Anda di halaman 1dari 26

Pemicu ISK 3

Mengakhiri Kehidupan Sang Bayi

Biodata
Nama:Herywijaya Sixtaputra
Nim:405090064
Jabatan:Anggota

Unfamiliar Term

Rumusan Masalah
1.Bagaimana aspek ekonomi
mempengaruhi kasus pembunuhan?
2.Bagaimana si Ibu Meminta bantuan si
Dukun beranak?
3.Apakah membunuh@jalan satu2 y untuk
memecahkan masalah si ibu?

Pembahasan Masalah

Mind Mapping

L.O
1.M.M Interaksi dokter dan Masyarakat
2.M.M Sistem kes.Masyarakat dan sistem
pel.kesehatan masyarakat
3.M.M Solusi pada kasus ini?
4.M.M Peran pemerintahan dalam
Pel.kesehatan

L.O
1

L.O
1

L.O
1

Bagi masyarakat awam seorang dokter dianggap mempunyai


pengetahuan dan ketrampilan untuk mendiagnosa dan
menyembuhkan penyakit sehingga dia berwenang melakukan
tindakan terhadap diri si sakit demi pencapaian kesembuhannya.
Berdasarkan pandangan dan harapan si sakit ini terhadap fungsi
dan peran dokter terjadilah interaksi dokter-pasien yang bersifat
profesional. Namun seringkali interaksi ini tidak seimbang, dokter
yang aktif memberikan gagasan tindakan dan mengambil inisiatif
bertindak, sedangkan pasien secara pasif menerima saran dan
mematuhi instruksi dokter. Komunikasi merupakan kunci
keberhasilan pada hubungan antara dokter-pasien dalam
menangani keluhan pasien, dan mutu komunikasi tergantung pada
hasil pendidikan dan kemahirannya dalam bidang kedokteran, unsur
pribadi dokter itu sendiri serta harapan atau pandangan pasien
(masyarakat) yang dilayani. Dan keberhasilan komunikasi ini akan
sangat mempengaruhi keberhasilan proses penyembuhan pasien.

L.O
1(Contoh Kasus)
Dokter A (ahli kandungan) sangat tidak bersahabat,
kaku sekali sehingga saya segan untuk menanyakan
penyakit saya. Dr B (ahli kandungan) tidak
menanggapi keluhan saya, sesudah saya dioperasi oleh
beliau tampaknya sangat galak . Setelah saya
diperiksa Drg C(dokter gigi rawat jalan), dia
meninggalkan saya tanpa penjelasan. (Survei
Kepuasan customer RS Pelabuhan Surabaya, 2005)
Keluhan diatas hanya sebagian saja dari hasil survei
kepuasan customer di RS Pelabuhan Surabaya yang
rutin dilakukan setiap tiga bulan oleh bagian
Perencanaan dan Pengembangan RS Pelabuhan
Surabaya.

Lanjutan
Hasil ini selalu ditindak-lanjuti dan dilaporkan pada
manajemen, untuk mendapat perhatian. Bila dicermati
lebih lanjut hasil survei tersebut, masih ada beberapa hal
yang cukup memprihatinkan di pelayanan rawat jalan
yaitu 20,4% responden tidak mendapatkan penjelasan
saat dokter melakukan pemeriksaan, 21,9% responden
tidak mendapat penjelasan obat yang diberikan dan 10%
responden tidak mendapat penjelasan penyakitnya.
Untuk rawat inap, keluhan terbesar adalah 75,2%
responden merasa bahwa visite yang dilakukan oleh
dokter sangat singkat, 39,3% tidak mendapat penjelasan
pada saat dilakukan pemeriksaan medis dan 41%
responden tidak mendapat penjelasan mengenai obat
yang diberikan pada responden.

Lanjutan
Walaupun penilaian ketidakpuasan terhadap pelayanan
rumah sakit dari keseluruhan hasil survei hanya
menunjukkan 3,5% dari keseluruhan responden, namun
yang terbesar adalah ketidakpuasan terhadap pelayanan
dokter yang sebenarnya merupakan ujung tombak dari
pelayanan rumah sakit. Dilihat dari komposisi responden
tersebut, 32,1% berpendidikan S1, 25,5% D3 dan 2,9%
adalah S2. Umur responden terbanyak pada masa
produktif dan dipuncak karir mereka (31-40 tahun) dan
53,3% berpenghasilan antara Rp1,5 juta Rp3 juta.
Oleh karena itu, pihak manajemen seharusnya memberi
perhatian lebih serius kepada perilaku dokternya.

Lanjutan
Dalam jangka panjang tentu saja tidak
menguntungkan bagi rumah sakit, dan
para pasien tersebut dengan bebas akan
mencari pelayanan yang lebih
memuaskan. Melihat data yang ditemukan
dalam survei diatas, masalah terbesar
yang terlihat adalah hubungan atau
interaksi antara pasien dan dokter.

L.O
2
PENGEMBANGAN PENDEKATAN SISTEM KESEHAT
AN MASYARAKAT
Kesehatan masyarakat sangat penting bagi ketersediaan
sumber daya manusia (SDM) berkualitas yang
menentukan daya saing bangsa. Menurut Achmad
Suyudi (1999), pembangunan kesehatan merupakan
pembangunan investasi SDM berkelanjutan. Namun,
diakui atau tidak, dewasa ini persoalan kesehatan
masyarakat semakin kompleks, baik di pedesaaan
maupun di perkotaan. Menurut Surjadi (2000), seringkali
kita kurang menyentuh akar pemasalahan kesehatan

Lanjutan
(a) kemiskinan dan lingkungan yang menyebabkan
masyarakat tidak berdaya untuk mengakses pelayanan
publik karena terbebani oleh stigma-stigma tertentu; (b)
pengaruh industrialisasi, seperti pariwisata, makanan,
dan perilaku; (c) faktor Psikososial keluarga dan individu,
seperti stress, ketergantungan terhadap NAPZA
(Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya); (d)
factor yang berkaitan dengan anak jalanan, pekerja
sector informal, pekerja seks komersial, petugas
kebersihan kota, remaja kota, dan usia lanjut (manula);
serta (e) faktor akibat terjadinya krisis seperti bencana
banjir, gempa bumi, kebakaran,dll.

Lanjutan

Sementara, di daerah pedesaan, sering dijumpai (a) keterbatasan


jumlah tenaga medis di wilayah-wilayah pedalaman, minimnya
ketrsediaan infrastruktur prasarana pelayanan kesehatan, dll.
Kondisi ini menyebabkan (b) minimnya penanganan gizi buruk,
busung lapar, serta diare bayi dan balita; (c) minimnya pelatihan
tentang upaya perbaikan gizi masyarakat dengan pembudidayaan
dan pemanfaatan berbagai sumber makanan nabati, seperti ubiubian, kacang-kacangan, dll. Yang dimiliki bangsa Indonesia; (d)
perilaku masyarakat yang acuh tak acuh terhadap kesehatannya
sendiri atau keluarganya, dll. (e) ada praduga kesengajaan
sistematis dari pemerintah daerah (pemda) tertentu dalam
memberikan laporan objektif mengenai status kesehatan
masyarakatnya, gizi buruk, dan busung lapar yang terjadi di
daerahnya dengan dalih akan dicap sebagai daerah miskin atau
takut dianggap gagal oleh pemerintahan yang lebih tinggi.

Lanjutan
Adapun sistem asuransi kesehatan di Indonesia sudah
lama dikembangkan. Kebijakan DepKes meliputi :
a. Pengembangan jaminan kesehatan nasional (JKN)
sebagai bagian dari Sistem Jaminan Sosial Nasional
(SJSN), yakni bentuk jaminan kesehatan pra-bayar yang
bersifat wajib bagi seluruh masyarakat.
b. Pengembangan jaminan kesehatan berbasis sukarela,
yang meliputi asuransi kesehatan komersial dan jaminan
pemeliharaan kesehatan masyarakat (JPKM) sukarela.
c. Pengembangan jaminan kesehatan sektor informal,
meliputi jaminan kesehatan mikro (dana sehat) dan dana
sosial masyarakat.
d. Pemeliharaan jaminan pemeliharaaan kesehatan
keluarga miskin (JPK-Gakin).

Lanjutan

Pembangunan kesehatan kini bukan sekedar tanggung jawab


pemerintah (DepKes) semata, tetapi merupakan tanggung jawab
semua elemen masyarakat. Pemerintah tetap menjalankan
fungsinya sebagai regulator dan pengendali pasar.
Permasalahan-permasalahan kesehatan masyarakat yang kian
kompleks, baik di daerah-daerah rural maupun di daerah-daerah
urban, membutuhkan peran-aktif berbagai kelompok masyarakat
untuk mencari altrnatif penyelesaian masalah yang dihadapi
masyarakat, baik alternative penyelesaian secara medis maupun
non-medis. Melalui pola pendekatan yang melibatkan berbagai
kluster, diharapkan mampu menumbuh-kembangkan semangat dan
perilaku sehat masyarakat yang bermutu dan berkelanjutan.
(MEDIKA, Jurnal Kedokteran Indonesia)

Lanjutan
Sistem yang dimaksud disini adalah pengertian bebas
yaitu satu kesatuan usaha yang terdiri dari berbagai
elemen / bagian-bagian yang berkaitan secara teratur
dan berusaha mencapai suatu tujuan dalam suatu
lingkungan. Dari definisi ini, dicoba diuraikan secara
tuntas aplikasi supra sistem kemudian ke sistem lalu ke
sub sistem dan analisis . Sebagai contoh diambil Sistem
Pelayanan Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas).
Dan yang menarik lagi dari tulisan ini adalah rancangan
kegiatan sederhana berdasarkan pendekatan sistem
lengkap dengan contoh. Tulisan ini sangat baik bagi
mereka yang bekerja dipuskesmas dan juga yang akan
bekerja di puskesmas serta bagi mereka yang akan
melakukan pembinaan puskesmas.

L.O
3.

L.O
4
Peran pemerintah sebagai pemberi sumber
pembaiayaan dilakuan olen pemerintah pusat dan
pemerintah daerah. Pembiyaan Sektor Kesehatan dari
Pemerintah Pusat yaitu bersumber dari APBN yang
dibagi menjadi Dana Dekonsentrasi dan Dana Alokasi
Khusus, Dana Dekonsentrasi yaitu dana yang
membiayai sektor Kesehatan di tingkat Pusat dan di
tingkat provinsi, sedangkan Dana Alokasi Khusus adalah
dana APBN yang membiayai sektor Kesehatan di tingkat
Kabupaten/Kota. Sedang pembiayaan pada sektor
Kesehatan oleh Pemerintah Daerah (Provinsi dan
Kabupaten/Kota) bersumber dari Dana Alokasi Umum
(DAU).

L.O
4
Peran Pemerintah sebagai Regulator dan penetap
kebijakan pelayanan Kesehatan dapat dilakukan oleh
DEPKES di Pemerintah Pusat melalui Sistem Kesehatan
Nasional di Tingkat Indonesia dan Sistem Kesehatan
Daerah di tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota. Contoh
lain Penetapan Kebijakan/Regulasi oleh DEPKES
dengan ditetapkannya Standar Pelayanan Minimal yang
berisi Indikator-indikator Pembangunan Kesehatan dan
oleh daerah di buat Standar Pelayanan Minimal daerah
sesuai kebutuhan dan kondisi daerah masing-masing.

Lanjutan
Peran Pemerintah Sebagai Pelaksana dilakukan
melalui Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Pemerintah berupa rumah sakit Pusat maupun
daerah, dan Puskesmas. Pelayanan Kesehatan
terhadap masyarakat tidak hanya dilakukan oleh
Pemerintah tapi dilaksanakan juga oleh swasta
untuk itu Pemerintah sebagai pelaksana perlu
mencipatakan sistem Manajeman Pelayanan
Kesehatan yang baik.

Lanjutan
Dalam menunjang ketiga peran pemerintah tersebut
diatas diperlukan beberapa hal yaitu :
Komitmen Politik untuk pengembangan pelayanan
Kesehatan, terutama bagi pemerintah daerah ditingkat
Provinsi maupun Kabupaten kota yang kenyataanya
sekarang ini Sektor Kesehatan bagi pemda masih kalah
prioritas dibandingkan dengan sector-sektor lain.
Pendekatan Pro-orang miskin
Menyeimbangkan peran pemerintah, lembaga usaha
swasta dan lembaga swadaya masayarakat dalam
pelayanan Kesehatan
Menangani kegagalan pasar, misalnya pemerintah
sebaiknya membiayai masyarakat miskin yang tidak
mampu membeli pelayanan Kesehatan

Lanjutan

Menajemen lembaga pelayanan Kesehatan yang


berorientasi pada pengguna
partisipasi luas dari masyarakat dan lembaga usaha
dalam pengambilan keputusan, reformasi bidang
Kesehatan, dan pengembangan system Kesehatan
Memberantas praktik-praktik illegal dalam pelayanan
Kesehatan, termasuk korupsi8. Pembiayaan pelayanan
Kesehatan yang responsive dan fair
Desentralisasi Pelayanan
Sumber :Laksono Trisnanto, dkk
(2005)Desentraslisasi Kesehatan di Indonesia dan
Perubahan Fungsi Pemerinta : 2001 2003 Apakah
merupakan periode uji coba ? ; Gajah Mada
University Press