Anda di halaman 1dari 165

PEMBINAAN TARUNA TARUNI AKPOL

SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN AQIDAH ISLAMIYAH


(STUDI KASUS DI AKADEMI KEPOLISIAN SEMARANG)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat


guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata 1
dalam Ilmu Ushuluddin

Oleh:
EDY PURNOMO
074111004

FAKULTAS USHULUDDIN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2011

PEMBINAAN TARUNA TARUNI AKPOL


SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN AQIDAH ISLAMIYAH
(STUDI KASUS DI AKADEMI KEPOLISIAN SEMARANG)

SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat
guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata 1
dalam Ilmu Ushuluddin

Oleh
EDY PURNOMO
074111004

Semarang, 27 Desember 2011


Disetujui oleh
Pembimbing I

Pembimbing II

Dra. Hj. Siti Munawaroh Thowaf, M. Ag


NIP. 195108081977032001

Rokhmah Ulfah, M.Ag


NIP. 197005131998032002

ii

PENGESAHAN
Skripsi saudara Edy Purnomo
Nomor Induk Mahasiswa 074111004
telah

dimunaqosahkan

Skripsi

Fakultas

oleh

Dewan

Ushuluddin

IAIN

Walisongo Semarang pada tanggal:


27 Desember 2011
Dengan diterima serta disahkan sebagai
salah satu syarat guna memperoleh gelar
Sarjana dalam Ilmu Ushuluddin.
Dekan Fakultas/Ketua Sidang
Dr. Nasihun Amin, M.Ag
NIP. 196807011993031003
Pembimbing I

Pembimbing II

Dra. Hj. Siti Munawaroh Thowaf., M. Ag


NIP. 195108081977032001

Rokhmah Ulfah, M.Ag


NIP. 197005131998032002

Penguji I

Penguji II

Prof. Dr. H. Ghazali Munir, MA


NIP. 194806261981031001

Dra. Yusriyah, M. Ag
NIP. 196403021993032001

Sekretaris Sidang

Dr. Zainul Adzfar, M. Ag


NIP.197308262002121002
iii

PERSEMBAHAN

Skripsi Ini Penulis Persembahkan Kepada Bapak dan Ibu


Tercinta, Sebagai Ungkapan Terima Kasih Yang SedalamDalamnya Atas Perjuangan, Dorongan Moral Dan Material
Yang Tiada Minta Balasan.

iv

MOTTO

HIDUP SEKALI HIDUP YANG BERARTI, TERHORMAT DI


TENGAH MASYARAKAT,
MASYARAKAT, MULIA DI SISI ALLAH SWT.

KATA PENGANTAR

;<=?@ BC=?@ D; EF


. ,
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. yang telah
melimpahkan rahmat, taufiq dan hidayah-Nya, akhirnya penulis dapat
menyelesaikan penyusunan skripsi ini yang merupakan tugas dan syarat yang
wajib dipenuhi guna memperoleh gelar kesarjanaan dari Fakultas Ushuluddin
IAIN Walisongo Semarang.
Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita,
Nabi Muhammad saw. yang telah membawa risalah Islam yang penuh dengan
ilmu pengetahuan khususnya ilmu-ilmu keislaman, sehingga dapat menjadi bekal
hidup kita, baik di dunia hingga akhirat kelak.
Ucapan terima kasih yang sedalam-dalamnya penulis sampaikan kepada
semua pihak yang telah memberikan pengarahan, bimbingan dengan moral dan
bantuan apapun yang sangat besar artinya bagi penulis. Ucapan terima kasih
terutama penulis sampaikan kepada:
1. Prof. Dr. H. Muhibbin, M.A., selaku Rektor IAIN Walisongo Semarang.
2. Dr. Nasihun Amin, M.A., selaku dekan Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo
Semarang.
3. Dr. Zainul Adzfar dan Bahroon Ansori, M. Ag selaku kajur dan sekjur Aqidah
dan Filsafat.
4. Ibu Dra. Hj. Siti Munawaroh Thowaf., M. Ag., selaku pembimbing I, Ibu
Rokhmah Ulfah, M. Ag., selaku pembimbing II, penulis mengucapkan terima
kasih atas semua saran, arahan dan bimbingan serta keikhlasan dan

vi

kebijaksanaannya

meluangkan

waktu

dalam

membimbing

penulis

menyelesaikan penulisan skripsi ini.


5. Segenap bapak dan ibu dosen beserta karyawan di lingkungan Fakultas
Ushuluddin IAIN Walisongo Semarang yang telah memberikan berbagai
pengetahuan yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu, sehingga penulis
mampu menyelesaikan penulisan skripsi ini.
6. Irjen Pol. Drs. H. Amin Saleh, selaku gubernur Akademi Kepolisian yang
telah memberikan ijin penelitian.
7. AKBP Drs. Irzam, M. S. I, yang telah memberikan ijin kepada penulis untuk
dapat kuliah., AKBP Slamet Loesiono, SIK yang telah memberikan banyak
informasi dan bimbingan dalam penyusunan skripsi ini.
8. DR. H. Yusuf Suyono, MA yang telah mengarahkan, membimbing,
mensupport penulis untuk dapat kuliah di IAIN Walisongo ini.
9. Seluruh Staf dan Jajaran Lembaga Pendidikan Akpol yang telah banyak
membantu atas tersusunnya Skripsi ini, terutama terutama Iptu Sutrisno, SH
selaku Paur Watpers beserta staf, bu Nani Mulyani, Pak Pardi, bu Lasmi, mas
Halim, pak Muhtarom.
10. Ayahanda Mukharor dan Ibunda Maemonah terkasih, adikku Siti Yamroatul
Farida beserta suaminya Taufiq, Dhiah Mustika Sari dan seluruh keluarga
yang telah memberikan dukungan, baik moril maupun materiil yang tulus dan
ikhlas berdoa demi terselesainya skripsi ini.
11. Seluruh jajaran Pengurus, Pengawas, Penasehat, Pelindung KPRI Nusantara
IAIN Walisongo Semarang yang telah memberikan dukungannya kepada
penulis hingga skripsi ini terselesaikan. Terutama Bapak Drs. Suratman, MM
yang telah memberikan ijin dan kesempatan untuk menyelesaikan kuliahku
ini, kepada bapak Priyono, M. Pd, ibu Soimah, S. Ag, mas Fahmi Jauhari, SE.,
M. Si, mas Supriono, SE, bapak Muntoha, S. Ag., MM, pak Fauzin, S. Ag
terima kasih banyak. Mb Naely Mazia, SKM dan mb. Endang Ariyanti yang
seringkali banyak memberikan support kepada saya terima kasih banyak.
12. Teman-teman se-atap dan seperjuangan, mas Solikin, mas Zainul, Sardi,
Narwan, yang telah banyak memberikan bantuannya.
vii

13. Teman-teman angkatan 2007 terkhusus anak-anak Aqidah dan Filsafat M.


Idrus, Nur Syahid, Fahrul Ansori, baik secara langsung maupun tidak
langsung memberi semangat dan menemani penulis sehingga dapat
menyelesaikan skripsi ini.
14. Kepada sdri. Ayu Setyaningrum yang tak henti-hentinya memberikan support
atas penyusuna skripsi ini.
15. Semua pihak yang telah membantu penulis yang tidak bisa penulis sebutkan
satu persatu.
Semoga yang telah diberikan merupakan amal kebaikan yang dapat
memberikan manfaat bagi semua. Penulis hanya dapat berdoa jazakumullah
ahsasnal jaza.
Penulis menyadari sepenuhnya terlalu banyak kekurangan dalam
penulisan skripsi ini, namun penulis meyakini, justru dari kekurangan itulah
kesempurnaan bisa diraih. Maka dalam hal ini penulis mengharapkan kritik dan
saran yang konstruktif dari para pembaca demi kesempurnaan skripsi ini.
Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis
khususnya dan bagi para pembaca pada umumnya. Aamiin.
Semarang,
Penulis

viii

ABSTRAKSI

Pada dasarnya manusia lahir ke dunia ini sudah membawa potensi


keagamaan, akan tetapi dalam perjalanannya potensi tersebut tidak selamanya
dapat berkembang dengan baik. Agar potensi ini dapat berkembang dengan baik
maka perlu adanya usaha pembinaan sejak dini. Terlebih sebagai muslim orientasi
kita tidak hanya bahagia di dunia akan tetapi juga selamat di akhirat nanti.
Taruna dan taruni sebagai remaja yang disiapkan menjadi kader pemimpin
Polri adalah manusia biasa yang terkadang salah dan lupa. Sehingga dibutuhkan
sebuah usaha pembinaan agar mereka senantiasa terarah ke jalan yang benar baik
dihadapan hukum atau di hadapan Allah Swt. Terlebih cita-cita lembaga Akademi
Kepolisian ini adalah mencetak Perwira Polri yang profesional dibidangnya dan
dengan tetap menjaga nilai-nilai agama yaitu aqidah Islamiyah.
Usaha untuk menanamkan nilai-nilai aqidah ini dapat penulis lihat dalam
kegiatan pengasuhan agama yang ada, terutama pada setiap Ahad pagi, yaitu
kegiatan dimulai dari salat Subuh berjamaah, dilanjutkan pembacaan yasin, tahlil,
asmaul husna, siraman rohani, doa bersama, diskusi, dan diakhiri dengan kurve
atau bersih-bersih bersama.
Semua usaha pembinaan ini tidak dapat berjalan lancar tanpa didukung oleh
beberapa faktor, di antaranya para pembina, masyarakat komplek Akpol, alam
sekitar dan yang tidak kalah pentingnya adalah kebijakan Pimpinan lembaga yang
pro aktif dalam usaha pembinan agama.
Penelitian ini mengambil rumusan masalah adalah hubungan pembinaan
Personel terhadap upaya peningkatan aqidah Islamiyah taruna dan taruni Akademi
Kepolisian Semarang? dan sejauhmana peran pembinaan Personel di lingkungan
Lembaga Pendidikan Akademi Kepolisian Semarang?
Masalah yang dihadapi Taruna dan Taruni dalam hal ini adalah padatnya
jadwal kegiatan yang ada sehingga menguras energi baik fisik maupun psikis. Hal
ini mengakibatkan pembinaan yang dijalankan menjadi kurang efektif. Maka
tujuan penelitian ini adalah untuk untuk menjelaskan peran pembinaan personel
terhadap upaya peningkatan aqidah islamiyah taruna dan taruni Akademi
Kepolisian Semarang dan semua faktor yang mempengaruhinya.

ix

PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB-LATIN


Penulisan ejaan arab dalam skripsi ini berpedoman pada keputusan
menteri agama dan menteri departemen pendidikan Republik Indonesia nomor :
158 tahun 1987. Dan 0543/u/1987. Tentang pedoman transliterasi arab-latin,
dengan beberapa modifikasi sebaga berikut :
A. Konsonan tunggal
Huruf arab

Nama

Huruf latin

Nama

Alif

Tidak di lambangkan

Tidak di lambangkan

Ba

Be

Ta

Te

Sa

As (dengan titik di atas)

Jim

Je

Ha

Ha (dengan titik di atas)

Kha

Kh

Ka dan ha

Dal

De

Zal

Zet (dengan titik di atas)

Ra

Er

Zai

Zat

Sin

Es

Syin

Sy

Es dan ye

Sad

Sh

Es dan ha

Dad

De (dengan titik di atas)

Ta

Te (dengan titik di atas)

Za

Zet (dengan titik di atas)

`ain

_`

Koma terbalik di atas

Gain

Ge

Fa

Ef

Qaf

Ki

Kaf

Ka

Lam

El

Mim

Em

Nun

En

Wau

We

Ha

Ha

Hamzah

_`

Apostruf

Ya

Yang

Te

B. Konsonan rangkap karena syaddah ditulis rangkap

tuvw
tx

Ditulis

Muta`addidah

Ditulis

Qaddara

xi

C. Ta` marbutah di akhir kata


1. Bila dimatikan ditulis dengan h.

yCz=
y{|

Ditulis
Ditulis

Hikmah
`illah

(ketentuan ini tidak diperlukan bagi kata-kata arab yang sudah terserap dalam
bahasa Indonesia, seperti zakat, shalat, dan sebagainya, kecuali bila
dikehendaki lafaz aslinya).
2. Bila diikuti dengan kata sandang al serta bacaan kedua terpisah, maka
ditulis dengan h.

 @<~yw?
?@~

Ditulis
Ditulis

Karamah al-auliya`
Zakah al-fitri

D. Penulisan kata-kata dalam rangkaian kalimat

@?
yE@

Ditulis
Ditulis

Zawi al-furud
Ahl al-sunnah

E. Kata sandang alif+lam


Penulisan kata sandang al ( )disesuaikan dengan huruf yang
mengikutinya. Jika huruf yang mengikutinya huruf qamariyyah, maka penulisan
al ( )tetap seperti semula. Namun jika huruf yang mengikutinya adalah huruf
syamsiyyah, maka akan disesuaikan dengan huruf yang mengikutinya. Contoh :

@?
C@

: al-Qur`an

: asy-Syams
Catatan : transliterasi tersebut tidak diterapkan secara ketat untuk penulisan
nama orang Indonesia dan orang-orang yang di dalamnya terdapat kata sandang
al

()

yang diikuti oleh kata Allah. Seperti: Abdullah tidak ditulis Abd.

Allah.

xii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ........................................................................................

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING .............................................

ii

HALAMAN PENGESAHAN ...........................................................................

iii

HALAMAN MOTTO .......................................................................................

iv

HALAMAN PERSEMBAHAN .......................................................................

KATA PENGANTAR .......................................................................................

vi

ABSTRAKSI......................................................................................................

ix

HALAMAN TRANSLITERASI ARAB-INDONESIA..................................

DAFTAR ISI ......................................................................................................

xiii

DAFTAR RIWAYAT HIDUP .........................................................................

xvi

BAB I

BAB II

: PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang Masalah ........................................................

B.

Perumusan Masalah ................................................................

15

C.

Manfaat dan Tujuan Penelitian ...............................................

16

D.

Metodologi Penelitian .............................................................

17

E.

Populasi dan Sampel ...............................................................

19

F.

Desain Penelitian .....................................................................

21

: PROFIL LEMBAGA PENDIDIKAN AKADEMI KEPOLISIAN


A. Sejarah Lembaga Pendidikan Akademi Kepolisian .................
B. Visi

dan

Misi

Lembaga

Pendidikan

24

Akademi

Kepolisian .........................................................

33

C. Tri Brata ....................................................................................

35

D. Sejarah Pembinaan Mental Personel Akademi Kepolisian ......

39

E.

Latar Belakang Sosial Geografis, Ekonomi dan Keagamaan


Taruna dan Taruni Akpol .........................................................

F.

51

Model-Model Pembinaan Personel Lembaga Pendidikan


Akademi Kepolisian .................................................................

xiii

57

BAB III : TINJAUAN UMUM TENTANG PEMBINAAN AGAMA DAN


AQIDAH ISLAMIYAH
A. Pembinaan Agama ....................................................................

82

1. Pengertian Pembinaan ........................................................

82

2.

Pengertian Agama..............................................................

84

B. Ilmu Keagamaan Islam .............................................................

88

1. Aqidah.................................................................................

88

2. Syariah ...............................................................................

94

3. Akhlak.................................................................................

96

C. Hubungan Aqidah dengan Syariah ..................

97

D. Ruang Lingkup Aqidah .............................................................

98

E. Sumber Aqidah Islamiyah ........................................................

99

F. Manfaat Pembelajaran Aqidah ................................................ 101


G. Model-Model Pembinaan ......................................................... 102
H. Materi Dakwah atau Pembinaan Dalam Islam ......................... 105
I. Wasilah (Media) Dakwah Islam ............................................... 107
BAB IV : ANALISIS
A. Efektifitas Pembinaan Agama Bagi Taruna dan Taruni di
Akademi Kepolisian................................................................... 109
B. Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Keberhasilan Dalam
Pembinaan Agama Terhadap Taruna dan Taruni di Akademi
Kepolisian .................................................................................. 118
C. Hal Yang Menarik dari Pembinaan Agama di Akademi
Kepolisian .................................................................................. 125
BAB V

: KESIMPULAN, SARAN DAN PENUTUP


A. Kesimpulan ............................................................................... 126
B. Saran-saran ................................................................................. 128
C. Penutup ...................................................................................... 131

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN - LAMPIRAN
xiv

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

1. Nama

: Edy Purnomo

2. Tempat Tanggal Lahir

: Demak, 01 Desember 1984

3. Alamat

: Komplek Akpol Blok F No. 33 Semarang

4. Pendidikan

a. SD Negeri 02 Tlogorejo Lulus Tahun 1997


b. SLTP Negeri 1Karangawen Lulus Tahun 2000
c. SMK N 4 Semarang Lulus Tahun 2003
d. IAIN Walisongo Semarang Angkatan 2007

xv

BAB I
PEMBINAAN TARUNA TARUNI AKPOL
SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN AQIDAH ISLAMIYAH
(STUDI KASUS DI AKADEMI KEPOLISIAN SEMARANG)

A. Latar Belakang Masalah


Manusia lahir ke dunia tidak dalam keadaan kosong akan tetapi manusia
diberi potensi-potensi oleh Tuhan yang harus dikembangkan oleh manusia itu
sendiri baik melalui dirinya sendiri maupun melalui bantuan orang lain. Potensi
yang paling berharga adalah potensi keagamaan. Potensi ini sangat berharga
karena dapat mengarahkan kehidupan manusia yang tidak hanya berdimensi
materiil (jasmani) tetapi juga berdimensi spiritual (rohani) dan tidak hanya
berdimensi jangka pendek (duniawi) tapi juga jangka panjang yang bisa
menembus berbagai waktu (ukhrawi).1
Menurut Woodworth, bayi dilahirkan sudah memiliki beberapa instink
diantaranya instink keagamaan. Belum terlihatnya tindak keagamaan pada diri
anak karena beberapa fungsi kejiwaan yang menopang kematangan berfungsinya
instink itu belum sempurna.2

Nasirudin, M. Ag, Laporan Penelitian Individual, Pendidikan Tauhid Model Salafi (Studi
Kasus di Pondok Pesantren Islam Wonolopo Mijen Semarang), (Semarang, 2009), hlm. 1
2
Prof. Dr. H. Jalaluddin, Psikologi Agama (edisi revisi 2002), (Jakarta: PT. RajaGrafindo
Persada, 2002), cet. Ke-6, hlm. 65

Dalam kehidupan ini manusia juga membutuhkan sebuah pegangan hidup


yang dapat menopang eksistensinya sebagai makhluk yang bermartabat dan
bermakna secara hakiki, terhormat di tengah masyarakat dan mulia di sisi Allah
Swt. Di antara sandaran atau pegangan yang paling penting dalam kehidupan
manusia adalah nilai (value)3 yang dianggap sebagai sesuatu yang diidamidamkan dan diperjuangkan untuk dikejar atau diperoleh seseorang dengan
mengorbankan apa yang dimilikinya baik berupa harta, energi, waktu maupun
kedudukan demi nilai tersebut.4 Nilai yang hakiki tersebut adalah aqidah. Karena
dengan nilai tersebut manusia dapat terbebas dari pengaruh-pengaruh negatif
yang dapat menggagalkan visi dan misi manusia dalam rangka menggapai
kebahagiaan hidup dunia dan akhirat.
Pada asalnya manusia adalah bertauhid, dan bertauhid adalah fitrah yang
dikaruniakan Allah untuk manusia. Allah berfirman:

4 !$# ,=y9 7s? 4 $pn=t }$9$# tss L9$# !$# |Nt 4 $Zym e$#9 y7y_u %r's
{ 30 : }
tn=t $9$# usY2r& 3s9u hs)9$# e$!$# 9s
Artinya : Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama
Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut

Dalam filsafat etika, nilai (velue) berobyek pada kebaikan (virtue) dan keburukan (badness).
Nilai-nilai yang dianggap baik inilah yang akan dikejar dan diperjuangkan seseorang untuk
mendapatkannya sesuai dengan pendangan hidupnya. Baca Aristoteles, Introduction to Nicomachean
Ethic, (Oxford: Oxford University Press, 1978), hlm. ix
4
Ibid, hlm.2

fitrah itu. tidak ada perubahan pada fitrah5 Allah. (Itulah) agama yang lurus;
tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui6 (QS. Ar Rum ayat:30)
Rasulullah Muhammad Saw. dalam hal ini bersabda;
 )  

( 92 : %&  :    #$

Artinya : setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua ibu
dan bapaknya lah yang membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi.
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Oleh karena itu aqidah, keyakinan yang sudah tertanam kuat dalam diri ini
harus senantiasa dijaga keberadaannya sebagai bentuk pengabdian kita kepada
Allah Swt dengan berbagai macam cara walaupun harus mengorbankan nyawa
ini. Begitu berharganya potensi keagaman dan nilai aqidah ini, pendidikan atau
siraman rohani mutlak diperlukan. Potensi-potensi yang ada dalam diri manusia
tidak akan berkembang kalau tidak dikembangkan melalui pendidikan baik yang
bersifat formal dalam kelas-kelas maupun lewat mimbar-mimbar pengasuhan
(pengajian), dan sebagainya.
Pengaruh ideologi asing yaitu faham sosialisme liberal, sosialisme radikal,
dan komunis senantiasa merupakan ancaman terhadap ideologi Pancasila. Masih
kurang kesadaran hukum masyarakat, adanya perbenturan nilai-nilai lama dalam

Fitrah Allah: Maksudnya ciptaan Allah. manusia diciptakan Allah mempunyai naluri
beragama Yaitu agama tauhid. kalau ada manusia tidak beragama tauhid, Maka hal itu tidaklah wajar.
mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantaran pengaruh lingkungan.
6

Yayasan Penyelenggara Penerjemah/Tafsir al-Quran, Al Quran dan Terjemahnya,


Departemen Agama 1995, hlm. 645
7
Abu Abdillah Muhammad ibn Ismail al-Bukhari, Syarh Shahih al-Bukhari, Dar al-Kutub alIlmiyah, Beirut, 2001, Juz 1, hlm. 92

masyarakat dengan nilai-nilai baru akibat efek samping kemajuan, yang


dihasilkan pembangunan. Kerukunan hidup umat beragama yang masih mendapat
ancaman dari unsur fanatisme agama yang sempit, dan motif-motif politik.8
Sehingga lama kelamaan keyakinan yang sudah tertanam dalam hati sedikit demi
sedikit terkikis oleh pengaruh-pengaruh negatif pergaulan, lingkungan. Terlebih
dengan pesatnya pertumbuhan teknologi telekomunikasi menjadikan budayabudaya asing mudah diakses oleh siapa saja.
Oleh karena hal itu di atas kita harus punya benteng aqidah yang kuat agar
kita tidak terbawa arus globalisasi yang apabila tidak selektif kita akan terjerumus
pada lembah hitam yang jauh akan agama. Hal ini pula tentunya dibutuhkan
semua umat Islam termasuk Taruna dan taruni Akademi Kepolisian yang
notabene adalah para kader pemimpin Polri di masa depan.
Sebagai remaja pada umumnya Taruna dan Taruni tidak dapat lari dari
periode yang sangat menentukan dalam hidupnya ini. Padahal dalam
perkembangan manusia maka masa remaja menduduki tahap progresif. Sesuai
dengan perkembangan jasmani dan rohaninya, maka agama pada remaja turut
dipengaruhi perkembangan itu. Perkembangan agama pada remaja ditandai oleh
beberapa faktor perkembangan jasmani dan rohaninya. Perkembangan itu
menurut W. Starbuck adalah:9
1. Pertumbuhan pikiran dan mental

8
9

Program Kerja Dinas Pembinaan Mental Polri Tahun 1984-1985, (Jakarta:1984), h. 3


Prof. Dr. H. Jalaluddin, Op. Cit., h. 74-77

Ide dan dasar keyakinan beragama yang diterima remaja dari masa kanakkanak sudah tidak begitu menarik bagi mereka sehingga sikap kritis terhadap
agama mulai timbul. Selain masalah agama mereka juga mulai tertarik pada
masalah kebudayaan, sosial, ekonomi, dan norma-norma kehidupan lainnya.
2. Perkembangan perasaan
Berbagai perasaan mulai berkembang pada remaja. Perasaan sosial, etis,
estetis, mendorong remaja untuk menghayati perikehidupan yang terbiasa
dalam lingkungan. Kehidupan relijius akan mendorong dirinya lebih dekat
kearah yang relijius juga. Sebaliknya remaja yang kurang mendapat
pendidikan agama dan siraman ajaran agama lebih mudah didominasi
dorongan seksual. Didorong perasaan ingin tahu dan perasaan super, remaja
lebih mudah terperosok ke arah tindakan seksual yang negatif.
3. Pertimbangan sosial
Corak keagamaa remaja juga ditandai oleh adanya pertimbangan sosial.
Dalam kehidupan keagamaan mereka timbul konflik antara pertimbangan
moral dan material. Karena kehidupan dunia lebih dipengaruhi kepentingan
materi, maka para remaja lebih cenderung jiwanya untuk bersikap materialis.
4. Perkembangan moral
Perkembangan moral para remaja bertitik tolak dari rasa berdosa dan usaha
untuk mencari proteksi. Tipe moral yang juga terlihat pada para remaja juga
mencakup:

a. Self-directive, taat terhadap agama atau moral berdasarkan pertimbangan


pribadi.
b. Adaptive, mengikuti situasi lingkungan tanpa mengadakan kritik.
c. Submissive, merasakan adanya keraguan terhadap ajaran moral dan agama
d. Unadjusted, belum meyakini akan kebenaran ajaran agama dan moral.
e. Deviant, menolak dasar hukum dan keagamaan serta moral.
5. Sikap dan minat
Sikap dan minat remaja terhadap masalah keagamaan boleh dikatakan sangat
kecil dan hal ini tergantung dari kebiasaan masa kecil serta lingkungan agama
yang mempengaruhi mereka.
6. Ibadah
Pandangan para remaja terhadap ajaran agama, ibadah dan masalah doa
sebagaimana yang telah diteliti oleh Ross dan Oskar Kupky dapat
disimpulkan bahwa 17% remaja mengatakan bahwa sembahyang bermanfaat
untuk komunikasi dengan Tuhan, sedangkan 26% diantarnya menganggap
bahwa sembahyang merupakan media untuk bermeditasi.
Melihat kondisi di atas, Taruna dan Taruni merupakan suatu obyek yang
sangat menarik untuk di teliti. Terlebih upaya membesarkan Polri baik secara
kuantitatif maupun kualitatif menuju Polri yang dicintai dan dibanggakan oleh
masyarakat adalah tujuan yang sangat mulia. Oleh karena itu dalam rangka
memenuhi harapan masyarakat terhadap peran Polri sebagai alat penegak hukum,

pengayom, pelindung dan pembimbing masyarakat, serta kebijakan Polri di depan


untuk menangani masalah keamanan dalam negeri dirasakan bahwa pembinaan
personel bagi Taruna dan Taruni sebagai penerus kepemimpinan Polri harus lebih
ditingkatkan secara sistematis dan berlanjut .10
Mengingat Lembaga Pendidikan Akademi Kepolisian adalah sebuah
lembaga yang mencetak kader-kader pemimpin Polri di masa yang akan datang,
dan ini adalah satu-satunya di Indonesia yang berpusat di Candi Baru Semarang.
Hal ini menjadikan Lembaga Pendidikan ini menjadi sorotan publik terkait
tugasnya yaitu mencetak para Perwira Polri yang bermoral, professional dan
mampu beradaptasi dengan perkembangan lingkungan yang serba modern dan
canggih, sehingga keberadaan Polri di tengah masyarakat akan semakin dipercaya
di dalam melaksanakan tugasnya sebagai pemelihara kamtibmas, penegak hukum,
pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat.11
Terkait hal tersebut di atas menjadi sangat berat tugas yang harus diemban
oleh lembaga pendidikan yang menyiapkan para kader-kader pemimpin Polri
tersebut. Lembaga tersebut adalah Akademi Kepolisian Semarang. Pendidikan
Akademi Kepolisian pada dasarnya bertujuan mengembangkan potensi taruna
agar menjadi sosok polisi yang beretika, berketrampilan teknis profesional

10

Baca Aktualisasi Pembinaan Mental Fungsi Komando Dalam Rangka Mewujudkan


Penampilan Perorangan, 1998, hlm. iii
11
Sambutan Kapolri Jenderal Drs. Sutanto dalam buku profil Akademi Kepolisian (the profile
of Indonesian Police Academy), 2007,hlm. ii

kepolisian, berkesamaptaan jasmani, bernalar ilmiah, berjiwa pemimpin, dan


memiliki integritas yang tinggi.12
Apalagi dalam kaitannya tugasnya nanti sebagai penegak hukum, pelindung,
pengayom, dan pelayan masyarakat. Maka sudah barang tentu prosentase gesekan
terhadap dunia kriminalitas sangatlah besar. Hal tersebut menjadi sebuah
konsekuensi yang harus dibayar mahal oleh mereka. Ketidakmampuan dalam
menjalankan tugas sesuai tuntutan moral, etika, dan agama, serta masyarakat akan
berakibat sangat fatal. Di sini peran aqidah yang kuat menjadi hal yang tidak
dapat ditawar lagi dalam pelaksanaan tugas tersebut. Sehingga dapat berjalan
lancar dan sesuai dengan norma-norma dan hukum yang berlaku baik hukum
masyarakat, negara maupun agama.
Dengan berbagai latar belakang pendidikan agama yang minim membuat
taruna dan taruni Akademi Kepolisian ini menjadi salah satu obyek empuk yang
sangat mudah terpengaruh dengan budaya-budaya yang negatif. Terlebih sebagai
manusia biasa taruna dan taruni Akademi Kepolisian ini tidak hanya dituntut
untuk kerja secara profesional saja akan tetapi sebagai manusia yang beragama
mereka juga dituntut untuk kerja yang bermutu, terarah pada pengabdian kepada
Allah Swt dan kerja yang bermanfaat bagi orang lain.13
Untuk menghasilkan produk pekerjaan yang bermutu, islam memandang
kerja yang dilakukan adalah kerja professional, yaitu kerja yang didukung ilmu
12
13

hlm. 93

Baca profil Akademi Kepolisian (The Profile Of Indonesian Police Academy, 2007), hlm. 87
Abuddin Nata, MA, Prof, Dr, H, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: Rajawali Press, 1998),

pengetahuan, keahlian, pengalaman, kesungguhan, dan seterusnya. Karena suatu


pekerjaan yang diserahkan bukan pada ahlinya maka tunggulah kehancurannya.
Demikian peringatan dari Nabi.14 Sehingga para calon pemimpin Polri ini tidak
terperangkap dalam kebimbangan, menipu dirinya sendiri dengan perasaan bahwa
dia masih commited dan terikat dengan Islam serta tidak sadar bahwa dirinya
berada dalam satu lembah di mana Islam berada di lembah yang lain dimana
jurang pemisah antara kedua lembah itu laksana jauhnya langit dan bumi.15
Hal ini sangat membahayakan terlebih kaitannya dengan tugas yang
diemban oleh para taruna dan taruni nanti ketika harus bertugas di wilayah.
Sehingga pemantapan aqidah islamiyah sedini mungkin harus dilakukan. Karena
aqidah adalah pokok-pokok ajaran din (islam) dan hukum-hukum yang qathi
tanpa keraguan lagi, seperti keimanan dan mentauhidkan Allah, beriman kepada
malaikat, beriman kepada kitab-kitab Allah yang telah diturunkan kepada Nabi
dan Rasul-Nya, beriman pada hari akhir (kiamat), beriman pada takdir baik dan
buruk dari Allah serta semua hal yang ghaib yang didasarkan pada dalil-dalil yang
kuat juga kewajiban-kewajiban din dan hukum-hukum yang qathi. Dengan
demikian, aqidah itu meliputi istilah iman, din, dan islam dalam itikad, serta
meliputi syariat dalam segi pengalaman.16

14

Ibid, hlm. 93
Muhammad Abdullah As-Samman, Bagaimana Posisi Kita dalam Islam, (Solo:CV. Pustaka
Mantiq, 1993), cet. Ke-1, hlm. 12
16
Abdul Karim Al-Aqel, Nasher, Dr, Hubungan Akidah dan Syariat, (Jakarta:Gema Insani
Press, 1996), cet. Ke-1, hlm. 13-14, baca pula Yazid bin Abdul Qadir Jawas ,Syrah Aqidah Ahlus
Sunnah wal Jamaah , (Po. Box 7803/JACC 13340 A:PT. Pustaka Imam Syafii, 2006), cet. Ke-3,
hlm. 27-28
15

10

Aqidah merupakan suatu kepercayaan atau ideologi yang tersimpul dalam


qalbu, yang menurut Prof. TM. Hasby Ash Shiddieqy adalah sesuatu yang
dipegang teguh dan terhujam kuat di dalam lubuk jiwa dan tidak dapat beralih
daripadanya.17
Secara umum sebagaimana dikatakan Syeikh Muhammad Abu Zahrah
dalam kitabnya al-aqidah al-islamiyah adalah sebagaimana ulama pada
umumnya yaitu kita bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Nabi
Muhammad Saw adalah utusan-Nya.18
Begitu pentingnya aqidah islamiyah ini sampai-sampai seseorang yang
mengaku islam yang dalam hal ini adalah taruna dan taruni Akademi Kepolisian
perlu dan bahkan wajib untuk mengetahui dan menjaganya agar tetap murni dan
terjaga. Sehingga menjadi sebuah nilai yang tak tergantikan bagi setiap muslim
termasuk taruna dan taruni Akademi Kepolisian.
Menurut AKBP Drs. Irzam, M.S.I selaku koordinator pengasuhan agama
islam di Akademi Kepolisian yang sempat penulis wawancarai mengungkapkan
bahwa pendidikan pengetahuan agama yang hanya 2 (dua) SKS dirasa belum
cukup untuk memenuhi kebutuhan rohani para kader pemimpin Polri ini.
Sehingga diperlukan pengetahuan agama tambahan yang harus disisipkan diluar
jam tersebut. Memang membutuhkan sebuah usaha keras dalam melaksanakan

17

M. Hamdani B.Dz, Pendidikan Ketuhanan dalam Islam, (Surakarta:Muhammadiyah


University Press, 2001), cet. Ke-1, hlm. 5
18
Syeikh Muhammad Abu Zahrah, Al-Aqidah Al-Islamiyah, (al-Azhar, al-Bahutsu alIslamiyyah, 1969M/1389H), cet. Ke-3, hlm. 7

11

program ini mengingat jadwal taruna dan taruni Akademi Kepolisian yang
teramat padat.
Semua usaha yang dilakukan yang berkaitan dengan pembinaan personel
taruna dan taruni berupaya meningkatkan kualitas aqidah terhadap mereka.
Karena bagaimanapun pula mereka adalah kader-kader pemimpin masa depan di
Kapolisian kelak. Sedangkan dalam kerangka ideal, seorang pemimpin paling
tidak memiliki tiga syarat. Pertama, ia harus memiliki penerimaan (acceptability)
dikalangan umat itu sendiri sesuai dengan tingkat keberadaannya. Kedua, ia harus
memiliki penghargaan (accountability) dikalangan umat, baik kepenguasaannya
atas ilmu-ilmu keagamaan, maupun kemampuan dalam menjalankan roda
organisasi. Ketiga, ia harus memiliki kredibilitas (credibility) dikalangan
pemerintah dan kelompok-kelompok lain, sehingga dapat menjalin kemitraan
dengan berbagai potensi nasional dan menghadirkan Islam sebagai rahmatan lil
alamin dalam kontek kekuasaaan dan kemajemukan masyarakat Indonesia.19
Taruna dan taruni Akademi Kepolisian akan mempunyai pengaruh yang
sangat besar baik di jajarannya maupun masyarakat. Hal ini tidak dapat dipandang
sebelah mata. Menjadi kurang seimbang dengan tugas yang harus diembannya di
kemudian hari jikalau porsi pendidikan agama yang didapatkan sangatlah minim.
Dalam waktu itu mereka dididik dan disiapkan untuk menjadi penerus para
pemimpin Polri dimasa datang yang itu merupakan tugas yang sangat berat.

19

M. Din Syamsuddin, Dr, Etika dalam Membangun Masyarakat Madani, (Ciputat:PT. Logos
Wacana Ilmu, 2002), cet. Ke-2, hlm. 157

12

Dalam waktu yang sangat singkat tersebut taruna dan taruni di haruskan
menguasahi materi-materi tentang kepolisian yang tidak sedikit, baik yang
bersifat teori yang diajarkan dalam kelas maupun yang bersifat praktek di
lapangan. Sehingga porsi untuk belajar yang lain khususnya agama sangatlah
minim.
Perlu diketahui bahwa profil lulusan Akademi Kepolisian adalah Sebagai
Manajer Tingkat Pertama (first line supervisor) Tugas Umum Kepolisian yang
Akademisi dan Praktisi dengan Kompetensi :
1. Mampu untuk melaksanakan pemeliharaan keamanan dan ketertiban
masyarakat, penegakkan hukum, perlindungan, pengayoman dan pelayanan
kepada masyarakat dengan menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia.
2. Mampu

untuk

merencanakan,

mengorganisasikan,

melaksanakan,

mengendalikan dan mengkoordinasikan tugas pokok kepolisian dalam rangka


menangkal timbulnya gangguan keamanan dan ketertiban serta penyakit
masyarakat dengan menggunakan dan memanfaatkan ilmu pengetahuan yang
relevan dan teknologi informasi.
3. Kemampuan mengintegrasikan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang
dimilikinya dalam rangka pelaksanaan tugas pokok kepolisian yang didukung
oleh kepribadian luhur, mental yang tangguh dan kesamaptaan yang prima.20

20

http://www.akpol.ac.id/baru/index.php?option=com_content&view=article&id=88:kurikulum
&catid=42:kurikulum&Itemid=192

13

Yang jadi permasalahan adalah, bagaimana mewujudkan pemimpin yang


ideal tadi, dalam hal ini adalah taruna dan taruni Akademi Kepolisian Semarang
yang notabenya adalah calon pemimpin Polri dimasa depan?
Oleh karena itu pembinaan personel (pengasuhan agama)21 menjadi bagian
yang sangat integral bagi usaha peningkatan aqidah islamiyah taruna dan taruni
Akademi Kepolisian. Terlebih tugas pokok Lembaga Pendidikan Akademi
Kepolisian adalah menyiapkan para pemimpin Polri, di samping harus memiliki
praktek ilmu kepolisian yang dilandasi moral yang baik tetapi juga harus
memiliki FAST (Fathonah, Amanah, Shiddiq, Tabligh). Fathonah berarti
memiliki kecerdasan moral, spiritual, emosional, sosial, dan intelektual. Amanah
berarti dapat dipercaya, Shiddiq berarti benar (bekerja sesuai prosedur), dan
Tabligh berarti berani menyampaikan bahwa yang benar itu benar dan yang salah
itu salah.
Dengan demikian alumnus Akademi Kepolisian diharapkan menjadi
pemimpin yang berperadaban surgawi, penegak hukum dan penegak ketaqwaan
dalam tugas selaku pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat dengan baik
dan benar. Demikian cita-cita yang ingin diwujudkan oleh Lembaga Pedidikan
Akademi Kepolisian tersebut sebagaimana yang disampaikan Gubernur Akademi

21

Sebuah kegiatan yang ditujukan kepada seluruh personel Akademi Kepolisian yang dalam hal
ini adalah Taruna dan Taruni Akademi Kepolisian yang dilakukan pada hari Ahad pagi setiap
seminggu sekali, dengan materi sholawatan, yasinan, tahlilan, asma al Husna, serta ceramah-ceramah
keagamaan yang diisi oleh para penceramah yang sudah ditunjuk (kegiatan ini dapat sewaktu-waktu
berubah sesuai dengan kehendak dan instruksi pimpinan lembaga ini)

14

Kepolisian Irjen Pol Drs. M. Ibrahim, SH, MM yang tertuang dalam pengantar
Jadwal Kotib Jumat 2009.
Hal tersebut di atas sangat sesuai dan selaras dengan firman Allah sebagai
berikut:

x69$# t ys?u y9$$/ t's? $=9 My_z& >& uyz G.


{ 110 : *), }
3 !$$/ t?u
Artinya: kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia,
menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman
kepada Allah.22 (QS. Ali Imron ayat 110)
Menurut tafsir al-Maraghi kata amar maruf dan nahi mungkar
penyebutannya didahulukan dibanding iman kepada Allah SWT, padahal iman
selalu berada di depan dari berbagai jenis ketaatan. Hal ini lantaran amar maruf
dan nahi mungkar merupakan pintu keimanan dan yang memeliharanya. Jadi
didahulukannya kedua hal tersebut dalam penuturan adalah sesuai dengan
kebiasaan manusia, yaitu menjadikan pintu berada di depan segala sesuatu. 23
Lewat ayat ini jelas bahwasannya sebagai umat manusia mempunyai beban
tugas dan tanggungjawab ganda yaitu menyuruh kepada yang maruf dan
mencegah yang mungkar sebagai dimensi kewajiban horizontal sesama manusia
dan beriman kepada Allah sebagai dimensi vertikalnya.

22

Yayasan Penyelenggara Penerjemah/Tafsir al-Quran, Al Quran dan Terjemahnya,


Departemen Agama 1995, hlm. 94
23
Muhammad Musthafa al Maraghi, Terjamah Tafsir al-Maraghi bab 4, (Semarang: PT. Karya
Toha Putra, 1993), cet. Ke-2, hlm. 51

15

Taruna dan taruni sebagai kader pemimpin Polri di masa yang akan datang
mempunyai amanah yang sangat berat terkait ayat di atas. Apalagi Polri adalah
salah satu instrumen Negara yang mempunyai legitimasi dalam hal penegakan
hukum, hal ini berbeda dengan ulama yang mereka hanya mempunyai kewajiban
dalam hal perintah untuk menjalankan yang maruf (amar maruf) saja berbeda
dengan Polri yang sekaligus mempunyai kekuatan hukum untuk mencegah yang
mungkar dan bahkan menindak suatu kemungkaran. Ini merupakan sebuah tugas
yang sangat strategis, sehingga tidak jarang dalam pelaksanaannya seringkali
bergesekan secara langsung dengan dunia hitam yang dapat merusak moral dan
aqidah para anggota Polri itu sendiri.
Oleh karena itu penulis meneliti PEMBINAAN TARUNA TARUNI
AKPOL SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN AQIDAH ISLAMIYAH
(STUDI KASUS DI AKADEMI KEPOLISIAN SEMARANG)
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka timbul permasalahan sebagai
berikut:
1. Adakah hubungan pembinaan personel terhadap upaya peningkatan aqidah
Islamiyah taruna dan taruni Akademi Kepolisian Semarang?
2. Sejauhmana peran Pembinaan Personel di lingkungan Lembaga Pendidikan
Akademi Kepolisian Semarang?

16

C. Manfaat dan Tujuan Penelitian


1. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan permasalahan di atas, maka tujuan yang hendak dicapai
dari penelitian ini adalah Untuk menjelaskan peran pembinaan personel
terhadap upaya peningkatan aqidah islamiyah taruna dan taruni Akademi
Kepolisian Semarang.
2. Manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah:
a. Manfaat Teoritis
1. Penelitian ini diharapkan mampu menambah khasanah ilmu yang
berkaitan dengan Aqidah Islamiyah di Fakultas Ushuludin IAIN
Walisongo Semarang dan Akademi Kepolisian.
2. Memperluas cakrawala pengetahuan tentang Pembinaan Personel
(Aqidah) terhadap peneliti pada khusunya dan mahasiswa Fakultas
Ushuluddin pada umumnya.
b. Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pikiran pada
lembaga

pendidikan

Akpol

dalam

pembinaan

personel

dengan

menanamkan nilai-nilai aqidah kepada diri mereka (taruna dan taruni


Akademi Kepolisian) sehingga mampu melaksanakan tugas belajar di
lembaga pendidikan tersebut dengan baik, selamat dari awal sampai akhir

17

lulus dan dilantik menjadi perwira polisi yang tetap menjunjung tinggi
nila-nilai aqidah islamiyah yang sudah didapatkan sebelumnya.
D. Metodologi Penelitian
Dalam penelitian ini menggunakan metodologi penelitian lapangan (field
research) yang dapat juga dianggap sebagai pendekatan luas dalam penelitian
kualitatif atau sebagai metode untuk mengumpulkan data kualitatif. Dan hal ini
merupakan studi eksplorasi untuk mencari kejelasan terhadap subyek langsung
melalui penjelajahan dengan grant tour quention. Di mana peneliti berangkat ke
lapangan untuk mengadakan pengamatan tentang suatu fenomena dalam suatu
keadaan alamiah atau in situ. Dengan demikian pendekatan ini terkait erat
dengan pengamatan-berperanserta.24
Selain itu peneliti juga menggunakan pendekatan sosiologi dan psikologis.
Pendekatan sosiologis disini sebagaimana dilakukan Emile Durkheim adalah
untuk mencari hubungan antara variable keagamaan dengan variable perilaku
nonkeagamaan. Sedangkan pendekatan psikologis ini dimaksudkan untuk
mengetahui sejauh mana motivasi beragama dan latar belakang keberagamaan
manusia secara individu dan komunal. Dalam pendekatan ini peneliti mencari
makna agama dalam setting psikologis, yaitu bagaimana keadan hati manusia

24

Lexy J Moloeng, MA, Prof. Dr, Meodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung:PT. Remaja
Rosdakarya, 2009), cet. Ke-26, hlm. 26

18

beragama yang yang terefleksikan ke dalam tingkah laku keagamaan atau tingkah
laku yang bukan keagamaan.25
Adapun Instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini
adalah sebagai berikut:
1. Observasi
Untuk memperoleh akses langsung terhadap obyek yang diteliti, peneliti akan
melakukan observasi langsung terhadap kegiatan Pembinaan Personel di
Lembaga Akademi Kepolisian. Observasi dimaksudkan sebagai langkah awal
penggalian data dengan data instrumen yang lain.
2. Dokumentasi
Mengingat data-data yang dibutuhkan pada penelitian, ada berupa dokumendokumen yang dimiliki Lembaga Pendidikan Akademi Kepolisian maka
peneliti juga menggali data-data tersebut untuk mendapatkan data-data yang
dibutuhkan guna menjelaskan peran pembinaan personel terhadap upaya
peningkatan aqidah Islamiyah Taruna dan Taruni Akademi Kepolisian
Semarang
3. Focused Group Discussion (FGD)
Tekhnik ini dimaksudkan untuk memperoleh data dari suatu kelompok
berdasarkan hasil diskusi yang terpusat pada suatu permasalahan tertentu.26

25

Dadang Kahmad, M. Si, Dr., H, Sosiologi Agama, (Bandung:PT. Remaja Rosdakarya, 2009),
cet. Ke-5, hlm. 90-91
26
Burhan Bungin (Ed.), Metodologi Penelitian Kualitatif (Aktualisasi Metodologis ke Arah
Ragam Varian Kontemporer), (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2001), hlm. 237

19

Untuk memperoleh informasi data yang saling melengkapi dan memadai


mengenai masalah yang diteliti, peneliti akan membentuk kelompok diskusi di
Lembaga Pendidikan Akademi Kepolisian untuk mendiskusikan secara
terarah mengenai substansi peran pembinan personel terhadap upaya
peningkatan aqidah Islamiyah Taruna dan Taruni Akademi Kepolisian
Semarang.
4. Wawancara
Alat ini akan peneliti gunakan untuk wawancara kepada sebagian informan
atau narasumber seperti Koordinator Pengasuhan, Paur Watpers, Pengasuh,
perwakilan Taruna dan Taruni dan beberapa orang yang terkait dengan
pembinaan personel di Lembaga Pendidikan Akademi Kepolisisan, agar
diperoleh informasi mendalam mengenai pemahaman, pandangan, dan respon
mereka. Wawancara ini dilakukan secara intensif dan terarah.
E. Populasi dan Sampel
Menurut Suharsimi Arikunto, populasi adalah keseluruhan subyek
penelitian. Sedangkan sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang akan
diteliti. Apabila yang akan diteliti hanya diambil sebagian dari seluruh subyek
penelitian, dengan model perwakilan, maka penelitian yang berlangsung dapat
dinamakan juga dengan penelitian sampel. Tetapi jika penelitian yang

20

berlangsung menggunakan seluruh subyek penelitian sebagai bahan


penelitian, maka penelitian tersebut dinamakan sebagai penelitian populasi.27
Aturan penentuan jumlah sampel dalam penelitian disebutkan oleh
Suharsimi bahwasanya apabila populasi kurang atau sama dengan 100 maka
seluruh populasi adalah sampel dan jika populasi lebih dari 100 maka sampel
dapat diambil mulai dari kisaran 10% - 25% dari jumlah populasi.28 Jumlah
Taruna dan Taruni di Lembaga Pendidikan Akademi Kepolisian keseluruhan
per Juli 2011 adalah 673 orang dengan perincian jumlah taruna Den 45/II
adalah 300 orang, Den 46 sejumlah 323 orang. Dan dari jumlah tersebut yang
beragama Islam sejumlah 506 orang.29
Penulis akan mengambil sample penelitian secara acak baik dari segi
umur, usia, maupun tingkat sebesar 10% dari jumlah Taruna dan Taruni
keseluruhan. Sehingga jika dikalkulasikan, maka jumlah sample dalam
penelitian ini adalah 10% x 506 = 50,6 yang kemudian penulis bulatkan
menjadi 51 taruna. Akan tetapi penulis tambahkan 10 taruna sebagai
pembanding sehingga total sample yang diambil sejumlah 61 taruna.
Analisis data
Analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif analisis, di
mana data yang dikumpulkan adalah berupa kata-kata, gambar, dan bukan

27

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta Rineka


Cipta , 2002), hlm. 108-109.
28
Ibid.
29
Sumber dari Subbag Renmin Akpol, 2011

21

angka-angka.30 Dengan demikian, laporan penelitian akan berisi kutipankutipan data yang memberi gambaran penyajian laporan tersebut. Analisa
dilaksanakan sebelum ke lapangan, selama di lapangan, saat pengumpulan
data, dan setelah selesai mengumpulkan data.
Dalam deskriptif analisis peneliti mengarahkan pada pengklasifikasian
jenis

pembinaan

personel

dan

model-modelnya.

Di

samping

dua

pengklasifikasian tersebut, peneliti juga memetakan peran pembinaan


personel terhadap upaya peningkatan aqidah Islamiyah Taruna dan Taruni
Akademi Kepolisian
F. Desain Penelitian
Penelitian ini disusun dalam sistematika sebagai berikut:
Bab I :

Pendahuluan
A. Latar belakang masalah
B. Perumusan Masalah
C. Manfaat dan Tujuan Penelitian
D. Metodologi Penelitian
E. Populasi dan Sampel
F. Desain Penelitian

Bab II :

Pembinaan Agama Taruna dan Taruni Akademi Kepolisian


A. Sejarah lembaga pendidikan Akpol

30

Ibid, hlm. 11

22

B. Visi dan misi lembaga pendidikan Akpol


C. Tri Brata dan Catur Prasetya
D. Sejarah pembinaan mental personel Akademi Kepolisian
E. Latar belakang sosial Geografis dan Ekonomi Taruna Akpol
F. Model-model pembinaan personel lembaga pendidikan Akpol.
Bab III :

Tinjauan Umum Tentang Aqidah Islamiyah


A. Pembinaan Agama
1. Pengertian Pembinaan
2. Pengertian Agama
B. Ilmu Keagamaan Islam
a. Aqidah
b. Syariah
c. Akhlak
C. Pembagian Aqidah
D. Ruang Lingkup Aqidah
E. Sumber Aqidah Islamiyah
F. Manfaat Pembelajaran Aqidah
G. Model-Model Pembinaan
H. Materi Dakwah Dan Pembinaan Dalam Islam
I. Wasilah (Media) Dakwah Islam

23

Bab IV :

Analisis
A. Pembinaan Agama Taruna dan Taruni di Akademi Kepolisian
B. Tingkat Keberhasilan dalam Pembinaan Agama terhadap Taruna
dan Taruni di Akademi Kepolisian
C. Hal Yang Menarik dari Pembinaan Agama di Akademi Kepolisian

Bab V:

Penutup
A. Kesimpulan
B. Saran
C. Penutup.

24

BAB II
PROFIL LEMBAGA PENDIDIKAN AKADEMI KEPOLISIAN

A. SEJARAH LEMBAGA PENDIDIKAN AKADEMI KEPOLISIAN


1. Masa Kemerdekaan (1945-1965)
Setelah proklamasi kemerdekaan Negara Republik Indonesia pada
tanggal 17 Agustus 1945, dengan mengantisipasi perkembangan situasi,
kemajuan ilmu pengetahuan, dan teknologi para cendekiawan dan pimpinan
Kepolisian pada waktu itu telah mempunyai wawasan jauh ke depan. Polri
membutuhkan kader-kader pimpinan yang profesional, maka dibentuklah
Sekolah Polisi Negara bagian Rendah, Menengah, dan Tinggi di Mertoyudan,
berdasarkan Surat Keputusan Perdana Menteri No. Pol.: 12/19/22 tanggal 17
Juni 1946. Peresmian Sekolah Polisi Negara dilakukan oleh Presiden RI Ir
Soekarno, dihadiri oleh Wakil Presiden Drs. Moch. Hatta, Panglima Besar
Jenderal Soedirman, dan para Menteri serta pejabat teras Kepolisisan RI. Pada
saat peresmian diangkat sebagai Kepala Sekolah Polisi Negara RI Pembantu
Komisaris Besar Polisi Soebarkah.
Untuk kepentingan terlaksananya program pendidikan Sekolah Polisi
Bagian Tinggi di Mertoyudan maka sebagai tenaga pengajar adalah para guru
besar/dosen dari Universitas Gajah Mada Jogjakarta. Mereka terdiri atas Prof
Mr. Soenarjo sekaligus sebagai Dekan, Prof Dr. MR. R. Soepomo, Prof. Mr.

25

Djoko Soetono, Prof. Dr. Prijono, Prof. Mr. Satochid Kertanegara dan Ki
Hadjar Dewantoro. Dari kalangan Kepolisian adalah Komisaris Polisi II J.
Jordan Gamino, Broto Murdokusumo, dan Inspektur Polisi I Paimin Salekan.
Karena dalam pelaksanaan pendidikan terdapat kesulitan sarana transportasi
dan akomodasi dari dosen-dosen tersebut, maka Sekolah Polisi Negara Bagian
Menengah dan Tinggi pada bulan Desember 1946 dipindahkan dari
Mertoyudan ke Patihan Jogjakarta dan namanya menjadi Akademi
Kepolisian.
Dengan adanya pengakuan kedaulatan Rapublik Indonesia pada tanggal
27 Desember 1949, pusat pemerintahan Indonesia dipindahkan dari Jogjakarta
ke Jakarta, diiringi pula oleh perpindahan Akademi Kepolisian ke pusat
pemerintahan di Jakarta pada bulan Juli 1950. Pada tanggal 4 Juli 1950
diadakan rapat gabungan antara djawatan Kepolisian Negara Dewan Kurator,
dan dewan guru besar yang memutuskan pergantian nama Akademi
Kepolisian menjadi Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian disingkat PTIK.
Realisasi pergantian nama dimulai pada tanggal 1 September 950 denga Surat
Keputusan Perdana Menteri No.: 47JPhIII/53.
Pada tanggal 20 Agustus 1954 keluar Surat Keputusan Persana Menteri
No.: 87/PM/II/1954 yang mengubah PTIK menjadi 2 (dua) bagian yang
disebut bagian Persiapan dan bagian Kehlian, dengan sebbutan bagian
Bakaloreat dan bagian Doktoral dengan lama pendidikan seluruhnya 5 tahun

26

yaitu 3 tahun bagian pertama dan 2 tahun bagian kedua. Pembagian dalam 2
masa pedidikan tersebut baru dapat dilaksanakan pada tahun 1961 terhadap
mahasiiswa PTIK angkatan VIII yang diterima pada tahun 1958.
Pada tanggal 12 April 1962 melalui Keputusan Presiden RI No:
134/1962 sebutan Menteri Muda KKN (Kepala Kepolisian Negara) sesuai
Keputusan Presiden No.: 154/1959 tangggal 10 Juli 1959, diubah menjadi
Menteri/Kepala Staf Angkatan Kepolisian Negara. Dengan demikian nama
Keplisian Negara diubah menjadi Angkatan Kepolisian Republik Indonesia
(AKRI). Dan berdasarkan Surat Keputusa tersebut nama Balai Pendidikan di
Sukabumi yang semula disebut SPN kemudian diubah menjadi SAK
singkatan dari Sekolah Angkatan Kepolisian.
Mulai pertengahan tahun 1965 di SAK Sukabumi terjadi perubahan
besar-besaran yang prinsipil. Yaitu sebagai realisasi dari Keputusan Presiden
No.: 290/1964 tertanggal 1964 terjadi integrasi antara Kepolisian dengan
Angkatan Perang dalam satu wadah yang disebut Angkatan Bersenjata
Republik Indonesia (ABRI). Kemudian disusul dengan Surat Keputusan
Presiden/Panglima ABRI No.: 185/Koti/1965 yang bersi integrasi Akademiakademi tiap Angkatan dalam Akademi Angkatan Bersenjata Republik
Indonesia disingkat AKABRI.
2. Masa Orde Baru (1965-1988)

27

Untuk dapat menyesuaikan diri dengan Akademi Angkatan yan telah


ada maka Kepolisian yang mempunyai macam-macam corak pendidikan,
seperti PTIK pada bulan Juni 1965 telah mengadakan tindakan perubahan
dalam peralihan sesuai dengan Surat Keutusan Men/Pangab No. Pol.:
468/5b/IV/65/M tanggal 25 Mei 1965. SAK sebgai pusat Pedidikan
Kepolisian di Sukabumi beralih menjadi Akademi Angkatan Kepolisian
(AAK). Komandan SAK yang lama AKBP Drs. R. Moh Soebekti diganti oleh
Brigjen Pol. R. Soemantri Sakimi sebagai Gubernur AAK.
Pada tanggal 1 Oktober 1965 dilaksanakan peresmian dari SAK menadi
AAK oleh Menteri Panglima Angkatan Kepolisian Irjen Pol Soetjipto
Yoedodihardjo. Pada saat pelantikan mahasiswa berjumlah 41 orang
merupakan sisa dari hasil seleksi PTIK Agkatan XI yang semula akan
dimasukkan menjadi mahasiswa PTIK Angkatan XII.
Dengan Surat Keputusan Presiden/Panglima Tertinggi ABRI/Panglima
Besar Komando Operasi Tertinggi No.: 185/Koti/1965 tanggal 16 Desember
1965 tentang peresmian berdirinya Akademi Angkatan Bersenjata, maka
Akademi Angkatan Kepolisian berubah status dan namanya menjadi
AKABRI Bagian Kepolisian, dan berada di bawah pembinaan dan
pengendalian Danjen AKABRI bersama AKABRI bagian yang lain.
Pada tanggal

Maret

1968

sesuai

dengan

Keputusan

Men

Hankam/Pangab No.Kep/B/76/1968 tentang penunjukan Kodya Magelang

28

sebagai tempat AKABRI dalam rangka integrasi total, ternyata setelah


memalui kajian secara mendalam disimpulkan bahwa Kodya Magelang
kurang sepebuhnya dapat menampung kebutuhan dan aspirasi suatu Akademi
ABRI pada umumnya, khususnya kurang menjamin sifat-sifat khas
Angkatan/Polri di lingkungan Dep. Hankam. Atas dasar saran staf dan
pengkajian secara mendalam yang diarahkan pada tugas pokok AKABRI,
maka Menhankam/Pangab dalam rapat yang dilaksanakan tanggal 27 Agustus
1973 mengambil keputusan bahwa tempat AKABRI dalam rangka integrasi
penuh/total, ditetapkan berlokasi di Mako AKABRI yaitu untuk AKABRI
Bagian Laut dan AKABRI Bagian Kepolisian di Kodya Semarang, AKABRI
Bagian Umum dan Darat tetap di Magelang, dan AKABRI Bagian Udara
tetap di Jogjakarta.
Sebagai pengukuhan dari Keputusan Men. Hankam/Pangab tersebut,
telah dikeluarkan Skep. Menhankam/Pangab. No.: Skep/B/300/IV/1974
tanggal 4 April 1974 tentang pengesahan pembangunan proyek Akabri
Semarang dan Skep. Manhankam/Pangab. No.: Skep/B/304//IV/1974 tanggal
4 April 1974 tentang penunjukan Danjen AKABRI sebagai Kepala program
Pembangunan Proyek Akabri di Semarang, yang selanjutnya dalam
perencanaan pembangunan dibagi dalam tahapan sebagai berikut ; tahun
1975-1977 pembangunan komplek AKABRI Bagian Kepolisian, tahun 1978-

29

1979 pembangunan komplek Mako AKABRI, dan tahun 1980-1982


pembangunan komplek AKABRI Bagian Laut.
Seluruh komplek AKABRI di Semarang yang berlokasi di daerah Candi
Baru tersebut semula direncanakan akan berada di sebelah utara jalan by pass
(sekarang JL. Tol Jatingaleh-Krapyak). Karena alasan konstelasi tanah dan
lain-lain, maka terpaksa komplek AKABRI terpotong jalan by pass, sedang
untuk menghubungkan komplek yang terpisah tersebut dibutuhkan sebuah
viaduct oleh PUTL.
Pembangunan fisik sesuai rencana dimulai sejak tahun 1975/1976,
dalam pelaksanaannya apabila dinilai volume pembangunan fisik yang dapat
dicapai sampai tahun 1976/1977, maka proyek AKABRI didiperkirakan akan
selesai dalam waktu 20 tahun. Kasum Hankam pada ekspose tanggal 9
November 1976 memutuskan untuk mempercepat pelaksanaan pembangunan
fisik, sehinga AKABRI Bagian Kepolisian dapat melaksanakan kepindahan
dan menyelenggarakan pendidikan di Semarang. Dengan terealisasinya
Komplek AKABRI Bagian Kepolisian, maka secara bertahap sejak awal
tahun 1980 bertepatan dengan hari Bhayangkara ke-34, komplek AKABRI
Bagian Kepolisian di Semarang diresmikan penggunaannya oleh Kapolri
Jenderal Polisi Drs. Awaloedin Djamin, MPA. Pada waktu itu Gubernur
Akpol dijabat oleh Mayjend Pol. R. Soetrasno.

30

Dengan dikeluarkannya Skep Pangab. No.: Kep/01/P/I/1984 tanggal 29


Januari 1984 tentang pokok-pokok organisasi dan fungsi Badan-badan
Pelaksana

Pusat

ABRI,

maka

tugas

AKABRI

ditetapkan

sebagai

mengkoordinasikan penyelenggaraan pembinaan pendidikan pembentukan


Perwira yang berjiwa Sapta Marga, memiliki kemapuan dasar matra serta
menguasahi pengetahuan setingkat akademik agar mampu mengembangkan
pribadi, sebagai kader pemimpin di lingkungan ABRI. Dengan Sprin Pangab
No.: Sprin/07/VI/1984 tanggal 17 Juni 1984 tentang Perintah Serah Terima
Pengalihan

AKABRI

Bagian

dari

Danjen

AKABRI

kepada

Kas

Angkatan/Kapolri, maka AKABRI Bagian Kepolisian berubah nama dan


statusnya menjadi Akademi Kepolisian yang berada langsung dibawah
Kapolri sesuai dengan Skep Kapolri No. Pol.: Skep/36/I/1985 tanggal 24
Janari 1985.
Dengan terpisahnya Akpol dengan Mako Akademi TNI, maka semenjak
tahun

2000/2001

penyelenggaraan

seleksi/werving

Taruna

Akpol

dilaksanakan oleh Polri, dan pelaksanaan pendidikan dilaksanakan sendiri


oleh Akpol. Atribut dan seragam Taruna, serta segala sesuatu cirri-ciri yan
ada pada Taruna Akpol telah berbeda pula dengan identitas atau atribut
Taruna Akademi TNI.

31

3. Masa Reformasi (1998-SEKARANG)


Pada taun 1998 telah terjadi gerakan reformasi yang dilancarkan oleh
masyarakat khususnya dilakukan oleh mahasiswa, yang berkibat lengsernya
Soeharto sebagai Presiden RI pada tanggal 21 Mei 1998. Dengan terus
bergulirnya arus reformasi yang menuntut terwujudnya tatanan demokratis,
maka pada Sidang Istimewa MPR tahun 1998 telah dikeluarkan ketetapanketetapan yang salah satunya Tap MPR No.: X.MPR/1998 tentang pokokpokok reformasi kehidupan nasional sebagai haluan Negara,

yang

menginstruksikan kepada Presiden selaku mandataris MPR, antara lain untuk


melaksanakan Agenda Reformasi dibidang hukum dalam bentuk Pemisahan
secara tugas, fungsi, dan wewenangn aparatur penegak hukum agar dapat
dicapai proporsionalitas, profesionalitas, dan integritas yang utuh.. atas dasar
ketetapan MPR tersebut dikeluarkan instruksi kebijakan dalam rangka
pemisahan Kepolisian Negara RI dan ABRI yang ditindaklanjuti dengan
Keputusan Menhankam/Pangab No.: Kep/05/P/III/1999 tanggal 31 Maret
1999 tentang pelimpahan wewenang penyelenggaraan pembinaan Kepolisian
Negara RI dari Pangab kepada Menhankam yang realisasinya dilaksanakan
pada tanggal 1 April 1999. Oleh karena secara teknis administrasi Akpol
dibawah kendali Mako AKABRI, maka sebagai tindak lanjut Keputusan
Pangab No.: 05/P/III/1999 tersebut dikeluarkan Skep Kapolri No. Skep.:
389/IV/1999 tanggal 9 April 1999 tentang Akpol mandiri. Maka semenjak

32

tanggal 10 April 1999 Akpol dinyatakan terpisah dari Akademi Militer,


Akademi Angkatan Laut, dan Akademi Angkatan Udara, serta teknis
administrasi juga lepas dari Mako Akademi TNI (dulu Mako AKABRI).
Pada perkembangan selanjutnya, sejak tahun akademi 1999/2000
kurikulum integrasi sudah tidak wajib lagi diikuti oleh Taruna Akpol namun
khusus untuk latihan integrasi Taruna Dewasa/Wreda yang disingkat
Latsitarda, dan Prasetya Perwira disingkat Praspa (pada Polri istilah Praspa
diganti menjadi pelantikan anggota Kepolisian RI, sesuai dengan UU No. 2
tahun 2002 tentang Kepolisian Negara RI) dianggap masih relevan dan
banyak segi positifnya bagi Taruna Akpol, maka sampai saat ini masih
dilaksanakan bersama-sama dengan Akademi TNI.
Akpol adalah unsur pelaksana pendidikan pembentukan Perwira Polri
yang berda dibawah Kapolri. Berdasarkan Surat Keputusan Kapolri No.:
Kep/53/X/2002 tanggal 17 Oktober 2002 tentang Organisasi dan Tata Kerja
Akademi

Kepolisian,

tugas

pokok

Akpol

Adalah

menyelenggaraan

pendidikan pembentukan Perwira Polri yang bersumber dari masyarakat


umum.
Seiring dengan beralihnya status Polri yang tidak lagi merupakan bagian
dari ABRI, maka sejak tanggal 10 April 1999 Akpol yang dipimpijn oleh
Gubernur sebagai badan pelaksana pusat pendidikan pembentukan calon
Perwira Polri yang secara struktural berkedudukan langsung dibawah Kapolri,

33

yang juga menyelenggarakan Pendidikan Pertama Sumber Sarjana (PPSS),


yaitu penddikan Perwira Polri yang direkrut dari sarjana S1 dan D3.
Dalam melaksanakan tugasya, Akpol mempunyai fungsi untuk:
1. Menyelanggarakan pendidikan calon Perwira Polri yang bersumber dari
lulusan Sekolah Menengah Umum atau yang sederajat.
2. Menyelenggararakan pendidikan calon Perwira Polri yang bersumber dari
lulusan D3 atau Sarjana.
3. Menyelenggarakan publikasi dan kerjasama dalam rangka menyaring
peminat/peserta pendidikan calon Perwira baik Akpol/PPSS.
4. Menyelenggarakan kerjasama dengan Akademi TNI dan lembaga
pendidikan lainnya.
5. Pengkajian dan pengembangan sistem pendidikan Akpol termasuk materi
dan kurikulum pendidikan serta metode belajar-mengajar dan pegasuhan.1

B. VISI DAN MISI LEMBAGA PENDIDIKAN AKADEMI KEPOLISIAN


a. VISI
Menjadi lembaga pendidikan kedinasan berwawasan global, berkualitas untuk
terwujudnya perwira polri sebagai first line supervisor dan calon pimpinan
polri yang memiliki atau menguasai dan mampu mengembangkan taktik,
teknik dan administrasi (management bin) kepolisian serta memadukan

Profil Akademi Kepolisian (the Indonesian Police Academy), h. 1-17

34

pengetahuan dan kecakapan akademisi dalam rangka pelaksanaan tugas polri


untuk menciptakan harkamtibmas.
b. MISI
Menyelenggarakan kegiatan pembelajaran, pengasuhan dan pelatihan yang
berkualitas dalam rangka membentuk perwira polri yang memiliki
kemampuan sebagai first line supersivor.
1. Menyelenggarakan manajemen SDM Akpol yang transparan dan
akuntabel.
Meningkatkan kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana yang menopang
proses pendidikan akpol.
2. Menyelenggarakan penelitian dengan sasaran yang berhubungan dengan
peningkatan profesi dan tugas pokok Kepolisian.
3. Meningkatkan mutu latihan kerja taruna dalam rangka pengabdian kepada
masyarakat dengan titik berat materi pelaksanaan tugas pokok polri bagi
seorang first line supervisor.
4. Menjalin kerja sama secara berkelanjutan dengan Akademi TNI,
perguruan tinggi dan lembaga pendidikan Kepolisian dalam maupun luar
negeri.
5. Menghasilkan lulusan yang menguasai teknik dan administrasi Kepolisian
(managemen pembinaan) dengan memadukan pengetahuan akademis.

35

6. Menghasilkan

lulusan

yang

dapat

mengembangkan teknik

dan

administrasi Kepolisian (managemen pembinaan) dengan memadukan


pengetahuan akademis.

C. TRI BRATA
a. TRI BRATA
Kami Polisi Indonesia;
1. Berbakti kepada nusa dan bangsa dengan penuh ketaqwaan terhadap
Tuhan yang maha esa.
2. Menjunjung tinggi kebenaran, keadilan dan kemanusiaan dalam
menagakan hukum negara kesatuan republik Indondsia yang berdasarkan
kepada Pancasila dan UUD 1945.
3. Senantiasa melindungi, mengoyomi dan melayani masyarakat dengan
keikhlasan untuk mewujudkan keamanan dan ketertiban.
b. Makna TRI BRATA
Tribrata dalam pengertian lama merupakan dua kata yang ditulis tidak
terpisahkan. Tri artinya tiga dan brata / wrata artinya jalan / kaul. Maka
artinya adalah tiga jalan / kaul.
Sedangkan tribrata dalam pengertian baru telah menjadi satu sukukata
TRIBRATA yang artinya TIGA AZAS KEWAJIBAN.

36

Maka dalam pengucapannyapun tidak boleh lagi ada pemenggalan kata


antara TRI dan BRATA ( TRI -BRATA ) melainkan menjadi satu ucapan kata
yaitu TRIBRATA.
Tribrata adalah nilai dasar yang merupakan pedoman moral dan
penuntun nurani bagi setiap anggota Polri serta dapat pula berlaku bagi
pengemban fungsi Kepolisian lainnya.
1. Kami Polisi Indonesia, mengandung makna sebagai berikut;
a. Bahwa kita Polisi Indonesia adalah berketuhanan Yang Maha Esa,
berbangsa Indonesia, bernegara Indonesia dan bermasyarakat Indonesia.
b. Kita harus bangga bahwa kita menjadi Polisi Indonesia, Polisi Indonesia
yang bangga dengan bangsanya, negaranya dan masyarakatnya.
c. Bangga menjadi Polisi yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
bangga menjadi Polisi yang selalu setia kepada Pimpinan Polri dan
Negara. Juga harus bangga menjadi Polisi yang senantiasa berani
bertanggung jawab atas apa yang rnenjadi tugasnya.
d. Merupakan pernyataan ikatan jiwa korsa yang kuat antar sesama
anggota Polri, untuk selalu memupuk kebersamaan merasa senasib
sepenanggungan. Dengan tidak saling menjungkirbalikkan antar sesama
anggota hanya karena kepentingan pribadinya.
e.

Merupakan pernyataan netralitas kita anggota Polri artinya tidak


berpihaknya kita anggota Polri terhadap urusan politik atau kebijakan

37

pemerintah ataupun dalam berbagai perkara yang kita tangani baik


secara institusi maupun pribadi, sepanjang kita masih menjadi anggota
Polri.
2. BRATA PERTAMA: Kami Polisi Indonesia berbakti kepada nusa dan
bangsa dengan penuh ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa,
mengandung makna sebagai berikut:
a. Kita adalah Polisi sekaligus juga sebagai hamba Tuhan. Maka ketika
kita melaksanakan tugas dan fungsi kita sebagai anggota Polisi
disaat itu juga kita harus ingat dan sadar bahwa Tuhan selalu
bersama kita dan sedang mengawasi apa saja yang kita kerjakan.
Maka jadikanlah tugas kita itu sebagai bagian amal ibadah kita
kepada Tuhan.
b. Kita harus memiliki nilai nasionalisme dan kebangsaan, dalam arti
bahwa dalam tugas kita haruslah mendahulukan kepentingan bangsa
dan negara dari pada kepentingan pribadi atau golongan.
c. Kita polisi Indonesia adalah Polisi bangsa Indonesia, Polisi negara
Indonesia dan bukan sebagai alat politik atau alat pemerintah.
3. BRATA KEDUA: Kami Polisi Indonesia menjunjung tinggi nilai
kebenaran, keadilan dan kemanusiaan dalam menegakkan hukum negara
kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UndangUndang Dasar 1945, mengandung makna:

38

a. Bahwa kita anggota Polri adalah aparat negara sebagai penegak


hukum, haruslah siap menegakkan hukum baik terhadap diri pribadi
maupun orang lain/masyarakat.
b. Haruslah kita ketahui bahwa negara kita adalah negara hokum bukan
negara kekuasaan.
c. Bahwa kita anggota Polri harus sanggup dan mampu untuk selalu
menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan dengan membela yang
benar dengan kebenarannya serta kita harus menghargai dan
menghormati hak-hak orang lain,
d. Kita anggota Polri harus mempertanggungjawabkan pelaksanaan tugas
kita kepada masyarakat, bangsa dan negara.
e. Kita anggota Polri harus mengakui bahwa negara kita adalah Negara
Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan
Undang-Undang Dasar 1945.
4. BRATA KETIGA: Kami Polisi Indonesia senantiasa melindungi,
mengayomi dan melayani masyarakat dengan keikhlasan untuk mewujudkan
keamanan dan ketertiban, mengandung makna:
a. Bahwa kita anggota Polri harus selalu siap melindungi, mengayomi
dan melayani masyarakat dengan penuh keikhlasan, tanpa paksaan
siapapun serta tanpa adanya kepentingan apapun kecuali karena tugas
dan tanggung jawab semata.

39

b. Bahwa kita anggota Polri secara umum tugasnya adalah sebagai


Pelindung dan Pelayan masyarakat.
c.

Masyarakat adalah sentral/pusatnya dimanapun kita anggota Polri


mengabdikan diri.

d. Antara kita anggota Polri dan masyarakat yang kita layani adalah
sejajar dimata hukum dan perundang-undangan negara. Artinya kita
tidak boleh semena-mena dan semaunya sendiri, kita tidak boleh
menganggap bahwa masyarakat itu bodoh dan lain-lain. Akan tetapi
jadikanlah

masyarakat

itu

sebagai

mitra

dalam

ketertiban,

kenyamanan, keamanan dan penegakkan hukum.

D. SEJARAH PEMBINAAN MENTAL PERSONEL AKADEMI KEPOLISIAN


Berdasarkan Instruksi Kapolri No. Pol.: INS/19/X/1979 tanggal 5 Oktober
1979 tentang Pedoman Penyusunan Sejarah Kesatuan Polri, DISBINTALPOL
telah mengeluarkan Surat Perintah No Pol.: Sprin/11/V/80/Tal tanggal 5 Mei
1980 untuk menyusun sejarah Dinas Pembinaan Mental Polri.
Dinas Pembinaan Mental Polri ini adalah suatu dinas yang merupakan
BALAKPUS pada Mabes Polri yang mempunyai tugas pokok membina mental
anggota Polri dan keluarganya sehingga akan menghasilkan anggota Polri yang
mampu melaksanakan tugasnya dengan baik. Pembinaan mental itu sendiri ialah
segala usaha, tindakan dan kegiatan untuk membentuk, memelihara, serta

40

memantapkan mental anggtota berdasarkan Pancasila, Sumpah Prajurit, Sapta


Marga, Cadek melalui pembinaan rohani, santiaji dan santikarma serta pembinaan
tradisi sehingga mampu dan mantap dalam melaksanakan tugasnya dengan baik
dan benar.
Perkembangan dan pertumbuhan Dinas Pembinaan Mental Polri.
1. Periode 1945-1952
Sebenarnya kegiatan pembinaan mental sudah dimulai diselenggarakan
sejak adanya Polisi Negara RI, walaupun masa itu belum ada suatu dinas
tertentu yang diberi tugas untuk menanganinya secara formal-organisatoris.
Hal ini dibuktkan dengan turut aktifnya anggota Polri dalam perjuangan fisik
mempertahankan dan menegakkan Negara Proklamasi 17 Agustus 1945.
Karena itu mental pejuang Nasional, mental pejuang Pancasila sudah ada di
dalam kalangan Kepolisian Negara. Kegiatan pembinaan mental pada waktu
itu berhubungan dengan :
a. Peranan perilaku dan sikap para anggota Kepolisian Negara pada masa
periode revolusi fisik, yaitu pada kancah perjuangan melucuti Jepang,
melawan pendaratan pasukan-pasukan Inggris yang diikuti pendaratan
tentara Belanda. Mental perjuangan ini timbul dari jiwa anggota sendiri,
kemudian menjalar kedalam seluruh tubuh Kepolisian Negara pada waktu
itu. Saat itu memang belum ada lembaga dari dinas yang khusus dalam hal
pembinaan mantal.

41

Sejarah membuktikan bahwa memalui suri tauladan itu memmpunyai


pengaruh besar dalam hal pembinaan mental. Terbukti pula akan benarnya
Catur Prasetya, bahwa apabila ada anggota Kepolisian Negara dengan
semangat Tan Satrisna menceburkan diri dalam perjuangan, maka
semangat perjuangan itu akan membangkitkan semangat dan mental
anggota Polri itu sendiri dan lainnya.
b. Keadaan Negara yang sungguh gawat pada waktu itu telah mendorong
angkatan muda Polisi RI dan tiap anggota Kepolisian Negara yang
mempunyai rasa patriotisme, untuk mendirikan perkumpulan atau gerakan
seperti AMRI dan sebagainya. Tentunya hal ini dilatarbelakangi oleh
semangat pengabdian diri pada kepentingan Nasional. Hal ini merupakan
kebulatan untuk melepaskan diri dari kalaziman tradisi Polisi menurut
pengertian Internasional (dunia barat pada umumnya) yaitu Polisi tidak
ikut bertempur. Dengan berdirinya Persatuan Pegawai Polisi, maka
terdapatlah suatu lembaga yang berusaha memelihara mental pejuang para
anggota Kepolisian bagian dari organisasi Polisi.
c. Adanya kebiasaan-kebiasaan para komandan Kesatuan masa itu
memberikan

bimbingan

dan

penerangan-penerangan

yang

pada

hakekatnya dapat dinilai sebagai kegatan pembinaan mental/jiwa prajurit.


d. Begitu pula peran dinas pendidikan didalam menanamkan tata tertib atau
disiplin Kepolisian kepada calon anggota Polisi. Walaupun pembinaan

42

mental tidak ada pada mata pelajaran, tetapi tiap diri seseorang pengajar
akan turut bertangungjawab mengenai mental para pelajar. Sehingga
tugas-tugas tersebut pada hakekatnya sudah diselenggarrakan juga dalam
lembaga-lembaga pendidikan.
Sehingga jelas bahwa sebelum adanya lembaga Pembinaan Mental Polri
yang bertugas khusus, maka kegiatan-kegiatan pembinaan mental telah
diselenggarrakan di Kepolisian Negara RI.
2. Periode 1953-1954
Dengan makin berkembangnya situasi dan kondisi masyarakat dan
bangsa maka Kepolisian Negara RI khususnya dituntut untuk menyesuaikan
diri. Maka dengan order Kepala Kepolisian Negara No.: 11/XVI/1953
dibentuklah DINAS KESEJAHTERAAN, yang mempunyai tugas dalam tiga
lapangan, yaitu:
a. Kebutuhan Kebendaan
b. Kebutuhan Rohani
c. Kebutuhan Penghiburan
Yang ditujukan bagi anggota dan keluarga Polri.
Salah satu kegiatan dalam rangka tugas mencukupi kebutuhan rohani
ialah dengan dijadikannya bacaan berupa surat kabar, majalah, dan lainlainnya yang berguna untuk daerah Jakarta Raya. Rwatan Rohani pada tahun
154 di kalangan Kepolisian Negara RI telah dirintis oleh Kepala Kepolisian

43

Komisariat Jakarta Raya Mayjen Polisi H. Djen Muhamad Suryopranoto


(alm.)
Selanjutnya setelah beliau menjabat sebgai wakil Kepala Kepolisian
Negara (Deputi KKN), di lingkungan Mabes Polisi Negara (MBPN) mulai
dibentuk suatu Ruwatan Rohani khusus bagi anggota Polisi dan keluarganya
pada tahun 1959, dengan peraturan sementara menteri muda Kepolisian ada
tercantum istilah kesejahteraan rohani disamping kesejahteraan jasmani.
Saat itu sebagai pipinan Rawatan Rohani masih dirangkap oleh
Pimpinan Dinas Kesejahteraan, dan personel stafnya baru ada 3 (tiga) orang
yaitu; AKP Panusunan Siregar, Brigadir Polisi G.H. Sitompul, dan PHO A.
Sjoekoer Sjahidi.
Pada tahun 1960, bagian ini mempunyai struktur organisasi yang agak
jelas, dimana selaku pimpinan ditunjuk Kompol II Drs. Adam Syamsul Bahri
Prawiranegara. Sedangkan struktur organisasinya adalah sebagai berikut ;
Seksi rohani Sosial membawahi tiga sub seksi yaitu masing-masing sub seksi
penerangan, sub seksi pelayanan, dan sub seksi tata usaha. Saat itu kegiatan
hanya terbatas kapada agama Islam karena belum adanya tenaga rohaniawan
untuk agama lainnya. Sedangkan kegiatannya adalag sebagai berikut:
a. Memberikan penerangan agama (Islam) kepada anggota dan keluarganya.
b. Mengadakan peringatan-peringatan hari besar agama bagi anggota dan
keluarganya.

44

c. Memberikan pelayanan pemakaman anggota/keluarga yang ditimpa


kemalangan.
d. Memberi pelayanan dan pengurusan kepada anggota/keluarga yang
menunaikan ibadah haji.
e. Keterbatasan kegiatan yang dicanangkan karena sarana logistik yang
masih minim.
Dengan terbentuknya PUSLAT KOPLAKRI (KOBANG DIKLAT)
pada tahun 1964, maka bagian ROH SOS dilepaskan dari Dinas
Kesejahteraan dan kemudian masuk ke dalam Pusplat tersebut. Perubahan ini
berdasar kepada SK. MEN. PANGAK. No. Pol.: 11/SK/MK/1964 tanggal 14
Februari 1964. Sebagai kegiatannya ialah melanjutkan kegiatan tahun-tahun
sebelumya. Sedangkan untuk pimpinannya mengalami perubahan yaitu
diganti oleh Kompol Ir. Nasrudin Lukman Tanujiwa. Untuk personel dan
logistiknya juga dibawah Puslat.
3. Periode 1965-1969
a. Masa PUSROH
Dengan SK. MEN/PANGAK RI No. Pol.: 114/SK/MK/1965 tanggal 20
November 1965, bagian Rohani Sosial dilebur menjadi Pusat Rawatan
Rohani Angkatan Kepolisian RI disingkat PUSROH AKRI. Sebagai
pimpinannya ditunjuk Brigjen Pol. H. A. Bastari. Kiranya peleburan ini
dengan motivasi adanya usaha memperdalam bimbingan kepada anggota

45

AKRI kearah pembentukan manusia prajurit yang mempunyai landasan


iman yang kuat dalam rangka pelaksanaan naluri dan character building.
Dinas PUSROH ini mempunyai tugas pokok antara lain :
1. Membantu pimpinan Pusat AKRI dalam rangka pengendalian serta
bimbingan terhadap penyelenggaraan Rawatan Rohani ditingkat pusat.
2. Mengusahakan dan memelihara hubungan sebaik-baiknya dengan
instansi-instansi Pemerintahan dan dinas-dinas yang fungsi dan peran
serta keaktifannya dalam bidang kerohanian/keagamaan.
Sedangkan sebagai fungsi utamanya adalah:
1. Memberikan nasehat dan saran kepada Pimpinan AKRI dalam bidang
yang berhubungan dengan rawatan rohani.
2. Memperdalam usaha bimbingan kepada setiap anggota AKRI kearah
pembentukan manusia prajurit yang memiliki landasan iman yang
kuat.
3. Meningkatkan moral dan sifat Pancasila anggota AKRI.
Mengenai struktur organisasinya, adalah sebagai berikut:
Dalam rangka peningkatan bidang kerohanian/keagamaan dengan
SK. MEN/PANGAK No. Pol.: 95/SK/MK/1966 dibentuklah Rawatan
Rohani di KODAK-KODAK dan kesatuan lainnya. Selanjutnya sebagai
langkah pertama, KAPUSROH mencari tenaga ahli agama/rohaniawan.

46

Hal ini dimaksudkan untuk tugas pemeliharaan rohani dari masing-masing


agama serta untuk pengisian tenaga rohaniawan di daerah-daerah.
Pada tahun 1967, diadakan penyempurnaan dasar-dasar struktur
Organisasi Kepolisian. Penyempurnaan ini berdasarkan kepada Perauran
MEN. PANGAK No. Pol.: 5/Prt/MEN.PANGAK/1967 tanggal 1 Juli
1967. Dalam penyemurnaan itu, PUSROH merupakan salah satu staf.
Kiranya penyempurnaan ini didasari oleh pertimbangan bahwa sejalan
dengan perkembangan ketatanegaran RI serta untuk melaksanakan doktrin
Hankamnas dan perjuangan ABRI Cadek.
b. Masa Direktorat Pembinaan Jiwa Revulusi/PUSBINTAL.
Selain ada PUSROH saat itu juga ada Direktorat Pembinaan Jiwa
Revolusi/Pusat Pembinaan Mental. Dimana pembentukan dinas ini
berdasar pada Instruksi Menteri/Panglima Angkatan Kepolisian No. Pol.:
44/INST/MK/1965 tentang Regrouping sementara komponen-komponen
di Departemen Angkatan Kepolisian. Dinas ini termasuk dalam koordinasi
dan supervise asisten MEN. PANGAK di bawah naungan bidang Deputi
MEN/PANGAK

Urusan

Khusus.

Sedangkan

sebagai

realisasi

pembentukannya dikeluarkan Instruksi No. Pol.: 49/INS/MK/1965 tanggal


1 Juli 1965. Adapun yang melatarbelakangi adalah adanya Operasi Mental
Tan Satrisna yang dibentuk tanggal 1 Maret 1965. Sebagai sasaran
Operasi Mental Tan Satrisna ialah : Pebinaan Mental anggota Polisi dan

47

keluarganya. Orerasi ini dilaksnakan dengan metode ceramah/indoktrinasi


dengan bahan 7 (tujuh) bahan pokok (MANIPOL USDEK) yang
berlandaskan UUD45 dan Pancasila.
Dengan

Surat

Keputusan

MEN/PANGAK

No.

Pol.:

5/PRT/MEN/PANGAK/1967 tentang penyempurnaan dasar-dasar struktur


Organisasi Angkatan Kepolisian dibentuklah Pusat Pembinaan Mental
sebagai perubahan dari Direktorat Pembinaan Jiwa Revolusi.
Dan untuk masing-masing asisten dibantu oleh bagian-bagian sesuai
bidangnya. Baik PUSROH maupun PUSBINTAL bergerak dalam
bidangnya masing-masing. Yang PUSROH dalam bidang agama dan
PUSBINTAL dalam bidang ideologi Pancasila.
c. Masa PUSROHTAL
PUSROHTAL adalah hasil peleburan dari pusroh dan pusbintal.
Peleburan ini berdasarkan SK PANGAK No. Pol.: 20/SK/PANGAK/1969
tanggal 15 Februari 1969 sebagai kelanjutan dari pelaksanaan Peraturan
PANGAK No. Pol.: 1/PRT/PANGAK/1968 tanggal 6 Januari 1969. Dan
semenjak tanggal 13 Mei 1969 secara resmi PUSROHTAL berdiri,
dengan dipimpin oleh Brigjen Pol. Drs. Sugiarto Ruslan disamping
tugasnya sebagai PATI diperbantukan pada Kapolri. Peleburan ini
dimaksudkan untuk menyelaraskan pelaksanaan tugas PUSROH dan

48

PUSBINTAL,

sehingga

diharapkan

dapat

tercapainya

hasil

penyelenggaran tugas pembinaan yang lebih baik.


4. Periode 1970-1977
Setahun kemudian PUSROHTAL berdiri maka diadakan perubahan
nama dari PUSROHTAL menjadi PUSBINROHTAL, yaitu pada tahun 1970.
Perubahan

ini

berdasarkan

SKEP

KAPOLRI

No.

Pol.:

113/SK/KAPOLRI/1970 tanggal 1 September 1970 PUSBINROHTAL ini


berstatus baru ialah sebagai unsur Komando Induk Administrasi Personel. Hal
ini

selaras

dengan

SKEP

MENHAMKAM/PANGAB

No.:

KEP/A/385/VIII/1970 yang menyebutkan bahwa Pembinaan Rohani dan


Mental merupakan salah satu segi dari bidang tugas pembinaan personel yang
merupakan salah satu fungsi organik Polri.
5. Peride 1977
Pada pertengahan tahun 1977, yaitu tepatnya pada HUT Bhayangkara
XXXI dengan surat keputusan Kapolri No. Pol.: Skep/50/VII/1977 tanggal 1
Juli

1977

terbentuklah

PUSBINROHTAL.

Sesuai

DISBINTALPOL
dengan

hasil

keluarnya

perubahan
keputusan

nama
MEN.

HANKAM/PANGAB No. KEP/A/53/X/1971 tanggal 14 Oktober 1971


tentang pokok-pokok Organisasi dan Prosedur Pusat Pembinaan Mental ABRI
dan tentang Lembaga-lembaga Pembinaan Mental Angkatan dan Polri dimana
disebutkan bahwa dinas-dinas Rohani padaAngkatan dan Polri dihapuskan

49

dan untuk melaksanakan tugas Pembinaan Rohani dan Mental di Angkatan


dan Polri dibentuk DISBINTAL.
Hal ini dimaksudkan agar terdapat keseragaman dalam peminaan Rohani dan
Mental di Angkatan dan Polri dengan berpedoman kepada segala petunjuk
dari PUSBINTAL ABRI.
Disbintalpol mempunyai tugas pokok dan fungsi utama sebagaimana
dinyatakan dalam lampiran SK. KAPOLRI No. 50 tersebut diatas. Tugas
pokok itu ialah Membantu Kapolri untuk menyelanggaran pembinaan
mental/spiritual personel Polri dan keluarganya dalam rangka memelihara dan
mempertinggi juwa keprajuritan dan samangat perjuangan ABRI.
Sebab fungsi utamanya ialah :
a. Menyusun rencana dan program pembinaan mental personel Polri
berdasarkan rencana dan program Polri.
b. Menyelenggarakan pembinaan mental personel Polri dan Keluarganya.
c. Mengendalikan

dan

mengawasi

pelaksanaan

program-programnya

sehingga terjamin tercapainya sasaran secara berhasil dan berdaya guna.


d. Mengajukan pertimbangan/saran kepada Kapolri khususnya mengenai halhal yang berhubungan dengan tugasnya. 2
Selanjutnya tugas pokok dan fungsi utama itu dijabarkan dalam bagianbagian dimana masing-masing bagian terdiri dari tiga Biro, yaitu biro
Penerangan, biro Peribadatan, dan biro Pembinaan Agama.
2

Sejarah Ringkas Dinas Pembinaan Mental Polri, 1980, h. 2-14

50

Karena keterbatasan informasi yang peneliti dapatkan. Maka sejarah


dinas pembinaan mental polri ini tidak dapat peneliti paparkan secara jelas.
Akan tetapi dari hasil wawancara yang peneliti lakukan terhadap salah satu
mantan staf Ur Watpers Rochmad, S. Pd.I tanggal 25 September 2011 yang
kebetulan beliau pernah menjadi staf pada dinas tersebut sampai tahun 2005
yang kini beliau menjadi Paur Gadik pada Lembaga Pendidikan Akademi
Kepolisian menuturkan bahwa pada periode tahun 1987 1995 DISBINTAL
dipimpin oleh AKBP Drs. H. Jauhari, BA, sebagai Kabag Bintal dan periode
1995-1999 digantikan oleh AKP Drs. Yusuf Afandi selaku Kaur Watpers.
Pada masa periode AKP Drs. Yusuf Afandi ini yang sebelumnya bernama
PUSBINTAL berubah menjadi Ur Watpers (Urusan Perawatan Personel) yang
kebetulan dipimpin oleh perwira berpangkat AKP (Job Kompol). Sedangkan
periode 1999-2010 Jabatan Kaur Watpers digantikan oleh AKP Drs. Irzam.
Periode awal hingga menjelang akhir thun 2010 posisi Kaur Watpers
digantikan oleh Kompol Saemuri, S.Pd.I, dan selanjutnya akhir tahun 2010sekarang sesuai dengan PERKAP 21 Tahun 2010 posisi Kaur Watpers
menjadi Paur Watpers yang dipimpin oleh seorang Inspektur Satu Polisi
dengan Job jabatan AKP yaitu IPTU Sutrisno, SH.
Perlu diketahui berdasarkan wawancara peneliti terhadap Paur Watpers
Iptu Sutrisno, SH.,tanggal 2 Oktober 2011 Beliau menuturkan bahwa bagian
Ur Watpers dibagi menjadi beberapa tugas diantaranya;

51

1. Menyelenggarakan tugas pokok pembinaan agama baik Islam, Kristen,


Katholik, Hindu maupun Budha yang masing-masing ada penanggung
jawabnya masing-masing.
2. Menyelenggarakan peringatan-peringatan hari-hari besar keagamaan.
3. Menyelenggarakan Tes Kesamataan Jasmani Personel yang dilakukan 2
(dua) kali dalam setahun.
4. Melayani administrasi personel yang berupa ijin atau cuti, termasuk di
dalamnya cuti menunaikan ibadah haji, dan lain-lain.
5. Melayani administrasi dan pembinaan personel yang akan melakukan
nikah atau cerai, dan lain-lain.

E. LATAR

BELAKANG

SOSIAL

GEOGRAFIS,

EKONOMI,

DAN

KEAGAMAAN TARUNA DAN TARUNI AKPOL


Sebelum penulis memaparkan lebih lanjut alangkah baiknya kita perhatikan
tabel di bawah ini:
Tabel 1
Biodata Taruna dan Taruni
No

Nama

Umur
(thn)

Pekerjaan
orang tua

Daerah asal

Ahmad Yoga

19

PNS

NTB

Rully Zulon F

18

Polri

Batam

Deni

20

PNS

52

Mulya Sugiharto

21

PNS

Jabar

Satrio Bagus W

18

Polri

Jabar

Wahyu Agha Ari SS

19

PNS

Malang

Rahandi GP

21

Polri

Yojakarta

Taufik G S

19

Polri

Ternate

M. Hasbi

19

Palembang

10

Sandy Pratama P

19

Polri

Kaltim

11

Pratama Yuda

18

Wiraswasta

Palembang

12

Indik Rusmono

21

Wiraswasta

Probolinggo

13

Kaisar Ariadi P

19

Guru

NTB

14

Galih Putera S

19

TNI-AL

Jatim

15

Ahmad Haris

19

Polri

Lampung

16

Jusman Mori

19

Tani

Palu

17

Aris Septianto

19

Swasta

Temanggung

18

Arif Wiranto

18

PNS

Pati

19

M. Salman Fakri

18

Polri

Aceh

20

CF Timur

18

Polri

Tuban

21

Alwafi Setyana M

17

Swasta

Ungaran

22

Afuza G

18

Polri

Jakarta

23

Sigid Santoso

18

Swasta

Bdr. Lampung

24

Igu Fajar A

18

PNS

Bogor

25

Yudhir Dwi P

23

Pedagang

Mojokerto

26

Afdi K

18

Swasta

Sumsel

27

Willy Y

18

Swasta

Purwokerto

53

28

Rendie

19

Polri

Bandung

29

Bagus Yudo

18

Pengusaha

Pekalongan

30

Nur Ramadhan M

18

PNS

Yogyakarta

31

M. Zulkarnaen

19

Swasta

Aceh

32

Avrilendi

18

Dosen

Purwokerto

33

Aldo Primananda P

18

PNS

Lampung

34

Serdika

19

Polri

Jatim

35

Anshary F

18

Polri

Buton

36

M. Puteh

18

Swasta

Aceh

37

R. Prabowo

20

Swasta

Yogyakarta

38

Deki Marizaldi

18

BUMN

Padang

39

Riza

18

PNS

40

Wido Dwi AZ

19

Swasta

Ngawi

41

Bayu R

19

PNS

Lampung

42

Dwi GAlih R

20

Swasta

Jatim

43

Irfan Molih NA

19

PNS

Bandung

44

Hilal

18

PNS

Pati

45

Ivan Prabowo

18

Polri

Jateng

46

Aris Satrio S

20

Guru

Palembang

47

Hadi Siswsanto

19

Swasta

Pati

48

Yuda Prakoso

18

Polri

Banten

49

Sigit Wahyu A

20

Sekdes

Jatim

50

Iqbal Ramadhan

17

Polri (purn)

Bandung

51

Andre Tri

19

Pegawai

Padang

54

52

Zeska Julian TWS

18

TNI-AD

Palembang

53

R. Manggala Agusng

18

Polri

Jakarta

54

Regan

18

Swasta

Swasta

55

Zaeni Aji B

19

Polri

Jateng

56

Guntur

18

Polri

Jateng

57

Rachmad Ridho S

17

Polri

Makasar

58

Singgih

18

PNS

Blora

59

M. Hafid F

19

Polri

Jabar

60

Bima Sakti

18

Polri

Jakarta

61

Dian Purnomo

20

Swasta

Surabaya

a. Latar Belakang Sosial Geografis


Yang dimaksud kondisi sosial geografis di sini adalah bahwa komposisi
Taruna dan Taruni sendiri diambil dari seluruh daerah yang ada di Indonesia,
dengan kata lain setiap daerah yang ada di Indonesia ini mendapat kesempatan
untuk mengirikan wakilnya untuk menjadi kader pemimpinPolri ini. Dan mereka
dipertemukan dalam satu tempat untuk digodok menjadi Perwira Polri yang
diharapkan.
Melihat kondisi ini tentunya untuk menyeragamkan pemikiran mereka
tidaklah mudah. Hal ini dikarenakan setiap daerah pastilah memiliki adat-istiadat,
dan ritual keagamaan yang berbeda. Kepercayaan yang tumbuh sangat
dipengaruhi dari mana mereka berasal.

55

Keras dan beratnya pendidikan yang ada di lembaga Kepolisian ini


terkadang membuat Taruna dan Taruni mengantispasi dengan hal-hal yang tidak
rasional dan melanggar nilai-nilai aqidah Islam. Suatu contoh kepercayaan
terhadap kekuatan lain selain Allah yang berbentuk jimat, dan lain-lain. Sehingga
perlu usaha keras dalam rangka meluruskan kepercayaan yang kurang sesuai
dengan nilai-nilai aqidah Islamiyah. Di sinilah peran pembinaan agama yang
dilakukan di Lembaga ini, yaitu untuk membekali mereka aqidah yang lurus
sehingga ketika bertugas di lapangan nanti senantiasa menjunjung nilai-nilai
aqidah Islamiyah selain menjalankan tugasnya secara professional.
b. Latar Belakang Sosial Ekonomi
Yang dimaksud keadaan sosial ekonomi di sini adalah latar belakang
kondisi ekonomi keluarga para Taruna dan Taruni itu sendiri. Melihat tabel di
atas makna rata-rata kondisi ekonomi para orang tua Taruna dan Taruni ini di atas
rata-rata masyarakat Indonesia pada umumnya. sehingga dapat dikategorikan
termasuk dari keluarga yang mapan dalam hal penghasilan. Pada intinya tidak ada
masalah yang berarti dalam hal ini.
c. Latar Belakang Sosial Keagamaan
Sebagaimana lembaga ini yang bersifat nasional tentu saja komposisi
keberagamaan di dalamnya sangatlah beraneka ragam. Baik Islam, Kristen,
Katholik, Hindu, dan Budha. Dari jumlah 673 Taruna, yang di dalamnya
termasuk SIPSS 50 orang berarti jumlah Taruna Taruni saat ini adalah 623 orang

56

dimana yang beragama Islam 523 orang, Kristen 60 orang, Katholik 19 orang,
Hindu 20 orang, dan Budha 1 orang.
Secara kuantitas, jumlah Taruna dan Taruni yang beragama Islam memang
sangat membanggakan, akan tetapi kalau dilihat dari kualitas pengalaman dan
kesadaran beragama sangat kurang, sehingga masih perlu pembinaan yang
intensif dari para Pembina atau pengasuh yang ada.
Adapun sarana penunjang pelaksanaan ibadah di Lemdik Akpol dapat
dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel II
Sarana Pelaksanaan Ibadatan di Lemdik Akpol
No.

Sarana

Jumlah

1.

Masjid

2 Buah

2.

Musholla

2 Buah

3.

Gereja

1 Buah

4.

Kapel

1 Buah

5.

Pura

1 Buah

Jumlah

7 Buah

Dan adapun sarana penunjang lainnya seperti perpustakaan sangatlah


lengkap dan memenuhi syarat untuk mengkaji keilmuan agama. Di Peerpustakaan

57

Akpol ini memang tidak layaknya perpustakaan yang ada di lembaga pendidikan
agama atau pesantren. Akan tetapi ketersediaan buku agama yang ada hanya
bersifat pelengkap dan penunjang akan kebutuhan keberagamaan Taruna Taruni
secara umum. Akan tetapi dilihat dari jumlahnya memang sudah cukup memadahi
yaitu terdapat satu rak khusus buku yang bertemakan agama Islam. Dari rak
tersebut terdapat puluhan judul buku dengan jumlah ratusan eksemplar.
Akan tetapi kembali karena padatnya jadwal kegiatan yang ada membuat
waktu untuk berkunjung dan membaca buku keagamaan ini sangatlah minim.
Taruna Taruni lebih cenderung menggunakan waktu yang ada untuk istirahat.

F. MODEL-MODEL PEMBINAAN PERSONEL LEMBAGA PENDIDIKAN


AKADEMI KEPOLISIAN
Model pembinaan personel di lembaga pendidikan Akademi Kepolisian
yang penulis maksud adalah pengasuhan agama atau pembinaan agama.
Pengasuhan agama yang berjalan di Akpol ini memang tidak layaknya
pengasuhan agama yang ada pada lembaga pendidikan lain seperti pesantren
maupun sekolah formal yang lain. Akan tetapi pembinaan personel di sini adalah
sebuah usaha yang dilakukan oleh lembaga tersebut dalam rangka mencapai visi
dan misi yang sudah ditetapkan di atas. Menjadi sangat urgent peran pembinaan
personel ini mengingat tugas yang akan diemban oleh Taruna dan Taruni Akpol

58

ini di masa yang akan datang, yaitu sebagai pengayom, pelindung, dan pelayan
masyarakat.
Adapun materi yang diberikan dalam acara pembinaan agama ini adalah
sebagai penguat materi yang pada umumnya sudah disampaikan di kelas-kelas
(subject matter curriculum). Adapun materi yang disampaikan sebagai kurikulum
ini diantaranya;
1. Hukum Islam, yang komposisinya adalah hukum Islam di Indonesia, Pokokpokok hukum Islam, Hukum perkawinan Islam, Hukum waris Islam, lembaga
peradilan agama, bank Syariah.
2. Hukum Perdata, yang komposisinya adalah hukum perkawinan dan waris,
hukum benda, hukum perikatan.
3. Hukum Adat, yang komposisinya adalah pengertian hukum adat, tata susunan
rakyat Indonesia, hukum perkawinan, hukum adat waris, hukum tanah adat,
dan hukum pidana adat.
Di luar yang tercantum di atas masih banyak materi yang disampaikan
dalam mimbar-mimbar pengasuhan atau pembinaan mengingat sifatnya sebagai
penunjang kurikulum standar yang telah ada. Adapun materinya adalah
sebagaimana yang disampaikan oleh para muballigh pada umumnya yaitu
mengenai ilmu-ilmu tentang keislaman baik yang bersifat teoritik dan praktik. Hal
ini peneiti dapatkan dari hasil wawancara dengan salah satu Pembina atau
pengasuh agama yaitu AKBP. Drs. Irzam, M. S. I tanggal 25 September 2011

59

yang penulis temui di sela-sela pengasuhan Ahad pagi yang kebetulan beliau juga
sebagai koordinator pengasuhan agama Islam di lembaga pendidikan Polri ini.
Beliau menuturkan bahwa materi-materi yang disampaikan adalah seputar ilmuilmu keislaman yang mencakup diantaranya mengenai aqidah, syariah, akhlak
dan masih banyak lagi yang lainnya. Semua ini dimaksudkan untuk meningkatkan
kualitas keimanan para taruna dan taruni Akademi Kepolisian ini sebagai penerus
tampuk kepemimpinan Polri di masa yang akan datang. Hal ini juga dikuatkan
dengan peneliti temukannya rangkuman-rangkuman hasil pembinaan agama yang
dilaksanakan pada setiap Jumat dan Ahad pagi yang terbukukan sejak tahun
2007 s.d. sekarang.
Selama ini model pembinaan personel Taruna dan Taruni Akpol ini
memang tidak secara eksplisit masuk dalam kurikulum pendidikan di Akpol
(subject matter curriculum). Akan tetapi program tersebut sudah menjadi
semacam hidden curriculum3 yang telah berjalan dari sejak berdirinya lembaga
ini.
Akan tetapi hal di atas berbeda dengan hasil wawancara penulis pada
tanggal 28 September 2011 dengan Kasubbag Min AKBP Slamet Loesiono, SIK
yang menuturkan bahwa pengasuhan agama tidak dapat dikatakan sebagai hidden
curriculum karena keberadaannya memang sudah diprogramkan oleh lembaga,
dan semua kegitan pengasuhan ini mendapatkan ijin dan fasilitas secara penuh

Menurut versi AKBP Drs. Irzam, M.S.I, dalam tesisnya, Profil Pendidikan Agama Islam di
Akademi Kepolisian, thn. 2009

60

dari lembaga. Beliau sempat menggambarkan sebuah grafik kepada peneliti,


adapun grafiknya adalah sebagai berikut;

AKPOL

PA POLRI
NETRALITAS

LATIHAN

PENGAJARAN

KURIKULUM
SKS

PENGASUHAN
/PEMBINAAN

1. FUNGSI TEKNIS
2. MENGHADAPI
BENCANA ALAM
(SAR DARAT-AIR),dll

PERWIRA POLRI

1. MENTAL
2. JASMANI
3. ROHANI/AGAMA, dll

Sumber dari Bag Kortarsis


Lembaga Pendidikan Akpol

Adapun penjelasan dari grafik di atas menurut beliau kurang lebih adalah Akpol
sebagai lembaga pendidikan Polri yang mencetak para perwira Polri yang mempunyai
jiwa pelayan, pelindung, dan pengayom masyarakat harus bersifat netral, tidak
memihak pada salah satu pihak sehingga dapat menjalankan tugas sesuai dengan
hukum yang berlaku tanpa melihat ras, suku bangsa, dan agama.

61

Dalam mewujudkan angan-angan itu dibutuhkan wawasan dan keterampilan


dibidangnya sehingga dibutuhkan pengajaran dan latihan yang cukup sehingga dapat
menunjang visi dan misi Polri yang sudah dicanangkan. Pengajaran dan latihan ini
menjadi sebuah kewajiban yang tidak dapat dielakkan karena keduanya harus
dikuasai oleh taruna dan taruni sebagai modal nanti ketika bertugas di wilayah.
Sebagai efek baliknya kegagalan dalam mengikuti program tersebut akan
menghambat laju taruna dan taruni dalam menyelesaikan proses pendidikan di
lembaga pendidikan ini yaitu menjadi perwira Polri.
Sedangkan pengasuhan dimaksudkan sebagai penunjang tercapainya tujuan
mulia di atas. Karena bagaimanapun sebagai manusia biasa taruna dan taruni juga
mengalami penat, kebosanan, jenuh dalam menjalani aktifitasnya sehari-hari. Bahkan
sangat menguras energi baik fisik, psikologi, mental, dan rohani. Sehingga
pengasuhan atau pembinaan ini sangatlan butuhkan sebagai upaya memulihkan
kembali kondisi taruna dan taruni ke posisi semula.
Sehingga pembinaan atau pengasuhan agama ini menjadi sebuah kewajiban di
luar kegiatan pendidikan yang ada. Tidak dapat dipungkiri perhatian terhadap
kegiatan pembinaan agama ini sangatlah tinggi. Karena bagaimanapun pula kegiatan
pembinaan agama merupakan suatu hal yang tidak boleh dipandang sebelah mata.
Adapun model-model pembinaan agama pada taruna dan taruni pada umumnya
masih sama dengan apa yang tertuang dalam uraian di atas, pertama bersifat langsung
baik secara lisan yang berupa arahan, himbauan, teguran, bahkan hukuman maupun

62

perintah-perintah langsung yang lain dari Pimpinan atau para pengasuh. Kedua,
melaluai mimbar-mimbar agama yang sudah dijadwalkan di luar kegiatan akademik
oleh bagian yang telah ditunjuk yang dalam hal ini adalah bagian Ur Watpers (Urusan
Perawatan Personel). Yang kemudian staf tersebut berkoordinasi dengan lembagalembaga keagamaan yang terkait dengan tugas tersebut, sebuah contoh kementrian
agama setempat untuk ikut serta dalam pengasuhan atau pembinaan agama terhadap
Taruna dan Taruni.
Karena pembinaan atau pengasuhan agama ini tidak dapat dilaksanakan sendiri
secara penuh maka lembaga ini merangkul lembaga keagamaan di luar Akpol.
Adapun komposisi Pembina atau pengasuh agama yang selama ini berjalan terdiri
dari;
1. Pengasuh setempat (para perwira Polri setempat yang membidangi keagamaan).
2. Tenaga rohaniawan Kementrian Agama Wilayah Jawa Tengah.
3. Tenaga Dosen atau pendidik dari perguruan tinggi agama sekitar.
4. Para Ulama sekitar yang telah di tunjuk, dan lain-lain.
Adapun nama-nama Pembina atau pengasuh agama tetap yang selama ini berjalan
adalah sebagai berikut:
No.

Nama

AKBP.
M.S.I

Instansi
Drs.

Irzam, Akpol

Rujukan
Ihya Ulumuddin karya Imam
Al-Ghazali, Kaidah-Kaidah
Hukum Islam karya Abdul

63

Wahab Khalaf, Ushul Fiqh


karya Abdul Wahab Kholaf,
Fiqh karya Sayid Sabic
2

Prof.

Dr.

Djamaluddin

H. IAIN WS
Darwis,

MA

Agama Islam karya Prof Dr.


Hasbi As-Shiddieqy, Agama
Islam karya Prof. Dr. Hamka,
Agama Islam karya Prof Dr.
Harun Nasution

Prof. Dr. H. Suparman IAIN WS

Risalah Tauhid karya Syeikh

Syukur, MA

Muhammad Abduh, History of


Arabs karya Philip K. Hitti,
Fasl al-Maqal fima Baina alHikmah wa al-Syariah min alIttisal karya Ibn Rusyd

Dr. H. Yusuf Suyono, IAIN WS

Al-Iman karya Abdul MAjid

MA

al-Zandani,

Al-Aqidah

al-

Islamiyah karya Abdurrahman


Jabankah, Risalah fit-Tauhid
karya

Abdullah

bin

Muhammad bin Zahim (imam

64

masjid Nabawi)
5

Dr.

H.

Mamun UNU

Fathul

Majid,

Risalah

at-

Tauhid, Kitab Tauhid, Ushul

Effendi Nur, Lc., Ph. D

al-Aqidah al-Islamiyah
6

Drs. H. Muhammad Kepala Depag al-Aqidah al-Islamiyah karya


Saidun, M. Ag

Sragen

syeikh

Muhammad

Abu

Zahrah, , Tahzib al-akhlaq wa


Tathir

al-Araq

Miskawaih,

karya

Dienul

Ibn
Islam

karya Nasruddin Razak


7

Drs. Ali Imron, M. Ag

UNSIQ

Nashoihul Ibad karya Imam

Wonosobo

Nawawi, Tafsir al-Azhar karya


Hamka,
Islam

Metodologi
karya

Ramayulis,

Studi

Prof

Tafsir

Dr.

Al-Ibriz

karya Musthofa Bisri Rembang


8

Muhammad

Asdos

Syarifuddin, S. Ag

Akpol

di Risalah Tauhid karya Syekh


Muhammad

Abduh,

Ihya

Ulumuddin karya Imam Al

65

Ghazali,

Kompilasi

Hukum

Islam
9

Staff

Rochmad, S. Pd. I

Gadik Ikhtisar Hukum Islam karya


Abdul Wahid S, Al-Fiqh ala

Akpol

Madzahib

al-Arbaah

karya

Abdurrahman al-Jazairy, Ihya


Ulumuddin karya Imam AlGhazali

Melihat

komposisi

tenaga

pengasuh

di

atas

tidak

diragukan

lagi

kemampuannya. Dari latar belakang pendidikan dan pengalaman yang didapatkan


baik dari pendidikan formal atau non formal, dalam maupun luar negeri dari para
pengasuh ini diharapkan dapat memberikan pemahaman keagamaan yang luas,
sehingga Taruna Taruni sebagai obyek pengasuhan mendapatkan materi yang
berkualitas.
Selain itu juga materi yang disampaikanpun sangat berbobot. Walaupun secara
eksplisit para pengasuh tidak memberikan materi dari kitab-kitab di atas secara
langsung akan tetapi hanya beberapa intisari kitab tersebut dengan bahasa yang
mudah dipahami oleh Taruna Taruni. Hal ini dikarenakan mereka lembaga ini bukan
lembaga pendidikan keagamaan. Sehingga penyampaian materi-materi di atas hanya
bersifat penguat dari aqidah yang sudah ada.

66

Selain nama di atas masih banyak ulama sekitar yang seringkali diminta untuk
memberikan pembinaan atau mengisi pada momen-momen penting yang lain seperti
acara-acara peringatan hari-hari besar keagamaan.
Kegiatan pembinaan atau pegasuhan yang rutin dilaksanakan pada hari Jumat
siang, Ahad pagi dan hari-hari tertentu sesuai dengan yang sudah diprogramkan.
Setiap hari Jumat bersamaan dengan salat Jumat secara berjamaah dan dilanjutkan
dengan pembacaan yasin dan tahlil yang dipimpin oleh orang yang sudah ditunjuk
sesuai jadwal. Adapun untuk Ahad pagi kegiatan yang dilaksanakan adalah mulai dari
salat subuh berjamaah dan dilanjutkan dengan pembacaan yasin, tahlil, asma alHusna, ceramah dan doa bersama oleh petugas yang ditunjuk, temu keluarga asuh4,
dan kerja bakti. Adapun kegiatan dihari-hari yang lain misalnya peringatan hari-hari
besar agama, dan lain-lain.
Dalam temu keluarga asuh ini seringkali dimanfaatkan untuk sharing antar
Taruna dan Taruni satu daerah juga dimanfaatkan sebagai sarana membahas materi
apa yang telah di sampaikan oleh penceramah atau Pembina. Dan bahkan digunakan
sebagai saran membahas dilemma-dilema sosial yang ada di masyarakat baik yang
disuguhkan oleh pengauh maupun yang diketahui oleh Taruna atau Taruni itu sendiri.
Selain itu berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan Kasubbag Min pada Kortarsis
ABKP Slamet Loesiono, SIK beliau juga menuturkan bahwa dengan mendasari

Sebuah pertemuan yang difungsikan untuk mempererat tali persaudaraan kepada taruna dan
taruni sesama daerah asal pengiriman yang kemudian dalam penelitian ini sekaligus peneliti
manfaatkan sebagai sarana Focus Group Discussion untuk memeroleh data-data berkaitan tema
penelitian.

67

pedoman taruna dan Peraturan Kehidupan Taruna (Perduptar) khusus taruna dan
taruni yang beragama Islam dilaksanakan pengasuhan dan pembinaan sebagai berkut;
1. Salat maghrib berjamaah
2. Diberi kesempatan melaksanakan salat-salat wajib maupun sunnah sendiri-sendiri
sesuai dengan kebutuhan di kamarnya masing-masing dengan menyesuaikan
dengan kegiatan yang telah ada.
3. Melaksanakan salat Jumat berjamaah bergabung dengan personel atau antap
(anggota tetap) dan masyarakat lainnya yang melaksanakan salat Jumat di masjid
Asy Syuhada Akpol, sedangkan taruni melaksanakan salat duhur dan dzikir
bersaa di flat Graha Taruna (baca yasin dan tahlil)
4. Pembacaan surat yasin bersama-sama di masjid Asy Syuhada Akpol.
5. Pencerahan oleh pimpinan Akpol (Gubernur atau perwira yang ditunjuk) selesai
pelaksanan salat Jumat berjamaah.
6. Melaksnakan kegiatan salat subuh berjamaah dan dilanjutkan kuliah Ahad pagi
(ceramah atau pengajian).
7. Taruna senior yang sudah berkurang kegiatan latihan lapangan (berbentuk fisik
atau jasmani) dalam program pendidikan sesuai dengan tingkatannya untuk
dianjurkan untuk melaksanakan puasa sunah Senin dan Kamis.
8. Diberi kesempatan salat Jumat di luar kampus Akpol dengan didukung sarana
angkutan (2 bus besar: + 75-100 orang) di masjid agung Jawa Tengah atau
Baiturrahman simpang lima.

68

9. Mengikuti pengajian keliling (BAI Jateng) ke luar kampus Akpol.


10. Pada bulan Ramadan diberi kesempatan untuk melaksanakan salat tarawih
berjamaah dan dilanjutkan tadarus di masjid Akpol.
11. Melaksanakan pengumpulan atau pembayaran zakat yang dikoordinir oleh senat
korps taruna.
12. Mengumpulkan dan atau pembelian binatang kurban yang penyembelihannya
dilaksanakan di masjid Asy Syuhada Akpol, taruna dan taruni dilibatkan apabila
tidak melaksanakan liburan.
13. Diberi kesempatan melaksanakan perayaan hari besar keagamaan; Maulid Nabi,
Nuzulul Quran, Isra Miraj, Idul Fitri, Idul Adha, dan lain-lain.
14. Diberi kesematan untuk mengikuti lomba-lomba seperti Qori, sari tilawah,
nasyid, dan lain-lain. Dengan catatan masih dalam kota Semarang.
15. Kegiatan ibadah bersama diberikan perhatian khusus dengan penambahan nilai
sikap perilaku dan diakomodir merupakan kegiatan yang bersifat dinas.
Dari sekian banyak kegiatan pembinaan agama di atas bersifat rutinitas yang
terjadwalkan, terlebih pengasuhan ahad pagi. Pengasuhan atau pembinaan Ahad pagi
ini dimulai dengan salat subuh berjamaah di masjid Asy Syuhada dan dilanjutkan
dzikir bersama, pembacaan Asma al-Husna, Yasinan, tahlilan, salawatan, ceramah
oleh petugas yang telah di tunjuk, diteruskan tanya jawab, diskusi kelompok yang
dibarengkan dengan kumpul keluarga asuh, serta kerja bakti membersihkan masjid.

69

Pengasuhan Ahad pagi ini menjadi aternatif yang paling efektif bagi para
Pembina dalam usaha memantapkan kualitas aqidah kader pemimpin Polri ini. Dalam
usaha meningkatkan kualitas aqidah Taruna dan Taruni, Pembina melakukan
beberapa hal yang disisipkan dalam setiap pembinaan berlangsung. Untuk hal yang
bersifat keyakinan atau keimanan maka dilakukan doktrin, suatu contoh bahwa
sebagai seorang muslim kita harus percaya akan rukun iman yang enam. Akan tetapi
apa yang dilakukan oleh Pembina tidak semudah itu karena dari latar belakang ras,
sosial, budaya, adat istiadat Taruna satu sama lainnya berbeda dan dimungkinkan
mereka membawa kepercayaan dari daerah asalnya ke lembaga ini. Sehingga
Pembina memberikan beberapa metode untuk berusaha meluruskan keyakinankeyakinan Taruna dan Taruni ini yang kurang lurus atau bahkan melenceng.
Adapun hasil penelitian mengenai keaktifan Taruna dan Taruni dalam
menjalankan ritual-ritual keagamaan di Akademi Kepolisian dapat dilihat di bawah
ini.
Tabel 3
Pembianaan Agama Taruna dan Taruni Akademi Kepolisian Dalam Aktivitas
Keagamaan Sehari-hari
No
1.

Variabel

Indikator

Frekwensi

Keaktifan (rajin)

a. Sangat aktif

11.48

shalat Fardlu

b. Aktif

33

54.10

c. Kurang aktif

21

34.43

d. Tidak aktif

70

2.

Tujuan shalat Fardlu

a. mendapatkan

26

42.62

3.28

32

52.46

d. Ikut-ikutan

1.64

a. Sangat aktif

1.64

b. Aktif

14

22.95

c. Kurang aktif

42

68.85

d. Tidak aktif

6.56

35

57.38

3.28

23

37.70

d. Ikut-ikutan

1.64

Keaktifan (rajin)

a. Sangat aktif

4.92

shalat berjamaah

b. Aktif

38

62.30

c. Kurang aktif

20

32.79

42

68.85

1.64

17

27.87

pahala
b. Menghapus dosa
c. Menenteramkan
jiwa

3.

Keaktifan (rajin)
shalat Sunnah

4.

Tujuan shalat
Sunnah

a. Mendapatkan
pahala
b. Menghapuskan
dosa
c. Menenteramkan
jiwa

5.

d. Tidak aktif

6.

Tujuan shalat
berjamaah

a. Mendapatkan
pahala
b. Menghapuskan
dosa
c. Menenteramkan
jiwa

71

7.

Keaktifan (rajin)
shalat Jumat

d. Ikut-ikutan

1.64

a. Sangat aktif

33

54.10

b. Aktif

28

45.90

32

52.46

6.56

25

40.98

a. Sangat aktif

36

59.02

b. Aktif

23

37.70

c. Kurang aktif

3.28

26

42.62

12

19.67

23

37.70

a. Sangat aktif

1.64

b. Aktif

12

19.67

c. Kurang aktif
d. Tidak aktif
8.

Tujuan shalat Jumat

a. Mendapatkan
pahala
b. Menghapuskan
dosa
c. Menenteramkan
jiwa
d. Ikut-ikutan

9.

Keaktifan (rajin)
berpuasa Ramadlan

d. Tidak aktif
10.

Tujuan berpuasa
Ramadlan

a. Mendapatkan
pahala
b. Menghapuskan
dosa
c. Menenteramkan
jiwa
d. Ikut-ikutan

11.

Keaktifan (rajin)
Puasa Sunnah

72

12.

Tujuan Puasa
Sunnah

c. Kurang aktif

33

54.10

d. Tidak aktif

15

24.59

35

57.38

10

16.39

14

22.95

d. Ikut-ikutan

3.28

a. Sangat aktif

18

29.51

b. Aktif

40

65.57

c. Kurang aktif

1.64

d. Tidak aktif

3.28

39

63.93

19

31.15

12

19.67

d. Ikut-ikutan

1.64

a. Sangat aktif

6.56

b. Aktif

28

45.90

c. Kurang aktif

28

45.90

d. Tidak aktif

1.64

28

45.90

a. Mendapatkan
pahala
b. Menghapuskan
dosa
c. Menenteramkan
jiwa

13.

Keaktifan (rajin)
Zakat Fitrah

14.

Tujuan Zakat Fitrah

a. Mendapatkan
pahala
b. Menghapuskan
dosa
c. Menenteramkan
jiwa

15.

Keaktifan (rajin)
membaca al-Quran

16.

Tujuan membaca

a. Mendapatkan
pahala

73

Al-Quran

b. Menghapuskan
5

8.20

28

45.90

a. Sangat aktif

20

32.79

b. Aktif

38

62.30

c. Kurang aktif

3.28

d. Tidak aktif

1.64

12

19.67

12

19.67

37

60.66

a. Sangat aktif

11.48

Tahlil,Yasinan, dan

b. Aktif

42

68.85

Pembacan Asmaul

c. Kurang aktif

10

16.39

d. Tidak aktif

3.28

37

60.66

6.56

20

32.79

dosa
c. Menenteramkan
jiwa
d. Ikut-ikutan
17.

Keaktifan (rajin)
berdoa

18.

Tujuan berdoa

a. Mendapatkan
pahala
b. Menghapuskan
dosa
c. Menenteramkan
jiwa
d. Ikut-ikutan

19.

Keaktifan (rajin)

Husna
20.

Tujuan Tahlil,
Yasinan dan
Pembacaan Asmaul
Husna

a. Mendapatkan
pahala
b. Menghapuskan
dosa
c. Menenteramkan
jiwa

74

d. Ikut-ikutan

21.

Keaktifan (rajin)
mengikuti Pengajian
Ahad Pagi

22.

Tujuan mengikuti
Pengajian Ahad Pagi

a. Sangat aktif

11

18.03

b. Aktif

27

44.26

c. Kurang aktif

29

47.54

d. Tidak aktif

6.56

25

40.98

3.28

30

49.18

d. Ikut-ikutan

6.56

a. Sangat aktif

23

37.70

b. Aktif

38

62.30

34

55.74

8.20

22

36.07

a. Mendapatkan
pahala
b. Menghapuskan
dosa
c. Menenteramkan
jiwa

23.

Keaktifan
Pelaksanakan hari
besar Islam

c. Kurang aktif
d. Tidak aktif

24.

Tujuan
Pelaksanakan hari
besar Islam

a. Mendapatkan
pahala
b. Menghapuskan
dosa
c. Menenteramkan
jiwa
d. Ikut-ikutan

25.

Keaktifan dalam

a. Sangat aktif

13.11

Kurve di Masjid,

b. Aktif

17

27.87

75

Mushola

26.

Tujuan dalam Kurve


di Masjid, Mushola

c. Kurang aktif

31

50.82

d. Tidak aktif

4.92

41

67.21

8.20

10

16.39

d. Ikut-ikutan

8.20

a. Sangat aktif

11

18.03

b. Aktif

38

62.30

c. Kurang aktif

12

19.67

23

37.70

3.28

35

57.38

1.64

a. Mendapatkan
pahala
b. Menghapuskan
dosa
c. Menenteramkan
jiwa

27.

Keaktifan membaca
salawatan

d. Tidak aktif
28.

Tujuan membaca
salawatan

a. Mendapatkan
pahala
b. Menghapuskan
dosa
c. Menenteramkan
jiwa
d. Ikut-ikutan

Selain melihat tabel di atas penulis juga melakukan wawancara secara


mendalam terhadap beberapa Taruna yang salah satunya adalah sebagai Kasibinrohtal
yaitu Zidni Khusnurrofiq tanggal 30 Oktober 2011, memaparkan bahwa pengasuhan
yang sudah dijalankan memang belum bisa maksimal akan tetapi memang cukup

76

berperan dalam memberikan benteng aqidah terhadap Taruna dan Taruni sekalian.
Hal ini dapat dilihat dari proses berjalannya kegiatan agama sehari-hari. Selain itu
pula dalam pemilihan tim masjid5 yang dilakukan secara kesadaran masing-masing
didapatkan keanggotaan yang cukup signifikan, akan tetapi karena keberadaanya
dibatasi oleh lembaga sehingga dilakukan seleksi ulang untuk didapatkan Taruna dan
Taruni yang benar-benar kopeten dibidang keagamaan ini. Adapun jumlah tim masjid
setiap angkatan diperbolehkan hingga 60 orang dari keseluruhan penerimaan tiap
tahunnya yang kurang lebih sekitar 300 400 orang yang terdiri dari Taruna dan
Taruni.
Kemudian wawancara penulis fokuskan terhadap usaha pencapaian ibadah yang
lebih sempurna yang dalam hal ini khusuk, dia menjawab bahwa untuk mencapai
tujuan itu tidaklah mudah terlebih Taruna dan Taruni yang notabene adalah remaja
yang secara psikis dan mental masih labil. Terlebih padatnya jadwal kegiatan yang
ada membuat ritual ibadah yang dijalankan menjadi kurang sempurna. Akan tetapi
ada beberapa Taruna dan Taruni yang telah dapat menjalankan ritual ibadah tersebut
tidak hanya sebagai kewajiban, akan tetapi sebagai kebutuhan. Hal ini dikarenakan
mereka berasal dari latar belakang keluarga dan daerah yang agamis walaupun
prosentasenya sedikit. Hal ini sesuai dengan firman Allah sebagai berikut:

Sebuah tim yan dibentuk dalam rangka membantu proses kegiatan pengasuhan atau
pembinaan yang ada mulai dari perencanaan hingga pelaksanaan.

77

tF) ]u uj9 9$s s ( $t$t7 $uxs$# t%!$# |=tG39$# $uOur& O


{32 : } 7x69$# x9$# u 9s 4 !$# */ Nuy9$$/ 7,/$y ]u
Artinya : kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami
pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang Menganiaya diri
mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka
ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan6 dengan izin Allah. yang demikian itu
adalah karunia yang Amat besar. 7 (QS. Fathir ayat 32)
Ketaatan beribadah Taruna dan Taruni dapat di lihat pada Tabel Pembinaan
Taruna dan Taruni Akademi Kepolisian dalam aktivitas sehari-hari di atas. Dari tabel
tersebut dapat dilihat bahwa kektifan Taruna dan Taruni dalam menjalankan salat
fardlu mencapai 54,10% dan bahkan sangat aktif mencapai 11,48% dengan motivasi
mendapatkan pahala sebanyak 42,62% serta untuk menenteramkan jiwa sebanyak
52,46%. Walaupun dalam tabel masih terlihat indikator kekurang aktifan Taruna dan
Taruni dalam melaksanakan salat lima waktu ini sebanyak 34, 43%.
Sedangkan dalam hal keaktifan dalam menjalankan puasa ramadhan terlihat
sangat aktif 59,02%, aktif 37,70% dan kuran aktif 3,28%. Adapun motivasi berpuasa
untuk mendapatkan pahala sebanyak 42,62%, menghapus dosa 19,67% dan
menentramkan jiwa sebanyak 37,70%. Hasil ini sangat membanggakan mengingat
puasa adalah perntah wajib. Sehingga dari sini dapat dilihat bahwa Taruna dan Taruni
6

Yang dimaksud dengan orang yang menganiaya dirinya sendiri ialah orang yang lebih banyak
kesalahannya daripada kebaikannya, dan pertengahan ialah orang-orang yang kebaikannya berbanding
dengan kesalahannya, sedang yang dimaksud dengan orang-orang yang lebih dahulu dalam berbuat
kebaikan ialah orang-orang yang kebaikannya Amat banyak dan Amat jarang berbuat kesalahan.
7

Yayasan Penyelenggara Penerjemah/Tafsir al-Quran, Al Quran dan Terjemahnya,


Departemen Agama 1995, hlm. 700

78

dengan sadar melaksanakan ibadah tersebut karena hal itu merupakan kewajiban yang
harus dijalankan oleh setiap muslim. Adapun motivasi mendapatkan pahala sebanyak
42,62%, menghapus dosa 19,67% dan menentramkan jiwa sebanyak 37,70%. Di sini
dapat dilihat bahwa Taruna dan Taruni semakin memahami akan nilai ibadah yang
dijalankannya.
Adapun keaktifan dalam membayar zakat menunjukkan indikator sangat aktif
29,51%, aktif 65,57%, kurang aktif 1,64%, dan tidak aktif 3,28%. Tujuan membayar
zakat untuk mendapatkan pahala 63,93%, menghapus dosa 31,15%, menenteramkan
jiwa 19,67% dan ikut-ikutan 1,64%. Sedangkan dalam membaca al-Quran
menunjukkan indikator sangat aktif 6,56%, aktif 45,90%, kurang aktif 45,90%
sedangkan tidak aktif 1,64%. Untuk keaktifan mengikuti Yasinan, Tahlil, dan
pembacaan asma al-Husna, sangat aktif 11,48%, aktif 68,85%, kurang aktif 16,39%,
tidak aktif 3,28%. Sedangkan indikator untuk mendapatkan pahala 60,66%,
menghapus dosa 6,56%, dan menenteramkan jiwa 32,79%. Seterusnya keikutsertaan
pengajian ahad pagi sangat aktif 18,03%, aktif 44,26%, kurang aktif 47,54%, tidak
aktif, 6,56%. Adapun indikatornya adalah untuk mendapatkan pahala 40,98%,
menghapus dosa 3,28%, meneteramkan jiwa 49, 18%, ikut-ikutan 6,56%.selanjutnya
dalam peran serta dalam mengikuti pelaksanan hari-hari besar agama sangat aktif
37,70%, aktif 62,30%, dengan motifasi mendapatkan pahala 55, 74%, menghapus
dosa 8,20%, menenteramkan jiwa 36,07%. Dan selanjutnya keaktifan kurve di masjid
sangat aktif 13,11%, aktif 27,87%, kurang aktif, 50,82%, tidak aktif 4,92% dengan

79

indikator untuk mendpatkan pahala 67,21%, menghapus dosa 8,20%, menenteramkan


jiwa 16,39%, ikut-ikutan 8,20% sedangkan keaktifan dalam membaca salawatan
sangat aktif 18,03%, aktif, 62,30, kurang aktif, 19,67% dengan indikator untuk
mendapatkan paala 37,70%, menghapus dosa 3,28%, menenteramkan jiwa, 57,38%,
dan ikut-ikutan 1,64%.
Akan tetapi secara umum dilihat dari matrik di atas dapat dilhat bahwasannya
Taruna dan Taruni Akpol cukup aktif dalam menjalankan ritual-ritual keagamaan
dengan motivasi mendapatkan pahala dan menentramkan jiwa. Kondisi seperti ini
terwujud tidak lepas dari beberapa komponen yang sangat mendukung, baik dari
intern Taruna dan Taruna sendiri, pengasuh atau pembina, masyarakat komplek
Akpol, kondisi alam yang nyaman, dan kebijakan pimpinan lembaga ini yang pro
dengan kegiatan pengasuhan ini.
Adapun legitimasi diwajibkannya kegiatan pengasuhan atau pembinaan agama
ini adalah turut serta dicantumkannya kegiatan pengasuhan agama ini dalam
Perduptar pasal 11 tentang pegasuhan, yang berbunyi sebagai berikut:
1. Dalam proses pengasuhan Taruna tidak hanya berperan sebagai obyek, tetapi juga
sebagai subyek mulai dari tingkat perencanaan sampai dengan pengendalian dan
pengawasan. Pengasuh lebih mengedepankan peran sebagai motivator dan
fasilitator.

80

2. Kegiatan pengasuhan meliputi kegiatan pengembangan mental kepribadian,


intelektual dan jasmani, yang dilaksanakan secara simultan dan terintregrasi.
Materi pengasuhan dibagi dalam beberapa bidang;
a. Bidang pembinaan mental spiritual dan ideologi.
b. Bidang kebhayangkaraan.
c. Bidang profesionalisme.
d. Bidang kepemimpinan.
e. Bidang penampilan perorangan.
f. Bidang watak kepribadian.
3. Para Taruna diwajibkan berperan aktif mengikuti kegiatan-kegiatan tersebut, yang
pelaksanaannya diatur oleh pengasuh.
4. Pelanggaran terhadap ayat 3 pasal ini dikenakan sanksi tindakan disiplin atau
hukuman disiplin.8
Adapun penilaian Pengasuha Taruna ditujukan kepada 7 aspek, yaitu;
1. Aspek mental spiritual dan ideologi meliputi: ketaqwaan kepada Tuhan YME,
toleransi antar umat beragama, rasa cinta tanah air, menjaga persatuan dan
kesatuan serta kejujuran.
2. Aspek Kebhayangkaraan meliputi: kehormatan, kebanggaan korps, menghormati
HAM, disiplin pribadi, loyalitas pada organisasi dan menjunjung atau memelihara
tradisi positif.

Peraturan Kehidupan Taruna (Perduptar) Akademi Kepolisian sesuai Surat Keputusan


Gubernur Akademi Kepolisian No. Pol.: Skep/31/III/2008 tanggal 31 Maret 2008, h. 7

81

3. Aspek profesionalisme meliputi: patuh hukum, tugas pokok Polri, pengembangan


diri, dan mengaplikasikan teori-teori Kepolisian.
4. Aspek kepemimpinan meliputi: ketauladanan, bertanggung jawab, pengambilan
keputusan secara cepat, keterbukaan, interpersonal skill, analisis, manajemen, dan
supervisor.
5. Aspek penampilan perorangan meliputi: kemepuan mengandalikan diri, postur
dan sikap tampang, pakaian dan atribut, kesamaptaan jasmani, kbersihan dan
kelengkapan perorangan, kebersihan dan kerapian tempat tinggal, kebersihan dan
kerapian lingkungan, dan memelihara inventaris dinas.
6. Aspek kualitas sosial budaya meliputi: kemitraan dan komunikasi sosial.
7. Aspek watak kepribadian meliputi: kepribadian dan sikap kerja. 9

Ibid, h. 35

BAB III
TINJAUAN UMUM TENTANG
PEMBINAAN AGAMA DAN AQIDAH ISLAMIYAH

A. PEMBINAAN AGAMA
1. Pengertian Pembinaan
Pembinaan secara etimologi berasal dari kata bina mendapat awalan
pe dan akhirnya an.1 Jadi artinya pembinaan adalah proses, pembuatan, cara
pembinaan, pembaharuan, usaha dan tindakan atau kegiatan yang dilakukan
secara berdaya guna dan berhasil guna dengan baik.
Dalam pelaksanaan pembinaan maka konsep pembinaan hendaknya
didasarkan pada hal-hal yang bersifat efektif dan pragmatis dalam arti dapat
memberikan pemecahan persoalan yang dihadapi sehari-hari dengan sebaikbaiknya, dan pragmatis dalam arti mendasarkan fakta-fakta yang ada sesuai
dengan kenyataan sehingga bermanfaat karena dapat diterapkan dalam
praktek-praktek.
Sedang pembinaan menurut Masdar Helmi adalah segala hal usaha,
ikhtiar

dan

kegiatan

yang

berhubungan

dengan

perencanaan

dan

Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, ed.3, (Jakarta : Balai
Pustaka, 2001), cet.1, hlm. 152

82

pengorganisasian serta pengendalian segala sesuatu secara teratur dan


terarah.2
Dari uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa pembinaan adalah
segala usaha, ikhtiar dan kegiatan yang dilakukan terus menerus perencanaan,
pengorganisasian, serta pengendalian untuk memperoleh hasil yang berdaya
guna.
Adapun pada dasarnya manusia menghendaki kebahagiaan dan berusaha
untuk menghindari kesusahan atau kemalangan. Akan tetapi dalam perjalanan
apa yang dihadapi tidak semuanya berjalan dengan mulus. Ketidaktercapaian
apa yang diharapkan akan sangat mempengaruhi kondisi seseorang tersebut
baik secara psikis maupun mental. Di sini

peran pembinaan ini sangat

diperlukan guna me-refresh kondisi prsikis dan mental seseorang agar


kembali agar tidak mengalami depresi, dan hal ini sangat membantu agar apa
yang direncanakan tadi dapat tercapai dengan baik.
Kesehatan mental adalah kemampuan menyesuaikan diri dalam
menghadapi masalah dan kegoncangan-kegoncangan biasa. Kedua hal
tersebut bagi manusia sangat penting, karena cerminan manusia adalah
terletak pada mentalnya. Jika manusia telah mengalami tidak sehat mentalnya,
menurut hasil penelitian, akan mempengaruhi keseluruhan hidupnya,
pengaruh itu dapat dibagi dalam 4 kelompok besar yaitu : a) perasaan;
misalnya cemas, takut iri-dengki, sedih tak beralasan, marah oleh hal-hal
2

Masdar Helmi, Dakwah dalam Alam Pembangunan I, (Semarang Toha Putra, 1973), hlm. 3

83

remeh, bimbang, merasa diri rendah, sombong, tertekan (frustrasi), pesimis,


putus asa, apatis, dan sebagainya. b) pikiran; kemampuan berpikir berkurang,
sukar memusatkan perhatian, mudah lupa, tidak dapat melanjutkan rencana
yang telah dibuat. c) kelakuan; nakal, pendusta, menganiaya diri atau orang
lain, menyakiti badan orang atau hatinya dan berbagai kelakuan menyimpang
lainnya. d) kesehatan badan; penyakit jasmani yang tidak disebabkan oleh
gangguan pada jasmani.3
2. Pengertian Agama
Secara etimologi, pada umumnya orang menganggap bahwa kata
agama ekuivalen dengan kata religion (bahasa Inggris), religie (bahasa
Belanda) dan Al-Din (bahasa Arab), pemaknaan yang demikian bukan berarti
tanpa masalah. Sebab bila diteliti secara mendalam ternyata kata-kata tersebut
memiliki riwayat sendiri-sendiri yang belum tentu menunjukkan persamaan
diskursusnya.
Kata agama diyakini berasal dari bahasa Sansekerta : a-gama.
Sering orang menterjemahkan dengan a: tidak dan gama: kacau. Namun
pengertian yang sebenarnya dari istilah ini adalah a: cara atau jalan dan gama:
cara-cara untuk mencapai kepada keridloan Tuhan.4

Zakiyah Daradjat, Islam dan Kesehatan Mental ( Pokok-Pokok Keimanan), (Jakarta;Gunung


Mulia, 1982), hlm. 9
4
Endang Saefudin Anshori, Ilmu Filsafat dan Agama, (Surabaya: Bina Ilmu, 1987), hlm. 116

84

Sedangkan menurut terminologi, untuk mendapatkan pengertian


agama yang dapat diterima oleh semua pihak, maka perlu penelitian tentang
religi, secara khusus. Hal ini karena dilihat dari diskurusus yang ada di
dalamnya, kata agama lebih ekuivalen dengan istilah tersebut, daripada istilah
Al-Din. Namun sayangnya hingga saat ini juga belum ada pengertian religion
yang dapat diterima secara umum.
Agama, menurut bahasa sansakerta, agama berarti tidak kacau (a =
tidak, gama = kacau). Dengan kata lain, agama merupakan tuntutan hidup
yang dapat membahaskan manusia dari kekacauan. Di dunia Barat terdapat
suatu istilah umum untuk pengertian agama ini, yaitu : relige, religie, religion,
yang berarti melakukan suatu perbuatan dengan penuh penderitaan atau matimatian; perbuatan ini berupa usaha atau sejenis peribadatan yang dilakukan
berulang-ulang.
Agama merupakan satu kepercayaan dan cara hidup yang
mengandung faktor-faktor antara lain (a) percaya kepada Tuhan sebagai
sumber dari segala hukum dan nilai-nilai hidup, (b) percaya kepada wahyu
Tuhan yang disampaikan kepada rasulnya, (c) percaya dengan adanya
hubungan antara Tuhan dengan manusia, (d) percaya dengan hubungan ini
dapat mempengaruhi hidupnya sehari-hari, (e) percaya bahwa dengan matinya
seseorang , hidup rohnya tidak berakhir, (f) percaya dengan ibadat sebagai

85

cara mengadakan hubungan dengan Tuhan, dan (g) percaya kepada keridlaan
Tuhan sebagai tujuan hidup di dunia ini.5
Bertitik tolak dari pengertian kata-kata tersebut, menurut Harun
Nasution, intisarinya adalah ikatan. Karena itu, agama mengandung arti ikatan
yang harus dipegang dan dipatuhi manusia. Ikatan dimaksud berasal dari
suatu kekuatan yang lebih tinggi dari manusia sebagai kekuatan gaib yang tak
dapat ditangkap dengan pancaindera, namun mempunyai pengaruh yang besar
sekali terhadap kehidupan manusia sehari-hari.6
Agama menurut Prof. Dr. T.M. Hasbi Ash Shidiqy dalam bukunya Al
Islam mengatakan: Agama adalah suatu kumpulan peraturan yang ditetapkan
untuk menarik dan menuntun para umat yang berakal kuat yang suka tunduk
dan patuh kepada kebaikan supaya mereka memperoleh kebahagiaan dunia,
kejayaan dan kesatuan di akhirat negeri yang abadi, supaya dapat mendiami
surga jannatul khulud, mengecap kelezatan yang tak ada tolok bandingnya
serta kekal selama-selamanya.7
Definisi tersebut di atas mengandung pemahaman bahwa agama
meliputi segi-segi akidah, syariah dan amalan-amalan kebajikan serta
pengertian bahwa kepercayaan (keyakinan) yang dimiliki seseorang akan
5

Syamsu Yusuf LN, M. Pd. Psikologi Belajar Agama (Perspektif Pendidikan Agama Islam),
Diterbitkan oleh C.V. Pustaka Bani Quraisy Divisi Buku Umum, Jl. Depok XIV No. 39 Antapani
Tengah-Bandung, 2004. hlm. 10-11
6
Jalaluddin, Psikologi Agama (Edisi Revisi 2004), Hak penerbitan (Jakarta; PT Raja Grafindo
Persada, 2004), hlm. 12.
7
T.M.Hasbi Ash Shiddiqy, Al Islam Jilid I, (Jakarta: Bulan Bintang, 1977), hlm. 27.

86

tiada berguna tanpa disertai amal perbuatan. Begitu juga sebaliknya akan
menjadi sia-sia suatu amal kebajikan tanpa disertai pengetahuan (ilmu).
Disamping itu telah jelas bahwa agama merupakan jalan menuju keselamatan
dan kebahagiaan baik di dunia dan di akhirat, sehingga agama mempunyai
peranan yang penting bagi kehidupan manusia. Sebab agama sesungguhnya
mengandung hukum-hukum serta akhlak (moral) yang harus dilaksanakan
oleh pemeluknya.
Dengan demikian agama mempunyai peranan yang besar dalam
mengendalikan kehidupan umat manusia tanpa bimbingan agama akan
menjadi berantakan. Sebagaimana difirmankan Allah SWT dalam surat Yunus
ayat 57 :

Yu 9$# $yj9 !$x u 6n/ i s 3?u!$y_ s% $9$# $pr't


{57 : } t=j9 uquu
Artinya : Hai manusia, Sesungguhnya Telah datang kepadamu pelajaran dari
Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan
8
petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (Q.S. Yunus ayat : 57).

Melihat uraian diatas tidak lepas dari misi Islam yang menhendaki
manusia selalu berada pada martabat yang tinggi dan luhur. Selain itu Islam

Yayasan Penyelenggara Penerjemah/Tafsir al-Quran, Al Quran dan Terjemahnya,


Departemen Agama 1995, hlm. 315

87

juga menghendaki agar manusia menjadi anggota yang berdaya guna bagi
masyarakat. 9

B. ILMU KEAGAMAAN ISLAM


Karena pokok permasalahan yang akan

dibahas

adalah

mengenai

pembinaan agama dan kaitannya dalam usaha peningkatan aqidah Islamiyah


maka sebelumnya pelu diketahui beberapa hal yang terkait dengan aqidah itu
sendiri;
1. Aqidah
Secara etimologi aqidah berasal dari kata al-'aqdu (JLN O )yang berarti ikatan,
at-tautsiiqu (QRT UWO )yang berarti kepercayaan atau keyakinan yang kuat, alihkaamu (YZ[\
)yang artinya mengokohkan (menetapkan), dan ar-rabthu biquwwah (U L _ `
_a O )yang berarti mengikat dengan kuat.10
Sehingga aqidah dapat diartikan sebagai suatu keyakinan atau kepercayaan
yang mengikat jiwa raga kita yang menjadi pegangan dan pedoman hidup kita
(way of life) dalam menempuh jalan raya hidup ini menuju kabahagiaan hidup di
dunia dan di akhirat.11 Aqidah itu mendarah daging dalam diri kita (jasmani dan
ruhani) yang tidak dapat dipisahkan lagi dari kita, di manapun kita berada. Aqidah

Shalah Abdul Qadir al-Bakriy, Al-Quran dan Pembinaan Insan, (Bandung; PT. Al-Maarif,
1983), cet. Ke-1, hlm. 80
10
Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, (Pustaka Imam
asy-Syafii, 2006), cet. Ke-3, hlm. 27-28
11
T.A. Lathief Rousydiy, Agama Dalam Kehidupan Manusia (Aqidah I), (Medan: Rinbow,
1986), cet. Ke-1, hlm. 133

88

itu di atas segala-galanya dan manusia harus rela berkorban untuk


mempertahankannya.
Secara terminologis (ishthilahan), terdapat beberapa definisi (tarif) antara
lain:12
1. Menurut Hasan al-Banna;
Aqaid (bentuk jamak dari aqidah) adalah beberapa perkara yang wajib
diyakini kebenarannya oleh hatimu, mendatangkan ketentraman jiwa, menjadi
keyakinan yang tidak bercampur sedikitpun dengan keragu-raguan.
2. Menurut Abu Bakar Jabir al-Jazairy;
Aqidah adalah sejumlah kebenaran yang dapat diterima secara umum
(axioma) oleh manusia berdasarkan akal, wahyu dan fitrah. Kebenaran itu
dipatrikan manusia didalam hati serta diyakini kesahihan dan keberadaannya
(secara pasti) dan ditoak segala sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran
itu.
Sedangkan Aqidah Islamiyah adalah keimanan yang teguh dan bersifat pasti
kepada Allah dengan segala pelaksanaan kewajiban, bertauhid dan taat kepadaNya, beriman kepada Malaikat-malaikat-Nya, Rasul-rasul-Nya, Kitab-kitab-Nya,
hari Akhir, takdir baik dan buruk dan mengimani seluruh apa-apa yang telah
shahih tentang prinsip-prinsip Agama (Ushuluddin), perkara-perkara yang ghaib,
beriman kepada apa yang menjadi ijma' (konsensus) dari Salafush Shalih, serta

12

Yunahar Ilyas, Lc, Drs. H, Kuliah Aqidah Islam, (Yogyakarta: LPPI Universitas
Muhammadiyah, 1993), cet. Ke-2, h. 1

89

seluruh berita-berita qath'i (pasti), baik secara ilmiah maupun secara amaliyah
yang telah ditetapkan menurut Al-Qur'an dan As-Sunnah yang shahih serta ijma'
Salaf as-Shalih.13 Sehingga aqidah meliputi istilah iman, din, dan Islam dalam
segi itikad, serta meliputi syariat dalam segi pengamalan.14
Aqidah itu mempengaruhi jiwa manusia lalu sebagai bagian dari manusia itu
sendiri, kemudian aqidah itu dibela, dipertahankan dan diyakini benar. Aqidah
diyakini benar berdasarkan dalil-dalil yang ada. Sedangkan dalil yang
meyakinkan adalah dalil yang tidak mengandung keraguan (syak), persangkaan
yang tidak beralasan, maupun persangkaan yang beralasan kuat (dhan).
Ilmu yang membahas dalil sebagai landasan keyakinan itu disebut ilmu
tauhid. Dan disebut demikian karena ilmu ini membahas dalil yang dipergunakan
untuk membuktikan keesaan Allah. Dan terkadang ilmu ini disebut ilmu kalam
karena substansi ilmu ini adalah teori-teori (kalam) dan cara menetapkan dalil
seperti ilmu mantiq (logika).15
Aqidah adalah dasar, pondasi untuk mendirikan bangunan. Semakin tinggi
bangunan yang akan didirikan harus semakin kokoh pondasi yang dibuat. Kalau
pondasinya lemah bangunan tersebut akan mudah ambruk. Kalau ajaran islam
kita bagi dalam sistematika aqidah, ibadah, akhlak, dan muamalat, atau aqidah,
syariah, dan akhlak, atau iman, islam, dan ikhsan, maka katiga atau keempat
13

Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Op. Cit, hlm. 27-28


Nasher Abdul Hakim Al-Aqel, Dr, Hubungan Akidah dan Syariat (terjemah), (Jakarta: Gema
Insani Press, 1996), cet. Ke-1, hlm. 14
15
Nasirudin, M. Ag, Laporan Penelitian Individual, Pendidikan Tauhid Model Salafi (Studi
Kasus di Pondok Pesantren Islam Wonolopo Mijen Semarang), (Semarang, 2009), hlm. 18-19
14

90

aspek diatas tidak dapat dipisahkan sama sekali, karena satu sama lain saling
terkait.16
Menurut Sayid Sabiq keimanan itu merupakan aqidah dan pokok, yang
diatasnya berdiri syariat Islam. Kemudian dari pokok itu keluar cabangnya.
Perbuatan itu merupakan syariat dan cabang-cabang yang dianggap sebagai buah
yang keluar dari keimanan serta aqidah itu. Keimanan dan perbuatan, atau dengan
kata lain aqidah dan syariat. Keduanya itu antara satu dengan yang lain sambung
menyambung, dan tidak dapat berpisah antara satu dengan yang lainnya.
Keduanya adalah sebagai buah dan pohonnya. Sebagai musabab dengan
sebabnya,

atau

sebagai

natijah

(hasil)

dengan

mukaddimah-nya

(pendahuluannya).17
Di sisi lain terminologi iman tidak hanya sekadar kepercayan dan
pengakuan adanya Allah, tetapi mencakup dimensi pengucapan dan perbuatan
(tasdiq bi al-qalb wa qaul bi al-lisan wa afal bi al- jawarih). Unsur ketiga
menunjukkan bahwa iman itu menuntut sebuah realisasi nyata. Sehingga orang
yang beriman dituntut untuk beramal saleh sebagai aktualisasi keimanannya itu.18
Sebagai contoh dapat kita temukan dalam firman Allah Swt sebagai berikut:

16
17

Yunahar Ilyas, Lc, Op. Cit., hlm. 9-10


Sayid Sabic, Aqidah Islam (Ilmu Tauhid), (Bandung: CV. Diponegoro, 1993), cet. Ke-XII,

hlm. 13
18

Abuddin Nata, MA, Prof, Dr, H, Metodologi Studi Islam, (Jakarta:Rajawali Press, 1998), hlm.

113-114

91

{ 96 :  } . #t oq9$# s9 yfuy Mys=9$# (#=tu (#t#u %!$# )


Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh,
kelak Allah yang Maha Pemurah19 akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa
kasih sayang.20 (QS. Maryam ayat : 96)
Menurut beliau aqidah adalah iman dan adapun pengertian aqidah
atau iman tersusun dari enam perkara yaitu:21
1. Marifat kepada Allah, marifat degan nama-nama-Nya yang mulia
dan

sifat-sifat-Nya

yang

tinggi.

Juga

marifat

dengan

bukti-bukti

wujud dan ada-Nya serta kenyataan sifat keagungan-Nya dalam alam


semesta atau dunia ini.
2. Marifat dengan alam yang ada di balik alam semesta ini yakni alam
yang tidak dapat dilihat.
3. Marifat kepada kitab-kitab Allah yang diturukan kepada para rasulNya.
4. Marifat kepada Nabi-nabi serta rasul-rasul-Nya.
5. Marifat kepada hari akhir dan peristiwa-peristiwa yang terjadi disaat
itu.

19

Dalam surat Maryam ini nama Allah Ar-Rahmaan banyak disebut, untuk memberi pengertian
bahwa, Allah memberi ampun tanpa perantara.
20
Yayasan Penyelenggara Penerjemah/Tafsir al-Quran, Al Quran dan Terjemahnya,
Departemen Agama 1995, hlm. 473
21
Sayid Sabic, Ibid, hlm. 16-17, baca pula Kitab Irsyad al-Ibad karya syeikh Zainuddin bin
Abdul Aziz ibn Zainuddin al-Malabari, terbitan Toha Putera Semarang, hlm. 2

92

6. Marifat kepada takdir (qadla dan qadar) yang di atas landasan itulah
berjalannya peraturan segala yang ada di alam semesta ini, baik dalam
penciptaan atau cara mengaturnya.
Dengan demikian seseorang yang memiliki aqidah yang kuat, pasti
akan melaksanakan ibadah dengan tertib, memiliki akhlak yang mulia
dan bermuamalat dengan baik. Karena ibadah seseorang tidak akan
diterima oleh Allah Swt kalau tidak dilandasi dengan aqidah. Seseorang
tidaklah dinamai berakhlak mulia bila tidak memiliki aqidah yang benar.
Begitu seterusnya bolak-balik dan bersilang.
Seseorang

bisa

saja

merekayasa

untuk

terhindar

dari

kewajiban

formal, misalnya zakat, tetapi dia tidak akan dapat menghindar dari
aqidah. Atau seseorang bisa saja berpura-pura menjalankan ajaran formal
islam,

akan

tetapi

nilai

ibadah

yang

dijalankannya

menjadi

kurang

bernilai karena tidak didasari dengan nilai aqidah yang benar (iman).
Itulah mengapa Rasulullah Saw selama 13 tahun periode Mekah
memusatkan dakwahnya untuk membangun aqidah yang benar dan kokoh.
Memang dalam perjalanannya aqidah atau iman seseorang terkadang naik
dan terkadang turun. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Muhammad Saw., sebagai
berikut;

93

%& '* )( +' , ./ / )  "!    

 !  
( 22180 : ( ! 1

Artinya : Sesengguhnya Iman itu naik dan turun (HR. Bukhari)


Oleh karena itu iman kita harus senantiasa dijaga dengan cara senantiasa
menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi apa yang menjadi laranganNya. Dengan begitu kita akan selamat dalam mengarungi kehidupan di dunia
hingga akhirat nanti. Amin.
b. Syariah
Menurut bahasa, syariat berasal dari asy-syaru (
ae
d O )yang berarti
perilaku, penjelasan, sumber, dan jalan. Berdasarkan istilah, terdapat dua
pengertian syariat, yaitu pengertian umum dan pengertian khusus.23 Secara umum
syariat mencakup sesuatu yang disyariatkan oleh Allah SWT dan masalah din,
baik akidah maupun hukum. Dalam hal ini Allah SWT berfirman:
{13 : $" }  y7s9) !$uymr& %!$#u %[n / 4u $t e$!$# zi 3s9 tu *
Artinya : Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang
telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan
kepadamu.24 (QS. Asy Syura ayat 13)

22

Abu Abdillah Muhammad ibn Ismail al-Bukhari, Syarh Shahih al-Bukhari, Dar al-Kutub alIlmiyah, Beirut, 2001, Juz 1, hlm. 180
23
Nasher Abdul Hakim Al-Aqel, Dr, Op.Cit. hlm. 14-15
24
Yayasan Penyelenggara Penerjemah/Tafsir al-Quran, Al Quran dan Terjemahnya,
Departemen Agama 1995, hlm. 573

94

tn=t t%!$# u!#ur& 7Ks? u $y7?$$s F{$# zi 7y 4n?t y7o=yy_ O


{ 18 : &'("} 
Artinya : kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat
(peraturan) dari urusan (agama itu), Maka ikutilah syariat itu dan janganlah
kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. 25 (QS. Al-Jatsiyah
ayat 18)
Syariat di sini mencakup segala sesuatu hal yang datang dari Nabi
Muhammad Saw., dari kebenaran dan petunjuk, baik aqidah maupun hukum yang
meliputi peraturan yang lurus secara total.
Secara khusus, syariat adalah sesuatu yang disyariatkan oleh Allah SWT
tentang hukum perintah, dan larangan-larangan-Nya. Dalam hal ini Allah SWT
berfirman:
{ 48 : *+," }  %[`$yu Zt 3 $o=yy_ 9e39 4
Artinya : ...Untuk tiap-tiap umat di antara kamu kami berikan aturan dan
jalan yang terang 26 (QS. Al-Maidah ayat 48)
Akan tetapi, yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah syariat, bukan
aqidah sebab aqidah semua umat yang disampaikan oleh setiap Nabinya itu sama,
namun syari`atya yang berbeda-beda sesuai dengan zamannya.

25

Yayasan Penyelenggara Penerjemah/Tafsir al-Quran, Al Quran dan Terjemahnya,


Departemen Agama 1995, hlm. 817
26

Yayasan Penyelenggara Penerjemah/Tafsir al-Quran, Al Quran dan Terjemahnya,


Departemen Agama 1995, hlm. 168

95

c. Akhlak
Akhlak adalah jamak dari kata khuluq yang berarti adat kebiasaan (aladat), perangai, tabiat (al-sajiyyat), watak (al-thab), adab atau sopan santun (almuruat), dan agama (al-din). Menurut ulama ahli masa lalu (al-qudam), akhlak
adalah kemampuan jiwa untuk melahirkan suatu perbuatan secara spontan, tanpa
pemikiran atau pemaksaan. Atau sering pula dimaksud akhlak adalah perbuatan
yang lahir atas dorongan jiwa berupa perbuatan baik atau buruk.27
Sedangkan menurut Ibnu Mikawaih (w. 421 H/1030 M) adalah sebagai
berikut;28

k z r
a Zt a Ru
vw YxOYNt y
O YxO k R l
nopd qO Y[

Artinya : sifat yang diterima dalam jiwa yang mendorongnya untuk


melakukan perbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan
Hal ini hampir sama dengan pendapat Imam al-Ghazali (1059-1111 M)
yang menyatakan bahwa;29

a z k OUx
_
N tYO J Yxpl
k |
}
n
opdO y
t k ~ R vl
Yl

k z a Zt y
O k
Y[ a Ru
vw
Artinya : sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan macammacam perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran
dan pertimbangan

27

Prof. Dr. Suwito, Filsafat Pendidikan Akhlak Ibnu Miskawaih, (Jogjakarta: Belukar, 2004),
cet. Ke-1, hlm. 31
28
Ibn Miskawaih, Tahzib al-akhlaq wa Tathir al-Araq (Mesir: al-Maqtabaah al-Mishriyah,
1934) cet. Ke-1, hlm. 40
29
Imam al-Ghazali, Ihya Ulumuddin jilid III, (Beirut: Dar al-Fikr t.t), hlm. 56

96

C. HUBUNGAN AQIDAH DENGAN SYARIAH


Ajaran Islam sebagaimana dikemukakan oleh Maulana Muhammad Ali,
dapat dibagi kepada dua bagian, yaitu bagian teori atau yang lazim disebut rukun
iman, dan bagian praktik yang mencakup segala hal yang harus dikerjakan oleh
orang Islam, yaitu amalan-amalan yang harus dijadikan pedoman hidup. Bagian
pertama disebut ushul (pokok) dan bagian kedua disebut furu. Kata ushul adalah
jamak dari ashl artiya pokok atau asas, adapaun kata furuartinya cabang. Bagian
pertama disebut pula aqaid artinya kepercayaan yang kokoh, adapun bagian
kedua disebut ahkam. Yang menurut Imam Syahrastani bagian pertama disebut
marifat dan bagian kedua disebut thaah, kepatuhan.30
Dalam bentuk (struktur) Islam, aqidah itu dasar, di atasnya dibangun
syariat. Maka syariat itu suatu kesan (jejak langkah) yang mesti mengikuti dan
melayani aqidah. Sebab itu tidak ada syariat dalam Islam tanpa aqidah,
sebagaimana syari`at tidak bisa subur dan berkembang kalau tidak di bawah
lindungan aqidah. Maka syariat tanpa aqidah tak ubahnya bagaikan bangunan
yang tergantung di awang-awang, tiada terletak di atas dasar (pondamen) yang
kuat.
Aqidah itu menjadi pokok dan tenaga pendorong bagi syariat, sedangkan
syariat meruakan jawaban dan sambutan dari panggilan jiwa yang ditimbulkan
30

Abuddin Nata, MA, Op. Cit., hlm. 83

97

oleh aqidah. Dengan terjadinya jalinan erat ini, terbentanglah jalan menuju
keselamatan, kemenangan dan keberuntungan menurut yang telah disediakan
Tuhan untuk hamba-Nya yang beriman. Maka dengan demikian, orang beriman
dan mempunyai aqidah, tetapi mengesampingkan syariat (meninggalkan amal
saleh), atau hanya mematuhi syariat, tetapi tidak menjunjung aqidah, maka orang
itu bukan berjalan disepanjang hukum Islam menuju keselamatan dan kejayaan.31

D. RUANG LINGKUP AQIDAH


Hasan al-Banna menyebutkan empat bidang yang terkait dengan lingkup
pembahasan mengenai aqidah, yaitu;
1. Ilahiyyat, yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan
Illah (Tuhan atau Allah seperti wujudAllah, asma Allah, sifat-sifat wajib
yang ada pada Allah, dan lain-lain)
2. Nubuwwat, yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubunga dengan
rasul-rasul Allah, termasuk kitab suci, mukjiyat, dan lain-lain.
3. Ruhaniyyat, yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan
alam ruh atau metafisika, seperti malaikat, jin, iblis, setan, ruh, dan lain-lain.

31

Prof. Dr. Syeikh Mahmud Syaltut, Akidah Dan Syari`at Islam (terjemah), (Jakarta: Bumi
Aksara, 1994), cet. Ke-3, hlm. XIV-XV

98

4. Samiyyat, yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang hanya bisa


diketahui melalui (dalil naqli yaitu al-Quran dan as-Sunnah) seperti surga,
neraka, alam barzah, hari kiamat, dan lain-lain.32
Di samping hal di atas beberapa ulama juga menunjukkan lingkup
pembahasan mengenai aqidah dengan arkanul iman (rukun iman), hal ini
didasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Umar bin Khatab;
ketika itu Malaikat Jibril datang kepada Nabi SAW dan bertanya: Coba
ceritakan apa iman itu? Lalu Rasullah SAW menjawab: Iman itu percaya kepada
adanya Allah, Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari Kiamat dan
percaya kepada takdir baik dan buruknya berasal dari Allah SWT. (HR.
Muslim).
E. SUMBER AQIDAH ISLAMIYAH
Aqidah Islam ditetapkan oleh Allah SWT dan kita sebagai manusia wajib
mempercayainya sehingga kita layak disebut sebagai orang yang beriman atau
mukmin. Namun bukan berarti keimanan itu ditanamkan ke dalam diri seseorang
secara dogmatis, sebab proses keimanan haruslah disertai dalil-dalil. Dalil33 ini
adakalanya bersifat aqli atau naqli, tergantung perkara apa yang diimani. Jika

32

Zaky Mubarok(et.al), Akidah Islam, (Yogjakarta: UII Press, 2001), cet. Ke-2, hlm. 30-31
Dalil dalam bahasa Arab adalah yang menunjukkan kepada sesuatu, baik bersifat inderawi
maupun maknawi, baik ataupun buruk. Adapun menurut istilah para ahli ilmu ushul fiqh adalah
sesuatu yang dijadikan sebagai dalil terhadap hukum syara yang berkenaan dengan perbuatan manusia
yang didasarkan pada pandangan yang benar menganainya, baik secara pasti (qathi) atau dugaan kuat
(zhanni) prof. Abdul Wahhab Khallaf, Ilmu Ushul Fiqh, (Semarang; Toha Putra Group, 1994), cet.
Ke-1, hlm. 13
33

99

sesuatu itu masih dalam jangkauan panca indera maka dalilnya adalah aqli, tetapi
jika sesuatu itu di luar jangkauan panca indera, wajib disandarkan pada dalil
naqli. Dengan demikian dalil aqidah ada dua:
1. Dalil Aqli: dalil yang digunakan untuk membuktikan perkara-perkara yang bisa
diindera sebagai jalan (perantara) untuk mencapai kebenaran yang pasti dari
keimanan. Yang meliputi di dalamnya adalah beriman kepada keberadaan Allah,
pembuktian kebenaran Al-Qur'an, dan pembuktian Nabi Muhammad itu adalah
utusan Allah.
2. Dalil Naqli: berita (khabar) pasti (qathi) yang diberitakan kepada manusia
berkaitan dengan perkara-perkara yang tidak dapat secara langsung dijangkau
oleh akal manusia, yaitu mengenai beriman kepada Malaikat, Hari Akhir, Nabinabi dan Rasul-Rasul, Kitab-kitab terdahulu, sifat-sifat Allah, dan tentang Taqdir.
Khabar yang qathi ini haruslah bersumber pada sesuatu yang pasti yaitu AlQur'an dan hadits mutawatir (hadits qathi).
Dan adapun sumber aqidah Islam adalah al-Quran dan Sunnah. Artinya apa
saja yang disampaikan oleh Allah Swt. dalam al-Quran dan oleh Rasulullah Saw.
dalam Sunnahnya yang wajib diimani (diyakini dan diamalkan).34
Akal pikiran tidak menjadi sumber aqidah, tetapi hanya berfungsi
memahami nash-nash yang terdapat dalam kedua sumber tersebut dan mencoba
jika diperlukan untuk membuktikan secara ilmiah kebenaran yang disampaikan

34

Yunahar Ilyas, Lc, Drs. H, Op. Cit, hlm. 6

100

oleh al-Quran dan Sunnah. Itupun harus disadari bahwasannya kemampuan akal
sangat terbatas, sesuai keterbatasannya sebagai makhluk ciptaan Allah Swt. Akal
tidak mungkin mampu menjangkau masail ghaibiyah (masalah ghaib), bahkan
akal tidak akan mampu menjangkau sesuatu yang tidak terikat antara ruang dan
waktu.

F. MANFAAT PEMBELAJARAN AQIDAH


Tujuan pembelajaran aqidah hendaknya di arahkan kepada;
1. Menanamkan tauhid rububiyah yakni suatu keyakinan bahwa hanya Allah
yang mengatur alam dan isinya ini agar anak memahami aturan-aturan baik
yang bersifat kauniyyah maupun Quraniyah dan siap diatur oleh Allah sang
Maha Mengatur.
2. Menanamkan tauhid uluhiyah yakni hanya Allah yang berhak disembah,
dimintai pertolongan agar anak terbebas dari perbuatan yang palsu dan sia-sia.
Berdoa kepada selain Allah berarti telah terjebak ke dalam perbuatan yang
palsu dan sia-sia.
3. Menanamkan asma dan sifat-sifat Allah pada anak agar terhindar dari sifatsifat yang tercela seperti riya, ujub, takabur, dan sebagainya.
4. Membersihkan diri dari keyakinan dan perbuatan yang menodai tauhid.
Karena

kecenderungan

manusia

dalam

perjalanan

hidupnya

berinteraksi dengan alam cenderung menyimpang dari tauhid.

101

ketika

5. Seseprang yang memiliki aqidah yang mantap maka perilaku kesehariannya


akan lebih terjaga dari perbuatan-perbuatan yang keji dan mungkar.

G. MODEL-MODEL PEMBINAAN
Adapun model pendekatan pembelajaran yang kaitannya dengan nilai dapat
dilaksanakan sebagai berikut:
Pertama, pendekatan indoktrinasi, yaitu suatu pendekatan yang digunakan
oleh Pembina dan pengasuh dengan maksud untuk mendoktrinkan atau
menanamkan materi perkuliahan dengan unsur memaksa untuk dikuasai Taruna
dan Taruni. Hal-hal yang dapat dilaksanakan guru dalam pendekatan ini adalah:
1. Melakukan brainwashing, yaitu Pembina memulai pendidikan nilai dengan
jalan merusak tata nilai yang sudah mapan dalam pribadi Taruna dan Taruni.
2. Penanaman fanatisme, yaitu pembina menanamkan ide-ide baru atau nilainilai yang diangap benar.
3. Penanaman doktrin, yaitu pembina mengenalkan satu nilai yang harus
diterima siswa tanpa harus mempertanyakan hakikat kebenaran itu.
Kedua, pendekatan moral reasoning, yaitu suatu pendekatan yang
digunakan pembina untuk menyajikan materi yang berhubungan dengan moral
melalui alasan-alasan logis untuk menentukan pilihan yang tepat. Hal-hal yang
dapat dilakukan pembina dalam pendekatan ini adalah:

102

1. Penyajian dilema moral yakni Taruna dan Taruni dihadapkan pada isu-isu
moral yang bersifat kontradiktif.
2. Pembagian kelompok diskusi, Taruna dan Taruni dibagi ke dalam beberapa
kelompok kecil untuk mendiskusikan masalah tersebut.
3. Diskusi kelas, hasil diskusi kelompok kecil dibawa ke dalam diskusi kelas
untuk memperoleh dasar pemikiran siswa untuk mengambil pertimbangan dan
keputusan moral.
4. Seleksi nilai terpilih, setiap Taruna maupun Taruni dapat melakukan seleksi
sesuai tingkat perkembangan moral serta dapat melakukan seleksi nilai yang
terpilih sesuai alternatif yang diajukan.
Ketiga, pendekatan forecasting concequence, yaitu pendekatan yang
digunakan pembina dengan maksud mengajak siswa untuk menemukan
kemungkinan akibat-akibat yang ditimbulkan dari suatu perbuatan. Hal-hal yang
dapat dilakukan pembina dalam hal ini:
1. Penyajian kasus-kasus moral-nilai, Taruna dan Taruni diberi kasus noral nilai
yang terjadi pada masyarakat.
2. Pengajuan pertanyaan, Taruna dan Taruni dituntun untuk menemukan nilai
dengan pertanyaan-pertanyaan penuntun mulai pertanyaan yang sederhana
sampai pada pertanyaan tingkat tinggi.
3. Pembandingan nilai yang terjadi dan nilai yang seharusnya.

103

4. Meramalkan konsekuensi, Taruna dan Taruni disuruh meramalkan yang


terjadi dari pemilihan dan penerapan suatu nilai.
Keempat, pendekatan klasifikasi nilai, yaitu suatu pendekatan yang
digunakan Pembina untuk mengajak Taruna dan Taruni menemukan suatu
tindakan yang mengandung unsur-unsur nilai (baik positif maupun negatif) dan
selanjutnya akan ditemukan nilai-nilai yang seharusnya dilakukan. Hal-hal yang
dapat dilakukan guru dalam pendekatan ini adalah:
1. Membantu Taruna dan Taruni untuk menemukan dan mangkatagorisasikan
macam-macam nilai.
2. Proses menentukan tujuan, mengungkapkan perasaan, menggali dan
memperjelas nilai.
3. Merencanakan tindakan.
4. Melaksanakan tindakan sesuai keputusan nilai yang diambil dengan modelmodel yang dapat dikembangkan melalui;
a. Moralizing, penanaman moral langsung dengan pengawasan ketat.
b. Laisez faire, siswa diberi kebebasan cara mengamalkan pilihan nilainya
tanpa pengawasan.
c. Modeling, melakukan penanaman nilai dengan memberikan contohcontoh agar ditiru.
Kelima, pendekatan Ibrah dan amtsal, yaitu suatu pendekatan yang
digunakan guru dalam menyajikan materi dengan maksud siswa dapat

104

menemukan kisah-kisah dan perumpamaan-perumpamaan dalam suatu peristiwa,


baik yang sudah terjadi maupun yang belum terjadi. Hal-hal yang bisa dilakukan
guru antara lain dengan,
1. Mengajak siswa untuk menemukan melalui membaca teks atau melihat
tayangan media tentang suatu kisah dan perumpamaan.
2. Meminta siswa untuk menceritakannya dari kisah suatu peristiwa, dan
menemukan perumpamaan-perumpamaan orang-orang yang ada dalam kisah
peristiwa tersebut.
3. Menyajikan beberapa kisah suatu peristiwa untuk didiskusikan dan
menemukan perumpamaannya sebagai akibat dari kisah tersebut. 35

H. MATERI DAKWAH ATAU PEMBINAAN DALAM ISLAM


Sebagai upaya transformasi ilmu adakalanya dilakukan dengan metode
dakwah. Secara umum materi dakwah dapat diklasifikasikan menjadi empat
masalah pokok, yaitu:
1. Masalah aqidah (keimanan)
Masalah pokok yang menjadi materi akwah disini adalah aqidah islamiyah.
Karena aspek inilah yang akan membentuk moral (akhlak) manusia.
2. Masalah syariah
Hukum atau syariah sering disebut sebagai cermin peradaban dalam
pengertian bahwa ketika ia tumbuh matang dan sempurna, maka peradaban
35

Nasirudin, M. Ag, Op. Cit., hlm. 24-28

105

mencerminkan dirinya dalam hukum-hukumnya. Pelaksanaan syariah merupakan


sumber yang melahirkan peradaban Islam, yang melestarikan dan melindunginya
dalam sejarah. Syariah inilah yang selalu menjadi kekuatan peradaban
dikalangan kaum muslim.
3. Masalah Muamalah
Islam merupakan agama yang menekankan urusan muamalah lebih besar
daripada urusan ibadah. Islam lebih memperhatikan aspek kehidupan sosial
daripada aspek kehidupan ritual. Ibadah dalam muamalah disini dimaksudkan
sebagai ibadah yang mencakup hubungan dengan Allah dalam rangka mengabdi
kepada Allah Swt.
4. Masalah Akhlak
Pembahasan akhlak berkaitan dengan masalah tabiat atau kondisi
temperatur batin yang mempengaruhi perilaku manusia. Sedangkan kebahagiaan
akan dapat terdapai dengan upaya terus menerus dalam mengamalkan perbuatan
terpuji berdasarkan kesadaran dan kemauan. Sehingga al-Farabi berpendapat
bahwa latihan adalah unsur yang terpenting dalam memperoleh akhlak yang
terpuji atau tercela, dan dengan latihan terus menerus terwujudlah kebiasaan.36
Padahal orang yang bertakwa adalah orang yang mampu menggunakan
akalnya dan mengaktualisasikan pembinaan akhlak mulia yang menjadi ajaran
paling dasar dari Islam. Karena tujuan ibadah dalam Islam tidak semata-mata
36

M. Munir, S. Ag., MA dan Wahyu Ilaihi, S. Ag., MA, Manajemen Dakwah, (Jakarta:Prenada
Media, 2006), cet. Ke-1, hlm. 24-27

106

diorientasikan untuk manjauh dari neraka dan masuk surge, tetapi tujuan yang di
dalamnya terdapat dorongan bagi kepentingan dan pembinaan akhlak yang
menyangkut kepentingan masyarakat. Karena masyarakat yang baik dan bahagia
adalah masyarakat yang anggotanya memiliki akhlak yang mulia dan berbudi
pekerti yang luhur.37

I. WASILAH (MEDIA) DAKWAH ISLAM


Wasilah (media) dakwah adalah alat yang digunakan untuk menyampaikan
materi dakwah kepada madu (manusia yang menjadi sasaran dakwah). Hamzah
Yaqub mambagi wasilah dakwah menjadi 5 (lima) macam;
1. Lisan adalah media dakwah yang paling sederhana yag menggunakan lidah
dan suara, dakwah dalam bentuk ini dapat berupa pidato, ceramah, kuliah,
bimbingan, penyuluhan, dan sebagainya.
2. Tulisan adalah media dakwah mlalui tulisan buku, majalah, surat kabar, suratmenyurat (korespondensi), spanduk, dan sebagainya
3. Lukisan adalah media dakwah melalui gambar, karikatur, dan sebagainya.

37

Harun Nasution, Islam Rasional Gagasan dan Pemikirannya, (Bandung: Mizan, 1989), hlm.

58-60

107

4. Audiovisual adalah

media dakwah

yang dapat merangsang

indera

pendengaran, penglihatan, atau kedua-duanya, seerti televise, film slide, OHP,


internet, dan sebagainya.
5. Akhlak adalah media dakwah melalui perbuatan-perbuatan nyata yang
mencerminkan ajaran Islam yang secara langsung dapat dilihat dan didengarkan
oleh madu.38
Dalam hal ini apabila seseorang secara terus menerus melakukan apa yang
menjadi kecenderungannya itu, maka lama kelamaan tindakan itu akan menyatu
dengan dirinya. Dan itulah yang dalam istilah agama disebut akhlak.
Aqidah dan akhlak adalah dua kesadaran yang saling berhubungan. Akhlak
seseorang sangat dipengaruhi aqidahnya. Semakin kuat pondasi aqidah seseorang
maka akan semakin mulia dan mulia akhaknya.
Seorang pendidik atau Pembina agama sudah semestinya tidak mengajarkan
tauhid yang merupakan dari inti aqidah ini hanya sekedar teoritis saja. Akan tetapi
harus diimbangi dengan pendidikan yang lebih menekankan pada pengalaman
langsung melalui pembiasaan. Hal ini sesuai dengan apa yang telah dicontohkan
Rasululah Muhammad Saw., karena beliau tidak diutus melainkan sebagai suri
tauladan yang baik dan penyempurna akhlak. Atau kita sering mendengar dengan
istilah leadership by sample.

38

M. Munir, S. Ag., MA dan Wahyu Ilaihi, S. Ag., MA, Op. Cit. hlm. 28

108

109

BAB IV
ANALISIS

A. Efektifitas Pembinaan Agama Bagi Taruna dan Taruni di Akademi Kepolisian


Sesuai dengan pengamatan dan penelitian yang penulis lakukan terhadap
pembinaan agama Taruna dan Taruni Akademi Kepolisian, di sini dapat penulis
temukan beberapa dampak positif yang mewarnai aktifitas atau amaliyah keagamaan
yang dilakukan Taruna dan Taruni. Beberapa dampak positif itu antara lain :
1. Meningkatnya kualitas Iman dan Taqwa

Ketika kita berbicara tentang meningkatnya kualitas iman seseorang


maka hal ini dapat dilihat dari pengertian iman secara umum itu sendiri yang
sebagaimana telah diulas dalam bab-bab sebelumnya. Iman adalah sebuah
konsep dimana taqwa adalah aplikasi dari keimanan itu sendiri. Ketika
seseorang beriman maka indikasinya adalah dia senantiasa menjalankan
perintah-perintah agama dan menjauhi apa yang menjadi larangan-Nya.
Indikator ini dapat di lihat dari kehidupan sehari-hari Taruna dan Taruni ini.
Walaupun dalam pelaksanaannya masih dalam bayang-bayang kewajiban
yang bersifat memaksa. Akan tetapi lama-kelamaan dengan seiring
berjalannya waktu dan berkembangnya wawasan yang didapatkan maka
keterpaksaan itu berubah menjadi suatu kebutuhan, walaupun prosentasenya
belum begitu signifikan. Akan tetapi hal ini cukup memuaskan mengingat

110

jadwal mereka yang teramat padat dan kondisi fisik dan psikologis mereka
yang masih labil.
Selain itu beranjak dari nilai dan ajaran agama yang diberikan sejak usia
dini, kemudian tumbuh dan berkembang dilingkungan keluarga serta
masyarakat yang sudah agamis-Islamis, belum lagi ditambah dengan gema
pengajian, dakwah yang nyaris tidak pernah terputus menyapa telinga, adalah
wajar jika semua ini pada gilirannya akan membentuk fondasi yang kokoh terhadap
kuatnya iman dan taqwa. Demikianlah yang tampak berlaku di tengah Taruna dan
Taruni Akademi Kepolisian, sehingga ekspresi pola tingkah laku yang muncul ke
permukaan seakan terbingkai dalam kerangka Imtitsaalu Awaamirihi Wajtinabu
Nawaahiihi, yakni mengerjakan perintah-perintah-Nya serta menjadi laranganlarangan-Nya. Hal ini sangat sesuai dengan apa yang diungkapkan salah mantan
Gubernur Akpol dalam sambutan buku jadwal khutbah Jumat di Akpol tahun 2009
yaitu alumnus Akademi Kepolisian diharapkan menjadi pemimpin yang

berperadaban surgawi, penegak hukum dan penegak ketaqwaan dalam tugas


selaku pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat dengan baik dan benar.
Kalau kita mau berenung maka sebenarnya hakekat seorang pemipin
adalah pelayan masyarakat. Sehingga dalam hal ini Polri sebagai pengemban
tugas pelayan pelindung dan pengayom masyarakat sudahlah tepat. Walaupun
dalam perjalanannya butuh suatu usaha keras dalam mewujudkan cita-cita
mulia tersebut. Di sinilah pembinaan agama yang diberikan kepada kader
pemimpin Polri ini berperan. Sehinggga lewat sarana inilah mereka digodok

111

dalam kawah candra di muka, ditempa untuk menjadi Perwira Polri yang
professional di bidangnya dan mempunyai benteng aqidah yang kokoh
sehingga tidak mudah terombang-ambing oleh situasi tidak kondusifdi
lapangan.
Di sisi lain walaupun pembinaan agama ini diwajibkan sehingga muncul
sebuah persepsi bahwa kegiatan ini dipaksakan, akan tetapi terbukti hal ini menjadi
kebutuhan para Taruna dan Taruni Akpol. Hal ini dapat dilihat pada betapa gairahnya
para kader pemimpin Polri ini dalam setiap mengikuti pelaksanaan pembinaan agama
yang diselenggarakan oleh lembaga.
2. Taat beribadah
Dengan dilandasi dengan iman dan taqwa yang kuat, yang prosesnya telah
lama melewati perjalanan panjang, yakni sejak dini hingga tumbuh remaja, ibadah
bukanlah suatu yang membebani dan memberatkan. Melainkan sebaliknya ibadah
adalah sesuatu yang indah, yang dapat menghadirkan ketenteraman batin serta
mendatangkan kedamaian jiwa. Terlebih lembaga Pendidikan pencetak Perwira Polri
sesuai dengan hasil wawancara dan pengamatan penulis sangat memberikan
kesempatan yang luas bagi Taruna dan Taruni ini untuk melaksanakan ibadah sesuai
dengan agama masing-masing.
Hal ini dapat dilihat dari kesadaran meraka dalam menjalankan praktekpraktek ibadah seperti salat wajib maupun sunah, puasa wajib maupun sunah, zakat,
kurban, dan lain sebagainya. terlebih lembaga Akademi Kepolisian begitu
memfasiltasi seluruh kegiatan yang ada khusunya ibadah.

112

Pada dasarnya dalam Islam penghambaan manusia terhadap Tuhannya


merupakan suatu kewajiban bagi mukallaf, hal ini sesuai dengan firman Allah Swt
sebagai berikut:

{56 : }  7u9 ) }M}$#u g:$# M)n=yz $tu


Artinya : dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan
supaya mereka mengabdi kepada-Ku. 1 (QS. Adz dzariyat : 56)
Ketenangan serta ketenteraman jiwa selalu didambakan dan Taruna
Taruni akan mendapatkan ketika ia melakukan salat, remaja tersebut belum
merasa tenang apabila datang waktu sholat dan ia belum melaksanakan
kewajiban tersebut. Kekhusyuannya ketika menghadap Tuhan didasari bahwa
Tuhanlah tempat untuk mangadu tentang segala sesuatu dan Tuhan pula yang
mampu untuk memberikan segala kekuatan serta penyelesaian permasalahan
yang dihadapinya, ia tetap ingin dekat dengan Tuhan. Hal ini dapat dilihat
pada firman Allah Swt, sebagai berikut;
{45 : }  ts:$# n?t ) u7s3s9 $p)u 4 4n=9$#u 99$$/ (#tF$#u
Artinya : Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan
Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang
yang khusyu'.2 (QS. Al-Baqarah ayat 45)
Dari ayat tersebut jelaslah bahwa ketenangan jiwa seseorang setelah
melaksanakan shalat dengan mentaati segala peraturan dan ketentuan yang
1

Yayasan Penyelenggara Penerjemah/Tafsir al-Quran, Al Quran dan Terjemahnya,


Departemen Agama 1995, hlm. 862
2
Yayasan Penyelenggara Penerjemah/Tafsir al-Quran, Al Quran dan Terjemahnya,
Departemen Agama 1995, hlm. 16

113

telah ditetapkan Allah, maka akan membawanya kepada kebahagiaan di dunia


dan akhirat. Karena manusia yang salatnya baik, adalah manusia yang tinggi
kadar imannya dan selalu mendapat hidayah, taufiq dari Allah S.W.T. 3
Sedangkan dari psikis remaja banyak mengalami permasalahan, seperti yang
dikemukakan oleh Dr. Zakiah Daradjat Pertumbuhan yang tidak seimbang
antara fisik dan psikis akan menjadi sesuatu yang dapat menjadikan
kegoncangan jiwa remaja dan kegoncangan keyakinan yang terjadi sesudah
perkembangan kecerdasan selesai itu, tidak dapat dipandang sebagai suatu
kejadian yang berdiri sendiri akan tetapi berhubungan dengan segala
pengalaman dan proses pendidikan yang dilaluinya sejak kecil. Karena
pengalaman-pengalaman itu ikut membina pribadinya.4
Hal ini merupakan prestasi yang cukup membanggakan, akan tetapi
semua ini tidak terlepas dari latar belakang aqidah yang telah dibawa dari
pembiasan semasa kecilnya di lingkungan keluarga. Hal ini ditambah dengan
ketika mereka diterima sebagai Taruna dan Taruni Akpol dimana di lembaga
ini mereka digodok dengan berbagai metode yang sudah disesuaikan.
Sehingga alumnus Akpol ini dapat menjadi perwira Polri yang professional di
bidangnya dan dengan tetap memegang teguh keimanan dan tata moral yang
berlaku baik di masyarakat maupun agama.

3
4

Nasruddin Razak, Dienul Islam, (Bandung ; Al-Maarif, 1989), hlm.180


Zakiah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta; Bulan Bintang, 2005), hlm. 115

114

Dari data pada tabel 3 di atas menunjukkan bahwa aktifitas keagamaan


Taruna dan Taruni Akpol yang cukup bagus, hal ini terbukti dengan keaktifan
dan motifasi dari kegiatan keagamaan yang dijalankan. Dari keaktifan dan
motivasi tersebut dapat dilihat bahwa orientasi Taruna dan Taruni tidak hanya
menggapai kebahagiaan dunia atau akhirat semata, akan tetapi lebih jauh yaitu
mendapatkan kebahagiaan kedua-duanya yaitu dunia dan akhirat. Ini
menunjukkan bahwa orientasi keimanan yang ada pada diri Taruna dan Taruni
menunjukkan tanda-tanda peningkatan. Indikator lainnya terlihat dari semakin
aktifnya mereka dalam mengikuti ritual-ritual keagamaan. Sebagaimana
konsep yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa tingkat keimanan
mempengaruhi pola dan tingkah laku (akhlak) seseorang.
Akan tetapi yang perlu digaris bawahi adalah apa yang masuk dalam
tabel kegiatan keagamaan di atas merupaka suatu hal yang fundamental dalam
Islam seperti salat lima waktu, puasa Ramadhan, membayar zakat, dan lainlain. Dengan kata lain hal tersebut menjadi doktrin wajib bagi setiap muslim,
sehingga implikasinya peninggalan terhadap hal tersebut akan mendapatkan
sanksi dosa.
Hal ini menjadi tugas kita bersama terlebih para pimpinan dan Pembina
dalam lembaga Akademi Kepolisian ini yang secara langsung berinteraksi
dengan Taruna dan Taruni. Tingkat pemahaman meraka akan agama harus

115

diperdalam dengan memberikan pembinaan dengan model-model yang mudah


dipahami oleh Taruna dan Taruni sekalian.
Adapun menurut Mc Guire, proses perubahan sikap dari tidak menerima
ke sikap menerima berlangsung melalui 3 (tiga) tahap, yang pertama adanya
perhatian, kedua, adanya pemahaman, ketiga adanya penerimaan. 5 Oleh
karena itu tugas Pembina agama minimal ada 2 (dua), yang pertama,
pendidikan agama yang diberikan harus menarikperhatian peserta didik, untuk
menopang pencapaian itu Pembina harus dapat merencanakan materi, metode
serta alat-alat bantu yang memungkinkan Taruna dan Taruni memberikan
perhaiannya. Kedua, para Pembina harus mampu memberikan pemahaman
pada Taruna dan Taruni tentang materi yang diberikan.
3. Akhlak

Sebagaimana telah dijelaskan di depan bahwasannya salah satu inti dari


aqidah Islamiyah adalah pada iman dan amal sholeh. Tidak dapat dikatakan
seseorang mempunyai iman yang baik tanpa beramal sholeh, sebaliknya orang
yang beramal baik tidak akan mendapatkan pahala terkecuali dilandasi dengan
iman. Sehingga apabila seseorang ingin dikatakan mempunyai aqidah yang
baik maka kedua hal tersebut merupakan hal yang harus senantiasa
dijalankan. Terlebih Allah Swt dalam firman-Nya setiap kali menyebut yaa
ayyuha alladzina aamanu senatiasa diikuti dengan kata wa amilu alsholihati. Hal ini menandakan bahwa manifestasi keimanan seseorang
5

Prof. Dr. H. Jalaluddin, Op. Cit., hlm. 217

116

terhadap Tuhannya harus menimbulkan efek sesorang tersebut senantiasa


menjaga tingkahlaku, sikap, etika, dan moralnya di hadapan makhluk-Nya.
Telah kita ketahui bersama bahwasannya manusia adalah makhluk sosial
yang tidak dapat hidup tanpa adanya bantuan dari manusia lainnya. Sehingga
dalam pergumulannya setiap hari tidak dapat lepas dari interaksi manusia,
hewan, dan alam semesta ini. Sehingga orang yang beriman dia akan
senantiasa berbuat baik terhadap sesama manusia, dan alam sekitarnya.
Keharusan manusia untuk berakhlak mulia disini juga ditegaskan Allah
Swt melalui utusan-Nya Muhammad Saw yaitu tidak Aku (Allah) mengutus
kamu (Muhammad) kecuali untuk menyempurnakan Akhlak. Terlebih nabi
Muhammad Saw diutus Allah sebagai suri tauladan yang baik bagi seluruh
umat manusia.
Kaitannya dengan data yang penulis temukan mengenai kehidupan
Taruna dan Taruni Akpol maka dapat diterangkan bahwa seluruh kegiatan
sehari-hari Taruna dan Taruni Akpol ini telah disetting sedemikian rupa
melalui pedoman yang diterbitkan lembaga ini dalam sebuah buku Peraturan
Kehidupan Taruna (Perduptar).
Dalam buku tersebut semua tata laksanaka kehidupan Taruna dan Taruni
ini telah diatur, mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali, termasuk di
dalamnya adalah etika. Baik etika dalam berkomuikasi, makan, tidur,
pengasuhan/pembinaan, etika terhadap alam lingkungan.

117

Selain itu metode pembinaan dan pengasuhan yang digunakan pengasuh


yang cukup memudahkan mereka dalam memahami materi pembinaan yang
disampaikan. Dalam perduptar pasal 11 tentang pengasuhan dijelaskan bahwa
dalam proses pengasuhan Taruna dan Taruni tidak hanya menjadi obyek
melainkan berperan aktif langsung dalam menentukan sikap mulai dari
perencanaan sampai pada pengendalian dan pengawasan. Menilik konsep ini
sesuai dengan model pembelajaran atau pendekatan yang telah penulis
paparkan dalam bab II.
Akan tetapi perlu disadari bahwa setiap model pembinaan agama
memiliki kelebihan dan kelemahan. Akan tetapi sebelum kita melihat akan hal
tersebut perlu diketahui bahwa pada intinya semua komponen yang ada di
Akpol ini baik dari Pembina atau pengasuh itu sendiri, masyarakat komplek
dan semua yang yang terlibat dalam proses pembinaan ini menempati posisi
yang penting. Terlebih para Pembina atau pengasuh yang secara langsung
diberikan mandat untuk menjalankan proses pembinaan itu sendiri.
Seperti telah penulis ungkapkan pada bab sebelumnya bahwa model
pembinaan di Akpol ini memang tidak secara eksplisit tercatat dalam
kurikulum. Akan tetapi apa yang berjalan selama ini menggambarkan apa
yang selama ini telah dilaksanakan pada kurikulum-kurikulum resmi pada
umumnya,

seperti

model

indoktrinasi,

moral

reasoning,

forecasting

118

consequence, dan pendekatan klasifikasi nilai sebagaimana telah penulis


paparkan dalam bab sebelumnya.
Sehingga dari sini dapat kita ketahui bahwa kelebihan dari model
pembinaan ini adalah Taruna dan Taruni tidak dipaksa dalam menerima
sebuah keputusan moral, akan tetapi mereka diarahkan untuk menemukan
nilai yang cocok yang tentunya tidak melanggar norma-norma yang berlaku
baik agama, adat, atau masyarakat. Akan tetapi memang ada kalanya beberapa
hal yang harus dipaksakan terlebih dahulu yaitu mengenai keimanan.
Adapun kelemahannya pada intinya hampir tidak ada kelemahan yang
muncul terjadi di luar metode itu sendiri yaitu pembinaan yang dilakukan
berulang-ulang dalam waktu yang cukup lama yaitu selama pendidikan ( + 3
tahun) menimbulkan kebosanan. Itupun sebenarnya dapat diantisipasi dengan
diberukannya waktu untuk pesiar 3 kali dalam seminggu kepada Taruna
Taruni untuk sekedar me-refresh6 kondisi fisik dan psikis mereka.

B. Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Keberhasilan Dalam Pembinaan Agama


Terhadap Taruna Dan Taruni Di Akademi Kepolisian
Untuk mengetahui adanya keberhasilan pembinaan mental, maka
peranan dari pembina sangat diperlukan bagi remaja. Karena dengan
tertanamnya jiwa pada remaja akan mampu menjadikan religiusitas sebagai

Pesiar adalah kegiatan keluar kampus yang dilakukan 3 kali seminggu, yaitu hari Rabo, Sabtu,
dan Ahad setelah melaksanakan kegiatan rutinitas pada hari itu.

119

acuan aktivitasnya. Sehingga Taruna dan Taruni tidak mudah terjerumus


untuk melakukan tindakan yang dapat berakibat mencelakakan dirinya atau
orang lain. Hal ini sesuai dengan pendapatnya H. Weger :
Agama buat remaja menyajikan kerangka moral untuk membandingkan
tingkah laku seorang sebagai kerangka moral agama bisa merupakan
stabilisator tingkah laku keagamaan. Agama juga menjawab pertanyaan
remaja tentang mengapa dirinya ada di dunia, sehingga demikian agama
bisa memberikan perlindungan dan rasa aman kepada yang sedang
berusaha untuk mengembangkan eksistensi dirinya.7
Dengan demikian agama merupakan cara penyelesaian masalah atau
menjalankan kegiatan yang positif bagi remaja.
Di Akademi Kepolisian pembina merupakan faktor yang dominan dalam
membina mental kader pemimpin Polri ini. Pembina sangat berpengaruh
terhadap berhasil tidaknya kegiatan keagamaan.
1. Faktor Pendukung
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi atau menunjang keberhasilan
pelaksanaan pembinaan agama adalah :
a. Keteladanan (Leadership by Sample)
Nilai ketaatan dari para pembina dalam menjalankan perintah
agama, seperti aktif beribadah salat di mushola atau di masjid, ini
merupakan bukti suri tauladan bagi Taruna dan Taruni yang notabene
7

206

. Sarlito Wirawan Sarwono, Psikologi Remaja, Rajawali Pers, Jakarta, Cet II, 2004, hlm.

120

adalah peserta didik, karena apa yang dibimbingkan sesuai dengan apa
yang dilaksanakan.
b. Pengasuh atau pembina yang ahli dibidangnya.
Peran pengasuh atau Pembina dalam hal ini tidak dapat
dikesampingkan. Mutu dari pengasuh ini menjadi tolok ukur majunya
proses pembinaan agama yang ada. Pengalaman dan background
pendidikan yang dimiliki pengasuh ini sangat mewarnai pola pikir dari
Taruna Taruni terlebih dalam bidang pemahaman agama yang dalam hal
ini adalah aqidah Islamiyah. Lewat media pengasuhan agama ini
setidaknya terjadi transfer ilmu dan pengalaman dari para pengasuh ke
Taruna sehingga Taruna Taruni yang sebelumya tidak tahu akan menjadi
tahu, dan yang belum paham akan menjadi paham, serta yang sebelumnya
paham akan mendapatkan pemahaman yang lebih luas akan Islam.
Sehingga dalam berislam mereka lebih fleksibel yang tentunya tetap
berpegang pada al-Quran dan al-Hadits.
c. Demokratis
Adanya sifat demokratis (terbuka) dari Taruna dan Taruni untuk
meminta bantuan dari para pembina di dalam menyelesaikan masalah
yang dihadapi, dalam hal ini dapat menunjang bagi keberhasilan suatu
pembinaan agama. Karena dengan adanya sifat demokratis pembina

121

memperoleh kemudahan untuk memberikan bantuan atau alternatif


pemecahannya serta jawabannya. Sehingga Taruna dan Taruni apabila
menghadapi persoalan-persoalan dapat segera dipecahkan bersama.
d. Metode yang bersifat kekeluargaan
Keberhasilan dalam pembinaan agama tidak terlepas dari metode
yang diterapkan oleh para pengasuh atau Pembina baik indoktrinasi, moral
reasoning, forecasting concequence,dan lain-lain sebagaimana dijelaskan
dalam bab II. Sehingga dengan metode ini Taruna menjadi aktif dan
kreatif untuk menentukan sikap yang dipandang sesuai dengan nilai-nilai
berlaku baik di masyarakat maupun dihadapan agama.
e. Kondisi masyarakat yang majemuk
Bagaimanapun pula masyarakat juga ikut berperan membentuk
karakter moral dan keberagamaan seseorang. Kondisi masyarakat yang
majemuk yang terdiri dari berbagai suku bangsa, ras, dan agama membuat
Taruna dan Taruni berpikir luas, tidak fanatik sempit.
f. Kondisi alam sekitar yang nyaman
Kondisi alam yang nyaman seakan mamanjakan Taruna dan Taruni
dalam mengikuti setiap kegiatan pembinaan agama. Suasana alam yang
tenang, hijau, udara yang sejuk, lingkungan yang bersih memberikan
motivasi tersendiri bagi Taruna dan Taruni untuk senantiasa giat dalam
belajar baik ilmu yang bersifat umum maupun agama.

122

g. Fasilitas yang memadai


Semua hal yang mendukung kegiatan pembinaan agama di atas tidak
akan berjalan lancar tanpa adanya sarana dan prasarana yang memadai.
Dukungan sarana dan prasarana di Lembaga ini sangatlah lengkap. Mulai
dari tempat ibadah, transportasi, dan sarana prasarana lainnya yang
berkaitan dengan pembinaan agama. Dan sebagainya.
2. Faktor Penghambat
Selain faktor-faktor yang mendukung kegiatan pembinaan, tentunya
ada faktor yang menghambat pula, adapun faktor yang menghambat
adalah sebagai berikut;
a. Terlalu padatnya jadwal Taruna dan Taruni
Jadwal kegiatan Taruna dan Taruni yang sangat padat memang
terkadang membuat kondisi fisik dan psikis. Sehingga dalam pelaksanaan
kegiatan-kegiatan yang bersifat penunjang seperti pengasuhan agama ini
menjadi ternomer duakan. Bagaimana tidak setelah beraktifitas seharian
penuh baik belajar di kelas maupun di luar kelas kondisi fisik dan mental
yang ada sebenarnya kurang begitu siap. Akan tetapi karena kegiatan
pengasuhan agama ini bersifat wajib maka mereka tetap menjalankan
walaupun dengan keadaan terpaksa. Mungkin inilah yang mengakibatkan
kegiatan-kegiatan pembinaan agama yang ada kurang dapat diterima
dengan sempurna.

123

Akan tetapi perlu disadari bahwa secara psikologis pembinaan


agama yang dilakukan secara terus-menerus akan memberikan efek positif
terhadap diri kita. Manusia dalam kehidupan sehari-hari mempunyai
kebutuhan-kebutuhan diantaranya kebutuhan akan jasmani, rohani,
maupun kebutuhan sosial. 8 Al-Quran sebagai dasar dan sumber ajaran
Islam banyak ditemui ayat-ayat yang berhubungan dengan ketenangan dan
kebahagiaan jiwa sebagai hal yang prinsipil dalam kesehatan mental.
Contohnya ayat yang menerangkan tentang kebahagiaan dan ketenangan
jiwa adalah sebagai berikut;

( $u9$# y7t7t [s? u ( ntzF$# u#$!$# !$# 9t?#u !$y tG/$#u


!$# ) ( F{$# y$|x9$# 7s? u ( s9) !$# z|mr& !$y2 mr&u
{77 : }  t9$# =t
Artinya : dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah
kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan
bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada
orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan
janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah
tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. 9(QS. Al-Qashash
ayat 77)

Prof Dr H Jalaluddin, Op.Cit., hlm. 154


Yayasan Penyelenggara Penerjemah/Tafsir al-Quran, Al Quran dan Terjemahnya,
Departemen Agama 1995, hlm. 623
9

124

Ayat di atas Allah memerintahkan orang Islam untuk merebut


kebahagiaan akhirat dan kenikmatan dunia dengan jalan berbuat baik dan
menjauhi perbuatan yang mungkar.
Ayat tentang ketenangan jiwa

>=)9$# ys? !$# 2/ r& 3 !$# ./ /=% us?u (#t#u t%!$#


{28 : } 
Artinya : orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram
dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah
hati menjadi tenteram. 10 (QS. al-Rad ayat 28)
Dari ayat di atas secara tegas menerangkan, bahwa ketenangan jiwa
dapat dicapai dengan zikir (mengingat) Allah.
b. Adanya kegiatan yang berifat dadakan
Adanya kegiatan yang berkenaan dengan dinas yang harus
melibatkan Taruna dan Taruni di jam-jam pengasuhan atau pembinaan.
Suatu contoh ketika rutinitas jam pengasuhan atau pembinaan
berlangsung, tiba-tiba ada perintah dari Pimpinan yang menghendaki
kehadiran Taruna dan Taruni sebagai suatu kelengkpan yang tidak dapat
ditawar lagi maka secara otomatis pengasuh atau Pembina yang ada di
lapangan langsung mengalihkan pembinaan tersebut kepada kegiatan yang
telah diarahkan pimpinan tersebut.

10

Yayasan Penyelenggara Penerjemah/Tafsir al-Quran, Al Quran dan Terjemahnya,


Departemen Agama 1995, hlm. 373

125

C. Hal Yang Menarik dari Pembinaan Agama di Akademi Kepolisian


Hal yang menarik dalam pembinaan yang dilaksanakan di Akpol ini
adalah komposisi dari yang diberi pembinaan itu sendiri. Yaitu Taruna Taruni
yang memang disiapkan menjadi kader pemimpin Polri di masa yang akan
datang. Memang pembinaan pada umumnya tidak jauh berbeda yang
membuat berbeda adalah siapa yang menjadi obyeknya sendiri. Sehingga
pembinaan yang dilakukan di lembaga ini sangatlah menjadi sorotan
mengingat yang dibina ini adalah orang yang akan meneruskan pucuk
pimpinan Polri yang bertugas sebagai pengayom, pelindung dan pelayan
masyarakat.
Sehingga ketika melihat hal di atas menimbulkan konsekuensi yang
sangat luar biasa apabila pembinaan ini tidak berjalan dengan baik. Dan perlu
diketahui selain itu mereka adalah calon penegak hukum di Negara ini, yang
diharuskan dapat menjalankan tugasnya secara proporsional sesuai dengan
norma-norma yang berlaku tanpa memandang ras, suku, golongan, dan
agama.

126

BAB V
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Setelah penulis mengadakan penelitian dan menganalisis data yang
terkumpul, maka selanjutnya penulis sajikan kesimpulan dari hasil penelitian
tentang PEMBINAAN TARUNA TARUNI AKPOL SEBAGAI UPAYA
PENINGKATAN AQIDAH ISLAMIYAH (STUDI KASUS DI AKADEMI
KEPOLISIAN SEMARANG) di bawah ini:
1. Ternyata pembinaan mental keagamaan yang dilaksanakan di Akpol ini
walaupun yang terkesan memaksa diawalnya terbukti memberikan kontribusi
yang sangat besar terhadap usaha lembaga ini dalam rangka mencetak kader
perwira Polri yang profesional dibidangnya juga tetap berpegang teguh kepada
nilai-nilai aqidah Islamiyah. Sehingga dengan demikian terbukti bahwa ternyata
pembinaan Personel ini cukup memberikan pengaruh terhadap usaha peningkatan
aqidah Islamiyah Taruna Taruni ini. Hal ini dapat dilihat dari aktifitas keagamaan
sehari-hari yang dilakukan oleh kader pemimpin Polri ini yang tidak lepas dari
nilai-nilai aqidah Islamiyah. Dalam tataran ini aqidah yang tertanam tidak hanya
diyakini dalam hati saja akan tetapi juga dipedomani dalam sikap tingkah laku
keseharian dalam bingkai hablum minallah, hablum minannas, dan hablum minal
alam dengan tetap berpegang teguh terhadap al-Quran dan al-Hadist.

127

2. Keberhasilan dalam pembinaan ini tidak lepas dari paran yang dilakukan
bagian Urusan Perawatan Personel yang telah mengkoordinir terlaksananya
pembinaan ini. Karena bagian inilah yang memang secara dinas diberikan
kewenangan oleh lembaga untuk menyelenggarakan dan menjadwalkan kegiatan
pembinaan atau pengasuhan agama. Walaupun dalam prakteknya bagian ini juga
merangkul lembaga-lembaga keagamaan sekitar, seperti Kementerian Agama,
BAI JAteng, dan ulama-ulama sekitar. Hal ini di karenakan terbatasnya jumlah
personel yang mengurusi bagian ini baik secara kuantitas maupun kualitas. Sejauh
ini bagian Urusan Perawatan Personel ini telah mengadakan beberapa kegiatan
keagamaan yang rutin baik yang bersifat mingguan, bulanan, dan tahunan. Untuk
yang bersifat mingguan adalah pengasuhan Jumat siang yang dilakukan
beriringan dengan salat Jumat berjamaah, pengajian ahad pagi yang diawali
salat subuh berjamaah, diteruskan dengan pembacaan salawatan, asma alHusna, Yasin, Tahlil, ceramah agama, doa bersama, kumpul keluarga asuh, dan
ditutup dengan kurve (bersih-bersih masjid dan lingkungan sekitar). Adapun yang
bersifat bulanan adalah pengajian personel yang diikuti oleh seluruh antap
(anggota tetap Akpol) dan yang bersifat tahunan adalah peringatan-peringatan
hari besar agama seperti maulid al-Rasul, Isra Miraj, Idul Adha, Kegiatan
malam bulan ramadhan, Idul Ftri, dan lain sebagainya.

128

B. SARAN-SARAN
a. Taruna dan Taruni
1. Mengingat tugas Lembaga Akademi Kepolisian yang mencetak Perwira
Polri yang bersifat netral maka Taruna dan Taruni harus sadar bahwa
walaupun keyakinan agama yang diyakini berbeda-beda harus tetap
menjunjung nilai-nilai keadilan berdasarkan hukum yang berlaku tanpa
memandang suku, ras, dan agama. Hal ini penting karena masih banyak
komponen masyarakat kita yang mudah terpengaruh fanatik sempit
termasuk juga aparatur Negara.
2. Kaitannya dengan tugas nantinya yaitu sebagai pengayom, pelindung dan
pelayan masyarakat, tentunya bukan tugas yang mudah karena masih
banyak penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dari nilai yang
dijunjung di atas. Akan tetapi memang tidak sepenuhnya dapat disalahkan
mengingat situasi dan kondisi di lapangan sangatlah berbeda. Akan tetapi
yang dapat penulis garis bawahi adalah bagaimana sebagai aparatur
Negara nantinya dapat melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya tanpa
diri sendiri, masyarakat, Negara dan bangsa Indonesia.
3. Kepolisian adalah sebuah lembaga Negara yang mempunyai keistimewaan
dari aparatur Negara yang lain. Salah satunya adalah mereka dipersenjatai
dengan beberapa senjata guna memberikan sebuah jaminan keamanan di

129

masyarakat bukan untuk menindas dan memusuhi rakyat. Karena pada


dasarnya Polisi adalah dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.
4. Perlu diketahui pula bahwasannya setiap amal peruatan kita akan
senantiasa dicatat oleh Allah Swt., perbuatan baik maupun buruk nantinya
pasti akan mendapat balasan, baik cepat maupun lambat, baik di dunia
maupun di akhirat, sehingga diperlukan sebuah langkah yang bijak dalam
menjalani tugas yang diemban. Agar kita semua selamat di dunia hingga
akhirat. Dalam hal ini Allah Swt., berfirman;

(#%x. $y/ =_r& ps?u r& !$uk=s3?u ur& #n?t Fw tu9$#


{65 :  }
t63t
Artinya: pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah
kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka
terhadap apa yang dahulu mereka usahakan. 1 (QS. Yasin ayat 65)
Sehingga ketika kita melihat di ayat di atas sudah jelas bahwasannya amal
perbuatan kita sehari-hari akan senantiasa terpantau dan tercatat dengan
baik oleh Allah Swt., yang kemudian nanti akan menjadi perhitungan
tersendiri bagi seseorang apakah orang tersebut layak menghuni surga
atau neraka.
5. Janganlah bosan-bosan dalam menuntuk ilmu baik ilmu umum maupun
agama karena ilmu merupakan jendela dunia. Dengan ilmu hidup akan

Yayasan Penyelenggara Penerjemah/Tafsir al-Quran, Al Quran dan Terjemahnya,


Departemen Agama 1995, hlm.

130

menjadi maju, dan dengan agama hidup menjadi bahagia baik dunia
maupun akhirat.
6. Tetap mempedomani kaidah aqidah Islamiyah dengan tetap terus
meningkatkan kualitas keimanan dan amal shaleh. Jadikan hidup ini
terhormat di tengah masyarakat mulia di sisi Tuhan Allah Swt.
7. Manfaatkan secara maksimal media yang ada diantaranya perpustakaan
Akpol yang cukup banyak menyediakan buku-buku agama.
8. Sehingga setelah dipahami beberapa poin di atas, maka insya Allah
Kepolisian RI akan maju, karena pada dasarnya perlindungan,
pengayoman, pelayanan yang terbaik bagi masyarakat akan membuahkan
hasil sebuah naungan yang luar biasa dari Allah Swt. Amin.
b. Pimpinan dan Pembina Agama
Pada intinya pembinaan agama yang ada sudah berjalan dengan baik,
akan tetapi perlu ditingkatkan kuantitas maupun kualitas baik materi, sarana
dan prasarana serta kebijakan-kebijakan yang pro terhadap pembinaan agama
ini. Yang lebih penting lagi para pimpinan dan Pembina agama yang ada
harus senatiasa mencontoh Nabi dengan mengaplikasikan konsep leadership
by sample atau menjadi suri tauladan yang baik dalam kehidupan sehari-hari.
Pimpinan dan Pembina harus jeli bahwa yang dihadapi adalah para kader
pemimpin Polri di masa yang akan datang. Perannya sebagai pengayom,
pelindung, dan pelayan masyarakat tidak dapat dipandang sebelah mata.

131

Kegagalan dalam pembinaan ini berarti menjadikan akibat yang sangat fatal
bukan hanya bagi Taruna dan Taruni sendiri maupun instansi Kepolisian akan
tetapi lebih luas lagi yaitu masyarakat, nagara, bangsa dan agama.
c. Warga komplek Akpol
Mengingat Taruna dan Taruni adalah tanggung jawab bersama, maka
setidaknya warga yang tinggal di komplek Akpol ini dapat memberikan suri
tauladan yang baik, dengan tetap menjunjung nilai-nilai disiplin baik dalam
bekerja maupun beribadah. Karena tidak dipungkiri Akpol yang komposisinya
terdiri dari berbagai macam suku, ras, agama. Secara otomatis menimbulkan
suatu pemahaman yang berbeda, contohnya dalam hal ibadah. Terjadi banyak
perbedaan cara beribadah warga Akpol ini. Yang mengkhawatirkan adalah
ketika seseorang meyakini agamanya dengan baik maka muncul suatu
pembenaran terhadap apa yang diyakininya secara absolute. Implikasinya
adalah berarti secara tidak langsung menganggap yang lain salah walaupun
masih dalam satu agama atau keyakinan. Hal ini dapat menimbulkan
perpecahan.
Sehingga warga komplek Akpol harus dapat berlapang dada dan
menyadari akan hal ini. Karena bahwasannya Allah Swt telah berfirman:

3n=t n=y /3=ur& 3s9u $o=ur& !$us9 (#9$s%u t (#tr& u=9$# (#y #s)u
{55 :  }
t=pg:$# tF;t

132

Artinya : dan apabila mereka mendengar Perkataan yang tidak


bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: "Bagi Kami
amal-amal Kami dan bagimu amal-amalmu, Kesejahteraan atas dirimu, Kami
tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil". 2 (QS. Al-Qashas ayat 55)
{6 : }
 u<u /3 /3s9
Artinya : untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku."
Kafirun ayat 6)

(QS. Al-

Dengan turunnya ayat diatas maka tidak ada alasan saling menyalahkan
antara satu dengan yang lain baik seagama maupun berbeda agama. Terlebih
lingkungan warga Akpol hidup berdampingan dengan Taruna Akademi
Kepolisian yang di tangan mereka nantinya martabat dan kehormatan Korps
Kepolisian Republik Indonesia dipertaruhkan. Sehingga jadilah warga yang
ikut membangun kesuksesan visi dan misi Polri dengan menjadi warga yang
bisa menjadi suri tauladan yang baik.

C. PENUTUP
Puja dan puji syukur penulis haturkan kehadirat Allah Swt, karena berkat
rahmat, hidayah serta inayah-Nya penyusunan skripsi yang berjudul Pembinaan
Taruna Taruni Akpol dalam upaya Peningkatan Aqidah Islamiyah (Studi Kasus di
Akademi Kepolisian) ini dapat selesai.

Yayasan Penyelenggara Penerjemah/Tafsir al-Quran, Al Quran dan Terjemahnya,


Departemen Agama 1995, hlm. 618
3
Yayasan Penyelenggara Penerjemah/Tafsir al-Quran, Al Quran dan Terjemahnya,
Departemen Agama 1995, hlm. 1112

133

Penulis sadar bahwa hasil yang ada ini sangat jauh dari apa yang
diharapkan. Hal ini karena keterbatasan dari penulis semata. Sehingga kritik dan
saran sangatlah penulis harapkan.
Demikian skripsi ini penulis susun, semoga bermanfaat. Amin

134

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Hakim Al-Aqel, Nasher, Dr, Hubungan Akidah dan Syariat (terjemah),
(Jakarta: Gema Insani Press, 1996),
Abdul Qadir al-Bakriy, Shalah, Al-Quran dan Pembinaan Insan, (Bandung; PT. AlMaarif, 1983)
Abdullah As-Samman, Muhammad, Bagaimana Posisi Kita dalam Islam, (Solo: CV.
Pustaka Mantiq, 1993)
Abu Zahrah, Syeikh Muhammad, Al-Aqidah Al-Islamiyah, (al-Azhar: al-Bahuts alIslamiyyah, 1969M/1389H)
Aktualisasi Pembinaan Mental Fungsi Komando Dalam Rangka Mewujudkan
Penampilan Perorangan, 1998
Al-Maraghi, Muhammad Musthafa, Terjamah Tafsir al-Maraghi bab 4, (Semarang:
PT. Karya Toha Putra, 1993)
Anshori, Endang Saefudin, Ilmu Filsafat dan Agama, (Surabaya: Bina Ilmu, 1987)
Arikunto, Suharsimi, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta Rineka
Cipta , 2002)
Ash Shiddiqy, T.M. Hasbi, Al Islam Jilid I, (Jakarta: Bulan Bintang, 1977)
Bungin (Ed.), Burhan, Metodologi Penelitian Kualitatif (Aktualisasi Metodologis ke
Arah Ragam Varian Kontemporer), (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada,
2001)

135

Daradjat, Zakiah, Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta; Bulan Bintang, 2005),


Daradjat, Zakiyah, Islam dan Kesehatan Mental ( Pokok-Pokok Keimanan),
(Jakarta;Gunung Mulia, 1982)
Hamdani B.Dz, M., Pendidikan Ketuhanan dalam Islam, (Surakarta: Muhammadiyah
University Press, 2001)
Helmi, Masdar, Dakwah dalam Alam Pembangunan I, (Semarang Toha Putra, 1973),
Ibn Miskawaih, Tahzib al-akhlaq wa Tathir al-Araq (Mesir: al-Maqtabaah alMishriyah, 1934)
Ilyas, Yunahar, Lc, Drs. H, Kuliah Aqidah Islam, (Yogyakarta: LPPI Universitas
Muhammadiyah, 1993),
Imam al-Ghazali, Ihya Ulumuddin jilid III, (Beirut: Dar al-Fikr t.t),
Jalaluddin, Prof. Dr. H., Psikologi Agama (edisi revisi 2002), (Jakarta: PT.
RajaGrafindo Persada, 2002)
Jalaluddin, Psikologi Agama (Edisi Revisi 2004), Hak penerbitan (Jakarta; PT Raja
Grafindo Persada, 2004)
Kahmad, Dadang, M. Si, Dr., H, Sosiologi Agama, (Bandung:PT. Remaja
Rosdakarya, 2009)
M. Munir, S. Ag., MA dan Wahyu Ilaihi, S. Ag., MA, Manajemen Dakwah,
(Jakarta:Prenada Media, 2006),
Moloeng, Lexy J, MA, Prof. Dr, Meodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung:PT.
Remaja Rosdakarya, 2009)

136

Mubarok(et.al), Zaky, Akidah Islam, (Yogjakarta: UII Press, 2001),


Muhammad ibn Ismail al-Bukhari, Abu Abdillah, Syarh Shahih al-Bukhari, Dar alKutub al-Ilmiyah, Beirut, 2001
Nasirudin, M. Ag, Laporan Penelitian Individual, Pendidikan Tauhid Model Salafi
(Studi Kasus di Pondok Pesantren Islam Wonolopo Mijen Semarang),
(Semarang, 2009)
Nasution, Harun, Islam Rasional Gagasan dan Pemikirannya, (Bandung: Mizan,
1989),
Nata, Abuddin, MA, Prof, Dr, H, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: Rajawali Press,
1998)
Peraturan Kehidupan Taruna (Perduptar) Akademi Kepolisian sesuai Surat Keputusan
Gubernur Akademi Kepolisian No. Pol.: Skep/31/III/2008 tanggal 31 Maret
2008,
Profil Akademi Kepolisian (the profile of Indonesian Police Academy, 2007)
Razak, Nasruddin, Dienul Islam, (Bandung ; Al-Maarif, 1989)
Rousydiy, T.A. Lathief, Agama Dalam Kehidupan Manusia (Aqidah I), (Medan:
Rinbow, 1986),
Sabic, Sayid, Aqidah Islam (Ilmu Tauhid), (Bandung: CV. Diponegoro, 1993),
Sejarah Ringkas Dinas Pembinaan Mental Polri, 1980,
Sudarsono, SH, Drs, Etika Tentang Kenakalan Remaja, (Jakarta: PT. Bina Aksara,
1989)

137

Suwito, Prof. Dr., Filsafat Pendidikan Akhlak Ibnu Miskawaih, (Jogjakarta: Belukar,
2004),
Syaltut, Syeikh Mahmud, Prof. Dr., Akidah Dan Syari`at Islam (terjemah), (Jakarta:
Bumi Aksara, 1994),
Syamsuddin, M. Din, Dr, Etika dalam Membangun Masyarakat Madani, (Ciputat:PT.
Logos Wacana Ilmu, 2002)
Syeikh Zainuddin bin Abdul Aziz ibn Zainuddin al-Malabari, Irsyad al-Ibad
(Semarang: CV. Toha Putera)
Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, ed.3, (Jakarta :
Balai Pustaka, 2001
Wahhab Khallaf, Abdul, Prof., Ilmu Ushul Fiqh, (Semarang; Toha Putra Group,
1994),
Wirawan Sarwono, Sarlito, Psikologi Remaja, (Jakarta: Rajawali Pers, 2004)
Yayasan Penyelenggara Penerjemah/Tafsir al-Quran, Al Quran dan Terjemahnya,
Departemen Agama, 1995
Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, (Pustaka
Imam asy-Syafii, 2006),
Yusuf LN, Syamsu, M. Pd. Psikologi Belajar Agama (Perspektif Pendidikan Agama
Islam), Diterbitkan oleh (Bandung: C.V. Pustaka Bani Quraisy Divisi Buku
Umum, 2004)

138

REFERENSI INTERNET

http://www.akpol.ac.id/baru/index.php?option=com_content&view=article&id=88:ku
rikulum&catid=42:kurikulum&Itemid=192

DOKUMENTASI

Wawancara dengan Kasubbag Min Kortarsis Akpol

Pengajian Ahad pagi

Wawancara penulis dengan beberapa Taruna

Suasana kumpul keluarga asuh sebagai wahana Focus Group Discussion

Ceramah koordinator pengasuhan agama Islam yang dihadiri pula oleh Gubernur
Akpol

Wawancara dengan koordinator pengasuhan agama Islam dan Paur Watpers

Suasana salat Idul Adha di masjid Asy Syuhada Akpol

Arahan oleh Gubernur Akpol

Nama

TTL

Tingkat/Detasemen

Daerah asal

Pekerjaan Orang tua

A. TABEL KUISIONER
Pembianaan Taruna dan Taruni Akademi Kepolisian Dalam Aktivitas
Keagamaan Sehari-hari
No

Variabel

1.

Keaktifan (rajin)

a. Sangat aktif

shalat Fardlu

b. Aktif

Indikator*

c. Kurang aktif
d. Tidak aktif
2.

Tujuan shalat

a. mendapatkan pahala

Fardlu

b. Menghapus dosa
c. Menenteramkan jiwa
d. Ikut-ikutan

3.

Keaktifan (rajin)
shalat Sunnah

a. Sangat aktif
b. Aktif
c. Kurang aktif
d. Tidak aktif

4.

Tujuan shalat

a. Mendapatkan pahala
b. Menghapuskan dosa

Sunnah

c. Menenteramkan jiwa
d. Ikut-ikutan

5.

Keaktifan (rajin)

a. Sangat aktif

shalat berjamaah

b. Aktif
c. Kurang aktif
d. Tidak aktif

6.

Tujuan shalat

a. Mendapatkan pahala

berjamaah

b. Menghapuskan dosa
c. Menenteramkan jiwa
d. Ikut-ikutan

7.

Keaktifan (rajin)
shalat Jumat

a. Sangat aktif
b. Aktif
c. Kurang aktif
d. Tidak aktif

8.

Tujuan shalat

a. Mendapatkan pahala

Jumat

b. Menghapuskan dosa
c. Menenteramkan jiwa
d. Ikut-ikutan

9.

Keaktifan (rajin)

a. Sangat aktif

berpuasa

b. Aktif

Ramadlan

c. Kurang aktif
d. Tidak aktif

10.

Tujuan berpuasa

a. Mendapatkan pahala

Ramadlan

b. Menghapuskan dosa
c. Menenteramkan jiwa

d. Ikut-ikutan
11.

Keaktifan (rajin)
Puasa Sunnah

a. Sangat aktif
b. Aktif
c. Kurang aktif
d. Tidak aktif

12.

Tujuan Puasa

a. Mendapatkan pahala

Sunnah

b. Menghapuskan dosa
c. Menenteramkan jiwa
d. Ikut-ikutan

13.

Keaktifan (rajin)
Zakat Fitrah

a. Sangat aktif
b. Aktif
c. Kurang aktif
d. Tidak aktif

14.

Tujuan Zakat

a. Mendapatkan pahala

Fitrah

b. Menghapuskan dosa
c. Menenteramkan jiwa
d. Ikut-ikutan

15.

Keaktifan (rajin)
membaca alQuran

a. Sangat aktif
b. Aktif
c. Kurang aktif
d. Tidak aktif

16. Tujuan membaca


Al-Quran

a. Mendapatkan pahala
b. Menghapuskan dosa
c. Menenteramkan jiwa
d. Ikut-ikutan

17.

Keaktifan (rajin)
berdoa

a. Sangat aktif
b. Aktif
c. Kurang aktif
d. Tidak aktif

18.

Tujuan berdoa

a. Mendapatkan pahala
b. Menghapuskan dosa
c. Menenteramkan jiwa
d. Ikut-ikutan

19.

20.

Keaktifan (rajin)

a. Sangat aktif

Tahlil,Yasinan,

b. Aktif

dan Pembacan

c. Kurang aktif

Asmaul Husna

d. Tidak aktif

Tujuan Tahlil,

a. Mendapatkan pahala

Yasinan dan

b. Menghapuskan dosa

Pembacaan

c. Menenteramkan jiwa

Asmaul Husna
21.

Keaktifan (rajin)
mengikuti
Pengajian Ahad
Pagi

22.

a. Sangat aktif
b. Aktif
c. Kurang aktif
d. Tidak aktif

Tujuan

a. Mendapatkan pahala

mengikuti

b. Menghapuskan dosa

Pengajian Ahad

c. Menenteramkan jiwa

Pagi
23.

d. Ikut-ikutan

Keaktifan

d. Ikut-ikutan
a. Sangat aktif

Pelaksanakan
hari besar Islam

b. Aktif
c. Kurang aktif
d. Tidak aktif

24.

Tujuan

a. Mendapatkan pahala

Pelaksanakan

b. Menghapuskan dosa

hari besar Islam

c. Menenteramkan jiwa
d. Ikut-ikutan

25.

Keaktifan dalam

a. Sangat aktif

Kurve di Masjid,

b. Aktif

Mushola

c. Kurang aktif
d. Tidak aktif

26.

Tujuan dalam

a. Mendapatkan pahala

Kurve di Masjid,

b. Menghapuskan dosa

Mushola

c. Menenteramkan jiwa
d. Ikut-ikutan

27.

Keaktifan

a. Sangat aktif

membaca

b. Aktif

salawatan

c. Kurang aktif
d. Tidak aktif

28. Tujuan membaca


salawatan

a. Mendapatkan pahala
b. Menghapuskan dosa
c. Menenteramkan jiwa
d. Ikut-ikutan

10

Keterangan:
*

Beri tanda (X) untuk yang sesuai dengan anda.

B. FAKTOR PENDUKUNG DAN PENGHAMBAT

1. Faktor Pendukung

2. Faktor Penghambat

11

C. KRITIK DAN SARAN

1. Kritik

2. Saran

12

Terima kasih atas bantuannya


Penulis hanya mengucapkan Jazakumullah khoiron katsiron
Semoga Taruna dan Taruni sekalian dapat menyelesaikan pendidikan di Lembaga
Akademi Kepolisian ini dengan lancar hingga dapat dilantik menjadi Perwira Polri
yang berguna dan bermanfaat bagi diri, kedua orang tua, masyarakat, negara, bangsa,
dan agama. Amin 3x