Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH

JAWAB MENJAWAB DAN INTERVENSI


Makalah ini di susun untuk memenuhi sebagian tugas harian mata kuliah
Hukum Acara Perdata
Dosen Pengampu :

Dr. Mardi Candra, S.Ag., M.Ag., MH.

Oleh :
1. Ahmad Syamsul Arifin

(14210067)

JURUSAN AL-AHWAL AL-SYAKHSHIYYAH


FAKULTAS SYARIAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
2016

BAB I
Pendahuluan
A. Latar Belakang
Salah satu cara menyelesaikan masalah d/ sengketa hokum yang terjadi
di antara warga masyarakat adalah

dengan perantaraan kekuasaan

kehakiman. Orang yang merasa dirugikan hak atau kepentingannya bias


menggugat orang yang dianggap merugikannya di muka pengadilan yang
berwenang.
Tujuan para pencari keadilan mengajukan perkara mereka di muka
pengadilan tidak lain ialah untuk mendapatkan keputusan yang adil guna
menyelesaikan perkaranya. Sehingga hak-hak yang diberikan oleh hokum
materiil maupun kepentingan-kepentingan yang dilindungi oleh hokum
materiil, baik yang berupa hokum tertulis, maupun yang tidak tertulis, dapat
diwujudkan melalui pengadilan yang berwenang.
Dalam hal keperluan ini, pada dasrnya mereka harus mentaati
ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur bagaimana caracara berperkara di pengadilan. Peradilan yang bersifat cepat, murah dan juga
sederhana adalah satu tujuan dasar dalam proses proses berperkara di muka
pengadilan.
Salah satu upaya hukum yang dapat dipergunakan oleh tergugat dalam
siding pemeriksaan perkara ialah dengan perlawanan atas gugatan yang
dapat berupa eksepsi dan rekonvensi disamping jawaban atas pokok
perkaranya (verweer ten prinsipaal). Penggugat dalam hal ini juga diberikan
hak untuk membantah atas jawaban tergugat dalam bentuk replik, begitu
pula tergugat juga berkesempatan mengajukan duplik atas jawaban atas
gugatan yang di disampaikan penggugat dalam repliknya.
Hal lain dari pada tersebut diatas, dalam penyelesaian perkara di muka
persidangan pihak ketiga diperbolehkan mengajukan dirinya sendiri untuk
masuk dalam proses acara persidangan tanpa membela siapapun, yang biasa
disebut dengan intervensi. Terkait dengan beberapa masalah di atas, akan
dijelaskan lebih lanjut dalam makalah ini.
B. Rumusan Masalah
Pada bagian ini akan dipaparkan tentang rumusan masalah makalah ini,
yang diantaranya yaitu:
1. Apakah yang dimaksud dengan proses jawab-menjawab di pengadilan?

2. Apa sajakah macam-macam bentuk dari jawaban di pengadilan?


3. Bagaimana bentuk contoh cara merumuskan sebuah jawaban berupa
tertulis?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Jawaban Tergugat
Dalam pemeriksaan perkara dipersidangan Pengadilan Negeri jawabmenjawab antara kedua belah pihak merupakan hal amat penting. Namun
demikian, apa yang dikemukakan oleh tergugat merupakan hal yang lebih
penting lagi, karena tergugat merupakan sasaran penggugat. Karena itu dalam
jawab-menjawab, jawaban tergugatlah yang mendapat tempat pertama. Pada
dasarnya tergugat tidak wajib menjawab gugatan penggugat. Tetapi jika
tergugat menjawabnya, jawaban itu dapat dilakukan secara tertulis maupun
lisan , sebagaimana tersebut dalam Pasal 121 ayat (2) HIR jo. Pasal 145 ayat
(2) RBg. Namun dalam perkembangannya, jawaban diajukan oleh pihak
tergugat secara tertulis. Jawaban tergugat ini dilakukan apabila upaya
perdamaian yang dilakukan hakim tidak berhasil. Karena kedua belah pihak
tetap pada prinsip atau pendirianya, maka hakim mempersilahkan kepada
Penggugat

untuk

membacakan

gugatannya.

Setelah

selesai

dibacakan

gugatan tersebut hakim akan memberi kesempatan kepada Tergugat untuk


menjawab atau menangkis gugatan dari Penggugat dengan fakta-fakta yang
diketahuinya secara tertulis, biasanya hakim memberikan waktu satu minggu
kepada Tergugat supaya siap dengan jawabannya dan dibacakan pada acara
sidang berikutnya.
Adapun Jawaban tergugat dapat terdiri dari 2 macam, yaitu:
1. .Jawaban yang tidak langsung mengenai pokok perkara, yang disebut dengan
tangkisan atau eksepsi.
2. Jawaban yang langsung mengenai pokok perkara (verweer ten principale).
Jawaban mengenai pokok perkara dapat dibagi lagi atas dua kategori
Menurut pasal 113 "setelah pada hari itu juga atau pada hari yang lain
yang telah ditentukan, pengacara tergugat mengajkan jawabannya disertai
alasan-alasannya dan turunannya disampaikan kepada pengacara penggugat".

Pasal 114 "pengacara tergugat berkewajiban mengajukan seua tangkisan dan


jawaban mengenai pokok perkaranya bersama-sama dengan ancaan tangkisan
yang tidak diajukan gugur dan jika tidak diwajibkan pokok persoalanya ia akan
kehilanga hak untuk mengjikannya. Namunpara waris, janda dan wanita-wanit
yang bercerai maupun pisah meja dan ranjang atau pisah harta kekayaan yang
mendapat waktu untuk mempertibangkan untuk menerima atau menolak
warisan, cukup dengan menunjuk kepada keadaan ia dalam pembelanya".
Pasal 115 " setelah jawaban diberikan dalam persidangan, maka pengacara
penggugat diberi keempatan untuk mengajukan jawabannya kembali (replik)
yang dapat dijawab lagi oleh pengacara tergugat (duplik). 1
1. Pengakuan
Pengakuan ialah jawaban yang membenarkan isi gugatan, artinya apa
yang digugatkan terhadap tergugat diakui kebenarannya. 2 Pengakuan ini dapat
bersifat seluruhnya, juga dapat mengakui sebagian.
Apabila penggugat pada jawaban pertama mengakui, maka dalam
jawaban berikutnya sampai ke tingkat banding tergugat tetap terikat dengan
pengakuannya itu Artinya pengakuan itu tidak dapat ditarik kembali, terkecuali
dalam hal gugatan perceraian.

Khusus mengenai perceraian, meskipun

tergugat telah mengakui sepenuhnya mengenai alas an-alasan cerai yang


diajukan penggugat, namun hakim tidak serta merta menerimanya, hakim
harus berusaha menemukan kebenaran materiil alasan cerai tersebut dengan
alat bukti yang memadai.3 Hal ini mengingat bahwa:
a. Perceraian adalah sesuatu yang dimurkai Allah. Maka, meskipun perceraian itu
telah mencapai suatu kondisi hukum yang halal karena telah memiliki alasanalasan yang cukup, namun tetaplah dibenci Allah SWT.
b. Undang-Undang Perkawinan mempunyai prinsip mempersulit perceraian,
karena begitu beratnya akibat perceraian yang terjadi, baik bagi bekas suami,
maupun bekas istri, dan terutama bagi anak-anak mereka.

1 Ropaun Rambe, ,hal.31-35


2 Abdul kadir, acara perdata, hal. 110
3 Ahmad mujahidin, hal. 157

c. Untuk

menghindari

kebohongan-kebohongan

besar

terhadap

perceraian

tersebut.
2. Referte (referte aan het oordeel des rechters)
Referte ialah satu bentuk jawaban tergugat yang tidak membantah, juga
tidak membenarkan isi gugatan penggugat. Dalam hal referte tergugat hanya
bersifat menunggu putusan, artinya tergugat hanya menyerahkan segala
sesuatunya kepada kebijaksanaan hakim.4 Berbeda halnya dengan pengakuan,
dalam referte ini tergugat dalam tingkat banding masih dapat melakukan
bantahan.5 Apabila tergugat menjawab gugatan dengan referte ini, maka
pemeriksaan akan dilanjutkan sebagaimana biasa. 6
3. Bantahan
Yang dimaksud dengan bantahan ialah suatu pengingkaran terhadap
apa yang dikemukakan oleh penggugat dalam dalil-dalil gugatannya. 7 Dalam
bantahan ini tergugat akan menyatakan tidak benar apa yang digugatkan oleh
penggugat, maka pemeriksaan akan dilanjutkan pada tahap berikutnya sampai
dapat dibuktikan sebaliknya.
Jika tergugat mengajukan bantahan, maka bantahannya itu harus
disertai

dengan

alas

an-alasannya.

Bantahan

secara

umum

dengan

mengatakan bahwa keterangan dan tuntutan penggugat itu adalah tidak benar
sama sekali tanpa menyebutkan alasan-alasannya, maka akan tidak ada
artinya dan dianggap hakim sebagai tidak membantah. 8 Begitu juga dalam
pasal 113 Rv yang mensyaratkan agar bantahan tergugat itu harus disertai
alasan-alasan (met redenen omkleed).9
4 Sudikno mertokusumo, hal. 94
5 Abdul kadir, hal. 110
6 Ahmad Mujahidin, hal. 158.
7 Sarwono, HAP. Hal. 165.
8 Abdul kadir, hal. 110
9 Sudikno mertokusumo. Hal. 95.

4. Tangkisan (Eksepsi)
Dalam jawaban tergugat atas gugatan penggugat, lazim tergugat
mengajukan eksepsi. Eksepsi adalah sanggahan terhadap suatu gugatan atau
perlawanan yang tidak mengenai pokok perkara atau pokok perlawanan
dengan maksud untuk menghindari gugatan dengan cara agar hakim
menetapkan gugatan tidak diterima atau ditolak.
Terkait tangkisan atau eksepsi, bisa juga berarti pembelaan (plea) yang
diajukan tergugat terhadap materi pokok gugatan penggugat. Tujuan pokok
pengajuan eksepsi, yaitu agar pengadilan mengakhiri proses pemeriksaan
tanpa lebih lanjut memeriksa pokok perkara. Pengakhiran yang diminta melalui
eksepsi bertujuan agar pengadilan menjatuhkan putusan negatif, yang
menyatakan gugatan tidak dapat diterima dan berdasarkan putusan negatif
itu, pemeriksaan perkara diakhiri tanpa menyinggung penyelesaian materi
pokok perkara.
Didalam H.I.R hanya mengenal satu macam eksepsi ialah eksepsi
perihal tidak berkuasanya hakim. Eksepsi ini terdiri dari dua macam, eksepsi
yang

menyangkut

kekuasaan

relatif.

kekuasaan
Kedua

absolut

macam

dan

eksepsi

eksepsi
ini

yang

termasuk

menyangkut
eksepsi

yang

menyangkut acara, dalam hukum acara perdata disebut eksepsi prosesuil


(procesueel).
Sedangkan menurut ilmu pengetahuan hukum acara perdata, tangkisan
atau eksepsi dibedakan menjadi tiga macam, yaitu:
1. Eksepsi tolak (declinatoir exceptie, declinatory exception) yaitu eksepsi yang
bersifat menolak, supaya pemeriksaan perkara jangan diteruskan. Termasuk
jenis ini ialah eksepsi tidak berwenang memeriksa gugatan, eksepsi batalnya
gugatan, eksepsi perkara telah pernah diputus, eksepsi penggugat tidak
berhak mengajukan gugatan, eksepsi tidak mungkin naik banding.
2. Eksepsi tunda (dilatoir exceptie, dilatory exception) yaitu eksepsi yang bersifat
menunda diteruskannya perkara. Termasuk jenis ini adalah eksepsi karena ada
penundaan pembayaran dari penggugat sehingga tuntutan penggugat belum
bisa dikabulkan.
3. Eksepsi halang (peremptoir exceptie, peremptory exception) yaitu eksepsi
yang bersifat menghalangi dikabulkannya gugatan penggugat, tetapi telah

mendekati pokok perkara. Termasuk jenis ini eksepsi tentang lampau waktu,
eksepsi tentang penghapusan hutang.
Eksepsi tolak juga eksepsi prosesuil, karena didasarkan pada ketentuan
Hukum Acara Perdata. Tergugat memberikan jawaban yang berupa eksepsi
prosesuil untuk menangkis supaya pokok perkara tidak diperiksa karena bukan
wewenang hakim atau karena tidak diperkenankan menurut ketentuan Hukum
Acara Perdata yang berlaku. Eksepsi tunda dan eksepsi halang disebut juga
eksepsi maeriel, karena didasarkan pada ketentuan hukum materiel, yaitu
hukum perdata. Tergugat memberikan jawaban yang berupa eksepsi materiel
untuk menangkis supaya pokok perkara tidak diperiksa atau diteruskan karena
bertentangan dengan ketentuan hukum perdata.
Apabila eksepsi diterima dan di benarkan oleh pengadilan, proses
penyelesaian perkara diakhiri dengan putusan, yang menyatakan gugatan
tidak dapat diterima.
Menurut pasal 134 HIR dan Pasal 132 Rv disebutkan, bahwa eksepsi
dapat diajukan setiap saat, yaitu:
a. Selama

proses

perkara

di

persidangan

pengadilan

tingkat

pertama

berlangsung.
b. Tergugat dapat mengajukaneksepsi sejak saat pemeriksaan dimulai dan
sebelum putusan dijatuhkan10
C. Rekonvensi (gugatan balasan)
Dalam tahap ini, tergugat disamping mengajukan jawaban atas dalildalil gugat penggugat, ia juga mengajukan gugatan balik(rekonvensi) terhadap
penggugat. Dalam hal demikian maka kedudukan tergugat dalam konvensi
juga menjadi penggugat dalam rekonvensi, dan sebaliknya penggugat dalam
konvensi juga menjadi tergugat dalam rekonvensi. 11
Rekonvensi yang diajukan tergugat itu sebenarnya adalah jawaban
tergugat

terhadap

gugatan

pengguagat

atas

perkara

yang

diperiksa

pengadilan. Oleh karenanya rekonvensi ini diajukan bersama-sama jawaban


tergugat baik secara tertulis maupun secara lisan. 12 Rekonvensi diatur dalam
pasal 132 a dan 132 b HIR, yang disisipkan dalam HIR dengan Sttb. 1927-300
10 Sophar Maru Hutagalung, hal.78
11 opcit, hal.106

dua pasal mana mengambil alih pasal 244-247 Rv; dalam R.Bg diatur dalam
pasal 157 dan 158.13
Menurut Wirjono Prodjodikoro, rekonvensi boleh diajukan tidak hanya
pada jawaban pertama, melainkan juga pada jawaban berikutnya(duplik),
karena pasal 132 b HIR 158 R.Bg hanya menyebutkan jawaban saja,
sedangkan duplik adalah sebagian dari jawaban itu. Jika soal jawab sudah
selesai dan hakim juga sudah memulai dengan pemeriksaan saksi-saksi,
tergugat baru tidak diperbolehkan lagi mengajukan rekonvensi. 14
Apabila di persidangan Pengadilan Negeri tergugat tidak mengajukan,
maka dalam pemeriksaan tingkat banding rekonvensi tidak boleh diajukan lagi
(pasal 132 a ayat 2 HIR jo; pasal 157 ayat 4 R.Bg). maka tergugat hanya boleh
mengajukan gugatan biasa kepada Pengadilan Negeri.
Dalam gugat balasan ini praktiknya tergugat tidak perlu membuat surat
permohonan pengajuan gugatan baru, namun tergugat cukup mengajukan
gugat balasan kepada penggugat yang pengajuannya dijadikan satu dengan
jawaban tergugat atas gugatan penggugat. Dengan adanya gugat balasan ini,
dalam praktiknya akan dapat memperlancar jalannya persidangan karena dua
gugatan dalam persoalan/sengketa yang sama dapat dijadikan satu sekaligus
dan diperiksa oleh hakim yang sama dan dalam waktu dan tempat yang sama
pula. Gugatan balasan yang dijadikan satu dengan jawaban tergugat ini, dapat
diselesaikan oleh hakim dalam satu keputusan, kecuali apabila hakim
memandang perlu bahwa untuk perkara yang pertama yaitu

gugatan

penggugat terhadap tergugat harus diselesaikan terlebih dahulu daripada


gugatan kedua yang diajukan oleh tergugat, maka gugat balasan yang
diajukan tergugat yang belum diselesaikan oleh hakim dapat diperiksa dan
diputuskan secara terpisah, namun harus diperiksa dan diputus oleh hakim
yang sama (pasal 132 b ayat 3 HIR jo; pasal 158 ayat 3 R.Bg). 15

12 Abdul kadir , hal. 116


13 Sudikno Mertokusumo. Hal 98.
14 Abdul kadir. Hal 116.
15 Sarwono hal. 175.

Adapun manfaat dari gugatan balasan atau gugat dalam rekonvensi


1.
2.
3.
4.

yang diajukan oleh tergugat yakni sebagain berikut: 16


Dapat menghemat biaya perkara;
Dapat memberikan kemudahan bagi hakim untuk mengadakan pemeriksaan;
Dapat mempercepat penyelesaian suatu sengketa;
Dapat menghindari adanya keputusan yang bertentangan karena ditangani
oleh hakim yang sama.
Pengajuan gugat balasan pada asasnya hanya dapat ditujukan kepada
pihak

yang

berkepentingan

dalam

setiap

sengketa

yang

ditangani

di

pengadilan. Jika ternyata dalam praktik gugat balasan ditujukan kepada pihak
yang mewakili penggugat atau kuasa hukumnya yang tidak ada hubungannya
dengan pokok perkara, maka gugat balasan akan dinyatakan oleh hakim tidak
dapat diterima dengan alasan tidak ada hubungannya dengan pokok perkara
(pasal 132 a ayat 1 HIR jo; pasal 157 ayat 1 R.Bg jo; pasal 244 Rv). 17
Pengajuan gugat balasan pada asasnya dapat diajukan dalam setiap
sengketa di persidangan Pengadilan Negeri, kecuali dalam 4 hal yaitu: 18
1. Penggugat dalam kualitas yang berbeda
Rekonvensi tidak boleh diajukan apabila penggugat bertindak dalam suatu
kualitas (sebagai kuasa hukum), sedangkan rekonvensinya ditujukan kepada
diri pribadi penggugat (pribadi kuasa hokum tersebut).
2. Pengadilan yag memeriksa konvensi tidak berwenang memeriksa gugatan
rekonvensi.
3. Dalam perkara perselisihan tenang menjalankan putusan.
4. Jika dalam pemeriksaan dalam pemeriksaan tigkat pertama tidak dimasukkan
gugat balasan, maka dalam tingka banding tidak boleh diajukan gugat balasan
(rekonvensi).
D. Replik Penggugat
Tahapan selanjutnya setelah

tergugat

menyampaikan

jawabannya

adalah menjadi hak pada pihak penggugat untuk memberikan tanggapan


(replik) atas jawaban tergugat sesuai dengan pendapatnya. Kemungkinan
pada tahap ini penggugat tetap mempertahankan gugatannya dan menambah
keterangan yang dianggap perlu untuk memperjelas dalih-dalihnya, atau
16 Sarwono. Hal 177.
17 Sarwono. Hal 177.
18 Subekti. Hal 63.

kemungkinan juga penggugat mengubah sikap dengan membenarkan jawaban


atau membantah jawaban tergugat.19
Replik berasal dari dua kata yaitu re (kembali) dan pliek (menjawab),
jadi replik berarti kembali menjawab. Replik adalah jawaban balasan atas
jawaban tergugat dalam perkara perdata. Replik harus disesuaikan dengan
kualitas dan kuantitas jawaban tergugat. Oleh karena itu, replik adalah respons
Penggugat atas jawaban yang diajukan tergugat. Bahkan tidak tertutup
kemungkinan

membuka peluang

kepada penggugat untuk

mengajukan

rereplik. Replik Penggugat ini dapat berisi pembenaran terhadap jawaban


Tergugat atau boleh jadi penggugat menambah keterangannya dengan tujuan
untuk memperjelas dalil yang diajukan penggugat dalam gugatannya.
Sebagaimana halnya jawaban, maka replik juga tidak di atur di dalam
H.I.R/R.Bg, akan tetapi dalam pasal 142 reglemen acara perdata, replik
biasanya berisi dalil-dalil atau hak-hak tambahan untuk menguatkan dalil-dalil
gugatan penggugat. Penggugat dalam replik ini dapat mengemukakan sumber
sumber kepustakaan, pendapat pendapat para ahli, doktrin, kebiasaan, dan
sebagainya. Peranan yurisprudensi sangat penting dalam replik, mengigat
kedudukanya adalah salah satu dari sumber hukum. Untuk menyusun replik
biasanya cukup dengan mengikuti poin-poin jawaban tergugat 20
Replik yaitu jawaban penggugat baik terulis maupun lisan terhadap
jawaban

tergugat

atas

gugatannya.

Replik

diajukan

penggugat

untuk

meneguhka gugatannya, dengan mematahkan alasan-alasan penolakan yang


dikemukakan tergugat dalam jawabannya. Replik merupakan lanjutan dari
pemeriksaan

perkara

perdata

dipengadilan

negeri

setelah

tergugat

mengajukan jawaban.21
Setelah tergugat menyampaikan jawabannya, kemudian si penggugat
diberi kesempatan untuk menanggapinya sesuai dengan pendapatnya. Dalam
tahap ini mungkin penggugat tetap mempertahankan gugatannya dan
menambah keterangan yang dianggap perlu untuk memperjelas dalil-dalilnya.
E. Duplik Tergugat
19 Ahmad Mujahidin, pembaharuan. Hal 158
20 www.scribd.com/doc/21264385/Replik
21 H. Riduan Syahrani, S.H. , Cet. V, 2009

Apabila penggugat telah menyampaikan repliknya, dalam tahap ini


tergugat diberikan kesempatan untuk menanggapi replik penggugat, isinya
membantah jawaban sekaligus replik penggugat. Adapun yang perlu diketahui,
bahwa acara jawab-menjawab (replik duplik) ini

dapat diulangi sampai ada

titik temu atau titik perselisihan antara penggugat dan tergugat, sebagai
masalah pokok yang akan dibawa ke tahap pembuktian. 22
F. Intervensi
1) Voeging (Menyertai)
Voeging adalah suatu aksi hokum yang diajukan oleh pihak yang
berkempentingan dengan jalan memasuki perkara perdata yang sedang
berlangsung antara pengguggat dan tergugat untuk bersama-sama tergugat
dalam menghadapi penggunggat. Perbedaammya dengan tussenkomst adalah
keberpihakannya ditujukan langsung kepada pihak tergugat.
Ciri-ciri Voeging sebagai berikut.23 :
1. Sebagai pihak yang berkepentingan dan berpihak kepada pihak tergugat.
2. Adanya kepentingan hukum untuk melindungi dirinya sendiri dengan membela
salah satu yang bersengketa.
3. Memasukkan tuntutan terhadap pihak-pihak yang berperkara.
Dalam hal permohonan voeging, hakim member kesempatan kepada
para pihak untuk menanggapi, sealnjutnya dijatuhkan putusan sela, dan
apabila dikabulkan maka dalam putusan harus disebutkan kedudukan pihak
ketiga tersebut.
2) Tussenkomst (Menengahi)
Tussenkomst adalah ikut sertanya pihak ketiga dalam proses perkara itu
atas alasan ada kepentingannya yang terganggu (membela kepentingannya
sendiri/melawan kepentingan kedua belah pihak). Intervensi diajukan karena
pihak ketiga merasa bahwa barang miliknya disengketakan/diperebutkan oleh
penggugat dan tergugat. Permohonan intervensi dikabulkan atau ditolak
dengan putusan sela, apabila permohonan intervensi dikabulkan, maka ada
dua perkara yang diperikasa bersama-sama yaitu gugatan asal dan gugatan
intervensi.
Cirri-ciri voeging diantaranya adalah :
a) Sebagai pihak yang berkepentingan dan berpihak kepada pihak tergugat.
b) Adanya kepentingan hukum untuk melindungi dirinya sendiri dengan membela salah satu yang
bersengketa.
22 Ahmad mujahidin hal 159
23 Ahmad mujahidin hal 117

c) Memasukkan tuntutan terhadap pihak-pihak yang berperkara.


Dalam hal permohonan voeging, hakim member kesempatan kepada para pihak untuk
menanggapi, sealnjutnya dijatuhkan putusan sela, dan apabila dikabulkan maka dalam putusan
harus disebutkan kedudukan pihak ketiga tersebut.24
3) Vrijiwaring (Ditarik sebagai pemimpin)
Vrijwaring adalah penarikan pihak ketiga untuk bertanggung jawab
untuk membebaskan tergugat dan tanggung jawab kepada penggugat.
Vrijwaring diajukan dengan suatu permohonan dalam proses pemeriksaan
perkara oleh tergugat secara lisan dan tertulis. Misalnya : tergugat digugat
oleh penggugat karena barang yang dijual tertugat mempunyai cacat, padahal
tergugat membeli barang tersebut dari pihak ketiga, maka tergugat menarik
pihak ketiga tersebut agar pihak ketiga itu bertanggung jawab atas cacat itu.
Cirri-ciri vrijwaring sebagai berikut :
1) Merupakan penggabungan tuntutan.
2) Salah satu pihak yang bersengketa (tergugat) menarik pihak ketiga kedalam
sengketa.
3) Keikutsertaan pihak ketiga, timbul karena dipaksa dan bukan karena
kehendaknya.
Hakim member kesempatan para pihak untuk menanggapi permohonan
tersebut, selanjutnya dijatuhkan putusan yang menolak atau mengabulkan
permohonan tersebut. Apabila permohonan intervensi ditolak, maka putusan
tersebut merupakan putusan akhir yang dapat dimohonkan banding, tetapi
pengirimannya kepengadilan tinggi harus bersama dengan perkara pokok.
Apabila perkara pokok tidak diajukan banding, maka dengan sendirinya
perkara intervensinya juga tidak dapat diteruskan dan yang bersangkutan
dapat mengajukan gugatan tersendiri.. Apabila permohonan dikabulkan, maka
putusan tersebut merupakan putusan sela, yang dicatat dalam berita acara,
dan selanjutnya pemeriksaan perkara diteruskan dengan menggabungkan
gugatan intervensi ke dalam pokok perkara.
G. Contoh Gambaran Surat Jawaban

24 Ahmad mujahidin hal 116

Berikut di bawah ini akan diberikan beberapa bentuk rumusan atau


contoh dari macam-macam jawaban tergugat dan penggugat yang telah
dibahas sebelumnya, antara lain:
1. Jawaban Yang Berisi Bantahan
Surabaya, 20 September 2002
:Kepada
Yang terhormat Ketua
Pengadilan Negeri Surabaya
Di_Surabaya
Dengan hormat,
Yang bertanda angan di bawah ini, nama . . . ; umur 35; pekerjaan
swasta bertempat tinggaldi Jalan Kali Asem; Kecamatan Sidodadi; Kota
Surabaya; dalam perkara perdata No. 09/Pdt/2002/PN.Sby. digugat oleh
Suwandi, dengan ini mengajukan jawaban aas gugatan itu sebagai beriku:
Bahwa keterangan perkawinan antara tergugat dengan almarhum suami
tergugat yang didalihkan oleh penggugat terjadi lebih kemudian daripada
adanya

harta

warisan,

adalah

idak

benar.

Untukn

membuktikan

ketidakbenaran itu, bersama ini dilampirkan surat keterangan nikah, dan


diajukan dua orang saksi masing-masing bernamaALI Yasin, ummur 36 tahun;
nama M.Solehuddin, umur 3, berempat tinggal di.;
Bahwa harta warisan yang didalihkan oleh penggugat yang berupa
sebidang sawah

luasnya 21 hektare dengan batas batas..,dst, sebuah

rumah, yang terleak di desa.., Kecamatan, Kota., yang sekarang didiami


oleh tergugat, adalah tidak benar. Karena sebidang sawah dan sebuah rumah
tersebut adalah harta bersama anara almarhum suami tergugat dengan
tergugat yang elah dibeli semasa perkawinan, yang dapat dibuktikan dengan
surat perjanjian jual beli serta anda pembayaran yang bersama ini dilampirkan
;
Bahwa,

penggugat mendalihkan

belum pernah

mendapat bagian

ataupun hasil dari sawah ersebut, adalah tidak benar. Hal ini dapat dibuktikan
dengan surat keterangan yang dikuatkan oleh kepala desa . . . . . yang
menyatakan bahwa penggugta sebagai anak tiri tergugat teklah diberi
kesempatan menggarap sawah ersebut selama 6 ahun, selama tergugat
berada di. . . , surat keerangan mana bersama ini dilampirkan;
Bahwa, penggugat mendalilkan diusir dari usaha garapan sawah secara
serta-merta oleh tergugat, adalah tidak benar. Malahan sebaliknya tergugat
sebagai seorang ibu berstatus janda, pernah menawarkan hidup bersama
anak-anak dengan rukun, sekalipun dengan anak tiri, tetapi dijawab oleh

penggugat secara kasar dengan disaksikan oleh kepala suku nama. . . , umur
45, brtempat tinggal di. . . , bersama ini diajukan sebagai saksi;
Maka dengan alasan-alasan serta keterangan tersebu di atas ergugat
membantah kebenaran gugatan penggugat dan mohon supaya bapak ketua
menolak

gugatan

penggugat

seluruhnya

dan

menghukum

penggugat

membayar biaya perkara ini;


Tergugat tersebut diatas,
(............)
2. Contoh Jawaban dengan Rekonvensi
Metro, . . . . 2002
Kepada Yth,
Bapak Ketua Pengadilan Negeri Metro
di_Metro
Dengan segala hormat,
Yang bertanda tangan di bawah ini, nama . . . , umur . . . ,
pekerjaan . . . , bertempat tinggal di . . . . , sebagai tergugat, yang dalam
perkara perdata No. /19/Pdt. Digugat oleh . . . . . . , sebagai penggugat ;
Dengan ini mengajukan jawaban atas gugatan itu sebagai berikut:
Bahwa, keterangan prkawinan antara tergugat dan almarhum suami tergugat
yang di dalilkan oleh penggugat . . . . dst.---dst.------sampai akhir jawaban;
Maka dengan alasan-alasan serta keterangan tersebut di atas tergugat
membantah kebenaran gugatan penggugat dan sebaliknya pula dengan ini
tergugat mengajukan gugatan belasan (rekonvensi) terhadap penggugat,
dengan alasan-alasan sebagai berikut:
Bahwa, pada tanggal . . . . , penggugat konvensi/tergugat rekonvensi telah
dating kepada penggugat rekonvensi/tergugat konvensi untuk meminjamkan
uang sejumlah Rp. 200.00.000,00; (dua raus ribu rupiah) untuk biaya
menggarap sawah;
Bahwa, uang tersebut telah diterima oleh tergugat rekonvensi/ penggugat
konvensi dengan baik, terbukti dari adanya tanda terima yang bersama ini
disampaikan;
Bahwa, sampai sekarang terugat rekonvensi/ penggugat konvensi belum juga
membayar atau melunasi hutangnya tersebut, walaupun telah diperingatkan
berkali-kali oleh penggugat rekonvensi/terhugat konvensi ;
Maka dengan alasan-alasan tersebut di atas, tergugat konvensi/penggugat
rekonvensi mohon kepada bapak ketua supaya memutuskan sebagai hokum:
1. Menolak gugatan pengguagatkonvensi/tergugat rekonvensi untuk seluruhnya;

2. Menerima dan mengabulkan gugatan balasan (rekonvensi) dari penggugat


rekonvensi/tergugat konvensi;
3. Menghukum penggugat konvensi/tergugat

rekonvensi

untuk

membayar

kepada pengguat rekonvensi/tergugat konvensi uang sejumlah Rp 200.000,00;


(dua raus ribu rupiah) dengan menerima tanda pembayaran yang sah guna
melunasi hutangnya;
4. Menghukum tergugat rekonvensi/penggugat konvensi unuk membayar biaya
perkara ini, baik dalam gugatan konvensi maupun dalam gugatan rekonvensi.
Penggugat rekonvensi/tergugat konvensi tersebut di atas;
( . . . . . . . . . . . . . . .)

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dalam pemeriksaan perkara di persidangan Pengadilan Negeri jawabmenjawab antara keduabelah pihak merupakan hal yang amat penting.
Namun demikian, apa yang dikemukakan oleh tergugat merupakan hal yang
amat penting lagi, karena tergugat merupakan sasaran penggugat. Karena
itu, dalam proses jawab-menjawab, jawaban tergugatlah yang mendapatkan
tempat pertama. Pada dasarnya tergugat tidak wajib untuk menjawab
gugatan penggugat. Akan tetapi, jika tergugat menjawabnya, maka jawaban
tersebut dapat dilakukan secara tertulis, maupun secara lisan, sebagaimana
tersebut dalam pasal 121 ayat (2) HIR jo, pasal 145 ayat (2) RBg.
Pada prinsipnya, jawaban tergugat adalah suatu bentuk penolakan
atas gugatan penggugat dengan jalan menangkis dan membantah apa yang
didalih oleh penggugat. Namun, hal lain daripada itu bentuk jawaban

tergugat dalam proses pengadilan dapat berupa pengakuan, dapat berupa


bantahan, dapat berupa tangkisan (eksepsi), dan dapat pula berupa referte.
Pengakuan ialah jawaban yang membenarkan isi gugatan, artinya apa
yang digugatkan terhadap tergugat diakui kebenarannya. Pengakuan ini
dapat bersifat seluruhnya, juga dapat mengakui sebagian. Sedangkan Referte
ialah satu bentuk jawaban tergugat yang tidak membantah, juga tidak
membenarkan isi gugatan penggugat. Dalam hal referte tergugat hanya
bersifat menunggu putusan, artinya tergugat hanya menyerahkan segala
sesuatunya

kepada

kebijaksanaan

hakim.

Berbeda

halnya

dengan

pengakuan, dalam referte ini tergugat dalam tingkat banding masih dapat
melakukan bantahan. Apabila tergugat menjawab gugatan dengan referte ini,
maka pemeriksaan akan dilanjutkan sebagaimana biasa.
Yang dimaksud dengan bantahan ialah suatu pengingkaran terhadap
apa yang dikemukakan oleh penggugat dalam dalil-dalil gugatannya. Dan
Eksepsi adalah sanggahan atau perlawanan yang dilakukan pihak tergugat
terhadap gugatan penggugat yang tidak mengenai pokok perkara dengan
maksud agar hakim menetapkan gugatan dinyatakan tidak diterima atau
ditolak.
Selain tersebut diatas, ketika berperkara di persidangan dapat terjadi
sebuah intervensi, atau hadirnya pihak ketiga. Intervensi diatur dalam pasal
1279 B.Rv yang sekarang sudah tidak berlaku lagi. Menurut pasal 729 B.Rv
dinyatakan barang siapa yang mempunyai kepentingan dalam suatu perkara
yang sedang diperiksa dalam pengadilan. Maka yang bersangkutan (pihak
ketiga selain penggugat dan tergugat) dapat ikut serta dalam perkara
tersebut

dengan

menyertai

atau

menengahi

dengan

syarat

yang

bersangkutan harus mempunyai kepentingan yang cukup yang apabila ia


tidak ikut serta dalam perkara tersebut, maka ia akan dirugikan.

Daftar Pustaka
Mertokusumo, Sudikno, 1993, Hukum Acara Perdata Indonesia, Libertty:
Yogyakarta.
Muhammad, Abdulkadir, 1996, Hukum Acara Perdata Indonesia (cetakan ke
IV), PT. Citra Aditya Bakti: Bandung.
Mujahidin, Ahmad, 2012, Pembaharuan Hukum Acara Peradilan Agama,
Ghalia Indonesia: Bogor.
Harahap,

Yahya, 2005, Hukum Acara Perdata Gugatan, Persidangan,


Penyitaan, Pembuktian, dan Putusan Pengadilan, Sinar Grafika:
Jakarta.

Sarwono, 2011, Hukum Acara Perdata Teori dan Praktik, Sinar Grafika:
Jakarta.
Soeroso, 2009, Praktik Hukum Acara Perdata Tata Cara dan Proses
Persidangan (edisi kedua), Sinar Graika: Jakarta.
Subekti, 1989, Hukum Acara Perdata (cetakan ke III), Binacipta: Bandung.
Sutantio, Retnowulan, dan Iskandar, Oeripkartawinata, 1997, Hukum Acara
Perdata dalam Teori dan Praktik, Mandar Maju: Bandung.
www.scribd.com/doc/21264385/Replik

Ropaun Rambe, "Hukum Acara Perdata Lengkap" , Sinar Grafika : Jakarta 2002,
hal. 3
H Syahroni Ridhuan, S.H., Buku Materi Dasar Hukum Acara Perdata, PT. Citra
Aditya Bukti
Bandung, Cet. V, 2009