Anda di halaman 1dari 31

BAB III

PEMBAHASAN
3.1.

Berbagai Macam Faktor Kegagalan Perawatan Gigi Tiruan Tetap


A. Perasaan tidak nyaman (discomfort )
Perasaan tidak nyaman saat menggunakan GTJ dapat ditimbulkan karena
adanya :
1. Kontak prematur oklusi yang tidak sesuai
2. Penimbunan sisa makanan di bagian retainer ataupun pontik (pada
celah celah gigi atau embrasur)
3. Tekanan yang terlalu berat atau tidak ada kontak
4. Penyemenan yang dilakukan pada GTJ yang kurang tepat dapat
mengakibatkan tarikan atau dorongan pada gigi penyangga.
5. shock termis maupun rasa sakitpada daerah servikal gigi
B. GTJ lepas dari gigi penyangga
GTJ yang terlepas dari penyangga dapat terjadi karena :
1. Torsi atau ungkitan
2. Kesalahan teknik penyemenan (bahan semen yang kurang baik atau
3.
4.
5.
6.
7.

pengadukan yang kurang sempurna)


Terlarutnya semen karena terbukanya tepi restorasi
Gigi penyangga goyah
Gigi penyangga mengalami karies
Kesalahan dalam pemilihan retainer
Restorasi tidak akurat

C. Hilangnya facing (porcelen)


Hilangnya facing atau lapisan estetik dapat disebabkan karena :
1. Kurangnya retensi
2. Perubahan bentuk dari kerangka logam
3. Maloklusi
4. Pengolahan bahan pelapis yang salah dan keausan bahan
Hilangnya facing ini dapat diperbaiki dengan cara :
a. Retainer atau pontik. Apabila facing telah terkikis atau hilang,
sebaiknya oklusi diperiksa dengan cermat. Malam untuk mengganti
bagian yang hilang dapat membantu memperlihatkan gangguan oklusi
yang terjadi. Komposit merupakan bahan utama untuk perbaikan
tambahan dan tersedia screw pin repair kit.
b. Hanya pontik. Kadang kadang rangka pontik yang ada dapat diasah
menjadi bentuk bar yang bebas dari gigi oklusi sekurang kurangnya

1 mm. Kemudian dibuat mahkota lapis porcelen dengan kunci yang


melewati mesial ke distal yang tepat masuk pada bar dan disemen
dengan semen fosfat. (Allan, dkk., 1994).
D. Kegagalan mekanis
Kegagalan mekanis anatara lain dapat disebabkan karena fraktur konektor
dan retainer yang longgar.
1. Fraktut konektor
Rangka jembatan atau konektor yang kaku seperti pertutan yang
disolder dapat patah. Mobilitas tiap bagian akan menyebabkan kegagalan
tersebut, tetapi perlu diperiksa juga gangguan oklusi dengan palpasi jari
(selagi oklusi), kertas artikulasi, atau malam indicator oklusal. Untuk
memperbaiki hal ini, mungkin jemabatan harus dibuat kembali

2. Retainer yang longgar


Jika salah satu retainer longgar pada abutment, kemungkina hal ini
telah dirasakan penderita, atau jika gigi abutment vital, mungkin penderita
meras tidak enak, karena adanya kebocoran cairan. Jembatan dpata
digerakkan secara manual ke atasa dan ke bawah, dan terlihat saliva keluar
masuk pada sambungan. Maslah ini memerlukan pengeluaran jembatan
dan analis kegagalan (Allan, dkk., 1994).
E. Karies pada abutment (gigi penyangga)
Mungkin penderita tidak menyadarai adnya karies dibawah retainer.
Pemeriksaan dilakukan pada semua jembatan dengan mencari adanya
lubang di retainer logam dan dilakukan sondasi untuk menemukan karies
yang sering terjadi. Juga sebagaimana biasa, perlu dilakukan sondasi
disekeliling tepi perifer semua retainer. Kadang kadang tambalan
servical cukup dalam mengatasi masalah ini, terutamapada karies dpat
terlihat, tetapi biasanya jembatan memerlukan preparasi untuk jalan masuk
(Allan, dkk., 1994).

Karies pada abutment ini disebabkan karena :


a. Tepi retainer yang terlalu panjang
b. Tepi retainer terbuka
c. Kerusakan atau keausan pada retainer
d. Oral hygiene yang buruk
e. Kesalahan pemilihan retainer
F. Pulpa (Endodontik)
Perawatan endodontik

mungkin

diperlukan

pada

gigi

yang

sebelumnya vital sewaktu jembatan dibuat. Sebaliknya, jika struktur gigi


masih sehat, seringkali dimungkinkan untuk melakukan perawatan
endodontik dengan baik, melalui jalan masuk kavitas pada retainer
jembatan (dan bahkan digunakan pasak penguat bila diinginkan). Jika
terjadi nekrosis pulpa karena karies, jembatan perlu dikeluarkan dnan
dilakuakan pembuangan semua jaringan karies (Allan, dkk., 1994).
G. Struktur pendukung (periodontik)
Sebaiknya hal ini ditelusuri dalam hubungannya dengan keadaan umum
periodontal. Jika baik, berarti jembatan menahan beban terlalu besar
karena oklusi taumatis atau kekuatan yang tidak memadai pada pemilihan
gigi gigi abutment. Biasanya perlu mencari tamabahan gigi gigi
abutment yang lebih sesuai atau mempertimbangkan protesa lepasan
(Allan, dkk., 1994).
3.2. Perawatan Lanjutan pada Kasus Kegagalan Gigi Tiruan Tetap
A. Perawatan bahan
Syarat-syarat bahan secara umum adalah memiliki aspek:
1. Biologis
Non iritan
Non toksik
Kariostatik
2. Kelarutan
Bahan tersebut harus tahan terhadap saliva ( tidak larut dalam
saliva)
3. Mekanis
Memiliki daya tahan abrasi yang baik
Modulus elasticitysama dengan enamel dan dentin
4. Sifat termis
Koefisien muai panas sama dengan enamel dan dentin.

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Kehilangan gigi dapat disebabkan oleh karies, trauma,

penyakit periodontal atau atrisi yang berat. Kehilangan gigigeligi


dapat menimbulkan berbagai dampak, yaitu dampak fungsional,
sistemik dan emosional. Dampak fungsional yaitu berkurangnya
kemampuan mengunyah, menggigit serta berbicara. Dampak
sistemik

berupa

penyakit

sistemik

seperti

defisiensi

nutrisi,

osteoporosis dan penyakit kardiovaskular, akibat status kesehatan


gigigeligi yang buruk dan perubahan pola konsumsi. Dampak
emosional kehilangan gigigeligi menyebabkan berkurangnya rasa
percaya diri sehingga dapat mengakibatkan keterbatasan aktivitas.
Untuk dapat mengembalikan fungsi tersebut maka dibuatkan gigi
tiruan yang dapat menggantikan gigi yang hilang. Gigi tiruan
adalah suatu protesa yang berfungsi untuk menggantikan sebagian
atau seluruh gigi asli yang hilang dan digunakan pada rahang atas
maupun rahang bawah.

Gigi tiruan dapat dibagi menjadi dua macam yaitu gigi tiruan
lepasan (GTL) dan gigi tiruan cekat (GTC). Gigi tiruan lepasan terdiri atas
gigi tiruan penuh (GTP) dan gigi tiruan sebagian lepasan (GTSL). Gigi tiruan
cekat (GTC) adalah gigi tiruan jembatan. Pemilihan jenis gigi tiruan yang
dibutuhkan oleh seorang pasien disesuaikan dengan jumlah elemen gigi yang
hilang, kondisi jaringan pendukung gigi tiruan, lokasi gigi yang hilang, usia
pasien, kesehatan sistemik pasien, keinginan dan kebutuhan pasien. Gigi
tiruan jembatan adalah gigi tiruan yang mengganti satu atau lebih gigi yang
hilang, dan dilekatkan ke satu atau lebih gigi asli atau akar gigi yang
bertindak sebagai penyangga. Jembatan dapat terlepas setelah dipasangkan
beberapa lama di dalam rongga mulut. Terlepasnya jembatan dapat
disebabkan karena perubahan bentuk retainer, gigi penyangga yang goyah,

terlarutnya semen, kesalahan dalam pemilihan retainer, karies, dan bentuk


preparasi yang kurang memberikan retensi bagi retainer.
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penulis bermaksud
untuk membahas faktor kegagalan gigi tiruan jembatan serta penatalaksanaan
dari kegagalan gigi tiruan jembatan.

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas dapat dirumuskan masalah

sebagai berikut :
1

Apa saja faktor kegagalan gigi tiruan jembatan?

Bagaimana evaluasi kegagalan pada gigi tiruan jembatan?

Bagaimana rangkaian penatalaksanaan secara kompleks dari kegagalan


gigi tiruan jembatan?

Bagaimana upaya pencegahan kegagalan gigi tiruan jembatan?

Tujuan
Tujuan dari penulisan ini adalah sebagai berikut :

Mampu memahami dan menjelaskan faktor kegagalan dari gigi tiruan


jembatan.

Mampu memahami dan menjelaskan evaluasi kegagalan pada gigi tiruan


jembatan.

Mampu memahami dan menjelaskan rangkaian penatalaksanaan secara


kompleks dari kegagalan gigi tiruan jembatan.

Mampu mengetahui dan menjelaskan pencegahan kegagalan gigi tiruan


jembatan.

Manfaat
Manfaat yang diharapkan dari penulisan laporan tutorial ini adalah

dapat melengkapi informasi tentang faktor kegagalan gigi tiruan jembatan serta
penatalaksanaan dari kegagalan gigi tiruan jembatan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Gigi Tiruan Jembatan


2.1.1 Definisi
Gigi tiruan jembatan adalah gigi tiruan yang menggantikan
kehilangan satu atau lebih gigi-geligi asli yang dilekatkan secara permanen
dengan semen serta didukung sepenuhnya oleh satu atau beberapa gigi,
akar gigi atau implan yang telah dipersiapkan.
2.1.2 Tujuan Pemakaian
Kegunaan pemakaian gigi tiruan jembatan antara lain:
1

Memperbaiki penampilan
Pada pasien dengan kehilangan gigi, terutama gigi anterior,
tentu saja penampuilan harus diperhatikan.

Kemampuan mengunyah
Banyak pasien tidak bisa makan dengan baik karena
banyaknya gigi yang hilang.

Stabilitas Oklusal

Stabilitas oklusal dapat hilang karena adanya gigi yang


hilang. Kehilangan gigi dapat menyebabkan gigi disekitarnya
ekstrusi, migrasi dan merusak stabilitas oklusi pasien.
4

Memperbaiki pengucapan
Kehilangan

gigi

insisivus

atas

dapat

menganggu

pengucapan seseorang.
5

Sebagai splinting periodontal


Kehilangan gigi dapat menyebabkan gigi tetangganya
goyang, jadi gigi tiruan jembatan dapat berfungsi juga sebagai
splinting.

Membuat pasien merasa sempurna


Pasien percaya

jika penggunaan gigi tiruan dapat

memberikan banyak keuntungan terhadap kesehatannya secara


umum.
2.1.3 Indikasi dan Kontra Indikasi
Adapun indikasi dari pemakaian gigi tiruan jembatan, adalah
sebagai berikut :
1

Kehilangan satu atau lebih gigi

Kurangnya celah karena pergeseran gigi tetangga ke daerah


edentulus

Gigi di sebelah daerah edentulus miring

Splintbagi gigi yang memiliki ketebalan email yang cukup untuk


dietsa.
Adapun kontraindikasi dari pemakaian gigi tiruan jembatan adalah
sebagai berikut :

Pasien yang tidak kooperatif

Kondisi kejiwaan pasien kurang menunjang

Kelainan jaringan periodonsium

Prognosis yang jelek dari gigi penyangga

Diastema yang panjang

Kemungkinan kehilangan gigi pada lengkung gigi yang sama

Resorbsi lingir alveolus yang besar pada daerah anodonsia.

2.1.4 Komponen Gigi Tiruan Jembatan


Adapun komponen dari gigi tiruan jembatan adalah sebagai
berikut:
1

Retainer
Retainer merupakan bagian dari gigi tiruan jembatan yang
menghubungkan gigi tiruan tersebut dengan gigi penyangga. Retainer
berfungsi untuk memegang/menahan (to retain) gigi tiruan agar tetap
stabil di tempatnya serta menyalurkan beban kunyah (dari gigi yang
diganti) ke gigi penyangga.

Konektor
Konektor adalah bagian yang mencekatkan pontik ke retainer.
Konektor dapat berupa sambungan yang disolder, struktur cor (alumina
derajat tinggi, jika terbuat dari porselen seluruhnya).

Pontik
Pontik merupakan bagian dari gigi tiruan jembatan yang
menggantikan

gigi

asli

yang

hilang

dan

berfungsi

untuk

mengembalikan fungsi kunyah dan bicara, estetis, rasa nyaman, serta


mempertahankan hubungan antar gigi tetangga untuk mencegah
migrasi atau hubungan gigi tersebut dan ektrusi gigi lawan.
4

Penyangga (abutment)
Abutment adalah gigi penyangga dapat bervariasi dalam
kemampuan untuk menahan gigitiruan cekat dan tergantung pada
faktor-faktor seperti daerah membran periodontal, panjang serta jumlah
akar.

2.2 Dampak Desain Gigi Tiruan Jembatan yang Buruk

Desain gigitiruan yang tidak memenuhi syarat dapat menimbulkan


pengaruh buruk pada beberapa jaringan di rongga mulut, terutama pada
jaringan gingiva, misalnya :
1

Tidak adanya rest, dan rest yang jelek atau patah karena preparasi yang
tidak cukup, umumnya dapat mengakibatkan migrasi dari komponenkomponen logam ke apikal sehingga terjadi gingivitis hiperplasia. Jika
migrasi dibiarkan berlanjut, maka dapat terjadi dehiscence dan penetrasi
akar..

Celah antara lengan cengkram dan tepi gingiva menyebabkan makanan


terperangkap dan meningkatkan kemungkinan besar pembusukan makanan
dan gingivitis.

Penempatan cengkram atau konektor yang terlalu cepat ke tepi gingiva.

Adanya penimbunan sisa makanan diantara pinggiran basis gigitiruan dan


gigi alami. Timbunan sisa makanan akan mendorong tepi gingiva keluar
dari perlekatannya terhadap inflamasi jaringan akibat toksin yang dibentuk
oleh mikroorganisme yang berinkubasi.

Penekanan atau penutupan basis yang terlalu menekan pada tepi gingiva
dapat mengakibatkan trauma mekanik, respon inflamasi dan jika dalam
keadaan kronik, dapat mempercepat terbentuknya poket.

Kontrol plak yang kurang dari pasien

Kurangnya perawatan di rumah, baik pada kebersihan gigitiruan cekat


maupun

kebersihan

mulut

yang

menyebabkan

respon

tidak

menguntungkan karena makanan terperangkap. Dengan berkurangnya


perawatan di rumah, maka masalah jaringan periodontal sering mengikuti
gingivitis dan karies gigi.
8

Konstruksi GTC yang tidak benar mempengaruhi kondisi kesehatan


rongga mulut, menghambat kemampuan saliva sebagai self-cleaning,
trauma mekanis pada gingiva, mengalami kesulitan dalam membersihkan
rongga mulut yang dapat menimbulkan bau mulut.

BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Faktor Kegagalan Gigi Tiruan Jembatan


3.1.1 Faktor Biologis
1. Karies pada gigi penyangga
Karies pada gigi penyangga merupakan kegagalan biologis
yang paling umum. Karies dapat mempengaruhi jembatan dalam
beberapa cara, baik secara langsung pada margin dari retainer atau
tidak langsung dengan di tempat lain pada gigi dan menyebar ke
permukaan casting atau mungkin disebabkan karena kegagalan
sementasi.
Penyebab :
1

Tepi retainer yang terlalu panjang

Tepi retainer yang terbuka

Kerusakan atau keausan pada retainer

Oral hygiene yang buruk

Kesalahan pemilihan retainer


Pemeriksaan :

Pemeriksaan visual (diskolorasi di sekitar margin)

Melakukan sondasi pada retainer dengan eksplorer yang tajam

Radiografi pada karies interproksimal


Penatalaksanaan
1

Apabi lesi karies kecil maka dapat dilakukan prosedur konservatif

Lapian emas adalah pilihan bahan yang tepat untuk karies pada
margin

Pada daerah dengan akses yang terbatas, amalgam lebih dipilih


daripada emas karena marginal seal jangka panjang

Pada area yang membutuhkan estetik dapat digunakan glass


ionomer

Apabila karies terletak di proksimal, protesa harus dilepas untuk


meningkatkan akses. Apabila lesi kecil maka dilakukan perluasan
untuk mengambil jaringan kariesnya kemudian ditumpat dengan
menggunakan amalgam.

2. Degenerasi pulpa
Saat pemeriksaan pasien mengeluhkan adanya sensitivitas
pada gigi abutment pasca insersi gigi tiruan jembatan, rasa sakit spontan
atau kelainan periapikal yang terdeteksi pada gambaran radiografi.
Penyebab:
4

Panas yang berlebih pada saat preparasi

Pengurangan gigi yang berlebihan

Trauma oklusal

Keterlibatan semen
Penatalaksanaan

Membuat perforasi dan direstorasi dengan gold foil atau amalgam

Apabila retainer logam menjadi longgar atau terjadi fraktur porselen maka
dilakukan pembuata protesa baru

10

Dilakukan perawatan endodontic untuk mengembalikan kualitas


kuantitas truktur gigi untuk pendukung dan retensi dari protesa.

dan

Kerusakan jaringan periodontal


Pemeriksaan

klinis

menunjukkan

adanya

resesi

gingiva,

keterlibatan daerah furkasi, pembentukan poket, dan kegoyangan gigi.


Halini dapat berupa kerusakan periodontal yang menyeluruh di rongga
mulut yang mungkin berhubungan dengan drifting gigi atau mungkin
terlokalisasi pada abutment jembatan.
Penyebab :
11

Instruksi tidak adekuat pada prosthesis hygiene atau pasien dengan


implementasi rendah

12

Protesa yang menghalangi oral hygiene yang baik

Adaptasi marginal buruk

Permukaan axial over kontur

Konektor terlalu besar sehingga membatasi embrasur pada servikal

Kontak pontik yang besar pada puncak edentolous

Protesa dengan permukaan yang kasar sehingga menyebabkan akumulasi


plak

13

Trauma oklusi

14

Jumlah gigi abutment kurang


Penatalaksanaan

15

Apabila penyakit periodontal ringan hingga sedang dilakukan scaling dan


root planning serta kontroll plask

16

Apabila penyakit periodontal sedang hingga berat dilkukan bedah flap,


bone graft, dsb.

17

Occlusal adjustment

18

Apabila prognosis dari gigi abutment menurun, maka gigi tersebut harus
dicabut

Masalah oklusal
Kegagalan gigi tiruan jembatan yang berhubungan dengan masalah
oklusal dapat ditandai dengan adanya facet yang besar, kegoyangan gigi,
rasa nyeri pada saat di perkusi, kontak yang terbuka, fraktur cusp, dan
keterlibatan nyeri pada otot-otot pengunyahan.
Penatalaksanaan

19

Kontak oklusal yang sentrik dan eksentrik dapat menyebabkan egoyangan


gigi. Apabila dapat terdeteksi secara dini, hal ini dapat dihilangkan dengan
cara occlusal adjustment

20

Pada pasien dengan kebiasaan buruk bruxism, maka dibuatkan night guard
atau occlusal splint.

21

Ketidanyamanan neuromuscular berhubungan dengan oklusi yang salah


dalam kegagalan gigi tiruan cekat dapat diatasi dengan cara membentuk
kembali kontak giginya

Perforasi gigi
Lubang pasak atau pasak yang digunakan dalam restorasi dengan pin
retained yang teletak salah dapat menyebabkan perforasi lateral.

22

Apabila perforasi terletak lebih ke oklusal ligamen periodontal, maka


preparasi diperluas untuk menutupi defek.

23

Apabila perforasi meluas ke ligamen periodontal maka dilakukan bedah


periodontal untuk menghaluskan atau menempatkan restorasi pada area
perforasi.

24

Appabila area tersebut tidak dapat diakses maka gigi tersebut harus
diekstraksi.

Intrusi gigi pendukung


Intrusi gigi pendukung dapat terjadi karena perubahan yang terjadi dimana

posisi gigi pendukung menjauhi bidang oklusal.

3.1.2 Kegagalan mekanis


1. Kehilangan retensi
Hal ini terjadi akibat pengaruh beban oklusi yang tidak
seimbang pada bagian lain dari gigi tiruan jembatan. Retainer yang
longgar menyebabkan kerusakan yang cepat dari gigi abutment. Pasien
mungkin menyadari kelonggaran atau sensitivitas terhadap suhu atau
permen. juga mungkin ada rasa tidak enak yang berulang dan bau, yang
harus dibedakan dari gejala serupa yang disebabkan oleh kebersihan
atau periodontal masalah mulut yang buruk.
Penatalaksanaan :
25

Apabila retainer menjadi longgar, gigi tiruan jembatan harus dilepas


sehingga gigi abutment dapat dievaluasi.

26

Apabila restorasi dapat dilepas dari gigi yang dipreparasi tanpa kerusakan
dan tidak ada karies, maka penyemenan kembali dapat dilakukan. Prosedur
penyemenan yang salah, seperti kontaminasi dengan pelembab atau ruang
kosong pada semen meningkat mungkin dapat menyebabkan masalah.
2. Fraktur konektor
Rangka jembatan atau konektor yang kaku seperti patutan
yang disolder dapat patah. Mobilitas tiap bagian akan menyebabkan
kegagalan tersebut, tetapi perlu diperiksa juga gangguan oklusi dengan
palpasi jari, kertas artikulasi, atau malam indikator oklusal.
Penatalaksanaan :

Fraktur konektor sulit untuk dideteksi pada gigi penyangga


dengan tanpa mobilitas. Wedges ditempatkan di bawah konektor
untuk memisahkan komponen gigi tiruan jembatan untuk
memastikan diagnosis. Kadang-kadang inlay seperti preparasi
Dovetail dapat dikembangkan dalam logam untuk menjangkau
lokasi fraktur dan casting dapat disemen untuk menstabilkan
prostesa.

Jika hal ini tidak mungkin dan pembuatan ulang tidak dapat
dengan cepat dicapai, konektor tersebut harus dihilangkan dengan
memotong melalui konektor utuh. Gigi tiruan sebagian lepasan
sementara dapat diinsersikan untuk menjaga ruang yang ada dan
memenuhi persyaratan estetika.

Akan lebih baik bila memungkinkan untuk menggabungkan beberapa


satuan jembatan dengan menyolder sendi pada tengah pontics sebelum
porselen ditambahkan. Hal ini dapat memberikan luas permukaan yang
lebih besar untuk sendi yang disolder dan juga diperkuat oleh porselen
penutup.

3. Fraktur gigi
1

Fraktur koronal
Fraktur koronal dapat disebabkan karena karies pada gigi
abutment. Fraktur juga dapat disebabkan karena preparasi gigi
yang berlebihan sehingga menyebabkan struktur gigi tidak
mampu untuk menahan beban oklusal.
Penatalaksanaan :

Apabila defek kecil dapat direstorasi dengan amalgam, gold foil, atau
resin.

Apabila terdapat fraktur koronal yang besar di sekeliling retainer, maka


dibuatkan ful coverage retainer.

Apabila fraktur menyebabkan terbukanya pulpa, maka dilakukan


perawatan endodontic.

27

Fraktur akar
Fraktur akar sering terjadi pada gigi yang mengalami
trauma. Fraktur juga dapat terjadi selama perawatan endodontik
akibat preparasi yang berlebihan. Apabila fraktur akar terletak jauh
dibawah tulang alveolar, maka harus diekstraksi dan dibuatkan
protesa baru.

Fraktur porselen
Fraktur porselen terjadi baik dengan logam keramik dan
restorasi all ceramic. Sebagian besar fraktur porcelain fused to metal
dapat dikaitkan dengan karakteristik desain yang tidak tepat dari
kerangka logam atau masalah yang berhubungan dengan oklusi.
Restorasi all ceramic umumnya gagal karena kekurangan dalam
preparasi gigi atau adanya gaya oklusal yang berat. Sudut yang tajam
atau sudut tajam atau daerah yang sangat kasar dan tidak teratur di

atas area pelapisan bertindak sebagai titik konsentrasi tegangan yang


menyebabkan penjalaran retak dan patah keramik. Pengecoran logam
yang terlalu tipis tidak cukup mendukung porselen, sehingga lentur
dan patah pada porselen. porselen yang tidak didukung oleh logam
dalam porcelain fused to metal mungkin patah karena kegagalan
kohesif dalam porselen. Penanganan yang tidak tepat dari alloy selama
pengecoran, finishing atau aplikasi dari porselen dapat menyebabkan
kontaminasi logam.
Penatalaksanaan :
28

Metode terbaik adalah membuat protesa baru.

29

Bahan resin sering digunakan untuk membangun kembali bentuk porselen


di daerah dimana fraktur terjadi, memadai untuk pencocokan warna yang
baik dapat dicapai. Retensi dari material ini umumnya dengan mechanical
interlocking, apabila diletakkan pada gigi dengan tekanan kunyah yang
besar seringkali mengalami kegagalan.

30

Apabila fraktur disebabkan karena tekanan oklusal yang besar, bagian


yang berkontak dengan gigi tersebut dihindarkan mada metal-ceramic
junction dan harus 1.5 mm dari junction.

Kegagalan penyemenan
Kegagalan

penyemenan

dapat

disebabkan

karena

melonggarnya retainer karena retensi mekanis yang tidak memadai


sebagai kekuatan adhesi kimia, dan kekuatan kohesif semen yang
terbatas. Kegagalan penyemenan juga dapat terjadi karena teknik
sementasi yang buruk. Semen resin dianggap paling kuat. Namun
kelemahan utama dari semen resin yaitu perembesan H2O yang
menyebabkan peningkatan tekanan pada interface yang bertindak
sebagai ruang hidrolik, yang mengarah ke kegagalan.
3

Gigi tiruan jembatan yang lepas dari penyangga

Gigi tiruan jembatan yang lepas dari gigi penyangga dapat


terjadi karena sebagai berikut :
31

Adanya torsi atau ungkitan

32

Kesalahan teknik penyemenan (bahan semen kurang baik atau pengadukan


yang kurang sempurna)

33

Terlarutnya semen karena terbukanya tepi restorasi

34

Gigi penyangga goyang

35

Gigi penyangga mengalami karies

36

Kesalahan dalam pemilihan retainer

37

Restorasi tidak akurat


3.1.3 Kegagalan estetis
1. Ketidakcocokan warna
Ketidakcocokan warna disebabkan oleh sebagai berikut :

38

Ketidakmampuan operator untuk mencocokkan gigi alami pasien dengan


tersedia warna porselen.

39

Pilihan warna yang tidak memadai karena metamerism.

40

Pengurangan gigi tidak cukup atau kegagalan untuk karena bentuk yang
salah atau desain kerangka yang menampilkan logam.

41

Di samping itu, gigi alami mengalami perubahan warna yang tidak terjadi
dalam porselen, sehingga pencocokan warna tidak dapat diterima.

42

Bentuk margin atau bentuk serviks dari protesa dapat meningkatkan


akumulasi plak, menyebabkan inflamasi gingiva, yang menghasilkan
warna jaringan lunak yang tidak wajar atau bentuk yang estetis tidak dapat
diterima
2. Hilangnya facing (porcelain)

Hilangnya facing atau lapisan estetik dapat disebabkan


karena kurangnya retensi, perubahan dari kerangka logam, maloklusi
dan pengolahan bahan pelapis yang salah serta keausan bahan.

3.2 Evaluasi Kegagalan Gigi Tiruan Jembatan


Setelah GTJ selesai difabrikasi dari laboratorium (belum jadi
sepenuhnya baru backing logam), sebelum dipasangkan pada pasien GTJ ini
perlu dievaluasi terlebih dahulu, terutama pada kualitas backing logam dan
facing porcelainnya (pada tipe PFM), namun jika tidak menggunakan bahan
ini maka tidak perlu dievaluasi. Disini dievaluasi kecekatan GTC, ketepatan
marginal, kontak proksimal, ruang untuk facing, kontak oklusal dan
artikulasi. Jika evaluasinya baik, maka backing logam ini dikembalikan lagi
ke laboratorium untuk dibuatkan facing porselennya. Setelah jadi
sepenuhnya, kembali dilakukan evaluasi pemeriksaan di gigi pasien namun
belum disementasi secara permanen. Evaluasi ini meliputi:
43

Kecekatan ( fitness/self retention ). GTC harus memiliki kecekatan yang


maksudnya saat dipasangkan bisa pas dan tidak jatuh saat dipasang di
gigi hasil preparasi dan mampu melawan gaya-gaya ringan yang
berlawanan dengan arah insersi tanpa sementasi.

44

Marginal fitness & integrity. Diperiksa pada bagian tepi servikal restorasi
menggunakan sonde half- moon; apakah ada bagian yang terlalu pendek
atau terbuka serta dilakukan pemeriksaan mengelilingi servikal.
Kemudian dilihat juga kondisi gusi, apakah mengalami kepucatan
(menandakan tepi servikal yang terlalu panjang sehingga menekan gusi).
Disini perlu dilakukan pengurangan panjang namun jangan sampai
terlalu pendek yang dapat berakibat terbukanya tepi restorasi.

45

Kontak proksimal. Kontak tidak boleh terlalu menekan, overhanging,


atau overkontur (terlalu ke labial atau lingual atau oklusal). Perhatikan
juga efek dari ACF karena gaya ini sangat berpengaruh terhadap kondisi

inklinasi gigi. Pengecekan dilakukan dengan menggunakan benang gigi


dan dilewatkan di proksimal gigi tetangga ataupun antar GTC. Disini
benang harus mengalami hambatan ringan namun tidak sampai merobek
benang.
46

Stabilitas dan adaptasi ke mukosa gingiva. Merupakan kedudukan pada


gigi penyangga harus tetap dan tepat, sehingga tidak goyang, memutar,
ataupun terungkit meskipun tidak diberi gaya. Untuk masalah faktor
ungkit umumnya diperiksa dengan menekan salah satu gigi penyangga.
Adaptasi mukosa tentu perlu karena nantinya GTJ akan menekan gusi
meskipun ringan namun tetap tidak boleh membuat perubahan warna
pada gusi yang dapat berujung pada resesi serta untuk memaksimalkan
efek self cleansing pada daerah embrasurnya.

47

Penyesuaian oklusal. Pemeriksaan dilakukan menggunakan kertas


artikulasi dan diletakan di titik kontak dan titi oklusi dan suruh pasien
menggigit kertas tersebut dalam kondisi oklusi sentris. Hasil yang baik
adalah tidak adanya tanda pada hasil restorasi yang menandakan bahwa
oklusi

sudah

nyaman

dan

tidak

ada

yang

mengganjal

atau

ketidaknyamanan saat beroklusi. Hal ini perlu karena ketidaknyamanan


ini dapat berujung pada gangguan sistem mastikasi.
48

Estetika. Syarat estetis selalu menjadi poin utama dalam setiap restorasi,
khususnya pada masa kini dimana pasien menginginkan restorasinya
sewarna gigi dan seideal mungkin, maka pada bagian yang terlihat saat
tersenyum (anterior dan sebagian kecil posterior) maka restorasi harus
sewarna gigi tetangganya dan harus mengikuti kontur, anatomi, dan
bentuk normal gigi tersebut.

3.3 Rangkaian Penatalaksanaan Gigi Tiruan Jembatan


1. Perawatan bahan
Syarat-syarat bahan secara umum adalah memiliki aspek:

49

Biologis. Bahan hendaknya tidak menimbulkan iritasi, non toksik, dan


kariostatik

50

Kelarutan. Bahan tersebut harus tahan terhadap saliva (tidak larut dalam
saliva)

51

Mekanis. Memiliki daya tahan abrasi yang baik dan momdulus


elastisitasnya sama dengan enamel dan dentin.

52

Sifat termis. Koefisien muai panas sama dengan enamel dan dentin.
Macam-macam bahan gigi tiruan adalah sebagai berikut :

53

All porcelain bridge


Bahan porselen adalah bahan yang sangat populer saat ini.
Kelebihannya adalah pilihan gradasi warna yang sangat estetis dan
permukaannya mengkilat. Bahan porselen sangat sulit dibedakan
dengan gigi yang asli. Kekuatannya lebih besar daripada akrilik
namun tidak sekuat logam. Kekurangan dari bahan porselen ini
bersifat rapuh sehingga tidak dapat diasah dan tidak dapat
diletakkan pada permukaan oklusal gigi belakang. Biasanya juga
digunakan untuk gigi yang memerlukan estetik tinggi. Bahan
porselen ini tidak cocok digunakan pada pasien dengan kebiasaan
buruk bruxism karena gesekan yang terus menerus dengan gigi
antagonisnya akan menyebabkan porcelain cepat pecah.

54

All acrylic bridge


Bahan akrilik

biasanya digunakan untuk pembuatan

mahkota jaket sementara (menunggu mahkota jaket permanen).


Bahan akrilik biasanya dikombinasikan dengan logam karena sifat
bahan akrilik tidak kuat menahan beban kunyah. Kelebihan dari
bahan akrilik warnanya dapat disesuaikan dengan gigi asli, namun
mudah berubah warnyanya. Harganya pun murah tetapi tampilan
menarik. Kontraindikasi dari bahan ini adalah tidak digunakan

pada gigi yang memiliki beban kunyah yang besar karena


kekerasan akrilik hanya 1/16 kekerasan dentin. Gigi tiruan yang
menggunakan bahan ini juga tidak cocok digunakan pada
penderita dengan bruxism.
55

All metal bridge


Gigi tiruan permanen yang terbuat dari logam atau emas
mempunyai kekuatan yang sangat bagus bahkan dapat bertahan
sampai bertahun-tahun, keuntungan yang lain adalah logam dan
emas tidak korosif dan tidak berkarat. Tetapi gigi tiruan dari bahan
logam dan emas tampilan warnanya sangat berbeda dengan gigi
asli.

Biasanya

kontraindikasinya

diindikasikan
adalah

gigi

pada

gigi

abutment

posterior
yang

dan

digunakan

mempunyai ketebalan dentin yang kecil.


56

Porcelain fused to metal


Porcelain fused to metal adalah jenis hibrida antara
mahkota logam dan mahkota porselen. Mereka terutama dipilih
untuk gigi depan tetapi tidak menutup kemungkinan juga
digunakan pada gigi posterior. Porcelain fused to metal ini lebih
kuat dari all porcelain bridge. Meskipun porcelain fused to metal
dipilih untuk penampilan yang sangat baik karena keestetikannya,
ada beberapa kelemahan utama yang terkait dengan logam yang
menyatu di dalamnya. Kelemahan porcelain fused to metal adalah
ketidaknyamanan gigi akibat sensitive terhadap panas dan dingin.
Hal ini disebabkan karena gigi masih vital dan logam merupakan
konduktr termal yang baik. Selain itu, ada beberapa kasus dimana
permukaan

mahkota

antagonisnya.
57

In ceram (keramik bridge)

menimbukan

keausan

pada

gigi

Terbuat dari porselen alumina yang sangat kuat. Memiiki estetika


yang sangat baik dan cukup kuat untuk dapat di semen den semen
gigi konvensional.
1

Spinell. Porselen spinel digunakan untuk anterior unt tunggal yang


memerlukan estetika dan translusensi yang baik.

Alumina. Porsselen alumina digunakan untuk posterior unit tunggal dan


kasus anterior, dan sampai restorasi 3 unit jembatan.

Zirkonia. Zirkonia porselen digunakan untuk posterior tunggal dan kasus


anterior, dan sampai restorasi 5 unit jembatan.
2. Perawatan pendahuluan
Perawatan pendahuluan adalah tindakan yang dilakukan
terhadap

gigi,

jaringan

lunak

maupun

keras,

dalam

rangka

mempersiapkan mulut untuk menerima gigitiruan. Keberhasilan atau


gagalnya gigitiruan sebagian lepasan tergantung pada beberapa faktor
diantarnya meliputi:
1

Kondisi mulut pasien

Keadaan periodontal gigi yang dipilih

Prognosa gigi tersebut.


Tujuan perawatan pendahuluan selain untuk mengadakan
sanitasi mulut, juga untuk menciptakan kondisi oklusi normal, yang
menjamin kesehatan gigi dan jaringan pendukungnya.
Usaha mempersiapkan mulut untuk menerima gigitiruan ada 2
(dua) hal penting yang harus diperhatikan, yaitu:

Pemeriksaan mulut, gigi geligi dan jaringan mulut lainnya.

Usaha mempersiapkan gigi dan mulut dalam menerima gigitiruan.


Perawatan pendahuluan meliputi:
1

Tindakan yang berhubungan dengan perawatan bedah

Umumnya pembedahan mencakup jaringan keras dan


jaringan lunak yang memerlukan waktu penyembuhan yang cukup
sebelum pembuatan gigi tiruan. Makin lama jarak waktu
pembedahan dengan pencetakan makin sempurna penyembuhan
sehingga gigi tiruan lebih stabil.
1

Pencabutan.
Gigi yang akan dicabut harus ditentukan dengan teliti.
Setiap gigi diperiksa apakah cukup penting dan masih dapat
dipertahankan untuk keberhasilan gigitiruan yang akan dibuat
atau harus dicabut. Gigi yang cukup kuat yang akan dijadikan
sandaran dapat dipertahankan sebaliknya gigi yang dapat
menimbulkan kesulitan dalam pembuatan gigitiruan sebaiknya
dicabut.

Penyingkiran sisa akar yang tinggal dan gigi impaksi


Pengambilan sisa akar yang terpenting dapat dilakukan
dari permukaan labial/bukal, atau palatal tanpa mengurangi
tinggi alveolar ridge. Pengambilan gigi yang impaksi dilakukan
sedini mungkin agar dapat mencegah infeksi akut dan kronis.

Kista dan tumor odontogenik


Semua gambaran radiolusen dan radiopak harus
diselidiki. Penderita

harus diyakinkan tentang keadaan

mulutnya yang mempunyai kelainan berdasarkan laporan akhir


patologis.
4

Penonjolan tulang
Penonjolan tulang yang menghalangi pemasangan
gigitiruan harus disingkirkan. Misalnya torus palatinus yang
meluas sampai pada pertemuan palatum mole sehingga
menghalangi adanya posteror palatal seal, torus palatinus yang
sangat

besar

sehingga

memenuhi

palatum

dan

akan

menyebabkan ketidakstabilan gigitiruan, torus palatinus yang


menyebabkan penumpukan debris.
5

Bedah periodontal
Bedah

periodontal dilakukan untuk

mendapatkan

keadaan jaringan yang sehat sebagai pendukung gigitiruan.


Penyingkiran saku gusi dapat dilakukan dengan cara kuretase
dan eksisi surgical. Misalnya gingivectomy, reposisi flap.
2

Tindakan-tindakan yang berhubungan dengan perawatan jaringan


pendukung.
Hal ini berguna untuk mendapatkan jaringan yang sehat pada
gigi yang ada sehingga dapat memberikan dukungan dan fungsi yang
baik untuk gigitiruan, antara lain:

Menghilangkan kalkulus

Menghilangkan pocket periodontal

Melakukan splinting terhadap gigi-gigi yang mobiliti

Memperbaiki tambalan yang tidak baik, seperti tambalan menggantung.

Menghilangkan gangguan oklusal

Tindakan Konservasi
Sebelum

merencanakan

gigitiruan

harus

diketahui

perbaikan yang akurat terhadap gigi-gigi yang ada, antara lain :


1

Penambalan

Pembuatan inlay, dsb

Kedudukan rest

Tindakan-tindakan ortodonti

Tindakan ini misalnya ada kasus diastema sentralis,


sebaiknya dilakukan perawatan ortodonti terlebih dahulu sebelum
pembuatan gigitiruan.
Skenario : Gangguan Pengunyahan
Ibu Akhamd 49 tahun merasakan adanya ketidaknyamanan karena
adanya kegoyangan gigi tiruan tetap pada rahang atas kiri. Keadaan ini
telah dirasakan 3 hari yang lalu setelah mengunyah makanan. Berdasarkan
hasil pemeriksaan foto panoramic dan periapikal yaitu pada gigi 25
menunjukkan post perawatan endodontic dengan pemasangan pasak,
radiolucent berbatas jelas pada apical gigi dan tampak fraktur pada
retainer. Pada gigi 27 menunjukkan fraktur pada akar palatal, radiolucent
pada bagian apical gigi dan resorbsi tulang alveolar sampai 2/3 panjang
akar gigi. Secara klinis gigi 25 dan 27 merupakan retainer dengan desain
extracoronal retainer berupa porcelain fuse to metal dan pontic pada gigi
26 dengan tipe ridge lap pontic. Retainer dan pontic dihubungkan dengan
connector tipe fixed-fixed bridge. Disamping itu pada gigi 25 terdapat
karies permukaan akarpada bagian bukal dan gigi 27 tampak adanya resesi
gingival dan karies permukaan akar pada bagian bukal dan palatal. Tampak
adanya pengelupasan lapisan estetik (lapisan porcelain) pada oklusal
retainer gigi 25. Penderita menginginkan penggantian gigi tiruan tersebut.
Penatalaksanaan pada skenario tersebut adalah Gigi tiruan sebagian
lepasan karena kondisi gigi 25 dan 27 tidak dapat dipertahankan lagi
dikarenakan kondisi yang telah disebutkan di skenario. Maka gigi 25 dan
27 diindikasikan untuk dilakukan ekstraksi. Selain itu, dilihat dari data foto
panoramik di skenario, tampak gambarak radiolusen pada beberapa gigi
seperti pada gigi 16, 17, 36, 37, 45, 46 dan 47 yang menandakan bahwa
telah dilakukan perawatan pada gigi tersebut. Selain itu terlihat resorbsi
tulang alveolar horizontal yang terjadi secara general dari gigi 37 sampai
47. Oleh karena itu pasien diindikasikan untuk menggunakan GTSL.

Hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan gigi tiruan jembatan


adalah sebagai berikut :
1

Oklusi gigi
Bila pasien kehilangan satu atau beberapa gigi dalam satu
area di dalam rongga mulut, bila tidak dibuatkan fixed bridge, maka
gigi-gigi yang ada di antara gigi yang hilang tersebut akan bergerak
ke daerah yang kosong, sedangkan gigi lawannya (oklusinya) akan
cenderung memanjang karena tidak ada gigi yang menopangnya
pada saat oklusi. Bergeraknya gigi kedaerah yang kosong dinamakan
shifting/drifting, sedangkan gigi yang memanjang dinamakan
elongation/extrusion.

Gambar 12. Gigi Bergerak ke Daerah yang Kosong (Shifting/drifting.)

Gambar 13. Gigi yang Memanjang (elongation/extrusion).

Bila kondisi ini berlanjut, maka akan menyebabkan :


1

Sakit pada rahang (terutama pada TMJ/Temporo Mandibular


Joint)

Retensi sisa-sisa makanan diantara gigi-gigi (food Impaction)


dan dapat menyebabkan penyakit periodontal .

Berakhir dengan pencabutan pada gigi-gigi dan juga gigi


lawannya. Beban fungsional pada oklusal pontik terutama gigi
posterior dapat dikurangi dengan mempersempit lebar bukolingual atau buko-palatal untuk mengurangi beban oklusi yang
dapat merusak gigi tiruan pada pasien-pasien tertentu.

2.

Oral hygiene

3.

Jaringan periodontal
Hukum

Ante

menyatakan

bahwa

daerah

membran

periodontal pada akar-akar dari gigi abutment harus sekurangkurangnya sama dengan daerah membran periodontal yang ada
pada gigi-gigi yang akan diganti.
4.

Posisi gigi dan kesejajaran gigi


Abutment yang melibatkan gigi anterior hanya gigi gigi
insisivus biasanya mempunyai inklinasi labial yang serupa dan
tidak terlalu sulit untuk menyusun kesejajarannya. Apabila
abutment melibatkan gigi anterior seperti caninus dan gigi
posterior seperti premolar kedua atas supaya diperoleh kesejajaran,
kaninus harus dipreparasi pada arah yang sama seperti premolar.

5.

Jumlah dan lokasi kehilangan gigi

6.

Kegoyangan gigi

7.

Frekwensi karies

8.

Discoloration

1 Pencegahan Kegagalan Gigi Tiruan Jembatan


Usaha pencegahan yang dilakukan terhadap kegagalan gigi
tiruan jembatan adalah :

Mengetahui pemilihan jumlah dan distribusi gigi pendukung.


Pemilihan jumlah dan distribusi gigi pendukung yang baik dapat
mengurangi resiko terjadinya kegagalan gigi tiruan jembatan.
Hukum Ante tetap merupakan acuan utama untuk menentukan
distribusi jumlah gigi yang tepat pada gigi tiruan jembatan,
idealnya dua pendukung digunakan untuk satu pontik yang
terletak pada ujung-ujungnya.

Dokter gigi mengetahui dengan baik prosedur perawatannya

Pasien menjaga oral hygiene dengan baik agar tidak ada


akumulasi plak

Aplikasi bahan pelapis lunak

Pemakaian stres absorbing elemen

Pemakaian konektor non rigid. Perbedaan gerakan gigi dan


implan

dapat

menyebabkan

berbagai

bentuk

kegagalan

pemakaian gigi tiruan jembatan dukungan gigi dan implant.


Usaha yang paling penting untuk diperhatikan dalam mencegah
berbagai bentuk kegagalan tersebut adalah dengan mencegah
terjadinya tekanan berlebihan pada pendukung gigi tiruan
jembatan yang timbul akibat perbedaan pergerakan tersebut.

Pada pasien dengan indeks karies yang tinggi, mengatur waktu kunjungan
untuk melakukan control plak perlu dilakukan. Serta menggunakan pasta
gigi dan obat kumur yang mengandung fluoride.

DAFTAR PUSTAKA
Annusavice. 2003. Buku Ajar Ilmu Kedokteran Gigi. Jakarta:
EGC.
Aryanto, Gunadi H., dkk. 1991. Buku Ajar Ilmu Geligi Tiruan
Sebagian Lepasan Jilid I. Jakarta: Hipokrates.
Aryanto, Gunadi H., dkk. 1993. Buku Ajar Ilmu Geligi Tiruan
Sebagian Lepasan Jilid II. Jakarta: Hipokrates.
Barclay,

C.W;

Walmsley,

A.D.

1998.

Fixed

and

Removable

Prosthodontics.Birmingham: Churcill Livingstone, hal 115.


Basker RM. 2003. Perawatan Prostodontik Bagi Pasien Tak
Bergigi Edisi 3. Jakarta: EGC.
Ewing JE. Fixed Partial Prosthesis. 2nd ed. Philadelphia: Lea & Febinger,
1959: 169-77.
Martanto, P. 1985. Teori dan Praktek Ilmu Mahkota dan
Jembatan Jilid 1 Edisi 2. Bandung: Penerbit Alumni.
Prajitno, H.R. 1991. Ilmu Geligi Tiruan Jembatan: Pengetahuan
Dasar dan Rancangan Pembuatan. Jakarta: EGC.
Smith,Bernard G N;Howe, Leslie C. 2007. Planning and Making Crown and
Bridges, 4th ed. New York: Informa Healthcare.
Tylman SD. Construction of Pontics For Fixed Partial Dentures: Indications,
Types, and Materials. In Theory and Practice of Crown and Fixed
Partial Prosthodontics. 6th ed. Saint Louis: CV Mosby 1970: 26, 165,
650-81.