Anda di halaman 1dari 6

TUGAS TOKSIKOLOGI DAN TANAMAN OBAT

SENYAWA TOKSIK YANG BERPENGARUH PADA SISTEM IMUN, REPRODUKSI


DAN PERKEMBANGAN

Oleh :
Nama

: Previana Rahmawati

NIM

: 135130100111018

Kelas

:B

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER HEWAN


FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015

Mekanisme Senyawa Toksik Mempengaruhi Sistem


Imun, Reproduksi dan Perkembangan
Mekanisme Senyawa Toksik Mempengaruhi Sistem Imun
Fungsi dari sistem imun adalah melindungi tubuh dari organisme asing (virus, bakteri,
jamur), sel asing (neoplasma), dan antigen lainya. Suatu zat /senyawa toksik yang
mengganggu sistem imum adalah Imunotoksikan. Terdapat tiga macam imunotoksikan yaitu :
1. Imunostimulan ( Peningkatan Sitem Imun)
Imunostimulan ditunjukan untuk perbaikan fungsi imun pada kondisi-kondisi imunosupresi.
Kelompok senyawa toksik/obat dapat mempengaruhi respon imun seluler maupun humoral.
Mekanisme aksi sebagai imunostimulan dari beberapa senyawa toksik maupun tanaman obat
masih belum jelas, Berbagai metabolit sekunder menunjukkan variasi yang besar dalam
aktivitas imunomodulatornya(Kumar et al.,2012).
Contoh tanaman obat yang menginduski stimulan yaitu derivat proanthocyanidin A-1 dari
Rhododendron spiciferum, yang dapat mengaktivasi proliferasi makrofag, mampu
meningkatkan pelepasan IL-12 dan sitokin Th1 lainnya. Imunostimulan dapat menyebabkan
reaksi hipersensitivitas atau alergi. Reaksi alergi tergantung pada kepekaan terhadap suatu zat
tertentu yang terjadi akibat kontak/pemakaian berulang yang mengakibatkan pembentukan
antibodi yang khas terhadap zat asing (antigen) (Widianto B Matildha. 1987)
2. Imunosupresan
Imunosupresan adalah suatu keadaan dimana respon sel-T terhadap antigen menjadi kurang
reaktif. Zat yang termasuk dalam imunosupresan dapat digolongkan menjadi lima kategori:
Antineoplastik, seperti: metotreksat
Logam berat, seperti : timbal, merkuri, kromium, arsenat
Pestisida. seperti: DDT, heksaklorobenzen (HCB), dieldrin, karbanil
Hidrokarbon berhalogen, seperti : kloroform, trikloroetilen, pentaklorofenol
Macam-macam senyawa seperti: benzo(a)piren, benzen, glukortikoid,
dietilstilbenstrol, TCDD
Mekanisme terjadinya imunosupresi masih terdapat beberapa teori, antara lain dikatakan
bahwa imunosupresi terjadi karena timbulnya sel-sel T yang bertindak sebagai supresor
karena aktivasi dari sel-sel B poliklonal dapat pula karena sel-sel B yang hyporesponsiveness
atau karena gangguan mekanisme interaksi antara sel-sel B dan selsel T di dalam merespon
kehadiran antigen T. evansi (Terry et al., 1973).
3. Autoimun

Sistem imune menghasilkan auto antibodi tehadap antigen endogen, yang merusak jaringan
normal. Seperti anemia hemolitik. Pada penyakit ini terjadi fagositosis terhadap eritrosit
sehingga terjadi hemolisis dan anemia. Senyawa yang dapat mengakibatkan anemia hemolitik
salah satunya pestisida dieldrin.
Organoklorin merangsang sistem saraf dan menyebabkan parestesia, peka terhadap
perangsangan, iritabilitas, terganggunya keseimbangan, tremor, dan kejang-kejang. Beberapa
zat kimia ini menginduksi fasilitasi dan hipereksitasi pada taut sinaps dan taut neuromuskuler
yang mengakibatkan pelucutan berulang pada neuron pusat, neuron sensorik, dan neuron
motorik. Organofosfat dan karbamat menghambat AChE. Biasanya neurotransmiter ACh
dilepaskan pada sinaps itu. Sekali impuls saraf disalurkan, ACh yang dilepas dihidrolisis oleh
AChE menjadi asam asetat dan kolin di tempat itu. Sewaktu terpajan OP dan karbamat,
AChE dihambat sehingga terjadi akumulasi ACh. ACh yang ditimbun dalam SSP akan
menginduksi tremor, inkoordinasi, kejang-kejang, dll. Dalam sistem saraf autonom akumulasi
ini akan menyebabkan diare, urinasi tanpa sadar, bronkokonstriksi, miosis, dll. Akumulasinya
pada taut neuromuskuler akan mengakibatkan kontraksi otot yang diikuti dengan kelemahan,
hilangnya refleks, dan paralisis. Penghambatan AChE yang diinduksi oleh karbamat dapat
pulih dengan mudah, sedangkan pajanan berikutnya terhadap senyawa OP biasanya lebih
sulit pulih(Yuantari,2011).
Mekanisme Senyawa Toksik Mempengaruhi Sistem Reproduksi
A. Reproduksi Betina
Penelitian yang dilakukan oleh Onley mengungkapkan bahwa toksisitas dari agen-agen
toksik seperti logam berat, pestisida dapat mempengaruhi system reproduksi betina
mekanismenya dengan cara yaitu :

menurunkan kadar GnRH dan LH di kelenjar hipofisis anterior

lesi di bagian nukelus arkuata hipothalamus sehingga mengalami perubahan pada sistem
reproduksi, termasuk inhibisi perkembangan folikel di dalam ovarium

menurunkan respons rangsangan terhadap Gonadotropin Releasing Hormone (GnRH)


sehingga kadar FSH dan LH di dalam plasma darah ikut menurun

kelambatan kanalisasi vagina dan mempunyai siklus estrus yang lebih panjang
( Rodriguez et al,1982I )

B. Reproduksi Jantan
Senyawa toksik seperti nikotin, gas karbon monoksida, nitrogen oksida, hidrogen
sianida, ammonia, akrolein, benzene, dan etanol mempengaruhi pola system reproduksi
jantan yaitu infertilitas karena spermatozoa yang abnormal.
Pada spermatozoa, terjadi penurunan motilitas spermatozoa dengan cara radikal
bebas tersebut

mengganggu motilitas spermatozoa. Radikal bebas menurunkan frekuensi

gerakan ekor spermatozoa karena menyebabkan berkurangnya energi pergerakan ekor


spermatozoa akibat produksi ATP mitokondria rendah. Mitokondria merupakan tempat proses
perombakan atau katabolisme untuk menghasilkan energi bagi pergerakan ekor spermatozoa.
Alat gerak spermatozoa terletak pada bagian ekor spermatozoa yang disusun oleh aksonema.
Aksonema terdiri dari sepasang mikrotubulus sentral dan dikelilingi 9 pasang mikrotubulus di
sebelah luarnya. Mikrotubulus luar terdiri atas subfibril A dan subfibril B yang disusun oleh
protein dinein. Protein dinein sangat berguna dalam motilitas spermatozoa karena mempunyai
aktifitas ATP-ase yang dapat menghidrolisis ATP yang dipergunakan sebagai energi motilitas
spermatozoa (Purwaningsih, 1996).
Ekstrak temu putih (C. zedoaria Rosc.) dapat mempengaruhi spermatogenesis mencit
dengan menurunkan jumlah sel spermatogonia, spermatosit, spermatid, dan lapisan sel
spermatogenik, serta menurunkan kualitas spermatozoa mencit dengan menurunkan
kecepatan gerak, motilitas dan viabilitasnya. Pemberian dosis temu putih sebanyak 300
mg/kg BB/hari secara nyata mempengaruhi spermatogenesis dan kualitas spermatozoa.
Penurunan jumlah sel spermatogenik ini, kemungkinan dikarenakan terganggunya
sintesis testosteron pada sel Leydig sehingga mengakibatkan terganggunya fungsi sel Sertoli.
Dikatakan bahwa dengan terganggunya sel Sertoli dapat mengakibatkan terjadinya degenerasi
sel-sel spermatogenik. Hal ini terjadi karena salah satu fungsi sel Sertoli adalah memberi
nutrisi sel-sel spermatogenik. Akibat kekurangan nutrisi, sel-sel spermatogenik tidak dapat
berkembang secara optimal. Semakin tinggi dosis temu putih yang diberikan, akan
mengakibatkan semakin banyak sel Sertoli yang rusak dan sel spermatogenik yang terbentuk
juga semakin sedikit.
Selain itu, penurunan sel spermatogenik dapat pula disebabkan adanya zat sitotoksik
dalam temu putih, sehingga mengganggu pertumbuhan dan perkembangan jaringan sel
(Purwaningsih dan Susmiarsih, 1998). Akibat terganggunya pertumbuhan dan perkembangan
jaringan ini, maka jumlah sel spermatogenik menurun karena sel-sel spermatogen merupakan
sel yang aktif melakukan pembelahan

Mekanisme Senyawa Toksik Mempengaruhi Perkembangan


Salah

satu

senyawa

toksik

yang

dapat

mempengaruhi

pertumbuhan

dan

perkembangan mahkluk hidup adalah senyawa logam berat timbale (Pb). Toksisitas logam
berat timbal (Pb) dapat memberikan pengaruh terhadap laju pertumbuhan, semakin lama
pemaparan timbal dan semakin tinggi konsentrasi timbal akan menurunkan laju pertumbuhan.
Timbal (Pb) dalam tubuh dengan konsentrasi yang tinggi akan menghambat aktivitas enzim.
Penghambatan aktivitas enzim akan terjadi melalui pembentukan senyawa antara logam berat
dengan gugus sulfihidril (S-H) (Sahetapy, 2011)
Enzim enzim yang memiliki gugus S-H merupakan kelompok enzim yang paling
mudah terhalang kerjanya. Hal tersebut disebabkan karena gugus S-H mudah berikatan
dengan ion ion logam berat yang masuk ke dalam tubuh, akibat dari ikatan yang terbentuk
antara gugus S-H dan logam berat, daya kerja yang dimiliki oleh enzim menjadi sangat
berkurang atau sama sekali tidak bekerja. Keadaan seperti ini akan merusak sistem
metabolisme tubuh (Palar,2002.).
Timbal dalam aliran darah sebagian besar diserap dalam bentuk ikatan dengan
eritrosit. Timbal dapat mengganggu enzim oksidase dan akibatnya menghambat sistem
metabolisme sel. Energi yang dihasilkan dari metabolisme digunakan tubuh untuk aktivitas
tubuhnya dan sisa dari energi tersebut akan digunakan untuk pertumbuhan. Jika metabolisme
terganggu maka pertumbuhan juga akan terganggu. Selain itu, apabila terpapar saat bunting,
dapat menghambat perkembangan fetus sehingga lahir dengan kondisi cacat (Palar,2002)

DAFTAR PUSTAKA
Fitriani,et al. 2010. The Effect of Cigarettes Smoke Exposured Causes Fertility of Male Mice
(Mus musculus). Aceh : Fakultas MIPA Universitas Syiah Kuala
Palar, H. 2002. Pencemaran dan Toksikologi Logam Berat. Rineka Cipta, Jakarta

Rodriguez-Sierra JF, Blaustein JD, Blake CA, Clough RW, Elias KA. A decrease of cytosol
estrogen receptors in the hypothalamus as a result of treatment of neonatal rats
with glutamate. Journal Experimental Brain Research 1982;48(2) 272-78.
Sahetapy, J. M. 2011. Toksisitas Logam Berat Timbal (Pb) dan Pengaruhnya pada Konsumsi
Oksigen dan Respon Hematologi Juvenil Ikan Kerapu Macan. Thesis. Pasca
Sarjana IPB, Bogor
Siswanti, Tutik. 2003. Pengaruh Ekstrak Temu Putih (Curcuma zedoaria Rosc.) terhadap
Spermatogenesis dan Kualitas Spermatozoa Mencit (Mus musculus L.). Surakarta :
Fakultas MIPA Universitas Sebelas Maret Surakarta
Wirasuta, dkk. 2007. Toksikologi Umum. Denpasar : Fakultas MIPA Universitas Udayana
Hal. 41
Yuantari, 2011. Dampak Pestisida Organoklorin Terhadap Kesehatan Manusia Dan
Lingkungan Serta Penanggulangannya. Semarang : Fakultas Kesehatan
Universitas Dian Nuswantoro Semarang