Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Obat tradisional di Indonesia sangat besar peranannya dalam
pelayanan kesehatan masyarakat di Indonesia dan sangat potensial untuk
dikembangakan. Karena memang Negara kita kaya akan tanaman obatobatannya. Namun, saying kekayaan alam tersebut tampaknya masih belum
dimanfaatkan secara optimal untuk kesehatan. Padahal saat ini biaya
pengobatan modern cukup mahal ditambah lagi dengan krisis ekonomi yang
melanda bangsa ini belum sepenuhnya berakhir. Hal tersebut dikhawatirkan
dapat membuat kemampuan masyarakat untuk memperoleh pelayanan
kesehatan yang optimal semakin menurun.
Indonesia diketahui memilki keragaman hayati terbesar kedua di dunia
setelah brasil. Dari berbagai penelitian menyebutkan bahwa dari sekitar
30.000 spesies tumbuhan di Indonesia sebanyak 6.000 jenis berkhasiat obat.
Sumber lain menyebutkan bahwa tumbuhan

di Indonsia diperkirakan

mencapai lebih dari 7.000 jenis, sekitar 1.000 jenis digunmakan untuk
mencegah dan mengobati penyakit. Indonesia termasuk 25 negara yang telah
memilki dan menerapkan kebijakan obat bahan alam. Dalam upaya
memberikan pelayanan kesehatansecara merata untuk mencapai derajat
kesehatan yang optimal bagi masyarakat Indonesia, tidak cukup hanya
dilakukan oleh Departemen Kesehatan dan profesi kesehatan saja, melainkan
perlu melibatkan semua potensi sumber daya termasuk obat tradisional.
Hal ini sesuai dengan Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) yang
mengamanatkan bahwa dalam rangka meningkatkan pelayanan kesehatan
secara lebih luas dan merata sekaligus memelihara dan mengembangkan
warisan budaya bangsa, perlu terus dilakukan penggalian, penelitian,

pengujian, dan pengembangan obat-obatan, serta pengobatan tradisional.


Disamping itu terus didorong langkah-langkah mengembangkan budi daya
tanaman obat tradisional yang secara medis dapat dipertanggungjawabkan.
Penggunaan obat tradisional perlu terus dikembangkan di Indonesia karena
potensi bahan alam yang besar. (Hargono Djoko, 1995).
Obat tradisional merupakan warisan budaya bangsa yang perlu terus
dilestarikan dan dikembangkan untuk menunjang pembangunan kesehatan
sekaligus untuk meningkatkan perekonomian rakyat. Untuk dapat ikut
meningkatkan pelayanan dan meningkatkan pemerataan obat-obat tradisional
maka perlu dukungan dari pemerintah dan masyarakat itu sendiri. Selama ini
industri jamu ataupun obat-obat tradisional bertahan tanpa dukungan yang
memadai dari pemerintah maupun industri farmasi. Sementara itu tantangan
dari dalam negeri sendiri adalah sikap dari dunia medis yang belum
sepenuhnya menerima jamu dan obat tradisional. Merebaknya jamu palsu
maupun jamu yang bercampur bahan kimia beberapa waktu lalu, semakin
menambah keraguan masyarakat akan khasiat dan keamanan dalam
mengkonsumsi jamu dan obat tradisional. Padahal penggunaan obat
tradisional sudah lama dilakukan oleh masyarakat. Obat tradisional ini
tentunya sudah diuji bertahun-tahun bahkan berabad-abad sesuai dengan
perkembangan kebudayaan bangsa Indonesia.
Dokter dan apotik belum dapat menerima jamu sebagai obat yang
dapat mereka rekomendasikan kepada pasien sehingga pemasaran produk
jamu tidak bisa menggunakan tenaga detailer seperti pada obat modern. Di
pihak dokter, sistem pendidikan masih mengacu kepada pengobatan modern
dan tidak menyentuh substansi pengobatan dengan bahan alam (fitofarmaka).
Dengan kondisi di atas, tidak heran bila pasar industri jamu dan obat
tradisional sulit berkembang pesat.
Padahal, dengan jumlah masyarakat Indonesia yang mencapai lebih
dari 200 juta jiwa, sesungguhnya potensi pesat bagi produk jamu ataupun

obat tradisional amatlah besar. Terlebih lagi, saat ini tampak ada
kecenderungan hidup sehat pada masyarakat kelas menengah atas untuk
menggunakan produk berasal dari alam (back to nature). Saat ini masalah
dalam pengembangan obat bahan alam diantaranya kurangnya pembuktian
keamanan dan khasiat obat tersebut, sehingga tidak memenuhi kriteria untuk
dapat diterima dan digunakan dalam pelayanan kesehatan.

1.2. Rumusan Masalah


1.2.1. Apa potensi obat tradisional?
1.2.2. Apa saja jenis dan sumber obat tradisional?
1.2.3. Apa komposisi dan persyaratan obat tradisional?
1.2.4. Apa bentuk sediaan obat tradisional?
1.2.5. Bagaimana ketepatan penggunaan obat tradisional?
1.2.6. Bagaimana pengolahan obat tradisional?
1.2.7. Bagaimana pemberian obat tradisional oral?
1.2.8. Apa manfaat dan prospek obat tradisional?
1.3. Tujuan Tulisan
1.3.1. Untuk mengetahui dan memahami potensi obat tradisional.
1.3.2. Untuk mengetahui dan memahami jenis dan sumber obat tradisional.
1.3.3. Untuk mengetahui dan memahami komposisi dan persyaratan obat
tradisional.
1.3.4. Untuk mengetahui dan memahami bentuk sediaan obat tradisional.
1.3.5. Untuk mengetahui dan memahami ketepatan penggunaan obat
tradisional.
1.3.6. Untuk mengetahui dan memahami pengolahan obat tradisional.
1.3.7. Untuk mengetahui dan memahami pemberian obat tradisional oral.
1.3.8. Untuk mengetahui dan memahami manfaat dan prospek obat
tradisional.
1.4. Manfaat Tulisan
1.4.1. Secara Teoretis
Manfaat dari penyusunan makalah ini agar mahasiswa dan
pembaca

memperoleh

pengetahuan

tambahan

dan

dapat

mengembangkan wawasan mengenai pokok bahasan Jenis Obat


Tradisional.
1.4.2. Secara Praktis
Manfaat dari penyusunan makalah ini agar mahasiswa
mengetahui tentang Jenis Obat Tradisonal dan dapat dijadikan sebagai
3

suatu pembelajaran bagi mahasiswa keperawatan yang nantinya ilmu


tersebut dapat dipahami dan dipraktikkan langsung di lingkungan
masyarakat.
1.5.

Metode Tulisan
Dalam penulisan paper ini, kami menggunakan metode bacaan dan
penelusuran IT. Pada metode bacaan, kami menggunakan beberapa referensi
atau buku-buku/literatur. Sedangkan pada metode penelusaran IT ini, kami
mencari tambahan referensi pada internet. Kedua metode tersebut kami
gunakan untuk melengkapi data-data yang ada hubungannya dengan pokok
bahasan Jenis Obat Tradisional.

1.6.

Sistematika Tulisan
COVER
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
1.2.
Rumusan Masalah
1.3.
Tujuan Tulisan
1.4.
Manfaat Tulisan
1.5.
Metode Tulisan
1.6.
Sistematika Tulisan
BAB II PEMBAHASAN
2.1.
Potensi Obat Tradisional
2.2.
Jenis Dan Sumber Obat Tradisional
2.3.
Komposisi Dan Persyaratan Obat Tradisional
2.4.
Bentuk Sediaan Obat Tradisional
2.5.
Ketepatan Penggunaan Obat Tradisional
2.6.
Pengolahan Obat Tradisional
2.7.
Pemberian Obat Tradisional Oral
2.8.
Pemanfaatan Dan Prospek Obat Tradisional
BAB III PENUTUP
3.1.
Simpulan
3.2.
Saran
DAFTAR PUSTAKA

BAB II
PEMBAHASAN

2.1.

Potensi Obat Tradisional


Dalam masyarakat sendiri sebenarnya terdapat suaru dinamika yang
membuat mereka mampu bertahan dalam keadaan sakit dan hal ini
sebenarnya

merupakan

potensi

yang

dapat

dikembangkan

untuk

meningkatkan derajat kesehatannya. Potensi yang berarti kemapuan, daya,


kesanggupan, kekuatan yang dapat dikembangkan. Selama ini perkembangan
pelayanan kesehatan tradisional dan alternative tampak semakin pesat sekitar
32% masyarakat kita memakai pengobatan dan obat tradisional ketika sakit.
Pengembangan ini telah mendorong pertumbuhan usaha di bidang obat
tradisional, mulai dari budidaya tanaman obat, industri obat, dan distribusi.
Akhir-akhir ini banyak muncul penyakit-penyakit baru yang belum
ditemukan obatnya. Hal ini membuat cemas masyarakat, padahal bahanbahan untuk obat tradisional yang berkhasiat obat banyak terdapat diseluruh
pelosok tanah air, meskipun masih belum dimanfaatkan secara optimal untuk
pengobatan penyakit. Hal ini berarti obat tradisional memilki potensi besar
dalam pelayanan kesehatan.
Obat dan Obat Tradisional

Suatu zat merupakan obat bila dalam pengobatan atau eksperimen


sudah diperoleh informasi, dianataranya tentang (B.Zulkarnaen, 1999) :
a. Hubungan dosis dan efek (dose-effect-relationship) selain dari hanya
b.
c.
d.
e.

diketahui adanya suatu efek.


Absorpsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi zat tersebut.
Tempat zat tersebut bekerja (site of action).
Cara bekerja zat (mechanisme of action).
Hubungan struktur dan respon (structure-respons relationship).
Informasi tentang lima hal diatas diperlukan dan dievalusi dalam

menilai suatu obat. Penisilin umpamanya sudah diketahui bahwa besar


responsnya berkaitan erat dengan besar dosis, ia ketahui kapan mencapai
kadar efektif dalam darah manusia dan dalam bentuk apa sisa penisilin
diekskresi. Diketahui pula pada bagian pada dari kuman penisilin bekerja,
serta bagaimana bekerjanya, dan diketahui pula hubungan kerja dengan
struktur molekul penisilin. Informasi seperti ini dipunyai obat modern yang
dipasarkan, sementara kurangnya informasi menyebabkan suatu obat tidak
dapat diedarkan sebagai obat.
Untuk memperoleh informasi seperti diatas, diperlukan penelitianm,
tenaga, dana, dan waktu yang sangat banyak. Diperkirakan dari ditemukannya
suatu obat, dibutuhkan sekitar 25 tahun, sebelum zat diperbolehkan beredar
sebagai obat. Penelitian berkenaan dengan hal diatas dimulai dari penapisan
tahap pertama, yaitu :
a. Penentuan toksitas dan pengaruh terhadap gelagat (behaviour).
b. Pengaruh zat terhadap tekanan darah dan semua percobaan yang ada
kaitannya dengan tekanan darah.
c. Pengaruh zat terhadap organ-organ terisolasi yang kemudian

diikuti

dengan ratusan percobaan untuk melengkapi informasi yang diperlukan.


Tiga jenis penapisan ini banyak memberikan arah penelitian dan sifat
bahan yang diteliti, mulai dari pengaruh terhadap susunan saraf pusat (SSP),
susunan saraf otonom (SSO), respirasi, relaksasi otot, dan sebagainya.

Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan
tanaman, bahan hewan, bahan mineral, sediaan galenik atau campuran dari
bahan-bahan tersebut, yang secaratradisional telah digunakan untuk
pengobatan berdasarkan pengalaman (Ditjen POM, 1999). Sediaan galenik
adalah hasil ekstraksi bahan atau campuran bahan yang berasal dari tumbuhtumbuhan dan hewan. Obat tradisional sering dipakai untuk pengobatan
penyakit yang belum ada obatnya yang memuaskan seperti penyakit kanker,
penyakit virus termasuk AIDS dan penyakit degenerative, serta pada keadaan
terdesak di mana obat jadi tidak tersedia atau karena tidak terjangkau oleh
daya beli masyarakat.
Pada table di bawah ini dapat dilihat daftar beberapa tanaman obat
yang mempunyai prospek pengembangan yang potensial.
Tabel 1
Tanaman Obat Fitofarmaka yang Prospetif
Bagian Tanaman

No

Tanaman Obat

1.

Temulawak (Curcuma Xantorrhiza)

Obat
Umbi

2.

Kunyit (Curcuma Domestica Val)

Umbi

3.

Bawang Putih (Allium Sativum Lynn)

Umbi

4.
5.
6.
7.
8.

Jati Belanda (Guazuma Ulmitblia


Lamk)
Handeuleum (Daun Ungu)
(Gratophyllum Picium Griff)
Tempuyung (Sonchus Arvensis Linn)
Kejibeling (Strobilanthes Crispus Bj)
Labu Merah (Cucurbita Moschata
Duch)

1 Hepatitis, Artritis
Hepatitis, Artritis,
Antiseptik
Kandidiasis,
Hiperlipidemia

Daun

Anti Hyperlipidemia

Daun

Hemoroid

Daun
Daun

Nefrolitiasis, Diuretik
Nefrolitiasis, Diuretik

Biji

Taeniasis

9.

Katuk (Sauropus Androgynous Merr)

Daun

10.

Kumis Kucing (Orthosiphon

Daun

Indikasi Potensi

Meningkatkan Produksi
Asi
Diuretic

Stamineus Bent)
Seledri (Apium Graveolens Linn)
Pare (Momordica Charantia Linn)
Jambu Biji (Klutuk)

11.
12.
13.
14.

(Psidium Guajava Linn)


Ceguk (Wudani) (Quisqualis Indica

15.

Linn)
Jambu Mede (Anacardium

Daun
Buah Biji

Hipertensi
Diabetes Mellitus

Daun

Diare

Biji

Askariasis, Oksiurtasis

Daun

Analgesic

16.
17.
18.
19.

Occidentale)
Sirih (Piper Betle Linn)
Saga Telik (Abrus Precatorius Linn)
Sebung (Blumca Balsamitera D.C)
Benalu Teh (Loranthus Spec, Div)

Daun
Daun
Daun
Batang

Antiseptic
Stomatitis Attosa
Analgesic, Antipiretik
Ahli Kanker
Sumber Papain Anti

20.

Pepaya (Carica Papaya Linn)

Getah Daun Biji

Malaria Kontrasepsi

21.

Butrawali (Tinospora Rumphii Boerl)


Pegagan (Kaki Kuda)

22.
23.
24.

(Centella Asiatica Urban)


Legundi (Vitcx Trifolio Linn)
Inggu (Ruta Graveolens Linn)
Sidowajah (Woodfordia Floribunda

25.
26.

Salibs)
Pala (Mysristica Fragrans Hount)
Sambilata (Adrographis Paniculata

27.
28.

Nees)
Jahe (Halia) (Zingibers Officinale

29.
30.

Rose)
Delima Putih (Punica Granalum Linn)
Dringo (Acorus Calamus Linn)
Jeruk Nipis (Citrus Aurantifolia

31.

2.2.

Svviqk)

Batang
Daun

Pria
Antimalaria, Diabetes
Melitus
Diuretic, Antiseptic,

Daun
Daun

Antikeloid, Hipertensi
Antiseptic
Analgesic, Antipiretik

Daun

Artiscptik, Diuretic

Buah
Seluruh Tanaman

Sedative
Antiseptic, Diabetes

Daun

Melitus
Analgesic, Antipiretik,

Umbi
Kulit Buah
Umbi

Antiinflamasi
Antiseptic, Antidiare
Sedative

Buah

Antibatuk

Jenis dan Sumber Obat Tradisional


Pemerintahan dalam hal ini Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan
Makanan (Dirjen POM) yang kemudian beralih menjadi Badan POM
8

mempunyai tanggung jawab dalam peredaran obat tradisional di masyarakat.


Obat tradisional Indonesia semula hanya dibedakan menjadi 2 kelompok,
yaitu obat tradisional atau jamu dan fitofarmaka. Namun, dengan semakin
berkembangnya teknologi, telah diciptakan peralatan berteknologi tinggi yang
membantu proses produksi sehingga industri jamu maupun industri farmasi
mampu membuat jamu dalam bentuk ekstrak. Namun, sayang pembuatan
sediaan yang lebih praktis ini belum diiringi dengan penelitian sampai dengan
uji klinik. Dengan keadaan tersebut maka obat tradisional sebenarnya dapat
dikelompokkan menjadi 3, yaitu jamu, obat ekstrak alam, dan fitofarmaka.
1. Jamu (Empirical bused herbal medicine)
Jamu adalah obat tradisional yang berasal dari bahan tumbuhtumbuhan, hewan dan mineral dan atau sediaan galeniknya atau
campuran dari bahan-bahan tersebut yang belum dibakukan dan
dipergunakan dalam upaya pengobatan berdasarkan pengalaman. Bentuk
sediaannya berwujud sebagai serbuk seduhan, rajangan untuk seduhan,
dan sebagainya. Istilah penggunaannya masih memakai pengertian
tradisional seperti galian singset, sekalor, pegel linu, tolak angin, dan
sebagainya. Jamu adalah obat tradisional yang disediakan secara
tradisional, misalnya dalam bentuk serbuk seduhan, oil, dan cairan yang
berisi seluruh bahan tanaman yang menjadi penyusun jamu tersebut serta
digunakan secara tradisional. Pada umumnya, jenis ini dibuat dengan
mengacu pada resep peninggalan leluhur yang disusun dari berbagai
tanaman obat yang jumlahnya cukup banyak, berkisar antara 5-10 macam
bahkan lebih. Bentuk jamu tidak memerlukan pembuktian ilmiah sampai
dengan klinis, tetapi cukup dengan bukti empiris. Jamu yang telah
digunakan secara turun-temurun selama berpuluh-puluh tahun bahkan
mungkin ratusan tahun, tela membuktikan keamanan dan manfaat secara
langsung untuk tujuan kesehatan tertentu.
2. Ekstrak bahan alam (Scientific based herbal medicine)
Ekstrak bahan alam adalah obat tradisional yang disajikan dari
ekstrak atau penyarian bahan alam yang dapat berupa tanaman obat,

binatang, maupun mineral. Untuk melaksanakan proses ini membutuhkan


peralatan yang lebih kompleks dan berharga mahal, ditambah dengan
tenaga kerja yang mendukung dengan pengetahuan maupun keterampilan
pembuatan ekstrak. Selain proses produksi dengan teknologi maju, jenis
ini pada umumnya telah ditunjang dengan pembuktian ilmiah berupa
penelitian-penelitian

pra-klinik

seperti

standar

kendungan

bahan

berkhasiat, standar pembuatan ekstrak tanaman obat, standar pembuatan


obat tradisional yang higienis, dan uji toksisitas akut maupun kronis.
3. Fitofarmaka (Clinical based herbal medicine)
Fitofarmaka adalah sediaan obat yang telah dibuktikan
keamanannya dan khasiatnya, bahan bakunya terdiri dari simplisia atau
sediaan galenik yang telah memenuhi persyaratan yang berlaku. Istilah
cara penggunaannya menggunakan pengertian farmakologik seperti
diuretik, analgesik, antipiretik, dan sebagainya. Selama ini obat-obat
fitofarmaka yang berada dipasaran masih kalah bersaing dengan obat
paten. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor, antara lain kepercayaaan,
standar produksi, promosi dan pendekatan terhadap medis, maupun
konsumennya secara langsung. Fitofarmaka merupakan bentuk obat
tradisional dari bahan alam yang dapat disejajarkan dengan obat modern
karena proses pembuatannya yang telah terstandar, ditunjang dengan
bukti ilmiah sampai dengan uji klinik pada manusia. Oleh karena itu,
dalam pembuatannya memerlukan tenaga ahli dan biaya yang besar
ditunjang dengan peralatan berteknologi modern pula.
Obat tradisional dapat diperoleh dari berbagai sumber sebagai
pembuat atau yang memproduksi obat tradisional, yang dapat dikelompokkan
sebagai berikut:
a. Obat tradisional buatan sendiri
Obat tradisional jenis ini merupakan akar dari pengembangan
obat tradisional di Indonesia saat ini. Pada zaman dahulu, nenek moyang
kita mempunyai kemampuan untuk menyediakan ramuan obat tradisional
yang digunakan untuk keperluan keluarga. Cara ini kemudian terus

10

dikembangkan oleh pemerintah dalam bentuk progrm TOGA (taman obat


keluarga). Dengan adanya program TOGA diharapkan masyarakat
mampu menyediakan baik bahan maupun sediaan jamu yang dapat
dimanfaatkan dalam upaya menunjang kesehatan keluarga. Program
TOGA lebih mengarah kepada self care untuk menjaga kesehatan untuk
menjaga kesehatan anggota keluarga serta penanganan penyakit ringan
yang dialami oleh anggota keluarga.
b. Obat tradisional berasal dari pembuat jamu (Herbalist)
Membuat jamu merupakan salah satu profesi yang jumlahnya
masih cukup banyak. Salah satunya adalah pembuat sekaligus penjual
jamu gendong. Pembuat jamu gendong merupakan salah satu penyedia
obat tradisional dalam bentuk cairan minum yang sangat digemari
masyarakat. Jamu gendong sangat populer. Tidak hanya di pulau Jawa,
tetapi juga dapat ditemui di berbagai pulau lain di Indonesia. Segala
lapisan masyarakat sangat membutuhkan kehadirannya meskipun tidak
dapat dipungkiri lebih banyak dari masyarakat lapisan bawah yang
menggunaan jasa mereka. Selain jamu gendong yang umum dijual seperti
kunir asam, sinom, mengkudu, pahitan, beras kencur, cabe puyang, dan
gepyokan, mereka juga mampu menyediakan jamu khusus sesuai
pesanan. Misalnya, jamu habis bersalin, jamu untuk mengobati
keputihan, dan lain-lain. Akhir-akhir ini, dengan adanya jamu-jamu
industri sering kita jumpai penjual jamu gendong menyediakan jamu
serbuk buatan industri untuk dikonsumsi bersamaan dengan jamu
gendong yang mereka sediakan.
Selain pembuat jamu gendong, peracik tradisional masih dapat
dijumpai di Jawa Tengah. Mereka beradadi pasar-pasar tradisional
menyediakan jamu sesuai kebutuhan konsumen. Bentuk jamu pada
umumnya sejenis jamu gendong, namun lebih mempunyai kekhususan
untuk pengobatan penyakit atau keluhan kesehatan tertentu. Peracik jenis
ini tampaknya sudah semakin berkurang jumlahnya dan kalah bersaing
dengan industri yang mampu menyediakan jamu dalam bentuk yang
lebih praktis.

11

c. Obat tradisional buatan industri


Berdasarkan peraturan Departemen Kesehatan RI, industri obat
tradisional dapat dikelompokkan menjadi industri kecil dan industri besar
berdasar modal yang harus mereka miliki. Dengan semakin maraknya
obat tradisional, tampaknya industri farmasi mulai tertarik untk
memproduksi obat tradisional. Akan tetapi, pada umumnya yang
berbentuk sediaan modern berupa ekstrak bahan alam atau fitofarmaka.
Sedangkan industri jamu lebi condong untuk memproduksi bentuk jamu
yang sederhana meskipun akhir-akhir ini cukup banyak industri besar
yang memproduksi jamu dalam bentuk sediaan modern (tablet, kapsul,
sirup dan lain-lain) dan bahkan fitofarmaka.
2.3.

Komposisi dan Persyaratan Obat Tradisional


Dalam upaya pembinaan industri obat tradisional, pemerintah melalui
Depkes telah memberikan petunjuk pembuatan obat tradisional dengan
komposisi rasional melalui pedoman rasionalisasi komposisi obat tradisional
dan petunjuk formularium obat tradisonal. Hal ini terkait dengan masih
banyaknya ditemui penyusunan obat tradisional yang tidak rasional
(irrational) ditinjau dari jumlah bahan penyusunnya. Sejumlah simplisia
penyusun obat tradisional tersebut seringkali merupakan beberapa simplisia
yang mempunyai khasiat yang sama. Oleh karena itu, perlu diketahui racikan
simplisia yang rasional agar ramuan obat yang diperoleh mempunyai khasiat
sesuai maksud pembuatan jamu tersebut.
Komposisi obat tradisional yang biasa diproduksi oleh industri jamu
dalam bentuk jamu sederhana pada umumnya tersusun dari bahan baku yang
sangat banyak dan bervariasi. Sedangkan bentuk obat ekstrak alam dan
fitofarmaka pada umumnya tersusun dari simplisia tunggal atau maksimal 5
macam jenis bahan tanaman obat. Pada pembahasan ini lebih ditekankan pada
penyusunan obat tradisional bentuk sederhana atau jamu, mengingat cukup
banyak komposisi jamu yang irrasional seperti penggunaan bahan dengan
khasiat sejenis pada satu ramuan, penggunaan simplisia yang tidak sesuai

12

dengan manfaat yang diharapkan, dan sebagainya. Agar dapat disusun suatu
komposisi obat tradisional maka beberapa hal yang perlu diketahui adalah:
1. Nama umum obat tradisonal/jamu
Jamu yang diproduksi pada umumnya mempunyai tujuan
pemanfaatan yang tercermin dari mana umum jamu. Perlu diketahui
bahwa terdapat peraturan tentang penandaan obat tradisional. Jamu yang
diproduksi dan didistribusikan kepada konsumen harus diberi label yang
menjelaskan tentang obat tradisional. Jamu yang diproduksi dan
didistribusikan kepada konsumen harus diberi label ang menjelaskan
tentang obat tradisional tersebut, di antaranya tentang manfaat atau
khasiat jamu. Penjelasan tentang manfaat jamu atau khasiat jamu.
Penjelasan tentang manfaat jamu hanya boleh disampaikan dalam bentuk
mengurangi atau menghilangkan keluhan atau gejala yang dialami
seseorang dan bukan menyembuhkan suatu diagnosis penyakit.
Secara umum, jamu dapat dibedakan menjadi dua, yaitu yang
bertujuan untuk menjaga kesehatan atau promotif dan mencegah dari
kesakitan, serta jarum yang dimanfaatkan untuk mengobati keluhan
penyakit. Nama, umum jamu yang banyak diproduksi oleh industri serta
tujuan pemanfaatnya antara lain adalah:
a. Tujuan promotif atau preventif
Ada beberapa macam jenis jamu dengan tujuan preventif dan
promotif yang beredar di pasaran. Jamu tersebut diproduksi oleh
industri obat tradisional baik besar maupun kecil. Nama jamu
tersebut anatar lain jamu anton-anton tua atau anton-anton muda,
jamu habis bersalin, jamu ASI, jamu haid teratur, jamu berhenti haid,
jamu jerawat, jamu penambah nafsu makan, jamu subur peranakan,
dan jamu masa berhenti haid (menopause).
b. Tujuan kuratif
Jamu dengan tujuan untukmenyembuhkan penyakit atau
menghilangkan gejala penyakit cukup banyak dijumpai. Bahkan, saat
ini industri farmasi bersaing dengan industri obat tradisional
memproduksi berbagai obat tradisional yang berguna untuk terapi

13

suatu penyakit. Obat trsdisional ini sebagian telah diproduksi dalam


bentuk ekstrak bahan alam, bahkan sebagian dalam bentuk
fitofarmaka. Obat tradisional tersebut anatara lain adalah jamu
keputihan, jamu batuk, jamu sesak napas, jamu gatal, jamu bau
badan, jamu cacingan, jamu eksim, jamu encok/rematik, jamu
pilek/flu, jamu sakit kuning, jamu sembelit, jamu mencret, jamu ulu
hati/gastritis, jamu wasir/haemorhoid, dan lain-lain.
2. Komposisi bahan penyusun jamu
Menyusun komposisi bahan penyusun jamu dapat dilakukan
dengan memperhatikan manfaat yang akan diambil dari ramuan yang
dibuat serta kegunaan dari masing-masing simplisia penyusun jamu
terebut. Tujuan pemanfaatan jamu untuk suatu jenis keadaan tertentu
harus memperhatikan keluahan yang biasa dialami pada kondisi tersebut.
Misalkan pada orang hamil tua sering mengalami kejang pada kaki,
badan mudah lelah, dan lain sebagainya; penderita rematik biasa
mengeluhkan nyeri pada persendian.
Keterbatasan yang dijumpai dalam penyusunan komposisi jamu
adalah takaran dari masing-masing simplisia maupun dosis sediaan.
Penelitian ilmiah dalam hal ini masih sangat kurang sehingga seringkali
penetapan takaran maupun dosis hanya mengacu pada pengalaman
peracik obat tradisional yang lain dan atas dasar kebiasaan penggunaan
terdahulu.
3. Simplisia dan kegunaan
Simplisia ialah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat
yang belum mengalami pengolahan apa pun dan kecuali dinyatakan lain,
berupa bahan yang telah dikeringkan. Dari jenis simplisia yang umum
digunakan oleh industri jamu, ada beberapa tanaman yang mempunyai
kegunaan yang mirip satu dengan lainnya meskipun pasti juga terdapat
perbedaan mengingat kandungan bahan berkhasiat antara satu tanama
dengan lainnya tidak dapat sama. Bahkan, untuk jenis tanaman yang
sama, masih ada kemungkinan kadar bahan berkhasiat yang terkandung
tidak sama persis mengingat adanya pengaruh dari tanah tempat tumbuh,
iklim, dan perlakuan, misalnya pemupukan.
14

Pengetahuan tentang kegunaan masing-masing simplisia sangat


penting, sebab dengan diketahui kegunaan masing-masing simplisia,
diharapkan terjadi tumpang tindih pemanfaatan tanaman obat serta dapat
mencarikan alternatif pengganti yang tepat apabila simplisia yang
dibutuhkan ternyata tidak dapat diperoleh.
4. Penelitian yang telah dilakukan terhadap simplisia penyusun obat
tradisional
Obat tradisional terdiri dari berbagai jenis tanaman dan bagian
tanaman. Sesuai dengan Sistem Kesehatan Nasional maka obat
tradisional yang terbukti berkhasiat perlu dimanfaatkan dan ditingkatkan
kualitasnya. Untuk dapat membuktikan khasiatnya, sampai saat ini telah
banyak dilakukan penelitian. Akan tetapi, masih bersifat pendahuluan
dan masih sangat sedikit percobaan dilakukan sampai fase penelitian
klinik. Penelitian yang telah dilakukan terhadap tanaman obat sangat
membantu dalam pemilihan bahan baku obat tradisional. Pengalaman
empiris ditunjang dengan penelitian semakin memberikan keyakinan
akan khasiat dan keasaman obat tradisional.
Sehubungan dengan mutu, kepada para pengusaha yang beregrak di
bidang industri obat khususnya obat tradisional dalam pembuatan obat harus
memenuhi persyaratan keamanan, kemanfaatan dan mutu, sesuai dengan
Keputusan

Menteri

Kesehatan

661/MENKES/SK/VII/1994.

Secara

Republik
garis

besar

Indonesia

Nomor:

pemerintahan

tela

mengeluarkan beberapa petunjuk, yakni:


a. Kadar air tidak lebih dari 10%. Hal ini untuk mencegah berkembang
b.
c.
d.
e.

biaknya bakteri, kapang dan khamir (ragi).


Jumlah kapang dan khamir tidak lebih dari 10.000 (sepuluh ribu).
Jumlah bakteri non-patogen tidak lebih dari 1.000.000 (1 juta).
Bebas dari bakteri patogen seperti salmonella.
Jamu yang terbentuk pil atau tablet, daya hancur tidak lebih dari 15 menit

(menurut Farmakope Indonesia). Toleransi sampai 45 menit.


f. Tidak boleh tercemar atau diselundupi bahan kimia berkhasiat.

15

2.4.

Bentuk Sediaan Obat Tradisional.


2.4.1. Sediaan Obat dalam Bentuk Cair
Sediaan obat dalam bentuk cair ini dapat berupa sirup, emulsi,
suspen, jamu cair, eliksir, dan bentuk cair lainnya. Perawat
bertanggung jawab untuk memberikan penjelasan tentang kegunaan

dan cara tersebut.


2.4.2. Sediaan Obat dalam Bentuk Semisolid
Sediaan obat semisolid yang sering dijumpai dipasaran dapat
berupa krim atau salep yang dibuat semi padat.Sediaan salep atau
krim adalah sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan bahan
bakunya larut secara homogeny dalam dasar salep atau krim dan
sering digunakan sebagai obat luar.Peran perawat adalah membantu
klien

dalam

mengenali

bentuk,

dari

penggunaan

obat

tersebut.Pemakaian krim obat herbal untuk daerah bagian wajah


dengan tujuan kosmetik maupun pengobatan perlu dilakukan tes
terlebih dahulu karena kulit dibagian wajah lebih sensitive.
2.4.3. Sediaan Obat dalam Bentuk Padat atau Kering
Sediaan obat herbal jenis ini dapat disajikan dalam bentuk
irisan kering atau padat. Cara penggunaannya sangat sederhana dan
tidak melalui proses yang rumit yaitu cukup diseduh dengan air panas.
Sediaan herbal padat dan kering ini juga sering disajikan dalam bntuk
serbuk.Sediaan obat herbal padat dan kering ini dapat disajikan dalam
bentuk modern yaitu dijadikan pil, tablet, pastilles maupun ekstrak
simplisia serbuk yang dimasukan kedalam cangkang kapsul. Perawat
didalam pelayanan praktik keperawatan mandiri maupun dealam
pelayanan keparawatan komunitas Home visit, hendaknya mamu
membarikan pendidikan kesehatan tentang bentuk obat herbal, sediaan
sederhana maupun modern serta dapat memonitoring efek samping
yang ditimbulkann. Tanaman Obat Keluarga (TOGA) merupakan
usaha pencegahan dan peningkatan kesehatan klien pada tingkat
keluarga.TOGA

dipromosikan

pemerintah

sebagai

upaya

meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat melalui pemanfaatan


potensi dan sumber daya alam yang tersedia.

16

2.5.

Ketepatan Penggunaan Obat Tradisional


Menurut Sari (2006) efek samping obat herbal relative kecil apabila
digunakan secara tepat yang meliputi :
1. Kebenaran bahan
2. Ketepatan dosis
3. Ketepatan waktu penggunaan
4. Ketepatan cara penggunaan
5. Ketepatan telah informasi
6. Tanpa penyalahgunaan
7. Ketepatan pemilihan obat untuk indikasi tertentu.
Penelitian yang telah dilakukan terhadap tanaman obat sangat
membantu dalam pemilihan bahan baku obat herbal. Dalam pemanfaatan
obat herbal, dapat mengunakan beberapa jenis herbal yang mudah dijumpai
dan terjjangkau seperti : kunyit, temulawak, jahe, bawang putih, dan lain-lain.
Pengalaman empiris ditunjang dengan penelitian ilmiah semakin memberikan
keyakinan ada khasiat dan keamanan obat herbal.Peran perawat dalam hal ini
adalah meberikan edukasi dan monitoring kesehatan klien setelah
mengkonsumi obat herbal.

2.6.

Pengolahan Obat Tradisional


Perawat berperan melakukan pemberdayaan kepada komunitas dan
keluarga dalam memanfaatkan potensi lingkungan alam yang tersediam,
salah satunya pemanfaatan tanaman obat keluarga (TOGA). Pengolahan
secara sederhana dapat dilakukan melalui bebrapa tahap antara lain:

1. Mengidentifikasi Jenis Tanaman Herbal yang akan Digunakan.


Bermanfaat untuk mengetahui jenis tanaan herbal yang akan
digunakan untuk mengobati penyakit tertentu. Berpedoman pada khasiat
dan zat aktif yang terkandung pada jenis tanaman herbal tersebut.

17

Klasifikasi tanaman herbal dari atas kebawah diurutkan sebagai berikut :


Kingdom, divisi, kelas, ordo, family, genus dan spesies.
2. Waktu pemetikan dan pengumpulan
Teknik dalam pemetikan dan pengumpulan tanaman herbal
bermanfaat untuk menjaga kualitas dan kuantitas zat aktif yang
terkandung didalam tanaman obbat herbal.Masing-masing tumbuhan
memilliki sifat farmakognosis berbeda, maka untuk pemetikan daun
sebagai obat herbal harus mengetahui petunjuk pemetikan.Tetapi,
umumnya menggunakan daun sewatu tanaman berbunga dan buah belum
masak.Buah dan bijji didapatkan ketika telah masak dipohon.Bunga
dipetik ketika telah mekar sempurna.Sedangkan jenis rimpang, akar, dan
umbi diambil ketika tumbuhan telah selesai pertumbuhannya.
3. Penyortiran
Bahan baku yang digunakan dalam pembuatan obat herbal
hendaknya disortir terlebih dahulu untuk membebaskan dari bahan asing
atau kotorn. Penyortiran berfungsi untuk mendapatkan simplisia secara
homogeny yang meliputi jenis, ukuran, tingkat kematangan, dan lainlain.
4. Pencucian
Pencucian simplisia dilakukan dengan air bersih yang mengalir
atau dibersihkan dengan cara yang tepat sehingga diperoleh simplisia
yang bersih dan terbebas dari mikroba pathogen, kapang, khamir, serta
pencemaran lainnya. Jika menghekndaki penggunaan simplisia segar
maka setelah dicuci simplisia dapat segera diproses menjadi jamu sesuai
dengan yang dikehendaki.
5. Pengeringan
Pengeringan simplisia dapat menggunakan sinar matahari secara
langsung. Pengeringan dengan mengangin-anginkan simplisia ditempat
yang teduh atau dalam ruangan pengeringan yang aliran udaranya baik
atau dapat menggunakan oven dengan pengaturan suhu yang telah
disesuaikan.simplisia dnga ukuran besar dapat dipotong seperlunya untuk

18

mengurangi kadar air. Kadar air yang dipersyaratkan adalah 10%


sehingga dapat mencegah pembusukan oleh jamur dan atau bakteri.
6. Teknik pengolahan
a. Merebus
Dalam perebusan obat herbal umumnya menggunakan wadah
dari bahan anti karat, tanah liat, kaca atau email, pemakaian wadah
dari besi dan aluminium tidak disarankan karena mempunyai efek
membahayakan bagi tubuh yaitu dapat menimbulkan endapan,
terbentuknya racun, atau dapat menimbulkan efek sampng akibat
terjadinya reaksi kimia dengan obat herbal tersebut. Perebusan akan
menyebabkan terjadinya perpindahan senyawa-senyawa aktif dari
simplisia kedalam air.
b. Menyeduh
Menyeduh bahan obat herbal pada prinsipnya sama dengan
merebus. Tenik seduh sering digunakan pada simplisia lunak berupa
bungandan

daun.Teknik

penyeduha

obat

herbal

dengan

menggunakan air panas agar senyawa aktif dari tanaman herbal


berpindah kedalam air.Setelah seduhan herbal dingin dapat segera
dinikmati.
c. Serbuk
Dalam pembuatan serbuk obat herbal terdapat dua jenis serbu
yaitu :serbuk tunggal (murni) dan serbuk campuran beberapa jenis
herbal. Serbuk lebih praktis digunakan dan lebih tahan lama jika
kadar air dan penyimpanannya sesuai dengan prosedur. Hendanya
menyimpan serbuk obat herbak dalam waktu yang ertutup rapat serta
kedap udara.
2.7.

Pemberian Obat Tradisional Oral


2.7.1. Pemberian Obat Herbal Pada Orang Dewasa
Pemberian obat herbal secara oral adalah kewenangan perawat
untuk memberikan obat herbal melalui mulut yang dilakukan oleh
seorang perawat berdasarkan resep dokter atau apoteker herbalis jika
klien membeli sendiri obat herbal tersebut di apotek.
Tujuan:

19

Menyediakan obat herbal yang memiliki efek terapeutik melalui


saluran gastrointestinal
Menghindari pemberian obbat herbal yang dapat menyebabkan
kerusakan kulit dan jaringan yang dikarenakan telaah informasi
klien yang tidak sesuai.
Menghindari pemberian obat herbal bahan alam yang dapat
menyebabkan nyeri lambung.
Fokus Perhatian
Alergi terhadap obat atau herbal relatih kecil apabila
digunakan dalam takaran dan dosisi yang tepat.Perawat mengkaji
kemampuan klien untuk menelan obat hherbal, efek samping obat
herbal, interaksi obat herbal ketika digunakan dengan obat dokter
serta kebutuhan mengenai obat herbal yang diberikan.Sedangkan
untuk peracik obat herbal dalam kemasan (tablet, kapsul, pil, atau
bentuk-bentuk kemasan lainnya) adalah tugas atau wewenang
apoteker atau herbalis yang mempunyai kompetensi dan sertifikasi
herbal dokter yang mempunyai ijin dan kompetensi dibidang herbal
mempunyai kewenang untuk meresepkan obat herbal sesuai dengan
penyakit atau keluhan klien. Tugas dan wewenang perawat dalam
pemberian obat herbal ini adalah memberikan petunjuk cara
mengonsumsi jenis obat herbal dan memantau keadaan umum klien
setelah mengonsumsi oabt herbal tersebut.
Peralatan :

Wadah berisi obat herbal


Kartu atau buku rencana pengobatan
Mangkok disposable untuk tempat obat herbal
Pemotong obat herbal (bila diperluka)
Martil dan lumping penggerus (bila diperlukan)
Gelas pengukur (bila diperlukan)
Gelas dan air minum
Sedotan
Sendok
Pipet
Spuit sesuai ukuran untuk mulut anak-anak

20

Prosedur kerja
Siapkan peralatan dan cuci tangan.
Kaji kemampuan klien untuk dapat minum obat herbal per oral
(kemampuan menelan, mual atau muntah, adanya program puasa,
serta aanya bunyi usus)
Periksa kembali order pengobatan (nama klien, nama dan dosis
obat herbal, watku dan cara pemberian), periksa tanggal
kedaluarsa obat herbal, bila ada keraguan pad order pengobatan
dilaporkan pada apoteker herbalis yang berwenang atau dokter
sesuai dengan kebijjakan masing-masing institusi.
Ambil obat herbal sesuai yang diperlukan (baca order
pengobatan)

dan

ambil

obat

herbal

pada

tempat

penyimpanan(almari, rak ata lemari es) sesuai yang diperlukan.


Siapkan obatobatan herbal yang akan diberikan, siapkan jumlah
obat herbal yang sesuai dengan dosis yang diperlukan tanpa
mengkontaminasi obat herbal tersebut (gunakan teknik aseptic
untuk menjaga kebersihan obat herbal).
a. Tablet atau kapsul herbal
Tuangkan tablet atau kapsul herbal dalam jumlah yang
diperlukan kedalam mangkok disposable tanpa menyentuh
obat (menggunakan handscoon atau sarung tanagn sekali
pakai)
Gunakan alat pemotong tablet, bila perlu untuk membagi obat
herbal sesuai dengan dosis yang diperlukan.
Jika klien memiliki kesulitan untuk menelan, gerus obat
herbal menjadi bubuk dengan menggunakan martil dan
lumping

penggerus,

kemudian

campurkan

dengan

menggunakan air atau makanan.lakukan konsultasi dengan


apoteker herbal sebelum menggerus obat herbal, karena
beberapa obat herbal atau suplemen herbal kemungkianan
tidak boleh digerus karena mempengaruhi daya kerjanya.
b. Obat Herbal Dalam Bentuk Cair

21

Putar obat herbal (dibolak-balik / dikocok) agar tercampur


rata sebelum dituangkan. Buang obat herbal apabila telah
mengalami perubahan warna atau menjadi keruh.
Buka penutup botol dan letakkan menghadap keatas. Untuk
menghindari kontaminasi pada tutup botol bagian dalam.
Pegang botol obat herbal sehingga sisi labelnya akan berada
pada telatak tangan anda,dan tuangkan obat herbal kearah
menjauh dari label mencegah labbeh menjadi rusak akibat
tumpahan cairan obat herbal, sehingga label tidak dapat
dibaca dengan tepat.
Tuangkan obat herbal dalam jumlah yang diperlukan kedalam
mangkuk obat berskala.
Sebelum menutup botol, usap bagian bibir botol dengan kerta
tissue. Mencegah tutup botol sulit dibuka kembali akibat
cairan obat herbal yang mongering pada tutup botol.
Biila jumlah obat herbal yang diperlukan hanya sedikit
(kurang dari 5ml), maka gunakan spuit steril tanpa jarum
untuk mengambilnya dari botol.
Berikan obat herbal pada waktu dan cara yang benar:
Identifikasi klien dengan tepat.
Jelaskan mengenai tujuan dan daya kerja obat herbal denga
bahasa yang dapat dipahami oleh klien
Atur pada posisi dudul, jika tidak memungkinkan berikan
posisi lateral. Posisi ini membantu mempermudah klien untuk
menelan dan mencegah aspirasi.
Kaji tanda-tanda vital bila diperlukan (pada obat-obatan
herbal tertentu) : ukuran GDS (Gula Darah Sewaktu) sebelum
pemberian obat herbal penurun gula darah, ukur tekanan
darah sebelum pemberian obat penurun tekanan darah, ukur
frekuensi pernafasan sebelum pemberian obat herbal inhalasi.
(jika hasilnya diatas atau dibawah normalnya), maka
llaporkan pada dokter yang bersangkutan dan konsultasikan
pada apoteker herbalis.

22

Beri klien air yang cukup untuk menelan obat herbal, bila
sulit menelan anjurkan klien meletakkan obat herbal dilidah
bagian belakang, kemudian anjurkan minum. Stimulasi lidah
bagian belakang akan menibulkan reflek menelan.
Bila obat herbal memiliki rasa yang tidak enak, minta klien
untuk menghisap beberapa butir es batu sebelum minum obat
herbal atau berikan obat herbal dengan dicampur jus apel atau
pisang atau air gula.
Jiak klien mengatakan obat herbal yang diberikan perawat
berbeda dengan pada hari-hari sebelumnya, maka obat herbal
tersebut jangan anda berikan terlebih dahulu sebelum anda
mengecek ulang pada buku catatan pemberian obat herbal.
Damping klien sampai dengan obat herbal habis ditelan oleh
klien.
Catat obat herbal yang diberikan meliputi nama dan dosisi
obat, setiap keluhan, dan tanda tangan perawat yang
memberikan. Jika obat herbal tidak data masuk atau
dimuntahkan catat secara jelas alasannya dan tindkan perawat
yang sudah dilakukan sesuai prosedur.
Kembalika peralatan yang dipakai denga tepat dan benar.
Buanng alat-alat disposable, kemudian cuci tangan.
Lakkukan evaluasi mengenai efek obat pada klien.
2.7.2. Pemberian Obat Herbal Pada Anak
Perawat dalam praktik keperawatan perorangan, layanan
keperawatan keluarga, maupun komunitas mempunyai kewanangan
untuk memberikan obbat herbal pada anak-anak sesuai yang
diresepkan oleh dokter atau apoteker herbalis jika keluarga klien jika
keluarga klien membeli obat herbal sendiri di apotek. Ketentuan
pemberian obat herbal pada anak yaitu:
Pilih sarana yang tepat untuk mengukur dan memberikan obat
herbal pada anak-anak (mangkok plastic disposable,pipet tetes,

sendok, spuit plastic tanpa jarum atau spuit tuberkulin).


Cairkan obat herbal oral dengan sedikit air. Obat herbal yang
telah dicairkan akan mempermudah anak untuk menelan. Tetapi
23

jika enggunakan air yang terlalu banyak, anak mungkin akan


menolak untuk meminum seluruh obat herbal yang diberikan dan

meminum hanya sebagiannya saja.


Gerus obat herbal yang tidak dalam bentuk cair, dan campurkan
dengan zat lain yang dapat mengubah rasa pahit misalnya, madu,

sirup pemanis, untuk mencampur obat herbal.


Jika menggunakan spuit, letakkan spuit sepanjang siisi lidah anak.
Posisi mencegal gagging (reflek muntah) dan dikeluarkannya
kembali obat herbal yang telah diberikan. Orang tua anak
mungkin dapat memberikan informasi yang bermanfaat mengenai
bagaimana memberikan obat herbal yang paling baik pada anak

yang bersangkutan.
Bila anak tidak kooperatif selama pemberian obat herbal, maka
perawat dapat memberikan beberapa teknik pemberian yaitu :
Letakkan annak diatas pangkuan anda dengan tangan kanan
dibelakang tubuh perawat.
Pegang erat tangan kiri anak dengan tangan kiri perawat.
Amankan kepala anak dengan lengan kiri dan badan perawat.
Setelah anak selesai minum obat herbal, perawat kemudian

memberikan minum air atau minuman lain yang dapat menghilangkan


rasa obat yang tersisa. Nuntuk anak-anak yang minum obat disertai
pemanis, maka sesudah minum obat herbal lakukan oral hygiene
pemanis yang tersisa dimulut dapat menyebabkan anak berisiko tinggi
mengalami caries dentis.
2.8.

Pemanfaatan dan Prospek Obat Tradisional


Kecenderungan kuat untuk menggunakan pengobatan dengan bahan
alam, tidak hanya berlaku di Indonesia, tetapi juga berlaku di banyak negara
karena cara-cara pengobatan ini menerapkan konsep back to nature atau
kembali ke alam yang diyakini mempunyai efek samping yang lebih kecil
dibandingkan obat-obatan modern. Mengingat peluang obat-obat alami dalam
mengambil bagian dalam sistem pelayanan kesehatan masyarakat cukup besar

24

dan supaya dapat menjadi unsur dalam sistem ini, obat alami perlu
dikembangkan lebih lanjut agar dapat memenuhi persyaratan keamanan,
khasiat dan mutu. Obat tradisional tidak jarang dipakai untuk pengobatan
penyakit yang belum ada obatnya yang memuaskan seperti penyakit kanker,
penyakit virus, termasuk AIDS dan penyakit degenerative serta pada keadaan
terdesak dimana obat jadi tidak tersedia atau karena tidak terjangkau oleh
daya beli masyarakat. Secara garis besar tujuan pemakaian obat tradisional
dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu :
1. Untuk memelihara kesehatan dan menjaga kebugaran jasmani (promotif),
2. Untuk mencegah penyakit (preventif),
3. Sebagai upaya pengobatan penyakit baik untuk pengobatan sendiri
maupun untuk mengobati orang lain sebagai upaya mengganti atau
mendampingi penggunaan obat jadi ( kuratif ), dan
4. Untuk memulihkan kesehatan (rehabilitative)
Agar pemanfaatan obat tradisional dapat dipertanggung jawabkan
secara ilmiah terutama dari segi keamanan, khasiat dan penggunaannya, maka
perlu dilakukan penelitian dan pengembangan dengan tahapan yang jelas dan
sistematis.
Tahapan tersebut meliputi :
1. Pemilihan (seleksi) simplisia berdasarkan informasi dari masyarakat
tentang pemanfaatan dan penelusuran pustaka tentang kandungan kimia
dari tanaman tersebut,
2. Uji penyaringan biologik (skrining biologic) yang meliputi uji
3.
4.
5.
6.

farmakologik dan toksitas akut,


Uji farmakodinamik,
Uji toksisitas lanjut seperti uji toksisitas sub-akut, kronis dan khusus,
Pengembangan formulasi, dan
Uji klinik pada manusia
Dengan adanya krisis moneter yang melanda Indonesia dan berlanjut

menjadi krisis ekonomi yang berkepanjangan berdampak pada melonjaknya

25

harga obat-obatan modern secara drastis oleh karena lebih dari 90% bahan
bakunya tergantung impor.
Oleh sebab itu obat tradisional yang merupakan potensi bangsa
Indonesia, mempunyai prospek untuk ikut adil dalam memecahkan
permasalahan ini dan sekaligus memperoleh serta mendayagunakan
kesempatan untuk berperan sebagai unsur dalam pelayanan kesehatan
masyarakat, terlebih-lebih dengan adanya kebijakan Menteri Kesehatan RI
tahun 1999 untuk mengembangkan dan memanfaatkan tanaman obat asli
Indonesia untuk kebutuhan farmasi di Indonesia. Pengembangan obat
tradisional mempunyai 3 aspek penting yaitu :
1. Pengobatan yang menggunakan bahan alam adalah sebagian dari hasil
budaya bangsa dan perlu dikembangkan secara inovatif untuk
dimanfaatkan bagi upaya peningkatan kesehatan masyarakat.
2. Penggunaan bahan alam dalam rangka pemeliharaan kesehatan dan
sebagai bahan obat yang berasal dari zat kimia sintesis.
3. Bahan baku obat yang berasal dari alam cukup tersedia dan tersebar luas
di negara kita. Bahan baku obat tradisional tersebut dapat di kembangkan
di dalam negeri, baik dengan teknologi sederhana maupun teknologi
canggih. Pengembangan obat tradisional dalam jangka panjang akan
mempunyai arti ekonomi yang cukup potensial karena dapat mengurangi
impor bahan baku sintesa kimia yang harus dibeli dengan devisa.
Pengembangan obat dari alam bukan masalah yang mudah dan
sederhana karena mempunyai aspek permasalahan yang cukup luas dan
kompleks. Pengembangannya harus dilakukan secara bertahap dan sistematis
dan sasaran prioritas yang jelas, yaitu dengan mendorong terbentuknya
kelompok obat fitofar maka yang kegunaan atau manfaatnya telah jelas
dengan bahan baku baik yang berupa simpilisia maupun sediaan galenik yang
telah memenuhi persyaratan mutu sehingga terjamin adanya keseragaman
komponen aktif, keamanan dan kegunaannya.

26

Kegunaan obat kelompok fitoterapi dinyatakan dengan istilah


farmakologi baku, sehingga penggunaannya dapat diusahakan melalui para
dokter dan unit pelayanan kesehatan formal. Dengan demikian secara
bertahap obat kelompok fitoterapi dapat memasuki dunia pengobatan modern
dan menunjang upaya untuk mencukupi kebutuhan obat bagi masyarakat luas.
Pada sisi lain mendorong produsen obat tradisional di Indonesia untuk
memproduksi obat kelompok fitoterapi dengan mutu (quality), keamanan
(safety)dan khasiat (efficacy) yang lebih dapat dipertanggung jawabkan.
Prioritas seleksi bahan obat alam yang akan diuji pada masa
mendatang adalah:
1. Bahan obat yang diprioritaskan mempunyai khasiat untuk penyakit yang
menduduki urutan teratas dalam pola penyakit atau penyakit dengan
angka kematian dan angka kesakitan yang tinggi.
2. Bahan obat yang diperkirakan mempunyai khasiat untuk penyakit
tertentu berdasarkan pengalaman pemakaian dan
3. Bahan obat yang di duga dapat meningkatkan kualitas hidup penderita
kanker atau AIDS yang belum ada obatnya.
Akhir-akhir ini perhatian terhadap obat alami meningkat dengan
tajam. Penelitian mengenai potensi dan khasiat obat alami pun mengalami
peningkatan. Hal ini merupakan sesuatu yang mengembirakan mengingat
potensi kekayaan alam Indonesia sangat berlimpah. Potensi obat alami
Indonesia memang melimpah seperti aneka produk jamu, mulai dari yang
digosok, ditempel, dikumur, sampai diminum, semuanya tersedia, juga encok,
pegel linu, jerawat, pelangsing, penggemuk, sampai penghancur batu ginjal,
banyak pilihan obatnya. Oleh sebab itu kita hanya menunggu kemauan
pemerintah

dan

berbagai

pihak

yang

berkepentingan

untuk

mengembangkannya agar pelayanan kesehatan tidak semata-mata tergantung


pada obat-obatan modern.

27

BAB III
PENUTUP

3.1.

Simpulan
Dalam masyarakat sendiri sebenarnya terdapat suatu dinamika yang

membuat mereka mampu bertahan dalam keadaan sakit dan hal ini sebenarnya
merupakan potensi yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan derajat
kesehatannya. Selama ini perkembangan pelayanan kesehatan tradisional dan
alternative tampak semakin pesat.
Perkembangan ini telah mendorong pertumbuhan usaha di bidang obat
tradisional, mulai dari budi daya tanaman obat, industri obat, dan distribusi.
Bahan-bahan untuk obat tradisional yang berkhasiat obat banyak terdapat
diseluruh pelosok tanah air, meskipun masih belum dimanfaatkan secara optimal
untuk pengobatan penyakit.
Obat tradisional dapat diperoleh dari berbagai sumber sebagai pembuat
atau yang memproduksi obat tradisional yaitu obat tradisional buatan sendiri, obat
tradisional berasal dari pembuat jamu (Herbalist), obat tradisional buatan industri.
Komposisi obat tradisional yang biasa diproduksi oleh industri jamu dalam bentuk
jamu sederhana pada umumnya tersusun dari bahan baku yang sangat banyak dan
bervariasi. Sedangkan bentuk obat ekstrak alam dan fitofarmaka pada umumnya
tersusun dari simplisia tunggal atau maksimal 5 macam jenis bahan tanaman obat.
Pemerintahan dalam hal ini Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan
Makanan (Dirjen POM) yang kemudian beralih menjadi Badan POM mempunyai
tanggung jawab dalam peredaran obat tradisional di masyarakat dan dalam upaya
pembinaan industri obat tradisional, pemerintah melalui Depkes telah memberikan
petunjuk pembuatan obat tradisional dengan komposisi rasional melalui pedoman
rasionalisasi komposisi obat tradisional dan petunjuk formularium obat tradisonal.

28

Sehubungan dengan mutu, kepada para pengusaha yang beregrak di


bidang industri obat khususnya obat tradisional dalam pembuatan obat harus
memenuhi persyaratan keamanan, kemanfaatan dan mutu, sesuai dengan
Keputusan

Menteri

Kesehatan

Republik

Indonesia

Nomor:

661/MENKES/SK/VII/1994.
Bentuk sediaan obat tradisional yaitu sediaan obat dalam bentuk cair,
sediaan obat dalam bentuk semisolid, sediaan obat dalam bentuk padat atau
kering. Ketepatan penggunaan obat tradisional harus memperhatikan kebenaran
bahan, ketepatan dosis, ketepatan waktu penggunaan, ketepatan cara penggunaan,
ketepatan telah informasi, tanpa penyalahgunaan, ketepatan pemilihan obat untuk
indikasi tertentu.
Kecenderungan kuat untuk menggunakan pengobatan dengan bahan alam,
tidak hanya berlaku di Indonesia, tetapi juga berlaku di banyak negara karena
cara-cara pengobatan ini menerapkan konsep back to nature atau kembali ke
alam yang diyakini mempunyai efek samping yang lebih kecil dibandingkan obatobatan modern. Mengingat peluang obat-obat alami dalam mengambil bagian
dalam sistem pelayanan kesehatan masyarakat cukup besar, obat alami perlu
dikembangkan lebih lanjut agar dapat memenuhi persyaratan keamanan, khasiat
dan mutu.
Oleh sebab itu obat tradisional yang merupakan potensi bangsa Indonesia,
mempunyai prospek untuk ikut mendayagunakan kesempatan, berperan sebagai
unsur dalam pelayanan kesehatan masyarakat, terlebih-lebih dengan adanya
kebijakan Menteri Kesehatan RI tahun 1999 untuk mengembangkan dan
memanfaatkan tanaman obat asli Indonesia untuk kebutuhan farmasi di Indonesia.

29

3.2.

Saran
1. Ikut mengembangkan potensi obat tradisional dengan memanfaatkan
ramuan herbal alami.
2. Ikut mengembangkan dalam hal penelitian obat tradisional dalam
keakuratan tentang obat tradisional, fungsi obat tradisional, keefektifan
dalam penyembuhan penyakit dan lain sebagainya.
3. Ikut pengembangan peningkatan kualitas dan
perkembangan obat tradisional.

30

kuantitas

dalam