Anda di halaman 1dari 10

ILMU SOSIAL BUDAYA DASAR

WANITA DALAM OLAHRAGA

WULANDARI

1409005080

I DEWA MADE NURJA S.S.

1409005081

KELAS A

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN


UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2016

DAFTAR ISI
Cover
Kliping
Daftar isi
Kata Pengantar
BAB I
1.1 Latar Belakang
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan Penulisan
1.4 Manfaat Penulisan
BAB II
2.1 Wanita dalam Gender Berdasarkan Pandangan Masyarakat Indonesia
2.2 Wanita dan Olahraga
2.3 Solusi Bagi Kaum Wanita dalam Hal Keolahragaan
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat rahmatNYA sehingga kami dapat menyelesaikan paper dengan judul Wanita dalam Olahraga . Tidak
lupa kami mengucapkan terima kasih kepada pihak yang telah membantu terselesainya paper ini
dan para narasumber.
Semoga paper yang kami sajikan ini bisa bermanfaat dan memberikan pegetahuan baru
bagi pembaca terutama mahasiswa . Kami menyadari masih banyaknya kekurangan dalam paper
ini. Segala kritik dan saran kami harapkan demi kepentingan tulisan ini.

Denpasar, 3 Maret 2016

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Waktu sekarang ini kita seringkali mendengar tentang masalah yang berhubungan dengan
gender. Contohnya tentang KDRT, emansipasi wanita, kesetaraan gender, kekerasan terhadap
anak, pelecehan seksual, dan kasus-kasus lainnya.
Kali ini kelompok kami mengangkat tentang kesetaraan gender antara laki-laki dan
perempuan dalam hal olahraga. Yang kasusnya kami dapatkan pada koran Bali Post, 3
Februari 2016. Pada koran ini dibahas mengenai Puspita Sari seorang karateka yang akan
mengikuti Kejurnas Inkai di Semarang. dan telah menyandang banyak medali.
Dari masalah ini dapat kita lihat bahwa yang dulunya wanita selalu diidentikkan dengan
gender dengan yang tersudutkan dengan fisik yang lebih lemah dan dianggap kodratnya
hanya melayani suami saja. Wanita pada waktu dulu sulit sekali mendapatkan hak dan
kesempatan yang sama dengan kaum pria. Seringkali kaum wanita dianggap lebih rendah
dari pada kaum pria.
Jika dalam hal olahraga, hal maskulin satu ini dulu dianggap tidak pantas untuk dilakukan
oleh wanita. Karena memang kebanyakan wanita yang menyukai olahraga atau menekuni
olahraga memiliki kepribadian yang setidaknya sedikit lebih tomboy. Bagi orang zaman dulu
wanita haruslah tampak feminime, lembut, dan sopan.
Namun saat ini pandangan masyarakat akan kesetaraan wanita dan pria telah berubah.
Telah banyak pihak yang telah dapat memahami bahwa pria dan wanita memang seharusnya
memiliki kesempatan dan hak yang sama. Dengan adanya pergeseran zaman maka
pandangan akan wanita dan olahraga pun berubah. Jika dulu hanya kaum lelaki yang
menekuni bidang olahraga tapi kini kaum wanita pun juga sudah turut serta. Orang-orang
juga telah biasa dengan wanita yang memiliki sisi maskulin.
Bahkan wanita yang memiliki karier atau keunggulan dalam bidang olahraga dianggap
memiliki nilai lebih atau bisa dibilang banyak dikagumi oleh orang. Meskipun ada beberapa
tempat, budaya, dan agama yang menganggap hal ini kurang pantas.
Berdasarkan penjelasan diatas kelompok kami tertarik untuk membahas tentang wanita
dalam olahraga. Perkembangannya dari dulu hingga sekarang yang memang telah berubah.

1.2 RUMUSAN MASALAH


1. Bagaimana posisi wanita di dalam gender dalam pandangan masyarakat Indonesia?
2. Bagaimana perkembangan wanita dalam bidang olahraga sekarang ini?
3. Bagaimana solusi yang diberikan?
1.3 TUJUAN PENULISAN
1. Mengetahui dan memahami posisi wanita di dalam gender berdasarkan pandangan
masyarakat Indonesia.
2. Mengetahui dan memahami perkembangan wanita dalam bidang olahraga sekarang
ini.
3. Mengetahui dan memahami solusi bagi kaum wanita dalam menghadapi perbedaan
gender dan pandangan yang diberikan masyarakat
1.4 MANFAAT PENULISAN
Diharapkan tulisan ini dapat menjadi bacaan yang relevan bagi orang secara umum
sebagai informasi maupun bagi mahasiswa sebagai sumber referensi dan tambahan
informasi.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Wanita dalam Gender Berdasarkan Pandangan Masyarakat Indonesia
Gender adalah perbedaan peran, fungsi, dan tanggungjawab antara
laki-laki dan perempuan yang merupakan hasil konstruksi sosial dan
dapat berubah sesuai dengan perkembangan zaman.
Di Indonesia ataupun Negara yang kurang berkembang, kesenjangan
antar gender adalah hal yang nyata terjadi. Faktor penyebab kesenjangan gender
yaitu Tata nilai sosial budaya masyarakat, umumnya lebih mengutamakan laki-laki daripada
perempuan (ideology patriarki); Peraturan perundang-undangan masih berpihak pada salah
satu jenis kelamin dengan kata lain belum mencerminkan kesetaraan gender; Penafsiran
ajaran agama yang kurang komprehensif atau cenderung tekstual kurang kontekstual,
cenderung dipahami parsial kurang kholistik; Kemampuan, kemauan dan kesiapan
perempuan sendiri untuk merubah keadaan secara konsisten dan konsekwen; Rendahnya
pemahaman para pengambil keputusan di eksekutif, yudikatif, legislatif terhadap arti, tujuan,
dan arah pembangunan yang responsif gender.
Berbagai pembedaan peran, fungsi, tugas dan tanggung jawab serta kedudukan antara
laki-laki dan perempuan baik secara langsung maupun tidak langsung, dan dampak suatu
peraturan perundang-undangan maupun kebijakan telah menimbulkan berbagai ketidakadilan
karena telah berakar dalam adat, norma ataupun struktur masyarakat. Gender masih diartikan
oleh masyarakat sebagai perbedaan jenis kelamin. Masyarakat belum memahami bahwa
gender adalah suatu konstruksi budaya tentang peran fungsi dan tanggung jawab sosial antara
laki-laki dan perempuan. Kondisi demikian mengakibatkan kesenjangan peran sosial dan
tanggung jawab sehingga terjadi diskriminasi, terhadap laki-laki dan perempuan. Hanya saja
bila dibandingkan, diskriminasi terhadap perempuan kurang menguntungkan dibandingkan
laki-laki.
Adanya kesenjangan pada kondisi dan posisi laki-laki dan perempuan menyebabkan
perempuan belum dapat menjadi mitra kerja aktif laki-laki dalam mengatasi masalah-masalah
sosial, ekonomi dan politik yang diarahkan pada pemerataan pembangunan. Selain itu

rendahnya kualitas perempuan turut mempengaruhi kualitas generasi penerusnya, mengingat


mereka mempunyai peran reproduksi yang sangat berperan dalam mengembangkan sumber
daya manusia masa depan.
Pada hakikatnya perempuan pun mempunyai hak yang sama. Namun,
sampai saat ini perempuan sering dianggap sebagai sosok pelengkap.
Ketidakadilan gender ini sering terjadi dalam keluarga dan masyarakat,
bahkan dalam dunia pekerjaan pun terjadi diskriminatif atau ketidakadilan
gender dalam berbagai bentuk.

2.2 Wanita dan Olahraga


Pergulatan wacana mengenai kesetaraan gender senantiasa hangat untuk dibicarakan,
begitu pula dengan yang mengemuka di dunia olahraga, dikarenakan sampai saat ini olahraga
senantiasa dipahami terkait erat dengan tradisi maskulin.
Sudah sejak lama olahraga dianggap hanya milik kaum maskulin. Messner (1987) dalam
Maguire, et al (2002: 203) mengatakan bahwa Sport became described as masculinityvalidating experience. Begitu juga yang diungkap oleh Burgess, Edwards, dan Skinner
(2003: 200) bahwa sport now indelibly connected to hegemonic masculinity . Olahraga
merupakan aktivitas keras dengan dominasi fisik yang begitu besar.
Dalam dunia olahraga ketimpangan ini menyebabkan terjadinya ketidakmerataan
kesempatan. Wanita hanya dijadikan sebagai faktor pendukung yang keberadaannya bukan
prioritas, bukan yang utama. Misalnya dalam beberapa kasus olahraga profesional, wanita
hanya sebagai objek pelengkap seperti umbrella girls di otomotif sports, atau pemandu sorak
dalam beberapa olahraga. Selain karena ketimpangan gender, kekuatan fisik yang dimiliki
wanita juga lebih rendah daripada kaum pria.
Aktivitas jasmani yang dilakukan para wanita telah mengubah image feminitas melalui
pengembangan kompetensi dan kekuatan fisik. Perubahan yang paling dramatis dalam dunia
olahraga adalah meningkatnya partisipasi kaum wanita. Kesadaran ini membuat kaum wanita
mencari kesempatan untuk berlatih dan berolahraga.

Namun saat ini dengan adanya kebijakan pemerintah kesempatan untuk berkembang bagi
kaum wanita kini semakin terbuka lebar. Sehingga olahraga menjadi suatu arena pembuktian
wanita untuk ikut berpartisipasi mencapai prestasi. Selain dukungan pemerintah, kaum
wanita juga saat ini lebih tertarik dengan olahraga-olahraga yang dulunya dianggap hanya
dapat dilakukan oleh kaum pria. Bahkan atlet perempuan bahkan dapat mengukir prestasi
yang sama gemilangnya dengan kaum pria. Wanita yang berpartisipasi dalam olahraga kian
hari kian meningkat.
Berikut ini nama-nama atlet wanita Indonesia yang telah mengukir prestasi luar biasa:

Irene Kharisma Sukandar ( Grand Master Catur Putri asal Indonesia)


Susi Susanti ( Atlet Bulu Tangkis )
Yayuk Basuki ( Petenis)
Lisa Rumbewas ( atlet angkat besi )
Linswell Kwok (atlet wushu )
Lis Andriana ( atlet paralayang )
Sri Hartati ( atlet angkat besi)
Lilyana Natsir ( pebulu tangkis)
2.3 Solusi Bagi Kaum Wanita dalam Hal Keolahragaan
Pada saat ini wanita dan olahraga bukan hal yang asing lagi. Diberlakukannya Undang-

undang Perlindungan wanita dari kekerasan yang ditimbulkan oleh pihak lain, menjamurnya
Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang berorientasi pada kesejahteraan wanita menjadi
faktor yang membuat partisipasi wanita dalam hal keolahragaan semakin meningkat dan semakin
dipermudah.
Kaum wanita dulunya tidak ikut ambil bagian dalam kegiatan olahraga karena satu alasan yang
sangat sederhana, yakni tidak adanya perkumpulan dan program yang tersdia untuk mereka. kegiatan
olahraga sudah mulai menarik kaum wanita, terutama kaum remaja putri. Kesadaran akan adanya
kesempatan baru yang cukup menantang ini semakin mengundang kehadiran para remaja putri untuk
turut mengambil bagian dalam kegiatan olahraga disekolah. Dan tentunya hal ini semakin
mempermudah kaum wanita dalam ikut berpatisipasi.
Kelemahan wanita dibandingkan pria dalam hal kekuatan fisik dapat diatasi dengan latihan.
Karena dengan latihan fisik yang teratur, wanita bahkan dapat melebihi kekuatan fisik kaum pria.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Gender adalah perbedaan peran, fungsi, dan tanggungjawab antara lakilaki dan perempuan yang merupakan hasil konstruksi sosial dan dapat
berubah sesuai dengan perkembangan zaman.
Kaum wanita sering mendapatkan diskriminasi dibandingkan kaum pria.
Diposisikan pada sebagai orang lemah dan lebih tidak mampu. Dalam hal
keolahragaan sendiri, wanita baru-baru ini telah mengukir banyak prestasi.
Jika dulu kaum wanita dianggap tidak dapat melakukan olahraga berat
karena kelemahan fisiknya. Dan olahraga sendiri dianggap adalah hal
maskulin yang tidak cocok untuk wanita. Tidak untuk saat ini. Semakin
banyak pula wanita yang tertarik untuk terjun sebagai atlet.
Selain dari wanita itu sendiri yang semakin percaya diri akan kekuatannya
dan kemampuannya di bidang olahraga, pemerintah dan lembaga lainnya
seperti LSM maupun dekolah ikut berperan dalam hal keolahragaan bagi
wanita.
Saat ini kesetaraan gender dalam hal keolahragaan mulai dirasakan.

DAFTAR PUSTAKA
http://fentimustaotinah03.blogspot.co.id/2015/04/kesetaraan-gender_28.html
http://amanimidwife.blogspot.co.id/2014/03/makalah-kesetaraan-gender.html
http://pkbi-diy.info/?page_id=3498
https://yuki24.wordpress.com/2010/03/30/wanita-dalam-olahraga/