Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sesuai dengan akar namanya, dari bahasa latin: plasticus, yang berarti
mudah dibentuk. Plastik adalah pengembaraan transformasi tak berbatas hingga
menjadikannya sebagai material yang paling banyak digunakan. Kita bisa
menemukan bentukannya di sekitar kita. Plastik telah mengisi sebagian besar
ruang hidup manusia. Seperti yang ditulis Roland Barthes, Seluruh dunia dapat
diplastikkan, bahkan hidup itu sendiri. Kita bisa melihatnya pada pencangkokan
jantung plastik atau di genggaman tangan kita sehari-hari.
Dalam menjalani aktifitas sehari-hari pun kita tidak dapat terpisahkan dari
barang atau benda yang terbuat dari plastik, kita ambil satu contoh misal kantong
plastik (keresek). Produk massal tersukses dari plastik. Dengan ongkos produksi
murah dan tidak terlalu berkutat dalam hal kualitas, keresek menjadi barang yang
sangat singkat pemakaiannya (disposable) dan menjadi bagian tak terpisahkan
dalam budaya konsumtif. Kita bisa dengan mudah mendapatkan keresek. Hanya
dengan meminta ke pedagang, kita akan mendapatkannya cuma-cuma. Karena
itulah, kita akan sangat gampang menimbunnya di tempat sampah.
Menurut Riset Greeneration, organisasi non pemerintah yang telah 10
tahun mengikuti isu sampah, satu orang di Indonesia rata-rata menghasilkan 700
kantong plastik per tahun. Di alam, kantong plastik yang tak terurai menjadi
ancaman kehidupan dan ekosistem.
Permasalahan

sampah

tak

bisa

dianggap

enteng.

Sampah

bisa

menimbulkan bencana, seperti yang terjadi dalam tragedi longsornya sampah di


Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat, pada 21 Februari 2005 silam. Tragedi ini
memicu dicanangkannya Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) yang diperingati
tepat di tanggal insiden itu terjadi.
Pada tanggal 21 Februari 2016 silam merupakan puncak pelaksanaan
HSPN 2016. Pada acara tersebut dilakukan deklarasi Indonesia Bergerak untuk
Bebas Sampah 2020. Momentum HPSN 2016 ini juga menjadi ajang sosialisasi
ujicoba penerapan kantong plastik berbayar. Ujicoba ini rencananya akan

dilakukan di 22 kota di Indonesia dan Provinsi DKI Jakarta. Ketentuan terkait


kantong plastik berbayar ini diatur dalam Surat Edaran Kementerian Lingkungan
Hidup dan Kehutanan Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan
Bahan Berbahaya dan Beracun Nomor: S.1230/PSLB3-PS/2016 tentang Harga
dan Mekanisme Penerapan Kantong Plastik Berbayar. Dalam surat edaran
tersebut, minimal harga satu kantong plastik adalah Rp 200,-.
Sudah sebulan lebih sejak uji coba penerapan kebijakan kantong plastik
berbayar ini dilakukan. Berbagai evaluasi pun dilakukan demi melihat keefektifan
akan kebijakan ini terhadap tujuan utamanya, yakni pengurangan sampah melalui
perubahan kebiasaan prilaku masyarakat saat berbelanja di ritel-ritel atau
supermarket. Hal inilah yang menjadi latar belakang kami untuk ikut memikirkan
keefektifan kebijakan mengenai kantong plastik berbayar terhadap perubahan
perilaku masyarakat mengenai kepedulian lingkungan terkait masalah sampah
plastik.
1.2 Pokok Masalah
1. Apa saja yang diatur dalam ketentuan terkait kantong plastik berbayar yang
diatur dalam Surat Edaran Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Berbahaya dan
Beracun Nomor: S.1230/PSLB3-PS/2016?
2. Bagaimana keefektifan kebijakan kantong plastik berbayar sejauh ini?
3. Bagaimanan pengaruh penerapan kebijakan kantong plastik berbayar terhadap
perilaku masyarakat terkait pemeliharaan lingkungan?
4. Apakah ada solusi lain yang dapat sejalan dengan tujuan penerapan kebijakan
kantong plastik berbayar?
4.1 Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini antara lain sebagai berikut :
1. Memahami isi Surat Edaran Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Berbahaya dan
Beracun Nomor: S.1230/PSLB3-PS/2016.
2. Memahami maksud dan tujuan pemerintah dalam penerapan kebijakan
kantong plastik berbayar.
3. Mencoba menganalisa keefektifan penerapan kebijakan kantong plastik
berbayar.

4. Mencoba menggali solusi lain mengenai permasalahan perilaku masyarakat


terkait permasalahan sampah plastik.
4.2 Manfaat
Manfaat dari penulisan makalah ini antara lain:
1. Dapat menjadi media pengembangan Ilmu Sosial Dasar terkait hubungan
manusia dan lingkungan khususnya mengenai permasalahan sampah plastik.
2. Sebagai syarat dalam memenuhi salah satu tugas mata kuliah Ilmu Sosial
Dasar

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Surat Edaran KLHK Dirjend Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3
Nomor: S.1230/PSLB3-PS/2016

Di dalam SE 1230/PSLB3-PS/2016 menyebutkan bahwa ketentuan ini


menindaklanjuti

hasil

pertemuan

Kementerian

Lingkungan

Hidup

dan

Kehutanan (KLHK) dengan Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN),


Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), dan Asosiasi Pengusaha Ritel
Seluruh Indonesia (APRINDO). Beberapa ketentuan dalam SE 1230/2016 ini
antara lain:
1.

Pengusaha ritel tidak lagi menyediakan kantong plastik secara cuma-cuma


kepada konsumen. Apabila konsumen masih membutuhkan kantong
plastik maka konsumen diwajibkan membeli kantong plastik dari gerai

2.

ritel.
Terkait harga kantong plastik, Pemerintah, BPKN, YLKI, dan APRINDO
menyepakati harga jual kantong plastik selama uji coba penerapan kantong
plastik berbayar sebesar minimal Rp 200,- per kantong sudah termasuk

3.

Pajak Pertambahan Nilai (PPN);


Harga kantong plastik akan dievaluasi oleh Pemerintah dan Pemerintah
Daerah bersama APRINDO setelah uji coba berjalan sekurang-kurangnya

4.

3 (tiga) bulan;
Terkait jenis kantong plastik yang disediakan oleh pengusaha ritel,
Pemerintah, BPKN, YLKI, dan APRINDO menyepakati agar spesifikasi
kantong plastik tersebut dipilih yang menimbulkan dampak lingkungan
paling minimal dan harus memenuhi standar nasional yang dikeluarkan

oleh Pemerintah atau lembaga independen yang ditugaskan untuk itu;


5. APRINDO menyepakati bahwa mereka berkomitmen mendukung kegiatan
pemberian

insentif

kepada

konsumen,

pengelolaan

sampah,

dan

pengelolaan lingkungan hidup melalui program tanggung jawab sosial


perusahaan (Corporate Sosial Responsibility, CSR) dengan mekanisme
yang akan diatur oleh masing-masing pengusaha ritel.
6. Ketentuan ini juga berlaku untuk usaha ritel modern yang bukan anggota
APRINDO.
Sebelum SE 1230/PSLB3-PS/2016, sebenarnya sudah ada surat edaran
lain terkait penerapan kebijakan kantong plastik berbayar, yaitu Surat Edaran
Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Berbahaya dan
Beracun KLHK Nomor: SE-06/PSLB3-PS/2015 tentang Langkah Antisipasi

Penerapan Kebijakan Kantong Plastik Berbayar Pada Usaha Ritel Modern (SE
6/2015). Dalam surat edaran ini dijelaskan bahwa salah satu arah kebijakan
Pemerintah dalam rangka pengurangan sampah, khususnya sampah kantong
plastik, adalah penerapan kebijakan kantong plastik berbayar di seluruh gerai
pasar modern di Indonesia. Kebijakan kantong plastik berbayar merupakan salah
satu strategi guna menekan laju timbulan sampah kantong plastik yang selama ini
menjadi bahan pencemar bagi lingkungan hidup.
Harga kantong plastik
Mengenai harga kantong plastik, melihat pada ketentuan yang mengatur
bahwa harga Rp 200,- adalah harga minimal, berarti masing-masing daerah bisa
memberlakukan harga yang lebih daripada itu.
Seperti di Balikpapan. Surat Edaran Walikota Balikpapan Nomor:
005/0123/BLH tentang Pengurangan Penggunaan Kantong Plastik dan Kantong
Plastik Berbayar di Kota Balikpapan, dimana satu kantong plastik nilainya
disesuikan dengan ukuran kantong yaitu seharga minimal Rp1.500,-, dengan jenis
plastik yang dijual oleh ritel harus bersifat ramah lingkungan
Sedangkan di kota lain, yaitu Semarang, dalam Surat Walikota Semarang
Nomor: 658.1/517 tanggal 11 Februari 2016 kepada Menteri Lingkungan Hidup
dan Kehutanan, disebutkan bahwa Kota Semarang mendukung peluncuran
Program Penerapan Kantong Plastik Berbayar. Penerapan kebijakan di Kota
Semarang diberlakukan untuk seluruh anggota APRINDO yang di-launching pada
21 Februari 2016 dengan membagikan secara gratis Tas Belanja Ramah
Lingkungan kepada konsumen mulai tanggal 21 sampai 29 Februari 2016, untuk
selanjutnya akan diberlakukan kantong plastik berbayar.
Walaupun sudah ada ketentuan mengenai kantong plastik berbayar, akan
tetapi sejauh penelusuran kami, belum ada ketentuan mengenai sanksi bagi para
pihak yang tidak melaksanakannya.
2.2 Keefektifan kebijakan kantong plastik berbayar
Sudah sebulan lebih sejak penerepaan uji coba ketentuan kantong pastik
berbayar. Kebijakan kantong plastik berbayar menuai pro dan kontra di publik.

Hal ini tidak lepas dari sisi plus dan minus dari kebijakan ini. Pembatasan
peredaran plastik melalui mekanisme pembayaran diharapkan memiliki manfaat
bagi lingkungan. Manfaat tersebut adalah terjadinya migrasi pemakaian tas plastik
ke tas ramah lingkungan, seperti kain.
Kantong plastik berbayar sukses diterapkan di Hongkong, Inggris, dan
Belanda (Amsterdam). Data ketiga negara tersebut menunjukkan adanya
penurunan konsumsi plastik sampai dengan 73 persen dengan program kantong
plastik berbayar (Sudirman, 2016). Dengan demikian kebijakan ini memberikan
harapan baik bagi pengurangan limbah plastik.
Disisi lain secara ekonomi mampu memberikan peluang bagi peredaran tas
ramah lingkungan. Tas ini dapat dikreasi berbahan kain bahkan dari perca-perca
sisa (limbah). Usaha ekonomi baru dapat tumbuh sekaligus dalam lingkaran
pengelolaan sampah terpadu melalui pemanfaatan limbah kain.
Kebijakan kantong plastik berbayar bukannya tanpa sisi minus. Apabila
migrasi penggunaan kantong kurang berjalan lancar, maka kebijakan ini justru
akan menambah pemasukan peritel dengan menjual kantong plastik.
Kebijakan ini terkesan sebagai bentuk penyederhanaan dan tidak
memerlukan pengawasan ketat. Berbeda jika yang diambil adalah kebijakan
pelarangan tegas pemakaian tas plastik di toko atau pasar modern. Selain itu
kelemahannya adalah sasaran yang terbatas di toko modern, sedangkan peredaran
terbesar justru di toko atau pasar tradisional.
Temuan di lapangan masih terdapat beberapa catatan. Beberapa toko ritel
masih belum menerapkan. Ada yang melakukan praktik akal-akalan. Kantong
plastik benar berbayar, namun kembali didiskon hingga menjadi gratis kembali.
Beberapa konsumen juga menyatakan tidak keberatan untuk membeli kantong
plastik yang masih dijual murah, yaitu kebanyakan Rp. 200.
2.3 Pengaruh penerapan kebijakan kantong plastik berbayar terhadap
perilaku masyarakat terkait pemeliharaan lingkungan
2.4 Solusi lain mengenai perilaku masyarakat terkait permasalahan sampah
plastik

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran