Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH PSIKOLOGI ABNORMAL

GANGGUAN MENTAL ORGANIK


Dosen Pengampu: Sumi Lestari, S.Psi, M.Si

Disusun Oleh:
Baskoro Ezhar R.

125120300111028

Sri Rahayu Ningsih

125120301111031

Nicolas K.D.

125120307111029

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI


FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penyakit kejiwaan akhir-akhir ini berkembang pesat. Jumlah dari penderita
gangguan jiwa hari demi hari selalu bertambahn. Gangguan mental (mental disorder)
atau gangguan jiwa adalah sindrom atau pola perilaku, atau psikologik seseorang,
yang secara klinik cukup bermakna, dan secara khas berkaitan dengan suatu gejala
penderitaan (distress) atau hendaya (impairment/disability) di dalam satu atau lebih
fungsi yang penting dari manusia. Sebagai tambahan, disimpulkan bahwa disfungsi
itu adalah disfungsi dalam segi perilaku, psikologik, atau biologik, dan gangguan itu
tidak semata-mata terletak di dalam hubungan orang dengan masyarakat.
Psikosa (psychosis) merupakan bentuk gangguan mental yang ditandai dengan
adanya diorganisasi kognitif, diorientasi waktu, ruang, orang, serta adanya gangguan
dalam emosionalnya.

Keadaan tersebut menyebabkan penderita mengalami

disintegrasi kepribadian, yang dapat menyebabkan terputusnya hubungan dirinya


dengan realita, bahkan dapat menggangu fungsi sosialnya. Pada beberapa kasus
disertai adanya halusinasi dan delusi.
Menurut Kartini Kartono (1989), psikosa dibagi dalam dua golongan, yaitu:
organic psychosis (psikosa organik) dan functional psychosis (psikosa fungsional).
Organis psychosic disebabkan oleh adanya gangguan pada faktor fisik/organik dan
faktor

intern,

yang

menyebabkan

penderita

maladjusment, dan inkompeten secara sosial.

mengalami

kekalutan

mental,

Pada umumnya penyakit ini

disebabkan oleh adanya gangguan pada otak serta fungsi jaringan-jaringan otak
(terjadi organic brain disorder). Hal ini mengakibatkan berkurangnya/rusaknya
fungsi-fungsi pengenalan, ingatan, intelektual, perasaan dan kemauannya.
Gangguan mental orgnik (GMO) meliputi berbagai gangguan jiwa yang
dikelompokan atas dasar penyebab yang sama dan dapat dibuktikan adalah penyakit
cedera atau rodapaksa otak yang berakibat disfungsi otak. Disfungsi otak ini dapat
primer: seperti pada penyakit cedera dan roda paksa yang langsung atau diduga
mengenai otak, contoh: trauma kapitis, dan lain-lain. Disfungsi otak ini juga dapat
sekunder, seperti gangguan pada penyakit sistemik yang menyerang otak (sebagai
salah satu dari beberapa organ atau sistem tubuh).
B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi dari gangguan mental organik?

2. Apa saja jenis dari gangguan mental organik?


3. Bagaimana ciri dari masing-masing jenis ganggunan mental organik?
4. Bagaimana penyembuhan gangguan mental organik?
C. Tujuan Penelitian
1. Mengetahui definisi dari gangguan mental organik
2. Mengetahui jenis dari gangguan mental organik
3. Mengetahui ciri dari masing-masing jenis ganggunan mental organik
4. Mengetahui metode penyembuhan gangguan mental organik

BAB II
TINJAUAN PUSTKA

I. Pengertian Gangguan Mental Organik


Gangguan mental organik adalah disfungsi permanen atau sementara di otak
yang disebabkan oleh masalah fisiologis otak. Penyebabnya berkisar dari cedera otak
sampai penyakit yang mempengaruhi jaringan otak atau perubahan tingkat kimia atau
hormon otak. Gejala-gejala gangguan mental organik bervariasi tergantung pada
masalah yang menyebabkan ketidakseimbangan atau kerusakan otak. Gangguan
Mental Organik adalah suatu Gangguan patologi yang jelas, misalnya; tumor otak,
penyakit serebrovaskular, atau intoksikasi obat.

Menurut PPDGJ III gangguan mental organik meliputi berbagai gangguan jiwa
yang dikelompokkan atas dasar penyebab yang lama dan dapat dibuktikan adanya
penyakit, cedera atau ruda paksa otak, yang berakibat disfungsi otak, disfungsi ini
dapat primer seperti pada penyakit, cedera, dan ruda paksa yang langsung atau diduga
mengenai otak, atau sekunder, seperti pada gangguan dan penyakit sistemik yang
menyerang otak sebagai salah satu dari beberapa organ atau sistem tubuh. Gambaran
umum gangguan mental organik (Rathus & Nevid, 1991) yaitu: 1)Penurunan fungsi
intelektual dan memori. 2)Gangguan dalam bahasa (language) dan berbicara (speak)
3)Disorientasi waktu, ruang, dan orang 4)Gangguan motorik

5)Gangguan dalam

pembuatan keputusan tindakan. 6) Ketidakstabilan perasaan dan emosi 7)Perubahan


kepribadian.
II.

Jenis-Jenis Gangguan Mental Organik


A. Demensia
Menurut PPDGJ-III, demensia merupakan suatu sindrom akibat gangguan
otak yang biasanya, bersifat kronik-progresif, dimana terdapat gangguan fungsi
luhur kortikal yang multiple (Multiple higher cortical function), termasuk di
dalamnya: daya ingat, daya pikir, orientasi, daya tangkap (comprehension),
berhitung, kemampuan belajar, berbahasa, dan daya nilai. Umumnya disertai, dan
ada kalnya diawali dengan kemerosotan dalam pengendalian emosi, perilaku
sosial, atau motivasi hidup.
Proses kemunduran mental atau fungsi intelektual pada demensia tidak
dapat disamakan dengan proses perubahan kemampuan intelektual pada manula,
karena pada kasus demensia lebih mengacu pada gangguan degeneratif otak.
Demensia terjadi pada usia 65 tahun atau sebelumnya disebut presenile
dementia. Simptom-simptomnya mulai berkembang cepat pada usia 40-50 tahun.
Terjadi perubahan mental dan kerusakan-kerusakan otak dari tingkat ringan
sampai tingkat berat. Menunjukkan adanya riwayat keluarga yang berpenyakit
Alzheimer (PPDGJ-III: F00.0). Sedangkan demensia yang terjadi di atas usdia
65 tahun disebut senile dementia, yang ditandai dengan kemunduran fisik dan
mental secara lamban dan progresif, dengan gangguan daya ingat sebagai
gambaran utamanya (PPDGJ-III: F00.1). Meskipun demikian, demensia dapat
saja terjadi pada semua tingkat umur.
1. Pedoman diganostik demensia antara lain:
a) Adanya kemunduran mental, seperti daya ingat, daya pikir atau kemampuan
problem solving, dan berpikir abstrak, yang semuanya itu dapat menggangu

fungsi sosial dan fungsi keseharian, seperti : mandi, berpakaian, makan,


kebersihan diri.
b) Kehilangan ingatan, mula-mula agak ringan, makin lama makin parah
sampai mereka tidak dapat mengingat informasi baru. Dan makin lama
tidak dapat mengingat fakta mengenai dirinya dan kehidupannya.
c) Apraxia, yaitu kehilangan kemampuan melakukan gerakan badan yang
terkoordinasi yang disebabkan karena kerusakan otak.
d) Agnoria, yaitu ketidakmampuan mengenal obyek atau pengalaman yang
akrab, meskipun ada kemampuan untuk mengamatinya.
e) Tidak ada gangguan kesadaran.
f) Gejala dan disabillitas sudah nyata untuk paling sedikit 6 bulan.
2. Faktor Penyebab
Penyebab utama demensia adalah kerusakan otak yang progresif dan parah.
Sedangkan penyakit fisik yang dapat menyebabkan demensia adalah:
Penyakit otak : Alzheimer dan Pick
Multi-infarct demensia
Infeksi otak
Intoksikasi
3. Treatment(Penanggulangan)
Dalam beberapa kasus, demensia dapat disembuhkan, terutama
demensia yang disebabkan oleh tumor, infeksi yang dapat disembuhkan,
depresi, alkoholik.

Treatment yang tepat/sesuai dapat membantu proses

kesembuhan. Kecuali pada demensia yang disebabkan penyakit Alzheimer,


tidak dapat disembuhkan.
4. Jenis Demensia:
a. Demensia tipe Alzheimer
Penyakit Alzheimer disebabkan karena sebagian besar jaringan
pada korteks otak mengalami degenerasi, juga syaraf mengalami degenerasi
dan membentuk gumpalan jaringan saraf yang abnormal (Mulyani, 1999).
75 % dari kasus demensia disebabkan oleh Alzheimer dan lebih banyak
terjadi pada perempuan. Alzheimer dapat terjadi pada awal usia 40 tahun,
dan resiko meningkat tajam seiring dengan bertambahnya usia, terutama di
atas 75 tahun. Alzheimer merupakan salah satu penyebab kematian tertinggi
di Amerika.
Pedoman diganostik demensia tipe Alzheimer antara lain:
Terdapat gejala demensia
Onset bertahap, dengan deteriorasi lambat
Gangguan progresif pada fungsi kognitif bersamaan dengan perubahan
kepribadian dan hubungan interpersonal. Yaitu kehilangan ingatan,

disorientasi, penurunan kemampuan membuat pendapat, kemunduran

ketrampilan sosial, dan perubahan atau mendatarnya afek.


Perkembangan Alzheimer biasanya 5-10 than, dan berakhir dengan
kematian melalui perkembangan penyakit kompilasi seperti pneumonia
(PPDGJ-III: F00; Mulyani, 1999)

Adapun Penanggulangan (treatment) dalam demensia tipe alzhemier ini


namun sampai dengan saat ini belum ada pengobatan atau treatment yang
efektif untuk menyembuhkan penyakit Alzheimer.

Yang ada hanyalah

teratment pengobatan untuk mengontrol gejolak emosi dan perilakuperilaku yang tidak tepat, serta pemberian obat untuk mencegah semakin
menurunnya kadar ACh di otak.
b. Picks Disease
5% dari kasus demensia disebabkan oleh penyakit Pick. Penyakit ini
berkembang pesat pada usia 60 70, dan kondisi penderita akan semakin
menurun setelah 70 tahun. Penyebab gangguan ini belum diketahui pasti,
tetapi ada dugaan karena adanya transmisi genetik. Keluarga dari penyakit
Pick Disease, mempunyai resiko 17% terkena penyakit pick pada usia
sekita 75 tahun. Laki-laki memiliki probabilitas resiko lebih tinggi terkena
pick daripada perempuan.
Pedoman diganostik penyakit pick ini antara lain:
Adanya gejala demensia yang progresif
Adanya gangguan perilaku dan emosi, sehingga secara sosial tidak
terkendali, yaitu perilaku sosial yang kasar, euforia, emosi tumpul,

disinhibisi, dan apatis atau gelisah.


Manifestasi gangguan perilaku pada umumnya mendahului gangguan

daya ingat (PPDGJ-III:F02.0).


c. Penyakit Parkinson
Penyakit ini pertama kali dideteksi oleh James Parkinson pada tahun
1818. Faktor penyebab parkinson adalah terjadinya proses degerasi sel-sel
saraf dari basal ganglia, mungkin juga ada kerusakan pada bidang-bidang
yang menyebar pada korteks serebral (mulyani, 1999). Kerusakan tersebut
khususnya terjadi pada substansia negra (black substance).
Dugaan penyebab lainnya, rusaknya basal ganglia tersebut akibat dari
penggunaan obat (7% dari kasus Parkinson). Dugaan lainnya adalah
disebabkan

oleh

virus,

keracunan

(enviromental

toxins),

dan

arteriosclerosis. Namun sampai dengan saat ini belum diketahui secara


pasti penyebab penyakit Parkinson, terutama penyebab terjadinya
kerusakan pada basal ganglia (Rathus & Nevid, 1991).
Pedoman diagnostik Parkinson antara lain: (PPDGJ-III:F02.3)
1) Gangguan parkinson biasanya bersifat progresif dan menunjukkan
gambaran yang parah, termasuk gangguan motorik yang bermacammacam dengan karakteristik:
tangan, kaki, atau kepala dapat bergetar (tremor) tanpa dapat

dicegah
Terjadi kekakuan otot-otot sehingga sulit melakukan gerakan

(arkinesia).
Aktivitas motorik menjadi lamban (bradykinesia).
Tidak mengontrol gerakan tubuh, misal, sulit untuk memulai

berjalan dan juga sulit untuk berhenti.


Kehilngan koordinasi, yaitu tidak dapat mengkoordinasikan dua

gerakan pada waktu yang sama.


2) Terjadi gangguan kognitif, misal, sulit mengucapkan kata (gangguan
bahasa).
3) Perhatian (attention), konsentrasi, dan daya ingat tetap baik pada tahap
awal penyakit ini. Tapi pada tahap lanjut terjadi penurunan.
4) Akibat gangguan fisik yang parah ini, seringkali membuat penderita
mengalami penurunan harga diri dan menjadi depresi.
5) Demensia dapat terjadi pada penderita Parkinson yang sudah parah.
Adapun Penanggulangan (treatment) dalam demensia Parkinson ini
menggunakan Pemberian obat L-dopa (pertama kali digunakan pada tahun
1970-an) dapat memberikan harapan pada penderita, yaitu dapat
meningkatkan kadar dopamine dalam otak. *0% penderita menunjukkan
kemajuan yang berarti pada pengurangan simptom tremor dan motoriknya,
setelah dilakukan terapi L-dopa. L-dopa terbukti dapat mengurangi
simptom-simptom pada penyakitParkinson dan menghambat perkembangan
penyakitnya. Namun, L-dopa tidak berarti dapat menyembuhkan penyakit
ini. Sebagian besar penderita yang melakukan terapi L-dopa, tetap
menunjukkan kemunduran secara bertahap.
d. Penyakit Huntington
Penyakit ini pertama kali diidentifikasikan oleh George Huntington
pada tahun 1872. Penyakit Huntington disebabkan adanya kerusakan yang

meluas pada subkorteks otak, dan bagian-bagian pada korteks frontal, yang
mengontrol gerakan motorik korpus kolasum (Mulyani, 1999). Kerusakan
progresif pada subkorteks yang mempengaruhi sel-sel saraf yang
memproduksi Ach dan GABA (Rathus &Nevid, 1991).
Penyakit Huntington dapat terjadi pada anak-anak, tapi umumnya
terjadi pada orang yang berumur 30-50 tahun. Penyakit ini terjadi melalui
transmisi genetik (diduga terjadi kerusakan pada kromosom no. 4).
Seseorang yang mempunyai orang tua yang menderita penyakit Huntington,
akan memiliki probabilitas resiko sebesar 50%. Penyakit ini lebih banyak
terjadi pada perempuan daripada laki-laki.
Pedoman diagnostik Huntington antara lain: (PPDGJ-III:F02.2)
1) Ditandai adanya gangguan gerakan choreiform (berasal dari bahasa
Yunani choreia yang berarti menari) yang tidak teratur dan kronis
yaitu melilit-lilit dan kejang-kejang tanpa koordinasi dari kedua lengan
dan kaki. Karena itu penyakit ini disebut juga Huntingtons Chorea.
Adanya gerakan koreoform yang involunter, terutama pada wajah,
tangan, dan bahu atau cara berjalan yang khas, yang merupakan gejala
awal. Gejala ini biasanya mendahului gejala demensia.
2) Gejala demensia ditandai dengan gangguan fungsi lobus frontalis pada
tahap dini, dengan daya ingat relatif masih baik, sampai saat
selanjutnya.
3) Gangguan ini juga menyebabkan gangguan kognitif dan kepribadian.
Gangguan kognitif: mengalami kesulitan dalam menyelesaikan tugas
yang memerlukan kecepatan atau jalan pikiran, dan yang membutuhkan
persepsi dan respon yang kompleks. Gangguan kepribadian: mudah
marah, cemas, umumnya tidak dapat diprediksikan; mengalami
gangguan dalam membuatpendapat; menjadi agresif atau impulsif
secara seksual. Karena gangguan ini, penderita menjadi depresif dan
apatis.
Adapun Penanggulangan (treatment) dalam demensia Huntington ini
Sebab-sebab penyakit ini belum diketahui dengan jelas. Sejauh ini diduga
karena adanya faktor keturunan. Dan cara penyembuhan yang efektif juga
belum diketemukan. Oleh karena itu, sikap pencegahan lebih bermanfaat,
yaitu bila ada seorang anggota keluarga yang menderita penyakit ini, lebih
baik tidak menikah atau tidak menurunkan anak.

B. DELIRIUM
Delirium berasal dari bahasa latin; de = dari, lira = garis/line: yang berarti
menyimpang dari garis atau norma, dalam persepsi, kognitif, dan perilaku.
Delirium merupakan sindrom yang meliputi keadaan mental yang kacau dan
kesulitan dalam meusatkan perhatian/konsentrasi (Rathus & Nevid, 1991); yang
mungkin disebabkan oleh gangguan fisik seperti benturan pada kepala, infeksi
otak, intoksikasi atau pasca penggunaan zat-zat psikoaktif.
1. Pedoman diagnostik Delirium antara lain: (PPDGJ-III:F05)
a) Gangguan kesadaran
Yaitu dari taraf kesadaran berkabut sampai dengan koma
b) Gangguan perhatian
Penderita mengalami penurunan kemampuan untuk mengarahkan,
memusatkan, dan mengalihkan perhatian, sehingga penderita mengalami
kesulitan untuk mengikuti pembicaraan yang berpindah topik pada waktu
yang hampir bersamaan. Penderita juga mengalami penurunan perhatian
terhadap lingkungannya.
c) Gangguan kognitif secara umum
Penderita mengalami halusinasi (terutama halusinasi visual), ilusi,

dan distorsipersepsi kesalahan interpretasi pada stimuli sensori).


Mengalami hendaya daya ingat dan pengertian abstrak, dengan/tanpa

waham yang bersifat sementara


Mengalami hendaya daya ingat segera dan jangka pendek, namun

daya ingat jangka panjang masih utuh.


Mengalami diorientasi waktu. Pad kasus yang berat, terdapat juga

disorientasi tempat dan orang.


d) Gangguan psikomotor
Penderita mengalami hipo atau hiper-aktivitas yang tidak terduga.
Terjadi fluktuasi yang cepat antara keadaan gelisah (restlessness) dan

keadaan pingsan (stupor).


Waktu bereaksi yang lebih panjang
Arus pembicaraan yang bertambah atau berkurang
Melakukan gerakan yang tidak ada tujuannya dan tidak tenang, misal

memukul obyek yang tidak jelas.


e) Gangguan emosional
Penderita dapat mengalami depresi, anxietas, lekas marah, euforia, apatis,
atau merasa kehilangan akal.
f) Onset biasanya cepat, perjalanan penyakitnya hilang-timbul sepanjang hari,
dan keadaan itu berlangsung kurang dari 6 bulan.
2. Faktor penyebab delirium

Delirium disebabkan oleh kombinasi gangguan menyeluruh pada proses


metabolisme otak dan ketidakseimbangan neurotransmitter otak. Delirium
dapat terjadi secara tiba-tiba yang dikarenakan adanya trauma atau luka di
kepala. Dapat juga berkembang secara bertahap selama beberapa jam/hari
yang secara umum disebabkan oleh infeksi, demam atau gangguan metabolism.
Secara umum, delirium disebabkan oleh:
a) Infeksi
b) Trauma kepala
c) Gangguan metabolisme yang disebabkan

oleh

liver

atau

ginjal,

hipoglikemia, kekurangan thiamine, efek pembedahan, intoksikasi dan


pasca penggunaan zat psikoaktif.
3. Treatment(Penanggulangan)
Delirium dapat dipulihkan melalui treatment yang tepat dengan
mendasari pada kondisi organiknya. Treatment tersebut bisa sangat singkat,
biasanya berkisar satu minggu, dan jarang lebih dari sebulan. Jika kondisi fisik
mengalami kemunduran, dapat terjadi koma atau kematian.
Treatment terbaik di lakukan di rumah sakit, karena penderita dapat
dipantau perkembangannya dan dapat dilakukan terapi obat (tranquilizers)
untuk meringankan simptom-simptomnya terutama pada penderita delirium
tremens; serta akan mendapat dukungan (suport) dari lingkungan
C. SINDROM AMNESTIK (AMNESIA)
Sindrom amnestik atau disebut juga amnesia, memiliki karakteristik
utama terjadinya kemunduran fungsi daya ingat (memoru) yang cukup tajam, baik
memori jangka pendek (short-therm memory) maupun memori jangka panjang
(long-term memory). Ada dua macam amnesia, yaitu: (PPDGJ-III:F44.0)
1) Amnesia disosiatif
Yaitu amnesia yang memiliki ciri utama hilangnya daya ingat, biasanya
mengenai kejadian penting yang baru terjadi (selective), misalnya kejadian
yang traumatis atau stressful, yang bukan disebabkan oleh gangguan mental
organik, dan terlalu luas untuk dijelaskan atas dasar kelupaan yang umum
terjadi atau atas dasar kelelahan.
2) Sindrom amnesik organic
Yaitu amnesia yang disebabkan oleh adanya ganguan organik/fisik, yang akan
dijelaskan pada bagian berikut ini:
a. Retrograde amnesia, yaitu hilangnya ingatan tentang kejadian-kejadian
sebelum problem fisik yang menjadi penyebab amnesia

b. Antedrograde amnesia, tidak dapat mempelajari atau mengingat kejadiankejadian setelah terjadi kerusakan (Mulyani, 1999).
1. Pedoman diagnostik Sindrom amnestik antara lain:
a) Ketidakmampuan daya ingat (PPDGJ-III:F04)
Hendaya
memori
jangka
pendek,

yaitu

mengalami

ketidakmampuan untuk mengingat hal-hal baru (lemahnya


kemampuan belajar materi baru).

Penderita tidak mampu

mengingat orang atau nama orang yang baru ditemui lima atau

sepuluh menit yang lalu.


Hendaya
memori
jangka

panjang,

yaitu

mengalami

ketidakmampuan untuk mengingat hal-hal atau pengalaman di

masa lalu dalam urutan terbalik menurut kejadiannya.


Daya ingat segera (immediate memory/recall) masih berfungsi
dengan baik , misal masih dapat untuk mengulang menyebutkan

deret angka.
b) Penderita tidak mengalami gangguan perhatian (attention) dan kesadaran
(consciousness). Fungsi intelektual secara umum masih baik.
c) Keadaan amnesia ini membuat penderita merasa terganggua karena
hilangnya identitas diri. Untuk menutupi hal ini, penderita mungkin
mengingkari problem memorinya ini atau kadang mengakuinya tapi
tampak bersikap tak acuh dan ditutup dengan obrolan.
2. Faktor Penyebab
Amnesia dikategorikan sebagai akibat ganguan organik, secara umum
disebabkan oleh:
a) Traumatic event, yaitu terjadi benturan pada kepala (trauma kepala),
electric shock, dan operasi
b) Penyebab non-tramatic event, yaitu:
Tumor kepala
Efek sekunder dari pembedahan pada otak
Infeksi (meningitis tuberkulosis, post-encephalitis, herpes simplex)
Hypoxia (kekurangan oksigen pada otak secara tiba-tiba)
Infarction (ganguan pembuluh darah otak sehingga terganggu pula
proses suplai zat-zat penting ke otak) yang lebih dikenal dengan
penyakit stroke.
c) Penyebab lainnya yaitu akibat pemakaian alkohol yang kronis
3. Treatment(Penanggulangan)
Deteksi dan diagnosis dini terhadap penyabab masalah gangguan
ingatan sangat penting bagi kesembuhan penderitas sebesar 20-30%. Dapat

atau tidsknya penderita untuk sembuh tergantung pada faktor penyebab


amnesia, tetapi biasanya tidak dapat sembuh secara tuntas. Terutama apabila
gangguan tersebut disebabkan karena adanya kerusakan pada bagian
subkortikal otak, tidak dapat disembuhkan, meski gangguan ini jarang terjadi.
Treatment yang umum dilakukan pada penderita amnesia adalah
dengan pemberian obat-obatan yang dapat memperbaiki peredaran darah pada
otak (terutama korteks), sehingga suplai nutrisi ke otak dapat tercukupi.
Disamping dengan pengobatan, terapi ingatan dapat membantu kesembuhan.

BAB III
PENUTUP
I. KESIMPULAN
Gangguan mental organik merupakan hal yang saat ini sudah banyak berada di
Indonesia . Menurut Kartini Kartono (1989) Organis psychosic disebabkan oleh
adanya gangguan pada faktor fisik/organik dan faktor intern, yang menyebabkan
penderita mengalami kekalutan mental, maladjusment, dan inkompeten secara sosial.
Pada umumnya penyakit ini disebabkan oleh adanya gangguan pada otak serta fungsi
jaringan-jaringan otak (terjadi organic brain disorder).

Hal ini mengakibatkan

berkurangnya/rusaknya fungsi-fungsi pengenalan, ingatan, intelektual, perasaan dan


kemauannya.
Dengan memahami gangguan mental organik, kita dapat mengetahui bahwa
faktor fisik dan mental/psikis tidak dapat dipisahkan. Adanya penyakit atau gangguan
pada fisik manusia ternyata dapat menimbulkan efek psikologis, mulai dari yang
ringan sampai yang berat. Umumnya disebabkan oleh adanya gangguan pada otak
serta fungsi jaringan-jaringan otak. Hal ini mengakibatkan berkurangnya tau rusaknya
fungsi-fungsi kognitif, yaitu antara lain daya ingat, daya pikir (intelektual), daya
belajar 9learning), daya nilai (juggment), daya konsentrasi dan perhatian; juga dapat
mempengaruhibemosi dan motivasinya. Beratnya gangguan dan kekalutan mental
tersebut tergantung pada parahnya kerusakan organis otak.
Disamping adanya gangguan ini, perlu diberikan treatment yang baik agar
gangguan ini bisa diminimalisir dan membuat si penderita berkurang beban yang

dihadapinya. Treatment yang baik haruslah sesuai dengan kebutuhan penyembuhan


untuk meminimalisir simptom-simpton yang diderita. Disamping menggunakan terapi
obat-oabtan, ada baiknya menggunakan alternatif lain yang lebih aman seperti terapi
psikologis untuk mendukung kesembuhan atau mengurangi efek mental pada
penderita. Biasanya, penderita akan mengalami depresi mental setelah menyadari
adanya kekurangan atau gangguan yang terjadi pada dirinya, yang justru akan
memperburuk keadaannya.

Disamping psikoterapi, penerimaan lingkungan sosial

terhadap keadaan penderita, dapat mendukung keberhasilan psikoterapi tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
Maslim, Rusdi, 1999, Diagnosis Gangguan Jiwa: Rujukan ringkas dari PPDGJ-III, Jakarta
Mulyani, Sri Martaniah, 1999, Psikologi Abnormal, Yogyakarta
Kartono, 1989, Psikologi Abnormal dan Abnormalitas Seksual, Bandung: Mandar Maju