Anda di halaman 1dari 7

[Type the document title]

ARTIKEL PENELITIAN

Analisis Hubungan Faktor Fisik


dan Faktor Lain Di Lingkungan Kerja dengan Tinea Pedis
Hikmawaty T
Sub departemen Kedokteran Okupasi, Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas, Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin

Abstrak

Hasil : Prevalensi Tinea Pedis sebesar 9,09%.

Latar belakang : Tinea pedis adalah salah satu

Faktor yang dominan berpengaruh dalam tinea

infeksi kulit pada sela jari kaki dan telapak kaki

pedis berupa faktor fisik yaitu kelembapan pada

yang

rubrum.

kaki akibat penggunaan sepatu boots dengan

Beberapa penelitian melaporkan bahwa lingkungan

kondisi kaki yang basah dan dalam waktu yang

kerja yang melibatkan pajanan air yang banyak

lama. Faktor biologi yang terkait berupa adanya

serta pemakaian sepatu boots yang sering dapat

pertumbuhan spora jamur akibat hygene yang

berperan penting dalam terjadinya Tinea pedis.

buruk.

disebabkan

Prevalensi

oleh

penyakit

Trichophyton

dermatofitosis

di

Asia

mencapai 35,6%. Di Indonesia sendiri pada tahun

Kesimpulan : Faktor fisik dan faktor biologi di

2000-2004 prevalensinya mengalami peningkatan

lingkungan kerja, paparan air dalam waktu lama,

14,4. Dari keseluruhan insidensi berhubungan

penggunaan sepatu boots yang tidak tepat, dan

dengan

hygene yang buruk selama proses pencucian yang

pekerjaan,

sehingga

sering

disebut

dermatofitosis akibat kerja antara lain Tinea pedis.

di lakukan setiap hari selama 12 jam. Mempunyai


hubungan

Metode : Penelitian ini menggunakan metode

yang

signifikan

dengan

terjadinya

keluhan gatal pada sela-sela jari kedua kaki.

penelitian deskriptif dengan pendekatan cross


sectional melalui proses walk through survey. Data

Kata Kunci : Faktor fisik, Tinea Pedis, Pajanan

yang digunakan berupa kebiasaan responden, dan

Air, Penggunaan sepatu boots

data faktor-faktor pencetus tinea pedis, seperti


faktor fisik dan penggunaan alat pelingdung kaki
yang

tidak

tepat.

Data

pengukuran

adanya

kecenderungan gatal pada sela-sela kedua jari kaki


dengan menggunakan check list. Sampel dalam
penelitian ini adalah pasien dengan diagnosis Tinea
pedis yang gatal pada sela-sela jari kaki yang masih
berlangsung saat melakukan pekerjaan. Distribusi
sampel penelitian berdasarkan jenis pekerjaan yang
dilakukan, didapatkan hasil 2 pekerja dari 22
pekerja, mengeluh gatal pada sela-sela jari kaki.

[Type text]

Page 1

[Type the document title]


Latar Belakang :

Lingkungan kerja ataupun jenis

Indonesia merupakan salah satu

pekerjaan dapat menyebabkan penyakit

negara beriklim tropis yang memiliki suhu

akibat kerja. Seperti salah satunya penyakit

dan kelembaban tinggi, merupakan suasana

infeksi jamur pada kulit mempunyai

yang

prevalens acukup tinggi pada Indonesia.

baik

bagi

pertumbuhan

jamur,

sehingga jamur dapat ditemukan hampir di

Hal

semua

Indonesia

tempat

merupakan

Lingkungan

tempat

disebabkan
memiliki

karena
iklim

negara

tropis

dan

potensial

kelembaban yang tinggi. Dermatofitosis

mempengaruhi kesehatan pekerja. Faktor-

merupakan penyakit pada jaringan yang

faktor

mempengaruhi

mengandung zat tanduk, misalnya stratum

kesehatan pekerja antara lain faktor fisik,

korneum pada epidermis, rambut dan kuku

faktor kimia, dan faktor biologis 1,2,3

yang disebabkan oleh golongan jamur

yang

yang

kerja

ini

dapat

Kesehatan dan kerja sangat erat


hubungannya,

sebab lingkungan

dermatofita. Dermatofita termasuk kelas

kerja

Fungi imperfecti, yang terbagi dalam 3

dapat mempengaruhi kesehatan seseorang.

genus, yaitu Microsporum, Trichopyton,

Pekerja mungkin saja terpapar dengan

dan

mesin-mesin

mempunyai sifat mencernakan keratin atau

berbahaya,

bahan

kimia

Epidermophyton.

berbahaya, ataupun situasi kerja penuh

keratofilik.

tekanan.

dermatofit

Oleh

karena

itu

diperlukan

Berdasarkan
ini

Dermatofita
habitatnya,

digolongkan

sebagai

pelayanan kedokteran okupasi merupakan

antropofilik (manusia), zoofilik (hewan)

yang baik. Pelayanan kesehatan primer

dan

kedokteran okupasi

adalah pelayanan

dermatofitosis ini tersebar di seluruh dunia

kesehatan yang diberikan kepada pekerja,

dan menyerang semua umur, terutama

baik sebagai individu maupun komunitas

dewasa. 2,3,4

pekerja pada tingkat primer. 1,4


Pengenalan

(tanah).

Penyakit

Tinea pedis adalah dermatofitosis


dokter

pada kaki, terutama pada sela-sela jari dan

terhadap pola penyakit akibat pemajanan

telapak kaki. Tinea pedis yang sering

bahaya

terlihat

potensial

kewaspadaan

bagi

dini

geofilik

kerja

oleh

menimbulkan

petugas

adalah

bentuk

interdigitalis.

kesehatan

Diantara jari IV dan V terlihat fisura yang

dengan melakukan tindakan pengawasan

dilingkari sisik halus dan tipis. Prevalensi

dan bagi perusahaan dengan meningkatkan

penyakit dermatofitosis di Asia mencapai

tindakan perlindungan bagi para pekerja. 1,5

35,6%. Di Indonesia sendiri pada tahun


2000-2004

[Type text]

Page 2

prevalensinya

mengalami

[Type the document title]


peningkatan

14,4.

keseluruhan

Pencuci mobil salah satu contoh okupasi

insidensi berhubungan dengan pekerjaan,

yang kesehariannya menggunakan sepatu

sehingga sering disebut dermatofitosis

tertutup dengan waktu yang cukup lama

akibat kerja antara lain Tinea pedis. Tinea

dan frekuen. Ruang lingkup kerja mereka

pedis adalah salah satu infeksi kulit pada

juga berada pada daerah basah, panas dan

sela jari kaki dan telapak kaki yang

lembab.

Hal-hal

disebabkan oleh Trichophyton rubrum.

beberapa

faktor

Banyaknya kasus Tinea pedis disebabkan

timbulnya infeksi jamur pada kaki atau

karena

Tinea pedis. 1,2

kebiasaan

Dari

pemakaian

sepatu

tersebut
yang

merupakan
memudahkan

tertutup dalam aktivitas atau pekerjaan


sehari-hari. Tinea pedis sering menyerang

METODE

orang dewasa usia 20-50 tahun yang

Penelitian ini menggunakan metode

berkerja di tempat basah seperti tukang

penelitian deskriptif dengan pendekatan

cuci mobil dan motor, petani, pemungut

cross

sampah atau orang yang setiap hari harus

through survey. Data yang digunakan

memakai sepatu tertutup. Bertambahnya

berupa kebiasaan responden, dan data

kelembaban karena keringat, pecahnya

faktor-faktor pencetus tinea pedis, seperti

kulit karena mekanis, dan paparan terhadap

faktor

jamur merupakan faktor predisposisi yang

pelingdung kaki yang tidak tepat. Data

menyebabkan Tinea pedis. Kurangnya

pengukuran adanya kecenderungan gatal

kebersihan memegang peranan penting

pada sela-sela kedua jari kaki dengan

terhadap infeksi jamur. Keadaan gizi

menggunakan check list. Sampel dalam

kurang

penelitian

akan

menurunkan

imunitas

sectional

fisik

ini

melalui

dan

proses

walk

penggunaan

adalah

pasien

alat

dengan

seseorang dan mempermudah seseoarang

diagnosis Tinea pedis yang gatal pada sela-

terjangkit suatu penyakit. 2,3,4

sela jari kaki yang masih berlangsung saat

Di Indonesia terdapat beberapa

melakukan pekerjaan. Distribusi sampel

pekerjaan dengan pemakaian sepatu boots

penelitian berdasarkan jenis pekerjaan

diantaranya, petani, pencuci mobil dan

yang dilakukan, didapatkan hasil 2 pekerja

motor, anggota brimob dan pemungut

dari 22 pekerja, mengeluh gatal pada sela-

sampah. Angka kejadian penyakit yang

sela jari kaki. Akan tetapi penelitian pada

paling sering di temukan dalam pemakaian

studi cross sectional terdapat beberapa

sepatu boots antara lain seperti dermatitis

kelemahan yaitu kurangnya jumlah kasus

kontak alergi, scabies dan dermatofitosis.

yang didapatkan, berat- ringannya kasus

[Type text]

Page 3

[Type the document title]


yang sulit ditentukan karena keterbatasan

Check List: Berfungsi sebagai alat

sarana pemeriksaan, dan kurangnya waktu

untuk mendapatkan data primer

yang didapatkan untuk melanjutkan survey.

mengenai

Selain itu, penelitian dengan studi ini tidak

yang dilakukan.

menggambarkan

perjalanan

survey jalan

sepintas

penyakit,
Cara survey yang dilakukan adalah

insiden, maupun prognosis penyakit.


Bahan yang digunakan pada survei

dengan

menggunakan

Walk

Through

ini adalah checklist yang di buat. Checklist

Survey. Teknik Walk Through Survey juga

ini dibuat berdasarkan informasi yang

dikenali sebagai Occupational Health

diperlukan daripada tujuan survei ini

Hazards. Untuk melakukan survei ini,

dilakukan. Pada survei ini, informasi yang

dapat dimulai dengan mengetahui tentang

diperlukan adalah ada tidaknya faktor

manejemen

hazard, alat kerja apa yang digunakan, alat

berdiskusi

pelindung

survey, dan menerima keluhan-keluhan

diri

yang

digunakan,

ketersediaan obat p3k di tempat kerja,


keluhan atau penyakit yang dialami pekerja

perencanaan
tentang

yang

tujuan

benar,

melakukan

baru yang releven.


Bahaya apa dan dalam situasi yang

dan upaya pengetahuan mengenai K3

bagaimana

kepada pencuci mobil.

merupakan

bahaya

dapat

sebagai

timbul,

hasil

dari

penyelenggaraan kegiatan Walk Through


Peralatan yang diperlukan untuk

Survey. Mengenal bahaya, sumber bahaya

melakukan walk through survey antara

dan lamanya paparan bahaya terhadap

lain:

pekerja.

Alat

tulis

menulis:

Berfungsi

sebagai media untuk pencatatan


selama survey jalan sepintas.

Pihak

okupasi

kesehatan

dapat

kemudian merekomendasikan monitoring


survey untuk memperoleh kadar kuantitas
eksposur atau kesehatan okupasi mengenai

Kamera digital: Berfungsi sebagai


alat untuk memotret kegiatan dan
lingkungan pencuci mobil

risk assessment.
Walk

Through

Survey

ini

bertujuan

untuk

memahami

produksi,

denah

tempat

kerja

adalah
proses
dan

lingkungannya secara umum. Selain itu,


mendengarkan pandangan pekerja dan
pengawas
[Type text]

Page 4

tentang

K3,

memahami

[Type the document title]


pekerjaan

dan

mengantisipasi

tugas-tugas
dan

pekerja,

mengenal

potensi

sebanyak 2 dari 22 pekerja (total jumlah


pekerja).

bahaya yang ada dan mungkin akan timbul

Dari rencana waktu yang telah

di tempat kerja atau pada petugas dan

ditetapkan,

menginventarisir upaya-upaya K3 yang

didapatkan dari check list yang dibuat.

telah dilakukan mencakup kebijakan K3,

Dari hasil check list diperoleh 2 pekerja

upaya pengendalian, pemenuhan peraturan

laki-laki, mengeluh mendapatkan keluhan

perundangan dan sebagainya.

gatal di sela-sela jari kaki saat bekerja di

Survey dilakukan di Master Car Wash

terkumpul

data

yang

tempat pencucian mobil dalam jangka

Tamalanrea Makassar, Jl.Perintis

waktu 3 bulan. Dan sisanya mengeluh

Kemerdekaan, dengan jadwal survey

penyakit

selama 1 minggu ( 4 April 2016 8 April

berhubungan dengan pekerjaan mencuci

2016 ), yaitu :

mobil.

yang

berbeda,

yang

juga

Prevalensi Tinea Pedis sebesar


No.

Tanggal

9,09%. Faktor yang dominan berpengaruh

Kegiatan

dalam tinea pedis berupa faktor fisik yaitu


1.

4 April 2016

2.

5 April 2016
-

3.

6 April 2016

4.

7 April 2016

5.

8 April 2016

Melapor ke bagian K3 RS Ibnu


Sina
kelembapan
pada kaki akibat penggunaan
Pengarahan kegiatan
sepatu boots dengan kondisi kaki yang
Pembuatan proposal walk through
basah dan dalam waktu yang lama. Faktor
survey
biologi yang terkait berupa adanya
Walk through survey
pertumbuhan spora jamur akibat hygene
Walk through survey
yang buruk.
Walk through survey
Berdasarkan data yang telah
Pembuatan laporan walk through
didapatkan, ditemukan berbagai faktor
survey
yang mempengaruhi terjadinya keluhan,
Presentasi laporan walk through
dan faktor fisik serta biologi menjadi lebih
survey
dominan. Seperti yang dijelaskan pada
bagian pendahuluan, bahwa faktor fisik,

HASIL
Pada penelitian ini diambil sampel
dalam salah satu bagian pekerjaan di
tempat

pencucian

mobil

dan

dari

perhitungan sampel didapatkan sampel

[Type text]

Page 5

kimia dan biologi erat kaitannya dengan


munculnya keluhan gatal pada sela-sela
jari kaki.
Didukung dari penelitian lain yang
di lakukan menyatakan bahwa terdapat

[Type the document title]


beberapa faktor risiko terjadinya Tinea

lingkungan

sekitar

tempat

bekerja.

pedis pada pencuci mobil diantaranya

Keberadaan alat pelindung kerja harus

adalah pemakaian sepatu tertutup dengan

dibarengi dengan pelatihan penggunaannya

waktu yang lama pada saat bekerja, selain

dengan baik dan benar.

itu kondisi kaki yang terus basah karena air


dan keringat meningkatkan angka kejadian

KETERBATASAN PENELITIAN

tinea pedis pada pekerja.

Penelitian

Sepatu boots adalah alat pelindung

terlepas

dari

ini

tentunya

keterbatasan,

tidak
adapun

diri yang seharusnya digunakan para

keterbatasan

pekerja pencuci mobil untuk melindungi

checklist yang dibuat hanya menentukan

diri

hubungan penyakit akibat kerja, tapi tidak

khususnya

pada

bagian

kaki.

dari penelitian ini adalah

Pemakaian sepatu boots dengan waktu

dapat

yang lama merupakan salah satu pencetus

ringannya

terjadinya

Diperberatkan

penyakit. Demikian pula untuk survey

dengan keadaan atau kondisi kaki yang

menilai faktor psikososial akibat kerja,

lembab selama penggunaan sepatu boots.

diagnosisnya hanya bersifat subjektif, tidak

Penularan infeksi jamur seperti Tinea pedis

dapat diketahui kapan stressor muncul.

secara tidak langsung dapat melalui tanah

Keterbatasan lainnya adalah tidak

atau

Tinea

debu

yang

pedis.

melekat

pada

ban

menentukan

insidens,

penyakit,

dan

berat

prognosis

dilakukan pemeriksaan yang menyeluruh

kendaraan hingga air yang terkontaminasi

terhadap

spora jamur . Spora jamur yang menempel

keterbatasan

pada media transmisi akan melekat pada

keterbatasaan waktu penelitian, karena

keratin

keratinase

untuk menganalisa faktor terjadinya kasus

(keratolitik) yang dapat menghidrolisis

penyakit dengan keluhan gatal pada sela-

keratin dan memfasilitasi pertumbuhan

sela jari kaki perlu diketahui riwayat

jamur di stratum korneum

penyakit terdahulu dan riwayat pekerjaan

dan

memproduksi

Tingginya angka kejadian tinea


pedis pada pekerja yang aktifitasnya tidak

seluruh
sarana

responden,

karena

pemeriksaan,

dan

di tempat lain yang mungkin berhubungan


dengan keluhan yang dirasakan sekarang.

lepas dari pajanan air dapat dijadikan

Selain itu checklist yang hanya

evaluasi untuk memperbaiki kondisi atau

terfokus pada faktor penyebab penyakit

lingkungan kerja yang terkait. Di mulai

akibat kerja, tidak memenuhi semua poin-

dari edukasi dari pihak yg terkait mengenai

poin yang diperlukan untuk mendiagnosis

kesadaran menjaga kebersihan diri dan

penyakit dari keluhan yang dirasakan.

[Type text]

Page 6

[Type the document title]


Perlu penelitian yang lebih mendalam dan

1. National Institute of Occupational

pemeriksaan yang lebih lengkap untuk

Safety and Health. Occupational and

dapat menilai secara keseluruhan penyebab

Environment

dari keluhan yang dirasakan oleh pekerja.

Chemic.

Akhirnya kami berasumsi bahwa


bila terdapat gejala keluhan kulit pada
responden

dengan

hasil

survey

dan

penyakit akibat kerja tidak menunjukkan


nilai yang berarti , maka tidak menutup
kemungkinan

keluhan

yang

dirasakan

pasien juga karena kontribusi dari faktor


individu dan faktor lingkungan lain, selain
lingkungan tempat kerja.
Penelitian

ini

tidak

mengklasifikan berat ringannya penyakit ,


berdasarkan keluhan dari pekerja, juga
tidak dapat menentukan penatalaksanaan
yang

tepat

untuk

mencegah

atau

mengurangi keluhan yang dirasakan atau


akan dirasakan nanti di masa yang akan
datang.
Daftar Pustaka :

[Type text]

Page 7

Skin

2006

to

dalam

http://www.mines.edu/outreach/oeesc
2. Fathin, M H. Hubungan Lama
Pemakaian

Sepatu

boots

dengan

Angka Kejadian Tinea Pedis. Fakultas


Kedokteran

Universitas

Muhammadiyah Surakarta.2016
3. Djuanda, Adhi. Ilmu Penyakit Kulit
dan Kelamin. FKUI Jakarta. 2002.
4. Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit
dan

juga

Exposureof

Kelamin

(PERDOSKI).2009
5. Wilde. M.M, dkk.
Occupational
Dermatologist

Skin

Indonesia
National

of

Disease

by

in

The

Netherlands.Occupational

Medicine.

2008