Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Pada masa sekarang ini Indonesia masih menghadapi berbagai kendala
dalam pembangunan sumber daya manusia (SDM) khususnya dalam bidang
kesehatan. Kendala tersebut tampak antara lain dari masih tingginya kelahiran
dan kematian neonatal. Setiap tahun diperkirakan ada sejumlah 4.608.000 bayi
dilahirkan dan 100.454 diantanya ternyata meninggal dunia pada masa
neonatal atau sebelum usia 1 bulan. Dengan kata lain setiap 5 menit satu bayi
meninggal di Indonesia oleh bebagai sebab. ( Buku Panduan Manajemen
Masalah Bayi Baru Lahir,2003:41)
Bayi baru lahir merupakan hasil konsepsi yang baru keluar dari rahim
seorang ibu melalui jalan lahir normal atau dengan cara pembedahan. Pada
umumnya kelahiran bayi biasanya di ikuti oleh beberapa perubahan yang
terjadi setelah kelahiran seperti perubahan pernafasan , perubahan jantung dan
sirkulasi, perubahan system digestivus, perubahan system perkemihan dan
berat badan.
Mengingat tingginya angka kematian melahirkan, tingginya angka
kesakitan dan untuk dan untuk meningkatkan derajat kesehatan khususnya
pada bayi baru lahir maka oleh penulis sangat tertarik mengambil kasus yang
berjudul Asuhan keperawatan bayi baru lahir.

1.2
1.
2.
3.
4.
5.
6.
1.3
1.
2.
3.
4.

Rumusan Masalah
Apa pengertian bayi baru lahir ?
Apa ciri ciri bayi baru lahir ?
Bagaimana perubahan terjadi bayi baru lahir ?
Kapan periode masa transisi pada bayi baru lahir ?
Bagaimana Penanganan bayi baru lahir ?
Bagaimana Asuhan Keperawatan bayi baru lahir ?
Tujuan Pembahasan
Untuk mengetahui definisi bayi baru lahir
Untuk mengetahui ciri-ciri bayi baru lahir
Untuk mengetahui perubahan terjadi bayi baru lahir
Untuk mengetahui periode masa transisi pada bayi baru lahir
1

5. Untuk mengetahui penanganan bayi baru lahir


6. Untuk mengetahui Asuhan Keperawatan bayi baru lahir

BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1 Bayi Baru Lahir
Bayi Baru Lahir (BBL) normal adalah bayi yang lahir dari kehamilan 37
minggu sampai 42 minggu dan berat badan lahir 2500 gram sampai dengan
4000 gram. (Depkes RI, 2005).
Bayi baru lahir adalah bayi dari lahir sampai usia 4 minggu (Nurhayati,
dkk, 2008).
Bayi baru lahir normal adalah berat lahir antara 2500 4000 gram, cukup
bulan, lahir langsung menangis, dan tidak ada kelainan congenital (cacat
bawaan) yang berat (Kosim, 2007).
2.2

Ciri Ciri Bayi Normal


2

a.
b.
c.
d.
e.

Berat badan 2500-4000 gram


Panjang badan lahir 48-52 cm
Lingkar dada 30-38 cm
Lingkar kepala 33-35 cm
Frekuensi jantung 180 denyut/menit, kemudian menurun sampai 120-

140 denyut/menit
f. Pernapasan pada beberapa menit pertama cepat, kira-kira 80x/menit,
kemudian menurun setelah tenang kira-kira 40x/menit
g. Kulit kemerah-merahan dan licin karena jaringan subkutan cukup
terbentuk dan diliputi verniks kaseosa
h. Rambut lanugo tidak terlihat, rambut kepala biasanya telah sempurna
i. Kuku agak panjang dan lemas
j. Genetalia: labia mayora sudah menutupi labia minora (para
perempuan), testis sudah turun (pada anak laki-laki)
k. Reflek isap dan menelan sudah terbentuk dengan baik
l. Reflek moro sudah baik, jika terkejut bayi akan memperlihatkan
gerakan tangan seperti memeluk
m. Eliminasi, baik urine dan mekoneum akan keluar dalam 24 jam
pertama.
2.3 Perubahan-Perubahan yang Terjadi Pada BBL
1. Perubahan pernafasan/ pada sistem pernafasan
Selama dalam uterus, janin mendapat oksigen dari pertukaran gas
melalui placenta. Setelah bayi lahir harus melalui paru-paru bayi
pernafasan pertama pada BBL terjadi normal dalam waktu 30 detik.
Setelah kelahiran tekanan rongga dada bayi pada saat melalui jalan
lahir pervagina mengakibatkan cairan paru-paru (pada bayi normal
jumlahnya 80 100 ml). kehilangan 1/3 dari jumlah cairan tersebut
sehingga cairan yang hilang ini diganti dengan udara. Pernafasan pada
neonatus terutama pernafasan diafragmatik dan abdominal dan
biasanya masih tidak teratur frekwensi dan dalamnya pernafasan.
Bayi itu umumnya segera menangis sekeluarnya dari jalan lahir.
Sebagai sebab-sebab yang menimbulkan pernafasan yang pertama,
dikemukakan:
a. Rangsangan pada kulit bayi.
3

b. Tekanan pada thorax sebelum bayi lahir.


c. Penimbunan CO2
d. Setelah anak lahir kadar CO2 dalam darah anak naik dan ini
merupakan rangsangan pernafasan.
e. Kekurangan O2
f. Pernafasan intrautrin
g. Anak sudah mengadakan pergerakan pernafasan dalam rahim,
malahan sudah menangis dalam rahim. Pernafasan di luar hanya
merupakan lanjutan dari gerakan pernafasan di dalam rahim.
h. Pemeriksaan bayi
i. Kebanyakan anak akan mulai bernafas dalam beberapa detik
setelah lahir dan menangis dalam setengah menit.
2. Perubahan metabolisme karbohidrat/glukosa
Fungsi otak memerlukan glukosa dalam jumlah tertentu. Dengan
tindakan penjepitan tali pusat dengan klem pada saat lahir seorang bayi
harus mulai mempertahankan kadar glukosa darahnya sendiri.
Pada setiap bayi baru lahir glukosa darah akan turun dalam waktu
cepat (1-2 jam). Koreksi penurunan gula darah dapat terjadi dengan 3
cara:
a. Melalui penggunaan ASI (bayi baru lahir sehat harus didorong
untuk menyusu ASI secepat mungkin setelah lahir).
b. Melalui penggunaan cadangan glikogen (glikogenolisis).
c. Melalui pembuatan glukosa dari sumber lain terutama lemak
(glukoneogenesis).
3. Perubahan suhu tubuh
Bayi baru lahir belum dapat mengatur suhu tubuh mereka, sehingga
akan

mengalami

stres

dengan

adanya

perubahan-perubahan

lingkungan.
Bayi baru lahir dapat kehilangan panas melalui:
- Evaporasi : cairan menguap pada kulit yang basah.
- Konduksi : kehilangan panas oleh karena kulit bayi berhubungan
langsung dengan benda/alat yang suhunya lebih dingin.

- Konveksi : terjadi bila bayi telanjang di ruang yang relatif dingin


(25oC atau kurang)
- Radiasi adalah kehilangan panas karena tubuh bayi yang lebih
panas menyentuh permukaan yang lebih dingin.
4. Perubahan pada sistem kardiovaskuler
Pada sistem kardiovaskuler harus terjadi 2 perubahan besar, yaitu:
a. Penutupan foramen ovale atrium jantung.
b. Penutupan duktus afteriosus antara arteri paru dan aorta.
Dua peristiwa yang mengubah tekanan dalam sistem pembuluh:
a. Pada saat tali pusat dipotong, resistensi pembuluh darah meningkat
dan tekanan atrium kanan menurun. Tekanan atrium kanan
menurun karena berkurangnya aliran darah ke atrium kanan yang
mengurangi volume dan selanjutnya tekanannya. Kedua kejadian
ini membantu darah dengan kandungan oksigen sedikit mengatur
ke paru-paru untuk mengalami proses oksigenasi ulang.
b. Pernafasan pertama menurunkan resistensi pembuluh paru dan
meningkatkan tekanan atrium kanan. Oksigen pada pernafasan
pertama ini menimbulkan relaksasi dan terbakarnya sistem
pembuluh baru. Dengan peningkatan tekanan pada atrium kiri
foramen ovale secara fungsi akan menutup.
i. Perubahan sistem gastrointestinal, ginjal
Kemampuan bayi baru lahir cukup bulan untuk menelan dan
mencerna makanan masih terbatas, juga hubungan antara
osephagus bawah dan lambung masih belum sempurna yang
mengakibatkan gumoh pada bayi baru lahir dan bayi muda.
Kapasitas lambung sendiri sangat terbatas kurang dari 30 cc.
Feses pertama bayi adalah hitam kehijauan, tidak berbau,
substansi

yang

kental

disebut

mekonium.

Faeces

ini

mengandung sejumlah cairan amnion, verniks, sekresi saluran


pencernaan, empedu, dan zat sisa dari jaringan tubuh.
Pengeluaran ini akan berlangsung sampai hari ke 2-3. pada hari
ke 4-5 warna tinja menjadi coklat kehijauan.
Air kencing. Bila kandung kencing belum kosong pada waktu
lahir, air kencing akan keluar dalam waktu 24 jam yang harus
5

dicatat adalah kencing pertama, frekuensi kencing berikutnya,


serta warnanya bila tidak kencing/menetes/perubahan warna
kencing yang berlebihan.
ii. Perubahan berat badan
Dalam hari-hari pertama berat badan akan turun oleh karena
pengeluaran (meconium, urine, keringat) dan masuknya cairan
belum mencukupi. Turunnya berat badan tidak lebih dari 10%.
Berat badan akan naik lagi pada hari ke 4 sampai hari ke 10.
Cairan yang diberikan pada hari 1 sebanyak 60 ml/kg BB setiap
hari ditambah sehingga pada hari ke 14 dicapai 200 ml/kg BB
sehari.
iii. Sistem skeletal
Tulang-tulang neonatus lunak karena tulang tersebut sebagian
besar terdiri dari kartilago yang hanya mengandung sejumlah
kecil kalsium.
iv. Neoromuskular
Pada saat lahir otot bayi lambat dan lentur, otot-otot tersebut
memiliki

tonus

kemampuan

untuk

berkontraksi

ketika

dirangsang, tetapi bayi kurang mempunyai kemampuan untuk


mengontrolnya. Sistem persarafan bayi cukup berkembang
untuk bertahan hidup tetapi belum terintegrasi secara sempurna
(Anonim: 2004).
2.4 Periode Masa Transisi pada Bayi Baru Lahir
a. Periode Pertama Reaktivitas
Periode pertama reaktivitas berakhir kira-kira 30 menit setelah kelahiran
dengan karakteristik ;
1. Tanda-tanda vital bayi baru lahir sebagai berikut : frekuensi nadi
apical yang cepat dengan irama yang tidak teratur . frekuensi
pernafasan mencapai 80 kali/menit , irama tidak teratur beberapa bayi
mungkin dilahirkan dengan keadaan pernapasan cuping hidung ,
ekspirasi mendengkur serta adanya retraksi.
2. Fluktuasi warna dari merah jambu pucat ke sianosis
6

3. Bising usus biasanya tidak ada bayi biasanya tidak berkemih ataupun
mempunyai pergerakan usus, selama periode ini.
4. Bayi baru lahir mempunyai sedikit jumlah mucus , menagis kuat ,

reflex mengisap yang kuat . Tip khusus : selama periode ini, mata bayi
terbuka lebih lama , daripada hari-hari selanjutnya . Saat ini adalah
waktu yang paling baik untuk memulai proses proses periode pelektan
karena bayi baru lahir dapat mempertahankan kontak mata untuk
waktu yang lama.
Kebutuhan perawatan Khusus selama Periode Pertama Reaktivitas :
1. Kaji dan pantau frekuensi jantung dan pernapassan , setiap 30 menit
pada 4 jam pertama setelah kelahiran.
2. Jaga bayi agar tetap hangat (suhu diaksila/kulit berkisar antara
36,5oCdan 37oC)dengan penggunaan selimut hangat atau lampu
penghangat diataas kepala .
3. Tempatkan ibu dan bayi bersama sama kulit ke kulit, untuk
memfasilitasi perlekatan.
4. Tunda pemberian obat tetes mata sebagai profilaksis pada 1 jam
pertama untuk mengkatan interaksi antara orangtua bayi.
b. Fase Tidur
Fase tidur dimulai kira-kira 30 menit setekah periode ertama reaktifitas, dan
bisa berakhir dari satu menit sampai 2-4 jam.
Karakteristik
1. Saat bayi berada pada fase tidur , frekuensi jantung dan perna pasan
menurun. Selama tidur,frekuensi pernafasan dan nadi apical kembali ke
nialai dasar.
2. Kestabilan warna kulit ; terdapat beberapa arosianosis.Bising usus bisa
didengar.

Kebutuhan perawatan yang khusus diperlukan selama fase tidur : bayi


tidak berespon terhadap stimulus eksternal , tetapi bapak dan ibu tetap
dapat menikmati memeluk dan mengendong bayinya.
c. Periode kedua Reaktivitas
Periode kedua reaktivitas berakhir sekitar 4-6 jam dengan karakteristik.:
1. Bayi mempunyai tingkat sensisitivitas tinggi terhadap stimulus internal
dan lingkungan .kisaran frekuensi nadi apical dari 120 sampai 160 kali/
menit dan dapat bervariasi mulai (<120 kali/menit) hingga takikardia
(>160 kali/menit). Frekuensi pernafasan berkisar dari 30 hingga 60 kali/
menit, dengan periode pernafasan yang lebih cepat ,tetapi pernapasan
tetap stabil (tidak ada pernapasan cuping hidung ataupun retraksi).
2. Fluktuasi warna kulit dari warna merah jambu atau kebiruan

ke

sianotik ringan disertai dengan bercak-bercak.


3. Bayi kerapkali berkemih dan mengeluarkan mekonium selama periode
ini.
4. Peningkatan sekresi mucus dan bayi bisa bersedak saat sekresi. Refleks
pengisapan sangat kuat , dan bayi bisa sangat aktif.
Kebutuhan Perawatan Khusus Periode Kedua Reaktivitas :
1. Pantau secara keta bayi baru lahir terhadap kemungkinan tersedak saat
pengeluaran mucus yang berlebihan yang dalam keadaan normal
memang terdapat . gunakan pipet untuk mengeluarkan mucus dan ajari
orang tua bagaimana cara menggunakannya
2. Pantau setiap kejadian apnea dan muli metode stimulasi segera, jika
dibutuhkan (misalnya : hentakan punggung bayi , miringkan bayi).
3. Kaji keinginan bayi untuk (mengisap. Menelan), dan kemampuan untuk
kemampuan untuk makan (tidak tersedak atau muntuh selama makan,
tidak muntah dengan makanan masih dalam bentuk utuh, pada saat
makan).

2.5 Penatalaksanaan Bayi Baru Lahir


1. Membersihkan jalan nafas dan sekaligus menilai APGAR menit pertama
Segera setelah bayi lahir, bersihkan jalan nafas bayi dengan cara
mengusap

wajahnya

dengan

kain

bersih

dengan

kassa

untuk

mempersihkan darah dan lender dari wajah bayi. Pada umumnya, bayi
yang cukup bulan per Vagina tidak mengalami kesulitan untuk
membersihkan jalan nafasnya. Kebanyakan sekresi bergerak sesuai dengan
gaya grafitasi dan dibawa keorofaring (jalan nafas bagian atas) akibat
reefleks batuk untuk dikeluarkan atau ditelan. Maka dari itu, apabila bayi
baru alahir segera dapat bernafas secara spontan atau segera menangis,
tidak direkomendenasikan lagi melakukan penghisapan secara rutin pada
bayi baru lahir karena hal ini dapat membahayakan bayi tersebut.
(Nurhayati, dkk,2008)
Nilai APGAR
Tanda

Pemeriksaan

Appearance/

Inspeksi

Biru/pucat

Badan

seluruh tubuh

ekstremitas biru

Tidak terdengar

< 100 x/menit

> 100 x/menit

Menyeringai

Menangis

Fleksi

keras
Gerak aktif

warna kulit
Pulse/

Auskultasi

frekuensi

jantung

jantung
Grimace/

Menghisap

reflek iritabily
Activity/

rangsang lain
Inspeksi

atau Tidak ada respon


Lemah

tonus otot

2
merah, Semua merah

ekstremitas

Respiration/pe Inspeksi

Tidak ada gerakan Menangis

rnafasan

pernafasan

lemah
merintih

Gerakan
atau pernafasan
kuat/ menangis
kuat

Apabila nilai Apgar


7-10 : Bayi mengalami asfiksia ringan atau dalam keadaan normal
9

4-6 : Bayi mengalami asfiksia sedang


0-3 : Bayi mengalami asfiksia berat
Apabila ditemukan skor APGAR di bawah 6, bayi membutuhkan
tindakan resusitasi.
2. Mencegah perlepasan panas pada bayi baru lahir
Mempertahkan suhu tubuh bayi dengan cara mencegah perlepasan
panas yang berlebihanpada bayi baru lahir adalah sebagai berikut
- Mengeringkan tubuh bayi seluruhnya dengan selimut atau handuk
-

yang hangat dan bersih


Membungkus bayi, terutama bagian kepala bayi dengan seimut hangat

dan kering.
Mengganti semua handuk yang basah
Tetap bungkus bayi sewaktu menimbang bayi
Buka pembungkus bayi hanya pada daerah yang diperlukan saja
Sediakan lingkungan yang hangat dan kering bagi bayi baru lahir
Atur suhu ruangan atas kebutuhan bayi untuk memperoleh lingkungan

yang lebih hangat


Letakkan bayi diatas perut ibu supaya mereka dapat bersentuhan kulit
ke kulit sambil menyelimuti keduanya dengan selimut yang kering dan

hangat
Hindari memandikan bayi hingga sedikitnya 6 jam tidak terdapat

masalah dan jika suhu bayi berada pada 36,5 celcius atau lebih.
3. Mengklem dan memotong tali pusar
Pemotongan tali pusat menyebabkan pemisahan fisik terakhir
antara ibu dan bayi, tali pusat dipotong sebelum dan sesudah plasenta lahir
tidak akan mempengaruhi bayi, kecuali apabila bayi tidak menangis, maka
tali pusat segera dipotong untuk memudahkan melakukan reusitasi.
Tali pusat diklem dengan klem steril dengan jarak 3 cm dari tali
pusat bayi lakukan pengarutan pada tali pusat dari ke klem ke arah ibu,
dan kemudian pasang klm kedua pada sisi ibu 2 cm dari klem pertama,
pegang tali pusat diantara kedua klem tersebut dengan tangan kiri
sedangkan tangan kanan memotong tali pusat diantara kedua klem dengan
gunting tali pusat steril, kemudian ikat puntung tali pusat sekitar 1 cm dari
pusat bayi dengan menggunakan benang steril atau penjepit tali pusat, lalu
pengikat kedua dengan simpul kunci dibagian tali pusat pada sisi-sisi yang
10

berlawanan atau pengikatan dapat pula menggunakan klem tali pusat dari
plastik luka tali pusat dibersihkan dan dirawat dengan alkohol 70% serta
dibaluk kassa steril. Pembalut tersebut diganti setiap hari dan setiap tali
pusat basah/kotor. Atau juga bisa menggunakan triplel T (larutan berwarna
biru) tanpa dibalut oleh kasa steril. Tali pusat harus dipantau dari
kemungkinan terjadinya perdarahan tali pusat.
4. Meletakkan bayi pada payu sedini mungkin
Kontak kulit ke kulit antar ibu dan bayi ini sangat penting untuk
beberapa alasan yaitu :
a. Kehangatan dada ibu dapat menghangatkan bayi, sehingga apabila bayi
diletakkan di perut dan dada ibunya segera setelah lahir dapat
menurunkan resiko hipotermi dan menurunkan kematian akibat
kedinginan.
b. Saat bayi diletakan di dada ibu, bayi akan merasakan getaran cinta
yaitu merasakan ketenangan , merasa dilindungi dan kuat secara psikis.
Bayi akan lebih tenang dan mengurangi stress, maka pernafasan dan
detak jantungnya pun lebih stabil.
c. Secara fisiologis skin to skin contact merangsang ibu dan bayi untuk
kenal satu sama lain.
d. Setelah lahir, bayi kulitnya menjadi tempat bakteri berkoloni; hal ini
menguntungkan karena bakteri tersebut masuk kedalam kontak dengan
bakteri kulit ibu bayi yang tidak berbahaya sehingga kulit bayi tidak
dikolonisasi oleh bakteri pemberi perawatan atau dari rumah sakit.
e. Dengan mengupayakan bayi menyusu secara dini, bayi akan
mendapatkan kolostrum yaitu berupa cairan emas yang kaya akan
antibody dan sangat penting untuk pertumbuhan usus dan ketahanan
terhadap infeksi yang sangat dibutuhkan bayi demi kelangsungan
hidupnya.
f. Bayi yag diberi kesempatan menyusu dini sedini mungkin akan
mempunyai kesempatan lebih berhasil menyusu eksklusif dan
mempertahankan menyusu daripada yang menunda menyusu dini.
g. Kemudian sentuhan, kuluman/ hisapan dan jilatan bayi pada putting
ibu akan merangsangoksitosin yang penting agar :

11

Menyebabkan rahim kontraksi yang membantu pengeluaran

plasenta dan mengurangi perdarahan.


Merangsang hormone lain, yang embuat ibu menjadi tenang, rileks

dan mencintai bayinya.


- Merangsang pengaliran ASI dari payudara ibu.
5. Memberikan vitamin K
Untuk mencegah perdarahan karena defesiensi vitamin K maka setiap bayi
yang baru lahir normal dan cukup bulan perlu diberi vitamin K peroral 1
mg/hari selama 3 hari, sedangkan bayi resiko tingi diberi vitamin K
parenferal dosis 0,5 1 mg (1 M).
6. Memberi obat salep/tetes mata
Tetes mata/salep antibrotika yang diberi dalam waktu 2 jam pertama
setelah kelahiran. Obat yang diberikan berupa tetes mata (larutan perat
nitrat 1%) atau salep (salep mata eritromisin 0,5%) salep/tetes mata yang
diberikan dalam 1 garis lurus, mulai dari bagian mata yang paling dekat
dengan hidung bayi menuju bagian luar mata.

12

BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PADA BAYI
BARU LAHIR NORMAL
I. PENGKAJIAN
Tanggal: .
Jam

:..

Tempat :
1.

Data Subyektif
1.1

Biodata
a. Identitas Bayi
Meliputi nama bayi, tanggal lahir , jenis kelamin , umur ,
alamat.
b. Identitas Ibu
Meliputi nama , umur, alamat , pekerjaan, pendidikan , agama,
c. Identitas Ayah
Meliputi nama , umur, alamat , pekerjaan, pendidikan , agama,

1.2

Keluhan utama
Kondisi yang diderita bayi pada saat ini

1.3

Riwayat pre natal


Anak keberapa, riwayat kehamilan yang mempengaruhi BBL adalah
kehamilan yang tidak ada komplikasi seperti DM, hepatitis, jantung,
asma, HT, TBC, frekuensi ANC, dimana keluhan-keluhan selama
hamil, HPHT dan kebiasaan-kebiasaan ibu selama hamil.

1.4

Riwayat Natal
Berapa usia kehamilan, waktu jam persalinan, jenis persalinan, lama
kala I, lama kala II, BB bayi, PB bayi, denyut nadi, respirasi, suhu,
bagaimana ketuban, ditolong oleh siapa, komplikasi persalinan dan
bagaimana keadaan BBL mengenai APGAR SKOR

13

1.5

1.6

Riwayat post natal


-

Observasi TTV

Keadaan tali pusat

Apakah telah diberi injeksi vit. K

Minum ASI/PASI, berapa cc tiap berapa jam

Kebutuhan dasar
a. Pola nutrisi
Setelah bayi lahir segera susukan pada ibunya, apakah ASI
keluar sedikit, kebutuhan minum hari pertama 60 cc/kg bb,
selanjutnya ditambah 30 cc/kg bb untuk hari berikutnya.
b. Pola eliminasi
Proses pengeluaran defekasi dan urine terjadi 24 jam pertama
setelah lahir, konsistensi agak lembek, warna hitam
kehijauan, diperiksa juga warna urine normalnya kuning.
c. Pola istirahat
Pola tidur normal bayi baru lahir 14 18 jam/hari
d. Pola aktivitas
Pada bayi seperti menangis, BAK, BAB serta memutar
kepala untuk mencari puting susu.

2.

Data Obyektif
2.1

Pemeriksaan fisik umum


Keasadaran

: composmentis

Suhu

: normal (36,5oC 37oC)

Pernafasan

: normal (30 50 x/menit)

Heart rate

: normal (120 x/menit 160 x/menit)

BB

: normal (2500 4000 gram)

PB

: antara 45 53 cm

Lingkar kepala

: normal 35 cm

14

2.2

Pemeriksaan fisik
Kepala

: bulat , simetris

Wajah

: ukuran kecil, bentuk budar,simetris ,

bantalan lemak pada pipi, dagu mundur kebelakang


-

Mata

: kelopak mata edema , biasanya tertutup ;

biru atau ke abu-abuan ; tidak ada air mata ; pupil sama


bundar , bereaksi ada cahaya ,nistakmus ringan atau
strabismus konvergen kadang-kadang
-

Hidung

: lubang simetris, bersih, tidak ada sekret,

septum utuh berada ditengah-tengah.


-

Mulut

: reflek menghisap baik, bibir, gusi ,palatum

utuh , lidah sesuai dengan ukuran mulut .


-

Telinga

: simetris, kartilago terbentuk dengan baik

sesuai dengan kepala ,


Leher

: rentang geruk penuh, tidak ada pembesaran kelenjar


thyroid, pembesaran bendungan vena jugularis.

Dada

: simetris, prosesus xifoid menonjol, tidak ada retraksi


dada

Bunyi nafas

:keras , bronchial, secara bilateral sama


Bunyi jantung

:frekuensi dan irama

teratur, bunyi jantung pertama dan bunyi


jangtiung ke dua bersih dan berbeda
Abdomen

: Simetris, tidak ada massa

Hati

: teraba 2-3 cm di bawah batas iga kanan

Limpa

: ujung dapat teraba di kuadran atas kiri

Ginjal

: dapat teraba setinggi umbilicus

Nadi femoralis

: secra bilateral sama

Umbilicus

: tidak ada penonjolan yang ekstensif atau


herniasi; tidak ada tanda-tanda infeksi tali
pusat putih kebiruan, lembab hitam,

15

kering; memiliki 3 pembuluh darah; tidak


ada perdarahan.
Genetalia
- Perempuan

: sesuai dengan jenis kelamin


: labia mayora menutupi labia minora, vagina

rabas lender, kemungkinan bersemu darah.


- Laki-laki

: kulup melekat pada glands penis, lubang

uretra pada ujung penis, testis dapat dirba pada tiap kantong
skrotum.
- Anus
Esktremitas
-

Jari-jari

:tidak terdapat atresia ani


: ukuran,bentuk, dan gerakan simetris.
: berjumlah lima pada masing-masing tangan

dan kaki, ukuran dan bentuk sesuai.


-

Panggul

: panjang lengan, tinggi lutut, lipatan gluteal

sama; tidak ada tahanan atau batasan abduksi.


-

Kaki

: lurus, atau defiasi postural mudah dikoreksi

dengan tekanan lembut.

16

2.3

Pemeriksaan neurologis
Refleks
Menghisap

Cara Merangsang
Respon Bayi
(dan Sentuh bibir , pipi Bayi menoleh

membuka mulut )

Menelan

atau

sudut

mulut stimulus

,
,

kearah
membuka

dengan putting

mulut

Beri bayi dan minum

putting dan menghisap


Otot otot tenggorokan
menutup

memasukkan

trachea

membuka

dan

esophagus

ketika minum air berada


Moro (Terkejut)

dalam mulut
Gendong bayi dalam Rangsangan
posisi

mendadak

setengah menyebabkan

duduk

kepala

dan

jatuh

ke

dengan

lengan

biarkan terangkat ke atas dan ke


badan bawah , terkejut dan rileks

belakang dengan lambat

sudut

30,

tempatkan bayi pada


permukaan
rata

permukaan
Tonus leher

yang
hentakan
untuk

mengejutkan bayi
Putar kepala bayi

Bila bayi menghadap

dengan cepat ke arah kesisi kanan , lengan dan


satu sisi pada saat kaki pada sisi tersebut
bayi

jatuh

tertidur akan lurus. Sementara ittu

atau dalam keadaan lengan dan tungkai akan


Menggenggam

tidur
berada dalam posisi reflex
Tempatkan jari pada Bayi menggenggam jari
telapak tangan bayi

pemeriksa dengan cukup


kuat

sehingga

menyebabkan

dapat
tubuhnya
17

Mata berkedip

Sorotkan

terangkat
sebentar Bayi berkedip, ditandai

saja cahaya terang dengan

kelopak

mata

secara langsung ke menutup dan membuka


mata bayi

mata

saat

dengan
Melangkah

cahaya

sentuhan
atau Pegang bayi secara Bayi akan

berjalan

dirangsang
atau

melakukan

vertical biarkan salah gerakan seperti berjalan ,


satu kaki menyentuh kaki bergantian fleksi dan
permukaan meja

ekstensi

bayi

yang

premature akan berjalan


dengan ujung jarinya ,
bayi yang cukup bulan
berjalan dengan telapak
kakinya
Nilai APGAR
Tanda

Pemeriksaan

Appearance/

Inspeksi

Biru/pucat

Badan

seluruh tubuh

ekstremitas biru

Tidak terdengar

< 100 x/menit

> 100 x/menit

Menyeringai

Menangis keras

Fleksi

Gerak aktif

warna kulit
Pulse/

Auskultasi

frekuensi

jantung

jantung
Grimace/

Menghisap

reflek iritabily
Activity/

rangsang lain
Inspeksi

atau Tidak ada respon


Lemah

tonus otot

2
merah, Semua merah

ekstremitas

Respiration/pe Inspeksi

Tidak ada gerakan Menangis

rnafasan

pernafasan

lemah
merintih

Gerakan
atau pernafasan

kuat/

menangis kuat
18

Apabila nilai Apgar


7-10 : Bayi mengalami asfiksia ringan atau dalam keadaan normal
4-6 : Bayi mengalami asfiksia sedang
0-3 : Bayi mengalami asfiksia berat
Apabila ditemukan skor APGAR di bawah 6, bayi membutuhkan tindakan
resusitasi.
2.4

Pemeriksaan penunjang
pH tali pusat : tingkat 7,20 sampai 7,24 menunjukkan status
praasidosis : tingkat rendah menunjukkan asfiksia bermakna
Hemoglobin/hematocrit : kadar Hb 15-20 g dan Ht 43%-62%
Tes coombs langsung pada darah tali pusat : untuk menentukan adanya
kompleks antigen-antibody pada membrane sel darah merah ,
menunjukkan kondisi hemolitik.

I.
1.

Diagnosa Keperawatan
Jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan
obtruksi mukus
Tujuan

: Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama


1x24 jam diharapkan pola nafas efektif

Kriteria Hasil :
19

Intervensi
-

sesak (-)

RR 30-50x/menit

Retraksi dada (-)

Bersihkan muka dengan kasa/ kain bersih dari darah dan lendir
segera setelah kepala bayi lahir.
Rasional : Mengurangi resiko terjadinya aspirasi dan usaha untuk
membebaskan jalan nafas bayi.
Hisap lendir dengan menggunakan penghisap lendir atau kateter

pada sisi mulut atau hidung.


Rasional: Membersihkan jalan nafas sehingga kebutuhan O2 dapat
terpenuhi dengan pola nafas yang efektif.
Miringkan bayi kekanan untuk mencegah regurgitasi
Rasional: Mencehah terjadinya aspirasi yang dapat menimbulkan

terjadinya gagal nafas pada bayi.


Bersihkan jalan nafas
Raional: Membebaskan jalan nafas bayi.
Pertahankan suplai oksigen adekuat
Rasional: Memeuhi kebutuhan oksigen yang diperlukan bayi.

2.

Resti hipotermi berhubungan dengan perubahan suhu


Tujuan

: Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama


1x24 jam diharapkan hipotermi tidak menjadi aktual

Kriteria Hasil :

Intervensi
-

Suhu bayi normal 36,5oC 37,5oC.

Bayi gerak aktif.

Warna kulit kemerahan

Jaga suhu tubuh bayi agar tetap hangat, dengan:


a. Ganti popok/kain yang basah.
b. Tempatkan bayi di tempat tidur hangat.
c. Bungkus dan selimut bayi terutama kepala bayi.
20

Rasional: dengan menjaga suhu tubuh bayi, mencegah kehilangan


panas melalui kepala, mencegah penguapan panas secara evaporasi
dan bayi merasa tenang dan hangat.
-

Observasi jalan nafas bayi


Rasional : mengetahui apakah terjadi sumbatan pada jalan nafas.

Observasii TTV setiap jam pada 6 jam pertama


Rasional : mengetahui perubahan-perubahan vital yang lebih dini.

Lakukan kontak dini ibu dengan bayi


Rasional : agar terjalin Bounding Attachment.

Memotivasi ibu untuk menyusui bayi sesering mungkin dan


mengajarkan ibu cara menyusui yang benar
Rasional : memotivasi yang benar dan jelas maka kebutuhan ASI
eksklusif terpenuhi.

Observasi tanda infeksi pada tali pusat


Rasional : deteksi dini terjadinya infeksi pada tali pusat.

Jaga kebersihan bayi dan lingkungan terutama kebersihan tali


pusat.
Rasional : mencegah terjadinya invasi kuman dari luar tubuh.

Ajarkan ibu cara merawat tali pusat


Rasional : ibu mengerti cara perawatan tali pusat yang tepat dan
mencegah terjadinya infeksi.

3.

Resiko infeksi berhubungan dengan sumbatan atau kotoran


pada tali pusat
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama 1x24 jam
diharapkan tidak terjadi infeksi pada tali pusat
Kriteria Hasil :
-

Tanda-tanda infeksi tidak ada (kalor,rubor,dolor,tumor)

Perdarahan (-)

Kondisi tali pusat bersih

Intervensi :
1. Kaji adanya bau atau cairan pada tali pusat
21

Rasional : Cairan pada tali pusat dapat menunjukkan adanya infeksi


2. Lakukan perawatan pada tali pusat dengan alcohol
Rasional : Alkohol dapat mencegah infeksi yang terjadi pda tali
pusat
3. Ganti nouvel gauze pada tali pusat setiap habis mandi
Rasional : Nouvel gauze diganti untuk mencegah terjadinya infeksi
4. Kaji adanya tanda-tanda infeksi seperti peningkatan suhu tubuh,
kemerahan disekitar tali pusat.
Rasional : Peningkatan suhu tubuh, kemerahan disekitar tali pusat
dapat menunjukkan adanya infeksi
5. Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan
Rasional : mencuci dapat mencegah terjadinya infeksi nosokomial
6. Jaga lingkungan tetap bersih
Rasional : Lingkungan yang bersih dapat menjaga kesehatan janin

22

BAB IV
PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
Bayi Baru Lahir (BBL) normal adalah bayi yang lahir dari
kehamilan 37 minggu sampai 42 minggu dan berat badan lahir 2500 gram
sampai dengan 4000 gram.
Bayi baru lahir (neonatus) adalah suatu keadaan dimana bayi baru
lahir dengan umur kehamilan 37-42 minggu,lahir melalui jalan lahir
dengan presentasi kepala secara spontan tanpa gangguan, menangis kuat,
nafas secara spontan dan teratur,berat badan antara 2500-4000 gram serta
harus dapat melakukan penyesuaian diri dari kehidupan ekstrauteri.
4.2 SARAN
Jika dalam penulisan makalah ini terdapat kekurangn dan
kesalahan, kami mohon maaf. Untuk itu kami mengharapkan kritik dan
saran yang sifatnya membangun agar kami dapat membuat makalah yang
lebih baik dikemudian hari.

23

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2004, Asuhan Persalinan Normal, Jakarta : Klinik Kesehatan Reproduksi
Rochmah K.M.2011.Asuhan Neonatus Bayi & Balita.Jakarta: EGC
Reeder, dkk.2011.Keperawatan Maternitas.Jakarta:EGC
Maryuani Anik.2008.Buku Saku Asuhan Bayi Baru Lahir Normal.Jakarta:TIM
Ladewig, Patricia W.2006.Buku Saku Asuhan Ibu & Bayi Baru Lahir, Ed.
5.Jakarta:EGC

24