Anda di halaman 1dari 19

BABI

PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang
Setiap makhluk hidup, termasuk manusia, akan mengalami siklus
kehidupan yang dimulai dari proses pembuahan, kelahiran, kehidupan di dunia
dengan berbagai permasalahannya, serta diakhiri dengan kematian. Dari proses
siklus kehidupan tersebut, kematian merupakan salah satu yang masih
mengandung misteri besar dan ilmu pengetahuan belum berhasil menguaknya.
Untuk dapat menentukan kematian seseorang sebagai individu diperlukan kriteria
diagnostik yang benar berdasarkan konsep diagnostik yang dapat
dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Kematian sebagai akhir dari rangkaian
kehidupan adalah merupakan hak dari Tuhan. Tak seorangpun yang berhak
menundanya sedetikpun, termasuk mempercepat waktu kematian. Tetapi
bagaimana dengan hak pasien untuk mati guna menghentikan penderitaannya. Hal
itulah yang masih menjadi pembahasan hangat di Indonesia. Hak pasien untuk
mati, yang seringkali dikenal dengan istilah euthanasia, sudah kerap dibicarakan
oleh para ahli. Namun masalah ini akan terus menjadi bahan perdebatan, terutama
jika terjadi kasus-kasus menarik. Untuk itulah masalah skenario pertama
mengenai kasus euthanasia sangat menarik untuk dibahas.

B.

Tujuan

1.

Untuk mengetahui konsep dasar mengenai Brain Death, Euthanasia dan aspek etika dan
hukum dalam kasus tersebut.

2.

Untuk mengetahui apa yang seharusnya dilakukan oleh keluarga dan tenaga kesehatan
baik dokter maupun perawat terhadap kasus Euthanasia.

3.

Untuk mengetahui bagaimana peran masing- masing profesi yaitu perawat dan tenaga
kesehatan lainnya dalam menghadapi masalah Euthanasia jika dikaitkan dengan etika dan
hukum keperawatan.
4. Untuk mengetahui siapa yang memegang peranan penting dalam pengambilan
keputusan untuk kasus Euthanasia.

5. Untuk mencari dan menentukan solusi yang akan dilakukan dan siapa yang akan
memutuskan dalam penangan kasus Euthanasia.
C. ManfaatMampu menerapkan dan melaksanakan peran sebagai perawat dan apa saja
yang seharusnya dilakukan oleh seorang perawat atau tenaga kesehatan lainnya dalam
pengambilan keputusan mengenai masalah Euthanasia.

A. BRAIN DEATH 1. PENGERTIAN

BABII
TINJAUANPUSTAKA
Tahun 1950 kematian otak didefinisikan sebagai terhentinya sirkulasi darah secara total,
dan terhentinya fungsi vital seperti pernapasan, pulsasi. Dengan berkembangnya ilmu dan
teknologi Cardiopulmonary resuscitation (CPR), fungsi vital dapat dipertahankan
meskipun ada gangguan sistem saraf pusat irrevesible. Definisi kematian otak mengalami
perubahan dari segi medis dan hukum. Kematian otak tanpa kematian organ tubuh yang
lain memungkinkan transplantasi organ bila penderita tidak mungkin pulih.
Tahun 1967 American Electroencephalographic Society meneliti 1665 penderita dengan
electrocerebral silence. Aktivitas listrik otak tidak lebih dari 2 V antara pasangan
elektrode yang berjarak 10 cm atau lebih. Penderita mengalami koma dengan berbagai
stadium. Hanya 3 penderita yang pulih fungsi cerebralnya. Penderita ini koma akibat
obat, 2 penderita koma akibat barbiturat dan 1 penderita akibat meprobamat.
Electrocerebral silence dengan tanda apnea, tidak ada respons, tidak ada refleks cephalic,
dan tidak bisa mempertahankan sirkulasi tanpa bantuan alat, didiagnosis koma
irreversible (cerebral death), yang disebut electrocerebral inactivity.
Tahun 1968 konsensus Ad Hoc Committee dari Harvard Medical School mendefinisikan
koma ireversibel sebagai tiadanya respons dari rangsangan luar, tidak ada pergerakan,
tidak ada napas, tidak ada refleks, dan EEG datar. Tahun 1975 American Neurological
Association memperbarui definisi koma Harvard karena tidak sesuai untuk anak usia di
bawah 5 tahun. Sistem saraf immature dapat bertahan pada periode electrocerebral
silence.
Definisi kematian otak dibahas oleh beberapa organisasi seperti American Bar
Association, American Medical Association, dan National Conference of Commissioners
on Uniform State Laws. Pada tahun 1981 kematian otak didefinisikan sebagai tidak
berfungsinya sirkulasi dan pernapasan
ireversibel, atau tidak berfungsinya semua fungsi otak ireversibel termasuk batang otak.
Definisi ini berdasarkan fakta bahwa fungsi otak tidak bisa kembali sesudah 6 jam tidak
berfungsi, berdasarkan pemeriksaan fisik dan EEG. Bila tidak ada tes-tes konfirmasi,
observasi dilakukan sedikitnya selama 12 jam. Pada kasus jejas anoksia, observasi
dilakukan sampai 24 jam. Pedoman ini tidak melibatkan kriteria usia penderita (Yunan:
2000)

Definisi tersebut yaitu:Seseorang dengan otak tidak berfungsi ireversibel dinyatakan


meninggal dunia bila:
- Diketahui semua fungsi otak tidak berfungsi.
- Tidak ada fungsi serebral, misal tidak ada respons
- Tidak berfungsi batang otak, seperti refleks cahaya pupil, refleks kornea, refleks
okulosefalik/ okulovestibuler, refleks orofaringeal, pernapasan seperti apnea.
- Diketahui tidak berfungsinya otak bersifat ireversibel
- Penyebab koma diketahui dan bermakna sebagai penyebab kehilangan fungsi
otak, faktor peluang pemulihan fungsi otak disingkirkan.
- Kegagalan fungsi otak menetap selama masa observasi atau percobaan terapi.
- Komplikasi disingkirkan, seperti keracunan obat dan metabolik
- Hipotermia
- Usia di bawah 5 tahun
- Syok sirkulasi
- Observasi sudah dilakukan dengan waktu yang cukup, tanpa tes-tes konfirmasi
12 jam sejak penyebab kondisi ireversibel diketahui
- Jejas anoksia otak
- Dengan tes-tes konfirmasi (mempersingkat waktu observasi), diagnosis
kematian otak ditentukan dengan Electroencephalography (EEG): tidak ada fungsi
korteks, bersifat ireversibel, dengan ditandai electrocerebral silence, dan klinis tidak ada
fungsi batang otak. Cerebral Blood Flow (CBF): tidak ada aliran darah otak yang
ditunjukkan dengan pemindai radionuklida (radionuclide scanning) atau angiografi
serebral 4 pembuluh darah
intrakranial, dan klinis tidak ada fungsi otak selama minimal 6 jam. (Suyono: 2010)
2. KRITERIA DIAGNOSIS MATI OTAKBeberapa perkara utama perlu diperhatikan
sebelum sesuatu kasus kematian otak ditentukan, yaitu:

a.

Koma, pasien perlu dilakukan pemeriksaan gerakan tindakan balas spontan terhadap
rangsangan yang menyakitkan atau tidak menyenangkan. Pasien yang telah mati otak
tidak menunjukkan sembarang tindakan balas terhadap semua rangsangan yang kuat
maupun menyakitkan.

b.

Apnea, tidak ada pernafasan secara spontan dan pasien hanya mampu bernafas dengan
bantuan alat pernafasan. Jika alat bantuan pernafasan dicabut, pernafasan tidak ada
setelah dilepas selama 10 menit.

c.

Tindakan balas pangkal otak, pangkal otak disahkan telah berhenti berfungsi berdasarkan
tindak-balas refleks seperti:

1) Pupil mata tidak mengecil apabila disinarkan cahaya ke arah mata. Kedua belah mata
hendaklah diuji. Pastikan midriasis atau miotik.

2) Tidak ada refleks kornea. Tidak ada respon kelipan mata paada kedua apabila
permukaan kornea disentuh.

3) Rangsangan terhadap saluran udara. Kateter dimasukkan ke dalam mulut melintasi


laring dan trakea sampai ke carina. Gangguan reflek ataupun batuk tidak ada jika pasien
telah mati otak. (Yunan: 2000)
B. EUTHANASIA1. PENGERTIAN
Euthanasia berasal dari bahasa Yunani, yaitu eu yang berarti indah, bagus, terhormat atau
gracefully and with dignity dan Thanatos yang berarti mati. Jadi secara etimologis,
euthanasia dapat diartikan sebagai mati dengan baik. Sedangkan secara harafiah,
euthanasia tidak dapat diartikan sebagai pembunuhan atau upaya menghilangkan nyawa
seseorang.
Menurut Philo (50-20 SM), euthanasia berarti mati dengan tenang dan baik, sedangkan
Suetonis penulis Romawi dalam bukunya Vita Caesarum mengatakan bahwa euthanasia
berarti mati cepat tanpa derita.
Masalah euthanasia biasanya dikaitkan dengan masalah bunuh diri. Dalam hukum pidana,
masalah bunuh diri yang perlu dibahas adalah apakah seseorang yang mencoba bunuh
diri atau membantu orang lain untuk melakukan bunuh diri itu dapat dipidana, karena

dianggap telah melakukan kejahatan.


Di beberapa Negara seperti Amerika Serikat, seseorang yang gagal melakukan bunuh diri
dapat dipidana. Juga di Israel, perbuatan percobaan bunuh diri merupakan perbuatan yang
dilarang dan diancam pidana. Pernah ada amandemen agar larangan ini dicabut, tetapi
Prof.Amos Shapira berpendapat bahwa dengan konsep perbuatan percobaan bunuh diri
sebagai tindakan yang tidak terlarang, merupakan gerakan kearah diakuinya hak untuk
mati.
Dilihat dari segi agama Samawi, euthanasia dan bunuh diri merupakan perbuatan yang
terlarang. Sebab masalah kehidupan dan kematian seseorang itu berasal dari Sang
Pencipta yaitu Tuhan. Jadi, perbuatan yang menjurus kepada tindakan penghentian hidup
yang berasal dari Tuhan merupakan perbuatan yang bertentangan dengan kehendak
Tuhan, oleh karenanya tidak dibenarkan.
2. EUTHANASIA DI INDONESIAApakah hak untuk mati dikenal di Indonesia?
Indonesia melalui pasal
344 KUHP jelas tidak mengenal hak untuk mati dengan bantuan orang lain. Banyak
orang berpendapat bahwa hak untuk mati adalah hak azasi manusia, hak yang mengalir
dari hak untuk menentukan diri sendiri (the right of self determination/TROS) sehingga
penolakan atas pengakuan terhadap hak atas mati, adalah pelanggaran terhadap hak azasi
manusia yang tidak dapat disimpangi oleh siapapun dan menuntut penghargaan serta
pengertian yang penuh pada pelaksanaannya.
Kode Etik Kedokteran Indonesia menggunakan euthanasia dalam tiga arti:1.
Berpindahnya ke alam baka dengan tenang dan aman tanpa penderitaan,
buat yang beriman dengan nama Tuhan di bibir.2. Waktu hidup akan berakhir,
diringankan penderitaan si sakit dengan
memberi obat penenang.3. Mengakhiri penderitaan dan hidup seorang sakit dengan
sengaja atas
permintaan pasien sendiri maupun keluarganya.
3. JENIS- JENIS EUTHANASIADari penggolongan Euthanasia, yang paling praktis dan
mudah

dimengerti adalah:
a.

Euthanasia aktif Tindakan secara sengaja dilakukan oleh dokter atau tenaga kesehatan
lain untuk memperpendek atau mengakhiri hidup pasien. Merupakan tindakan yang
dilarang, kecuali di negara yang telah membolehkannya lewat peraturan perundangan.

b.

Euthanasia pasifDokter atau tenaga kesehatan lain secara sengaja tidak lagi memberikan
bantuan medis yang dapat memperpanjang hidup pasien, misalnya menghentikan
pemberian infus, makanan lewat sonde, alat bantu nafas, atau menunda operasi.

c.

Auto euthanasiaSeorang pasien menolak secara tegas dengan sadar untuk menerima
perawatan medis dan dia mengetahui bahwa hal ini akan memperpendek atau mengakhiri
hidupnya. Dengan penolakan tersebut ia membuat sebuah codicil (pernyataan tertulis
tangan). Auto euthanasia pada dasarnya adalah euthanasia pasif atas permintaan.
Karena masih banyak pertentangan mengenai definisi euthanasia, diajukan berbagai
pendapat sebagai berikut:

a.

Voluntary euthanasia Permohonan diajukan pasien karena, misalnya gangguan atau


penyakit jasmani yang dapat mengakibatkan kematian segera yang keadaannya
diperburuk oleh keadaan fisik dan jiwa yang tidak menunjang.

b.

Involuntary euthanasiaKeinginan yang diajukan pasien untuk mati tidak dapat dilakukan
karena, misalnya seseorang yang menderita sindroma Tay Sachs. Keputusan atau
keinginan untuk mati berada pada pihak orang tua atau yang bertanggung jawab.

c.

Assisted suicideTindakan ini bersifat individual dalam keadaan dan alasan tertentu untuk
menghilangkan rasa putus asa dengan bunuh diri.

d.

Tindakan langsung menginduksi kematian Alasan tindakan ini adalah untuk meringankan
penderitaan tanpa izin individu yang bersangkutan dan pihak yang berhak mewakili. Hal
ini sebenarnya pembunuhan, tapi dalam pengertian agak berbeda karena dilakukan atas
dasar belas kasihan. (Billy: 2008)
4. SYARAT DILAKUKANNYA EUTHANASIASampai saat ini, kaidah non hukum yang
manapun, baik agama, moral

dan kesopanan menentukan bahwa membantu orang lain mengakhiri hidupnya, meskipun
atas permintaan yang bersangkutan dengan nyata dan sungguh- sungguh adalah perbuatan
yang tidak baik. Di Amerika Serikat, euthanasia lebih populer dengan istilah physician
assisted suicide. Negara yang telah memberlakukan euthanasia lewat undang-undang
adalah Belanda dan di negara bagian Oregon-Amerika Serikat.
Pelaksanaannya dapat dilakukan dengan syarat-syarat tertentu, antara lain:a. Orang yang
ingin diakhiri hidupnya adalah orang yang benar-benar sedang
sakit dan tidak dapat diobati misalnya kanker.
b. Pasien berada dalam keadaan terminal, kemungkinan hidupnya kecil dan tinggal
menunggu kematian.
c. Pasien harus menderita sakit yang amat sangat, sehingga penderitaannya hanya dapat
dikurangi dengan pemberian morfin.
d. Yang boleh melaksanakan bantuan pengakhiran hidup pasien, hanyalah dokter keluarga
yang merawat pasien dan ada dasar penilaian dari dua orang dokter spesialis yang
menentukan dapat tidaknya dilaksanakan euthanasia.
Semua persyaratan itu harus dipenuhi, baru euthanasia dapat dilaksanakan. Indonesia
sebagai negara berasaskan Pancasila, dengan sila pertamanya Ketuhanan Yang Maha
Esa, tidak mungkin menerima tindakan euthanasia aktif.
Mengenai euthanasia pasif merupakan suatu daerah kelabu karena memiliki nilai
bersifat ambigu yaitu di satu sisi bisa dianggap sebagai perbuatan amoral, tetapi di sisi
lain dapat dianggap sebagai perbuatan mulia karena dimaksudkan untuk tidak
memperpanjang atau berjalan secara alamiah. (Fadli: 2000)B
5. ASPEK- ASPEK DALAM EUTHANASIA a. Aspek Hukum
Undang-undang yang tertulis dalam KUHP hanya melihat dari sisi dokter sebagai pelaku
utama euthanasia, khususnya euthanasia aktif dan dianggap sebagai pembunuhan
berencana, atau dengan sengaja menghilangkan nyawa seseorang. Sehingga dalam aspek

hukum, dokter selalu pada pihak yang dipersalahkan dalam tindakan euthanasia, tanpa
melihat latar belakang dilakukannya euthanasia tersebut, tidak peduli apakah tindakan
tersebut atas permintaan pasien itu sendiri atau keluarganya, untuk mengurangi
penderitaan pasien dalam keadaan sekarat atau rasa sakit yang sangat hebat yang belum
diketahui pengobatannya. Di lain pihak, hakim dapat menjatuhkan pidana mati bagi
seseorang yang masih segar bugar yang tentunya masih ingin hidup, & tidak
menghendaki
kematiannya seperti pasien yang sangat menderita tersebut, tanpa dijerat pasal-pasal
dalam undang-undang dalam KUHP.
Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sebenarnya telah cukup antisipasif dalam menghadapi
perkembangan iptekdok, antara lain dengan menyiapkan perangkat lunak berupa SK PB
IDI no.319/PB/4/88 mengenai Pernyataan Dokter Indonesia tentang Informed Consent.
Disebutkan di sana, manusia dewasa dan sehat rohani berhak sepenuhnya menentukan
apa yang hendak dilakukan terhadap tubuhnya. Dokter tidak berhak melakukan tindakan
medis yang bertentangan dengan kemauan pasien, walau untuk kepentingan pasien itu
sendiri. Kemudian SK PB IDI no.336/PB/4/88 mengenai Pernyataan Dokter Indonesia
tentang Mati. Sayangnya SKPB IDI ini tidak atau belum tersosialisasikan dengan baik di
kalangan IDI sendiri maupun di kalangan pengelola rumah sakit. Sehingga, tiap dokter
dan rumah sakit masih memiliki pandangan serta kebijakan yang berlainan. Apabila
diperhatikan lebih lanjut, pasal 338, 340, & 344 KUHP, ketiganya mengandung makna
larangan untuk membunuh. Pasal 340 KUHP sebagai aturan khususnya, dengan
dimasukkannya unsur dengan rencana lebih dahulu, karenanya biasa dikatakan sebagai
pasal pembunuhan yang direncanakan atau pembunuhan berencana. Masalah euthanasia
dapat menyangkut dua aturan hukum, yakni pasal 338 & 344 KUHP. Dalam hal ini
terdapat apa yang disebut concursus idealis yang diatur dalam pasal 63 KUHP, yang
menyebutkan bahwa:
1) Jika suatu perbuatan masuk dalam lebih dari satu aturan pidana, maka yang dikenakan
hanya salah satu diantara aturan-aturan itu, jika berbeda- beda yang dikenakan yang
memuat ancaman pidana pokok yang paling berat.

2) Jika suatu perbuatan yang masuk dalam suatu aturan pidana yang umum diatur pula
dalam aturan pidana yang khusus, maka hanya yang khusus itulah yang dikenakan. Pasal
63 (2) KUHP ini mengandung asas lex specialis derogat legi generalis, yaitu peraturan
yang khusus akan mengalahkan peraturan yang sifatnya umum.
b.

Aspek Hak AzaziHak azasi manusia (HAM) selalu dikaitkan dengan hak hidup, hak
damai dan sebagainya. Tapi tidak tercantum jelas adanya hak seseorang untuk mati. Mati
sepertinya justru dihubungkan dengan pelanggaran HAM, terbukti dari aspek hukum
euthanasia yang cenderung menyalahkan tenaga medis dalam pelaksanaan euthanasia.
Sebenarnya, dengan dianutnya hak untuk hidup layak dan sebagainya, secara tidak
langsung seharusnya terbersit adanya hak untuk mati, apabila dipakai untuk
menghindarkan diri dari segala ketidaknyamanan atau lebih jelas lagi dari segala
penderitaan yang hebat.

c.

Aspek Ilmu PengetahuanIptekdok dapat memperkirakan kemungkinan keberhasilan


upaya tindakan medis untuk mencapai kesembuhan atau pengurangan penderitaan pasien.
Apabila secara iptekdok hampir tidak ada kemungkinan untuk mendapat kesembuhan
ataupun pengurangan penderitaan, apakah seseorang tidak boleh mengajukan haknya
untuk tidak diperpanjang lagi hidupnya. Segala upaya yang dilakukan akan sia-sia,
bahkan sebaliknya dapat dituduhkan suatu kebohongan, karena di samping tidak
membawa kesembuhan, keluarga yang lain akan terseret dalam habisnya keuangan.

d.

Aspek AgamaKelahiran & kematian merupakan hak prerogatif Tuhan dan bukan hak
manusia sehingga tidak ada seorangpun di dunia ini yang mempunyai hak untuk
memperpanjang atau memperpendek umurnya sendiri. Atau dengan kata lain, meskipun
secara lahiriah atau tampak jelas bahwa seseorang menguasai dirinya sendiri, tapi
sebenarnya ia bukan pemilik penuh atas dirinya. Ada aturan-aturan tertentu yang harus
kita patuhi & kita imani sebagai aturan Tuhan. Jadi, meskipun seseorang memiliki dirinya
sendiri, tetapi tetap saja ia tidak boleh membunuh dirinya sendiri. Pernyataan ini menurut
ahli agama secara tegas melarang tindakan euthanasia, apapun alasannya. Dokter dapat
dikategorikan melakukan dosa besar dan melawan kehendak Tuhan dengan
memperpendek umur seseorang. Orang yang menghendaki

euthanasia, walaupun dengan penuh penderitaan bahkan kadang-kadang dalam keadaan


sekarat dapat dikategorikan putus asa dan putus asa tidak berkenan di hadapan
Tuhan.Tetapi putusan hakim dalam pidana mati pada seseorang yang segar bugar dan
tentunya sangat tidak ingin mati dan tidak sedang dalam penderitaan apalagi sekarat,
tidak pernah dikaitkan dengan pernyataan agama yang satu ini. Aspek lain dari
pernyataan memperpanjang umur, sebenarnya bila dikaitkan dengan usaha medis dapat
menimbulkan masalah lain. Mengapa orang harus ke dokter untuk berobat mengatasi
penyakitnya. Kalau memang umur berada di tangan Tuhan, bila memang belum
waktunya, ia tidak akan mati. Hal ini dapat diartikan sebagai upaya memperpanjang umur
atau menunda proses kematian. Jadi upaya medis dapat pula dipermasalahkan sebagai
upaya melawan kehendak Tuhan. Pada kasus-kasus tertentu, hukum agama memang
berjalin erat dengan hukum positif. Sebab di dalam hukum agama juga terdapat dimensidimensi etik & moral yang juga bersifat publik. Misalnya tentang perlindungan terhadap
kehidupan, jiwa atau nyawa. Hal itu jelas merupakan ketentuan yang sangat prinsip
dalam agama. Dalam hukum positif manapun, prinsip itu juga diakomodasi. Oleh sebab
itu, ketika kita melakukan perlindungan terhadap nyawa atau jiwa manusia, sebenarnya
kita juga sedang menegakkan hukum agama, sekalipun wujud materinya sudah berbentuk
hukum positif atau hukum negara. (Ismail: 2005)
C. KELALAIAN1. PENGERTIAN
Kelalaian medik adalah salah satu bentuk dari malpraktek medis, sekaligus merupakan
bentuk malpraktek medis yang paling sering terjadi. Pada dasarnya kelalaian terjadi
apabila seseorang melakukan sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan atau tidak
melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan oleh orang lain yang memiliku kulifikasi
yang sama pada suatu keadaan dan situasi yang sama. Perlu diingat bahwa pada
umumnya kelalaian ynag dilakukan orang perorang bukanlah merupakan perbuatan ynag
dapat dihukum, kecuali apabila dilakukan oleh orang yang seharusnya (berdasarkan sifat
profesi) bertindak
berhati- hati dan telah mengakibatkan kerugian atau cedera bagi orang lain. (Hanafiah &
Amir: 1999)

Kelalaian adalah petindak/pelaku tidak menduga terhadap timbulnya akibat dari


tindakannya. Akibat yang terjadi adalah diluar kehendak dari petindak dan tidak ada
motif dari petindak untuk menimbulkan akibat tersebut.
Kelalaian dalam arti pidana adalah suatu sikap yang sifatnya lebih serius yaitu sikap yang
sangat sembarangan atau sikap sangat tidak hati- hati terhadap kemungkinan timbulnya
resiko yang bisa menyebabkan orang lain terluka atau mati, sehingga harus bertanggung
jawab terhadap tuntutan kriminal oleh negara (Hanafiah & Amir: 1999)
2. BENTUK KELALAIANKelalaian dapat terjadi dalam 3 bentuk:
a.

Malfeasance Melakukan tindakan yang melanggar hukum atau tidak tepat (improper
unawful) atau tidak layak. Mis: melakukan tindakan medis tanpa indikasi yang memadai,
pilihan tindakan medis tersebut sudah improper.

b.

MisfeasanceMelakukan pilihan tindakan medis yang tepat tetapi dilaksanakan dengan


tidak tepat (improper performance). Mis: melakukan tindakan medis dengan menyalahi
prosuder.

c.

NonfeasanceTidak melakukan tindakan medis yang merupakan kewajiban baginya.


(Hanafiah & Amir: 1999)
D. MALPRAKTIK 1. PENGERTIAN
Malpraktik adalah tindakan yang dilakukan secara sadar, dengan tujuan yang sudah
mengarah kepada akibat yang ditimbulkan atau petindak tidak peduli kepada akibat dari
tindakannya yang telah diketahuinya melanggar UU.
Malpraktek medik adalah kelalaian seorang dokter untuk mempergunakan tingkat
keterampilan dan ilmu pengetahuan yang lazim
dipergunakan dalam mengobati pasien atau orang yang terluka menurut ukuran di
lingkungan yang sama. (Hanafiah & Amir: 1999)
2. UNSUR MALPRAKTEKMenurut kepustakaan hukum pidana yang dimaksud Medical

Malpractice yang mengandung unsur-unsur:


a.

Neglegent Medical Care, dalam arti kealpaan besar.

b.

Standard of care / standard profession yang menjadi ukuran sebagai petunjuk menurut
ilmu pengetahuan dalam menjalankan profesi.

c.

Tidak ada accident, risk in treatment, error in judgement sebagai resiko medik.

d.

Adanya informed consent yang terkait dengan medical record.

e.

Medical liability baik yang bersifat strict liability, vicarious liability, corporate liability.
Dokter dikatakan melakukan malpraktek jika:

a.

Dokter kurang menguasai iptek kedokteran yang sudah berlaku umum dikalangan profesi
kedokteran.

b.

Memberikan pelayanan kedokteran dibawah standar profesi.

c.

Melakukan kealpaan yang berat atau memberikan pelayanan yang tidak hati- hati.

d.

Melakukan tindakan medik yang bertentangan dengan hukum. (Hanafiah & Amir: 1999)
Berkaitan

dengan malpraktik ketentuan pidana baik

berupa ketidaksengajaan

(professional misconducts ataupun akibat lupa / kelalaian) sebagai berikut:


a.

Menyebabkan mati atau luka karena kelalaian (pasal 359 KUHP, pasal 360 KUHP, pasal
361 KUHP).

b.

Penganiayaan (pasal 351 KUHP) untuk tindakan medis tanpa persetujuan dari pasien
(Informed Consent).

c.

Aborsi (pasal 341 KUHP, pasal 342 KUHP, pasal 346 KUHP, pasal 347 KUHP, pasal 348
KUHP, pasal 349 KUHP).

d.

Euthanasia (pasal 344 KUHP, pasal 345 KUHP).

e.

Keterangan palsu (pasal 267-268 KUHP).


SKENARIO I
BAB III PEMBAHASAN
Seorang ibu Ny.T, umur 36 tahun, diantar oleh tenaga kesehatan ke RS. C, klien
melahirkan anak pertama, ibu dilakukan tindakan operasi ceaser oleh dokter. Pada saat
operasi tiba-tiba TD menurun, dokter memberikan obat untuk meningkatkan TD, tapi
kondisi klien malah sebaliknya, kesadaran menurun, keadaan umum memburuk dan
akhirnya klien dirawat di ruangan ICU, bayi klien selamat. Saat ini sudah lebih 1 bulan
klien di ICU dengan diagnosa Braindeath. Keluarga tidak sanggup membayar biaya
perawatan dan keluarga meminta tindakan euthanasia saja.
PERTANYAAN:

1.

Apa yang seharusnya dilakukan oleh keluarga, tenaga kesehatan dan dokter dalam kasus
ini?

2.

Bagaimana peran masing-masing profesi jika dikaitkan dengan etik dan hukum dalam
kasus tersebut?

3.

Siapa yang memegang peranan penting?

4.

Apa solusi yang akan dilakukan dan siapa yang berhak mamutuskannya? Berikan alasan!
JAWABAN:
1. Hal yang seharusnya dilakukan oleh: Keluarga
Tindakan euthanasia yang diminta oleh keluarga adalah hak pasien dan keluarga, tetapi
sebaiknya pasien atau keluarga tidak meminta tindakan euthanasia tersebut.

Tenaga kesehatan dan DokterMenolak permintaan pasien atau keluarga terhadap


tindakan euthanasia tersebut.

Dari segi agama kematian adalah semata-mata hak dari Tuhan, sehingga
manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan tidak mempunyai hak untuk menentukan
kematiannya.

Dari segi hukum mengenai masalah ini berbeda-beda di tiap negara dan
seringkali berubah seiring dengan perubahan norma- norma budaya, di beberapa negara
euthanasia di anggap legal, sedangkan di negara lain di anggap melanggar hukum. Di
negara maju seperti Amerika Serikat, Belanda di akui hak untuk mati walaupun tidak
mutlak. Dalam keadaan tertentu euthanasia diperbolehkan untuk dilakukan di Amerika S
erikat, namun di Indonesia masalah euthanasia tetap di larang.

2.

Peran masing-masing profesi:

Peran perawat Memberikan asuhan keperawatan seoptimal dan

semaksimal mungkin dan tidak melakukan tindakan yang mengarah kepada tindakan
euthanasia, seperti: melepas alat ventilator, melepas selang oksigen, dll.

Peran dokterMemberikan penjelasan kepada keluarga pasien tentang


penyakit dan perkembangan kesehatan pasien tersebut.
3.

Yang memegang peranan penting:Dokter, perawat dan tenaga kesehatn lainnya


memegang peranan penting dalam pengambilan keputusan, akan tetapi keluarga adalah
penentu dan pemegang peranan yang paling penting dalam pengambilan keputusan
tersebut. Dokter memberikan masukan kepada keluarga untuk memikirkan kembali
niatnya meminta tindakan euthanasia, sebabajal ada di tangan Tuhan. Bisa jadi keadaan
pasien sekarang yang berada di ruangan ICU dengan dilakukannya
perawatan secara intensif maka akan mengalami kemajuan secara perlahan-lahan dalam
pemulihan kesehatannya.
4. Solusi yang dilakukan:Memberikan penjelasan kepada keluarga bahwa tindakan

euthanasia iti di
larang di Indonesia, jika masalah pasien adalah biaya perawatan, masalah tersebut bisa di
cari solusinya. Seperti, meminta bantuan ke Dinas Sosial untuk mendapatkan jaminan
kesehatan.
Pertanyaan:
1.

Apakah ada unsur kelalaian dalam kasus euthanasia?

2.

Apakah ada tindakan malpraktek?

3.

Bagaimana tindakan yang professional?


Jawaban:

- Tidak ada unsur kelalaian dan malpraktek karena karena selama operasi
berlangsung sudah sesuai dengan standar operasional prosedur SC, tenaga kesehatan
sudah melakukan tindakan medis yang benar pada saat kondisi pasien menurun dengan
memberikan obat untuk menaikkan tekanan darah. Tetapi kondisi pasien tidak juga
membaik dan akhirnya pasien di kirim ke ICU.

- Dalam kasus ini perawat mempunyai peran dalam memberikan asuhan


keperawatan. Peran advokat (pelindung) serta sebagai counselor yaitu membela dan
melindungi pasien tersebut untuk hidup dan menyelamatkan jiwanya dari ancaman
kematian.

- Perawat diharapkan mampu memberikan pengarahan dan penjelasan


kepada keluarga pasien bahwa pasien berhak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan
yang optimal dan tidak melakukan euthanasia.

- Perawat hendaknya menyarankan kepada keluarga untuk mencari


alternative jalan keluar dalam hal mencari sumber biaya yang lain seperti melalui
BAZDA, DINAS SOSIAL, JAMKESDA, JAMKESMAS dll.

- Perawat berusaha menjadi jembatan penghubung diantara dokter, tenaga


kesehatan lain dan keluarga sehingga keluarga akan mendapatkan informasi
yang sejelas- jelasnya tentang kondisi pasien, seberapa besar kemungkinan
untuk sembuh dan berapa besar biaya yang telah dan akan dikeluarkan.

- Perawat memberikan pertimbangan- pertimbangan yang positif pada keluarga


dalam hal pengambilan keputusan untuk membawa pulang pasien Ny. T atau
dilakukannya euthanasia pasif.

- Perawat tetap memberikan perawatan pada pasien, pemenuhan kebutuhan dasar


pasien selama perawatan di ICU.

- Membantu keluarga dalam hal permohonan atau peringanan biaya perawatan


Rumah Sakit.
BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULANEuthanasia merupakan menghilangkan nyawa orang atas permintaan
dirinya sendiri. Aturan mengenai masalah ini berbeda- beda di tiap- tiap Negara dan
seringkali berubah seiring dengan perubahan norma- norma budaya. Di beberapa Negara
euthanasia dianggap legal tetapi di Indonesia tindakan euthanasia tetap dilarang karena
tidak ada dasar hukum yang jelas. Sebagaiman tercantum dalam pasal KUHP 338, pasal
340, pasal 344, pasal 355 dan pasal 359. Sehingga pada kasus Ny. T euthanasia tidak
dibenarkan. Euthanasia ini ditentang untuk dilakukan atas dasar etika, agama, moral dan
legal dan juga pandangan bahwa apabila dilegalisir euthanasia dapat disalahgunakan.Sebagai perawat berperan dalam memberikan advokasi. serta sebagai counselor yaitu
membela dan melindungi pasien tersebut untuk hidup dan menyelamatkan jiwanya dari
ancaman kematian. Perawat diharapkan mampu memberikan pengarahan dan penjelasan
kepada keluarga pasien bahwa pasien berhak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan
yang optimal dan tidak melakukan euthanasia. Menyarankan kepada keluarga untuk
mencari alternative jalan keluar dalam hal mencari sumber biaya yang lain, menjadi

jembatan penghubung diantara dokter, tenaga kesehatan lain dan keluarga sehingga
keluarga akan mendapatkan informasi yang sejelas- jelasnya tentang kondisi pasien,
seberapa besar kemungkinan untuk sembuh dan berapa besar biaya yang telah dan akan
dikeluarkan. Memberikan pertimbangan- pertimbangan yang positif pada keluarga dalam
hal pengambilan keputusan untuk membawa pulang pasien Ny. T atau dilakukannya
euthanasia pasif. Perawat tetap memberikan perawatan pada pasien, pemenuhan
kebutuhan dasar pasien selama perawatan di ICU. Dan membantu keluarga dalam hal
permohonan atau peringanan biaya perawatan Rumah Sakit.
B. SARAN
1.

Bagi keluargaKeluarga sebaiknya memikirkan kembali keputusan untuk mengajukan


euthanasia. Dan permasalahan biaya agar mencari alternatif keringanan biaya melalui
Jamkesmas, Jamkesda dll.

2.

Bagi Petugas (perawat, dokter dan tenaga kesehatan lainnya)Tetap memberikan


perawatan terbaik kepada pasien selama dirawat, memberikan perlindungan kepada
pasien sebagai advokat.

3.

Bagi PemerintahApabila hukum di Indonesia kelak mau menjadikan persoalan euthanasia


sebagai salah satu materi pembahasan, semoga teap diperhatikan dan dipertimbangkan
sisi nilai etika, social maupun moral.
DAFTAR PUSTAKA
Billy, N. 2008. Aspek Hukum dalam Pelaksanaan Euthanasia di Indonesia.
Tersedia:http//www.hukum_kesehatan.web.id. diakses tanggal 14 Oktober 2011 Fadli,
Ahmad. 2000. Euthanasia dalam Medis dan Hukum Indonesia.
Tersedia:Hukum_kesehatan.web.id. teknosehat in biotik dan bio hukum. Diakses
tanggal 14 Oktober 2011Hanafiah, Jusuf dan Amir. 1999. Etika Kedokteran dan Hukum
Kesehatan. Edisi 3.

Buku Kedokteran EGC: JakartaIsmail, Ilham. Konsep Mati Otak dan Euthanasia.
Tersedia:http://www.emedicine.medscape.com. diakses tanggal 14 Oktober 2011 Suyono,
Handi. 2008. Brain Death (Kematian Otak). Departemen Fisiologi dan Kedokteran
Hiperbarik, Fakultas Keperawatan Universitas Katolik Widya Mandala.
Surabaya.Tersedia:http://www.emedicine.medscaape.com/article/1177999overview. Diakses tanggal 12 Oktober 2011.Yunan, Nagat. 2000. Fisiologi Medis dan
Sistem Saraf Pusat. Buku Kedokteran EGC:
Jakarta