Anda di halaman 1dari 2

Landasan hokum pemebrantasan kkn

Landasan Hukum Pemberantasan KKN


Pemberantasan KKN sudah banyak landasan hukumnya, antara lain sebagai berikut:
1. Ketetapan MPR-RI nomor XI/MPR/1998 tanggal 13 Nopember 1998, antara
lain bahwa seseorang yang dipercaya menjabat suatu jabatan harus
mengumumkan dan bersedia diperiksa kekayaannya sebelum dan setelah
menjabat.
2. UU No.28 tahun 1999, antara lain mengatur pembentukan Komisi Pemeriksa
Kekayaan pejabat. Bahkan, diatur dalam UU tersebut, manakala Pejabat atau
anggota Komisi yang melakukan Kolusi atau Nepotisme akan dihukum paling
singkat dua tahun penjara dan denda dua ratus juta rupiah.
3. UU No.31 tahun 1999 tentang pemberantasan Korupsi. Banyak ancaman
hukuman yang dicantumkan dalam UU ini, termasuk juga kepada penyuap.
Dari sekian banyak pasal, diatur bahwa denda maksimum adalah satu milyar
rupiah, berarti yang korupsi sekian trilyun, dendanya tidak sampai satu per
mil! Dalam UU ini juga diterapkan pembuktian terbalik yang bersifat terbatas
atau berimbang, jadi terdakwa dapat memberikan keterangan tentang dari
mana saja asal harta bendanya dan harta benda keluarganya.
4. Peraturan Pemerintah No. 65 tahun 1999, yang mengatur tentang
pemeriksaan kekayaan Penyelenggara Negara (pejabat), termasuk
pembentukan Komisi Pemeriksa yang anggotanya termasuk juga wakil-wakil
masyarakat. Tata cara pemeriksaan yang diatur oleh Peraturan ini untuk
mengetahui kebenaran atas kekayaan Pejabat untuk memudahkan
pemeriksaan apabila di kemudian hari BPKP, Kepolisian, atau Kejaksaan
memerlukan pemeriksaan.
5. Peraturan Pemerintah No. 66, 67, 68, dan 127 tahun 1999 yang mengatur
tentang organisasi, cara kerja, pelaporan, dan hal-hal praktis lainnya dari
Komisi Pemeriksa Kekayaan Penyelanggara Negara.
UU No. 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
UU No. 28 tahun 1999 tentang Penyelengaraan Negara yang Bersih dan Bebas KKN.
UU No. 3 tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
UU No. 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
Ketetapan MPR No. X/MPR/1998 tentang Penyelengaraan Negara yang Bersih dan
Bebas KKN.
UU No. 15 tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang.

UU No. 30 tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KPK).
Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 5 tahun 2004 tentang Percepatan
Pemberantasan Korupsi.
Peraturan Pemerintah No. 71 tahun 2000 tentang Tata Cara Pelaksanaan Peran
Serta Masyarakat dan Pemberian Penghargaan dalam Pencegahan dan
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
Peraturan Pemerintah No. 63 tahun 2005 tentang Sistem Manajemen Sumber Daya
Manusia KPK.

Serangkaian tindakan untuk mencegah dan menanggulangi korupsi (melalui upaya


koordinasi, supervisi, monitor, penyelidikan, penyidikan, penuntutan dan
kemeriksanaan sidang pengadilan) dengan berperan dalam masyarakat
berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku disebut pemberantasan
korupsi (UU 30/2002 Pasal 1 butir 3). Berdasarkan UU No. 30 tahun 2002 telah
dibentuk komisi yang khusus menangani korupsi, yaitu Komisi Pemberantasan
Korupsi (KPK). Tugas KPK adalah menyelidiki para pejabat yang dicurigai melakukan
tindakan korupsi. Komisi Pemberantasan Korupsi berdasarkan Pasal 3 undangundang tersebut adalah lembaga negara yang dalam melaksanakan tugas dan
wewenangnya bersifat independen dan bebas dari pengaruh kekuasaan manapun.