Anda di halaman 1dari 14

ANALISIS PENYULUHAN PERIKANAN TANGKAP

PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PERIKANAN

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Penyuluhan dan Komunikasi


Perikanan di semester genap

Di Susun Oleh :
Perikanan B Kelompok 10
Nielam Vioni

230110130061

Agung Rio Wibowo 230110130078


Dzaki Rinaldi

230110130102

Zulfiqar Wahyu I

230110130142

Isma Yuniar

230110140103

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
PROGRAM STUDI PERIKANAN
JATINANGOR
2016

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Indonesia merupakan negara maritim dan kepulauan terbesar di dunia,

Indonesia baru memiliki Kementerian Kelautan dan Perikanan pada masa


pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid. Kementerian Kelautan dan
Perikanan (KKP) menangani perikanan tangkap, perikanan budidaya, industri
pengolahan hasil perikanan, industri bioteknologi perairan, pembangunan pulaupulau kecil, produksi garam, pemanfaatan benda-benda berharga dari kapal
tenggelam, serta pengembangan sumber daya alam nonkonvensional di wilayah
pesisir dan samudra.
Sejak kehadiran KKP tampak sejumlah kemajuan. Namun, masih banyak
pekerjaan rumah yang belum selesai. Sampai sekarang mayoritas nelayan,
terutama nelayan buruh, masih hidup dalam kubangan kemiskinan. Ironisnya, stok
ikan di beberapa wilayah perairan laut seperti Selat Malaka, Laut Jawa, pesisir
selatan Sulawesi, Selat Bali, dan Arafura telah mengalami tangkap jenuh (fullyexploi-ted) atau kelebihan tangkap (overfishing). Ekosistem pesisir seperti estuari,
mangrove, terumbu karang, dan padang lamun banyak yang rusak, baik akibat
eksploitasi, konversi (reklamasi), maupun pencemaran. Padahal, ekosistem pesisir
adalah tempat pemijahan, asuhan, mencari makan, atau membesarkan diri hampir
semua jenis ikan dan biota laut.
Para pelaku penangkapan ikan di Indonesia masih kurang dalam hal
keahliannya dibandingkan dengan luasnya wilayah perairan yang terdapat di
Indonesia, para nelayan masih banyak yang kurang sejahtera karena kurangnya
pendidikan diri terhadapa manajemen hidup. Alat tangkap yang terdapat di
Indonesia masih kurang modern dibandingkan dengan negara lain.

1.2

Tujuan

a. Untuk mengetahui penyuluhan perikanan


b. Untuk menganalisis penyuluhan perikanan tangkap
c. Untuk mengetahui peran penyuluhan perikanan
d. Untuk mengetahui kondisi perikanan tangkap saat ini

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Pengertian Penyuluhan
Penyuluhan perikanan adalah proses pembelajaran bagi pelaku utama serta

pelaku usaha agar mereka mau dan mampu menolong dan mengorganisasikan
dirinya dalam mengakses informasi pasar, teknologi, permodalan, dan sumber
daya lainnya sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha,
pendapatan, dan kesejahteraannya, serta meningkatkan kesadaran dalam
pelestarian fungsi lingkungan hidup.
Penyuluhan

merupakan

kegiatan

pendidikan

yang

mengandung

prosesbelajar mengajar. Agar proses belajar-mengajar berlangsung dengan efektif


danefisien, diperlukan suasana belajar-mengajar yang tepat. Metoda penyuluhan
adalah cara penyampaian materi (isi pesan) penyuluhan oleh penyuluh kepada
petani beserta anggota keluarganya baik seacara langsung maupun tidak langsung
agar mereka tahu, mau dan mampu menggunakan inovasi baru.
Teknik penyuluhan dapat didefinisikan sebagai keputusan-keputusanyang
dibuat oleh sumber atau penyuluh dalam memilih serta menata simbol danisi
pesan menentukan pilihan cara, dan frekuensi penyampaian pesan serta
menentukan bentuk penyajian pesan. Metoda Penyuluhan tidak lain adalah
suasana belajar mengajar yangdiciptakan oleh sumber belajar (dengan
partisipasi dari peserta belajar) untuk merangsang dan mengarahkan kegiatan
belajar (Leagens, 1960). Penentuan metoda pengajaran apa yang akan
digunakan dalam suatukegiatan pendidikan penyuluhan, hendaknya dilakukan
dengan memperhatikan karakteristik-karakteristik pada warga belajar. Hasil
penelitian-penelitian yang telah dilakukan dalam bidang ini menunjukan bahwa
perbedaan-perbedaan

cara

belajar

dikalangan

warga

penyuluh,

yang

menyebabkanada cara-cara mengajar tertentu yang lebih menarik bagi kelompok


kelompokwarga belajar tertentu.
Ada 2 kelompok warga belajar yang dapat mengambil manfaat yang lebih
besar dari:
4

1. Pendekatan Visual (gambar),


2. Pengalaman pengalaman verbal (mendengar dan membaca). Ada lagi aktivitasaktivitas fisikal dan manipulasi obyek-obyek pembantu belajar, pertimbangan
dalam memilih metode.
2.2

Perikanan Tangkap
Menurut UU No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan Pasal 4 ayat (5) bahwa

penangkapan ikan adalah kegiatan untuk memperoleh ikan yang tidak dalam
keadaan dibudidayakan dengan atau tanpa cara apapun, termasuk kegiatan
menggunakan kapal untuk memuat, mengangkut, menyimpan, mendinginkan,
menangani, mengolah dan atau mengawetkan (Dinas Lingkungan Hidup
Kabupaten Tangerang Tahun 2008).
Perikanan adalah semua usaha penangkapan budidaya ikan dan kegiatan
pengelolaan hingga pemasaran hasilnya Mubiyarto (1994) dalam Zubair dan
Yasin (2011). Sedangkan sumberdaya perikanan adalah seluruh binatang dan
tumbuhan yang hidup di perairan (baik di darat maupun di laut) oleh karena itu
perikanan dapat dibedakan atas perikanan darat dan perikanan laut.
Perikanan tangkap, berbeda dengan perikanan budidaya, adalah usaha
penangkapan ikan dan organisme air lainnya di alam liar (laut,sungai, danau, dan
badan air lainnya). Kehidupan organisme air di alam liar dan faktor-faktornya
(biotik dan abiotik) tidak dikendalikan secara sengaja oleh manusia. Perikanan
tangkap sebagian besar dilakukan di laut, terutama di sekitar pantai dan landasan
kontinen. Perikanan tangkap juga ada di danau dan sungai. Masalah yang
mengemuka

di

dalam

perikanan

tangkap

adalah penangkapan

ikan

berlebih dan polusi laut. Sejumlah spesies mengalami penurunan populasi dalam
jumlah yang signifikan dan berada dalam ancaman punah. Hal ini mengakibatkan
jumlah tangkapan ikan di alam liar dapat mengalami penurunan secara umum.
Menurut Hanafiah dan Saefuddin (2000) dalam Zubair dan Yasin (2011)
bahwa usaha penangkapan adalah kegiatan menangkap atau mengumpulkan
binatang atau tumbuhan yang hidup di laut untuk memperoleh penghasilan dengan
melakukan pengorbanan tertentu.

Berdasarkan

pengertian

tersebut

dapat

disimpulkan

bahwa

usaha

penangkapan merupakan segala pengorbanan yang ditujukan untuk memperoleh


hasil laut dengan maksud untuk meningkatkan pendapatan nelayan ataupun
nelayan ikan. Nelayan adalah orang- orang yang aktif dalam melakukan kegiatan
pada sub sektor perikanan dan ini dilakukan dalam usaha ekonomi, oleh karena itu
indikator yang digunakan untuk menentukan bahwa seseorang termasuk nelayan
apabila seluruh atau sebagian besar penghasilan pendapatan rumah tangganya
merupakan konstribusi dari pendapatan yang diperoleh dari sub sektor perikanan.
2.3

Sifat Perikanan
Menurut sifatnya, sumberdaya alam dapat dibedakan atas sumberdaya dapat

pulih (renewable resources) misalnya sumberdaya hayati, hutan dan sebagainya


serta sumberdaya yang tidak dapat pulih (exhausitible resources) misalnya barang
tambang, nikel, tembaga dan sebagainya. Sedangkan menurut kepemilikan
sumberdaya alam terdiri atas sumberdaya alam yang dimiliki (property right) dan
sumberdaya milik bersama adalah dikuasai oleh masyarakat (common property
resources).
Perikanan merupakan salah satu sumberdaya alam yang sifatnya open acses
yaitu sumberdaya alam yang pengambilannya tidak dibatasi yang berarti setiap
orang secara bebas dapat mengambil sumberdaya alam oleh karena itu perikanan
disebut juga sumberdaya alam milik bersama. Oleh karena sumberdaya perikanan
ini milik semua orang, maka tidak seorangpun yang memilikinya. Suparmoko
(1997) dalam Zubair dan Yasin (2011) mengemukakan dua ciri sumberdaya alam
milik bersama yaitu (1) tidak terbatasnya cara-cara pengambilan serta (2) terdapat
interaksi diantara para pemakai sumber daya ini sehingga terjadi saling berebut
satu sama lain dan terjadi eksternalitas dalam biaya yang sifatnya disekonomis.
Ciri-ciri hasil perikanan yaitu bersifat musiman, kecil dan terpencar, mudah rusak,
jumlah dan kualitas tidak stabil karena tergantung dari musim atau alam.

2.4

Nelayan
Nelayan adalah orang yang hidup dari mata pencaharian hasil laut

(Sujarno, 2008). Di Indonesia nelayan biasa bermukim di daerah pinggir pantai


atau pesisir laut. Komunitas nelayan adalah kelompok orang yang bermata
pencaharian hasil laut dan tinggal di desa- desa pantai atau pesisir (Sastrawidjaya
2002 dalam Sujarno 2008). Ciri Komunitas nelayan dapat dilihat dari berbagai
segi, sebagai berikut :
a. Dari segi mata pencaharian, nelayan adalah orang- orang yang segala
aktivitasnya berkaitan dengan lingkungan laut dan pesisir, atau yang
menjadikan perikanan sebagai mata pencahariannya.
b. Dari segi cara hidup, komunitas nelayan adalah komonitas gotong royong.
Kebutuhan gotong royong dan tolong menolong terasa sangat penting pada saat
untuk mengatasi keadaan yang menuntut pengeluaran biaya besar dan
pengarahan tenaga yang banyak, seperti saat berlayar, membangun rumah atau
tanggul penahan gelombang disekitar desa.
c. Dari segi keterampilan, meskipun pekerjaan nelayan adalah pekerjaan berat
namun pada umumya nelayan hanya memiliki keterampilan sederhana.
Kebanyakan yang bersangkutan bekerja sebagai nelayan adalah profesi yang
diturunkan oleh orang tua bukan yang dipelajai secara professional.
Menurut Sastrawidjaya (2002) dalam Sujarno (2008) dari bangunan
struktural sosial, komunitas nelayan terdiri atas komunitas yang heterogen dan
homogen. Masyarakat yang heterogen adalah yang bermukim di desa- desa yang
mudah dijangkau secara transportasi darat, sedangkan komunitas yang homogen
terdapat di desa- desa nelayan tepencil biasanya menggunakan alat- alat tangkap
ikan yang sederhana, sehingga produktivitas kecil. Sementara itu kesulitan
transportasi angkutan hasil ke pasar juga dapat menjadi penyebab rendahnya
harga hasil laut dari daerah mereka.

BAB III

ANALISIS PENYULUHAN PERIKANAN TANGKAP

Indonesia dikaruniai lautan yang lebih luas dari daratan. Dua pertiga
wilayah Indonesia adalah perairan laut yang terdiri dari laut pesisir, laut lepas,
teluk dan selat. Luas wilayah laut termasuk didalamnya Zona Ekonomi Eksklusif
mencapai 5,8 km2 atau sekitar dari luas keseluruhan wilayah Indonesia. Selain
sumber daya perairan Indonesia juga memiliki 17.508 pulau yang menjadikan
Indonesia sebagai kepulauan yang besar di dunia. Hanya ada beberapa pulau besar
seperti Jawa, Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Irian, dan Flores. Sisanya adalah
pulau-pulau kecil yang memiliki sifat-sifat ekosistem yang khas.
Pada beberapa kajian literatur/pustaka tentang perikanan tangkap, isu
strategis yang sering ditampilkan adalah kemiskinan dan kesejahteraan nelayan,
dimana kondisi usaha perikanan tangkap di Indonesia pada saat ini menunjukan
fakta yang belum berpihak pada upaya peningkatan kesejahteraan nelayan, yaitu
rendahnya tingkat pendapatan nelayan sebagai akibat dari rendahnya produktivitas
dan in-efisiensi usaha, tingginya biaya produksi, rendahnya keterampilan nelayan
dan manajemen usaha, rendahnya akses terhadap permodalan, prasarana,
teknologi dan pasar serta belum optimalnya integrasi usaha perikanan tangkap di
daerah.
Nelayan merupakan suatu kelompok masyarakat yang kehidupannya
tergantung langsung pada hasil laut, baik dengan cara melakukan penangkapan
ataupun budidaya. Mereka pada umumnya tinggal di pinggir pantai, sebuah
lingkungan pemukiman yang dekat dengan lokasi kegiatannya, mereka juga yang
sangat mempengaruhi perikanan tangkap. Nelayan di Indonesia terdiri dari
nelayan yang menangkap ikan di laut dan di Perairan umum yang bersifat terbuka
seperti danau. Hingga tahun 2009 jumlah nelayan penangkap ikan sebanyak
2.752.490 orang, dengan profesi baik sebagai nelayan pemilik kapal dan alat
tangkap (juragan) maupun nelayan buruh (anak buah kapal).
Fenomena kesejahteraan nelayan yang rendah merupakan permasalahan
yang sering terjadi, terutama pada nelayan tradisional sehingga menghambat
pembangunan subsektor perikanan khususnya perikanan tangkap.
8

Menurut

Mubyarto (1998), tingkat kesejahteraan masyarakat pesisir umumnya menempati


strata paling rendah di banding masyarakat lainnya di darat. Bahkan nelayan
termasuk paling miskin di semua negara dengan atribut the poorest of poor.
Sejalan dengan itu, Dahuri (2001) mengemukakan bahwa, secara parsial
pembangunan sektor kelautan dan perikanan belum berhasil dalam memeratakan
peningkatan kesejahteraan dan taraf hidup serta kesempatan berusaha diantara
pelaku ekonomi perikanan khususnya nelayan, padahal Indonesia memiliki
potensi perikanan terbesar di dunia, sekitar 65 juta ton/tahun (Dahuri, 2013) atau
23% dari total produksinya yang baru termanfaatkan. Pembangunan ekonomi
perikanan pada triwulan pertama tahun 2011 pun menunjukan belum adanya
perbaikan yang signifikan jika dibandingkan dengan periode yang sama pada
tahun 2010.
Nelayan pada umumnya terdiri dari masyarakat yang pendidikannya relatif
rendah dan hidupnya miskin. Mereka bekerja pada juragan yang mempunyai
kapal dan alat tangkap yang memadai untuk melakukan penangkapan ikan di laut.
Kegiatan ditentukan oleh alam dan lingkungannya. Kemampuan mereka dalam
meningkatkan pendapatan, menghidupi keluarga serta membangun hari depan
yang lebih baik sangat rendah. Mereka memilik banyak kesulitan karena usaha
penangkapan ikan yang mereka lakukan sangat bergantung pada alam dan
lingkungan.
Struktur masyarakat pesisir bawah nelayan memiliki kerawanan sosial
yang tinggi disebabkan oleh dua hal. Pertama, masalah tekanan kemiskinan dan
keterbatasan peluang kerja. Kedua, secara kultural (budaya) nelayan bersifat lebih
terbuka dan temperamental karena masa-masa yang harus diwaspadai adalah
ketika musim barat tiba. Terhadap kesulitan seperti itu, juragan memberikan
bantuan barang-barang konsumsi (pangan) dengan perjanjian bahwa sebagian
hasil tangkapan diserahkan kepada juragan sebagai pelunasan bantuan yang telah
diberikan. Nelayan merasa ditolong dari kesulitan yang dihadapi. Mereka
cenderung menyetujui pendapat juragan, sehingga di antara nelayan-juragan
tumbuh sikap saling tergantung. Akan tetapi, bila musim tidak memungkinkan
untuk melaut, nelayan harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk mendapatkan

ikan, bahkan

menunggu musim penangkapan ikan berikutnya dan hidup

seadanya. Apabila musim penangkapan ikan belum tiba, nelayan berdiam diri di
rumah dan menunggu musim berikutnya. Padahal, keluarga membutuhkan biaya
untuk hidup. Akibatnya, mereka terdorong menjual barang yang dimiliki guna
memenuhi tuntutan hidup.
Usaha penangkapan ikan dikenal dua musim, yaitu musim banyak ikan
(musim timur) dan musim sedikit ikan (musim barat) yang lebih sering dikenal
dengan musim paceklik. Bila musim ikan datang (musim timur), mereka baru bisa
berusaha, nelayan tidak perlu mengeluarkan energi yang banyak. Hanya dengan
usaha yang relatif kecil, mereka sudah mendapatkan ikan, tetapi mereka kurang
kuat (tanpa motor tempel). Banyak yang tidak mampu melakukan penangkapan
ikan, padahal kebutuhan rumah tangga harus terpenuhi dari hasil menangkap ikan.
Kehidupan miskin yang dialami

sebagian besar nelayan di Indonesia

menyebabkan bargaining position mereka sangat lemah. Mereka merasa


terisolasi, baik secara sosial, ekonomi maupun politik. Secara sosial, mereka
tetap teridentifikasi sebagai masyarakat marginal (terpinggirkan) dan tidak
memiliki modal sosial memadai untuk bersaing dengan nelayan-nelayan kapitalis
atau nelayan-nelayan pengusaha perikanan. Kalaupun ada HNSI (Himpunan
Nelayan Seluruh Indonesia) sebagai wadah, anggotanya tidak melibatkan para
nelayan kecil, tetapi nelayan-nelayan kapitalis yang memiliki modal besar dan
bargaining position tinggi dengan pemerintah atau berbagai stakeholders
lainnya. Secara ekonomis pendapatan sangat kecil dan hanya mampu menghidupi
keluarganya untuk sehari; sedangkan secara politik mereka tetap tertindas oleh
struktur dan sistem politik state (negara) yang belum berorientasi pada masyarakat
kalangan bawah.

Partai-partai politik berlomba-lomba mengeksploitasi para

nelayan tersebut dengan memasang berbagai atribut partai pada perahu/sampan


mereka demi kepentingan elite politik itu, bukan kepentingan nelayan Politik
negara belum berorientasi pada masyarakat bawah termasuk nelayan, karena
terikat oleh berbagai kepentingan politik. Ketidakmampuan secara sosial,
ekonomi dan politik tersebut menjadi ganjalan bagi mereka untuk bisa berdiri

10

sama tinggi dan duduk sama rendah dengan saudara yang lain yang secara sosial
dan ekonomi telah berhasil.
Penyuluhan merupakan suatu proses aktif yang memerlukan interaksi
antara penyuluh dan yang disuluh agar terbangun proses perubahan perilaku.
Dengan kata lain kegiatan penyuluhan tidak terhenti pada penyebarluasan
informasi, dan memberikan penerangan. Akan tetapi, merupakan proses yang
dilakukan secara terus menerus, sekuat tenaga dan pikiran, memakan waktu dan
melelahkan, sampai terjadinya perubahan perilaku yang ditunjukkan oleh
penerima manfaat penyuluhan yang menjadi client penyuluhan (Rohman, 2008).
Pada prinsipnya, penyuluhan ialah proses yang sistematis untuk membantu
petani, nelayan, pembudidaya, atau komunitas agar mampu memecahkan
masalahnya sendiri (self-help). Karena itu penyuluhan memprioritaskan
pemenuhan kebutuhan partisipannya. Penyuluhan dapat memberi kontribusi pada
peningkatan kemampuan nelayan. Melalui penyuluhan, akan terjadi perbaikan
pengetahan, keterampilan, dan sikap nelayan. Bisnis mereka akan berkembang,
demikian pula lingkungan hidup dan sosial budaya masyarakat setempat.
Hasil Tangkapan perikanan kita sangat bergantung pada nelayan
tradisional. Teknologi yang ada belum memadai, sehingga mengaruskan nelayan
kerja mati-matian demi mencukupi kebutuhan pasar. Kondisi nelayan yang seperti
telah dipaparkan diatas, itu merupakan suatu faktor yang menyebabkan hasil
tangkapan kita belum maksimal. Dengan memberikan suatu penyuluhan yang
bersifat membangun daya pikir dan memberikan pengetahuan kepada nelayan,
dirasa dapat memperbaiki perikanan tangkap negeri ini. Dapat dibayangkan, jika
nelayan kita yang begitu banyak itu berpengetahuan lebih dan modern, hasil
tangkapan kita juga akan semakin membaik, ditinjau pula dari wilayah perairan
kita yang cukup luas, dan ikan sendiri merupakan sumber daya yang tidak akan
habis dan gratis tersedia di alam.
Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan taraf hidup atau
pendapatan nelayan tidak hanya bertumpu pada peningkatan produksi hasil
tangkapan semata, tetapi mencakup seluruh aspek. Salah satu cara meningkatkan
produksi adalah dengan mengusahakan unit penangkapan yang lebih produktif

11

dalam jumlah dan hasil tangkapan. Unit penangkapan haruslah bersifat ekonomis,
efisien dan sesuai dengan kondisi setempat dengan tidak merusak kelestarian
sumberdaya perikanan dan lingkungan hidup yang didukung oleh pengembangan
agroindustri, prasarana dan peningkatan kualitas tenaga kerja.
Persoalannya distribusi nelayan dan kapal ikan tidak merata.. Lebih dari
90 persen armada kapal ikan Indonesia terkonsentrasi di perairan pesisir dan laut
dangkal seperti Selat Malaka, pantura, Selat Bali, dan pesisir selatan Sulawesi. Di
situ pula sebagian besar telah mengalami kelebihan tangkap. Jika laju
penangkapan ikan seperti sekarang berlanjut, tangkapan per kapal akan menurun,
nelayan semakin miskin, dan sumber daya ikan pun punah seperti ikan terubuk di
Selat Malaka dan ikan terbang di pesisir selatan Sulawesi.
Sebaliknya jumlah kapal ikan Indonesia yang beroperasi di laut lepas, laut
dalam, dan wilayah perbatasan seperti Laut Natuna, Laut China Selatan, Laut
Sulawesi, Laut Seram, Laut Banda, Samudra Pasifik, Laut Arafura, dan Samudra
Hindia bisa dihitung dengan jari. Di sinilah kapal-kapal ikan asing merajalela dan
merugikan negara minimal Rp 30 triliun per tahun. Maka laju penangkapan ikan
di perairan yang telah kelebihan tangkap hams dikurangi dan secara bersamaan
memperbanyak armada kapal ikan modern untuk beroperasi di wilayah perairan
yang masih underfishing atau yang selama ini dijarah nelayan asing. Semua ini
akan membantu pengembangan ekonomi daerah berbasis perikanan tangkap.
Jadi, perikanan tangkap kita sebetulnya sangat berpotensi. Jika dikelola
dengan baik dan benar, jelas perikanan tangkap kita akan memberikan kontribusi
ekonomi yang tinggi terhadap ekonomi nasional. Keadaan nelayan, kapal dan alat
tangkap yang masih dibilang sederhana juga sangat berpengaruh pada hasil
perikanan tangkap. Dengan persoalan yang saya dapat dari beberapa jurnal, saya
pikir perlu adanya penyuluhan yang dapat meningkatkan pengetahuan nelayan,
perlu adanya perbaikan kapal dan alat tangkap sehingga kita dapat memaksimlkan
hasil tangkap di negeri yang berpotensi ini.

BAB IV

12

SIMPULAN DAN SARAN


4.1

Simpulan
Penyuluhan perikanan adalah proses pembelajaran bagi pelaku utama serta

pelaku usaha agar mereka mau dan mampu menolong dan mengorganisasikan
dirinya dalam mengakses informasi pasar, teknologi, permodalan, dan sumber
daya lainnya sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha,
pendapatan, dan kesejahteraannya, serta meningkatkan kesadaran dalam
pelestarian fungsi lingkungan hidup. Penyuluhan merupakan kegiatan pendidikan
yang mengandung proses belajar mengajar. Agar proses belajar-mengajar
berlangsung dengan efektif danefisien, diperlukan suasana belajar-mengajar yang
tepat.
Perikanan tangkap kita sebetulnya sangat berpotensi. Jika dikelola dengan
baik dan benar, jelas perikanan tangkap kita akan memberikan kontribusi ekonomi
yang tinggi terhadap ekonomi nasional. Keadaan nelayan, kapal dan alat tangkap
yang masih dibilang sederhana juga sangat berpengaruh pada hasil perikanan
tangkap. Dengan persoalan yang saya dapat dari beberapa jurnal, saya pikir perlu
adanya penyuluhan yang dapat meningkatkan pengetahuan nelayan, perlu adanya
perbaikan kapal dan alat tangkap sehingga kita dapat memaksimlkan hasil tangkap
di negeri yang berpotensi ini.
4.2

Saran
Diharapkan kepada semua orang yang bergelut dibidang perikanan harus

diperhatikan hal seperti ini, laut kita luas, ikan kita banyak manfaatkanlah itu
semua. Mungkin beberapa masukan untuk kita orang perikanan, seharusnya kita
bisa memnberikan pelajaran-pelajaran kepada nelayan bagaimana memanajemen
waktu yang baik dan memanaje semua hal yang terdapat pada dirinya. Carilah
alternative yang paling baik terhadap hal-hal yang belum dimiliki. Pendidikan
rutin yang dilakukan didaerah pesisir wajib dilakukan untuk meningkatkan
pemahaman dan ilmu pengetahuan para warga sekitar pesisir termasuk nelayan.
DAFTAR PUSTAKA
13

David, dkk. 2013. Analisis Kebijakan Pemberdayaan Masyarakat Perikanan


Tangkap di Kota Manado. Jurnal Ilmu dan Teknologi Perikanan Tangkap
1(3): 76-80.
Firdaus, Mirnawati. 2013. Karya ilmiah, Efisiensi Usaha Tangkap Nelayan
Penerima Pump Sebagai Dampak Pembinaan dan Pendampingan
Penyuluh Perikanan.
Rohman. 2008. Landasan Teori Penyuluhan Pertanian. https://pemudapelita.
wordpress.com/2014/06/16/93 /contoh Diakses Tanggal 11 Januari 2015.
Safrida, dkk. 2015. Peran Penyuluhan Perikanan dalam Pengembangan Sektor
Perikanan di Kabupaten Aceh Utara. Jurnal Agrisep. Vol, 16, No.2.
Susanto, Djoko dkk.2006.Hubungan Motivasi Kerja Dengan perilaku Nelayan
Pada Usaha Perikanan Tangkap. Jurnal Penyuluhan Institut Pertanian
Bogor. Vol 2, No.1.

14