Anda di halaman 1dari 28

Pemicu 3

AGAMA
Konglomerat Muda
Transplantasi

Biodata
Nama:Herywijaya Sixtaputra
Nim:405090064
Jabatan:Anggota

L.O
1.M.Pengertian Transplantasi tumbuh2an
dan organ tubuh
2.M.Pembagian jenis dan tujuan
transplantasi
3.M.Pandangan agama tentang
Transplantasi organ
4.M.Tinjauan dari segi manfaat dan
madharat

L.O
1

L.O
1
DEFINISI
Transplantasi organ dan jaringan tubuh manusia
merupakan tindakan medik yang sangat bermanfaat bagi
pasien dengan ganguan fungsi organ tubuh yang berat.
Ini adalah terapi pengganti (alternatif) yang merupakan
upaya terbaik untuk menolong pasie dengan kegagalan
organnya,karena hasilnya lebih memuaskan
dibandingkan dan hingga dewasa ini terus berkembang
dalam dunia kedokteran,namun tindakan medik ini tidak
dapat dilakukan begitu saja,karena masih harus
dipertimbangkan dari segi non medik,yaitu dari segi
agama,hokum,budaya,etika dan moral

Lanjutan
kendala lain yang dihadapi Indonesia
dewasa ini dalam menetapkan terapi
transplatasi,adalah terbatasnya jumlah
donor keluarga (Living Related
Donor,LRD)dan donasi organ
jenazah.karena itu diperlukan kerjasama
yang saling mendukung antara para pakar
terkait(hulum,kedokteran,sosiologi,pemuka
agama,pemuka masyarakat),pemerintah
dan swata.

L.O
2
.JENIS-JENIS TRANSPLANTASI
Kini telah dikenal beberapa jenis
transplantasi atau pencangkokan ,baik
berupa cel,jaringan maupun organ tubuh
yaitu sebagai berikut:

Lanjutan
1.TRANSPLANTASI AUTOLOGUS
Yaitu perpindahan dari satu tempat
ketempat lain dalam tubuh itu sendiri,yang
dikumpulkan sebelum pemberian
kemoterapi,(Autotransplantasi)
2.TRANSPLANTASI ALOGENIK
Yaitu perpindahan dari satu tubuh ketubuh
lain yang sama spesiesnya,baik dengan
hubungan keluarga atau tanpa hubungan
keluarga, (Homotransplantasi)

Lanjutan
3.TRANSPLANTASI SINGENIK
Yaitu perpindahan dari satu tubuh ketubuh
lain yang identik,misalnya pada gambar
identik,
(Homotransplantasi)
4.TRANSPLANTASI XENOGRAFT
Yaitu perpindahan dari satu tubuh ketubuh
lain yang tidak sama spesiesnya.
(HeteroTransplantasi)

Lanjutan
Organ atau jaringan tubuh yang akan dipindahkan dapat
diambil dari donor yang hidup atau dari jenazah orang
yang baru meninggal dimana meninggal sendiri
didefinisikan kematian batang otak,
- Organ-organ yang diambil dari donor hidup seperti :
kulit ginjal sumsum tulang dan darah (transfusi darah).
-Organ-organ yang diambil dari jenazah adalah
jantung,hati,ginjal,kornea,pancreas,paru-paru dan sel
otak.
Dalam 2 dasawarsa terakhir telah dikembangkan tehnik
transplantasi seperti transplantasi arteria mamaria
interna dalam operasi lintas koroner oleh George E.
Green. dan Parkinson

Tujuan Transplantasi
TUJUAN TRANSPLANTASI
Transplantasi organ merupakan suatu tindakan medis
memindahkan sebagian tubuh atau organ yang sehat
untuk menggantikan fungsi organ sejenis yang tidak
dapat berfungsi lagi. Transplantasi dapat dilakukan pada
diri orang yang sama (auto transplantasi), pada orang
yang berbeda (homotransplantasi) ataupun antar
spesies yang berbeda (xeno-transplantasi).
Transplantasi organ biasanya dilakukan pada stadium
terminal suatu penyakit, dimana organ yang ada tidak
dapat lagi menanggung beban karena fungsinya yang
nyaris hilang karena suatu penyakit.

Lanjutan
Pasal 33 UU No 23/1992 menyatakan bahwa
transplantasi merupakan salah satu pengobatan yang
dapat dilakukan untuk penyembuhan penyakit dan
pemulihan kesehatan.
Secara legal transplantasi hanya boleh dilakukan untuk
tujuan kemanusiaan dan tidak boleh dilakukan untuk
tujuan komersial (pasal 33 ayat 2 UU 23/ 1992).
Penjelasan pasal tersebut menyatakan bahwa organ
atau jaringan tubuh merupaka anugerah Tuhan YME
sehingga dilarang untuk dijadikan obyek untuk mencari
keuntungan atau komersial.

Contoh2

Sejarah perkembangan transplantasi organ dari waktu ke


waktu
Organ Dokter Tahun Keterangan
Kornea Eduard Zirm 1905 Memindahkan kornea pada korban kec kerja
Paru-paru James Hardy 1960s Resipien: pasien Ca paru
Ginjal - 1950 Resipien:Ruth Tucker, Chicago, survive 5 tahun
Jantung Christian Barnard 1967 Resipien: Luois Washkansky. Donor
jenazah kll
Liver Thomas Strazl 1967 Survive 400 hari
Tangan - 1998 Resipien: Clint Hallam, New Zealand
Uterus 2000 Di Arab Saudi, Resipien: pasien HPP, survive 99 hr
Muka 2005 Resipien: Isabelle Dinoire, Perancis korban penyerangan
Labrador. Donor: bunuh diri (hanging)
Penis 2005 Di China, Resipien: pria 44 tahun kehilangan sebagian penis.
Donor: anak muda, 23 tahun, MBO

L.O
3
Literatur Islam mengenai isu ini didominasi
oleh pendekatan fikih (hukum/ jurisprudensi).
Dan persoalan utama yang mendominasi
fikih biasanya terbatas pada masalah halalharam , meskipun tidak selalu demikian.
Dalam Islam, pertanyaan penting mengenai
apakah pencangkokan organ diperbolehkan
oleh agama dijawab dengan merujuk pada
sumber tekstual utama (Quran dan hadis)
maupun kitab-kitab hukum fikih.

Lanjutan
Dalam hal pencangkokan organ, keputusankeputusan legal-etis bisa dicari dengan melihat
bagaimana kitab-kitab klasik itu memandang
penggunaan bagian-bagian tubuh manusia untuk
tujuan penyembuhan. Kadang-kadang, seperti akan
ditunjukkan contohnya di bawah, upaya ini dilakukan
dengan tak memperhatikan konteksnya dengan baik,
tapi hanya melihat kasus dimana organ tubuh
manusia diperlakukan meski dalam konteks yang
amat jauh berbeda dengan konteks pencangkokan.
Meskipun pendekatan ahistoris semacam ini telah
sering dikritik, tapi masih juga kerap digunakan.

Lanjutan
Pandangan yang menentang pencangkokan organ
diajukan atas dasar setidaknya tiga alasan:
1. Kesucian hidup/tubuh manusia : setiap bentuk
agresi terhadap tubuh manusia dilarang, karena ada
beberapa perintah yang jelas mengenai ini dalam AlQuran. Dalam kaitan ini ada satu hadis (ucapan)
Nabi Muhammad yang terkenal yang sering dikutip
untuk menunjukkan dilarangnya manipulasi atas
tubuh manusia, meskipun sudah menjadi mayat:
Mematahkan tulang mayat seseorang adalah sama
berdosa dan melanggarnya dengan mematahkan
tulang orang itu ketika ia masih hidup.

Lanjutan
2. Tubuh manusia adalah amanah : hidup, diri, dan
tubuh manusia pada dasarnya adalah bukan
miliknya sendiri, tapi pinjaman dari Tuhan dengan
syarat untuk dijaga, karena itu manusia tak memiliki
hak mendonorkannya pada orang lain.
3. Tubuh tak boleh diperlakukan sebagai benda material
semata: pencangkokan dilakukan dengan mengerat
organ tubuh seseorang untuk dicangkokkan pada
tubuh orang lain; di sini tubuh dianggap sebagai
benda material semata yang bagian-bagiannya bisa
dipindah-pindah tanpa mengurangi ke-tubuh-an
seseorang.

Lanjutan

Sedangkan pandangan yang mendukung pencangkokan organ


memiliki beberapa dasar, sebagai berikut
1. Kesejahteraan publik (maslahah) : pada dasarnya manipulasi
organ memang tak diperkenankan, meski demikian ada
beberapa pertimbangan lain yang bisa mengalahkan larangan
itu, yaitu potensinya untuk menyelamatkan hidup manusia,
yang mendapat bobot amat tinggi dalam hukum Islam. Dengan
alasan ini pun, ada beberapa kualifikasi yang mesti
diperhatikan: Pencangkokan organ boleh dilakukan jika tak ada
alternatif lain untuk menyelamatkan nyawa; derajat
keberhasilannya cukup tinggi ada persetujuan dari pemilik
organ asli (atau ahli warisnya); penerima organ sudah tahu
persis segala implikasi pencangkokan ( informed consent )

Lanjutan
2. Altruisme : ada kewajiban yang amat kuat bagi
Muslim untuk membantu manusia lain, khususnya
sesama Muslim; pendonoran organ secara sukarela
merupakan bentuk altruisme yang amat tinggi (tentu
ini dengan anggapan bahwa si donor tak menerima
uang untuk tindakannya), dan karenanya dianjurkan.
Sekali lagi, untuk ini pun ada beberapa syarat:
Ada persetujuan dari donor;
Nyawa donor tak terancam dengan pengambilan
organ dari tubuhnya;
Pencangkokan yang akan dilakukan berpeluang
berhasil amat tinggi.
organ tak diperoleh melalui transaksi jual-beli,

Lanjutan

Belakangan ini, di antara lembaga-lembaga pemberi fatwa di


dunia Muslim, pandangan yang dominan adalah pandangan
yang mendukung bolehnya pencangkokan organ. Di antara
lembaga semacam itu yang mendukung pencangkokan organ
adalah Akademi Fikih Islam (lembaga di bawah Liga Muslim SeDunia, yang berpusat di Arab Saudi) pada fatwa-fatwanya pada
tahun 1985 dan 1988; Akademi Fikih Islam India (1989); dan Dar
al-Ifta (lembaga otonom semcam MUI, di bawah Departemen
Agama, Mesir, yang biasanya diketuai oleh ulama dari
Universitas al-Azhar). Pencangkokan yang diperbolehkan
mencakup autotransplantasi, allotransplantasi, dan juga
heterotransplantasidalam urutan keterdesakan (situasi
darurat) yang lebih tinggi. Meski demikian, diperbolehkannya
pencangkokan organ ini selalu diikuti syarat-syarat
sebagaimana disebutkan di atas.

Lanjutan
Demikian pula, ketakbolehan memperjualbelikan
organ diajukan semata-mata dengan alasan bahwa
tubuh seseorang bukan miliknya sendiri. Di luar
alasan teologis itu, sebenarnya ada alasan sosialekonomis yang pada saat ini terasa jauh lebih
mendesak menyangkut terjadinya organ trafficking
yang terjadi di negara-negara Dunia Ketiga. Yang
nyaris absen dari literatur Islam adalah pembahasan
mengenai isu keadilan distributif. Memandang bahwa
keadilan adalah salah satu nilai etis terpenting Islam,
nyaris tak adanya pembahasan ini tentu patut
disesalkan. Perhatian yang lebih serius pada aspek
keadilan sosial-ekonomi kiranya akan mengubah
wacana pemfatwaan masalah pencangkokan organ.

L.O
4
Jajaran penerangan maupun media massa di
Mesir saat ini tengah memperbincangkan
masalah transplantasi organ; hal tersebut
dilakukan sebagai pengantar untuk sosialisasi
undang-undang khusus yang mengatur
transpalantasi ini; baik yang didapatkan dari
donor yang masih hidup maupun yang sudah
mati. Tentu, sesuai dengan wasiat si mati atau
dengan persetujuan ahli warisnya. Aparatur
negara maupun institusinya mengatur masalah
ini berdasarkan asas manfaat dan maslahat.

Lanjutan
Jajaran penerangan maupun media massa di
Mesir saat ini tengah memperbincangkan
masalah transplantasi organ; hal tersebut
dilakukan sebagai pengantar untuk sosialisasi
undang-undang khusus yang mengatur
transpalantasi ini; baik yang didapatkan dari
donor yang masih hidup maupun yang sudah
mati. Tentu, sesuai dengan wasiat si mati atau
dengan persetujuan ahli warisnya. Aparatur
negara maupun institusinya mengatur masalah
ini berdasarkan asas manfaat dan maslahat.

Lanjutan
Hukum halal dan haram tersebut diperoleh dari nashnash syara yang diambil dari al-Kitab dan as-Sunnah,
dan hal-hal yang ditunjuk oleh keduanya: (yaitu) ijma
sahabat dan qiyas. Selanjutnya, yang halal diambil dan
yang haram ditinggalkan. Sikap tersebut diambil tanpa
memperhatikan lagi maslahat, atau mafsadat, juga tanpa
memperhatikan lagi manfaat yang didapatkan maupun
madzarat yang mungkin menimpa. Sungguh, pandangan
Islam terhadap suatu masalah adalah pandangan pada
manusia yang menghendaki hukum Allahatau dengan
kata lain sesuai dengan kehendak Allah-terhadap
masalah tersebut. Juga dengan adanya pemahaman
bahwa cita-cita kemanusiaan, sosial, ekonomi pasti akan
terealisir, terlepas apakah hal tersebut diketahui maupun
tidak.

Lanjutan
Allah Swt berfirman:
Dan barangsiapa berpaling dari
peringatan-Ku, maka sesungguhnya
baginya penghidupan yang sempit, dan
Kami akan menghimpunkannya pada hari
kiamat dalam keadaan buta. (TQS Thaha
[20]: 124)

Daftar Pustaka
DAFTAR PUSTAKA
1. Undang-undang No. 23 tahun 1992 ttentang
Kesehatan
2. Peraturan Pemerintah No 18 tahun 1981 tentang
Otopsi Anatomi, Otopsi Klinik dan Transplantasi Alat dan
Jaringan Tubuh Manusia
3. Peraturan Menteri Kesehatan No. 585 tahun 1989
tentang Persetujuan Tindakan Medis
4. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 269 tahun 2008
tentang Rekam Medis
5. Herkutanto. Aspek medikolegal pengambilan jaringan
kadaver. Simposium dan workshop tissue organ banking
dan trauma. Jakarta, 19-20 Oktober 1995

Daftar Pustaka

6. Mungkinkah hidup hanya dengan satu ginjal. Diunduh dari


www.sinarharapan.com tanggal 31/10/2006.
7. Lifestyle: transplant 101. Diunduh dari
www.malaysiantoday.com.my tanggal 11/10/2007.
8. Organ Pillaging in China. Diunduh dari www.tw-scie.com tanggal
21/10/2008.
9. Saunders WP. Straight Answers: Organ Transplants and Cloning.
Diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas izin The
Arlington Catholic Herald. tanggal 21/10/2008
10. Dahlan Siap Donorkan Semua Organ. Indo Pos, Senin, 20
Oktober 2008
11. Sistem Donasi Ginjal perlu dibangun. Kompas . Jumat 13
Oktober 2006
12. Tessy A. Transplantasi Ginjal di Indonesia Sekarang. J Mnedika
Nusantara 2005:26 (3)

Daftar pustaka
TRANSPLANTASI ORGAN DAN ASPEK
MEDIKOLEGALNYA
dr.Djaja Surya Atmadja,SP.F
Departemen Kedokteran Forensik dan
Medikolegal
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Jl. Salemba 6, Jakarta 10430
tel. +21-3106976, fax 021-3154626
e-mail: atmadjkads@yahoo.com .