Anda di halaman 1dari 1

Pengaruh Alkohol, Tidur Jadi Lebih Mudah

Tapi Biasanya Tak Nyenyak


Jakarta, Terhadap kualitas tidur, alkohol punya dua sisi yang tak terpisahkan. Memang benar efeknya
membuat seseorang lebih cepat tidur, tapi di sisi lain kualitas tidur jadi berkurang.
Sebuah penelitian mengungkap bahwa asupan alkohol membuat seseorang sulit mencapai fase deep
sleep atau tidur dalam. Fase ini ditandai dengan REM atau Rapid Eye Movement. Dampaknya, kualitas
tidur berkurang meski durasinya mungkin sama banyak.
Saat tidur, fase REM sangat menentukan kualitas istirahat. Dalam semalam, normalnya terjadi sekitar 7-8
kali fase REM. Sementara dalam pengaruh alkohol, fase ini hanya terjadi sekitar 1-2 kali sepanjang
malam.
Saat terbangun, tubuh tidak akan terasa bugar karena tidak benar-benar beristirahat. Pemulihan energi
dan regenerasi yang seharusnya terjadi saat fase tidur dalam, bisa gagal akibat efek alkohol.
Selain mengurangi kualitas tidur secara umum, asupan alkohol sebelum tidur juga berbahaya bagi
pengidap sleep apnea atau henti napas saat tidur. Berbagai penelitian membuktikan, alkohol
meningkatkan risiko henti napas saat tidur.
Proses metabolisme alkohol juga berpengaruh pada kualitas tidur. Di dalam tubuh, alkohol dimetabolisme
dengan cepat. Dalam proses tersebut, tubuh butuh menjalankan mekanisme detoksifikasi yakni
mengeluarkan sisa metabolisme alkohol dari dalam tubuh.
"Minim alkohol sebelum tidur, khususnya secara rutin, berarti efek putus obatnya berlangsung sepanjang
malam. Berkeringat, ngorok, mimpi buruk, sakit kepala, dan insomnia. Ini sebabnya Anda sering bangun
kelelahan, nyeri dan tidak enak badan setelah minum alkohol pada malam sebelumnya," demikian dikutip
darinews.com.au, Senin (18/4/2016).