Anda di halaman 1dari 80

MASALAH GIZI

DI INDONESIA

Masalah Gizi Merupakan Multi Factorial


Problem, Beberapa Faktor Yang Berpengaruh
Secara Langsung atau Tidak Langsung :
1. Perkembangan penduduk
Diperkirakan pada tahun 2020 penduduk
Indonesia berjumlah 254 juta. Diperkirakan 60%
penduduk bermukim di pedesaan, dengan
motivasi untuk menaikkan taraf sosial ekonomi,
keluarga atau pribadi. Pertambahan migrasi
penduduk ke kota bertambah banyak. Kepadatan
penduduk di wilayah tertentu akan melahirkan
permasalahan termasuk masalah gizi yang
berkitan dengan sanitasi dan kesehatan
lingkungan, infeksi dan kemiskinan.

2. Perkembangan Ekonomi
Indonesia termasuk negata Low Income Economies
dengan pendapatan rata-rata (GNP) US$ 570/tahun.
Tahun 2000 sejalan dengan pertumbuhan ekonomi
menjadi

US$

1000/tahun

yang

mengakibatkan

terjadinya pergeseran pola konsumsi ke arah yang lebih


beragam.

Proporsi

sumber

kalori

dari

karbohidrat

berkurang yang mengakibatkan meningkatnya proporsi


lemak, protein sehingga menimbulkan masalah gizi
yang salah.

3. Perkembangan IPTEK
Melalui rekayasa IPTEK, maka selera terjadap
produk terkadang tidak lagi bersifat lokal atau
tradisional tetapi juga internasional. Masyarakat
yang tinggal di kota dikenalkan dengan gaya fast
food, junk food, novel food dan makanan jadi lainnya
ditambahkan

bahan

makanan

sintesis

yang

berpengaruh terhadap masalah gizi dan kesehatan.

FAKTOR-FAKTOR YANG
BERPENGARUH TERHADAP
MASALAH GIZI INDONESIA

1. Faktor pertanian
2. Faktor ekonomi
3. Faktor budaya
4. Faktor fisiologi
5. Faktor infeksi

1. Faktor Pertanian
Para petani beralih dari tanaman pangan menjadi
tanaman yang lebih produktif, lahannya tidak subur,
struktur tanah dan iklim tidak mendukung.

2. Faktor Ekonomi
Berhubungan dengan pendapatan dan kemiskinan

3. Faktor Budaya
Berhubungan dengan kepercayaan, tabu, peraturan
dan sebagainya.

4. FAKTOR FISIOLOGI
Berhubungan dengan proses dalam tubuh
terutama golongan rawan (anak balita, ibu menyusui
dan ibu hamil)

5. Faktor Infeksi

Berhubungan dengan lingkungan, kebersihan dan


sanitasi. Infeksi akan berpengaruh terhadap
katabolisme dalam jaringan tubuh (cacingan,
parasit, penyakit kulit, dll)

aan
t
in
m
r
e
p
i
la
p
u
s
a
r
Hubungan anta
el
d
o
m
(
n
a
g
n
a
p
kebutuhan
dari
n
a
k
t
a
b
li
e
m
g
n
a
y
perencanaan dan
n)
a
h
u
t
u
b
e
k
n
a
d
,
n
a
suplai, perminta

Alternatif

ekonomi

dipertimbangkan
menyesuaikan

dapat
dengan

apa

permintaan

konsumen, apa yang dapat disuplai


dan

apa

fisiologi

yang

menjadi

kebutuhan

FAKTOR EKSTERNAL DAN INTERNAL


TERHADAP MASALAH GIZI DI INDONESIA
Faktor-faktor
EksternaL
Suplai Persediaan
Tingkat Produksi
Impor-Ekspor
Dinamika Industri
Kemampuan Pengolahan
Fasillitas Penyimpanan
Cara Pengawetan

Konsumsi
Pangan

Status
Gizi

Permintaan
Kebiasaan Makan
Status Sosial
Tingkat Pendidikan
Tingkat Pendapatan
Besar Keluarga
Faktor-faktor
Internal
Kebutuhan
Mutu Pangan
Umur
Jenis Kelamin
Ukuran Tubuh
Aktivitas
Keadaan Fisiologis
Keadaan Kesehatan

MASALAH GIZI UTAMA DI INDONESIA


1. Kurang Energi Protein (KEP)
2. Kurang Vitamin A (KVA)
3. Gangguan Akibat Kekurangan
Iodium (GAKI)
4. Anemia

1. KURANG ENERGI PROTEIN (KEP)


Kurang Energi Protein (KEP) sering disebut juga
sebagai Kurang Kalori dan Protein (KKP) atau Protein
Calori

Malnutrition

(PCM)

merupakan

masalah

gizi

makro.
Jenis KEP :
Marasmus, yaitu istilah yang digunakan bila anak
kekurangan

kalori

dan

protein.

Penderita

sangat

kurus, terjadi penyusutan badan secara ekstrim, BB/u


kurang dari 60% yang disebut Wasting
Kwashiorkor, yaitu kurang konsumsi protein yang
parah meskipun konsumsi energi cukup, kelihatan
sehat / tidak kurus tetapi timbul gejala apatis, nafsu

Klasifikasi KEP
/U)
B
(B
r
u
m
u
t
ru
u
en
m
n
t bada
a. KEP ringan bila bera
/atau berat
n
a
d
S
H
C
-N
O
H
W
n
ia
70-80% baku med
baku
%
0
-9
0
8
)
B
T
/
B
(B
n
a
d
ba
badan menurut tinggi
median WHO-NCHS;
n WHOia
ed
m
u
k
a
b
%
0
-7
0
6
U
b. KEP sedang bila BB/
n WHOia
ed
m
u
k
a
b
%
0
-8
0
7
B
NCHS dan/atau BB/T
NCHS;

aku median
b
%
0
6
<
U
/
B
B
a
il
b
k
c. KEP berat/Gizi buru
u median
k
a
b
%
0
7
<
B
T
/
B
B
u
a
WHO-NCHS dan/at
WHO-NCHS.

Penentuan KEP dilak


ukan berdasarkan
indikator antropometr
i yaitu berat badan
menurut umur (B
B/U), tinggi badan
menurut umur (TB/
U) dan berat badan
menurut tinggi ba
dan (BB/TB). Anak
dikatakan mengalami
KEP apabila berada
di bawah -2 z-score
(standar Internasiona
l
NCHS-WHO) dari setia
p indikator

KEP berat/Gizi buruk secara klinis terdapat dalam 3 (tiga)


tipe yaitu, Kwashiorkor, Marasmus, dan Marasmik-Kwashiorkor
Tanpa melihat Berat Badan bila disertai edema yang
bukan karena penyakit lain adalah KEP berat/Gizi buruk
tipe Kwashiorkor;
KEP nyata adalah istilah yang digunakan di lapangan, yang
meliputi KEP sedang dan KEP berat/Gizi buruk dan pada KMS
berada di bawah garis merah (tidak ada garis pemisah antara KEP
sedang dan KEP berat/Gizi buruk pada KMS);
KEP total adalah jumlah KEP ringan, KEP sedang, dan
KEP berat/Gizi buruk (BB/U <80% baku median WHONCHS).

PENYEBAB PENYAKIT KEP


Penyebab Langsun
g:
Makanan dan penya
kit dapat secara lan
gsung menyebabkan
gizi kurang. Timbuln
ya gizi kurang tidak
hanya dikarenakan
asupan makanan yan
g kurang, tetapi juga
penyakit. Anak yang
mendapat cukup ma
kanan tetapi sering
menderita sakit, pad
a
akhirnya dapat men
derita gizi kurang.
Demikian pula pada
anak yang tidak me
mperoleh cukup mak
an, maka daya taha
n
tubuhnya akan mele
mah dan akan muda
h terserang penyakit.

ngsung
Penyebab Tidak La
ng memadai.
ra
ku
g
n
a
y
a
rg
a
u
el
k
a.Ketahanan pangan
emadai.
m
g
n
ra
ku
k
a
n
a
n
a
h
su
b.Pola penga
emadai.
m
g
n
ra
ku
n
a
g
n
ku
g
n dan lin
c.Pelayanan kesehata
ikan,
id
nd
e
p
t
ka
g
n
ti
n
a
g
n
berkaitan de
t
u
b
e
rs
te
r
o
kt
fa
a
g
Keti
ngkat
ti
i
g
g
n
ti
n
ki
a
M
.
a
rg
mpilan kelua
a
tr
ke
n
a
d
an
u
h
ta
e
g
pen
ngkat
ti
ik
a
b
n
ki
a
m
,
n
ila
p
an dan ketram
u
h
ta
e
g
n
e
p
,
n
a
ik
id
d
pen
gasuhan maka
n
e
p
la
o
p
ik
a
b
n
ki
a
m
luarga,
ketahanan pangan ke
layanan
e
p
n
ka
at
fa
an
em
m
luarga yang
ke
ak
y
n
a
b
n
ki
a
m
akan
kesehatan.

PENYEBAB TIDAK LANGSUNG PENYAKIT KKP


Ekonomi
negara
rendah

Pend.Umu
m Kurang
Pekerjaan
Rendah
Daya Beli
Rendah

Anak
Terlalu
Banyak
Kwashiork
or,
Maramus,
Maramick
washiorko

Pengetah
uan Gizi
Kurang

Prod.Bhn
Pangan
Rendah
Pasca
Panen
Kurang
Baik
Persediaa
n Pangan
Kurang
Konsumsi
Kurang

KKP

Hygien
Rendah
Sistem
Pend.Panga
n&Distribus
i Tidak
Lancar
Penyakit
Infeksi dan
Infestasi
Cacing
Absorpsi
Tergangg
u
Utilitas
terganggu

Hasil penelitian Erledis


Penyebab terjadinya KE
P pada bSimanjuntak
alita adalah
sebagai berikut:
Penyakit Infeksi
Tingkat Pendapata
n Orang Tua yang rend
ah
Konsumsi Energi
yang kurang
Perolehan Imunis
asi yang kurang
Konsumsi Protein
yang kurang
Kunjungan Ibu ke
Posyandu, hal ini berka
itan
dengan pengetahuan ib
u

GEJALA KLINIS KEP BERAT/GIZI BURUK YANG


DAPAT DITEMUKAN:
1.Kwashiorkor
. Edema, umumnya seluruh tubuh, terutama pada punggung
kaki (dorsum pedis)
. Wajah membulat dan sembab
. Pandangan mata sayu
. Rambut tipis, kemerahan seperti warna rambut jagung,
mudah dicabut tanpa rasa sakit, rontok
. Perubahan status mental, apatis, dan rewel
. Pembesaran hati
. Otot mengecil (hipotrofi), lebih nyata bila diperiksa pada
posisi berdiri atau duduk
. Kelainan kulit berupa bercak merah muda yang meluas dan
berubah warna menjadi coklat kehitaman dan terkelupas

2.

Marasmus:

ngkus kulit
u
rb
te
g
n
la
tu
a
g
g
in
h
Tampak sangat kurus,
Wajah seperti orang tua
Cengeng, rewel
ngat sedikit
sa
s
ti
ku
b
su
ak
m
le
n
Kulit keriput, jaringa
mpak seperti
ta
t
ta
n
pa
h
ra
ae
d
da
sampai tidak ada (pa
baggy pants)
/
ar
g
g
n
lo
a
n
la
ce
ai
ak
mem
Perut cekung
Iga gambang

kronis
ya
n
m
u
m
(u
i
ks
fe
in
t
ki
Sering disertai: penya
berulang), diare

3. Marasmik-Kwashiorkor:
Gambaran klinik merupakan campuran dari beberapa gejala klnik
Kwashiorkor dan Marasmus, dengan BB/U <60% baku median WHONCHS disertai edema yang tidak mencolok.

PENANGGULANGAN PENYAKIT KEP


f Makro
Penanggulangan Tara
negara
Perbaikan ekonomi
ika
Peningkatan pendid n
ikan gizi
e
id
p
d
n
n
a
d
m
u
um
Penerangan serta
penyuluhan gizi
si bahan
k
u
d
ro
p
n
ta
ka
g
in
n
Pe
makanan
pasca
Peningkatan upaya
darkan
in
h
g
m
n
k
e
tu
n
u
n
e
n
pa
bahan
penghamburan
makanan
giene
Peningkatan hy

Penanggulangan Tara
f Mikro
Peningkatan pen
ghasilan
keluarga
Penambaha
n persediaan
bahan makanan kelu
arga
Pengaturan distr
ibusi
makanan sesuai
kebutuhan fisik dan za
t
gizi

Kegiatan penanggulangan KEP


meliputi:
Pemantapan UPGK dengan: meningkatkan upaya pemantauan
pertumbuhan dan perkembangan balita melalui kelompok dan
dasa wisma.

Penanganan khusus KEP berat secara lintas program


dan lintas sektoral.

Pengembangan sistem rujukan pelayanan gizi di Posyandu


dalam rehabilitasi gizi terutama di daerah miskin.
Peningkatan gerakan sadar pangan dan gizi melalui
KIE yang berkesinambungan.
Peningkatan

pemberian

ASI

secara

eksklusif.
Penanggulangan KEK (Kurang Energi Kronik) pada ibu hamil
didasarkan hasil penilaian dengan alat ukur LILA (Lingkar
Lengan Atas).

PERBEDAAN PENYAKIT KWASHIORKOR,


MARASMUS DAN MARASMICKWASHIORKOR
Kwashiorkor : pen
yakit KKP dengan
kekurangan protein
sebagai penyebab
dominan
Marasmus : penyakit
KKP dengan defisien
si
kalori / energi yang ek
strem
marasmickwashiorkor
: kombinasi defisiens
i
kalori dan protein pad
a berbagai variasi

DAMPAK KEP BAGI


BALITA
Dari berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa KEP
merupakan salah satu bentuk kurang gizi yang mempunyai
dampak menurunkan mutu fisik dan intelektual, serta
menurunkan

daya

tahan

tubuh

yang

berakibat

meningkatnya resiko kesakitan dan kematian terutama pada


kelompok rentan biologis.
Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa
KEP merupakan salah satu bentuk kurang gizi yang
mempunyai dampak menurunkan mutu fisik dan
intelektual serta menurunkan daya tahan tubuh
yang berakibat meningkatnya resiko kesakitan dan
kematian terutama pada kelompok rentan biologis.

Marasmus

Kwashiorko
r

Perempu
an 60%

Lakilaki
40%

Distribusi penderita kurang energi protein yang


dirawat inap di RSU Dr. Pirngadi Medan tahun
1999-2000 menurut jenis kelamin

2. KURANG VITAMIN A (KVA)


Vitamin
penglihatan,

dibutuhkan

pertumbuhan,

untuk

memelihara

reproduksi,

fungsi

perkembangan

tulang, kekebalan, mengurangi kesakitan dan kematian anak.


Tanda-tanda klinis dari kekurangan vitamin A adalah rabun
senja, bintik Bitot, dan xeropthalmia.
Kurang Vitamin A (KVA) merupakan penyakit sistemik
yang merusak sel dan organ tubuh dan menghasilkan
metaplasi keratinasi pada epitel, saluran nafas, saluran
kencing dan saluran cerna. Penyakit Kurang Vitamin A
(KVA) tersebar luas dan merupakan penyebab gangguan
gizi yang sangat penting.
Prevalensi KVA terdapat pada anak-anak dibawah usia lima
tahun. Sampai akhir tahun 1960-an KVA merupakan penyebab
utama kebutaan pada anak.

Faktor-faktor Penyebab
Kekurangan Vitamin A Pada Anakanak.
ung
Penyebab langs
onsumsi
k
m
la
a
d
h
a
d
n
re
k
a
- Vitamin A dan lem
pak tinggi
m
a
c
n
a
d
re
ia
d
n
ia
- Kejad
ndah
- Berat bayi lahir re
pada ibu
A
in
m
a
it
v
n
a
g
n
ra
- Keku
I tidak
S
A
n
a
ri
e
b
e
m
e
p
n
singkat da
tu
k
a
w
m
la
a
d
i
k
te
- M e ne
eksklusif

ak benar
d
ti
n
a
k
a
m
n
a
ri
e
b
n cara pem
a
d
p
u
k
u
c
k
a
d
ti
I
S
- MP A

Penyebab tidak langsung


- Infrastruktur kesehatan yang tidak memadai
- Produksi makanan sumber vitamin A rendah
- Tidak ada tanaman pekarangan
- Pemasaran/distribusi/penyimpanan makanan sumber vit. A buruk
- Pola pengasuhan anak tidak benar
- Distribusi makanan, kesehatan dalam keluarga salah
- Pendidikan dan kesadaran ibu
Akar masalah
- Kemiskinan
- Sedikit atau tidak ada tanah yang produktif
- Pengaruh musim pada penyakit dan ketersediaan
makanan
- Pengaruh lingkungan lainnya
- Pengaruh social budaya lainnya
- Status wanita

Prevalensi Kurang Vitamin


A Prevalensi dari defisiensi klinis diperkirakan dari rabun senja, bintik
Bitot, dan xeropthalmia. Prevalensi klinis KVA di Asia cukup rendah,
berkisar antara 0.5% di Srilangka sampai 4.6% di Bangladesh pada anakanak (Allen and Gillespie, 2001).
Prevalensi lebih dari 1% dianggap menjadi masalah kesehatan
masyarakat. Di Indonesia prevalensi kekurangan vitamin A pada tahun
1970 adalah berkisar antara 2-7%, turun menjadi 0.33% pada tahun
1992, dan dinyatakan bebas masalah xeropthalmia, namun tetap perlu
waspada karena 50% balita masih menunjukkan kadar vitamin dalam
serum <20mcg/dl (Direktorat Gizi Mayarakat, 2003).

Hasil Penelitian Yang Berhubungan


Dengan Kekurangan Vitamin A Dan
Hubungannya Dengan Hasil Dari
Suplementasi Yang Diberikan Adalah:

n).
a
ti
a
m
e
k
a
k
g
n
(a
s
ta
li
1. Morta
min
a
it
v
si
ta
n
e
m
le
p
u
S

dinya
ja
r
te
n
a
g
n
a
b
m
e
rk
e
p
mencegah
ya
in
s
n
e
u
k
e
s
n
o
k
n
a
d
Xeropthalmia
an
ti
a
m
e
k
h
a
g
ce
n
e
m
juga untuk
n.
ta
n
e
r
g
n
a
y
u
id
iv
d
in
a
d
pa

kesakitan).
a
k
g
n
(a
s
a
it
id
rb
2. Mo
menunjukkan
n
a
ti
li
e
n
e
p
l
Hasil-hasi
A pada
in
m
ta
vi
ta
n
si
e
m
pengaruh suple
an g
y
i
s
la
u
p
o
p
a
d
a
p
morbiditas
klinis.
b
su
ra
a
c
se
A
in
m
kekurangan vita
menunjukkan
s
si
li
a
n
a
ta
e
m
Hasil
dosis tinggi
A
in
m
a
it
v
si
ta
suplemen
an diare dan
it
k
sa
ke
n
a
ka
g
i
g
menguran
anak umur
n
a
d
i
ay
b
k
u
tu
%
n
campak 23
Diare yang
n
u
h
ta
a
5
p
i
m
6 bulan sa
dengan
i
g
n
ra
u
ik
d
t
a
p
da
parah
s rendah
si
o
d
A
a
in
it
v
m
suplementasi
i buruk
pada anak-anak giz

3. Kekebalan tu u
b h.
Bukti-bukti
menunjukkan
suplementasi
vitamin
A
pada anak-anak
dengan nilai
serum vitamin
A yang
rendah dapat m n
e ingkatkan
kekebalan tubuh,
termasuk
respon terhadap va
ksinasi.

PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN


KURANG VITAMIN A (KVA)
Menurut Soekirman (2
000),
1. Pendekatan melalu
i makanan atau
food
based intervention dan

2. tidak melalui makan


an atau non food base
d
intervention.

Intervensi KVA berbasis makanan


Penanggulangan vitamin A berbasis makanan adalah upaya
peningkatan konsumsi vitamin A dari makanan yang kaya akan
vitamin A. Sebaliknya bila bahan makanan yang aslinya tidak
mengandung vitamin A bisa diperkaya dengan vitamin A melalui
teknologi fortifikasi. Jenis pangan yang mengandung vitamin A
antara lain sayuran berwarna hijau, kuning atau merah, buah
berwarna kuning atau merah, serta sumber makanan hewani

Intervensi KVA berbasis bukan makanan


program

suplementasi

yaitu

pemberian

tambahan

(suplemen) vitamin A kepada anak atau ibu dalam bentuk pil atau
kapsul. Program ini merupakan program utama dan berhasil
menanggulangi KVA di Indonesia dan banyak negara lain.

Tanda-tanda Khas Pada Mata Karena Kekurangan Vitamin A


rabun senja (XN)

xerosis
konjungtiva
(X1A).
bercak Bitot
(X1B)
xerosis kornea
(X2)

keratomalasia (X3A)
kornea melunak
seperti bubur
ulserasi
kornea
(X3B)
xeropthalmia scars (XS)
kornea mata tampak menjadi
putih atau bola mata tampak
mengempis.

Klasifikasi xeropthalmia berdasarkan


keparahan kelainan mata :
XN : Buta senja (night blindeness)
XIA : Xerosis konjugtiva
XIB : Bercak bitot (bitot spot)
X2 : Xerosis kornea
X3A : Ulkus kornea atau keratomalasia
(<1/3>)
X3B : Ulkus kornea atau keratomalasia (=
atau > 1/3 permukaan kornea)
XS : Bekas luka kornea
XF : Pengerasan dasar bola mata (fundus

Yang lebih banyak dijumpai adalah bercak bitot


pada anak balita laki-laki, pengeringan pada
kornea pada anak perempuan

XN ,

XI A ,
dapat

XIB,

X2

sembuh
dengan

biasanya
ormal
n
i
l
a
b
kem
baik.
g
n
a
y
an
pengobat
X2
adium
t
s
Pada
eadaan
k
an
merupak
g harus
n
a
y
t
a
r
ru
gawat da
karena
i
t
a
b
o
di
segera
ri bisa
a
h
a
p
a
r
be
dalam be
menjadi
berubah

X3A dan X3B


bila diobati
dapat sembu
h tetapi den
gan
meninggalka
n
cacat
yang
bahkan dap
at menyeba
bkan
kebutaan
total
bila
lesi
(kelainan) pa
da kornea cu
kup
luas
sehingga
menutupi
seluruh kor
nea (optic
zone
cornea).

Buta Senja = Rabut Senja = Rabun Ayam =


XN
Tanda-tanda:

a. Buta senja terjadi akibat gangguan pada sel batang retina


b Pada keadaan ringan, sel batang retina sulit beradaptasi di ruang
yang remang-remang setelah lama berada di cahaya terang
c. Penglihatan menurun pada senja hari, dimana penderita tak dapat
melihat di lingkungan yang kurang cahaya, sehingga disebut buta
senja.

Cara mendeteksi buta senja pada anak-anak:


a.

Bila

anak

sudah

dapat

berjalan,

anak

tersebut

akan

membentur/menabrak benda didepannya, karena tidak dapat melihat


b.

Bila anak belum dapat berjalan, agak sulit untuk mengatakan

anak tersebut buta senja. Dalam keadaan ini biasanya anak diam
memojok bila di dudukkan di tempat kurang cahaya karena tidak
dapat melihat benda atau makanan di depannya

Xerosis Konjungtiva = XIA

Tanda-tanda:
a.

Selaput

lendir

bola

mata

tampak

kurang

mengkilat atau terlihat sedikit kering, berkeriput,


dan berpigmentasi dengan permukaan kasar dan
kusam
b. Orang tua sering mengeluh mata anak tampak
kering atau berubah warna kecoklatan

Xerosis Konjungtiva dan Bercak Bitot =


X1B
Tanda-tanda:

a. Tanda-tanda xerosis konjunctiva


(X1A) ditambah bercak bitot yaitu
bercak putih seperti busa sabun
atau keju terutama di daerah celah
mata sisi luar.
b.

Bercak

ini

merupakan

penumpukan keratin dan sel epitel


yang merupakan tanda khas pada
penderita

xeroftalmia,

sehingga

dipakai sebagai kriteria penentuan


prevalensi kurang vitamin A dalam
masyarakat

n Berat:
Dalam Keadaa
an meliputi
g
n
ri
e
k
e
k
k
a
p
a. Tam
onjunctiva
k
n
a
a
k
u
m
r
e
p
seluruh
k menebal,
a
p
m
ta
ti
a
g
v
n
b Konju
dan berkerut
a
p
t
li
ta
p
li
r
be
h mata
lu
e
g
n
e
m
tu
a
c. Orang
k bersisik
a
m
p
ta
a
y
n
k
ana

Xerosis Kornea = X2

Tanda tanda:
a.

Kekeringan pada konjungtiva berlanjut sampai

kornea
b. Kornea tampak suram dan kering dengan permukaan
tampak kasar
c. Keadaan umum anak biasanya buruk (gizi buruk dan
menderita, penyakit infeksi dan sistemik lain)

Keratomalasia dan Ulcus Kornea = X3A,


X3B
Tanda-tanda:
a. Kornea melunak seperti
bubur dan dapat terjadi ulkus
b. Tahap X3A: bila kelainan
mengenai kurang dari 1/3
permukaan kornea
c .Tanap X3B: bila kelainan
mengenai semua atau lebih
dari 1/3 permukaan kornea
d. Keadaan umum penderita
sangat buruk
e. Pada tahap ini dapat terjadi
perforasi kornea (kornea

Keratomalasia
kornea

dapat

dan

berakhir

tukak
dengan

peforasi dan prola


ps jaringan isi
bola mata dan me
mbentuk cacat
tetap yang dapat
menyebabkan
kebutaan. Keadaan
umum yang
cepat
memburuk
dapat
mengakibatkan
keratomalasia
dan ulkus kornea
tanpa harus

Xeroftalmia Scar (XS) = sikatriks


(jaringan parut) kornea
Kornea

mata

tampak

mata
la
o
b
u
ta
a
h
ti
u
p
menjadi
luka
a
il
B
.
il
c
e
g
n
e
m
tampak
sembuh
h
la
te
a
e
rn
o
k
pa d a
as
k
e
b
n
a
lk
a
g
g
in
n
me
akan
ga n
in
r
ja
u
ta
a
ik
tr
a
ik
berupa s
buta
i
d
ja
n
e
m
ta
ri
e
d
n
e
parut. P
d ap at
k
a
d
ti
h
a
d
u
s
yang
n
a
g
n
e
d
n
u
p
u
la
a
w
n
disembuhka
.
a
e
rn
o
k
k
o
k
g
n
a
c
i
s
opera

Xeroftalmia Fundus
(XF)

Dengan Ophalmoscope pada fundus


tampak gambar seperti cendol

Pencegahan Xeroft
almia
Prinsip dasar untuk m
encegah xeroftalmia
adalah
memenuhi kebutuha
n vitamin A yang
cukup
untuk tubuh serta
mencegah penyakit
infeksi
terutama diare dan
campak. Selain itu
perlu
memperhatikan keseh
atan secara umum.

XEROPHTALMIA
Xeroftalmia adalah istilah yang menerangkan
gangguan

kekurangan

vitamin

pada

mata,

termasuk terjadinya kelainan anatomi bola mata


dan gangguan fungsi sel retina yang berakibat
kebutaan. Kata Xeroftalmia (bahasa latin) berarti
mata kering, karena terjadi kekeringan pada
selaput selaput lendir (konjungtiva) dan selaput
bening (kornea) mata.

Beberapa

langkah

unt uk

mencegah

Xerophtalmia :

i
in
d
ra
a
c
e
s
n
a
in
la
e
k
Mengenal tanda-tanda
kan
n
ra
a
is
d
k
a
n
a
n
a
d
a yi
Bagi yang memiliki b
n ggi
ti
is
s
o
d
A
in
m
a
it
si v
untuk mengkonsum
pada
a
y
n
m
u
m
u
n
a
tk
a
p
a
g did
secara periodik, yan
Posyandu terdekat.
u
ta
a
b
a
b
e
y
n
e
p
it
k
penya
Segera mengobati
penyerta

k
ru
u
b
i
iz
g
ti
a
b
o
g
n
e
m
izi,
Meningkatkan status g
if
s
lu
k
s
k
E
I
S
A
n
a
k
ri
e
b
Mem
)
ri
a
h
0
3
(<
A
in
m
a
gkonsumsi vit

3. GANGGUAN AKIBAT KURANG IODIUM


(GAKI)
Iodium adalah jenis elemen mineral mikro kedua sesudah Besi yang
dianggap penting bagi kesehatan manusia walaupun sesungguhnya
jumlah kebutuhan tidak sebanyak zat-zat gizi lainnya. Djokomoeldjanto
(1993) mengatakan bahwa manusia tidak dapat membuat unsur/elemen
iodium dalam tubuhnya seperti membuat protein atau gula, tetapi harus
mendapatkannya dari luar tubuh (secara alamiah) melalui serapan
iodium yang terkandung dalam makanan serta minuman.
Pentingnya iodium dalam tubuh manusia untuk metabolisme sudah
dikenal sejak abad lalu walaupun pengaruh positif seaweed atau
burntsponges (kaya iodium) terhadap penyakit gondok sudah diketahui
sejak

zaman

purba

di

seluruh

dunia

(Cavalieri,

1980).

Gondok

merupakan suatu gejala pembesaran pada kelenjar tiroid yang terjadi


akibat respons terhadap defisiensi/kekurangan iodium.

GAKI merupakan suatu masalah gizi yang disebabkan


karena kekurangan Iodium, akibat kekurangan Iodium ini dapat
menimbulkan penyakit slah satu yang sering kita kenal dan
ditemui dimasyarakat adalah Gondok.
Gejala yang sering tampak sesuai dengan dampak yang
ditimbulkan, seperti
Reterdasi mental
Gangguan pendengaran
Gangguan bicara
Hipertiroid (Pembesaran Kelenjar Tiroid/Gondok)
Kretinisme biasanya pada anak-anak

Klasifikasi
1.Grade 0 : Normal
Dengan inspeksi tidak terlihat, baik datar maupun tengadah
maksimal, dan dengan palpasi tidak teraba.
2.Grade IA
Kelenjar Gondok tidak terlihat, baik datar maupun penderita
tengadah maksimal, dan palpasi teraba lebih besar dari ruas
terakhir ibu jari penderita.
3.Grade IB
Kelenjar Gondok dengan inspeksi datar tidak terlihat, tetapi terlihat
dengan tengadah maksimal dan dengan palpasi teraba lebih besar
dari Grade IA.
4.Grade II
Kelenjar Gondok dengan inspeksi terlihat dalam posisi datar dan
dengan palpasi teraba lebih besar dari Grade IB.
5.Grade III
Kelenjar Gondok cukup besar, dapat terlihat pada jarak 6 meter
atau lebih.

Macam-macam Gangguan
Akibat
GAKI
1.Pada Fetus
-Abortus
-Steel Birth
-Kelainan Kematian
Perinatal
-Kretin Neuroligi
-Kretin Myxedematosa
-Defek Psikomotor
2.Pada Neonatal
-Hipotiroid
-Gondok Neonatal

3.Pada Anak dan Remaja


-Juvenile Hipothyroidesm
-Gondok Gangguan Fungsi
Mental
-Gangguan Perkembangan
Fisik
-Kretin Myxedematosa dan
Neurologi
4.Pada Dewasa
-Gondok dan segala
Komplikasinya
-Hipotiroid
-Gangguan Fungsi Mental

Kebutuhan Iodium
Dewasa 150 mikrogram/hari
Ibu hamil 175
mikrogram/hari
Ibu menyusui 200
mikrogram/hari

4. ANEMIA (<< BESI/FE)


Anemia adalah keadaan dimana jumlah sel
darah merah atau jumlah hemoglobin (protein
pembawa oksigen) dalam sel darah merah berada
dibawah normal
Sel darah merah mengandung hemoglobin,
yang memungkinkan mereka mengangkut oksigen
dari paru-paru dan mengantarkannya ke seluruh
bagian tubuh.
Anemia menyebabkan berkurangnya jumlah
sel darah merah atau jumlah hemoglobin dalam sel
darah

merah,

sehingga

darah

tidak

dapat

mengangkut oksigen dalam jumlah sesuai yang


diperlukan tubuh.

1. Perdarahan hebat
a. Akut (mendadak)
-. Kecelakaan
-. Pembedahan
-. Persalinan
-. Pecah pembuluh darah
b. Kronik (menahun)
-. Perdarahan hidung
-. Wasir (hemoroid)
-. Ulkus peptikum
-. Kanker atau polip di
saluran pencernaan
-. Tumor ginjal atau
kandung kemih
-. Perdarahan menstruasi
yang sangat banyak

Penyebab
A2n. e
ia
Bem
rku
ran

angnya
pembentukan sel
darah
merah
- Kekurangan zat
besi
- Kekurangan vita
min B12
- Kekurangan asa
m folat
- Kekurangan vita
min C
- Penyakit kronik

rah
l
e
a
s
d
n
ra
cu
n
a
h
g
n
e
p
3. Meningkatnya
merah
- Pembesaran limpa
h merah
ra
a
d
l
e
s
a
d
a
p
ik
n
a
k
e
- Ker usakan m
h merah
ra
a
d
el
s
p
a
d
a
rh
n
u
te
- Reaksi autoim
al
m
is
s
k
ro
l
a
a
p
rn
tu
k
o
n
- Hemoglobinuria
- Sferositosis herediter
er
- Elliptositosis heredit
- Kekurangan G6PD
- Penyakit sel sabit
C
- Penyakit hemoglobin
S-C
- Penyakit hemoglobin
E
- Penyakit hemoglobin
- Thalasemia

Anemia (<<
Besi/FE)

Anemia Gizi Besi dapat terjadi karena :


a.Kandungan zat besi dari makanan yang dikonsumsi
tidak mencukupi kebutuhan.
. Makanan yang kaya akan kandungan zat besi
adalah : makanan yang berasal dari hewani
(seperti ikan, daging, hati, ayam).
. Makanan

nabati

(dari

tumbuh-tumbuhan)

misalnya sayuran hijau tua, yang walaupun kaya


akan zat besi, namun hanya sedikit yang bisa
diserap dengan baik oleh usus.

b. Meningkatnya kebutuhan tubuh akan zat besi.


Pada masa pertumbuhan seperti anak-anak
dan remaja, kebutuhan tubuh akan zat besi
meningkat tajam.
Pada

masa

hamil

kebutuhan

zat

besi

meningkat karena zat besi diperlukan untuk


pertumbuhan janin serta untuk kebutuhan ibu
sendiri.
Pada penderita penyakit menahun seperti TBC.

c.Meningkatnya pengeluaran zat besi dari tubuh.


Perdarahan atau kehilangan darah dapat
menyebabkan anemia. Hal ini terjadi pada
penderita :
Kecacingan (terutama cacing tambang). Infeksi
cacing tambang menyebabkan perdarahan pada
dinding usus, meskipun sedikit tetapi terjadi
terus menerus yang mengakibatkan hilangnya
darah atau zat besi.
Malaria pada penderita Anemia Gizi Besi, dapat
memperberat keadaan anemianya.
Kehilangan darah pada waktu haid berarti
mengeluarkan zat besi yang ada dalam darah.

Akibat Anemia
1. Anak-anak :
Menurunkan kemampuan dan konsentrasi belajar.
Menghambat pertumbuhan fisik dan perkembangan
kecerdasan otak.
Meningkatkan risiko menderita penyakit infeksi karena daya
tahan tubuh menurun.
2. Wanita :
Anemia akan menurunkan daya tahan tubuh sehingga
mudah sakit.
Menurunkan produktivitas kerja.
Menurunkan kebugaran.

3.

Remaja putri :

Menurunkan kemampuan dan konsentrasi belajar.


Mengganggu pertumbuhan sehingga tinggi badan tidak
mencapai optimal.
Menurunkan kemampuan fisik olahragawati.
Mengakibatkan muka pucat.

4. Ibu hamil :
Menimbulkan perdarahan sebelum atau saat persalinan.
Meningkatkan risiko melahirkan Bayi dengan Berat Lahir
Rendah atau BBLR (<2,5 kg).
Pada anemia berat, bahkan dapat menyebabkan kematian
ibu dan/atau bayinya.

Cara Mencegah dan Mengobati


Anemia
1. Meningkatkan Konsumsi Makanan Bergizi.
Makan makanan yang banyak mengandung zat besi dari bahan
makanan hewani (daging, ikan, ayam, hati, telur) dan bahan
makanan

nabati

(sayuran

berwarna

hijau

tua,

kacang-

yang

banyak

kacangan, tempe).
Makan

sayur-sayuran

dan

buah-buahan

mengandung vitamin C (daun katuk, daun singkong, bayam,


jambu, tomat, jeruk dan nanas) sangat bermanfaat untuk
meningkatkan penyerapan zat besi dalam usus.
2. Menambah pemasukan zat besi kedalam tubuh dengan minum
Tablet Tambah Darah (TTD).
3. Mengobati penyakit yang menyebabkan atau memperberat anemia
seperti: kecacingan, malaria dan penyakit TBC.

STATUS GIZI
Merupakan
refleksi
status
gizi
masyarakat
dimana
merupakan
indikator sosial untuk menentukan
keberhasilan
pembangunan
suatu
negara
Terdiri
dari :
Status gizi golongan rawan dan;

Golongan sosial ekonomi yang


jumlah konsumsinya tidak seimbang

STATUS GIZI
.

keadaan
konsumsi

tubuh
(food

sebagai

intake)

akibat

penyerapan

dan penggunaan pangan


.

susunan makanan yang memenuhi


kebutuhan zat-zat gizi untuk tubuh
akan menghasilkan status gizi yang
baik

keadaan
kelompok

kesehatan
ditentukan

individu
oleh

atau

derajat

MELALUI
PENGUKURAN
1.Secara langsung
a. Antropometri
b. Secara Klinis
c. Secara Biokimia
2. Secara Tak
Langsung

1. SECARA
LANGSUNG
a.Antropometri
Indikator : TB/u, BB/u, BB/TB, lemak
dibawah kulit, lingkaran lemak atas
(LLA) (lemak, otot, tulang), Body
Mass Index (BMI) = BB/TB2 = kg/m2
normal (18,7 23,8).
b. Secara Klinis
Uji fisiologis melalui pengukuran fisik,
mata, rambut, kulit, dan lain-lain.
c. Secara Biokimia
Uji pada darah, air seni, dan lain-lain.

2. SECARA TAK
LANGSUNG
Merupakan
bahan
rujukan
NCHS
(National Center for Health Status) yang
dipublikasikan oleh WHO dan telah
disepakati oleh lokakrya antropometri
(1991) maka, status gizi diidentifikasikan
1.Gizi
Normal
(>> 90
sebagai
berikut
: % dari nilai Me
untuk BB/u dan << 90% dari Me
untuk TB/u)
2.
Gizi
Lebih
(Obesitas)

overnutrition, merupakan keadaan


yang timbul karena konsumsi pangan
berlebih dalam hangka waktu tertentu
yang melebihi kebutuhan tubuh

3.

Kekurangan

Gizi

Gizi

Buruk

undernutrition = malnutrition, dimana


<< 75 % dari nilai Me untuk BB/u
disebabkan

karena

mengkonsumsi

tidak

makanan

cukup
yang

memproduksi energi dan zat-zat gizi


Jika
kondisi
inijangka
berkepanjangan,
lainnya
dalam
waktu
essensial
tertentumaka

status

gizi

termasuk

gizi

buruk dimana << 85 % dari nilai Me


untuk TB/u (stunting) dan << 80 %
dari nilai Me untuk BB/TB (wasting)

PANGAN
Konsum
si
Keadaan konsum
si pangan dapat
diketahui
dengan cara sur
vei konsumsi, d
Pangan
iantaranya
mengukur
ur

konsumsi

secara

kuantitatif

dengan menggu
nakan metode
inventaris
(inventory
method),
pendaftaran,
penimbangan (
Weighting Met
hod), dan

1. METODE
INVENTARIS
Ki = Swi + Ppi (Pp - SKi )
Ki = jumlah pangan yang dikonsumsi
I = 1, 2, 3 kode jenis pangan
Sw
= Stok awal, jumlah dan jenis pangan
yang ada di
dalam rumah tangga pada
hari pertama survei
Pp
= jumlah dan jenis pangan yang
diperoleh (beli,
diberi dari kebun, makan
diluar) sejak hari ke-2
sampai dengan 1
hari sebelum survei selesai
Sk = jumlah dan jenis pangan yang ada di

2. METODE
PENDAFTARAN
Dengan Tidak ditimbang / diukur dan
wawancara langsung.
Data merupakan hasil estimasi kurang
teliti

menggunakan

contoh

konversi kg gram

ukuran

untuk

3. METODE
PENIMBANGAN
Mengukur

langsung

berat

setiap

jenis

bahan pangan yang dikonsumsi.

K i = Ski - T
K

berat

bahan

pangan

yang

dikonsumsi
Sk

berat

dikonsumsi

bahan

pangan

sebelum

4. METODE RECALL (24 HOURS


RECALL AND FOOD FREQUENCY
RECALL)
Metode

ini

dilakukan

dengan

mencatat jenis dan jumlah bahan


makanan
masa

lalu

yang
(2-3

dikonsunsi

pada

hari

lalu),

yang

misalnya dengan makan pagi, siang,


malam dan makanan jajanan.

A
G
N
PA
N
Pangan bagi makhluk hidup merupakan
kebutuhan

pokok

yang

harus

dipenuhi

untuk dapat mempertahankan hidup serta


melaksanakan kewajiban-kewajiban hidup.
Berbeda dengan kebutuhan hidup
lainnya,

kebutuhan

pangan

hanya

diperlukan secukupnya.
Baik kurang atau lebih dari kecukupan
yang diperlukan terutama jika dialami
oleh

jangka

waktu

lama

akan

Kecukupan pangan
Kualitatif
:
dapat
diukur secara
. Nilai Sosial beragam jenis bahan pangan
. Nilai citarasa
Survei konsumsi pangan kualitatif informasi berharga :
jenis

pangan

yang

dikonsumsi,

frekuensi

konsumsi

masing-masing jenis pangan, asal, cara penyimpanan,


pemasakan.

Kuantitatif

Kandungan zat gizi

Asumsi : Apabila kecukupan akan energi & protein


telah dipenuhi maka kecukupan zat gizi
umumnya telah dipenuhi cukup pangan

lainnya

AKG (Angka Kecukupan Gizi) = RDA


(Recommended Dietary Allowence),
adalah

suatu

dianggap

taraf
dapat

intake

yang

memenuhi

kecukupan gizi semua orang yang


sehat
berbagai
AKE (Angkamenurut
Kecukupan Energi)
kelompoknya
.
Banyaknya
intake
makanan
seseorang

yang

seimbang

dari

dengan

expenditure sesuai dengan susunan dan


ukuran tubuh, tingkat kegiatan jasmani
dalam

keadaan

menjalankan
secara

sehat

dan

tugas-tugas

ekivalen

dalam

mampu

kehidupan

jangka

waktu

yang lama.
.

Bagi

anak-anak,

wanita

hamil

dan

AKP (Angka Kecukupan Protein)


Intake protein makanan paling
<<

yang

seimbang

dengan

nitrogen

yang

hilangnya
dikeluarkan

tubuh

keseimbangan
tingkat

kegiatan

dilakukan

energi
jasmani

dalam
pada
yang