Anda di halaman 1dari 107

KONDISI KECERDASAN SPIRITUAL DAN KETENTRAMAN

JIWA SISWA MTs MANBAUL HUDA TUNJUNGREJO


MARGOYOSO PATI

SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi
Persyarat guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata 1
Ilmu Ushuluddin
Jurusan Tasawuf Psikoterapi

Disusun Oleh :
SULISTIYANINGSIH
NIM. 4104038

FAKULTAS USHULUDDIN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2011

KONDISI KECERDASAN SPIRITUAL DAN KETENTRAMAN JIWA


SISWA MTs MANBAUL HUDA TUNJUNGREJO MARGOYOSO PATI

SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat
Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata 1 (S1)
Dalam Ilmu Ushuluddin
Jurusan Psikoterapi

SULISTYANINGSIH
NIM: 4104038

Pembimbing I

Pembimbing II

Dra. Hj. Fatimah Usman, M.Si


NIP. 19560805 198503 2 001

Fitriyati, S.Psi., M.Si.


NIP. 19690725 2005051 2 002

Prof. Dr. H. Abdullah Hadziq, M.A

ii

Sri Rejeki, S.Sos.I., M.Si

PENGESAHAN

Skripsi saudari Sulistyaningsih, NIM. 4104038 telah dimunaqosahkan


oleh Dewan Penguji Skripsi Fakultas Ushuluddin Institut Agama Islam
Negeri Walisongo Semarang, pada tanggal:
25 Juli 2011
dan telah diterima dan disahkan sebagai salah satu syarat guna
memperoleh gelar Sarjana (S.1) dalam Ilmu Ushuluddin.

An. Dekan Fakultas Ushuluddin/


Ketua Sidang

Drs. Machrus, M.Ag.


NIP. 19630105 199001 1 002
Pembimbing I

Penguji I

Prof. Dr. H. Abdullah Hadziq, M.A.


NIP. 1900103 197703 1 002

Dra. Hj. Fatimah Usman, M.Si


NIP. 19560805 198503 2 001

Pembimbing II

Penguji II

Sri Rejeki, S.Sos.I., M.Si


NIP. 19970304 200604 2 001

Fitriyati, S.Psi., M.Si.


NIP. 19690725 2005051 2 002

Sekretaris Sidang

Dr. Sulaiman Al-Kumayi, M.Ag.


NIP. 19730627 200312 1 003
iii

DEKLARASI
Dengan penuh kejujuran dan tanggung jawab, penulis menyatakan bahwa
skripsi ini tidak berisi materi yang telah pernah ditulis oleh orang lain atau
diterbitkan. Demikian juga skripsi ini tidak berisi satupun pikiran-pikiran
orang lain, kecuali informasi yang terdapat dalam referensi yang dijadikan
bahan rujukan.

Semarang, 25 Juli 2011


Deklarator,

Sulistyaningsih
NIM. 4104038

iv

MOTTO


Artinya : (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka
manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan
mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.
(QS: Ar- Rad: 28).

PERSEMBAHAN
Skripsi ini aku persembahkan:
1. Kedua orangtua ku (Bapak Sarno Dan Ibu Mastiah) yang dengan sabar
membimbing dan membesarkan aku dengan segenap kasih sayang dan terima
kasih atas doa-doa yang engkau curahkan.
2. Calon suamiku tersayang (Hendra) yang dengan setia menemani dan tak lelah
memberikan semangat dikala aku lemah.
3. Semua Adik-adikku (Bombom, Gendon, Alfin) yang senantiasa memberi
semangat.
4. Teman-teman seperjuangan, Mila, Indah, Evi. Mas Jay, zainul, Mentul
makasih atas semua masukannya.
5. Temen-temen di Teng-Teng (Mba Azza, Sweety) terimakasih untuk semuanya
ya,sory tak tinggal terus.

vi

ABSTRAK
Penelitian berjudul Kondisi Kecerdasan Spiritual dan Ketentraman Jiwa
Siswa MTs Manbaul Huda Tunjungrejo Margoyoso Pati. Oleh Sulistyaningsih.
Kecerdasan seseorang dapat diukur dari kemampuannya dalam mengendalikan
hawa nafsunya (cerdas emosi) dan mengorientasikan semua amalnya pada
kehidupan sesudah mati (cerdas spiritual).
Rumusan masalah yang diangkat adalah bagaimanakah kondisi kecerdasan
spiritual dan ketentraman jiwa siswa MTs Manbaul Huda Tunjungrejo
Margoyoso Pati? Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kondisi kecerdasan
spiritual dan ketentraman jiwa siswa MTs Manbaul Huda Tunjungrejo
Margoyoso Pati.
Penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan penulis dengan jenis
penelitian deskriptif kualitatif, meskipun berangkat dari data lapangan dan angket
dengan melibatkan 50 siswa dari kelas 7 dan kelas 8; akan tetapi tidak
menggunakan dan mengedepankan salah satu rumus statistik yang ada sebagai
tujuan akhir penelitian ini. Metode pengumpulan data yaitu dengan observasi,
angket, dan wawancara. Penulis menggunakan metode analisis induktif, yaitu
suatu pengambilan keputusan dengan menggunakan pola pikir yang berangkat
dari fakta-fakta yang sifatnya khusus kemudian digeneralisasikan kepada hal-hal
yang bersifat umum untuk menarik kesimpulan.
Hasil penelitian ini diketahui bahwa: Kondisi kecerdasan spiritual dan
ketentraman jiwa siswa di MTs Manbaul Huda Tunjungrejo Margoyoso Pati
dalam kondisi baik, terbukti dengan terdapat beberapa kategori kondisi
kecerdasan spiritual siswa: berpandangan luas, gagasan segar, memiliki
pemahaman tujuan hidup, moralitas tinggi, memiliki minat yang keras, kesadaran
diri, berpandangan efisien tentang realitas, berpendapat kokoh, memiliki intuisi
kuat, cenderung gembira, rasa humor dewasa. Kondisi ketentraman jiwa siswa
memiliki kondisi dengan kategori: beriman, disiplin diri, tegas, penuh
pengharapan, mempunyai ketetapan hati, suka kebersihan, obyektif, bersemangat,
murah hati, menebar cinta, menjaga kehormatan, loyal, jujur, tanggungjawab,
lembut, kasih sayang, memiliki idealisme, percaya diri, kreatif, bisa
mempertimbangkan, bijaksana, menjunjung kepercayaan, fleksibel, berjiwa
memaafkan, toleran. Hal kunci yaitu: Cinta, dipahami sebagai perasaan yang lebih
menekankan pada kepekaan emosi dan sekaligus menjadi energy kehidupan.
Doa; dalam ekspresinya diwujudkan dalam bentuk bacaan kalimat doa, shalat,
dzikir, meditasi, dan seterusnya yang biasa dilakukan oleh para siswa. Virtues
(Kebajikan); kebajikan dapat membawa seseorang dalam kebahagiaan hidup serta
ketentraman jiwa. Ketentraman jiwa dalam eksistensi diri adalah dengan
ditampilkannya rasa semangat belajar sebagai wujud dari rasa perasaan jiwa yang
tenang dan fokus dengan harapan akan mendapatkan ilmu-ilmu baru dalam
pelajaran di sekolah, dengan dorongan mengingat dan selalu ingat akan
kedekatannya pada Allah adalah esensi dzikir pada Allah sebagai tingkatan
kecerdasan spiritual hingga pada ketentraman jiwa sebagai aktor pelajar.

vii

KATA PENGANTAR


Segala puji bagi Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, atas
taufiq, hidayah serta inayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan
penyusunan skripsi ini. Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada
Nabi Agung junjungan kita, Muhammad SAW yang telah membawa risalah Islam
yang penuh dengan ilmu pengetahuan, khususnya ilmu keislaman sehingga dapat
menjadi bekal hidup kita, baik di dunia maupun di akhirat.
Skripsi yang berjudul Kondisi Kecerdasan Spiritual Dan Ketentraman
Jiwa Siswa MTs Manbaul Huda Tunjungrejo Pati disusun untuk memenuhi
salah satu syarat guna memperoleh gelar Sarjana Strata Satu (S.1) Fakultas
Ushuluddin Jurusan Tasawuf Psikoterapi Institut Agama Islam Negeri Walisongo
Semarang.
Dalam penyusunan skripsi ini penulis mendapat bimbingan dan saransaran dari berbagai pihak sehingga penyusunan skripsi ini dapat terselesaikan.
Untuk itu penulis menyampaikan terima kasih:
1. Yang terhormat Bapak Drs. Nasihun Amin, M.Ag. selaku Dekan Fakultas
Ushuluddin IAIN Walisongo Semarang yang merestui pembahasan skripsi ini.
2. Bapak Prof. Dr. H. Abdullah Hadziq, M.A. selaku Pembimbing I dan Ibu Sri
Rejeki, S.Sos.I., M.S.I. selaku Pembimbing dua yang telah bersedia
meluangkan waktu, tenaga dan pemikiran untuk memberikan bimbingan dan
pengarahan dalam penyusunan skripsi ini.
3. Para Dosen pengajar di lingkungan Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo
Semarang yang telah membekali berbagai pengetahuan sehingga penulis
mampu menyelesaikan penulisan skripsi.
4. Kedua orangtua ku, Bapak Sarno, dan Ibu Mastiah dan ketiga Adikku
(Bombom, Gendon, Alfin) yang dengan penuh canda tawa kasih sayang dan
suka duka sehingga aku mendapatkan semangat untuk selalu berjuang.

viii

5. Teman-teman satu jurusan Tasawuf dan Psikoterapi (TP) dan teman-teman


seperjuangan (Mila, Indah, Zainul, Nedy, Mentul) yang selalu memberi
dukungan.
Dan pada akhirnya penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini
belum mencapai kesempurnaan dalam arti sebenarnya. Namun penulis
berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan para
pembaca pada umumnya.

Semarang, 10 Juni 2011

Penulis

ix

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL........................................................................................

NOTA PEMBIMBING ....................................................................................

ii

HALAMAN PENGESAHAN ..........................................................................

iii

DEKLARASI ...................................................................................................

iv

MOTTO ...........................................................................................................

PERSEMBAHAN ............................................................................................

vi

ABSTRAK .......................................................................................................

vii

KATA PENGANTAR .....................................................................................

viii

DAFTAR ISI ....................................................................................................

BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .............................................................................

B. Pokok Masalah ..............................................................................

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian .....................................................

D. Tinjuan Pustaka .............................................................................

E. Metode Penelitian ..........................................................................

F. Sistematika Penulisan Skripsi .......................................................

12

BAB II. KECERDASAN SPIRITUAL DAN KETENTRAMAN JIWA


A. Kecerdasan Spiritual (Spiritual Quotient) .....................................

13

1. Pengertian Spiritual Quotient (SQ) ...........................................

13

2. Subtansi SQ (Spiritual Quotient).............................................

14

a. Kecerdasan Yang Terpusat Pada Otak Manusia ................

14

b. Menemukan Kebermaknaan Hidup ....................................

16

3. Fungsi Kecerdasan Spiritual (SQ) ...........................................

18

a. Kecerdasan Spiritual (SQ) Memfungsikan Berfikir Unitif

18

b. Mengaktifkan God Spot dalam otak ..............................

20

B. Ketentraman Jiwa ..........................................................................

22

1. Pengertian Ketentraman Jiwa ..................................................

22

2. Faktor-Faktor Pendukung dan Penghambat Ketentraman Jiwa

24

a. Faktor-Faktor Pendukung Ketentraman Jiwa .....................

24

b. Faktor-Faktor Penghambat Ketentraman Jiwa ...................

27

BAB III. SAJIAN DATA HASIL PENELITIAN


A. Gambaran Umum MTs. Manbaul Huda Tunjungrejo
Margoyoso Pati .........................................................................

29

1. Sejarah Berdirinya ..............................................................

29

2. Letak Geografis ..................................................................

29

3. Struktur Organisasi ............................................................

30

4. Keadaan Guru dan Siswa ...................................................

31

5. Sarana dan Prasarana..........................................................

32

6. Responden (Objek Penelitian)............................................

32

B. Keadaan Umum Kecerdasan Spiritual dan Ketentraman Jiwa


Siswa MTs. Manbaul Huda Tunjungrejo Margoyoso Pati......

35

1. Keadaan Kecerdasan Spiritual Siswa MTs. Manbaul


Huda Tunjungrejo Margoyoso Pati ....................................

35

2. Keadaan Ketentraman Jiwa Siswa MTs. Manbaul


Huda Tunjungrejo Margoyoso Pati ........................................

41

BAB IV. ANALISIS KONDISI KECERDASAN SPIRITUAL DAN


KETENTRAMAN JIWA SISWA MTS MANBAUL HUDA
TUNJUNGREJO MARGOYOSO PATI ....................................

BAB V

50

PENUTUP
A. Kesimpulan ...............................................................................

67

B. Saran .........................................................................................

68

C. Penutup .....................................................................................

69

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

xi

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Di tengah kehidupan dunia sekarang ini, saat teknologi semakin
canggih dan informasi bergulir dengan cepatnya ternyata tidak menjamin
masyarakat suatu negara menjadi tenteram. Justru sebaliknya, tidak jarang
negara yang disebut maju, namun penduduknya banyak yang stress dan begitu
banyak konflik moral yang terjadi, fenomena ini banyak terjadi di kota-kota
besar, sebab di sana solidaritas sosial kurang begitu diindahkan. Seiring
dengan sifat individualis yang mengakar, oleh karenanya berbuat baik
terhadap sesama adalah barang langka, sehingga terbentuklah komunitas yang
cuek dan hanya peduli pada diri sendiri.
Inilah sebabnya kebahagiaan tidak berpihak pada mereka-mereka yang
sibuk mengurusi diri sendiri. Padahal andai mau disadari, peduli dengan yang
lain dengan berbuat baik pada sesama bisa menimbulkan kepuasan tersendiri
dalam batin, karena fitrah manusia diciptakan tidak hanya menerima tetapi
juga memberi, kedua hal tersebut haruslah seimbang agar kebahagiaan bisa
diperoleh. Oleh karena itu, demi terciptanya satu komunitas yang bahagia
maka dianjurkan saling tolong menolong, bahu membahu dalam usaha
kebaikan tersebut.


Artinya: ..dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan
dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan
pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya
Allah Amat berat siksa-Nya. (Q.S. Al-Maidah: 2).1
Kebaikan menempati ruang dan waktu yang sama dalam kehidupan
fana ini, selama hayat masih dikandung badan, selama nafas masih berhembus
1

Soenardjo, dkk., Al-Qur'an dan Terjemahnya, (Jakarta: Lembaga Pentafsir/ Penterjemah


Al-Qur'an Depag RI., 1997), hlm. 156-157.

dan nyawa belum sampai kerongkongan, selama itu pula seseorang berpotensi
untuk membuat hidupnya bahagia atau sengsara.2 Harapan akan indahnya
hidup dengan kebaikan tentunya didambakan oleh setiap manusia, dengan
cita-cita tersebut maka perlu digiatkan dalam setiap lini yang ada, termasuk
bangunan dini karakter manusia melalui pendidikan. Dalam hal ini, rumusan
kecerdasan spiritual menjadi menarik apabila kemudian dijadikan target
orientasi penelitian, khususnya pada masa remaja awal untuk dibangun
spiritualitasnya.
Perkembangan ilmu dan teknologi pada masa sekarang ini perlu
diimbangi dengan peningkatan dan penyempurnaan pendidikan yang
berorientasi pada pembinaan intelektual, keterampilan, peningkatan keimanan,
dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha ESA, serta pembinaan mental
spiritual. Untuk memenuhi orientasi tersebut, perlu dilakukan pembelajaran
yang efektif dan efisien di mana diperlukan sosok seorang guru agama secara
professional, karena tugas guru dalam kelas tidak hanya merencanakan dan
melaksanakan pembelajaran saja, akan tetapi seorang guru dituntut
bertanggung jawab dalam keberhasilan siswa.
Mutu pendidikan dapat menjadi baik tergantung kepada mutu guru
dalam membimbing dan mengarahkan anak didik.3 Membangun spiritualisme
adalah usaha melakukan freshing mental atau ruhani berupa keyakinan, iman,
ideologi, etika, dan pedoman atau tuntunan. Membangun spiritualisme dapat
dilakukan dengan berbagai media, salah satunya adalah yang membangun
spiritualitas yang bersumber dari agama atau religi, yang dinamakan
spritualisme religius.
Merupakan kewajiban bagi umat beragama untuk mengembangkan,
menguatkan atau membangun kembali peran spiritualitas religius. Spiritualitas
religius yang pada dasarnya merupakan bentuk spiritualitas yang bersumber
dari ajaran Tuhan, diyakini memiliki kekuatan spiritual yang lebih kuat,
murni, suci, terarah, dan abadi dibandingkan spiritualitas sekuler dengan
2
3

http://www.eramuslim.com/oase-iman/berbuat-baik-dan-ketentraman-jiwa.htm
http://student-research.umm.ac.id/index.php/department_of_tarbiyah/article/view/7512

berbagai coraknya. Dengan demikian merupakan kebutuhan untuk diwujudkan


di tengah kehidupan masyarakat modern.
Dalam membangun spiritualitas tersebut dibutuhkan Spiritual Quotient
(SQ) adalah kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan
makna dan nilai, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita
dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai
bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan
dengan yang lainnya. Melalui penggunaan Kecerdasan Spiritualitas religius
kita lebih terlatih dan melalui kejujuran serta amanah dalam menjalani
kehidupan. Karena orang yang bertaqwa menurut Toto Tasmara adalah orang
yang bertanggung jawab, memegang amanah dan penuh rasa cinta, selain itu
pada diri orang yang bertaqwa juga terdapat ciri: memiliki visi dan misi,
merasakan kehadiran Allah SWT, berzikir dan berdoa, sabar, cenderung
kepada kebaikan, memiliki empati, berjiwa besar, dan bersifat melayani.
Kecerdasan spiritual dalam Islam sesungguhnya bukan pembahasan
yang baru, bahkan masalah ini sudah lama diwacanakan oleh para sufi.
Kecerdasan Spiritual (SQ) berkaitan langsung dengan unsur ketiga manusia,
bahwa manusia mempunyai substansi ketiga yang disebut dengan roh.
Keberadaan roh dalam diri manusia merupakan intervensi langsung Allah
SWT tanpa melibatkan pihak-pihak lain, sebagaimana halnya proses
penciptaan lainnya. Hal ini dapat difahami melalui penggunaan redaksional
ayat sebagai berikut:

Artinya: Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah
meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan) Ku, maka tunduklah kamu
kepadanya dengan bersujud. (Q.S.al-Hijr/15:29)4
Kecerdasan seseorang dapat diukur dari kemampuannya dalam
mengendalikan hawa nafsunya (cerdas emosi) dan mengorientasikan semua
amalnya pada kehidupan sesudah mati (cerdas spiritual). Mereka yakin bahwa
4

Soenardjo, dkk., op.cit., hlm. 393.

ada kehidupan setelah kematian, mereka juga percaya bahwa setiap amalan di
dunia sekecil apapun akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
Keyakinan tentang keabadian, menjadikannya lebih berhati-hati dalam
menapaki kehidupan di dunia ini, sebab mereka percaya bahwa kehidupan ini
tidak sekali di dunia ini saja, tapi ada kehidupan yang lebih hakiki, dunia
adalah tempat menanam, sedangkan akhirat adalah tempat memanen. Siapa
yang menanam padi akan menuai padi, siapa yang menanam angin akan
menuai badai. Tidak hanya bersikap hati-hati, orang yang cerdas spiritualnya
lebih bersemangat, lebih percaya diri dan lebih optimis, mereka tidak pernah
ragu-ragu berbuat baik, sebab jika kebaikannya tidak bisa dinikmati saat di
dunia, mereka masih bisa berharap mendapatkan balasannya di akhirat nanti.
Jika tidak bisa dinikmati sekarang, amal kebaikan itu akan berubah menjadi
tabungan atau deposito secara otomatis yang kelak akan dicairkan justru pada
saat mereka sangat membutuhkan di alam kehidupan sesudah mati.5
Ciri orang yang cerdas sebenarnya telah tampak jelas dalam derap
langkahnya, ketika mereka membuat rencana, saat mengeksekusi rencananya,
dan pada saat melakukan evaluasi. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari saat
sendirian atau dalam interaksi sosialnya nampak wajahnya yang senantiasa
bercahaya, memancarkan energi positif, menjadi magnetpower, penuh
motivasi, menjadi sumber inspirasi, dan berfikir serta bertindak positif.
Mereka akan bersikap baik dan benar baik ketika di tengah keramaian maupun
di saat sendirian karena di manapun dia berada dia merasa dilihat oleh Allah,
orang seperti ini mempunyai integritas (selaras antara kata dan perbuatannya).
Dari statement di atas, bahwasannya hal tersebut seringkali terjadi di
kalangan siswa khususnya siswa sekolah menengah yang notabene
berorientasi pada pemberdayaan ketrampilan dan kemampuan riil sehingga
nantinya diharapkan mampu membekali dirinya dengan ketrampilan untuk
hidup di dunia yang sesungguhnya, yang kemudian mengabaikan nilai-nilai
yang terkandung dalam pembangunan spiritualitas siswa meski tidak
5

http://hanifa93.wordpress.com/2009/01/04/cerdas-spiritual-menurut-islam/ Oleh Ust.


Abdullah Muhammad, diakses tanggal 24 Mei 2011.

seluruhnya sekolah melakukan hal yang sama. Semisal MTs Manbaul Huda
Tunjungrejo Margoyoso Pati yang kesehariannya tidak lepas dari praktikpraktik keagamaan yang dibiasakan oleh guru dan setiap warga sekolah yang
berupaya membentuk karakter keagamaan pada siswanya tentulah sangat baik
untuk dibudayakan pada sekolah-sekolah umum. Hal ini tidak lepas dari
karakteristik kedaerahan yang mana masyarakat di sekeliling sekolah juga
menumbuhkembangkan aspek-aspek keagamaan secara kental pada tiap
harinya. Yang menjadi bahan kajian selanjutnya adalah siswa tentu tidak
pernah menyadari secara definitif tentang apa yang dilakukannya baik di
dalam lingkungan masyarakat maupun di sekolah tentang spiritualitas mereka
yang berkaitan dengan kecerdasan spiritual.
Mengacu pada hal-hal tersebut di atas, dapat ditegaskan bahwa Islam
memberikan apresiasi yang tinggi terhadap SQ, tinggal bagaimana manusia
memelihara SQ-nya agar dapat berfungsi optimal. Kemudian dari latar
belakang di atas, dapat penulis ambil sebagai bahan penelitian untuk dijadikan
kajian penulisan skripsi dengan judul Deskripsi Kecerdasan Spiritual dan
Ketentraman Jiwa Pada Siswa MTs Manbaul Huda Tunjungrejo Margoyoso
Pati.

B. Rumusan Masalah
Dalam penelitian yang dilakukan untuk penyusunan dan penulisan
skripsi ini, rumusan masalah yang penulis angkat adalah: Bagaimanakah
kondisi kecerdasan spiritual dan ketentraman jiwa siswa MTs Manbaul Huda
Tunjungrejo Margoyoso Pati?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian


Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah untuk:
Mengetahui kondisi kecerdasan spiritual dan ketentraman jiwa siswa MTs
Manbaul Huda Tunjungrejo Margoyoso Pati.

Sedangkan manfaat dari penelitian ini adalah:


1. Secara teoritis memperoleh informasi dan kondisi kecerdasan spiritual dan
ketentraman jiwa di kalangan siswa.
2. Secara praktis memberikan wacana baru di dunia pendidikan khususnya
MTs untuk memperhatikan faktor-faktor terkait dengan penelitian ini yang
diimplementasikan dalam sistem belajar mengajar yang ada di sekolah.

D. Tinjauan Pustaka
Tinjauan kepustakaan dalam penelitian kali ini adalah beberapa
penelitian sebelumnya yang terkait tentang kecerdasan spiritual dan
ketentraman jiwa, adapun diantara penelitian dalam bentuk skripsi; Pengaruh
Zikir (ya fattahu-ya alim) Terhadap Kecerdasan Spiritual Siswa Muslim
SMA 8 Semarang oleh Agus Ardianto (2006) sebagai salah satu rujukan
tentang pelaksanaan metode Kecerdasan Spiritual pada institusi sekolah
formal.
Penelitian yang berkaitan dengan ketentraman jiwa peneliti merujuk
pada penelitian tentang Sholat dan Ketentraman Jiwa (Studi Eksperimen di
Ponpes Istighfatr Jl. Purwosari Perbalan Semarang) oleh Subhan (2007) yang
membahas tentang efektifitas shalat dalam ketentraman jiwa dan peneliti
bermaksud merujuk pokok bahasan yang khusus berkaitan dengan variabel
Ketentraman Jiwa.
Berikutnya adalah SQ memanfaatkan kecerdasan spiritual dalam
berpikir integralistik dan holistik untuk memaknai kehidupan, karya Danah
Zohar dan Ian Marshal, yang dijadikan tolok ukur metode pengukuran SQ,
dalam buku ini otak spiritual menempati bagian yang sangat sentral dalam diri
manusia. Setidaknya ada empat pijakan yang memperkuat pendirian.
Dari tinjauan di atas kemudian memantapkan peneliti untuk melakukan
penelitian yang berkaitan dengan kecerdasan spiritual dengan ketentraman
jiwa terlebih pada siswa MTs. Dengan mengacu pada apa yang telah menjadi
kajian dua penelitian sebelumnya, bahwa tidak pernah dilakukan pada siswa
pada taraf Sekolah Menengah Pertama, dua tinjauan diatas juga merupakan

rujukan utama sebagai pemikiran awal untuk menemukan keterkaitan antara


dua terminologi tentang kecerdasan spiritual dan ketentraman jiwa.

E. Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
Penelitian ini tergolong sebagai penelitian lapangan (field research).
Oleh karena itu, obyek penelitiannya adalah berupa obyek di lapangan
yang sekiranya mampu memberikan informasi tentang kajian penelitian.
Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif yaitu penelitian yang
bersifat atau memiliki karakteristik, bahwa datanya dinyatakan dalam
keadaan sewajarnya atau sebagaimana adanya (Natural Setting) dengan
tidak merubah dalam bentuk simbol-simbol atau bilangan,6 sehingga dalam
penelitian ini peneliti menggambarkan peristiwa maupun kejadian yang
ada di lapangan tanpa mengubahnya menjadi angka maupun simbol.
Penelitian dengan pendekatan kualitatif ini lebih menekankan
analisisnaya pada proses penyimpulan deduktif dan induktif serta pada
analisis terhadap dinamika hubungan antar fenomena yang diamati,
dengan melakukan logika ilmiah.7
2. Pendekatan Penelitian
Pendekatan penelitian merupakan suatu prinsip dasar atau landasan
yang digunakan untuk mengapresiasikan sesuatu. Dalam hal ini teori dasar
yang dipakai adalah pendekatan fenomenologi yang merupakan bentuk
pemahaman gejala aspek yang subyektif dari perilaku orang.8
Dengan pendekatan fenomenologi ini peneliti mencoba memahami
dan menggambarkan keadaan subyek yang diteliti dengan menggunakan
logika-logika serta teori-teori yang sesuai dengan lapangan. Dalam hal ini
pendekatan dipakai untuk melihat bagaimana kondisi kecerdasan spiritual
dan ketentraman jiwa siswa MTs Manbaul Huda Margoyoso Pati.
6
Hadari Nawawi dan Nini Martini, Penelitian Terapan, (Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press, 1996), hlm 174
7
Azwar, Saifuddin, Metode Penelitian, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998), hlm. 5.
8
Hadari Nawawi dan Nini Martini, op.cit., hlm. 10.

3. Subyek Penelitian
Subyek penelitian adalah apabila seseorang ingin meneliti semua
elemen yang ada di wilayah penelitian, maka penelitian tersebut
merupakan penelitian populasi, atau dengan kata lain populasi adalah
jumlah keseluruhan dari unit analisis yang ciri-cirinya akan diduga. 9
Sedangkan subyek penelitian yang akan digunakan dalam penelitian
adalah kelas 7 dan kelas 8 di MTs Manbaul Huda Tunjungrejo
Margoyoso Pati, sejumlah 50 siswa yang diambil acak dari 71 siswa.
Sebagaimana yang terdapat dalam Psikologi Pendidikan, pada umumnya
anak pada usia tersebut (14-17 tahun) dianggap telah masak untuk
bersekolah dengan ditandai ciri-ciri sebagai berikut:
1) Mencapai perkembangan fisik yang memadahi.
2) Mempunyai perasaan kemasyarakatan yang memungkinkan untuk
menyesuaikan diri dengan teman sebaya.
3) Mempunyai minat yang cukup pada beberapa kecakapan.
4) Berkesanggupan untuk bekerja sekedarnya. 10
4. Metode Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data yang diperlukan dalam penelitian ini,
penulis menggunakan beberapa metode, yaitu sebagai berikut:
a. Metode Observasi
Observasi adalah pengamatan dan pencatatan secara sistematik
terhadap gejala yang tampak pada obyek penelitian. 11
Metode ini penulis gunakan untuk memperoleh data tentang
situasi dan kondisi umum MTs. Manbaul Huda Tunjungrejo
Margoyoso Pati.

Masri Singarimbun dan Sapta Efendi, Metode Penelitian Survey, (Jakarta: LP3ES,
1985), hlm. 108.
10
Abdurrachman Abror, Psikologi Pendidikan, (Yogyakarta: PT. Tiara Wacana, 1993),
hlm. 40.
11
S. Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), cet.4,
hlm. 10.

b. Metode Angket
Angket merupakan sejumlah pertanyaan secara tertulis yang
digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti
laporan tentang pribadinya atau hal-hal yang diketahuinya.12
Adapun angket yang penulis gunakan adalah daftar pernyataan
yang diberikan langsung kepada responden, kemudian responden
tinggal memilih jawaban yang tersedia.
Metode ini digunakan untuk mengumpulkan data tentang
kecerdasan spiritual dan ketentraman jiwa siswa MTs. Manbaul Huda
Tunjungrejo Margoyoso Pati.
c. Metode Wawancara (Interview)
Interview disebut juga metode wawancara, yaitu pengumpul
informasi dengan cara mengajukan sejumlah pertanyaan secara lisan
untuk dijawab secara lisan pula.13
Metode wawancara menghendaki komunikasi langsung antara
penyelidik dengan obyek (responden),14 atau sumber lain yang ada.
Dengan metode ini diharapkan dapat diperoleh data tentang
kecerdasan spiritual dan ketentraman jiwa siswa MTs Manbaul Huda
Tunjungrejo Margoyoso Pati, baik dari siswa secara langsung maupun
dari guru dan karyawan di MTs Manbaul Huda Tunjungrejo
Margoyoso Pati.
5. Teknik Pengolahan dan Analisis Data
Adapun penelitian yang dilakukan penulis ini adalah penelitian
kualitatif, lebih spesifik dikatakan sebagai penelitian deskriptif kualitatif,
meskipun berangkat dari data lapangan dan angket akan tetapi tidak
menggunakan dan mengedepankan salah satu rumus statistik yang ada
sebagai tujuan akhir penelitian ini. Namun sebagian kecil menggunakan

12

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: Rineka


Cipta, 1993), hlm. 140.
13
S. Margono, op.cit., hlm. 167.
14
Yatim Riyanto, Metodologi Penelitian Pendidikan Suatu Tinjauan Dasar, (Surabaya:
SIC, 1996), hlm. 67.

10

hitungan statistik guna mengetahui hasil angket yang ada. Penelitian


kualitatif ini digunakan untuk mendapat data yang mendalam yakni suatu
data yang mengandung makna. Makna di sini maksudnya adalah data
yang sebenarnya yaitu data yang tampak dalam penelitian. Sehingga bisa
dikatakan bahwa penelitian kualitatif tidak menekankan pada generalisasi,
akan tetapi menekankan pada makna dari data tersebut.15
Setelah data yang penulis butuhkan terkumpul, maka langkah
selanjutnya adalah menganalisa data-data tersebut. Analisis data
merupakan upaya mencari dan menata secara sistematis catatan hasil
observasi, wawancara dan lainnya untuk meningkatkan pemahaman
penulis tentang kasus yang diteliti dan menyajikannya sebagai temuan
bagi orang lain. Sedangkan untuk meningkatkan pemahaman tersebut,
analisis perlu dilanjutkan dengan berupaya mencari makna (meaning).16
Proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang
tersedia dari berbagai sumber, yaitu dari wawancara yang sudah dituliskan
dalam catatan lapangan. Data tersebut setelah dibaca, dipelajari dan
ditelaah, kemudian langkah selanjutnya mengadakan reduksi data yang
dilakukan dengan jalan membuat abstraksi, yaitu membuat rangkuman inti
proses dan pernyataan-pernyataan yang perlu dijaga sehingga tetap berada
di dalamnya. Langkah selanjutnya, penyusunan dalam satuan-satuan,
satuan-satuan itu dilakukan sambil membuat coding. Adapun data-data
yang diperoleh dari angket selanjutnya diolah dengan cara tabulasi dan
prosentase. Setelah itu, dilakukan cross-check dengan data-data lain yang
diperoleh dari interview. Tahap akhir dari analisis data ini adalah
mengadakan pemeriksaan keabsahan data.17
Sejalan dengan pendapat Lexy J. Moleong, Miller dan Huberman
sebagaimana yang dikutip oleh Heribertus B. Sutopo menyebutkan, bahwa
15

Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D, (Bandung: CV.


Alfabeta, 2006), hlm. 9.
16
Noeng Muhadjir, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Yogyakarta: Rake Sarasin, 1998),
hlm. 104.
17
Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya,
2002), hlm. 190.

11

untuk menganalisis data yang bersifat deskriptif kualitatif,18 digunakan


analisis interaktif yang terdiri dari 3 komponen, yaitu (1) reduksi data, (2)
sajian data, dan (3) penarikan kesimpulan/ verifikasi, yang digambarkan
dalam suatu proses siklus.19
Pengumpulan Data

Reduksi Data

Sajian Data

Penarikan Kesimpulan/
Verifikasi
Untuk membuat kesimpulan, penulis menggunakan metode
induktif, yaitu suatu pengambilan keputusan dengan menggunakan pola
pikir yang berangkat dari fakta-fakta yang sifatnya khusus kemudian
digeneralisasikan kepada hal-hal yang bersifat umum. Analisis ini
digunakan dengan beberapa alasan diantaranya; proses induktif lebih dapat
menemukan kenyataan-kenyataan ganda sebagaimana yang terdapat dalam
data, di samping itu juga analisis induktif lebih dapat membuat hubungan
peneliti-responden menjadi eksplisit, dapat dikenal dan akuntabel.20 Dalam
metode induktif ini, orang mencari ciri-ciri atau sifat-sifat tertentu dari

18

Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang analisisnya hanya sampai pada taraf
deskripsi yaitu menganalisis dan menyajikan fakta secara sistematik sehingga dapat lebih mudah
dipahami dan disimpulkan. Data yang dikumpulkan semata-mata bersifat deskriptif sehingga tidak
bermaksud mencari penjelasan, menguji hipotesis, membuat prediksi maupun mempelajari
implikasi. Sedangkan penelitian kualitatif merupakan penelitian yang menekankan analisisnya
pada proses penyimpulan deduktif induktif yang tidak menekankan pada pengujian hipotesis,
melainkan pada usaha menjawab pertanyaan penelitian melalui cara-cara berfikir formal dan
argumentatif. Lihat dalam Saifuddin Azwar, Metode Penelitian, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
1998), hlm. 5-6.
19
Heribertus B. Sutopo, Metode Penelitian Kualitatif, (Surakarta: Depdikbud RI UNS,
1996), hlm. 86.
20
Lexy J. Moleong, op.cit., hlm. 5.

12

berbagai fenomena kemudian menarik kesimpulan bahwa ciri-ciri atau


sifat-sifat itu terdapat pada jenis fenomena.21
Jadi penelitian ini merupakan penelitian gabungan keduanya, yakni
antara penelitian kualitatif (sebagai dasar analisis) dan penelitian
kuantitatif (sebagai dasar mengetahui hasil angket yang ada).

F. Sistematika Penulisan Skripsi


Penulisan skripsi ini disusun dengan melibatkan bab-bab yang saling
berkaitan dan mengarah pada penemuan jawaban dari permasalahan, maka
skripsi ini secara sistematis dibagi menjadi lima bab sebagai berikut:
Bab

Pertama.

Bab

ini

merupakan

pendahuluan

yang

akan

mengantarkan pada bab-bab berikutnya. Bab ini berisi latar belakang masalah,
pokok permasalahan, tujuan dan manfaat penulisan skripsi, tinjauan pustaka,
metode penelitian, dan sistematika penulisan skripsi.
Bab Kedua, bab ini merupakan landasan teori. Pada bab ini berisi teoriteori umum yang menjelaskan secara global pengertian dan pendapat para ahli
tentang kecerdasan spiritual dan ketentraman jiwa.
Bab Ketiga, yaitu sajian data hasil penelitian. Bab ini berisi gambaran
umum MTs Manbaul Huda Tunjungrejo Margoyoso Pati, dan keadaan umum
kecerdasan spiritual dan ketentraman jiwa siswa MTs Manbaul Huda
Tunjungrejo Margoyoso Pati.
Bab Keempat, bab ini merupakan analisis data. Bab ini berisi analisis
kondisi kecerdasan spiritual dan ketentraman jiwa siswa MTs Manbaul Huda
Tunjungrejo Margoyoso Pati.
Bab Kelima. Bab ini merupakan akhir dari penulisan, yang berisi
kesimpulan, saran, dan penutup.

21

Syaiful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran untuk Membantu Memecahkan


Problematika Belajar dan Mengajar, (Bandung: Alfabeta, 2003), hlm. 77.

13

BAB II
KECERDASAN SPIRITUAL DAN KETENTRAMAN JIWA

Kecerdasan Spiritual (Spiritual Quotient)


Pengertian Spiritual Quotient (SQ)
Pada akhir abad ke 20, serangkaian data ilmiah terbaru
menunjukkan adanya kecerdasan jenis ketiga. Gambaran untuk kecerdasan
manusia dapat dilengkapi dengan perbincangan mengenai kecerdasan
spiritual (SQ). SQ adalah kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan
persoalan makna dan nilai, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku
dan hidup kita dalam konteks makna yang luas dan kaya, serta kecerdasan
untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna
dibandingkan dengan orang lain. SQ adalah landasan yang diperlukan
untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif. Bahkan SQ merupakan
kecerdasan tertinggi manusia.22 Kecerdasan spiritual juga berarti
kemampuan manusia untuk dapat mengenal dan memahami diri manusia
sepenuhnya sebagai makhluk spiritual maupun sebagai bagian dari alam
semesta.

Dengan memiliki

kecerdasan

spiritual berarti manusia

memahami sepenuhnya makna dan hakikat kehidupan yang dijalani. Pada


intinya, SQ adalah kemampuan untuk meraih nilai-nilai, pengalaman, dan
kenikmatan spiritual dalam kehidupan.
Istilah SQ diperkenalkan oleh Danah Zohar dan lan Marshal
melalui riset yang sangat komprehensif, dan dibuktikan secara ilmiah
dalam

pemaparannya

tentang

Spiritual

Quotient,

(The

Ultimate

Intelligence, London, 2000). Kedua tokoh tersebut berpendapat bahwa SQ


merupakan Intelligence yang bias menampilkan sifat kreatif, memecahkan
problem makna, dan menempatkan tindakan bermakna, SQ hanya dimiliki

22

Danah Zohar dan Ian Marshal, SQ, Memanfaatkan Kecerdasan Spiritual dalam Berfikir
Integralistik dalam Holistik untuk Memaknai Kehidupan, (Bandung: Mizan, 2001), Cet. IV, hlm.
3-4.

14

oleh manusia dan menjadi perangkat yang membedakan antara manusia


dengan makhluk lainnya. 23
Pembuktian ilmiah tentang SQ oleh Danah Zohar dan lan Marshal
didasarkan pada hasil empat riset, yaitu; Pertama, riset ahli psikologi/
syaraf Michael Persinger pada awal tahun 1990 dan diperkuat dengan
riset yang lebih mutakhir oleh ahli syaraf V.S. Ramachandran dan
timnya pada tahun 1997 dari California University yang menemukan
eksistensi God Spot dalam otak manusia sebagai pusat spiritual
(spiritual center) yang terletak diantara jaringan syaraf dan otak/ lobus
temporal. Kedua, riset ahli syaraf Austria, Wolf Singer pada tahun 1990
atas The Binding Problem yang menunjukkan ada proses syaraf dalam
otak manusia yang terkonsentrasi pada usaha untuk mempersatukan dan
memberi makna dalam pengalaman hidup manusia. Suatu jaringan syaraf
yang secara literal mengikat pengalaman manusia secara bersama untuk
hidup lebih bermakna. 24 Ketiga, penelitian Rudolph L. pada pertengahan
tahun 1990 sebagai pengembangan din penelitian Singer yaitu tentang
kesadaran saat terjaga dan saat tidur serta ikatan-ikatan peristiwa kognitis
dalam otak telah dapat ditingkatkan dengan teknologi MEG (MagnetoEncepalo-Graphie). Keempat, neurolog biologi Harvard, Terrance
Deacan, yang meneliti tentang asal usul bahasa manusia. Deacan
membuktikan bahwa bahasa merupakan sesuatu yang unik pada manusia.
Suatu aktivitas yang pada dasarnya bersifat simbolik dan berpusat pada
makna yang berkembang bersama dengan perkembangan yang cepat
dalam cuping depan otak.25
Substansi SQ (Spiritual Quotient)
Kecerdasan Yang Terpusat Pada Otak Manusia
Bagi para psikolog modern barat, SQ tidak memiliki hubungan
dengan agama. Agama formal adalah wilayah aturan-aturan yang
23

Ahmad Najib Burhani, Sufisme Kota, (Jakarta: Serambi, 2001), hlm. 113.
Ary Ginanjar Agustian, ESQ, the ESQ Way 165, 1 Ihsan 6 Rukun Iman dan 5 Rukun
Islam, (Jakarta: Penerbit ARGA, 2005), hlm. xxvii.
25
Danah Zohar dan Ian Marshal, op.cit., hlm. 11.
24

15

mengatur jalan hidup manusia dan alam semesta, Agama membentuk


segalanya menjadi harmonis. Sementara SQ adalah milik diri manusia,
yang sekalipun tanpa agama ia tetap hidup di dalam diri setiap
manusia. Oleh sebab itu menurut mereka, mereka banyak orang yang
ateis dan humanis yang memiliki SQ lebih tinggi daripada orang yang
beragama. Sebaliknya banyak pula orang yang beragama yang taat
tetapi memiliki SQ yang rendah. Jadi SQ tidak ada kaitannya sama
sekali dengan agama. Karena, pemaknaan hidup yang luhur tidak lagi
dibawah monopoli agama (formal). Seseorang bisa saja memiliki
kecerdasan spiritual yang tinggi walaupun ia adalah seorang ateis. Di
sisi lain, orang yang bertuhan (theist) tidak berbeda dengan orang
ateis, selama mereka mengembangkan suatu pemahaman yang
mendalam dan intuitif akan makna dan nilai, kesadaran hati nurani
yang menghubungkan dirinya dengan makna dan ruh esensial
dibelakang semua agama besar dan kesadaran makhluk. Sebab
kesadaran spiritual tidak lagi ditandai dengan menyebut atau
menyatakan saya menyembah Tuhan, melainkan dengan cara
menunjukkan kesadaran yang paling dalam tentang siapa diri kita dan
apa makna segala sesuatu bagi kita. 26
Mereka melihat nilai-nilai spiritual tersebut dalam perspektif
budaya, bukan agama. Mereka terpesona dengan budaya spiritual dari
timur. Rasa dahaga dan kemiskinan akan makna hidup mendorong
dirinya untuk menyelami amanat tersebut dengan cara ikut aktif belajar
yoga, meditasi, dan menjadikan tokoh-tokoh dari timur sebagai sosok
yang paling pantas menjadi model atau tipe orang yang cerdas secara
spiritual.27
Kecerdasan spiritual yang datang dari barat lebih menekankan
pada makna spiritual sebagai potensi yang khas di dalam jasad tanpa
mengkaitkannya secara jelas dengan kekuasaan dan kekuatan tuhan.
26

Yunasril Ali, Takziah al-Nafs dalam Jurnal Khas Tasawuf, No. 09 tahun III, 2002,

27

Toto Tasmara, Kecerdasan Ruhaniah, (Jakarta: Gema Insani, 2001), hlm. 9.

hlm. 15.

16

Mereka membedakan antara kecerdasan spiritual dengan pusat


utamanya pada kekuatan otak manusiawi (Brain Ware) dan karenanya
dengan sangat tegas mengatakan: spiritual is not a religion.28
Manusia dapat meningkatkan SQ dengan meningkatkan
penggunaan proses tersier psikologi manusia, yaitu kecenderungan
manusia untuk bertanya, mencari keterkaitan antara segala sesuatu,
untuk membawa ke permukaan asumsi-asumsi mengenai makna di
balik atau di dalam sesuatu, menjadi lebih suka merenung, sedikit
menjangkau di luar diri manusia, bertanggungjawab, lebih sadar diri,
lebih jujur terhadap diri sendiri, dan lebih pemberani. Tanda-tanda dari
SQ yang telah berkembang dengan baik meliputi hal-hal berikut:
1) Kemampuan bersikap fleksibel.
2) Tingkat kesadaran yang tinggi (memiliki jati diri)
3) Kemampuan untuk menghadapi dan memanfaatkan penderitaan
4) Kemampuan untuk menghadapi dan melampaui rasa sakit
5) Kualitas hidup yang diilhami visi dan nilai-nilai.
6) Keengganan untuk menyebabkan kerugian yang tidak perlu
7) Kecenderungan nyata untuk bertanya mengapa? Atau bagaimana
jika? Untuk mencari jawaban-jawaban yang mendasar.
8) Kecenderungan untuk melihat keterkaitan antara berbagai hal
(berpandangan holistik).
9) Menjadi apa yang disebut oleh para psikolog sebagai bidang
mandiri.
Menemukan Kebermaknaan Hidup
Manusia

perlu

menemukan

eksistensinya

yang

akan

memberikan kepadanya apa yang disebut dengan makna hidup (the


meaning of life). Mencari makna hidup juga berarti usaha menemukan
pemecahan masalah (problem solving) atas setiap ketegangan
eksistensial.

Persoalan

makna

hidup

dan

pemecahan

kreatif

ketegangan eksistensial yang dihadapi seorang manusia pada


28

Ibid, hlm. 9-10.

17

hakikatnya

adalah

sumber

pertumbuhan

dirinya

yang

akan

memberikan kekuatan sebagai manusia. 29


Kehendak hidup bermakna ini menjadi visi hidup alternatif
ditengah meluasnya problem-problem spiritual yang menjangkiti
manusia modem dewasa ini. Tanpa kebermaknaan hidup, manusia
hanya akan menemukan kegelisahan spiritual, problematika spiritual,
bahkan krisis spiritual. 30 Usaha pencarian kebermaknaan hidup
merupakan esensi dari hidup. Kebermaknaan berarti sesuatu yang
memberikan makna secara mendalam.
Menurut Frankl bahwa kehendak untuk hidup bermakna (the
will to meaning) merupakan motivasi utama pada manusia untuk
mencari, menemukan, dan memenuhi tujuan dan arti hidupnya. Makna
dan nilai itu terdapat diluar diri manusia dan manusia memiliki
kebebasan untuk menerima atau menolaknya. Makna dan nilai adalah
hal-hal yang harus dicapai dan bukan suatu dorongan. Makna dan nilai
tidak mendorong (to push to drive) tapi seakan-akan menarik (to pull)
dan menawarkan (to over) kepada manusia untuk menemuinya. 31
Logoterapi

menunjukkan

tiga

bidang

kegiatan

dalam

kehidupan ini yang secara potensial mengandung nilai-nilai yang


memungkinkan seseorang manusia menemukan makna dan nilai
hidupnya. Pertama, hal-hal yang dapat diberikan oleh manusia kepada
kehidupannya, dalam arti berkarya atau berkreasi serta melaksanakan
tugas hidup sebaik-baiknya. Kedua, hal-hal yang bias diperoleh
manusia dari kehidupannya. Yaitu dengan usaha mengalami dan
menghayati nilai-nilai yang ada dalam kehidupan itu sendiri. Seperti
kebenaran, keindahan, kebijakan, dan mencintai serta mengasihi orang
lain. Ketiga, menerima dengan penuh ketabahan dan keberanian segala
29

Budi Munawar Rahmah, Psikologi Baru Mengenai Spritualitas Manusia Modern dalam
Ahmad Najib Burhani (ed), Manusia Modern Mendamba Allah, Renungan Tasawuf Positif,
(Jakarta: Hikmah, t.t.), hlm. 154-155.
30
Sukidi, Kecerdasan Spiritual, (Jakarta: Gramedia, 2002), hlm. 7.
31
Hanna Djumhana Bastaman, Dimensi Spiritual dalam Teori Psikologi Kontemporer
Logoterapi Viktor E. Frankl dalam Ulumul Qur'an, No. 4, Vol. V, 1994, hlm. 15.

18

bentuk penderitaan yang tak mungkin dielakkan lagi setelah segala


upaya dan ikhtiar dikerahkan secara maksimal. Ketiga hal ini juga
sering disebut sebagai nilai-nilai kreatif (creative values), nilai-nilai
penghayatan (experiential values), nilai-nilai bersikap (attitudinal
values).32
Ada lima teknik untuk mengungkapkan makna. Pertama,
makna dapat ditemukan ketika manusia menemukan dirinya sendiri
(self discovery). Kedua, makna muncul ketika manusia menentukan
pilihan. Hidup menjadi tanpa makna ketika manusia terjebak pada
situasi memilih dan dia sendiri tidak dapat memilih. Ketiga, makna
hidup akan ditemukan ketika merasa (dan dalam keadaan) dirinya
istimewa, unik, dan tidak tergantikan oleh orang lain. Keempat, makna
hidup terbersit dalam tanggung jawab. Kelima, makna hidup mencuat
dalam situasi transenden. Teknik kelima ini merupakan akumulasi dari
empat teknik diatas dan merupakan puncak dari terkuaknya makna
hidup yang akan mengantarkan manusia pada sebuah pengalaman
spiritual.33
Gambaran mengenai hidup bermakna menunjukkan bahwa bila
makna hidup ditemukan dan tujuan hidup ditetapkan serta berhasil
pula direalisasikan maka kehidupan akan dirasakan berarti yang pada
gilirannya akan menimbulkan kebahagiaan. Dengan demikian dapat
dikatakan

bahwa

kebahagiaan

adalah

akibat

sampingan dari

keberhasilan seseorang dalam memenuhi arti hidupnya. 34


Fungsi Kecerdasan Spiritual (SQ)
Kecerdasan Spiritual (SQ) Memfungsikan Berfikir Unitif
Dalam diri manusia terdapat tiga syaraf yang mempengaruhi
kinerja dirinya dalam berfikir. Ada pengorganisasian saraf yang
memungkinkan manusia untuk berpikir logis, rasional, dan kuat asas
yang sering disebut IQ. Jenis lain yang memungkinkan manusia
32

Ibid, hlm. 15.


Danah Zohar dan Ian Marshal, op.cit., hlm. xxiv.
34
Hanna Djumhana Bastaman, op.cit., hlm. 197.
33

19

berfikir asosiatif yang terbentuk oleh kebiasaan dan membuat manusia


mampu mengenali pola-pola emosi disebut EQ. Sedangkan jenis
ketiga adalah SQ yang memungkinkan manusia untuk berfikir kreatif,
berwawasan luas, membuat dan bahkan mengubah aturan. Keberadaan
SQ

mampu

membuat

manusia

untuk menata

kembali

dan

mentransformasikan dua jenis pemikiran yang sebelumnya (IQ dan


EQ).35 Danah Zohar berpendapat bahwa pengenalan diri dan terutama
kesadaran diri adalah kesadaran internal otak. Terbentuknya kesadaran
sejati manusia merupakan hasil dari proses yang berlangsung di dalam
otak manusia tanpa mendapat pengaruh dari luar, termasuk panca
indera dan dunia luar. Oleh karena itu, spiritual intelligent adalah
ultimate intelligent.36
Para ahli otak menemukan bahwa kecerdasan spiritual berakar
dalam otak manusia. Hal ini menunjukkan bahwa manusia tidak hanya
berpotensi pada kekuatan rasional dan emosional, sebagaimana yang
telah dikonsepkan oleh William Stem dan Daniel Goleman, melainkan
juga termaktub potensi spiritual dalam dirinya, tepatnya dalam otak. 37
Kecerdasan unitif adalah fungsi intrinsic otak manusia. Menurut
Danah Zohar kecerdasan unitif dapat disebut sebagai kecerdasan
spiritual yang merupakan bawaan lahiriah manusia. Artinya
kecerdasan tersebut akan tetap ada sekalipun kecerdasan linear atau
asosiatif tidak berkembang.38
Pada tahun 1990-an muncul data baru dan jurnal penelitian
sains, tentang sejauh mana pengaruh osilasi 40 Hz terhadap pemikiran
unitif. Sebuah teknologi baru yang diberi nama MEG (MagnetoEncehephalo-Graphy) dikembangkan dan memungkinkan untuk
dilakukannya penelitian yang lebih seksama dan berskala lebih besar

35

Danah Zohar dan Ian Marshal, op.cit., hlm. 35.


Taufiq Pasiak, Revolusi IQ/ EQ /SQ: Antara Neurosains dan al-Qur'an, (Bandung:
Mizan, 2004), cet. IV, hlm. 27.
37
Ibid, hlm. 27.
38
Ibid, hlm. 274-275.
36

20

(di seluruh bagian otak) terhadap osilasi 40 Hz,39 berikut peranannya


dalam kecerdasan manusia. Hasil penelitian tersebut menunjukkan
adanya sinkronisasi osilasi sel syaraf pada rentang Hz sebagai berikut:
o Mengentarai pemrosesan informasi sadar antara system saraf seri
parallel dalam otak.
o Kemungkinan besar merupakan basis syaraf (neural basic) bagi
kesadaran itu sendiri dan bagi seluruh pengalaman sadar, termasuk
persepsi akan benda, makna, dan kemampuan dalam membingkai
ulang pengalaman.
o Merupakan basis saraf bagi kesadaran unitif yang lebih tinggi yang
disebut SQ atau Spiritual Quotient (Kecerdasan Spiritual). 40
Osilasi 40 Hz dapat dikatakan sebagai aktifitas dasar saraf.
Sebagaimana jalur saraf linear atau seri yang memungkinkan adanya
kecerdasan rasional dan logis (IQ) serta jaringan saraf parallel yang
memungkinkan adanya pemrosesan data asosiatif di tingkat pra-sadar
(pre conscious) dan tak sadar (unconscious), osilasi 40 Hz di seluruh
bagian otak memungkinkan manusia menempatkan pengalamannya
dalam kerangka yang lebih luas (SQ).41
Mengaktifkan God Spot Dalam Otak
Penelitian yang dilakukan U.S. Ramachandran, 42 dan Peggy
Ann Wright,43 menunjukkan adanya gejala peningkatan aktifitas lobus
temporal ketika dihubungkan dengan nasihat-nasihat religius atau
bersifat spiritual. Pusat spiritual inilah yang disebut God Spot. God
39

Osilasi 40 Hz merupakan salah satu bukti penelitian yang memperkuat adanya potensi
spiritual dalam otak manusia. Ditemukan oleh Dennis Pare dan Rudholpo L. yang kemudian
dikembangkan menjadi spiritual intelligence oleh Danah Zohar dan Ian Marshal.
40
Danah Zohar dan Ian Marshal, op.cit., hlm. 53.
41
Ibid, hlm. 68.
42
Penelitian U.S. Ramachandran dilakukan pada tahun 1997 dengan menggunakan MEG
dan mendapatkan gejala yang sama antara penderita epilepsi dengan orang normal yang diberi
nasihat religius sehingga ditarik kesimpulan bahwa mungkin ada mesin saraf di dalam lobus
temporal (pada orang normal) yang memang dirancang untuk berhubungan dengan agama dan
fenomena keyakinan agama mungkin sudah terpati di dalam otak manusia, Ibid, hlm. 81-82.
43
Peggy Ann meneliti tentang kaitan antara peningkatan aktivitas lobus temporal dengan
pengalaman dukun. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa tabuhan ritmis spiritual dapat
mengaktifkan lobus temporal berikut area system limbie yang berkaitan dengannya. Ibid, hlm. 81.

21

Spot menjadi lebih hidup ketika ia berfikir tentang sesuatu yang


bersifat religius atau berkaitan dengan Tuhan. la dapat memberi arti
hidup dan menjadi sumber inspirasi bagi manusia untuk mengabdi dan
berkorban.
Penemuan God Spot pada otak manusia membuktikan bahwa
manusia senantiasa mencari nilai-nilai mulia (spiritualitas). Manusia
adalah makhluk spiritual yang senantiasa merasa bahagia ketika
spiritualitasnya terpenuhi. Penemuan God Spot pada otak manusia
lebih meyakinkan pendapat ini karena manusia akan senantiasa
mencari Tuhan-nya, yaitu melalui sifat-sifat Tuhan yang selalu di
idam-idamkan manusia.44
Fungsi God Spot yaitu untuk mendorong dan menuntun
manusia untuk terus mencari makna hidup. Seseorang akan merasa
bermakna spiritual ketika ia berkata jujur, mengasihi, menolong, adil,
sabar, dan bersikap serta bertingkah laku mulia.45 God Spot pada
temporal lobus untuk kecerdasan spiritual (SQ) menjadikan manusia
memiliki logika yang rasional, dan suara hati sebagai pembimbing.
Pada dimensi spiritual, manusia diajari esensi nama-nama atau sifatsifat Allah. Hal ini dapat dirasakan berupa suara hati. 46
Untuk membersihkan belenggu-belenggu yang menutupi fitrah
God Spot dalam dirinya, maka manusia harus berusaha membuka
belenggu hati tersebut dengan membersihkan niat dan mensucikan hati.
Hal itu dapat dilaksanakan dengan berikhtiar dalam melakukan segala hal
karena Allah semata sebagai usaha preventif agar suhu God Spot tetap
stabil. Dengan tawakkal dan berusaha maka hati akan tetap utuh. Ridha
dalam bekerja akan menjadikan jiwa menjadi bersih. Dan terakhir dengan
merasa melihat Allah atau merasa dilihat Allah, dan senantiasa
mendekatkan diri pada sifat-sifat-Nya. 47
44

Ary Ginanjar, op.cit., hlm. 99.


Ibid, hlm. 86.
46
Ibid, hlm. 98.
47
Ibid, hlm. 170.
45

22

Ketentraman Jiwa
Pengertian Ketenteraman Jiwa
Ketenteraman artinya keadaan tentram, keamanan dan ketenangan
(hati, pikiran).48 Sedang jiwa diartikan sebagai seluruh kehidupan batin
manusia

(yang terjadi dari perasaan,

pikiran,

angan-angan dan

seterusnya).49
Oleh karena itu ketenteraman jiwa adalah keadaan tentram dari
seluruh kehidupan batin manusia atau sama artinya dengan kesehatan jiwa,
kesejahteraan jiwa atau kesehatan mental.
Pendapat yang lebih terperinci dikemukakan oleh Dr. Zakiah
Daradjat bahwa kesehatan jiwa adalah:

Terhindarnya orang dari gejala-gejala gangguan jiwa (neurosis) dan


penyakit jiwa (psikosis).

Kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan orang lain, masyarakat


dan lingkungan.

Pengetahuan dan perbuatan yang bertujuan untuk mengembangkan


dan memanfaatkan segala potensi, bakat dan pembawaan yang ada
semaksimal mungkin, sehingga membawa kebahagiaan diri dan orang
lain, serta terhindar dari gangguan-gangguan kejiwaan dan penyakit
jiwa.

Terwujudnya keharmonisan yang sungguh-sungguh antara fungsifungsi jiwa serta mempunyai kesanggupan untuk menghadapi
problem-problem yang biasa terjadi dan merasakan secara positif
kebahagiaan dan kemampuan dirinya.50
Atas dasar pandangan-pandangan tersebut dapat diajukan secara

operasional tolok ukur kesehatan mental atau kondisi jiwa yang tentram
yaitu:

48

W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka,


1982), hlm. 1053.
49
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi II,
(Jakarta: Balai Pustaka, 1994), hlm. 374.
50
Zakiah Daradjat, Kesehatan Mental, (Jakarta: Gunung Agung, 1986), hlm. 33.

23

Bebas dari gangguan dan penyakit-penyakit jiwa.

Mampu secara luwes menyesuaikan diri dan menciptakan hubungan


antar pribadi yang bermanfaat dan menyenangkan.

Mengembangkan potensi-potensi pribadi (bakat, kemampuan, sikap


dan sifat dan seterusnya) yang baik dan bermanfaat bagi diri dan
lingkungan.

Beriman dan bertakwa kepada Tuhan, dan berupaya menerapkan


tuntunan agama dalam kehidupan sehari-hari.51
Dengan demikian jiwa yang sehat dapat menyesuaikan diri dan

beradaptasi dengan baik terhadap diri dan lingkungannya serta dapat


menerima realita yang ada sehingga memperoleh kebahagiaan hidup di
dunia dan akhirat.
Adapun cirri-ciri pribadi yang sehat adalah sebagai berikut:
a. Ada koordinasi dari segenap usaha dan potensinya, sehingga orang
mudah mengadakan adaptasi terhadap tuntutan lingkungan, standard
dan norma sosial, serta terhadap perubahan-perubahan yang serba
cepat.
b. Memiliki integrasi dan regulasi terhadap struktur kepribadian sendiri,
sehingga mampu memberikan partisipasi aktif kepada masyarakat.
c. Senantiasa

giat

melaksanakan

proses

realisasi

diri

(yaitu

mengembangkan secara riil segenap bakat dan potensi), memiliki


tujuan hidup, dan selalu mengarah kepada transendensi diri, berusaha
untuk melebihi keadaan/ kondisi yang sekarang.
d. Bergairah, sehat lahir dan batin, dan tenang harmonis kepribadiannya,
efisien dalam setiap tindakannya, serta mampu menghayati kenikmatan
dan kepuasan dalam pemenuhan kebutuhannya. 52
Jadi orang yang tentram jiwanya adalah orang yang fungsi-fungsi
jiwanya dapat berjalan dengan harmonis dan serasi. Keserasian dan
51
Hanna Djumhana Bastaman, Integrasi Psikologi dengan Islam Menuju Psikologi
Islami, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997), hlm. 134.
52
Kartini Kartono dan Jenny Andari, Hygiene Mental dan Kesehatan Mental dalam
Islam, (Bandung: Mandar Maju, 1989), hlm. 96.

24

keharmonisan fungsi-fungsi jiwa adalah sunyi nya jiwa tersebut dari


pertentangan batin, sehingga jiwa tersebut dikatakan sebagai jiwa yang
tentram.
Faktor-Faktor Pendukung dan Penghambat Ketenteraman Jiwa
Faktor-Faktor Pendukung Ketenteraman Jiwa
Setiap manusia pasti menginginkan dan mengharapkan memiliki
jiwa yang tenang, tentram dan jauh ketegangan-ketegangan serta
konflik-konflik batin atau kejiwaan. Untuk mendapatkannya maka
setiap manusia perlu memperhatikan faktor-faktor yang mendukung
terciptanya jiwa yang tenang dan tentram.
Faktor-faktor yang mendukung untuk tercapainya ketenteraman
jiwa, dapat dilihat dari dua pendekatan, yaitu pendekatan psikologi dan
pendekatan agama.
Dari pendekatan psikologi, ada beberapa factor yang mendukung
terciptanya ketenteraman jiwa bagi manusia. Menurut Abraham
Maslow sebagaimana dikutip oleh Dr. Jamaluddin Ancok bahwa;
Apabila manusia tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, maka ia
akan mengalami gangguan jiwa.53
Kebutuhan-kebutuhan hidup yang dimaksud adalah sebagai
berikut:
1) Kebutuhan fisiologis
Kebutuhan ini adalah kebutuhan dasar yang harus dipenuhi
oleh setiap manusia untuk hidup; makan, minum, istirahat adalah
contoh-contoh dari kebutuhan dasar ini. Orang tidak akan
memikirkan kebutuhan lainnya sebelum kebutuhan dasar ini
terpenuhi.
2) Kebutuhan akan rasa aman
Setelah orang dapat memenuhi kebutuhan dasar selanjutnya
berkembang keinginan untuk memperoleh rasa aman. Orang ingin
53

Jamaluddin Ancok, Psikologi Islami Solusi Islam atas Problem-Problem Psikologi,


(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1995), hlm. 92.

25

bebas dari rasa takut dan kecemasan. Manifestasi dari kebutuhan


ini antara lain perlunya tempat tinggal yang permanent, pekerjaan
yang permanent.
3) Kebutuhan akan rasa kasih sayang
Perasaan memiliki dan dimiliki oleh orang lain atau oleh
kelompok masyarakat adalah Sesuatu yang dibutuhkan oleh setiap
manusia. Kebutuhan akan terpenuhi bila ada saling perhatian,
saling

kunjung

mengunjungi

sesama

anggota

masyarakat.

Keintiman di dalam pergaulan hidup sesama anggota masayarakat


adalah sesuatu yang menyuburkan terpenuhinya kebutuhan ini.
4) Kebutuhan akan harga diri
Pada tingkat ini orang ingin dihargai sebagai manusia,
sebagai warga Negara.
5) Kebutuhan akan aktualisasi diri
Kebutuhan pada tingkat ini adalah kebutuhan yang paling
tinggi, menurut Maslow, pada tingkatan ini manusia ingin berbuat
sesuatu yang semata-mata karena dia ingin berbuat sesuatu yang
merupakan keinginan dari dalam dirinya. Dia tidak lagi menuntut
penghargaan orang lain atas apa yang diperbuatnya. Sesuatu yang
ingin dia kejar di dalam kehidupan. Tingkat ini antara lain adalah
keindahan, kesempurnaan, keadilan dan kebermaknaan. 54
Sedang menurut Dr. Kartini Kartono menyebutkan bahwa
kebutuhan-kebutuhan hidup manusia meliputi:
a) Tercapainya kebutuhan-kebutuhan pokok. Dalam hal ini karena
setiap

manusia pasti memiliki dorongan-dorongan akan

kebutuhan pokok. Dorongan-dorongan akan kebutuhan pokok


tersebut menuntut pemenuhan, sehingga jiwa menjadi tentram
atau boleh dikatakan bahwa ketegangan-ketegangan jiwa
menjadi tentram, atau boleh dikatakan bahwa ketegangan-

54

Djamaluddin Ancok, op .cit. hlm. 92-93.

26

ketegangan jiwa akan menurun jika kebutuhan-kebutuhan pokok


tersebut terpenuhi.
b) Tercapainya

kepuasan,

sikap

orang pasti menginginkan

kepuasan, baik fisik maupun psikis. Dia ingin merasa kenyang,


aman, terlindungi, ingin puas dalam hubungan seks nya, ingin
mendapat simpati dan lain-lain, pendeknya ingin puas di segala
bidang.
c) Posisi dan status sosial, setip lingkungannya, selama posisi dan
status sosial itu sesuai dengan harapan san kemampuan dirinya,
maka individu tersebut tidak mempunyai jiwa yang bimbang.55
Dari dua pendapat di atas dapat dipahami bahwa orang yang
merasa sejahtera dan tentram jiwanya adalah apabila orang tersebut
mampu memahami kebutuhan-kebutuhan hidupnya, baik yang
bersifat fisik seperti sandang, pagan, papan dan kebutuhan psikis
seperti rasa aman, rasa ingin tahu, rasa bebas merdeka, mencapai
kesuksesan, dan memperoleh keadilan, serta kebutuhan sosial
seperti kebutuhan memperoleh kasih sayang, kebutuhan dihargai
atau memperoleh penghargaan.
Sedang dalam pendekatan agama, manusia akan mempunyai
jiwa yang tentram apabila manusia tersebut mempunyai iman yang
kuat, teguh dan benar serta selalu mengingat kepada Allah.
Seseorang yang keimanannya telah menguasainya, apapun yang
terjadi tidak mengganggu dan mempengaruhinya. Dan dia merasa
yakin bahwa keimanan nya itu akan membawanya kepada
ketenteraman dan kelegaan hatinya.56
Hal ini diperkuat dengan statement yang difirmankan oleh
Allah bahwa:

55
56

14.

Kartini Kartono dan dr. Jenny Andari, op. cit., hlm. 29-30.
Zakiyah Daradjat, Islam dan Kesehatan Mental, (Jakarta: Gunung Agung, 1982), hlm.

27

.
Artinya: Orang-orang yang beriman dan beramal shaleh,
kebahagiaan hiduplah bagi mereka dan tempat
kembali yang baik. (Q.S. Al-Radu: 29).57
Faktor-Faktor Penghambat Ketenteraman Jiwa
Setiap orang yang merasa hidupnya tidak tentram, tidak tenang,
selalu gelisah dan was-was, pasti mempunyai faktor-faktor yang
menyebabkan nya, faktor-faktor penyebab tidak tenteram nya jiwa ini
karena

kebutuhan-kebutuhan pokok hidupnya

tidak terpenuhi,

kebutuhan fisik, psikis, dan kebutuhan-kebutuhan sosialnya.


Para psikolog sepakat bahwa ada dua faktor yang sangat
mempengaruhi terjadinya ketidaksehatan jiwa atau mental, yaitu faktor
penyedia (predisposing factor) dan faktor pencetus (participating
factor).58
Faktor penyedia adalah faktor yang terkondisi dalam diri
individu tetapi faktor ini bersifat pasif, sedangkan faktor pencetus
adalah faktor insidental yang menggugah faktor penyedia menjadi
aktif. Namun secara umum sumber utama dari hadirnya kelainan jiwa
menurut pendekatan psikoanalisa ialah pengalaman pahit semasa
kanak-kanak terutama kurangnya mendapat kasih sayang, kurang
pengertian dan perhatian atau perasaan disia-siakan. Pengalamanpengalaman pahit itu ditekan ke alam bawah sadar dan suatu saat
muncul ke permukaan (Predisposing Factor).
Sedang dilihat dari kacamata agama, menurut Drs. Abdul
Wahib karena adanya nafsu yang tidak dirahmati. Nafsu inilah yang
menyeret seseorang untuk berbuat jahat dan salah sehingga hatinya

57
Soenardjo, dkk., Al-Quran dan Terjemahnya, (Jakarta: Lembaga Pentafsir/
penterjemah Al-Quran Departemen Agama RI, 1997), hlm. 373.
58
Abdul Wahib, Puasa dan Kesehatan Mental, dalam Media, Edisi, 10th. 11 Maret 1992,
Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang, hlm. 57.

28

tidak tentram, kemudian hati yang tidak tentram ini melahirkan


perilaku yang menyimpang.59
Orang yang merasa banyak dosa, biasanya pikirannya selalu
dikejar-kejar oleh perasaan bersalah, kalau orang tersebut tidak cepatcepat bertaubat, maka perasaan bersalah tersebut bisa menimbulkan
ketegangan-ketegangan batin, sehingga jiwanya menjadi tidak tentram,
demikian pula perasaan kecewa terhadap masa lalu, kalau hal ini tidak
secepatnya dihilangkan, maka akan bisa mengakibatkan gangguan
kejiwaan yang kurang menyenangkan atau tidak baik. Contohnya
adalah timbulnya perasaan trauma terhadap suatu masalah yang pernah
mengakibatkan dan menimbulkan sikap pesimis, minder, takut, dan
sikap-sikap lain yang sejenis yang kesemuanya dapat menjadikan jiwa
tidak tenang dan tidak tentram.
Dengan demikian jelaslah bahwa dari kacamata agama tingkat
keimanan seseorang akan membawa kepada ketenangan hatinya dan
ketenteraman jiwanya.

59

Ibid., hlm. 57-48.

29

BAB III
SAJIAN DATA HASIL PENELITIAN

Gambaran Umum MTs Manbaul Huda Tunjungrejo Margoyoso Pati


Sejarah Singkat Berdirinya
Lembaga pendidikan MTs Manbaul Huda Tunjungrejo Margoyoso Pati
merupakan salah satu sekolah Menengah Tingkat Pertama yang berdiri sejak
tahun 1985/1986 dengan NSS (Nomor Statistik Sekolah): 212331816056.
Adapun tujuan didirikannya MTs Manbaul Huda Tunjungrejo
Margoyoso Pati antara lain untuk ikut serta dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa, berakhlak mulia serta mengembangkan sumber daya
manusia. Pada awal berdirinya MTs Manbaul Huda Tunjungrejo
Margoyoso Pati menerima siswa 90 sedangkan yang diterima hanya 45.
MTs Manbaul Huda Tunjungrejo Margoyoso Pati dengan segala
perkembangannya tidak terlepas dari jasa dan upaya para pendiri dan
pengelolanya. Diantara para pendiri Yayasan Manbaul Huda, Tunjungrejo
Margoyoso Pati adalah :
H. Imam Zainuddin.
Muhyidin.
Imam Masudi.60
Letak Geografis
Secara geografis MTs Manbaul Huda Tunjungrejo Margoyoso, terletak di
Desa Tunjungrejo. Tempatnya cukup strategis berlokasi ditepi jalan raya
Tayu-Juana KM 12, sehingga mudah untuk dijangkau. Adapun lingkungan
sekitarnya adalah :
Sebelah timur berbatasan dengan Musholla.
Sebelah barat berbatasan dengan gedung MI Manbaul Huda Tunjungrejo.
Sebelah utara berbatasan dengan Pondok Pesantren.
Sebelah selatan berbatasan dengan rumah penduduk.61
Struktur Organisasi
60
Hasil Wawancara dengan Bapak Muktamaroh, BA. Selaku Kepala Sekolah pada
Tanggal 8 Februari 2011.
61
Data Monografi MTs. Manbaul Huda Tunjungrejo Margoyoso Pati Dikutip Tanggal 8
Februari 2011.

30

Adapun struktur organisasi yang telah dibentuk di MTs Manbaul Huda


Tunjungrejo Margoyoso Pati tahun 2011 adalah sebagai berikut:
Gambar 1
STRUKTUR ORGANISASI MTs MANBAUL HUDA
TUNJUNGREJO MARGOYOSO PATI TAHUN 2011 62

Kepala
Mutamaroh, BA

Wakil Kepala

Kurikulum
Abd. Wahid

Kesiswaan
Rusmanto

Ka. TU
Siti Badriyah
Sarpras

H. Abd. Haq, BA

Humas
Rosyidah

Wali Kelas

Guru

Siswa

Keterangan:
: Instruksional
: Koordinatif.

Keadaan Guru dan Siswa


Keadaan guru maupun karyawan MTs Manbaul Huda Tunjung Rejo
Margoyoso Pati, adalah sebagai berikut :
Tabel 1
62

Data Papan Demografi MTs. Manbaul Huda Tunjungrejo Margoyoso Pati, dikutip pada
tanggal 8 Februari 2011.

31

KEADAAN GURU DAN KARYAWAN MTs MANBAUL HUDA


TUNJUNGREJO MARGOYOSO PATI 63
No
P/L
Nama
Jabatan
Pddkn
Bidang Studi
1

Mutamaroh, BA

Ka. Madrasah

D III

Matematika

H. Abdul Haq, BA

Wakaur. Srn. Pras.

D III

B. Indonesia

Rosyidah

Waka. Madrasah

MAN

PPKn

Asyhuri

Wakaur. Humas

MA

Tafsir/ Hadist

Abdul wahid

Koordinator GMP

MA

B. Arab

H. Zainal Arifin

Waka. Kurikulum

MA

IPS

Athi Fauzatun, S.Pd.I

Guru

STAIN

Quran Hadits

Hj. Arina Hidayah

Wali kelas I

MA

Penjaskes

Rusmanto

Guru

MAN

SKI

10

Hambali

Wali kelas II

MAN

Aqidah Akhlak

11

Zumaroh, BA

Guru

D III

B. Inggris

12

Tutik Musti;ati, S.Pd

Guru

IKIP

IPA

13

Pranoto

14

Kunardi

Wali kelas III

D II

15

H. Anwar Sholeh

Koordinator BK

D II

Guru BK

16

Siti Badriyah

TU

MAN

Kertangkes

MAN

Keadaan Siswa
Keadaan siswa MTs Manbaul Huda Tunjung Rejo Margoyoso
Pati tahun ajaran 2010/ 2011, sebagai berikut:

63

Data Dokumen MTs. Manbaul Huda Tunjungrejo Margoyoso Pati Dikutip Tanggal 9
Februari 2011.

32

Tabel 2
KEADAAN SISWA MTs MANBAUL HUDA
TUNJUNGREJO MARGOYOSO PATI 64
No

Kelas

Laki-laki

Perempuan

Jumlah

15

20

35

II

14

22

36

III

21

30

38

63

101

Jumlah

Sarana dan Prasarana


Sarana dan prasarana merupakan salah satu faktor pendukung yang
menentukan berhasil tidaknya pelaksanaan proses belajar mengajar, tanpa
adanya sarana dan prasarana yang cukup memadai, maka program tersebut
tidak akan lancar sebagaimana mestinya.
Oleh karena itu MTs Manbaul Huda Tunjung Rejo Margoyoso Pati
sebagai lembaga pendidikan formal telah berusaha semaksimal mungkin
dalam penyediaan sarana dan prasarana dan prasarana yang diperlukan.
Adapun sarana dan prasarana yang tersedia adalah 1 ruang ibadah
(mushola), 1 ruang kepala sekolah, 1 ruang guru, 1 ruang BP/ BK, 1 ruang
perpustakaan, 1 ruang aula pertemuan, 1 ruang koperasi kantin, 1 ruang
KM/WC guru, 1 ruang KM/WC murid, dan 1 ruang gudang.65

Responden (obyek penelitian)


Obyek penelitian ini adalah siswa MTs Manbaul Huda Tunjungrejo
Margoyoso Pati kelas 7 dan 8. Dari obyek penelitian sejumlah siswa kelas 7 dan
8 diperoleh 50 siswa yang dapat diteliti, dari jumlah keseluruhan 71 siswa, data
siswa yang diperoleh adalah sebagai berikut:
64
Data Dokumen MTs. Manbaul Huda Tunjungrejo Margoyoso Pati Dikutip Tanggal 9
Februari 2011.
65
Data Dokumen MTs. Manbaul Huda Tunjungrejo Margoyoso Pati Dikutip Tanggal 9
Februari 2011.

33

Tabel 3
Daftar Responden (Obyek Penelitian)
Siswa MTs Manbaul Huda Kelas 7 dan 8
No.

Nama Responden

Lk/ Pr

Kelas

1.

Tri Utami

Perempuan

VII

2.

Khamem

Laki-laki

VII

3.

Linda Juarsih

Perempuan

VII

4.

Lumiati

Perempuan

VII

5.

Hardiono S.

Laki-laki

VII

6.

Sofiah

Perempuan

VII

7.

Titik Wintarti

Perempuan

VII

8.

Titik Lestari

Perempuan

VII

9.

Santi

Perempuan

VII

10.

Aris Susanti

Perempuan

VII

11.

Sulastri

Perempuan

VII

12.

Dewi Lastari

Perempuan

VII

13.

Suprin

Laki-laki

VII

14.

Siswoyo

Laki-laki

VII

15.

Slamet

Laki-laki

VII

16.

Paidi

Laki-laki

VII

17.

Muallimah

Perempuan

VII

18.

Susilo

Laki-laki

VII

19.

Eko Purnomo

Laki-laki

VII

20.

M. Makrus

Laki-laki

VII

21.

Chandra Halim

Laki-laki

VII

22.

Ernasari

Perempuan

VII

23.

Siti Mutmainah

Perempuan

VII

24.

Suwahono

Laki-laki

VII

34

25.

Sumarsono

Laki-laki

VII

26.

M. Maftuhin

Laki-laki

VII

27.

Sri Sumiyati

Perempuan

VII

28.

Ruslan

Laki-laki

VII

29.

Solikin

Laki-laki

VII

30.

Noor Halimah

Perempuan

VII

31.

Zainab Rosidah

Perempuan

VII

32.

Ah. Syafi'i

Laki-laki

VIII

33.

Ah. Syaiful Anas

Laki-laki

VIII

34.

Anis Fatmawati

Perempuan

VIII

35.

Eka Kusumaningsih

Perempuan

VIII

36.

Kiswanto

Laki-laki

VIII

37.

Moh. Agus Rifa'i

Laki-laki

VIII

38.

Moh. Muhtar

Laki-laki

VIII

39.

Naning Istianah

Perempuan

VIII

40.

Siti Jumi'atun

Perempuan

VIII

41.

Siti Nur Hidayah

Perempuan

VIII

42.

Siti Syafa'atun

Perempuan

VIII

43.

Sudiyono

Laki-laki

VIII

44.

Titik Sri Pujilestari

Perempuan

VIII

45.

Ahmad Mustain

Laki-laki

VIII

46.

Rahma Sri Wulandari

Perempuan

VIII

47.

Nanang Anshori

Laki-laki

VIII

48.

Ali Murtadho

Laki-laki

VIII

49.

Rois Amirul Haq

Laki-laki

VIII

50.

Wawan Yulianto

Laki-laki

VIII

35

Keadaan Umum Kecerdasan Spiritual dan Ketentraman Jiwa Siswa MTs


Manbaul Huda Tunjungrejo Margoyoso Pati
Keadaan Kecerdasan Spiritual Siswa MTs Manbaul Huda Tunjungrejo Margoyoso
Pati

Sebelum penelitian dilakukan, di MTs Mabaul Huda telah


dilaksanakan kegiatan-kegiatan keagamaan bagi siswa dan warga sekolah
lain, termasuk di dalamnya yang mencerminkan siswa memiliki
karakteristik kecerdasan spiritual, kegiatan tersebut adalah: kegiatan
berdoa dan membaca asmaul husna setiap upacara bendera hari senin,
membaca asmaul husna ketika akan mulai pelajaran, berjamaah shalat
dzuhur dan membaca wiridan bersama.66
Kegiatan-kegiatan seperti itu rutin dilakukan dan wajib bagi siswa.
Dalam kegiatan tersebut para siswa tentunya banyak yang tidak
mengetahui apa manfaat dan pengaruhnya dalam diri masing-masing
siswa, karena menurut mereka hal tersebut hanya sebagai rutinitas yang
wajib dilakukan dan berdasar peraturan yang harus ditaati dan dipatuhi.
Dari pelaksanaan penelitian berdasarkan angket yang dibagikan
kepada siswa kelas 7 dan kelas 8, hasil observasi dan hasil wawancara,
peneliti mendapatkan keadaan spiritual siswa MTs Manbaul Huda
Tunjungrejo Margoyoso Pati adalah sebagai berikut:
Tabel 4
Gambaran Keadaan Kecerdasan Spiritual Siswa
MTs Manbaul Huda Tunjungrejo Margoyoso Pati

No.

Ciri Keadaan

Nama Responden

1. Tri Utami

Kecerdasan Spiritual
Cenderung
berpandangan

gembira,
luas,

rasa

moralitas

tinggi,

humor

dewasa,

kesadaran diri, berpandangan efisien tentang


realitas,
2. Khamem

Pemahaman tujuan hidup, moralitas tinggi,


gagasan segar, kesadaran diri, berpendapat

66

Hasil Wawancara dengan Guru BK MTs. Manbaul Huda Tunjungrejo Margoyoso Pati,
pada tanggal 2 Maret 2011.

36

kokoh, memiliki intuisi kuat,


3. Linda Juarsih

Pemahaman tujuan hidup, berpandangan luas,


gagasan segar, rasa humor dewasa, kesadaran
diri, memiliki intuisi kuat,

4. Lumiati

Cenderung gembira, gagasan segar, moralitas


tinggi, rasa humor dewasa, kesadaran diri,
berpendapat

kokoh,

berpandangan

efisien

tentang realitas,
5. Hardiono S.

Cenderung gembira, pemahaman tujuan hidup,


gagasan segar, rasa humor dewasa, memiliki
minat yang keras, kesadaran diri,

6. Sofiah

Pemahaman tujuan hidup, gagasan segar, rasa


humor dewasa, memiliki minat yang keras,
berpendapat kokoh, cenderung gembira,

7. Titik Wintarti

Memiliki intuisi kuat, pemahaman tujuan


hidup, moralitas tinggi, berpandangan luas, rasa
humor dewasa, berpendapat kokoh, cenderung
gembira, berpandangan efisien tentang realitas,

8. Titik Lestari

Rasa

humor

berpendapat

dewasa,
kokoh,

moralitas

tinggi,

berpandangan

efisien

tentang realitas,
9. Santi

Memiliki intuisi kuat, rasa humor dewasa,


kesadaran diri, berpendapat kokoh, cenderung
gembira,

10. Aris Susanti

Berpandangan
berpendapat

luas,
kokoh,

rasa

humor

cenderung

dewasa,
gembira,

memiliki intuisi kuat, berpandangan efisien


tentang realitas,
11. Sulastri

Berpandangan

luas,

cenderung gembira,

rasa

humor

dewasa,

37

12. Dewi Lastari

Gagasan segar, rasa humor dewasa, moralitas


tinggi, kesadaran diri, berpendapat kokoh,
cenderung gembira, memiliki intuisi kuat,

13. Suprin

Rasa

humor

dewasa,

moralitas

tinggi,

kesadaran diri, berpendapat kokoh, cenderung


gembira,
14. Siswoyo

Cenderung

gembira,

gagasan

segar,

berpandangan luas, kesadaran diri, berpendapat


kokoh, memiliki intuisi kuat, berpandangan
efisien tentang realitas,
15. Slamet

Rasa

humor

dewasa,

moralitas

tinggi,

berpendapat kokoh, cenderung gembira,


16. Paidi

Rasa humor dewasa, berpendapat kokoh,

17. Muallimah

Pemahaman tujuan hidup, rasa humor dewasa,


moralitas tinggi, berpendapat kokoh, cenderung
gembira, memiliki intuisi kuat,

18. Susilo

Pemahaman tujuan hidup, berpandangan luas,


moralitas tinggi, memiliki minat yang keras,

19. Eko Purnomo

Pemahaman tujuan hidup, rasa humor dewasa,


memiliki minat yang keras, berpendapat kokoh,
berpandangan efisien tentang realitas,

20. M. Makrus

Pemahaman tujuan hidup, gagasan segar, rasa


humor dewasa, moralitas tinggi, berpendapat
kokoh, memiliki intuisi kuat,

21. Chandra Halim

Cenderung

gembira,

berpandangan

luas,

memiliki minat yang keras, memiliki intuisi


kuat, berpandangan efisien tentang realitas,
22. Ernasari

Gagasan segar, berpandangan luas, rasa humor


dewasa, moralitas tinggi, memiliki minat yang
keras, kesadaran diri, berpendapat kokoh,

38

23. Siti Mutmainah

Rasa

humor

dewasa,

moralitas

tinggi,

kesadaran diri, berpendapat kokoh, cenderung


gembira, memiliki intuisi kuat,
24. Suwahono

Cenderung

gembira,

moralitas

tinggi,

berpandangan luas, memiliki intuisi kuat,


berpandangan efisien tentang realitas,
25. Sumarsono

Gagasan segar, berpandangan luas, kesadaran


diri, cenderung gembira, memiliki intuisi kuat,

26. M. Maftuhin

Pemahaman tujuan hidup, berpandangan luas,


moralitas tinggi, berpendapat kokoh, cenderung
gembira, berpandangan efisien tentang realitas,

27. Sri Sumiyati

Cenderung gembira, rasa

humor dewasa,

moralitas tinggi,
28. Ruslan

Gagasan segar, berpandangan luas, berpendapat


kokoh, berpandangan efisien tentang realitas,

29. Solikin

Pemahaman tujuan hidup, berpandangan luas,


moralitas tinggi, kesadaran diri, berpendapat
kokoh, memiliki intuisi kuat,

30. Noor Halimah

Pemahaman tujuan hidup, rasa humor dewasa,


berpendapat

kokoh,

cenderung

gembira,

berpandangan efisien tentang realitas,


31. Zainab Rosidah

Pemahaman tujuan hidup, rasa humor dewasa,


moralitas

tinggi,

memiliki

intuisi

kuat,

memiliki minat yang keras, berpendapat kokoh,


cenderung gembira,
32. Ah. Syafi'i

Berpandangan luas, kesadaran diri, berpendapat


kokoh, memiliki intuisi kuat,

33. Ah. Syaiful Anas

Berpandangan

luas,

berpandangan

efisien

tentang realitas, memiliki minat yang keras,


34. Anis Fatmawati

Berpandangan

luas,

rasa

humor

dewasa,

39

moralitas tinggi, memiliki minat yang keras,


35. Eka Kusumaningsih

Rasa humor dewasa, moralitas tinggi, memiliki


minat yang keras, kesadaran diri, berpendapat
kokoh, cenderung gembira,

36. Kiswanto

Pemahaman tujuan hidup, memiliki intuisi


kuat, berpandangan luas, berpandangan efisien
tentang realitas,

37. Moh. Agus Rifa'i

Pemahaman tujuan hidup, rasa humor dewasa,


moralitas tinggi, kesadaran diri, memiliki
intuisi kuat, berpandangan efisien tentang
realitas,

38. Moh. Muhtar

Berpandangan luas, pemahaman tujuan hidup,


kesadaran diri, berpendapat kokoh, cenderung
gembira,

39. Naning Istianah

Cenderung gembira, berpandangan luas, rasa


humor dewasa, moralitas tinggi, memiliki
minat yang keras, kesadaran diri, berpendapat
kokoh,

40. Siti Jumi'atun

Rasa

humor

kesadaran

dewasa,
diri,

moralitas

berpendapat

tinggi,
kokoh,

berpandangan efisien tentang realitas,


41. Siti Nur Hidayah

Berpandangan

luas,

rasa

humor

dewasa,

moralitas tinggi, memiliki minat yang keras,


kesadaran diri, berpendapat kokoh, cenderung
gembira,
42. Siti Syafa'atun

Cenderung gembira, berpandangan luas, rasa


humor dewasa, moralitas tinggi, memiliki
minat yang keras, memiliki intuisi kuat,
berpandangan efisien tentang realitas,

43. Sudiyono

Pemahaman tujuan hidup, berpandangan luas,

40

moralitas tinggi, memiliki minat yang keras,


44. Titik Sri Pujilestari

Pemahaman tujuan hidup, moralitas tinggi, rasa


humor dewasa, gagasan segar, kesadaran diri,

45. Ahmad Mustain

Pemahaman tujuan hidup, moralitas tinggi,


berpandangan luas, memiliki minat yang keras,
cenderung gembira,

46. Rahma Sri Wulandari Cenderung gembira, pemahaman tujuan hidup,


berpandangan

luas,

rasa

humor

dewasa,

memiliki minat yang keras,


47. Nanang Anshori

Pemahaman tujuan hidup, moralitas tinggi,


berpandangan luas, gagasan segar, memiliki
minat yang keras, berpendapat kokoh,

48. Ali Murtadho

Pemahaman tujuan hidup, moralitas tinggi,


memiliki minat yang keras, berpandangan luas,
rasa

humor

dewasa,

berpendapat

kokoh,

cenderung gembira,
49. Rois Amirul Haq

Pemahaman tujuan hidup, moralitas tinggi,


berpandangan luas, gagasan segar, memiliki
minat yang keras, kesadaran diri, berpendapat
kokoh, cenderung gembira,

50. Wawan Yulianto

Memiliki intuisi kuat, cenderung gembira,


pemahaman tujuan hidup, berpandangan luas,
gagasan segar, rasa humor dewasa, memiliki
minat yang keras, kesadaran diri, berpendapat
kokoh, berpandangan efisien tentang realitas,

Dalam banyak hal, kondisi kecerdasan spiritual siswa adalah:


berpandangan luas, gagasan segar, memiliki pemahaman tujuan hidup,
moralitas tinggi, memiliki minat yang keras, kesadaran diri, berpandangan
efisien tentang realitas, berpendapat kokoh, memiliki intuisi kuat,
cenderung gembira, rasa humor dewasa.
Keadaan Ketentraman Jiwa Siswa MTs Manbaul Huda Tunjungrejo Margoyoso Pati

41

Pada tanggal 3 Maret 2011 peneliti membagikan angket berkaitan


dengan kecerdasan dan ketentraman jiwa, berdasarkan komulatif jawaban
yang diberikan pada angket, dan peneliti juga melakukan wawancara
tentang kecerdasan dan ketentraman jiwa siswa. Dari kegiatan tersebut
diperoleh dari jawaban yang diberikan siswa pada umumnya berkaitan
dengan ketentraman jiwa adalah sebagai berikut:
Tabel 5
Gambaran Keadaan Ketentraman Jiwa Siswa
MTs Manbaul Huda Tunjungrejo Margoyoso Pati
No.

Ciri Keadaan

Nama Responden

1. Tri Utami

Ketenangan Jiwa
Jujur, tanggungjawab, lembut, kasih sayang,
memiliki idealisme, beriman, disiplin diri,
tegas,

penuh

pengharapan,

mempunyai

ketetapan hati, suka kebersihan, obyektif,


bersemangat,
menjaga

murah hati,
kehormatan,

menebar

cinta,

loyal,

jujur,

tanggungjawab, fleksibel, berjiwa memaafkan,


toleran.
2. Khamem

Obyektif, bersemangat, murah hati, jujur,


tanggungjawab, lembut, kasih sayang, memiliki
idealisme,

percaya

mempertimbangkan,

diri,

kreatif,

bijaksana,

bisa

fleksibel,

berjiwa memaafkan, toleran.


3. Linda Juarsih

Obyektif, bersemangat, murah hati, jujur,


tanggungjawab, lembut, kasih sayang, memiliki
idealisme,

percaya

mempertimbangkan,

diri,

kreatif,

bijaksana,

bisa

fleksibel,

berjiwa memaafkan, toleran.


4. Lumiati

Obyektif, bersemangat, murah hati, jujur,


tanggungjawab, lembut, kasih sayang, memiliki
idealisme,

percaya

diri,

kreatif,

bisa

42

mempertimbangkan,

bijaksana,

fleksibel,

berjiwa memaafkan, toleran.


5. Hardiono S.

Beriman,

disiplin

diri,

tegas,

penuh

pengharapan, mempunyai ketetapan hati, suka


kebersihan, obyektif, bersemangat, murah hati,
menebar cinta, menjaga kehormatan, loyal,
jujur, tanggungjawab,
6. Sofiah

Jujur, tanggungjawab, lembut, kasih sayang,


memiliki idealisme, beriman, disiplin diri,
tegas,

penuh

pengharapan,

mempunyai

ketetapan hati, suka kebersihan, obyektif,


bersemangat,
menjaga

murah hati,
kehormatan,

menebar

cinta,

loyal,

jujur,

tanggungjawab, fleksibel, berjiwa memaafkan,


toleran.
7. Titik Wintarti

Obyektif, bersemangat, murah hati, jujur,


tanggungjawab, lembut, kasih sayang, memiliki
idealisme,

percaya

mempertimbangkan,

diri,

kreatif,

bijaksana,

bisa

fleksibel,

berjiwa memaafkan, toleran.


8. Titik Lestari

Obyektif, bersemangat, murah hati, jujur,


tanggungjawab, lembut, kasih sayang, memiliki
idealisme, beriman, disiplin diri, tegas, penuh
pengharapan, mempunyai ketetapan hati, suka
kebersihan, obyektif, bersemangat, murah hati,
menebar cinta, menjaga kehormatan, loyal,
tanggungjawab,

9. Santi

Obyektif, bersemangat, murah hati, percaya


diri,

kreatif,

bijaksana,

bisa

fleksibel,

mempertimbangkan,
berjiwa

memaafkan,

43

toleran.
10. Aris Susanti

Beriman,

disiplin

diri,

tegas,

penuh

pengharapan, mempunyai ketetapan hati, suka


kebersihan, obyektif, bersemangat, murah hati,
menebar cinta, menjaga kehormatan, loyal,
jujur,

tanggungjawab,

fleksibel,

berjiwa

memaafkan, toleran.
11. Sulastri

Percaya diri, kreatif, bisa mempertimbangkan,


bijaksana, jujur, tanggungjawab, lembut, kasih
sayang, memiliki idealisme,

12. Dewi Lastari

Percaya diri, kreatif, bisa mempertimbangkan,


bijaksana,

fleksibel,

berjiwa

memaafkan,

toleran. jujur, tanggungjawab, lembut, kasih


sayang, memiliki idealisme,
13. Suprin

Beriman,

disiplin

diri,

tegas,

penuh

pengharapan, mempunyai ketetapan hati, suka


kebersihan, obyektif, bersemangat, murah hati,
menebar cinta, menjaga kehormatan, loyal,
jujur,

tanggungjawab,

fleksibel,

berjiwa

memaafkan, toleran.
14. Siswoyo

Percaya diri, kreatif, bisa mempertimbangkan,


bijaksana,

fleksibel,

berjiwa

memaafkan,

toleran, jujur, tanggungjawab, lembut, kasih


sayang, memiliki idealisme,
15. Slamet

Beriman,

disiplin

diri,

tegas,

penuh

pengharapan, mempunyai ketetapan hati, suka


kebersihan, obyektif, bersemangat, murah hati,
menebar cinta, menjaga kehormatan, loyal,
jujur,

tanggungjawab,

memaafkan, toleran.

fleksibel,

berjiwa

44

16. Paidi

Obyektif, bersemangat, murah hati, jujur,


tanggungjawab, lembut, kasih sayang, memiliki
idealisme,

17. Muallimah

Obyektif, bersemangat, murah hati, percaya


diri,

kreatif,

bijaksana,

bisa

mempertimbangkan,

fleksibel,

berjiwa

memaafkan,

toleran.
18. Susilo

Beriman,

disiplin

diri,

tegas,

penuh

pengharapan, mempunyai ketetapan hati, suka


kebersihan, obyektif, bersemangat, murah hati,
menebar cinta, menjaga kehormatan, loyal,
jujur,

tanggungjawab,

fleksibel,

berjiwa

memaafkan, toleran.
19. Eko Purnomo

Obyektif, bersemangat, murah hati, percaya


diri,

kreatif,

bijaksana,

bisa

fleksibel,

mempertimbangkan,
berjiwa

memaafkan,

toleran.
20. M. Makrus

Obyektif, bersemangat, murah hati, percaya


diri,

kreatif,

bijaksana,

bisa

fleksibel,

mempertimbangkan,
berjiwa

memaafkan,

toleran.
21. Chandra Halim

Obyektif, bersemangat, murah hati, jujur,


tanggungjawab, lembut, kasih sayang, memiliki
idealisme,

percaya

mempertimbangkan,

diri,

kreatif,

bijaksana,

bisa

fleksibel,

berjiwa memaafkan, toleran.


22. Ernasari

Beriman,

disiplin

diri,

tegas,

penuh

pengharapan, mempunyai ketetapan hati, suka


kebersihan, obyektif, bersemangat, murah hati,
menebar cinta, menjaga kehormatan, loyal,

45

jujur,

tanggungjawab,

fleksibel,

berjiwa

memaafkan, toleran.
23. Siti Mutmainah

Obyektif, bersemangat, murah hati, jujur,


tanggungjawab, lembut, kasih sayang, memiliki
idealisme,

percaya

diri,

kreatif,

bisa

mempertimbangkan, bijaksana,
24. Suwahono

Beriman,

disiplin

diri,

tegas,

penuh

pengharapan, mempunyai ketetapan hati, suka


kebersihan, obyektif, bersemangat, murah hati,
menebar cinta, menjaga kehormatan, loyal,
jujur,

tanggungjawab,

fleksibel,

berjiwa

memaafkan, toleran.
25. Sumarsono

Obyektif, bersemangat, murah hati, jujur,


tanggungjawab, lembut, kasih sayang, memiliki
idealisme,

percaya

mempertimbangkan,

diri,

kreatif,

bijaksana,

bisa

fleksibel,

berjiwa memaafkan, toleran.


26. M. Maftuhin

Obyektif, bersemangat, murah hati, jujur,


tanggungjawab, lembut, kasih sayang, memiliki
idealisme,

percaya

mempertimbangkan,

diri,

kreatif,

bijaksana,

bisa

fleksibel,

berjiwa memaafkan, toleran.


27. Sri Sumiyati

Percaya diri, kreatif, bisa mempertimbangkan,


bijaksana, obyektif, bersemangat, murah hati,

28. Ruslan

Percaya diri, kreatif, bisa mempertimbangkan,


bijaksana,

fleksibel,

berjiwa

memaafkan,

toleran.
29. Solikin

Obyektif, bersemangat, murah hati, percaya


diri,

kreatif,

bisa

mempertimbangkan,

bijaksana, jujur, tanggungjawab, lembut, kasih

46

sayang, memiliki idealisme,


30. Noor Halimah

Obyektif, bersemangat, murah hati, jujur,


tanggungjawab, lembut, kasih sayang, memiliki
idealisme,

fleksibel,

berjiwa

memaafkan,

toleran.
31. Zainab Rosidah

Beriman,

disiplin

diri,

tegas,

penuh

pengharapan, mempunyai ketetapan hati, suka


kebersihan, obyektif, bersemangat, murah hati,
menebar cinta, menjaga kehormatan, loyal,
jujur,

tanggungjawab,

fleksibel,

berjiwa

memaafkan, toleran.
32. Ah. Syafi'i

Beriman,

disiplin

diri,

tegas,

penuh

pengharapan, mempunyai ketetapan hati, suka


kebersihan, obyektif, bersemangat, murah hati,
menebar cinta, menjaga kehormatan, loyal,
jujur,

tanggungjawab,

fleksibel,

berjiwa

memaafkan, toleran.
33. Ah. Syaiful Anas

Obyektif, bersemangat, murah hati, percaya


diri,

kreatif,

bisa

mempertimbangkan,

bijaksana,
34. Anis Fatmawati

Obyektif, bersemangat, murah hati, percaya


diri,

kreatif,

bisa

mempertimbangkan,

bijaksana,
35. Eka Kusumaningsih

Beriman,

disiplin

diri,

tegas,

penuh

pengharapan, mempunyai ketetapan hati, suka


kebersihan, obyektif, bersemangat, murah hati,
menebar cinta, menjaga kehormatan, loyal,
jujur,

tanggungjawab,

fleksibel,

berjiwa

memaafkan, toleran.
36. Kiswanto

Obyektif, bersemangat, murah hati, percaya

47

diri,

kreatif,

bisa

mempertimbangkan,

bijaksana,
37. Moh. Agus Rifa'i

Obyektif, bersemangat, murah hati, jujur,


tanggungjawab, lembut, kasih sayang, memiliki
idealisme,

38. Moh. Muhtar

Obyektif, bersemangat, murah hati, percaya


diri,

kreatif,

bijaksana,

bisa

mempertimbangkan,

fleksibel,

berjiwa

memaafkan,

toleran.
39. Naning Istianah

Obyektif, bersemangat, murah hati, jujur,


tanggungjawab, lembut, kasih sayang, memiliki
idealisme,

40. Siti Jumi'atun

Obyektif, bersemangat, murah hati, percaya


diri,

kreatif,

bijaksana,

bisa

mempertimbangkan,

fleksibel,

berjiwa

memaafkan,

toleran.
41. Siti Nur Hidayah

Beriman,

disiplin

diri,

tegas,

penuh

pengharapan, mempunyai ketetapan hati, suka


kebersihan, obyektif, bersemangat, murah hati,
menebar cinta, menjaga kehormatan, loyal,
jujur,

tanggungjawab,

fleksibel,

berjiwa

memaafkan, toleran.
42. Siti Syafa'atun

Beriman,

disiplin

diri,

tegas,

penuh

pengharapan, mempunyai ketetapan hati, suka


kebersihan, obyektif, bersemangat, murah hati,
menebar cinta, menjaga kehormatan, loyal,
jujur,

tanggungjawab,

fleksibel,

berjiwa

memaafkan, toleran.
43. Sudiyono

Beriman,

disiplin

diri,

tegas,

penuh

pengharapan, mempunyai ketetapan hati, suka

48

kebersihan, obyektif, bersemangat, murah hati,


menebar cinta, menjaga kehormatan, loyal,
jujur,

tanggungjawab,

fleksibel,

berjiwa

memaafkan, toleran.
44. Titik Sri Pujilestari

Beriman,

disiplin

diri,

tegas,

penuh

pengharapan, mempunyai ketetapan hati, suka


kebersihan, obyektif, bersemangat, murah hati,
menebar cinta, menjaga kehormatan, loyal,
jujur,

tanggungjawab,

fleksibel,

berjiwa

memaafkan, toleran.
45. Ahmad Mustain

Beriman,

disiplin

diri,

tegas,

penuh

pengharapan, mempunyai ketetapan hati, suka


kebersihan, obyektif, bersemangat, murah hati,
menebar cinta, menjaga kehormatan, loyal,
jujur,

tanggungjawab,

fleksibel,

berjiwa

memaafkan, toleran.
46. Rahma Sri Wulandari Beriman,

disiplin

diri,

tegas,

penuh

pengharapan, mempunyai ketetapan hati, suka


kebersihan, obyektif, bersemangat, murah hati,
menebar cinta, menjaga kehormatan, loyal,
jujur,

tanggungjawab,

fleksibel,

berjiwa

memaafkan, toleran.
47. Nanang Anshori

Obyektif, bersemangat, murah hati, percaya


diri,

kreatif,

bijaksana,

bisa

fleksibel,

mempertimbangkan,
berjiwa

memaafkan,

toleran.
48. Ali Murtadho

Beriman,

disiplin

diri,

tegas,

penuh

pengharapan, mempunyai ketetapan hati, suka


kebersihan, obyektif, bersemangat, murah hati,
menebar cinta, menjaga kehormatan, loyal,

49

jujur,

tanggungjawab,

fleksibel,

berjiwa

memaafkan, toleran.
49. Rois Amirul Haq

Beriman,

disiplin

diri,

tegas,

penuh

pengharapan, mempunyai ketetapan hati, suka


kebersihan, obyektif, bersemangat, murah hati,
menebar cinta, menjaga kehormatan, loyal,
jujur,

tanggungjawab,

fleksibel,

berjiwa

memaafkan, toleran.
50. Wawan Yulianto

Beriman, disiplin diri, tegas, percaya diri,


kreatif, bisa mempertimbangkan, bijaksana,
penuh pengharapan, mempunyai ketetapan hati,
suka kebersihan, obyektif, bersemangat, murah
hati, menebar cinta, menjaga kehormatan,
loyal, jujur, tanggungjawab, fleksibel, berjiwa
memaafkan, toleran.

Keadaan ketentraman jiwa siswa dapat diperoleh ciri keadaan


sebagai berikut: beriman, disiplin diri, tegas, penuh pengharapan, mempunyai
ketetapan hati, suka kebersihan, obyektif, bersemangat, murah hati, menebar
cinta, menjaga kehormatan, loyal, jujur, tanggungjawab, lembut, kasih
sayang, memiliki idealisme, percaya diri, kreatif, bisa mempertimbangkan,
bijaksana, menjunjung kepercayaan, fleksibel, berjiwa memaafkan, toleran.

50

BAB IV
ANALISIS KONDISI KECERDASAN SPIRITUAL DAN KETENTRAMAN
JIWA SISWA MTs MANBAUL HUDA TUNJUNGREJO
MARGOYOSO PATI

Proses

selanjutnya

dalam

penulisan skripsi ini adalah proses


analisis data, yang mana dalam tahap
ini data dari hasil penelitian lapangan
dianalisis

sebagaimana

mestinya

dengan menggunakan metode analisis


induktif, yaitu suatu pengambilan
keputusan dengan menggunakan pola
pikir yang berangkat dari fakta-fakta
yang

sifatnya

khusus

kemudian

digeneralisasikan kepada hal-hal yang


bersifat umum.
Pelaksanaan

kegiatan-kegiatan

dalam proses belajar mengajar yang

51

dilaksanakan di MTs Manbaul Huda


sebagaimana

dijelaskan

adalah

kegiatan positif yang bertujuan mulia,


seperti;

kegiatan

membaca

berdoa

asmaul

husna

dan
setiap

upacara bendera hari senin, membaca


asmaul husna ketika akan mulai
pelajaran, berjamaah shalat dzuhur
dan

membaca

awrad

(wiridan)

bersama, setoran hafalan Al-Qur'an


terutama juz Amma.67
Salah
membangun

satu

sarana

dalam

spiritualisme

adalah

usaha melakukan freshing mental


67

Hasil Wawancara dengan H. Anwar Sholeh, Guru BK MTs. Manbaul Huda


Tunjungrejo Margoyoso Pati, pada tanggal 2 Maret 2011.

52

atau ruhani berupa keyakinan, iman,


ideologi, etika, dan pedoman atau
tuntunan. Membangun spiritualisme
dapat dilakukan dengan berbagai
media, salah satunya adalah yang
membangun

spiritualitas

yang

bersumber dari agama atau religi,


yang dinamakan spritualisme religius.
Kecerdasan

seseorang

dapat

diukur dari kemampuannya dalam


mengendalikan

hawa

nafsunya

(cerdas emosi) dan mengorientasikan


semua

amalnya

pada

kehidupan

sesudah mati (cerdas spiritual). Orang


yang yakin bahwa ada kehidupan

53

setelah

kematian,

mereka

juga

percaya bahwa setiap amalan di dunia


sekecil

apapun

akan

dipertanggungjawabkan di hadapan
Allah SWT.
Keyakinan
hukuman

tentang
dan

menjadikannya

pahala,
keabadian,

lebih

berhati-hati

dalam menapaki kehidupan di dunia


ini, sebab mereka percaya bahwa
kehidupan ini tidak sekali di dunia ini
saja, tetapi ada kehidupan yang lebih
hakiki.

Dunia

adalah

tempat

menanam, sedangkan akhirat adalah


tempat

memanen,

siapa

yang

54

menanam padi akan menuai padi,


siapa yang menanam angin akan
menuai badai. Tidak hanya bersikap
hati-hati,

orang

yang

cerdas

spiritualnya lebih bersemangat, lebih


percaya

diri

dan

mereka

tidak

lebih

pernah

optimis,
ragu-ragu

berbuat baik, sebab jika kebaikannya


tidak bisa dinikmati saat di dunia,
mereka

masih

bisa

berharap

mendapatkan balasannya di akhirat


nanti.

Jika

tidak

bisa

dinikmati

sekarang, amal kebaikan itu akan


berubah

menjadi

tabungan

atau

deposito secara otomatis yang kelak

55

akan dicairkan justru pada saat


mereka sangat membutuhkan di alam
kehidupan sesudah mati.68
Sebagaimana kita ketahui, bahwa
setiap

manusia

dilahirkan

dalam

keadaan fitrah (suci) merujuk fitrah


kesucian manusia secara spirirtual.
Potensi dan benih spiritual yang ada
dan bersemayam dalam diri manusia,
dalam keadaan kehidupan sekarang
yang

global,

bimbingan

dan

pengarahan untuk mengasah dan


menajamkan spiritual telah menjadi
kewajiban kita masing-masing baik
68

http://hanifa93.wordpress.com/2009/01/04/cerdas-spiritual-menurut-islam/ Oleh Ust.


Abdullah Muhammad, diakses tanggal 24 Mei 2011.

56

secara

pribadi

maupun

secara

kelompok.
Menurut Sukidi, ada beberapa
kategori orang cerdas secara spiritual:
1. Kategori agamawan;
2. Kategori pendidik;
3. Kategori anak;
4. Kategori aktivis;
5. Kategori pengusaha;
6. Kategori politik;
7. Kategori lainnya.69

Dari

data

lapangan

diperoleh

bahwa para siswa di MTs Manbaul


Huda Tunjungrejo Margoyoso Pati,
secara

umum

kondisi

kecerdasan

spiritual mereka telah memenuhi apa


yang

diharapkan

dari

kegiatan-

kegiatan yang diselenggarakan pihak


69

Sukidi, Kecerdasan Spiritual, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2004, hlm. 87-97.

57

sekolah, berdasarkan pada ketujuh


kategori di atas, pada kategori anak
dapat diambil beberapa ciri keadaan
kecerdasan spiritual anak diantaranya
adalah sebagaimana tabel berikut.
Gambaran
kecerdasan

tentang
spiritual

kondisi
siswa

dapat

dilihat pada tabel berikut:


Tabel 6
Hasil Angket Kondisi Kecerdasan Spiritual Dengan Kategori
Ciri (Kategori)
Jumlah Siswa
Berpandangan luas

25 siswa

Gagasan segar

12 siswa

Memiliki pemahaman tujuan hidup

23 siswa

Moralitas tinggi

28 siswa

Memiliki minat yang keras

12 siswa

Kesadaran diri

20 siswa

Berpandangan efisien tentang realitas

18 siswa

Berpendapat kokoh

24 siswa

Memiliki intuisi kuat

14 siswa

Cenderung gembira

29 siswa

Rasa humor dewasa

30 siswa

58

Dalam

banyak

kecerdasan

hal,

kondisi

spiritual

siswa

sebagaimana digambarkan di atas


adalah:
1.Berpandangan luas, orang yang
berpandangan

luas

dalam

kehidupan dapat melihat dirinya


dan orang lain saling terkait,
menyadari tanpa diajari bahwa
bagaimanapun kehidupan ini dia
tetap berperan dalam pemenuhan
kecerdasan

tersebut

dalam

mencari cahaya subjektif.


2.Gagasan

segar,

siswa

yang

memiliki karakter ini terasa lebih

59

dewasa

dari

yang

umumnya

lain,

pada

mementingkan

kepentingan orang lain (altruistis)


atau

keinginan

berkontribusi

kepada orang lain.


3.Memiliki

pemahaman

tujuan

hidup, siswa dengan ciri ini dapat


merasa arah nasibnya, dan melihat
kemungkinan seperti cita-cita dan
hal-hal yang biasa.
4.Moralitas tinggi, dengan ciri ini
mereka tentunya telah memiliki
bakat yang sempurna, sebagai
modal

dalam

lingkungannya.

kehidupan

di

60

5.Memiliki

minat

yang

keras,

dengan ciri ini seringkali seorang


siswa akan memburu tujuan yang
diminatinya tanpa berpikir lain,
cerdas

dengan

minat

pada

umumnya akan membuat dia akan


berkomunikasi dan memanfaatkan
komunitasnya dalam pencapaian
tujuannya.
6.Kesadaran

diri,

dengan

sadar

akan dirinya tentunya dia akan


lebih mudah diarahkan.
7.Berpandangan

efisien

tentang

realitas, yang sering terjadi adalah


siswa pasti melakukan hal-hal

61

yang belum tentu kebenarannya,


dan setiap manusia tentunya akan
berbuat kesalahan pada realitas
hidup ini.
8.Berpendapat

kokoh,

dengan

ketetapan, kokoh pendirian dan


pendapatnya yang merasa paling
benar inilah, karakter siswa akan
menonjol dan dia merasa bisa
menunjukkan dirinya, inilah yang
lebih

terlihat

pada

kondisi

kecerdasannya yang paling mudah


diketahui.
9.Memiliki intuisi kuat, siswa yang
berciri ini adalah siswa yang

62

memiliki latar belakang dengan


berbeda

perasaan,

sehingga

dengan intuisi yang kuat ini dia


mewarisi yang ada pada orang
tuanya.
10.

Cenderung gembira, ciri ini

dapat mencitrakan siswa bahwa


dalam dirinya memiliki estetis
(berjiwa seni).
11.
ciri

Rasa humor dewasa, dengan


ini

memiliki
terlihat

siswa

dapat

terlihat

gagasan-gagasan
memiliki

kepemudaannya.

dan
sikap

63

Dari deskripsi data di atas, bahwa


perwujudannya

terbentuk

karena

pembentukan akhlak dari siswa MTs


Manbaul
Margoyoso

Huda
Pati

Tunjungrejo
yang

kemudian

menjadi tolok ukur beraktualisasi


dalam

kehidupan

sehari-hari

di

sekolah menjadikan siswa memahami


bagaimana

yang

seharusnya

dilakukan dan tidak untuk dilakukan,


memahami tentang bagaimana yang
perlu dilakukan dan tidak, sehingga
lambat laun dalam fase kehidupan
siswa tidak mengalami
yang

berarti

dalam

hambatan
kehidupan,

64

dikarenakan

sudah

terbiasa

berperilaku sesuai dengan aturan


yang ada dengan memahami haknya
sebagai siswa dan haknya dalam
berakulturasi dengan karakter siswa
lainnya,

serta

mengembangkan

hak

untuk

sebagai

bentuk

pengembangan aktualisasi diri.


Hal

tersebut

sebagaimana

diterangkan oleh para ahli yang


menyebutnya

dengan

kebahagiaan

spiritual, hal inilah yang menjadi


kunci

keberhasilan

seseorang

mengembangkan kecerdasan spiritual.


Yang kemudian dirumuskan tiga hal

65

kunci dalam meraih kebahagiaan


spiritual, diantaranya:

70

1.Cinta
Cinta dalam hal ini dipahami
sebagai

perasaan,

yang

lebih

menekankan pada kepekaan emosi


dan

sekaligus

menjadi

energy

kehidupan, artinya, hidup kita


mejadi energik atau tidak sedikit
banyak tergantung pada energy
cinta. Bangunan inipun kemudian
wajar

dalam

masa

remaja

khususnya di MTs Manbaul Huda


Tunjungrejo Margoyoso Pati yang
mana subjek penelitian adalah
70

Ibid., hlm. 109.

66

para remaja, sehingga semangat


mereka untuk bersekolah lebih
tinggi dikarenakan jalinan-jalinan
cinta yang ada dalam diri siswa.
Namun dalam hal kecerdasan
spiritual yang dimaksud adalah
bagaimana

cara

berteman,

memilih teman, bergaul dengan


teman, menghormati orang tua,
guru

dan

sesama

siswa,

berperilaku sopan dan sebagainya.


Kegiatan

kondisi

kecerdasan

spiritual

diharapkan

dapat

menumbuhkembangkan kecintaan
siswa

terhadap

penciptanya,

67

merasa bahwa tiada kekasih selain


Allah

sehingga

dapat

tentunya

memotivasi

memberikan

akan
dan

jalan

menuju

ketentraman jiwa yang luar biasa.


2.Doa
Doa

dalam

ekspresinya

diwujudkan dalam bentuk kalimat


bacaan

doa,

shalat,

dzikir,

meditasi, dan seterusnya yang


biasa dilakukan oleh para siswa
MTs Manbaul Huda Tunjungrejo
Margoyoso Pati sehingga mereka
menemukan kebermaknaan hidup
yang

luar

biasa,

disamping

68

memahami kewajibannya sebagai


umat.

Doa

merupakan

dalam
bentuk

hal

ini

komunikasi

spiritual yang dilakukan siswa


menghadap kepada Allah, oleh
karena itu manfaat terbesar doa
terletak pada penguatan ikatan
cinta antara siswa dan Allah, siswa
meneguhkan kecintaan pada Allah
dengan
menjadi

jalan
bukti

doa,

dan

doa

kongkret

yang

meneguhkan bahwa dimana ada


kita Allah selalu bersama kita.
Doa menjadi salah satu nilai
SQ

terpenting

dalam

meraih

69

ketentraman jiwa, dan juga sangat


membantu siswa ketika merasakan
kekurangan

gizi

spiritual

dan

sekaligus memberikan suntikan


spiritual

terhadap

penyakit-

penyakit spiritual yang melanda


siswa. Oleh karena itu marak
sekali

dilakukan

yaitu

penyembuhan spiritual (spiritual


healing) melalui doa, dan tidak
bisa disalahartikan bahwasannya
penyembuhan

ini

merupakan

takhayul

melainkan

kekuatan

spiritual

mutlak
(spiritual

strength). Pertama, doa dapat

70

mempertinggi sistem kekebalan


tubuh dan sekaligus meningkatkan
individu

dengan

sukses

dan

menyingkirkan virus. Kedua, doa


71

bisa

meringankan

sakit,

dan

mencegah penyakit lebih besar.


Ketiga, doa melatih seseorang
meningkatkan
Keempat,

doa

keberanian.
memperkaya

horizon seseorang yang mampu


melampaui penderitaan darurat
menuju masa depan yang bebas
dari seluruh beban psikis dan
penderitaan.
3.Virtues (Kebajikan)
71

Ibid, hlm.119

71

Berbuat

kebajikan

dapat

membawa seseorang khususnya


MTs Manbaul Huda Tunjungrejo
Margoyoso

Pati

kebahagiaan

hidup

dalam
serta

ketentraman jiwa. Hidup dengan


cinta dan kasih sayang akan
mengantarkan

siswa

dalam

kebajikan dan membawa siswa


dalam

ketentraman

Mempraktekkan

jiwa.
dan

membiasakan

kebajikan

menjadikan seseorang lebih puas


secara spiritual khususnya siswa,
dimana

siswa

lebih

mampu

72

merasakan

kebahagiaan

dan

ketentraman

jiwa

ketika

mengerjakan

sesuatu

dengan

manakala

kita

benar,

menyaksikan orang lain bertindak


secara tidak benar, maka menjadi
kewajiban
intrinsic

seseorang
dalam

kemanusiaan

hati
kita

secara
nurani
untuk

menjadikannya menjadi benar.

Dalam

kegiatan

keseharian,

aplikasi kondisi kecerdasan spiritual


dapat dibuktikan dengan jawaban
angket

siswa,

misalkan

saya

73

melakukan amalan doa setiap hari,


hal ini merupakan pernyataan sebagai
bahan pertimbangan teoritik, penulis
mencoba memparafrasekan dengan
teori

Roberts

A.

Emmons

sebagaimana dikutip oleh Jalaluddin


Rakhmat, ada 5 ciri orang yang
cerdas secara spiritual, dengan apa
72

yang terjadi secara nyata di MTs


Manbaul

Huda

Tunjungrejo

Margoyoso Pati.
1. Kemampuan untuk mentransendensikan yang fisik dan material.

Siswa dapat menempatkan sesuatu hal yang transenden dalam


konsepsi ketuhanan, mengimani apa yang dilihat, disaksikan dan
dirasakannya dengan berdasar pada keimanannya.
2. Kemampuan untuk mengalami tingkat kesadaran yang memuncak.

Dua

term

tersebut

pada

kenyataannya diwujudkan dalam


72

www.muthahhari.or.id/doc/artikel/sqanak.htm (tidak diterbitkan)

74

berbagai pelatihan yang diadakan


pihak sekolah berkaitan dengan
pengembangan

pribadi

siswa,

karena secara kodrati manusia


juga penting untuk memahami
dirinya sendiri diawali dari masa
sekolah,

seperti

dilakukan

halnya

yang

seperti

sholat

berjamaah

bersama,

membaca

Al-Qur'an

bersama,

absensi

giliran untuk menjadi imam, serta


kegiatan-kegiatan yang dilakukan
pada bulan ramadhan.
3. Kemampuan untuk mensakralkan pengalaman sehari-hari
Dalam memberikan pemahaman terhadap pengalaman hidup mereka
metode berdoa merupakan salah satu hal yang dilakukan dalam sekolah,
bagaimana sugesti dimasukkan agar mereka (siswa) mampu menyadari bahwa
doa mereka memiliki arti luar biasa dalam kehidupan mereka seperti halnya
menjawab salam adalah bagian dari doa.

75

4. Kemampuan

untuk

menggunakan

sumber-sumber

spiritual

untuk

menyelesaikan masalah.
Siswa yang cerdas secara spiritual tidak memecahkan persoalan
hiduphanya secara rasional atau emosional saja. Ia menghubungkannya dengan
makna kehidupan secara spiritual. Ia merujuk pada warisan spiritual yaitu AlQuran dan Sunnah. Hal ini banyak terjadi di kalangan siswa MTs Manbaul Huda
Tunjungrejo Margoyoso Pati yang notabene berbasis Islami, dan beberapa siswa
merupakan siswa pondok pesantren.
5. Kemampuan untuk berbuat baik, yaitu memiliki rasa kasih yang tinggi pada
sesama makhluk Tuhan seperti memberi maaf, bersyukur atau mengungkapkan
terima kasih, bersikap rendah hati, menunjukkan kasih sayang dan kearifan,
hanyalah sebagai dari kebajikan.
Perlakuan ini sangat ditekankan pada MTs Manbaul Huda Tunjungrejo
baik dilakukan oleh siswa, perangkat keorganisasian, maupun guru pada
umumnya. Dalam hal ini penekanan akhlak menjadi target utama, disamping
bangunannya berawal dari keluarga akan tetapi sekolah juga memiliki peran
penting, perwujudan dalam menghormati antara hak dan kewajiban, berbuat
baik terhadap orang tua adalah salah satu target utama pembinaan ini selain
hormat kepada guru sebagai orang tua di sekolahan.73

Sedangkan data tentang kondisi


ketenangan jiwa siswa MTs Manbaul
Huda Tunjungrejo Margoyoso Pati
dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 7
Hasil Angket Kondisi Ketentraman Jiwa dengan Kategori
Ciri (Kategori)
Jumlah Siswa
Beriman

73

20 siswa

Umar Hasyim, Cara Mendidik Anak Dalam Islam, Bina Ilmu, Surabaya, 1983, hlm. 15.

76

Disiplin diri

21 siswa

Tegas

20 siswa

Penuh pengharapan

20 siswa

Mempunyai ketetapan hati

17 siswa

Suka kebersihan

17 siswa

Obyektif

37 siswa

Bersemangat

38 siswa

Murah hati

20 siswa

Menebar cinta

20 siswa

Menjaga kehormatan

21 siswa

Loyal

20 siswa

Jujur

34 siswa

Tanggungjawab

36 siswa

Lembut

13 siswa

Kasih sayang

18 siswa

Memiliki idealisme

15 siswa

Percaya diri

21 siswa

Kreatif

21 siswa

Bisa mempertimbangkan

11 siswa

Bijaksana

15 siswa

Fleksibel

35 siswa

Berjiwa memaafkan

35 siswa

Toleran

36 siswa

Dalam pandangan Sukidi, dituliskan bahwa sebagai panduan untuk


memuluskan jalan menuju hidup yang tentram dan bahagia adalah sebagaimana
tercermin dalam keadaan ketentraman jiwa siswa. Dari data lapangan dapat
diperoleh kondisi ketentraman jiwa siswa sebagai berikut:
1. Beriman; dalam arti siswa yang mementingkan hak dan kewajibannya
sebagai siswa diharapkan memiliki ketentraman jiwa sebagai efek
ketulusan keimanannya.

77

2. Disiplin diri; siswa yang mengerti memahami dirinya, bisa menempatkan


dirinya dan waktu yang ia gunakan, sebagaimana dalam angket bangun
tidur sebelum subuh adalah ungkapan kedisiplinan.
3. Tegas; siswa yang tegas tentunya memiliki tingkat ketenangan jiwa yang
tinggi, dengan ketegasan yang tergambar dari pernyataan bisa memilih
teman yang baik dan menepati janji.
4. Penuh pengharapan; dengan ketentraman jiwa pastinya siswa memiliki
harapan, oleh karenanya dapat dinyatakan dengan melakukan jamaah,
mengerjakan tugas dengan baik dan sebagainya.
5. Mempunyai ketetapan hati; kategori ini dinyatakan dengan melakukan
ikhtiar dalam usahanya, dan berdoa.
6. Suka kebersihan; tercermin pada tingkat kebersihan sebagaimana
kejiwaannya yang bersih, dimulai dari merapikan ruangan, mencuci
pakaian dan sebagainya.
7. Obyektif; siswa yang objektif memiliki kondisi ketentraman jiwa yang
tercermin pada pernyataannya bisa membantu pekerjaan orang tua,
memiliki banyak teman, dapat menyelesaikan masalah.
8. Bersemangat; siswa selalu tentram jiwanya ketika bersemangat dalam
belajar dengan dorongan-dorongan baik dari dalam diri maupun dari luar
dirinya.
9. Murah hati; tentram dengan murah hati dinyatakan dalam bergaul dengan
teman, menghargai orang lain, berperilaku sopan dan sebagainya.
10. Menebar cinta; siswa dengan pernyataannya menyayangi teman dan
saudara, keluarga dapat dikategorikan pada tingkat ketentraman jiwa yang
tinggi karena masa remaja adalah masa pembentukan diri dan pencarian
jati dirinya.
11. Menjaga kehormatan; dari kategori ini sikap yang tercermin adalah tidak
suudhan, memilih teman dan lain sebagainya.
12. Loyal; siswa yang loyal, baik dengan dirinya dan orang lain tercermin
pada kategori ini adalah siswa yang bisa menyelesaikan tugasnya
walaupun sulit, mengerjakan PR dan lainnya.

78

13. Jujur; dinyatakan dengan menepati janji dan menghargai diri dan orang
lain.
14. Tanggungjawab; siswa pada kategori ini dapat mengerjakan tugasnya,
mengerjakan tugas yang sulit, tidak merasa bosan dengan pelajaran.
15. Lembut; ketentraman jiwa dapat dilihat dari kelembutan sikap sopan
santun yang dimiliki siswa.
16. Kasih sayang; siswa ini memiliki banyak teman dan memiliki banyak
teman.
17. Memiliki idealisme; mengerti tugas-tugasnya sebagai siswa tentunya akan
memberikan kekuatan pada jiwanya untuk mengambil sikap dengan tegas
bahwa dirinya mampu maka jika dia berhasil diharapkan akan memiliki
ketentraman.
18. Percaya diri; dengan percaya diri ini ketentraman akan tercermin pada
kedisiplinan dirinya, tenang ketika menghadapi hal-hal sulit.
19. Kreatif; selalu berinovasi dan mengharap segala sesuatu akan ada hasilnya
dengan ikhtiar dan berdoa setiap mengerjakan sesuatu.
20. Bisa mempertimbangkan; siswa yang tenang selalu bisa memberikan
pertimbangan, dengan contoh apakah dia akan meninggalkan tugas atau
pekerjaan yang sulit atau akan terus berusaha dengan kekuatan yang
dimilikinya.
21. Bijaksana; siswa yang tentram jiwanya memiliki tingkat kebijaksanaan
dalam melakukan shalat jamaah, sopan santun dan merasa memiliki
tanggungjawab dalam belajar.
22. Fleksibel; siswa ini bisa memberikan kesempatan dan peluang pada orang
lain dengan tidak suudhan, membantu orang tuanya, dan bisa
mengerjakan tugasnya dengan baik.
23. Berjiwa memaafkan; dengan ketentraman jiwanya, siswa ini tercermin
pada sikap menghargai diri dan orang lain.
24. Toleran, banyak teman, memilih teman, tidak suudhan, menghargai orang
lain adalah cerminan kondisi tentramnya jiwa siswa dalam kategori
ketentraman jiwa anak.

79

Sebagaimana terdapat pada angket pernyataan di atas, Saya merasa


semangat berangkat belajar ke sekolah karena akan mendapatkan ilmu yang baru,
eksistensi diri dengan ditampilkannya rasa semangat belajar adalah wujud dari
rasa perasaan jiwa yang tenang dan fokus dengan harapan akan mendapatkan
ilmu-ilmu baru dalam pelajaran di sekolah, siswa yang memiliki ketenangan jiwa
tentu akan merasakan semangat karena rasa harap dalam hati dan dibarengi
dengan kompaknya hati, jiwa, pikiran dan semangat dengan dorongan ilmu Allah,
maka siswa akan selalu berusaha Saya melakukan ikhtiar dan berdoa di setiap
hal yang akan dan telah saya kerjakan. Karena dengan dorongan tersebut,
mengingat dan selalu ingat akan kedekatannya pada Allah adalah esensi dzikir
pada Allah.
Dzikir adalah eksistensi diri dari mengingat Allah SWT atau menyadari
bahwa Allah adalah yang Maha Mutlak, atau dengan kata lain dzikir adalah
mengingat dalam arti menyadari, meyakini akan kebesaran Allah dan ke-Maha
Sempurna-Nya dan ke-Takterbatasan-Nya terhadap segala sesuatu apapun.
Kebutuhan hati adalah dzikir, apabila hati tidak senantiasa digunakan untuk dzikir
pada Allah, maka ia akan selalu terancam tipu daya syaitan dan terancam pula
oleh pencemaran dosa. Maka Allah menjadikan dzikir sebagai alat untuk
mendekatkan hamba kepada-Nya, karena seorang hamba yang selalu ingat
kepada-Nya jiwanya akan menjadi suci dan hatinya akan menjadi jernih. Dengan
demikian akan terbentuklah kesiapan untuk menerima hidayah Allah dan
mengikuti segala perintah-Nya, yang selanjutnya akan bertambah dekatlah ia
kepada-Nya dan rahmat-Nya pun akan semakin bertambah baginya.
Dari analisa penulis, hal ini mengindikasikan bahwa para siswa
mempunyai semangat dan motivasi keagamaan yang tinggi, mereka senantiasa
ingin mengaktualisasikan dirinya menjadi manusia dengan mencerminkan bahwa
orang yang cerdas emosi dan spiritual, enak diajak bergaul, karena mereka telah
terbebas dari suudzon (buruk sangka, hasad iri atau dengki dan takabur

80

menyombongkan diri). Orang-orang inilah yang memiliki potensi untuk meraih


sukses di dunia sekaligus sukses menikmati kehidupan surgawi di akhirat nanti.74
Tujuan lain dalam kondisi kecerdasan spiritual dan ketentraman jiwa siswa
di MTs Manbaul Huda, pada prinsipnya adalah pembentukan perilaku dalam
melakukan perbuatan yang karimah (akhlakul karimah), sehingga mereka
nantinya dapat hidup di tengah masyarakat dengan membawa modal akhlak
karimah yang kuat dalam pergaulannya. Untuk mewujudkan kemandirian anak
melalui pendidikan kecerdasan spiritual yang menjadi dasar dalam kehidupannya
ada beberapa rangkaian yang terkait dengan pembentukan tersebut. Hal yang
paling pertama adalah membentuk keyakinan keagamaan siswa, karena latar
belakang siswa yang rata-rata datang dari keluarga yang kurang mampu, tingkat
pengetahuan dan pengalaman agama menjadikan mereka kurang peduli terhadap
pentingnya peran agama dan perilakunya cenderung menjalankan ajaran agama
dengan sekedarnya. Penanaman keimanan sebagai pangkal dari ajaran agama
menjadi sangat penting bagi peningkatan kemandirian anak yang bernafaskan
Islam. Keimanan mempunyai pengaruh yang sangat besar atas diri manusia karena
ia mampu membuat percaya pada diri sendiri, meningkatkan kemampuan untuk
bersabar dan kuat menanggung derita kehidupan, membangkitkan rasa tenang dan
tenteram dalam jiwa juga menimbulkan kedamaian hati dan memberi perasaan
bahagia, sehingga manusia ketika tidak tenang tidak akan melakukan perbuatan
yang negatif.
Selain itu kondisi kecerdasan spiritual merupakan kelanjutan dari peran
pendidikan agama yang tentunya bukan hanya sekedar mengajarkan tindakantindakan ritual seperti sholat dan membaca doa, akan tetapi lebih dari itu, yaitu
membentuk keseluruhan tingkah laku manusia dalam rangka memperoleh ridlo
dari Allah SWT. Pendidikan keagamaan merupakan masalah penting dan
fundamental dalam kaitanya dengan budaya lokal. Pendidikan keagamaan
merupakan suatu pembinaan terhadap pembangunan bangsa secara keseluruan.

74

Hasil wawancara dengan Siti Jumi'atun, siswa MTs Manbaul Huda pada tanggal 3
Maret 2011.

81

Terwujudnya kehidupan masyarakat yang berpegang pada moralitas merupakan


salah satu hasil dari proses pendidikan agama Islam (PAI).
Pada intinya, kondisi kecerdasan spiritual dan ketenangan jiwa siswa MTs
Manbaul Huda Tunjungrejo Margoyoso Pati berdasarkan pelaksanaan penelitian,
kondisi kecerdasan spiritual tersebut adalah dilakukan pada ranah formal dan non
formal, dikarenakan setiap mata pelajaran yang diajarkan sangat diperlukan
aktualitas keagamaan dalam rutinitas pengajarannya. Hal tersebut secara umum
telah dilakukan dalam praktek keseharian baik interelasi antara guru dan siswa,
guru dengan guru, maupun dengan perangkat sekolah lainnya yang secara umum
terlibat dalam praktek belajar menagajar di sekolah.
Hal

tersebut

dikaitkan

dengan

(sembilan)

pokok

indikator

berkembangnya kecerdasan spiritual dalam kehidupan siswa, yaitu:


1. Kemampuan bersikap fleksibel
Dalam kenyataannya di lapangan bahwasannya siswa dididik
dalam suasana dan kondisi untuk mampu melakukan sesuatu hal yang
bersifat fleksibel terhadap apa yang dihadapinya dengan cara, membentuk
kelompok-kelompok belajar yang berasal dari berbagai siswa yang tidak
saling mengenal. 75
2. Tingkat kesadaran yang tinggi (memiliki jati diri)
Dalam hal ini dengan diadakannya jumat bersih diharapkan mampu
menumbuhkembangkan kesadaran siswa akan kebersihan setidaknya ini
merupakan bangunan awal dari rasa sadar diri dan kepekaan terhadap apa yang
ada di sekelilingnya.
3. Kemampuan untuk menghadapi dan memanfaatkan penderitaan
Masalah yang seringkali muncul dalam siswa MTs pada umumnya
tidak jauh berbeda dengan masalah-masalah remaja pada umumnya, terkait
dalam proses pencarian jatidiri, hal ini telah banyak dilakukan guru BK melalui
beberapa bimbingan yang dilakukan.
4. Kemampuan untuk menghadapi dan melampaui rasa sakit
75

Hasil Wawancara dengan H. Anwar Soleh, Guru BK MTs. Manbaul Huda Tunjungrejo
Margoyoso Pati, pada tanggal 3 Maret 2011.

82

Kasus yang ada di sekolah menjadi ukuran bahwa tumbuh kembangnya


kedewasaan siswa dapat diukur. Seperti yang terjadi adanya perkelahian siswa,
bentuk pelanggaran dan hukuman guru, kemudian perubahannya setelah
diadakan pembinaan oleh guru BK.
5. Kualitas hidup yang diilhami, visi, dan nilai-nilai.
Dalam hal ini siswa dihadapkan untuk selalu memiliki cita-cita dan visi
dengan mendalami karakter yang ada melalui kegiatan-kegiatan sekolah,
kegiatan pembinaan mental dan nasionalisme yang diadakan sekolah setiap satu
semester, sangat mempengaruhi siswa dalam pembentukan karakternya.76
6. Keengganan untuk menyebabkan kerugian yang tidak perlu
Pemberdayaan serta pemanfaatan ketrampilan siswa seringkali
dilakukan dalam bentuk kegiatan baik intra maupun ekstra kurikuler agar
kegiatan siswa terkontrol dan tidak mengarah pada jalur yang tidak perlu.
Semisal lebih memilih berjamaah daripada pulang lebih awal.
7. Kecenderungan

untuk

melihat

keterkaitan

antara

berbagai

hal

(berpandangan holistik).
Pemahaman akan pandangan holistik secara umum memang belum
terlaksana dengan baik pada siswa dikarenakan karakteristik dasar siswa yang
mana didominasi oleh kaum remaja yang cenderung lebih emosional
menghadapi segala sesuatu perbedaan.
8. Menjadi apa yang disebut oleh para psikolog sebagai bidang mandiri
Bidang mandiri tentunya berkait mengait dengan apa yang ditanamkan
dalam item-item sebelumnya, karena mau tidak mau bentukan yang
dimunculkan diharapkan mampu menjadikan siswa yang berkarakter dan mau
berjuang mencapai jati dirinya.77

Ketentraman jiwa pada siswa MTs Manbaul Huda Tunjungrejo


Margoyoso Pati, dalam hal ini penulis berasumsi berdasarkan beberapa kriteria
76
Hasil Wawancara dengan H. Anwar Soleh, Guru BK MTs. Manbaul Huda Tunjungrejo
Margoyoso Pati, pada tanggal 3 Maret 2011.
77
Hasil Wawancara dengan H. Anwar Soleh, Guru BK MTs. Manbaul Huda Tunjungrejo
Margoyoso Pati, pada tanggal 3 Maret 2011.

83

bagaimana faktor-faktor yang meliputi ketentraman jiwa siswa, kemudian


diparafrasekan dengan keadaan lapangan berdasarkan fakta-fakta yang terjadi
pada siswa MTs Manbaul Huda dimaksud adalah sebagai berikut:
1. Kebutuhan fisiologis
Kebutuhan ini adalah kebutuhan dasar yang harus dipenuhi oleh
setiap manusia untuk hidup, secara manusiawi dalam kurikulum maupun
tidak hak-hak akan kebutuhan fisiologis ini telah terpenuhi, hal ini
dibuktikan dengan tidak adanya permasalahan-permasalahan siswa yang
berhubungan dengan kebutuhan fisiologis. 78
2. Kebutuhan akan rasa aman
Setelah orang dapat memenuhi kebutuhan dasar selanjutnya
berkembang keinginan untuk memperoleh rasa aman. Permasalahan
tentang rasa aman khususnya di dalam sekolahan sebenarnya telah dijamin
oleh pihak sekolahan berkaitan dengan rasa aman dalam proses belajar
mengajar, proses interaksi dengan sesama siswa, namun tidak dapat
dipungkiri dengan kegiatan siswa diluar sekolah, terkadang ada pula
masalah-masalah yang melibatkan pihak luar sekolah (masyarakat) yang
mana dalam perpanjangan permasalahannya mengancam ketentraman
siswa bersekolah, sehingga tak jarang siswa tidak masuk sekolah
dikarenakan adanya masalah pertengkaran dengan masyarakat luar.79
3. Kebutuhan akan rasa kasih sayang
Perasaan memiliki dan dimiliki oleh orang lain atau oleh kelompok
masyarakat adalah sesuatu yang dibutuhkan oleh setiap manusia.
Kebutuhan ini biasa diaplikasikan dalam bentuk treatment persuasive guru
terhadap siswa yang bermasalah, maupun penyikapan tindak tanduk guru
terhadap siswa sehingga ada kedekatan secara kekeluargaan antara guru
dan siswa.
78

Hasil Wawancara dengan H. Anwar Soleh, Guru BK MTs. Manbaul Huda Tunjungrejo
Margoyoso Pati, pada tanggal 3 Maret 2011.
79
Permasalahan yang ada biasanya diantara siswa dengan remaja luar sekolah, dengan
saling mengancam dan berkelahi setelah jam sekolah, hal ini sangat disesalkan karena tak jarang
siswa tidak masuk setelah bermasalah dengan remaja kampong, ditegaskan bapak Anwar Soleh,
selaku kordinator BK, pada tanggal 4 Maret 2011.

84

4. Kebutuhan akan harga diri


Harga diri dalam hal ini bias khususnya yang terjadi di kalangan
siswa, artinya bahwa ada sebagian siswa yang memahami bahwa apa yang
diucapkan orang lain dan tidak disukainya dianggap mengganggu harga
dirinya, jadi keadaan tentang pemahaman harga diri tidak begitu dipahami
oleh siswa.
5. Kebutuhan akan aktualisasi diri
Kebutuhan pada tingkat ini adalah kebutuhan yang paling tinggi,
menurut Maslow, pada tingkatan ini manusia ingin berbuat sesuatu yang
semata-mata karena dia ingin berbuat sesuatu yang merupakan keinginan
dari dalam dirinya. Yang terjadi di kalangan siswa kebutuhan ini dicukupi
dengan berbagai kegiatan-kegiatan sekolah untuk mengaplikasikan
kemampuan siswa sehingga memiliki sarana untuk mengaktualisasikan
dirinya dalam berbagai kemampuannya. 80

80

Jamaluddin Ancok, Psikologi Islami Solusi Islam atas Problem-Problem Psikologi,


Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1995, hlm. 92

85

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kondisi kecerdasan spiritual dan ketentraman jiwa siswa MTs
Manbaul Huda Tunjungrejo Margoyoso Pati, setelah melalui analisis yang
dilakukan oleh penulis, dapat dihasilkan kesimpulan bahwa:
Kondisi kecerdasan spiritual dan ketentraman jiwa siswa dalam
penelitian yang dilakukan di MTs Manbaul Huda Tunjungrejo Margoyoso
Pati, dengan melibatkan 50 siswa dari kelas 7 dan kelas 8; dalam kondisi baik
dengan memberikan bukti terdapat beberapa kategori diantaranya:
1. Kondisi kecerdasan spiritual siswa: berpandangan luas, gagasan segar,
memiliki pemahaman tujuan hidup, moralitas tinggi, memiliki minat yang
keras, kesadaran diri, berpandangan efisien tentang realitas, berpendapat
kokoh, memiliki intuisi kuat, cenderung gembira, rasa humor dewasa.
2. Kondisi ketentraman jiwa siswa memiliki kondisi dengan kategori:
beriman, disiplin diri, tegas, penuh pengharapan, mempunyai ketetapan
hati, suka kebersihan, obyektif, bersemangat, murah hati, menebar cinta,
menjaga kehormatan, loyal, jujur, tanggungjawab, lembut, kasih sayang,
memiliki idealisme, percaya diri, kreatif, bisa mempertimbangkan,
bijaksana, menjunjung kepercayaan, fleksibel, berjiwa memaafkan,
toleran.
Hal kunci dalam kondisi kecerdasan spiritual dan ketentraman jiwa
siswa di MTs Manbaul Huda Tunjungrejo Margoyoso Pati adalah siswa
memiliki cinta; Dipahami sebagai perasaan yang lebih menekankan pada
kepekaan emosi dan sekaligus menjadi energy kehidupan. Doa; dalam
ekspresinya diwujudkan dalam bentuk bacaan kalimat doa, shalat, dzikir,
meditasi, dan seterusnya yang biasa dilakukan oleh para siswa. Virtues
(Kebajikan); kebajikan dapat membawa seseorang dalam kebahagiaan hidup
serta ketentraman jiwa.

86

Ketentraman jiwa dalam eksistensi diri adalah dengan ditampilkannya


rasa semangat belajar sebagai wujud dari rasa perasaan jiwa yang tenang dan
fokus dengan harapan akan mendapatkan ilmu-ilmu baru dalam pelajaran di
sekolah, siswa yang memiliki ketenangan jiwa tentu akan merasakan
semangat karena rasa harap dalam hati dan dibarengi dengan kompaknya hati,
jiwa, pikiran dan semangat dengan dorongan ilmu Allah, maka siswa akan
selalu berusaha saya melakukan ikhtiar dan berdoa di setiap hal yang akan
dan telah saya kerjakan. dengan dorongan tersebut, mengingat dan selalu
ingat akan kedekatannya pada Allah adalah esensi dzikir pada Allah sebagai
tingkatan kecerdasan spiritual hingga pada ketentraman jiwa sebagai aktor
pelajar.

B. Saran
Dari kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini, dengan tanpa
mengurangi rasa hormat pada pihak manapun dan dengan segala kerendahan
hati, penulis dapat memberikan beberapa saran untuk penelitian ke depan
berupa:
1. Untuk Siswa, hendaknya lebih meningkatkan kualitas spiritual agar
lambat laun terlatih sejak dini sehingga kedepan menjadi sebuah
kebiasaan dalam hidup yang terbawa sampai menjadi manusia seutuhnya
yang terjun di masyarakat dan menjadi contoh bagi warga dan
masyarakatnya, ingat bahwa sebaik-baik manusia adalah manusia yang
bermanfaat bagi manusia lainnya.
2. Bagi Guru dan pihak sekolah, tentunya tuntutan untuk lebih bersifat
profesional bukan lagi menjadi harapan pribadi siswa namun menjadi
cita-cita bersama masyarakat pendidikan di indonesia, agar mampu
membentuk karakter siswa

yang mampu berdayaguna lebih di

masyarakat, salah satunya melalui pelatihan spiritual yang di sekolah.


3. Bagi Peneliti, diharapkan ke depan akan ada penelitian yang lebih
mendalam dalam membahas tentang kecerdasan spiritual dengan lebih
mengedepankan penemuan-penemuan yang berkualitas, karena rumusan

87

agar siswa mampu secara optimal dalam mengaktualisasikan IQ, EQ, dan
SQ.

C. Penutup
Alhamdulillah, puji syukur atas rahmat-Nya yang sempurna kepada
umat Islam khususnya dan kepada seluruh manusia serta alam pada umumnya
yang telah memberikan bantuan tiada kiranya. Penulis dapat menyelesaikan
skripsi yang berjudul. Kondisi Kecerdasan Spiritual dan Ketentraman Jiwa
Siswa MTs Manbaul Huda Tunjungrejo Margoyoso Pati.
Penulis

menyadari

sekalipun

telah

mencurahkan

usaha

dan

kemampuan dalam penyusunan skripsi ini, tentu masih banyak kekurangan


dan banyak kesalahan baik dari segi penulisan maupun segi yang lain. Meski
penulis sudah berusaha semaksimal dan seoptimal mungkin dalam
menyelesaikan skripsi ini dengan sebaik-baiknya.
Akhirnya penulis berdoa kehadirat Allah SWT. semoga skripsi ini
berguna dan bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya.
Amiin Ya Robbal Alamin.

DAFTAR PUSTAKA

Abror, Abdurrachman, Psikologi Pendidikan, Yogyakarta: PT. Tiara Wacana,


1993.
Agustian, Ary Ginanjar, ESQ, the ESQ Way 165, 1 Ihsan 6 Rukun Iman dan 5
Rukun Islam, Jakarta: Penerbit ARGA, 2005.
Ali, Yunasril, Takziah al-Nafs dalam Jurnal Khas Tasawuf, No. 09 tahun III,
2002.
Ancok, Jamaluddin, Psikologi Islami Solusi Islam atas Problem-Problem
Psikologi, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1995.
Arikunto, Suharsimi, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta:
Rineka Cipta, 1993.
Azwar, Saifuddin, Metode Penelitian, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998.
Bastaman, Hanna Djumhana, Dimensi Spiritual dalam Teori Psikologi
Kontemporer Logoterapi Viktor E. Frankl dalam Ulumul Qur'an, No.
4, Vol. V, 1994.
_____________, Integrasi Psikologi dengan Islam Menuju Psikologi Islami,
Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997.
Burhani, Ahmad Najib, (ed), Manusia Modern Mendamba Allah, Renungan
Tasawuf Positif, Jakarta: Hikmah, t.t.
_____________, Sufisme Kota, Jakarta: Serambi, 2001.
Daradjat, Zakiah, Kesehatan Mental, Jakarta: Gunung Agung, 1986.
_____________, Islam dan Kesehatan Mental, Jakarta: Gunung Agung, 1982.
_____________, Kepribadian Guru, Jakarta: Bulan Bintang, 1980.
_____________, Ilmu Jiwa Agama, Jakarta: Bulan Bintang, 1970.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi
II, Jakarta: Balai Pustaka, 1994.
Hasyim, Umar, Cara Mendidik Anak Dalam Islam, Surabaya: Bina Ilmu, 1983.
http://hanifa93.wordpress.com/2009/01/04/cerdas-spiritual-menurut-islam/
Ust. Abdullah Muhammad, diakses tanggal 24 Mei 2011.

Oleh

http://hanifa93.wordpress.com/2009/01/04/cerdas-spiritual-menurut-islam/
Ust. Abdullah Muhammad, diakses tanggal 24 Mei 2011.

Oleh

http://student-research.umm.ac.id/index.php/department_of_tarbiyah/article/view/7512
http://www.eramuslim.com/oase-iman/berbuat-baik-dan-ketentraman-jiwa.htm
Kartono, Kartini dan Jenny Andari, Hygiene Mental dan Kesehatan Mental dalam
Islam, Bandung: Mandar Maju, 1989.
Margono, S., Metodologi Penelitian Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta, cet. 4,
2004.
Moleong, Lexy J., Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2002.
Muhadjir, Noeng, Metodologi Penelitian Kualitatif, Yogyakarta: Rake Sarasin,
1998.
Nurbakhsy, Javad, Psikologi Sufi, Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru, 1998.
Pasiak, Taufiq, Revolusi IQ/ EQ /SQ: Antara Neurosains dan al-Qur'an,
Bandung: Mizan, cet. IV, 2004.
Poerwadarminta, W.J.S., Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka,
1982.
Qadir, C.A., Filsafat dan Ilmu Pengetahuan Dalam Islam, Jakarta: Yayasan Obor
Indonesia, 1991.
Riyanto, Yatim, Metodologi Penelitian Pendidikan Suatu Tinjauan Dasar,
Surabaya: SIC, 1996.
Sagala, Syaiful, Konsep dan Makna Pembelajaran untuk Membantu Memecahkan
Problematika Belajar dan Mengajar, Bandung: Alfabeta, 2003.
Singarimbun, Masri dan Sapta Efendi, Metode Penelitian Survey, Jakarta: LP3ES,
1985.
Soenardjo, dkk., Al-Qur'an dan Terjemahnya, Jakarta: Lembaga Pentafsir/
Penterjemah Al-Qur'an Depag RI., 1997.
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D, Bandung: CV.
Alfabeta, 2006.
Sukidi, Kecerdasan Spiritual, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2004.

Sutopo, Heribertus B., Metode Penelitian Kualitatif, Surakarta: Depdikbud RI


UNS, 1996.
Tasmara, Toto, Kecerdasan Ruhaniah, Jakarta: Gema Insani, 2001.
Wahib, Abdul, Puasa dan Kesehatan Mental, dalam Media, Edisi, 10th. 11 Maret
1992, Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang.
www.muthahhari.or.id/doc/artikel/sqanak.htm (tidak diterbitkan)
Zohar, Danah dan Ian Marshal, SQ, Memanfaatkan Kecerdasan Spiritual dalam
Berfikir Integralistik dalam Holistik untuk Memaknai Kehidupan,
Bandung: Mizan, Cet. IV, 2001.
Referensi Dokumen dan Wawancara
Data Monografi MTs. Manbaul Huda Tunjungrejo Margoyoso Pati Dikutip
Tanggal 8 Februari 2011.
Data Papan Demografi MTs. Manbaul Huda Tunjungrejo Margoyoso Pati,
dikutip pada tanggal 8 Februari 2011.
Data Dokumen MTs. Manbaul Huda Tunjungrejo Margoyoso Pati Dikutip
Tanggal 9 Februari 2011.
Hasil Wawancara dengan Bapak Muktamaroh, BA. Selaku Kepala Sekolah pada
Tanggal 8 Februari 2011.
Hasil Wawancara dengan Bp. H. Anwar Sholeh, Guru BK MTs. Manbaul Huda
Tunjungrejo Margoyoso Pati, pada tanggal 2 Maret 2011.
Hasil wawancara dengan Siti Jumi'atun, siswa MTs Manbaul Huda pada tanggal
3 Maret 2011.

ANGKET PENELITIAN
Identitas Responden
Nama
:
Kelas
:
Petunjuk Pengisian Angket
1. Pilihlah salah satu jawaban di kolom sebelah kanan yang telah tersedia yang
dianggap paling benar dengan memberi tanda conteng ().
2. Jawaban TS (Tidak Setuju), KS (Kurang Setuju), S (Setuju), SS (Sangat
Setuju).
3. Kejujuran dalam menjawab pertanyaan ini akan sangat membantu penelitian
ini.
4. Jawaban anda akan dijamin kerahasiaannya.
Soal-Soal Kecerdasan Spiritual
No

Soal Penyataan

Saya setiap hari membaca Al-Quran berikut juga


artinya.

Saya memahami makna yang terkandung dalam ayatayat yang saya baca.

Saya menghatamkan Al-Qur'an satu tahun 6 kali.

Saya mengetahui bacaan tajwid dalam Al-Qur'an.

Saya mengikuti pengajian di sekolah atau di luar


sekolah.

Saya mengerjakan shalat 5 waktu setiap hari.

Saya mengerjakan shalat sunnah rawatib.

Saya mengerjakan shalat sunnah tahajud.

Saya menghormati dan mematuhi kedua orang tua.

10

Saya menghormati dan menaati guru-guru.

11

Saya berdoa setiap selesai shalat.

TS

KS S

SS

12

Saya mendoakan kedua orang tua dan guru-guru.

13

Saya melaksanakan puasa bulan ramadhan tidak pernah


bolong.

14

Saya rutin mengikuti kegiatan bulan ramadhan (shalat


tarawih).

15

Saya mengikuti pengajian kultum ramadhan.

16

Saya bersalaman dan meminta maaf pada kedua orang


tua pada saat lebaran.

17

Saya bersilaturahmi kepada guru-guru dan meminta


maaf pada saat lebaran.

18

Saya bergaul dengan semua teman sekolah.

19

Saya melakukan amalan doa setiap hari.

20

Saya menjawab salam ketika ada yang mengucapkan


salam.

Soal-Soal Ketentraman Jiwa


No

Soal Penyataan

Saya bangun tidur sebelum subuh setiap hari.

Saya berjamaah shalat subuh.

Saya merapikan tempat tidur sendiri.

Saya membantu pekerjaan kedua orang tua.

Saya mencuci dan menyetrika pakaian sendiri.

Saya merasa semangat berangkat belajar ke sekolah


karena akan mendapatkan ilmu yang baru.

Saya senang bergaul dan memiliki banyak teman.

TS KS

S SS

Saya harus memilih teman bergaul yang baik.

Saya menyelesaikan masalah sendiri tanpa bantuan


teman.

10

Saya mengerjakan PR dan tugas sekolah dengan baik.

11

Saya selalu menepati janji.

12

Saya selalu berperilaku sopan dan santun.

13

Saya menyayangi teman dan saudara serta keluarga.

14

Saya merasa belajar adalah beban yang berat.

15

Saya merasa bosan dengan pelajaran yang sulit.

16

Saya selalu tenang ketika ada tugas yang sulit dan terus
berusaha.

17

Saya meninggalkan tugas ketika menemukan tugas yang


sulit.

18

Saya melakukan ikhtiar dan berdoa di setiap hal yang


akan dan telah saya kerjakan.

19

Saya tidak pernah suudhan kepada semua teman.

20

Saya bisa menghargai diri sendiri dan orang lain.

DAFTAR SISWA MTs MANBAUL HUDA


KELAS 7
No.

Nama

Lk/ Pr

Kelas

1.

Tri Utami

Perempuan

VII

2.

Khamem

Laki-laki

VII

3.

Linda Juarsih

Perempuan

VII

4.

Lumiati

Perempuan

VII

5.

Hardiono S.

Laki-laki

VII

6.

Sofiah

Perempuan

VII

7.

Titik Wintarti

Perempuan

VII

8.

Titik Lestari

Perempuan

VII

9.

Santi

Perempuan

VII

10.

Aris Susanti

Perempuan

VII

11.

Sulastri

Perempuan

VII

12.

Dewi Lastari

Perempuan

VII

13.

Suprin

Laki-laki

VII

14.

Siswoyo

Laki-laki

VII

15.

Slamet

Laki-laki

VII

16.

Paidi

Laki-laki

VII

17.

Muallimah

Perempuan

VII

18.

Susilo

Laki-laki

VII

19.

Eko Purnomo

Laki-laki

VII

20.

M. Makrus

Laki-laki

VII

21.

Chandra Halim

Laki-laki

VII

22.

Ernasari

Perempuan

VII

23.

Siti Mutmainah

Perempuan

VII

24.

Suwahono

Laki-laki

VII

25.

Sumarsono

Laki-laki

VII

26.

M. Maftuhin

Laki-laki

VII

27.

Sri Sumiyati

Perempuan

VII

28.

Ruslan

Laki-laki

VII

29.

Solikin

Laki-laki

VII

30.

Noor Halimah

Perempuan

VII

31.

Zainab Rosidah

Perempuan

VII

DAFTAR SISWA MTs MANBAUL HUDA


KELAS 8
No.

Nama

Lk/ Pr

Kelas

1.

Ah. Syafi'i

Laki-laki

VIII

2.

Ah. Syaiful Anas

Laki-laki

VIII

3.

Anis Fatmawati

Perempuan

VIII

4.

Eka Kusumaningsih

Perempuan

VIII

5.

Kiswanto

Laki-laki

VIII

6.

Moh. Agus Rifa'i

Laki-laki

VIII

7.

Moh. Muhtar

Laki-laki

VIII

8.

Naning Istianah

Perempuan

VIII

9.

Siti Jumi'atun

Perempuan

VIII

10.

Siti Nur Hidayah

Perempuan

VIII

11.

Siti Syafa'atun

Perempuan

VIII

12.

Sudiyono

Laki-laki

VIII

13.

Titik Sri Pujilestari

Perempuan

VIII

14.

Ahmad Mustain

Laki-laki

VIII

15.

Rahma Sri Wulandari

Perempuan

VIII

16.

Nanang Anshori

Laki-laki

VIII

17.

Ali Murtadho

Laki-laki

VIII

18.

Rois Amirul Haq

Laki-laki

VIII

19.

Wawan Yulianto

Laki-laki

VIII

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama

: Sulistyaningsih

TTL

: Blora, 16 April 1986

Alamat

: Ds. Sumber Kradenan Blora

Jurusan

: Tasawuf Psikoterapi

NIM

: 4104038

Riwayat Pendidikan:
MI Bustanut Tholibin Sumber lulus tahun 1998
MTs Hasyim Asyari Sumber lulus tahun 2001
MA Muallimin-Muallimat Rembang lulus tahun 2004
IAIN Walisongo Semarang Fakultas Ushuluddin angkatan 2004.

Semarang, 27 Juli 2011

Sulistyaningsih