Anda di halaman 1dari 14

TINJAUAN KRITIS PELAKSANAAN PENYUSUNAN RENCANA DETAIL TATA

RUANG KECAMATAN BOJONG KABUPATEN PEKALONGAN


TAHUN 2014-2034
Oleh
Novia Purbasari (21040110130069)
Anang Wahyu Sejati, ST.MT.
Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Universitas Diponegoro
Email :veapurbasari@gmail.com
Abstrak
Untuk melaksanakan UU No 26 Tahun 2007 mengenai kegiatan perencanaan tata
ruang, pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang, Kabupaten Pekalongan
memiliki Peraturan Daerah No 2 Tahun 2011. Untuk menyelaraskan Perda tersebut, maka
Kabupaten Pekalongan menyusun suatu Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Bojong
yang merupakan spesifikasi dari perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang serta
pengendalian ruang yang ada di Kecamatan Bojong. Rencana Detail Tata Ruang ini
mempunyai fungsi memberikan arahan pembangunan dan pengembangan wilayah serta
berperan sebagai regulasi dalam pemanfaatan lahan. Tanpa adanya Rencana Detail Tata
Ruang yang di dalamnya juga terdapat peraturan zonasi pastinya akan sulit untuk
mempersiapkan suatu rencana tata ruang yang bersifat operasional yang dapat
dipertanggungjawabkan secara hukum.
Pembahasan tinjauan kritis ini terkait dengan proses penyusunan RDTR Kecamatan
Bojong. Proyek Penyusunan RDTR Kecamatan Bojong tahun 2014-2034 ini merupakan
proyek yang dilaksanakan oleh CV Piramida Kreasi Baru yang berlokasi di Kecamatan
Bojong Kabupaten Pekalongan. Proyek ini dijadwalkan berjalan selama enam bulan yaitu
terhitung dari bulan Juni 2013 hingga November 2013. Namun pada realisasinya, terjadi
akselerasi proyek sehingga proyek hanya dikerjakan selama 4 bulan. Tinjauan kritis ini
merupakan bentuk perbandingan antara penyusunan laporan dengan teori yang digunakan.
Keluaran yang didapatkan adalah tinjauan kritis mengenai proyek RDTR Kecamatan Bojong
yang dilihat dari sisi pelaksanaan dibandingkan dengan teori yang diungkapkan Anderson
(1995). Dari proses perbandingan tersebut terlihat bahwa dalam penyusunan RDTR
tersebut sudah mengikuti proses perencanaan ideal yang sistematis menurut
Anderson(1995), namun pelibatan masyarakat secara luas masih belum terlihat.
Kata Kunci :Rencana Detail Tata Ruang (RDTR), Peraturan Zonasi, Tinjauan kritis
I.

PENDAHULUAN

ditambahkan substansi mengenai


peraturan detail. Dalam kondisi
eksistingnya, walaupun RTRW telah
dijadikan peraturan daerah, namun tetap
karena kandungan materinya masih
sangat bersifat umum dan konsepsional,
belum dapat dijadikan dasar dalam
penerbitan berbagai macam perizinan
yang menyangkut pembangunan kota.
Kedudukan RDTR dalam kebijakan
penataan ruang adalah dibawah RTRW
dimana dokumen RDTR merupakan
penjabaran atau perincian yang lebih
detail dari RTRW, yang kemudian

Penyelenggaraan tata ruang yang


diatur dalam UU No 26 Tahun 2007 terdiri
dari kegiatan perencanaan tata ruang,
pemanfaatan ruang dan pengendalian
pemanfaatan ruang. Mengacu pada
Perda No 2 Tahun 2011 Kabupaten
Pekalongan, maka perlu disusun
Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kecamatan Bojongsebagai perangkat
pengendalian pemanfaatan ruang, perlu
dilakukan sesuai RTRW Kabupaten
Pekalongan yang sudah ada dengan
7

diterjemahkan kembali dengan lebih


terperinci dalam peraturan zonasi.
Sesuai ketentuan Pasal 59 Peraturan
Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010
tentang Penyelenggaraan Penataan
Ruang, setiap RTRW kabupaten/kota
harus menetapkan bagian dari wilayah
kabupaten/kota tersebut yang perlu
disusun Rencana Detail Tata Ruang.
Bagian dari wilayah yang akan disusun
RDTR merupakan kawasan perkotaan
atau kawasan strategis kabupaten/kota.
Kawasan strategis kabupaten/kota dapat
disusun RDTR-nya apabila kawasan
tersebut merupakan kawasan yang
mempunyai ciri perkotaan atau
direncanakan menjadi kawasan
perkotaan dan memenuhi kriteria lingkup
wilayah perencanaan RDTR yang
ditetapkan dalam pedoman penyusunan
RDTR.
RENCANA TATA RUANG WILAYAH
NASIONAL

RENCANA TATA RUANG WILAYAH


PROVINSI JAWA TENGAH
Peraturan Daerah Provinsi Jawa
Tengah Nomor 6 Tahun 2010 tentang
Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi
RENCANA TATA RUANG WILAYAH
Jawa Tengah Tahun 2009-2029
KAB. PEKALONGAN
Peraturan Daerah Kab. Pekalongan
Nomor 2 Tahun 2011 tentang Rencana
Tata Ruang Wilayah Kab. Pekalongan
RENCANA2011-2031.
DETAIL TATA RUANG
KEC. BOJONG

Gambar 1 Kedudukan RDTR dalam Sistem


Penataan Ruang
Sumber : Analisis Penyusun, 2014.

dalam praktek perencanaan dalam dunia


kerja sehingga praktikan mengetahui
posisinya dalam dunia kerja. Adapun
sasaran yang ingin dicapai dalam
penyusunan laporan critical review
adalah:
1. Mengidentifikasi dan menjelaskan
secara singkat mengenai proyek yang
menjadi bahan kerja praktikan.
2. Membahas proses perencanaan dan
keluaran yang dihasilkan dari proses
perencanaan tersebut.
3. Memberikan kesimpulan terhadap
pelaksanaan proyek tersebut.
Ruang lingkup perencanaan
Rencana Detail Tata Ruang ini meliputi
Bagian Wilayah Perkotaan (BWP) dan
Wilayah Perdesaan di Kecamatan Bojong
yang merupakan bagian dari wilayah
Kabupaten Pekalongan. Kecamatan
Bojong memiliki luas wilayah kurang
lebih 40,05 Km2 dan terdiri dari 22 desa,
terletak di bagian tengah wilayah
Kabupaten Pekalongan dengan batas
wilayah sebagai berikut :
Sebelah Utara : Kec. Wiradesa
Sebelah Timur : Kec. Kedungwuni
dan Kec Wonopringgo
Sebelah Selatan : Kec. Kajen dan
Kec. Karanganyar
Sebelah Barat : Kec. Sragi dan
Kec. Kesesi
Ruang Lingkup Materi dalam
laporan Penyusunan Rencana Detail Tata
Ruang Kecamatan Bojong sesuai
dengan KAK terbagi atas beberapa tahap
yaitu Tahap Laporan Pendahuluan,
Tahap Laporan Antara dan Tahap
Laporan Akhir. Sedangkan Ruang
Lingkup Waktu Kegiatan penyusunan
RDTR (Rencana Detail Tata Ruang)
Kecamatan Bojong, Kabupaten
Pekalongan pada tahun anggaran 2013
dilaksanakan dalam jangka waktu 6
(enam) bulan atau 180 (seratus delapan
puluh) hari kalender.

Laporancritical review terhadap proyek


Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang
Kecamatan Bojong, bertujuan untuk
memberikan critical review atas produk
Penyusunan Revisi Rencana Detail Tata
Ruang (RDTR) dan memberikan
gambaran praktikan mengenai padangan
2

Gambar 2 Peta Administrasi Kabupaten Pekalongan


Sumber : Bappeda, 2010.

Gambar 3 Peta Administrasi Kecamatan Bojong


Sumber : Bappeda, 2010.

II.TINJAUAN SINGKAT PROYEK


a. Dasar Hukum
Tinjauan terhadap Peraturan
Daerah Kabupaten Pekalongan Nomor 2
Tahun 2011 tentang RTRWKabupaten
Pekalongan Tahun 2011-2031dilihat dari
rencana struktur ruang dan rencana pola
ruang yang akan diterapkan di
Kecamatan Bojong, didalam struktur
ruang Kabupaten Pekalongan sebagai
PPL (Pusat pelayanan lingkungan),
sedangkan untuk rencana pola ruang
yang ada di Kecamatan Bojong adalah
sebagai kawasan perlindungan setempat
(Kawasan mata air), daerah yang rawan
bencana, kawasan peruntukkan hutan
produksi dan hutan rakyat, kawasan
pertanian, kawasan industri dan kawasan
pariwisata.
b. Tinjauan Proyek
Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
disusun apabila sesuai dengan
kebutuhan yang muatan materinya
lengkap, termasuk peraturan zonasi,
sebagai salah satu dasar dalam
pengendalian pemanfaatan ruang dan
sekaligus menjadi dasar penyusunan
RTBL bagi wilayah-wilayah yang
membutuhkan.
RDTR merupakan rencana yang
menetapkan blok pada kawasan
fungsional sebagai penjabaran kegiatan
ke dalam wujud ruang yang
memperhatikan keterkaitan antarkegiatan
dalam kawasan fungsional agar tercipta
lingkungan yang mendukungantara
kegiatan utama dan kegiatan penunjang
dalam kawasan fungsional tersebut.
RDTR yang disusun lengkap dengan
peraturan zonasi merupakan satu
kesatuan yang tidak terpisahkan untuk
satu BWP tertentu.Dalam hal ini, RDTR
tidak disusun, namun RDTR telah
ditetapkan sebagai perda namun belum
ada peraturan zonasinya.Sehingga
peraturan zonasi dapat disusun terpisah
dan berisi mengenai zoning map dan
zoning textuntuk seluruh kawasan
perkotaan baik yang sudah ada maupun
yang direncanakan pada wilayah
Kabupaten/Kota.
Tujuan disusunnyaRDTR Kecamatan
Bojong adalah sebagai berikut :

a. Menciptakan keselarasan,
keserasian, keseimbangan antar
lingkungan permukiman kawasan;
b. Mewujudkan keterpaduan program
pembangunan antar kawasan
maupun dalam kawasan;
c. Terkendalinya pembangunan
kawasan strategis dan fungsi kota,
baik yang dilakukan pemerintah
maupun masyarakat/swasta;
d. Mendorongnya investasi
masyarakat di dalam kawasan;
e. Terkoordinasinya pembangunan
kawasan antara pemerintah dan
masyarakat/ swasta
Metode pendekatan yang
diterapkan didalam penyusunan RDTR
Kecamatan Bojong terbagi atas
penyusunan arahan rencana detail tata
ruang dan pengendalian pemanfaatan
ruang.
Untuk penyusunan rencana detail
tata ruang , terbagi menjadi dua tahap
yairu substansi untuk kawasan RDTR
dan substansi untuk materi RDTR :
1.
Substansi Untuk Kawasan RDTR
a. Rencana struktur dan pola
pemanfaatan ruang, meliputi:
Struktur pemanfaatan ruang, yang
meliputi distribusi penduduk,
struktur pelayanan kegiatan, sistem
jaringan pergerakan, sistem
jaringan telekomunikasi, sistem
jaringan energi, dan sistem
prasarana pengelolaan lingkungan;
Pola pemanfaatan ruang, yang
meliputi pengembangan kawasan
fungsional (kawasan permukiman,
perdagangan, jasa, pemerintahan,
perindustrian) dalam blok-blok
peruntukan.
b.
Pedoman pelaksanaan
pembangunan kawasan fungsional,
meliputi:
Arahan kepadatan bangunan (net
density/KDB) untuk setiap blok
peruntukan;
Arahan ketinggian bangunan
(maximum height/KLB) untuk setiap
blok peruntukan;
Arahan garis sempadan bangunan
untuk setiap blok peruntukan;
Rencana penanganan lingkungan
blok peruntukan;
4

Rencana penanganan jaringan


prasarana dan sarana
Pedoman Pengendalian
Pemanfaatan Ruang Kawasan
Fungsional
Pendekatan substansi kawasan
dirumuskan dari hasil pengolahan
Kepmenkimprawil Nomor
327/KPTS/M/2002 tentang Penetapan 6
Pedoman Bidang Penataan Ruang.
2. Substansi Kedalaman Materi RDTR
Muatan RDTR yang ada, adalah
sebagai berikut:
a. Tujuan Penataan Ruang Wilayah
Perencanaan
b. Rencana Pola Ruang
c. Rencana Jaringan Prasarana
d. Penetapan Bagian dari Wilayah
Perencanaan yang Diprioritaskan
Penanganannya
e. Arahan Pemanfaatan Ruang
f. Peraturan Zonasi (apabila
Peraturan Zonasi disatukan
dengan RDTR)/Ketentuan
Tambahan dan Ketentuan Khusus
Peraturan Zonasi (apabila
peraturan zonasi dipisah dengan
RDTR)
Untuk pengendalian ruang
Pengendalian Pemanfaatan Ruang,
metode pengendalian pemanfaatan
ruang yang diterapkan kedalam RDTR
Kecamatan Bojong adalah dengan
menerapkan peraturan zonasi.
Pendekatan yang digunakan dalam
penyusunan RDTR Kecamatan Bojong
adalah pendekatan kombinasi deduksi
dan induksi.Pendekatan ini
memanfaatkan hasil kajian dengan
pendekatan deduksi yang dikoreksi dan
divalidasi dengan kondisi dan persoalan
empirik yang ada di kawasan Perkotaan.
Dengan kombinasi ini akan mengurangi
waktu, biaya dan tenaga yang dibutuhkan
Peraturan Zonasi terdiri atas:
Zoning text/zoning
statement/legal text : berisi
aturanaturan (= regulation)
menjelaskan tentang tata guna
lahan dan kawasan, permitted
and conditional uses, minimum
lot requirements, standar
pengembangan, administrasi
pengembangan zoning.

Zoning map : berisi pembagian


blok peruntukan (zona), dengan
ketentuan aturan untuk tiap blok
peruntukan tersebut,
menggambarkan peta tata guna
lahan dan lokasi tiap fungsi lahan
dan kawasan.
Sehubungan dengan substansisubstansi di atas, maka diperlukan data
yang mendukung. Beberapa data/
informasi yang dibutuhkan dalam
penyusunan pekerjaan ini meliputi :
1. Kebijakan dan Sasaran Pembangunan
2. Kondisi Ekonomi Wilayah
3. Kondisi Sosial Kemasyarakatan
4. Kependudukan/Demografi
5. Kondisi Fisik Lingkungan
6. Sumberdaya
7. Sumberdaya Buatan
III.TINJAUAN KRITIS PELAKSANAAN
PENYUSUNAN RENCANA DETAIL
TATA RUANG KECAMATAN BOJONG
a. Literatur Proses Pelaksanaan
Penyusunan RDTR
Perencanaan merupakan proses
penataan ruang yang sangat kompleks.
Proses perencanaan memiliki model
yang beragam, contoh yang disarankan
oleh Patrick Geddes (1941 dalam
Darmawan, 2003) bahwa ada tiga
langkah dalam prosedur yaitu survey,
analisis dan rencana.
Pada perencanaan Rencana Detail
Tata Ruang, menurut Anderson (1995)
mencoba mengemukakan suatu proses
yang lebih rasional dan menggunakan
prosedur perencanaan yang lengkap
dengan langkah- langkah dalam proses
perencanaan sebagai berikut :
1. Identifikasi Isu-Isu dan pilihanpilihan
Proses perencanaan agar tetap
relevan dengan kondisi yang selalau
berubah, seharusnya mengidentifikasi
dan mengarah tidak hanya isu-isu
kontemporer yang menitikberatkan pada
masalah yang dihadapi sekarang namun
juga permasalahan yang mendesak di
masa yang akan datang. Isu-isu tersebut
harus mempertimbangkan kebijakan
setempat dan yang terpenting adalah
proses identifikasi ini terjadi komunikasi
antara perencana dengan masyarakat
secara dini dan bersifat terus menerus
5

melalui kegiatan wawancara, survey,


laporan analisa biaya pengeluaran,
bantuan yang dibutuhkan dan bantuan
yang ada.
2. Formulasi Tujuan, Sasaran dan
Prioritas
Dalam menentukan tujuan, sasaran
dan prioritas perencanaan sangat
membutuhkan komunikasi yang baik
antara perencana dan stakeholder.
3. Pengumpulan dan penafsiran data
Pada langkah ini, data-data yang
ada, dikumpulkan dan ditafsirkan
berdasarkan isu-isu penting. Informasi
yang dihasilkan biasanya diperlukan
untuk menjelaskan dan menganalisis
masalah ekonomi, sosial, dan struktur
politik di area perencanaan.
Langkah-langkah yang perlu
dilakukan dalam tahap ini :
a. Identifikasi Kebijakan, Ketentuan
dan Standar
b. Pengumpulan data dan analisa
c. Pembuatan proyeksi masyarakat
4. Persiapan Perencanaan
Tahap ini adalah tahap dimana
perencana mampu memahami kondisi
eksisting sebelum melakukan
perencanaan.
5. Rancangan Program-Program dan
Implementasi Perencanaan
Perencanaan implementasi
program dapat dibagi menjadi lima
kategori, yaitu :
b. Pembuatan dan administrasi dari
peraturan pemerintah tentang tata
guna lahan dan pengembangan
lahan
c. Pemeriksaan proyek
d. Penanganan program oleh
Pemerintah
e. Program-program konstruksi yang
ditangani oleh pemerintah

f.

Program-program konstruksi yang


ditangani oleh perusahaan swasta.
6. Evaluasi Dampak Potensial dari
Perencanaandan Program
Implementasi
Dampak evaluasi tahap
perencanaan dan program implementasi
seharusnya mempertimbangkan hal-hal
sebagai berikut :
a. Kemungkinan-kemungkinan
dampak lingkungan yang terjadi
b. Dampak-dampak ekonomi
setempat yang berpotensi
c. Dampak-dampak pendanaan
pemerintah setempat
d. Konsekuensi sosial yang mungkin
terjadi
7. Review dan Persetujuan
Perencanaan
Rencana Detail Tata Ruang dan
seluruh komponen diharapkan
mendapatkan persetujuan dan
penjelasan kebijakan dari peraturan
daerah sebagai komitmen terhadap
kegiatan di masa datang.
8. Review dan Persetujuan Program
Penerapan Perencanaan
Pada tahapan ini dipersyaratkan
dari Dinas terkait peduli terhadap isi dan
implikasi dari program-program sebelum
disetujuinya dengan mempertimbangkan
aspirasi dari masyarakat.
9. Administrasi Program Implementasi
dan Monitoring Dampak yang ada
Tahapan ini merupakan tahapan
proses perencanaan yang layak dan
harus transparan. Biasanya melibatkan
Panitia Pemerintah Kota dan Legislatif
untuk memonitor antara biaya
perencanaan dengan implementasi di
lapangan.

b. Best Practice Perencanaan di Kota


penyusunan RDTR berdasarkan praktek
Gambar 4. Proses
Perencanaan
New York
lapangan.
Sumber : (Anderson, 1995)
Dalam membuat suatu
1. Sifat Perencanaan dalam RDTR
perencanaan, kita perlu melihat best
Penyusunan Rencana Detail Tata
practice perencanaan negara lain. Dalam
Ruang merupakan salah satu contoh dari
buku Cities in Our Future, Barnett,
analytical planningyang akan
Yaro, & K.Wright (1997) menceritakan
menghasilkan suatu perencanaan yang
proses perencanaan yang dilakukan
menyeluruh dalam bentuk laporan akhir
penulis dengan studi kasus Kota New
perencanaan. Proses penyusunan RDTR
York.
berhenti sampai pada tahap laporan akhir
Diawali dengan munculnya inti-inti
perencanaan, berbeda dengan action
kota baru yang semula hanya terdapat
planning yang berakhir sampai tahap
satu inti kota di New York.Hal ini
implementasi di lapangan. Selain itu
berdampak terhadap keadilan sosial di
identifikasi program yang muncul
kota tersebut, Dari latar belakang
merupakan jangka panjang dan jangka
tersebut, maka penulis mengidentifikasi
pendek.
permasalahan, kebijakan yang berlaku,
2. Stakeholder yang Terlibat
hambatan waktu sekarang dan
Perencanaan ini merupakan
kesempatan di masa depan. Setelah
perencanaan yang melibatkan banyak
adanmya identifikasi tersebut, dilanjutkan
stakeholder yang terdiri atas :
dengan tinjauan terhadap desain
1. Pemerintah Daerah
kawasan di wilayah yang lebih luas. Dari
Di dalam pelaksanaan
proses ini mengindikasikan bahwa New
pemerintahan Kabupaten Pekalongan,
York merupakan salah satu bagian dari
terbentuk dinas/ kantor/ instansi terkait
perencanaan wilayah dengan tingkatan di
untuk melaksanakan bidang dan ahli
atasnya. Dilanjutkan proses penyusunan
masing masing. Di dalam tupoksinya
strategi dalam menangani permasalahan
sebagai dinas atau kantor atau instansi
tersebut.Ketiga penulis menyusun
terkait di Kabupaten Pekalongan dapat
konsep wilayah kota dengan berbasiskan
terlihat kapasitas kerja masih masing
ekonomi,lingkungan dan keadilan.
dinas/kantor/instansi tersebut dalam
Kemudian dilakukan analisis terhadap
bidang sektor yang menjadi tanggung
dampak dan pembiayaan. Terakhir
jawabnya. Untuk kapasitas pemerintah
adalah ajakan para stakeholder dalam
Kabupaten Pekalongan dalam
implementasi rencana tersebut.
melaksanakan tugasnya, maka dinas
c. Tinjauan Kritis Pelaksanaan
dinas yang terkait dalam
Penyusunan Rencana Detail Tata
penyelenggaraan RDTR Kecamatan
Ruang Kecamatan Bojong
Bojong adalah sebagai berikut:
Pelaksanaan Penyusunan Rencana
BAPPEDA
Detail Tata Ruang Kecamatan Bojong ini
Kantor Ketahanan Pangan
memerlukan pembahasan kritis untuk
Kantor Lingkungan Hidup
mengetahui bagaimana proses
Kantor Perizinan Terpadu
perencanaan dalam penyusunan RDTR
Dinas Kesehatan
ini berlangsung. Berikut ini merupakan
Dinas Sosial, Tenaga Kerja,
pembahasan hal-hal yang terkait dengan
dan Transmigrasi
7

Dinas Perhubungan,
Komunikasi, Dan
Informatika
Dinas Pemuda, Olahraga
dan Pariwisata
Dinas Pengelolaan Sumber
Daya Air, Energi Dan
Sumber Daya Mineral
Dinas Pekerjaan Umum
DinasPerindustrian,Perdag
angan, Koperasi, Dan
Usaha Mikro, Kecil, Dan
Menengah
Dinas Pendapatan Dan
Pengelolaan Keuangan
Daerah
Dinas Pertanian, Perikanan,
Dan Kehutanan

2. Masyarakat
Masyarakat merupakan
stakeholder yang berperan sebagai
pihak yang memberikan informasi
mengenai kondisi eksisting dan
permasalahan yang terjadi.
d. Proses Pelaksanaan Penyusunan
Rencana Detail Tata Ruang
Kecamatan Bojong
Berdasarkan literatur yang diambil
dalam Anderson (1995) terdapat
tahapan-tahapan dalam proses
penyusunan perencanaan. Tahapantahapan ini kemudian dibahas dengan
praktek di lapangan. Dengan tahapan ini
maka dapat diketahui bagaimana proses
pelaksanaan penyusunan RDTR
Kecamatan Bojong.

Tabel 1 Proses Pelaksanaan Penyusunan RDTR Kecamatan Bojong


No

Tahapan

Proses Pelaksanaan Penyusunan

Tinjauan Kritis

Identifikasi Isu-

RDTR Kecamatan Bojong


Identifikasi isu dilakukan melalui

(+) Kegiatan ini sudah sesuai dengan

Isu dan pilihan-

komunikasi antara pihak perencana

pedoman dan ketentuan, sehingga

pilihan.

dengan masyarakat dan pemerintah

perencana dapat menganalisis sesuai

daerah setempat sebagai stakeholder

dengan kondisi yang sebenarnya terjadi,

ysng berkaitan secara langsung

sehingga dapat membantu dalam tahapan

menggunakkan metode observasi,

perencanaan selanjutnya.
(-) Masyarakat yang bersifat heterogen

wawancara, analisis dampak.

dengan sudut pandang yang berbeda-beda


Formulasi

Dalam menentukan tujuan, sasaran dan

mempersulit dalam pemahaman isu-isu.


(+) Proses ini baik dilakukan, agar dalam

Tujuan, Sasaran

prioritas, masyarakat dan pemerintah

perencanaan ini memiliki satu misi dan visi

dan Prioritas:

daerah dilibatkan melalui proses FGD

sehingga tidak ada pihak yang merasa

(Forum Grup Discussion)

dirugikan dan hasil perencanaan dapat


diterima dan diimplementasikan oleh semua
pihak.
(-) Masyarakat dan pihak- pihak yang terlibat
bersifat heterogen dengan sudut pandang
yang berbeda-beda dan dengan kebutuhan
yang berbeda juga sehingga perlu adanya

Pengumpulan dan

Pengumpulan data primer setingkat

negosiasi dan kompromi.


(+) Dalam proses pengumpulan data, semua

penafsiran data

kelurahan/desa dilakukan melalui:

pihak mampu berperan serta membantu

1. penjaringan aspirasi masyarakat yang


dapat dilaksanakan melalui
penyebaran angket, temu wicara,
wawancara orang perorang, dan lain
sebagainya; dan/atau

dalam mengumpulkan informasi.


(-) Banyaknya data sekunder yang tidak
valid dan minimnya data sekunder yang
ada, sehingga mempersulit proses analisis,
terutama mengenai proyeksi.

No

Tahapan

Proses Pelaksanaan Penyusunan

Tinjauan Kritis

RDTR Kecamatan Bojong


2. pengenalan kondisi fisik dan sosial
ekonomi BWP secara langsung
melalui kunjungan ke semua bagian
dari wilayah perencanaan.
Data untuk keperluan
penyusunanPeraturan Zonasi Untuk
keperluan pengenalan
karakteristikwilayah perencanaan dan
penyusunanperaturan zonasi, harus
dilakukanpengumpulan data primer dan
datasekunder.
Pengumpulan data primer
dilakukanmelalui:
1) wawancara, temu wicara dan FGD
(Forum Group Discution) kepada
masyarakat dan pemangku
kepentingan untuk menjaring aspirasi
masyarakat terhadap kebutuhan yang
diatur dalam peraturan zonasi serta
kepada pihak yang melaksanakan
pemanfaatan dan pengendalian
pemanfaatan ruang; dan
2) peninjauan/observasi ke lapangan untuk
pengenalan kondisi fisik wilayah
perencanaan secara langsung.

Persiapan

Persiapan perencanaan penyusunan

(+) Persiapan perencanaan telah dilakukan

Perencanaan

RDTR Kecamatan Bojong dilakukan

sesuai dengan kondisi eksisting yang ada.


(-) Belum ada identifikasi mengenai

dengan menganalisis kondisi eksisting,


yaitu dengan mengidentifikasi isu
terbaru, menganalisis data ekonomi di

kejelasan dan efektivitas monitoring


terhadap pelayanan pemerintah.

tingkat lokal dan regional,


mengidentifikasi sarana pelayanan yang
Rancangan

ada.
Langkah penyusunan program

(+) Pada penyusunan program penerapan

Program-

penerapan desain perencanaan dalam

desain perencanaan dalam penyusunan

Program dan

penyusunan RDTR Kecamatan Bojong :

RDTR Kecamatan Bojong telah melakukan

Implementasi

1. Program Penerapan Desain

Perencanaan

Perencanaan
Memformulasikan strategi dasar

analisis dampak lingkungan, ekonomi dan


sosial.
(-) Belum ada desain perencanaan

untuk penerapan perencanaan

mengenai program pembangunan fisik yang

lingkungan alam, buatan, ekonomi,

dilakukan oleh masyarakat maupun swasta.

sosial dan politik


Peraturan menyangkut landuse dan

No

Tahapan

Proses Pelaksanaan Penyusunan

Tinjauan Kritis

RDTR Kecamatan Bojong


peraturan yang lebih teknis

Usaha masyarakat baik itu program


usaha swasta maupun perangsang
pembangunan swasta.
2. Administrasi Program Pelaksanaan
Perencanaan
Membuat analisis dampak

lingkungan, ekonomi dan sosial.

Analisis benefit/cost
3. Pengikutsertaan partisipasi masyarakat

Dengan adanya FGD

Dengan adanya pemberitahuan


4.

pada masyarakat
Komunikasi
Penggunaan tata bahasa dalam

penulisan dan berbicara


5. Penggunaan grafik, gambar, peta,
dokumentasi.Penggunaan teknik
program kerja, penggunaan konsultan
secara efektif, penerapan teknik
statistik, dan analisis program
masyarakat yang efektif.
Evaluasi

Evaluasi Dampak Potensial dari

(+) Evaluasi ini melibatkan Dinas terkait dan

Dampak

Perencanaan dan Program

pemerintah daerah melalui pembahasan

Potensial dari

Implementasi pada penyusunan RDTR

dalam laporan pendahuluan, antara dan

Perencanaan dan

Kecamatan Bojong antara lain :

akhir.
(-) Belum dilibatkannya masyarakat dalam

Program

1.

Implementasi

Dampak lingkungan yang


disebabkan dengan adanya

proses evaluasi dampak

perencanaan pembangunan
jalan tol (lingkungan pintu
2.

keluar masuk tol)


Dampak ekonomi bagi masyarakat
dengan dicanangkannya Kecamatan
Bojong sebagai Pusat Pelayanan
Lingkungan

Review dan

Tahapan ini dilakukan dengan kegiatan

(+) Pembahasan Raperda di Tingkat DPRD

Persetujuan

pembahasan raperda di tingkat DPRD

Perencanaan

Kabupaten Pekalongan

dilakukan dengan diikuti dinas berkompeten.


(-)Aspirasi masyarakat dalam persetujuan ini
kurang dipertimbangkan.

Review dan

Tahapan ini dilakukan dengan kegiatan

(+) Pembahasan Raperda di Tingkat DPRD

Persetujuan

pembahasan raperda di tingkat DPRD

Program

Kabupaten Pekalongan

dilakukan dengan diikuti dinas berkompeten.


(-)Aspirasi masyarakat dalam persetujuan ini

Penerapan

kurang dipertimbangkan.

Perencanaan

10

No

Tahapan

Proses Pelaksanaan Penyusunan

Tinjauan Kritis

RDTR Kecamatan Bojong


Administrasi

Tahapan ini dilakukan melalui

(+) Penetapan RDTR sebagai perda

Program

penetapan RDTR sebagai peraturan

diharapkan mampu memberikan kepastian

Implementasi

daerah

hukum terhadap rencana itu sendiri,

dan Monitoring

sehingga pemerintah bersama masyarakat

Dampak yang

mampu berkomitmen menjalankan RDTR

ada

tersebut.
(-) Penetapan RDTR Kecamatan Bojong
menjadi Perda yang terburu-buru
mengakibatkan terjadinya akselerasi proyek
yang menjadikan waktu pelaksanaan
penyusunan menjadi lebih singkat
mengakibatkan proses penyusunan berjalan
kurang maksimal/

Sumber : Analisis Penyusun, 2014.

Dari tabel di atas dapat disimpulkan


bahwa penyusunan RDTR Kecamatan
Bojong ini telah melalui tahapan-tahapan
proses perencanaan ideal yang
sistematis yaitu melalui proses identifikasi
masalah, penentuan tujuan dan sasaran,
pengumpulan data, persiapan
perencanaan, perencaanaan programprogram dan implementasi perencanaan,
evaluasi dampak, review dan pesetujuan
perencanaan serta review dan
persetujuan pelaksanaan perencanaan.
Namun pelibatan masyarakat tidak
sepenuhnya terlihat. Beberapa FGD yang
telah dilakukan sebagian besar hanya
dihadiri oleh perwakilan kepala desa dan
sebagian tokoh masyarakat saja. Tetapi
hal tersebut sudah cukup baik sebagai
awal pelibatan masyarakat dalam
pembuatan rencana detail tata ruang
kecamatan Bojong.Tim penyusun juga
telah melakukan kerja sama yang baik
dengan dinas-dinas terkait guna
memperoleh data dan gambaran kondisi
eksisting. Proses ini cukup baik
mengingat rencana ini dibuat untuk
mengatur ruang di wilayah Kecamatan
Bojong, sehingga dinas-dinas terkait
yang mengetahui kondisi eksisting
Kecamatan Bojong secara langsung
dapat ikut serta dalam proses
perencanaan RDTR ini.
IV.

LESSON LEARNED

Dalam pelaksanaan perencanaan,


perlu dilakukan 4 tahapan utama yaitu
perencanaan (planning), pelaksanaan
(actuating), pengorganisasian tenaga
pendukung (organizing) Dengan
demikian suatu proyek dapat berjalan
dengan baik dan sistematis agar tujuan
proyek tersebut dapat tercapai dan
sesuai dengan Kerangka Acuan Kerja
(KAK) yang telah diberikan.
Proses penyusunan laporan
RDTR Kecamatan Bojong secara
keseluruhan sudah tergorganisasi
dengan baik. Proses perencanaan adalah
serangkaian kegiatan yang terstruktur,
sistematis dan berurutan yang bertujuan
menghasilkan output yang sesuai tujuan.
Di dalam proses perencanaan terdapat
komponen dasar yaitu input, proses, dan
ouput, yang mana input merupakan
sesuatu yang diberikan pada proses agar
proses dapat berlangsung sesuai dengan
sasaran. Pada tahapan ini lebih pada
identifikasi kondisi eksisting seperti
tujuan, sasaran proyek tersebut. Tahapan
selanjutnya adalah proses yang di
dalamnya terdapat kegiatan yang
sistematis dan berurutan serta adanya
pengolahan data. Dalam tahap ini, proses
analisis data dilakukan dengan mengkaji
suatu potensi dan masalah serta analisis
spasial. Sedangkan outputnya adalah
hasil produk akhir dari proses yang
dihasilkan dari serangkaian kegiatan
11

setelah mendapatkan input. Hasil dari


output ini lebih bersifat praktis seperti
rencana program, indikasi kegiatan dan
rencana tindak.
Dalam penentuan isu, tim
penyusun berusaha menggunakan data
yang terbaru. Hanya saja terdapat
kendala dalam proses kompilasi data
karena tidak adanya data time series dan
data tahun terbaru, selain itu juga
terdapat data yang tidak valid. Pada saat
kompilasi data, data kependudukan dan
data persebaran fasilitas kurang lengkap,
sehingga menyulitkan praktikan dalam
kompilasi data dan melakukan proyeksi
kependudukan dan proyeksi lainnnya.
1. Manfaat Kerja Praktek
Kerja Praktek merupakan suatu
langkah dalam menyiapkan mahasiswa
untuk mengetahui bagaimana dunia kerja
di bidang perencanaan yang sebenarnya.
Dari Kerja Praktek, praktikan
memperoleh perlajaran bagaimana harus
menyelesaikan sebuah proyek
perencanaan dengan melalui setiap
proses. Di sini praktikan mengikuti setiap
detail proyek mulai dari tahap persiapan
hingga tahap finishing. Hal itu
memberikan pelajaran soft skill dalam
dunia kerja, baik itu dalam berkomunikasi
dengan birokrasi, komunikasi antar
individu dalam suatu tim, bekerjasama
dengan baik, profesional dalam
mengerjakan setiap tugas, dan
menerapkan semua ilmu yang telah
dipelajari dalam pembuatan RDTR
Kecamatan Bojong.
2. Saran Bagi Kegiatan Praktek
Perencanaan
Dalam suatu perencanaan
dibutuhkan suatu kritik dan saran yang
membangun guna memperbaiki dan
menyempurnakan kegiatan perencanaan.
Saran dan kritik ini bukan hanya ditujukan
kepada praktikan namun juga kepada
instansi kerja praktek. Saran untuk
Instansi Kerja Praktek (IKP) dan
praktikan adalah sebagai berikut:
a. Saran untuk Instansi Kerja Praktek
Berdasarkan pengalaman
mengikuti kerja praktek, Instansi Kerja
Praktek perlu sesering mungkin
mengadakan rapat koordinasi guna
membangun koordinasi yang baik antara
tenaga ahli dan tim penyusun. Hal ini

dikarenakan kurangnya koordianasi yang


baik yang m,enjadikan hambatan dalam
penyusunan RDTR, karena sering
terjadinya kesalahapahaman yang tentu
saja akan membuang waktu.
Selain itu perlu adanya
penambahan tenaga ahli yang kompeten
sehingga tidak perlu mencari tenaga ahli
dari luar, sehingga dapoat
mengefisiensikan waktu dan biaya. Hal
lain yang dapat ditambahkan, kegiatan
survei lapangan yang dilakukan
sebaiknya tidak hanya sekali dua kali
namun beberapa kali, hal ini dilakukan
supaya penyusun dapat memahami
kondisi dan permasalahan secara
mendalam.
b. Saran untuk Praktikan
Sebagai calon praktikan,
seyogyanya sudah mengetahui
pengalaman yang pernah dilakukan oleh
konsultan di instansi yang akan dijadikan
tempat kerja praktek. Hal ini tentunya
dapat memudahkan calon praktikan
memperoleh tempat kerja praktek yang
cocok, baik dan sesuai untuk praktikan.
Selain itu dengan memahami personal
konsultan tersebut, dapat memudahkan
dalam melakukan koordinasi. Saran
selanjutnya adalah ketika memahami
KAK, pahamilah secara mendalam
berdasarkan pengetahuan teoritis yang
telah dimiliki sebagai bekal dalam
pelaksanaan proyek dari suatu
proyek.Hal ini tentunya bertujuan agar
tidak terjadi kesalahan persepsi dalam
melaksanakan proyek dan memudahkan
praktikan dalam melaksanakan jobdesk
yang diberikan..disarankan untuk tetap
bersikap profesional dalam bekerja agar
pencitraan diri dan almamater PWK
UNDIP mendapat penilaian yang bagus
di mata luar, khususnya di instansi
tempat melakukan kerja praktek. Selain
itu, calon praktikan diharapkan mampu
beradaptasi dengan lingkungan baru dan
bersikap akrab dengan orang-orang yang
ada di kantor sehinggamempermudah
pekerjaan karena akan meningkatkan
kenyamanan saat bekerja di kantor.
Calon praktikan juga sebaiknya bersikap
aktif dan tidak malu dalam menanyakan
hal-hal yang tidak dimengerti baik secara
administratif maupun substansi pekerjaan
12

yang ditugaskan sehingga dapat banyak


memperoleh ilmu dari kondisi tersebut.
3.
Kesimpulan
Dari hasil tinjauan kritis terhadap proyek
penyusunan RDTR Kecamatan Bojong
Kabupaten Pekalongan, dapat
disimpulkan :
a. Proses Perencanaan
Dilihat dari sudut proses
perencanaan, penyusunan RDTR
Kecamatan Bojong telah berjalan secara
sistematis dan terstruktur, selain itu
dalam perencanaan ini juga telah
mencakup input,proses dan output.
b. Metode Perencanaan
Dalam perencanaan penyusunan
RDTR Kecamatan Bojong ini terdapat
metode pengumpulan data dan metode
analisis data. Metode pengumpulan data
primer yaitu dengan wawancara dan
observasi dapat berjalan dengan baik,
hanya waktu yang minim dirasa dangat
kurang bagi penyusun memahami kondisi
setempat. Sedangkan pengumpulan data
sekunder melalui instansi terkait dirasa
cukup baik, walaupun beberapa data
yang didapat dari BPS banyak yang
kurang valid. Untuk menanggulangai hal
tersebut , maka diperlukan :
Koordinasi dan pembagian tugas
yang jelas dalam kerja tim sehingga
adanya sinkronisasi sehingga data
yang dihasilkan sesuai dengan
kebutuhan dan untuk meminimalisir
kesalahan dan dapat
mengoptimalkan waktu.
Tenaga ahli yang kompeten mampu
bertanggung jawab atas pekerjaan
yang menjadi bagiannya.
Substansi-substansi yang terdapat
dalam masing-masing laporan
harus disesuaikan dengan
ketentuan yang telah ditetapkan
dan sesuai dengan indikator yang
telah ditetapkan sesuai dengan
sasaran.
Ketersediaan data yang lengkap
dan akurat sangat diperlukan untuk
mendukung analisis-analisis yang
digunakan.
Pemahaman terhadap wilayah
perencanaan diperlukan dalam
melakukan analisis dan penetapan
rencana.

V. UCAPAN TERIMA KASIH


Penyusun ingin mengucapkan
terima kasih kepada pihak yang berperan
dalam penyusunan laporan ini.
1. Kedua Orang tua dan kedua kakak
yang selalu mendukung dan
memberikan semangat selama proses
kerja praktek dan pengerjaan laporan.
2. Bapak Anang Wahyu Sejati, ST.MT.
selaku dosen pembimbing Kerja
Praktek yang telah memberikan
bimbingan dalam penyusunan laporan
ini.
3. Bapak Widjonarko, ST, MT selaku
dosen koordinator Kerja Praktek yang
telah memberikan masukan dalam
penyusunan laporan.
4. Ibu Erma Novita Sari, ST. selaku
pembimbing CV Piramida Kreasi
Mandiri dan Direktur CV Piramida
Kreasi Mandiri Ir. Sumardiyanto,MT.
serta seluruh tenaga ahli pelaksaan
proyek RDTR Kecamatan Bojong
5. Eka Adhitya H selaku partner kerja
praktek yang telah membantu selama
pelaksanaan kerja praktek.
6. Sahabat-sahabat yang telah memberi
masukan dan semangat selama
pengerjaan laporan.
7. Teman-teman angkatan 2010 sebagai
teman seperjuangan pelaksanaan
kerja praktek.
8. Semua pihak yang telah memberikan
bantuan dalam penyusunan laporan.
VI. DAFTAR PUSTAKA
Anderson, L. T. (1995). Guidelines for
Preparing Urban Plans (pp. 613).
USA.
Barnett, J., Yaro, R. D., & K.Wright, T.
(1997). Cities In Our Future. (R.
Geddes, Ed.) (pp. 115144). USA.
CV Piramida Kreasi Mandiri. 2013.
Kerangka Acuan Kerja Penyusunan
Rencana Detail Tata Ruang dan
Peraturan Zonasi Perkotaan
13

Kecamatan Bojong Semarang: Tidak


diterbitkan.
Darmawan,

E.

(2003).

Teori

dan

Implementasi Perancangan Kota


(1st ed.). Semarang.
Direktorat Jenderal Penataan Ruang
Dinas Pekerjaan Umum. 2011.
Pedoman Rencana Detail Tata
Ruang Kota.
Keputusan Menteri Permkiman dan
Prasarana Wilayah Nomor
327/KPTS/M/2002 tentang

Penetapan 6 Pedoman Bidang


Penataan Ruang.
Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun
2010 tentang Penyelenggaraan
Penataan Ruang (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2010
Nomor 21, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor
5103).
Peraturan Daerah Kabupaten
Pekalongan Nomor 2 Tahun 2011
tentang Rencana Tata Ruang
Wilayah Kabupaten Pekalongan
Tahun 2011-2031.

14