Anda di halaman 1dari 15

ASKEP MIOMA UTERI

LAPORAN PENDAHULUAN
MIOMA UTERI
I. KONSEP MEDIK
A. Pengertian
Mioma uteri adalah neoplasma yang berasal dari otot uterus dan jaringan ikat yang
menumpangnya sehingga dapat disebut juga leiomioma, fibromioma, atau fibroid. (Ilmu
Kandungan, 1999)
B. Etiologi
Sampai saat ini belum diketahui penyebab pasti mioma uteri dan diduga merupakan
penyakit multifaktorial. Dipercayai bahwa mioma merupakan sebuah tumor monoklonal yang
dihasilkan dari mutasi somatik dari sebuah sel neoplastik tunggal. Sel-sel tumor mempunyai
abnormalitas kromosom, khususnya pada kromosom lengan. Faktor-faktor yang mempengaruhi
pertumbuhan tumor, di samping faktor predisposisi genetik, adalah estrogen, progesteron dan
human growth hormone.
1.

Estrogen
Mioma uteri dijumpai setelah menarke. Seringkali terdapat pertumbuhan tumor yang cepat

selama kehamilan dan terapi estrogen eksogen. Mioma uteri akan mengecil pada saat menopause
dan pengangkatan ovarium. Adanya hubungan dengan kelainan lainnya yang tergantung estrogen
seperti endometriosis (50%), perubahan fibrosistik dari payudara (14,8%), adenomyosis (16,5%)
dan hiperplasia endometrium (9,3%).Mioma uteri banyak ditemukan bersamaan dengan
anovulasi ovarium dan wanita dengan sterilitas. 17B hidroxydesidrogenase: enzim ini mengubah
estradiol (sebuah estrogen kuat) menjadi estron (estrogen lemah). Aktivitas enzim ini berkurang
pada jaringan miomatous, yang juga mempunyai jumlah reseptor estrogen yang lebih banyak
daripada miometrium normal.

2.

Progesteron
Progesteron merupakan antagonis natural dari estrogen. Progesteron menghambat

pertumbuhan tumor dengan dua cara yaitu: mengaktifkan 17B hidroxydesidrogenase dan
menurunkan jumlah reseptor estrogen pada tumor.
3.

Hormon pertumbuhan
Level hormon pertumbuhan menurun selama kehamilan, tetapi hormon yang mempunyai

struktur dan aktivitas biologik serupa yaitu HPL, terlihat pada periode ini, memberi kesan bahwa
pertumbuhan yang cepat dari leiomioma selama kehamilan mingkin merupakan hasil dari aksi
sinergistik antara HPL dan Estrogen.
Dalam Jeffcoates Principles of Gynecology, ada beberapa faktor yang diduga kuat sebagai
faktor predisposisi terjadinya mioma uteri, yaitu:
1. Umur :
Mioma uteri jarang terjadi pada usia kurang dari 20 tahun, ditemukan sekitar 10% pada wanita
berusia lebih dari 40 tahun. Tumor ini paling sering memberikan gejala klinis antara 35 45
tahun.
2. Paritas :
Lebih sering terjadi pada nullipara atau pada wanirta yang relatif infertil, tetapi sampai saat ini
belum diketahui apakan infertilitas menyebabkan mioma uteri atau sebaliknya mioma uteri yang
menyebabkan infertilitas, atau apakah kedua keadaan ini saling mempengaruhi.
3. Faktor ras dan genetik :
Pada wanita ras tertentu, khususnya wanita berkulit hitam, angka kejadian mioma uteri tinggi.
Terlepas dari faktor ras, kejadian tumor ini tinggi pada wanita dengan riwayat keluarga ada yang
menderita mioma.
4. Fungsi ovarium :
Diperkirakan ada korelasi antara hormon estrogen dengan pertumbuhan mioma, dimana mioma
uteri muncul setelah menarke, berkembang setelah kehamilan dan mengalami regresi setelah
menopause. Pemberian agonis GnRH dalam waktu lama sehingga terjadi hipoestrogenik dapat
mengurangi ukuran mioma. Efek estrogen pada pertumbuhan mioma mungkin berhubungan
dengan respon mediasi oleh estrogen terhadap reseptor dan faktor pertumbuhan lain. Terdapat
bukti peningkatan produksi reseptor progesteron, faktor pertumbuhan epidermal dan insulin-like

growth factor yang distimulasi oleh estrogen. Anderson dkk, telah mendemonstrasikan
munculnya gen yang distimulasi oleh estrogen lebih banyak pada mioma daripada miometrium
normal dan mungkin penting pada perkembangan mioma. Namun bukti-bukti masih kurang
meyakinkan karena tumor ini tidak mengalami regresi yang bermakna setelah menopause
sebagaimana yang disangka. Lebih daripada itu tumor ini kadang-kadang berkembang setelah
menopause bahkan setelah ooforektomi bilateral pada usia dini.
C. Jenis
1. Mioma Submucosa (5%)
Tumbuhnya tepat dibawah endometrium. Paling sering menyebabkan perdarahan yang
banyak, sehingga memerlukan histerektomi, walaupun ukurannya kecil. Adanya miomia
submocosa dapat dirasakan sebagai suatu airet bump (benjolan waktu kuret). Kemungkinan
terjadi degenerasi sarcoma juga lebih besar pada jenis ini. Sering mempunyai tangkai yang
panjang sehingga menonjol melalui serviks atau vagina disebut sebagai mioma submucosa
bertangkai yang dapat menimbulkan Myomgeburt sering mengalami nekrose atau ulcerasi.
2. Interstitial atau Intramural.
Terletak pada miometrium. Kalau besar atau multipel dapat menyebabkan pembesaran
uterus dan berbenjol-benjol.
3. Subcerosa atau Subperitoneal.
Letaknya dibawah tunica serosa. Kadang-kadang vena yang ada dipermukaan pecah dan
menyebabkan perdarahan intra abdominal. Kadang-kadang mioma serosa timbul diantara dua
ligamentum latum, merupakan miomia intraligamenter yang dapat menekan ureter dan A-Iliaca.
Ada kalanya tumor ini mendapat vascularisasi yang lebih banyak dari omentum sehingga lambat
laun terlepas dari uterus. Miomia subserosa yang bertangkai dapat mengalami torsi.
D. Anatomi Mioma Uteri
Anatomi organ reproduksi wanita terdiri atas vulva, vagina, serviks (cerviks), rahim
(uterus), saluran telur (fallopian tube/tuba falopi) dan indung telur (ovary/ovarium).

a. Vulva
Vulva merupakan suatu daerah yang menyelubungi vagina. Vulva terdiri atas mons pubis, labia
(labia mayora dan labia minora), klitoris, daerah ujung luar vagina dan saluran kemih.

Mons pubis : gundukan jaringan lemak yang terdapat dibagian bawah perut, Daerah ini dapat
dikenali dengan mudah karena tertutup oleh rambut pubis. Rambut ini akan tumbuh saat seorang
gadis beranjak dewasa.

Labia: Lipatan berbentuk seperti bibir yang terletak di dasar mons pubis.Terdiri dari dua bibir,
yaitu labium mayora (bibir luar) merupakan bibir yang tebal dan besar dan labium minora (bibir
dalam), merupakan bibir yang tipis yang menjaga jalan masuk ke vagina.

Klitoris : merupakan organ kecil yang terletak pada pertemuan antara ke dua labia minora dan
dasar mons pubis. Ukurannya sebesar kacang polong, penuh dengan sel syaraf sensorik dan
pembuluh darah. Organ mungil ini sangat sensitif dan berperan besar dalam fungsi seksual.
b. Vagina
Vagina merupakan saluran yang elastis, panjangnya sekitar 8-10 cm, dan berakhir pada rahim.
Vagina dilalui oleh darah pada saat menstruasi dan merupakan jalan lahir. Karena terbentuk dari
otot, vagina bisa melebar dan menyempit. Kemampuan ini sangat hebat, terbukti pada saat
melahirkan vagina bisa melebar seukuran bayi yang melewatinya. Pada bagian ujung yang
terbuka, vagina ditutupi oleh sebuah selaput tipis yang dikenal dengan istilah selaput dara.
Bentuknya bisa berbeda-beda antara tiap wanita. Selaput ini akan robek pada saat bersanggama,
kecelakaan, masturbasi/onani yang terlalu dalam, olah raga dsb.

c. Serviks
Serviks dikenal juga dengan istilah mulut rahim. Disebut demikian karena serviks memang
merupakan bagian terdepan dari rahim yang menonjol ke dalam vagina. Sehingga berhubungan
dengan bagian vagina. Serviks memproduksi cairan berlendir (mucus). Pada sekitar waktu
ovulasi, mukus ini menjadi banyak, elastik, dan licin. Hal ini membantu spermatozoa untuk
mencapai uterus. Saluran yang berdinding tebal ini akan menipis dan membuka saat proses
persalinan dimulai.
d. Rahim (Uterus)
Uterus (rahim) merupakan organ yang memiliki peranan besar dalam reproduksi wanita, yakni
dari saat menstruasi hingga melahirkan. Bentuknya seperti buah pear, berongga, dan berotot.
Sebelum hamil beratnya 30-50 gram dengan ukuran panjang 9 cm dan lebar 6 cm kurang lebih
sebesar telur ayam kampung. Tetapi saat hamil mampu membesar dan beratnya mencapai 1000
gram.
Uterus terdiri dari 3 lapisan, yaitu:
1. Lapisan parametrium merupakan lapisan paling luar dan yang berhubungan dengan rongga
perut.
2. Lapisan myometrium merupakan lapisan yang berfungsi mendorong bayi keluar pada proses
persalinan (kontraksi)
3. Lapisan endometrium merupakan lapisan dalam rahim tempat menempelnya sel telur yang
sudah dibuahi. Lapisan ini terdiri dari lapisan kelenjar yang berisi pembuluh darah.
Setelah menstruasi permukaan dalam uterus menjadi tebal karena pengaruh hormon
estrogen. Kemudian terjadi ovulasi diikuti dengan keluarnya cairan karena pengaruh hormon
progresteron. Bila tidak terjadi pembuahan maka lapisan tadi bersama sel telur akan terlepas
(meluruh) dan keluar melalui vagina yang disebut sebagai menstruasi. Waktu antara dua
menstruasi disebut siklus menstruasi. Walaupun rata-rata periodenya datang setiap 28 hari, hal ini
dapat bervariasi pada setiap perempuan. Periode ini juga sangat tidak teratur pada 2-3 tahun
pertama mulai menstruasi.
e. Saluran Telur (oviduct/tuba fallopii)
Tuba falopii adalah organ yang dikenal dengan istilah saluran telur. Saluran telur adalah sepasang
saluran yang berada pada kanan dan kiri rahim sepanjang +10cm yang menghubungkan uterus

dengan ovarium melalui fimbria. Ujung yang satu dari tuba falopii akan bermuara di uterus
sedangkan ujung yang lain merupakan ujung bebas dan terhubung ke dalam rongga abdomen.
Ujung yang bebas berbentuk seperti umbai yang bergerak bebas. Ujung ini disebut
fimbria dan berguna untuk menangkap sel telur saat dilepaskan oleh ovarium (indung telur). Dari
fimbria, telur akan digerakkan oleh rambut-rambut halus yang terdapat di dalam saluran telur
menuju ke dalam rahim.
f. Ovarium/indung telur
Ovarium terletak pada kiri dan kanan ujung tuba (fimbria/umbai-umbai) dan terletak di
rongga panggul. Ovarium merupakan kelenjar yang memproduksi hormon estrogen dan
progresteron. Ukurannya 332 cm, tiap ovarium mengandung 150.000-200.000 folikel
primordial. Sejak pubertas setiap bulan secara bergantian ovarium melepas satu ovum dari folikel
degraaf (folikel yang telah matang), peristiwa ini disebut ovulasi.

E. Patofisiologi/pathways
Mioma memiliki reseptor estrogen yang lebih banyak dibanding miometrium normal. Teori cell
nest atau teori genitoblat membuktikan dengan pemberian estrogen ternyata menimbulkan tumor
fibromatosa yang berasal dari sel imatur. Mioma uteri terdiri dari otot polos dan jaringan yang
tersusun seperti konde diliputi pseudokapsul. Mioma uteri lebih sering ditemukan pada nulipara,
faktor keturunan juga berperan. Perubahan sekunder pada mioma uteri sebagian besar bersifaf
degeneratif karena berkurangnya aliran darah ke mioma uteri. Menurut letaknya, mioma terdiri
dari mioma submukosum, intramular dan subserosum.

Pathways:

Penyebab: belum diketahui

F. Tanda dan Gejala


Gejala yang dikeluhkan tergantung letak mioma, besarnya, perubahan sekunder, dan komplikasi.
Tanda dan gejala tersebut dapat digolongkan sebagai berikut:
1. Perdaharahan abnormal seperti dismenore, menoragi, metroragi
2.

Rasa nyeri karena gangguan sirkulasi darah pada sarang mioma yang disertai nekrosis dan
peradangan.

3.

Gejala dan tanda penekanan seperti retensio urine, hidronefrosis, hidroureter, poliuri.

4.

Abortus spontan karena distorsi rongga uterus pada mioma submukosum.

5.

Infertilitas bila sarang mioma menutup atau menekan pars interstitialis tuba.

1.
2.

G. Pemeriksaan Penunjang
USG abdominal dan transvaginal
Laparaskopi.
H. Penatalaksanaan / Terapi
1. Konservatif dengan pemeriksaan periodic.
Bila seorang wanita dengan mioma mencapai menopause, biasanya tidak mengalami keluhan,
bahkan dapat mengecil, oleh karena itu sebaiknya mioma pada wanita premenopause tanpa
gejala diobservasi saja. Bila mioma besarnya sebesar kehamilan 12-14 minggu apalagi disertai
pertumbuhan yang cepat sebaiknya segera dioperasi, walaupun tidak ada gejala atau keluhan.
Sebabnya mioma yang besar, kadang-kadang memberikan kesukaran pada operasi. Pada masa
postmenopause, mioma biasanya tidk memberikan keluhan. Tetapi bila ada pembesaran pada
masa postmenopause dicurigai kemungkinan keganasan (sarcoma).
2. Radioterapi

Hanya dilakukan pada wanita yang tidak dapat dioperasi (bedrisk patiens).
Uterus harus lebih kecil dari usia kehamilan 3 bulan.
Bukan jenis submukosa.
Tidak disertai radang pelvis atau penekanan pada rectum.
Tidak dilakukan pada wanita muda, sebab dapt menyebabkan menopause.
Jenis Radioterapi:

Radium dalam cavum uteri


X-ray pada ovaria (castrasi)
3. Operasi
Miomektomi dilakukan bila masih diinginkan keturunan. Syaratnya dilakukan kuretase dahulu,
untuk menghilangkan kemungkinan keganasan.
Kerugian:
- Melemahkan dinding uteri
- Rupture uteri pada waktu hamil
- Menyebabkan perlekatan
- Residitif
Histerektomi

Dilakukan pada: - Mioma yang besar


- Multipel
Pada wanita muda sebenarnya ditinggalkan 1 atau ke-2 ovarium, maksudnya untuk:
- Menjaga agar tidak terjadi menopause sebelum waktunya
- Menjaga gangguan coronair atau arteriosclerosis umum.
Sebaiknya dilakukan histerektomi totalis, kecuali bila keadaan tidak mengizinkan, dapat
dilakukan histerektomi supravaginalis. Untuk menjaga kemungkinan keganasan pada tupul
serviks, sebaiknya dilakukan pap smear pada waktu tertentu.
- Pemberian GnRH agonis selama 6 minggu
- Estrogen untuk pasien setelah menopause dan observasi setiap 6 bulan
I. Pengkajian primer, Identitas Klien, data fokus:
1.

Ketidak teraturan menstruasi (perdarahan abnormal)

2.

Infertilitas, anovulasi

3.

Nulipara

4.

Keterlambatan menopause

5.

Penggunaan jangka panjang obat estrogen setelah menopause.

6.

Riwayat : Obesitas, Diabetes Melitus, Hipertensi, Hiperplasi adenomatosa.

7.

Ada benjolan di perut bagian bawah dan rasa berat.


J. Pengkajian sekunder

iksaan USG

: Untuk melihat lokasi, besarnya mioma, diagnosis banding dengan kehamilan.


2. Laparaskopi : Untuk melihat lokasi, besarnya mioma uteri

K. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul


1.

Nyeri b.d. gangguan sirkulasi darah pada sarang mioma akibat nekrosis dan peradangan.

2.

Cemas b.d. Kurangnya pengetahuan tentang penyakit, prognosis dan kebutuhan pengobatan.

3.

Resiko tinggi kekurangan cairan tubuh b.d. perdarahan pervaginam berlebihan.

4.

Resiko tinggi infeksi b.d. tidak adekuat pertahanan tubuh akibat anemia.
L. Intervensi Keperawatan.

PRE OP MIOMAUTRI
1.

Nyeri b.d. gangguan sirkulasi darah pada mioma akibat nekrosis dan peradangan. Ditandai:
DO : Klien tampak gelisah, perilaku berhati-hati, ekspresi tegang, TTV.

DS

: Klien menyatakan ada benjolan di perut bagian bawah rasa berat dan terasa sakit, perut terasa
mules.

Tujuan : Nyeri berkurang setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam.


Kriteria Hasil:
-

Klien menyatakan nyeri berkurang (skala 3-5)

Klien tampak tenang, eksprei wajah rileks.

Tanda vital dalam batas normal : Suhu : 36-37 0C


N

: 80-100 x/m

RR : 16-24x/m
TD : Sistole : 100-130 mmHg
Diastole : 70-80 mmHg
Intervensi :
-

Kaji riwayat nyeri, mis : lokasi nyeri, frekuensi, durasi dan intensitas (kala 0-10) dan tindakan
pengurangan yang dilakukan.

Bantu pasien mengatur posisi senyaman mungkin.

Monitor tanda-tanda vital

Ajarkan pasien penggunaan keterampilan manajemen nyeri mis : dengan teknik relaksasi,
tertawa, mendengarkan musik dan sentuhan terapeutik.

Evaluasi/ kontrol pengurangan nyeri

Ciptakan suasana lingkungan tenang dan nyaman.

Kolaborasi untuk pemberian analgetik sesuai indikasi.

2.

Cemas b.d kurang pengetahuan tentang penyakit, prognosis, dan kebutuhan pengobatan.
Ditandai:

DO : Klien tampak gelisah, tegang, tidak kooperatif dalam mengikuti pengobatan, TTV.
DS

: Klien menyatakan takut dan tidak mengetahui tentang penyakitnya.

Tujuan : Setelah 2 x 15 tatap muka pengetahuan klien tentang penyakitnya bertambah dan cemas
berkurang.
Kriteria Hasil :

Klien mengatakan rasa cemas berkurang

Klien kooperatif terhadap prosedur/ berpartisipasi.

Klien mengerti tentang penyakitnya.

Klien tampak rileks.

Tanda-tanda vital dalam batas normal : Suhu : 36- 37 oC, Nadi : 80-100x/m, R: 16-24 x/m
TD.: Sistole: 100-130 mmHg, Diastole : 70-80 mmHg
Intervensi :

Kaji ulang tingkat pemahaman pasien tentang penyakitnya.

Tanyakan tentang pengalaman klien sendiri/ orang lain sebelumnya yang pernah mengalami
penyakit yang sama.

Dorong klien untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya

Ciptakan lingkungan tenang dan terbuka dimana pasien meraa aman unuk mendiskusikan
perasaannya.

Berikan informasi tentang penyakitnya, prognosi, dan pengobatan serta prosedur secara jelas
dan akurat.

Monitor tanda-tanda vital.

Berikan kesempatan klien untuk bertanya tentang hal-hal yang belum jelas.

Minta pasien untuk umpan balik tentang apa yang telah dijelaskan.

Libatkan orang terdekat sesuai indikasi bila memungkinkan.

3.

Resiko tinggi kekurangan volume cairan tubuh b.d. perdarahan pervaginam berlebihan.
Ditandai dengan :
DO

: adanya perdarahan pervaginam

DS

:-

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam tidak terjadi kekurangan
volume cairan tubuh.
Kriteria Hasil :
-

Tidak ditemukan tanda-tanda kekuranga cairan. Seperti turgor kulit kurang, membran mukosa
kering, demam.

Pendarahan berhenti, keluaran urine 1 cc/kg BB/jam.

Tanda-tanda vital dalam batas normal : Suhu : 36-370C, Nadi : 80 100 x/m, RR :16-24 x/m,
TD : Sistole : 100-130 mmHg, Diastole : 70-80 mmHg
Intervensi :

Kaji tanda-tanda kekurangan cairan.

Pantau masukan dan haluaran/ monitor balance cairan tiap 24 jam.

Monitor tanda-tanda vital. Evaluasi nadi perifer.

Observasi pendarahan

Anjurkan klien untuk minum + 1500-2000 ,l/hari

Kolaborasi untuk pemberian cairan parenteral dan kalau perlu transfusi sesuai indikasi,
pemeriksaan laboratorium. Hb, leko, trombo, ureum, kreatinin.

4.

Resiko tinggi infeksi b.d. pertahanan tubuh tidak adekuat akibat penurunan haemoglobin
(anemia).
DO

: Kadar Haemoglobin kurang dari normal.

DS

:-

Tujuan : Infeksi tidak terjadi setelah dilakukan tindakan perawatan selama 2x 24 jam.
Kriteria Hasil :
-

Tidak ditemukan tanda-tanda infeksi seperti rubor, color, dolor dan fungsiolesia.

Kadar haemoglobin dalam batas normal : 11-14 gr%

Pasien tidak demam/ menggigil, suhu : 36-370 C


Intervensi :

Kaji adanya tanda-tanda infeksi.

Lakukan cuci tangan yang baik sebelum tindakan keperawatan.

Gunakan teknik aseptik pada prosedur perawatan.

Monitor tanda-tanda vital dan kadar haemoglobin serta leukosit.

Anjurkan pasien untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan.

Batasi pengunjung untuk menghindari pemajanan bakteri.

Kolaborasi dengan medis untuk pemberian antibiotika.


INTRA OP MIOMA UTERI

1. Resiko tinggi kekurangan volume cairan tubuh b.d. perdarahan yang berlebihan selama tindakan
Operasi berlangsung. Ditandai dengan :
DO

:-

DS

:-

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan tidak terjadi kekurangan volume cairan
tubuh.
Kriteria Hasil :

Tidak ditemukan tanda-tanda kekuranga cairan. Seperti turgor kulit kurang, membran mukosa
kering, demam.

Pendarahan berhenti, keluaran urine 1 cc/kg BB/jam.

Tanda-tanda vital dalam batas normal : Suhu : 36-370C, Nadi : 80 100 x/m, RR :16-24 x/m,
TD : Sistole : 100-130 mmHg, Diastole : 70-80 mmHg
Intervensi :

Kaji tanda-tanda kekurangan cairan.

Pantau haluaran/ monitor balance cairan

Monitor tanda-tanda vital. Evaluasi nadi perifer.

Observasi pendarahan

Kolaborasi untuk pemberian cairan parenteral dan kalau perlu transfusi sesuai indikasi,
pemeriksaan laboratorium. Hb, leko, trombo, ureum, kreatinin.
POST OP MIOMA UTERI
1. Nyeri b.d. tindakan pasca pembedahan, jahitan
. Ditandai:
DO : Klien tampak gelisah, perilaku berhati-hati, ekspresi tegang, TTV.

DS : Klien menyatakan terasa sakit pada bekas jahitan,


Tujuan : Nyeri berkurang setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam.
Kriteria Hasil:
-

Klien menyatakan nyeri berkurang (skala 3-5)

Klien tampak tenang, eksprei wajah rileks.

Tanda vital dalam batas normal : Suhu : 36-37 0C


N

: 80-100 x/m

RR : 16-24x/m
TD : Sistole : 100-130 mmHg
Diastole : 70-80 mmHg
Intervensi :
-

Kaji riwayat nyeri, mis : lokasi nyeri, frekuensi, durasi dan intensitas (kala 0-10) dan tindakan
pengurangan yang dilakukan.

Bantu pasien mengatur posisi senyaman mungkin.

Monitor tanda-tanda vital

Ajarkan pasien penggunaan keterampilan manajemen nyeri mis : dengan teknik relaksasi,
tertawa, mendengarkan musik dan sentuhan terapeutik.

Evaluasi/ kontrol pengurangan nyeri

Ciptakan suasana lingkungan tenang dan nyaman.

Kolaborasi untuk pemberian analgetik sesuai indikasi.

DAFTAR PUSTAKA

1.

Kapita Selekta Kedokteran, 1999, Editor: Arif Mansjoer dkk, Edisi 3, Jilid 1,. Media
Aesculapius Fakultas Kedokteran UI, Jakarta.

2.

Ilmu Kandungan, 1999, Editor : Hanifa Wiknjosastro dkk, Edisi II, Cetakan 3, Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta.

3.

Doengoes Marillyn E, 1999, Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untuk Perencanaan dan
Pendokumentasian Perawatan Pasien, Alih bahasa : I Made Kariasa dan Ni Made Sumarwati,
Editor : Monica Ester, Edisi 3, EGC, Jakarta.

4.

Carpenitto Linda Jual, 2000, Asuhan Keperawatan, Edisi 2, EGC, Jakarta.