Anda di halaman 1dari 84

ISLAM DAN GOOD GOVERNANCE

(Studi Landasan Keagamaan dan Praktik Partisipasi POKJA PuTKP PWNU


Jawa Tengah dalam Penciptaan Tata Kelola Pemerintahan yang Baik di
Jawa Tengah)

SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Guna Memperoleh Gelar Sarjana
Dalam Ilmu Ushuluddin
Jurusan Aqidah Filsafat (AF)

Oleh:
MUHAMMAD NARYOKO
NIM: 064211006

FAKULTAS USHULUDDIN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2011
i

ISLAM DAN GOOD GOVERNANCE


(Studi Landasan Keagamaan dan Praktik Partisipasi POKJA PuTKP PWNU
Jawa Tengah dalam Penciptaan Tata Kelola Pemerintahan yang Baik di
Jawa Tengah)

SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Guna Memperoleh Gelar Sarjana
Dalam Ilmu Ushuluddin
Jurusan Aqidah Filsafat (AF)

Oleh:
MUHAMMAD NARYOKO
NIM: 064211006
Semarang, Desember 2011
Disetujui Oleh:

Pembimbing II

Pembimbing I

H. M. Mukhsin Jamil, M.Ag.


NIP. 19700215 199703 1003

Dr. Syafii, M.Ag.


NIP. 19650506 199403 1002

ii

iii

MOTTO
Duduk tertindas atau bangkit dan melawan, karena diam adalah sebuah
penghianatan intelektual

iv

PERSEMBAHAN

Dengan segala kerendahan hati dan penuh rasa hormat, sebagai bentuk
kasih-sayang dan tanggung jawab, karya ini saya dedikasikan kepada Kedua
orang tua saya (Bpk. Warsan dan Ibu Muntamah), yang dengan penuh jiwa
raga mendukung apa yang menjadi cita-cita saya.

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama

: Muhammad Naryoko

TTL

: Demak, 19 Maret 1988

Alamat Asal

: Krajan, RT 04 RW 10, Ds. Jragung, Kec. Karangawen, Kab.


Demak 59566

Alamat Tinggal: Jl. Rejo Mulyo Raya, Ngaliyan Semarang


E-mail

: pmii_naryoko@yahoo.co.id, mnaryoko@yahoo.co.id

Phone

: (024) 70260305, 085 742 279 600

Riwayat Pendidikan Formal


No.
Sekolah
1
SDN 04 Jragung
2
MTs. Miftahul Ulum Jragung
3
SMA Maarif Jragung
4
Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo Semarang
Riwayat Organisasi
No.
Nama Organisasi
1
PAC IPNU Karangawen
2
PC IPNU Demak
3
Library Fun Club (LFC)
4
PMII Rayon Ushuluddin
5
PMII Komisariat Walisongo
6

PC PMII Kota Semarang

7
8
9
10
11
12

POKJA PuTKP NU Jateng


LPM IDEA
HMJ AF
SMF Ushuluddin
DEMA IAIN Walisongo
Rimba Taruna

Jabatan
Dep. Kaderisasi
Kepala Bidang
Ketua
Ketua Umum
Ketua Umum
Bidang
Pengembangan
Organisai
Dep. Advokasi
Kabag RT
Dep. Sospol
Sekjend
Dep. Advokasi
Dep. Advokasi

vi

Tahun
1994 - 2000
2000-2003
2003-2006
2006-2011

Tahun
2005-2001
2010-2012
2007-2010
2008-2009
2009-2010
2010-2011
2009-sekarang
2008-2009
2008-2009
2009-2010
2010-2011
2010-2015

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang senantiasa memberikan segala
rahmat dan kasih-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan karya ini.
Tidak terlupa, sholawat beserta salam senantiasa tercurah kepada beliau Nabi
agung Muhammad SAW beserta para keluarga dan sahabatnya. Penulis hendak
menyampaikan rasa terima kasih sedalam-dalamnya dan setinggi-tingginya
kepada:
1. Yang terhormat bapak Prof. Dr. H. Muhibbin, M.A. selaku Rektor IAIN
Walisongo Semarang.
2. Yag terhormat bapak Dr. Nasihun Amin, M.Ag. selaku Dekan serta senior
saya di Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo Semarang.
3. Dr. Zainul Adfar, M.Ag., dan Bahron Anshori, M.Ag., selaku Kajur dan
Sekjur Aqidah Filsafat Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo Semarang.
4. Dosen Pembimbing, yaitu bapak Dr. Syafii, M.Ag. dan Bpk Muchsin Jamil,
M.Ag. yang dengan sabar dan ikhlas meluangkan waktu dan berbagi ilmu
untuk menuntun penulis dalam menyelesaikan tugas akhir ini.
5. Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (Pak Adnan dan Gus Ubed), terimakasih
atas kepercayaan kalian memberi ruang aktualisasi kepada saya.
6. Kedua orang tua saya (bpk. Warsan dan Ibu Muntamah), kepadamu saya
berhutang kasih sayang dan balas budi.
7. Keponakan-keponakan saya yang selalu membakar semangatku ketika
mengingat kalian (Tutik, Nana, Yasin, Khoir, Lia dan Apis), aku ingin kalian
tahu arti sebuah perjuangan, arti sebuah pengorbanan, dan arti sebuah
kehidupan, bahwa dari setiap nafas yang kalian hirup perlu diperjuangkan.
8. Sahabat-sahabat PMII Rayon Ushuluddin periode 2008 (Ahnafuddin dan
Arifin), Sahabat-sahabat PMII Komisariat Walisongo periode 2009 (Rofiq,
Yayan, Zaky), saya berhutang budi pada kalian semua, saya yakin amal dan
bakti kita di PMII akan menjadi bekal kita di hari esok.

vii

9. Rekan-rekan PAC IPNU/IPPNU Karangawen dan PC IPNU/IPPNU Demak,


terimakasih banyak atas kepercayaan kalian kepada saya.
10. Rekan-rekan di PW lakpesdam NU Jateng dan temen-temen POKJA PuTKP
(Pak Khoirul Anwar, Pak Agus Riyanto, Pak Hasyim Muhammad yang
sekarang Menjabat PD III Ushuluddin, Bu Erna, Bu Ida, Bu Khis, Mas Iman
Fadillah, Pak Nuh, Pak Zudi Setiawan dan Ustadz Harisun), terima kasih atas
bimbingan kalian, dan melibatkan saya di setiap diskusi dan kegiatan
advokasi.
11. Teman-teman Laskar Pemuda jragung yang tidak bisa saya sebut satu persatu
namanya, terima kasih atas kepercayaan kalian telah mempercayai saya
dengan segala kekurangan saya.
12. Semua fihak yang secara langsung maupun dtidak langsung membantu saya
baik dalam study saya ataupun yang lainya, semoga jasa kalian di catat oleh
Allah sebagai Amal kebaikan.
Pada akhirnya, penulis menyadari, karya ini jauh dari mendekati
kesempurnaan. Namun, penulis tiada berhendi berharap, semoga karya ini dapat
bermanfaat bagi diri sendiri hususnya, dan bagi pembaca yang budiman pada
umumnya.

Semarang,

Desember 2011

Salam Hormat

Penulis

viii

PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB-LATIN


Penulisan ejaan arab dalam skripsi ini berpedoman pada keputusan
menteri agama dan menteri departemen pendidikan Republik Indonesia nomor :
158 tahun 1987. Dan 0543/u/1987. Tentang pedoman transliterasi arab-latin,
dengan beberapa modifikasi sebaga berikut :

A. Konsonan tunggal

Huruf arab

Nama

Huruf latin

Nama

Alif

Tidak di lambangkan

Tidak di lambangkan

Ba

Be

Ta

Te

Sa

As (dengan titik diatas)

Jim

Je

Ha

Ha(dengan titik diatas)

Kha

Kh

Ka dan ha

Dal

De

Zal

Zet(dengan titik diatas)

Ra

Er

Zai

Zat

Sin

Es

ix

Syin

Sy

Es dan ye

Sad

Sh

Es dan ha

Dad

De (dengan titik diatas)

Ta

Te(dengan titik diatas)

Za

Zet(dengan titik diatas)

`ain

_`

Koma terbalik diatas

Gain

Ge

Fa

Ef

Qaf

Ki

Kaf

Ka

Lam

El

Mim

Em

Nun

En

Wau

We

Ha

Ha

Hamzah

_`

Apostruf

Ya

Yang

Te

B. Konsonan rangkap karena syaddah ditulis rangkap

Ditulis

Muta`addidah

Ditulis

Qaddara

Ditulis

Hikmah

Ditulis

`illah

C. Ta` marbutah diakhir kata


1. Bila dimatikan ditulis dengan h.

(ketentuan ini tidak diperlukan bagi kata-kata arab yang sudah terserap dalam
bahasa indonesia, seperti zakat, shalat, dan sebagainya, kecuali bila
dikehendaki lafaz aslinya).
2. Bila diikuti dengan kata sandang al serta bacaan kedua terpisa, maka
ditulis dengan h.

Ditulis

Karamah al-auliya`

Ditulis

Zakah al-fitri

D. Penulisan kata-kata dalam rangkaian kalimat

Ditulis

Zawi al-furud

Ditulis

Ahl al-sunnah

E. Kata sandang alif+lam


Penulisan kata sandang al

()

disesuaikan dengan huruf yang

mengikutinya. Jika huruf yang mengikutinya huruf qamariyyah, maka penulisan

xi

al ( )tetap seperti semula. Namun jika huruf yang mengikutinya adalah huruf
syamsiyyah, maka akan disesuaikan dengan huruf yang mengikutinya. Contoh :

: al-Qur`an
: asy-Syams

Catatan : transliterasi tersebut tidak diterapkan secara ketat untuk penulisan nama
orang indonesia dan orang-orang yang didalamnya terdapat kata sandang al ()
yang diikuti oleh kata allah. Seperti: abdullah tidak ditulis abd. Allah.

xii

ABSTRAKSI
Keinginan untuk menciptakan tata kelola pemerintahan yang baik (good
governance) merupakan cita-cita dunia internasional melalui. Dalam konteks
lokalitas, pelaksanaan tata kelola pemerintahan di suatu negara cenderung
berbeda-beda. Kendatipun, good governance sudah merupakan cita-cita bersama,
realitas di lapangan masih saja terjadi banyak ketimpangan. Sehingga, perlu
adanya instansi atau lembaga non pemerintahan yang turut andil berpartisipasi
dalam rangka mewujudkan cita-cita good governance.
Di Jawa Tengah, adanya ketimpangan-ketimpangan kebijakan publik,
mendorong PWNU Jawa Tengah mendirikan lembaga advokasi yang di namakan
POKJA PuTKP untuk turut berpartisipasi dalam penyelenggaraan pemerintahan
yang baik. Sejak awal berdirinya pada 2009, telah banyak peran yang di lakukan
dalam rangka melaksanakan tugasnya sebagai lembaga advokasi. Baik itu
berperan dalam pemberdayaan masyarakat maupun berperan dalam rangka
pengawalan kebijakan publik di Jawa Tengah.
Wacana tersebutlah yang mendorong penulis tertarik meneliti tentang
Islam dan Good Govenance, yang penulis kaitkan dengan keberadaan lembaga
advokasi yang di dirikan PWNU Jawa Tengah Tersebut, dengan judul lengkat
Islam dan Good Governance (Studi landasan keagamaan dan praktik partisipasi
POKJA PuTKP PWNU Jawa Tengah dalam penciptaan tata kelola pemerintahan
yang baik di Jawa Tengah. Penelitian ini menggali tentang landasan keagamaan
yang dipergunakan sebagai dasar untuk melakukan advokasi, serta meneliti
tentang peran advokasi yang telah dilaksanakan oleh lembaga advokasi tersebut.
Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (Field Research), yaitu
melalui usaha memperoleh data dengan cara penulis mengadakan penelitian
langsung ke sekretariat POKJA PuTKP untuk mendapatkan sebuah hasil laporan
yang valid dan sesuai dengan kenyataan yang terjadi di lapangan. Untuk mencapai
tujuan dari penelitian tersebut peneliti menggunakan metode deskriptif
interpretasi, analisis kritis sebagai teknik analisis data. Jenis penelitiannya adalah
kualitatif.
Sebagai hasil penelitian ini di dapatkan suatu kesimpulan, bahwa dasar
keagamaan yang di pergunakan sebagai landasan melakukan advokasi adalah
ajaran ahlussunnah wal jamaah dengan indikasinya indikasinya adalah
penggunaan kaidah-kaidah NU sebagai landasan gerak kerja-kerja advokasi.
Sedangkan praktik partisipasi dalam penciptaan tata pemerintahan yang baik
adalah melaksanakan prinsip partisipasi (partisipation) dan prinsip musyawarah
dalam setiap kebijakan yang akan di ambil.

xiii

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ............................................................................................. i
PERSETUJUAN PEMBIMBING .......................................................................... ii
HALAMAN PENGESAHAN ................................................................................ iii
HALAMAN MOTTO ............................................................................................ iv
HALAMAN PERSEMBAHAN ............................................................................. v
DAFTAR RIWAYAT HIDUP ................................................................................ vi
KATA PENGANTAR ........................................................................................... vii
PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB-LATIN ................................................... ix
ABSTRAK ............................................................................................................ xiii
DAFTAR ISI ......................................................................................................... xiv

BAB I

: PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ........................................................ 1
B. Penegasan Judul ................................................................... 6
C. Pokok Permasalahan ............................................................. 7
D. Tujuan dan Manfaat Penelitian .............................................. 7
E. Tinjauan Kepustakaan ........................................................... 8
F. Metode Penelitian ................................................................. 9
G. Sistematika Penulisan ............................................................ 12

BAB II

: ISLAM DAN GOOD GOVERNACE


A. Pengertian dan Hakikat Good Governance ............................ 14
B. Landasan Good Governance ................................................... 16
C. Prinsip-prinsip Good Governance ........................................... 27
D. Pandangan Islam Tentang Good Governance ......................... 28

BAB III

: PERAN POKJA PuTKP PWNU JAWA TENGAH


A. Gambaran Umum POKJA PuTKP PWNU Jawa Tengah ...... 40

xiv

1.Latar Belakang Berdirinya POKJA PuTKP PWNU Jawa


Tengah ................................................................................ 40
2.Visi dan Misi ........................................................................ 46
3. Susunan Kepengurusan ....................................................... 46
4. Prinsip ................................................................................. 47
5. Ruang Lingkup Gerakan ..................................................... 48

B. Peran POKJA PuTKP di Jawa Tengah ................................ 48


1. Pemberdayaan Masyarakat .............................................. 48
2. Peran Advokasi ............................................................... 50

BAB IV

: LANDASAN KEAGAMAAN DAN PAKTK PARTISIPSI


A. Landasan Keagamaan yang mendasari Praktik Partisipasi
POKJA PuTKP PWNU Jawa Tengah .................................... 56
B. Praktik partisipasi POKJA PuTKP PWNU Jawa Tengah di
pemerintah Propinsi Jawa Tengah ......................................... 59
C. Peluang dan Tantangan POKJA PuTKP PWNU Jawa Tengah 62

BAB V

: PENUTUP
A. Kesimpulan ............................................................................. 64
B. Saran-saran ............................................................................. 65
C. Penutup ................................................................................... 65

xv

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Wacana tentang good governance yang dalam bahasa sederhananya dikenal
dengan tata kelola pemerintahan yang baik, merupakan isu yang sedang mengemuka
beberapa tahun

terakhir. Hal ini mengingat tuntutan masyarakat agar dalam

pengelolaan negara dijalankan secara amanah dan bertanggung jawab adalah sejalan
dengan keinginan global masyarakat internasional pada saat ini. Penyelenggaraan
good governance haruslah acceptable dalam politik, efektif secara hukum, efisien
secara ekonomi dan tepat secara administratif. Dengan demikian, implementasi
good governance memerlukan keterkaitan dan keterpaduan dari aspek-aspek di
bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum dan administrasi1.
Good governance sejatinya telah menjadi komitmen bangsa untuk
mereformasi penyelenggaraan pemerintahan negara agar sumber-sumber daya
(resources) yang tersedia dapat dikelola seefisien mungkin dalam rangka
memakmurkan rakyatnya. Good governance menjadi pilihan karena konsep ini
mengandung prinsip-prinsip yang tidak hanya mengedepankan pemerintah atau
negara,

akan

tetapi

mengakomodasi

komponen-komponen

lain

dalam

penyelenggaraan pemerintahan.2
Islam sebagai Agama rahmat li al-alamin tidak luput juga membahas
tentang tata kelola pemerintahan yang baik (good governance), sejak awal
diturunkanya agama Islam kepada Nabi Muhammad SAW, instrumen tentang good
governane sudah muncul, baik yang langung dipraktikkan oleh Nabi ataupun yang
tertuang dalam teks wahyu al-Quraan.
1

Ahmad Farhan Hamid, dkk. Konsep, Strategi, dan Implementasi Good Governance dalam

Pemerintahan.Irjen Depag RI, Jakarta: 2007.hlm 71


2

Ibid. hlm 79

Instrumen yang dipraktikkan oleh Nabi Muhammad SAW seperti halnya,


perintah untuk musyarawah dalam pengambilan keputusan (dalam prinsip good
governance dikenal dengan istilah Consensus Orientation), menegakkan hukum (Rule of
Law ), memutuskan perkara dengan adil (Equility), dan lain sebagainya3. Dalam al-

Quran pun sudah disinggung dengan jelas dalam surat as-saba dengan kalimat
baldatun oyyibatun wa rabbun ghofur (negeri yang baik/pemerintahan yang baik
dan Tuhanmu adalah Tuhan yang maha pengampun)4.
Dalam sejarah Islam, penerapan sistem good governance dilakukan sejak
zaman Nabi Muhammad dan terus-menerus turun-temurun hingga zaman modern
saat ini. Kendati instrumen good governance tertuju pada penguasa atau pemimpin,
peran serta atau partisipasi masyarakat baik secara individu maupun organisasi
sangat penting guna mewujudkan cita-cita bersama5.
Peran partisipasi tersebut sangat strategis dilakukan oleh ormas-ormas
Islam, terutama Nahdlatul Ulama. Karena selain merupakan ormas Islam terbesar
di Indonesia, NU juga sudah banyak memiliki pengalaman berpartisipasi dalam
panggung politik, baik itu peranan partisipasi dalam perjuangan Indonesia maupun
peranan dalam mengisi kemerdekaan Indonesia, dari berubahnya

fungsi NU

menjadi partai politik hingga kembali lagi ke Khitthah NU tahun 1926.6


Muktamar ke-27 tahun 1984 disitubondo mempunyai nilai strategis bagi
perjalanan NU untuk masa-masa berikutnya dan merupakan titik balik dari kegiatan
dan sikap politik NU yang selama ini lebih menunjukkan sebagai oposisi terhadap
pemerintah, terutama sejak tahun 1970-an. Selama puluhan tahun sebelumnya, NU
3

Ali Nurdin. Quranic Society: menelusuri Konsep masyarakat Ideal dalam al-Quran. PT.

Gelora Aksara Pratama: 2006. Hlm 225


4

al-Quran surat as-saba ayat 15

Andi Faisal Bakti, Islam, Negara & Civil Society Gerakan dan Pemikiran Islam Kontemporer.

Paramadina, Jakarta: 2005. hlm, 334


6

Zudi Setiawan. Nasionalisme NU. CV. Aneka Ilmu, Semarang: 2007. Hlm 130

menjadi partai politik atau bagian dari partai politik, dan sejak keputusan tersebut
NU

dikembalikan

kepada

habitatnya

yaitu

dunia

pendidikan,

dakwah,

pengembangan ekonomi, dam pelayanan masyarakat.7


Oleh sebab itu, NU sangat berkepentingan dengan proses pembangunan
karena, secara langsung atau tidak langsung, dampak positif dan juga negatif
pembangunan akan dirasakan oleh warga nahdliyin8 juga. Apalagi harus diakui
bahwa sebagian besar kaum nahdliyin merupakan masyarakat kalangan menengah ke bawah yang akan menjadi subjek sekaligus objek pembangunan.
Tahapan pembangunan selalu diawali dengan proses perencanaan dan
penganggaran. Kedua proses itu mensyaratkan adanya partisipasi dan kontrol
masyarakat untuk memastikan kebijakan pembangunan tersebut dapat benar-benar
bermanfaat bagi masyarakat dan dilaksanakan tanpa penyimpangan.
Hanya saja, kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi dan mengontrol
proses perencanaan dan penganggaran masih sangat rendah. Sebagian besar
masyarakat masih beranggapan bahwa proses perencanaan dan penganggaran tidak
bersinggungan langsung dengan kehidupan mereka.
Oleh karena itu, masyarakat harus disadarkan bahwa sesungguhnya proses
perencanaan dan penganggaran pembangunan bisa sangat mempengaruhi kehidupan
mereka sehari-hari.
Peran advokasi terhadap penyelenggaraan good governace merupakan
langkah strategis untuk dilakukan oleh NU, mengingat bahwa warga nahdliyyin

Rozikin Dawam, Membidik NU (Delima Percaturan NU Pasca Khittah). Gama Media.

Yogyakarta: 2001, Hal 176


8

Nahdliyin merupakan massa pendukung atau warga pengikut Ormas NU yang sebagian besar

berada di pesantern-pesantren dan masyarakat pedesaan. Kalaupun ada warga NU yang berada di
perkotaan, maka jumlahnya tidak banyak jika dibandingkan dengan yang ada di pedesaan.

sebagian besar dari pedesaan dan berasal dari golongan ekonomi mengengah ke
bawah. Kerja nyata pengawalan kebijakan publik dalam rangka mewujudkan citacita good governance telah dipelopori oleh PWNU Jawa Tengah dengan mendirikan
Kelompok Kerja Pemberdayaan Umat untuk Transparansi Kebijakan Publik
(POKJA PuTKP)9 pada 25 desember 2009. Lembaga tersebut sejak akhir 2009
sudah melakukan kerja-kerja advokasi dan kritik terhadap pemerintah Jawa Tengah
yang tidak memihak terhadap kepentingan masyarakat arus bawah.
POKJA PuTKP sebagai lembaga advokasi yang didirikan oleh ormas Islam
terbesar di Jawa Tengah bahkan di Indonesia tersebut sangat penting peranannya,
mengingat bahwa Jawa Tengah merupakan wilayah yang memiliki basis masa NU
terbesar kedua di Indonesia setelah Jawa Timur. Menjadi penting karena sebagian
warga NU adalah berada di pedesaan dan berada dalam kondisi ekonomi menengah
kebawah.
Peranan serta partisipasi POKJA PuTKP menjadi nilai strategis tersendiri
dalam rangka mendorong terwujudnya tata kelola pemerintahan yang baik. Hal
tersebut sesuai denga kaidah10 ahlussunnah wal jamaah yang dianut oleh NU yang
berbunyi mencegah terjadinya keburukan lebih didahulukan (diutamakan) dari
pada mengharap kebaikan, atau dalam istilah arabnya dikenal dengan darul
mafasid muqaddamun alaa jalbil mashalih.11
Keberadaan POKJA PuTKP memiliki tantangan besar atas berbagai kritik9

Lembaga ini merupakan gabungan dari unsur-unsur badan otonom (BANOM) PWNU Jawa

Tengah yang terdiri dari unsur PW Lakpesdam NU Jateng, Fatayat NU Jateng, Muslimat NU Jateng,
IPNU-IPPNU Jateng, LP Maarif Jateng. PMII IAIN Walisongo Semarang, dan eLSA (Lembaga Studi
Agama) Semarang.
10

NU memiliki 5 (lima) kaidah yang dikenal dengan sebutan al-Qowaid al-koms al-

kubra.kaidah ini dipergunakan sebagai landasan dan pijakan warga Nu guna memberi jawaban atas
perubahan yang terjadi, baik yang menyangkut persoalan politik maupun sosial keagamaan.
11

Abdul Rouf, NU dan Civil Islam di Indonesia, Intimedia, Jakarta: 2009. Hlm 112

kritik yang diberikan kepada NU. Kritik-kritik tersebut muncul akibat pergeseran
peran sosial dan politik yang secara umum berkisar pada kecenderungankecenderungan wacana dan gerakan NU.
Kritik-kritik tersebut antara lain dapat disebutkan; 1) sebagai ormas Islam
terbesar di negeri ini, NU ikut serta memberikan andil terhadap kantong-kantong
kemiskinan yang melanda warga umat Islam, dalam situasi semacam ini muncul
pertanyaan, apakah NU pantas memikul beban pengentasan kemiskinan padahal
warganya juga miskan?. 2), munculnya kekecewaan terhadap peran NU dalam
kerjasama dengan lembaga-lembaga swadaya masyarakat lainya berkaitan dengan
isu dan gerakan pengentasan kemiskinan. 3), NU juga menghadapi kendala dalam
penegakan good governance karena transparansi dan akuntabilitas belum
sepenuhnya diterapkan dalam berbagai aksi dan aktivitas organisasi, dan 4), pasca
reformasi, semakin menggejala bahwa NU telah terkooptasi oleh negara, akibatnya
NU kurang kritis apalagi berani berhadapan dengan Negara.12
Dengan demikian, POKJA PuTKP memiliki peran ganda. Pertama, peran
sebaga lembaga advokasi yang berfungsi sebagai alat kontrol sosial sebagai respon
dari kebijakan-kebijakan pemerintah khususnya di Jawa Tengah guna mendorong
terwujudnya cita-cita good governance di Jawa Tengah, dan kedua peran sebagai
lembaga yang lahir dari rahim NU yang secara umum berkewajiban mengembalikan
citra NU atas ketidak percayaan umat terhadap kritik-kritik yang ditujukan kepada
NU. Yaitu kritik tentang peran-peran sosial dalam rangka mengentaskan warga
nahdliyyin dari belenggu kemiskinan serta peran sebagai alat kontrol terhadap
kebijakan publik guna terwujudnya tata kelola pemerintahan yang baik dan bersih.

12

Azyumardi Azra, Islam, Good Governance dan pengentasan kemiskinan: Kebijakan

pemerintah, Kiprah Kelompok Islam dan Potret Gerakan Inisiatif ditingkat Lokal. Maarif Institut For
Culture and Humanity. Jakarta; 2007. Hlm 4-5.

Atas dasar inilah, penulis memandang perlu untung mengadakan penelitian


tentang POKJA PuTKP dengan judul Islam dan Good governance (Studi
Landasan Keagamaan dan Praktik Partisipasi POKJA PuTKP PWNU Jawa
Tengah dalam Penciptaan Tata Kelola Pemerintahan yang Baik di Jawa
Tengah)
B. PENEGASAN JUDUL
Untuk menghindari kesalahpahaman dalam memahami istilah-istilah yang
digunakan dalam skripsi yang berjudul Islam dan Good Governance (Studi
Landasan Keagamaan Dan Praktik Partisipasi POKJA PuTKP PWNU Jawa
Tengah dalam Penciptaan Tata Kelola Pemerintahan Yang Baik di Jawa
Tengah), maka penulis merasa perlu untuk memberikan penjelasan tentang
pengertian beberapa kata yang tercantum dalam judul skripsi ini, sehingga dapat
diketahui makna yang dimaksud.
Kata Good Governance adalah serapan dari bahasa inggris dari akar kata
good dan governance. Kata good berari kebaikan atau kebajikan13, sedangkan
governance berari pemerintahan.14 Jadi, kata good governance secara bahasa dapat
diartikan sebagai pemerintahan yang baik. Sedangkan yang dimaksud pengertian
good governance dalam penelitian ini adalah suatau kesepakatan menyangkut
pengaturan negara yang diciptakan bersama oleh pemerintah, masyarakat madani
(civil society) dan sektor swasta. Kesepakatan tersebut mencakup keseluruhan
bentuk mekanisme, proses dan lembaga-lembaga di mana warga pada kelompok
masyarakat megutarakan kepentingnya menggunakan hak hukum memenuhi
kewajiban dan menjembatani perbedaan di antara mereka.15

Hal 181

13

John M. Echols. Kamus Inggris Indonesia, PT. Gramedia, Jakarta: 2005. Hlm 275

14

Ibid, hlm 277

15

Dede Rosyada. Demokrasi HAM dan masyarakat madani. ICCE UIN Jakarta. Jakarta: 2003.

Sedangkang yang dimaksud dengan Kelompok Kerja Pemberdayaan Umat


Untuk Transparansi Kebijakan Publik (POKJA PuTKP): Lembaga Advokasi yang
dibentuk gabungan dari unsur PW Lakpesdam Jateng, Fatayat Jateng, Muslimat
Jateng, IPNU Jateng, LKKNU Jateng, LP Maarif Jateng, PMII Komisariat
Walisongo Semarang, dan ELSA Semarang
C. POKOK PERMASALAHAN
Permasalahan

merupakan upaya untuk menyatakan secara tersurat

pertanyaan-pertanyaan apa saja yang ingin dicarikan jawabannya,16 pokok


permasalahan yang dalam hal ini terbagi dalam 2 (dua) pokok permasalahan antara
lain:
1. Apakah landasan keagamaan yang mendasari praktik partisipasi POKJA PuTKP
PWNU Jawa Tengah?
2. Sejauh mana partisipasi POKJA PuTKP PWNU Jawa Tengah di pemerintah
Propinsi Jawa Tengah?
3. Bagaimanakah Peluang dan tantangan yang akan di hadapi POKJA PuTKP
PWNU Jawa Tengah?

D. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN


Berpijak pada pokok permasalahan di atas, tujuan yang hendak di capai
dalam penulisan skripsi ini antara lain:
Tujuan dari penulisan skripsi ini adalah:
1. Untuk mengetahui landasan keagamaan yang mendasari praktik partisipasi
POKJA PuTKP PWNU Jawa Tengah
16

Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta,

1993, hlm. 312.

2. Untuk mengetahui sejauh mana praktik partisipasi POKJA PuTKP PWNU Jawa
Tengah di pemerintah Propinsi Jawa Tengah
3. Untuk mengetahui peluang dan tantangan yang akan dihadapi POKJA PuTKP
PWNU Jawa Tengah

Adapun Manfaat Penelitian


1. Sebagai bahan masukan dalam melaksanakan kebijakan publik bagi pemerintah
propinsi Jawa Tengah serta SKPD yang terkait di dalamnya.
2. Sebagai bahan evalusi kinerja POKJA PuTKP.
3. Secara Praktis, diharapkan dari hasil penelitian ini akan menambah khasanah
dan cakrawala penulis dalam melihat dan mengkritisi serta melaksanakan
control balance pelaksanaan good governance di Jawa Tengah.
E. TINJAUAN PUSTAKA
Sepanjang penulusuran penulis, beberapa pakar telah mengkaji konsep
Islam dan Good governance dan mencoba dihubungkan dengan konteks umat Islam
di Indonesia. Akan tetapi penelitian yang mengkaji tentang Islam dan Good
governance dalam konteks lokalitas di Jawa tengah secara spesifik belum ada.
Melalui penelitian lapangan (field research), peneliti mencoba menyajikan konsep
Islam dan Good governance serta landasan dan praktik partisipasi di pemerintah
Propinsi Jawa Tengah.
Adapun buku yang telah mengkaji konsep Islam dan Good governance dan
mengkaitkanya dengan konteks Islam di Indonesia adalah:
Islam, Good governance dan pengentasan kemiskinan. Azyumardi Azra dkk.
Buku ini merupakan hasil penilitian Azyumardi Azra tentang konsep Islam dan
Good Governance serta pengentasan kemiskinan. Buku ini menjelaskan tentang
kebijakan pemerintah, kiprah kelompok Islam dan gerakan inisiatif di tinggkat lokal.
Dengan demikian, fokus kajian dalam buku ini berbeda dengan kajian yang penulis

lakukan. Perbedaan buku ini dengan kajian penulis terletak pada spesifikasi kajian
penulis yang menyoroti tentang praktik partisipasi POKJA PuTKP di Jawa Tengah.
Islam Negara & Civil Society: gerakan dan Pemikiran Islam Kontemporer.
Dalam tulisan Andi Faisal Bakti dengan judul Good Governance dalam Islam:
gagasan dan Pengalaman. Tulisan dalam buku ini mengupas tentang good
governance sebagai istilah modern seta konsep dan sistem pemerintahan serta
penjabaranya dalam sejarah Islam, serta rekonstruksi sistem pemerintahan.
Perbedaan buku ini dengan kajian yang penulis lakukan terletak pada fokus kajian
dalam praktiknya dan implementasinya dalam masyarakat ke kinian.
Dengan demikian, posisi kajian dalam penelitian ini adalah menjelaskan
partisipasi POKJA PuTKP PWNU Jawa Tengah dalam bentuk Islam dan Good
governance dengan konteks lokalitas kajian di pemerintah jawa tengah, dan wilayah
ini belum pernah dikaji peneliti manapun. Penulis tidak bermaksud menafikan
keberadaan buku-buku atau penelitian-penelitian lain (yang terkait dengan penelitian
penulis) ketika tidak disebutkan di sini.
F. METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan jenis field research yaitu data yang diperoleh
secara langsung di lapangan,17 yaitu melalui usaha memperoleh data dengan cara
penulis mengadakan penelitian langsung ke sekretariat POKJA PuTKP untuk
mendapatkan sebuah hasil laporan yang valid dan sesuai dengan kenyataan yang
terjadi di lapangan dengan menggunakan beberapa sumber sebagai berikut :
1. Sumber Data
a. Data Primer

17

22

Sumardi Surya Brata, Metode Penelitian, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1995, hlm.

10

Adalah sumber data yang langsung di kumpulkan oleh peneliti atau


(petugas-petugasnya) dari sumber pertamanya.18 Peneliti langsung datang ke
tempat penelitian, maksudnya adalah data yang diperoleh secara langsung
dari Pengurus POKJA PuTKP baik yang dilakukan melalui wawancara,
observasi, dan alat lainnya. Data primer diperoleh peneliti secara mentah dari
masyarakat dan masih memerlukan analisa lebih lanjut.
b. Sumber Sekunder
Adalah biasanya telah tersusun dalam bentuk dokumen-dokumen.19
Biasanya data yang diperoleh berasal dari bahan kepustakaan. Data ini
biasanya digunakan untuk melengkapi data primer. Mengingat data primer
dapat dikatakan sebagai data praktek yang ada secara langsung dalam
praktek di lapangan atau ada di lapangan karena penerapan suatu teori.
Misalnya mengenai buku-buku, majalah, atau surat kabar yang berhubungan
langsung dengan praktik partisipasi POKJA PuTKP di Jawa Tengah.
2. Pengumpulan Data
a. Studi Literatur
Adalah

cara

mengumpulkan

data

yang

dilakukan

dengan

mempergunakan bahan-bahan tertulis sebagai dokumen-dokumen bentuk


lainnya seperti buku-buku, koran, majalah, dan sejenisnya.20 Data yang
diambil dari beberapa buku dan arsip-arsip POKJA PuTKP yang masih
berhubungan dengan penelitian yang penulis lakukan sebagai masukan atau
menambah data yang diperlukan kemudian penulis deskripsikan.
b. Wawancara
Metode ini adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk mendapatkan
informasi secara langsung dengan mengungkapkan pertanyaan-pertanyaan
pada responden. Wawancara bermakna berhadapan langsung dengan
18

Ibid, hlm. 84.

19

Ibid, hlm. 85

20

Hadari Nawawi dan H.M. Martini Hadari, Instrumen Penelitian Bidang Sosial, Gajah Mada

University Press, Yogyakarta, 1995, hlm. 69

11

interviewer (subjek) dengan responden dan kegiatannya dilakukan secara


lisan.21 Dalam hal ini peneliti mengajukan pertanyaan untuk memperoleh
data yang diperlukan, yang kemudian dijawab langsung oleh responden.
Sedang obyek wawancara dalam hal ini adalah pengurus POKJA PuTKP
dan Ketua PWNU Jawa Tengah.
c. Observasi
Metode ini adalah pengamatan dan pencatatan dengan sistematis
fenomena-fenomena yang diselidiki.22 Untuk memperoleh data yang
diperlukan sesuai dengan judul skripsi ini akan dikumpulkan melalui survei
langsung ke sekretariat POKJA PuTKP.
3. Metode Analisis Data
Data yang telah terkumpul kemudian dianalisis dengan metode
pengamatan yang dilakukan antara lain sebagai berikut:
a. Interpretasi
Hasil analisis bisa dikatakan masih faktual dan ini harus diberi arti
oleh peneliti. Hasil ini bisa dibandingkan dengan hipotesis (sesuatu yang
dianggap benar meskipun kebenarannya belum dapat dibuktikan, anggapan
sementara, anggapan dasar) penelitian, dideskripsikan atau dibahas dan
kemudian
interpretasi

akhirnya
dari

diberi

peneliti

kesimpulan.23
itu

sendiri

Kesimpulan

yang

ini

termasuk

menggambarkan

hasil

penelitiannya, supaya hasil penelitiannya tersebut tahan uji dan bisa


dipertanggungjawabkan,

yang

penting

adalah

peneliti

memberikan

keterangan atau alasan yang jelas dan kuat mengenai hasil penelitian
tersebut.
b. Analitis Kritis
21

P. Joko Subagyo, Metode Dalam Teori Dan Praktek, Rineka Cipta, Jakarta, Cet. I, 1991, hlm.

22

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Rineka Cipta, Jakarta,

39.

1997, hlm. 234.


23

Ibid, hlm. 87.

12

Adalah jalan yang dipakai untuk mendapatkan ilmu pengetahuan


dengan mengadakan pemerincian terhadap obyek yang diteliti atau
penanganan terhadap suatu objek ilmiah tertentu dengan cara memilah-milah
antara pengertian yang satu dengan yang lain, untuk sekedar memperoleh
kejelasan mengenai halnya. Jadi, dalam hal ini orang akan memperoleh
pengetahuan yang sifatnya baru sama sekali dan biasanya ini diterapkan pada
pengertian yang sifatnya apriori atau hanya mengambil keputusan dan
pengertian yang sesuai dengan yang diinginkan oleh penulis.24
Metode ini peneliti gunakan untuk menganalisis terhadap data yang
telah diinterpretasikan dan dikritisi sehingga ditemukan suatu kesimpulan
yang lebih komprehensif atas praktik partisipasi POKJA PuTKP tersebut.

G. SISTEMATIKA PENULISAN
Untuk dapat dipahami urutan dan pola berpikir dari tulisan ini, maka skripsi
disusun dalam lima bab. Setiap bab merefleksikan muatan isi yang satu sama lain
saling melengkapi. Untuk itu, disusun sistematika sedemikian rupa sehingga dapat
tergambar kemana arah dan tujuan dari tulisan ini.
Bab pertama, berisi pendahuluan yang merupakan garis besar dari
keseluruhan pola berpikir dan dituangkan dalam konteks yang jelas serta padat. Atas
dasar itu deskripsi skripsi diawali dengan latar belakang masalah yang terangkum di
dalamnya tentang apa yang menjadi alasan memilih judul, dan bagaimana pokok
permasalahannya. Dengan penggambaran secara sekilas sudah dapat ditangkap
substansi skripsi. Selanjutnya untuk lebih memperjelas maka dikemukakan pula
tujuan dan manfaat penulisan baik ditinjau secara teoritis maupun praktis.
Penjelasan ini akan mengungkap seberapa jauh signifikansi tulisan ini. Kemudian
agar tidak terjadi pengulangan dan penjiplakan maka dibentangkan pula berbagai
hasil penelitian terdahulu yang dituangkan dalam tinjauan pustaka. Demikian pula
24

Sudarto, Metodologi Penelitian Filsafat, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2002, hlm. 59.

13

metode penulisan diungkap apa adanya dengan harapan dapat diketahui apa yang
menjadi sumber data, teknik pengumpulan data dan analisis data. Pengembangannya
kemudian tampak dalam sistematika penulisan. Dengan demikian, dalam bab
pertama ini tampak penggambaran isi skripsi secara keseluruhan namun dalam satu
kesatuan yang ringkas dan padat guna menjadi pedoman untuk bab kedua, ketiga,
bab keempat, dan bab kelima.
Bab kedua nantinya akan memuat landasan teori dari kegiatan penelitian ini
yang membahas tentang Islam dan Good Governance, yang di dalamnya memuat
tentang hakikat dan pengertian Good governance, prinsip-prinsip good governance
yang dijabarkan ada Sembilan konsep, dan pilar-pilar good governance serta
pandangan Islam tentang good governance.
Bab ketiga mengupas tuntas tentang POKJA PuTKP PWNU Jawa Tengah,
gambaran umum tentang POKJA PuTKP yang berisi tentang belakang berdirinya,
visi-misi serta tujuan berdirinya, susunan pengurus, prinsip serta ruang lingkup
gerakan POKJA PuTKP. Dalam bab ini akan di akhiri dengan peran POKJA PuTKP
di jawa Tengah yang meliputi peran pemberdayaan dan peran advokasi.
Bab keempat merupakan analisis dari tema Islam dan Good Governance
(Studi landasan keagamaan dan Praktik Partisipasi POKJA PuTKP dalam
Penciptaan Tata Kelola Pemerintahan yang Baik di Jawa Tengah), yaitu tentang
Landasan keagamaan Partisipasi POKJA PuTKP PWNU Jawa Tengah dan
Implementasi Praktik Partisipasi POKJA PuTKP PWNU Jawa Tengah di
pemerintah Propinsi Jawa Tengah serta peluang dan tantangan yang akan di hadapi
ke depan. Pada bab ini merupakan pengolahan dari bahan-bahan yang di ambil dari
bab sebelumnya (Bab III) dengan menggunakan pisau analisa yang terdapat dalam
Bab II sehingga pokok permasalahan pada kegiatan penelitian ini bisa ditemukan
jawabanya.

14

Dengan dapat dikembangkannya analisis dalam bab keempat, maka tujuan


penulisan dapat dicapai sehingga substansinya dapat disimpulkan dan dituangkan
dalam bab kelima sebagai bab penutup, dan dalam bab ini pula dapat diajukan saransaran yang dianggap penting dan relevan dengan pokok permasalahan.

15

BAB II
ISLAM dan GOOD GOVERNANCE

A. Pengertian Good governance


Istilah good governance merupakan wacana baru dalam kosa kata
ilmu politik. Kata ini muncul pada awal 1990-an. Secara umum istilah good
governance memiliki pengertian segala hal yang terkait dengan tindakan atau
tinggah laku yang bersifat mengarahkan, mengendalikan atau mempengaruhi
urusan publik untuk mewujudkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan seharihari. Dalam konteks ini, pengertian good governance tidak sebatas
pengelolaan lembaga pemerintahan semata, tetapi menyangkut semua lembaga
baik pemerintah maupun non-pemerintah (lembaga swadaya masyarakat).1
Secara bahasa, kata good yang berarti baik, dalam istilah
kepemerintahan

mengandung 2 (dua) pemahaman. Pemahaman pertama,

nilai-nilai yang menjunjung tinggi keinginan dan kehendak rakyat dan nilainilai yang dapat meningkatkan kemampuan rakyat dalam pencapian tujuan
(nasional), kemandirian, pembagunan berkelanjutan dan keadilan sosial.
Kedua, aspek-aspek fungsional dan pemerintahan yang efektif dan efisien
dalam pelaksanaan tugasnya untuk mencapai tujuan tersebut.2
Sedangkan Governance secara istilah adalah proses pengambilan
keputusan dan proses bagaimana sebuah keputusan diimplementasikan. Good
governance diartikan sebagai governance yang baik. Governance dapat
digunakan dalam berbagai konteks diantaranya Coorporate governance,

Komaruddin Hidayat, dkk. Pendidikan Kewarganegaraan (civic Education):

Demokrasi, Hak Asasi Manusia dan Masyarakat Madani.Cet III. ICCE. Jakarta: 2007. Hlm. 216
2

Sunaryo,

Implementasi

Good

governance

dan

Clean

Penyelenggaraan Pemerintahan. Irjen Depag RI. Jakarta: 2007. Hlm 72.

15

Governance

dalam

16

government governance, international governance, nasional governance dan


local governance.3
Good governance sering juga disebut dalam berbagai event dan
peristiwa oleh berbagai kalangan. Pengertian good governance bisa berlainan
antara satu pakar dengan dengan pakar yang lain. Ada sebagian kalangan yang
mengartikan good governance sebagai kinerja suatu lembaga, misalnya
kinerja pemerintahan suatu Negara, perusahaan atau orgaisasi masyarakat
yang memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu. sebagian kalangan yang lain
juga mengartikan good governance sebagai penerjemahan konkret demokrasi
dengan meniscayakan adanya civic culture sebagai penopang keberlanjutan
demokrasi itu sendiri4.
World Bank, mendefinisikan good governance sebagai suatu
penyelenggaraan menajemen pembagunan yang solid dan bertanggung jawab
yang sejalan dengan prinsip demokrasi dan pasar yang efisien, penghindaran
salah alokasi dana investasi, dan pencegahan korupsi baik secara politik
maupun administrative, menjalankan disiplin anggaran serta penciptakan legal
dan political framework bagi tumbuhnya aktivitas usaha. Namun untuk
ringkasnya good governance pada umumnya diartikan sebagai pengelolaan
pemerintah yang baik. Kata baik di sini dimaksudkan sebagai mengikuti
kaidah-kaidah tertentu sebagai prinsi-prinsip dasar good governance.5
Andi faisal Bakti, dalam tulisaya yang berjudul Good governance
dalam Islam; Gagasan dan Pengalaman, mengartikan Good governance
sebagai berikut: "By good governance, we mean the manner in which power is
exercized by the society in the management by various levels of government of
3

Dwi martini, Good governance dalam Pelayanan Publik, dalam buku yang berjudul

Konsep, Strategi dan Implementasi Good governance dalam Pemerintahan. IRJEN DEPAG RI,
Jakarta: 2007. Hlm 4-5
4
5

Ibid, hlm 6
www.transparansi.or.id

17

the country's social, cultural, political, and economic resources. Good


governance is reflected in the effective, efficient, honest, equitable,
transparent and accountable performance of governing." Artinya: Yang di
maksudkan dengan pemerintahan yang baik adalah sikap di mana kekuasaan
dilakukan oleh masyarakat yang diatur oleh berbagai level pemerintah negara
yang berkaitan dengan sumber-sumber sosial, budaya, politik, serta ekonomi.
Pemerintahan yang bersih ini tercermin dari penampilan pemerintahan yang
efektif, efisien, jujur, setara, transparan, serta bertanggungjawab.6
Dari definisi di atas, dapat dipahami bahwa good governance
mengakui bahwa kekuasaan ada di tangan rakyat, namun pengaturannya
laksanakan oleh pemerintah di berbagai tingkat, di mana state/negara selalu
berusaha menunjukkan agar sistem yang dijabarkan menyahuti semua aspek
kehidupan manusia dalam suatu negara, dan selalu tampil meresponsi aspirasi
masyarakat.
B. Prinsip-Prinsip Good governance
Seperti telah dijelaskan di atas, instrumen tentang adanya pelaksanaan
pemerintahan yang baik (good governance) sudah ada sejak dahulu, tidak
hanaya pada zaman kejayaan Islam saja, bahkan sudah ada zaman filsafat
kuno. Pendapat tentang adanya pemerintahan yang ideal sudah pernah
dikemukaan oleh Plato dengan teorinya yang terkenal dengan filsafat
Repoblik Plato.
Menurut plato, di dalam negara ideal harus memiliki 3 (tiga) unsur
golongan yang harus dipenuhi, yaitu:7
1. Golongan yang tertinggi, yang terdiri dari para yang memerintah, yang
oleh Plato disebut para penjaga, yang sebaiknya terdiri dari para orang
6

Islam,

Negara & Civil Society,Gerakan dan Pemikiran Islam kontemporer.

Paramadina, Jakarta: 2003, hlm 329. Dalam tulisan Andi Faisal Bakti yang berjudul Good
governance dalam Islam; Gagasan dan Pengalaman
7

Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 1. Kanisius. Yogyakarta: 2005, hlm. 44

18

bijak (Filsuf), yang mengetahui apa yang baik. Kebajikan golongan ini
adalah kebijaksanaan.
2. Golongan pembantu, yaitu para prajurut, yang bertujuan menjamin
keamanan, menjamin ketaatan warga negara kepada pimpinan para
penjaga. Kebaikan mereka adalah keberanian.
3. Golongan terendah, yang terdiri dari rakyat biasa, para petani dan tukang
serta para pedagang yang harus menanggung hidup ekonomi negara.
Kebajikan mereka adalah pengendalian diri.
Perihal prinsip-prinsip negara ideal juga telah banyak di ungkapkan
para tokoh, baik itu dari kalngan muslim maupun kalangan nasionalis dan
negarawan. Seperti contoh Imam Bastari. Imam Bastari dalam makalahnya
menerangkan tentang prinsip dasar pelaksanaan good governance. Negara
dapat dikatakan sebagai negara ideal jika mampu melaksanakan prinsipprinsip good governance, yaitu:8

Efisiensi

Transparansi

Akuntabilitas

Keadilan

Partisipasi.

Sedangkan dari dunia Internasional juga sudah merumuskan Untuk


dpat merealisasikan pemerintah yang professional dan akuntabel, dengan
mengacu pada UNDP dan Lembaga Administrasi Negara RI (LANRI)
merumuskan

sembilan

aspek

fundamental

pemerintahan yang baik (Good governance) yaitu:


8

(asas/prinsip)

tata

kelola

Sebuah makalah yang ditulis oleh Imam Bastari, Ak, MAcc, yang berjudul Peran dan

fungsi pengawasan internal pemerintahan dalam mewujudkan good governance.


9

Loina Lalolo Krina P. Indikator & Alat Ukur Prinsip Akuntabilitas, Transparansi &

Partisipasi. Jakarta: 2003. Hlm 7

19

Partisipasi (Participation)

Penegakan hukum (Rule of Law)

Transparansi (Tranparency)

Responsif (Responseveness)

Orientasi Kesepakatan (Consensus Orientation)

Keadilan (Equility)

Efectivitas (Evectiveness) dan Efisien (Efficiency)

Akuntabilitas (Accountability)

Visi Strategis (Strategic Vision)

Adapun penjelasan prinsip-prinsip good governance menurut


UNDP adalah sebagai berikut:
1. Partisipasi (Participation)
Semua warga negara berhak terlibat dalam pengambilan
keputusan, baik langsung maupun melalui lembaga perwakilan yang
sah untuk mewakili kepentingan mereka. Partisipasi menyeluruh
tersebut

dibangun

berdasarkan

ebebasan

berkumpul

dan

mengungkapkan pendapat serta kapasitas untuk berpartisipasi secara


konstruktif. Untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam seluruh
aspek pembangunan, termasuk dalam sektor-sektor kehidupan sosial
lainya selain kegiatan politik, maka regulasi birokrasi harus
diminimalisisir.10
Paradigma birokrasi sebagai centre of public service harus
duikuti dengan deregulasi berbagai aturan, sehingga proses sebuah
usaha dapat dilakukan secara efetif dan efisien. Tidak cukup hanya
dengan itu, aparatur pemerintah juga harus mengubah paradigma dari
pengasa birokrat menjadi pelayanan masyarakat (Public server),
10

Dede Rosyada Dkk, Pendidikan Kewagaan (Civic Education): demokrasi, Hak Asasi

Manusia dan Masyarakat Madani. Edisi Revisi. ICCE UIN Syarir Hidayatullah. Jakaarta: 2003.
Hlm 183

20

dengan memberikan pelayanan yang baik, memiliki perhatian yang


humanis terhadap clien-nya, memberi pelayanan yang efisien, tepat
waktu serta dengan biaya murah, sehingga mereka memiliki legitimasi
dari masyarakat11.
2. Penegakan hukum (Rule of Law)
Partisipasi masyarakat dalam proses politik dan perumusanperumusan kebijakan public memerlukan system dan aturan-aturan
hokum. Tanpa diimbangi oleh sebuah hukum dan penegakanya yang
kuat, partisipasi akan berubah menjadi proses politik yang anarkhis.
Ditambah pula bahwa pelaksanaan kenegaraan dan pemerintah juga
harus ditata oleh sebuah sistem dan aturan hukum yang kuat serta
memiliki kepastian.
Sehubungan dengan itu, Ahmad santosa (Good governance
Hukum Lingkungan: 2001) menegaskan, bahwa proses mewujudkan
cita-cita good governance, harus diimbangi dengan komitmen untuk
menegakkan rule of law, dengan karakter-karakter sebagai berikut:12
a. Supermasi hukum (the supremacy of law), yakni setiap tindakan
setiap unsur-unsur kekuasaan negara, dan peluang partisipasi
masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ini di
dasarkan pada hukum dan aturan yang tegas dan jelas serta dijamin
pelaksanaanya secara benar dan independent. Supremasi hokum
akan menjamin tidak terjadinya tindakan penguasa atas dasar
diskresi

(tindakan

sepihak

berdasarkan

kekuasaan

yang

dimilikinya)
b. Kepastian hukum (legal certainty), bahwa kehidupan berbangsa
dan bernegara itu diatur oleh hokum yang jelas dan pasti, tidak
duplikatif dan tidak bertentangan satu dengan lainya. Pada tataran
11

Ibid, hlm 184

12

Ahmad Santosa. Good governance Hukum Lingkungan. ICEL. Jakarta: 2001, hlm 87

21

praktis, hokum itu berjalan secara independen, tidak dipengaruhi


oleh kekuatan kekuasaan, sehingga masyarakat merasa aman
karena pelanggar hokum tidak akan memiliki peluang unuk hidup
apalagi berkembang.
c. Hukum yang responsive, yakni aturan-aturan hokum itu disusun
berdasarkan aspirasi masyarakat luas, dan mampu mengakomodir
berbagai kebutuhan public, sehingga tidak hanya memiliki
kepentingan segelintir elit kekuasaan atau kelompok tertentu.
d. Penegakkan hokum yag konsisten dan non-diskrimatif, yakni
penegakan hukum berlaku untuk semua orang tanpa pandang bulu.
Untuk itu, diperlukan penegak hukum yang memiliki intergritas
dan bertanggung jawab terhadap kebenaran hukum.
e. Independensi peradilan, yakni peradilan itu harus independen, tidak
dipengaruhi oleh penguasa atau leh lainya. Kunci utama dalam
penegakan rule of law adalah penegakan hukum dalam proses
peradilan.
3. Transparansi (Tranparency)
Transparansi merupakan konsep penting dan menjadi
perhatian sejalan dengan kuatnya keinginan untuk mengembangkan
praktik Good governance. Transparansi menuntut adanyaketerbukaan
adanya informasi mengenai proses kebijakan public, alokasi anggaran
untuk melaksanakan kegiatan dan evaluasi pelaksanaan kebijakan.
Transparansi memiliki implikasi terhadap kemampuan pemerintah
untuk mewujudkan berbagai indicator Governance yang lain, misalnya
partisipasi dan akuntabilitas. Transparansi memiliki kontribusi yang
sangat penting terhadap upaya penegakan hukum dan pemberantasa
terhadap KKN.13
4. Responsif (Responseveness)

13

119

Nurcholish Majid, Indonesia Kita. PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta: 2003. Hlm

22

Salah satu asas fundamental menuju cita good governance


adalah responsive, yakni pemerintah harus peka dan cepat tanggap
terhadap

persoalan-persoalan

masyarakat.

Sesuai

dengan

asas

responsif, maka setiap unsur pemerintah harus memiliki dua etik,


yakni etik individual dan etik social. Kualifikasi etik individula
menuntuk mereka agar memiliki kinerja kapabilitas dan loyalitas
profesional. Sedangkan etik sosial menuntuk mereka agar memiliki
sensifitas terhadap berbagai kebutuhan publik.
Terkait dengan asas responsif ini, pemerintah harus
merumuskan kebijakan-kebijakan pembangunan sosial terhadap semua
kelompok sosial dalam karekteristik kulturalnya. Dalam upaya
mewujudkan asas responsif pemerintah harus melakukan upaya-upaya
strategis dalam memberikan perlakuan yang humanis pada kelompok
masyarakat tanpa pandang bulu.14
5. Orientasi Kesepakatan (Consensus Orientation)
Asas ini menyatakan bahwa keputusan apapun harus
dilakukan melalui proses musyawarah melalui consensus, yakni
pengambilan keputusan melalui musyawarah dan semaksimal mungkin
berdasarkan kesepakatan bersama. Cara pengambilan keputusan
tersebut selain dapat memuaskan semua pihak atau sebagian besar
pihak juga dapat menarik komitmen komponen masyarakat sehingga
memiliki legitimasi untuk melahirkan coercive power (kekuatan
memaksa)

dalam

upaya

mewujudkan

efektifitas

pelaksanaan

keputusan. Pelaksanaan prinsip pada praktiknya sangat terkat dengan


tingkat partisipasi mayarakat dalam kegiatan pemerintahan, kultur
demokrasi, serta tata aturan dalam pengambilan kebijakan yang
berlaku dalam sebuah sistem.15
14

Komaruddin Hidayat, Ibid, hlm 223

15

Ibid, hlm, 236

23

6. Keadilan (Equity)
Terkait dengan asas consensus, transparansi dan consensus,
good governance juga harus dengan asas equity, yakni kesamaan
dalam perlakuan (treatment) dan pelayanan. Asas ini dikembangkan
berdasarkan pada sebuah kenyataan bahwa Bagsa Indonesia ini
tergolong pada bangsa yang plural, baik dilihat dari segi etnik, agama
dan budaya. Pluralisme ini tentu pada sisi dapat memicu masalah
apabila dimanfaatkan pada konteks kepentingan sempit seperti
primordialisme, egoism, dan lain sebagainya. Karena prinsip equity
harus diperhatikan agar tidak memunculkan ekses yang tidak
diinginkan dalam penyelenggaraan pemerintahan.
Sebagai sebuah bangsa yang beradab, dan terus berupaya
menuju cita-cita good governance, proses pengelolaan pemerintahan
itu harus memberikan peluang, kesempatan, pelayanan dan treatment
yang sama dalam koridor kejujuran dan keadilan. Tidak ada seorang
atau kelompok orangpun yang terniaya dan tidak memperoleh apa
yang menjadi haknya. Pola pengelolaan pemerintahan seperti ini akan
memperoleh legitimasi yang kuat dari publik dan akan memperoleh
dukungan serta partisipasi yang baik dari rakyat.16
7. Efectivitas (Efectiveness) dan Efisien (Efficiency)
Disamping harus memperhatikan beragam kepentingan dari
berbagai lapisan dan kelompok sosial sebagaimana ditekankan pada
asas equity, pemerintah yang baik juga harus memenuhi kriteria
efektifitas dan efisiensi, yakni berdaya guna dan berhasilguna. Kriteria
efektivitas biaanya diukur dengan parameter produk yang dapat
menjangkau sebesar-besarnya kepentingan masyarakat dari berbagai
kelompok dan lapisan social. Sedangkan efisiensi biasanya diukur
dengan rasionalitas biaya pembangunan untuk memenuhi kebutuhan
16

Miftah Thoha, MPA, Birokrasi dan Politik di Indonesia, PT. Raja Grafindo Persada,
jakarta 2003, hal 102

24

semua masyarakat. Semakin kecil biaya yang dipakai untuk


kepentingan yang besar, maka pemerintah itu termasuk dalam kategori
pemerintahan yang efisien. Citra itulah yang menjadi tuntutan dalam
upaya mewujudkan cita good governance.
Konsep efektifitas dalam sektor kegiatan-kegiatan publik
memiliki makna ganda, yakni efektifitas dalam pelaksanaan prosesproses pekerjaan, baik oleh pejabat publik maupun partisipasi
masyarakat, dan kedua efektifitas dalam konteks hasil, yakni mampu
memberikan kesejahteraan pada sebesar-besar kelompok dan lapisan
sosial. Demikian pula makna efisiensi yang mencakup antara lain
efisiensi teknis, efisiensi ongkos dan efisiensi kesejahteraan, yakni
hasil guna dari sebuah proses pekerjaan yang terserap penuh oleh
masyarakat, dan tidak ada hasil pembangunan yang useless atau tak
terpakai.
Agar pemerintahan itu efektif dan efisien, maka para pejabat
perancang dan pelaksana tugas-tugas pemerintahan harus mampu
menyusun perencanaan-perencanaan yang sesuai dengan kebutuhan
nyata dari masyarakat, secara rasional dan terukur. Dengan
perencanaan yang rasional tersebut, maka harapan partisipasi
masyarakat akan dapat digerakkan dengan mudah, karena programprogram tersebut menjadi kebutuhan dari mereka. Kemudian untuk
memperoleh partisipasi yang besar, para aparatur serta pejabat
pemerintahan

juga

harus

bersikap

terbuka,

dan

memberikan

kesempatan dan pelayanan kepada mereka dengan baik dan mudah.


Selain itu pemerintahan juga harus mampu menekan ancamanancaman eksternal yang dapat mengganggu stabilitas politik dan
keamanan, karena tanpa rasa aman yang tinggi, partisipsi masyarakat
dalam proses pembagunan sangat sulit diharapkan secara optimal.
Gerakan-gerakan politik untuk menekan para pengambil kebijakan
dengan mengarahkan masa yag sangat rentan dengan perilaku

25

kekerasan, selain akan memperlambat proses pembangunan, juga akan


menyerap dana dan biaya yang tidak perlu, setidaknya untuk biaya
pengamanan aset-aset negara dan penumbuhan rasa aman pada
masyarakat.17
Dengan demikian, peningkatan efektifitas pemerintahan
harus dilakukakn secara komprehensif, tidak sekedar rekayasa internal
untuk meningkatkan kinerja pemerintahanya sendiri, tetapi juga harus
diimbangi dengan pembinaan dan pertumbuhan sikap-sikap demokratis
masyarakat yang beradap dan anti kekerasan, karena gerakan-gerakan
masa itu, jika disertai dengan tindakan-tindakan anarkhis dan
kekerasan, justru akan melemahkan partisipasi masyarakat dalam
pembangunan.

Fenomena

tersebut

juga

akan

mengakibatkan

pemerintahan yang tidak efektif dan tidak efisian. Oleh sebab itu,
pemahaman demokrasi yang salah satu wujudkan adalah melakukan
pelibatan masyarakat dalam pengambilan kebijakan publik, harus
ditata yang beradap, dan tidak menimbulkan kekerasan dalam
masyarakat, sehingga legitimasi pemerintahan yang dibangun dengan
sisitem

demokrasi

tidak

menimbulkan

dampak-dampak

yang

mengurangi efektifitas dan efisiensi pemerintahannya sendiri.18


8. Akuntabilitas (Accountability)
Asas akuntabilitas menjadi perhatian da sorotan pada era
reformmaso ini, karena kelemahan pemerintahan indonesia jurtru
dalam kualitas akuntabilitasnya itu. Asas akuntabilitas berarti
pertanggungjawaban pejabat publik terhadap masyarakat yang
memberinya delegasi dan kewenangan untuk mengurusi berbagai
urusan dan kepentingan mereka. Setiap pejabat publik dituntut untuk
mempertanggungjawabkan setiap kebijakan, perbuatan, moral, maupun

17
18

Komaruddin Hidayat, Ibid, hlm 240


Komaruddin Hidayat, Ibid, hlm 245

26

netralitas sikapnya terhadap masyarakat, inilah yag dituntut dalam asas


akuntabilitas dalam upaya menuju cita-cita good governance.
Pengembangan asas akuntabilitas dalam kerangka good
governance tiada lain agar para pejabat atau unsur-unsur yag diberi
kewenangan mengelola urusan publik itu senantiasa terkontrol dan
tidak memiliki peluang melakukan penyimpangan untuk melakukan
KKN. Dengan asas

ini mereka terus memacu produktifitas

profesionalnya sehingga berperan besar dalam memenuhi berbagai


aspek kepentingan publinya.
Secara teoritik, akuntabilitas menyangkut dua dimensi, yakni
akuntabilitas vertikal dan akuntabilitas horisintal. Akuntabilitas
vertikal menyangkut hubungan antara pemegang kekuasaan dengan
rakyatnya, antara pemerintah dan warganya. Rakyat melalui partai
politik, LSM dan institusi lainya berhak meminta pertaggungjawaban
kepada pemegang kekuasaan negara. Pemegang kekuasaan atau
jabatan publik dalam struktur kenegaraan harus menjelaskan kepada
rakyat apa yang telah, sedang dan akan dilakukan di masa yang akan
datang, sebagai wujud akuntabilitas manajerialnya terhadap publik
yang memberi kewenangan. Kemudian akuntabilitas vertikal juga
bermakna bahwa setiap pejabat harus mempertanggungjawabkan
berbagai kebijakan ddan pelaksanaan tugas-tugasnya terhadap atasan
yang lebih tinggi.19
Sementara

akuntabilitas

horisontal

adalah

pertanggungjawaban pemegang jabatan publik pada lembaga yang


setara, seperti gubernur dengan DPRD tingkat I, bupati/walikota
dengan DPRD tingkat II, dan presiden dengan DPR pusat, yang
pelaksanaanya bisa dilakukan oleh para menteri sebagai pembantu
presiden. Selain akuntabilitas profesioanal, para pejabat publik atau
19

Dede Rosyada Dkk, Ibid, hlm, 190

27

unsur-unsur pengelola urusan umum dan kenegaraan juga harus


memiliki akauntabilias personal, baik dalam aspek profesi dan
kewenangan delegatifnya, maupun dalam aspek moralitasnya. Oleh
sebab itu anggota DPR harus mampu mempertangungjawabkan
kapabilitas dan loyalitas individunya, baik dalam lingkungan profesi
setaranya maupun terhadap atasanya. Jika mereka melakukan
pelanggaran

etika

dan

moralitas,

maka

harus

berani

mempertanggungjawabkan pelanggaranya itu.


9. Visi Strategis (Strategic Vision)
Visi strategis adalah pandangan-pandangan strategis untuk
menghadapi masa yang akan datang. Kualifikasi ini menjadi penting
dalam rangka mewujudkan good governance, karena perubahan dunia
dengan kemajuan teknologinya yang begitu cepat. Bangsa-bangsa yang
tidak memiliki sensifitas terhadap perubahan serta prediksi perubahan
ke depan, tidak saja aka tertinggal oleh bangsa lain di dunia, akan
tetapi juga akan terperosok pada akumulasi kesulitan, sehingga proses
recorvery-nya tidak mudah.
Tidak hanya itu, berbagai gejala dan perkembangan yang
terjadi di dunia luar harus dianalisis dampak-dampaknya bagi bangsa
ini, maupun dimasa yang akan datang, sehingga dapat dirumuskan
berbagai kebijakan untuk mengatasi dan mengantisipasi dampakdampak yang tidak diprediksi itu, sehingga banyak timbul berbagai
kesulita, baik ekonomi maupun aspek-aspek kehidupan sosial lainya.
Aspek lain yag lebih penting dalam konteks pandangan strategi untuk
masa yang akan datang, adalah perumusan-perumusan blueprint design
kehidupan ekonomi, sosial dan budaya untuk sekian tahun ke depan,
yang harus dirancang dan dikerjakan sejak sekarang.20

20

Dede Rosyada Dkk, Ibid, hlm 191

28

C. Pilar Good governance


Untuk mewujudkan praktik good governance ada tiga pilar yang
saling berkaitan. Masing-masing pilar tidak bisa berjalan sendirian, ketiganya
bahkan saling mendukung. Tegaknya satu pilar tanpa diikuti pilar yang lain
membuat pilar tersebut tidak dapat tegak. Untuk pilar kedua ada yang
menyebutnya sebagai mekanisme pasar bukan usaha atau sektor swasta.
Walaupun berbeda namun maknanya sama, pengertian mekanisme pasar
mengisaratkan adanya sektor swasta yang menjalankan usahanya sesuai
mekanisme pasar. Tiga pilar tersebut yaitu:21
1. Negara

Menciptakan kondisi politik, ekonomi dan sosial yang stabil

Membuat peraturan yang efektif dan berkeadilan

Menyediakan publik service yang efektif dan accountable

Menegakkan HAM

Melindungi lingkungan hidup

Mengurus standar kesehatan dan standar keselamatan publik

2. Sektor swasta atau Dunia usaha

Menjalankan industri

Menciptakan lapangan kerja

Menyediakan insentif bagi karyawan

Meningkatkan standar hidup masyarakat

Memelihara lingkungan hidup

Menaati peraturan

Transfer ilmu pengetahuan dan tteknologi kepada masyarakat

Menyediakan kredit bagi pengembangan UKM

3. Masyarakat madani

21

Menjaga agar hak-hak masyarakat terlindungi


Iskandar Hasan, Peran dan Funsi Pengawasan dalam Perwujudan Good Governance.

Irjen Depag RI, Jakarta: 2007, hlm 237

29

Memprngaruhi kebijakan publik

Sebagai sarana cheks and balances pemerintah

Mengawasi penyalahgunaan kewenangan social pemerintah

Mengembangkan SDM

Sarana berkomunikasi antar anggota masyarakat

D. Pandangan Islam Tentang Good governance


Dalam Islam, keharusan adanya sebuah pemerintahan merupakan hal
yang tak dapat dibantah. Bahkan pada tingkat tertentu, dalam sebuah
masyarakat atau sebuah komunitas dan kelompok, sudah seharusnya
pemerintahan itu ada. Pemerintahan di sini diartikan sebagai perangkat
kepemimpinan yang mengelola bagi tercipta dan teraturnya setiap individu
dalam suatu kelompok kecil tertentu dalam kehidupan manusia.
Keharusan adanya pemerintahan dalam Islam selalu merujuk kepada
upaya

manusia

untuk

menciptakan

kemaslahatan

(maslhalat)

dan

kesejahteraan bagi umat manusia itu sendiri. Dengan pemerintahan dan


kepemimpinan diharapkan manusia mampu mengatur dirinya secara bersama
dalam kesadaran bersama untuk mewujudkan kebaikan dan kesejahteraan. 22
Secara normatif, Islam memiliki nilai-nilai yang menuju ke arah
terciptanya pemerintahan yang baik. Secara konseptual pemerintahan yang
baik (good governance) diartikan sebagai cara dimana kekuasaan dikelola dan
dijalankan dilandasi oleh semangat efektif, kejujuran, keadilan, trasparan dan
bertanggung jawab di mana kedaulatan berada di tangan rakyat. Konsep ini
tak dapat dipisahkan dari demokrasi. Sebab dalam demokrasi, kekuasaan
politik mengharuskan adanya prinsip ini. 23

22

Inu Kencana Syafiie. Etika Pemerintahan. PT Rineka Cipta, Jakarta: 1994, hlm 30.

23

Ibid

30

Dalam perspektif Islam, elemen-elemen pemerintahan yang baik


(good governance) secara normatif haruslah berangkat dari beberapa landasan
antara lain:24
Pertama, Syura merupakan suatu prinsip yang menjadi wahana di
mana pengambilan keputusan dilakukan melalui partisapasi terbuka. Secara
eksplisit ditegaskan dalam al-Quran. Misalnya disebut dalam QS. AsSyura:38 dan Ali Imran:159.
Surat As-Syura ayat 38:




Artinya: Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan
Tuhannya

dan

mendirikan

shalat,

sedang

urusan

mereka

(diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka


menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada
mereka.
Surat Ali Imran ayat 159:


Artinya: Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut
terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar,
24

Ali Nurdin. Quranic Society: Menelusuri Konsep Ideal dalam al-Quran. PT. Gelora

Aksara Pratama, Jakarta: 2006, hlm 225. Lihat juga makalah yang ditulis oleh Tb. Ace Hasan
Syadzily yang berjudul Islam da Pemerintahan yang baik (good governance)

31

tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu


ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan
bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu25. Kemudian
apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah
kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang
bertawakkal kepada-Nya
Dalam kitab Tafsir al-Misbah, kata
kata

( )

( )

syura terambil dari

syaur. Kata syura bermakna mengambil dan mengeluarkan

pendapat yang terbaik dengan memperhadapkan suatu pendapat dengan


pendapat yang lain. Kata ini terambil dari kalimat

( ) syirtu al-

asal yang bermakna: saya mengeluarkan madu (dari wadahnya). Ini berarti
mempersamakan pendapat yang terbaik dengan madu, dan bermusyawarah
adalah upaya meraih madu itu di manapun ia temukan, atau dengan kata lain,
pendapat siapapun yang dinilai benar tanpa mempertimbangkan siapa yang
menyampaikanya.26
Mengenai

manfaat

musyawarah,

Muhammad

Elvandi

(Inilah

politikku: 2011) yang menukil dari pendapat Dr. Said Hawwa menjelaskan
tentang hikmah dari pelaksanaan syura (musyawarah) dalam kehidupan
politik, antara lain:27

25

Maksudnya: urusan peperangan dan hal-hal duniawiyah lainnya, seperti urusan politik,

ekonomi, kemasyarakatan dan lain-lainnya


26

M. Quraish Shihab. Tafsir al-Misbah (Pesan Kesan dan keserasian al-Quran), Volume
12. Lentera Hati, Jakarta: 2002. Hlm. 512
27
Elvandi Muhammad. Inilah Politikku. PT. Era Adicitra Intermedia, Solo: 2011, hlm
223-224

32

1. Masyarakat sadar atas problematik yang dihadapinya. Dengan syura,


standarisasi sebuah masyarakat meningkat dan persoalan politik menjadi
persoalan lumrah dikalangan masyarakat.
2. Masyarakat merasa tenang jika yang menjadi peserta syura adalah orangorang yang berkompeten. Jika tidak, mereka akan bingung dan kehilangan
kepercayaan publik.
3. Masyarakat selamat dari penyesalan karena gagasan-gagasan diktator yang
potensial salah.
4. Lebih dekat kepada kebenaran. Dalam sebuah hikmah dikatakan bahwa
siapa yang bermusyawarah tidak akan berpaling dari kebenaran.
5. Akal semakin berkembang dan bijak. At-Tharthusi mengatakan orang
yang bermusyawarah jika gagasanya lebih baik gagasan penasihat maka
berkobarlah idenya sebagaimana berkobarnya api karena kayu bakar
6. Masyarakat akan gegap gempita mendukung jika hasil syuranya benar,
tetapi jika salahpun mereka akan menerima dengan lapang dada, karena
sudah menjadi konsekuensi mereka yang telah ikut ambil bagian.
7. Memperkaya kemampuan manajemen, seperti perkataan ahli hikmat,
kebutuhan seseorang yang cendikia dan bijak adalah memperkaya
gagasanya dari para cendikia lain. Jika ia melakukanya maka ia akan
tenang, selamat dari ketergelinciran, dan alternatif yang ia buat pun akan
berhasil.
8. Terbebas dari nafsu yag disembunyikan atas nama kebenaran
9. Membangun pandangan-pandangan kepemimpina di atas dasar-dasar yang
kokoh, sehingga dikatakan, aksi-aksi seorang pemimpin yang tanpa
pandangan kokoh sebagai seorang ahli ibadah tanpa niat.
10. Menimbulkan barakah dan rahmat. Umar bin Abdul Aziz mengatakan,
musyawarah dan debat adalah dua pintu rahmat, dua kunci barakah.
Dengan keduanya, sebuah ide tidak akan sesat dan kebijaksanaan tidak
akan hilang.

33

11. Petunjuk amal agar mendapatkan hidayah dan bobot kualitas. Ali berkata,
musyawarah adalah mata hidayah, bahayalah bagi orang yang merasa
tidak membutuhkanya.
12. Emosi akan lebih terkendali dalam proses musyawarah.
Jelas

bahwa

musyawarah

sangat

diperlukan

sebagai

bahan

pertimbangan dan tanggung jawab bersama di dalam setiap mengeluarkan


sebuah keputusan melalui mekanisme yang bisa dilakukan dengan melibatkan
banyak pihak. Dengan begitu, maka setiap keputusan yang dikeluarkan oleh
pemerintah akan menjadi tanggung jawab bersama. Sikap musyawarah juga
merupakan bentuk dari pemberian penghargaan terhadap orang lain karena
pendapat-pendapat yang disampaikan menjadi pertimbangan bersama.
Kedua, al-adalah atau keadilan. Prinsip ini merupakan prinsip utama
dalam pemerintahan yang baik. Baik itu dalam konteks hukum atau dalam
kerangka membangun pemerataan sumber-sumber ekonomi-politik. Prinsip
moral ini bersikap tegas pada anti kolusi dan nepotis. Arti pentingnya
penegakan keadilan dalam sebuah pemerintahan ini ditegaskan oleh Allah
SWT dalam beberapa ayat-Nya, antara lain:
Surat an-Nahl ayat 90:


Artinya: Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat
kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari
perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi
pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran
Surat as-Syura ayat 15:

34

Artinya: Maka karena itu serulah (mereka kepada agama ini) dan tetaplah
sebagai mana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti
hawa nafsu mereka dan katakanlah: "Aku beriman kepada semua
Kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya berlaku
adil diantara kamu. Allah-lah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi
kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu. Tidak ada
pertengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara
kita dan kepada-Nyalah kembali (kita)
Surat al-Maidah ayat 8;


Artinya: Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang
yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi
dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap
sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku
adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah
kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang
kamu kerjakan.
Surat An-Nisa ayat 58:

35

Artinya: Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada


yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila
menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan
dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaikbaiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar
lagi Maha Melihat
Betapa prinsip keadilan dalam sebuah negara sangat diperlukan,
sehingga ada ungkapan yang ekstrim berbunyi: Negara yang berkeadilan
akan lestari kendati ia negara kafir, sebaliknya negara yang zalim akan
hancur meski ia negara (yang mengatasnamakan) Islam.
Ketiga, al-Musawah atau egaliterianisme (persamaan) yakni semua
elemen dalam masyarakat sama haknya sebagai warga negara dan
diperlakukan yang sama pula dalam hak-haknya untuk hidup. Tidak ada pihak
yang merasa lebih tinggi dari yang lain sehingga dapat memaksakan
kehendaknya. Penguasa tidak bisa memaksakan kehendaknya terhadap rakyat,
berlaku otoriter dan eksploitatif.
Allah dalam al-Quran surat al-Hujarat ayat 13 berfirman:

Artinya: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang


laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.

36

Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah


ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah
Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal
Ayat tersebut menerangkan bahwa, antara satu orang (warga
masyarakat) dengan yang lainya tidak ada pembedaan (sama), mempunyai
hak dan kewajiban yang sama tanpa membeda-bedakan.
Nabi Muhammad juga telah mengisayratkan bahwa semua orang
mempunyai perlakuan sama di depan hukum, bahkan jika ada salah satu dari
putra Nabi Muhammad yang melanggar hukum, maka beliau sendirilah yang
akan menghukumnya, seperti sabda beliau yang berbunyi:

28



Artinya: Apakah kamu akan memberikan ampunan pada hukumhukum
allah? Dan beliau berkata wahai manusia sesungguhnya kerusakan
orang-orang sebelum kamu adalah karena sikap mereka jika orang
orang mulia diantara mereka mencuri mereka meninggalkanya, dan
jika

orang

lemah

di

antara

mereka

mencuri

mereka

menghukumnya,dan demi allah jika fathimah binti muhammad


mencuri maka aku akan memotong tanganya. (HR: Bukhori)

Elemen pemerintahan yang baik dalam Islam yang keempat adalah alMasuliyyah atau tanggung jawab. Sebagaimana kita ketahui bahwa, kekuasaan
28

Shohih Bukhori, (Beirut : Dar al-Fikr, 275 H),

37

dan jabatan itu adalah amanah yang harus diwaspadai, bukan nikmat yang
harus disyukuri. Dan kekuasaan sebagai amanah ini mememiliki dua
pengertian, yaitu amanah yang harus dipertanggungjawabkan di depan rakyat
dan juga amanah yang harus dipertenggungjawabkan di depan Tuhan. Dalam
hal ini pemimpin/penguasa tidak ditempatkan pada posisi sebagai sayyid alummah (penguasa umat), melainkan sebagai khadim al-ummah (pelayan
umat).
Rasulullah SAW bersabda:






29

Artinya: ingatlah bahwa setiap dari kamu adalah pemimpin, dan akan di
mintai pertanggung jawaban dari apa yang di pimpinya, dan
pemimpin yang memimpin manusia akan di mintai tanggung jawab
dari apa yang dia pimpin, seorang laki laki adalah pemimpin
dalam keluarganya dan akan di mintai pertanggung jawaban
tentang keluarganya, seorang wanita adalah pemimpin, dan akan di
mintai pertanggung jawaban atas rumah suami dan anak anaknya,
dan seorang budak adalah pemimpin harta tuanya, dan akan di
mintai pertanggung jawaban tentang apa yang dia pimpin,, dan
ingatlah bahwa setiap dari kamu adalah pemimpin, yang akan di
mintai pertanggung jawaban atas apa yang ia pimpin (HR: Muslim)

29

Shohih Muslim, (Beirut : Dar al-Fikr, 275 H), hlm. 524

38

Elemen good governance dalam kaca mata Islam yang kelima adalah
al-Hurriyyah adalah kebebasan, artinya bahwa setiap orang, setiap warga
masyarakat diberi hak dan kebebasan untuk mengeksperesikan pendapatnya.
Sepanjang hal itu dilakukan dengan cara yang bijak dan memperhatikan alakhlaq al-karimah dan dalam rangka amar maruf nahy munkar, maka tidak
ada alasan bagi penguasa untuk mencegahnya. Bahkan yang harus diwaspadai
adalah kemungkinan tidak adanya lagi pihak yang berani melakukan kritik dan
kontrol sosial bagi tegaknya keadilan. Jika sudah tidak ada lagi kontrol dalam
suatu masyarakat, maka kezaliman akan semakin merajalela.
Andi Faisal bakti menuturkan, pelaksanaan good governance sudah
dicontohkan sejak Nabi Muhammad masih hidup. Nabi SAW sejak dini
mengajarkan pentingnya kejujuran, memenuhi janji dan melaksanakan
amanah. Salah satu hadis Nabi SAW yang sangat populer adalah: Ciri-ciri
orang munafik itu ada tiga: Apabila berbicara selalu penuh kebohongan,
apabila berjanji selalu ingkar, dan apabila dipercayai selalu khianat.
Selanjutnya, Nabi SAW mengatakan: Ingatlah bahwa sesungguhnya
kejujuran itu membawa kapada kebaikan dan kebaikan itu menghantar ke
surga; dan ingatlah bahwa dusta itu membawa kepada dosa dan dosa itu
menghantar ke neraka.
Dalam kehidupan sehari-hari Nabi SAW memberikan contoh
kepemimpinan melalui perilaku beliau sehari-hari: yaitu, shiddiq, istiqomah,
fathanah, amanah, dan tabligh. Pertama adalah shiddiq yang berarti jujur.
Nabi SAW seperti tersebut di atas sangat mengutamakan kejujuran dalam hal
pemerintahan. Secara sepintas shiddiq ini dapat diparalelkan dengan
transparancy. Namun, kalau kita melihat lebih hati-hati lagi, sebetulnya
shiddiq ini lebih dalam maknanya, karena melibatkan sikap mental, dan hati
nurani yang paling dalam. Bila transparancy masih bisa dikelabui dengan
mark-up yang lengkap secara administratif dengan data dan kuitansi, faktur,
bon, bill, dan seterusnya, yang tentu saja secara material dan faktual dapat
dilihat transparan, tetapi masih sangat mungkin terjadi pemalsuan,

39

penambahan digit, dan pengurangan angka, yang sukar dideteksi. Sedangkan


yang dimaksudkan dengan shiddiq adalah justru yang paling diutamakan
adalah yang tak tampak, yang immateri itu. Artinya, pemalsuan,rekayasa,
penambahan, tidak akan terjadi, sebab shiddiq mencakup wilayah qalbiyah.30
Kedua adalah istiqamah

yang bermakna teguh dalam pendirian.

Sifat kepemimpinan Nabi SAW ini bertumpu pada ketegaran dalam jiwa, agar
tidak akan bergeser walaupun penuh dengan rayuan, bujukan dan paksaan.
Bila consistency atau commitment, seperti yang dianjurkan oleh good
governance, masih bisa direkayasa dengan cara penampilan formal dalam
bentuk luarannya, maka istiqamah tidak bisa dimodifikasi, karena berkaitan
dengan sikap mental dan kejiwaan dan hati yang paling dalam. Seorang yang
istiqamah, haruslah sesuai kata dan perbuatannya, ucapan dan tingkah
lakunya. Sedangkan consistency, masih mungkin mengelabui orang lain.
Demikian pula pada sifat ketiga yaitu fathanah yang berkaitan
dengan kecerdasan, baik kecerdasan rasio, rasa, maupun kecerdasan ilahiyah.
Dengan demikian bila dibandingkan dengan good governance dengan konsep
intelligency-nya, maka konsep ini sebetulnya hanya
berhubungan dengan kecerdasan intellegentia semata. Padahal,
fathanah menekankan kecerdasan lain, seperti kecerdasan emosional, dan
spiritual. Sinergi ketiga kecerdasan ini, membuat seseorang seperti Nabi
mampu mengetahui secara pasti sikap mental orang yang diajak berbicara,
musuhnya, serta prediksi-prediksi masa depan. Sehingga ketika mengambil
strategi, antisipasi strategis sudah diambilnya dengan cermat.
Lalu bagaimana dengan amanah ini. Sifat ini bisa diparalelkan
dengan konsep accountability dalam good governance. Namun, bila kita
meneliti secara jeli, maka accountability ini merujuk kepada hal yang formal
30

Ahmad Gaus AF, Islam, Negara & Civil Society Gerakan dan Pemikiran Islam

Kontemporer. Paramadina, Jakarta: 2005. hlm, 338

40

administratif. Sedang amanah jauh menjamah rona psikologi yang paling


dalam. Sebab amanah itu mementingkan tanggung jawab yang sangat hakiki
dalam hubungannya dengan umat manusia, yang selalu yakin bahwa ada yang
selalu mengawasi pelaksanaan tugasnya, yang dalam masa Orde Barunya
Indonesia, biasa dikenal dengan pengawasan melekat, yakni melekat dalam
jiwa dan sikap seseorang. Kata melekat ini bisa juga dikaitkan (diplesetkan)
dengan kata malaikat, di mana dalam Islam diyakini bahwa setiap tindak
tanduk kita selalu dalam pengawasan malaikat yang senantiasa mencatat
kebaikan dan keburukan manusia. Dalam konteks inilah amdnah berkiprah.
Terakhir dari sifat kepemimpinan yang di praktikkan oleh Nabi
Muhammad SAW adalah tabligh. Sifat kepemimpinan Nabi SAW ini bila
dikaitkan dengan konsep good governance bisa disejajarkan dengan istilah
communicatibility. Namun, pada hakikatnya, tabligh ini berkaitan erat dengan
risalah keislaman, yakni soal dakwah dan penyampaian pesan-pesan keilahian.
Bila communicatibility hanya menjamah rona public-speaking, maka tabligh
mencakup semua aspek komunikasi dan interaksi sesama manusia. Data boleh
hebat, tetapi sejauh mana pemakaian data itu agar tetap berada pada prinsipprinsip kebenaran, bukan pengelabuan data, bisa dipertanggungjawabkan. Di
sinilah wilayah tabligh yang membuatnya berbeda dari communicability.
Lebih jauh lagi, tabligh selalu mengharapkan agar orang yang diajak
berbicara.
Jelaslah bahwa Islam sebagai agama rahmatallilalamin sejak dahulu
telah memberikan instrumen tentang konsep dan pelaksanaan pemerintahan
yang baik (good governance), baik itu yang tertuang dalam teks-teks ayat suci
al-Quran ataupun yang secara langsung dipraktikkan lansung oleh Nabi
Muhammad SAW melalui hadis-hadisnya seperti yang telah dijelaskan di atas.

41

BAB III
PERAN POKJA PuTKP PWNU JAWA TENGAH

A. Gambaran Umum POKJA PuTKP Jawa Tengah


1. Latar Belakang Berdirinya POKJA PuTKP PWNU Jawa Tengah
Kelompok Kerja Pemberdayaan Umat untuk Transparansi
Kebijakan Publik (POKJA PuTKP) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama
(PWNU) Jawa Tengah, merupakan organisasi non pemerintah yang
berkedudukan di Jawa Tengah dan beralamat di jalan Dr. Cipto 180
(Sekretariat PWNU Jawa Tengah), yang bertujuan untuk mendorong
terwujudnya good governance dan mengembangkan partisipasi publik di
Jawa Tengah.
Lembaga advokasi ini lahir pada tanggal 22 Desember 2009 di
pondok pesantren al-Itqon Semarang pimpinan K.H. Haris Shodaqoh.
Lembaga ini dibentuk setelah adanya serangkaian pertemuan dengan para
aktivis/pengurus badab otonom (Banom) dan Lembaga di lingkungan
PWNU Jateng yang dimotori Pengurus Wilayah Lembaga Kajian dan
Pengembangan Sumberdaya Manusia (PW Lakpesdam NU Jateng). Para
pengurus Banom dan Lembaga seperti PW Lakpesdam, PW Muslimat,
PW Fatayat, Lembaga Kesehatan Keluarga Nahdlatul Ulama (PW
LKKNU Jateng), Lembaga Batsul Masail (PW LBM Jateng), dan
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Komisariat Walisongo Semarang
(PMIII IAIN Walisongo).1
Dari hasil pertemuan-pertemuan yang dilaksanakan oleh tokoh
dan aktifis-aktifis banom NU tersebut, disana memiliki kesamaan
pandangan bahwa:2

Arsip POKJA PuTKP PWNU Jawa Tengah

Hasil wawancara dengan Agus Riyanto, Ketua POKJA PuTKP PWNU Jawa Tengah

pada tanggal 10 November 2011

41

42

a. Di Provinsi Jawa Tengah masih terdapat berbagai problem sosial


kemasyarakatan khususnya kemiskinan. Masyarakat miskin di Jawa
Tengah tersebut ditengarai mayoritas adalah warga Nahdliyin yang
kebanyakan tinggal di pedesaaan.
b. Upaya para pemegang kekuasaan khususnya pemerintah daerah
Provinsi Jawa Tengah belum sepenuhnya maksimal dalam menangani
problem kemiskinan. Hal ini tercermin dari berbagai kebijakan publik
yang belum sepenuhnya memihak kepada rakyat miskin (pro poor).
c. Masyarakat khususnya masyarakat miskin di Jawa Tengah lebih
berperan sebagai obyek dari suatu kebijakan publik dan belum
sepenuhnya dijadikan subyek dan mitra strategis dalam setiap
pengambilan keputusan/pembuatan kebijakan publik. Ruang partisipasi
publik bagi masyarakat khususnya masyarakat miskin dalam setiap
pembuatan

kebijakan

publik

sangat

kecil

bahkan

terkesan

dikesampingkan.
d. Praktek-praktek pengambilan keputusan kebijakan publik di Jawa
Tengah masih banyak yang belum transparan dan akuntabel sehingga
dapat mendorong terjadinya berbagai tindak korupsi, kolusi, dan
nepotisme dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah di Jawa
Tengah.
Atas dasar itulah, kemudian PWNU Jawa Tengah membentuk
lembaga advokasi yang dimotori oleh PW Lakpesdam NU Jawa Tengah
yang diketuai oleh Khoirul Anwar, dan secara resmi di deklarasikan pada
tanggal 22 Desember bertempat di Semarang. Setelah lembaga advokasi
yang di namakan POKJA PuTKP resmi di deklarasikan dan terbentuk,
kemudian mengangkat Agus Riyanto sebagai ketua atau koordinator.
Pembentukan Kelompok Kerja PuTKP dilandasi keinginan dari
kalangan warga NU khususnya di tingkatan badan otonom dan lembaga di
Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Tengah untuk bisa terlibat aktif
dalam proses perencanaan dan penganggaran di Provinsi Jawa Tengah
serta berperan mendorong adanya kebijakan-kebijakan publik yang

43

memihak rakyat miskin (pro poor) yang diakui atau tidak warga miskin di
Jawa Tengah mayoritas adalah warga NU.3
Menurut Adnan (selaku Ketua PWNU Jawa Tengah), semangat
mendirikan kelompok kerja tersebut sama sekali tidak ada muatan politik,
akan tetapi murni karena umat. Umat kita kan banyak, dan dari sekian
banyak umat tersebut sebagian besar warga miskin. Makanya orang NU
harus, bahkan wajib memiliki lembaga advokasi. Kalau berbicara orang
miskin, sama saja dengan tentang orang NU. Sama halnya kebijakan
pemerintah, jika anggaran berpihak kepada orang miskin, berarti anggaran
tersebut memihak kepada warga NU.4
Adnan juga menambahkan, kewajiban yang saya maksud tadi
bukan kewajiban fiqhiyyah yang jika di laksanakan mendapat pahala dan
jika ditinggalkan akan mendapat dosa. Akan tetapi kewajiban yang di
dasarkan pada kaidah-kaidah garis perjuangan NU, yang bunyinya kurang
lebih daral mafasid aula min jabi al-mashalih, mengindari kebaikan
lebih diutamakan dari pada melaksanakan kebaikan. Bayangkan, jika
anggaran daerah tidak berpihak kepada warga nahdliyyin (warga miskin),
pasti diselewengkan, inilah pentingnya kita punya lembaga advokasi.5
Terkait dengan ciri kebijakan yag berpihak kepada warga
miskin, Abdul walidl dalam bukunya menerangkan bahwa kebijakan
publik yang memiliki indikasi berpihak kepada rakyat miskin (pro poor)
memiliki kriteria antara lain:6
a. Kebijakan tindakan afirmatif untuk menangani ketidak setaraan sosial:

Program-program pemberdayaan, termasuk kuota untuk wanita


diparlemen

Perumahan yang memadahi untuk orang miskin

Ibid

Hasil wawancara dengan Drs. H. Muhammad Adnan, M. A. Ketua PWNU Jawa Tengah

pada tanggal 18 November 2011


5

Ibid

Abdul Walidl, Mendahulukan si Miskin, LkiS, Yogyakarta: 2008, hlm 17

44

Sekolah dan pelayaan kesehatan gratis untuk keluarga-keluarga


berpenghasilan rendah

Peluang kerja alternatif ketika tergusur

b. Penciptaan lapangan kerja berkelanjutan bagi keluarga-keluarga


berpengahasilan rendah
c. Akses pada kredit mikro yang murah
d. Perencanaan dan penganggaran partisipatif yag berbasis luas dan
difasilitasi, dimana kebutuhan orang miskin diprioritaskan, denagn
indikator kinerja yang jelasuntuk memastikan bahwantarget-target
tercapai
e. Anggaran berbasis kinerja yang berangkat dari program-program yang
memiliki kegiatan dan memiliki indikator-indikator serta ukuran hasil
yang teridentifikasi dengan jelas, yang di targetkan untuk kelompokkelompok marjinal.
Sebenarnya, komitmen penanggunlangan kemiskinan sudah
lama di canangkan oleh dunia internasional, hal tersebut tercermin dalam
Komitmen penanggulangan kemiskinan secara gelobal yang ditandai
lahirnya kesepakatan dari 195 kepala negara dan kepala pemerintahan
negara-negara

anggota

perserikatan

bangsa-bangsa

(PBB)

dalam

konferensi tingkat tinggi millenium PBB pada bulan september 2002. KTT
ini

menghasilkan kesepakatan dengan apa

yang disebut

tujuan

pembangunan millenium atau Millenium Development Goals (MDGs)


dengan perhatian utama pada penanggulangan kemiskinan, hak asasi
manusia, tata pemerintahan yang baik, demokrasi, pencegahan konflik,
dan pembangunan perdamaian.
Secara rinci, ada delapan tujuan yang ingin dicapai dalam
MDGs hingga tahun 2015:7

Dikutip dari draft manual praktis memahami APBD bagi Ulama. Oleh: PP Lakpesdam

NU , Jakarta: 2007

45

1. Memberantas kemiskinan dan kelaparan

Mengurangi sampai setengah jumlah penduduk yang hidup


dengan penghasilan kurang dari satu dolar perhari

Menguragi sampai setengah jumlah penduduk yang kelaparan

2. Mewujudkan pendidikan dasar bagi semua

menjamin

agar

semua

anak

perempuan

dan

laki-laki

menyelesaikan pendidikan dasar


3. mendorong kesetaraan jender dan memberdayakan perempuan.

Menghapus ketidaksetaraan jender dalam jenjang pendidikan


dasar dan menengah pada 2005, dan disemua tingkat
pendidikan pada tahun 2015

4. Mengurasi tingkat kematian anak

Mengurangi 2/3 angka kematian anak di bawah usia 5 tahun

5. Meningkatkan kesehatan ibu

Mengurangi angka tingkat kematian ibu

6. Memerangi HIV / AIDS, malaria dan penyakit lain

Menghentikan dan mengurangi laju penyebaran HIV/AIDS

Menghentikan dan mengurangi lajupenyebaran malaria serta


penyakit menular utama lainya

7. Menjamin kelestarian lingkungan

Mengintegrasikan

prinsip

lpembangunan

berkelanjutan

kedalam kebijakan dan program-program di tingkat nasional


serta mengurangi perusakan sumber daya alam.

Mengurangi sampai setengah dari jumlah penduduk yang tidak


memiliki akses kepada air bersih yang layak minum.

Berhasil meningkatkan kehidupan setidaknya seratus juta


penghuni kawasan kumuh pada tahun 2020.

8. Mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan.

Mengembangkan lebih lanjut sistem pandangan dan keuangan


terbuka yang berdasar aturan, dapat diandalkan, dan tidak

46

diskriminatif. Termasuk disini melaksanakan tata pemerintahan


yang

baik

(good

governance),

pembangunan

dan

pemberantasan kemiskinan baik secara nasional maupun


internasional.

Menangani kebutuhan khusus negara-negara yang kurang


berkembang. Ini mencakup pemberian bebas tarif dan bebas
kuota untuk ekspor mereka, keringanan pembayaran hutang
bagi negara-negara miskin yang terjerat hutang, pembatalan
hutang bilateral, dan pemberian bantuan pembangunan yang
lebih besar

untuk negara-negara yang berkomitmen untuk

mengurangi kemiskinan.

Menangani kebutuhan khusus negara-negara yang terkurung


daratan dan negara-negara kepulauan kecil yang sedang
berkembang.

Menangani tuntas masalah hutang negara berkembang melalui


kerjasama nasional dan internasional agar hutang dapat dilunasi
dalam jangka panjang

Bekerjasama

dengan

negara-negara

berkembang

untuk

menyediakan lapangan kerja yang pantas dan produktif bagi


karyawan muda

Bekerjasama dengan perusahaan farmasi untuk menyediakan


obat-obatan penting dengan harga terjangkau di negara-negara
berkembang.

Bekerjasama dengan sektor swasta untuk memungkinkan


pemanfaatan teknologi-teknologi baru, terutama teknologi
komunikasi dan informasi.
Dengan

demikian,

langkah

PWNU

Jawa

Tengah

untuk

mendirikan lembaga advokasi, merupakan langkah yang srategis dalam


rangka menciptakan tata kelola pemerintahan yang baik serta mendorong
terciptanya masyarakat Jawa Tengah yang sejahtera.

47

2. Visi dan Misi


Visi dan Misi merupakan hal yang sangat penting dalam sebuah
organisasi, tanpa adanya sebuah visi dan misi suatu organisasi tidak akan
berjalan secara sehat. Misi dan misi merupakan sebuah impian, tujuan
atau cita-cita yang hendak di capai oleh organisasi di masa yang akan
datang. Sebagaimana organisasi pada umumnya, keberadaan POKJA
PuTKP juga memiliki visi dan misi yag hendak di capai di kemudian hari
yang di gunakan sebagai acuan dan yang mengilhami dalam setiap langkah
dan gerakan advokasi.
Adapun Visi dan Misi POKJA PuTKP PWNU Jawa Tengah
adalah sebagai berikut:8
Visi:
Terwujudnya warga NU Jawa Tengah yang sejahtera.
Misi:
a. Melakukan pemberdayaan fungsi dan peran Pokja PuTKP NU Jawa
Tengah sebagai lembaga pemberdayaan warga NU di Jawa Tengah.
b. Melakukan penyadaran dan pendidikan warga NU di Jawa Tengah
akan hak dan kewajiban.
c. Mengadvokasi proses perencanaan dan penganggaran dalam rangka
mendorong terwujudnya kebijakan publik yang transparan dan
memihak rakyat miskin (pro poor) di Provinsi Jawa Tengah

3. Susunan Kepengurusan
Dalam menjalankan roda organisasi dan kerja-kerja advokasi,
komposisi pengurus POKJA PuTKP terdiri dari delegasi dari masing-

Di kutip dari Arsip POKJA PuTKP PWNU Jawa Tengah

48

masing Banom dan Lembaga di lingkungan PWNU Jawa Tengah yang


memiliki kapabilitas di bidang advokasi, hal itu dimaksudkan untuk
mengakomodir kader-kader banom yang memiliki bakat dalam bidang
advokasi dan pemberdayaan masyarakat.
Adapun Susunan Pengurus Pokja Pemberdayaan Umat Untuk
Transparansi Kebijakan Publik (POKJA PuTKP) PWNU Jawa Tengah:9

Ketua Pengarah

: Drs. H. Muhammad Muzamil

Wakil Ketua

: Dra. Hj. Ida Masruroh

Sekretaris

: Drs. H. Khoirul Anwar, M, Ag

Anggota

: Drs. Joko Prihatmoko,M.Si


Siti Ummu Adilah, SH, MH
H. Adib Fathoni, M.Si

Ketua Pelaksana

: Agus Riyanto, S.IP, M.Si

Sekretaris

: Heri Nugroho, S.Pd

Bendahara

: Berliana Ernawati, SH, MH

Bidang Advokasi

: Fatkhuroji, S. Pd. I
Sedyosusanto
M. Naryoko

Bidang Kajian dan Pelatihan : Iman Fadilah, SHI, MSI


Muh. Nuh, S.Sos
Dra. Khisnaturrohmah
Bidang Publikasi dan Dokumentasi : Tedy Kholiludin, SHI, M.Si
Zudi Setiawan, S.IP
Nur Anna Mustafidah, SHI

4. Prinsip
Dalam melaksanakan setiap agendanya, POKJA PuTKP PWNU
Jawa Tengah mendasarkan ajaran ahlussunnah wal jamaah, serta
9

Di kutip dari Arsip POKJA PuTKP PWNU Jawa Tengah

49

menjunjung tinggi kaidah-kaidah Nahdlatul Ulama sebagai landasan


kerja.

5.

Ruang Lingkup Gerakan


Untuk mewujudkan visi dan misi tersebut Pokja PuTKP NU Jawa
Tengah sejak tahun 2009 telah melangsungkan berbagai program kegiatan
antara lain :
a. Pelatihan Analisis Anggaran
Awalnya, para pengurus alergi dengan apa yang namanya
anggaran. Namun, dengan kegigihan dan kerja keras, sedikit demi
sedikit para pengurus diperkenalkan dengan anggaran melalui
pelatihan-pelatihan.
Sebelum terbentuk POKJA, sebenarnya lakpesdam sudah
beberapa kali melaksanakan pelatihan analisis anggaran bekerjasama
dengan LSM PATTIRO (Pusat Telaah dan Informasi Regional).
Namun, setelah terbentuk kelompok kerja, pelatihan analisis anggaran
di lanjutkan oleh POKJA agar lebih bisa fokus.10
b. Pelatihan Advokasi Kebijakan Publik
Advokasi kebijakan publik merupakan upaya pembelaan
(pengawalan) secara terencana terhadap rencana sikap, rencana
tindakan atau rencana keputusan, rencana program atau rencana
peraturan yang dirancang pemerintah untuk dilakukan atau tidak
dilakukan agar sesuai dengan kepentingan masyarakat. Nilai-nilai
utama yang terdapat dalam masyarakat yang menjadi kepentingan
seluruh anggota masyarakat haruslah diprioritaskan.
Pelatihan advokasi kebijakan publik di maksudkan untuk
membekali

para

pengurus,

sehingga

mampu

membaca

dan

menganalisis rencana-rencana kebijakan yang akan dilaksanakan di


pemerintah Jawa Tengah.
10

Hasil wawancara dengan Agus Riyanto pada tanggal 16 November 2011

50

c. Focus Group Discussion (FGD) tematik Masalah Kebijakan Publik


Diskusi ini di selenggarakan untuk menanggapi isu-isu hangat
yang dan perlu di kritisi, adapun diskusi yang telah di laksanakan oleh
POPOKJA PuTKP adalah:
No

Nama Kegiatan

Tema

Focus Group Jamkesda Bagi


Discussion
Warga Miskin di

Pelaksanaan

Tempat

Rabu, 2 Mei Kantor PW


2010
NU Jawa
Tengah, Jln.

Jawa Tengah

Dr. Cipto 180

Focus Group Penajaman dan


Discussion
Perumusan Hasil

Rabu,
18
Lt.1 Kantor
Agustus 2010
PW NU

Workshop Untuk

Jateng, jl. Dr.

Penyusunan Juknis

Cipto 180

Perda Jamkesda

Semarang

Jawa Tengah
3

Focus Group Menyoal Politik


Discussion
Anggaran Daerah
di Jawa Tengah
(Pemaparan Hasil
Analisis Anggaran
Daerah Provinsi
Jateng tahun 20072010)

Selasa, 14
Desember
2010

Focus Group Keterbukaan


Discussion
Informasi Publik di
Jawa Tengah
(Pemaparan Hasil
Uji Akses Informasi
Publik di Jateng)

Kamis, 2
Desember
2010

Ruang
Sidang
Kantor PW
NU Jateng
Jln. Dr. Cipto
180
Semarang

Ruang
Sidang
Kantor PW
NU Jateng
Jln. Dr. Cipto
180
Semarang

51

d. Talk Show di radio Mengenai Kebijakan Publik


Talk Show ini di lakukan dengan mengadakan kerja sama
dengan stasiun radio terkait. Kegiatan ini di lakukan untuk
mensosialisakan tentang kebijakan-kebijakan pemerintah yang dapat di
akses oleh masyarakat umum. Minimnya sosialisasi pemerintah
tentang kebijakan-kebijakan yang di tempuh, mendorong POKJA
PuTKP turut andil dalam rangka mensosialisasikan kebijakankebijakan yang ada. Pada dasarnya, informasi seperti inilah yang
dibutuhkan oleh masyarakat.
e. Penerbitan New Letter
Penertbitan news Letter adalah sebagai media sosialisasi
kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan oleh POKJA PuTKP dan
sebagai media untuk mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah.
f. Analisis Anggaran
Dalam rangka mendorong anggaran daerah yang proo poor,
POKJA PuTKP melakukan pembacaan terhadap RAPBD yang akan di
sahkan. Dengan harapan, hasil pembacaan-pembacaan tersebut dapat
di jadikan acuan perubahan anggaran yang berpihak terhadap rakyat
miskin.
g. Advokasi Perencanaan Anggaran
Advokasi perencanaan anggaran merupakan salah satu
langkah antasipasi POKJA PuTKP untuk menghindari penyelewengan
anggaran yang di lakukan oleh pemerintah, sehingga dapat
menghindari jual beli anggaran.

52

B. Peran POKJA PuTKP di Jawa Tengah


1. Pemberdayaan masyarakat
Dalam rangka menjalankan kerja advokasi, POKJA PuTKP memiliki
program-program pemberdayaan guna membekali para pengurus untuk
melakukan kerja-kerja advokasi, antara lain:11
a. Pelatihan Analisis Anggaran
Anggaran merupakan salah satu kunci yang mempengaruhi
hajat hidup orang banyak maka diperlukan keseriusan dan kerja keras
yang menguras otak, tenaga, serta komitmen untuk dapat menyusun
dan

merealisasikan

anggaran

sesuai

dengan

nilai-nilai

yang

diamanatkan oleh konstitusi. Namun di satu sisi bahwa situasi yang


amat rumit di negeri ini telah membawa suasana proses penganggaran
yang dipenuhi dengan nuansa politis yang sarat akan kepentingan
pribadi

dan

kelompok.

Sehingga

kepentingan

penganggaran

melupakan kepentingan rakyat, yakni anggaran merupakan alat untuk


mensejahterakan rakyat.12
Pelatihan analisis anggaran menjadi kata kunci untuk
mengetahui

sejauhmana

anggaran

tersebut

berpihak

kepada

masyarakat miskin. Maka dari itu, POKJA PuTKP mengadakan


pelatihan anggaran untuk membekali para perungus untuk dapat
membaca Aggaran daerah.
Adapun pelatihan yang sudah diselenggarakan oleh POKJA
PuTKP antara lain:

No Nama Kegiatan
1

11
12

Tanggal

Workshop I
17-18
Adokasi Kebijakan
oktober
Publik yang Pro
Poor

Tema

Tempat

Respon NU Hotel
atas

Gracia

Hasil survei langsung sekretariat POKJA PuTKP yang berkantor di Jl. Dr. Cipto 180
Dikutip dari Arsip TOR Pelatihan Anggaran yang di selenggarakan oleh PW

Lakpesdan NU Jawa Tengah pada 27-29 Juni 2009

53

2009

Problem
Kemiskinan
dan
Kebijakan
Anggaran
Pro Poor

Workshop II
Adokasi Kebijakan
Publik yang Pro
Poor

23-25
Januari
2010

Mendorong

Hotel

Kebijakan

semesta

Politik
Anggaran
Pro Poor

Pelatihan Analisis
Anggaran Pro
Poor

17 18
Oktober
2009

Hotel
Beringin
Salatiga

Pelatihan Menuju 27 28
Maret 2010
Advokasi

Anggaran

Bandungan

Pro

Poor

b. Pelatihan Advokasi Kebijakan Publik


Pelatihan

ini

dimaksudkan

agar

para

pengurus

dan

masyarakat Nahdliyyin pada umumnya memahami alur kebijakan


publik, sehingga dapat ikut serta berperan dalam memperjuangkan
kebijakan publik yang berpihak kepada masyarakat miskin.13

2. Advokasi
Peran advokasi dalam rangka menciptakan good governance di
Jawa Tengah antara lain:14

13

Hasil wawancara dengan Agus Riyanto pada 16 November

14

Arsip Pokja PuTKP PWNU Jateng

54

a. Melakukan advokasi dalam proses perumusan RAPBD Jateng 2010


dan 2011 dengan melakukan kajian/diskusi, pers release, dan surat
pernyataan ke Pimpinan DPRD Jawa Tengah. Melakukan advokasi
kebijakan anggran sama halnya dengan melakukan advokasi seluruh
kebijakan publik. Karena semua kebijakan bersumber dari kebijakan
anggaran. Sehingga menyelamatkan anggaran sama halnya dengan
menyelamtkan publik.
b. Melakukan advokasi terhadap kebijakan di bidang pertanian terutama
tentang adanya kelangkaan pupuk. Dalam hal ini mengundang Istajib
AS (komisi B DPRD Jateng) dan Nuswantoro ( Dinas Pertanian,
Tanaman Pangan, dan Holtikultura Jateng). Advokasi tersebut
dilaksanankan dalam rangka klarifikasi tentang kelangkaan pupuk di
Jawa Tengah, pada tanggal 29 April 2010.15
c. Melakukan

advokasi

dalam

kebijakan

JAMKESDA

(Jaminan

Kesehatan Daerah ) Provinsi Jawa Tengah


Mendapatkan jaminan pelayanan kesehatan merupakan hak
semua warga negara, sehingga di harapkan pelaksanaan Jamkesda di
Jawa Tengah tepat sasaran. Artinya pelaksanaan Jamkesda ini dapat di
rasakan oleh masyarakat miskin. Dalam rangka mengawal kebijakan
kesehatan tersebut, POKJA PuTKP telah melakukan pengawalan
terhadap kebijakan Jamkesda tersebut, antara lain:16
-

Lokakarya perumusan Juknis atas Perda dan Pergub tentang


Jamkesda Provinsi Jateng yang menghasilkan draf juknis versi
Pokja PuTKP NU Jateng

yang diusulkan ke Dinas Kesehatan

Pemerintahan Provinsi Jawa Tengah


-

Lokakarya tentang evaluasi pelaksanaan Jamkesda di Daerah


dengan tujuan menggali informasi dan temuan-temuan terkait
pelaksanaan Jamkesda di 5 Daerah ujicoba.

15

http://putkpnujateng.blogspot.com/2010/04/

16

Di kutip dari berkas-berkas POKJA PuTKP

55

Sosialisasi mengenai program Jamkesda kemasyarakat melalui


program talk show di RRI dan Radio DAIS, pembuatan dan
penyebaran liflet (brosur) ke masyarakat.

Public Hearing dengan komisi E DPRD Jateng dalam rangka


menyampaikan temuan dan rekomendasi Pokja PuTKP terkait
pelaksanaan Jamkesda Jateng.
Demikianlah, pentingnya advokasi kebijakan publik, tidak hanya

sebagai langkah untuk menghindari kecurangan atau penyelenganpenyelewangann yang di lakukan oleh pemerintah, terutama dalam bidang
anggaran. Melainkan juga untuk menjamin hak-hak kesejahterakan
masyarakat terutama masyarakat miskin.

56

BAB IV
LANDASAN KEAGAMAAN DAN PRAKTIK PARTISIPASI POKJA
PuTKP PWNU JAWA TENGAH

A. Landasan keagamaan yang mendasari praktik partisipasi POKJA PuTKP


PWNU Jawa Tengah
Setiap organisasi mempunyai platform dan garis perjuangan yang
dicita-citakan. Demikian halnya POKJA PuTKP NU Jawa Tengah. Sebagai
lembaga advokasi yang didirikan oleh PWNU Jawa Tengah, motivasi yang
mempengaruhi setiap langkah dan gerakan POKA PuTKP adalah senantiasa
mengamalkan ajaran Ahlussunnah wal jamaah sebagai pijakan dalam setiap
langkah dan gerakanya.
Adanaya prinsip dasar sebagai landasan perjuangan sangat penting.
Karena prinsip dasar itulah yang akan mengarahkan kerja-kerja advokasi yang
dilakukan oleh POKJA PuTKP. Dalam rangka melakukan kerja advokasi,
setiap gerakan yang dilakukan oleh POKJA PuTKP dilandasi pada nilai-nilai
agama.
Tentunya, landasan yang dipergunakan oleh POKJA PuTKP dalam
melakukan advokasi tidak lepas dari nilai-nilai yang terkandung dalam kaidah
NU, kaidah pokok yang juga dijadikan landasan pemikiran dan tindakan NU.
Kaidah tersebut terkenal dengan sebutan al-Qowaid al-khoms al-kubra

) ( , yaitu :
1

1.

(al-Umur bi maqoshidaha): artinya, setiap perbuatan

bergantung pada niat (tujuan-nya)

Abdul Rouf, NU dan Civil Islam di Indonesia, Intimedia, Jakarta: 2010, hlm 111-112

56

57

2.

(al-Yakin la yazulu bi al-syakk): aytinya, keyakinan

tidak akan hilang karena keraguan


3.

(al-Dhahar yuzal atau la dharara wala dhirara): artinya,

bahaya harus dihilangkan.


4.

(al-Masyaqqoh tajlib al-taisir): artinya, kesulitan

dapat memberikan kemudahan


5.

(al-Adah muhakkamah): artinya, sesuatu yang sudah menjadi

kebiasaan, diakui/berderajat hukum


Kaidah-kaidah di atas memiliki cabang atau pecahan, anrata lain
kaidah yang populer di kalangan NU, yaitu2:
1.

( Dar al-mafasid muqoddamun ala


jalbi al-mashalih): artinya, menghindari bahaya lebih diutamakan
ketimbang melaksanakan kebaikan

2.

(Idza taaradha

mafsadatani rawiya azhamuha dhiraran bi irtikabi akhfihima): artinya,


jika terjadi pertentangan beberapa bahaya, maka dipertimbangkan akibat
bahaya yang paling besar dengan melaksanakan yang paling kecil
resikonya

3.

(al-Hajatu tanzilu

manzilata al-dharuratu ammatun kanat aw khashshatun): artinya,


kebutuhan menempati kedudukan darurat, baik umum maupun khusus dan
(al-hajatu idzan ammat kana al-dharurati): artinya, hajat jika merata
(kepentingan umum), maka terjadi darurat

Rozikim Dawam, Membidik NU (Dilema Percaturan Politik NU Pasca Khithah), Gama


Media, Yogyakarta: 2001, hlm 91-92.

58

4.

(Ma la yudraku kulluhu lya yutraku kulluh):

artinya, kewajiban yang tidak dapat dikerjakan selutuhnya (sempurna),


maka yang dapat dijalankan tidak ditinggalkan. Kaidah ini ada
persamaanya dengan (al-maisur la yasquthu bi al-masur): artinya,
kemudahan tidak gugur karena kesulitan.
5.


raiyyah

manuthun

bi

al-mashlahah):

(Tasharruf al-imam ala alartinya,

penyelenggaraan

pemerintahan oleh kepala Negara didasarkan atas kemaslahatan umat


(rakyat)
6.

(Ma la yatimmu al-wajibu illa bihi

fahuwa wajibun): atinya, kewajiban yang tidak sempurna (lengkap),


kecuali dengan syarat-syarat tertentu, maka sarat itupun menjadi wajib.
Dalam kaidah ushul fiqih dikatakan: (al-amru bi al-syai al-amru bi
washailihi): artinya, perintah atas sesuatu berarti perintah atas sarananya.
7.

(al-Muhafazhatu ala

al-qodim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadidi al-ashlah): artinya, tetap


senantiasa memelihara tradisi yang baik dan mengambil sesuatu yang baru
yang lebih baik.
8.

(al-Hukmu yaduru maa illatihi

wujudan wa adaman): artinya, hukum itu mengikuti atau bergantung pada


illat-nya, baik adanya maupun tidak adanya.
Menurut Ubaidillah Shodaqoh, upaya mendirikan lembaga advokasi
(POKJA PuTKP) merupakan wujud dari kepedulian NU terhadap warganya,
hal itu di dasarkan pada prinsip dasar kaidah yang di ajarkan kepada kita oleh
orang tua kita dulu yakni Dar al-mafasid muqoddamun ala jalbi al-mashalih
menghindari bahaya lebih diutamakan dari pada melaksanakan kebaikan.

59

kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh PuTKP merupakan ikhtiar NU untuk


mengantisipasi kebijakan-kebijakan pemerintah yang menyimpag, dari
menyimpang kan luwih apek di kandasi ndisik, tambah beliau.3
Jadi, upaya yang dilakukan oleh POKJA PuTKP dalam pandangan
PWNU Jawa Tengah merupakan salah satu langkah antisipasi untuk
menghindari keburukan/bahaya, karna sesuai kaidah NU yang dijadikan
landasan tersebut.
B. Praktik partisipasi POKJA PuTKP PWNU Jawa Tengah di pemerintah
Propinsi Jawa Tengah
Setelah hampir hampir dua tahun lamanya POKJA PuTKP PWNU
Jawa tengah lahir dan di deklarasikan, keberadaanya memainkan peran
penting dalam mewujudkan good governance. Dalam perspektif good
governance, penyelenggaraan kepemerintahan tidak hanya menjadi dominasi
dan fungsi lembaga-lembaga pemerintahan. Sebaliknya, konsep dan praktek
good governance meniscayakan partisipasi Ormas seperti halnya POKJA
PuTKP PWNU Jawa Tengah. Karena itu, posisi POKJA PuTKP sangat
strategis

dalam

penciptaan

dan

penguatan

good

governance

dan

pemberantasan kemiskinan serta advokasi sosial lainnya.


Posisi POKJA PuTKP dalam konsep dan praktek good governance
tidak hanya sebagai stakeholders dari kebijakan-kebijakan publik, tetapi
mereka juga tak kurang pentingnya terlibat dalam decision making process
untuk kepentingan publik secara keseluruhan. POKJA PuTKP tentu saja tidak
mengambil keputusan-keputusan publik yang merupakan wewenang dan
otoritas lembaga-lembaga legislatif dan eksekutif, tetapi ia dapat menjadi
kekuatan penekan

(pressure groups) dan sekaligus sebagai kelompok

kepentingan (interest group) yang dapat mempengaruhi proses, hasil, dan


pelaksanaan kebijakan publik (public policies) tersebut.
3

Hasil wawancara dengan KH. Haris Shodaqoh, salah satu ketua PWNU Jawa tengah

60

Praktik partisipasi yang telah dilaksanakan oleh POKJA PuTKP


untuk menciptakan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance) di
Jawa Tengah antara lain, pertama: partisipasi (participation), dalam hal ini
POKJA PuTKP secara masif turut andil berpartisipasi dalam rangka mengawal
kebijakan publik. Partisipasi yang dilakukan POKJA PuTKP berupa
pembuatan pers realis, audiensi tentang kebijakan yang akan di ambil bahkan
membuat statement di media baik local maupun nasional. Sehingga dalam
proses pengambilan keputusan dapat sesuai dengan kebubtuhan masyarakat
secara umum, bukan mewakili golongan tertentu.
Praktik partisispasi nyata yang dilakukan POKJA PuTKP adalah
dalam rangka mengawal kebijakan anggaran daerah. Dalam rangka mengawal
anggaran daerah (APBD), POKJA PuTKP melakukan banyak hal seperti
melakukan audiensi tentang anggaran yang sifatnya publik (pendidika,
kesehatan dan pertanian).
Krtik tajam dilontarkan POKJA PuTKP melalui media massa tentang
anggaran darerah (RAPBD tahun 2011) yang sama sekali tidak berpihak
kepada kepentingan rakyat. Tercatat ada tujuh kali kritik tajam melalui media
massa yang dilakukan POKJA PuTKP untuk anggaran derah yang tidak pro
poor, antara lain4: 1) artikel yang termuat dalam harian Kompas pada hari
Rabu tanggal 27 Oktober 2010 dengan judul 60 persen anggaran untuk
belanja pegawai, dalam artikel ini Agus Riyanto selaku Ketua POKJA PuTKP
mengkritik bahwa dari aspek substansi RAPBD 2011 tidak berpihak kepada
rakyat, bahkan komposisi anggaran tidak mengarah pada kebijakan misi
gubernur yang bali desa bangun desa. 2) artikel yang di buat dalam harian
Kompas pada hari kamis tanggal 28 oktober 2010, dengan judul Anggaran
besar tapi belanja pegawai rendah. Dalam artikel tersebut POKJA PuTKP
mengkritik tentang anggaran yang tidak pro rakyat, anggaran tersebut sekitar
60% di alokasikan untuk belanja pegawai dan hanya sekitar 39,4% anggaran

Arsip Kliping Koran POKJA PuTKP

61

untuk publik, padahal anggaran 80% berasal dari rakyat. 3) berita yang dimuat
dalam Harian Semarang (harsem) pada hari kamis tanggal 28 oktober 2010
yang berjudul RAPBD Jateng Jomplang, pasalnya bahwa anggaran yang di
alokasikan antara belanja pegawai dengan anggaran untuk publik tidak
seimbag, yakni belanja untuk pegawai sebesar 60% dan anggaran untuk publik
hanya sekitar 40%. 4) pers realis yang di muat dalam harian Kompas pada hari
Sabtu tanggal 29 Oktober 2010 yang berjudul Masyarakat tak bisa berharap
dapat manfaat APBD 2011. Dalam pers realis ini POKJA PuTKP mengkritik
pedas bahwa rakyat tidak akan bisa mendapat manfaat dari APBD 2011 karena
anggaran pemberdayaan masyarakat hanya 16 milyar. 5) berita yang di muat
dalam Hrian Semarang pada tanggal 3 Desember 2010 yang berjudul SKPD
Pemprov Jateng belum terbuka, dalam berita ini Agus selaku ketua POKJA
PuTKP mengkritik tentang tidak adanya keterbukaan informasi dari seluruh
SKPD jateng. Dari total 11 SKPD Jateng hanya satu SKPD saja yang bersedia
memberikan akses informasinya yakni Bappeda Jateng. 6) pers realis yang di
muat dalam Harian suara merdeka pada tanggal 4 Desember 2010 dengan
judul Keterbukaan birokrat masih rendah. Dalam pers realis tersebut POKJA
PuTKP mengungkap temuan tentang rendahnya keterbukaan akses informasi
publik di Jawa Tengah. Dari hasil uji akses, hanya 9% yang responsif terhadap
keterbukaan informasi publik, selebihnya 91% tidak melaksanakan UU
14/2008 tentang keterbukaan informasi publik (UU KIP), dan 7) berita yang di
muat dalam Harian Suara Merdeka pada Kamis tanggal 16 Desember 2011
yang berjudul Politik anggaran belum memihak kepada publik. Berita ini
memuat hasil diskusi yang berisi tentang lebih banyaknya alokasi anggaran
untuk pegawai dari pada alokasi anggaran untuk publik.
Sehingga jelaslah bahwa, upaya partisipasi yang dilakukan POKJA
PuTKP dalam rangka mengawal kebijakan publik di jawa tengah, baik itu
kebijakan anggaran ataupun kebijakan yang bersifat publik lainya sangat masif
dilaksanankan, namun kendalanya adalah tidak adanya komitmen dari
pemerintah untuk memberikan keterbukaan tentang informasi publik.

62

Kedua, musyawarah, dalam rangka turut andil dalam menciptakan


tata kelola pemerintahan yang baik (good governance) di Jawa Tengah,
POKJA PuTKP ikut terlibat dalam decision making process atau proses
pembuatan keputusan. Oleh karenanya, POKJA PuTKP berperan aktif setiap
kali ada perubahan kebijakan. Baik itu secara langsung audiensi mendatangi
mendatangi lembaga atau SKPD terkait ataupun mengundang SKPD atau
lembaga pemangku kepentingan untuk hadir berdiskusi bersama tentang arah
kebijakan tersebut, seperti kebijakan tentang pertanian ataupun tentang
pelaksanaan JAMKESDA di Dinas Kesehatan Jawa Tengah.

C. Peluang dan Tantangan POKJA PuTKP PWNU Jawa Tengah


Stiap organisasi memiliki peluang dan tantangan tersendiri di hari
depan, tak ubahnya POKJA PuTKP. Sebagai lembaga advokasi, tentunya
memiliki peluang dan tantangan yang akan di hadapai di masa depan. Namun
saat ini, peluang POKJA PuTKP lebih dominan dibandingkan tantanganya,
meskipun tidak menutup kemungkinan ada tangtangan yang menghadang.
POKJA PuTKP ke depan sebagai lembaga advokasi akan memiliki
banyak peluang dan keuntungan untuk tetap eksis sebagai lembaga advokasi
terhadap kebijakan pemerintah. Dengan melihat keterangan-keterangan
terdahul, menurut hemat penulis POKJA PuTKP akan banyak mendapat
peluang diantaranya: Pertama, POKJA PuTKP merupakan lembaga advokasi
yang didirikan oleh Ormas terbesar di ndonesia (Nahdlatul Ulama) sehingga
dalam melakukan kerja advokasi akan mendapat dukungan penuh dari
masyarakat. Kedua, sebagian masyarakat NU sebagian besar adalah warga
miskin yang tinggal di pedesaan (tidak menutup kemungkinan sebagian tinggal
di perkotaan), sehingga POKJA PuTKP tahu persis keadaan dan kebutuhan
warga miskin, sehingga mudah untuk mengontrol kebijakan pemerintah.
Ketiga, adanya komitmen dunia internasional untuk memerangi
kemiskinan melalui PBB yag tercermin dalam kesepakatan 195 kepala negara
yang dimnatkan MDGs, hal ini memberikan ruang bagi POKJA PuTKP untuk

63

mewujudkan Visinya yaitu Terwujudnya warga NU Jawa Tengah yang


sejahtera dan juga komitmen international untuk menciptakan good
governance pada negara-negara aggota PBB. Sehingga cita-cita POKJA
PuTKP untuk mengawal kebijakan pemerintah terutama di Jawa Tengah untuk
menciptakan tata kelola pemerintahan yang baik mendapat dukungan
internasional.
Keempat, adanya komitmen pemerintah tentang keterbukaan akses
informasi publik, yaitu tercermin dalam UU No.14 tahun 2008 tentang
Keterbukaan Informasi Publik (UU KIP), meskipun sampai saat ini UU KIP
ini belum sepenuhnya dilaksanakan. Namun, hal itu memberi peluang besar
untuk mendapatkan dokumen dalam rangka menagawal kebijakan publik.
Namun demikian, POKJA PuTKP perlu waspada, disamping memiliki
peluang besar, ia juga memiliki tantangan yang tak kalah besar, yakni
komitmen perjuangan, seringkali komitmen ini terabaikan sehingga apa yang
menjadi komitmen serta visi misi awal terlupakan. Namun, jika POKJA
PuTKP mampu membangun komitmen secara kolektif niscaya apa yang
menjadi cita-cita dan harapan semua orang akan dapat terwujud.

65

BAB V
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Setelah memahami pembahasan yang sedemikian rupa tentang Islam
good governance serta praktik partisipasi yang dilakukan POKJA PuTKP,
maka sampailah pada kesimpulan atau jawaban yang merupakan hasil dari
keseluruhan penelitian, yaitu:
1. Good governance merupakan kosakata baru dalam dunia kepemerintahan,
karena kosa kata ini baru muncul dan di munculkan oleh UNDP sekitar
tahun 1990an. Namun demikian, dalam praktiknya good governance
sejatinya sudah ada sejak zaman nabi Muhammad, baik itu yang langsung
di praktikkan oleh Nabi Muhammad SAW melalui kepemimpinanya,
maupun melalui hadist-hadistnya.
2. Islam sebagai agama Rahmatan li al-alamin, memberikan banyak
insrumen tentang pelaksanaan good governance seperti halnya perintah
untuk bermusyawarah (syura) tau dalam bahawa UNDP disebut consensus
orientation, al-adalah atau equality, al-Musawah atau egaliterianisme
(persamaan) dan lain sebagainya.
4

Dasar keagamaan yang dipergunakan sebagai landasan POKJA PuTKP


dalam melakukan gerakan dan kerja-kerja advokasi adalah di dasarkan
pada ajaran Ahlussunnah wal Jamaahi dalam setiap langkahnya, serta
kaidah-kaidah NU yang di kenal dengan sebutan al-Qowaid al-khoms alkubra

) ( . lebih fokus lagi pada kaidah Dar al-

mafasid muqoddamun ala jalbi al-mashalih yang artinya menghindari


bahaya lebih diutamakan ketimbang melaksanakan kebaikan
5

Praktik partisipasi yang dilakukan oleh POKJA PuTKP untuk menciptakan


tata kelola pemerintahan yang baik di Jawa Tengah dengan menggunakan
dua prinsip good governance yaitu: pertama, prinsip partisipasi. Dalam
65

66

prinsip ini POKJA PuTKP memberikan sumbangsihnya melalui Media


masa, dan melalui ususlan-usulan langsung.
Praktik partisipasi yang Kedua, musyawarah. Dalam menerapkan
prinsip ini, POKJA PuTKP melakukan audiensi terhadap penetapanpenetapan kebijakan, baik secara langsung datang melakukan audiensi
ataupun mengundang SKPD terkait untuk mendiskusikan dan menerima
masukan-masukan melalui diskusi.
6

POKJA PuTKP mempunyai peluang besar untuk dapat eksis dalam dunia
advokasi, hal itu terbukti dengan adanya komitmen pemerintah tentang
adanya UU NO. 14 tahun 2008 tentang Keterbbukaan Informasi Publik.
Serta komitmen dunia internasional untuk memberantas kemiskinan dan
menerapkan prinsip-prinsip good governance bagi negara-negara anggota
PBB.

B. Saran-saran
1. Dalam rangka mewujudkan cita-cita good governance, hendaknya
pemerintah Propinsi Jawa Tengah membuka diri dalam menerima
masukan dari masyarakat, LSM, ataupun ormas, baik dalam rangka
penyusunan APBD ataupun kebijakan-kebijakan publik yang lain.
2. Mengingat tema ini sangat penting dalam pembaruan kehidupan
kebangsaan khususnya dalam penciptaan tata kelola pemerintahan yang
baik (good governance), maka peneliti menyarankan kepada para peneliti,
akademisi dan mahasiswa, untuk melakukan kajian dan penelitian lebih
lanjut tentang tema ini. Penelitian tentang tema ini akan lebih signifikan
dan valid jika didahuli dengan penelitian lapangan, berkaitan dengan
kebutuhan riil pelaksanaan good governance dan implikasi sosial yang
ditimbulkan oleh setiap kebijakantersebut. Kebutuhan akan hasil kajian
ilmiah akan sangat penting untuk dijadikan referensi terutama bagi para
pengambil kebijakan dan penggenggam rezim.

67

C. Penutup
Dengan terselesainya penulisan skripsi ini dari bab pertama sampai
bab terakhir, berarti terselesailah sudah kewajiban bagi penulis untuk
membuat skripsi sebagai salah satu syarat mendapatkan gelar sarjana. Tiada
kata yang lebih sakral penulis ucapkan selain kata alhamdulillah. Segala puji
dan syukur kepada Allah SWT yang telah memberi taufik serta hidayah-Nya
kepada penulis, sehingga bisa menyelesaikan skripsi ini walaupun jalan terjal
dan curam kadang kala melintang. Sebagai manusia biasa, penulis yakin,
kekurangan, kesalahan dan ketidak sempurnaan masih terdapat di sana-sini.
Untuk itu, kritik dan saran yang membangun senantiasa penulis harapkan guna
demi perbaikan-perbaikan ke depan.
Harapan besar penulis, penelitian ini mampu memberikan setitik
cayaha di kegelapan serta memberikan setetes air di gurun pasir, sehingga
keberadaan tulisan ini walaupun jauh dari harapan, mampu memberikan
manfaat bagi siapapun yang memberikan.
Akhirnya hanya Allahlah SWT sajalah dzat yang maha sempurna di
atas segala-galanya, dan semoga penelitian ini dapat diterima sebagai amal
kebaikan. Amin

68

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Rineka


Cipta, Jakarta, 1997.
Azra, Azyumardi. Islam, Good Governance dan pengentasan kemiskinan:
Kebijakan pemerintah, Kiprah Kelompok Islam dan Potret Gerakan
Inisiatif ditingkat Lokal. Maarif Institut For Culture and Humanity.
Jakarta; 2007
Dawam, Rozikin., Membidik Nu (Delima Percaturan NU Pasca Khittah).
Gama Media. Yogyakarta: 2001
Draft manual praktis memahami APBD bagi Ulama. Oleh: PP Lakpesdam
NU , Jakarta: 2007
Echols, John M. Kamus Inggris Indonesia, PT. Gramedia, Jakarta: 2005
Elvandi, Muhammad. Inilah Politikku. PT. Era Adicitra Intermedia, Solo:
2011
Faisal Bakti, Andi. Islam, Negara & Civil Society Gerakan dan Pemikiran
Islam Kontemporer. Paramadina, Jakarta: 2005
Farhan, Ahmad Hamid Dkk, Konsep, Strategi dan Implementasi Good
governance dalam Pemerintah. IRJEN DEPAG RI. Jakarta: 2007.
Farhan, Hamid Ahmad, dkk. Konsep, Strategi, dan Implementasi Good
Governance dalam Pemerintahan.Irjen Depag RI, Jakarta: 2007
Hasan, Iskandar. Peran dan Funsi Pengawasan dalam Perwujudan Good
Governance. Irjen Depag RI, Jakarta: 2007
Hidayat, Komaruddin. dkk. Pendidika Kewarganegaraan (civic Education):
Demokrasi, Hak Asasi Manusia dan Masyarakat Madani.Cet III.
ICCE. Jakarta: 2007.
Kencana, Inu Syafiie. Etika Pemerintahan. PT Rineka Cipta, Jakarta: 1994
Krina P, Loina Lalolo. Indikator & Alat Ukur Prinsip Akuntabilitas,
Transparansi & Partisipasi. Jakarta: 2003

69

Majid, Nurcholish. Indonesia Kita. PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta:


2003
Martini, Dwi. Konsep, Strategi dan Implementasi Good governance dalam
Pemerintahan. IRJEN DEPAG RI, Jakarta: 2007.
Maurizio, Passerin dEntreves. Filsafat politik Hannah Arendt. CV. Qolah.
Yogyakarta: 2003
Nawawi, Hadari H. dan Hadari, Martini H.M., Instrumen Penelitian Bidang
Sosial, Gajah Mada University Press, Yogyakarta, 1999
Nurdin, Ali. Quranic Society: menelusuri Konsep masyarakat Ideal dalam
al-Quran. PT. Gelora Aksara Pratama: 2006
Rosyada, Dede Dkk, Pendidikan Kewagaan (Civic Education): demokrasi,
Hak Asasi Manusia dan Masyarakat Madani. Edisi Revisi. ICCE UIN
Syarir Hidayatullah. Jakaarta: 2003
Rosyada, Dede. Demokrasi HAM dan masyarakat madani. ICCE UIN
Jakarta. Jakarta: 2003
Rouf Abdul. NU dan Civil Islam di Indonesia, Intimedia, Jakarta: 2009
Santosa, Ahmad. Good governance Hukum Lingkungan. ICEL. Jakarta: 2001
Sedarmayanti, Dra. M. Pd. Good Govenance (kepemerintahan yang baik)
Bagian. II. CV. Mandar Maju. Bandung: 2004
Setiawan, Zudi. Nasionalisme NU. CV. Aneka Ilmu, Semarang: 2007
Shihab, M. Quraish. Tafsir al-Misbah (Pesan Kesan dan keserasian alQuran), Volume 12. Lentera Hati, Jakarta: 2002
Subagyo, P. Joko. Metode Dalam Teori Dan Praktek, Rineka Cipta, Jakarta,
Cet. I, 1991,
Sudarto, Metodologi Penelitian Filsafat, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta,
2002
Sunaryo, Implementasi Good governance dan Clean Governance dalam
Penyelenggaraan Pemerintahan. Irjen Depag RI. Jakarta: 2007
surbakti, Ramlan. memahami ilmu politik. PT Gramedia Widia Saarana
Indonesia. Jakarta: 1992

68

70

Suriasumantri, Jujun S. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Pustaka


Sinar Harapan, Jakarta, 1993
Surya, Sumardi Brata, Metode Penelitian, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta,
1995
Thoha, Miftah, MPA, Birokrasi dan Politik di Indonesia, PT. Raja Grafindo
Persada, jakarta 2003
Thoha, Miftah. Birokrasi dan politik di Indonesia. Cet. II, Rajalai press.
Jalarta: 2003
Tim Redaksi, Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa
Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1994)
Topatimasang, Roem. Mengubah Kebijakan Publik. Cet II. INSIST Press.
Yogyakarta: 2005
Walidl, Abdul, Mendahulukan si Miskin, LkiS, Yogyakarta: 2008
Wianrto, Budi. Kebijakan Publik (Teori dan Proses) Cet II. Med Press.
Yogyakara: 2008

Internet
Kencana, Inu Syafii. Prinsip dasar good governance. Dalam artikel on Line:
www.transparansi.or.id. Tanggal 8 November 2011
Riyanto, Agus. kebijkan pertanian Jawa Tengah. Dalam artikel on line:.
http://putkpnujateng.blogspot.com/2010/04. Tanggal 15 November
2011

Dokumen
Arsip-arsip POKJA PuTKP PWNU Jateng

Wawancara
Wawancara dengan Agus Riyanto pada tanggal 10 Noveber 2011
Wawancara dengan Agus Riyanto pada tanggal 16 Noveber 2011
Wawancara dengan H. Muhammad Adnan pada tanggal 18 Noveber 2011
Wawancara dengan KH. Ubaidillah shodaqoh pada tanggal 14 Noveber 2011