Anda di halaman 1dari 6

LAMPIRAN

KEPUTUSAN DIREKTUR RSUD


MEURAXA KOTA BANDA ACEH
NOMOR :HK.02.04/I/
TENTANG KEBIJAKAN
PENCEGAHAN DAN
PENGENDALIAN INFEKSI PADA
KONTRUKSI DAN RENOVASI
BANGUNAN DI RSUD MEURAXA
KOTA BANDA ACEH
KEBIJAKAN PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI
PADA PEKERJAAN DEMOLISI, KONTRUKSI DAN RENOVASI BANGUNAN
DI RSUD MEURAXA KOTA BANDA ACEH
I.

Kebijakan Umum
A. Konstruksi merupakan faktor risiko yang diakui untuk infeksi terkait pelayanan
kesehatan (HAIs), baik pada pasien, petugas maupun pengunjung rumah sakit.
B. Gangguan debu, infiltrasi udara luar tanpa filter, gangguan fungsi sistem
ventilasi pengaturan udara (air conditioner) dan kebocoran air yang
mengakibatkan pertumbuhan jamur yang dapat menyebabkan infeksi yang
mengancam jiwa dan mematikan seperti Aspegillus, Fusarium, Scedosporium,
zygomycetes, dan soil-borne bacteria seperti Nocardia.
C. Gangguan sistem penyaluran air dapat mengakibatkan infeksi dari bakteri yang
ditularkan melalui air seperti Legionella.
D. Suatu usulan untuk pekerjaan Kontruksi Bangunan di lingkungan RSUD
Meuraxa Kota Banda Aceh yang akan diajukan kepada Direktur RSUD Meuraxa
Kota Banda Aceh harus disertai tembusan kepada Ketua Komite Pencegahan
dan Pengendalian Infeksi Rumah Sakit (PPIRS).
E. Ketua Komite PPIRS harus selalu dihadirkan ketika ada kegiatan pembahasan
mengenai perencanaan pekerjaan konstruksi bangunan yang akan dilaksanakan
di RSUD Meuraxa Kota Banda Aceh.
F. Suatu rancangan atau kerangka acuan kegiatan untuk Pekerjaan Kontruksi yang
telah disahkan belum dapat dimulai sebelum memperoleh surat perintah
melakukan pekerjaan dan surat izin memasuki area pekerjaan.
G. Surat perintah melakukan pekerjaan dan surat izin memasuki area pekerjaan
harus mempertimbangkan hasil penilaian resiko/Infection Control Risk
Assesment (ICRA) dan rekomendasi yang dikeluarkan oleh komite PPIRS
RSUD Meuraxa Kota Banda Aceh sesuai dengan jenis pekerjaan konstruksi
bangunan yang akan dilakukan terutama untuk kegiatan kelas III dan IV.
H. Selama pelaksanaan pembangunan dan renovasi Direktur RSUD Meuraxa Kota
Banda Aceh menunjuk salah seorang Perawat Pencegahan & Pengendalian
Infeksi (IPCN) menjadi salah satu dalam Tim Pengawasan Teknis pekerjaan
tersebut.
I. Tim PPIRS melalui IPCN melakukan pemeriksaan terhadap jalannya upaya
pengurangan resiko infeksi sesuai rekomendasi Komite PPIRS, menggunakan
formulir observasi dan catatan narasi setiap kali kunjungan.
J. IPCN memastikan bahwa:
1. Rambu-rambu dan tanda peringatan dipasang secara yang tepat yang
mengatur agar lalu lintas publik pejalan kaki terpisah dengan lalu-lintas kru
dan material bangunan.
2. Terpasang penanda batas zona konstruksi
3. Terdapat fasilitas toilet dan mencuci tangan bagi pekerja konstruksi

4. Terpasang dinding pembatas antara daerah konstruksi dan daerah


perawatan pasien yang bersebelahan yang terbuat dari bahan yang kuat
ketinggian minimal 1,8 meter atau terdapat pita pembatas yang
mengindikasikan bahwa akses terbatas.
5. Puing bangunan dibuang ke tempat sampah dengan sistem tertutup rapat
pengangkutan mematuhi lalu lintas yang ditentukan.
6. Membasahi bawah tanah di lokasi konstruksi secara berkala untuk
meminimalkan debu berterbangan
7. Penutupan atau pengisolasian sistem HVAC antara area konstruksi dan area
lain pada daerah yang menggunakan sistem HVAC sentral dan
pengembalian sistem setelah semua pekerjaan selesai
8. Pola aliran udara untuk meminimalkan penyebaran debu dimana filter
ventilasi diperiksa terhadap sumbatan atau kebocoran selama dan setelah
selesainya bangunan dan konstruksi, untuk memastikan bahwa tidak ada
resirkulasi udara dari bangunan dan konstruksi daerah ke seluruh rumah
sakit.
9. Setelah menyelesaikan kegiatan pembangunan, konstruksi, atau
pembongkaran, harus dilakukan pembersihan awal tempat tersebut oleh
kontraktor pelaksana atau petugas cleaning service dan memastikan bahwa
semua puing-puing, debu dan kotoran telah diangkat.
10. Setelah tingkat kebersihan memuaskan, Komite PPIRS menerbitkan
rekomendasi tertulis dan menginformasikan manajer terkait bahwa tempat
atau bangunan tersebut sudah layak digunakan untuk bekerja.
II.

Kebijakan khusus
A. Penilaian Resiko/Infection Control Risk Assesment (ICRA)
1. Tim Pengawas Teknis Proyek terlebih dahulu harus melengkapi pengisian
matrix awal pada formulir penilaian resiko infeksi/ICRA yang pekerjaan
demolisi/perombakan atau pembangunan konstruksi baru atau renovasi yang
memakai jasa pihak ketiga (proyek). Sedangkan bagi pekerjan swakelola,
matrix awal pada formulir penilaian resiko infeksi/ICRA diisi oleh Kepala
Instalasi Pemeliharaan Sarana Non Medik segera setelah rancangan
pekerjaan disahkan. Kemudian formulir ICRA yang telah diisi disampaikan
kepada Ketua Komite PPIRS
sebagai bahan pertimbangan untuk
menerbitkan rekomendasi.
2. Proses pengisian matrix diawali dengan menentukan Jenis/tipe Konstruksi
sebagaiberikut:
Tipe A
Kegiatan inspeksi dan non-invasif: Ini termasuk, namun tidak terbatas pada
kegiatan yang memerlukan pembongkaran plafon atau langit-langit untuk
inspeksi visual (maksimal 60 cm2 dalam area 15 m2), pengecatan tetapi
tidak pengamplasan, pekerjaan pelapisan dinding (wall covering), pekerjaan
listrik, pekerjaan perbaikan pipa kecil yang mengganggu pasokan air ke
daerah perawatan pasien lokal [misalnya satu ruangan] dengan durasi
kurang dari 15 menit, pekerjaan mengakses saluran lantai, dan kegiatan
pemeliharaan lainnya yang tidak menghasilkan debu atau memerlukan
pembongkaran dinding atau akses ke langit-langit selain untuk pemeriksaan
visual.
Tipe B
Pekerjaan skala kecil, aktivitas durasi pendek yang membuat debu minimal.
Ini termasuk, tetapi tidak terbatas pada kegiatan yang membutuhkan akses
ke ruang saluran, pemotongan dinding atau langit-langit di mana migrasi
debu dapat dikontrol seperti pekerjaan instalasi atau perbaikan listrik skala
kecil, pekerjaan komponen ventilasi, pekerjaan kabel telepon atau kabel

komputer, dan pengamplasan pengecatan dinding atau pemasangan lapisan


penutup dinding (wall covering) skala kecil. Ini juga mencakup pekerjaan
pipa yang menimbulkan gangguan terhadap pasokan air lebih dari satu
perawatan pasien daerah (> dua kamar) untuk pekerjaan yang kurang dari
30 menit.
Tipe C
Setiap pekerjaan yang menghasilkan debu moderat sampai tingkat tinggi
atau memerlukan pembongkaran atau penghapusan komponen bangunan
utama atau pekerjaan bongkar-pasang/perakitan bangunan seperti counter
tops, lemari, dan sink. Ini termasuk, namun tidak terbatas pada kegiatan
yang pengamplasan dinding untuk pengecatan atau pemasangan pelapis
dinding, pembongkaran penutup lantai, plafon/langit-langit, pekerjaan
konstruksi dinding baru, pekerjaan skala kecil terhadap saluran atau listrik di
atas plafon/langit-langit, pekerjaan kabel utama, dan kegiatan yang tidak
dapat diselesaikan dalam satu shift kerja. Hal ini juga termasuk pekerjaan
pipa yang membutuhkan gangguan terhadap pasokan air lebih dari satu
ruangan perawatan pasien (> dua kamar) selama lebih dari 30 menit tetapi
kurang dari satu jam.
Tipe D
Pekerjaan proyek pembongkaran, konstruksi dan renovasi skala besar. Ini
termasuk, namun tidak terbatas pada kegiatan yang melibatkan
pembongkaran berat atau penghapusan sistem kabel lengkap dan
pembuatan konstruksi baru yang membutuhkan shift kerja yang berturut-turut
untuk menyelesaikannya. Hal ini juga termasuk pekerjaan pipa yang
mengakibatkan gangguan terhadap pasokan air lebih dari satu ruangan
perawatan pasien (> dua kamar) selama lebih dari satu jam.
3. Kemudian, ditentukan kelompok risiko infeksi berdasarkan lokasi/daerah
pelaksanaan pekerjaan pembangunan atau renovasi yang akan dilakukan.
Kelompok satu (resiko rendah)
Area perkantoran
Area Umum/Pengunjung
Area perbengkelan/Workshop
Kelompok dua (resiko sedang)
Klinik rawat jalan (kecuali klinik bedah)
Ruangan Tata Usaha Rawat Pasien Masuk/Pulang
Laboratorium Sentral
Area pelayanan penunjang, namun tak terbatas pada:
Rehabilitasi Medik
Instalasi Gizi
Kelompok tiga (resiko sedang sampai tinggi)
Seluruh area perawatan pasien dinyatakan sebagai kelompok 3 dan 4.
Kelompok 3 meliputi, namun tak hanya terbatas pada:
Semua ruangan di Instalasi Rawat Inap kecuali yang disebutkan pada
kelompok 4
Instalasi Rawat Inap Anak
Ruangan Perawatan Geriatri
Ruangan Perawatan Jangka Panjang
Ruangan Bayi Normal
Instalasi Gawat Darurat
Sepanjang jalan/rute transportasi pasien kategori di atas.
Instalasi Radiologi dan Kedokteran Nuklir

Post anaesthesia care unit


Kamar Bersalin
Unit Rehabilitasi Pernafasan
RuanganEkokardiografi
Laboratorium klinik
klinik gigi

Kelompok keempat (Resiko Sangat Tinggi)


ICU
HCU
CVCU
Instalasi Bedah Sentral
Ruangan Anestesi
Ruangan perawatan Oncology dan Haematology
Ruangan perawatan pasien Transplantasi
Klinik VCT
Hemodialisis
Sepanjang jalan/rute transportasi pasien-pasien kategori di atas
Laboratorium Kateterisasi Jantung
Ruangan Endoskopi/ IDT
Unit Produksi Instalasi Farmasi
CSSD
Instalasi SIMRS
4. Penilaian awal dilanjutkan dengan melakukan perkalian silang antara Tipe
Konstruksi dengan Kelompok Resiko Infeksi untuk menentukan Kelas
Kewaspadaan Pengendalian Infeksi diperlukan.
Kelompok Resiko
Resiko Rendah
Resiko Sedang
Resiko Sedang-Tinggi
Resiko Sangat Tinggi

Tipe A
I
I
I
II

Tipe B
II
II
II
III

Tipe C
II
III
III/IV
III/IV

Tipe D
III/IV
IV
IV
IV

Persetujuan dan rekomendasi dari Komite PPIRS hanya diperlukan jika jenis
Konstruksi menunjukkan bahwa risiko terhadap Infeksi berada pada Kelas III
atau kelas IV. Proyek Kelas I atau II tidak akan membutuhkan persetujuan
atau rekomendasi khusus dari Komite PPIRS.
B. Izin memulai pelaksanaan Konstruksi dari Komite PPIRS
Untuk semua proyek kelas III atau IV, Tim Pengawas Teknis Proyek terlebih
dahulu harus melengkapi pengisian matrix awal pada formulir penilaian resiko
infeksi/ICRA yang pekerjaan demolisi/perombakan atau pembangunan
konstruksi baru atau renovasi yang memakai jasa pihak ketiga (proyek).
Sedangkan bagi pekerjan swakelola, matrix awal pada formulir penilaian resiko
infeksi/ICRA diisi oleh Kepala Instalasi Pemeliharaan Sarana Non Medik segera
setelah rancangan pekerjaan disahkan. Kemudian formulir ICRA yang telah diisi
disampaikan kepada Ketua Komite PPIRS sebagai bahan pertimbangan
penerbitan rekomendasi untuk disetujui.
C. Rekomendasi Pra-Konstruksi
Kegiatan berikut ini harus dilakukan oleh dan menjadi tanggungan bagi
pelaksana proyek:

1. Tentukan jalur masuk dan keluar kru pembangunan agar tidak mengganggu
area publik, staf, pasien, dan pengunjung. Jika memungkinkan buatkan jalur
khusus untuk keluar masuk kru dan material bangunan dan jalan khusus
bagi publik, staf, pasien, dan pengunjung.
2. Pasang garis penanda lantai dengan warna kuning terang yang menandakan
area terbatas zona konstruksi pada pintu masuk.
3. identifikasi jalur sistem air conditioner yang melayani area konstruksi dan
daerah lain rumah sakit, lakukan isolasi sistem dari zona konstruksi.
4. Buat sarana untuk mengisolasi area konstruksi agar tidak mengkontaminasi
area sekitar dengan melakukan pembuatan dinding/pagar pembatas
ketinggian minimal 1,8 meter dan jika memungkinkan kembangkan sistem
tekanan negatif di zona konstruksi yang memiliki filter pada saluran
pembuangan.
D. Rekomendasi Selama Konstruksi
Kegiatan berikut ini juga harus dilakukan oleh dan menjadi tanggungan bagi
pelaksana proyek:
1. Menjamin garis penanda lantai yang menandakan area terbatas zona
konstruksi pada pintu masuk ke area konstruksi selalu terpasang.
2. Memastikan bahwa semua material yang keluar dan masuk zona konstruksi
dikemas dengan aman dan terdapat sarana penampungan sampah
sementara yang tertutup dan tabung seluncuran sampah.
3. Semua bahan yang dibawa melewati area pasien, petugas dan publik rumah
sakit harus dikemas secara tertutup dan tidak ada tumpahan.
4. Memastikan bahwa kru konstruksi hanya menggunakan jalur yang ditunjuk
untuk zona konstruksi.
5. Jika kru konstruksi terpaksa harus memasuki daerah non-konstruksi untuk ke
warung atau toilet, maka disarankan terlebih dahulu memakai jas pelindung
khusus keluar dari zona konstruksi (jika ada) yang disediakan di anteroom
zona konstruksi
6. Memastikan saluran udara di zona konstruksi disegel dengan saluarn udara
zona lain untuk mencegah kontaminasi pada sistem HVAC dan sekitarnya.
7. Memastikan bahwa zona konstruksi diisolir dengan dinding pembatas atau
jika perlu dalam tekanan negatif terhadap daerah sekitarnya.
E. Pembersihan Pasca konstruksi
Kegiatan berikut ini harus dilakukan dan tetap menjadi tanggung jawab
pelaksana proyek:
1. Buang semua puing-puing dan debu yang dihasilkan pekerjaan konstruksi,
jaga agar tidak bertebaran jika memungkinkan gunakan vacuum HEPA-filter.
Bersihkan langit-langit, dinding, rongga shafts, dan utility chases yang
menjadi bagian dari proyek konstruksi.
2. Lakukan pembersihan semua permukaan di zona konstruksi: lantai, langitlangit, dinding, lemari dan furniture.
F. Peran dan Mekanisme Kerja
1. Direktur RSUD Meuraxa Kota Banda Aceh mengangkat salah satu IPCN
sebagai bagian dalam Tim Pengawas Teknis Proyek Pembangunan untuk
pekerjaan konstruksi kelas III dan IV.
2. Tim PPIRS akan melakukan penilaian setiap aspek PPI dari pekerjaan
konstruksi tersebut.
3. Pejabat Pembuat Komitmen melalui Tim Pengawasan Teknis memastikan
bahwa:
a. Mengkoordinasikan masukan para anggota dalam mengembangkan
rencana manajemen proyek yang komprehensif

b. Mencegah eksposur agen infeksi terhadap pasien, pengunjung, dan


petugas
c. Mengawasi semua aspek pengendalian infeksi dalam kegiatan konstruksi
d. Menetapkan protokol pengendalian infeksi spesifik untuk daerah khusus
e. Memberikan pendidikan tentang dampak infeksi konstruksi untuk staf dan
pekerja konstruksi
f. Memastikan kepatuhan terhadap standar teknis, ketentuan kontrak, dan
peraturan
g. Menetapkan mekanisme untuk mengatasi dan memperbaiki masalah
dengan cepat
h. Mengembangkan rencana kontingensi untuk gangguan listrik, gangguan
pasokan air, kebakaran, penundaan jangka pendek atau panjang (karena
aksi industri atau penundaan material) dan darurat
i. Merumuskan perencanaan untuk mengantisipasi gangguan pengelolaan
air (termasuk protokol pengeringan) untuk penanganan banjir, kebocoran,
dan kondensasi
Mengembangkan rencana perawatan selama serta sesudah berakhirnya
pekerjaan konstruksi.
III.

Pembinaan, Pengawasan
A. Pembinaan dan pengawasan tertinggi dilakukan oleh Dewan Direksi RSUD
Meuraxa Kota Banda Aceh melalui Komite Pencegahan dan Pengendalian
Infeksi Rumah Sakit (PPIRS).
B. Pembinaan dapat dilaksanakan antara lain melalui bimbingan teknis dan
konsultasi.
C. Pengawasan dilaksanakan dua macam, yakni pengawasan internal, yang
dilakukan oleh kepala satuan kerja/instalasi terkait atau Tim Pengawas teknis di
lingkungan RSUD Meuraxa Kota Banda Aceh, dan pengawasan eksternal, yang
dilakukan oleh Konsultan Pengawasan Pembangunan yang telah ditunjuk.

IV.

Penutup
Demikian kebijakan ini disusun agar program Pencegahan dan Pengendalian
Infeksi pada Pekerjaan Kontruksi di RSUD Meuraxa Kota Banda AceH dapat
diselenggarakan dengan baik dan menekan angka kejadian infeksi Nosokomial di
RSUD Meuraxa Kota Banda Aceh .
Ditetapkan di Banda Aceh
Pada tanggal
DIREKTUR ,

Dr. dr. Syahrul, Sp. S-K


Pembina Utama Muda
NIP. 19620202 198903 1 001