Anda di halaman 1dari 17

PRESENTASI REFERAT

RUPTUR UTERI

Pembimbing :
dr. Hardjono Purwadhi, Sp.OG

Disusun Oleh :
Yanuary Tejo B.
Tyasa Budiman
Anna Rumaisyah A.

G4A014013
G4A014014
G4A014015

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
SMF ILMU KEBIDANAN DAN ILMU PENYAKIT KANDUNGAN
RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO
PURWOKERTO
2016

HALAMAN PENGESAHAN

RUPTUR UTERI

Disusun oleh :
Yanuary Tejo B.
Tyasa Budiman
Anna Rumaisyah A.

G4A014013
G4A014014
G4A014015

Presentasi referat ini telah dipresentasikan dan disahkan sebagai salah satu tugas
di bagian Ilmu Kebidanan dan Ilmu Penyakit Kandungan
RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto

Purwokerto,

Maret 2016

Pembimbing

dr. Hardjono Purwadhi Sp.OG

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur penyusun panjatkan kepada Allah SWT atas berkat,
rahmat, hidayah dan inayah-Nya, sehingga presentasi referat dengan judul
RUPTUR UTERI ini dapat diselesaikan.
Presentasi referat ini merupakan salah satu tugas di SMF Ilmu Kebidanan
dan Ilmu Penyakit Kandungan. Oleh karena itu penyusun mengharapkan saran
dan kritik untuk perbaikan penulisan di masa yang akan datang.
Tidak lupa penyususn mengucapkan banyak terima kasih kepada:
1. Dr. Hardjono Purwadhi, Sp.OG selaku dosen pembimbing
2. Dokter-dokter Spesialis Obgyn di SMF Ilmu Kebidanan dan Ilmu Penyakit
Kandungan RSUD. Margono Soekarjo
3. Orangtua serta keluarga penulis atas doa dan dukungan yang tidak pernah
henti diberikan kepada penulis
4. Rekan-rekan co-assisten bagian Ilmu Kebidanan dan Ilmu Penyakit
Kandungan atas semangat dan dorongan serta bantuannya.
Semoga presentasi referat ini bermanfaat bagi semua pihak yang ada di
dalam maupun di luar lingkungan RSUD. Margono Soekarjo.

Purwokerto,

Maret 2016

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penyebab kematian janin dalam rahim paling tinggi yang berasal dari
faktor ibu adalah penyulit kehamilan seperti ruptur uteri dan diabetes melitus.
Perdarahan masih merupakan trias penyebab kematian maternal tertinggi, di
samping preeklampsi/eklampsi dan infeksi. Perdarahan dalam bidang obstetri
dapat dibagi menjadi perdarahan pada kehamilan muda (<22 minggu),
perdarahan pada kehamilan lanjut dan persalinan, dan perdarahan pasca
persalinan. Ruptur uteri merupakan salah satu bentuk perdarahan yang terjadi
pada kehamilan lanjut dan persalinan, selain plasenta previa, solusio plasenta,
dan gangguan pembekuan darah. Batasan perdarahan pada kehamilan lanjut
berarti perdarahan pada kehamilan setelah 22 minggu sampai sebelum bayi
dilahirkan, sedangkan perdarahan pada persalinan adalah perdarahan
intrapartum sebelum kelahiran (Hannah et al., 2008).
Beberapa kondisi yang berhubungan dengan ruptur uteri, diantaranya
adalah adanya jaringan parut pada uterus (biasanya akibat melahirkan caesar)
dan penggunaan obat-obat penginduksi persalinan. Kelahiran spontan pasca
kelahiran

cesar

pada

kehamilan

sebelumnya

(vaginal

birth

after

cesarean/VBAC) dituding berperan besar terhadap kasus ruptur uteri. Dahulu


pada tahun 1916, Cragin EB dalam New York Medical Journal melontarkan
satu kalimat kutipan yang terkenal saat itu, Once a cesarean, always a cesarean. Kutipan itu dilatarbelakangi metode bedah cesar yang saat itu
menggunakan insisi vertikal (klasik). Insisi klasik menyebabkan risiko tinggi
terjadinya ruptur uteri bila wanita tersebut hendak melahirkan spontan pada
kehamilan berikutnya. Lama kelamaan, metode insisi klasik ditinggalkan dan
diganti dengan insisi lintang rendah (low-transverse). Metode terakhir ini lebih
aman dan mulai menggeser metode klasik. Sejak itu, permintaan bedah cesar
terus meningkat (Hannah et al., 2008).
Pada kenyataannya, risiko yang mungkin terjadi pada kelahiran lewat
bedah cesar lebih besar daripada pervaginam. Selain itu, biaya yang
dikeluarkan juga jauh lebih banyak. Oleh karena itu, American College of
Obstetrician and Gynecologist (ACOG) mulai gencar mempromosikan

kembali VBAC. Sejak itu, angka bedah cesar menurun menjadi 20,8% tahun
1995.
Akhir-akhir ini, VBAC mulai dipertanyakan menyusul adanya laporan
outcome ibu dan bayi yang buruk. ACOG melaporkan insiden ruptur uteri
pada wanita dengan riwayat satu kali bedah cesar insisi lintang rendah adalah
0,2-1,5 %. Studi lain yang melibatkan lebih dari 130.000 wanita menemukan
rata-rata insiden ruptur uteri adalah 0,6 % (1 dari 170 wanita). Insiden akan
meningkat 3-5 x menjadi 3,9 % pada wanita dengan riwayat 2 atau lebih
bedah cesar (1 dari 26 wanita). Ruptur uteri pada insisi klasik dan T-shaped 49 % sedangkan insisi lintang rendah 1-7 %. Sebagai perbandingan, studi
selama 10 tahun oleh Gardeil F dkk, seperti termuat dalam Eur J Obstet
Gynecol Reprod Biol 1994, menunjukkan bahwa rata-rata insiden ruptur uteri
pada uterus yang tidak memiliki jaringan parut adalah 1 per 30.764 kelahiran
(0,0033 %); pun tidak ada kasus ruptur uteri pada 21.998 primigravida dan
hanya 2 kasus pada 39.529 multigravida. Melihat fakta-fakta tersebut, ACOG
mulai merevisi kembali kriteria VBAC (Hannah et al., 2008).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Ruptur Uteri adalah robekan pada rahim sehingga rongga uterus dan
rongga peritoneum dapat berhubungan. Beberapa pendapat mengatakan bahwa
ruptur uteri adalah adalah robekan atau diskontinuitas dinding rahim akibat
dilampauinya daya regang miometrium (Shaver.2008)
Ruptur uteri sendiri dapat di bedakan menjadi ruptur uteri komplit dan
ruptur uteri inkomplit. ruptur uteri komplit adalah keadaan robekan pada
rahim dimana telah terjadi hubungan langsung antara rongga amnion dan
rongga peritoneum. Peritoneum viserale dan kantong ketuban keduanya ikut
ruptur dengan demikian janin sebagia atau seluruh tubuhnya telah keluar oleh
kontraksi terakhir rahim dan berada dalam kavum peritonei atau rongga
abdomen. Pada ruptura uteri inkomplit hubungan kedua rongga tersebut masih
dibatasi oleh peritoneum viserale. Pada keadaan yang demikian janin belum
masuk ke dalam rongga peritoneum (Shaver.2008)
B. Etiologi
Etiologi terjadi nya ruptur uteri pada pasien dapat di klasifikasikan
kedalam beberapa hal berikut ini :
1. Ruptur uteri spontan
Yaitu bila ruptur uteri terjadi secara spontan pada uterus tanpa
parut (utuh) dan tanpa adanya manipulasi dari penolong. Faktor pokok
disini ialah bahwa persalinan tidak maju karena rintangan, misalnya
panggul sempit, hidrosepalus, janin dalam letak lintang dan sebagainya,
sehingga segmen bawah uterus makin lama makin meregang. Faktor yang
merupakan

predisposisi

terhadap

terjadinya

rupture

uteri

adalah

multiparitas, disini ditengah tengah miometrium sudah terdapat banyak


jaringan ikat yang menyebabkan kekuatan dinding uterus menjadi kurang,
sehingga regangan lebih mudah menimbulkan robekan (Hacker.2015).
2. Ruptur uteri traumatika
Ruptur uteri yang disebabkan oleh trauma dapat terjadi karena
jatuh, kecelakaan seperti tabrakan dan sebagainya. Robekan demikian itu
yang bisa terjadi pada setiap saat dalam kehamilan, jarang terjadi karena

rupanya otot uterus cukup tahan terhadap trauma dari luar. Yang lebih
sering terjadi adalah ruptur uteri yang dinamakan ruptur uteri violenta.
Faktor utama disebabkan oleh distosia sudah ada regangan segmen
bawah uterus dan usaha vaginal untuk melahirkan janin mengakibatkan
timbulnya ruptur uteri. Hal itu misalnya terjadi pada versi ekstraksi pada
letak lintang yang dilakukan bertentangan dengan syarat-syarat untuk
tindakan tersebut. Kemungkinan besar yang lain ialah ketika melakukan
embriotomi. Berhubung dengan itu, setelah tindakan-tindakan tersebut
diatas dan juga setelah ekstraksi dengan cunam yang sukar perlu dilakukan
pemeriksaan kavum uteri dengan tangan untuk mengetahui apakah terjadi
ruptur uteri. Gejala-gejala ruptur uteri violenta tidak berbeda dari ruptur
uteri spontan (Decherney.2007).
3. Ruptur uteri pada parut uterus
Ruptur uteri demikian ini terdapat paling sering pada parut bekas
seksio sesarea, peristiwa ini jarang timbul pada uterus yang telah dioperasi
untuk mengangkat mioma (miomektomi) dan lebih jarang lagi pada uterus
dengan parut karena kerokan yang terlampau dalam. Di antara parut-parut
bekas seksio sesarea, parut yang terjadi ssesudah seksio sesarea klasik
lebih sering menimbulkan ruptur uteri daripada parut bekas seksio sesarea
profunda. Perbandingannya ialah 4:1. Hal ini disebabkan oleh karena luka
pada segmen bawah uterus yang menyerupai daerah uterus yang lebih
tenang dalam masa nifas dapat sembuh dengan lebih baik, sehingga parut
lebih kuat. Ruptur uteri pada bekas seksio bisa menimbulkan gejala-gejala
seperti telah diuraikan lebih dahulu, akan tetapi bisa juga terjadi tanpa
banyak menimbulkan gejala. Dalam hal yang terakhir ini tidak terjadi
robekan secara mendadak, melainkan lambat laun jaringan disekitar bekas
luka menipis untuk akhirnya terpisah sama sekali dan terjadilah ruptur
uteri. Disini biasanya peritoneum tidak ikut serta, sehingga terdapat ruptur
uteri inkompleta. Pada peristiwa ini ada kemungkinan arteria besar terbuka
dan timbul perdarahan yang untuk sebagian berkumpul di ligamentum
latum dan untuk sebagian keluar. Biasanya janin masih tinggal dalam
uterus dan his kadang-kadang masih ada. Sementara itu penderita merasa
nyeri spontan atau nyeri pada perabaan tempat bekas luka. Jika arteria

besar luka, gejala-gejala perdarahan dengan anemia dan syok, janin dalam
uterus meninggal (Decherney.2007).
C. Klasifikasi
1. Menurut tingkat robekan :
a. Ruptur uteri komplit, bila robekan terjadi pada seluruh lapisan
dinding uterus
b. Ruptur uteri inkomplit, bila robekan hanya sampai miometrium,
disebut juga dehisensi. Diagnosis pasti ditegakkan dengan
melakukan eksplorasi dinding rongga uterus setelah janin dan
plasenta lahir
c. Ruptur uteri imminens, bila baru ada gejala akan terjadi ruptur.
Penderita merasa kesakitan terus menerus baik waktu his maupun
di luar his. Teraba ligamentum rotundum menegang. Teraba cincin
Bandle setinggi pusat. Segmen bawah rahim menipis. Urine kateter
kemerahan (Hacker.2015)
2. Menurut waktu terjadinya:
a. Ruptur Uteri Gravidarum, terjadi waktu sedang hamil, sering
berlokasi pada korpus
b. Ruptur Uteri Durante Partum, Terjadi waktu melahirkan anak,
lokasinya sering pada SBR. Jenis inilah yang terbanyak
(Decherney.2007)
3. Menurut lokasi:
a. Korpus uteri, biasanya terjadi pada rahim yang sudah pernah
mengalami operasi, seperti seksio sesarea klasik (korporal) atau
miomektomi
b. Segmen bawah rahim (SBR), biasanya pada partus sulit dan lama
(tidak maju). SBR tambah lama tambah regang dan tipis dan
akhirnya terjadilah ruptur.
c. Servik uteri, biasanya terjadi pada waktu melakukan ekstraksi
forcep atau versi dan ekstraksi, sedang pembukaan belum lengkap
d. Kolpoporeksis-kolporeksis, robekan-robekan diantara servik dan
vagina (Decherney.2007)

D. Faktor resiko
Pasien yang berisiko tinggi antara lain :
1. persalinan yang mengalami distosia, grande multipara, penggunaan
oksitosin atau prostaglandin untuk mempercepat persalinan
2. pasien hamil yang pernah melahirkan sebelumnya melalui bedah seksio
sesarea atau operasi lain pada rahimnya
3. pasien yang pernah mengalami histerorafi
4. pelaksanaan trial of labor terutama pada pasien bekas seksio sesarea, dan
sebagainya (Decherney.2007).
Oleh sebab itu, untuk pasien dengan panggul sempit atau bekas seksio
sesarea klasik berlaku adagium Once Sesarean Section always Sesarean
Section. Pada keadaan tertentu seperti ini dapat dipilih elective cesarean
section (ulangan) untuk mencegah ruputura uteri dengan syarat janin sudah
matang (Hacker.2015).
E. Patomekanisme
Saat his korpus uteri berkontraksi dan mengalami retraksi. Dengan
demikian, dinding korpus uteri atau segmen atas rahim menjadi lebih tebal dan
volume korpus uteri menjadi lebih kecil. Akibatnya tubuh janin yang
menempati korpus uteri terdorong ke dalam segmen bawah rahim. Segmen
bawah rahim menjadi lebih lebar dan karenanya dindingnya menjadi lebih
tipis karena tertarik keatas oleh kontraksi segmen atas rahim yang kuat,
berulang dan sering sehingga lingkaran retraksi yang membatasi kedua
segmen semakin bertambah tinggi (Rukiyah.2010).
Apabila bagian terbawah janin tidak dapat turun oleh karena suatu sebab
(misalnya : panggul sempit atau kepala besar) maka volume korpus yang
bertambah mengecil pada waktu ada his harus diimbangi perluasan segmen
bawa rahim ke atas. Dengan demikian lingkaran retraksi fisiologis semakin
meninggi kearah pusat melewati batas fisiologis menjadi patologis yang
disebut lingkaran bandl (ring van bandl). Ini terjadi karena, rahim tertarik
terus menerus kearah proksimal tetapi tertahan dibagian distalnya oleh serviks
yang dipegang ditempatnya oleh ligamentum ligamentum pada sisi belakang

(ligamentum sakrouterina), pada sisi kanan dan kiri (ligamentum cardinal) dan
pada sisi dasar kandung kemih (ligamentum vesikouterina) (Rukiyah.2010).
Jika his berlangsung terus menerus kuat, tetapi bagian terbawah janin tidak
kunjung turun lebih ke bawah, maka lingkaran retraksi semakin lama semakin
tinggi dan segmen bawah rahim semakin tertarik ke atas dan dindingnya
menjadi sangat tipis. Ini menandakan telah terjadi rupture uteri iminens dan
rahim terancam robek. Pada saat dinding segmen bawah rahim robek spontan
dan his berikutnya dating, terjadilah perdarahan yang banyak (rupture uteri
spontanea) (Rukiyah.2010).
Ruptur uteri pada bekas seksio sesarea lebih sering terjadi terutama pada
parut pada bekas seksio sesarea klasik dibandingkan pada parut bekas seksio
sesarea profunda. Hal ini disebabkan oleh karena luka pada segmen bawah
uterus yang tenang pada saat nifas memiliki kemampuan sembuh lebih cepat
sehingga parut lebih kuat. Ruptur uteri pada bekas seksio klasik juga lebih
sering terjadi pada kehamilan tua sebelum persalinan dimulai sedangkan pada
bekas seksio profunda lebih sering terjadi saat persalinan. Rupture uteri
biasanya terjadi lambat laun pada jaringan jaringan di sekitar luka yang
menipis kemudian terpisah sama sekali. Disini biasanya peritoneum tidak ikut
serta, sehingga terjadi rupture uteri inkompleta. Pada peristiwa ini perdarahan
banyak berkumpul di ligamentum latum dan sebagian lainnya keluar
(Rukiyah.2010).

F. GEJALA KLINIS
Menurut gejala klinis, ruptur uteri dapat dibedakan (Cunningham, 2012) :
1. Ruptur uteri iminens (membakat/mengancam)
Terlebih dahulu dan yang terpenting adalah mengenal betul gejala
dari ruptur uteri mengancam (threatened uterine rupture) sebab dalam
hal ini kita dapat bertindak secepatnya supaya tidak terjadi ruptur uteri
yang sebenarnya.
Gejala ruptur uteri iminens/mengancam :
a) Dalam anamnesa dikatakan telah
dukun/bidan, partus sudah

ditolong/didorong

lama berlangsung

oleh

b) Pasien tampak gelisah, ketakutan, disertai dengan perasaan nyeri


diperut
c) Pada setiap datangnya his pasien memegang perutnya dan
mengerang kesakitan bahkan meminta supaya anaknya secepatnya
dikeluarkan.
d) Pernafasan dan denyut nadi lebih cepat dari biasa.
e) Ada tanda dehidrasi karena partus yang lama (prolonged labor),
yaitu mulut kering, lidah kering dan haus, badan panas (demam).
f) His lebih lama, lebih kuat dan lebih sering bahkan terus-menerus.
g) Ligamentum rotundum teraba seperti kawat listrik yang tegang,
tebal dan keras terutama sebelah kiri atau keduanya.
h) Pada waktu datang his, korpus uteri teraba keras (hipertonik)
sedangkan SBR teraba tipis dan nyeri kalau ditekan.
i) Diantara korpus dan SBR nampak lingkaran Bandl sebagai lekukan
melintang yang bertambah lama bertambah tinggi, menunjukan
SBR yang semakin tipis dan teregang. Sering lengkaran bandl ini
dikelirukan dengan kandung kemih yang penuh, untuk itu
dilakukan kateterisasi kandung kemih. Dapat peregangan dan
tipisnya SBR terjadi di dinding belakang sehingga tidak dapat kita
periksa, misalnya terjadi pada asinklitismus posterior atau letak
tulang ubun-ubun belakang.
j) Perasaan sering mau kencing karena kandung kemih juga tertarik
dan teregang ke atas, terjadi robekan-robekan kecil pada kandung
kemih, maka pada kateterisasi ada hematuri.
k) Pada auskultasi terdengar denyut jantung janin tidak teratur
l) Pada pemeriksaan dalam dapat kita jumpai tanda-tanda dari
obstruksi, seperti oedem porsio, vagina, vulva dan kaput kepala
janin yang besar.
2. Ruptur uteri sebenarnya
Bila ruptur uteri yang mengancam dibiarkan terus, maka suatu saat
akan terjadilah ruptur uteri sebenarnya.
1.) Anamnesis dan Inspeksi
o Pada suatu his yang kuat sekali, pasien merasa kesakitan yang
luar biasa, menjerit seolah-olah perutnya sedang dirobek
kemudian jadi gelisah, takut, pucat, keluar keringat dingin
sampai kolaps.

o Pernafasan jadi dangkal dan cepat, kelihatan haus.


o Muntah-muntah karena perangsangan peritoneum.
o Syok, nadi kecil dan cepat, tekanan darah turun bahkan tidak
terukur.
o Keluar perdarahan pervaginam yang biasanya tak begitu
banyak, lebih-lebih kalau bagian terdepan atau kepala sudah
jauh turun dan menyumbat jalan lahir.
o Kadang-kadang ada perasaan nyeri yang menjalar ke tungkai
bawah dan dibahu.
o Kontraksi uterus biasanya hilang.
o Mula-mula terdapat defans muskulaer kemudian perut menjadi
kembung dan meteoristis (paralisis usus)

2.) Palpasi
o Teraba krepitasi pada kulit perut yang menandakan adanya
emfisema subkutan.
o Bila kepala janin belum turun, akan mudah dilepaskan dari
pintu atas panggul.
o Bila janin sudah keluar dari kavum uteri, jadi berada di rongga
perut, maka teraba bagian-bagian janin langsung dibawah kulit
perut dan disampingnya kadang-kadang teraba uterus sebagai
suatu bola keras sebesar kelapa.
o Nyeri tekan pada perut, terutama pada tempat yang robek.
3.) Auskultasi
Biasanya denyut jantung janin sulit atau tidak terdengar lagi
beberapa menit setelah ruptur, apalagi kalau plasenta juga ikut
terlepas dan masuk ke rongga perut.
4.) Pemeriksaan Dalam
o Kepala janin yang tadinya sudah jauh turun ke bawah, dengan
mudah dapat didorong ke atas dan ini disertai keluarnya darah
pervaginam yang agak banyak
o Kalau rongga rahim sudah kosong dapat diraba robekan pada
dinding rahim dan kalau jari atau tangan kita dapat melalui
robekan tadi, maka dapat diraba usus, omentum dan bagianbagian janin. Kalau jari tangan kita yang didalam kita temukan

dengan jari luar maka terasa seperti dipisahkan oleh bagian


yang tipis seklai dari dinding perut juga dapat diraba fundus
uteri.
5.) Kateterisasi
Hematuri yang hebat menandakan adanya robekan pada kandung
kemih.

G. Penegakan Diagnosis
Pada penegakan diagnosis didapatkan ( Dane, 2009 ; Keren et al., 2010
;Meraj et al., 2011) :
1. Anamnesis
a) Adanya riwayat partus yang lama atau macet
b) Adanya riwayat partus dengan manipulasi oleh penolong
c) Adanya riwayat multiparitas
d) Adanya riwayat operasi pada uterus (misalnya seksio sesaria,
enukleasi mioma atau miomektomi, histerektomi, histeretomi, dan
histeorafi)
2. Gambaran klinis
Gambaran klinis ruptur uteri didahului oleh gejala-gejala ruptur uteri
yang membakat, yaitu didahului his yang kuat dan terus menerus, rasa
nyeri yang hebat di perut bagian bawah, nyeri waktu ditekan, gelisah,
nadi dan pernapasa cepat, segmen bawah uterus tegang, nyeri apda
perabaan lingkaran retraksi (Van Bandle Ring) meninggi sampai
mendekati pusat, dan ligamentum rotunda menegang. Pada saat
terjadinya ruptur uteri penderita sangat kesakitan dan seperti ada robek
dalam perutnya. Keadaan umum penderita tidak baik, dapat terjadi
anemia sampai syok.
3. Pemeriksaan Luar
a) Nyeri tekan abdominal
b) Perdarahan percaginam
c) Kontraksi uterus biasanya akan hilang
d) Pada palpasi bagian janin mudah diraba di bawah dinding perut ibu
atau janin teraba di samping uterus
e) Perut bagian bawah teraba uterus kira kira sebesar kepala bayi
f) Denyut jantung janin (DJJ) bisanya negative (bayi sudah
meninggal)

g) Terdapat tanda tadna cairan bebas


h) Jika kejadian rupture uteri telah lama, maka akan timbul gejala
gejala meteorismus dan defans muscular yang menguat sehingga
sulit untuk meraba bagian janin.
4. Pemeriksaan Dalam
Pada rupture uteri komplit:
a) Perdarahan pervaginam disertai perdarahan intraabdomen sehingga
didapatkan cairan bebas dalam abdomen
b) Pada pemeriksaan pervaginal bagian bawah janin tidak teraba lagi
atau teraba tinggi dalam jalan lahir, selain itu kepala atau bagian
terbawah janin dengan mudah dapat didorong ke atas hal ini terjadi
karena seringkali seluruh atau sebagian janin masuk ke dalam
rongga perut melalui robekan pada uterus
c) Dapat meraba robekan pada dinding rahim jika jari tangan dapat
melalui robekan tadi, maka dapat diraba omentum, usus dan bagian
janin
d) Pada katerisassi didapat urin berdarah
Pada rupture uteri inkomplit :
a) Perdarahan biasanya tidak terlalu banyak, darah berkumpul di
bawah peritoneum atau mengalir keluar melalui vagina
b) Janin umunya tetrap berada di uterus
c) Pada katerisasi didapatkan urin berdarah
H. Diagnosis banding
1) Solusio plasenta
2) Plasenta previa
I. Tata lakasana
Penatalaksanaan dari rupture uteri adalah (Sari, 2015):
1. Perbaiki keadaan umum
a. Atasi syok dengan pemberian cairan dan darah
b. Berikan antibiotika
c. oksigen
2. Laparotomi
a. histerektomi
histerektomi dilakukan jika :
- fungsi reproduksi ibu tidak diharapkan lagi
- Kondisi buruk yang membahayakan ibu
b. repair uterus (histeorafi)
histeorafi dilakukan jika :

- maish mengharapkan fungsi reproduksinya


- kondisi klinis ibu stabil
- ruptur tidak berkomplikasi
3. Repair uterus (histeorafi)
J. Komplikasi
1) Infeksi post operasi
2) Kerusakan ureter
3) Emboli cairan amnion
4) DIC
5) Kematian maternal
6) Kematian perinatal
K. Prognosis
Harapan hidup bagi janin sangat buruk. Angka mortalitas yang
ditemukan dalam berbagai penelitian berkisar dari 50 hingga 70 persen.
Tetapi jika janin masih hidup pada saat terjadinya peristiwa tersebut, satusatunya harapan untuk mempertahankan jiwa janin adalah dengan
persalinan segera, yang paling sering dilakukan lewat laparotomi.
Jika tidak diambil tindakan, kebanyakan wanita akan meninggal
karena perdarahan atau mungkin pula karena infeksi yang terjadi
kemudian, kendati penyembuhan spontan pernah pula ditemukan pada
kasus-kasus yang luar biasa. Diagnosis cepat, tindakan operasi segera,
ketersediaan darah dalam jumlah yang besar dan terapi antibiotik sudah
menghasilkan perbaikan prognosis yang sangat besar dan terapi antibiotik
sudah menghasilkan perbaikan prognosis yang sangat besar bagi wanita
dengan ruptura pada uterus yang hamil.
BAB III
KESIMPULAN

1. Ruptur Uteri adalah robekan pada rahim sehingga rongga uterus dan
rongga peritoneum dapat berhubungan.
2. Etiologi terjadi nya ruptur uteri pada pasien dapat diakibatkan oleh ruptur
uteri spontan, traumatika maupun oleh karena parut pada uterus.

3. Klasifikasi ruptur uteri berdasarkan dari tingkat robekkan, waktu


terjadinya dan menurut lokasi.
4. Penegakkan diagnosis meliputi hasil dari pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan penunjang dengan USG.
5. Penatalaksanaan meliputi penstabilan keadaan hemodinamik pasien dan
dilakukan pembedahan segera.
6. Komplikasi pada ruptur uteri seperti infeksi post operasi, kerusakan pada
ureter, mupun kematian pada perinatal maupun maternal.
7. Jika tidak diambil tindakan segera secara tepat, kebanyakan wanita akan
meninggal karena perdarahan atau mungkin karena infeksi yang akan
terjadi.
8. Penegakkan diagnosis secara dini dan penanganan yang tepat, prognosis
pada ruptur kista akan baik.

DAFTAR PUSTAKA

ACOG. Vaginal birth after previous cesarean delivery. ACOG practice bulletin no.
54.

Washington,

DC:

American

College

of

Obstetricians

and

Gynecologists;2004.
Cunningham, F.G, et al.

2012. Williams Obsetrics 23nd edition. New York.

McGraw-Hill : 824-838.

Dane B. 2009. Maternal Death After Uterine Rupture in an Unscarred Uterus: a


Case Report. J. Emerg Med. 37 (4): 393-5
Decherney A, Nathan L, Goodwin T,Leufer N, Current Diagnosis and Treatment
Obstetrics & Gynacology 10th edition; McGraw-Hill, 2007 page 187189Gyamfi C, Juhasz G, Gyamfi P, Blumenfeld Y, Stone JL. Single- versus
double-layer uterine incision closure and uterine rupture. J Matern Fetal
Neonatal Med. Oct 2006;19(10):639-43.
Hacker NF and Moore George, 2012. Essensial of Obstetrics and Gynecology, 2nd
edition, W.B. Sauders company, page 316-318Lim AC, et al.Pregnancy after
uterine rupture: a report of 5 cases and a review of the literature.Obstet
Gynecol Surv.2005 ;60(9):613-7
Hannah ME, Hannah WJ, Hewson SA, et al: Planned caesarean section versus
planned vaginal birth for breech presentation at term: a randomised
multicentre trial. Term Breech Trial Collaborative Group. Lancet 2000 Oct
21; 356(9239): 1375-1383.
Keren O, Eyal S, Amalia L, Miriam K, Mosche M. 2010. Uterine Rupture Risk
Factor and Unscarred Uterus. Am J Obstet Gynecol. 191 (2):425-9
Macones GA, Cahill A, Pare E, et al. Obstetric outcomes in women with two prior
cesarean deliveries: is vaginal birth after cesarean delivery a viable option?.
Am J Obstet Gynecol. Apr 2005;192(4):1223-8; discussion 1228-9.
Meraj N, Siddiqui M, Ranasinghe JS. Spontaneus rupture of uterus. J Clinical
Anest. 14(5):368-70
Rukiyah, AiYeyeh dan Lia Yulianti. Asuhan Kebidanan IV Patologi. Jakarta: TIM;
2010
Sari, RDP. 2015. Ruptur Uteri. Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol.5.
Shaver D.C. et al, 2008. Clinical Manual Of Obstetrics, 2 nd Edition, Mc Graw
International Editions, page 313-321.