Anda di halaman 1dari 23

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Bahan Baku Pembuatan Cumene
Cumene adalah bahan kimia murni dengan nama lain isopropylbenzene, cumol,
isopropylbenzol, dan 2-phenylpropane. Bahan baku pembuatan cumene adalah propena
(propilen) dan benzena. Berikut keterangan mengenai bahan baku tersebut:
2.1.1 Propena
Propena, yang dikenal sebagai propilena atau methylethylene, merupakan senyawa
organik tak jenuh yang memiliki rumus kimia C3H6. Propena memiliki satu ikatan rangkap,
dan merupakan anggota paling sederhana kedua pada kelas hidrokarbon alkena. Propena
juga menempati urutan kedua nilai kelimpahanannya di alam. Propena memiliki rumus
empiris sama seperti siklopropana tetapi atomnya terhubung dalam cara yang berbeda,
membuat molekul-molekul isomer struktural.

Struktur Propena
Apabila ditilik dari awal mulanya, tidak ada catatan sejarah mengenai siapa yang
menemukan senyawa propena. Namun beberapa orang tercatat menemukan reaksi
pemisahan dan pembentukannya propena, yang digunakan untuk produksi masal dalam
dunia industri. Di sisi lain terdapat juga beberapa individu yang berperan dalam penamaan
hidrokarbon yang secara tidak langsung berperan dalam sejarah propena itu sendiri. August
Wilhelm von Hofmann mengusulkan penamaan hidrokarbon seperti yang sekarang ini
digunakan (penamaan IUPAC) pada tahun 1880an.
Sejarah propena lalu bergulir pada penemuan polipropilena. Sampai pada
pertengahan tahun 1950, jenis poliolefin komersial yang terkenal ada 3, yakni polietiliena,
poli-isobutilen dan isobutilena-isoprena kopolimer. Percobaan untuk menghasilkan polimer
dari jenis olefin lain tidak berhasil, karena berat molekul yang dihasilkan rendah sehingga
nilai jualnya juga rendah. Alhasil, pada tahun 1954 pencerahan diperoleh G. Nattadari
Milan. Beliau menemukan katalis Ziegler yang mampu memproduksi polimer dengan berat
molekul besar dari propilena. Dengan variasi katalis, dihasilkan berbagai jenis
polipropilena dengan variasi sifat yang berbeda- beda pula. Salah satu yang umum yakni
14

isotaktik polipropilena. Isotaktik polipropilena mulai dipasarkan Montecatini pada tahun


1957 dengan merek Moplen. Pada tahun 1970 hak paten milik Montecatini berakhir yang
mengakibatkan permintaan polipropilena meningkat tajam. Namun di tahun 1970 hingga
1980-an harga polipropilena menurun. Fenomena ini menjadi stimulus bagi berbagai
pengembangan aplikasi baru. Tercatat pada tahun 1980-an tingkat kebutuhan polipropilena
menduduki urutan ketiga, terbanyak setelah PVC dan polietilena, yaitu sebesar 3 juta ton
per tahun. Di masa kini polipropilena telah banyak digunakan untuk berbagai kebutuhan
dengan variasi produk jadinya yang beragam.
Pada 30 September 2013 NASA mengumumkan bahwa pesawat ruang angkasa
orbit Cassini yang merupakan bagian dari misi Cassini-Huygens, telah menemukan
sejumlah kecil propena alami dalam atmosfer Titan (bulan) dengan menggunakan
spektroskopi (Messer,2009).
Propena adalah produk kedua terpenting dalam industri petrokimia setelah etilena.
Propena digunakan sebagai bahan baku untuk pembuatan berbagai produk antara, produk
akhir, dan produk jadi yang banyak digunakan oleh masyarakat sehari- hari.

Skema Pohon Petrokimia Senyawa Propena


Pengolahan propena menjadi sebuah produk dasar, propilena, terdiri dari 4 tahap
besar. Tahap pertama berupa persiapan bahan baku dari minyak mentah untuk
mendapatkan monomer. Pada tahap kedua, monomer mengalami proses polimerisasi pada
produksi skala besar. Selanjutnya, hasil dari polimerisasi terbentuk menjadi resin-resin
berupa pellet/butiran. Pada tahap terakhir, produk resin yang terbentuk akan diolah lebih
lanjut untuk menjadi produk baru.
15

Pada suhu kamar dan tekanan atmosfer, propena berwujud gas, dan seperti alkena
lainnya, tidak berwarna dengan bau yang lemah. Propena memiliki kepadatan lebih tinggi
dan titik didih dari etilena karena ukurannya lebih besar. Di sisi lain propena memiliki titik
didih sedikit lebih rendah dari propana dan dengan demikian lebih tidak stabil. Propena
tidak memiliki ikatan kuat kutub, namun molekulnya memiliki momen dipol yang kecil
karena simetri direduksi (grup jalur adalah Cs). Berikut adalah rangkuman karakteristik
fisik dan kimia dari propena:
Sifat Fisik Propena
Fase (1 atm)
Warna/bau
Densitas
Titik Beku
Titik Didih
Kelarutan Dalam Air
Viskositas

: Gas
: Tidak berwarna
: 0.612 g/cm3
: -185.2oC
: -47.6oC
: 0,61 g/m3
: 8.34 Pa S pada 16.7C

(John A.Dean, 1999)


Sifat Kimia Propena
Sifat kimia yang khas dari propylene adalah satu ikatan rangkap dan atom
hidrogen pada rumus bangun propylene. Atom-atom hidrogen yang terikat pada atom
karbon ini adalah hidrogen asiklis ikatan rangkap yang ada pada propylene terdiri dari satu
ikatan sigma () yang terbentuk dari overlapping dua orbital sp2 dan satu ikatan phi ()
yang terbentuk diatas dan dibawah ruang antar dua karbon dengan sisi dua orbital ikatan
phi () bertanggung jawab untuk beberapa reaksi dengan senyawa ini. Ikatan berperan
sebagai sumber elektron untuk reaksi elektrofilik.

Beberapa reaksi Propylene diantaranya adalah :


1)

Alkilasi
Reaksi alkilasi terhadap Benzene oleh Propylene dengan adanya katalis AlCl3 akan

menghasilkan suatu alkil benzena.


Reaksi : C6H5 + C3H5
2)

AlCl3

C6H6CH(CH3)2

Khlorinasi
16

Alkil klorida dapat dibuat dengan cara khlorinasi dan non katalitik terhadap
propilen fase gas pada suhu 5000C dalam reaktor adiabatik. Prinsip reaksi ini terdiri dari
substitusi sebuah atom khlorinasi terhadap atom hidrogen pada propilen.
Reaksi : Cl2 + CH2CHCH3
CH2CHCH2Cl + HCl
3)

Oksidasi
Propylene dapat dioksidasi menjadi akrolein dengan adanya katalis CuO. Umpan

masuk reaktor dengan komposisi 20% volume propylene, 20% volume udara dan 60%
volume steam dengan waktu kontak satu detik. Pengambilan produk akrolein adalah
dengan quench scrubbing effluent reaktor menggunakan campuran air dan propylene.
(Fessenden, Fessenden, 1992)
Propena dapat diproduksi dengan cara Prophanol Dehydration, Crude Oil
Cracking, dan dehidrogenasi Propana. Berikut beberapa penjelasan mengenai proses
pembentukan propena.
1. Dehidrasi Propanol
Dehidrasi propanol merupakan reaksi pemecahan propanol menjadi propena dan
air. Propanol dihidrogenasi dengan ion hidrogen sehingga memisahkan ikatan OH pada
propanol. Ikatan OH tersebut lebih condong untuk berikatan dengan ion H+ membentuk
H2O. Melalui reaksi tersebut terbentuk propana dengan gugus carbon ke 2 yang radikal.
Kondisi radikal tersebut menyebabkan karbon 1 lebih condong untuk membentuk rangkap
dibandingkan dengan berikatan dengan ion H+ sehingga terbentuk propilena dan ion H+.

Proses Dehidrasi Propanol


2. Dehidrogenasi Propana
17

Propylene dapat dihasilkan pula dari propana. Propana merupakan jenis alkana atau
n-parafin (lurus, tidak bercabang, dan tidak rangkap). Suatu senyawa alkana dapat dibentuk
menjadi senyawa alkena dengan cara dehidrogenasi. Dehidrogenasi pada kontek di sini
merupakan reaksi pelepasan dua ion H+ pada rantai alkana sehingga terbentuk ikatan
rangkap (alkena). Dehidrogenasi ini dapat terjadi dengan bantuan panas yang cukup tinggi
maupun katalis yang sesuai.
CH3-CH2-CH3

CH2=CH-CH3 + H2

3. Naftha Cracking
Untuk meningkatkan efisiensi ekonomi pada industri oil and gas, maka nafta akan
dicracking (direkah) menjadi rantai karbon yang lebih pendek. Proses cracking tersebut
memiliki konversi yang berbagai macam tergantung dari kondisi operasi yang dilakukan.
Beberapa hal penting pada proses cracking yaitu kondisi operasi berupa tekanan, suhu,
jumlah reaktan maupun produk, serta katalis yang digunakan. Berikut merupakan contoh
persamaan cracking secara umum.
Persamaan reaksi cracking antara lain:

Parafin terengkah menjadi olefin dan paraffin yang lebih kecil


CnH2n+2 CmH2m + CpH2p+2
paraffin

olefin

parafin

Olefin terengkah menjadi olefin yang lebih kecil


CnH2n CmH2m + CpH2p
olefin

olefin

olefin

Perengkahan rantai samping aromatik


AromatikCnH2n-1 AromatikCmH2m-1 + CmH2m+2

Naphtene (cycloparaffin) terengkah menjadi olefin


Cyclo-CnH2n Cyclo + CmH2m + CpH2p

olefin
olefin
Jika sikloparafin mengandung sikloheksana
Cyclo-CnH2n C6H12 + CmH2m + CpH2p

sikloheksana olefin olefin


(Boswell Clay,2012)
4. Methanol to Propylene (MTP)
18

Proses produksi propilena dengan metanol biasa dikenal dengan nama Methanol to
Propylene (MTP). Metanol dipanaskan membentuk dimethyl eter (DME). Kemudian DME
terionisasi dan berpolimerisasi menjadi rantai karbon C2 C3 dan bensin menggunakan
katalis zeolit ZSM-5. Sebelum dilakukan pemurnian, produk samping (non hidrokarbon)
berupa air dipisahkan secara distilasi atau pemanasan untuk mempermudah proses
fraksinasi. Fraksinasi dilakukan untuk memisahkan antara propilen dengan produk
hidrokarbon lainnya. Berikut reaksi kimia yang terjadi,
2 CH3OH

CH3OCH3 + H2O

a CH3OCH3
a CnH2n + a H2O
(Achmad Huda, 2014)
2.1.2 Benzena
Benzena ditemukan pada tahun 1825 oleh seorang ilmuwan Inggris, Michael
Faraday, yang mengisolasikannya dari gas minyak dan menamakannya bikarburet dari
hidrogen. Pada tahun 1833, kimiawan Jerman, Eilhard Mitscherlich menghasilkan benzena
melalui distilasi asam benzoat (dari benzoin karet/gum benzoin) dan kapur. Mitscherlich
memberinya nama benzin. Pada tahun 1845, kimiawan Inggris, Charles Mansfield, yang
sedang bekerja di bawah August Wilhelm von Hofmann, mengisolasikan benzena dari tir
(coal tar). Empat tahun kemudian, Mansfield memulai produksi benzena berskala besar
pertama menggunakan metode tir tersebut.
Benzena pada umumnya digunakan sebagai bahan dasar dari senyawa kimia
lainnya. Sekitar 80% benzena dikonsumsi dalam 3 senyawa kimia utama yaitu etilbenzena,
kumena, dan sikloheksana, Senyawa turunan yang paling terkenal adalah etilbenzena,
karena merupakan bahan baku stirena, yang nantinya diproduksinya mnejadi plastik dan
polimer lainnya. Kumena digunakan sebagai bahan baku resin dan perekat. Sikloheksana
digunakan dalam pembuatan nilon. Sejumlah benzena lain dalam jumlah sedikit juga
digunakan pada pembuatan karet, pelumas, pewarna, obat, deterjen, bahan peledak, dan
pestisida.
Di Amerika Serikat dan Eropa, 50% dari benzena digunakan dalam produksi
etilbenzena/stirena, 20% dipakai dalam produksi kumena, dan sekitar 15% digunakan
untuk produksi sikloheksana.
Saat ini, produksi dan permintaan benzena di Timur Tengah mencatat kenaikan
tertinggi di dunia. Kenaikan produksi diperkirakan akan meningkat 3,7% dan permintaan
akan meningkat 3,3% per tahunnya sampai tahun 2018. Meskipun begitu, kawasan AsiaPasifik tetap akan tetap mendominasi pasar benzena dunia, dengan permintaan kira-kira
setengah permintaan global dunia.
19

Berikut adalah rangkuman sifat fisik benzena:


Fase (1 atm)
Warna/bau
Densitas
Titik Beku
Titik Didih
Kelarutan Dalam Air
Viskositas

: Cair
: Tidak berwarna dan tidak berbau
: 0.88 g/ml
: 5.5oC
: 80.1oC
: 0.8 g/l (25oC)
: 0.652 Cp (20oC)

(John A.Dean,1999)

Sifat Kimia Benzena


Senyawa benzena mempunyai rumus molekul C6H6, dan termasuk dalam golongan
senyawa hidrokarbon. Bila dibandingkan dengan senyawa hidrokarbon lain yang
mengandung 6 buah atom karbon, misalnya heksana (C 6H14) dan sikloheksana (C6H12),
maka dapat diduga bahwa benzena mempunyai derajat ketidakjenuhan yang tinggi.
Dengan dasar dugaan tersebut maka dapat diperkirakan bahwa benzena memiliki ciri-ciri
khas seperti yang dimiliki oleh alkena. Perkiraan tersebut ternyata jauh berbeda dengan
kenyataannya, karena benzena tidak dapat bereaksi seperti alkena (adisi, oksidasi, dan
reduksi). Lebih khusus lagi benzena tidak dapat bereaksi dengan HBr, dan pereaksipereaksi lain yang lazimnya dapat bereaksi dengan alkena. Sifat-sifat kimia yang
diperlihatkan oleh benzena memberi petunjuk bahwa senyawa tersebut memang tidak
segolongan dengan alkena ataupun sikloalkena.
Senyawa benzena dan sejumlah turunannya digolongkan dalam senyawa aromatik,
Penggolongan ini dahulu semata-mata dilandasi oleh aroma yang dimiliki sebagian dari
senyawa-senyawa tersebut. Perkembangan kimia pada tahap berikutnya menyadarkan para
kimiawan bahwa klasifikasi senyawa kimia haruslah berdasarkan struktur dan
kereaktifannya, dan bukan atas dasar sifat fisikanya. Saat ini istilah aromatik masih
dipertahankan, tetapi mengacu pada fakta bahwa semua senyawa aromatik derajat
ketidakjenuhannya tinggi dan stabil bila berhadapan dengan pereaksi yang menyerang
ikatan pi ().
Menurut Kekule (1873), struktur benzena dituliskan sebagai cincin beranggota
enam (heksagon) yang mengandung ikatan tunggal dan rangkap berselang-seling.

20

Menurut Kekule penggantian brom pada sembarang atom hidrogen akan


menghasilkan senyawa yang sama, karena keenam atom karbon dan hidrogen ekivalen.
Kekule ini dapat menjelaskan fakta bahwa jika benzena bereaksi dengan brom
menggunakan katalis FeCl3 hanya menghasilkan satu senyawa yang memiliki rumus
molekul C6H5Br.
Menurut model ikatan valensi, benzena dinyatakan sebagai hibrida resonansi dari
dua struktur penyumbang yang ekivalen, yang dikenal dengan struktur Kekule. Masingmasing struktur Kekule memberikan sumbangan yang sama terhadap hibrida resonansi,
yang berarti bahwa ikatan-ikatan C-C bukan ikatan tunggal dan juga bukan ikatan rangkap,
melainkan diantara keduanya.

Dengan pertimbangan kepraktisan, untuk selanjutnya cincin benzena disajikan


dalam bentuk segienam beraturan dengan sebuah lingkaran di dalamnya, dengan ketentuan
bahwa pada setiap sudut segienam tersebut terikat sebuah atom H.

Dalam segienam berlingkaran tersebut setiap garis menggambarkan ikatan-ikatan


(sigma) yang menghubungkan atom-atom karbon. Lingkaran dalam segienam
menggambarkan awan enam elektron (pi) yang terdelokalisasi. (C.Budimarwanti, 2008)
Reaksi-reaksi yang umum terjadi pada benzena dan turunannya adalah reaksi
substitusi elektrofilik. Terdapat 4 macam reaksi substitusi elektrofilik terhadap senyawa
benzena, yaitu:
1. Reaksi halogenasi
21

Sebagai elektrofil adalah X+, dihasilkan dari reaksi antara X2+ FeX3. FeX3 (misalnya
FeCl3) adalah suatu asam Lewis yang berfungsi sebagai katalis. Katalis asam Lewis lain
yang dapat digunakan adalah AlCl3, AlBr3.
Contoh:

2. Reaksi nitrasi

Sebagai elektrofil adalah NO2+ (ion nitronium), dihasilkan dari reaksi antara HNO 3
dan H2SO4.

3. Reaksi sulfonasi
Benzena bereaksi lambat dengan H2SO4 pada suhu tinggi menghasilkan asam
benzena sulfonat. Sebagai elektrofil adalah SO3 yang merupakan elektrofil relatif kuat
karena atom S yang kekurangan elektron, atau +SO3H yang dihasilkan dari reaksi:

22

4. Reaksi Friedel-Crafts
Reaksi Friedel-Crafts meliputi reaksi alkilasi dan reaksi asilasi.
Reaksi alkilasi:

Sebagai elektrofil dalam reaksi alkilasi Friedel-Crafts adalah ion karbonium (R +).
Karena melibatkan ion karbonium, maka seringkali terjadi reaksi penyusunan ulang
(rearrangement)membentuk karbonium yang lebih stabil.

Contoh reaksi alkilasi:

Reaksi asilasi:

Sebagai elektrofil dalam reaksi asilasi Friedel-Crafts adalah ion asilium, terbentuk
dari hasil reaksi:

Ion asilium pada reaksi asilasi Friedel-Crafts tidak terjadi reaksi penataan ulang.
Dalam reaksi alkilasi dan asilasi Friedel-Crafts juga digunakan katalis asam Lewis,
misalnya FeCl3, FeBr3, AlCl3, AlBr3.
Contoh reaksi asilasi:
23

(Fessenden, Fessenden,1992)
2.2 Bahan Pembantu Pembuatan Cumene
2.2.1 Katalis Solid Phosphoric Acid
Solid phosphoric acid dikembangkan oleh Ipatief untuk konversi hidrokarbon.
Ipatieff adalah seorang kimiawan Rusia yang pindah ke Amerika Serikat pada tahun 1929
dan bekerja di UOP dan Northwestern University. Solid phosphoric acid dibuat dari proses
perlakuan panas terhadap campuran yang mengandung asam fosfat dan kieselguhr.
Kieselguhr adalah bahan dari alam yang sebagian besar terdiri dari SiO2.
Katalis solid phosphoric acid digunakan untuk oligomeration propena dan
copolymerization dari isobutena dan propena. Produk tersebut terhidrogenasi dengan
katalis Ni untuk memproduksi komponen oktan tinggi untuk bensin. Proses ini adalah
proses katalitik komersial pertama yang menggunakan asam padat pada industri petrokima,
beberapa tahun sebelum proses Houdry mulai beroperasi.
Selama Perang Dunia II (1943-1945), solid phosphoric acid digunakan dalam
pembuatan kumena oleh alkilasi benzena dengan propena. Kumena adalah komponen yang
baik dari avtur. (Hideshi Hattori, 2015: 10)
Katalis solid phosphoric acid (SPA) merupakan katalis yang memiliki sifat dan
formulasi yang kuat, lebih aktif, dan lebih tahan lama. Katalis SPA ini terdiri dari pori-pori
yang memiliki diameter 10.000 atau lebih besar yang menunjukkan peningkatan
stabilitas dalam reaksi kondensasi katalitik. Bahan pengikat berpori telah dikenal untuk
meningkatkan karakteristik kinerja dari asam fosfat katalis komposit padat.
Katalis asam fosfat solid digunakan dalam berbagai proses penting konversi
hidrokarbon. Masalah yang sering ditemui dalam penggunaan katalis SPA ini yaitu
kekuatan fisik yang kurang baik dan stabilitas katalis rendah. Oleh karena itu, harus dipilih
katalis yang kuat yang menunjukkan aktivitas dan stabilitas yang tinggi. Untuk mendekati
tujuan ini maka volume pori adalah faktor penting dalam stabilitas dari asam fosfat solid
dengan pengurangan volume mikropori, yaitu pori-pori yang lebih besar dari 10.000
diameter.
Spesifikasi fisik katalis SPA
24

Warna/ bentuk : Putih silinder


Dimension: 5.5 ~ 5,8 * 5 ~ 20 mm
Kekuatan crushing (N/cm2) : 566 - 1095
Kandungan Fosfor Total m% : 63 - 65 (P2O5)
Kandungan Fosfor bebas m% : 15 - 18 (P2O5)
Densitas (g/ml) : 0.98 - 1.02

Solid Phosphoric Acid Catalyst (Spa)

Katalis asam fosfat padat (SPA) banyak digunakan dalam alkilasi dari aromatik benzena
dan alkilasi olefin, seperti: alkilasi benzena dan propylene dan digunakan untuk
oligomerisasi, alkilasi, hidrasi olefin rendah karbon, seperti untuk menghasilkan oktan
tinggi bensin dari C4 olefin, menghasilkan nonene dan dodecene dari propylene. SPA
memiliki aktivitas tinggi, selektivitas tinggi, dan ketahanan air yang baik. (Fiona P.
Wilcher,1992)
2.2.2 Katalis Zeolite
Zeolit didefinisikan sebagai senyawa aluminosilikat yang mempunyai struktur
kerangka tiga dimensi dengan rongga didalamnya. Struktur kerangka zeolit tersusun atas
unit-unit tetrahedral (AlO4)-5 dan (SiO4)-4 yang saling berikatan melalui atom oksigen
membentuk pori-pori zeolit. Ion silikon bervalensi 4, sedangkan aluminium bervalensi 3.
Hal ini yang menyebabkan struktur zeolit kelebihan muatan negatif yang diseimbangkan
25

oleh kation-kation logam alkali atau alkali tanah seperti Na+, K+, Ca+ atau Sr+ maupun
kation-kation lainnya. Kation-kation tersebut terletak diluar tetrahedral, dapat bergerak
bebas dalam rongga-rongga zeolit dan bertindak sebagai counter ion yang dapat
dipertukarkan dengan kation-kation lainnya, sifat-sifat inilah yang mendasari zeolit sebagai
penukar kation. Berdasarkan sifat fisika dan sifat kimia zeolit tersebut zeolit dapat
dimanfaatkan sebagai penukar ion, penyaring molekuler, adsorben dan katalis.
(Muhammad, 1995)
Sifat fisik Zeolit
Bentuk Extrudate
Nominal diameter, mm: 1.6
ABD, kg/m3 550
Metals no precious metals
Rumus umum zeolit adalah Mx/n[(AlO2)x(SiO2)y].mH2O , dimana:
Mx/n = kation bermuatan
[ ] = kerangka aluminosilika
X = jumlah AlO4
Y = jumlah SiO4, y>x
Z = jumlah H2O
kerangka zeolit berupa rongga yang berisi kation M+ sebagai kation penyumbang muatan
AlO4 (Lisley and Elain, 1992)
2.3

Cumene
Cumene adalah nama umum untuk isopropylbenzene, sebuah senyawa organik yang

yang termasuk golongan C3. Senyawa ini pertama kali digunakan sebagai zat tambahan
untuk menaikkan nilai oktan minyak mentah dan bahan bakar. Hampir semua cumene yang
dihasilkan sebagai senyawa murni pada skala industri dikonversikan ke cumene
hidroperoksida, yang merupakan produk antara dalam industri fenol dan aseton, dimana
kedua bahan tersebut banyak digunakan untuk industri kimia dan polimer.
Cumene merupakan nama trivial dari isopropil benzene dengan nama
IUPAC

(1-methylethyl)

benzene.

Cumene

juga

memiliki

nama

lain

2-

phenylpropane.

26

Struktur Cumene
Proses pembuatan cumene pada awalnya dikembangkan antara tahun 1939 dan
1945 untuk memenuhi permintaan bahan bakar yang memiliki oktan tinggi dalam industri
penerbangan selama perang dunia II. Pada tahun 1989 sekitar 95% penggunaan cumene
adalah sebagai bahan baku produksi fenol dan aseton dan sebagian kecil digunakan untuk
produksi -Methylstyrene. Sebelum pengembangan rute cumene untuk fenol dan aseton,
cumene telah digunakan secara ekstensif selama perang dunia ke-2. Saat ini, hampir semua
pasokan cumene yang ada di dunia diproduksi sebagai perantara untuk fenol dan
pembuatan aseton. Beberapa unit kilang minyak masih menghasilkan cumene untuk
digunakan sebagai antiknock konstituen (bagian yang penting) bensin tetapi diragukan
apakah sebuah plant baru akan dibangun untuk tujuan ini. Sekitar 98% dari cumene
digunakan untuk menghasilkan fenol dan aseton.
Cumene adalah nama umum untuk isopropylbenzene, merupakan senyawa organik
yang merupakan hidrokarbon aromatik. Cumene adalah cairan tidak berwarna, mudah
terbakar, dan memilikititik didih 152C. Hampir semua cumeneyang dihasilkan sebagai
senyawa murni pada skala industri dikonversi menjadi

cumenehidroperoksida, yang

merupakan intermediatedalam sintesis bahan kimia industri penting lainnya seperti fenol
dan aseton. Disamping itu cumene merupakan bahan utama pembuatan fenoldan aseton.
Cumene juga merupakan produk menengah yang mempunyai peranan penting dalam
menghasilkan produk industri lain seperti : nylon, polycarbonate, epoxy, dan lain-lain.
(USU, 2011)
Cumene adalah cairan tak berwarna yang mudah terbakar yang memiliki titik didih
152C. Berikut sifat fisik dari cumene:
Fase (1 atm)
Warna/bau
Densitas
Titik Beku

: Cair
: Tidak berwarna dan tidak berbau
: 0.862 g/cm3
: -96 C
27

Titik Didih
Kelarutan Dalam Air
Viskositas

: 152 C
:Tidak larut (larut dalam acetone, ether, ethanol)
: 0.777 Cp (21 C)

(John A.Dean,1999)
Sifat Kimia Cumene sebagai berikut:
Cumene bersifat karsinogenik (racun), merupakan senyawa nonpolar, tetapi mudah
terbakar dengan menghasilkan banyak jelaga. Cumene lebih mudah mengalami reaksi
subtitusi dari pada reaksi adisi. Reaksi reaksi cumene yaitu sebagai berikut:
a)

Cumene mengalami oksidasi untuk menghasilkan Cumene Hydroperoxide


dengan udara atau oksigen menurut reaksi :
C6H5CH(CH3)2 + O2
Cumene
Oksigen

b)

C6H5C(CH3)2OOH
Cumene Hydroperoxide

Dengan bantuan katalis asam sulfat encer, Cumene Hydroperoxide berubah


menjadi fenol dan aseton menurut reaksi :
C6H5C(CH3)2OOH

C6H5OH + CH3COCH3

Cumene Hydroperoxide
2.4

Proses Pembuatan Cumene

Proses dasar pembuatan cumen adalah propylalkylationdari benzena pada fase cair
dengan menggunakan katalis asam sulfat. Karena kompleksnya reaksi penetralan dan
banyaknya langkah recycle, maka proses ini jarang digunakan. Selanjutnya seiring dengan
perkembangan jaman, proses pembuatan cumen berkembang menjadi beberapa proses
diantaranya :
2.4.1

Proses Aluminium Chloride (Monsanto-Lumnus Crest Process)

Pada proses ini reaksi pembentukan cumen berlangsung pada fase cair dengan
menggunakan katalis alumunium khloride. Proses ini sudah jarang digunakan karena
memiliki biaya produksi yg relative tinggi dan memiliki masalah dalam pembuangan dan
pengolahan limbah katalis AlCl
Fresh dan recycle benzena serta propilen dicampur didalam reaktor alkilasi
menggunakan AlCl3 dan hidrogen klorida sebagai katalis. Katalis tersebut bersifat korosif.
Kondisi operasi proses ini berlangsung pada temperatur kurang dari 135 C dan tekanan
kurang dari 0,4 Mpa. Aliran keluaran reaktor alkilasi dicampur dengan recycle
28

polyisopropyl benzene dan memasuki reaktor transalkilasi. Reaktor transalkilasi mengubah


polyisopropyl benzene menjadi cumene. Katalis asam kuat yang digunakan dipisahkan
dengan washing menggunakan air dan kaustik. Sistem distilasi didesain untuk mengambil
produk cumene. Benzena dan polyisopropyl benzene yang tidak terkonversi dipisahkan dan
direcycle ke sistem reaksi. Propana di dalam umpan propilen direcovery sebagai liquid
petroleum gas. Proses ini menghasilkan cumene dengan kemurnian 99 %Wt (Sevas
Educational Society, 2007).
Melalui mekanisme alkilasi, alkane (paraffin) direaksikan menjadi senyawa
aromatik untuk memproduksi bahan bakar pengganti berkualitas tinggi seperti cumene.
Untuk meningkatkan bilangan oktan bensin, senyawa yang dihasilkan dari proses alkilasi
yang dicampur dengan itu. Cumene dikenal sebagai isopropylbenzene yang diproduksi
melalui proses alkilasi untuk digunakan sebagai campuran bahan bakar penerbangan.
Metode alkilasi katalitik menggunakan aluminium chloride dan hydrochloric acid sebagai
katalis untuk mereaksikan antara propylene dan benzene. Teknologi ini diusulkan oleh
Monsanto dan dinamakan sebagai Monsanto-Lumnus Crest Process.
Aluminium Chloride (AlCl3) merupakan jenis Friedel-Crafts katalis yang
digunakan untuk menambah gugus alkil pada cincin aromatik benzena. Reaksi kimia
berlangsung pada suhu 130-135 oC dan tekanan 3.4-3.5 atm serta bersifat eksotermis yaitu
melepaskan panas selama reaksi. Dengan bantuan preheater, umpan dipanaskan dengan
effluent reaktor dan bahkan digunakan untuk menghasilkan uap. Dua reaktor yang
digunakan untuk melaksanakan proses alkilasi dan transalkilasi. Benzene diuapkan pada
vaporizer dan dicampur dengan propylene. Aliran umpan dipanaskan bersama katalis
sepanjang reaktor. Reaktor alkilasi mengkonversi benzene dan propylene menjadi cumene
dan

diisopropylbenzene.

Aliran

effluent

dicampur

dengan

aliran

recycle

dari

polypropylbenzenes dan dilewatkan ke dalam reaktor transalkilasi dimana ia bereaksi


dengan excess benzene dan terkonversi menjadi cumene.
Katalis dipisahkan dari senyawa organik dengan water wash di separator.
Campuran organik yang terpisah ditreatment dengan kaustik untuk menghilangkan sisasisa asam. Katalis dipekatkan dengan steam dan di recycle pada reaktor alkilasi. Cumene
didistilasi melalui serangkaian menara distilasi yang membagi keluar bahan baku yang
tidak bereaksi. (Sam kk,2013)

29

2.4.2 Metode Q-Max Process


Cumene diproduksi secara komersil dengan reaksi alkilasi antara benzena dan
propilen menggunakan katalis asam. Proses Q-Max mengkonversi benzena dan propilen
menjadi cumene menggunakan katalis zeolite yang dapat diregenerasi dan berlangsung
pada temperatur 300 - 400 C dengan tekanan 25 atm. Fresh benzene dialirkan melalui
bagian atas depropanizer kemudian dialirkan ke reaktor alkilasi. Reaktor alkilasi terbagi
menjadi 4 yang berisi catalyst bed. Fresh propylene dimasukkan antara catalyst bed satu
dengan yang lainnya. Aliran keluaran reaktor alkilasi dialirkan menuju depropanizer
kemudian dialirkan menuju benzene column dimana kelebihan benzena akan dikumpulkan
dan kemudian direcycle. Keluaran benzene column dialirkan menuju cumene column
menghasilkan produk cumene yang diperoleh dari bagian atas kolom. Aliran keluaran
cumene column kemudian dialirkan menuju DIPB column. Aliran keluaran bagian atas
DIPB column di-recycle menuju reaktor transalkilasi. Recycle benzene dari bagian atas
benzene column dicampur dengan recycle DIPB dari DIPB column dan dialirkan ke reaktor
transalkilasi. Pada reaktor transalkilasi, DIPB dan benzene dikonversi menjadi cumene
tambahan. Aliran keluaran reaktor transalkilasi dialirkan menuju benzene column. Produk
30

yan yang dihasilkan memiliki kemurnian 99,97%. Proses UOP Q-MAX memerlukan biaya
konstruksi yang tinggi karena membutuhkan banyak peralatan proses (Schmidt,2004).
Metode Q-Max process dapat dikatakan metode terbaru dari pembuatan cumene
dengan sekala besar. Hal ini dikarenakan keunggulan katalisnya yang dapat diregenerasi
serta hasil samping limbahnya dapat diolah kembali. Metode Q-Max process menggunakan
bahan berfase gas dengan tekanan 25 atm pada suhu 350 oC. Kedua reaktor yang digunakan
adalah adalah fixed bad multitube, dengan reactor pertama berfungsi sebagai tempat
terjadinya reaksi alkilasi antara propylene dan benzene dengan hasil produknya adalah
cumene sedangkan reaktor yang kedua sebagai tempat terjadinya reaksi transalkilasi antara
DIPB (sebagai limbah) dengan benzene dengan hasil produknya cumene ringan. Dari
reaktor pertama, produk masuk ke depropanizer kemudian hasil atas depropanizer masuk
ke reaktor kedua bersama dengan hasil bawah dari kolom destilasi kedua. Hasil produk
dari reaktor kadua dan hasil bawah depropanizer digabungkan kemudian dipisahkan ke
kolom destilasi kesatu. Hasil atas kolom destilasi di recycle kembali, sedangkan hasil
bawah kolom destilasi kesatu dipisahkan kembai di dalam kolom destilasi kedua. (UOP
LLC, 2006).

31

2.4.3

Proses UOP-Solid Phosphoric Acid

Proses ini dikembangkan oleh Universal Oils Products (UOP), merupakan reaksi
katalitik yang berlangsung pada fase gas dengan menggunakan katalis asam phospat
kieselguhr. Dari beberapa proses pembuatan cumene diatas, proses Phosporic Acid
Catalitic merupakan proses yang paling banyak digunakan dalam industri. (Vaith & Keyes,
1965 ).
Pada proses pembuatan cumene ini digunakan katalis solid phosphoric acid (SPA)
dengan lisensi oleh Universal Oil Product (UOP). Bahan baku pembuatan cumene adalah
propilen dan benzene. Benzena ditambahkan berlebih untuk mencapai kemurnian produk
yang tinggi. Propilen cair dicampur dengan benzene murni dan recycle benzene. Campuran
tersebut mengalami proses pemanasan awal dan memasuki reaktor fixed bed. Keluaran
reaktor akan didinginkan dan dimasukkan kedalam separator. Hasil bawah separator
dialirkan ke kolom distilasi benzene. Hasil atas dari kolom benzene di recycle sedangkan
hasil bawah dialirkan ke kolom distilasi cumene. Hasil atas kolom distilasi cumene berupa
32

produk cumene sedangkan hasil bawah kolom cumene merupakan diisopropylbenzene.


Cumene yang dihasilkan memiliki kemurnian 99,2%wt (Kirk-Orthmer,2007). Diagram alir
proses pembuatan cumene UOP SPA dapat dilihat pada Gambar 1.2.
Bahan baku propylene dan benzene digunakan untuk memproduksi cumene.
Mereka disimpan dalam tangki penyimpanan masing-masing kapasitas 500 MT yang
dipompa oleh pompa sentrifugal. Benzene dipompa ke feed tank dan di campur dengan
benzene recycle. Aliran benzene dipompa melalui vaporizer dengan tekanan 25 atm dan
diuapkan sampai suhu 243 oC, kemudian dicampur dengan propylene yang memiliki suhu
dan tekanan sama dengan aliran benzene .Campuran reaktan melewati super heater dipecat
mana suhu reaksi 350oC diperoleh .
Campuran uap dikirim ke sisi tabung reaktor yang dikemas dengan katalis asam
fosfat yang solid didukung pada kieselguhr panas exothermal dihapus oleh air bertekanan
yang digunakan untuk produksi uap dan limbah dari reaktor yaitu, kumena, p- DIPB,
benzena yang tidak bereaksi, propilena dan propana dengan suhu 350oC digunakan sebagai
media pemanas di vaporizer yang digunakan untuk benzena menguap dan didinginkan
sampai suhu 40oC di pendingin air, propylene dan propana dipisahkan dari campuran
cairan dari kumena, p-DIPB , benzena dalam pemisah sedikit beroperasi di atas atm dan
tekanan dikendalikan oleh nilai kontrol uap separator, bahan bakar gas yang digunakan
sebagai bahan bakar untuk tungku juga.
Campuran cairan dikirim ke kolom benzena distilasi yang beroperasi pada tekanan
1 atm, 98,1% dari benzena diperoleh sebagai distilat dan digunakan sebagai recycle dan
campuran cairan bawah dipompa pada titik gelembung untuk kolom kumena destilasi
mana distilat 99,9% kumena dan bawah murni p-DIPB diperoleh. Panas produk bawah pDIPB digunakan untuk pemanasan awal kolom pakan benzene.

33

2.5

Hasil Samping
Hasil samping dari proses pembuatan cumene adalah diisopropilbenzena (DIPB),

yang merupakan hasil bawah dari kolom cumene .Diisopropilbenzena adalah cairan yang
mudah menguap sehingga sangat mungkin terhirup ataupun kontak dengan kulit manusia.
Sifat-sifat fisika DIPB:
Fase (1 atm, 30C)
Penampilan
Densitas
Temperatur Kritis
Tekanan Kritis
Titik Didih
(John A.Dean,1999)

: Cair
: Tidak berwarna
: 0.859 g/cm3
: 485 C
: 21.3 atm
: 194C

Sifat-sifat kimia DIPB


Dalam

pembuatan

resorcinol

dengan

teknologi

hidroperoksida

adalah

dengan

mengoksidasi Diisopropilbenzen yang menghasilkan dihidroperoksida.


Reaksi :
Katalis NaOH
C12H18 + O2

C18H34O5

2.6 Pemilihan Proses


34

Dari beberapa proses pembuatan cumen diatas, proses Phosporic Acid Catalitic
merupakan proses yang paling banyak digunakan dalam industri.
Tabel 2.1 Perbandingan Proses Pembuatan Cumena
PROSES
Aluminium Chloride
PARAMETER
Bahan baku
Benzena, propilen

UOP Q-Max

UOP SPA

Benzena, propilen

Benzena, propilen
katalis SPA on

Bahan pembantu
Bahan tambahan

AlCl3, HCl
kaustik
Fase: cair

zeolit
Fase: gas

Kieselguhr
Fase: gas

Kondisi operasi

T: 130-135 C
P: 3.4-3.5 atm

T: 350 C
P: 25 atm

T: 350C
P: 30.3 atm

Konversi (%)
Kemurnian produk

97-98

100

89.2

(%wt)

97-98
diisopropylbenzene

99
diisopropylbenzene

99.2
diisopropylbenzene

Hasil Samping

(DIPB)
LPG (propane)

(DIPB)

(DIPB)
flue gas (propane,

Limbah

Alat Utama

AlCl3 solution

propane gas

Reaktor, kolom

Reaktor, kolom

depropaniser, kolom

depropaniser, kolom

distilasi, separator

distilasi, separator

benzena,
cumena, DIPB)
Reaktor, kolom
depropaniser,
kolom distilasi,
separator

Berdasarkan tabel 2.1 tentang perbandingan proses-proses pembuatan Cumene


dapat dilihat bahwa proses UOP SPA memiliki beberapa keuntungan, yaitu biaya
investasi peralatan yang murah dengan kemurnian produk yang cukup tinggi dan katalis
yang mudah diperoleh. Berdasarkan pertimbanganpertimbangan tersebut, maka proses
yang akan digunakan dalam pembuatan cumene adalah proses UOP SPA.

35

36