Anda di halaman 1dari 7

Peran Mikroba dalam Bidang Pertanian

Peran Mikroba Tanah Dalam Penyediaan dan Penyerapan Unsur Hara


Tanaman dapat menyerap unsur hara melalui akar atau melalui daun.
Sebagian besar unsur hara diserap dari dalam tanah, hanya sebagian kecil yaitu
unsur C dan O diambil tanaman dari udara melalui stomata. Tanaman menyerap
unsur hara dari dalam tanah umumnya dalam bentuk ion (NH4+, NO3-, H2PO4-,
K+,Ca2 +, dll). Unsur hara tersebut dapat tersedia di sekitar akar tanaman melalui
aliran massa, difusi dan intersepsi akar. Sistem perakaran sangat penting dalam
penyerapan unsur hara karena sistem perakaran yang baik akan memperpendek
jarak yang ditempuh unsur hara untuk mendekati akar tanaman. Bagi tanaman
yang sistem perakarannya kurang berkembang, peran akar dapat ditingkatkan
dengan adanya interaksi simbiosis dengan Jamur mikoriza (Douds and Millner,
1999).
Menurut Lugtenberg and Kravchenko (1999) mikroba tanah akan
berkumpul di dekat perakaran tanaman (rhizosfer) yang menghasilkan eksudat
akar dan serpihan tudung akar sebagai sumber makanan mikroba tanah. Bila
populasi mikroba di sekitar rhizosfer didominasi oleh mikroba yang
menguntungkan tanaman, maka tanaman akan memperoleh manfaat yang besar
dengan hadirnya mikroba tersebut. Tujuan tersebut dapat tercapai hanya apabila
kita menginokulasikan mikroba yang bermanfaat sebagai inokulan di sekitar
perakaran tanaman. Sebagian besar penyebab kekurangan unsur hara didalam
tanah adalah karena jumlah unsur hara (makro) sedikit atau dalam bentuk tidak
tersedia yaitu diikat oleh mineral liat atau ion-ion yang terlarut dalam tanah.
Untuk meningkatkan kuantitas unsur hara makro terutama N dapat dilakukan
dengan meningkatkan peran mikroba penambat N simbiotik dan non simbiotik.
Ketersediaan P dapat ditingkatkan dengan memanfaatkan mikroba pelarut P,
sebagian besar P dalam tanah dalam bentuk tidak dapat diambil tanaman atau
dalam bentuk mineral anorganik yang sukar larut seperti C 32HPO4. Jamur
mikoriza dapat pula meningkatkan penyerapan sebagian besar unsur hara makro
dan mikro terutama unsur hara immobil yaitu P dan Cu (Sharma, 2002).

Mikroba tanah juga menghasilkan metabolit yang mempunyai efek sebagai


zat pengatur tumbuh. Bakteri Azotobacter selain dapat menambat N juga
menghasilkan thiamin, riboflavin, nicotin indol acetic acid dan giberelin yang
dapat mempercepat perkecambahan bila diaplikasikan pada benih dan merangsang
regenerasi bulu-bulu akar sehingga penyerapan unsur hara melalui akar menjadi
optimal. Metabolit mikroba yang bersifat antagonis bagi mikroba lainnya seperti
antibiotik dapat pula dimanfaatkan untuk menekan mikroba patogen tular tanah
disekitar perakaran tanaman (Sharma, 2002).
Mikroba penambat N
Komponen utama nitrogen di atas bumi adalah N 2, yang mana dapat
digunakan sebagai nitrogen sumber oleh bakteri pengfiksasi nitrogen. Amoniak
yang dihasilkan oleh fiksasi nitrogen atau oleh ammonifikasi dari nitrogen bahan
campuran organik dapat berasimilasi ke bahan organik atau dapat dioksidasi ke
nitrat oleh bakteri nitrifikasi. Hilangnya nitrogen dari biosphere terjadi sebagai
hasil denitrifikasi, di mana nitrat dikompersikan kembali ke N 2. Di dalam tanah
kandungan unsur N relatif kecil (<2%), sedangkan di udara kandungan N
berlimpah. Hampir 80% kandungan gas di udara adalah gas N2. Sebagian besar
tanaman tidak dapat memanfaatkan N langsung dari udara, hanya sebagian kecil
tanaman leguminoceae yang bersimbiosis dengan bakteri Rhizobium yang dapat
memanfaatkan sumber N yang berlimpah dari udara. Tanaman non legume masih
dapat memanfaatkan N dari udara apabila diinokulasi dengan mikroba penambat
N nonsimbiotik (Madigan et al., 2000).
Berdasarkan penggolongannya bakteri penambat Nitrogen dibagi atas 2
kelompok yaitu bakteri penambat nitrogen simbiotik dan bakteri penambat
nitrogen non-simbiotik. Bakteri penambat nitrogen simbiotik meliputi :
(a) Rhizobium, hidup dalam bintil akar leguminosae dan (b) Anabaena azollae,
hidup dalam daun Azolla pinnata, sedangkan bakteri penambat non simbiotik
meliputi : (a) Azotobacter, hidup di rhizosfer tanaman di lahan kering,
(b) Clostridium, hidup di tanah tergenang/ tanah sawah, (c) Azospirillum, hidup di
permukaan/ dalam akar, (d) Cyanobacteria, hidup di tanah tergenang/tanah sawah
(Dewi, 2007).

Mikroba Pelarut Fosfat


Mikroba pelarut fosfat terdiri dari golongan bakteri dan jamur. Kelompok
bakteri

pelarut

fosfat

adalah:

Pseudomonas,

Bacillus,

Escherichia,

Brevibacterium dan Seralia, sedangkan dari golongan Jamur adalah : Aspergillus,


Penicillium, Culvularia, Humicola dan Phoma. Mikroba pelarut fosfat bersifat
menguntungkan karena mengeluarkan berbagai macam asam organik seperti asam
formiat, asetat, propional, laktat, glikolat, fumarat, dan suksinat. Asam-asam
organik ini dapat membentuk khelat organik (kompleks stabil) dengan kation Al,
Fe atau Ca yang mengikat P sehingga ion H 2PO42-, menjadi bebas dari ikatannya
dan tersedia bagi tanaman untuk diserap (Sharma, 2002).
Peran Mikroorganisme yang Merugikan dalam Bidang Pertanian
Beberapa mikroorganisme yang merugikan tanaman antara lain (Widyati,
2013):
1. Bakteriologi Pertanian
Beberapa bakteri yang menyebabkan penyakit pada tanaman antara lain
adalah Xanthomonas citri penyebab penyakit batang jeruk, Agrobacterium
tumefaciens penyebab penyakit batang kopi dan Erwina trachephila penyebab
busuk daun labu.

Gambar . Xanthomonas citri


2. Mikologi Pertanian
Banyak jamur yang menghambat pertumbuhan dan produksi suatu tanaman,
diantaranya adalah Fusarium yang sering menimbulkan penyakit pada tomat, ubi
kentang, padi, buah pisang dan tebu Puccina graminis (jamur api ) yang
menyebabkan penyakit pada tebu dan jagung, Ustilago scitaminae (jamur karat)
yang dapat menyebabkan penyakit pada tanaman tingkat tinggi.

Gambar . Puccina graminis

3.

Virologi Pertanian
Banyak tanaman budaya yang tidak dapat tumbuh dan berproduksi dengan
baik akibat serangan virus. Berikut ini adalah virus penyebab penyakit pada
tanaman budidaya. Virus mozoik (Tobacco Mozaic Virus) yang menyebabkan
penyakit pada daun tanaman tembakau dan virus tungro yang menyerang
tanaman.

Gambar . Tobacco Mozaic Virus


Bioteknologi dalam Bidang Pertanian
1. Pembuatan Kompos
Penerapan bioteknologi konvensional dalam bidang pertanian dapat
dengan mudah ditemui pada proses pembuatan pupuk kompos. Untuk
mempercepat proses dekomposisi bahan organik yang berasal dari dedaunan atau
rerumputan, para pembuat pupuk kompos umumnya akan menambahkan
mikroorganisme pengurai bahan organik. Proses pembuatan kompos yang

dilakukan mempergunakan larutan effective microorganisme yang disingkat EM.


Secara

global

terdapat

golongan

yang

pokok

yaitu:

Bakteri

fotosintetik, Lactobacillus sp, Streptomycetes sp, Ragi (yeast), Actinomycetes


(Sulistyorini, 2005).
Bakteri fotosintetik membentuk zat-zat bermanfaat yang menghasilkan
asam amino, asam nukleat dan zat-zat bioaktif yang berasal dari gas berbahaya
dan berfungsi untuk mengikat nitrogen dari udara. Bakteri asam laktat berfungsi
untuk fermentasi bahan organik jadi asam laktat, percepat perombakan bahan
organik, lignin dan cellulose, dan menekan pathogen dengan asam laktat yang
dihasilkan. Actinomicetes menghasilkan zat anti mikroba dari asam amino yang
dihasilkan bakteri fotosintetik. Ragi menghasilkan zat anti biotik, menghasilkan
enzim dan hormon, sekresi ragi menjadi substrat untuk mikroorganisme effektif
bakteri asam laktat actinomicetes. Bakteri fermentasi mampu mengurai bahan
organik secara cepat yang menghasilkan alkohol ester anti mikroba,
menghilangkan bau busuk, mencegah serangga dan ulat merugikan dengan
menghilangkan pakan (Sulistyorini, 2005).
2. Pupuk Hayati
Pupuk hayati merupakan mikroba hidup yang diberikan ke dalam tanah
sebagai inokulan untuk membantu tanaman memfasilitasi atau menyediakan unsur
hara tertentu bagi tanaman. Oleh karena itu, pupuk hayati sering disebut sebagai
pupuk mikroba. Pupuk
ketersediaan

unsur

lain-lain. Tanaman

hayati

berperan

dalam

mempengaruhi

hara makro dan mikro, efisiensi hara, dan


akan

mempunyai kemampuan menambat

nitogen tersebut jika bakteri rizobium tersebut sudah berada


dalam tanah. Untuk tanah tanah yang jarang digunakan untuk
budidaya

kacang-kacangan

umumnya

tersebut rendah. Untuk keperluan

keberadaan

bakteri

tersebut perlu adanya

pemupukan hayati yang berupa spora dari Rhizobium, yang salah


satu nama dagangnya legin. Nitrogen ini dibutuhkan tanaman
dalam jumlah paling banyak, sehingga jika tanaman mampu
memenuhi

kebutuhan

nitrogen

sendiri,

akan

menekan

pengeluaran untuk pupuk. Penggunaan legin ini tidak secara


terus menerus, jika tanaman telah efektif dalam memfiksasi
nitrogen, maka sudah tidak perlu pemupukan legin lagi (Sutanto,
2002).
3. Tanaman Anti Serangga
Tanaman yang tahan terhadap serangan hama serangga dapat diperoleh
melalui proses transplantasi gen. Caranya dengan mengisolasi plasmid Ti dari
bakteri Agrobacterium tumefaciens. Selanjutnya, plasmid disisipi dengan gen
delta endotoksin Bacillus thuringiensis. Plasmid tersebut kemudian dimasukkan
kembali ke dalam Agrobacterium tumefaciens. Plasmid akan memasukkan gen
delta endotoksin ke dalam kromosom sel tumbuhan. Sel-sel tumbuhan yang sudah
mengandung gen delta endotoksin kemudian ditumbuhkan dengan metode kultur
jaringan. Tanaman yang dihasilkan akan mampu memproduksi proteindelta
endotoksin sehingga serangga yang memakan tanaman tersebut akan mati akibat
keracunan (Herman, 2002).

Dewi, A. I. R. 2007. Fiksasi N Biologis pada Ekosistem Tropis. Bandung: Jurusan


Ilmu Tanaman Universitas Padjadjaran.
Douds, D. D & Millner, Patricia D. 1999. Biodiversity Of Arbuscular Mycorrhizal
Fungi In Agroecosystems. Agriculture, Ecosystems and Environment. Vol 74. Hal
77-93
Herman, Muhammad. 2002. Perakitan Tanaman Tahan Serangga Hama
Melalui Teknik Rekayasa Genetik. Buletin AgroBio 5(1):1-13
Lugtenberg, B. J. J & Kravchenko, Lev V. 1999. Tomato Seed And Root Exudate
Sugars: Composition, Utilization By Pseudomonas Biocontrol Strains And Role In
Rhizosphere Colonization. Enviromental Microbiology. Vol 1 (5). Hal 439-446.
Madigan, M.T, Martinko, J.M. & J., Parker. 2000. Biology of Microorganisms
Eighth Edition. USA: Prentice Hall. International. Inc
Sharma, A. K. 2002. Organic farming. India: Central Arid Zone Research institute

Sulistyorini, L. (2005), Pengelolaan Sampah Dengan Cara Menjadikannya


Kompos, Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 2 No. 1, Fakultas Kesehatan
Masyarakat Unair Surabaya
Sutanto, R. 2002. Pertanian Organik Menuju Pertanian Alternatif dan
Berkelanjutan. Yogyakarta: Kanisius
Widyati, Enny. 2013. Memahami Interaksi Tanaman Mikroba. Tekno
Hutan Tanaman Vol.6 No.1, Maret 2013, 13 - 20