Anda di halaman 1dari 10

Nama : Imam Fadhil Nugraha S.

NIM

: E13113534

Ilmu Hubungan Internasional


Liberalisasi Pendidikan : Menguntungkan atau Merugikan (?)
Peningkatan pemahaman atas urgensi pendidikan berdampak pada peningkatan
kebutuhan akan pendidikan tinggi. Dalam kasus yang terjadi di Indonesia, misalnya,
masyarakat tidak lagi merasa bahwa pendidikan dasar seperti SD-SMA mencukupi kebutuhan
dasar atas pendidikan. Peningkatan jumlah mahasiswa baru dari tahun ke tahun menjadi
salah satu contoh atas trend yang terjadi saat ini. Pada tahun pendidikan 2001/2002, terdapat
sebanyak 760.621 mahasiswa baru dengan jumlah mahasiswa sebelumnya terdaftar sebanyak
2.915.291 orang. Sementara itu, pada tahun 2009/2010 jumlah mahasiswa baru adalah
1.024.379, dengan 4.337.039 orang terdaftar sebagai mahasiswa sebelumnya. Ditahun
2011/2012 jumlah mahasiswa baru adalah 1.142.835 orang, dengan 5.616.670 orang terdaftar
sebagai mahasiswa.
Dalam tipologi yang digunakan oleh para ekonom kegiatan usaha dalam masyarakat
dibagi dalam 3 sektor. Sektor primer mencakup semua industri ekstraksi hasil pertambangan
dan pertanian. Sektor sekunder mencakup industri untuk mengolah bahan dasar menjadi
barang, bangunan, produk manufaktur dan utilities. Sektor tersier mencakup industri-industri
untuk mengubah wujud benda fisik (physical services), keadaan manusia (human services)
dan benda simbolik (information and communication services). Sejalan dengan pandangan
ilmu ekonomi, WTO menetapkan pendidikan sebagai salah satu industri sektor tersier, karena
kegiatan pokoknya adalah mentransformasi orang yang tidak berpengetahuan dan orang tidak
punya ketrampilan menjadi orang berpengetahuan dan orang yang punya ketrampilan.
Kontribusi sektor tersier terhadap produk nasional suatu bangsa memang cenderung
meningkat seiring dengan kemajuan pembangunan bangsa tersebut. Sejak 1980-an di negaranegara maju, perdagangan jasa tumbuh pesat dan telah memberikan sumbangan yang besar
pada produk domestik bruto (PDB), lebih besar dibandingkan dengan sektor primer dan
sekunder. Tiga negara yang paling mendapatkan keuntungan besar dari liberalisasi jasa
pendidikan adalah Amerika Serikat, Inggris dan Australia. Pada 2000 ekspor jasa pendidikan
Amerika mencapai US $ 14 milyar atau Rp. 126 trilyun. Di Inggris sumbangan pendapatan
dari ekspor jasa pendidikan mencapai sekitar 4% dari penerimaan sektor jasa negara tersebut.
Page 1

Menurut Millea (1998), sebuah publikasi rahasia berjudul Intelligent Exports


mengungkapkan bahwa pada 1994 sektor jasa telah menyumbangkan 70 persen pada PDB
Australia, menyerap 80% tenaga kerja dan merupakan 20% dari ekspor total negara tersebut,
Sebuah survey yang diadakan pada 1993 menunjukkan bahwa industri jasa yang paling
menonjol orientasi ekspornya adalah jasa komputasi, pendidikan dan pelatihan. Ekspor jasa
pendidikan dan pelatihan tersebut telah menghasilkan AUS $ 1,2 milyar pada 1993. Fakta
tersebut dapat menjelaskan mengapa tiga negara maju tersebut amat gencar menuntut
liberalisasi sektor jasa pendidikan melalui WTO, Sejak 1995 Indonesia telah menjadi anggota
WTO dengan diratifikasinya semua perjanjian-perjanjian perdagangan multilateral menjadi
UU No, 7 tahun 1994. Perjanjian tersebut mengatur tata-perdagangan barang, jasa dan trade
related intellectual property rights (TRIPS) atau hak atas kepemilikan intelektual yang terkait
dengan perdagangan. Dalam bidang jasa, yang masuk sebagai obyek pengaturan WTO adalah
semua jasa kecuali jasa non-komersial atau tidak bersaing dengan penyedia jasa lainnya.
Sebagai negara yang memiliki 210 juta penduduk yang tingkat partisipasi pendidikan tinggi
hanya 14 persen dari jumlah penduduk usia 19-24 tahun, Indonesia ternyata menjadi incaran
negara-negara eksportir jasa pendidikan dan pelatihan, karena perhatian pemerintah terhadap
bidang pendidikan masih rendah, secara umum mutu pendidikan nasional kita, mulai dari
sekolah dasar sampai pendidikan tinggi, jauh tertinggal dari standar mutu internasional.
Kedua alasan tersebut sering menjadi alasan untuk mengundang masuknya penyedia jasa
pendidikan dan pelatihan luar negeri ke Indonesia. Untuk lebih meningkatkan ekspor jasa
pendidikan tinggi ke negara-negara berkembang, intervensi pemerintah dalam sektor jasa
tersebut harus dihilangkan. Liberalisasi semacam itulah yang hendak dicapai melalui General
Agreement on Trade in Services (GATS). Dibandingkan dengan negara-negara anggota
Asean yang tergabung dalam Asean University Network (AUN) ataupun (Association of
Southeast Asia Institute of Higher Learning (ASAIHL), seperti Malaysia, Muangthai, Filipina
dan Singapore, Indonesia jauh tertinggal dalam tingkat partisipasi pendidikan tinggi dan mutu
akademik. Pada tahun 2004 tingkat partisipasi pendidikan tinggi baru mencapai 14 persen,
jauh tertinggal dari Malaysia dan Filipina yang sudah mencapai 38-40 persen. Karena
kemampuan keuangan pemerintah yang sangat terbatas, ekspansi serta peningkatan mutu
pendidikan tinggi Indonesia tidak mungkin dilakukan dengan mengandalkan sumber dana
domestik. Ekspansi pendidikan tinggi dan peningkatan mutu akademik nampaknmya hanya
mungkin dilakukan bila layanan pendidikan tinggi oleh provider luar negeri yang
dimungkinkan oleh globalisasi pendidikan dapat dimanfaatkan oleh negara berkembang
seperti Indonesia. Globalisasi pendidikan tinggi yang semakin meningkat walaupun bertujuan
Page 2

untuk memperbaiki mutu dan akses ke pendidikan tinggi pasti merupakan gangguan terhadap
kedaulatan

Indonesia

dalam

mengatur

salah

satu

tujuan

kemerdekaannya

yaitu

mencerdaskan kehidupan bangsa. Kemandirian bangsa ini dalam perumusan kebijakan


nasional untuk mengatur bidang pendidikan mau tidak mau harus dikorbankan agar provider
pendidikan tinggi komersial dari luar negeri dapat lebih leluasa masuk ke tanah air Indonesia.
Salah satu manifestasi globalisasi pendidikan tinggi adalah berkembangnya pasar
pendidikan tinggi tanpa batas (borderless higher education market). Keterbasasan dana yang
dialami oleh negara-negara berkembang, peningkatan permintaan akan pendidikan tinggi
bermutu, serta kemajuan teknologi informasi adalah tiga faktor yang mendorong
pertumbuhan borderless market dalam pendidikan tinggi. Perguruan tinggi di negaranegara maju, terutama Amerika Serikat, Inggris dan Australia amat agresif memanfaatkan the
new emergiung market dengan meningkatkan penyediaan layanan pendidikan tinggi, tidak
sepenuhnya dengan motif filantropis, tetapi dilandasi pertimbangan for-profit dengan
menerima sebanyak mungkin mahasiswa luar negeri yang membayar penuh biaya
pendidikannya, mendirikan kampus-kampus cabang di negara lain, waralaba pendidikan atau
kesepakatan twinning dengan perguruan tinggi lokal, menyediakan pendidikan jarak jauh atau
e-learning. Perkembangan-perkembangan ini perlu diantisipasi dengan sebaik-baiknya agar
masyarakat negara berkembang dapat menarik manfaatnya dari penyediaan jasa pendidikan
secara global tetapi tanpa harus mengorbankan kepentingan-kepentingan nasional untuk
mempreservasi budaya bangsa serta menicptakan kemandirian dalam pengembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi, yang juga amat diperlukan oleh setiap bangsa.

Pendidikan

merupakan hal penting bagi agenda pembangunan Pemerintah Indonesia. Belanja pendidikan
telah meningkat secara signifikan di tahun-tahun terakhir setelah terjadinya krisis ekonomi.
Secara nyata, belanja pendidikan meningkat dua kali dari tahun 2000 sampai 2006. Di tahun
2007, belanja untuk pendidikan lebih besar daripada sektor lain, yang mencapai nilai US$14
miliar, atau lebih dari 16 persen dari total pengeluaran pemerintah. Sebagai bagian dari PDB
(3,4 persen), jumlah ini setara dengan jumlah di negara lain yang sebanding.
Sebagai konsekuensinya, tentu halnya perguruan tinggi akan semakin berbenah untuk
menghadapi kenaikan permintaan tersebut. Setiap perguruan tinggi akan bersaing untuk
menjadi yang terdepan dalam hal kualitas. Salah satu cara yang ditempuh adalah menjadi
World Class University. Dengan demikian, isu pendidikan tinggi tidak hanya menyentuh
tataran nasional, tetapi juga tataran internasional.

Page 3

Isu pendidikan tinggi menjadi bahasan penting dalam ranah global. UNESCO pada
tahun 2001 menggunakan istilah transnational education untuk menyebut fenomena ini.
Menurut badan ini, pendidikan transnasional mengacu pada semua jenis pendidikan tinggi di
mana peserta didik berada di negara berbeda dari negara yang menjadi basis lembaga
pendidikan tersebut. Sebagian pihak kemudian memahami bahwa fenomena ini
memungkinkan semakin kaburnya batas konseptual, disiplin, dan geografis yang secara
tradisional melekat pada pendidikan tinggi.
Fakta bahwa isu pendidikan tinggi telah melewati batas-batas negara tampaknya
cukup dapat diterima banyak pihak. GATS (General Agreement on Trade in Services) adalah
kerangka persetujuan WTO (World Trade Organisation) yang kemudian mengakui hal ini
sebagai salah satu aspek potensial dalam sektor jasa yang disetujui untuk diliberalisasikan.
Sejak saat itu, pendidikan tinggi untuk pertama kalinya menjadi pembahasan perdagangan
internasional dalam bidang jasa pada Putaran Uruguay (1986-1994). Perjuangan liberalisasi
pendidikan tinggi ini kemudian diteruskan oleh WTO dalam kerangka GATS sejak 1995.
World Bank juga ikut memasukkan isu perguruan tinggi ke dalam agendanya. Melalui
kerangka kebijakannya, World Bank mencoba mereformasi pendidikan tinggi, khususnya
bagi negara-negara berkembang. Terdapat empat formula pembangunan pendidikan tinggi
yang dikonsep oleh World Bank, yaitu : (1) differensiasi pendidikan tinggi, (2) differensiasi
pendanaan, (3) pendefinisian ulang peran pemerintah, dan (4) pembuatan kebijakan yang
berkonsentrasi pada kualitas, performa, dan persamaan.
Masuknya isu pendidikan tinggi dalam dalam agenda lembaga-lembaga ekonomi di
atas memberikan pesan bahwa pendidikan tinggi tidak lagi menjadi ranah eksklusif
pemerintah. Lembaga swasta memiliki peran potensial dalam bidang ini. Menurut Knight
(2002), terdapat dua hal yang menjadi kunci perubahan dalam internasionalisasi pendidikan
tinggi ini. Pertama, diversifikasi sumber pendanaan, mobilitas. Kedua, kepedulian
interkultural. Diversifikasi sumber pendanaan inilah yang mengawali keterlibatan institusi
swasta untuk memenuhi permintaan masyarakat terhadap pendidikan tinggi yang semakin
meningkat dari tahun ke tahun.
Pertambahan aktor swasta menambah suasana kompetitif di antara para penyedia
jasa pendidikan tinggi. Lembaga pendidikan bersaing membentuk branding atau pengakuan
internasional. Masing-masing lembaga berjuang memperoleh akreditasi terbaik dari lembaga
akreditasi nasional maupun internasional. Hal tersebut kemudian melahirkan istilah World
Page 4

Class University. Dalam perkembangannya, proses menuju World Class University semakin
memperkecil peran pemerintah di ranah pendidikan tinggi. Hal ini disebabkan terdapat
persyaratan keunggulan dalam bidang manajerial dan pendanaan untuk menjadi World Class
University.
Fase peralihan menuju World Class University juga turut memberikan dampak serius
bagi mahasiswa. Sebagai contoh, proses menuju World Class University memerlukan
maintenance yang tidak sedikit. Salah satunya akan berimbas pada kebutuhan penambahan
alokasi dana bagi penyediaan infrastruktur, sarana, dan prasarana yang lebih baik. Di satu
sisi, pengurangan dana subsidi dari pemerintah akan memaksa perguruan tinggi untuk
mencari sumber pendanaan lain. Salah satunya adalah dengan kebijakan menaikkan UKT
yang sudah barang tentu akan meresahkan mahasiswa. Di sisi lain, uang kuliah yang tinggi
akan menyulitkan masyarakat kelas bawah yang ingin melanjutkan pendidikan di perguruan
tinggi. Dengan demikian, liberalisasi pendidikan tinggi akhirnya menuai banyak kritikan.
Ketika pendidikan tinggi diliberalisasi, disatu sisi hal tersebut dapat membantu negara
berkembang terkhususnya Indonesia dalam meningkatkan kualitas pendidikan, relevansi, dan
daya saing. Namun disisi lain hal tersebut hanyalah sebagai praktek para kaum pemodal
untuk mengintervensi masyarakat menengah ke bawah, yang dimana hanyalah masyarakat
menengah ke ataslah yang dapat mengakses pendidikan tinggi. Hal ini tentunya bertolak
belakang dengan tujuan Indonesia yaitu Mencerdaskan Kehidupan Bangsa yang dimana
pendidikan begitu penting sebagai landasan suksesnya suatu negara. Ketika pendidikan
dikomersialisasi maka peranan pemerintah itu sendiri semakin berkurang dalam menangani
sektor pendidikan dan sebaliknya peranan swasta akan semakin besar dalam pengaruhnya
terhadap pendidikan yang menyebabkan tidak semua orang dapat menempuh pendidikan
tinggi melainkan hanya segelintir saja (pemilik modal) yang mampu mengakses pendidikan
tinggi tersebut. Melalui penandatangan GATS tersebut sebenarnya Pemerintah Indonesia
telah menggeser pandangan tentang penyelenggaraan pendidikan dari suatu kegiatan yang
sepenuhnya merupakan tanggungjawab pemerintah menunju kepada tanggung jawab bersama
antara pemerintah pusat, pemerintah daerah dan masyarakat sebagaimana tercantum dalam
UU No. 20 tahun 1999 tentang Sisdiknas. Namun perlu diwaspadai bahwa pendidikan dan
khusunya pendidikan tinggi bukan semata-mata jasa untuk menghasilkan tenaga kerja
terdidik, tetapi yang penting dia juga adalah proses untuk to preserve national identity, to
sustain and develop the intellectuial and cultural base of the society, to give inspiration
and pride to citizens, dan to promote dialoge for the respect of cultural and social
Page 5

diversity. Tujuan-tujuan nasional tersebut terlalu penting untuk diserahka kepada lembaga
pendidikan tinggi asing dan seharusnya menjadi tanggung-jawab bangsa Indonesia karena
tidak mungkin mendapat perhatian sepenuhnya dari penyedia jasa pendidikan komersial luar
negeri. Untuk itu pelaksanaan liberalisasi jasa pendidikan tinggi dan sub-sektor pendidikan
lainnya haruslah dilakukan dengan secara bertahap dan dengan memperhitungkan kesiapan
nasional kita untuk mengembangkan hubungan yang simetris dengan lembaga pendidikan
tinggi negara lain. Tanpa kesiapan nasional tersebut, dikhawatirkan sector pendidikan kita
akan menjadi korban dari habungan assimetris atauy persaingan yang tidak seimbang dengan
penyedia layanan pendidikan dari negara lain. Pemerintah Indonesia terlalu terburu-buru
membuka sector jasa pendidikan tinggi dan menawarkan sector tersebut sebagai pasar subur
untuk dilahap oleh negara-negara maju. Karena itu sebaiknya Pemerintah Indonesia perlu
melakukan langkah-langkah drastis untuk meningkatkan kemampuan lembaga pendidikan
tinggi dalam negeri agar mampu menghadapi liberalisasi sektor pendidikan tinggi.
Perdebatan mengenai liberalisasi pendidikan tinggi sangat kompleks. Banyak ahli
berpendapat bahwa pendidikan semestinya mendapatkan perlakuan khusus yang tidak bisa
diatur oleh kekuatan pasar. Menurut Fasel dan Sanner (2003), pendidikan adalah hak manusia
yang semestinya bisa diakses semua orang dalam kondisi optimal. Masih menurutnya,
pendidikan lebih dari sekadar penguasaan ilmu pengetahuan dan ketrampilan. Ia adalah
instrumen publik yang menjamin integrasi mahasiswa ke dalam masyarakat sipil, menjamin
keterikatan sosial dan nasional, serta akses yang bisa merata dalam memperoleh pengetahuan
oleh semua lapisan masyarakat.
Menurut Jane Knight (2002), istilah liberalisasi mempunyai makna promosi untuk
meningkatkan

perdagangan

dengan

menyingkirkan

hambatan

perdagangan.

Masih

menurutnya, liberalisasi juga mempunyai makna akses terhadap pasar tertentu menurut
kondisi yang adil (fair). Oleh karena itu, jika suatu pemerintah memutuskan untuk
meliberalisasi pasar tertentu, ini tidak berarti pemerintah kehilangan haknya dalam mengatur.
Namun, dalam praktiknya, liberalisasi mempunyai dampak pada prosedur regulasi karena
pemerintah dihalangi untuk menetapkan tindakan-tindakan tertentu yang bisa mengurangi
keuntungan akibat liberalisasi.
Sebenarnya, liberalisasi pendidikan tidak perlu bergantung pada GATS. Artinya,
negara bisa mengelola secara mandiri berdasarkan undang-undang dalam negeri sehingga ini
menjadi persoalan eksklusif internal. Namun, sekalipun GATS tidak secara langsung
Page 6

menghendaki liberalisasi secara progresif dalam pelayanan publik, banyak pihak yang
mempercayai bahwa GATS bisa menjadi ancaman bagi pelayanan publik. Hal ini berdasarkan
pada karakter GATS yang memprioritaskan nilai ekonomi diatas nilai sosial dan mendasarkan
diri pada prinsip persaingan bebas. Dalam Porto Alegre Social Forum tahun 2002, sebuah
kesepakatan luas diperoleh bahwa perdagangan bebas tidak menjamin kekayaan dan
pembangunan bagi bangsa dan rakyat, dikarenakan WTO hanya menguntungkan negaranegara kaya yang menghimpun banyak otoritas dan kekuatan atas dominasi ekonomi mereka
di negara berkembang. Negara-negara kaya ini menancapkan dominasi ekonominya melalui
korporasi yang didirikan di negara-negara berkembang. Melalui pemilikan saham dan
penguasaan atas sektor strategis, mereka memiliki akses yang potensial untuk melakukan
intervensi atas kebijakan pemerintah, salah satunya berkaitan dengan kebijakan pendidikan
nasional.
Kebijakan PTN-BH sebagai produk liberalisasi pendidikan tinggi mempersilahkan
lembaga perguruan tinggi negeri yang bersangkutan untuk mencari dana tambahan dalam
menjalankan aktivitas kampus (pembangunan infrastruktur, pembayaran listrik, iuran air,
membayar gaji dosen dan pegawai, dan lain-lain) dari pihak-pihak luar kampus dikarenakan
dana subsidi dari pemerintah secara perlahan dikurangi sebagai implikasi dari kebijakan
otonomi yang diberikan pemerintah pada kampus yang bersangkutan. Diversifikasi sumber
pendanaan ini menjadi angin segar bagi korporasi untuk mengawali keterlibatannya dalam
memenuhi permintaan masyarakat terhadap pendidikan tinggi yang meningkat dari tahun ke
tahun. Keterlibatan korporasi yang dominan dalam institusi pendidikan akan mengaburkan
nilai sosial dari pendidikan itu sendiri sehingga lembaga pendidikan tinggi tak ubahnya
seperti lahan bisnis bagi para kapitalis dan sumber penghidupan bagi kepentingan pribadi.
Perguruan tinggi negeri sejatinya merupakan institusi milik publik yang seharusnya
dikelola oleh negara yang merupakan organisasi teringgi kekuasaan rakyat. Ketika berubah
status menjadi badan hukum, nilai yang muncul adalah privatisasi yang jauh dari marwahnya
dalam memenuhi kepentingan umum.
Dari paparan tersebut terdapat beberapa hal penting terkait liberalisasi pendidikan
terkhususnya di Indonesia yaitu :
Pertama, sebagai sebuah produk liberalisasi pendidikan tinggi, kebijakan PTN BH
merupakan sebuah persoalan kontroversial karena pendidikan diakui sebagai hak asasi
Page 7

manusia. Tetapi di satu sisi, liberalisasi pendidikan secara tidak langsung memberikan
sumbangsih dalam wacana globalisasi. Sebagai bagian dari fenomena global, pendidikan
tinggi mengambil peran strategis dalam mempromosikan persaingan/kompetisi dan
kemampuan peserta didik berkontribusi dalam ranah global melalui disiplin ilmu yang
dimiliki. Sukses atau tidaknya peran pendidikan tinggi tersebut tergantung pada kualitas
lulusan yang dihasilkan dalam menjawab kebutuhan global. Dengan begitu, ini akan memacu
mahasiswa untuk meningkatkan kapasitasnya melalui partisipasi aktif di berbagai aktivitas
positif di kampus seperti penelitian, organisasi, dan kompetisi sebagai upaya untuk
memenuhi kualifikasi yang mampu bersaing dalam ranah global.
Kedua, liberalisasi bisa dinilai menjadi hal penting guna memberikan ruang gerak
yang leluasa kepada penyelenggara pendidikan. Hal tersebut bisa berupa pemberlakuan
otonomi pendidikan tinggi atau Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Sekalipun demikian,
perundangan yang mengatur liberalisasi harus mampu mengakomodasi keberlangsungan
nilai-nilai luhur bangsa sesuai dengan tingkat perkembangan masyarakat. Selain itu,
diperlukan juga batasan yang tegas agar pemodal asing yang masuk ke dalam negeri tidak
mematikan penyelenggara pendidikan lokal. Hal ini dikarenakan bahwa salah satu sumber
penolakan sejumlah kalangan terhadap liberalisasi terletak pada konteks peluang asing yang
terbuka untuk mendikte sistem pendidikan nasional dan mengubah lembaga yang bernuansa
sosial menjadi ajang bisnis.
Ketiga, kebijakan PTN BH wajib berorientasi pada kepentingan nasional dan sejalan
dengan semangat UUD 1945 pasal 31 ayat 1 yang berbunyi, Setiap warga negara berhak
mendapat pendidikan. Otonomi yang diperoleh lembaga pendidikan tinggi diharapkan
mampu dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dalam rangka membangun akses pendidikan
yang lebih luas sehingga mampu menjamah berbagai kelas masyarakat di berbagai wilayah di
Indonesia tanpa harus bergantung pada kebijakan pusat. Setiap bentuk kerjasama dengan
aktor swasta dibangun dalam rangka membenahi dan menyukseskan segala aspek yang
menunjang peningkatan kualitas lembaga pendidikan tinggi tanpa harus membebani calon
atau peserta didik dalam memperoleh kualitas pendidikan yang optimal.

Referensi

Page 8

Nur,

Tajuddin.

Jurnal

Visi

Ilmu

Pendidikan.

Tersedia

di

http://download.portalgaruda.org/article.php?article=33620&val=2347, Hal 2-9. Diakses


pada 09 April 2016.
Darmaningtyas, E. Subkhan dan F. Panimbang. 2009. Tirani Kapital dalam Pendidikan :
Menolak UU BHP. Jakarta : Darmar Press dan Pustaka Yashiba.
Mallea, J. Interantional trade in professional and educational services: implications for the
profession

and

higher

education.

Paris.

OECD-CERI.

Tersedia

di

(http://www.oecd.org/els/papers/papers.htm). Diakses pada 09 April 2016.


Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2012. Indonesia Educational Statistics In Brief
(Ringkasan Statistik Pendidikan Indonesia 2011/2012) Ministry of Education and Culture.
Jakarta : Moec.
World

Bank

and

Education

in

Indonesia.

2014.

Tersedia

di

http://www.worldbank.org/in/country/indonesia/brief/world-bank-and-education-inindonesia. Diakses pada 09 April 2016.


Badan Pusat Statistik. 2015. Jumlah Perguruan Tinggi, Mahasiswa, dan Tenaga Edukatif
(Negeri dan Swasta). Tersedia di https://www.bps.go.id/linkTabelStatis/view/id/1839. /
https://www.bps.go.id/linkTabelStatis/view/id/1840. Diakses pada 10 April 2016.
ASEAN Secretariat. 1995. ASEAN framework agreement on services. Jakarta: Asean
Secretariat.
Setiawan, D. Liberalisasi Pendidikan dan WTO. Tersedia di www.oc.its.ac. Diakses pada 10
April 2016.
Analisis CSIS. 2014. Perdagangan Bebas dan Strategi Pembangunan Pendidikan Vol. 43 No.
3. Jakarta : Centre for Strategic and International Studies (CSIS).
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Daftar Tabel Data
Pendidikan

Perguruan

Tinggi

(PT)

Tahun

2001/2002.

Tersedia

di

http://www.psp.kemdiknas.go-ic/uplods/Statistik%q20pendidikan/0102/index-pt-0102-pdf,
Diakses pada 10 April 2016.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Daftar Tabel Data
Pendidikan

Perguruan

Tinggi

(PT)
Page 9

Tahun

2009/2010.

Tersedia

di

http://www.psp.kemdiknas.go-ic/uplods/Statistik%q20pendidikan/0102/index-pt-0102-pdf,
Diakses pada 10 April 2016.
UU No. 12 Tahun 2012 Pasal 65 Tentang Pendidikan Tinggi.
Winarno, Budi. 2014. Dinamika Isu-Isu Global Kontemporer. Yogyakarta: CAPS.

Page 10