Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN TETAP KIMIA ANORGANIK 2

REAKSI KUALITATIF ANORGANIK


Nama

: Septi Andriani

NIM

: 06101181320005

Kelompok

:3

Anggota

: 1. Andini Septi Rahayu (06101281320019)


2. Lusiana Setiawati (06101181320028)
3.Muhammad Hanadi (06101181320033)
4.Pedi Apriansyah (06101181320007)
5.Revy Anggun Quraini (06101281320007)

Dosen Pembimbing

: Drs. M. Hadeli L M,Si

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2016

I.
II.
III.
IV.

V.

Nomor Percobaan
Tanggal Percobaan
Judul Percobaan
Tujuan Percobaan
Mempelajari reaksi antara

:2
: Rabu, 3 Febuari 2016
: Reaksi Kualitatif Anorganik
:
ion logam dengan ion hidroksida dan larutan

amoniak
Dasar Teori

Kimia analisis dapat dibagi dalam dua bidang yang disebut dengan analisis kualitatif
dan analisis kuantitatif. Analisis kualitatif membahas identifykasi zat-zat. Urusannya adalah
unsur atau senyawaan apa yang terdapat dalam suatu sampel (contoh).Analisis kuantitatif
berurusan dengan penetapan banyaknya suatu zat tertentu yang ada dalam sampel.Zat yang
ditetapkan, yang sering dirujuk sebagai konst ituen yang dii nginkan atau an alit, dapat
merupakan sebagian kecil atau sebagian besar dari contoh yang dianalisis (Day dan
Underwood, 1986).
Untuk tujuan analisis kualitatif sistematik kation-kation diklasifikasikan dalam lima
golongan berdasarkan sifat-sifat kation itu terhadap beberapa reagensia. Dengan memakai
apa yang disebut reagensia golongan secara sistematik, dapat kita tetapkan ada tidaknya
golongan-golongan kation, dan dapat juga memisahkan golongan-golongan ini untuk
pemeriksaan lebih lanjut (Svehla, 1990).
Kation golongan I membentuk endapan dengan asam klorida encer. Ion-ion golongan
ini adalah timbel, merkurium(I) (raksa), dan perak. Kation golongan pertama, membentuk
klorida-klorida yang tak larut. Namun, timbel klorida sedikit larut dalam air, dan karena itu
timbel tak pernah mengendap dengan sempurna bila ditambahkan asam klorida encer kepada
suatu cuplikan; ion timbel yang tersisa itu, diendapkan secara kuantitatif dengan hidrogen
sulfida dalam suasana asam bersama-sama kation golongan kedua (Svehla, 1990).
Kation golongan II tidak bereaksi dengan asam klorida, tetapi membentuk endapan
dengan hidogen sulfida dalam suasana asam mineral encer. Ion-ion golongan ini adalah
merkurium (II), tembaga, bismut, kadmium, arsenic (III), arsenic (V), stibium (III),
stibium (V), timah (II), dan timah (III) (IV). Keempat ion yang pertama merupakan subgolongan IIA dan keenam yang terakhir sub-golongan IIB. Sementara sulfida dari kation
dalam golongan IIA tak dapat larut dalam amonium polosulfida, sulfida dari kation dalam
golongan IIB justru dapat larut (Svehla, 1990).
Kation golongan III tak bereaksi dengan asam klorida encer, ataupun dengan hidrogen
sulfida dalam suasana asam mineral encer. Namun, kation ini membentuk endapan dengan
amonium sulfida dalam suasana netral atau amoniakal. Kation-kation golongan ini adalah

kobalt (II), nikel (II), besi (II), besi (III), kromium (III), aluminium, zink, dan mangan (II)
(Svehla, 1990).
Kation golongan IV tak bereaksi dengan reagensia golongan I, II, dan III. Kation-kation
ini membentuk endapan dengan amonium karbonat dengan adanya amonium klorida, dalam
suasana netral atau sedikit asam. Kation-kation golongan ini adalah: kalsium, strontium, dan
barium. Kation-kation yang umum, yang tidak bereaksi dengan reagensia-reagensia golongan
sebelumnya, merupakan golongan kation yang terakhir, yang meliputi ion-ion magnesium,
natrium, kalium, amonium, litium, dan hidrogen (Svehla, 1990).
Dengan pemisahan-pemisahan menjadi kelompok-kelompok yang cukup kecil dan atau
kation tersendiri (terisolasi), lalu dilakukan pembuktian mengenai ada atau tidaknya kationkation dalam setiap kelompok. Dengan jalan ini, kita melakukan analisa secara sistematis.
Reaksi-reaksi disini menyebabkan terjadinya zat-zat yang baru dari zat semula dan dikenali
dari perbedaan sifat fisiknya yang antara lain :
1.

Membentuk endapan dari suatu larutan

2.

Melarutkan zat yang terbentuk padat/endapan

3.

Zat yang berwarna lain

4.

Pembentukan gas

5.

Bentuk kristal yang khas


(Harjadi, 1993).
Analisis kualitatif menggunakan dua macam uji, raksi kering dan reaksi basah. Reaksi
kering dapat diterapkan untuk zat-zat padat dan reaksi basah untuk zat dalam larutan.
sejumlah uji yang dapat dilakukan dalam keadaan kering, yakni tanpa melarutkan contoh.
Misalnya dengan pemanasan, uji pipa-tiup, uji nyala, uji spektroskopi, uji manik boraks, uji
manik fosfat, dan uji manik natrium karbonat. Reaksi basah dibuat dengan melarutkan zat-zat
dalam larutan. Suatu reaksi diketahui berlangsung
(a) dengan terbentuknya endapan
(b) dengan pembebasan gas
(c) dengan perubahan warna
Reagensia golongan yang dipakai untuk klasifikasi kation yang paling umum adalah
asam klorida, hidrogen sulfida, dan amonium karbonat serta amonium sulfida. Klasifikasi ini
didasarkan atas apakah suatu kation bereaksi dengan reagensia-reagensia ini membentuk
endapan atau tidak. Jadi boleh kita katakan bahwa klasifikasi kation didasarkan atas
perbedaan kelarutan dari klorida, sulfida, dan karbonat dari kation tersebut. Kelima golongan
kation dan ciri-ciri khas golongan-golongan ini adalah sebagai berikut:

1.

Golongan I
Kation golongan ini membentuk endapan dengan asam klorida encer. Ion-ion golongan

ini adalah timbel, merkurium (I), dan perak.


2.

Golongan II
Kation golongan ini membentuk endapan dengan hidrogen sulfida dalam suasana asam

mineral encer. Ion-ion golongan ini adalah merkurium (II), tembaga, bismut, kadnium,
arsenik (III), arsenik (IV), stibium (III), stibium (V), timah (II), dan timah (III), (IV).
3.

Golongan III
Kation golongan ini membentuk endapan dengan amonium sulfida dalam suasana netral

atau amoniakal. Kation-kation golongan ini adalah kobalt (II), nikel (II), besi (II), kromium
(III), aluminium, Zink dan Mangan.
4.

Golongan IV
Kation golongan ini membentuk endapan dengan amonium karbonat dengan adanya

amonium klorida, dalam suasana netral atau sedikit asam. Kation golongan ini adalah
kalsium, barium, dan stronsium.
5.

Golongan V
Kation-kation yang umum, yang tidak bereaksi dengan reagensia-reagensia golongan

sebelumnya, merupakan golongan kation terakhir yang meliputi ion-ion megnesium, natrium,
kalsium, amnium, litium, dan hidrogen (Svehla, 1990).
Setelah pemisahan dan deteksi kation-kation yang sistematik, pencarian terhadap anionanion haruslah dimulai. Tiosulfat umumnya tidak larut. Untuk penyelidikan anion, kita perlu
memperoleh larutan yang mengandung semua atau sebagian besar dari anion-anion itu, bebas
dari logam berat sejauh mungkin. Ini paling baik dengan jalan mendidihkan zat itu dengan
larutan natrium karbonat pekat; terjadi penguraian berganda (entah sebagian atau sempurna)
dengan menghasilkan karbonat-karboanat yang tak larut (dalam beberapa keadaan karbonat
basa dan hidroksida-hidroksidanya) dari logam-logamnya (kecuali logam alkali), dan garamgaram natrium yang larut dari anion-anionnya, yang akan masuk ke dalam larutan (Vogel,
1985).
Perak adalah logam yang putih, dapat ditempa dan liat. Rapatannya tinggi (10,5 gr ml -1)
dan ia melebur pada 960,5C. Ia tak larut dalam asam klorida , asam sulfat encer (1 M) atau
asam nitrat encer (2 M). Ia melarut dalam asam nitrat yang lebih pekat atau dalam asam sulfat
pekat. Perak membentuk ion monovalen dalam larutan yang tak berwarna. Senyawa-senyawa
perak(II) tidak stabil, tetapi memainkan peranan penting dalam proses-proses oksidasireduksi yang dikatalisiskan oleh perak. Perak nitrat mudah larut dalam air; perak asetat, perak

nitrit dan perak sulfat kurang larut, sedang semua senyawa-senyawa perak lainnya praktis
tidak larut. Tetapi kompleks-kompleks perak, larut. Halida-halida perak peka terhadap
cahaya; cirri-ciri khas ini dipakai secara luas dalam bidang fotografi (Svehla, 1990).
Dekontaminasi dengan metode oksidasi elektrokimia menggunakan mediator larutan
perak (II) atau disebut mediator Ag2+, memiliki beberapa keuntungan sebagai berikut:
peralatannya sangat kompak dan dapat diinstal di dalam glove box, kondisi pengoperasian
yang ringan di bawah tekanan normal dan suhu kamar, dan material radioaktif berada di
dalam fase cair. Dekontaminasi dengan metode oksidasi elektrokimia menggunakan mediator
Ag2+telah banyak digunakan untuk dekontaminasi limbah terkontaminasi , seperti di
Perancis telah dibangun instalasi pegolahan limbah radioaktif terkontaminasi dengan
metode oksidasi elektrokimia sejak tahun 1981 yang bertempat di Lahague, Amerika, Inggris
bahkan belakangan Jepang sudah melakukan riset tentang pengolahan limbah radioaktif
terkontaminasi dengan metode oksidasi elektrokimia secara intesif (Suwardiyono, 2010).
Preparasi larutan oligokation besi Agen pemilar dibuat dengan cara hidrolisis. Sebanyak
86,50 g FeCl3.6H2O dilarutkan dalam 1600 mL air bebas ion sambil diaduk sehingga
diperoleh larutan FeCl3 0,2 M. Larutan ini dihidrolisis dengan penambahan NaOH
(OH-/Fe3+=2,0) sampai diperoleh larutan FeCl3 dengan pH sekitar dua, kemudian larutan ini
diaduk dalam gelas beker 2000 mL selama 24 jam pada temperatur kamar (25oC). Larutan
oligomer yang diperoleh selanjutnya diperam (aging) selama 24 jam pada temperatur kamar
(Wijaya, dkk, 2004).
Penentuan Kandungan besi di dalam Na- montmorillonit dan komposit oksida besimontmorillonit Untuk penentuan kandungan Fe dalam lempung terpilar digunakan metode
analisis pengaktifan neutron (APN). Masing-masing 0,1 gram sampel Na-montmorilonit,
montmorilonit termodifikasi oksida besi dan montmorilonit termodifikasi oksida besi dengan
penambahan asam sulfat 1M, 2M, dan 3M yang masing-masing dituliskan sebagai Komposit
-1M, Komposit-2M dan Komposit-3M serta Standar Reference Material (SRM) 2704
dimasukkan ke dalam tempat sampel kemudian diradiasi selama 2 menit dan didinginkan
selama 5 menit (sebagai waktu tunda). Selanjutnya sampel dan SRM dicacah dengan alat
spektrometer gamma jenis

VI.

92x spectrum master (Wijaya, dkk, 2004).

Alat dan Bahan


Alat :
1. Tabung Reaksi
2. Rak Tabung Reaksi

Bahan
1. Larutan NaOH 2 M dan 0,5 M
2. Larutan NH3 2 M

3.
4.
5.
6.
7.
VII.

Tabung Sentrifuge
Sentrifuge
Pipet Tetes
Gelas Ukur
Botol Tetes

3. AlNO3 (0,1 M)
4. Ag+
5. Ni(NO3)
6. Akuadest
7. Larutan AgNO3 0,1 M

Prosedur Percobaan
1. Tempatkan masing-masing 5 ml larutan kation nitrat yag telah diseebutan
diatas, larutan NaOH (0,5 M), larutan Larutan NH 3 2 M dan larutan NaOH 2
M ke dalam botol tetes yang telah diberi label. Larutan-larutan tersebut akan
digunakan sebagai stok larutan untuk percobaan yang akan dilakukan.
2. Ke dalam 0,5 ml larutan AlNO3 (0,1 M) tambahkan tetes demi tetes (kira-kira
5 tetes) larutan NaOH (0,5 M). Volume NaOH (0,5 M) yang digunakan tidak
boleh lebih dari 1 ml.
3. Apabila endapan mulai terbentuk, larutan tersebut dibagi menjadi dua bagian
dan masing-masing ditempatkan dalam tabung reaksi semimikro. Kedua
tabung tersebut diletakkan dalam sentrifuge dan diputar selama 1 menit.
Pindahkan supernatant dengan pipet penjet.
a. Pada tabung pertama, tambahkan larutan NaOH 2 M ke dalam endapan
yang terbentuk (volume total jangan lebih dari 1 ml)
b. Pada tabung kedua, tambahkan larutan NH3 2 M ke dalam endapan
yang terbentuk (volume total jangan lebih dari 1 ml)
4. Ulangi langkah 2 dan seterusnya untuk larutan 0,1 M dari kation-kation : Ni 2+
dan Ag+ . Catat hasil pengamatan anda pada tabel yang terdapat pada lembar
kerja.
5. Catat kation-kation apa saja yang membentuk endapan pada penambahan
NaOH.
6. Catat katio-kation apa saja yang membentuk endapan pada penambahan
NaOH tetapi (a). Larut dalam penambahan NaOH berlebihan, (b). Larut pada
penambahan ammonium berlebihan.
7. A. Tambahkan larutan AlNO3 (0,1 M) secara perlahan-lahan ke dalam 1 ml
larutan NaOH 2 M. Catat hasil pengamatan anda
B. Tambahkan larutan AgNO3 0,1 M secara perlahan-lahan ke dalam 1 ml
larutan NaOH 2 M. Catat hasil pengamatan anda.
C. Ulangi kegiatan (a) dan (b) tetapi urutan penambahan antar reaktan dibalik.
Catat hasil pengamatan anda dan beri alasan mengapa demikian.

VIII. Data Hasil Pengamatan


1-4
No

Reaksi Ion Logam

Hasil Pengamatan

Persamaan Reaksi

0,5 ml AlNO3 (0,1 M) + 0,5 ml AlNO3 0,1 M (bening) + AlNO3 + 3NaOH


0,25 ml NaOH

0,25 ml NaOH (bening) Al(OH)3 + 3 NaNO3


larutan menjadi berwarna keruh
dan terdapat endapan.

Endapan 1 + NaOH
Endapan 2 + NH3
2

Endapannya larut
Endapannya tidak larut

0,5 ml Ag+ + 0,25 ml 0,5 ml Ag+ (bening) + 0,25 ml Ag+ + NaOH


NaOH

NaOH

(bening)

larutan AgOH + Na

menjadi warna coklat keruh dan


terdapat endapan.
Endapan 1 + NaOH
Endapan 2 + NH3

Larutan

agak

coklat

endapannya tidak larut


Larutannya
bening

dan
dan

endapannya tidak larut.


3

0,5 ml Ni(NO3) + 0,25 0,5 ml Ni(NO3) (hijau tosca) + Ni(NO3) + NaOH


ml NaOH

0,25 ml NaOH (bening) Ni(OH)3 + 3 NaNO3


larutan menjadi warna hijau tosca
pucaat dan terdapat endapan.

Endapan 1 + NaOH
Endapan 2 + NH3

Larutannya

bening

dan

endapan yang berwarna hijau


tosca tidak larut
Larutannya
bening

dan

endapan yang berwarna hijau


tosca tidak larut
4

0,25 ml AlNO3 (0,1 M) 0,25 ml AlNO3 (0,1 M) (bening) + AlNO3 + NaOH


+ NaOH 1 ml

NaOH

larutannya

ml

(bening)

bening

dan

Al(OH)3 + 3NaNO3
ada

gumpalan putih yang mengapung.


0,25 ml AgNO3 + 1 ml 0,25 ml AgNO3 (bening) + 1 ml AgNO3 + NaOH
NaOH

NaOH
berubah

(bening)
warna

terdapat endapan

coklat

larutan Ag(OH)3 + 3NaNO3


dan

0,4 ml NaOH + 1 ml 0,4 ml NaOH

(bening)+ 1 ml NaOH + AlNO3

AlNO3 (bening) larutannya Al(OH)3 + 3NaNO3

AlNO3

bening dan ada gumpalan putih


0,2 ml NaOH + 1 ml yang mengapung
AgNO3
0,2 ml NaOH (bening) + 1 ml NaOH + AgNO3
AgNO3

(bening)

menjadi

warna

larutan Ag(OH)3 + 3NaNO3

coklat

dan

terdapat endapan
5. Kation-kation yang membentuk endapan pada penambahan NaOH yaitu : Ag+, Al3+
6. a. Kation kation yang membentuk endapan pada penambahan NaOH tetapi larut dalan
NaOH berlebih yaitu : Al3+
b. Kation kation yang membentuk endapan pad penambahan NaOH tetapi larut dalam
NH3 berlebihan yaitu : Ag+
7. a. Penambahan 0,1 M Al(NO3)3 tetes demi tetes kedalam 2 M NaOH 1 M , hasil
pengamatan dan persamaan ionik : NaOH yang ditambah Al (NO 3) 3 pada larutan
seperti berminyak dan tidak ada eda endapan yang terbentuk.
Al (NO3) 3 + 3 NaOH Al (OH3) + NaOH

7.b. Urutan penambahan reaktan antara Al3+ dengan NaOH dibalik maka hasilnya :
Ion logam
Al3+

Pengamatan
Larutan Al (NO3) + NaOH

Persamaan Reaksi
Al (NO3)(aq) + NaOH (aq) Al

(bening)

(OH3) + NaNO3

Larutan

(bening)
bercampur

tidak

berubah warna
Ag+

Larutan AgNO3 + NaOH

AgNO3 (aq) + NaOH (aq) Ag2O

(bening)

(s) + NaNO3

(bening)

Menghasilkan
bewarna

larutan

kecoklatan

dan

terdapat endapan berwarna


coklat
Pertanyaan : Kation mana yang menghasilkan reaksi kimia berbeda jika urutan penambhan
raktan diubah (dibalik), demikian juga untuk ion-ion pada kegiatan 5 (harap
diulang untuk memperoleh konfirmasi )
Jawaban : Ag+

IX.

Persamaan Reaksi

Aluminium

Al3+(aq) + OH-(aq) Al (OH)3 (s)


Al3+ (aq) + NH3(aq) + 3H2O(l) Al(OH) 3 (s) + 3 NH4+ (aq)
Al(OH) 3 (s) + 3OH-(aq) [Al (OH)4]- (aq)
[Al (OH)4]- (aq) + NH4+ (aq) Al(OH) 3 (s) + NH3(aq) + H2O(l)
[Al (OH)4]- (aq) + H+ Al(OH) 3 (s) + H2O(l)
Al(OH) 3 (s) + 3H+ Al3+ (aq)+ 3H2O(l)

Perak
2 Ag+(aq) + 2OH-(aq) Ag2O (s) + H2O(l)
2 Ag+(aq) + 3NH3(aq) + H2O(l) Ag2O (s) + 2NH4+ (aq)
Ag2O (s) + 3NH3(aq) + H2O(l) 2 [Ag (NH3) 3 ]+ + H2O(l)
X.

Pembahasan
Pada percobaan kali ini, praktikan melakukan percobaan tentang reaksi

kualitatif anorganik yang bertujuan untuk mempelajari reaksi antara ion logam dengan
ion hidroksida dan larutan amoniak.
Pada uji untuk reaksi alluminium senyawa yang praktikan gunakan ialah AlNO 3
yang direaksikan dengan larutan NaOH menjadikan warna larutan yang awalnya bening
menjadi keruh, hal ini dikarenakan campuran larutan tersebut membentuk gel yang tidak
berwarna artinya gelatin Al(OH)3 yang sedikit larut pada reagensia yang berlebih.
Kelarutan kemudian berkurang karena adanya garam-garam ammonium yang disebabkan
oleh efek ion sekutu. Sebagian kecil endapan akan masuk ke dalam larutan alluminium
hidroksida koloid (sol aluminium hidroksida) yang berkoagulasi pada pendidihan atau
pada penambahan garam-garam yang larut dengan menghasilkan gelatin aluminium
hidroksida. Untuk mendapatkan pengendapan yang sempurna dengan tambahan

aluminium sedikit berlebih maka campuran tersebut haruslh dipaaskan sampai larutan
campuran tersebut menghasilkan bau amonia, jika baru diendapkan larutannya akan
mudah larut dalam asam kuat dan basa kuat tetapi jika dididihkan akan menjadi sedikit
larut (Vogel : 266-267). Endapan yang terbentuk ketika dilarutkan dengan NH 3 tidak
terjadi perubahan atau endapannya tidak larut hal ini dikarenakan pengendapan
aluminium oleh larutan hidroksida dan amonia tak akan terjadi bila ada serta asam
tartarat, asam sitrat, asam sulfosalsilat, asam malat, gula dan lain-lain senyawa hidroksi
organik. Karena pembentukan garam-garam kompleks yang larut. Maka zat-zat organik
ini harus diuraikan dengan pemisahan perlahan-lahan atau dengna menguapkan dengan
asam sulfat pekat atau asam nitat pekat sebelum aluminium dapat diendpkan dalam
pengerjaan anaisis kualitatif yang biasa (vogel : 267). Sedangkan jika dilarutkan dengan
NaOH maka endapannya akan menjadi larut.
Sedangkan

untuk

senyawa

perak

yang

ditambahkan

NaOH

akan

mengahsilakan larutan yang berwarna coklat dan terdapat endapan. Endapan yang diuji
dengan menggunakan NaOH tidak larut begitu pun juga dengan larutan ammoniak
endapannya juga tidak larut. Padahal seharusnya jika endapan ditambahkan dengan
larutan amoniak maka endapan akan berwarna coklat tapi disini kami mendapatkan hasil
bahwa endapannya berrwarna bening. Kesalahan ini terjadi dikarenakan kekurang
telitiannya praktikan dalam melakukan prosedur praktikum ataupun dari kesalahan dalam
pembuatan bahan untuk praktikum.
Untuk senyawa ion nikel dengan tambahan NaOH didapatkan hasil
terdapatnya endapan dan larutannya menjadi hijau tosca pucat. Ketika endapannya
dilarutkan dengan NaOH dan juga larutan ammoniak maka hasilnya endapan tidak larut
pada kedua larutan tersebut.

XI.

Kesimpulan
1.

Reaksi perak dengan amonium akan terbentuk larutan berwarna coklat


endapan larut dalam reagensia berlebihan dan akan terbentuk ion kompleks

2.

diaminoargentat
Reaksi perak (perak nitrat / AgNO3 ) dengan natrium hidroksida (NaOH)

3.

endapannya tidak larut


Reaksi aluminium dalah hal ini menggunakan alumnium nitrat dengan
natrium hidroksida (NaOH 0,5 M) terbentuk seperti gel yang tidak berwarna.

4. Kelarutan akan berkurang dengan adanya garam-garam ammonium yang


disebabkan dengan efek sekutu.
5. Endapan putih aluminium dari reaksi antara aluminum dan natrim hidroksida
dapat

melarut

dalam

reagensia

berlebih,

yang

mana

ion-ion

Kualitatif.

(online)

tetrahidroksoaluminat terbentuk [ Al (OH) 4]

XII.

Daftar Pustaka
Charly,

Hendra.

2013.

Laporan

Kimia

Analisis

http://hendracharlyskunda4nt1sk1tht1wn1t4029.blogspot.co.id/2013/0
6/laporan-kimia-analisis-kualitatif.html. diakses pada tanggal 7 Febuari
2016
Gulo, Fakhili dan Desi. 2014. Panduan Praktikum Kimia Anorganik 2. Unsri :
Han,

Inderalaya
Mustofa.
2012.

Analisis

Kualitatif

Anorganik

(online)

https://www.academia.edu/10118135/analisis_kualitatif_anorganik
diakses pada tanggal 7 febuari 2016
XIII. Lampiran