Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN

KEHAMILAN DENGAN DIABETUS MELITUS


(DIABETUS MELITUS GESTASIONAL)

DISUSUN OLEH:
Arnold KN Wijana
15160078

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS RESPATI YOGYAKARTA
2016

A. Definisi
Diabetes Melitus pada kehamilan atau sering disebut Diabetes Melitus
Gestasional, merupakan penyakit diabetes yang terjadi pada ibu yang sedang
hamil. Gejala utama dari kelainan ini pada prinsipnya sama dengan gejala
utama pada penyakit diabetes yang lain yaitu sering buang air kecil (polyuri),
selalu merasa haus (polydipsi), dan sering merasa lapar (polyfagi). Cuma yang
membedakan adalah keadaan pasien saat ini sedang hamil. Sayangnya
penemuan kasus kasus diabetes gestasional sebagian besar karena kebetulan
sebab pasien tidak akan merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya selain
kehamilan, dan gejala sering kencing dan banyak makan juga biasa terjadi
pada kehamilan normal.
B. Etiologi
Diabetes mellitus dapat merupakan kelainan herediter dengan cara insufisiensi
atau absennya insulin dalam sirkulasi darah, konsentrasi gula darah tinggi.
Berkurangnya glikogenesis. Diabetes dalam kehamilan menimbulkan banyak
kesulitan, penyakit ini akan menyebabkan perubahan-perubahan metabolik
dan hormonal pada penderita yang juga dipengaruhi oleh kehamilan.
Sebaliknya diabetes akan mempengaruhi kehamilan dan persalinan.
Risiko Tinggi DM Gestasional:
1. Umur lebih dari 30 tahun
2. Obesitas dengan indeks massa tubuh 30 kg/m2
3. Riwayat DM pada keluarga (ibu atau ayah)
4. Pernah menderita DM gestasional sebelumnya
5. Pernah melahirkan anak besar > 4.000 gram
6. Adanya glukosuria
C. Klasifikasi
Pada Diabetes Mellitus Gestasional, ada 2 kemungkinan yang dialami oleh si
Ibu:
1. Ibu tersebut memang telah menderita DM sejak sebelum hamil
2. Si ibu mengalami/menderita DM saat hamil

Klasifikasi DM dengan Kehamilan menurut Pyke:


1. Klas I : Gestasional diabetes, yaitu diabetes yang timbul pada waktu hamil
dan menghilang setelah melahirkan.
2. Klas II : Pregestasional diabetes, yaitu diabetes mulai sejak sebelum
hamil dan berlanjut setelah hamil.
3. Klas III : Pregestasional diabetes yang disertai dengan komplikasi
penyakit pembuluh darah seperti retinopati, nefropati, penyakit pemburuh
darah panggul dan pembuluh darah perifer, 90% dari wanita hamil yang
menderita Diabetes termasuk ke dalam kategori DM Gestasional (Tipe II).
D. Patofisiologi
Pada DMG, selain perubahan-perubahan fisiologi tersebut, akan terjadi suatu
keadaan di mana jumlah/fungsi insulin menjadi tidak optimal. Terjadi
perubahan kinetika insulin dan resistensi terhadap efek insulin. Akibatnya,
komposisi sumber energi dalam plasma ibu bertambah (kadar gula darah
tinggi, kadar insulin tetap tinggi). Melalui difusi terfasilitasi dalam membran
plasenta, dimana sirkulasi janin juga ikut terjadi komposisi sumber energi
abnormal. (menyebabkan kemungkinan terjadi berbagai komplikasi). Selain
itu terjadi juga hiperinsulinemia sehingga janin juga mengalami gangguan
metabolik (hipoglikemia, hipomagnesemia, hipokalsemia, hiperbilirubinemia,
dan sebagainya).
Jika pada pemeriksaan berat badan bayi ditemukan bayinya besar sekali
maka perlu dilakukan induksi pada minggu ke 36 38 untuk mencegah
terjadinya komplikasi saat persalinan. Proses persalinan ini harus dalam
pengawasan ketat oleh dokter spesialis kebidanan dan dokter spesialis
penyakit dalam.
Biasanya setelah bayi lahir maka kadar gula darah akan kembali normal,
apabila tidak, maka perlu dilanjutkan pemberian antidiabetes oral sampai
jangka waktu tertentu. Pada kehamilan normal terjadi banyak perubahan pada
pertumbuhan dan perkembangan fetus secara optimal. Pada kehamilan normal

kadar glukosa darah ibu lebih rendah secara bermakna. Hal ini disebabkan
oleh :
1. Pengambilan glukosa sirkulasi meningkat
2. Produksi glukosa dari hati menurun
3. Produksi alanin (salah satu precursor glukoneogenesis ) menurun.
4. Aktifitas ekskresi ginjal meningkat
5. Efek-efek hormon gestasional (kortisol, human plasenta lactogen,
estrogen, dll)
6. Perubahan metabolism lemak dan asam amino
E. Manifestasi Klinis
1. Poliuri (banyak kencing)
Hal ini disebabkan oleh karena kadar glukosa darah meningkat sampai
melampaui daya serap ginjal terhadap glukosa sehingga terjadi osmotic
diuresis yang mana gula banyak menarik cairan dan elektrolit sehingga
klien mengeluh banyak kencing.
2. Polidipsi (banyak minum)
Hal ini disebabkan pembakaran terlalu banyak dan kehilangan cairan
banyak karena poliuri, sehingga untuk mengimbangi klien lebih banyak
minum.
3. Polipagi (banyak makan)
Hal ini disebabkan karena glukosa tidak sampai ke sel-sel mengalami
starvasi (lapar). Sehingga untuk memenuhinya klien akan terus makan.
Tetapi walaupun klien banyak makan, tetap saja makanan tersebut hanya
akan berada sampai pada pembuluh darah.
1. Penurunan berat badan
2. Kesemutan, gatal
3. Pandangan kabur
4. Pruritus vulvae pada wanita
5. Lemas, lekas lelah, tenaga kurang.
Hal ini disebabkan kehabisan glikogen yang telah dilebur jadi glukosa, maka
tubuh berusama mendapat peleburan zat dari bahagian tubuh yang lain yaitu

lemak dan protein, karena tubuh terus merasakan lapar, maka tubuh selanjutnya
akan memecah cadangan makanan yang ada di tubuh termasuk yang berada di
jaringan otot dan lemak sehingga klien dengan DM walaupun banyak makan akan
tetap kurus.
F. Pemeriksaan Penunjang
a) Kriteria Diagnosis:
1. Gejala klasik DM + gula darah sewaktu 200 mg/dl. Gula darah sewaktu
merupakan hasil pemeriksaan sesaat pada suatu hari tanpa memerhatikan
waktu makan terakhir. Atau:
2. Kadar gula darah puasa 126 mg/dl.Puasa diartikan pasien tidak mendapat
kalori tambahan sedikitnya 8 jam. Atau:
3. Kadar gula darah 2 jam pada TTGO 200 mg/dl. TTGO dilakukan dengan
Standard WHO, menggunakan beban glukosa yang setara dengan 75 g
glukosa anhidrus yang dilarutkan dalam air.
b) Reduksi Urine
Pemeriksaan reduksi urine merupakan bagian dari pemeriksaan
urine rutin yang selalu dilakukan di klinik. Hasil yang (+) menunjukkan
adanyaglukosuria. Beberapa hal yang perlu diingat dari hasil pemeriksaan
reduksi urine adalah:
1. Digunakan pada pemeriksaan pertama sekali untuk tes skrining, bukan
untuk menegakkan diagnosis
2. Nilai (+) sampai (++++)
3. Jika reduksi (+): masih mungkin oleh sebab lain, seperti: renal
glukosuria, obat-obatan, dan lainnya
4. Reduksi (++) kemungkinan KGD: 200 300 mg%
5. Reduksi (+++) kemungkinan KGD: 300 400 mg%
6. Reduksi (++++) kemungkinan KGD: 400 mg%
7. Dapat digunakan untuk kontrol hasil pengobatan

8. Bila ada gangguan fungsi ginjal, tidak bisa dijadikan pedoman.


G. Penatalaksanaan
1. Terapi Diet
Tujuan utama penatalaksanaan klien dengan diabetes mellitus
adalah untuk mengatur glukosa darah dan mencegah timbulnya komplikasi
akut dan kronik. Jika klien berhasil mengatasi diabetes yang dideritanya, ia
akan terhindar dari hyperglikemia atau hypoglikemia. Penatalaksanaan
diabetes tergantung pada ketepatan interaksi dari tiga faktor aktifitas fisik,
diet dan intervensi farmakologi dengan preparat hyperglikemik oral dan
insulin.
Tiga hal penting yang harus diperhatikan pada penderita diabetes
mellitus adalah tiga J (jumlah, jadwal dan jenis makanan) yaitu :
J I : jumlah kalori sesuai dengan resep dokter harus dihabiskan.
J 2 : jadwal makanan harus diikuti sesuai dengan jam makan terdaftar.
J 3 : jenis makanan harus diperhatikan (pantangan gula dan makanan
manis).
Diet pada penderita diabetes mellitus dapat dibagi atas beberapa bagian
antara lain :

Diet A : terdiri dari makanan yang mengandung karbohidrat 50 %,


lemak 30 %, protein 20 %.

Diet B : terdiri dari karbohidrat 68 %, lemak 20 %, protein 12 %.

Diet B1 : terdiri dari karbohidrat 60 %, lemak 20 %, protein 20 %.

Diet B1 dan B2 diberikan untuk nefropati diabetik dengan gangguan


faal ginjal.

2. Terapi Insulin
Menurut Prawirohardjo, (2002) yaitu sebagai berikut : Daya tahan
terhadap insulin meningkat dengan makin tuanya kehamilan, yang
dibebaskan oleh kegiatan antiinsulin plasenta. Penderita yang sebelum
kehamilan sudah memerlukan insulin diberi insulin dosis yang sama
dengan dosis diluar kehamilan sampai ada tanda-tanda bahwa dosis perlu

ditambah

atau

dikurangi.

Perubahan-perubahan

dalam

kehamilan

memudahkan terjadinya hiperglikemia dan asidosis tapi juga menimbulkan


reaksi hipoglikemik. Maka dosis insulin perlu ditambah/dirubah menurut
keperluan secara hati-hati dengan pedoman pada 140 mg/dl. Pemeriksaan
darah yaitu kadar post pandrial..
Strategi terapi diabetes mellitus pada ibu hamil meliputi manajemen
diet, menjaga berat badan ibu tetap ideal, terapi insulin untuk
menormalkan kontrol glikemik dan olah raga.
3. Olahraga
Kecuali kontraindikasi, aktivitas fisik yang sesuai direkomendasikan untuk
memperbaiki sensitivitas insulin dan kemungkinan memperbaiki toleransi
glukosa. Olahraga juga dapat membantu menaikkan berat badan yang
hilang dan memelihara berat badan yang ideal ketika dikombinasi dengan
pembatasan intake kalori.
H. Komplikasi
a) Komplikasi pada Ibu
1. Hipoglikemia, terjadi pada enam bulan pertama kehamilan
2. Hiperglikemia, terjadi pada kehamilan 20-30 minggu akibat resistensi
insulin
3. Infeksi saluran kemih
4. Preeklampsi
5. Hidramnion
6. Retinopati
7. Trauma persalinan akibat bayi besar
b) Masalah pada anak :
1. Abortus
2. Kelainan kongenital spt sacral agenesis, neural tube defek
3. Respiratory distress
4. Neonatal hiperglikemia
5. Makrosomia
6. Hipocalcemia

7. Kematian perinatal akibat diabetic ketoasidosis


8. Hiperbilirubinemia
c) Tanda terjadi komplikasi pada DM gestasional
1. Makrovaskular: stroke, penyakit jantung koroner,ulkus/ gangren.
2. Mikrovaskular: retina (retinopati) dan ginjal (gagal ginjal kronik),
syaraf (stroke,neuropati).
3. Koma: hiperglikemi, hipoglikemi, stroke
I. Pengkajian
a. Sirkulasi
Pengisian kapiler ekstremitas menurun, denyut nadi melambat pada DM
durasi lama, edema, peningkatan tekanan darah
b. Eliminasi
Dapat mengalami riwayat pyelonefritis, infeksi saluran perkemihan,
nekropati, poliuria.
c. Makanan/ Cairan
Polidipsia, polifagia, mual muntah, obesitas, nyeri tekan abdomen,
hipoglikemia, glikosuria.
d. Keamanan
Integritas atau sensasi kulit lengan, paha, bokong dan abdomen dapat
berubah karena injeksi insulin sering, kerusakan penglihatan,riwayat
gejala infeksi dan budaya positif infeksi khususnya perkemihan.
e. Seksualitas
Tinggi fundus uteri lebih tinggi atau lebih rendah dari normal terhadap
usia gestasi, riwayat neonatus besar terhadap usia gestasi, hidramnion,
anomali konginetal, lahir mati tanpa alasan yang jelas.
f. Interaksi social
Masalah sosial

ekonomi

dapat

meningkatkan

resiko

komplikasi

ketidakkuatan sistem pendukung yang bertangguang jawab membengaruhi


kontrol diabetik.
J. Diagnosa Keperawatan
1.
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan:

Ketidak cukupan insulin ( penurunan ambilan dan penggunaan glokusa


oleh jaringan mengakibatkan peningkatan metabolisme protein /

lamak).
Penurunan masukan oral, anoreksia, mula, lambung penuh, nyeri

abdomen, perubahan kesadaran.


Status hipermetabolisme. Pelepasan hormon stress misal ; epenipren,

kortisol, dan hormon GH.


Kemungkinan dibuktikan dengan : Melaporkan pemasukan makanan
tak adekuat, kurang nafsu makan, Penurunan BB ; kelemahan,

kelelahan, tonus buruk, diare.


Kroteria evaluasi :
Mencerna jumlah kalori / nutrisi yang tepat
Menunjukkan tingkat energi biasanya, mendemonstrasikan berat
badan stabil atau penambahan ke arah rentang biasanya / yang
diinginkan dengan nilai yang normal.
Intervensi Keperawatan :
Timbang berat badan saat kunjungan ANC
Kaji masukan kalori dan pola makan dalam 24 jam
Beri informasi tentang perubahan penatalaksanaan
Perhatikan adanya mual, muntah
Tinjau ulang pentingnya makanan teratur tiga kali sehari dengan
gula rendah bila menggunakan insulin
2.

Kelelahan berhubungan dengan :


Penurunan produksi energi metabolic
Perubahan kimia darah ; insufisiensi insulin
Peningkatan kebutuhan energi : status hipermatabolik
Kemungkinan dibuktikan dengan : Kurang energi yang berlebihan,
ketidakmampuan mempertahankan rutinitas biasanya, penurunan kinerja,
kecenderungan untuk kecelakaan
Kriteria evaluasi :
Mengungkapkan peningkatan energy
Menunjukkan perbaikan kemampuan untuk berpartisipasi dalam

aktivitas yang diinginkan.


Intervensi Keperawatan
Diskusikan dengan pasien kebutuhan akan aktivitas

Berikan aktivitas alternative dengan periode istirahat yang cukup/tanpa

diganggu
Pantau nadi, frekuensi pernapasan dan tekanan darah sebelum/sesudah

melakukan aktivitas
Diskusikan cara menghemat kalori selama mandi, berpindah tempat

dan sebagainya
Tingkatkan partisipasi pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari
sesuai dengan yang dapat ditoleransi

3.

Kekurangan volume cairan berhubungan dengan Diuresis osmotik dari


hiperglikemia kehilangan gastrik berlebihan (diare, muntah), masukan
dibatasi (mual, kacau mental)
Kemungkinan dibuktikan dengan : Peningkatan haluaran urine, urine
kental/encer, kelemahan, haus, penurunan berat BB tiba-tiba, membran
mukosa kering, turgor jelek, hipotensi, takikardi, pelambatan pengisin
kapiler.
Kriteria evaluasi :
Mendemonstrasikan hidrasi adekuat dibuktikan dengan tanda vital
stabil, nadi perifer dapat diraba, turgor kulit baik, haluaran urine
tepat secara individu, dan kadar elektrolit dalam batas normal.
Intervensi Keperawatan
Kaji intensitas dari gejala seperti muntah, pengeluaran urine yang

sangat berlebihan
Pantau tanda-tanda vital terutama pada purubahan TD ortostatik
Kaji pola napas seperti pernapasan Kussmaul atau pernapasan yang

berbau keton
Kaji prekuensi dan kualitas pernapasan, penggunaan otot bantu

pernapasan dan adanya periode apnea dan munculnya sianosis


Pantau suhu, warna kulit atau kelembabannya
Kaji nada perifer, pengisian kapiler, turgor kulit dan membrane

mukosa
Pantau masukan dan pengeluaran, catat berat jenis urine
Ukur berat badan setiap hari

Pertahankan untuk memberikan cairan paling sedikit 2500 ml/hari


dalam batas yang dapat ditoleransi jantung jika pemasukan cairan

melalui oral sudah dapat diberikan


Tingkatkan lingkungan yang dapat menimbulkan rasa nyaman
Kaji adanya perubahan mental/sensori
Obserpasi adanya perasaan kelelahan yang meningkat, edema,
peningkatan berat badan, nadi tidak teratur dan adanya distensi pada
vaskuler

4.

Resiko cedera terhadap janin berhubungan dengan peningkatan kadar gula


darah maternal, perubahan sirkulasi.
Kriteria Evaluasi :
Cedera terhadap janin tidak terjadi
Intervensi Keperawatan:
Kaji kontrol diabetik klien sebelum konsepsi
Kaji gerakan janin dan DJJ
Pantau tiap kunjungan
Kolaborasi : kaji Hemoglobin setiap 2 4 minggu

5.

Resiko tinggi cedera terhadap maternal berhubungan dengan perubahan


kontrol diabetik, profil darah abnormal
Kriteria Evaluasi :
Cedera terhadap maternal tidak terjadi
Intervensi Keperawatan :
Perhatikan kadar gula darah dalam batas normal
Kaji perdarahan pervaginam dan nyeri tekan abdomen
Pantau terhadap tanda-tanda dan gejala persalinan preterm
Kolaborasi : pantau kadar glukosa serum.

6.

Kurang pengetahuan kondisi, prognosis dan tindakan keperawatan


berhubungan dengan kurangnya informasi
Kemungkinan dibuktikan dengan : pertanyaan/meminta informasi,
mengungkapkan masalah, ketidakakuratan mengikuti instruksi, terjadinya
komplikasi yang dapat dicegah.
Kriteria Evaluasi :
Pengetahuan meningkat
Intervensi Keperawatan :

Kaji pengetahuan tentang proses tindakan terhadap penyakit, diet,

latihan kebutuhan insulin.


Beri informasi cara kerja dan efek dari insulin
Beri informasi dampak kehamilan dengan diabetes dan harapan masa
depan, Diskusikan agar klien dapat mengenali tanda infeksi

Mahasiswa

(Arnold KN Wijana)
NIM: 15160078

Mengetahui
Pembimbing Akademik

Pembimbing Klinik