Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM

ILMU LINGKUNGAN
LICHEN SEBAGAI BIOINDIKATOR PENCEMARAN UDARA

Di susun oleh :
Lutfiana Riski

(131810401016)

Hasyim Asari Nasir (131810401017)


Siti Solehatul Muza

(131810401034)

Fresha Aflahul Ula

(131810401042)

Astin Indriani

(131818481055)

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS JEMBER
2015

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI.............................................................................................. 2
BAB I. PENDAHULUAN.............................................................................3
1.1.

Latar Belakang..........................................................................3

1.2.

Rumusan masalah.....................................................................3

1.3.

Tujuan........................................................................................ 4

1.4.

Manfaat..................................................................................... 4

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA.....................................................................5


BAB III. METODOLOGI.............................................................................8
3.1

Tempat dan Waktu Pelaksanaan................................................8

3.2

Alat dan Bahan..........................................................................8

3.3

Prosedur Penelitian....................................................................8

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN.........................................................10


4.1. Hasil........................................................................................... 10
Tabel 4. Indeks Index Atmospheric Purity (IAP).................................11
4.2. Pembahasan.............................................................................. 11
BAB V. PENUTUP................................................................................... 14
5.1. Kesimpulan................................................................................ 14
5.2. Saran......................................................................................... 14
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................15

BAB I. PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang

Semakin berkembangnya zaman, kebutuhan manusia semakin kompleks


sehingga masalah lingkungan yang ditimbulkan juga semakin kompleks. Salah
satu masalah lingkungan adalah meningkatnya polusi udara akibat semakin
banyaknya kendaraan bermotor. Polusi udara tersebut mengandung zat zat
beracun dan logam berat yang dapat mengganggu pernapaan. Salah satu tempat
tersebut adalah jalan raya.
Untuk mengetahui tingkat pencemaran lingkungan, diperlukan seatu media
yang dapat digunakan sebagai tolak ukur pencemaran lingkungan. Salah satu
caranya yaitu menggunakan bioindikator lingkungan. Tumbuhan tertentu memiiki
afinitas terhadap logam logam tertentu yang merupakan sumber pencemaran dan
sumber racun jika terhirup manusia. Salah satu bioindikator yang dapat dijadikan
sebagai indikator pencemaran udara adalah lichen.
Lichen merupakan jenis lumut kerak yang biasaya hidup menempel
dipepohonan. Lichen memiliki afinitas yag tinggi terhadap logam pb sehingga jika
pencemaran logam tersebut sangat tinggi maka lichen tidak dapat hidup didaerah
tersebut. Hal ini juga menandakan bahwa polusi udara didaerah tersebut sangat
tinggi. Karena salah satu sumber Pb terbesar yaitu dari asap knalpot kendaraan
bermotor.
Pengamatan lichen sebagai bioindikator pencemaran udara dilakukan di area
jalan raya di depan Fakultas MIPA Universitas Jember. Sehingga pengamatan ini
bertujuan untuk mengetahui tingkat pencemaran udara disekitar kampus MIPA
Universitas Jember. Karena jalan raya tersebut merupakan salah satu jalan yang
sering dilalui oleh kendaraan bermotor yang memiliki andil besar dalam
pencemaran udara
1.2.

Rumusan masalah

Adapun rumusan masalah dari praktikum ini adalah:


a) Bagaimanakah korelasi antara diversitas lichens dengan tingkat pencemaran
udara di lingkungan Fakultas MIPA Universitas Jember?
b) Bagaimanakah tingkat pencemaran udara di lingkungan Fakultas MIPA
Universitas Jember berdasarkan sampel lichens yang ditemukan?

1.3.

Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah:
3

a. Melakukan pengambilan sampel lichens


b. Menentukan diversitas lichens sebagai tolok ukur terjadinya pencemaran
udara
c. Menghitung dan menentukan status pencemaran di wilayah pengambilan
sampel berdasarkan sampel lichens yang ditemukan
1.4.

Manfaat

Manfaat dari praktikum kali ini adalah untuk mengetahui tingkat


pencemaran dan polusi udara di lingkungan Fakultas MIPA Universitas Jember.
Pengamatan tersebut menggunakan bioindikator berupa lichen. Sehingga dapat
memberikan informasi tingkat pencemaran lingkungan dengan cara mengamati
kerapatan dari lichen pada setiap pohonnya dan mengamati morfologi lichen
secara mikroskopis.

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

Zat atau bahan yang dapat mengakibatkan pencemaran disebut polutan.


Syarat-syarat suatu zat disebut polutan bila zat tersebut dapat menyebabkan
4

kerugian terhadap makhluk hidup. Contohnya, Pb (timbal) tidak merusak bila


konsentrasinya rendah dengan kandungan Pb (timbal) dalam tanaman untuk
berbagai jenis secara normal berkisar 0,5-3,0 ppm. Akan tetapi dalam jangka
waktu yang lama, Pb (timbal) dapat terakumulasi dalam tubuh tumbuhan sampai
tingkat yang merusak. Sumber utama pencemaran udara dengan zat emisi buang
Pb (timbal) adalah asap kendaraan bermotor. Tumbuhan tingkat tinggi relatif
lebih tahan terhadap pencemaran udara dengan zat emisi buangan Pb (timbal)
dari kendaraan bermotor daripada tumbuhan tingkat rendah yang dapat rusak
dengan konsentrasi yang rendah dan membentuk nekrosis (kerusakan jaringan).
Kandungan Pb (timbal) dalam tumbuhan yang tumbuh di tepi jalan dapat
mencapai 50 ppm, tetapi setelah 150 meter dari jalan raya, jumlahnya akan
normal kembali yaitu 2-3 ppm (Siregar, 2005).
Tumbuhan yang ada di sekitar pencemaran udara terjadi, dapat berguna
sebagai biological monitoring. Beberapa tumbuhan tersebut dapat memberikan
respon khusus yang sensitif terhadap adanya pencemaran di udara misalnya
Lichens. Lichens dapat digunakan sebagai bioindikator adanya pencemaran udara
karena mudah menyerap zat-zat kimia yang ada di udara dan dari air hujan (Usuli
et al, 2013).
Talus Lichens tidak memiliki kutikula sehingga mendukung Lichens
dalam menyerap semua unsur senyawa di udara. Unsur senyawa di udara,
terutama keberadaan zat pencemar udara yang melebihi ambang batas tersebut
kemudian diakumulasikan dalam talusnya. Lichens adalah spesies indikator
terbaik yang menyerap sejumlah besar kimia dari air hujan dan polusi udara.
Adanya kemampuan ini menjadikan Lichens sebagai bioindikator yang baik
untuk pemantauan pencemaran udara dalam melihat adanya suatu kondisi udara
pada suatu daerah yang tercemar atau sebaliknya (Panjaitan et al, 2014).
Lichen merupakan hasil asosiasi simbiotik dari fungi dan alga. Jenis alga
yang bersimbiosis yaitu Cyanobacteriae atau Chlorophyceae, sedangkan fungi
yang bersimbiosis biasanya merupakan Ascomycetes, dan terkadang juga berasal
dari Basidiomycetes atau Phycomycetes. Alga merupakan bagian yang
mengandung nutrient, nutrient inilah yang memuat krolofil, sementara fungi
berfungsi memberikan alga supply air dan mineral (Conti dan Cecchetti, 2001).
Lichen hidup sebagai epifit pada pohon-pohonan tapi dapat juga hidup di
atas tanah bahkan dapat hidup di daerah yang ekstrim, sehingga Lichens sering
disebut dengan organisme perintis Lichen sebagai tumbuhan perintis yang hidup
tumbuh dialam pada kondisi yang tidak menguntungkan. Lichen tersebut
memulai pembentukan tanah dengan melapukkan pohon dan batu-batuan serta

dalam proses terjadinya tanah. Lichen sangat tahan terhadap kekeringan. Jenisjenis Lichens yang hidup pada bebatuan pada musim kering berkerut sampai
terlepas alasnya tetapi organisme tersebut tidak mati dan hanya berada dalam
hidup laten/dormancy. Jika segera mendapat air maka tubuh tumbuhan yang telah
kering tersebut mulai menunjukkan aktivitasnya kembali (Hasnunidah,2009).
Pertumbuhan lichenes sangat lambat dan kondisi yang cenderung
mempercepat laju pertumbuhannya juga harus sesuai dengan pertumbuhan dari
alga dan fungi yang nantinya akan terjadi simbiosis mutualisme. Dalam hidupnya
lichenes tidak memerlukan syarat hidup yang tinggi dan tahan terhadap
kekurangan air dalam jangka waktu yang lama. Lichenes yang hidup pada batuan
dapat menjadi kering karena teriknya matahari, tetapi tumbuhan ini tidak mati,
dan jika turun hujan maka dapat hidup kembali. Tumbuhan ini memiliki warna
yang bervariasi seperti putih, hijau keabu-abuan, kuning, oranye, coklat, merah
dan hitam (Tjitrosoepomo, 1989).
Lichens sangat sensitif terhadap pencemaran udara dan cepat menghilang
pada daerah yang mempunyai kadar polusi udara yang berat. Salah satu yang
menyebabkan ini terjadi Lichen dapat menyerap dan mengendapkan mineral dari
air hujan dan udara dan tidak dapat mengeluarkannya sehingga konsentrasi
senyawa yang mematikan seperti SO2 sangat mudah masuk. Lichen melalui
perannya sebagai tumbuhan perintis menjadikan dirinya mempunyai kemampuan
regenerasi yang tinggi. Dalam artian Lichen bisa tumbuh kembali apabila kondisi
udara di ekosistem tempatnya tumbuh sudah mulai pulih (Prawito, 2009).
Lichen dapat digunakan sebagai bioindikator melalui dua cara yaitu:
a. Dengan menggunakan pemetaan (mapping) melalui kehadiran
semua spesies pada area-area yang spesifik.
b. Melalui individual sampling dari spesies Lichen dan mengukur
polutan yang terakumulasi di dalam thallus (bagian dari tubuh
Lichens), atau mentranspalasi Lichen yang berasal dari area yang
tidak tercemar ke tempat yang tercemar, kemudian mengukur
perubahan morfologi yang terjadi pada thallus Lichen dan
mengevaluasi parameter fisiologi serta bisa pula dengan
mengevaluasi bioakumulasi polutan yang terjadi.
(Nurjanah et al, 2014)
Perubahan morfologi Lichens terhadap pencemar dapat dilakukan dengan
dua metode alternative:
a. Fast resposn : adanya perubahan secara fisiologis pada clorofil
lumut kerak dan fotosintesis Lichens dalam berbagai kondisi
kualitas. Pada lingkungan dengan kualitas udara yang baik, lumut
6

kerak tumbuh subur dan berwarna hijau muda hingga hijau tua.
Namun, pada lingkungan yang kualitas udaranya telah terjadi
pencemaran, pertumbuhan Lichens hanya sedikit dan
warnanyapun abu-abu hingga kehitaman.
b. Slow respons : perubahan komunitas Lichens, yaitu perubahan
species pada setiap level-level polusi yang berbeda. Lichenss yang
terpapar polusi udara dalam waktu yang lama menunjukkan
perubahan jumlah komunitas menjadi lebih sedikit dengan
mengukur kondisi awal Lichenes pada awal penelitian kemudian
mengamati perubahan bentuk morfologi dalam periode waktu
tertentu. jika Disuatu tempat masih terdapat Lichens maka dapat
diketahui bahwa udara di tempat tersebut masih tergolong bersih,
dan Jika di suatu tempat tidak terdapat Lichens maka dapat
diketahui udara ditempat tesebut sudah tercemar. perubahan
Lichens berbeda pada setiap tingkatan polusi (Usuli et al, 2013).
Perubahan komposisi dalam komunitas Lichens berkorelasi dengan
perubahan level dari polusi yang ada di atmosfer. Lichen berdasarkan perbedaan
pada setiap spesiesnya mempunyai reaksi yang berbeda-beda terhadap berbagai
polutan dalam berbagai cara. Reaksi yang dihasilkan berbeda-beda sesuai dengan
tingkat sensitifitas pada setiap spesies Lichen. Klasifikasi terhadap spesies
Lichen merupakan penelitian yang paling sering didiskusikan dalam setiap
literatur yang berbeda. Sensitifitas Lichen terhadap SO2 merupakan kontaminan
dasar yang paling banyak diklasifikasikan karena Lichens cenderung lebih
memperlihatkan perubahan yang signifikan terhadap senyawa pencemar ini
(Nimis dan Tretiach, 1995).

BAB III. METODOLOGI

3.1 Tempat dan Waktu Pelaksanaan


Pengambilan sampel Lichen dilakukan di lingkungan sekitar Jurusan
Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Universitas
Jember. Waktu pelaksanaan dilaksanakan hari Rabu, 28 Oktober 2015 pukul 07.50
sampai 10.40 WIB.
3.2 Alat dan Bahan
3.1.1 Alat
- Kertas Millimeter Block
- Pensil
- Metline
- Kamera
- Cutter
- Kantong Plastik
- Marker
- Buku Petunjuk Praktikum
- Mikroskop stereo
- Selotip
3.1.2 Bahan
- Sampel Lichen pada pohon
3.3 Prosedur Penelitian
lichen
Dipilih 5 sampel pohon yang ditumbuhi
Dipilih sampel lichen yang terkena sinar matahari
Diukur pohon dari ketinggian 1 meter diatas permukaan tanah
dengan metlein
Dibuat 2 plot pada masing-masing pohon dengan kertas
milimeter blok ukuran 15 x 20 cm
Diambil sebagian sampel lichen pada tiap-tiap plot menggunakan
cutter

Dimasukkan kedalam kantung plastik


Diidentifikasi dan dihitung persentase debu pada lichen
Hasil

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1. Hasil
Tabel 1. Persen penutupan lichen
No
.

spesie
s

1.

pohon 1 (palem)

pohon 2 (palem)

plot 1
75

plot 1
70

plot 2
78

plot 2
50

pohon 3
(palem)
plot 1
plot 2
40
5

pohon 4 (dadap)

pohon 5 (dadap)

plot 1
30

plot 1
85

plot 2
35

plot 2
70

total
perse
n
538

total/10
0
5,380

Tabel 2. Indeks diversitas lichen


D

DM
Dr
0,00358
1
7 100

Fm
10

FR
1

INP
100

Pi

200

H
1

Tabel 3. Jumlah debu pada lichen


Debu
Luas Sampel
%

Sampel 1
Sampel 2 Sampel 3
Total
4,167
2,737
6,658
13,562
2097,098
2097,098
2097,098
6291,294
0,199
0,131
0,317
0,647

10

11

Tabel 4. Indeks Index Atmospheric Purity (IAP)


fm

luas total plot


1

fi
IAP = fi
1500 0,00067
0,00067

Keterangan :
Level A
Level B
Level C
Level D
Level E

0 IAP 12.5
12.5 < IAP 25
25 < IAP 37.5
37.5 < IAP 50
IAP > 50

Tingkat cemaran sangat tinggi


Tingkat cemaran tinggi
Tingkat cemaran moderate
Tingkat cemaran rendah
Tingkat cemaran sangat rendah

4.2. Pembahasan
Tingkat pencemaran udara oleh polutan kendaraan bermotor atau polutan
pembakaran dapat tentukan dengan menggunakan biological biomonitoring
sebagai bioindikator terhadap kualitas udara suatu lingkungan. bioindikator yang
ada di lingkungan. Bioindikator merupakan organisme yang dapat digunakan
untuk mendeteksi, mengidentifikasi dan mengkualifikasikan pencemaran
lingkungan oleh suatu polutan. Dalam kegiatan praktikum kali ini, untuk
mengetahui kualitas udara lingkungan Fakultas MIPA Universitas Jember maka
digunakan lichen (Lumut kerak) sebagai bioindikator pencemaran udara.
Penggunaan lichen sebagai bioindikator dinilai lebih efisien dibandingkan
menggunakan alat atau mesin indikator ambien yang dalam pengoperasiannya
memerlukan biaya yang besar dan penanganan khusus (Loopi et.al 2002
Lichen adalah spesies indikator terbaik yang menyerap sejumlah besar
kimia dari air hujan dan polusi udara Sensitif terhadap racun sehingga berguna
sebagai indikator peringatan dini untuk memantau kesehatan lingkungan.
Distribusi dan kerapatan lichen berguna untuk mengidentifikasi daerah yang
terkontaminasi (Indrawan et al., 2007). Lichen digunakan sebagai bioindikator
pencemaran udara karena lichen sangat sensitif terhadap pencemaran udara,
memiliki sebaran geografis yang luas (kecuali di daerah perairan), keberadaannya
melimpah, sesil, perennial, memiliki bentuk morfologi yang relatif tetap dalam
jangka waktu yang lama dan tidak memiliki lapisan kutikula sehingga lichen
dapat menyerap gas dan partikel polutan secara langsung melalui permukaan
talusnya (Panjaitan et al., 2014 )
Praktikum kali ini menggunakan menggunakan metode sampling pada 5
pohon yang masing-masing diberi 2 plot dengan ukuran 10x15 cm. Pada masing12

masing plot diambil sampel lichens kemudian dilakukan pengamatan secara


mikroskopis dengan mikroskop dan dengan bantuan optilab untuk melihat
struktur morfologi dan jumlah akumulasi debu(berupa senyawa kimia) pada organ
thalus.
Berdasarkan hasil pengamatan pada setiap pohon memiliki persen
penutupan yang berbeda-beda. Pada pohon 1 persen penutupan lichen cukup besar
yaitu 75 % pada plot 1 dan 78% pada plot 2. Sedangkan pada pohon 2 persen
penutupan lebih rendah yaitu 70 % untuk plot 1 dan 50 % untuk plot 2. Persen
penutupan lichen pada pohon 3 lebih rendah daripada pohon 1 dan 2 yaitu 40 %
pada plot 1 dan 5 % pada plot 2. Ketiga pohon ini memiliki jenis yang sama yaitu
jenis palem, namun memiliki persen penutupan yang berbeda. Pada pohon 4,
persen penutupan lichen untuk plot 1 adalah 30 % dan 35 % untuk plot 2. Pada
pohon 5 persen penutupan lebih besar pada plot 1 yaitu 85 % dan untuk plot 2
adalah 70 %. Kedua pohon ini juga merupakan jenis pohon yang sama (pohon
dadap) namun memiliki persen penutupan lichen yang berbeda. Hal ini
kemungkinan ada hubungannya letak dan jenis pohon. Pohon yang terletak paling
dekat dengan jalan raya akan memiliki kemungkinan paling besar untuk terpapar
udara yang tercemar dibandingkan dengan pohon yang terletak jauh dari jalan
raya. Jika dibandingkan dengan pohon dadap pohon palem terletak paling dekat
dengan jalan raya sehingga lebih banyak bagian pohon yang terpapar udara yang
tercemar. Hal ini mengakibatkan kerusakan pada lichen sehingga jumlah lichen
sedikit (Hardini, 2010).
Hasil eksplorasi lichen pada 5 pohon dengan 2 jenis yang berbeda (Palm
dan Dadap) terdapat 1 jenis lichen yang ditemukan yaitu Dirinaria applanata.
Dirinaria applanata merupakan lichen yang memiliki thallus tipe foliose dengan
panjang hingga mencapai 6 cm pinatus atau subpinatus. Lobus radiatus dengan
permukaan datar atau cembung dan kadang-kadang cekung terhadap ujung lobus
dengan lebar 0.5-2 mm. Permukaan atas memiliki warna thalus abu-abu, putih
abu-abu atau hampir putih dengan sebuah punctiformis. Permukaan bawah
memiliki warna hitam pada bagian tengah dan pucat hingga pada ujung lobus.
Memilih substrat untuk hidup berupa pohon berkayu dan batu. Terdistribusi secara
luas dari ekosistem tepi pantai hingga ke hutan tropis pegunungan. Dirinaria
applanata menghasilkan metabolit sekunder berupa atranorin divaricatic acid dan
senyawa terpene pada konsentrasi yang rendah.
Dirinaria applanata adalah lichen tipe foliose yang ditemukan di seluruh
lokasi pengamatan. Lichen foliose atau disebut juga leafy lichen, memiliki struktur
talus yang luas dan dapat dengan mudah dilepaskan dari substratnya. Permukaan
talus yang luas menyebabkan lichen foliose memiliki kontak yang lebih besar
13

dengan polutan sehingga akumulasi polutan lebih efisien dibandingkan tipe talus
lainnya . Dirinaria applanata ditemukan pada semua plot karena Dirinaria
applanata merupakan jenis lichen yang toleran dan dapat hidup pada udara yang
bersih maupun udara tercemar. (Panjaitan et al., 2014 )
Nilai diversitas (H) lichen pada lokasi pengamatan adalah 0. Hal ini karena
hanya ditemukan satu jenis lichen yaitu Dirinaria applanata di lokasi
pengamatan. Tingkat keanekaragaman yang sangat rendah ini berhubungan
dengan kualitas udara di lokasi pengamatan. Rendahnya kualitas udara di suatu
wilayah maka tingkat keanekaragaman lichen akan semakin rendah. Lichen yang
tidak memiliki kutikula akan langsung menyerap polutan dari udara tanpa
menyeleksinya terlebih dahulu. Hal ini akan membuat akumulasi material seperti
sulfur logam Pb pada tallus. Zat-zat polutan yang tidak terurai akan merusak
lichen sehingga dapat mengganggu keberadaan lichen tersebut (Nurjanah et al.,
2014) Lokasi pengamatan sangat dekat dengan jalan raya sehingga tingkat
pencemaran udara oleh kendaraan bermotor juga semakin tinggi. Semakin rendah
tingkat kepadatan lalu lintas, maka akan semakin tinggi keanekaragaman jenis
lichen yang ditemukan di suatu lokasi (Panjaitan et al., 2014 ). Selain itu terdapat
proyek pembangunan gedung di sebelah barat pohon 4 dan 5 sehingga juga dapat
berpengaruh terhadap kualitas udara di sekitar lokasi pengamatan.
Berdasarkan hasil perhitungan Index Atmospheric Purity (IAP) yang
bernilai 0,00067 maka dapat dikategorikan tingkat cemaran di lingkungan
Fakultas MIPA Universitas Jember sangat tinggi. Hal ini disebabkan karena lokasi
pengambilan sampel berada di tepi jalan raya sehingga tingkat pencemaran oleh
kendaraan bermotor sangat tinggi. Semakin banyak jumlah kendaraan
bermotor,maka akan semakin banyak material polutan seperti CO2. Jika kadar
CO2 telah melampaui batas yang dibutuhkan, akan menurunkan laju fotosintetik.
Dengan meningkatkan SO2, CO, dan CO2 di udara akan meningkatkan suhu
udara disekitar. lingkungan tersebut. Suhu yang tinggi akan meningkatkan laju
respirasi dan menurunkan laju fotosintesis. Jika hal tersebut terus berlangsung
akan menyebabkan kematian lichen.
Kandungan senyawa kimia di udara seperti Pb, SO, CO di udara dapat
terakumulasi di thalus lichen dalam jangka waktu yang sangat lama.Pada
akumulasi yang terlalu tinggi senyawa kimia dapat merusak lichen. Berdasarkan
pengamatan secara mikroskopis terhadap thalus lichen menunjukkan akumulasi
debu tertinggi ada pada sampel 3 dengan jumlah luas debu 6.658 mm 2. Akumulasi
debu yang tinggi menunjukkan bahwa lichen menyerap banyak senyawa kimia
dari udara yang tercemar.

14

BAB V. PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diperoleh dari praktikum ini adalah:
a) Tingkat pencemaran udara dapat diketahui dengan menghitung dan
mengamati jumlah dan keanekaragaman jenis lichen di lokasi tersebut.
b) Semakin sedikit keanekaragaman jenis lichen di suatu lokasi, maka tingkat
pencemaran udara semakin tinggi.
c) Tingkat pencemaran udara di lingkungan Fakultas MIPA Universitas
Jember termasuk sangat tinggi berdasarkan nilai Index Atmospheric Purity
(IAP) yaitu sebesar 0.00067.
5.2. Saran
Adapun untuk praktikum selanjutnya diharapkan praktikan lebih teliti
dalam mengamati dan mengambil sampel lichen serta lebih memperhatikan
faktor-faktor yang mempengaruhi hasil pengamatan sehingga data yang diperoleh
lebih jelas dan akurat.

DAFTAR PUSTAKA

15

Conti, M.E dan Cecchetti, G. 2001. Biological monitoring: lichens as


bioindicators of air pollutan assessment-a review. Environmental
Pollution. 114 : 471-492.
Hardini, Y. 2010. Keanekaragaman Lichen Di Denpasar Sebagai Bioindikator
Pencemaran Udara. Seminar Nasional Biologi. Fakultas Biologi UGM,
Yogyakarta 24-25 September 2010.
Hasnunidah, N. 2009. Botani Tumbuhan Rendah. Bandarlampung: Unila.
Indrawan, M., R.B. Primack and J.Supriatna. 2007. Biologi Konservasi. Yayasan
Obor Indonesia.
Nimis, P.L., dan Tretiach, M. 1995. The Lichen of Italy a phytoclimatical
outline. Crypt. Bot. 5: 199-208.
Nurjanah, S., Anitasari, Yousep., Mubaidullah, Shofa dan Bashri, A. 2014.
Keragaman Dan Kemampuan Lichen Menyerap Air Sebagai Bioindikator
Pencemaran Udara Di Kediri. Kediri: Universitas Nusantara PGRI.
Panjaitan, Desi, M., Fitmawati dan Martina, A. 2014. Keanekaragaman Lichen
Sebagai Bioindikator Pencemaran Udara Di Kota Pekanbaru Provinsi
Riau. Jurnal

Keanekaragaman

Lichen

Sebagai

Bioindikator

Pencemaran. 01: 01-17.


Prawito, P. 2009. Pemanfaatan Tumbuhan Perintis Dalam Proses Rehabilitasi
Lahan Paskatambang Di Bengkulu. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan
9(1) :7-12.
Siregar, E.B.M. 2005. Pencemaran Udara, Respon Tanaman dan Pengaruhnya
Pada Manusia. Makalah Seminar Falsafah Sains. Medan: Fakultas
Pertanian

USU.

Tjitrosoepomo, G. 1989. Taksonomi Tumbuhan. Yogyakarta: Gadjah Mada


University Press.

16

Usuli, Yuliani., Uno.D, Wirnangsi, Baderan, dan Dewi W.K. 2013. Lumut Kerak
Sebagai Bioindikator Pencemaran Udara. Gorontalo: Universitas Negeri
Gorontalo.

17