tingkat persedian yang harus diselenggarakan, dan transaksi-transaksi
serta kejadian-kejadian yang bersangkutan dengan proses produksi. Transaksi dalam siklus
ini dimulai pada saat bahan baku diminta untuk keperluan produksi, dan diakhiri dengan
pengiriman barang yang diproduksi menjadi barang jadi. Siklus produksi bersinggung
dengan tiga siklus, yaitu:
1) Siklus pengeluaran dalam hal pembelian bahan baku dan berbagai pengeluaran biaya
overhead.
2) Siklus personalia dalam hal terjadi pengeluaran biaya tenaga kerja produksi.
3) Siklus pendapatan dalam hal penjualan barang jadi.
Tujuan Audit
Ada dua kelompok tujuan audit yang diuraikan dalam bahasan berikut:
1) Tujuan audit atas kelompok transaksi yang berkaitan dengan transaksi-transaksi
produksi.
2) Tujuan audit atas saldo rekening persediaan dan saldo rekening harga pokok penjualan
Penggunaan Pengetahuan Tentang Bisnis dan Bidang Usaha Klien Untuk
Mengembangkan Strategi Audit
Pengetahuan tentang bisnis dan bidang usaha klien akan membantu auditor dalam
merancang program pengauditan yang efektif dan efisien. Untuk kebanyakan perusahaan,
memproduksi persedian merupakan proses utama, dan kemampuan perusahaan
mendapatkan laba dan aliran kas yang tergantung pada baik tidaknya pengelolaan proses
produksi. Dalam mengaudit perusahaan manufaktur, auditor harus mengetahui apakah
perusahaan yang diaudit merupakan perusahaan padat modal ataukah perusahaan yang
banyak menggunakan tenaga kerja dalam proses produksinya. Perusahaan yang proses
produksinya bersifat padat modal, seperti misalnya perusahaan perminyakan, akan banyak
mengeluarkan biaya tetap sehingga dibutuhkan volume produksi yang cukup agar dapat
diperoleh laba.

Materialitas, Risiko Bawaan, dan Prosedur Analitis


Materialitas
Hal utama yang harus diperhatikan dalam menilai pengalokasian meterialitas adalah
penentuan besarnya salah saji yang akan bisa mempengaruhi keputusan para pemakai
laporan keuangan. Pertimbangan kedua adalah berkaitan dengan biaya untuk mendeteksi
kekeliruan. Atas persediaan, termasuk observasi keberadaan persediaan dan pengauditan
penilaian persediaan, biasanya cukup mahal.
Risiko Bawaan
Risiko bawaan untuk terjadinya salah saji dalam laporan keuangan yang diakibatkan
oleh transaksi-transaksi persediaan untuk perusahaan perhotelan relatif rendah, karena
persediaan bukan merupakan bagian yang material dalam kegiatan utama perusahaan.
Prosedur Analitis
Prosedur analitis adalah prosedur yang murah dan bisa memberi sinyal kepada
auditor tentang adanya salah saji potensial. Hal ini akan mengisyaratkan auditor untuk lebih
meningkatkan perhatiannya akan keberadaan dan penilaian persediaan. Auditor juga harus
lebih waspada dalam melaksanakan pengujian pisah batas yang bisa mengakibatkan
terjadinya lebih saji persediaan.
Pertimbangan Komponen-komponen Pengendalian Intern
Seperti halnya dalam siklus pendapatan dan siklus pengeluaran, aspek-aspek dari
kelima komponen sistem pengendalian intern perusahaan bisa diterapkan pada transaksi
dalam siklus produksi. Sebagai contoh, dalam komponen lingkungan pengendalian, struktur
organisasi harus memiliki seorang petugas yang bertanggungjawab atas produksi. Falsafah
manajemen dan gaya operasi mencakup pendekatan untuk menghadapi dan memonitor
risiko bisnis yang berkaitan dengan keputusan-keputusan produksi dan tingkat persediaan.
Sistem akuntansi untuk persediaan mencakup penggunaan rekening control di buku besar
serta rekening-rekening atau catatan pembantu, misalnya berupa file produk atau file induk.
2. AKTIVITAS PENGENDALIAN TRANSAKSI PABRIKASI

Komponen pengendalian intern aktivitas pengendalian terdiri dari empat kategori, yaitu:
1)
2)
3)
4)

Pemisahan tugas, pengendalian umum, dan pengendalian aplikasi.


Pengendalian pengolahan informasi termasuk otorisasi yang tepat.
Pengawasan fisik.
Review kinerja dan pertanggungjwaban.

Dokumen-dokumen, catatan, dan file komputer yang umumnya digunakan dalam


pengolahan transaksi-transaksi pabrikasi terdiri dari:
a. Order produksi. Dokumen yang menunjukkan jumlah serta jenis barang yang harus
diproduksi. Order bisa berkaitan dengan job order atau proses terus menerus.
b. Laporan permintaan bahan. Berisi daftar bahan baku dan bahan lain yang diperlukan
untuk memenuhi suatu order produksi.
c. Slip pengeluaran bahan.merupakan otorisasi tertulis dari departemen produksi ke
gudang untuk mengeluarkan bahan yang akan digunakan untuk melaksanakan order
produksi yang telah disetujui.
d. Kartu waktu. Berisi catatan waktu seorang pegawai untuk suatu job tertentu.
e. Kartu pemindahan. Berisi perintah dan otorisasi pemindahan fisik barang dalam proses
antar departemen produksi, dan antara barang dalam proses ke barang jadi.
f. Laporan aktivitas produksi harian. Laporan yang menunjukkan pemakian bahan baku
dan tenaga kerja setiap hari.
g. Laporan produksi selesai. Laporan yang menunjukkan bahwa pekerjaan untuk suatu
order produksi telah diselesaikan.
h. Buku pembantu persediaan atau file induk. Catatan yang diselenggarakan terpisah
untuk bahan baku, barang dalam proses, dan barang jadi. Berisi informasi tentang
jumlah unit dan cost yang ditambahkan dan dikurangkan atas setiap rekening
persediaan, serta jumlah unit dan cost dari saldo rekening persediaan yang ada pada
setiap waktu tertentu.
i. File induk biaya standar. File induk berisi biaya standar.
j. File induk persediaan bahan baku. File computer berisi kuantitas bahan baku yang ada
dalam persediaan.
k. File induk barang dalam proses. File computer berisi jumlah biaya barang dalam proses
sesungguhnya. File ini digunakan untuk menyusun laporan produksi harian.
l. File induk persediaan barang jadi. File computer yang berisi total biaya produksi. File
ini bisa digunakan sebagai catatan persediaan perpetual untuk barang jadi.

Fungsi-fungsi serta Pengendalian yang Berkaitan


Pelaksanaan dan pencatatan transaksi pabrikasi serta pengamanan persediaan
meliputi fungsi-fungsi pabrikasi berikut:
1. Pelaksanaan Produksi:
a) Perencanaan dan pengawasan produksi
b) Pengeluaran bahan baku
2. Pemindahan Barang
a) Pengolahan barang di produksi
b) Pemindahan barang selesai diproduksi ke barang jadi
c) Pengamanan persediaan
3. Pencatatan transaksi pabrikasi dan persediaan
a) Menentukan dan mencatat biaya produksi
b) Menetapkan kebenaran saldo persediaan
Pelaksanaan fungsi-fungsi di atas menyangkut berbagai departemen seperti
departemen perencanaan dan pengawasan, gudang (bahan baku), departemen produksi,
pencatat waktu kerja, barang jadi, akuntansi biaya, dan akuntansi keuangan. Pengendalian
atas pelaksanaan produksi dan pemindahan barang berkaitan dengan penetapan risiko untuk
asersi keberadaan atau keterjadian dan kelengkapan untuk transaksi-transaksi pabrikasi dan
persediaan yang bersangkutan. Pengendalian yang berkaitan dengan pencatatan transaksi
persediaan penting dalam penetapan risiko pengendalian untuk hak dan kewajiban,
penilaian dan pengalokasian, serta penyajian dan pengungkapan transaksi-transaksi
pabrikasi dan persediaan.
Mendapatkan Pemahaman dan Menetapkan Risiko Pengendalian
Dalam mendapatkan dan mendokumentasikan pemahaman tentang komponenkomponen pengendalian intern yang relevan dengan transaksi-transaksi pabrikasi, auditor
menggunakan prosedur yang sama dengan prosedur yang digunakan untuk kelompok
transaksi lainnya. Hal itu meliputi review atas pengalaman masa lalu dengan klien (jika
ada), mengajukan pertanyaan kepada manajemen dan personil produksi lainnya, inspeksi
atas dokumen dan catatan produksi, dan melakukan observasi atas aktivitas produksi dan
kondisi yang ada. Auditor biasanya menguji pengendalian manual dengan mengajukan
pertanyaan, observasi pelaksanaan tugas masing-masing individu, menginspeksi dokumen

dan laporan, dan melakukan ulang sejumlah aktivitas pengendalian oleh auditor sendiri.
Hasil dari setiap pengujian tersebut didokumentasikan sebagai dasar bagi auditor untuk
menetapkan risiko pengendalian akhir atas asersi-asersi signifikan yang berkaitan dengan
transaksi-transaksi pabrikasi.
3. PERENCANAAN AUDIT ATAS SIKLUS JASA PERSONALIA
Siklus personalia merupakan kagiatan suatu perusahaan yang meliputi kejadiankejadian dan kegiatan-kegiatan yang bersangkutan dengan pemberian kompensasi kepada
pimpinan dan pegawai perusahaan. Jenis-jenis kompensasi meliputi gaji, upah, komisi,
bonus, tunjangan, opsi membeli saham, berbagai kesejahteraan yang diberikan kepada
pegawai.
Penggunaan Pemahaman Tentang Bisnis dan Bidang Usaha Untuk Menetapkan
Strategi Audit
Bidang-bidang usaha tertentu bersifat padat tenaga kerja dan dengan demikian
memiliki banyak tenaga kerja, terutama tenaga kerja pabrik. Apabila kompensasi yang
diberikan perusahaan terutama berupa gaji tetap dan menunjukkan hubungan yang bisa
diprediksi dengan jasa yang diberikan karyawan, maka auditor dalam strategi auditnya bisa
menekankan pada penggunaan prosedur analitis. Sebaliknya apabila kompensasi sebagian
besar berupa upah yang dibayarkan atas dasar jam kerja yang berfluktuasi sepanjang
periode, maka auditor sebaiknya menekankan pada pendekatan tingkat risiko pengendalian
ditetapkan lebih rendah.
Materialitas, Risiko Bawaan, dan Prosedur Analitis
Materialitas
Perkembangan yang pesat pada perusahaan-perusahaan jasa menyebabkan semakin
pentingnya peranan tenaga kerja, sehingga siklus jasa personalia pada banyak perusahaan
merupakan bidang audit yang material.
Risiko Bawaan

Kecurangan bisa terjadi pada dua tingkatan. Pegawai yang terlibat dalam proses
pembuatan daftar gaji bisa memasukkan nama-nama pegawai fiktif dan selanjutnya
mengalihkan cek gaji yang dikeluarkan perusahaan untuk kepentingan mereka. Dapat
dikatakan bahwa risiko bawaan cukup tinggi untuk asersi keberadaan atau keterjadian,
penilaian, serta penyajian atau pengungkapan.
Prosedur Analitis
Auditor biasanya akan melakukan prosedur analitis pada awal pelaksanaan audit
atau siklus personalia, karena prosedur ini cukup murah dibandingkan dengan prosedur
yang lain. Prosedur ini akan sangat efektif apabila auditor bisa menggunakan perangkat
lunak audit digeneralisasi, mengelompokkan pegawai berdasarkan kategori pegawai, dan
kemudian menganalisis gaji atau upah rata-rata per kategori pegawai.
Pertimbangan Komponen-Komponen Pengendalian Intern
Sejumlah faktor lingkungan pengendalian mempunyai relevansi langsung.
Tanggung jawab mengenai ketenagakerjaan sering dibebankan pada direktur personalia
atau hubungan ketenagakerjaan atau manajer sumber daya manusia. Pemahaman tentang
komponen informasi dan komunikasi mensyaratkan para auditor untuk memiliki
pengetahuan tentang metode pengorganisasian dan pengolahan data yang berkaitan dengan
transaksi-transaksi penggunaan tenaga kerja.
4. AKTIVITAS PENGENDALIAN - TRANSAKSI PENGGAJIAN
Dalam uraian berikut akan diidentifikasi dan dijelaskan sejumlah dokumen dan
catatan yang digunakan dalam pengolahan transaksi-transaksi penggajian/pengupahan.
Dokumen dan Catatan
Dokumen dan catatan berikut ini penting dalam pelaksanaan dan pencatatan
transaksi-transaksi penggajian/pengupahan.
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Otorisasi personil.
Kartu waktu hadir.
Catatan waktu kerja.
Daftar gaji dan upah.
Rekening bank-gaji dan upah.
Cek gaji/upah.
7

7. Ikhtisar distribusi biaya tenaga kerja.


8. Formulir pajak penghasilan karyawan.
9. Arsip pegawai.
10. File induk data personil.
11. File induk pendapatan karyawan.
Fungsi-fungsi dan Pengendalian yang Bersangkutan
Pengelolaan transaksi penggajian/pengupahan menyangkut fungsi-fungsi berikut:
1) Permulaan transaksi penggajian/pengupahan meliputi:
a. Pengangkatan Karyawan
b. Pemberian otorisasi perubahan gaji/upah
2) Penerimaan jasa meliputi:
Pembuatan data kehadiran dan waktu kerja
3) Pencatatan transaksi penhggajian/pengupahan meliputi:
Penyiapan dan pencatatan daftar gaji/upah
4) Pembayaran gaji/upah meliputi:
(a) Pembayaran gaji/upah dan mengamankan upah yang belum/tidak diambil
(b) Pembayaran pajak penghasilan karyawan
Tanggungjawab untuk melaksanakan dan mencatat penggajian/pengupahan tersebar
pada beberapa bagian. Pemisahan tugas ini sangat berpengaruh dalam mengurangi risiko
terjadinya pembayaran pada pegawai-pegawai fiktif atau pembayaran yang melebihi jumlah
seharusnya karena tarif upah atau jumlah jam kerja dihitung dengan jumlah yang lebih
besar.
Permulaan Transaksi Penggajian
Pengangkatan Pegawai.
Pengangkatan pegawai dilakukan di bagian personalia. Pengawasan atas penambahan
pegawai baru ke dalam file induk data persoonalia akan mengurangi risiko pembayaran
gaji/upah kepada pegawai fiktif. Dengan demikian, pengendalian ini berhubungan dengan
asersi-asersi keberadaan atau keterjadian dan hak kewajiban untuk transaksi-transaksi
penggajian/pengupahan.
Otorisasi Perubahan Gaji & Upah. Permintaan untuk perubahan dalam klasifikasi
jabatan atau kenaikan tingkat upah bisa dilakukan oleh atasan pegawai atau pengawas.

Pengendalian atas perubahan data dalam daftar gaji dan upah ini akan dapat meningkatkan
ketelitian dalam asersi penilaian atau pengalokasian serta hak dan kewajiban. Pengendalian
ini berkaitan dengan asersi keberadaan atau keterjadian.
Penerimaan Jasa
Penyiapan Data Kehadiran dan Data Waktu Kerja.
Fungsi ini umumnya menjadi tanggungjawab bagian pencatatan waktu. Pengendalian ini
akan dapat meningkatkan ketelitian data waktu kerja yang dihimpun perusahaan. Oleh
karena itu, pengendalian atas fungsi pencatat waktu kerja berkaitan dengan asersi-asersi
keberadaan atau keterjadian, kelengkapan, dan penilaian atau pengalokasian transaksi
penggajian/pengupahan. Persetujuan dari pengawas mengenai pengklasifikasian tenaga
kerja berhubungan dengan asersi penyajian dan pengungkapan.
Pencatatan Gaji & Upah
Pembuatan Daftar Gaji. Program penggajian menyortir transaksi-transaksi gaji dan upah
berdasarkan nomor pegawai untuk dicek atau kewajaran jumlah jam kerja. Hal ini meliputi
pengecekan nomor pegawai dan batas atau kewajaran jumlah jam kerja. Proses ini
menghasilkan transaksi penggajian/pengupahan yang valid dan sebuah laporan selisih yang
diteruskan ke bagian pengawasan data.
Pembayaran Gaji/Upah dan Pengamanan Cek yang Belum Diambil
Pengendalian yang berkaitan dengan fungsi ini meliputi hal-hal berikut:
a) Cek-cek gaji harus ditandatangani dan diserahkan (dibayarkan) kepada pegawai
yang bersangkutan oleh pejabat/pegawai di bagian personalia yang tidak terlibat
dalam pembuatan daftar gaji/upah atau pencatatan gaji/upah.
b) Akses ke mesin penandatanganan cek harus dibatasi hanya pada pejabat/pegawai
yang ditunjuk perusahaan.
c) Cek gaji/upah hanya dapat dibayarkan kepada pegawai yang dapat menunjukkan
kartu pengenal atau kartu pegawai.
d) Cek gaji/upah yang tidak di ambil oleh pegawai yang namanya tercantum dalam cek
tersebut, harus disimpat ditempat yang aman dibagian keuangan.

Pengendalian penting lain yang berkaitan dengan pembayaran gaji/upah dalam perusahaan
besar adalah digunakannya satu rekening giro di bank (semacam kas kecil dengan sistem
imprest) yang khusus disediakan untuk pembayaran cek-cek gaji/upah.
Pembayaran Pajak Penghasilan Karyawan
Pajak penghasilan karyawan yang telah dipotong perusahaan dari peghasilan kotor setiap
pegawai harus disetorkan oleh perusahaan ke Kantor Kas Negara. Penyetoran ini harus
dilakukan tepat waktu (berdasarkan undang-undang pajak penghasilan No. 17 tahun 2000,
pajak penghasilan karyawan ini harus disetorkan majikan ke Kantor Kas Negara selambatlambatnya tanggal 10 bulan berikutnya). Tanggungjawab untuk melaksankan fungsi ini
dalam perusahaan hatrus ditetapkan dengan jelas.
Mendapatkan Pemahaman Dan Menetapkan Risiko Pengendalian
Proses

penetapan

risiko

pengendalian

untuk

transaksi-transaksi

penggajian/pengupahan dimulai dengan mengidentifikasikan salah saji potensial dan


pengendalian yang diperlukan. Pengendalian yang risiko pengendaliannya ditetapkan
auditor dibawah maksimum, harus diuji. Pengujian pengendalian terprogram untuk
mendukung penetapan risiko pengendalian yang rendah biasanya meliputi pengujian
program secara langsung, pengujian umum untuk mencegah program mengolah perubahan
yang tidak diotorisasi lebih dahulu, dan pengujian prosedur-prosedur tindak lanjut atas
selisih atau perbedaan yang ditemukan. Auditor biasanya akan menguji pengendalian ini
dengan mengajukan pertanyaan kepada sejumlah orang yang terlibat dalam sistem,
menginspeksi dokumen dan laporan, dan melakukan ulang pengendalian atas sejumlah
transaksi uuntuk memastikan bahwa pengendalian telah berjalan secara efektif dalam
operasinya.

10

DAFTAR PUSTAKA

Jusup, Al. Haryono. 2014. Auditing Edisi II. Yogyakarta: Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi

Catatan: semua anggota kelompok ikut berpartisipasi

11