Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM PROYEK SAINS TUMBUHAN (BI-2204)

HIDROPONIK KANGKUNG AIR (Ipomoea aquatica)


Tanggal Praktikum : 24 Februari 2016
Tanggal Pengumpulan : 30 Maret 2016
Disusun oleh:
Zahwa Winessya Chakti
10614062
Kelompok 5
Asisten:
Prinka Apriati P.
10613077

PROGRAM STUDI BIOLOGI


SEKOLAH ILMU DAN TEKNOLOGI HAYATI
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
BANDUNG
2015

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Hidroponik merupakan teknik budidaya tanaman tanpa menggunakan media

tanah, melainkan dengan media air dengan penekanan pada pemenuhan nutrisi bagi
tanaman. Metode hidroponik memiliki keuntungan berupa tanaman hasil yang steril,
bersih, tumbuh lebih cepat, dan bebas dari tanaman pengganggu seperti gulma.
Sedangkan yang menjadi kekurangan dari metode ini adalah perlunya keahlian dalam
memerhitungkan komposisi nutrisi tanaman. Medium Hoagland merupakan salah satu
medium yang umum dalam metode hidroponik. Medium ini terdiri atas makronutrien,
mikronutrien, dan Fe EDTA.Makronutrien meliputi Ca(NO 3), MgSO4, KH2PO4, dan
KNO3. Sedangkan mikronutriennya meliputi H3BO4, MnCL2, ZnCl2, CuCb, dan Na2
MoO4 (Lingga, 1997).
1.2
Tujuan
Praktikum hidroponik memiliki tujuan sebagai berikut,
1. Menentukan pengaruh optimasi penggunaan medium Hoagland

terhadap

pertumbuhan tanaman dan kadar nitrat pada medium.


2. Menentukan pengaruh optimasi penggunaan medium Hoagland terhadap kadar
klorofil daun kangkung.
1.3
Hipotesis
Pada praktikum hidroponik, hipotesis yang dapat diambil adalah sebagai
berikut,
1. Tanaman hasil hidroponik pada medium kontrol akan tumbuh paling optimum.
2. Kadar klorofil akan paling rendah pada tumbuhan hasil hidroponik dengan defisiensi
mikronutrien.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Hidroponik
2.2. Medium Hoagland
2.3. Deskripsi dan klasifikasi tumbuhan
Kangkung

air

(Ipomoea)

adalah

tumbuhan

akuatik

dari

famili

Convolvulaceae. Tumbuhan ini endemik di Asia, namun telah menjadi spesies invasif
di Amerika Utara (US Department of Agriculture, 2016). Di wilayah asalnya,
kangkung air dibudidayakan sebagai sayuran. Klasifikasi lengkap terdapat pada Tabel
2.1.
Tabel 2.1 Klasifikasi kangkung air (Integrated Taxonomy Information System, 2016)

Kingdom
Division
Class
Order
Family
Genus
Species

Plantae
Tracheophyta
Magnoliopsida
Solanales
Convolvulaceae
Ipomoea
Ipomoea aquatica

2.4. Faktor-faktor yang memengaruhi hasil budidaya hidroponik


Sama halnya dengan budidaya konvensional, hasil hidroponik juga dapat
dipengaruhi kondisi lingkungan. Kondisi-kondisi tersebut di antaranya paparan
cahaya, suhu, kandungan gas atmosfer, kadar air, dan ketersediaan nutrisi.
2.5. Anabolisme klorofil

BAB III
METODOLOGI

3.1

Alat dan Bahan


Praktikum hidroponik menggunakan alat dan bahan seperti yang tercantum

dalam tabel 3.1. di bawah ini.


Tabel 3. 1 Alat dan Bahan Praktikum

Alat
Bak plastik
Papan stirofom
Lumpang dan penumbuk
Alat potong
Lakban
Labu ukur 100 mL
Penggaris
UV light spectrophotometer
Penangas air
Saringan Buchner

Bahan
Semaian kangkung air
Aquades
Larutan kalsium karbonat 10 g/L
Ca(NO3)2 1 M
KNO3 1 M
MgSO4 1 M
KH2PO4 1 M
FeEDTA
NaCl
H2SO4
Larutan mikronutrien
Brussin sulfat
Larutan mikronutrien
Kuvet
Aseton

3.2
3.2.1

Cara Kerja
Penyediaan Tanaman Kangkung

Pertama kecambah diseleksi untuk mendapatkan kecambah yang sehat dan


seragam pertumbuhannya. Selanjutnya kecambah dikeluarkan dari media semainya
(tanah, sekam, dan pupuk kandang), dicuci dengan air bersih dan dipindahkan
kedalam media air (akuades) yang telah diberi larutan Kalsium karbonat jenuh (10
g/L) di ruangan yang nantinya digunakan sebagai tempat tumbuh. Aklimasi kecambah
dilakukan selama 24 jam sebelum dipindahkan ke medium air nutrien.
3.2.2 Perlakuan Nutrien
Kecambah dipindahkan ke dalam wadah berisi medium nutrien berupa larutan
Hoagland dan medium komersial. Medium Hoagland berlaku sebagai medium
Kontrol. Tinggi air dalam wadah diberi tanda dengan marker tahan air. Pemberian air
sampai tanda marker dilakukan setiap hari selama 4 minggu pengamatan sedang pH
medium diukur setiap 3 hari dengan pH meter. Medium dijaga agar pHnya berada
pada kisaran 6.0-6.5 dengan penambahan larutan jenuh CaCO3.
Tanaman uji ditanam dalam bentuk water culture dan diberi aerasi dengan
menggunakan aerator. Selain faktor kimia seperti pH medium, faktor fisik lingkungan
seperti suhu ruangan dan kelembapan, selama penelitian diusahakan agar berada
dalam rentang yang konstan. Suhu ruangan dan kelembapan selama penelitian
diusahakan berada dalam kisaran 24-260C dengan kelembapan relatif 90%.
3.2.3 Pembuatan Medium Hidroponik
Medium yang akan digunakan dalam percobaan hidroponik ini adalah
Medium Hoagland dengan variasi defisiensi mikro dan makronutrien tertentu.
Medium Hoagland dibuat dahulu dengan resep seperti tampak pada Tabel 2. Untuk
mempermudah pembuatan medium hidroponik biasanya terlebih dahulu dibuat
larutan stok di mana masing-masing larutan stok dapat terdiri dari lebih dari satu
senyawa.

Tabel 3.2 Komposisi medium hidroponik Hoagland

Larutan Stok

Volume yang dibutuhkan untuk


medium 1L
Makronutrien

1M Ca(NO3)2

10 mL

1M KNO3

10 mL

1M MgSO4

4 mL

1M KH2PO4

2 mL

FeEDTA
Mikronutrien

2 mL
2 mL

Tabel 3.3 Komposisi larutan mikronutrien (dalam 100mL)

Zat

Satuan (g)

H3BO3
MnCl2.4H2O
ZnCl2
CuCl2.2H2O
Na2MoO4.2H2O

2,86
1,81
0,11
0,05
0,025

Larutan stok FeEDTA: 5,57 gram FeSO4.7H2O dilarutkan dalam 200 mL akuades.
7,45 gram Na2EDTA dilarutkan dalam 200 mL akuades. Keduanya dicampur
kemudian ditambahkan akuades hingga volumenya 1L.
3.2.4 Perangkaian Instalasi Hidroponik
Langkah awal yang dilakukan adalah mengukur papan penyangga dengan
lebar dan panjang yang sesuai dengan ukuran bak percobaan. Potong papan tersebut
dengan menggunakan gunting atau cutter. Tandai lima sisi papan dengan ukuran 2 x 2
cm sebagai tempat tanaman dapat berdiri kemudian lubangi bagian yang telah
ditandai tadi. Sambungkan aerator dengan salah satu ujung selang. Panjang selang
yang dibutuhkan sesuai dengan kebutuhan. Letakkan ujung lain dari selang pada
bagian dasar dari bak percobaan.
3.2.5 Pengukuran Parameter

1. Tingkat Penyerapan Nitrogen


Pengukuran dilakukan dengan pengambilan sampel medium di awal dan akhir waktu
pengamatan (minggu ke-0 dan minggu ke-4). Faktor yang diukur adalah kadar nitrat
dan ammonium yang tersisa dalam medium setiap perlakuan.
a.Pengukuran Nitrat
10 mL sampel ditambah dengan 2 mL NaCl, 10 mL H2SO4, dan 0,5 mL reagen
Brussin Sulfat. Larutan diaduk dan dipanaskan dalam penangas air pada suhu didih
selama 20 menit. Setelah larutan kembali dingin, kemudian diambil sampel untuk
dimasukan kedalam cuvet spektrofotometer. Pengukuran kadar dilakukan dengan alat
HACH dengan panjang gelombang 507 nm metode 351.
b. Pengukuran Ammonium
25 mL sampel ditambah dengan 2 tetes reagen Seignette dan 0,5 mL reagen
nesler. Campuran diaduk dan didiamkan selama 10 menit. Sampel diambil sebagian
dan dimasukan kedalam cuvet spektrofotometer. Pengukuran kadar dilakukan dengan
alat HACH dengan panjang gelombang 425 nm metode 380.
2. Luas Daun
Daun diasumsikan mengikuti bentuk oval sehingga luas daun dapat dihitung
menggunakan rumus berikut ini:
Luas daun (cm2) = ..a.b
Ket: = konstanta (3,14287)
a = panjang daun (cm)
b = lebar daun (cm)
Pengukuran luas daun dilakukan pada seluruh daun dari masing-masing tanaman dan
dilakukan setiap minggu selama 4 minggu percobaan. Daun utama merupakan daun
yang berada paling bawah. Dengan melakukan perhitungan luas daun, dapat terhitung
pula jumlah daun untuk masing-masing tanaman. Pengukuran luas dilakukan pada
daun yang sudah ada sebelum percobaan dimulai dan pada daun baru yang tumbuh
saat percobaan berlangsung.
3. Pertumbuhan Tunas

Tanaman percobaan diukur tingginya setiap minggu selama 4 minggu


percobaan. Tinggi tanaman diukur dengan menggunakan penggaris. Pengukuran
dilakukan pada shoot system yang berada di atas papan penyangga.
4. Kadar Klorofil Daun
Pengukuran kadar klorofil daun dilakukan di awal dan akhir waktu
pengamatan (minggu ke-0 dan minggu ke-4). Daun segar (daun sebelum perlakuan
dan yang muncul setelah perlakuan) seberat 1 g digerus dengan mortar kemudian
diekstrak dengan 50 mL aceton 80% hingga seluruh klorofil terlarut. Lakukan
ekstraksi ini selama 5 menit. Ekstrak kemudian disaring dengan saringan buchner dan
hasil saringan dipindahkan ke dalam labu ukur dan diberi tambahan aseton hingga
volume 100 mL. Kadar klorofil diukur menggunakan UV/visible spektrofometer pada
rentang panjang gelombang 663 nm dan 645 nm. Hasil nilai absorbansi kemudian
diubah kedalam satuan mg/L menggunakan rumus berikut ini:
( 20,2 D645 + 8,02 D663 ) x Volume Ekstrak
Klorofil Total = 1000 x berat sampel
Ket : D = Absorbansi
3.2.6 Pemberian Perlakuan
Pada praktikum ini, diberikan perlakuan pada metode hidroponik seperti
berikut.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1

Hasil Pengamatan
Berdasarkan percobaan metode hidroponik yang telah dilakukan, didapatkan

hasil sebagai berikut.


Tabel 4.1 Hasil Pengamatan

Tanggal

Foto

Keterangan

1 Maret 2016

Tanaman hidup

8 Maret 2016

Tanaman hidup

15 Maret 2016

Tanaman B, C mati

22 Maret 2016

Tanaman A, B, C, mati

Tabel 4.2 Hasil Pengamatan Kadar Nitrat dan Klorofil

Pengukuran

Nitrat
Absorbansi Konsentrasi

1
2

-0,008
0,010

3,1888x10-3
3,2 x 10-3

Absorbansi
645
0,266
0,104

Klorofil
Absorbansi
663
0,633
0,202

Konsentrasi
(mg/L)
956.937,799
6.027,932

Tabel 4.3 Hasil Pengamatan Luas Daun

Tanaman
keA

Daun ke-

1
2
3
4
5
6
7
8
9
1
2
3
4
5
6
7
8

Luas (Cm) Minggu Ke0


2,5294
3,5822
1,54118
2,7294
3,3176
4,3412
0,9647

1
4,082353
4,623529
3,917647
2,458824

2
4,235
2,706
3,412

3
-

2,2823
2,98
2,12
2,93
4,04
5,41
4,83
2,10

4,870588
5,788235
4,917647
3,047059

9
1
2
3
4
5
6
7
8
9
1
2
3
4
5
6
7
8
9
1
2
3
4
5
6
7
8
9

3,2
1,8118
2,5882
4,1647
6,5765
2,9882
6,1294

1,058824
3,835294
5,152941
2,894118
5,376471

4,88
4,17
2,58
4,78
5,97
5,88
3,18

4,4235
5,5765
6,4941
3,0118

3,1882
3,4352
3,4705
5,2941
7,1764
7,1529
4

6,81176
6,47059
3,27059

4,353
5,5294
7,294
4,4706
3,7647
3,6470
8,5882
8,4705
4,8235
3,6117
2,4705

3,8823
6,5882
6,235
5,647
3,6470
2,270
0,152

Tabel 4.3 Hasil Pengamatan Tinggi Tanaman

Tanaman
keA
B
C
D
E
4.2

Tinggi (Cm) Minggu Ke0


10,2
8,6
9,3
11,6
11,8

Pembahasan

1
13
10,5
11,3
14,5
14,8

2
16,3
19,5
19

3
22,2
22,1

4.2.1 Pengaruh konsentrasi nitrat pada medium dan hubungannya dengan kandungan
klorofil daun, luas daun, dan tinggi tanaman
Grafuck kons nirat, luas daun, klorofil thd waktu
Hubungan berkurangnya konsentrasinitrat degn tambahnya luas daun dan kandungan
klorofil
Mechanism penyerapan nitrogen
4.2.2 Fungsi makronutrien dan mikronutrien, unsur-unsurnya, dan pngaruhnya
terhadap pertumbuhan pada tanaman
Fungsi? Kloro/nekro ada ga? Knp?
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1

Kesimpulan
Berdasarkan praktikum

hidroponik

yang

telah

dilakukan,

diperoleh

kesimpulan sebagai berikut.


1.
5.2

Saran
Jika akan dilakukan praktikum serupa di waktu yang akan datang, saran yang

dapat diberikan agar praktikum berjalan lebih baik adalah melakukan pembuatan
medium tanam dengan teliti dan jumlah bahan yang tepat. Hal ini dilakukan agar
kandungan dan nutrien yang ada sesuai dengan yang dibutuhkan untuk perlakuan dan
pertumbuhan tanaman secara hidroponik. Selain itu perlu dilakukan pengecekan pH
medium secara berkala agar tanaman dapat tumbuh optimal dalam rentang pH yang
memungkinkan. Pemasangan tanaman ke papan hidroponik juga harus dilakukan
secara benar. Akar harus tercelup ke dalam medium agar dapat menyerap nutrient dan
zat yang diperlukan untuk pertumbuhan.
DAFTAR PUSTAKA