Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PRAKTIKUM

HIDROLIKA II IL2201
VENTURIFLUME
MODUL 07

Nama Praktikan

: Christopher Handino

NIM

: 15714027

Kelompok

: B2

Tanggal Praktikum

: Kamis, 16 April 2016

Jam`

: 09.30 11.00

PJ Modul

Asisten yang bertugas :

PROGRAM STUDI REKAYASA INFRASTRUKTUR LINGKUNGAN


FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN LINGKUNGAN
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2016

DAFTAR ISI
I.

TUJUAN.................................................................................................................................3

II.

PRINSIP PERCOBAAN.......................................................................................................3

III.

TEORI DASAR......................................................................................................................3

IV.

DATA AWAL..........................................................................................................................7

V.

PENGOLAHAN DATA........................................................................................................8

VI.

DATA AKHIR.......................................................................................................................14

VII.

ANALISIS A........................................................................................................................16

VIII. ANALISIS B........................................................................................................................23


IX.

KESIMPULAN....................................................................................................................24

X.

DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................................24

I.

TUJUAN
1. Menentukan debit aliran dengan menggunakan venturi flume
2. Menentukan kestabilan aliran dengan melihat kekritisannya berdasarkan bilangan
Froude
3. Menentukan nilai koefisien discharge
4. Menentukan jenis aliran berdasarkan nilai bilangan Reynolds

II.

PRINSIP PERCOBAAN
Venturiflume dipasang pada posisi tertentu dalam model saluran terbuka. Debit
yang terjadi pada aliran dapat dihitung dengan cara mengoperasikan hydraulic bench.
Akan terjadi perubahan kekritisan aliran pada saat aliran melalui venturiflume akibat
terjadinya penyempitan saluran secara tiba-tiba oleh venturiflume. Venturiflume juga
memberikan efek kontraksi dan kecepatan terminal. Venturiflume menyebabkan yang
menyebabkan penambahan head sehingga terjadi penurunan ketinggian yang dapat
dijadikan pengukuran debit yang melalui venturiflume dengan mengukur kedalaman
pada titik-titik yang telah ditentukan sesuai dengan penyebaran profil aliran untuk 5
variasi debit. Kemudian mengukur data kedalaman di 6 titik sesuai dengan
penyebaran profil aliran sehingga dapat diperoleh perhitungan koefisien discharge dan
dihitung tiga kali pengukuran waktu untuk satu variasi debit. Lebar penyempitan
dapat mempengaruhi nilai perhitungan debit yang terjadi.

III.

TEORI DASAR
Alat ukur debit saluran terbuka memiliki konsep yang sederhana, yaitu
hubungan antara kedalaman air dan lajunya dipengaruhi oleh bentuk dan dimensi
alatnya. Perhitungan debitnya menggunakan persamaan dengan fungsi air atau head.
Pertimbangan yang biasa digunakan dalam pemilihan alat ukur antara lain biaya
pembuatan dan pemasangan, biaya perawatan, dimensi kanal, debit, dan karakteristik
airnya meliputi kejernihan, berlumpur, dan lain-lain. Biasanya, pemilihan alat ukut
debit didasarkan pada besar kecilnya debit air yang akan diukur.
Venturi flume adalah flume pada saluran terbuka yang membuat aliran bersifat
kritis akibat adanya penyempitan secara tiba-tiba yang menyebabkan penurunan HGL
dan menciptakan kedalaman kritis. Venturi flume digunakan dalam pengukuran aliran
terutama laju aliran yang sangat besar, biasanya dalam jutaan unit kubik. Pengukuran
debit dengan saluran venturi membutuhkan dua pengukuran, satu hulu dan satu di

bagian yang menyempit. Hal ini berlaku apabila aliran melewati yang melewati flume
dalam keadaan subkritis. Jika flume dirancang agar aliran dari subkritis berubah
menjadi superkritis saat melewati saluran tersebut, maka pengukuran tunggal di
bagian penyempitan (yang dalam hal ini menjadi bagian kritis) sudah cukup untuk
perhitungan debit.Untuk memastikan terjadinya kedalaman kritis di tenggorokan
(bagian yang menyempit), flumes biasanya dirancang sedemikian rupa untuk
membentuk lompatan hidrolik di sisi hilir struktur. Flume ini disebut standing wave
flumes.
Venturi flume memberikan efek gabungan kontraksi dan kecepatan terminal
sekaligus, dengan kehilangan tekanan yang lebih kecil tersebut dapat diukur dan dapat
mewakili debit yang melaluinya. Venturi flume terbentuk dengan kontraksi pada
penampang saluran, bersamaan dengan aliran yang menjadi cepat saat berada di
tenggorokan, dan diikuti dengan ekspansi kembali ke luas penampang sebelumnya.
Ketika terjadi ekspansi, air akan terus dipercepat dalam aliran superkritik atau bahkan
dapat diperlambat dalam aliran subkritis. Venturi flume memiliki dua keunggulan bila
dibandingkan dengan bendung, dimana kedalaman kritis dibuat oleh penyempitan
secara vertikal. Pertama, headloss hidrolik yang dihasilkan oleh flume lebih kecil dari
headloss yang dihasilkan oleh bendung. Kedua, tidak ada dead zone pada flume. Dead
zone dapat menyebabkan sedimen dan puing-puing dapat menumpuk terdapat di hulu
bendung.
Venturiflume sangat dapat diandalkan dalam pengukuran aliran dan memiliki
beberapa kelebihan. Seperti tidak mahal dan mudah dikontruksi, operasinal yang
sederhana, membutuhkan hanya sedikit perawatan, akurat untuk mencapai ekspektasi
praktikal, tidak terpengaruh benda yang mengapung, hilang head pada saat operasi
tergolong sedikit, dan memiliki banyak variasi koefisien discharge. Venturiflume
dirancang dalam berbagai bentuk. Biasanya dipakai pada keadaan aliran bebas atau
tidak terbenam, dengan kedalaman kritis pada penampang yang menyempit dan
loncatan hidrolik pada penampang pengeluaran. Namun pada keadaan aliran tertentu,
loncatan hidrolik bersifat terbenam. Berikut ilustrasi aliran melalui venturiflume.

Gambar 1. Ilustrasi aliran melalui venturiflume tampak atas

Gambar 2. Ilustrasi aliran melalui venturiflume tampak samping


Pada flume akan terjadi kedalaman kritis, energi diminimalkan dan terjadi
hubungan langsung antara kedalaman air dan laju aliran. Secara fisik, sangat sulit
untuk mengukur kedalaman kritis dalam saluran, dikarenakan zona yang tepat sulit
untuk ditentukan dan terdapat kemungkinan berbeda akibat laju air. Melalui konversi
massa, kedalaman hulu terkait dengan kedalaman kritis. Flume dapat dibagi menjadi
beberapa jenis yaitu alat ukur throated flume dan curthroated flume. Bangunan dengan
alat ukur long-throated flume dapat digunakan sebagai pilihan karena bangunan
tersebut mudah dibuat serta bentuknya yang sederhana, serta bangunan ini bentuknya
mudah untuk disesuaikan sesuai dengan tipe saluran. Bangunan ini terdiri dari bagian
transisi yaitu bagian yang menghubungkan saluran dengan flume. Bagian ini tebentuk
prismatik dimana transisi dinding dan lantai bisa lurus.Venturiflume terdiri dari bagian
inlet, bagian konvergen, sambungan paralel, dan bagian divergen. Fungsi utama
venturiflume adalah mengukur debit aliran air melalui saluran tempat venturiflume
diallui. Pada venturiflume terjadi penyempitan secara tiba-tiba yang menyebabkan
terjadinya perubahan kekritisan liran dan menyebabkan adanya kedalaman kritis. Pada
kedalaman kritis energi aliran minimal sehingga dapat diidentifikasi hubungan antara
kedalaman dengan kecepatan aliran.
Perhitungan debit dilakukan dengan menggunakan alat ukur venturiflume
dimulai dari persamaan debit teoritis melalui notch di ambang tajam laju aliran yang
melalui

strip

v = 2 g h

dan

debit

aliran

yang

melalui

strip

bQ= A V =b bh 2 g h . Persamaan diintegrasikan dari permukaan air dengan h = 0,


hingga garis dasar h = H. Sehingga diperoleh persamaan sebagai berikut.
H

Qteoritis = 2 g b h0.5 dh
0

Persamaan ini akan berbeda pada tiap jenis notch, untuk pemakaian notch lain,
persamaan harus direlasikan pada fungsi lebar permukaan. Untuk saluran berbentuk
persegi, nilai lebar permukaan tidak berubah terhadap kedalaman. Berikut penurunan
persamaannya:
H

Qteoritis =B 2 g h 0.5 dh
0

2
Qteoritis = B 2 g H 2
3
2 3
Qteoritis =B 2 g ( F) 2
3
Mencari kedalaman kritis dan debit aliran dapat dicari dengan data dimensi
venturiflume dan kedalaman aliran pada waktu tertentu. Adapun dimensi, kedalaman,
dan debit dapat dinyatakan pada titik-titik pengukuran berikut ini:

Gambar 3. Titik pengukuran tampak atas

Gambar 4. Titik pengukuran tampak samping


IV.

DATA AWAL
Tabel 1. Data Awal yang Diukur

Data Awal
Massa beban (kg)
Tair awal (celcius)
Takhir awal (celcius)
b (lebar saluran) (m)
bt (lebar penyempitan) (m)

2,5
26
26
0,075
0,052

Tabel 2. Data Pengamatan Waktu dan Kedalaman


Waktu (s)

Variasi

t1
4,7
3,55
3,08
2,64
2,91

1
2
3
4
5

Variasi
1
2
3
4
5

y1
6,65
8,06
9,08
9,25
8,91

t1
4,93
3,06
2,88
2,96
2,6

y2
6,54
8,12
8,94
9,17
8,82

y3
5,77
7,21
7,99
8,14
7,83

t3
4,81
3,45
3,2
2,78
2,98
Kedalaman (m)
y4
4,53
5,73
6,51
6,68
6,44

trata-rata
4,813333333
3,353333333
3,053333333
2,793333333
2,83

y5
4,1
4,94
5,36
5,22
5,41

y6
2,25
2,91
3,13
3,32
3,04

Tabel 3. Perbandingan Suhu terhadap Densitas Air


Suhu (oC)
0
5
10
15
20
30
40
50
60
70
80
90
100

Densitas (kg/m3)
999.8
1000
999.7
999.1
998.2
995.7
992.2
988.1
983.2
977.8
971.8
965.3
958.4

Viskositas (m2/s)
0.000001790
0.000001519
0.000001308
0.000001141
0.000001007
0.000000804
0.000000658
0.000000553
0.000000474
0.000000413
0.000000364
0.000000326
0.000000294

y7
2,59
2,68
3,16
3,23
3,19

(Sumber : Finnemore, 2002)

1010
1000

f(x) = - 0x^2 - 0.07x + 1000.54

990
980
Densitas (kg/m3)

Grafik Suhu terhadap


Densitas

970
960

Polynomial (Grafik
Suhu terhadap
Densitas)

950
940
930
0

50 100 150

Suhu (oC)

Gambar 5. Hubungan Densitas Air terhadap Suhu

0
0

f(x) = 0x^2 - 0x + 0
R = 0.98

Grafik Suhu terhadap


Viskositas

Polynomial (Grafik
Suhu terhadap
Viskositas)

Viskositas Kinematis (m2/s)

0
100
0 200
Suhu (oC)

Gambar 6. Hubungan Viskositas Kinematis Air terhadap Suhu

V.

PENGOLAHAN DATA
1. Densitas
Dari Gambar 5, didapat persamaan hubungan antara suhu dan densitas air
melalui resgresi polinomial, yaitu sebagai berikut
2

y=0,0036 x 0,0664 x +1000,6


dimana y = densitas air (kg/m3), x = suhu (oC), dan 1000,6 adalah konstanta. Akan
didapat densitas air pada saat T = 26C (suhu rata-rata), yaitu
=0,0036 T 20,0675 T +1000,6 kg m3
2

=0,0036 ( 26 ) 0,0675 ( 26 ) +1000,6


=996,44

kg
m3

kg
m3

2. Viskositas Kinematis
Dari hasil regresi polinomial pada Gambar 6 diperoleh persamaan viskositas air,
yaitu
10

y=2 x 10

x 3 x 10 x +2 x 10
2

dimana, y = viskositas air (

m
s

), x = suhu (oC), dan 2E-06 adalah konstanta.

Maka, viskositas air pada saat T = 26C adalah


v =2 x 1010(26)23 x 108 (26)+2 x 106
v =9,386 x 107

m
s

m2
s

3. Debit Aktual
Dalam perhitungan debit aktual, terlebih dahulu dilakukan perhitungan volume
air dan waktu rata-rata.
V=

Dengan m adalah massa air, di mana


mair =3 mbeban
mair =3 2,5
mair =7,5 kg

dan adalah densitas air yang sudah didapat pada perhitungan sebelumnya, yaitu
= 996,44 kg/m3
Sehingga
V=

m
7,5
3
=
=0,007526795 m
996,44

Perhitungan trata-rata dilakukan dengan cara sebagai berikut


t ratarata=

t 1 +t 2 +t 3
3

Sebagai contoh, akan dilakukan perhitungan untuk variasi 1


t ratarata=

4,7+ 4,93+ 4,81


=4,8133333 s
3

Untuk perhitungan debit aktual, akan dilakukan contoh perhitungan pada variasi
1.
Qaktual =

V
t ratarata

0,007526795
m3
=0,001563739
4,813333
s

Perhitungan untuk variasi lainnya, dilakukan dengan cara yang sama. Hasil
perhitungan tertera pada Tabel 4.
4. Luas Permukaan Basah
Luas permukaan basah dapat dihitung dengan rumus
A=b y
dengan b adalah lebar saluran yang nilainya sama sepanjang aliran yaitu 0,075 m,
dan y adalah ketinggian aktual yang dihitung pada saat praktikum. Akan
dilakukan contoh perhitungan untuk debit variasi 1, pada ketinggian aktual di titik
1, sebagai berikut
A=b y=0,075 0,0665=0,0049875 m2
Perhitungan untuk titik dan variasi debit lainnya, dilakukan dengan cara yang
sama. Hasil perhitungan tertera pada Tabel 5.
5. Keliling Basah
Keliling basah dapat dihitung dengan menggunakan rumus
P=b+ 2 y
dengan b adalah lebar saluran yang nilainya sama sepanjang aliran yaitu 0,075 m,
dan y adalah ketinggian aktual yang dihitung pada saat praktikum. Akan

dilakukan contoh perhitungan untuk debit variasi 1, pada ketinggian aktual di titik
1, sebagai berikut
P=b+ 2 y =0,075+2 ( 0,0665 )=0,208 m
Perhitungan untuk titik dan variasi debit lainnya, dilakukan dengan cara yang
sama. Hasil perhitungan tertera pada Tabel 6.
6. Jari-jari Hidrolis
Jari-jari hidrolis dapat dihitung dengan menggunakan rumus
A
R=
P
dengan A adalah luas permukaan dan P adalah keliling basah yang keduanya
sudah didapat dari perhitungan sebelumnya. Akan dilakukan contoh perhitungan
untuk variasi 1 pada ketinggian aktual di titik 1 sebagai berikut
A 0,0049875
R= =
=0,023978 m
P
0,208
Perhitungan untuk titik dan variasi debit lainnya, dilakukan dengan cara yang
sama. Hasil perhitungan tertera pada Tabel 7.
7. Kecepatan Aliran
Kecepatan aliran dapat dihitung dengan menggunakan rumus
v=

Q
A

dimana Q adalah debit aktual dan A adalah luas permukaan basah. Akan
dilakukan contoh perhitungan kecepatan aliran untuk debit variasi 1, pada
ketinggian aktual di titik 1, sebagai berikut
Q 0,001563739
v= =
=0,31353156 m/s
A
0,0049875
Perhitungan untuk titik dan variasi debit lainnya, dilakukan dengan cara yang
sama. Hasil perhitungan tertera pada Tabel 8.
8. Bilangan Froude
Bilangan Froude dapat dihitung dengan menggunakan rumus
Fr=

v
gy

dimana v adalah kecepatan aliran, g adalah konstanta gravitasi, dan y adalah


kedalaman hidrolis. Akan dilakukan contoh perhitungan untuk debit variasi 1,
pada ketinggian aktual di titik 1, sebagai berikut
Fr=

v
0,31353156
=
=0,388182486
gy 9,81 0,0665

Perhitungan untuk titik dan variasi debit lainnya, dilakukan dengan cara yang
sama. Hasil perhitungan tertera pada Tabel 9.
9. Bilangan Reynolds
Bilangan Reynold dapat dihitung dengan menggunakan rumus
nRE=

4 Rv

dimana R adalah jari-jari hidrolis, v adalah kecepatan aliran, dan

adalah

viskositas kinematis. Akan dilakukan contoh perhitungan untuk debit variasi 1,


pada ketinggian aktual di titik 1, sebagai berikut

nRE=

4 Rv 4 0,023978 0,31353156
=
=32039,09781

9,386E-07

Perhitungan untuk variasi lainnya, dilakukan dengan cara yang sama. Hasil
perhitungan tertera pada Tabel 10.
10. Energi Spesifik
Energi spesifik dapat dihitung dengan menggunakan rumus
2

ES= y+

v
2g

dimana y adalah ketinggian aliran, v adalah kecepatan aliran, dan g adalah


konstanta gravitasi. Akan dilakukan contoh perhitungan untuk debit variasi 1,
pada ketinggian aktual di titik 1, sebagai berikut
2

ES= y+

v
0,31353156
=0,0665+
=0,071510298 m
2g
2 9,81

Perhitungan untuk titik dan variasi debit lainnya, dilakukan dengan cara yang
sama. Hasil perhitungan tertera pada Tabel 11.
11. Y kritis

Y kritis adalah kedalaman aliran saat bersifat kritis. Perhitungan Y kritis dapat
dihitung dengan rumus
Q 2 13
b
q2 1
Yc ( ) 3 =(
)
g
g

( )

Akan dilakukan contoh perhitungan untuk debit variasi 1, sebagai berikut


2

0,001563739
0,075
9,81

Q 2 13
b
Yc=(
) =
g

( )

Perhitungan untuk variasi debit lainnya, dilakukan dengan cara yang sama. Hasil
Perhitungan tertera pada Tabel 12.
12. Energi Spesifik Penyempitan
Perhitungan energi spesifik penyempitan dilakukan dengan menggunakan data
saluran pada kondisi penyempitan, di mana lebar penyempirtan yaitu 0,052m,
ketinggian y adalah rata-rata ketinggian aktual pada titik 2 dan titik 3, dan
kecepatan aliran adalah debit aktual dibagi dengan luas permukaan basah dengan
data ketinggian dan lebar slauran seperti data di atas. Akan dilakukan contoh
perhitungan energi spesifik penyempitan pada debit variasi 1 seperti di bawah ini.
ES= y+

v2
0,4885767212
=0,06155+
=0,073716525m
2g
2 9,81

Perhitungan untuk variasi debit lainnya dilakukan dengan cara yang sama. Hasil
tertera pada Tabel 12.
13. Debit Teoritis
Perhitungan debit teoritis dilakukan dengan menggunakan rumus
3
2
Qteoritis=bt g( Es23) 2
3
Akan dilakukan contoh perhitungan untuk debit variasi 1 sebagai berikut
3
3
2
2
m3
Qteoritis=bt g( Es23) 2 =0,052 9,81( 0,73716525) 2 =0,001774387
3
3
s
Perhitungan untuk debit variasi lainnya dilakukan dengan cara yang sama. Hasil
tertera pada Tabel 12.
14. Koefisien Discharge (Cd)

Nilai koefisien discharge dapat dihitung dengan menggunakan rumus


Qaktual
Cd=
Qteoritis
Akan dilakukan contoh perhitungan untuk debit variasi 1 sebagai berikut
Qaktual 0,001563739
Cd=
=
=0,881284101
Qteoritis 0,001774387
Perhitungan untuk variasi debit lainnya dilakukan dengan cara yang sama. Hasil
perhitungan tertera pada Tabel 12.

VI.

DATA AKHIR
Tabel 4. Hasil Perhitungan Densitas, Viskositas Kinematis, dan Debit Aktual
Variasi

Densitas
(kg/m3)

Viskositas Kinematis
(m2/s)

1
2
3
4
5

996,44

9,386E-07

Debit Aktual
(m3/s)
0,001563739
0,002244571
0,002465108
0,002694557
0,002659645

Tabel 5. Hasil Perhitungan Luas Permukaan Basah


Variasi
1
2
3
4
5

A1
0,0049875
0,006045
0,00681
0,0069375
0,0066825

A2
0,004905
0,00609
0,006705
0,0068775
0,006615

Luas Basah (m2)


A3
A4
A5
0,0030004 0,0023556 0,002132
0,0037492 0,0029796 0,0025688
0,0041548 0,0033852 0,0027872
0,0042328 0,0034736 0,0027144
0,0040716 0,0033488 0,0028132

A6
0,0016875
0,0021825
0,0023475
0,00249
0,00228

A7
0,0019425
0,00201
0,00237
0,0024225
0,0023925

Tabel 6. Hasil Perhitungan Keliling Basah


Variasi
1
2
3
4
5

P1
0,208
0,2362
0,2566
0,26
0,2532

P2
0,2058
0,2374
0,2538
0,2584
0,2514

Keliling Basah (m)


P3
P4
P5
0,1674
0,1426
0,134
0,1962
0,1666
0,1508
0,2118
0,1822
0,1592
0,2148
0,1856
0,1564
0,2086
0,1808
0,1602

P6
0,12
0,1332
0,1376
0,1414
0,1358

P7
0,1268
0,1286
0,1382
0,1396
0,1388

R6
0,014063
0,016385

R7
0,015319
0,01563

Tabel 7. Hasil Perhitungan Jari-jari Hidrolis


Variasi
1
2

R1
0,023978
0,025593

R2
0,023834
0,025653

Jari-jari Hidrolis (m)


R3
R4
R5
0,017924 0,016519
0,01591
0,019109 0,017885 0,017034

3
4
5

0,026539
0,026683
0,026392

0,026418
0,026616
0,026313

0,019617
0,019706
0,019519

0,01858
0,018716
0,018522

0,017508
0,017355
0,017561

0,01706
0,01761
0,016789

0,017149
0,017353
0,017237

V6
0,9266599
1,0284404
1,050099
1,0821513
1,1665109

V7
0,8050134
1,1167020
1,0401298
1,1123041
1,1116593

Fr6
1,9723983
1,9248555
1,895062
1,896201
2,1360800

Fr7
1,5970509
2,1778874
1,8681403
1,9760038
1,9872013

Tabel 8. Hasil Perhitungan Kecepatan Aliran


Variasi
1
2
3
4
5

V1
0,313531
0,3713103
0,3619835
0,3884045
0,3980014

V2
0,3188050
0,3685666
0,3676521
0,3917930
0,4020627

Kecepatan Aliran (m/s)


V3
V4
V5
0,5211767 0,663838 0,7334609
0,5986800 0,7533129 0,8737819
0,5933156 0,7282014 0,8844387
0,63658
0,7757245 0,9926896
0,653218 0,7942083 0,9454162

Tabel 9. Hasil Perhitungan Bilangan Froude


Variasi
1
2
3
4
5

Fr1
0,3881824
0,4175755
0,3835406
0,4077359
0,4257075

Fr2
0,3980171
0,4129558
0,392585
0,4130832
0,4322400

Bilangan Froude
Fr3
Fr4
Fr5
0,6927277 0,995815 1,1565130
0,7118568 1,0047629 1,2551774
0,6701590 0,9112269 1,2196939
0,7123819 0,9582631 1,3872148
0,7453207 0,9992105 1,297746

Tabel 10. Hasil Perhitungan Bilangan Reynolds


Variasi
1
2
3
4
5

Re1
32039,097
40497,939
40941,022
44166,546
44765,085

Re2
32381,595
40293,232
41392,696
44440,023
45085,598

Bilangan Reynolds
Re3
Re4
Re5
39809,631 46733,04 49732,330
48754,400 57416,647 63432,449
49600,879 57658,980 65989,109
53460,437 61871,239 73422,647
54336,143 62690,926 70752,306

Re6
55534,436
71813,914
76347,865
81211,471
83464,797

Re7
52556,248
74382,686
76016,39
82258,610
81660,803

ES6
0,0662664
0,083008
0,0875032
0,0928866
0,099755

ES7
0,0589299
0,0903587
0,0867411
0,0953591
0,0948860

Tabel 11. Hasil Perhitungan Energi Spesifik


Variasi
1
2
3
4
5

ES1
0,0715102
0,0876270
0,0974784
0,1001889
0,0971736

ES2
0,0705802
0,0881236
0,0962893
0,0995237
0,0964392

Energi Spesifik (m)


ES3
ES4
ES5
0,0715443 0,0677608 0,068419
0,0903679 0,0862235 0,0883141
0,0978420 0,092127 0,0934691
0,1020547 0,0974701 0,1024259
0,100047 0,0965491 0,0996561

Tabel 12. Hasil Perhitungan Akhir


Variasi

Qaktual

Y2-3

V2-3

Es

Qteoritis

Cd Yc (m)

VII.

(m3/s)

(m)

(m/s)

sempit (m)

(m3/s)

0,0015637

0,06155

0,48857

0,0737165

0,0017743

0,0022445

0,07665

0,56314

0,092813

0,002506

0,0024651

0,08465

0,56002

0,1006349

0,0028302

0,0026945

0,08655

0,59871

0,1048198

0,0030086

0,0026596

0,08325

0,61437

0,1024885

0,0029088

0,881
2
0,895
3
0,870
9
0,895
6
0,914
3

0.04517
0.0574
0.061
0.0649
0.0643

ANALISIS A
0
0

f(x) = 0.89x
R = 1

0
Q Aktual (m3/s)

Grafik Qteoritis
terhadap Qaktual

Linear (Grafik Qteoritis


terhadap Qaktual)

0
0
000000000
Q Teoritis (m3/s)

Gambar 7. Grafik Qteoritis terhadap Qaktual


Berdasarkan regresi linear antara debit teoritis dan debit aktual, akan didapat
nilai gradien yang menunjukan nilai koefisien discharge sesuai dengan rumus
Cd=

Qaktual
Qteoritis

Nilai koefisien discharge yang didapat pada percobaan dengan menggunakan


venturiflume adalah 0,893. Berdasarkan literatur, nilai koefisien discharge untuk
venturiflume yang baik berkisar antara 0,95-0,97. Nilai tersebut akan memberikan
galat dengan nilai pada percobaan sebesar 6%-7,938% sesuai dengan perhitungan di
bawah ini.

|0,950,893
|100 =6
0,95

|0,970,893
|100 =7,938
0,97

Adanya nilai galat ini dapat disebabkan oleh beberapa hal. Salah satu yang paling
menentukan adanya galat ini adalah titik pengukuran berdasarkan teori yaitu pada titik
2 dan 3. Titik ini dianggap sebagai titik di mana terjadi penyempitan saluran. Pada
kenyataannya, penyempitan saluran terjadi pada titik 3, 4, dan 5. Hal ini menyebabkan
ketidaktepatan data yang dipakai dalam perhitungan sehingga nilai koefisien
discharge yang didapat tidak masuk ke dalam nilai range koefisien discharge untuk
venturiflume.
2.5
2

f(x) = 0.01 x^-1.4


R = 0.91

1.5
Bilangan Froude

Grafik Y terhadap NFr


Variasi 1

Power (Grafik Y
terhadap NFr Variasi
1)

0.5
0
0.02 0.04 0.06 0.08
Kedalaman (m)

Gambar 8. Grafik Y terhadap Fr Variasi 1


Berdasarkan grafik Y terhadap Fr di atas, terlihat hubungan yang berbanding
terbalik antara keduanya. Berdasarkan rumus
Fr=

Fr=

v
gy

v
gy

Q
(
b. y )
=
=

gy

Q
by gy

Q
3

bg ( y )2

Fr

1
y

3
2

maka, nilai Y seharusnya memiliki pangkat (-1,5) terhadap Fr. Setelah dilakukan
regresi power terhadap nilai keduanya, didapat persamaan y=0,010x -1,40 di mana y

adalah bilangan froude, x adalah kedalaman. Maka akan didapat nilai galat terhadap
pangkat dr Y sebesar

1=

1,40 (1,5 )
100 =6,67
1,5

Untuk variasi debit lainnya, dilakukan regresi dan perhitungan galat dengan cara yang
sama. Berikut adalah hasil regresi untuk variasi debit lainnya.
2.5
f(x) = 0.02 x^-1.4
R = 0.92

2
1.5
Bilangan Froude

Grafik Y terhadap NFr


Variasi 2

Power (Grafik Y
terhadap NFr Variasi
2)

0.5
0
0

0.05

0.1

Kedalaman (m)

Gambar 9. Grafik Y terhadap Fr Variasi 2

2
1.8

f(x) = 0.02 x^-1.4


R = 0.92

1.6
1.4
1.2
Bilangan Froude

Grafik Y terhadap NFr


Variasi 3

1
0.8
0.6

Power (Grafik Y
terhadap NFr Variasi
3)

0.4
0.2
0
0

0.05

0.1

Kedalaman (m)

Gambar 10. Grafik Y terhadap Fr Variasi 3

2.5
f(x) = 0.02 x^-1.41
R = 0.92

2
1.5
Bilangan Froude

Grafik Y terhadap NFr


Variasi 4

Power (Grafik Y
terhadap NFr Variasi
4)

0.5
0
0

0.05

0.1

Kedalaman (m)

Gambar 11. Grafik Y terhadap Fr Variasi 4

2.5
f(x) = 0.02 x^-1.39
R = 0.92

2
1.5
Bilangan Froude

Grafik Y terhadap NFr


Variasi 5

Power (Grafik Y
terhadap NFr Variasi
5)

0.5
0
0

0.05

0.1

Kedalaman (m)

Gambar 12. Grafik Y terhadap Fr Variasi 5


Perhitungan galat yang didapat untuk masing-masing variasi lain adalah sebagai
berikut

2 =7 , 3 =7.13 , 4 =6.13, 5=7.13 . Bilangan froude adalah suatu nilai

yang menunjukan energi pada aliran. Ketika nilai bilangan froude kurang dari 1, maka
aliran adalah subkritis di mana energi potensial mendominasi aliran. Ketika bilangan
froude lebih dari satu, aliran adalah superkritis di mana energi kinetik mendominasi
aliran. Dan ketika nilai bilangan froude sama dengan satu, aliran adalah kritis di mana
energi kinetik dan energi potensial aliran dalam keadaan seimbang. Berdasarkan nilai
bilangan froudenya, pada titik 1, 2, dan 3 aliran bersifat subkritis, pada titik 4 aliran
bersifat kritis (nilai bilangan froude tidak tepat satu, namun terjadi perubahan nilai

bilangan froude menjadi lebih besar, sehingga terdapat titik diantara 3 sampai 4 atau
bahkan sampai 5 di mana aliran bersifat tepat kritis). pada titik 5, 6, dan 7 aliran
bersifat subkritis.
60000
f(x) = 9652.96 x^-0.48
R = 0.84

50000
40000
Bilangan Reynold

30000

Grafik Y terhadap Nre


Variasi 1

20000

Power (Grafik Y
terhadap Nre Variasi
1)

10000
0
0

0.05 0.1

Kedalaman (m)

Gambar 13. Grafik Y terhadap Re Variasi 1

80000
f(x) = 11815.6 x^-0.52
R = 0.9

70000
60000
50000
Bilangan Reynold

Grafik Y terhadap Nre


Variasi 2

40000
30000

Power (Grafik Y
terhadap Nre Variasi
2)

20000
10000
0
0

0.05 0.1

Kedalaman (m)

Gambar 14. Grafik Y terhadap Re Variasi 2

90000
80000

f(x) = 11730 x^-0.55


R = 0.92

70000
60000
50000

Grafik Y terhadap Nre


Variasi 3

Bilangan Froude 40000

Power (Grafik Y
terhadap Nre Variasi
3)

30000
20000
10000
0
0

0.05 0.1

Kedalaman (m)

Gambar 15. Grafik Y terhadap Re Variasi 3

90000
f(x) = 12345.86 x^-0.57
R = 0.92

80000
70000
60000
50000

Grafik Y terhadap Nre


Variasi 4

Bilangan Froude 40000

Power (Grafik Y
terhadap Nre Variasi
4)

30000
20000
10000
0
0

0.05 0.1

Kedalaman (m)

Gambar 16. Grafik Y terhadap Re Variasi 4

90000
f(x) = 12891.23 x^-0.55
R = 0.91

80000
70000
60000
50000

Grafik Y terhadap Nre


Variasi 5

Bilangan Reynold 40000

Power (Grafik Y
terhadap Nre Variasi
5)

30000
20000
10000
0
0

0.05 0.1

Kedalaman (m)

Gambar 17. Grafik Y terhadap Re Variasi 5


Hubungan antara kedalaman dan bilangan Reynold dapat ditunjukan dengan
rumus berikut ini
=

vD

V=

Q
=
A D

Q
=
by D
Berdasarkan grafik, hubungan keduanya sudah benar, yaitu berbanding terbalik.
Berdasarkan hasil perhitungan dari data percobaan, pada semua variasi debit dan pada
semua titik pengambilan data, aliran bersifat turbulen karena memiliki nilai bilagan
Reynold>4000.

0.1
0.09
0.08
0.07
0.06

Grafik Es terhadap Y
Variasi 1
Grafik Es terhadap Y
Variasi 2

0.05
Kedalaman (m)
0.04
0.03

Grafik Es terhadap Y
Variasi 3
Grafik es terhadap Y
Variasi 4

0.02
0.01
0
0.05

0.1

0.15

Grafik Es terhadap Y
Variasi 5

Energi Spesifik (m)

Gambar 18. Grafik Energi Spesifik terhadap Kedalaman


Dilihat dari bentuknya, grafik energi spesifik terhadap kedalaman di atas tidak
sesuai dengan bentuk yang seharusnya di mana grafik terbuka ke kanan dengan
asimtot pada garis 45o. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa terdapat
kesalahan pada asumsi data. Menurut teori, penyempitan terjadi pada titik 2 dan 3,
sedangkan pada kenyataannya penyempitan terjadi pada titik 3, 4, dan 5. Hal ini tentu
berpengaruh pada perhitungan luas permukaan basah yang nantinya digunakan dalam
perhitungan kecepatan. Kesalahan ini akan berpengaruh pula pada pehitungan energi
spesifik yang memiliki unsur kecepatan di dalamnya.
VIII.

ANALISIS B
Aplikasi penggunaan venturiflume pada bidang Teknik Lingkungan yaitu pada
penyaluran air, baik IPAL, IPAM, maupun penyaluran air irigasi. Pada penyaluran air
untuk irigasi, venturiflume berguna sebagai oengatur debit aliran yang akan keluar.
Dengan venturiflume, debit aliran yang akan keluar dapat dikontrol.
Penggunaan venturiflume sebagai alat ukur debit saluran terbuka memiliki
kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya antara lain, nilai headloss yang relatif kecil,
tidak berpengaruh pada fluida yang mengandug endapan atau suspended solid (dapat
dilakukan perhitungan debitnya), pembuatannya yang mudah dan tidak terlalu mahal.
Sedangkan kekurangan dari venturiflume antara lain tidak tersedianya ukuran yang
lebih kecil dari 6 inchi sehingga diperlukan akurasi hidrolik dan kontruksi yang lebih,
tidak adanya deadzone membuat sampah/padatan yang terdapat pada fluida terbawa

terus melalui aliran (hal ini dapat merugikan pad penggunaan venturiflume pada
penyaluran air untuk irigasi).
IX.

KESIMPULAN
1. Debit aliran yang didapat dengan menggunakan venturiflume sebagai alat ukur
yaitu 0,001774387 m3/s; 0,00250679 m3/s; 0,002830248 m3/s; 0,003008612 m3/s;
0,002908802 m3/s.
2. Berdasarkan nilai bilangan froudenya, pada titik 1 sampai 3 aliran bersifat
subkritis, pada titik 4 aliran bersifat kritis, dan pada titik 5 sampai 7 aliran bersifat
superkritis.
3. Nilai koefisien discharge yang didapat pada penggunaan venturiflume sebagai
alat ukur debit saluran terbuka adalah 0,893.
4. Berdasarkan nilai bilangan reynoldnya, pada semua variasi debit aliran bersifat
turbulen.

X.

DAFTAR PUSTAKA
Chow,Ven Te.1992.Open Channel Hydraulic.Jakarta :Erlangga.
Finnemore, E. John., Joseph B. Franzini. 2002. Fluid Mechanics With Engineering
Applications Tenth Edition. New York : McGraw-Hill Book Company.
http://www.brighthubengineering.com/hydraulics-civil-engineering
http://en.wikipedia.org/wiki/Venturi_flume