Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN KEGIATAN

PENANGANAN SITOSTATIKA

Pembimbing:
Nurul Latifah, S.Farm., Apt.
Disusun oleh:
Abulkhair Abdullah, S.Farm.

UMS

PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER


RS PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
PERIODE DESEMBER-JANUARI
2015

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kanker adalah istilah yang digunakan untuk suatu kondisi di mana sel
telah kehilangan pengendalian dan mekanisme normalnya sehingga
mengalami pertumbuhan yang tidak normal, cepat, dan tidak terkendali
(Andriyani, 2011). Kanker payudara merupakan salah satu penyebab terbesar
kematian akibat kanker setiap tahunnya.
Di Indonesia, kanker payudara (KPD) merupakan salah satu jenis kanker
yang banyak ditemukan. Berdasarkan Pathological Based Registration di
Indonesia, KPD menempati urutan pertama dengan frekuensi relatif sebesar
18,6 % (berdasarkan Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)
dan Yayasan Kanker Indonesia (YKI)) (Anonim, 2015).
Salah satu bentuk penanganan kanker adalah kemoterapi. Dalam
pelaksanaannya, kemoterapi menggunakan obat-obatan sitostatika. Sitostatika
adalah

kelompok

obat

(bersifat

sitotoksik)

yang

digunakan

untuk

menghambat pertumbuhan sel kanker. (Donadear, dkk, 2012).


Mengingat efek samping yang ditimbulkan oleh obat-obatan kemoterapi
pada pasien, petugas kesehatan yang terlibat, dan lingkungan di
sekitarnya,

dibutuhkan

standar

operasional

prosedur

kemoterapi yang menjadi acuan bagi petugas kesehatan


untuk

melakukan

pemberian

kemoterapi

yang

aman.

(Donadear, dkk, 2012).

Pada

laporan

ini,

akan

dibahas

mengenai

cara

penanganan dan penyiapan obat sitostatika untuk pasien


kanker payudara di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta.

B. Tujuan
1. Dapat

menjelaskan

prosedur,

tata

ruang,

sarana/prasarana diperlukan dalam proses pencampuran


obat kanker.
2. Dapat melakukan review terhadap regimen obat kanker.
C. Kegiatan
1. Mempelajari persyaratan ruang dan teknik preparasi obat
kanker.
2. Melakukan review regimen obat kanker.
3. Melihat/mendampingi pencampuran obat kanker.
D. Lokasi
Kegiatan ini dilakukan di ruang pencampuran obat kanker pada hari
Rabu tanggal 23 Desember 2015. Dilakukan pada pukul 14.20 WIB.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Sitostatika adalah suatu pengobatan untuk mematikan sel-sel secara
fraksional (fraksi tertentu mati), sehingga 90 % berhasil dan 10 % tidak berhasil
(Anonim, 2013).
Bahan Sitostatika adalah zat/obat yang merusak dan membunuh sel normal
dan sel kanker, serta digunakan untuk menghambat pertumbuhan tumor malignan.
Istilah sitostatika biasa digunakan untuk setiap zat yang mungkin genotoksik,
mutagenik, onkogenik, teratogenik, dan sifat berbahaya lainnya (Anonim, 2013).
Sitostatika tergolong obat beresiko tinggi karena mempunyai efek toksik yang
tinggi terhadap sel, terutama dalam reproduksi sel sehingga dapat menyebabkan
karsinogenik, mutagenik, dan tertogenik. Oleh karena itu, penggunaan obat
sitstatika membutuhkan penanganan khusus untuk menjamin keamanan,
keselamatan penderita, perawat, profesional kesehatan, dan orang lain yang tidak
menderita sakit. Tujuan penanganan bahan sitostatika adalah untuk menjamin
penanganannya yang tepat dan aman di rumah sakit (Anonim, 2013).
A. Penyiapan Sitostatika
Sebelum menjalankan proses pencampuran obat suntik, perlu dilakukan
langkah langkah sebagai berikut (Anonim, 2009):
1. Memeriksa kelengkapan dokumen (formulir) permintaan dengan prinsip
5 BENAR (benar pasien, obat, dosis, rute dan waktu pemberian).
2. Memeriksa kondisi obat-obatan yang diterima (nama obat, jumlah,
nomor batch, tanggal kadaluarsa), serta melengkapi form permintaan.
3. Melakukan konfirmasi ulang kepada pengguna jika ada yang tidak
jelas/tidak lengkap.
4. Menghitung kesesuaian dosis.
5. Memilih jenis pelarut yang sesuai.
6. Menghitung volume pelarut yang digunakan.

7. Membuat label obat berdasarkan: nama pasien, nomor rekam medis,


ruang perawatan, dosis, cara pemberian, kondisi penyimpanan, tanggal
pembuatan, dan tanggal kadaluarsa campuran.
8. Membuat label pengiriman terdiri dari: nama pasien, nomor rekam
medis, ruang perawatan, jumlah paket.
9. Melengkapi dokumen pencampuran.
10. Memasukkan alat kesehatan, label, dan obat-obatan yang akan dilakukan
pencampuran kedalam ruang steril melalui pass box.
B. Pencampuran Sitostatika
Proses pencampuran sediaan sitostatika (Anonim, 2009):
1. Memakai Alat Pelindung Diri (APD).
2. Mencuci tangan.
3. Menghidupkan biological safety cabinet (BSC) 5 menit sebelum
digunakan.
4. Melakukan dekontaminasi dan desinfeksi BSC.
5. Menyiapkan meja BSC dengan memberi alas sediaan sitostatika.
6. Menyiapkan tempat buangan sampah khusus bekas sediaan sitostatika.
7. Melakukan desinfeksi sarung tangan dengan menyemprot alkohol 70 %.
8. Mengambil alat kesehatan dan bahan obat dari pass box.
9. Meletakkan alat kesehatan dan bahan obat yang akan dilarutkan di atas
meja BSC.
10. Melakukan pencampuran sediaan sitostatika secara aseptis.
11. Memberi label yang sesuai pada setiap infus dan spuit yang sudah berisi
sediaan sitostatika.
12. Membungkus dengan kantong hitam atau aluminium foil untuk obat-obat
yang harus terlindung cahaya.
13. Membuang semua bekas pencampuran obat kedalam wadah pembuangan
khusus.
14. Memasukan infus untuk spuit yang telah berisi sediaan sitostatika ke
dalam wadah untuk pengiriman.

15. Mengeluarkan wadah untuk pengiriman yang telah berisi sediaan jadi
melalui pass box.
16. Menanggalkan Alat Pelindung Diri (APD).
C. Pemberian Sitostatika
1. Injeksi Intravena
Injeksi intravena dapat diberikan dengan berbagai cara, untuk jangka
waktu yang pendek atau untuk waktu yang lama (Anonim, 2009).
a. Injeksi bolus
Injeksi bolus volumenya kecil 10 ml, biasanya diberikan
dalam waktu 3-5 menit kecuali ditentukan lain untuk obat-obatan
tertentu (Anonim, 2009).
b. Infus
1) Infus singkat (intermittent infusion)
Infus singkat diberikan selama 10 menit atau lebih lama.
Waktu pemberiaan infus singkat sesungguhnya jarang lebih dari
6 jam per dosis (Anonim, 2009).
2) Infus kontinu (continuous infusion)
Infus kontinu diberikan selama 24 jam. Volume infus dapat
beragam mulai dari volume infus kecil diberikan secara
subkutan dengan pompa suntik (syringe pump), misalnya 1 ml
per jam, hingga 3 liter atau lebih selama 24 jam, misalnya nutrisi
parenteral (Anonim, 2009).
2. Injeksi Intratekal
Injeksi intratekal adalah pemberian injeksi melalui sumsum tulang
belakang. Volume cairan yang dimasukkan sama dengan volume cairan
yang dikeluarkan (Anonim, 2009).

3. Injeksi subkutan

Injeksi subkutan adalah pemberian injeksi di bawah kulit (Anonim,


2009).
D. Penanganan Tumpahan dan Kecelakan Kerja Sitostatika
1. Penanganan tumpahan
Membersihkan tumpahan dalam ruangan steril dapat dilakukan
petugas tersebut atau meminta pertolongan orang lain dengan
menggunakan chemotherapy spill kit yang terdiri dari (Anonim,
2009):
a. Membersihkan tumpahan di luar BSC dalam ruang steril
1) Meminta pertolongan, jangan tinggalkan area sebelum
diizinkan.
2) Beri tanda peringatan di sekitar area.
3) Petugas penolong menggunakan Alat Pelindung Diri (APD).
4) Angkat

partikel

kaca

dan

pecahan-pecahan

dengan

menggunakan alat seperti sendok dan tempatkan dalam


kantong buangan.
5) Serap tumpahan cair dengan kassa penyerap dan buang
dalam kantong tersebut.
6) Serap tumpahan serbuk dengan handuk basah dan buang
dalam kantong tersebut.
7) Cuci seluruh area dengan larutan detergent.
8) Bilas dengan aquadest.
9) Ulangi pencucian dan pembilasan sampai seluruh obat
terangkat.

10) Tanggalkan glove luar dan tutup kaki, tempatkan dalam


kantong pertama.
11) Tutup kantong dan tempatkan pada kantong kedua.
12) Tanggalkan pakaian pelindung lainnya dan sarung tangan
dalam tempatkan dalam kantong kedua.
13) Ikat kantong secara aman dan masukan dalam tempat
penampung khusus untuk dimusnahkan dengan incenerator.
14) Cuci tangan.

b. Membersihkan tumpahan di dalam BSC


1) Serap tumpahan dengan kassa untuk tumpahan cair atau
handuk basah untuk tumpahan serbuk.
2) Tanggalkan sarung tangan dan buang, lalu pakai 2 pasang
sarung tangan baru.
3) Angkat hati-hati pecahan tajam dan serpihan kaca sekaligus
dengan alas kerja/meja/penyerap dan tempatkan dalam
wadah buangan.
4) Cuci permukaan, dinding bagian dalam BSC dengan
detergent, bilas dengan aquadestilata menggunakan kassa.
Buang kassa dalam wadah pada buangan.
5) Ulangi pencucian 3 kali.
6) Keringkan dengan kassa baru, buang dalam wadah buangan.
7) Tutup wadah dan buang dalam wadah buangan akhir.

8) Tanggalkan APD dan buang sarung tangan, masker, dalam


wadah

buangan

akhir

untuk

dimusnahkan

dengan

inscenerator.
9) Cuci tangan.
2. Penanganan kecelakaan kerja
1) Kontak dengan kulit
a) Tanggalkan sarung tangan.
b) Bilas kulit dengan air hangat.
c) Cuci dengan sabun, bilas dengan air hangat.
d) Jika kulit tidak sobek, seka area dengan kassa yang dibasahi
dengan larutan Chlorin 5 % dan bilas dengan air hangat.
e) Jika kulit sobek pakai H2O2 3 %.
f) Catat jenis obatnya dan siapkan antidot khusus.
g) Tanggalkan seluruh pakaian alat pelindung diri (APD).
h) Laporkan ke supervisor.
i) Lengkapi format kecelakaan.
(Anonim, 2009)
2) Kontak dengan mata
a) Minta pertolongan.
b) Tanggalkan sarung tangan.
c) Bilas mata dengan air mengalir dan rendam dengan air hangat
selama 5 menit.

d) Letakkan tangan di sekitar mata dan cuci mata terbuka dengan


larutan NaCl 0,9 %.
e) Aliri mata dengan larutan pencuci mata.
f) Tanggalkan seluruh pakaian pelindung.
g) Catat jenis obat yang tumpah.
h) Laporkan ke supervisor.
i) Lengkapi format kecelakaan kerja.
(Anonim, 2009)
3) Tertusuk jarum
a) Jangan segera mengangkat jarum. Tarik kembali plunge untuk
menghisap obat yang mungkin terinjeksi.
b) Angkat jarum dari kulit dan tutup jarum, kemudian buang.
c) Jika perlu gunakan spuit baru dan jarum bersih untuk
mengambil obat dalam jaringan yang tertusuk.
d) Tanggalkan sarung tangan, bilas bagian yang tertusuk dengan air
hangat.
e) Cuci bersih dengan sabun, bilas dengan air hangat.
f) Tanggalkan semua APD.
g) Catat jenis obat dan perkirakan berapa banyak yang terinjeksi.
h) Laporkan ke supervisor.
i) Lengkapi format kecelakaan kerja.
j) Segera konsultasikan ke dokter.

(Anonim, 2009)
E. Pengelolaan Limbah Sitostatika
Pengelolaan limbah dari sisa buangan pencampuran sediaan sitoatatika
(bekas ampul,vial, spuit, needle, dll) harus dilakukan sedemikian rupa hingga
tidak menimbulkan bahaya pencemaran terhadap lingkungan (Anonim, 2009).
Langkah-langkah yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut (Anonim,
2009):
1. Gunakan Alat Pelindung Diri (APD).
2. Tempatkan limbah pada wadah buangan tertutup. Untuk benda-benda
tajam seperti spuit vial, ampul, tempatkan di dalam wadah yang tidak
tembus benda tajam, untuk limbah lain tempatkan dalam kantong
berwarna (standar internasional warna ungu) dan berlogo sitostatika.
3. Beri label peringatan pada bagian luar wadah.
4. Bawa limbah ke tempat pembuangan menggunakan troli tertutup.
5. Musnahkan limbah dengan incenerator 1000C.
6. Cuci tangan.

F. Kanker Payudara
Organisasi Penanggulangan Kanker Dunia (UICC) maupun Organisasi
Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan, diperkirakan angka kejadian kanker
di dunia meningkat 300 persen pada 2030, terutama di negara-negara
berkembang, seperti Indonesia (Andriyani, 2011).
1. Defenisi
Kanker payudara (Carcinoma mammae) adalah tumor ganas yang
berasal dari kelenjar payudara. Termasuk saluran kelenjar air susu dan
jaringan penunjangnya yang tumbuh infiltratif, destruktif, serta dapat
bermetastase (Sathiaseelan, 2012). WHO memasukkan kanker payudara
ke dalam International Classification of Diseases (ICD) dengan kode
nomor 174 untuk wanita dan 175 untuk pria (Pulungan, 2010).

Kanker payudara (KPD) merupakan salah satu penyebab kematian


utama di seluruh dunia. Pada tahun 2012, sekitar 8,2 juta kematian
disebabkan oleh kanker. Salah satunya ialah kanker payudara (Anonim,
2015).
Di Indonesia, kanker payudara merupakan salah satu jenis kanker
yang banyak ditemukan. Berdasarkan Pathological Based Registration di
Indonesia, KPD menempati urutan pertama dengan frekuensi relatif
sebesar 18,6 % (berdasarkan Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi
Indonesia (IAPI) dan Yayasan Kanker Indonesia (YKI)) (Anonim, 2015).
2. Patofisiologi
Proses terjadinya kanker payudara dan masing-masing etiologi
antara lain obesitas, radiasi, hiperplasia, optik, riwayat keluarga dengan
mengkonsumsi zat-zat karsinogen sehingga merangsang pertumbuhan
epitel payudara dan dapat menyebabkan kanker payudara . Kanker
payudara berasal dari jaringan epithelial, dan paling sering terjadi pada
sistem

duktal.

Mula-mula

terjadi

hiperplasia

sel-sel

dengan

perkembangan sel-sel atipik. Sel-sel ini akan berlanjut menjadi


karsinoma in situ dan menginvasi stroma. Kanker membutuhkan waktu 7
tahun untuk bertumbuh dari sebuah sel tunggal sampai menjadi massa
yang cukup besar untuk dapat diraba (kira-kira berdiameter 1 cm ). Pada
ukuran itu, kira- kira seperempat dari kanker payudara telah
bermetastase. Kebanyakan dari kanker ditemukan jika sudah teraba,
biasanya oleh wanita itu sendiri. Gejala kedua yang paling sering terjadi
adalah cairan yang keluar dari muara duktus satu payudara, dan mungkin
berdarah. Jika penyakit telah berkembang lanjut, dapat pecahnya
benjolan-benjolan pada kulit ulserasi (Zesinovita, 2010).
Karsinoma inflamasi, adalah tumor yang tumbuh dengan cepat
terjadi kirakira 1-2 % wanita dengan kanker payudara gejala-gejalanya
mirip dengan infeksi payudara akut. Kulit menjadi merah, panas,

edematoda, dan nyeri. Karsinoma ini menginfasi kulit dan jaringan limfe.
Tempat yang paling sering untuk metastase jauh adalah paru, pleura, dan
tulang (Zesinovita, 2010).
Karsinoma payudara bermetastase dengan penyebaran langsung
kejaringan sekitarnya, dan juga melalui saluran limfe dan aliran darah.
Bedah dapat mendatangkan stress karena terdapat ancaman terhadap
tubuh, integritas dan terhadap jiwa seseorang. Rasa nyeri sering
menyertai upaya tersebut pengalaman operatif di bagi dalam tiga tahap
yaitu preoperatif, intra operatif dan pos operatif. Operasi ini merupakan
stressor kepada tubuh dan memicu respon neuron endokrine respon
terdiri dari system saraf simpati yang bertugas melindungi tubuh dari
ancaman cidera. Bila stress terhadap sistem cukup gawat atau kehilangan
banyak darah, maka mekanisme kompensasi dari tubuh terlalu banyak
beban dan syock akan terjadi. Anestesi tertentu yang di pakai dapat
menimbulkan terjadinya syok (Zesinovita, 2010).
Respon metabolisme juga terjadi. Karbohidrat dan lemak di
metabolisme untuk memproduksi energi. Protein tubuh pecah untuk
menyajikan suplai asam amino yang di pakai untuk membangun jaringan
baru. Intake protein yang diperlukan guna mengisi kebutuhan protein
untuk keperluan penyembuhan dan mengisi kebutuhan untuk fungsi yang
optimal (Zesinovita, 2010).
Kanker payudara tersebut menimbulkan metastase dapat ke organ
yang deket maupun yang jauh antara lain limfogen yang menjalar ke
kelenjar limfe aksilasis dan terjadi benjolan, dari sel epidermis penting
menjadi invasi timbul krusta pada organ pulmo mengakibatkan ekspansi
paru tidak optimal (Zesinovita, 2010).
3. Manifestasi Klinik
Gejala kanker payudara bisa dialami oleh laki-laki maupun
perempuan, tetapi kanker payudara sangat jarang pada pria dibandingkan

dengan wanita. Lebih dari 1 dari 10 perempuan cenderung menderita


gejala kanker payudara (Sathiaseelan, 2012).
Gejala kanker payudara dapat terdeteksi ketika benjolan atau massa
tumbuh cukup besar, baik dirasakan atau dilihat pada mamografi. Gejala
kanker payudara sering belum terdeteksi sampai kanker itu sudah dalam
tahap lanjut, dan mungkin sudah metastasis ke daerah vital tubuh.Untuk
itu, penting bagi wanita memeriksakan diri secara teratur (Sathiaseelan,
2012).
Gambaran klinis yang dapat ditemukan, yaitu (Sathiaseelan, 2012):
a. Benjolan pada payudara, keras atau lembut;
b. Nyeri, yang bervariasi dengan siklus haid dan independen dari siklus
haid;
c. Perubahan pada kulit payudara:
1) Skin dimpling,
2) Skin ulcer, dan
3) Peau d'orange;
d. Gangguan puting:
1) Puting tertarik ke dalam,
2) Eksim (ruam yang melibatkan puting atau areola, atau
keduanya), dan
3) Putting discharge.

4. Stadium

Pembagian stadium menurut Portmann yang disesuaikan dengan


aplikasi klinik yaitu (Pulungan, 2010):

a. Stadium I
Tumor terbatas dalam payudara, bebas dari jaringan sekitarnya,
tidak ada fiksasi/infiltrasi ke kulit dan jaringan yang di bawahnya
(otot). Besar tumor 1-2 cm dan tidak dapat terdeteksi dari luar.
Kelenjar getah bening regional belum teraba. Perawatan yang sangat
sistematis diberikan tujuannya adalah agar sel kanker tidak dapat
menyebar dan tidak berlanjut pada stadium selanjutnya. Pada
stadium ini, kemungkinan penyembuhan pada penderita adalah 70
%.
b. Stadium II
Tumor terbebas dalam payudara, besar tumor 2,5-5 cm, sudah
ada satu atau beberapa kelenjar getah bening aksila yang masih
bebas dengan diameter kurang dari 2 cm. Untuk mengangkat sel-sel
kanker biasanya dilakukan operasi dan setelah operasi dilakukan
penyinaran untuk memastikan tidak ada lagi sel-sel kanker yang
tertinggal. Pada stadium ini, kemungkinan sembuh penderita adalah
30-40 %.
c. Stadium III A
Tumor sudah meluas dalam payudara, besar tumor 5-10 cm, tapi
masih bebas di jaringan sekitarnya, kelenjar getah bening aksila
masih bebas satu sama lain. Menurut data dari Depkes, 87 % kanker
payudara ditemukan pada stadium ini.
d. Stadium III B
Tumor melekat pada kulit atau dinding dada, kulit merah dan
ada edema (lebih dari sepertiga permukaan kulit payudara), ulserasi,

kelenjar getah bening aksila melekat satu sama lain atau ke jaringan
sekitarnya dengan diameter 2-5 cm. Kanker sudah menyebar ke
seluruh bagian payudara, bahkan mencapai kulit, dinding dada,
tulang rusuk, dan otot dada.
e. Stadium IV
Tumor seperti pada yang lain (stadium I, II, dan III). Tapi sudah
disertai dengan kelenjar getah bening aksila supra-klavikula dan
Metastasis jauh. Sel-sel kanker sudah merembet menyerang bagian
tubuh lainnya, biasanya tulang, paru-paru, hati, otak, kulit, kelenjar
limfa yang ada di dalam batang leher. Tindakan yang harus
dilakukan adalah pengangkatan payudara. Tujuan pengobatan pada
stadium ini adalah palliatif bukan lagi kuratif (menyembuhkan).
5. Regimen Terapi

BAB III
PEMBAHASAN
A. Persiapan Sarana dalam Penanganan Sitostatika
Pencampuran obat sitostatika dilakukan pada hari Rabu tanggal 23
Desember 2015 di ruang pencampuran obat kanker. Pembuatan protokol
kemoterapi, penyiapan obat, dan pembuatan etiket dilakukan di Instalasi
Farmasi Rawat Inap. Setelah semuanya siap, obat sitostatika dimasukkan ke
dalam wadah lalu dibawa ke ruang pencampuran obat kanker.
Ruang pencampuran obat kanker terdiri atas 3 bagian, yaitu:
1. Ruang persiapan
Ruangan ini digunakan untuk mempersiapkan bahan obat dan alat
yang dibutuhkan, juga untuk melengkapi diri petugas seperti mencuci
tangan dan penggunaan APD.
Adapun APD yang digunakan adalah:
a. Pakaian,
b. Sarung tangan steril (2 lapis),
c. Masker 2 lapis,
d. Tutup kepala,
e. Kacamata, dan
f. Alas kaki.
2. Ruang antara
Ruangan yang memisahkan antara ruang persiapan dan ruang
pencampuran. Artinya, yang melakukan persiapan dan pencampuran obat
sitostatika dilakukan oleh orang yang berbeda. Tujuannya untuk
memudahkan proses pencampuran apalagi obat yang akan disiapkan
untuk 2 orang pasien atau lebih.

3. Ruang pencampuran
Di dalam ruang pencampuran terdapat Biological Safety Cabinet
(BSC) dengan sistem Laminar Air Flow (LAF) vertikal di mana udara
mengalir dan berputar dengan arah vertikal (atas-bawah). Tujuannya
untuk mencegah agar petugas dari paparan obar sitostatika, juga untuk
mencegah keluarnya percikan obat sitostatika dari LAF yang dapat
berbahaya apabila terkena kulit di samping telah menggunakan APD.
B. Kasus Handling Sitostatika
1. Data pasien yang akan menjalani kemoterapi
Nama

: Ny. W

Nomor RM

: 644515

Umur

: 82 tahun

BB

: 38 kg

TB

: 156 cm

LBP

: 1,31

Bangsal

: Marwah

Diagnosis

: Ca mamae

Protokol kemoterapi

: Doxorubicin
Brexel

65,5 mg
98,25 mg

C. Profil Obat
1. Doxorubicin
Manufacturer
Contents

Indications

Dosage

Actavis
Doxorubicin HCl
Breast, ovarian, thyroid & gastric carcinoma;
malignant lymphomas (Hodgkin's disease),
acute lymphoblastic leukemia, bladder
carcinoma w/ transitional cell carcinoma,
neuroblastoma, Wilm's tumor, sarcoma of the
bone & soft tissues, acute myeloblastic
leukemia & bronchogenic carcinoma.
IV Adult & children Monotherapy:
Recommended dose: 2 mg/m2 wkly. Based on
body surface area: 60-75 mg/m2 3 wkly, may
be reduced to 30-40 mg/m2 3 wkly. Based on

body wt: 1.2-2.4 mg/kg as single dose 3 wkly.

Contraindications

Special Precautions

Adverse Drug Reactions

Drug Interactions

Intravesical Adult, elderly & children:


50 mg in 50 mL retained in 1 hr.
Myelosuppression induced by previous
treatment w/ other anti-tumor agents or
radiotherapy; previous treatment w/ maximal
cumulative doses of doxorubicin or
daunorubicin. Current or previous history of
cardiac impairment, vesical tumors, urethral
stricture, resistant UTI & marked hepatic
impairment. Pregnancy & lactation.
Assess RBC, WBC & platelet counts & liver
function prior to & during therapy. Previous or
concomitant therapy of potentially cardiotoxic
agents eg cyclophosphamide, mediastinal
irradiation or related anthracycline compd;
impaired cardiac function. Avoid skin or eye
contact.
Thrombocytopenia, anemia, bone marrow
suppression; tachycardia, supraventricular
tachycardia & ECG changes; alopecia, nausea,
vomiting
&
diarrhea,
inj
site
&
hypersensitivity reactions.
High-dose
cyclosporine,
propranolol,
radiotherapy.

Category D: There is positive evidence of


human foetal risk, but the benefits from use in
pregnant women may be acceptable despite
Pregnancy Category (US FDA)
the risk (e.g., if the drug is needed in a lifethreatening situation or for a serious disease
for which safer drugs cannot be used or are
ineffective).
MIMS Class
Cytotoxic Chemotherapy
L01DB01 - doxorubicin ; Belongs to the class
of cytotoxic antibiotics, anthracyclines and
ATC Classification
related substances. Used in the treatment of
cancer.
Drug classification
G
(http://mims.com/Indonesia/drug/info/Doxorubicin%20Actavis/)

2. Brexel
Manufacturer
Contents
Indications

Dosage

Contraindications

Special Precautions

Adverse Drug Reactions

Drug Interactions

Kalbe Farma
Docetaxel
Ovarian cancer, breast cancer. Non-small cell
lung cancer (NSCLC), prostate cancer.
Breast cancer:
Recommended dose: 100 mg/m2 IV over 1 hr
3 wkly. 1st-line treatment: 75 mg/m2 in
combination w/ doxorubicin 50 mg/m2.
Non-small cell lung cancer Failure of prior
platinum-based chemotherapy:
Recommended dose: 75 mg/m2 IV over 1 hr 3
wkly.
Chemotherapy-naive patient:
Recommended dose: 75 mg/m2 IV over 1 hr
immediately followed by cisplatin 75 mg/m 2
over 30-60 min 3 wkly.
Ovarian cancer:
Recommended dose: 100 mg/m2 as 1 hr
infusion 3 wkly.
Hypersensitivy to docetaxel or to other drugs
formulated w/ polysorbate 8. Neutrophil
counts <1500 cells/mm3. Severe liver
impairment. Pregnancy & lactation.
All patients should be premedicated w/ oral
corticosteroids for 3 days starting 1 day prior
to docetaxel therapy. Hepatic impairment.
Contraceptive measures must be taken during
& for at least 3 mth after therapy. Avoid
contact w/ plasticized PVC equipment. Childn
<16 yr. Elderly.
Myelosuppression, hypersensitivity, cutaneous
& infusion site reactions, fluid retention,
neuropathy,
GI
symptoms
(including
stomatitis, nausea & vomiting), hypotension,
elevation of liver enzymes.
Compd that induce, inhibit or are metabolized
by CYP450 3A4 eg cyclosporine, terfenadine,
ketoconazole,
erythromycin
&
troleandomycin. Increased clearance w/
doxorubicin. Carboplatin.

Pregnancy Category (US FDA)


Category D: There is positive evidence of

human foetal risk, but the benefits from use in


pregnant women may be acceptable despite
the risk (e.g., if the drug is needed in a lifethreatening situation or for a serious disease
for which safer drugs cannot be used or are
ineffective).
MIMS Class
Cytotoxic Chemotherapy
L01CD02 - docetaxel ; Belongs to the class of
ATC Classification
plant alkaloids and other natural products,
taxanes. Used in the treatment of cancer.
Drug classification
G
(http://www.mims.com/Indonesia/drug/info/Brexel/?type=brief)
D. Perhitungan LPT/BSA
Luas Permukaan Tubuh (LPT)/Body Surface Area (BSA) pada pasien
kemoterapi harus dihitung terlebih dahulu sebelum menghitung dosis obat
kemoterapi yang akan digunakan. Hal ini terkait dengan beberapa obat yang
dosisnya harus dihitung dengan menggunakan BSA.
BB

= 38 kg

TB

= 156 cm

BSA

BB x TB
3600

BSA

38 x 156
3600

BSA

= 1,28 m2 (pada protokol kemoterapi, BSA-nya 1,31 m2)

E. Perhitungan Dosis
1. Doxorubicin
Dosis standar

= 50 mg/m2

Dosis yang diberikan = 50 mg/m2 x 1,31 m2


= 65,5 mg
2. Brexel
Dosis standar
= 75 mg/m2
Dosis yang diberikan = 75 mg/m2 x 1,31 m2
= 98,25 mg

F. Perhitungan Volume Obat


1. Doxorubicin
Dosis yang diberikan

= 65,5 mg

Sediaan yang ada

= 20 mg/10 mL dan 10 mg/5 mL

Pelarut

= NaCl 0,9 % 100 mL

Sediaan yang diambil

60 mg diambil dari sediaan 20 mg/10 mL


60 mg/20 mg x 10 mL = 30 mL
5,5 mg diambil dari sediaan 10 mg/5 mL
5,5 mg/10 mg x 5 mL = 2,75 mL

Volume setelah rekonstitusi = 100 mL + 30 mL + 2,75 mL


= 132,75 mL
2. Brexel
Dosis yang diberikan

= 98,25 mg

Sediaan yang ada

= 80 mg/8 mL dan 20 mg/2 mL

Pelarut

= D5W 250 mL

Sediaan yang diambil


=
- 80 mg diambil dari sediaan 80 mg/8 mL
80 mg/80mg x 8 mL = 8 mL
- 18,25 diambil dari sediaan 20 mg/2 mL
18,25 mg/20 mg x 2 mL = 1,825 mL
Volume setelah rekonstitusi = 250 mL + 8 mL + 1,825 mL
= 259,825 mL
G. Perhitungan Konsentrasi Akhir
1. Doxorubicin
Dosis yang dibutuhkan

= 65,5 mg

Volume setelah rekonstitusi = 132,75 mL


Konsentrasi akhir

= 65,5 mg/132,75 mL
= 0,493 mg/mL

Sangat jauh selisih konsentrasi akhir obat yang telah dibuat dengan
konsentrasi akhir pada literatur (Medscape) yaitu 2 mg/mL.
2. Brexel
Dosis yang dibutuhkan

= 98,25 mg

Volume setelah rekonstitusi = 259,825 mL


Konsentrasi akhir

= 98,25 mg/259,825 mL
= 0,378 mg/mL

Konsentrasi akhir yang dibuat masuk dalam range konsentrasi akhir di


literatur (Medscape) yaitu 0,3-0,74 mg/mL.
H. Penyimpanan dan Kestabilan Obat
1. Doxorubicin (Medscape)
a. Sebelum rekonstitusi
1) Simpan pada suhu 2-8oC.
2) Terlindung dari cahaya.
b. Setelah rekonstitusi
1) Stabil hingga 7 hari pada suhu ruang jika terlindung dari cahaya.
2) Stabil hingga 15 hari pada suhu 2-8oC jika terlindung dari
cahaya.
2. Brexel (Medscape)
a. Sebelum rekonstitusi
1) Simpan pada suhu 2-25oC.
2) Terlindung dari cahaya.
b. Setelah rekonstitusi
1) Stabil selama 8 jam pada suhu 2-25oC pada pelarutan pertama.
2) Stabil selama 4 jam pada suhu 2-25oC pada pelarutan kedua.
3) Hindari goncangan.

DAFTAR PUSTAKA

Andriyani, Y. 2011. Definisi dan Epidemiologi Penyakit Kanker. (pdf). Tersedia


di: http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/21588/4/Chapter%20II.
pdf. (Diakses tanggal 25 Februari 2015).
Anonim. 2009. Pedoman Pencampuran Obat Suntik dan Penanganan Sediaan
Sitostatika. Jakarta: Ditjen Binfar dan Alkes Kemenkes RI.
Anonim. 2015. Panduan Nasional Penanganan Kanker Payudara. Jakarta: KPKN
Kemenker RI.
Anonim. 2015. Stop Kanker. Jakarta: Pusat Data dan Informasi Kemenkes RI.
Donadear, dkk. 2012. Gambaran Pelaksanaan Kemoterapi di RSUP Dr. Hasan
Sadikin Bandung. Bandung: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas
Padjadjaran.
Idris,

M. 2013. Penanganan Obat Sitostatika. http://farmasikendari.


blogspot.co.id/2013/04/penanganan-obat-sitostatika.html. (Diakses tanggal
25 Februari 2015).

Pulungan, R. M. 2010. Karakteristik Penderita Kanker Payudara Rawat Inap di


Rumah Sakit Haji Medan Tahun 2005-2009. Skripsi. Medan: Fakultas
Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
Sathiaseelan, P. 2012. Frekuensi Penderita Kanker Payudara di RSUP Haji Adam
Malik Tahun 2010. Skripsi. Medan: Fakultas Kedokteran Universitas
Sumatera Utara.
Zesinovita. 2010. Asuhan Keperawatan pada Ny. K dengan Kanker Payudara
Post Operasi Mastektomi di Ruang Khotidjah Rumah Sakit Roemani
Semarang. Tersedia di: http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/109/jtptu
nimus-gdl-zesinovita-5422-2-babii.pdf. (Diakses tanggal 25 Desember
2015).