Anda di halaman 1dari 94

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Dalam dunia industri, kemajuan teknologi dalam bidang permesinan

sangat diperlukan. Pada saat sekarang perkembangannya sangat pesat sekali,


setiap saat terjadi perubahan dalam perencanaan maupun hasil dari industri
permesinan sesuai dengan kebutuhan manusia. Salah satunya adalah dalam
pembuatan roda gigi, karena mesin tidak akan pernah lepas dari peran roda gigi,
baik sebagai penghubung maupun sebagai pengatur gerak mesin tersebut.
Bentuk dari roda gigi pada saat ini bervariasi hal ini diakibatkan
perkembangan

teknologi

yang

mempengaruhi

perencanaan

komponen

permesinan, salah satu fungsi roda gigi pada bidang permesinan adalah untuk
transmisi yang memegang peranan sebagai pengatur dan penghubung putaran.
Penggunaan transmisi bukan hanya pada kendaraan semata, namun hampir
disetiap industri yang memakai mesin menggunakan transmisi untuk mengatur
kecepatan putaran.
Meningkatnya kebutuhan akan kendaraan, menyebabkan persaingan dalam
inovasi perencanaan menjadi ketat. setiap produk menawarkan keunggulannya
masing-masing, dalam perencanaan transmisi juga demikian, setiap perencanaan
roda gigi diperlukan sebuah rancangan yang relatif lebih baik dan efisien dalam
transmisi, agar dapat bersifat ekonomis dalam operasianal dan praktis dalam
penggunaan.

Di dalam aplikasi penggunaan transmisi roda gigi sering dijumpai beberapa


masalah, misalnya patah pada kepala roda gigi, ausnya lubang poros pada roda
gigi dan timbulnya suara berisik pada roda gigi, maka diperlukan perencanaan
roda gigi untuk mengatasi masalah yang terjadi pada transmisi roda gigi.
1.2

Tujuan Perencanaan
Tujuan dari perencanaan roda gigi adalah sebagai berikut :
-

Mendapatkan dimensi (ukuran) dan material untuk membuat roda gigi


transmisi yang bisa meneruskan ataupun merubah daya 102 PS dan
putaran 4000 rpm sesuai dengan yang diinginkan.

Menurunkan biaya perawatan dan perbaikan komponen roda gigi,


sehingga dapat menekan biaya produksi.

1.3

Pembatasan Masalah
Perhitungan perencanaan dan perancangan suatu unit transmisi roda gigi

pada kendaraan hanya dibatasi untuk kendaraan yang mempunyai daya sebesar
102 PS pada putaran 4000 rpm. Selain itu perhitungan perencanaan unit transmisi
roda gigi tersebut hanya meliputi ukuran-ukuran utama roda gigi dan sistem
transmisi yang dirancang. Selain itu jenis roda gigi yang direncanakan adalah roda
gigi lurus karena roda gigi ini yang paling banyak digunakan dan paling mudah
dibuat.
1.4

Sistematika Penulisan
Pada sistematika penulisan akan dijelaskan mengenai perencanaan roda
gigi secara garis besar yang dijabarkan dalam bentuk Bab per Bab untuk
mempermudah proses perhitungan dan perencanaan yaitu :

Bab I

: Pendahuluan
Bab ini akan dijelaskan mengenai latar belakang perencanaan,
Tujuan perencanaan roda gigi , pembatasan masalah dalam
perencanaan roda gigi, dan sistematika penulisan .

Bab II : Tinjauan Pustaka


Bab ini menjelaskan tentang poros, pasak, jenis-jenis dari roda
gigi, bagian dari roda gigi, proses kerja dari roda gigi sebagai
unit transmisi pada kendaraan angkutan, serta pelumasan.
Bab III : Perhitungan Roda Gigi
Bab ini berisikan tentang perhitungan dan penggunaan rumus
yang cocok dalam perencanaan roda gigi yang meliputi
perhitungan terhadap Diameter poros, Diameter Lingkaran jarak
bagi, Diameter lingkaran kepala , Diameter lingkaran Dasar,
Jumlah gigi, Gaya Tangensial, Beban Lentur, Lebar Gigi,
Ukuran Spline, Temperatur Pelumasan, dan lain-lain.
Bab IV : Kesimpulan dan Saran
Bab ini merupakan kesimpulan dari hasil perencanaan roda gigi
untuk kendaraan jenis angkutan dengan daya 102 PS pada
putaran 4000 rpm dan saran-saran yang perlu diperhatikan dalam
perencanaan roda gigi.
Untuk mempermudah dalam perancangan roda gigi pada jenis kendaraan
angkutan maka digunakan diagram alir (flow chart) yang ditunjukan pada gambar
dibawah ini :

Survey

Data

Tidak

Disetujui
Ya
Rancangan

Perhitungan

Sesuai

Belum

Ya
Gambar

Kesimpulan

Selesai

BABAlir
IIPerencanaan Roda Gigi
Gambar 1.1. Diagram

TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Pengertian Transmisi
Transmisi pada umumnya dimaksudkan adalah sebagai suatu mekanisme

yang dipergunakan untuk memindahkan putaran elemen mesin yang satu ke


putaran elemen mesin yang akan sejajar satu sama lain. Tetapi garis sumbunya
dapat juga saling kedua.
Dalam kebanyakan hal poros memotong atau saling menyilang,
ada juga kemungkinan poros itu terletak sejajar, seperti terlihat pada gambar 2.1

Gambar 2.1. Transmisi


(Sumber : Modul Pemeliharaan / Servis Transmisi Manual)

Secara garis besar transmisi putar dapat di bagi atas :


1.

Transmisi langsung, dimana sebuah piringan atau roda pada poros yang satu
dapat menggerakkan roda yang serupa pada poros kedua melalui kontak
langsung. Dalam kategori ini termasuk roda gesek dan roda gigi, seperti
terlihat pada gambar 2.2

Gambar 2.2 Perpindahan Oleh Dua Buah Roda


2.

Transmisi tidak langsung, perpindahan di mana suatu elemen sebagai


penghubung antara sabuk atau rantai menggerakkan poros kedua. Transmisi
jenis ini digunakan bilamana jarak antara kedua poros cukup besar, sebab
kalau di terapkan perpindahan langsung, roda akan menjadi tidak praktis
besarnya, seperti yang terlihat pada gambar 2.3

Gambar 2.3 : Perpindahan Oleh Sabuk Atau Rantai


(Sumber : Modul Pemeliharaan / Servis Transmisi Manual)

Pada roda gesek dan sabuk, yang memindahkan gerakan poros yang satu ke
poros yang lain ialah gaya gesek. Keuntungannya ialah jika ada beban lebih akan
terjadi slip, jadi gaya tersebut agak bekerja seperti kopling slip, karena sabuk
bersifat elastic maka dapat meredam tumbukan dan getaran. Kerugiannya ialah
jumlah putaran poros yang digerakkan tidak seluruhnya dapat di tentukan karena
slip.
Pada roda gigi, rantai dan sabuk bergigi mempunyai sistem gigi sehingga
gerakan menjadi dipaksakan atau tanpa terjadi slip. Dalam suatu sistem transmisi,
roda gigi merupakan elemen yang paling banyak diterapkan karena cocok untuk
memindahkan daya yang sangat besar pada kecepatan putaran tingi. Namun roda
gigi memerlukan ketelitian yang lebih besar dalam pembuatan, pemasangan dan
pemeliharaan.
2.2

Pengertian Roda Gigi


Roda gigi termasuk dalam unit transmisi langsung yang dapat

memindahkan daya yang besar dan putaran yang tinggi dengan melakukan kontak
secara langsung antara poros penggerak dengan poros yang digerakkan dengan
menggunakan sistem roda gigi. Roda gigi merupakan pemindah gerakan putar
dari satu poros keporos yang lain.
Keuntungan dari penggunaan roda gigi adalah dapat mengubah tingkat
kecepatan jalannya kendaraan, dapat memindahkan daya yang besar dan putaran
yang tinggi tanpa terjadi slip, dapat memundurkan kendaraan. Walaupun
demikian, jumlah putaran pada poros penggerak dengan paras yang digerakkan
tidak selamanya sama. Sedangkan kelemahannya adalah menimbulkan getaran

dan tumbukan sewaktu beroperasi, Tingkat kebisingan yang lebih tinggi, dan
memerlukan ketelitian yang tinggi dalam pembuatan dan perawatannya.
2.3

Klasifikasi Roda Gigi


Berdasarkan letak poros, arah putaran, dan bentuk jalur gigi maka roda

gigi dapat diklasifikasikan sebagai berikut :


2.3.1

Roda Gigi Lurus

Roda gigi dengan poros sejajar adalah suatu jenis roda gigi dimana giginya
berjajar pada dua bidang silinder yang saling bersinggungan dan menggelinding
dengan sumbu yang tetap sejajar, yang terbagi atas :
a. Roda Gigi Lurus
Gambar roda gigi lurus dapat dilihat pada gambar 2.3. Roda gigi ini
mempunyai gigi yang sejajar dengan sumbu roda, sehingga roda gigi ini
merupakan roda gigi yang paling sederhana dengan jalur gigi yang sejajar dengan
poros, dimana proses pembuatannya sangat mudah tapi memiliki gaya aksial yang
besar dan tingkat kebisingan yang cukup tinnggi.

Gambar 2.4. Roda Gigi Lurus


( Sumber : Sularso dan Kiyatkatshu Saga, Dasar-dasar Perencanaan dan
Pemilihan elemen mesin, Sularso hal 213 )

b. Roda Gigi Miring


Pada gambar 2.4 menunjukkan gambar roda gigi miring merupakan roda
gigi yang mempunyai jalur gigi dan membentuk ulir pada silinder jarak bagi. Pada
roda gigi miring.
Mempunyai perbandingan kontak yang lebih besar dibandingkan dengan roda gigi
lurus sehinnga pemindahan moment dan putaran dapat berlangsung lebih halus,
sehinnga sangat cocok untuk mentransmisikan beban besar dan putaran tinnggi.
Namun hal tersebut menyebabkan roda gigi miring tersebut memerlukan bantalan
aksial dan kotak roda gigi yang lebih besar karena jalur gigi yang berbentuk ulir
menimbulkan gaya aksial yang besar yang sejajar dengan poros.

Gambar 2.5. Roda Gigi Miring


( Sumber Sularso dan Kiyatkatshu Saga, Dasar-dasar
Perencanaan dan Pemilihan elemen mesin, Sularso hal 213 )
c. Roda Gigi Miring Ganda
Kelemahan yang ditemukan pada roda gigi miring dapat diatasi dengan
membuat alur V seperti yang terdapat pada roda gigi miring ganda. Gambar roda
gigi miring ganda dapat dilihat pada gambar 2.5. Akibat adanya alur gigi yang
berbentuk V maka gaya aksial yang terjadi akan saling meniadakan, sehingga

pemindahan daya dan putaran dapat lebih besar dibandingkan dengan roda gigi
miring.

Gambar 2.6. Roda Gigi Miring Ganda


( Sumber : Sularso dan Kiyatkatshu Saga, Dasar-dasar
Perencanaan dan Pemilihan elemen mesin, Sularso hal 213 )
d. Roda Gigi Dalam
Pada gambar 2.6 menunjukan gambar roda gigi dalam. Roda gigi dalam
sangat cocok dipakai untuk alat transmisi yang berukuran kecil dengan
perbandingan reduksi yang besar karena piniyon terletak didalam roda gigi
sehinnga cocok untuk mentransmisikan putaran tinggi untuk direduksi menjadi
putaran yang rendah.

Gambar 2.7. Roda Gigi Dalam


( Sumber : Sularso dan Kiyatkatshu Saga, Dasar-dasar
Perencanaan dan Pemilihan elemen mesin, Sularso hal 213 )

10

e. Pinyon dan Batang Bergigi


Gambar pinyon dan batang gigi dapat dilihat dalam gambar 2.7. Pinyon
dan batang bergigi merupakan dasar profil pahat pembuat gigi. Pasangan antara
batang gigi dan pinyon digunakan untuk mengubah gerakan putar (rotasi) menjadi
gerakan lurus (linier) atau mengubah gerakan lurus (linier) menjadi gerakan putar
(rotasi).

Gambar 2.8. Pinyon dan batang bergigi.


( Sumber : Sularso dan Kiyatkatshu Saga, Dasar-dasar
Perencanaan dan Pemilihan elemen mesin, Sularso hal 213)
2.3.2

Roda Gigi Dengan Poros Berpotongan

Roda gigi dengan poros berpotongan adalah roda gigi dimana bentuk dasar
giginya menyerupai dua buah kerucut dengan puncak gabungan yang saling
menyinggung menurut dua buah garis lukis, yang tebagi atas :
a. Roda Gigi Kerucut Lurus
Gambar 2.8 menunjukan gambar dari roda gigi kerucut lurus yang
merupakan jenis roda gigi dengan poros yang berpotongan yang paling sederhana
dan paling mudah dibuat sehinnga sering dipakai. Tetapi mempunyai kelemahan

11

seperti kebisingan yang cukup tinggi karena perbandingan kontak yang kecil dan
juga tidak memungkinkan dipasang bantalan pada kedua ujung porosnya.

Gambar 2.9 Roda Gigi Kerucut Lurus


( Sumber : Sularso dan Kiyatkatshu Saga, Dasar-dasar Perencanaan dan
Pemilihan elemen mesin, Sularso hal 213 )
b. Roda Gigi Kerucut Miring
Jenis desainnya dapat dilihat pada gambar 2.9. Efisiensinya lebih tinngi
dari pada kotak transmisi roda gigi cacing. Kebalikannya dengan transmisi roda
gigi lurus adalah pengukuran, pembuatan dan perakitannya lebih sulit
dikendalikan, rodanya harus disangga penampang, harus mampu stel arah aksial.,
serta mahal. Kalau lebih besar lagi, maka roda piringan makin mahal, pinyonnya
kecil, poros pinyon lentur. Untuk persyaratan yang tinnggi terhadap gaya dukung
dan putaran senyap maka giginya harus spiral dan dikeraskan, oleh karena itu
perubahan bentuk yang tidak dapat dihindari, maka giginya membulat lebar.

12

Gambar 2.10. Roda Gigi Kerucut Miring


( Sumber : Sularso dan Kiyatkatshu Saga, Dasar-dasar
Perencanaan dan Pemilihan elemen mesin, Sularso hal 213 )
c. Roda Gigi Kerucut Spiral
Roda gigi kerucut spiral merupakan roda gigi yang mempunyai
perbandingan kontak yang lebih besar dan putaran tinggi. Gambar roda gigi
kerucut spiral dapat dilihat pada gambar 2.10 sudut poros roda gigi kerucut spiral
biasanya dibuat 90.

Gambar 2.11. Roda Gigi Kerucut Spiral


( Sumber : Sularso dan Kiyatkatshu Saga, Dasar-dasar
Perencanaan dan Pemilihan elemen mesin, Sularso hal 213 )

13

d. Roda Gigi Permukaan


Roda gigi permukaan merupakan roda gigi yang cocok untuk
memindahkan daya besar. Tetapi sangat berisik pada putaran yang tinggi karena
perbandingan kontaknya yang kecil. Gambar roda gigi permukaan dapat dilihat
pada gambar 2.11. selain itu roda gigi permukaan dapat digunakan sebagai roda
gigi reduksi dengan sudut poros yang berpotongan yang tidak dapat dilakukan
oleh roda gigi dalam. Tetapi penggunaannya sangat terbatas pada aplikasi putaran
yang rendah untuk mencegah tingkat kebisingan yang terlampau tinggi.

Gambar 2.12. Roda Gigi Permukaan


( Sumber : Sularso dan Kiyatkatshu Saga, Dasar-dasar Perencanaan dan
Pemilihan elemen mesin, Sularso hal 213 )
2.3.3

Roda Gigi Dengan Poros Bersilang

Roda gigi dengan poros bersilang adalah roda gigi yang mempunyai
bentuk dasar berupa dua buah silinder atau kerucut yang letak porosnya bersilang
satu dengan yang lainnya, yang terbagi atas :
a. Roda Gigi Miring Silang
Gambar roda gigi miring silang dapat dilihat pada gambar 2.12. Roda
miring silang merupakan roda gigi yang mempunyai perbandingan kontak yang

14

besar sehingga sangat cocok untuk mentransmisikan daya yang besar dan putaran
tinggi. Roda gigi miring silang digunakan untuk memindahkan daya antara batang
yang tidak paralel dan tidak tumpang tindih. Gigi miring silang ini digunakan
untuk mekanisme makan pengarah pada bagian atas mesin perkakas, camshaft,
pompa minyak pada mesin pembakaran dalam, dan unit serupa yang memerlukan
sejumlah kecil gerakan. Perpindahan roda gigi jenis ini harus tidak digunakan
untuk memindahkan daya yang berat karena kontak yang terjadi hanya normal
yang umum kepada perpotongan permukaan gigi.

Gambar 2.13. Roda Gigi Miring Silang


( Sumber : Sularso dan Kiyatkatshu Saga, Dasar-dasar
Perencanaan dan Pemilihan elemen mesin, Sularso hal 213 )
b. Roda Gigi Cacing Slindris
Gambar 2.13 menunjukkan gambar dari roda gigi cacing silindris yang
merupakan roda gigi yang berbentuk silinder yang paling umum digunakan dan
mempunyai perbandingan reduksi yang besar, tetapi sangat berisik pada putaran
yang sangat tinggi karena perbandingan kontak yang sangat kecil.

15

Gambar 2.14. Roda Gigi cacing silindris


( Sumber : Sularso dan Kiyatkatshu Saga, Dasar-dasar
Perencanaan dan Pemilihan elemen mesin, Sularso hal 213 )
c. Roda Gigi cacing Globoid
Roda gigi cacing globoid merupakan roda gigi yang bentuknya hampir
sama dengan roda gigi cacing slindris hanya pada roda gigi ini mempunyai
perbandingan kontak yang lebih besar sehingga dapat mentransmisikan daya yang
lebih besar dengan perbandingan reduksi yang besar.Gambar roda gigi globoid
dapat dilihat pada gambar 2.14.

Gambar 2.15. Roda Gigi Cacing Globoid


( Sumber : Sularso dan Kiyatkatshu Saga, Dasar-dasar Perencanaan
dan Pemilihan elemen mesin, Sularso hal 213 )
16

d. Roda Gigi Hipoid


Roda gigi hipoid merupakan roda gigi yang mempunyai jalur gigi yang
berbentuk spiral pada bidang kerucutnya yang sumbu porosnya bersilang sehinnga
pemindahan daya dan putarannya terjadi secara meluncur dan menggelinding.
Gambar roda gigi hipoid dapat dilihat pada gambar 2.15. Bentuk jalur gigi yang
spiral menyebabkan perbandingan kontaknya lumayan besar sehinnga cocok
untuk pemindahan daya dan putaran yang besar sehingga cocok untuk
pemindahan daya dan putaran yang besar dengan perbandingan reduksi yang
tertentu. Disini pinyon karena pergeseran gandar menjadi lebih gemuk, juga
sesuai untuk rasio transmisi yang lebih besar, Poros pinion kontinu dimungkinkan.
Disebabkan tambahan luncuran dalam arah memanjang maka efisiensi berkurang,
karena bahaya penggerusan lebih besar maka diperlukan pelumas khusus, tetapi
putarannya diam (untuk gandar kendaraan bermoto, juga untuk transmisi pabrik).

Gambar 2.16. Roda Gigi Hypoid


( Sumber : Sularso dan Kiyatkatshu Saga, Dasar-dasar
Perencanaan dan Pemilihan elemen mesin, Sularso hal 213 )

17

2.4

Nama Nama Bagian Roda Gigi


Roda gigi terdiri atas bagian-bagian sebagai berikut :
1. Lingkaran jarak bagi (pitch circle) yaitu lingkaran imajiner yang dapat
memberikan gerakan yang sama seperti roda gigi sebenarnya.
2. Tinggi kepala (addendum) yaitu jarak radial gigi dari lingkaran jarak bagi /
pitch circle
1. ke puncak kepala / the top of the tooth.
2. 3. Tinggi kaki (dedendum) yaitu jarak radial gigi dari lingkaran jarak
bagi / pitch

circleke dasar kaki / the bottom of the tooth.

3. Lingkaran kepala (addendum circle) yaitu gambaran lingkaran yang


melalui puncak kepala dan sepusat dengan pitch circle
4. Lingkaran kaki (dedendum circle) yaitu gambaran lingkaran krpala yang
melalui dasar kaki dan sepusat dengan pitch circle.
5. Lebar ruang (tooth space) yaitu lebar ruang / sela antara dua gigi yang
saling berdekatan.
6. Tebal gigi (tooth thickness) yaitu lebar gigi antara dua sisi gigi yang
berdekatan.
7. Sisi kepala (face of the tooth) yaitu permukaan gigi diatas pitch circle.
8. Sisi kaki ( flank of the tooth) yaitu permukaan gigi dibawah pitch circle.
9. Lebar gigi (face width) yaitu lebar gigi pada roda gigi secara parallel pada
sumbunya.
Gambar bagian-bagian dari roda gigi dapat dilihat pada gambar 2.16.

18

Gambar 2.17. Nama-nama Bagian Roda Gigi


( Sumber : Sularso dan Kiyatkatshu Saga, Dasar-dasar Perencanaan dan
Pemilihan elemen mesin, Sularso hal 214 )
2.5

Cara Kerja Roda Gigi


Cara kerja dari suatu unit transmisi roda gigi akan dijelaskan dengan

menggunakan gambar transmisi dibawah ini. Pada gambar tersebut akan terlihat
berbagai posisi roda gigi yang menghasilkan berbagai kombinasi sesuai dengan
yang diinginkan. Cara pergantian kombinasi roda gigi adalah dengan cara
menggerakkan roda gigi yang diinginkan secara aksial terhadap spline pada poros
output terjadi hubungan antar roda gigi.
A. Gigi pertama.
Pada gigi pertama ini, roda gigi 1 di sejajarkan dengan roda gigi
mati A. sehingga terjadi kontak antara roda gigi 1 dengan roda gigi A.
Maka aliran putaran dayanya adalah :
Putaran poros input di teruskan ke roda gigi P lalu di transmisikan ke
roda gigi Q (arah putaran berlawanan dengan roda gigi P) dan di teruskan
ke roda gigi A (sama sama poros II), lalu di teruskan ke roda gigi I dan

19

terus ke poros output. Cara kerja roda gigi pertama dapat di lihat pada
gambar 2.17 :

Gambar 2.18 : Cara kerja transmisi roda gigi pada gigi pertama.
B. Gigi kedua.
Pada gigi kedua, roda gigi 2 di sejajarkan dengan roda gigi mati B
sehingga terjadi kontak antara roda gigi 2 dengan roda gigi mati B.
Maka aliran putaran dayanya adalah :
Putaran poros input di teruskan ke roda gigi P lalu di transmisikan ke
roda gigi Q (arah putaran berlawanan dengan roda gigi P) dan di teruskan
ke roda gigi B (sama sama poros II), lalu di teruskan keroda gigi 2 dan
terus ke poros output, seperti terlihat pada gambar 2.18.

20

Gambar 2.19 : Cara kerja transmisi roda gigi pada gigi ke dua.
C.

Gigi ketiga.
Pada gigi ketiga, roda gigi 3 di sejajarkan dengan roda gigi mati C
sehingga terjadi kontak antara roda gigi 3 dengan roda gigi mati C.

Sehingga aliran putaran dayanya :


Putaran poros input di teruskan ke roda gigi P lalu di transmisikan
keroda gigi Q (arah putaran berlawanan dengan roda gigi P) dan di
teruskan ke roda gigi C (sama sama poros II), lalu di teruskan ke roda
gigi 3 dan terus ke poros output, seperti terlihat pada gambar 2.19.

Gambar 2.20 : Cara kerja transmisi roda gigi pada gigi ketiga.
D.

Gigi keempat.
Pada gigi ini, roda gigi 4 di sejajarkan dengan roda gigi mati D

sehingga terjadi kontak gigi 4 dengan roda gigi mati D.


Dengan aliran putaran dayanya adalah :
Putaran poros input di teruskan ke roda gigi P lalu di transmisikan
ke roda gigi Q (arah putaran berlawanan dengan roda gigi P) dan di

21

teruskan ke roda gigi D (sama sama poros II), lalu di teruskan ke roda
gigi 4 dan terus ke poros output. Seperti terlihat pada gambar 2.20.

Gambar 2.21 : Cara kerja transmisi roda gigi pada gigi keempat.
E.

Gigi kelima
Pada gigi ini, roda gigi 5 di sejajarkan dengan roda gigi mati E
sehingga terjadi kontak gigi 5 dengan roda gigi mati E.
Dengan aliran putaran dayanya adalah :
Putaran poros input di teruskan ke roda gigi P lalu di transmisikan
ke roda gigi Q (arah putaran berlawanan dengan roda gigi P) dan di
teruskan ke roda gigi E (sama sama poros II), lalu di teruskan ke roda
gigi 5 dan terus ke poros output. Seperti terlihat pada gambar 2.21.

22

Gambar 2.22 : Cara kerja transmisi roda gigi pada gigi kelima.

F. Gigi mundur.
Pada roda gigi mundur ini roda gigi F di sejajarkan dengan roda
gigi mati E (roda gigi F terletak pada poros I, yang arah putarannya searah
dengan poros input) sehingga terjadi kontak antara roda gigi E dengan
roda gigi F.
Maka aliran putaran dayanya :
Poros input di teruskan ke roda gigi P lalu di transmisikan ke roda
gigi Q (arah putaran berlawanan dengan roda gigi P) dan di teruskan ke
roda gigi E (sama sama poros II), lalu di teruskan ke roda gigi F (roda
gigi F terletak pada poros I yang arah putarannya searah dengan putaran
poros input) dan di teruskan pada roda gigi G dan terus ke poros output
(arah putarannya berlawanan dengan poros input), seperti pada gambar
2.22.

23

Gambar 2.23 : Cara kerja transmisi roda gigi pada gigi mundur.
2.6

Pengertian Poros
Poros adalah salah satu bagian yang terpenting dari sebuah mesin, yang

berfungsi untuk meneruskan tenaga bersama-sama dengan putaran. Poros


memegang peranan paling utama dalam transmisi karena itu kita harus terlebih
dahulu mengetahui bentuk-bentuk poros.
2.6.1

Macam-Macam Poros
Poros yang digunakan untuk meneruskan daya diklasifikasikan menurut

pembebanannya sebagai berikut :


a. Poros Transmisi
Poros macam ini mendapat beban puntir murni atau puntir dan lentur.
Daya ditransmisikan kepada poros ini melalui kopling, roda gigi, puli, sabuk atau
sprocket, rantai, dan lain-lain.
b. Spindel
Poros transmisi yang relatif pendek, seperti poros utama mesin perkakas,
dimana beban utamanya berupa puntiran, disebut spindel. Syarat yang harus

24

dipenuhi poros ini adalah deformasinya harus kecil dan bentuk serta ukurannya
harus teliti.
c. Gandar
Jenis poros ini merupakan poros yang dipasang diantara roda-roda kereta
barang, dimana tidak mendapat beban puntir, bahkan kadang-kadang tidak boleh
berputar, disebut gandar. Gandar ini hanya mendapat beban lentur, kecualai jika
digerakkan oleh penggerak mula dimana akan mengalami beban puntir.
Meneurut bentuknya, poros dapat digolongkan atas poros lurus umum,
poros engkol sebagai poros utama dari mesin torak, dan lain-lain.
2.6.2

Hal-Hal Penting Dalam Perencanaan Poros


Untuk merencanakan sebuah poros, hal-hal berikut ini perlu diperhatikan :

a. Kekuatan Poros
Suatu poros transmisi dapat mengalami beban puntir atau beban lentur
atau gabungan antara puntir dan lentur seperti telah diutarakan. Juga ada poros
yang mendapat beban tarik atau tekan seperti poros baling-baling kapal atau
turbin. Kelelahan, tumbukan atau pengaruh konsentrasi tegangan bila diameter
poros diperkecil (poros bertangga) atau bila poros mempunyai alur dan pasak,
harus diperhatikan. Sebuah poros harus direncanakan hingga cukup kuat menahan
beban-beban diatas.
c. Putaran Kritis
Bila putaran suatu mesin donaikkan maka pada harga putaran tertentu
dapat terjadi getaran yang luar biasa besarnya. Putaran ini disebut putaran kritis,
hal ini dapat terjadi pada turbin, motor torak, motor listrik, dan dapat

25

mengakibatkan kerusakan pada poros dan bagian-bagian lainnya. Jika mungkin,


poros harus direncanakan sedemikian rupa hingga putaran kerjanya lebih rendah
dari putaran kritisnya.
d. Korosi
Bahan-bahan tahan korosi (termasuk plastis) harus dipilih untuk poros
propeler dan pompa bila terjadi kontak dangan fluida yang korosif. Demikian pula
untuk poros-poros yang terancam kavitasi, dan poros-poros mesin yang sering
terhenti lama. Sampai batas-batas tertentu dapat pula dilakukan perlindungan
terhadap korosi.
e. Bahan Poros
Poros untuk mesin biasanya mengguanakan bahan dari baja batang yang
ditarik , baja karbon konstruksi mesin (disebut bahan S-C) yang dihasilkan dari
ingot yang di kill (baja yang dioksidasiakn dengan ferro silicon dan dicor ,
kadar karbon terjamin).. Untuk lebih jelasnya gambar poros dapat dilihat pada
gambar 2.1.

Gambar 2.24. Poros Dengan berbagai ukuran


( Sumber : Sularso dan Kiyatkatshu Saga, Dasar-dasar
Perencanaan dan Pemilihan elemen mesin, Sularso )
2.7

Rumus Rumus yang di Gunakan Pada Perencanaan Roda Gigi.


1. Perencanaan poros

26

Dalam perencanaan poros pada transmisi roda gigi di ketahui daya dan
putaran mesin, jika daya yang akan ditransmisikan adalah daya normal maka
harga faktor koreksi (Fc) adalah 1,0 1,5 (Menurut buku Sularso, 1983, hal 7).
Maka daya rencana dihitung menurut persamaan berikut :

pd

fc p

. ( 2 . 1 )

Di mana :
P

= Daya yang ditransmisikan (kW).

fc

= Faktor koreksi.

pd
= Daya rencana (kW).

Sedangkan momen puntir/ torsi yang terjadi dihitung menurut persamaan berikut:

9,74 105

Pd
n

...............( 2 . 2 )

Di mana :
T

= Momen puntir/ torsi (kg.mm).

= Putaran poros (rpm).

Bahan poros untuk mesin biasanya dibuat dari baja batang yang ditarik
dingin dan difinis, bahan karbon konstruksi mesin (di sebut bahan S C) yang
dihasilkan dari ingot yang di kill (Baja yang di deoksidasikan dengan ferrosilikon

27

dan di cor; kadar karbon terjamin), meskipun demikian bahan ini kelurusannya
kurang tetap dan dapat mengalami deformasi karena tegangan yang kurang
seimbang misalnya bila diberi alur pasak karena ada tegangan sisa di dalam
terasnya. Tetapi penarikan dingin membuat permukaan poros menjadi keras dan
kekuatannya bertambah besar.Standar dan macam bahan poros dapat dilihat pada :
Tabel 2.1 : Baja karbon untuk konstruksi mesin dan baja batang yang difinis
dingin untuk poros.
Kekuatan
Standar dan macam

Lambang

Perlakuanpanas

tarik

Keterangan

Baj

S30C

Penormalan

(kg/ mm2)
48

a karbon kontruksi

S35C

Penormalan

52

mesin

S40C

Penormalan

55

(JIS G 4501)

S45C

Penormalan

58

S50C

Penormalan

62

S55C

Penormalan
-

66
53

Ditarik dingin,

Batan
g baja yang di finis

S35C-D

60

digerinda, dibubut,

dingin

S45C-D

72

atau gabungan
antara hal-hal

S55C-D

tersebut

Sumber : Sularso dan Kiyatkatshu Saga, Dasar-dasar Perencanaan dan Pemilihan


elemen mesin.
Sedangkan faktor keamanan terbagi atas 2 macam yaitu :

Faktor keamanan 1 (Sf1) untuk baja karbon (SC)


adalah : 6,0.

28

Faktor keamanan 2 (Sf2) untuk pembuatan spline pada poros adalah


: 1,3 3,0.
Maka tegangan geser yang terjadi dihitung menurut persamaan berikut :

Ta
=

b
Sf1 Sf 2

.( 2 . 3

Di mana :

Ta
= Tegangan geser (kg/ mm2).

b
= Tegangan tarik bahan (kg/ mm2).
Dengan diperolehnya tegangan geser, maka diameter poros dapat dihitung sebagai
berikut :
3

Ds

5,1xKtxCbxT
Ta

............... ( 2 . 4 )

Di mana :

Ds
= Diameter poros (mm).

Kt
Cb

= Faktor koreksi momen puntir (1,0 1,5).


= Faktor koreksi akibat beban lentur (1,2 2,3).

2. Perhitungan putaran output dan perbandingan roda gigi


Dalam perhitungan ini, direncanakan batas batas kendaraan angkutan untuk tiap
kecepatan yaitu V1, V2, V3, V4 dan VR. Untuk perencanaan di ambil suatu harga
standar ukuran ban di mana :

29

Dv

= Ukuran velg adalah 17 inchi.

Tb

= Ukuran tebal ban adalah 7,5 inchi.

Maka :

Db

Dv 2 Tb

.... ( 2 . 5 )

Di mana :

Db

= Diameter ban standar (m).

Perhitungan putaran ban untuk masing masing tingkat kecepatan adalah :

Nb

60 V
Db

( 2 . 6 )

Di mana :

Nb
V

= Putaran ban (rpm).


= kecepatan kendaraan (m/s).

Untuk putaran output transmisi untuk tiap tingkat kecepatan dapat dihitung
dengan persamaan sebagai berikut :

No

Nb ig

( 2 . 7 )

Di mana :

No
= Putaran output transmisi (rpm).
ig
= Perbandingan reduksi differensial pada bagian gardan.
30

Dari hasil perhitungan di atas dapat ditentukan perbandingan roda gigi reduksi,
dengan rumus sebagai berikut :

ir

n
No

.. ( 2 . 8 )

Di mana :
ir

= Perbandingan reduksi roda gigi.

3. Perhitungan pada roda gigi untuk tiap tingakat kecepatan


Sebelum melakukan perhitungan, terlebih dahulu di rencanakan jarak sumbu
poros antara roda gigi, setelah itu dapat ditentukan diameter jarak bagi dengan
persamaan berikut :

D1

D2

2 a
= 1 ir

2 air
1 ir

... ( 2 . 9 )

Di mana :

D1
D2

= Diameter jarak bagi roda gigi 1 (mm).

= Diameter jarak bagi roda gigi 2 (mm).

Untuk perhitungan jumlah roda gigi pada roda gigi maka dirumuskan sebagai
berikut:

D
m

... ( 2 . 10 )

Di mana :
31

Z
D

= Jumlah gigi pada roda gigi (buah).


= Diameter jarak bagi (mm).
= Modul gigi (mm).

Harga modul diambil dari tabel harga modul standar JIS B 1701 1973 ( Sumber.
Sularso dan Kiyatkatshu Saga, Dasar-dasar Perencanaan dan Pemilihan elemen
mesin, 1983, hal 216).
Perhitungan diameter lingkaran kepala dapat menggunakan rumus berikut :

Dk

Z 2 m

.... ( 2 . 11 )

Di mana :

Dk

= Diameter lingkaran kepala (mm).

Untuk perhitungan diameter lingkaran kaki dapat dihitung dengan menggunakan


rumus sebagai berikut :
Dg

Z m cos

( 2 . 12 )

Di mana :
Dg

= Diameter lingkaran kaki (mm).

= Sudut tekan (Derajat).

Kecepatan keliling dapat di hitung dengan persamaan sebagai berikut :

Dn
60 1000

( 2 . 13 )

Di mana :

32

V
D

= Kecapatan keliling untuk tiap roda gigi (m/s).


= Diameter jarak bagi untuk tiap roda gigi (mm).
= Putaran poros (rpm).

Gaya tangensial dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :

Ft

102 Pd
V

( 2 . 14 )

Di mana :

Ft
Pd

= Gaya tangensial (kg).


= daya rencana (kW).

Setelah itu kita dapat melakukan perhitungan beban lentur, dalam perhitungan
beban lentur ini perlu diketahui faktor bentuk gigi (Y) yang diperoleh dari tabel
faktor bentuk gigi (Buku Sularso, 1983, hal 240) yang merupakan harga untuk
profil gigi standar dengan sudut 200.
Bahan untuk kontruksi roda gigi dapat di lihat pada ( Tabel 2.2 ).
Tabel 2.2 : Jenis jenis bahan roda gigi.
Tegangan lentur
Kekuatan tarik
Bahan

Lambang

yang di izinkan
B (kg/ mm2)

Besi cor

Kekerasan (Brinell)
HB

FC 15

15

140 160

A (kg/ mm2)
7

FC 20

20

160 180

FC 25

25

180 240

11

FC 30
SC 42

30
42

190 240
140

13
12

33

Baja cor

SC 46

46

160

19

Baja karbon untuk

SC 49
S 25 C

49
45

190
123 183

20
21

konstruksi mesin

S 35 C

52

149 207

26

S 45 C

58

167 229
400(

S 15 K

50

di

celup

30
30

dingin

dlmminyak)
Baja paduan degan
pengerasan kulit
SNC21

80

600(di celup dingin

34 40

SNC 22

100

dlm minyak)

40 55

Sumber : Sularso dan Kiyatkatshu Saga, Dasar-dasar Perencanaan dan Pemilihan


elemen mesin.

Untuk harga beban lentur ditentukan dengan rumus berikut :

Fb

a m Y Fv
=

.. ( 2 . 15 )

Di mana :

Fb

= Beban lentur (kg/mm).

a
= Tegangan lentur yang diizinkan (kg/mm2).
Y

Fv

= Faktor bentuk gigi.


= Faktor dinamis.

Sedangkan harga faktor dinamis diambil dari tabel faktor dinamis, Sumber :
(Sularso dan Kiyatkatshu Saga, Dasar-dasar Perencanaan dan Pemilihan elemen

34

mesin, 1983, hal 240), di mana harganya ditentukan berdasarkan tingkat


kecepatan pada tiap roda gigi, di mana untuk kecepatan rendah dapat
menggunakan rumus ( Pers. 2 . 16 ) di bawah ini :
Tabel 2.3 Faktor dinamis (fv) yang digunakan yang digunakan :
Kecepatan

V (m/s)

fv

Kecepatan rendah

0,5 10

3
3v

Kecepatan sedang

5 20

6
6v

Kecepatan tinggi

20 50

5,5
5,5 v

Sumber : Sularso dan Kiyatkatshu Saga, Dasar-dasar Perencanaan dan


Pemilihan elemen mesin (Lit 1 hal. 240)
Dengan diperolehnya harga beban lentur, maka lebar gigi dapat dihitung
dengan rumus sebagai berikut :

Ft
Fb

. ( 2 . 17 )

Di mana :

b
Ft
Fb

= Lebar gigi (mm).


= Gaya tangensial (kg).
= Beban lentur (kg/mm).

Dan untuk mencari diameter lingkaran jarak bagi yang sebenarnya adalah :
D

Z m

. ( 2 . 18 )

35

4. Perhitungan Spline
Dalam analisa perhitungan spline, ditentukan jumlah spline yang direncanakan,
ukuran spline dihitung berdasarkan ukuran diameter poros yang terdiri dari pasak
penggerak/poros input trasmisi, poros perantara transmisi roda gigi mundur dan
poros output transmisi/poros yang digerakkan.
Gaya tangensial total yang terjadi pada poros dirumuskan sebagai berikut :

2T
ds

( 2 . 19 )

Di mana :
F
T

ds

= Gaya tangensial total pada poros (kg)


= Torsi/momen puntir (kg . mm)
= Diameter poros (mm)

Sedangkan besarnya gaya tangensial yang bekerja pada tiap spline


dirumuskan sebagai berikut:

Fn

F
n

( 2 . 20 )

Di mana :

Fn
n

= Gaya tangensial yang bekerja pada tiap spline (kg)


= Jumlah Spline yamg direncanakan (buah)

Berdasarkan tabel ukuran pasak dan alur pasak (Sularso, kiyokatsu suga ,Elemen
mesin) tentang ukuran standar pasak yang dapat dijadikan acuan dalam

36

menentukan ukuran spline karena adanya persamaan prinsip kerja pada keduanya
sehingga ukuran utama spline berdasarkan ukuran diameter poros yang diketahui
dapat ditentukan yaitu lebar spline, tinggi spline, kedalaman alur spline dan
kedalaman alur spline pada roda gigi.
Maka ukuran panjang spline dari hasil perhitungan dapat dirumuskan sebagai
berikut :

Fn
pA t

.... ( 2 . 21 )

Di mana :
L

Panjang alur spline (MM)

Tekanan permukaan yang diizinkan (kg/mm2)

Kedalaman alur spline (mm)

pA
T

pA

Harga

untuk poros berdiameter besar adalah 10 kg/mm 2. Perlu diperhatikan

bahwa lebar pasak sebaiknya antara 0,25 0,35 dari diameter poros dan panjang
spline sebaiknya antara 0,75 1,5 dari diameter poros
5. Perhitungan temperatur
Untuk menentukan temperatur nyala yang diizinkan untuk pelumas pada
sistem transmisi roda gigi dapat dirumuskan sebagai berikut :

TBP

140 Cn C R

( 2 . 22 )

Di mana :

37

TBP

= Temperatur nyala yang di izinkan untuk pelumas pada


roda
gigi ,0c

Cn

= Koefisien viskositas pelumas.

CR

= Faktor kekerasan permukaan roda gigi.

Sedangkan untuk menentukan harga koefisien viskositas pelumas dapat


dirumuskan sebagai berikut :

Cn

1,5 E
2 E

... ( 2 . 23 )

Di mana :
E

= derajat engler apda pelumas pada temperatur 500C.

Untuk mengetahui harga E untuk setiap jenis pelumas dapat di cari pada tabel
16.1 tentang jenis jenis minyak pelumas (Buku Sularso, 1983, hal 305) dan tabel
16.5 tentang konversi harga E menurut DIN 51560 (Buku Sularso,1983, hal 310).
Dalam perencanaan transmisi roda gigi ini digunakan minyak pelumas yang
mempunyai harga viskositas temperatur 500C yaitu harga E yaitu 12,02.
Untuk menentukan harga faktor kekerasan roda gigi di rumuskan sebagai
berikut :

CR

1,9 Sm
4 Sm

.. ( 2 . 24 )

Di mana :

38

CR
Sm

= Harga faktor kekerasan roda gigi.


= Harga kekerasan roda gigi.

Sedangkan harga kekerasan roda gigi di rumuskan sebagai berikut :

Sm

2 S1 S 2
S1 S 2
=

.. ( 2 . 25 )

Dimana :

S1
S2

= Harga kekerasan roda gigi 1 ().

= Harga kekesan roda gigi 2 ().

Berdasarkan standar yang telah ditentukan bahwa roda gigi yang digerinda
dan dihaluskan dengan baik mempunyai harga S = 0,25 0,5 (). Sedangkan roda
gigi yang bermutu baik dalam perdagangan mempunyai harga S = 0,6 0,9 ().
Dalam perencanaan ini digunakan roda gigi yang bermutu baik dalam
perdagangan dengan harga S1= S2 = 0,8 ().
2.8

Pelumasan
Pelumasan mobil termasuk oli mesin untuk mesin bensin, dan oli diesel

untuk mesin diesel, oli roda gigi (gear oil), gomuk dan lain-lain. Minyak transmisi
automatik dan power steering juga sebagai pelumas komponen-komponen sebagai
minyak hidraulik, umumnya pelumas mobil paling banyak dibuat dari minyak
dasar dengan bermacam-macam bahan tambahan

(additive). Beberapa

diantaranya dibuat dari syntetic base.


Adapun fungsi dari minyak pelumas adalah :

39

1. Mengurangi gesekan antara komponen mesin yang bergerak/berputar.


2. Membentuk lapisan tipis oli (oil film) sehingga terhindar kontak langsung
antar bagian-bagian yang bergerak/berputar.
3. Mendinginkan komponen bergerak/berputar yang saling berhubungan.
4. Menghindarkan berkaratnya bagian-bagian mesin.
5. Meredam

suara

yang

ditimbulkan

oleh

bagian-bagian

yang

bergera/berputar.
6. Sebagai zat pembersih dari bagian-bagian yang dilumas.
7. Menghindari hilangnya daya dari mesin akibat gesekan yang terjadi sangat
kecil.
Jenis minyak pelumas dapat diklasifikasikan berdasarkan kekentalan dan
kemampuan dalam menambah beban. Adapun klasifikasi minyak pelumas dapat
dibedakan atas 2 jenis, yaitu :
1. Klasifikasi Dalam Kekentalan.
Oli pelumas mempunyai angka dibelakang SAE seperti pada oli mesin. 6
indek kekentalan SAE (75W, 80 W, 85W, 140W dan 250) adalah yang ada pada
saat ini transmisi dan diffrential umumnya memakai oli dengan angka kekentalan
SAE 90 atau 80W-90.
2. Klasifikasi Dalam Kualitas dan Penggunaan.
API (American Potreleum Institut) mempunyai standar klasifikasi oli roda
gigi, yang pembagiannya tergantung pada penggunaan. Klasifikasi minyak
pelumas roda gigi berdasarkan standar API terbagi atas :

40

Kode GL1 adalah mineral oli murni untuk roda gigi jarang dipakai pada
mobil.

Kode GL 2 adalah untuk worm bear, mengandung minyak hewani dan


tumbuh- tumbuhan.

Kode GL3 adalah untuk manual transmisi dan steering gear mengandung
bahan tambah extreme-pressure resisting dan lain-lain.

Kode GL4 adalah untuk hypoid gear digunakan untuk melayani diatas
GL3 mengandung bahan tambah extreme-pressure resisting tapi lebih
besar jumlahnya disbanding GL3.

Kode GL5 adalah untuk hypoid geardengan pelayanan lebih sedikit dari
kondisi GL

BAB III
PERHITUNGAN RODA GIGI, POROS, SPLINE DAN
TEMPERATUR
3.1.

Perhitungan Reduksi.

41

Tingkat kecepatan kendaraan yang direncanakan :


Kecepatan ysang direncanakan

Kecepatan yang direncanakan

Vn
(km / jam)
0 20
20 35
35 55
55 70
70 160
0 20

V1
V2
V3
V4
V5
VR

Km / jam
20
35
60
90
180
20

m/s
5,56
9,72
15,28
19,44
44,44
5,56

Cara perhitunganya adalah:


km

V1 = 20 (

/jam) = . . . . . . . . .m/s

km

= 20 (

/jam)

x 1000

/km

3600 s

/1 jam

= 5,56

/s

Ukuran ban yang didapat : 7.00-17-14PR


Sehingga :
-

Ukuran velg adalah 17 inchi

= 0,43 m

Ukuran tebal ban adalah 7 inchi = 0,17 m

1 inchi = 0,0254 m

Maka ukuran jari jari ban standar adalah :

Db

0,43 m ( 2 0,17 m)

=
0,77 m

=
1.

Perhitungan putaran ban.


Perhitungan putaran ban untuk masing masing tingkat kecepatan adalah :

42

nb1

60 V1
Db

60 5,56 m / s
0,77 m
=
137,85 rpm

=
Tabel 3.1 Perhitungan putaran ban untuk nb1 nb5
No
1
2
3
4
5

Tingkat kecepatan, V (m/s)


5,56
9,72
15,28
19,44
44,44

Db (m)
0,77
0,77
0,77
0,77
0,77

Putaran ban, nb (rpm)


137,85
240,99
378,84
481,98
1101,82

2. Perhitungan putaran gardan pada setiap kecepatan.


Perhitungan putaran output transmisi di peroleh dengan mengalihkan putaran
ban dengan perbandingan reduksi pada bagian gardan kendaraan adalah maksimal
10 : 1 untuk roda gigi kerucut. Dalam perencanaan ini diambil harga perbandingan
reduksinya sekitar 5,5 : 1 sehingga harga ig : 5,5. Maka harga putaran output
transmisi untuk tiap tingkat kecepatan dapat dihitung Dari persamaan :
na

nb ig

Maka :
no

nb ig

=
137,85 rpm 5,5

43

758,18 rpm

=
Tabel 3.2 Perhitungan putaran gardan no1 no5
No
1
2
3
4
5

Putaran ban, nb (rpm)


137,85
240,99
378,84
481,98
1101,82

Ig
5,5
5,5
5,5
5,5
5,5

Putaran output, no (rpm)


758,18
1325,45
2083,62
2650,89
6060,01

3. Perhitungan perbandingan reduksi roda gigi.


Bila perbandingan reduksi antara roda gigi P dan Q adalah 1 : 1, maka putaran
roda gigi mati adalah n : 4000rpm,

Ir1

n
No1
=
4000 rpm
758,18 rpm
=
= 5,28

Tabel 3.3 Perbandingan reduksi roda gigi untuk ir1 - ir5


No
1
2
3
4
5

3.2.

Putaran, n (rpm)
4000
4000
4000
4000
4000

No
758,18
1325,45
2083,62
2650,89
6060,01

Perbandingan reduksi (ir1)


5,28
3,02
1,92
1,51
0,66

Perencanaan roda gigi P dan Q

44

Spesifikasi perencanaan :
- Daya yang ditransmisikan N = 102 PS = 76 kW ; 1 PS = 0,746 kW

1.

- Putaran poros penggerak

n = 4000 rpm

- Perbandingan reduksi

ip = 1

- Jarak sumbu poros yang direncanakan

a = 200 mm

- Sudut tekan pahat

= 20

Daya rencana.
Sebelum menghitung daya rencana, terlebih dahulu diambil faktor koreksi,
fc : 1,2.
Maka :

Pd
2.

1,2 (76kW )

= 91,2 kW

Diameter lingkaran jarak bagi.

2 a
1 ip

DQ
=

DQ

2 200 mm
11

= 200 mm
2 a ip
1 ip

Dp
=

=
=

2 200 mm 1
11

200mm

45

3.

Jumlah gigi pada roda gigi P dan Q


Dari diagram pemilihan modul roda gigi lurus, diambil m : 2 (Buku
Sularso, 1983, hal 216).
DQ

ZQ
=

72 mm
2 mm
=
36 buah

=
Dp

Zp
=

72 mm
2mm

= 36 buah
4.

Diameter lingkaran kepala.

( Z Q 2) m

Dk Q
=

(100 2) 2 mm

=
=

210mm

( Z p 2) m

Dk p
=

46

(100 2) 2 mm

=
=
5.

210mm

Diameter lingkaran kaki.

Z Q m cos 20

Dg Q
=

100 2 mm cos 20

=
187,93 mm

=
Dg P

Z P m cos 20

100 2 mm cos 20

=
187,93mm

=
6.

Kecepatan keliling.

VP

x 306mm x 4000 rpm


60 x 1000

VQ
=

=
64,05 m / s

=
7.

Gaya tangensial.

Ft P

102

Ft Q
=

91,2 kW
64,05 m / s

=
145,24 kg

=
8.

Faktor dinamis ( Fv ).
47

Di mana Vp besar dari 20 m/s.


5,5

FV

5,5 64,05m / s
=
= 0,31

9.

Beban lentur yang diizinkan.


Faktor bentuk gigi :
ZP

= 36

ZQ

YP

= 0,446

YQ
= 36

= 0,446

Bila bahan roda gigi P dan Q adalah sama yaitu S 15 CK


- Kekuatan tarik

= 50 kg/mm2

- Kekuatan lentur

= 30 kg/mm2

HB

- Kekerasan

= 400

Maka harga beban lentur dapat dihitung menggunakan pers :

YQ

FbO
= a x m x

FV
x

= 30 kg/mm2 x 2 x 0,446 x 0,31


= 8,29 kg/mm2
FbP

= a x m x

YP

FV
x

= 30 kg/mm2 x 2 x 0,446 x 0,31


= 8,29 kg/mm2
Fb < a = Aman

48

10.

Lebar gigi ( b )
145,24 kg
8,29 kg / mm
bp = bQ =
= 17,52 mm

3.3.

Perencanaan roda gigi A dan 1


Spesifikasi perencanaan :
- Daya yang ditransmisikan

1.

N = 102 PS

- Putaran poros penggerak

nA = 4000 rpm

- Perbandingan reduksi

i1 = 5,28

- Jarak sumbu poros yang direncanakan

a = 275 mm

- Sudut tekan pahat

= 20

Diameter sementara lingkaran jarak bagi.

DA

2 a
1 i1
=

2 275mm
1 5,28

=
= 105,56 mm

D1

2 a i1
1 i1
=
2 275mm 5,28
1 5,28

49

= 287,93 mm
2.

Jumlah gigi pada roda gigi A dan 1.


Dari diagram pemilihan modul roda gigi lurus, diambil m : 8.
ZA

Da
m
87,58mm
8mm

= 21 buah
Z1

D1
m

462,42mm
8mm

= 51 buah

Perbandingan gigi yang diambil mendekati i1 = 5,28 : 1, yaitu 58 : 11


3.

Diameter lingkaran jarak bagi yang sebenarnya.


DA

ZA m

= 21 x 8 mm
=107 mm
D1

Z1 m

= 51 x 8 mm
= 290 mm

50

4.

Diameter lingkaran kepala.


Dk A

( Z A 2) m

= ( 21 + 2 ) x 8 mm
Dk A

Dk 1

= 115 mm
=

( Z1 2) m

= ( 51 + 2 ) x 8 mm
= 300 mm
5.

Diameter lingkaran kaki.


Dg A

ZA m cos 20

= 21 x 8 mm x cos 200
= 98,66 mm
Dg 1

Z1 m cos 20

= 51 x 8 mm x cos200
= 280,40 mm

6.

Kecepatan keliling
VA

V1

104mm 4000rpm
60 1000

= 21,77 m/s

51

7.

Gaya tangensial.

Ft A

102 91,2 kW
21,77 m / s

Ft1

=
= 427,30 kg

8.

Faktor dinamis.

Va
besar dari 20 m/s
5,5
5,5 21,77m / s
Fv

=
= 0,54

9.

Beban lentur yang diizinkan.


Faktor bentuk gigi berdasarkan tabel 6.5 (Faktor bentuk gigi)
ZA

Z1

= 21
= 51

;
;

YA

Y1

= 0,226
= 0,418

Bila bahan roda gigi A dan 1 adalah sama yaitu S 15 CK Lit 1 hal 241
- Kekuatan tarik

= 50 kg/mm2

- Kekuatan lentur

= 30 kg/mm2

- Kekerasan

HB

= 400

Maka harga beban lentur adalah :


Fb A

= a x m x YA x fv
= 30 kg/mm2 x 8 x 0,226 x 0,54
52

= 26,53 kg/mm2
Fb1

= a x m x Y1 x fv
= 30 kg/mm2 x 8 x 0,418 x 0,54
= 29,47 kg/mm2

Fb < a = Aman
10.

Lebar gigi.

bA

b1

427,30 kg
26,53 kg / mm
=
= 22,05 mm

3.4.

Perencanaan roda gigi B dan 2


Spesifikasi perencanaan :

1.

- Daya yang ditransmisikan

N = 102 PS

- Putaran poros penggerak

nB = 4000 rpm

- Perbandingan reduksi

i2 = 3,02

- Jarak sumbu poros yang di rencanakan

a = 200 mm

- Sudut tekan pahat

= 20

Diameter sementara lingkaran jarak bagi.

2 a
1 i2
DB

=
2 200mm
1 3,02

=
158,71mm

=
53

2 a i2
1 i2
D2

=
2 200mm 3,02
1 3,02

=
= 238,24 mm
2.

Jumlah gigi pada roda gigi B dan 2.


Dari diagram pemilihan modul roda gigi lurus, di ambil m : 4.

ZB

Db
m

99,50mm
4mm
28,87buah

=
= 29 buah

Z2

D2 s
m

300,49mm
4mm

= 43 buah
Perbandingan gigi yang diambil mendekati i2 = 3,02 : 1, yaitu 75 : 25
3.

Diameter lingkaran jarak bagi yang sebenarnya.


DB

= ZB x m
= 29 x 4 mm

54

= 160 mm
D2

= Z2 x m
= 43 x 4 mm
= 240 mm

4.

Diameter lingkaran kepala.


DkB

( Z B 2) m

(29 2) 4mm

=
=
Dk2

170mm
( Z 2 2) m

(43 2) 4mm

=
=
5.

250mm

Diameter lingkaran kaki.


Dg B

= ZB x m x cos 200
= 29 x 4mm x cos 200
= 150,35 mm

Dg 2

= Z2 x m x cos 200
= 43 x 4mm x cos 200
= 228,79 mm

55

6.

Kecepatan keliling

108mm 4000rpm
60 1000

VB = V2 =

22,61m / s

=
7.

Gaya tangensial.
102 91,2kW
22,61m / s

FtB = Ft2 =
411,43 kg

8.

Faktor dinamis.
5,5
5,5 22,61m / s
Fv

=
= 0,54

9.

Beban lentur yang diizinkan.


Faktor bentuk gigi :
ZB

= 29

; YB

= 0,339

Z2

= 43

; Y2

= 0,434

Bila bahan roda gigi B dan 2 adalah sama yaitu S 15 CK


- Kekuatan tarik

= 50 kg/mm2

- Kekuatan lentur

= 30 kg/mm2

- Kekerasan

HB

= 400

Maka harga beban lentur adalah :

56

FbB

= a x m x YB x fv
= 30 kg/mm2 x 3 x 0,339 x 0,54
= 21,97 kg/mm2

Fb2

= a x m x Y2 x fv
= 30 kg/mm2 x 3 x 0,434 x 0,54
= 28,12 kg/mm2

Fb < a = Aman

10.

Lebar gigi.
411,43 kg
21,97 kg / mm
B B = b2 =
= 18,73 mm

3.5.

Perencanaan roda gigi C dan 3


Spesifikasi perencanaan :
- Daya yang ditransmisikan

1.

N = 102 PS

- Putaran poros penggerak

nc = 4000 rpm

- Perbandingan reduksi

i3 = 1,92

- Jarak sumbu poros yang direncanakan

a = 200 mm

- Sudut tekan pahat

= 20

Diameter sementara lingkaran jarak bagi.

57

2 a
1 i3
Dc

=
2 200mm
1 1,92

=
177,98mm

=
2 a i3
1 i3
D3

=
2 200mm 1,92
1 1,92

=
= 209,35 mm
2.

Jumlah gigi pada roda gigi C dan 3.


Dari diagram pemilihan modul roda gigi lurus, di ambil m : 3.

ZC

DC
m

136,99mm
3mm

= 33 buah

Z3

D3 s
m

263,01mm
3mm

= 39 buah

58

Perbandingan gigi yang diambil mendekati i3 = 1,92 : 1, yaitu 88: 46


3.

Diameter lingkaran jarak bagi yang sebenarnya.


DC

= ZC x m
= 33 x 3 mm
= 179 mm

D3

= Z3 x m
= 39 x 3 mm
= 211 mm

4.

Diameter lingkaran kepala.

( Z C 2) m
DkC

=
(33 2) 3mm

=
=

189mm

( Z 3 2) m
Dk3

=
(39 2) 3mm

=
=
5.

223mm

Diameter lingkaran kaki.

Dg C
= ZC x m x cos 200
= 46 x 3 mm x cos 200
= 168,99 mm

59

Dg 3
= Z3 x m x cos 200
= 88 x 3 mm x cos 200
= 199,4 mm
6.

Kecepatan keliling

144mm 4000rpm
60 1000

VC = V3 =

30,14m / s

=
7.

Gaya tangensial.
102 91,2kW
30,14m / s

FtC = Ft3 =
308,64 kg

=
8.

Faktor dinamis.
5,5
5,5 30,14m / s
Fv

=
= 0,50

9.

Beban lentur yang diizinkan.


Faktor bentuk gigi yaitu :
ZC

= 33

; YC

= 0,401

Z3

= 39

; Y3

= 0,440

Bila bahan roda gigi B dan 2 adalah sama yaitu S 15 CK


- Kekuatan tarik

= 50 kg/mm2

60

- Kekuatan lentur

= 30 kg/mm2

- Kekerasan

HB

= 400

Maka harga beban lentur :


FbC

= a x m x YC x fv
= 30 kg/mm2 x 3 x 0,401 x 0,50
= 18,04 kg/mm2

Fb3

= a x m x Y3 x fv
= 30 kg/mm2 x 3 x 0,440 x 0,50
= 19,80 kg/mm2

Fb < a = Aman
10.

Lebar gigi.
308,64 kg
18,04 kg / mm
B C = b3 =
= 17,11 mm

3.6.

Perencanaan roda gigi D dan 4


Spesifikasi perencanaan :

1.

- Daya yang di transmisikan

N = 102 PS

- Putaran poros penggerak

nD = 4000 rpm

- Perbandingan reduksi

i4 = 1,51

- Jarak sumbu poros yang direncanakan

a = 200 mm

- Sudut tekan pahat

= 20

Diameter sementara lingkaran jarak bagi.

61

2 a
1 i4
DD

=
2 200mm
1 1,51

198,76mm
=
2 a i4
1 i4
D4

=
2 200 mm 1,51
1 1,51

198,76mm
=
2.

Jumlah gigi pada roda gigi D dan 4.


Dari diagram pemilihan modul roda gigi lurus, di ambil m : 3

ZD

DD
m

198,76mm
3mm

= 36 buah

Z4

D4
m

198,76mm
3mm

62

36buah

Perbandingan gigi yang diambil mendekati i4 = 1,51 : 1, yaitu 80 : 53


3.

Diameter lingkaran jarak bagi yang sebenarnya.


DD

= ZD x m
= 36 x 3 mm
= 200 mm

D4

= Z4 x m
= 36 x 3 mm
= 200 mm

4.

Diameter lingkaran kepala.


DkD

= ( ZD + 2 ) x m
= ( 36 + 2 ) x 3 mm
= 210 mm

Dk4

= ( Z4 + 2 ) x m
= ( 36 + 2 ) x 3 mm
= 210 mm

5.

Diameter lingkaran kaki.


DgD

= ZD x m x cos 200
= 36 x 3 mm x cos 200
= 187,93 mm

Dg4

= Z4 x m x cos 200
= 80 x 3 mm x cos 200
= 187,93 mm

63

6.

Kecepatan keliling

165mm 4000rpm
60 1000

VD = V4 =

34,54m / s

7.

Gaya tangensial.
102 91,2kW
34,54m / s

FtD = Ft4 =
= 269,32 kg
8.

Faktor dinamis.
5,5
5,5 34,54m / s
Fv

=
= 0,48

9.

Beban lentur yang diizinkan.


Faktor bentuk gigi :
ZD

= 36

; YD

= 0,436

Z4

= 36

; Y4

= 0,436

Bila bahan roda gigi D dan 4 adalah sama yaitu S 15 CK


- Kekuatan tarik

= 50 kg/mm2

- Kekuatan lentur

= 30 kg/mm2

- Kekerasan

HB

= 400

Maka harga beban lentur :

64

FbD

= a x m x YD x fv
= 30 kg/mm2 x 3 x 0,412 x 0,48
= 17,79 kg/mm2

Fb4

= a x m x Y4 x fv
= 30 kg/mm2 x 3 x 0,436 x 0,48
= 18,84 kg/mm2

Fb < a = Aman
10.

Lebar gigi.
269,32 kg
17,79 kg / mm
BD = b4 =
16,14mm

=
3.7.

Perencanaan roda gigi E dan 5


Spesifikasi perencanaan :

1.

- Daya yang di transmisikan

N = 102 PS

- Putaran poros penggerak

nE = 4000 rpm

- Perbandingan reduksi

i5 = 0,66

- Jarak sumbu poros yang direncanakan

a = 200 mm

- Sudut tekan pahat

= 20

Diameter sementara lingkaran jarak bagi.

2 a
1 i5
DE

65

2 200mm
1 0,66

=
227,51mm

=
2 a i5
1 i5
D5

=
2 200mm 0,66
1 0,66

=
168,54mm

=
2.

Jumlah gigi pada roda gigi E dan 5.


Dari diagram pemilihan modul roda gigi lurus, di ambil m : 2.

ZE

=
=

Z5

=
=

DE
m

240,96mm
2mm

40buah
D5
m

159,04mm
2mm

32buah

Perbandingan gigi yang diambil mendekati i5 = 0,66 : 1, yaitu 80 : 121


66

3.

Diameter lingkaran jarak bagi yang sebenarnya.


DE

= ZE x m
= 40 x 2 mm
= 228 mm

D5

= Z5 x m
= 32 x 2 mm
= 170 mm

4.

Diameter lingkaran kepala.


Dengan pers. 2.13 diperoleh :
DkE

= ( ZE + 2 ) x m
= ( 40 + 2 ) x 2 mm
= 240 mm

Dk5

= ( Z5 + 2 ) x m
= ( 32 + 2 ) x 2 mm
= 180 mm

5.

Diameter lingkaran kaki.


DgE

= ZE x m x cos 200
= 80 x 2 mm x cos 200
= 216,14 mm

Dg5

= Z5 x m x cos 200
= 121 x 2 mm x cos 200
= 159,73 mm

6.

Kecepatan keliling :

67

164 mm 4000 rpm


60 1000

VE = V5 =

34,33m / s

=
7.

Gaya tangensial.

102 91,2kW
34,33m / s
FtE = Ft5 =
= 270,97 kg
8.

Faktor dinamis.
5,5
5,5 34,33m / s
Fv

=
= 0,48

9.

Beban lentur yang diizinkan.


Faktor bentuk gigi :
ZE

= 40

; YE

= 0,451

Z5

= 32

; Y5

= 0,436

Bila bahan roda gigi E dan 5 adalah sama yaitu S 15 CK


- Kekuatan tarik

= 50 kg/mm2

- Kekuatan lentur

= 30 kg/mm2

- Kekerasan

HB

= 400

Maka harga beban lentur :


FbE

= a x m x YE x fv
= 30 kg/mm2 x 2 x 0,451 x 0,48

68

= 12,99 kg/mm2
Fb5

= a x m x Y5 x fv
= 30 kg/mm2 x 2 x 0,436 x 0,48
= 12,56 kg/mm2

Fb < a = Aman
10.

Lebar gigi.

270,97 kg
12,99kg / mm
B E = b5 =
20,86 mm

=
3.8.

Perencanaan roda gigi mundur.


Spesifikasi perencanaan :
- Daya yang ditransmisikan

N = 102 PS

- Putaran poros penggerak

n = 4000 rpm

- Perbandingan reduksi roda gigi F dan G

i6 = 5,61

- Perbandingan reduksi Roda gigi G dan H

i7 = 5,75

- Jarak sumbu poros


- Jarak sumbu poros
- Sudut tekan pahat
1.

a1
a2

= 275 mm
= 300 mm

= 20

Diameter Lingkaran Jarak Bagi


2 a1
1 i6
DF

69

2 275mm
1 5,61

82,56mm
=
2 a1 i6
1 i6
DG

=
2 275mm 5,61
1 5,61

=
=
a2

160mm
DG (1 i6 )
2

160 (1 5,61)
2

= 753,21 mm
2 a 2 i6
1 i6
DH

=
2 300mm 5,75
1 5,75

=
= 263,35 mm
Jarak sumbu poros F dan H

DF DH
2

70

83,21 511,11
2

= 297,16 mm
2.

Jumlah gigi pada roda gigi F , G dan H


Dari diagram pemilihan modul roda gigi lurus, diambil m : 8.

ZF

DF
m

82,56mm
8mm

= 16 buah

ZG

DG
m

160mm
8mm

= 30 buah

ZH

DH
m

263,35mm
8mm

= 49 buah
3.

Diameter lingkaran kepala.


DkF

= ( ZF + 2 ) x m
= ( 10 + 2 ) x 8 mm

71

= 90 mm
DkG

= ( ZG + 2 ) x m
= ( 58 + 2 ) x 8 mm
= 170 mm

DkH

= ( ZH + 2 ) x m
= ( 64 + 2 ) x 8 mm
= 274 mm

4.

Diameter lingkaran kaki.


DgF

= ZF x m x cos 200
= 16 x 8 mm x cos 200
= 75,17 mm

DgG

= ZG x m x cos 200
= 30 x 8 mm x cos 200
= 150,35 mm

DgH

= ZH x m x cos 200
= 49 x 8 mm x cos 200
= 252,70 mm

5.

Kecepatan keliling.
Dengan pers. 2.15 diperoleh :

VG = VF = VH =

75,17 mm 4000 rpm


60 1000

= 15,74 m/s
6.

Gaya tangensial.

72

102 91,2 kW
15,74 m / s
FtG = FtF = FtH=
= 591 kg

7.

Faktor dinamis.
Di mana V kecil dari 20 m/s.
6
6 15,74

Fv

=
= 0,28

8.

Beban lentur yang diizinkan.


Faktor bentuk gigi yaitu :
ZF

= 16

; YF

= 0,201

ZG

= 30

; YG

= 0,418

ZH

= 49

; YH

= 0,424

Bila bahan roda gigi D dan 4 adalah sama yaitu S 15 CK.


- Kekuatan tarik

= 50 kg/mm2

- Kekuatan lentur

= 30 kg/mm2

- Kekerasan

HB

= 400

Maka harga beban lentur dapat dicari :


FbF

= a x m x Yf x fv
= 30 kg/mm2 x 8 x 0,201 x 0,28
= 13,51 kg/mm2

FbG

= a x m x YG x fv

73

= 30 kg/mm2 x 8 x 0,418 x 0,28


FbG

= 28,09 kg/mm2

FbH

= a x m x YH x fv
= 30 kg/mm2 x 8 mm x 0,424 x 0,28
= 28,49 kg/mm

9.

Fb < a = Aman

Lebar gigi.
591 kg
13,51kg.mm
BH = bF =bG

=
= 26,87 mm

3.9.

Perhitungan Poros

1.

Perencanaan poros input.


Berdasarkan keterangan dari bab II tentang jenis jenis bahan yang
digunakan, maka dalam hal ini dipilih baja karbon JIS 4501 tipe S 55 C
dengan kekuatan tarik adalah 66 kg/ mm2
Maka tegangan geser yang terjadi dihitung dengan :

b
Sf1 Sf 2
a

Faktor keamanan 1 (Sf1) untuk baja karbon (SC) adalah 6,0


66kg / mm 2
6,0 1,5
=
= 7,33 kg/mm2
momen puntir :
T

= 9,74 . 105 x Pd / n
74

9,74 10 5 91,2kW
4000 rpm
=
= 22207,2 kg.mm
di peroleh diameter poros :
3

Ds

5,1 K t C b T
a

Dari bab II di dapat Harga Kt = 1,5 dan harga Cb = 1,5


3

Ds

5,1 1,5 1,5 22207,2 kg.mm


7,33 kg / mm 2

=
= 37,16 mm

Berdasarkan tabel harga standar diameter poros, maka diperoleh harga


diameter standar poros, diameter standar poros adalah 38 mm.
2.

Perencanaan poros perantara.


Untuk poros perantara yang direncanakan berputar dengan kecepatan
putaran 4000 rpm karena perbandingan reduksi roda gigi antara poros
input dengan poros perantara adalah 1 sehingga putaran poros sama
dengan poros input yaitu 4000 rpm.
Maka besarnya momen puntir/ torsi dapat dihitung sebagai berikut :
9,74.10 5 91,2kW
4000 rpm
T

=
= 22207,2 kg.mm

Maka diameter poros dapat di hitung sebagai berikut :

75

Ds

5,1 1,5 1,5 22207,2kg.mm


7,33 kg / mm 2

=
= 36,64 mm

Berdasarkan tabel harga standar diameter poros, maka diperoleh harga


diameter standar poros, diameter standar poros adalah 38 mm.
3.

Perencanaan poros perantara roda gigi mundur.


Perbandingan reduksi i6 = 5,61 maka putaran poros perantara roda gigi
mundur adalah 2000 rpm.
Maka besarnya momen puntir/ torsi dapat dihitung sebagai berikut :
T

= 9,74 . 105 x Pd / nm
9,74.10 5

91,2 kW
2000 rpm

=
= 44414,4 kg.mm

Maka diameter poros dapat dihitung sebagai berikut :


3

Dsm

5,1 1,5 1,5 44414,4kg.mm


7,33 kg / mm 2

=
= 41,82 mm

Berdasarkan tabel harga standar diameter poros, maka diperoleh harga


diameter standar poros, diameter standar poros adalah 42 mm.
4.

Perencanaan poros output.


Tout

= 9,74 . 105 x Pd / n

76

9,74.10 5

91,2 kW
4000 rpm

=
= 22207,2 kg.mm
3

ds1

5,1 1,5 1,5 22207,2kg.mm


7,33 kg.mm 2

=
= 41,27 mm

Berdasarkan tabel harga standar diameter poros maka diperoleh harga


diameter standar poros, diameter standar poros adalah 42 mm
Dengan cara yang sama untuk transmisi tingkat satu ( I ) sampai tingkat
kelima ( V ) dapat di lihat pada tabel 3.4 :
Tabel 3.4 : Perencanaan poros output untuk tingkat kecepatan ke I sampai V
No
1
2
3
4
5
3.10.

n (rpm)
758,18
1325,45
2083,62
2650,89
6060,01

T (Kg . mm)
117160,57
67017,84
42631,96
33509,05
14658,19

ds (mm)
40,75
41,25
41,58
40,97
41,32

ds standar (mm)
42
42
42
42
42

Perencanaan Spline
Dalam perencanaan spline ditentukan jumlah spline yang direncanakan,
adalah 8 buah karena poros ada 3 macam yaitu :

Diameter poros penggerak/poros input transmisi yaitu : 38 mm


Diameter poros perantara Transmisi roda gigi mundur : 42 mm
Diameter poros yang digerakkan/poros output transmisi yaitu : 42 mm
Maka ukuran spline dihitung berdasarkan ukuran diameter poros masingmasing sebagai berikut :

77

a.

Untuk poros Penggerak/poros input transmisi


Besarnya gaya tangensial total yang terjadi pada poros dapat dihitung
dengan pers. 2.21

2T
ds
F

2 22207,2 kg.mm
35mm

= 1268,98 kg
Sedangkan besarnya gaya tangensial yang bekerja pada tiap spline dapat
dihitung dengan persamaan :

Fn

Fn

F
n
1268,98kg
8

= 158,62 kg
Berdasarkan tabel standar ukuran pasak dan alur yang dapat dijadikan
acuan dalam menentukan ukuran spline karena adanya kesamaan
prinsip kerja pada keduanya sehingga ukuran-ukuran spline berdasarkan
ukuran diameter poros yang diketahui dapat ditentukan sebagai berikut :
b x h = 10 x 8
t1

= 2,5

t2

= 2,5

78

Maka ukuran panjang spline hasil perhitungan dapat dicari dengan


pers :

Fn
p A (t1 ataut 2 )

Harga pA untuk poros berdiameter kecil adalah 8 kg/mm 2, dan untuk


berdiameter besar adalah 10 kg/mm2.
Maka :

158,62 kg
10 kg / mm 2 2,5 mm

L 6,34 mm
Perlu diperhatikan bahwa lebar pasak sebaiknya 0,25 0,.35 dari
diameter poros dan ujung spline sebaiknya 0,75 1,5 dari diameter,
sehingga dengan memperhatikan hasil perhitungan dan faktor di atas
maka direncanakan ukuran pasak sebagai berikut :
b x h = 10 mm x 8 mm

t1

2,5

t2

2,5

6,34 mm 7,32 mm

b. Poros perantara
Besarnya gaya tangensial total yang terjadi pada poros dapat dihitung
dengan pers. 2.21

79

2T
ds
F =

2 44414,4kg.mm
42mm

= 2114,97 kg
Sedangkan besarnya gaya tangensial yang bekerja pada tiap spline
dapat dihitung dengan pers :

Fn

Fn

F
n

2114,97 kg
8

= 264,37 kg
Berdasarkan tabel standar ukuran pasak dan alur yang dapat dijadikan
acuan dalam menentukan ukuran spline karena adanya kesamaan
prinsip

kerja

pada

keduanya

sehingga

ukuran-ukuran

spline

berdasarkan ukuran diameter poros yang diketahui dapat ditentukan


sebagai berikut :
bxh

= 14 x 9
t1

= 2,5

t2

= 2,5

Maka ikuran panjang spline hasil perhitungan dapat dicari dengan pers
2.23 :

80

Fn
pA (t1 ataut2 )

Harga pA untuk poros berdiameter kecil adalah 8 kg/mm 2, dan untuk


berdiameter besar adalah 10 kg/mm2.
Maka :

264,37 kg
10 kg / mm 2 2,5 mm

L 10,57 mm
Perlu diperhatikan bahwa lebar pasak sebaiknya 0,25 0,.35 dari
diameter poros dan ujung spline sebaiknya 0,75 1,5 dari diameter,
sehingga dengan memperhatikan hasil perhitungan dan faktor di atas
maka direncanakan ukuran pasak sebagai berikut :
bxh

10 mm x 8 mm

t1

5,5

t2

3,8

10,57 mm 11,27 mm

c. Poros digerakkan/poros output transmisi


Besarnya gaya tangensial total yang terjadi pada poros dapat dihitung
dengan pers. 2.21

2T
ds
F

81

2 22207,2 kg.mm
35 mm
F

=
= 1268,98 kg

Sedangkan besarnya gaya tangensial yang bekerja pada tiap spline


dapat dihitung dengan pers :

Fn

F
n

Fn

1268,98 kg
8

158,62 kg

Berdasarkan tabel standar ukuran pasak dan alur yang dapat dijadikan
acuan dalam menentukan ukuran spline karena adanya kesamaan
prinsip

kerja

pada

keduanya

sehingga

ukuran-ukuran

spline

berdasarkan ukuran diameter poros yang diketahui dapat ditentukan


sebagai berikut :
b x h = 15 x 10
t1

=5

t2

=5

Maka ukuran panjang spline hasil perhitungan dapat dicari dengan


pers 2.23 :

Fn
pA (t1 ataut 2 )

82

Harga pA untuk poros berdiameter kecil adalah 8 kg/mm 2, dan untuk


berdiameter besar adalah 10 kg/mm2.
Maka :

158,62 kg
10 kg.mm 2 2,5 mm

L 6,34 mm
Perlu diperhatikan bahwa lebar pasak sebaiknya 0,25 0,.35 dari
diameter poros dan ujung spline sebaiknya 0,75 1,5 dari diameter,
sehingga dengan memperhatikan hasil perhitungan dan faktor di atas
maka direncanakan ukuran pasak sebagai berikut :

3.11

bxh

15 mm x 10 mm

t1

t2

6,34 mm 7,32 mm

Perhitungan Temperatur
Untuk menentukan temperatur nyala yang diizinkan untuk pelumas
pada sistim transmisi roda gigi dapat diperoleh dengan menggunakan
pers. 2.24 :
TBp

= 140 x Cn x CR

Sebelum dicari temperatur nyala, terlebih dahulu dicari koefisien


viskositas pelumas dengan menggunakan pers. 2.25 diperoleh :

83

Cn

1,5 E
2 E

Dari buku sularso (1980, hal 119), diperoleh derajat engler pada pelumas
pada temperatur 500C. Maka diperoleh harga E : 12,02.
1,5 12,02
2 12,02

Cn

=
= 1,286

Dan untuk menentukan faktor kekerasan roda gigi maka di gunakan pers.
2.23 :
3

CR

1,9 S m
4 Sm

Untuk menentukan harga kekerasan roda gigi dapat diperoleh dengan


menggunakan pers. 2.27 adalah :
2 S1 S 2
S1 S 2
Sm

Dari bab II tentang harga kekerasan roda gigi maka dipilih :


S1 = S2 : 0,85 ().
2 0,85 0,85
0,85 0,85

Sm

=
= 0,85

Maka :

84

CR

1,9 0,85
4 0,85

=
= 0,9

Sehingga :

TBp

= 140 x 1,286 x 0,9

= 162 0C

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan.
Kesimpulan yang dapat diperoleh dalam perencanaan transmisi roda gigi ini
adalah :
1.

Untuk merencanakan transmisi roda gigi harus diperhatikan daya dan


putaran mesin untuk menentukan jenis bahan yang digunakan dan
besarnya beban yang cocok dengan spesifikasi mesin tersebut.

2.

Untuk operasi kendaraan dengan beban besar maka pada transmisi awal
roda gigi harus mempunyai perbandingan reduksi yang besar, karena
memerlukan momen awal yang besar sehingga dibutuhkan roda gigi
yang lebar dan berdiameter kecil dan sebaliknya.

3.

Profil roda gigi yang digunakan dalam perencanaan ini adalah roda gigi
lurus standar dengan sudut tekan 200, karena jenis roda gigi ini
merupakan roda gigi yang paling umum digunakan dalam system
transmisi.

4.

Penggunaan minyak pelumas harus diperhatikan viskositasnya yang


disesuaikan dengan tingkat operasi mesin kendaraan, jenis minyak

85

pelumas yang cocok untuk kendaraan ini adalah SAE 90karena


mempunyai kekentalan yang cocok untuk transmisi ini.
5.

Kesimpulan dari hasil perencanaan roda gigi dengan daya 102 PS dan
putaran 4000 rpm dapat dilihat pada table dibawah ini :

No

Yang dihitung

Perhitungan putaran ban

Perhitungan putaran garden

Perhitungan perbandingan reduksi

No
1

Yang dihitung
Perencanaan roda
gigi P dan Q

No
1
2
3
4
5
No
1
2
3
4
5
No
1
2
3
4
5

Notasi
nb1
nb2
nb3
nb4
nb5
Notasi
no1
no2
no3
no4
nb5
Notasi
ir1
ir2
ir3
ir4
Ir5

Spesifikasi
Nilai
137,85
240,99
378,84
481,98
1101,82
Nilai
758,18
1325,45
2083,62
2650,89
6060,01
Nilai
5,28
3,02
1,92
1,51
0,66

Satuan
Rpm
Rpm
Rpm
Rpm
Rpm
Satuan
Rpm
Rpm
Rpm
Rpm
Rpm
Satuan

Besaran
No
1
2

Spesifikasi
Daya rencana

Notasi
Pd
DP

Nilai
91,2
200

Satuan
kW
Mm

DQ
ZQ

200
36

Mm
Buah

ZP
DkQ

36
210

Buah
Mm

DkP
DqQ

210
187,93

Mm
Mm

DqP
VP = VQ
FtP = FtQ
Fv

187,93
64,05
145,24
0,31

Mm
m/s
Kg

Diameter lingkaran jarak bagi


3
Jumlah gigi
4
Diameter lingkaran kepala
5
Diameter lingkaran kaki
6
7
8

Kecepatan keliling
Gaya tangensial
Faktor dinamis

86

FbQ

8,29

kg/ mm

FbP
bP = bQ
Notasi
Pd
DA
D1
ZA
Z1
DkA
Dk1
DqA
Dq1
VA = V1
FtA = Ft1
Fv
FbA
Fb1
bA = b1
Notasi
Pd
DB
D2
ZB
Z2
DkB
Dk2
DqB
Dq2
VB = V2
FtB = Ft2
Fv
FbB
Fb2
bB = b2
Notasi
Pd
DC
D3
ZC
Z3
DkC
Dk3
DqC
Dq3
VC = V3
FtC = Ft3
Fv
FbC
Fb3
bC = b3
Notasi

8,29
17,52
Nilai
91,2
107
290
21
51
115
300
98,66
280,40
21,77
427,30
0,54
26,53
29,47
22,05
Nilai
91,2
160
240
29
43
170
250
150,35
228,79
22,61
411,43
0,54
21,97
28,12
18,73
Nilai
91,2
179
211
33
39
189
223
168,99
199,4
30,14
308,64
0,50
18,04
19,80
17,11
Nilai

kg/ mm
Mm
Satuan
kW
Mm
Mm
Buah
Buah
Mm
Mm
Mm
Mm
m/s
Kg

Beban lentur yang di izinkan


10
No
1

Perencanaan

roda

Lebar gigi
Spesifikasi
Daya rencana

Diameter lingkaran jarak bagi

Jumlah gigi

Diameter lingkaran kepala

Diameter lingkaran kaki

6
7
8

Kecepatan keliling
Gaya tangensial
Faktor dinamis

Beban lentur yang di izinkan

2
gigi A dan 1

10
No
1

Perencanaan

roda

Lebar gigi
Spesifikasi
Daya rencana

Diameter lingkaran jarak bagi

Jumlah gigi

Diameter lingkaran kepala

Diameter lingkaran kaki

6
7
8

Kecepatan keliling
Gaya tangensial
Faktor dinamis

Beban lentur yang di izinkan

3
gigi B dan 2

10
No
1
Perencanaan
4

Lebar gigi
Spesifikasi
Daya rencana

Diameter lingkaran jarak bagi

Jumlah gigi

Diameter lingkaran kepala

Diameter lingkaran kaki

6
7
8

Kecepatan keliling
Gaya tangensial
Faktor dinamis

Beban lentur yang di izinkan

roda

gigi C dan 3

10
No

Lebar gigi
Spesifikasi

kg/ mm
kg/ mm
Mm
Satuan
kW
Mm
Mm
Buah
Buah
Mm
Mm
Mm
Mm
m/s
Kg
kg/ mm
kg/ mm
Mm
Satuan
kW
Mm
Mm
Buah
Buah
Mm
Mm
Mm
Mm
m/s
Kg
kg/mm
kg/mm
Mm
Satuan

87

Perencanaan

roda

gigi D dan 4

Perencanaan

Daya rencana

Diameter lingkaran jarak bagi

Jumlah gigi

Diameter lingkaran kepala

Diameter lingkaran kaki

6
7
8

Kecepatan keliling
Gaya tangensial
Faktor dinamis

Beban lentur yang di izinkan

10
No
1

roda

6
gigi E dan 5

Perencanaan

roda

Lebar gigi
Spesifikasi
Daya rencana

Diameter lingkaran jarak bagi

Jumlah gigi

Diameter lingkaran kepala

Diameter lingkaran kaki

6
7
8

Kecepatan keliling
Gaya tangensial
Faktor dinamis

Beban lentur yang di izinkan

10

Lebar gigi

No
1

Spesifikasi
Daya rencana

Diameter lingkaran jarak bagi

Jumlah gigi

Diameter lingkaran kepala

Diameter lingkaran kaki

6
7
8

Kecepatan keliling
Gaya tangensial
Faktor dinamis

Beban lentur yang di izinkan

7
gigi mundur

10

Lebar gigi

Pd
DD
D4
ZD
Z4
DkD
Dk4
DqD
Dq4
VD = V4
FtD = Ft4
Fv
FbD
Fb4
BD = b4
Notasi
Pd
DE
D5
ZE
Z5
DkE
Dk5
DgE
Dg5
VE = V5
FtE = Ft5
FV
FbE
Fb5
BE = b5

91,2
200
200
36
36
210
210
187,93
187,93
34,54
269,32
0,48
17,79
18,84
16,14
Nilai
91,2
228
170
40
32
240
180
216,14
159,73
34,33
270,97
0,48
12,99
12,56
20,86

Notasi
Pd
DF
DG
DH
ZF
ZG
ZH
DkF
DkG
DkH
DqF
DqG
DqH
VF= VG = VH
FtF= FtG= FtH
Fv
FbF
FbG
FbH
bF= bG = bH

Nilai
91,2
82,56
160
263,35
16
30
49
90
170
274
75,17
150,35
252,70
15,74
591
0,28
13,51
28,09
28,49
26,87

kW
Mm
Mm
Buah
Buah
Mm
Mm
Mm
Mm
m/s
Kg
kg/ mm
kg/ mm
Mm
Satuan
kW
Mm
Mm
Buah
Buah
Mm
Mm
Mm
Mm
m/s
Kg
kg/mm
kg/mm
Mm
Satuan
kW
Mm
Mm
Mm
Buah
Buah
Buah
Mm
Mm
Mm
Mm
Mm
Mm
m/s
Kg
kg/ mm
kg/ mm
kg/ mm
Mm

88

No

Yang dihitung

2
3
4
5
6

Spesifikasi
Notasi
P
Daya yang ditransmisikan
Pd
Putaran poros penggerak
N
Faktor koreksi
Fc
Daya rencana
Pd
Momen puntir yang terjadi
T
Bahan poros
S 55 C

Kekuatan tarik

Factor keamanan

No
1
8

Poros input

Spesifikasi

9 Tegangan puntir yang terjadi


10 Faktor koreksi momen puntir
11 Faktor koreksi beban lentur
12
Perencanaan poros
9
perantara

No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

No

Yang dihitung
No
1
Perencanaan poros

10

perantara roda gigi


mundur

2
3
4
5
6
7
8
9

Diameter poros
Spesifikasi

Nilai
102
91,2
4000
1,2
91,2
22207,2

Satuan
PS
Kw
Rpm
Kw
Kg.mm

66

Kg/mm2

Sf1
Sf2
a
Kt
Cb
D
D(standar)
Notasi
P

6,0
1,5
7,33
1,5
1,5
37,16
38
Nilai
102

Kg/mm2

Mm
Mm
Satuan
PS

Daya yang ditrasmisikan


Pd
N
Fc
Pd
T
S 55 C
b
Sf1
Factor keamanan
Sf2
Tegangan puntir yang terjadi
a
Faktor koreksi momen puntir
Kt
Faktor koreksi beban lentur
Cb
D
Diameter poros
D(standar)
Spesifikasi
Spesifikasi
Notasi
P
Daya yang ditrasmisikan
Pd
Putaran poros penggerak
N
Faktor koreksi
Fc
Daya rencana
Pd
Momen puntir yang terjadi
T
Bahan poros
S 55 C
Kekuatan tarik
b
Sf1
Factor keamanan
Sf2
a
Tegangan puntir yang terjadi
Putaran poros penggerak
Faktor koreksi
Daya rencana
Momen puntir yang terjadi
Bahan poros
Kekuatan tarik

10 Faktor koreksi momen puntir

Kt

91,2
4000
1,2
91,2
22207,2

Kw
Rpm
Kw
Kg.mm

66
6,0
1,5
7,33
1,5
1,5
36,64
38

Kg/mm2

Nilai
102
91,2
4000
1,2
91,2
44414,4

Satuan
PS
Kw
rpm

Kg/mm2

mm
mm

Kw
Kg.mm

66
6,0
1,5

Kg/mm2

7,33

Kg/mm2

1,5

89

11 Faktor koreksi beban lentur


12
No

Perencanaan poros
11
output untuk gigi 1

Diameter poros
Spesifikasi

Daya yang ditrasmisikan

2
3
4
5
6
7

Putaran poros penggerak


Faktor koreksi
Daya rencana
Momen puntir yang terjadi
Bahan poros
Kekuatan tarik

Factor keamanan

9 Tegangan puntir yang terjadi


10 Faktor koreksi momen puntir
11 Faktor koreksi beban lentur
12
No

Perencanaan poros
12
output untuk gigi 2

Diameter poros
Spesifikasi

Daya yang ditrasmisikan

2
3
4
5
6
7

Putaran poros penggerak


Faktor koreksi
Daya rencana
Momen puntir yang terjadi
Bahan poros
Kekuatan tarik

Factor keamanan

9 Tegangan puntir yang terjadi


10 Faktor koreksi momen puntir
11 Faktor koreksi beban lentur
12
No

Perencanaan poros
13
output untuk gigi 3

Diameter poros
Spesifikasi

Daya yang ditrasmisikanPd

2
3
4

Putaran poros penggerak


Faktor koreksi
Daya rencana
Momen puntir yang terjadi

5
6
7

Bahan poros
Kekuatan tarik

Factor keamanan

9
10
11

Tegangan punter yang terejadi


Faktor koreksi momen puntir
Faktor koreksi beban lentur

12

Diameter poros

Cb
D
D(standar)
Notasi
P
Pd
N
Fc
Pd
T
S 55 C
b
Sf1
Sf2
a
Kt
Cb
D
D(standar)
Notasi
P
Pd
N
Fc
Pd
T
S 55 C
b
Sf1
Sf2
a
Kt
Cb
D
D(standar)
Notasi
P
Pd
N
Fc
Pd
T
S 55 C
b
Sf1
Sf2
a
Kt
Cb
D
D(standar)

1,5
41,27
42
Nilai
102
91,2
4000
1,2
91,2
117160,57

mm
mm
Satuan
PS
Kw
rpm
Kw
Kg.mm

66
6,0
1,5
7,33
1,5
1,5
40,75
42
Nilai
102
91,2
1325,45
1,2
91,2
67017,84

Kg/mm2

66
6,0
1,5
7,33
1,5
1,5
41,25
42
Nilai
102
91,2
2083,62
1,2
91,2
42631,96

Kg/mm2

66
6,0
1,5
7,33
1,5
1,5
41,58
42

Kg/mm2

Kg/mm2

mm
mm
Satuan
PS
Kw
rpm
Kw
Kg.mm

Kg/mm2

mm
mm
Satuan
PS
Kw
rpm
Kw
Kg.mm

Kg/mm2

mm
mm

90

No

Perencanaan poros
14
output untuk gigi 4

Daya yang ditrasmisikan

2
3
4
5
6
7

Putaran poros penggerak


Faktor koreksi
Daya rencana
Momen puntir yang terjadi
Bahan poros
Kekuatan tarik

Factor keamanan

9
10
11

Tegangan puntir yang terjadi


Faktor koreksi momen puntir
Faktor koreksi beban lentur
Diameter poros

12
No

Perencanaan poros
15
output untuk gigi 5

No

Spesifikasi

Daya yang ditranmisikan

2
3
4
5
6
7

Putaran poros penggerak


Factor koreksi
Daya rencana
Momen putir yang terjadi
Bahan poros
Kekuatan tarik

Factor keamanan

9
10
11

Tegangan puntir yang terjadi


Faktor koreksi momen puntir
Factor koreksi beban puntir

12

Diameter poros

Yang dihitung

Spline

untuk

16
poros input

17

Spesifikasi

Spline untuk
poros

Notasi
P
Pd
N
Fc
Pd
T
S 55 C
b
Sf1
Sf2
a
Kt
Cb
D
D(standar)
Notasi
P

N
Fc
Pd
T
S 55 C
b
Sf1
Sf2
a
Kt
Cb
D
D(standar)

Nilai
102
91,2
2650,89
1,2
91,2
33509,05

Satuan
PS
Kw
rpm
Kw
Kg.mm

66
6,0
1,5
7,33
1,5
1,5
40,97
42
Nilai
102

Kg/mm2

91,2
6060,01
1,2
91,2
14658,19

Kw
rpm

Kg/mm2

mm
mm
Satuan
PS

kw
Kg.mm

66
6,0
1,5
7,33
1,5
1,5
41,32
42

Kg/mm

Nilai
38
8
1268,98
158,62
10
8
2,5
2,5
10
6,34
Nilai
42
8

Satuan
mm
buah
kg
kg
mm
mm
mm
mm
Kg/mm2
mm
Satuan
mm
buah

Kg/mm

mm
mm

Spesifikasi
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
No
1
2

Spesifikasi
Poros input
Jumlah spline
Gaya tangensial total pada poros
Besar gaya yang bekerja pada spline
Lebar spline yang digunakan
Tinggi spine yang digunakan
Kedalaman alur pada poros
Kedalaman alur pada roda gigi
Tekanan permukaan yang diizinkan
Panjang alur spilne
Spesifikasi
Poros input
Jumlah spline

Notasi
ds
ns
F
Fn
B
H
t1
t2
pA
L
Notasi
ds
ns

91

perantara roda
gigi mundur

Spline untuk
18
poros output

No

No
1
2
3
4

Gaya tangensial total pada poros


Besar gaya yang bekerja pada spline
Lebar spline yang digunakan
Tinggi spine yang digunakan
Kedalaman alur pada poros
Kedalaman alur pada roda gigi
Tekanan permukaan yang diizinkan
Panjang alur spilne
Spesifikasi
Poros input
Jumlah spline
Gaya tangensial total pada poros
Besar gaya yang bekerja pada spline
Lebar spline yang digunakan
Tinggi spine yang digunakan
Kedalaman alur pada poros
Kedalaman alur pada roda gigi
Tekanan permukaan yang diizinkan
Panjang alur spilne
Spesifikasi
Spesifikasi
Derajat enguler pada pelumas 500 c
Koefisien viskositas pelumas
Harga kekerasan roda gigi 1
Harga kekerasan roda gigi 2

E
Cn
S1
S2

5
6
7
8

Harga kekerasan roda gigi


Faktor kekerasan permukaan roda gigi
Temperatur nyala yang diizinkan
Pelumas yang cocok untuk rancangan

Sm
CR
TBp
SAE 90

Yang dihitung

Analisa
19

3
4
5
6
7
8
9
10
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

perhitungan
temperatur

F
Fn
B
H
t1
t2
pA
L
Notasi
ds
ns
F
Fn
B
H
t1
t2
pA
L
Notasi

2114,97
264,37
10
8
5,5
3,8
10
10,57
Nilai
42
8
1268,98
158,62
15
10
5
5
10
6,34

kg
kg
mm
mm
mm
mm
Kg/mm2
mm
Satuan
mm
mm
Buah
Kg
mm
mm
mm
mm
Kg/mm2
mm

Nilai
12,02
1,286
0,85
0,85

Satuan

0,85
0,9
162

4.2 Saran
Saran yang dapat diperoleh dalam perencanaan transmisi roda gigi adalah ;
Perhitungan lebar gigi dan posisi roda gigi tiap tingkat kecepatan pada
poros harus tepat agar diperoleh kinerja kendaraan yang optimal

92

dengan kotak transmisi yang sesuai dengan kendaraan yang


bersangkutan.
Penggunaan minyak pelumas harus memperhatikan standar yang telah
ditentukan oleh pabrik pembuatnya untuk menjamin keawetan
komponen transmisi roda gigi.
Penggunaan velg dan ban kendaraan harus menggunakan standar yang
telah ditentukan, karena hal tersebut dapat mempengaruhi tingkat
kecepatan kendaraan dan umur komponen mesin.

DAFTAR PUSTAKA
1.

Sularso, Kiyokatsu Suga Dasar Perencanaan dan


Pemilihan Elemen Mesin , PT. Pradya Paramita. Jakarta, 1997.

2.

G Niemann Elemen Mesin, Penerbit Erlangga, Jakarta


1981.

93

3.

Stolk, Kros Elemen Kontruksi dari Bangunan Mesin ,


Penerbit Erlangga, Jakarta 1984.

4.

Vidosic, J, P, Metal Machining and Forming Tecnology


, The Ronald Press Company, New York, 1964.

5.

Doyle, E, Lawrence, Manufacturing Processes and


Materials for Engineers, Prenticehall, Inc, Englewood Cliffs, New Jersey,
1961.

6.

Anthon. L. W, Minyak Pelumas, Pengetahuan Dasar


Dan Cara Penggunaannya , Penerbit PT. Gramedia, Jakarta, 1981.

7.

Aron D. Deutchman, Machine Design Theory and


Practice , Macimelan Publishing Co. Ltd, New York, 1975.

8.

J.P. Holman , Perpindahan Kalor , Penerbit Erlangga,


Jakarta, 1993.
Catatan sari Mata Kuliah Elemen Mesin I, II, dan III.

94