Anda di halaman 1dari 13

CINTA DALAM ISLAM

Disusun guna memenuhi tugas Agama Islam


Dosen pengampu: Daryanto, S. Ag. M. Pi

DISUSUN OLEH
1. VINI PANGESTINING LARAS
2. WINDHY OKTIFANI NP
3. YONANDA

(2013.1174)
(2013 1176)
(2013.1177)

AKADEMI KEPERAWATAN MAMBAUL ULUM SURAKARTA


TAHUN AJARAN 2013/2014

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan Makalah ini dengan lancar. Tujuan
utama dari penyusunan Makalah ini yaitu untuk memenuhi salah satu tugas mata
kuliah Agama Islam guna memperoleh nilai tugas harian. Penulis berusaha
memberikan yang terbaik agar penulisan Makalah ini dapat dengan mudah
dipahami oleh para pembaca sehingga dapat bermanfaat serta menambah
wawasan dan pengetahuan. Penyusunan Makalah ini dapat terselesaikan karena
dorongan dan bimbingan dari berbagai pihak.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan Makalah ini masih banyak
kekurangan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran dari semua
pihak demi kesempurnaan penyusunan Makalah ini.
Akhirnya penulis berharap semoga Makalah ini dapat bermanfaat bagi para
pembaca.

Surakarta, 31 Maret 2015

Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam dunia nyata begitu banyak orang yang mendefinisikan cinta
dari berbagai segi dan sisi. Tapi terkadang orang-orang tersebut
mendeskripsikan cinta mengikuti apa yang mereka rasakan saat itu, ada
yang mendefinisikan cinta adalah kebahagiaan, tapi tak jarang pula orang
yang berkata bahwa cinta adalah air mata. Cinta tidak bisa didefinisikan
dengan jelas, bahkan bila didefinisikan tidak menghasilkan (sesuatu)
melainkan menambah kabur dan tidak jelas, (berarti) definisinya adalah
adanya cinta itu sendiri. Pada hakekatnya Cinta itu adalah sebuah amalan
hati yang akan terwujud dalam (amalan) lahiriah. Apabila cinta tersebut
sesuai dengan apa yang diridhai Allah SWT, maka ia akan menjadi ibadah.
Dan apabila sebaliknya, jika cinta itu tidak sesuai dengan ridha Allah SWT
maka akan menjadi perbuatan maksiat (seperti yang terjadi pada zaman
sekarang ini). Berarti jelas bahwa cinta adalah ibadah hati yang bila keliru
menempatkannya akan menjatuhkan kita ke dalam sesuatu yang dimurkai
Allah yaitu kesyirikan.
Terjadi kekeliruan dalam pendefinisian tentang cinta, terutama
terjadi pada masa-masa remaja. Banyak remaja yang beranggapan cinta
terhadap pasangan adalah hal yang sangat penting, bila sudah putus cinta
banyak remaja yang merasa bersedih berlebih atau bahkan putus asa.
Karena beberapa hal diatas, kami embuat makalah mengenai cinta dalam
Islam yang baik seperti apa.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan cinta?
2. Bagaimana pandangan Islam tentang cinta?
3. Apa saja cinta menurut Islam?
4. Bagaiman cinta pada Allah?
5. Apakah makna kasih yang sesungguhnya?

C. Tujuan
1. Mengetahui definisi cinta.
2. Mengetahui pandangan Islam tentang cinta.
3. Mengetahui macam cinta menurut Islam.
4. Mengetahui cinta pada Allah.
5. Mengerti makna kasih yang sesungguhnya.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Cinta
Banyak yang sepakat bahwa cinta sulit didefinisikan, oleh karena
cinta berhubungan dengan emosi, bukan dengan intelektual. Perasaan lebih
berperan dalam cinta daripada proses intelektual. Karena berkaitan dengan
emosi, setiap orang dapat memberikan konsep tentang cinta sesuai dengan
keadaan emosinya. Inilah alasan mengapa sehingga terdapat banyak
rumusan tentang cinta dan tidak mudah menentukan rumusan mana yang
tepat. Makin sulit lagi tampaknya karena selama ini pengetahuan tentang
cinta tidak jelas masuk disiplin ilmu apa.
Beberapa pengertian tentang cinta menurut para ahli:
Menurut Rabiah Al-Adawiyah: cinta adalah ungkapan kerinduan
dan gambaran perasaan yang terdalam. Siapa yang merasakannya, niscaya
akan mengenalinya. Namun, siapa yang mencoba untuk menyifatinya,
pasti akan gagal.
Menurut Jalaluddin Rumi: cinta adalah sumber segala sesuatu.
Dunia dan kehidupan muncul karena kekuatan yang bernama cinta. Cinta
adalah inti dari segala bentuk kehidupan di dunia.
Menurut Kahlil Gibran: cinta adalah satu-satunya kebebesan di
dunia

karena

cinta

itu

membangkitkan

semangat

hukum-hukum

kemanusiaan dan gejala-gejala alami pun tak bisa mengubah perjalannya.


Cinta ibarat seekor burung yang cantik, meminta untuk ditangkap tapi
menolak untuk disakiti.
Menurut Mahmud bin Asy-Syarif: cinta adalah sebuah kerinduan
yang tidak berujung, sebuah rasa kangen yang meletup-letup, dan sebuah
kegilaan yang tidak berkesudahan.
Menurut Ibnul Qayyim al-Jauziah: cinta adalah luapan hati dan
gejolaknya saat dirundung keinginan untuk bertemu dengan sang kekasih.
B. Pandangan Islam Mengenai Cinta

Ibnul Qayyim pun juga pernah mengatakan bahwa : Cinta tidak


bisa didefinisikan dengan jelas, bahkan bila didefinisikan tidak
menghasilkan (sesuatu) melainkan menambah kabur dan tidak jelas,
(berarti) definisinya adalah adanya cinta itu sendiri.
Pada hakekatnya Cinta itu adalah sebuah amalan hati yang akan
terwujud dalam (amalan) lahiriah. Apabila cinta tersebut sesuai dengan apa
yang diridhai Allah SWT, maka ia akan menjadi ibadah. Dan apabila
sebaliknya, jika cinta itu tidak sesuai dengan ridha Allah SWT maka akan
menjadi perbuatan maksiat (seperti yang terjadi pada zaman sekarang
ini). Berarti jelas bahwa cinta adalah ibadah hati yang bila keliru
menempatkannya akan menjatuhkan kita ke dalam sesuatu yang dimurkai
Allah yaitu kesyirikan.
Islam menyeru kepada cinta, yaitu cinta kepada Allah, cinta kepada
Rasulullah, cinta kepada Agama, cinta kepada aqidah, juga cinta kepada
sesama makhluk, sebagaimana Allah menjadikan perasaan cinta antara
suami istri sebagai sebagian tanda dan bukti kekuasaan-Nya, firman Allah
SWT:
Dan

di

antara

tanda-tanda

kekuasaan-Nya

ialah

Dia

menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu


cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di
antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu
benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir (QS. Ar-Ruum:
21).
Rasulullah SAW, bersabda: Cintailah kekasihmu sewajarnya saja
karena bisa saja suatu saat nanti ia akan menjadi orang yang kamu benci.
Bencilah sewajarnya karena bisa saja suatu saat nanti ia akan menjadi
kekasihmu. (HR. Al-Tirmidzi)
Dari Anas r.a. dari Nabi SAW, bersabda: Tiga perkara yang
apabila terdapat pada diri seseorang, niscaya ia akan merasakan
manisnya iman, yaitu: Hendaknya Allah dan rasul-Nya lebih dicintainya
daripada yang lain. Hendaklah bila ia mencintai seseorang semata-mata
karena Allah. Hendaklah ia benci untuk kembali kepada kekafiran

sebagaimana ia benci kalau akan dicampakkan ke dalam api neraka.


(HR. Bukhari)
Nabi SAW menjelaskan bahwa ada tiga hal yang apabila diamalkan
oleh seseorang maka ia akan merasakan manisnya iman. Manis disini
menunjukkan arti nikmat, senang, suka terhadap iman. Apabila seseorang
merasa nikmat terhadap sesuatu maka ia tidak akan rela apabila sesuatu itu
lepas dan hilang dari dirinya, apalagi kenikmatan itu adalah kenikmatan
iman, suatu anugerah terbesar yang seharusnya kita syukuri dan harus
benar-benar dipertahankan sampai akhir hayat kita. Jika kita berhasil
mempertahankan iman sampai ajal menjemput, maka demi Allah, surga
telah menanti kita. Tiga hal yang dapat menimbulkan manisnya iman
tersebut adalah:
1. Mencintai Allah dan rasul-Nya melebihi kecintaan terhadap yang lain.
Mencintai Allah dan rasul-Nya harus kita tempatkan pada urutan
teratas dari daftar siapa yang kita cintai. Mencintai Allah dan rasul-Nya
berarti kita bertaqwa dengan sebenar-benarnya taqwa kepada Allah,
menuntut ilmu yang berkenaan dengan sunnah Rasulullah SAW. dan
mengamalkannya. Kepentingan Allah dan rasul-Nya harus kita jadikan
prioritas

utama

dibandingkan

dengan

urusan

lain.

Orang yang mencintai Allah dan rasul-Nya melebihi kecintaan lainnya


akan memperoleh kenikmatan yang kekal. Sebaliknya orang yang
mencintai sesuatu melebihi kecintaannya terhadap Allah dan rasul-Nya
hanya akan memperoleh kenikmatan nisbi (sementara).
2. Mencintai seseorang karena Allah. Agama mengajarkan cinta dan
benci itu bukan karena orangnya, tetapi karena perbuatannya, apakah
ia mengikuti ajaran Allah atau malah menyimpang dari ajaran Allah.
Jika kita mencintai karena orangnya, seperti karena ia cantik/tampan,
atau karena ia kaya, dll. Maka sangat besar kemungkinan kita akan
terbutakan oleh cinta itu, sehingga tidak lagi dapat membedakan antara
yang baik dan buruk. Jika kita mencintai seseorang karena ia
mengikuti ajaran Allah, maka insyaallah hidup kita akan lebih

berkualitas karena setiap saat kita akan berusaha memperbaiki diri


untuk senantiasa bersama mendekatkan diri kepada Allah.
3. Benci kepada kekufuran seperti benci jika dicampakkan ke dalam api
neraka. Siapapun orangnya, pasti tidak akan mau apabila dimasukkan
ke dalam api neraka yang di dalamnya penuh dengan siksaan yang tak
pernah kita bayangkan. Dalam suatu riwayat diceritakan oleh Nabi
SAW. bahwa siksaan paling ringan dalam neraka adalah seseorang
yang cuma berdiri sedangkan otaknya mendidih karena panasnya
neraka, naudzubillah min dzalik. Satu syarat terakhir agar kita bisa
merasakan manisnya iman adalah kita harus punya semangat untuk
menjauhi kekufuran sama seperti semangat kita untuk tidak mau
dimasukkan ke dalam neraka.
Kufur artiya menolak kebenaran, dan orang yang menolak kebenaran
dalam Islam disebut kafir. Orang kafir menolak kebenaran, atau
perintah Allah, dan mengikuti keinginan hawa nafsunya sendiri.
C. Macam Cinta Menurut Islam
1. Cinta kepada Tuhan (Allah SWT)
Puncak cinta manusia yang paling tinggi, mulia, jernih dan spiritual
ialah cintanya kepada Allah dan kerinduannya kepada-Nya.Tidak
hanya shalat, pujian dan doanya, tetapi semua tindakan dan tingkah
lakuknya ditujukan kepada Allah, mengharapkan penerimaan dan
ridha-Nya. Dalam firman Tuhan : Katakanlah: jika kamu (benarbenar) mencintai Allah, ikutlah aku, niscaya Allah mengasihi dan
mengampuni dosa-dosamu. Allah maha pengamupun lagi maha
penyayang (Q:3:31).
Cinta seorang mukmin kepada Allah melebihi cintanya kepada segala
sesuatu yang ada di dalam kehidupan ini, melebihi cintanya kepada
dirinya sendiri, anak-anaknya, isterinya, kedua orang tuanya,
keluarganya dan hartanya.
Cinta yang ikhlas seorang manusia kepada Allah merupakan
pendorong dan mengarahkannya kepada penundukkan semua bentuk
kecintaan lainnya. Cinta kepada Allah akan membuat seseorang akan

menjadi mencintai sesama manusia, hewan, semua makhluk Allah, dan


seluruh alam semesta. Hal ini terjadi karena semua yang ada dipandang
sebagai manifestasi Tuhannya, sebagai sumber kerinduan spiritualnya
dan harapan kalbunya.
2. Cinta sesama manusia
Cinta kepada sesama manusia merupakan watak manusia itu
sendiri.Perlakuan yang baik kepada sesama manusia bukan dalam arti
karena seseorang itu membela, menyetujui, mendukung, atau berguna
bagi dirinya, melainkan datang dari hati nuraninya yang ikhlas disertai
tujuan yang mulia.
Motivasi seseorang mencintai sesama manusia disebabkan karena
manusia itu sendiri tidak dapat hidup sendirian (manusia sebagai
makhluk sosial) dan merupakan suatu kewajiban (QS:49:10)
3. Cinta diri
Secara alamiah manusia mencintai dirinya sendiri.Manusia membenci
segala sesuatu yang mendatangkan penderitaan, rasa sakit dan bahaya
lainnya. Cinta diri erat hubungannya dengan menjaga diri.Manusia
menurut segala sesuatu yang bermanfaat dan berguna bagi dirinya.
Gejala yang menunjukkan kecintaan manusia terhadap dirinya sendiri
ialah kecintaanya luar biasa terhadap harta benda. Sebab manusia
beranggapan dengan harta benda ia dapat merealisasikan semua
keinginannya guna mencapai kesenangan-kesenangan kemewahan
hidup. Cinta terhadap dirinya tidak harus dihilangkan, tetapi harus
berimbang dengan cinta kepada orang lain untuk berbuat baik. Inilah
yang dimaksud dengan cinta ideal. Al-Quran (QS:7:188 dan Surah 41
ayat 49).
D. Cinta pada Allah
Dalam islam dikenal juga istilah khouf atau perasaan takut akan
azab tuhan yang secara proposional diletakkan pada awal, saat seseorang
melakukan peribadatan kepada Allah. Tapi, ia tidak boleh berhenti pada
makna khouf saja tetapi harus ketahap pada tingkatan pada makna roja
(memiliki harapan kepada Allah) yang biasanya perspektif ini ada pada
akhir peribadatan yang berharap bahwa ibadahnya diterima Allah SWT.

Ada cinta Mahabbah, yaitu ketika cinta datang itulah puncak


peribadatan yang dilakukan kaum muslimin terhadap tuhannya. Ibnu
Qayyim al-Jauziyah menjelaskan bahwa unsur pada inti dalam ibadah
adalah kecintaan yang dibarengi dengan ketundukan dan kerendahan diri
kepada yang dicintai. Barang siapa yang mencintai sesuatu dan disertai
dengan ketundukan, maka hatinya hanya beribadah kepada-Nya. Bahkan,
ibadah adalah tahap akhir dari kecintaan.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah menjelaskan lebih detail lagi tentang
ikatan cinta yaitu: hubungan antara yang mencintai dengan yang dicintai;
Sababah, yaitu tercurahnya hati kepada yang dicintai; Gharam, yaitu
keterpautan

atau

kelekatan

hati

kepada

yang

dicintai

secara

berkesinambungan, sehingga tidak terlepas; Isq, yaitu pergi menuju


kepada orang yang dicintai dengan kecintaan yang berlebihan. Karena
itulah Allah tidak disifati dengan sifat ini; Syauq, yaitu kedamaian hati
kepada yang dicintai atau orang yang dicintai tertulis dalam hati dalam
bentuk kerinduan.
Bersamaan dengan hal tersebut ada hadits qudsi yang disebutkan
dalam Shahih Bukhori, Allah berfirman Tidaklah seorang hamba
mendekatkan diri kepadaKu dengan sesuatu yang Aku wajibkan dan
senantiasa ia beribadah dengan yang sunnah, kecuali Aku mencintainya.
Jika Aku mencintainya, maka setiap Aku pendengarannya yang ia
mendengar dengannya, Aku penglihatan yang ia melihat dengannya, Aku
tangannya yang ia memukul dengannya, Aku kakinya yang ia berjalan
dengannya. Jika ia meminta kepada-Ku, maka Aku akan memberikan
perlindungan kepadanya. Tidaklah Aku ragu-ragu dalam melaksanaakan
sesuatu, jika Aku yang melakukanya, kecuali keraguan-Ku ketika
mencabut nyawa hamba-Ku yang beriman yang benci kematian dan Aku
benci apa yang ia benci.
Dari hadits qudsi diatas, Ibnu Qayyim al-Jauziyah menjelaskan
bahwa Allah meringkas faktor dan sebab memperoleh kecintaan-Nya
dalam dua hal, yaitu: melakukan kewajiban-kewajiban (perintah) Allah;
mendekatkan diri dengan-Nya dengan ibadah-ibadah sunnah.Allah Swt

telah memberitahukan bahwa yang paling dicintai adalah melakukan


kewajiban-kewajiban,

kemudian

melakukan

yang

sunnah-sunnah.

Kecintaan inilah yang menguasainya dalam setiap geraknya; yaitu dalam


mendengar, melihat, berjalan, dan seterusnya.
E. Makna Sesungguhnya dari Kekasih Menurut Islam
Dalam Islam kata Kekasih sangatlah mempengaruhi arti cinta,
arti konteks dari kata kekasih menurut Islam adalah waliyullah yang sama
pengertiannya oleh Kekasih Allah. Tidak ada yang tahu Kekasih Allah
yang sebenarnya kecuali wali (la yariful wali illal wali), itulah kaidah atau
rambu-rambu pengetahuan mengenai para kekasih-Nya. Ini yang
mengisyaratkan bahwa seseorang yang mengetahui maqam spiritual
seseorang hanyalah yang sederajat, atau yang lebih tinggi darinya.
Bahkan mengenal seorang wali (kekasih Allah) lebih sulit daripada
mengenal Tuhan, sebagaimana dikatakan seorang sufi, Abul Abbas alMarsy, Untuk mengenal seorang waliyullah itu lebih sukar daripada
mengenal kepada Allah. Sebab, Allah mudah dikenal dengan adanya buktibukti kebesaran, kekuasaan, dan keindahan buatan-Nya, tetapi untuk
mengetahui sorang makhluk yang sama-sama dengan engkau, yakni
makan-minum dan menderita segala penderitaanmu, sungguh sangat sukar.
Tetapi, jika Allah memperkenalkan engkau dengan seorang wali, maka
Allah menutupi sifat-sifat manusia biasanya dan memperlihatkan
kepadamu keistimewaan-keistimewaan yang diberikan Allah kepada
seorang wali.
Allah adalah dhohir dan juga bathin, tidak ada satupun yang luput
dari-Nya. Luasnya kekuasaan dan kebesaran serta keindahan-Nya bisa
dengan mudah dilihat oleh ciptaan-Nya, sedangkan seorang kekasih Allah
benar-benar seperti manusia biasa, dia makan-minum, juga menderita,
bergaul

dengan

sesama

manusia

sebagaimana

mestinya.

Syeikh Ibnu Athaillah asy-Syakandari dalam kitab al-hikam (1984),


mengatakan dalam kaidahnya: Maha Suci Allah yang sengaja tidak
mengadakan suatu bukti(tanda) untuk para kekasih-Nya, kecuali sekedar

untuk

mengenal

kepadanya,

sebagaimana

tidak

meyampaikan

(mempertemukan) dengan mereka kecuali para orang yang akan


disampaikan kepada Allah.

BAB III

A. Kesimpulan
Pada hakekatnya cinta itu adalah sebuah amalan hati yang akan
terwujud dalam (amalan) lahiriah. Apabila cinta tersebut sesuai dengan apa
yang diridhai Allah SWT, maka ia akan menjadi ibadah. Dan apabila
sebaliknya, jika cinta itu tidak sesuai dengan ridha Allah SWT maka akan
menjadi perbuatan maksiat (seperti yang terjadi pada zaman sekarang
ini). Berarti jelas bahwa cinta adalah ibadah hati yang bila keliru
menempatkannya akan menjatuhkan kita ke dalam sesuatu yang dimurkai
Allah yaitu kesyirikan.