Anda di halaman 1dari 18

ISRAILIYAT DALAM TAFSIR AL-QURAN

PENDAHULUAN
Teks al-Quran adalah wahyu Allah yang tidak akan berubah oleh campur tangan
manusia, tetapi pemahaman terhadap al-Quran tidak tetap, selalu berubah sesuai
dengan kemampuan orang yang memahami isi kandungan al-Quran itu dalam rangka
mengaktualkannya dalam bentuk konsep yang bisa dilaksanakan. Dan ini akan terus
berkembang sejalan dengan tuntutan dan permasalahan hidup yang dihadapi manusia.
Sebagai petunjuk, tentunya al-Quran harus dipahami, dihayati dan diamalkan oleh
manusia yang beriman kepada petunjuk itu, namun dalam kenyataannya tidak semua
orang bisa dengan mudah memahami al-Quran, bahkan sahabat-sahabat Nabi
sekalipun yang secara umum menyaksikan turunnya wahyu, mengetahui konteksnya,
serta memahami secara alamiah struktur bahasa dan kosa katanya. Tidak jarang
mereka berbeda pendapat atau bahkan keliru memahami maksud firman Allah yang
mereka baca.1 Karena itu Rasulullah berfungsi sebagai penjelas (mubayyin) maksud
firman Allah.
Pada masa Rasulullah saw hidup, umat Islam tidak banyak menemukan kesulitan
dalam memahami petunjuk al-Quran dalam mengarungi hidupnya, sebab manakala
menemukan kesulitan dalam satu ayat, mereka akan langsung bertanya kepada
Rasulullah saw dan kemudian Beliau menjelaskan maksud kandungan ayat tersebut.
Akan tetapi sepeninggal Rasulullah saw, umat Islam banyak menemukan kesulitan
karena meskipun mereka mengerti bahasa Arab, al-Quran terkadang mengandung
isyarat-isyarat yang belum bisa dijangkau oleh pikiran orang-orang Arab. Oleh karena
itu mereka membutuhkan tafsir yang bisa membimbing dan menghantarkan mereka
untuk memahami isyarat-isyarat seperti itu.
Langkah pertama yang mereka ambil adalah melihat pada hadits Rasulullah saw,
karena mereka berkeyakinan bahwa Beliaulah satu-satunya orang yang paling banyak
mengetahui makna-makna wahyu Allah. Disamping itu, mereka mengambil langkah
dengan cara menafsirkan satu ayat dengan ayat lainnya, langkah selanjutnya yang
mereka tempuh adalah menanyakannya kepada sahabat yang terlibat langsung serta
memahami konteks posisi ayat tersebut. Manakala mereka tidak menemukan jawaban
1

Muhammad Husain adz-Dzahabi, al-Tafsir,al-Mufassirin, (Mesir: Dar al-Kutub


wal al-Hadits, 1976), jilid I, h. 59.

dalam keterangan Nabi atau sahabat, mereka melakukan ijtihad dan lantas berpegang
kepada pendapatnya sendiri, khususnya mereka yang mempunyai kapasitas intelektual
yang mumpuni seperti Ali bin Abi Thalib, Ibnu Abbas, Ubay bin Ka'ab dan Ibnu
Mas'ud ra.2
Selain bertanya kepada para sahabat senior, sumber informasi bagi penafsiran alQuran, mereka bertanya juga kepada ahli kitab, yaitu kaumYahudi dan Nashrani. Hal
itu mereka lakukan lantaran sebagian masalah dalam al-Quran memiliki persamaan
dengan yang ada dalam kitab suci mereka, terutama berbagai tema yang menyangkut
umat-umat terdahulu. Penafsiran seperti ini terus berkembang sejalan dengan
perkembangan pemikiran manusia dan kebutuhannya akan urgensi al-Quran sebagai
petunjuk bagi kehidupannya, sedemikian sampai-sampai tanpa disadari bercampurlah
tafsir dengan Israiliyat. Kehadiran israiliyat dalam penafsiran al-Quran itulah yang,
menjadi ajang polemik dikalangan para ahli tafsir al-Quran. Karenanya, makalah ini
akan membahas tema israiliyat dari sudut apa pengertian israiliyat, bagaimana proses
masuk dan berkembangnya israiliyat dalam tafsir, Pembagian israiliyat, pandangan
para ulama terhdap israiliyat, dan contoh-contoh isriliyat.
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN ISRAILIYAT
Ditinjau dari segi bahasa kata israiliyat adalah bentuk jamak dari kata israiliyah,
yakni bentuk kata yang dinisbahkan pada kata Israil yang berasal dari bahasa Ibrani,
Isra bararti hamba dan Il berarti Tuhan, jadi Israil adalah hamba Tuhan. Dalam
deskriptif histories, Israil barkaitan erat dengan Nabi Ya'kub bin Ishaq bin Ibrahim as,
dimana keturunan beliau yang berjumlah dua belas disebut Bani Israil. Di dalam alQuran banyak disebutkan tentang Bani Israil yang dinisbahkan kepada Yahudi. 3
Misalnya firman Allah dalam surah al-Maidah:78, al-Isra:4, an-Naml: 76.
Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putra
Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui
batas. (QS:al-Maidah: 78)
2

M. Quraish Shihab, Membumikan al-Quran, (Bandung: Mizan, 1992), h. 71

Muhammad Husain adz-Dzahabi, al-Israilyyat fit-Tafsiri wa al-Hadits, terjemahan Didin

Hafiduddin (Jakarta, PT. Litera Antara Nusantara, 1993), h. 8.

Dan telah kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam kitab itu, sesungguhnya kamu
akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan
menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar. (QS:al-Isra : 4)
Sesungguhnya al-Quran ini menjelaskan kepada Bani Israel sebagian besar dari
(perkara-perkara) yang mereka berselisih tentangya. (QS:an-Naml: 78)
Secara istilah para ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan israiliyat. Menurut
adz-Dzahabi israiliyat mengandung dua pengertian yaitu, pertama: kisah dan dongeng
yang disusupkan dalam tafsir dan hadits yang asal periwayatannya kembali kepada
sumbernya yaitu Yahudi, Nashrani dan yang lainnya. Kedua: cerita-cerita yang
sengaja diselundupkan oleh musuh-musuh Islam ke dalam tafsir dan hadits yang sama
sekali tidak dijumpai dasarnya dalam sumber-sumber lama.4
Definisi lain dari Asy-Syarbasi adalah kisah-kisah dan berita-berita yang berhasil
diselundupkan oleh orang-orang Yahudi ke dalam Islam. Kisah-kisah dan kebohongan
mereka kemudian diserap oleh umat Islam, selain dari Yahudi merekapun
menyerapnya dari yang lain.5 Sedangkan Sayyid Ahmad Khalil mendefinisikan
israiliyat dengan riwayat-riwayat yang berasal dari ahli kitab, baik yang berhubungan
dengan agama mereka maupun yang tidak ada hubungannya sama sekali dengannya.
Penisbahan riwayat israiliyat kepada orang-orang Yahudi karena para perawinya
berasal dari kalangan mereka yang sudah masuk Islam.6
Dari tiga definisi tersebut di atas tampaknya ulama-ulama sepakat bahwa yang
menjadi israiliyat adalah Yahudi dan Nashrani dengan penekanan Yahudilah yang
menjadi sumber utamanya sebagaimana tercermin dari perkataan israiliyat itu sendiri.
Abu Syu'bah mengatakan pengaruh Nashrani dalam tafsir lebih kecil dibandingkan
dengan pengaruh Yahudi.
Formulasi tentang israillyat tersebut terus berkembang di kalangan para pakar tafsir
al-Quran dan hadits sesuai dengan perkembangan pemikiran manusia. Bahkan di
kalangan mereka ada yang berpendapat bahwa israiliyat mencakup informasi4

Muhammad Husin adz-Dzahabi h. 9-10


Rosihan Anwar, Melacak Unsur-unsur Israiliyat dalam Tafsir ath-Thabari dan Tafsir Ibnu

Katsir, (Bandung: Pustaka Setia, 1999), h. 24-25.


6

Sayyid Kamal Khalil, Dirasah fil al-Quran, (Mesir: Dar al-Ma'rofah, 1961), h.113.

informasi yang tidak ada dasarnya sama sekali dalam manuskrip kuno dan hanya
sekedar sebuah manipulasi yang dilancarkan oleh musuh Islam yang diselundupkan
pada tafsir dan hadits untuk merusak aqidah umat Islam dari dalam.
Meskipun israiliyat banyak diwarnai oleh kalangan Yahudi, kaum Nashrani juga turut
ambil bagian dalam konstalasi versi israiliyat ini. Hanya saja dalam hal ini, kaum
Yahudi lebih popular dan dominan. Karenanya kata Yahudi lebih dimenangkan
lantaran selain Yahudi lebih lama berinteraksi dengan umat Islam, di kalangan mereka
juga banyak yang masuk Islam.
B. PROSES MASUK DAN BERKEMBANGNYA ISRAILIYAT DALAM
TAFSIR AL-QURAN
Infiltrasi kisah israiliyat dalam tafsir al-Quran tidak lepas dari kondisi social cultural
masyarakat Arab pada zaman jahiliyah. Pengetahuan mereka tentang israiliyat telah
lama masuk ke dalam benak keseharian mereka sehingga tidak dapat dihindari adanya
interaksi kebudayaan Yahudi dan Nashrani dengan kebudayaan Arab yang kemudian
menjadi jazirah Islam itu.
Sejak tahun 70 M terjadi imigrasi besar-besaran orang Yahudi ke Jazirah Arab karena
adanya ancaman dan siksaan dari penguasa Romawi yang bernama Titus. Mereka
pindah bersama dengan kebudayaan yang mereka dari ambil dari Nabi dan Ulama
mereka, Berita mereka wariskan dari generasi ke generasi. Mereka mempunyai tempat
yang bernama Midras sebagai pusat pengkajian kebudayaan warisan yang telah
mereka terima dan menemukan tempat tertentu sebagai tempat beribadah dan
menyiarkan agama mereka.7
Selain itu juga bangsa Arab sering berpindah-pindah, baik kearah timur maupun
barat. Mereka memiliki dua tujuan dalam berpergian. Bila musim panas pergi ke
Syam dan dingin pergi keYaman. Pada waktu itu di Yaman dan Syam banyak sekali
ahli kitab yang sebagian besar adalah bangsa Yahudi. Karena itu tidaklah
mengherankan bila antara orang Arab dengan Yahudi terjalin hubungan. Kontak ini
memungkinkan merembesnya kebudayaan Yahudi kepada bangsa Arab.
Di saat yang demikian Islam hadir dengan kitabnya yang bernilai tinggi dan
mempunyai ajaran yang bernilai tinggi pula. Dakwah Islam disebarkan dan Madinah
sebagai tempat tujuan Nabi hijrah tinggal beberapa bangsa Yahudi yaitu bani

Muhammah Husain Adz-Dzahabi. h. 25

Qoinuqa, Bani Quraizhah, Bani Nadzir, Yahudi Haibar, Tayma dan Fadak. 8 Karena
orang Yahudi bertetangga dengan kaum muslimin, lama kelamaan terjadi pertemuan
yang intensif antara keduanya, yang akhinya terjadi pertukaran ilmu pengetahuan.
Rasulullah menemui orang Yahudi dan ahli kitab lainnya hanyalah untuk
mendakwahkan Islam. Orang Yahudi sendiri sering datang kepada Rasulullah saw
untuk menyelesaikan suatu problem yang ada pada mereka, atau sekedar untuk
mengajukan suatu pertanyaan.
Pada era Rasulullah saw, informasi dari kaumYahudi dikenal sebagai israiliyyah tidak
berkembang dalan penafsiran al-Quran, sebab hanya beliau satu-satunya penjelas
(mubayyin) berbagai masalah atau pengertian yang berkaitan dengan ayat-ayat alQuran umpamanya saja, apabila para sahabat mengalami kesulitan mengenai
pengertian yang berkaitan dengan sebuah ayat al-Quran, baik makna atau
kandungannya, merekapun langsung bertanya kepada Rasulullah saw.9
Kendatipun demikian, Rasulullah juga telah memberikan semacam green light pada
umat Islam untuk menerima informasi-informasi dari Bani Israil, hal ini tampak
dalam hadits beliau:

,

"Sampaikanlah yang datang dariku walaupun satu ayat, dan ceritakan (apa yang
kamu dengar) dari Bani Israil dan hal itu tidak ada salahnya. Barang siapa yang
berdusta atas namaku, maka siap-siaplah untuk menempati tempatnya di neraka".
Demikian pula dalam hadits lain beliau bersabda:


"Janganlah kamu benarkan orang-orang ahli Kitab dan jangan pula kamu dustakan
mereka. Berkatalah kamu sekalian, kami beriman kepada dan kepada apapun yang
diturunkan kepada kami.
Dari hadits-hadits di atas Rasulullah sebenarnya memberikan peluang atau kebebasan
pada umatnya untuk mengambil atau menerima riwayat-riwayat dan ahli Kitab. Dua
8

Ibid.
Zainal Hasan Rifai, Kisah-kisah Israiliyat dalam Penafsiran al-Quran dalamBelajar Ulumul
Qur'an, (Jakarta: Lentera Basitama, 1992), h. 278.
9

hadits di atas juga memberikan semacam warning akan perlunya sikap selektif dan
hati-hati terhadap riwayat ahli kitab.
Dari uraian tersebut di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa israiliyat sebenarnya
sudah lama muncul dan berkembang di kalangan bangsa Arab jauh sebelum
Rasulullah saw, yang kemudian terus bertahan pada era Rasulullah saw. Hanya saja ia
belum menjadi khazanah yang merembes dalam penafsiran al-Quran.
Setelah Rasul wafat, tidak seorangpun yang berhak menjadi penjelas wahyu Allah.
Dalam kondisi ini para sahabat mencari sumber dari hadits Rasul. Apabila mereka
tidak menjumpai, mereka berijtihad. Riwayat dari ahli Kitab menjadi salah satu
rujukan. Hal ini terjadi karena adanya persamaan antara al-Quran, Taurat dan Injil.
Hanya saja al-Quran berbicara secara padat, sementara Taurat dan Injil berbicara
panjang lebar.
Pada era shahabat inilah israilivat mulai berkembang dan tumbuh subur. Hanya saja
dalam menerima riwayat dari kaum Yahudi dan Nashrani pada umumnya mereka amat
ketat. Mereka hanya membatasi kisah-kisah dalam al-Quran secara global dan Nabi
sendiri tidak menerangkan kepada mereka kisah-kisah tersebut dengan detil.
Disamping itu mereka terkenal sebagai orang-orang yang konsekuen dan konsisten
pada ajaran yang diteima dari Rasulullah saw, sehingga jika mereka menjumpai kisahkisah israiliyat yang bertentangan dengan syari'at Islam, mereka menentangnya. Dan
apabila kisah-kisah itu diperselisihan mereka menangguhkannya. adz-Dzahabi
mengatakan keterlibatan para sahabat dalam meriwayatkan israiliyat tidak berlebihlebihan dan dalam batas kewajaran.10
Pada era tabi'in, penukilan dari ahli Kitab semakin meluas dan cerita-cerita israiliyat
dalam tafsir semakin berkembang. Sumber cerita ini adalah orang-orang yang masuk
Islam dari kalangan ahli Kitab yang jumlahnya cukup banyak dan ditunjang oleh
keinginan yang kuat dari orang-orang untuk mendengar kisah-kisah yang ajaib dalam
kitab mereka. Oleh karenanya pada masa tersebut muncul sekelompok mufassir yang
ingin mengisi kekosongan pada tafsir, yang menurut mereka dengan memasukan
kisah-kisah yang bersumber pada orang-orang yang Yahudi dan Nasrani. sehingga
karenanya tafsir-tafsir tersebut menjadi simpang siur dan bahkan kadang-kadang
mendekati takhayul dan khurafat. Diantaranya adalah Muqatil bin Sulaiman. Pada era

10

Muhammad Husin adz-Dzahabi, Penyimpangan dalam Penafsiran al-Quran,(Jakarta:

Rajawali, 1986), h. 24.

ini pula banyak hadits-hadits palsu, kedustaan dan kebohongan yang disandarkan
kepada Rasulullah saw tersebar.11
Sikap selektif dalam periwayatan menjadi berkurang. Banyak periwayatan yang tidak
melalui jalur "kode etik metodologi penelitian" ilmu hadits dengan tidak menuliskan
sanadnya secara lengkap. Setelah era tabi'in tumbuh kecintaan yang luar biasa
terhadap cerita israiliyat dan diambil secara ceroboh, sehinga setiap cerita tersebut
tidak lagi ada vang ditolak. Mereka menganggap tidak perlu membuang cerita-cerita
dan kisah-kisah yang tidak dibenarkan untuk menafsirkan al-Quran. Ada beberapa
faktor yang menyebabkan masuknya israiliyat dalam tafsir yaitu:12 Pertama,
perbedaan metodologi antara al-Quran, Taurat dan Injil. Al-Quran dalam global dan
ringkas, titik tekannya adalah memberikan petunjuk jalan yang benar bagi manusia,
sedangkan Taurat dan Injil mengemukakan secara terinci, perihal, waktu dan
tempatnya. Ketika menginginkan pengetahuan secara lebih teperinci tentang kisahkisah, umat Islam bertanya kepada kelompok Yahudi dan Nasrani yang dianggap lebih
tahu. Kedua, ada pula pendapat yang mengatakan rendahnya kebudayaan masyarakat
Arab karena kehidupan mereka banyak yang kurang pandai dalam hal tulis menulis
(ummi). Meskipun pada umumnya ahli Kitab juga selalu berpindah-pindah, tetapi
pengetahuan mereka tentang sejarah masa lampau lebih luas. Ketiga, ada justifikasi
dari dalil-dalil naqliyah yang difahami masyarakat Arab sebagai pembenaran bagi
mereka untuk bertanya pada ahli Kitab. Keempat, adalah heterogenitas penduduk.
Menjelang masa kenabian Muhammad saw jazirah Arab dihuni juga oleh kelompok
Yahudi dan Nasrani. Kelima, adanya rute perjalanan niaga. masyarakat Arab, rute
selatan adalah Yaman yang dihuni oleh kalangan Nasrani, sedangkan rute ke utara
adalah Syam yang dihuni oleh kalangan Yahudi.
Menurut Rosihan Anwar sumber israiliyat dimotori oleh tokoh-tokoh primer yaitu
Abdullah bin Salam, nama lengkapnya adalah AbuYusuf bin Salam bin al-Haris alAnsari. Ia menyatakan keislamannya sesaat setelah Rasulullah tiba di Madinah dalam
peristiwa hijrah, dalam perjuangan menegakan Islam, Ia termasuk pejuang dalam
perang Badar dan ikut menyaksikan penyerahan Bait al-Maqdis ke tangan umat Islam.
11

Ibid. hal 24

12

Ahmad Syadali dan Ahmad Rofi'i, Ulumul Qur'an, (Bandung: Pustaka Setia, 1997), h. 242-

243.

Riwayat-riwayatnya banyak diterima oleh kedua putranya, Yusuf dan Muhammad,


Auf bin Malik, Abu Hurairah. Imam Bukhari pun memasukan beberapa riwayat
darinya.13
Lebih lanjut Rosihan menambahkan selain tokoh tersebut tercatat nama Ka'ab alAhbar. Nama aslinya adalah Abu Ishaq Ka'ab bin Mani al-Humairi yang terkenal
dengan Ka'ab al-Ahbar karena pengetahuannya yang dalam, ia berasal dari Yahudi
Yaman dan memeluk Islam pada masa Umar bin Khattab. Dalam perjuangan
menegakan Islam ia turut berjuang menuju Syam bersama kaum muslimin lainnya.
Banyak cerita israiliyat yang dinisbahkan kepadanya. Riwayat-riwayatnya diterima
oleh Muawiyah, Abu Hurairah, Ibnu Abbas, Malik bin Abi Amir al-Asbani, Atha bin
Abi Rabbah dan lain-lain. Ketsiqatannya menjadi perdebatan para ulama, Ahmad bin
Amir misalnya meragukan ketsiqatannva. Nama lain adalah Wahab bin Munabbih,
nama langkapnya adalah Abu Abdillah bin Munabbih bin Sij al-Yamani. Ia masuk
Islam pada masa Rasululah saw. Dzahabi mengatakan ia adalah orang jujur,
terpercaya dan banyak menukilkan israiliyat. Menurut Ibnu Hajar ia adalah tabi'in
miskin yang mendapat kepercayaan dari Jumhur ulama. Abu Zahrah dan Nasa'i
mengatakan la adalah orang terpercaya.
C. PEMBAGIAN ISRAILIYAT
Israiliyat dibagi menjadi tiga kategori: 14
1. Israiliyat Berdasarkan Kategori Kebeneranan dan Tidaknya
Menurut kebenaran dan tidakanya Israiliyat terbagi menjadi tiga macam, yaitu sha
hih, dhaif dan palsu.
- Shahih
Seperti kisah Israiliyat yang datang membenarkan apa yang ada dalam al-Quran
mengenai sifat-sifat Rasulullah. Alllah berfirman:
Hai Nabi, Sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan
pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan untuk jadi penyeru
kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang
menerangi. (QS :al-Ahzab 45-46)

13

Rosihan Anwar..., h. 37.


Muhammad Husin adz-Dzahabi,h. 35

14

Sifat ini telah disebutkan dalam Taurat dan para penelaah Taurat telah menyatakan
secara terus terang mengenai hal itu. Ibnu katsir menyebutkan hadits di bawah ini
dalam tafsirnya.15
Dari Atha bin Yassar bahwa ia (Athaa) telah bertemu dengan Abdullah bin Amr
lalu ia berkata kepadanya, Beritahukanlah kepadaku tentang sifat
Rasulullah dalam Taurat!Abdullah berkata, Baik. Demi Allah, beliau
tersifati dalam Taurat seperti dalam sifatnya dalam al-Quaran, Wahai
Nabi, sesungguhnya kami mengutusmu sebagai saksi, pemberi kabar
gembira, dan pemberi peringatan serta sebagai tempat berlindung bagi
kaum buta huruf, engkau adalah hamba-Ku dan Rasul-Ku. Namamu
adalah al-Mutawakkil (nama lain Rasulullah), bukan sebagai orang yang
berperangai kasar dan bukan berwatak keras. Allah tidak akan mencabut
nyawanya, sehinga dengannya telah meluruskan agama-Nya yang
bengkok dengan mengatakan, Tidak ada Ilah kecuali Allah, dengannya
Ia membuka hati yang tertutup, telinga yang tuli dan mata (hati) yang
buta. Atha berkata, Saya telah bertemu Kab al-Ahbar, lalu saya
bertanya kepadanya tentang hal itu maka tidaklah ia (Kab; mantan
Yahudi) menyalahi satu huruf pun.(HR. Bukhari).
- Dhaif
Seperti legenda gunung Qaf yang mengitari langit dan Bumi. Ini seakan-akan
dari khurafat bani Israil yang sebagian besar diambil oleh mufassirin dari ahli
kitab.
- Palsu
Israiliyat seperti ini dapat ditemui dalam tafsir al-Thabari pada surat Shad ayat 34.
Dalam tafsirnya dia memuat tentang kisah Nabi sulaiman yang meminum arak
hingga hilang kesadarannya. Dalam kondisi seperti itu dia melihat cincinnya lalu
melemparkannya ke laut dan dimakan oleh seekor ikan hingga hilanglah seluruh
kerajaannya, karena kekuasaannya terdapat pada cincin itu. Ibnu Katsir
mengomentari kisah ini, Riwayat ini diperoleh dari Ahli Kitab, sedangkan di
antara mereka ada yang tidak mengakui (mempercayai) kenabian Nabi
Sulaiman.

15

Ibnu Katsir al-Dimasyqi, Tafsir al-Quran al-Adhim (Bairut: Dar al-Fikr, 1997), Jilid. 1,

hal. 253

2. Israiliyat

Berdasarkan

Kategori

Kesesuaian

atau

Ketidak

sesuaian dengan Agama Islam


Menurut kategori ini, Israiliyat dibagai menjadi tiga macam: Israiliyat yang
sesuai dengan ajaran agam Islam, Israiliyat yang berbeda dengan ajaran
syariat Islam dan Israiliyat yang didiamkan oleh syariat Islam yang tidak
terdapat

pada

suatu

pernyataan

yang

mendukung

ataupun

yang

membantahnya.
- Israiliyat yang Sesuai dengan Ajaran Agam Islam
Contoh untuk hal ini adalah:
Dari Abu Said al-Khdri r.a., bahwa Rasulullah bersabda, Bumi pada hari
kiamat mejadi sepotong roti yang digenggam Allah yang Maha Perkasa
dengan tangan-Nya, sebagaimana salah seorang di antara kamu
menggenggam sepotong roti dalam bepergian, sebagai persinggahan
bagi penduduk surga. Lalu, datanglah seorang Yahudi seraya berkata,
Semoga Allah memberkatimu wahai Abu Qasim (kunyah, sebutan
Rasulullah). Maukah kamu saya beritahukan tentang persinggahan
penduduk (ahli) surga? Rasulullah menjawab, Ya. Orang Yahudi itu
berkata, Bumi itu menjadi sepotong roti (sebagaimana yang dikatakan
Rasulullah). Lalu Rasullah menoleh kepada para shahabat, kemudian
tertawa sampai terlihat gigi gerahamnya. 16
- Israiliyat yang Berbeda dengan Ajaran Syariat Islam
Contoh dalam hal ini adalah apa yang dinisbahkan orang-orang Yahudi kepada
Nabi Harun A.S. dalam kitab Safrul Kuruj, bahwa dialah yang membuat anak sapi
jantan untuk Bani Israil, untuk mengajak mereka menyembahnya. 17
- Israiliyat yang Didiamkan oleh Syariat Islam; yang tidak Terdapat
Suatu Pernyataan yang Mendukung ataupun yang Membantahnya .
Contoh dalam hal ini adalah apa yang ditulis Ibnu Katsir dalam tafsirnya 18 dari
cerita Israiliyat seputar rincian sapi betina Bani Israil yang bermula dari
membunuhnya seorang lelaki demi pamannya, kemudian tuntutannya terhadap
orang lain atas keputusannya, penyembelihan sapai betina, penghidupan kembali

16

Imam Al-Bukhari, Shahih al Bukhari bi Hasyiyah al Sanady, (Beirut: Dar Shaab, tt),
Jilid. 8, hal. 10
17
Muhammad Husin adz-Dzahabi,h. 36
18
Ibnu Katsir al-Dimasyqi hal.109

10

orang yang terbunuh itu dengan sapi betina yang disembelih, dan pemberitahuan
dari orang yang hidup kembali tentang orang yang membunuhnya.
3. Israiliyat Berdasarkan Kategori Temanya.
Menurut kategori ini, Israiliyat terbagi menjadi tiga macam: Israiliyat yang
berkaitan dengan aqidah, Israiliyat yang berkaitan dengan hukum dan
Israiliyat yang berhubungan dengan nasihat, hikmah, kisah dan sejarah. 19
- Israiliyat yang Berkaitan dengan Akidah .
Contoh dalam hal ini adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Bukahari Dari
Abdullah bin Masud r.a., ia mengatakan, Telah datang seorang pendeta
Yahudi kepada Rasulullah, lalu berkata, Hai Muhammad, sesungguhnya
kami dapati bahwa Allah menjadikan pada langit berada pada satu jari,
bumi pada satu jari, pepohonan pada satu jari, air dan tanah pada satu jari,
dan seluruh makhluk (selain itu) pada satu jari, lalu ia mengatakan,
Akulah Sang Maha Raja. Maka tertawalah Rasulullah sampai terlihat
gigi gerhamnya, membenarkan perkataan pendeta tearsebut Kemudian
Rasulullah membaca firman Allah:

Mereka

tidak

mengagungkan

Allah

dengan

pengagungan

yang

semestinya. Padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari


kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha suci Tuhan
dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan. (QS:AzZumar:67)
- Israiliyat yang Berkaitan dengan Hukum
Contoh dalam hal ini adalah apa yang diriwayatkan oleh Bukhari:
Dari Abdullah bin Amr r.a. berkata, Bahwa orang-orang Yahudi datang
kepada Rasulullah dengan membawa seorang pria dan seorang wanita
dari kalangan mereka yang keduanya telah berzina. Rasulullah bertanya
pada mereka, Bagaimanakah kalaian memperlakukan mereka di antara
kalian yang telah berzina? Mereka mengatakan, Kami mencoreng wajah
keduanya dan memukul mereka. Lalu beliau bertanya lagi, Apakah
19

Muhammad Husin adz-Dzahabi,h. 38

11

kalian

tidak

menemukan

dalam

Taurat

(hukum)

rajam? Mereka

menjawab, Kami tidak mendapatkan sesuatu pun (dari hukum rajam).


Maka berkatalah Abdullah bin Salam, Kalian telah berdusta, bawakan
Taurat, lalu bacalah Taurat itu jika kalian benar (jujur). Lalu seseorang
diantara mereka meletakkan telapak tangnnya pada catatan Tauratnya
menutupi ayat rajam. Maka serta merta orang tersebut membaca ayat
yang berada di sebelum dan sesudah ayat yang terletak di bawah telapak
tangannya, serta tidak membaca ayat rajam. Lalu (Abdullah bin Salam)
mengangkat tangan orang itu dari (menutupi) ayat rajam, seraya bertanya
Apa ini? Maka ketika dia melihat itu, mereka mengatakan, Ia adalah
ayat rajam. Rasulullah lalu memerintahkan untuk merajam kedua orang
yang telah berzina itu. Mereka kemudian dirajam.
Ibnu Umar berkata, saya meliahat pria pezina itu mencondongkan
tubuhnya ke arah wanita pezina itu untuk melindunginya dari batu-batu
(yang dilemparkan kekepalanya). (HR. Bukhari)
- Israiliyat yang Berhubungan dengan Nasihat, Hikmah, Kisah dan
Sejarah
Contoh dalam hal ini adalah israiliyat yang termaktub dalam tafsiran ayat ini:
Buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan
janganlah kamu bicarakan dengan aku tentang orang-orang yang zalim
itu; Sesungguhnyamereka itu akan ditenggelamkan.(QS.Hud:37)
Seperti yang ditulis oleh Ibnu Katsir dalam Tafsirnya 20 tentang Israiliyat dalam
cerita pembuatan kapal Nabi Nuh a.s., tentang kayunya, panjangnya 80 hasta dan
lebarnya 50 hasta, serta peristiwa-peristiwa yang terjadi padanya.

D. PANDANGAN ULAMA TENTANG ISRAILIYAT


Ada beberapa ulama memberikan pendapat tentang pengambilan atau
periwayatan israiliyat dalam tafsir Al-Quran, di antaranya :
1. Ibnu Taimiyah (1263 1328)
Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Muqaddimah fi Ushuli At-Tafsir yang dikutip
oleh Dr.Husein Az-Zahabi, membagi cerita-cerita Israliyat kepada tiga
macam, yaitu: cerita-cerita yang dibenarkan oleh islam, cerita-cerita
20

Ibnu Katsir al-Dimasyqi hal.444

12

yang bertentangan dengan Islam, dan cerita -cerita yang Islam tidak
membenarkannya, tetapi juga tidak menya lahkannya. Menurutnya yang
boleh diterima hanyalah cerita-cerita israiliyat yang pertama, penerimaan
bukan untuk Itiqad akan tetapi hanya untuk isytisyhad. Sementara dua lainya
pada intinya tidak boleh di ambil.
2. Ibnu Katsir ( w. 774 H)
Ibnu Katsir membagi Israiliyat kepada 3 macam, yaitu:
a. Cerita-Cerita yang sesuai kebenarannya dengan Al-Quran, berarti
cerita itu benar, dalam hal ini cukuplah Al-Quran yang menjadi pegangan.
Kalaupun diambil cerita tersebut hanyalah sebagai bukti adanya saja, bukan
untuk dijadikan pegangan dan hujjah.
b. Cerita yang terang-terangan dusta, karena menyal ahi ajaran kita,
cerita serupa ini harus ditinggalkan, karena bisa merusak aqidah kaum
muslimin.
c. Cerita yang didiamkan (maskut anhu), yaitu cerita-cerita yang tidak ada
keterangan kebenaran dalam al-Quran, akan tetapi juga tidak bertentangan
dengan al-Quran. Cerita serupa ini tidak boleh dipercaya begitu saja
dan tidak boleh pula pula kita dustakan. Misalnya nama-nama Ashabul
Kahfi dan jumlahnya. Alasan Ibnu Taimiyah dan Ibnu Katsir sama,
yaitu hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Abdullah bin Amr
bin Ash :

,

"Sampaikanlah yang datang dariku walaupun satu ayat, danceritakan (apa
yang kamu dengar) dari Bani Israil dan hal itu tidak ada salahnya. Barang
siapa yang berdusta atas namaku, maka siap-siaplah untuk menempati
tempatnya di neraka.
3. Ibnul Arabi (w. 543 H)
M e n u r u t n ya

bahwa

riwayat

dari

bani

israil

ya n g

boleh

d i r i w a ya t k a n d a n d i m u a t dalam tafsir Alquran adalah hanya terbatas pada


cerita diri mereka sendiri, sedangkan riwayat mereka yang menyangkut orang lain
masih sangat perlu dipertanyakan dan membuuthkan penelitian yang lebih cermat.

13

E. CONTOH ISRAILIYAT
Di antara kitab tafsir yang memuat banyak kisah-kisah Israiliyat adalah
kitab Taf s i r At h - T h a b a r i d a n I b n u K a t s i r. D a l a m k i t a b Taf s i r At h T h a b a r i m e m u a t t i d a k kurang dari 20 tema israil iyat, dan dari sekian
banyak itu hanya satu riwayat yang dapat diklasifikasikan sejalan dengan Islam.
Yang sejalan dengan Islam itu adalah riwayat yang menceritakan sifat Nabi yang
tidak kasar, tidak keras, pemurah dan penyayang. Sementara dalam kitab
Tafsir Ibnu Katsir terdapat tidak kurang 40-an kisah israiliyat. Kisah-kisah
yang sejalan dengan Islam hanya satu.
Di antara contoh-contoh Israiliyat yang dapat di kemukakan adalah:
1. Kisah Nabi Sulaiman
Israiliyat yang terdapat dalam Tafsir Att-Thabari, dari Basyir dari
Yazid dari Said dari Qatadah yang berkaitan dengan kisah Nabi Sulaiman :


Dan sungguh, kami telah menguji Sulaiman dan Kami jadikan dia
tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah karena sakit),
kemudian dia bertobat. (QS.Shood:34)
Israiliyat itu menjelaskan bahwa ada seseorang berkata pada Nabi Sulaiman
bahwa didasar laut terdapat setan yang bernama Syahr Al-Maridhah
(batu durhaka), lalu Nabi Sulaiman mencarinya dan ternyata di sisi
laut terdapat sumber mata air yang memancar satu kali dalam
seminggu. Pancaran ini sangat jauh dan kemudian sebahagiannya menjadi
arak. Nabi Sulaiman datang pada saat Pancarannya berubah menjadi arak. Dan
ia berkata, sesungguhnya engkau (arak) adalah minuman yang sangat
nikmat hanya saja engkau menyebabkan orang yang sabar mendapat
musibah dan orang bodoh bertambah k e b o d o h a n n y a . L a l u N a b i
Sulaiman

pulang,

tetapi

dalam

perj alanannya

ia

merasa

dahaga yang sangat dan kembali ketempat tersebut, Ia meminum


arak hingga hilanglah kesadarannya. Dalam kondisi seperti itu, ia
melihat cincinnya dan merasa terhina karenanya, lalu dilemparlah
cincin itu ke laut dan dimakan oleh seekor ikan, sehingga h i l a n g l a h

14

s e l u r u h k e r a j a a n n ya , S e t a n l a l u d a t a n g m e n ye r u i p a i n y a d a n
d u d u k d i a t a s singgasana Nabi Sulaiman.
2. Kisah Nabi Ismail
Israiliyat yang berkaitan dengan kisah penyembelihan Nabi Ismail, yaitu
berasal dari Kaab bin Akhbar yang menyebutkan bahwa yang
disembelih itu adalah Ishaq bukan Ismail. Israiliyat ini menurut Ibnu
Katsir merupakan tipuan dan dusta karena bertentangan dengan Nash
al-Quran sendiri. Orang Yahudi lebih suka menyebut Ishaq karena ia
adalah nenek moyangnya, sedangkan Ismail adalah nenek moyang orang Arab.
3. Kisah Awal Surat Qaf
I s r a i l i ya t ya n g d i k u t i o l e h I b n u K a t s i r t e n t a n g a w a l S u r a t
Q a f i a l a h Q a f a d a l a h sebuah nama gunung yang mengelilingi bumi.
Namun menurut Ibnu Katsir pendapat inimerupakan israiliyat yang tidak perlu
dibenarkan dan didustakan.
4. Kisah Harut dan Marut
Israiliyat yang disampaikan oleh Abu Hatim, dari bapaknya, dari
Hisyam Ar-Razi,dari Ibnu Al-mu barak, dari Maruf, dari Abu Jafar
Muhammad

bin

Ali

mengenai

Harut

dan Marut. Israiliyat itu

menjelasakan bahwa kedua malaikat itu adalah kawan Malaikat Sijil. Setiap
hari selasa, Sijil membuka Ummul Kitab. Ketika membaca kisah penciptaan
Adam, ia memberitahukan kepada Harut dan Marut. Dan ketika
Allah mengatakan akan mencip takan khalifah di muka bumi, mereka
pun protes, menurut Ibnu Katsir, Israiliyat itu berlebihan dalam
menggambarkan sosok malaikat.

F. PENUTUP
Israiliyat merupakan kisah-kisah berkaitan erat dengan warisan Yahudi. Kisah-kisah
tersebut tersebar melalui berbagai macam cara masuk ke dalam Islam melalui orangorang Ahli Kitab. Mereka menyusupkan berita-berita Israiliyat yang mungkar ke
dalam ajaran Islam. Sehingga cerita-cerita tersebut mampu bertengger dalam bukubuku Islam, terutama al-Quran dan al-Hadits. Konfirmasi atau kehati-hatian terhadap
setiap berita, fenomena dan dinamika sebelum memberikan penilaian padanya adalah
15

merupakan seruan dakawah Islamiyah dan merupakan konsep Islam yang teliti.
Apalagi dalam menerima berita dari orang-orang Ahli Kitab yang memang berusaha
mengahancurkan Islam dari dalam. Mereka seakan-akan berusaha memerangi Islam
dengan senjata lain, yaitu senjata budaya.
Bisa dikatakan cerobah bagi mufassirin, mereka yang tidak mengoreksi terlebih
dahulu kutipan kisah-kisah Israiliyat yang mereka ambil, padahal di dalamnya
kemungkinanan besar terdapat kisah-kisah yang batil. Karena itu orang yang
mengutip kisah-kisah Israiliyat hendaknya meninggalkan kisah-kisah yang sudah jelas
kebohongannya.
Dalam kisah-kisah Israiliyat ini dibolehkan meriwayatkannya untuk istisyhad selama
diketahui kebenarannya dalam Islam. Namun Jika ia menyalahi ajaran Islam, maka
harus ditolak. Sedangkan kisah-kisah yang tidak diketahui sesuai atau tidak dengan
Islam, maka sebaiknya didiamkan.

DAFTAR PUSTAKA
- Ahmad Syadali dan Ahmad Rofi'i, Ulumul Qur'an, (Bandung: Pustaka Setia, 1997

16

- Anwar, Rosihan, Melacak Unsur-unsur Israilliyyat dalam Tafsirath-Thabari dan


Tafsir Ibnu Katsir, Bandung, Pustaka Setia, 1999.
- al-Bukhari, Matn Bukhari, Beirut, Dar al-Fikri, tth, jilid II dan IV.
- adz-Dzahabi, Muhammad Husain, al-Tafsir wa al-Mufassir, Mesir. Dar alKutub wa al-Hadits, 1976, jilid I.
-_________________, Penyimpangan dalam Penafsiran al-Quran, Jakarta,
Rajawali, 1986.
-_________________, al-Israiliyat fi Tafsir wa al-Hadits, terjemahan Didin
Hafiduddin, Jakarta, PT Litera Antara Nusantara, 1993.
- Imam Al-Bukhari, Shahih al Bukhari bi Hasyiyah al Sanady, (Beirut: Dar
Shaab, tt)
- Khalil, Sayyid Kamal, Dirasah fi al-Quran, Mesir, Dar al-Ma'rifah, 1961.
- Rifai, Zainal Hasan, Kisah-kisah Israiliyat dalam Penafsiran al-Quran
dalam Belajar Ulumul Qur'an, Jakarta, Lentera Basitama, 1992.
- ar-Rifai, Muhammad Nazib, Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir, Jakarta, Gema
Insani, 2000.
- Syadali, Ahmad, dan Ahmad Rofi'i, Ulumul Qur'an I, Bandung, Pustaka
Setia, 1997.
- Shihab, M. Quraish , Membumikan al-Quran, (Bandung: Mizan, 1992),

ISRAILIYAT DALAM TAFSIR AL-QURAN


17

Tugas makalah pada mata kuliah ulumul Quran


Dosen Pengampu:
Prof. DR.Hamdani Anwar

Dipresentasikan Oleh:
Taufik Prihatin Marpaung

Konsentrasi Ilmu Tafsir Semester I


Program Pasca Sarjana
INSTITUT PTIQ JAKARTA
2010 M. / 1432 H.

18