Anda di halaman 1dari 22

Praktikum Pendugaan Produktivitas Primer Dengan Analisa Klorofil-a

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Produktivtas perairan secara umum dapat didefinisikan sebagai kemampuan

suatu perairan menghasilkan bahan organik maupun bahan anorganik dalam suatu
runutan rantai makanan yang saling berhubungan dalam jaring-jaring makanan. Hal
ini sekaligus menekankan bahwa produktivitas suatu perairan erat kaitannya dengan
sistem aliran makanan atau energi antar biota yang ada dalam suatu ekosistem
perairan. Rantai makanan yang ada di suatu ekosistem menunjukkan peristiwa makan
dan dimakan antara makhluk hidup dengan urutan tertentu dikenal dengan istilah
rantai makanan. Terdapat makhluk hidup yang berperan sebagai produsen, konsumen,
dan dekomposer dalam suatu rantai makanan. Rantai makanan merupakan gambar
peristiwa makan dan dimakan yang sederhana. Kenyataannya dalam satu ekosistem
tidak hanya terdapat satu rantai makanan, karena satu produsen tidak selalu menjadi
sumber makanan bagi satu jenis herbivora, sebaliknya satu jenis herbivora tidak
selalu memakan satu jenis produsen. Dengan demikian, di dalam ekosistem terdapat
rantai makanan yang saling berhubungan membentuk suatu jaring-jaring makanan.
Penilaian produktivitas suatu perairan dapat dilakukan dengan tiga pendekatan yaitu
pendekatan fisika, kimia dan biologi. Pendekatan fisika meliputi faktor-faktor fisik
seperti suhu, salinitas, cahaya, kecerahan, kekeurahan dan pH. Faktor kimia seperti
DO, COD maupun nutrien.
Produktivitas primer suatu perairan dapat diukur dengan menggunakan
pendugaan berupa analisis klorofil a. Konsentrasi klorofil-a suatu perairan sangat
tergantung pada ketersediaan nutrient dan intensitas cahaya matahari. Bila nutrien dan
intensitas cahaya matahari cukup tersedia, maka konsentrasi klorofil-a akan tinggi
dan begitupun sebaliknya. Salah satu organisme yang dapat menyumbang

produktivitas primer di suatu perairan adalah fitoplankton karena fitoplankton


memiliki kandungan klorofil a yang cukup besar.
Tingginya konsentrasi klorofi la disebabkan karena terjadinya pengkayaan
nutrien pada lapisan permukaan perairan melalui berbagai prosss dinamika massa air,
diantaranya turn over (pada danau), percampuran vertikal massa air serta pola
pergerakan masa air yang membawa massa air kaya nutrien dari perairan sekitarnya.

1.2

Tujuan Praktikum
Tujuan praktikum ini adalah untuk menghitung konsentrasi klorofil-a dari

sampel fitoplankton yang diambil dari suatu perairan.

1.3

Manfaat Praktikum
Manfaat

praktikum

ini

adalah

mahasiswa

mampu

produktivitas primer di suatu perairan melalui analisis klorofil-a.

mengengetahui

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Definisi Klorofil
Istilah klorofil berasal dari bahasa Yunani yaitu Chloros artinya hijau dan

phyllos artinya daun. Ini diperkenalkan tahun 1818, dimana pigmen tersebut diekstrak
dari tumbuhan dengan menggunakan pelarut organik. Hans Fischer peneliti klorofil
yang memperoleh nobel prize winner pada tahun 1915 berasal dari technishe
hochschule, munich germany. Dengan proses fotosintesis, terdapat 3 fungsi utama
dari klorofil yaitu memanfaatkan energi matahari, memicu fiksasi CO2 menjadi
karbohidrat dan menyediakan dasar energetik bagi ekosistem secara keseluruhan.
Karbohidrat yang dihasilkan fotosintesis melalui proses anabolisme diubah menjadi
protein, lemak, asam nukleat, dan molekul organik lainnya. Pada tanaman tingkat
tinggi terdapat dua macam klorofil yaitu klorofil-a (C55H72O5N4Mg) yang
berwarna hijau tua dan klorofil-b (C55H70O6N4Mg) yang berwarna hijau muda.
Klorofil-a dan klorofil-b paling kuat menyerap cahaya di bagian merah (600-700 nm),
sedangkan yang paling sedikit cahaya hijau (500-600 nm). Sedangkan cahaya
berwarna biru dari spektrum tersebut diserap oleh karotenoid (Gobel dkk., 2006).

Gambar 1. Rumus Kimia Klorofil


(sumber : http://1.bp.blogspot.com/)

Klorofil menyebabkan cahaya berubah menjadi radiasi elektromagnetik pada


spektrum kasat mata (visible). Misalnya, cahaya matahari mengandung semua warna
spektrum kasat mata dari merah sampai violet, tetapi seluruh panjang gelombang
unsurnya tidak diserap dengan baik secara merata oleh klorofil. Klorofil dapat
menampung energi cahaya yang diserap oleh pigmen cahaya atau pigmen lainnya
melali fotosintesisi, sehingga fotosintesis disebut sebagai pigmen pusat reaksi
fotosintesis. Dalam proses fotosintesis tumbuhan hanya dapat memanfaatkan sinar
matahari dengan bentuk panjang gelombang antara 400 700 nm (Gobel dkk., 2006).
Klorofil merupakan parameter yang sangat menentukan produktivitas primer
lautan. Sebaran dan tinggi rendahnya konsentrasi klorofil berkaitan langsung dengan
kondisi oseanografi perairan itu sendiri. Beberapa parameter fisika-kimia yang
mengontrol serta mempengaruhi sebaran klorofil adalah intensitas cahaya dan nutrien
(terutama nitrat, fosfat dan silikat). Secara umum sebaran konsentrasi klorofil tinggi
di perairan pantai sebagai akibat dari tingginya suplai nutrien yang berasal dari
daratan melalui limpasan air sungai. Namun sebaliknya cenderung rendah di daerah
lepas pantai karena pada daerah lepas pantai ini tidak mendapat suplai nutrien dari
daratan. Walaupun demikian pada beberapa tempat yang jauh dari daratan masih
ditemukan konsentrasi klorofil yang tinggi. Keadaan ini terjadi akibat adanya proses
sirkulasi massa air yang memungkinkan terangkutnya sejumlah nutrien dari daerah
lain, seperti yang terjadi pada daerah upwelling. Ketersediaan nutrien dan intensitas
cahaya matahari sangat mempengaruhi konsentrasi klorofil-a suatu perairan. Apabila
nutrien dan intensitas cahaya matahari tersedia cukup, maka konsentrasi klorofil akan
tinggi begitu pula sebaliknya. Perairan di daerah tropis umumnya memiliki
konsentrasi klorofil yang rendah karena keterbatasan nutrien dan kuatnya stratifikasi
kolom perairan sebagai akibat pemanasan permukaan perairan yang terjadi sepanjang
tahun.

Berikut adalah beberapa faktor yang berpengaruh terhadap pembentukan


klorofil (Zahidah, 2015):
a.

Faktor

genetik,

pembentukan

klorofil

seperti

halnya

dengan

pembentukan pigmen lain pada hewan dan manusia dibawakan oleh suatu gen
tertentu di dalam kromoson
b.

Cahaya, diperlukan intensitas cahaya dan lama penyinaran tertentu


untuk menghasilkan klorofil yang optimal, karen terlalu banyak cahaya akan
berpengaruh buruk terhadap klorofil yang dihasilkan.

c.

Oksigen, fitoplankton yang memperoleh cahaya yang cukup tapi tidak


memperoleh oksigen yang cukup tidak mampu membentuk klorofil.

d.

Nutrien, baik nutrien makro, maupun nutrien makro sangat


dibutuhkan, karena tanpa nutrien tersebut klorofil tidak dapat dibentuk

e.

Air, merupakan material yang sangat dibutuhkan pula, karena tanpa air
akan menyebabkan desintegrasi klorofil.

2.2

Definisi Klorofil- a
Klorofil a adalah suatu senyawa kompleks antara magnesium dengan porfirin

yang mengandung cincin siklopentanon (cincin V). Keempat atom nitrogennya


dihubungkan secara ikatan. Koordinasi dengan ion Mg2+ membentuk senyawa
kompleks planar yang mantap. Rantai sampingnya yang bersifat hidrofob adalah
suatu terpenoid alkohol dan fitol yang dihubungkan secara ikatan ester dengan gugus
propionat dari cincin IV. Klorofil a merupakan salah satu bentuk klorofil yang
terdapat pada semua tumbuhan autotrof. Rumus kimia klorofil a C55H72O5N4Mg
Klorofil a merupakan komponen penting yang didukung fitoplankton dan
tumbuhan air yang mana keduanya merupakan sumber makanan alami bagi ikan.
Klorofil-a adalah suatu pigmen aktif dalam sel tumbuhan yang mempunyai peran
penting terhadap berlangsungnya proses fotosintesis (Prezelin, 1981 dalam
Krismono, 2010).

Klorofil-a di suatu perairan dapat digunakan sebagai ukuran produktivitas


primer fitoplankton, karena pada umunya dapat dijumpai pada semua jenis
fitoplankton (Goldman and Horne, 1983). Henderson-Sellers and Markland (1987),
menyatakan bahwa konsentrasi klorofil-a untuk perairan tipe oligotrofik sebesar 0-4
mg/m, tipe mesotrofik sebesar 4-10 mg/m, dan tipe eutrofik sebesar 10-100 mg/m.
Konsentrasi klorofil-a di perairan dapat mewakili biomassa dari alga atau
fitoplankton. Konsentrasi klorofil-a dalam fitoplankton sekitar 0,5-2 % berat tubuh.
Konsentrasi klorofil-a dari tiap jenis fitoplankton berbeda-beda. Konsentrasi klorofila berbanding lurus dengan biomassa fitoplankton (Wetzel, 2001 dalam Herawati,
2008).
Pengukuran kandungan klorofil-a fitoplankton merupakan salah satu alat
pengukuran kesuburan suatu perairan yang dinyatakan dalam bentuk produktivitas
primer (Uno, 1982 & 1983 dalam A. Sediadi dan Edward, 2000). Klorofil-a
fitoplankton adalah suatu pigmen aktif dalam sel tumbuhan yang mempunyai peran
penting di dalam berlangsungnya proses fotosintesis di perairan (Prezelin, 1981
dalam A. Sediadi dan Edward, 2000).
2.3

Fungsi dan Kegunaan Klorofil-a


Kadar klorofil-a sering digunakan sebagai indikator produktivitas primer

fitoplankton di perairan, meskipun sesungguhnya klorofil-a hanya salah satu foto


pigmen dari sekian banyak foto pigmen yang penting dalam proses fotosintesis.
Jumlah klorofil-a setiap individu fitoplankton tergantung kepada jenis fitoplankton.
Oleh sebab itu, komposisi jenis fitoplankton sangat berpengaruh terhadap klorofil-a
di perairan (Effendi dan Susilo1980). Menurut Arinardi (1960) tinggi rendahnya
konsentrasi klorofil fitoplankton dapat digunakan sebagai petunjuk kelimpahan sel
fitoplankton dan juga potensi organik di perairan tertentu. Salah satu fungsi klorofil
adalah untuk menyerap energi elektromagnetik (cahaya) yang datang untuk
digunakan dalam proses fotosintesa (Gaol,2003).

2.4

Persebaran Klorofil a
Konsentrasi klorofil-a suatu perairan sangat tegantung pada ketersediaan

nutrien dan intensitas cahaya matahari. Bila nutrien dan intensitas cahaya matahari
cukup tersedia, maka konsentrasi klorofil-a akan tinggi dan sebaliknya. Perairan di
daerah tropis umumnya memiliki konsentrasi klorofil-a yang rendah karena
keterbatasan nutrien dan kuatnya stratifikasi kolom perairan akibat pemanasan
permukaan perairan yang terjadi hampir sepanjang tahun. Namun berdasarkan pola
persebaran klorofil-a secara musiman maupun secara spasial di beberapa bagian
perairan melalui berbagai proses dinamika massa air. Pencampuran vertikal massa air
pola pergerakan massa air yang membawa massa air kaya nutrien dari perairan
sekitarnya.
Dari semua proses dinamika massa air, upwelling atau turn over merupakan
faktor yang berperan terhadap tingginya konsentrasi klorofil-a di lapisan permukaan
perairan. Upwelling merupakan proses terangkatnya massa air dalam yang kaya akan
nutrien ke lapisan permukaan tercampur. Umumnya sebaran nutrien di dalam perairan
memperlihatkan tingginya konsentrasi nutrien pada lapisan termoklin. Bila proses
terjadi dengan baik dan didukung oleh dangkalnya lapisan termoklin, maka fenomena
upwelling atau turn over (pada danau) sangat membantu dalam menyediakan nutrien
dengan konsentrasi tinggi pada lapisan permukaan tercampur.
Umumnya sebaran konsentrasi klorofil-a tinggi di perairan pantai sebagai
akibat dari tingginya suplai nutrien yang berasal dari daratan melalui aliran air sungai
dan run off bahan organik secara langsung. Selain itu di beberapa tempat ditemukan
bahwa konsentrasi klorofil-a cukup tinggi walaupun jauh dari daratan. Kondisi
demikian terjadi karena proses sirkulasi massa air yang memungkinkan terangkutnya
sejumlah nutrien dari lapisan laut dalam ke lapisan permukaan seperti yang terjadi
pada daerah upwelling.

BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1

Tempat dan Waktu Pelaksanaan Praktikum


Praktikum ini dilaksanakan pada hari Senin, 19 November 2015 pukul 13.00-

14.30 WIB di Laboratorium Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan


dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran.
3.2

Alat dan Bahan

3.2.1

Alat

No.

Nama Alat

1.

Spektrofotometer

2.

Kertas saring dan corong

3.

Mortir dan Cawan

4.

Gelas ukur

5.

Tabung reaksi

6.

Pipet

7.

Spatula

8.

Centrifuge

9.

Labu Erlenmeyer

Fungsi
Untuk mengukur absorbansi klorofil yang
didapat.
Untuk menyaring sampel air yang akan
dipisahkan kandungan klorofilnya.
Untuk menghaluskan klorofil yang telah
tersaring.
Untuk mengukur volume aseton dan volume
klorofil yang didapat.
Sebagai wadah atau tempat menampung
klorofil yang akan diekstrak.
Untuk mengambil volume larutan (aseton)
dalam skala kecil.
Membantu memindahkan klorofil yang telah
tersaring ke dalam mortar.
Untuk mensentrifugasi sampel klorofil.
Untuk menampung sampel air yang telah
terpisah dari kandungan klorofil.

3.2.2

Bahan

No.

Nama Bahan

1.

Sampel air

2.

Aseton 90%

3.3

Fungsi
Sebagai bahan yang akan dianalisis kandungan
klorofilnya
Sebagai pelarut agar klorofil yang telah
tersaring tidak kering

Prosedur Kerja

1. Diambil sampel air.


2. Sampel air disaring dengan menggunakan corong dan kertas saring
3. Didapat ekstrak pada kertas saring lalu dipindahkan kedalam mortar dengan
spatula
4. Ekstrak digerus menggunakan mortir sampai halus
5. Ekstrak diencerkan dengan 10 ml larutan aseton 90%
6. Hasil gerusan disentrifugasi selama 15-20 menit dengan putaran 3000-4000 rpm
7. Supernatan dipindahkan ke dalam kuvet yang memiliki panjang 4.5 cm
8. Dispektofotometri dengan panjang gelombang 665 nm, 645 nm, dan 630 nm
9. Didapatkan nilai absorbansi untuk masing-masing panjang gelombang
10. Nilai konsentrasi klorofil a dapat diketahui
3.4

Analisis Data

3.4.1

Perhitungan Klorofil-a
Data atau nilai-nilai absorbansi yang telah diperoleh digunakan untuk

menghitung kadar atau konsentrasi klorofil a berdasarkan rumus yang tercantum


dalam buku Vollenweider (1974).
Klorofil a = Ca (v / V.L)
Ca diperoleh dari persamaan : 11,6 D665 1,31 D645 0,14 D630
Dimana :

= Volume aseton yang digunakan (ml)

= Volume aseton yang tersaring untuk diekstraksi (ml)

= Panjang kuvet (cm)

D665 = Optical density pada panjang gelombang 665 nm


D645 = Optical density pada panjang gelombang 645 nm
D630 = Optical density pada panjang gelombang 630 nm

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1

Hasil

4.1.1

Data Hasil Spektrofotometer Kelompok


Kelompok

: 20

Kelas

: Perikanan B

Laboratorium : Manajemen Sumberdaya Perairan


Tabel 1. Data Nilai Absorbansi dan Konsentrasi Klorofil a Kelompok
Kelompok

20

665 nm
645 nm
630 nm

Nilai Absorbance
(A)
0,55
0,165
0,164

Nilai Klorofil-a
(mg/m3)
0,025

Perhitungan nilai konsentrasi klorofil-a


Volume aseton yang digunakan (v)

= 0,01 L

Volume air yang tersaring (V)= 0,06 L


Panjang Kuvet (L)

= 4 cm

Dari data yang diperoleh, nilai konsentrasi klorofil-a berdasarkan rumus pada
buku Vollenweider (1974) adalah
Klorofil-a = Ca. (v/V.L)
Ca diperoleh dari persamaan : 11,6 D665 1,31 D645 0,14 D630
Ca

= (11.6 x 0,55) - (1.31 x 0,165) - (0.14 x 0,164)


= 6,14089

Klorofil-a

= 6,14089x

0,01
0,06 x 4 = 0,25587

4.1.2

Data Hasil Spektrofotometer Kelas


Berdasarkan pengukuran dengan spektrofotometer dengan tiga macam

panjang gelombang, maka didapatkanlah nilai absorbansi klorofil untuk masingmasing kelompok yakni sebagai berikut.
Tabel 2. Data Nilai Absorbansi dan Konsentrasi Klorofil a Kelas

Kelompok
1

665
645
630
665
645
630
665
645
630
665
645
630
665
645
630
665
645
630
665
645
630
665
645
630
665
645
630

Nilai Absorbance
(A)
1.522
0.438
0.395
0.96
0.275
0.249
0.674
0.209
0.13125
1.262
0.367
0.328
0.701
0.221
0.201
0.468
0.139
0.099
0.777
0.264
0.211
0.167
0.061
0.042
0.792
0.206
0.193

Nilai Klorofil-a
(mg/m3)
0.07

0.04

0.031

0.06

0.031

0.022

0.359

1.82

1.6375

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

4.2

Pembahasan

665
645
630
665
645
630
665
645
630
665
645
630
665
645
630
665
645
630
665
645
630
665
645
630
665
645
630
665
645
630
665
645
630

0.151
0.046
0.031
0.167
0.061
0.046
0.177
0.062
0.047
0.245
0.124
0.106
0.245
0.117
0.09
0.158
0.047
0.032
0.588
0.24
0.236
0.1007
0.288
0.258
0.465
0.132
0.119
0.792
0.206
0.193
0.55
0.165
0.164

0.0703

0.017

0.00212

0.024

0.3451

0.0146

0.026

0.04

0.018

1.6375

0.025

4.2.1

Hasil Spektrofotometer
Klorofila fitoplanton adalah suatu pigmen aktif dalam sel tumbuhan yang

mempunyai peranan penting di dalam proses berlangsungnya fotosintesis di perairan


(Perzelin.1981 dalam Tubalawony 2001), semua sel berfotosintesis mengandung satu
atau beberapa pigmen klorofi l (hijau coklat, merah atau lembayung), sementara itu
dalam mata rantai (food chain) makanan di perairan, fitoplankton mempunyai fungsi
sebagai produsen primer dimana organisme ini mampu mengubah bahan anorganik
menjadi bahan organik melalui proses fotosintesis, untuk itu, maka kandungan
klorofil-a digunakan sebagai standing stock fitoplankton yang dapat dijadikan sebagai
petunjuk produktivitas primer suatu perairan. Pengukuran kandungan klorofil a
merupakan salah satu alat pengukuran kesuburan suatu perairan yang dinyatakan
dalam bentuk produktivitas primer (Uno.1982 dalam Tubalawony, 2008).
Hasil penyaringan sampel air berupa ekstrak klorofil yang dilarutkan dalam
aseton akan disentrifugasi sehingga didapatkan hasil berupa supernatan dan endapan
berwarna hijau muda. Endapan klorofil ini berjumlah sedikit bila dibandingkan
dengan supernatan. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah fitoplankton yang terdapat
pada sampel berjumlah sedikit dilihat dari kepekatan dan banyaknya endapan.
Hasil spektrofotometri klorofil-a yang diperoleh untuk panjang gelombang
665 nm, 645 nm, dan 630 nm masing-masing adalah 0.55 A, 0.165 A, dan 0.164 A.
Berdasarkan pengukuran tersebut, dengan menggunakan rumus perhitungan yang ada
kandungan klorofil-a fitoplankton dapat diketahui yakni sebesar 0,025 mg/m3. Hasil
pengukuran tersebut dapat dikatakan bahwa perairan tersebut memiliki kesuburan
kurang baik dengan tingkat produktivitas primer rendah. Hal ini sesuai dengan teori
bahwa klorofil-a dipermukaan perairan dikelompokkan ke dalam tiga kategori yaitu
rendah, sedang dan tinggi dengan kandungan klorofil-a secara berturut-turut <0,07;
0,07-0,14 dan >0,14 mg/m3 (Hatta, 2002). Ditambahkan Legender (1983) bahwa
kandungan klorofil dengan kisaran 0,07 mg/m3 termasuk rendah, dimana klorofil
tersebut sangat dipengaruhi oleh cahaya, oksigen dan karbohidrat.

Berdasarkan tabel data kelas diketahui bahwa konsentrasi klorofil-a sangat


ragam dan termasuk dalam kategori rendah sampai tinggi. Nilai konsentrasi klorofil-a
tertinggi adalah sebesar 1,82 mg/m3, sedangkan konsentrasi terendah sebesar 0,00212
mg/m3. Hal ini dapat disebabkan karena perbedaan lokasi pengambilan titik sampling
dan perbedaan waktu. Pengukuran klorofil dilakukan dalam empat waktu yang
berbeda sehingga memungkinkan didapatkan hasil konsentrasi yang bervariasi.
Salah satu faktor penting yang mempengaruhi jumlah kandungan klorofil a
pada fitoplankton yakni nutrisi. Nutrisi di perairan merupakan makanan utama
fitoplankton yang menghasilkan klorofil-a, semakin tinggi kepadatan fitoplankton,
maka makin tinggi pula kandungan klorofi-a. Hal ini diduga karena pengaruh dari
kandungan zat hara (PO4 dan NO3). Kandungan nutrisi yang tinggi pada perairan akan
merangsang pertumbuhan fitoplankton. Volume fitoplankton yang tinggi akan
menghasilkan klorofi-a yang tinggi pula. Jika konsentrasi klorofil-a di perairan tinggi
maka dapat diasumsikan bahwa perairan tersebut memiliki produktivitas perairan
yang tinggi pula dari segi oksigen karena klorofil-a berfungsi dalam proses
fotosintesis yang pada akhirnya menghasilkan oksigen dan untuk mengurangi kadar
CO2 di perairan.
Selain itu, pengambilan sampel dilakukan pada saat cuaca sedang mendung
(musim hujan) sehingga menyebabkan kandungan atau konsentrasi klorofil-a yang
didapat rendah. Jika pengambilan sampel dilakukan pada musim panas atau pada saat
cuaca sedang cerah maka kelimpahan fitoplankton pada suatu perairan akan relatif
lebih besar begitupun sebaliknya. Intensitas penyinaran matahari akan mempengaruhi
jumlah klorofil-a pada fitoplankton, diperlukan intensitas cahaya dan lama
penyinaran tertentu untuk menghasilkan klorofil yang optimal.

BAB V

PENUTUP
5.1

Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa nilai

absorbansi panjang gelombang 665 nm, 645 nm, dan 630 nm masing-masing adalah
0.177 A, 0.062 A, dan 0.047 A. Nilai absorbansi tersebut digunakan untuk
pengukuran konsentrasi klorofil-a. Adapun nilai konsentrasi klorofil-a sebesar
0,00212 mg/m3. Konsentrasi klorofil-a termasuk dalam kategori rendah sampai tinggi
yakni berkisar antara 0,00212-1,82 mg/m3 yang menandakan produktivitas primer
perairan tersebut digolongkan ke dalam produktivitas rendah sampai tinggi. Tingkat
kesuburan dari perairan tersebut dapat dikatakan masih dalam keadaan baik
5.2

Saran
Lingkungan perairan sangat terpengaruh oleh kondisi yang ada diatasnya

(daratan), apabila dibagian atas tersebut telah tercemar oleh limbah atau bahan
pencemar lain maka akan mempengaruhi kondisi dan kesuburan lingkungan perairan.
Oleh sebab itu, kita sebagai makhluk hidup harus bisa menjaga kondisi lingkungan
sebaik

mungkin

agar

kondisi

alam

ini

tidak

keberlangsungan makhlup hidup di darat, air dan udara.

DAFTAR PUSTAKA

tambah

memburuk

untuk

Guntur. 1996. Ekologi Perairan. Institut Pertanian Malang


Hatta, M. 2002. Hubungan Antara Klorofi la dan Ikan Pelagis, IPB Bogor
Jorgensen, S. E. 1980. Lake Management. Pergamon Press. Oxford. 167 p. Wetzel, R.
G. 1983. Lymnology 2ndedition.Saunders College Publishing, San Fransisco.
Legender, L. 1983. Numerical Ecology. Elveries Scientifik Publishing Camphony
Prayitno, Edward, Marasabessy. 2003. Kandungan Total Padat Tersuspensi di
Perairan Teluk Baguala, Makalah Utama Seminar Nasional Perikanan
Indonesia
Sediady A, 1993. Kandungan Klorofi la Fitoplankton di Perairan PulauPulau
Lease, Maluku Tengah, Puslitbang Oseanologi LIPI Ambon
Tubalawony, S, 2001. Pengaruh FaktorFaktor Oseanografi Terhadap Produktivitas
Primer Perairan Indonesia
Tubalawony, S, 2008. Kajian Klorofi la dan Nutrien serta Interelasinya dengan
Dinamika Massa Air di Perairan Barat Sumatera dan Selatan Jawa-Sumbawa
Zahidah. 2015. Petunjuk Praktikum Produktivitas Perairan, FPIK Universitas
Padjadjaran

LAMPIRAN

Tabel 1. Data Nilai Absorbansi dan Konsentrasi Klorofil a Kelompok


Kelompok

20

665 nm
645 nm
630 nm

Nilai Absorbance
(A)
0,55
0,165
0,164

Nilai Klorofil-a
(mg/m3)
0,025

Tabel 2. Data Nilai Absorbansi dan Konsentrasi Klorofil a Kelas


Kelompok

665
645
630
665
645
630
665
645
630
665
645
630
665
645
630
665
645
630
665
645
630
665
645
630
665
645
630

Nilai Absorbance
(A)
1.522
0.438
0.395
0.96
0.275
0.249
0.674
0.209
0.13125
1.262
0.367
0.328
0.701
0.221
0.201
0.468
0.139
0.099
0.777
0.264
0.211
0.167
0.061
0.042
0.792
0.206
0.193

Nilai Klorofil-a
(mg/m3)
0.07

0.04

0.031

0.06

0.031

0.022

0.359

1.82

1.6375

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

665
645
630
665
645
630
665
645
630
665
645
630
665
645
630
665
645
630
665
645
630
665
645
630
665
645
630
665
645
630
665
645
630

0.151
0.046
0.031
0.167
0.061
0.046
0.177
0.062
0.047
0.245
0.124
0.106
0.245
0.117
0.09
0.158
0.047
0.032
0.588
0.24
0.236
0.1007
0.288
0.258
0.465
0.132
0.119
0.792
0.206
0.193
0.55
0.165
0.164

Lampiran Dokumentasi Kegiatan

0.0703

0.017

0.00212

0.024

0.3451

0.0146

0.026

0.04

0.018

1.6375

0.025

Proses penyaringan sampel

Proses penggerusan hasil


ekstraksi

Proses sentrifugasi klorofil

Hasil spektrofotometri 665 nm


yaitu 0,55 A

Pengambilan 10 ml aseton

Pemindahan ekstrak ke dalam


tabung sentrifugasi

Hasil spektrofotometri 630 nm


yaitu 0,164 A